Anda di halaman 1dari 14

Hubungan antara Pengetahuan tentang Hukuman dengan Keputusan Memberi Hukuman dan dengan Kematangan Emosi pada Guru

Laki-laki dan Guru Perempuan Asri Rahayu PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian ini mengenai hubungan antara pengetahuan tentang hukuman dengan keputusan memberi hukuman dan dengan kematangan emosi pada guru lakilaki dan perempuan. Seorang guru menghukum siswanya sudah bagian dari pendidikan sekolah di manapun. Masalahnya apakah guru itu memahami konsep hukuman dalam pendidikan dan pembelajaran? Hukuman itu harus cukup berat atau sebaiknya ringan-ringan saja? Tiap-tiap hukuman itu membebankan penderitaan bagi si terhukum. Suatu hukuman itu pantas apabila penderitaan yang ditimbulkan itu mempunyai nilai positif, atau mempunyai nilai pendidikan. Guru menghukum siswanya tidak hanya dengan tujuan mendidik namun seringkali disertai dengan amarah. Guru yang menghukum siswanya disertai dengan marah-marah, apakah itu berarti emosinya belum matang? Hukuman merupakan penyajian stimulus yang tidak menyenangkan untuk menghilangkan dengan segera perilaku anak yang tidak diharapkan. Hukuman dapat pula diartikan sebagai suatu bentuk sanksi yang diberikan pada anak secara fisik maupun psikis apabila nanak melakukan kesalahan-kesalahan atau pelanggaran yang sengaja dilakukan terhadap aturan-aturan yang telah ditetapkan. Seorang guru seharusnya memiliki pengetahuan mengenai hukuman. Banyak jenis hukuman yang dilakukan oleh guru. Ada guru yang memutuskan untuk memberi hukuman yang ringan seperti menyanyi di depan kelas, ada pula guru yang menghukum dengan kekerasan fisik. Di kawasan Tambora, Jakarta Barat, seorang guru tersebut memukul tujuh siswanya dengan rotan hingga menyebabkan luka gores karena terlambat masuk kelas setelah jam istirahat selesai (Media Indonesia). Di kota Binjai, Sumatra Utara, Guru memukul sembilan siswanya dengan penggaris kayu dan menjepit hidung mereka karena tidak bisa menghafal 33 nama provinsi (Liputan6.com). Di daerah Dau, Malang, seorang kepala sekolah membakar dua siswanya yang ketahuan naik kelas lewat jendela.

Berbagai hukuman dalam pendidikan tersebut, tidak kesemuanya patut dan dapat digunakan dalam mendidik seorang anak. Seorang guru seharusnya memilih hukuman yang paling tidak menimbulkan efek negative, namun bisa membuat seorang siswa jera melakukan kesalahan. Seorang guru menghukum siswanya juga dipengaruhi oleh kondisi emosinya saat itu. Seorang guru yang baru saja bertengkar dengan keluarganya tentu berbeda cara menghukumnya dengan seorang guru yang baru saja liburan bersama keluarganya. Guru yang menunjukkan kematangan emosi tidak akan menghukum siswanya karena ia sedang jengkel dengan keluarganya. Istilah kematangan menunjukkan kesiapan yang terbentuk dari pertumbuhan dan perkembangan (Hurlock, 2004). Emosi merupakan suatu kondisi keterbangkitan yang muncul dengan perasaan kuat dan biasanya respon emosi mengarah pada suatu bentuk perilaku tertentu. Dariyo (2006) juga mendefinisikan kematangan emosi sebagai keadaan atau kondisi mencapai tingkat kedewasaan dari perkembangan emosi sehingga individu tidak lagi menampilkan pola emosional yang tidak pantas.

B. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan guru laki-laki dan perempuan terhadap konsep hukuman dalam pendidikan atau pembelajaran, mengetahui kematangan emosi guru laki-laki dan perempuan, keputusan guru lakilaki dan perempuan dalam memberi hukuman, dan hubungan antara pengetahuan tentang hukuman dengan keputusan memberi hukuman dan dengan kematangan emosi pada guru laki-laki dan perempuan.

C. Hipotesis Penelitian Pengetahuan tentang hukuman dan kematangan emosi bisa berhubungan positif atau negatif dengan keputusan memberi hukuman pada guru laki-laki dan perempuan karena keputusan memberi hukuman dipengaruhi oleh keduanya.

D. Kegunaan Penelitian 1. Bagi Subjek Penelitian (Guru) Penelitian ini diharapkan dapat memberi pemahaman kepada guru mengenai hubungan antara pengetahuan tentang hukuman dengan keputusan memberi hukuman dan kematangan emosi sehingga dapat menjadi referensi dan pertimbangan guru apabila hendak menghukum siswanya. 2. Bagi Perkembangan Ilmu Psikologi Penelitian ini diharapkan dapat memberi suatu pengetahuan baru bagi perkembangan psikologi pendidikan khusunya dalam lingkup sekolah. 3. Bagi Masyarakat Akademik Penelitian ini bermanfaat untuk memberikan penjelasan tentang hubungan hubungan antara pengetahuan tentang hukuman dengan keputusan memberi hukuman dan kematangan emosi pada guru laki-laki dan perempuan .

E. Asumsi Penelitian Asumsi penelitian merupakan anggapan-anggapan dasar tentang suatu hal yang dijadikan pijakan berfikir dan bertindak dalam melaksanakan penelitian. Asumsi dalam penelitian ini antara lain: 1. Subjek penelitian (guru laki-laki dan wanita) pernah menghukum siswa. 2. Hubungan hubungan antara pengetahuan tentang hukuman dengan keputusan memberi hukuman dapat diukur dengan kuesionaire. 3. Kematangan emosi dapat diukur dengan skala kematangan emosi.

F. Definisi Operasional 1. Pengetahuan tentang hukuman merupakan tahu tidaknya seorang guru tentang suatu hukuman dan dampak-dampaknya bagi siswa 2. Keputusan memberi hukuman merupakan jenis hukuman yang dipilih guru untuk menghukum siswa 3. Kematangan emosi merupakan perilaku yang ditunjukkan seorang guru terhadap stimulus yang melibatkan emosi

KAJIAN TEORI A. Pengetahuan tentang Hukuman 1. Pengertian Hukuman Pengetahuan merupakan segala informasi yang diperoleh. Pengetahuan tentang hukuman adalah segala informasi yang diperoleh dan diketahui. Hukuman merupakan penyajian stimulus yang tidak menyenangkan untuk mengurangi dan menghilangkan perilaku negatif yang dilakukan oleh siswa dan mempunyai nilai yang mendidik. Hukuman dapat pula diartikan sebagai suatu bentuk sanksi yang diberikan kepada siswa, baik sanksi yang berupa fisik seperti berjalan jongkok, berdiri di depan kelas dan push up maupun yang berupa psikologis yakni hukuman yang lebih menekankan pada keadaan psikologis seperti rasa maludan jera pada diri siswa. Pendapat tersebut didukung oleh pandapat Langeveld (dalam Kartini Kartono, 1992) yang mengemukakan bahwa Hukuman adalah perbuatan yang dengann sadar dan disengaja diberikan serta mengakibatkan nestapa pada anak atau sesame manusia yang menjadi tanggungan kita, dan pada umumnya ada dalam kondisi yang lebih lemah secara fisik maupun psikis daripada kita. Hukuman merupakan salah satu alat pendidikan yang diberikan oleh pihak sekolah terhadap setiap siswa yang melakukan pelanggaran dalam upaya menegakkan peraturan atau tata tertib sekolah. Pihak sekolah yang biasanya secara langsung memberi hukuman adalah guru. 2. Macam-macam hukuman Pada prinsipnya hukuman diberikan karena adanya kesalahan yang dilakukan oleh siswa. Jadi hukuman merupakan suatu akibat dari pelanggaran yang digunakan untuk mengadakan perbaikan. Para ahli hokum mengemukakan pandangannya tentang macam-macam teori hukuman. Teori hukuman menurut Amier Daien Indrakusuma adaah sebagai berikut: a. Teori Hukum Alam Hukuman itu hendaknya merupakan akibat yang sewajar-wajarnya dari suatu perbuatan. Hukuman ini dirasa terlalu berat jika dibandingkan dengan perbuatan yang dilakukan, sehingga kita cenderung untuk melarangnya dulu daripada menanggung akibatnya.

b. Teori Ganti Rugi Dalam teori ganti rugi, anak diminta untuk bertanggung jawab atau menanggung semua resiko dari perbuatannya. Misalnya, anak mengotori lantai di kelas, maka dihukum haru s membersihkannya c. Teori Menakut-nakuti Hukuman diberikan untuk menakut-nakuti anak, agar anak tidak melakukan pelanggaran atau perbuatan yang dilarang ini. Dalam hal ini, nilai didik telah ada, tetapi perlu dijaga jangan sampai anak tersebut tidak berbuat kesalahan lagi karena rasa takut saja. d. Teori Balas Dendam Teori ini termasuk hukkuman yang kurang baik, paling jahat, dan paling tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam dunia pendidikan karena ini adalah hukuman yang didasarkan pada rasa sentiment. e. Teori Memperbaiki Hukuman yang terbaik yang dapat diterima dan diterapkan dalam dunia pendidikan adalah hukuman yang bersifat memperbaiki. Hukuman yang bisa menyadarkan anak pada keinsyafan atas kesalahan yang diperbuatnya. Dengan adanya keinsyafan ini anak akan berjanji dalam hatinya tidak akan mengulangi kesalahannya. Hukuman ini disebut hukuman yang bernilai didik. Piaget mengemukakan bahwa hukuman diklasifikasikan dalam dua bentuk, yaitu: a. Hukuman yang bersifat ekspiatorik (expiaroty punishmet) Hukuman ini tidak hanya dikaitkan dengan bobot tindakan yang salah, tetapi harus melibatkan pertimbangan yang wajar antara bobot pelanggaran penderitaan si pelanggar. Misalnya menampar, memukul. b. Hubungan yang bersifat reprositas Hukuman senantiasa dikaitkan dengan tindak kesalahannya. Dengan hukuman ini pelaggar aturan dapat mengetahui akibat-akibat dari tindakan yang salah. Hukuman ini disertai ganti rugi dan mengenal pengucilan. Berdasarkan teori di atas dapat disimpulkan bahwa teori hukuman dengan pembetulan atau memperbaiki merupakan teori yang digunakan dalam dunia

pendidikan. Teori yang tidak bisa diterima menurut pendidikan adalah Teori Balas Dendam sedangkan Teori yang diragukan mengandung nilai pendidikan adalah Teori Ganti Rugi. Teori Menjerakan dan Teori Menakut-nakuti mengandung nilai pendidikan tetapi tidak sebaik Teori Perbaikan. 3. Tingkatan Hukuman Hukuman yang dapat dikenakan kepada anak-anak bermacam macam jenis, sehubungan dengan hal ini, Suwarno (1992: 177) mengungkapkan berdasarkan pandangan W.Stern tedapat tiga tingkatan hukuman sesuai dengan perkembangan anak, yaitu: a. Hukuman Asosiatif, di mana penderitaan yang ditimbulkan akibat hukuman tadi ada asosiasinya dengan kesalahan anak. Misalnya seorang anak yang akan mengambil sesuatu di atas meja dipukul jarinya. Hukuman asosiasif dipergunakan bagi anak kecil; b. Hukuman Logis, di mana anak dihukum sehingga mengalami penderitaan yang ada hubungan logis dengan kesalahannya. Hukuman logis ini dipergunakan pada anak-anak yang sudah agak besar yang sudah mampu memahami hubungan antara kesalahan yang diperbuatnya dengan hukuman yang diterimanya; c. Hukuman Moril, tingkatan ini tercapai pada anak-anak yang lebih besar, di mana anak tidak hanya sekedar menyadari hubungan logis antara kesalahan dengan hukumannya, tetapi tergugah perasaan kesusilaannya atau terbangun kata hatinya, ia merasa harus menerima hukuman sebagai sesuatu yang harus dialaminya.

B. Keputusan Memberi Hukuman 1. Memilih dan menentukan hukuman Pengambilan keputusan merupakan kegiatan yang memberikan pedoman seseorang dalam mengambil keputusan, sekaligus memperbaiki proses pengambilan keputusan dalam kondisi yang tak pasti. Dalam penelitian ini keputusan memberi hukuman merupakan apasaja hal-hal yang perlu dipertimbangkan oleh seorang guru sebelum menentukan bentuk hukuman yang bagaimana yang akan diambil untuk dikenakan pada siswa. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih dan

menentukan hukuman (Amin Danien Indrakusuma, 1973:157) adalah sebagai berikut: a. Macam dan besar kecilnya pelanggaran: Besar kecilnya pelanggaran akan menentukan berat ringannya hukuman yang harus diberikan b. Pelaku pelanggaran c. Hukuman diberikan dengan melihat jenis kelamin: usia dan halus kasarnya perangai dari pelaku pelanggaran d. Akibat-akibat yang mungkin timbul dalam hukuman: Pemberian hukuman jangan sampai menimbulkan akibat yang negatif pada diri anak e. Pilihlah bentuk-bentuk hukuman yang pedagogis: Hukuman yang dipilih harus sedikit mungkin segi negatifnya baik dipandang dari sisi siswa, guru, maupun dari orang tua f. Sedapat mungkin jangan menggunakan hukuman badan: Hukuman badan adalah hukuman yang menyebabkan rasa sakit pada tubuh anak, hukuman badan merupakan sarana terakhir dari proses pendisiplinan. Mengenai hukuman badan (Adnan Hasan Sholih Baharits, 1966), sebagian ahli membolehkan dengan alasan bahwa di lingkungan keluarga hal ini sering dilakukan, dan sebagian lagi tidak membolehkan dengan alasan bahwa hukuman badan tidak layak bagi manusia yang mempunyai akal, budi, pikiran dan hati. Terlepas dari perbedaan di atas, satu hal yang harus diingat bahwa hukuman badan itu tidak boleh sampai menimbulkan cedera atau cacat pada anak.

2. Bentuk Hukuman Soejono (1980:169) mengemukakan bentuk hukuman dengan tiga bentuk, yaitu: a. Bentuk Isyarat, usaha pembetulan kita lakukan dalam bentuk isyarat muka dan isyarat anggota badan lainnya. Contohnya, ada seorang anak didik yang sedang berbuat salah, misalnya bermain-main dengan mengusik adiknya. Pendidik memandangnya dengan raut muka muram yang menandakan bahwa ia tidak menyetujui anak didik berbuat

semacam itu. Ia menggelengkan kepala dan menggerakkan tangannya sebagai tanda agar anak didik pergi meninggalkan adiknya. Apabila anak didik karena asyiknya mengusik tadi tidak melihat bahwa pendidik memandangnya, maka pendidik memberi isyarat pendahuluan dengan bertepuk tangan untuk menarik perhatiaannya; b. Bentuk kata, isyarat dalam bentuk kata dapat berisi kata-kata peringatan, kata-kata teguran dan akhirnya kata-kata ancaman. Kalau perlu bentuk isyarat diganti dengan bentuk kata berupa kata-kata peringatan, menyebut nama anak yang nakal tadi dengan suara tegas singkat, misalnya "Amir..!". c. Bentuk Perbuatan, usaha pembetulan dalam bentuk perbuatan adalah lebih berat dari usaha sebelumya. Pendidik mengeterapkan pada anak didik yang berbuat salah, suatu perbuatan yang tidak menyenangkan baginya atau ia menghalang-halangi anak didik berbuat sesuatu yang menjadi kesenangannya. Misalnya, pendidik mengancam anak didik seperti yang sudah diancamkan, atau tidak memperbolehkannya ikut berjalan-jalan pada hari Ahad yang akan datang. Pendapat lain sebagaimana diugkapkan oleh J.J. Hasibuan (1988:60), bahwa bentuk-bentuk hukuman lebih kurang dapat dikelompokan menjadi empat kelompok, yaitu: a. hukuman fisik, misalnya mencubit, menampar, memukul dan lain sebagainya b. hukuman dengan kata-kata atau kalimat yang tidak menyenangkan, seperti omelan, ancaman, kritikan, sindiran, cemoohan dan sejenisnya c. hukuman dengan stimulus fisik yang tidak menyenangkan, sperti menuding, memelototi, mencemberuti, dan sejenisnya d. hukuman dalam bentuk kegiatan yang tidak menyenangkan, misalnya disuruh berdiri di depan kelas, dikeluarkan dari kelas, didudukan di samping guru, disuruh menulis suatu kalimat sebanyak puluhan kali atau ratusan kali, dan sebagainya.

3. Kematangan Emosi Kematangan emosi dapat dimengerti dengan mengetahui pengertian emosi dan kematangan, kemudian diakhiri dengan penjelasan kematangan emosi sebagai satu kesatuan. Istilah kematangan menunjukkan kesiapan yang terbentuk dari pertumbuhan dan perkembangan (Hurlock, 2004). Emosi merupakan suatu kondisi keterbangkitan yang muncul dengan perasaan kuat dan biasanya respon emosi mengarah pada suatu bentuk perilaku tertentu (Lazzarus, 1991). Selain itu, terdapat juga definisi emosi sebagai suatu keadaan dalam diri individu yang memperlihatkan reaksi fisiologis, kognitif, dan pelampiasan perilaku. Berdasarkan beberapa definisi emosi, dapat disimpulkan bahwa emosi merupakan suatu keadaan yang dirasakan oleh individu dan disertai dengan gejala-gejala fisiologis, perasaan, dan perilaku yang ditunjukkan. Kematangan emosi merupakan suatu kondisi pencapaian tingkat kedewasaan dari perkembangan emosi pada diri individu. Individu yang mencapai kematangan emosi ditandai oleh adanya kesanggupan mengendalikan perasaan dan tidak dapat dikuasai perasaan dalam mengerjakan sesuatu atau berhadapan dengan orang lain, tidak mementingkan diri sendiri tetapi mempertimbangkan perasaan orang lain. Chaplin (1989) mendefinisikan kematangan emosi sebagai suatu keadaan atau kondisi mencapai tingkat kedewasaan perkembangan emosional. Ditambahkan Chaplin (dalam Ratnawati, 2005), kematangan emosi adalah suatu keadaan atau kondisi untuk mencapai tingkat kedewasaan dari perkembangan emosional seperti anak-anak, kematangan emosional seringkali berhubungan dengan kontrol emosi. Seseorang yang telah matang emosinya memiliki kekayaan dan keanekaragaman ekspresi emosi, ketepatan emosi dan kontrol emosi. Hal ini berarti respon-respon emosional seseorang disesuaikan dengan situasi stimulus, namun ekspresi tetap memperhatikan kesopanan sosial (Stanford, 1965). Anderson (dalam Mappiare, 1982), mengatakan bahwa seseorang yang matang secara emosional akan sanggup mengendalikan perasaan dan tidak dapat dikuasai perasaan dalam mengerjakan sesuatu atau berhadapan dengan orang lain, tidak mementingkan diri sendiri tetapi mempertimbangkan perasaan orang lain.

METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Pendekatan ini bertolak dari anggapan bahwa semua gejala yang diamati dapat diukur dan diubah dalam bentuk angka sehingga memungkinkan digunakan teknik-teknik analisis statistik (Suryabrata, 2000). Berdasarkan tujuan penelitian maka penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif korelasional. Penelitian bersifat deskkorelasional karena penelitian bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel yang diteliti. Penelitian korelasional adalah penelitian yang digunakan untuk melihat sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan pada dua atau lebih faktor lain berdasar koefisien korelasi. Penelitian yang bersifat deskriptif bertujuan untuk menggambarkan secara tepat sifat-sifat individu, keadaan, gejala, serangkaian peristiwa berulang-ulang atau adanya hubungan antara suatu gejala lain dalam masyarakat. Penelitian ini terdiri dari tiga variabel, yaitu dua variabel bebas dan satu variabel terikat. bila dibuat rancangan penelitian ketiga variabel tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : Gambar 3.1 Rancangan Penelitian

Pengetahuan tentang hukuman (X1) Kematangan Emosi (X2)

Keputusan Memberi Hukuman (Y)

B. Populasi dan Sampel 1. Populasi Sugiyono (2004:90) mengemukakan populasi adalah obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sedangkan menurut Winarsunu (2006:11) populasi adalah seluruh individu yang dimaksudkan untuk diteliti dan nantinya akan dikenai generalisasi. Populasi dalam Penelitian ini adalah guru SMP dan SMA. Populasi dari penelitian ini mempunyai cirriciri sebagai berikut: a. Guru laki-laki dan perempuan b. Aktif mengajar di SMP dan SMA c. Usia 25-50 tahun 2. Sampel Menurut Sugiyono (2003) sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Pengambilan sampel atau sampling berarti mengambil sampel atau mengambil sesuatu bagian populasi sebagai wakil (representasi) populasi itu (Kerlinger, 2003). Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling yang dilakukan dengan cara mengambil subjek didasarkan atas strata, random atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu. Dalam penelitian ini terdapat 40 subjek penelitian yang akan dijadikan sampel penelitian.

C. Instrumen Penelitian 1. Pengembangan Instrumen Penelitian Intrumen penelitian disusun untuk mengukur nilai variabel yang diteliti (Sugiyono, 2003). Instrumen dirancang untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala. Dasar pertimbangan menggunakan skala adalah instrumen ini dapat dengan mudah memberikan gambaran penampilan, terutama di dalam orang menjalankan tugas, yang menunjukkan munculnya frekuensi, munculnya sifat-sifat (Arikunto, 2002:134). Langkah-langkah dalam pembuatan instrumen adalah sebagai berikut:

a. Menyusun kisi-kisi instrumen yang berisi indikator-indikator variabel pada skala b. Menyusun item-item instrumen dengan memperhatikan item Favorable dan item Unfavorable c. Menelaah kesesuaian pernyataan instrumen yang disusun dengan kisi-kisi instrumen. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah item-item yang dikembangkan sudah mewakili setiap indikator yang ditetapkan d. Memeriksa kembali kata-kata yang digunakan apakah dapat dimengerti oleh subyek penelitian dengan mencobanya pada beberapa orang e. Menyusun blue print, untuk mengetahui sebaran item, karena antara item favorable dan item unfavorable sebarannya harus seimbang f. Melakukan uji coba, sekaligus mengambil data penelitian g. Melakukan penyekoran dan pembobotan jawaban dengan menggunakan skala h. Menghitung nilai validitas dan realibilitas. Penelitian ini menggunakan dua kuesionare yaitu kuesionare pengetahuan dan kuesionare keputusan memberi hukuman dan satu skala kematangan emosi. Sedangkan metode pengembangan skala yang digunakan adalah metode pengembangan skala model Likert yang dihilangkan pilihan jawaban netralnya.

1.

Kuesionare pengetahuan tentang hukuman Blue print kuesionare pengetahuan hukuman

Subvariabel Pengertian hukuman Motivasi dan Tujuan Menghukum

Indikator

Tingkatan hukuman

Memperbaiki Menakut-nakuti Balas dendam Membiarkan saja agar siswa merasakan akibatnya sendiri Pengetahuan tentang hukuman yang sesuai dengan perkembangan anak

2.

Kuesionare Keputusan Memberi Hukuman

Blue print Skala kecerdasan Emosional Subvariabel Pertimbangan dalam menghukum Bentuk hukuman Indikator Motivasi memberikan suatu hukuman yang sesuai dengan jenis kelamin, usia, pelanggaran, akibat yang timbul dalam hukuman siswa Hukuman fisik Hukuman psikis

3.

Skala Kematangan Emosi

Blue print Skala kontrol diri Subvariabel Ekspresi emosi Indikator Kemampuan untuk berekspresi sesuai dengan emosi Kemampuan mengekspresikan emosi sesuai dengan situasi Kemampuan memiliki emosi sesuai dengan stimulus Kemampuan mengontrol emosi agar tidak mengganggu lingkungan sosial

Ketepatan emosi Kontrol emosi

D. Pengumpulan Data Kegiatan pengumpulan data adalah upaya untuk mendapatkan data-data yang diperlukan dalam penelitian ini. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan cara peneliti turun lapangan untuk menyebarkan kuesionare pengetahuan hukuman dan keputusan memberi hukuman serta skala kematangan emosi kepada sampel penelitian.

E. Analisis Data Setelah data yang dibutuhkan terkumpul selanjutnya data tersebut diolah. Dan teknik pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari analisis deskriptif, analisis korelasional dan analisis regresi. 1. Analisis Deskriptif Analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan secara umum hasil penelitian. 2. Analisis Korelasional Analisis data yang digunakan menggunakan teknik analisis statistic Product Moment untuk mengetahui hubungan antar variable. 3. Analisis Regresi Analisis regresi berganda adalah analisis tentang hubungan antara satu variabel dependent dengan dua atau lebih variabel independent (Arikunto, 2002). Sebagai syarat penggunaan statistic parametric, maka sebelum data dianalisis terlebih dahulu dilakukan uji asumsi terhadap data yang diperoleh, meliputi : a) Uji normalitas, yaitu pengujian untuk mengetahui apakah nilai-nilai variabel yang diteliti mengikuti distribusi kurve normal. b) Uji linieritas, yaitu pengujian untuk mengetahui apakah varian dari subjek adalah linier.