Anda di halaman 1dari 6

Pterigium adalah suatu timbunan atau benjolan pada selaput lendir atau konjungtiva yang bentuknya seperti segitiga

dengan puncak berada di di arah kornea.

Timbunan atau benjolan ini bikin penderitanya agak kurang nyaman karena biasanya akan berkembang dan semakin membesar dan mengarak ke daerah kornea, sehingga bisa jadi menutup kornea dari arah nasal dan sampai ke pupil, jika sampai menutup pupil maka penglihatan kita akan terganggu. Apa yang menyebabkan Pterigium? Yang pasti belum di ketahui dengan jelas, namun banyak di jumpai di daerah pantai sehingga kemungkinan penyebabnya adalah adanya rangsangan dari udara panas, juga bagi orang yang sering berkendara motor tapa helm penutup atau kacamata pelindung, sehingga adanya rangsangan debu jalanan yang kotor bisa mengakibatkan timbunan lemak tersebut. Keluhan yang sering terjadi adalah mata sering merah dan sangat terasa sekali saat kena debu luar. Sampai saat ini pengobatannya hanya mencegah mata merah saja di samping yang pasti adalah tindakan operasi kecil, yaitu dengan membuang benjolan tersebut. Operasinya cepat hanya di bius lokal dan langsung bisa di kupas pterigiumnya.

Pterigium adalah munculnya suatu timbunan atau selaput pada mata yang bentuknya seperti segitiga dengan puncak berada di arah kornea mata. Pterigium oleh sebagian orang dikenal sebagai daging tumbuh di selaput bening mata, bahkan dahulu sering disalah artikan sebagai katarak, sebenarnya apa pterigium itu? Pterigium adalah pertumbuhan jaringan fibrovaskuler konjungtiva dan subkonjungtiva bulbi yang meluas ke kornea. Kelainan ini banyak ditemukan pada penduduk yang hidup di daerah tropis, seperti Indonesia yang udaranya dominan panas.

Penyebab pterigium sendiri belum diketahui secara pasti tapi diduga karena factor iritasi dari luar seperti : sinar matahari, panas, debu dan angina. Karena itu untuk mencegah timbulnya pterigium dapat dilakukan dengan cara menghindari paparan sinar matahari (ultraviolet) dengan memakai kacamata hitam, topi atau payung. Pterigium berdasarkan pertumbuhannya dibagi menjadi 4 stadium, yaitu: Stadium 1 = puncak pterigium pada limbus Stadium 2 = puncak pterigium mengenai kornea antara limbus dan pertengahan jarak limbus ke tepi pupil. Stadium 3 = puncak pterigium mengenal kornea antara pertengahan jarak limbus ke tepi pupil dan tepi pupil. Stadium 4 = puncak pterigium telah melewati tepi pupil Pterigium jarang sampai menyebabkan kebutaan, kecuali selaput "daging tumbuh" di mata meluas hingga menutupi seluruh area mata. Namun biasanya keluhan iritasi dan mata menjadi terlihat menjijikkan sering menjadi alasan pasien untuk datang berobat. Keluhan yang sering terjadi pada penderita pterigium adalah mata sering merah, penglihatan menjadi kabur dan sangat terasa sakit saat kena debu. Secara medis, untuk mengatasi pterigium umumnya menggunakan obat tetes mata atau obat minum yang mengandung antiinflamasi. Namun bila pterigium tersebut cukup besar dan sangat mengganggu penglihatan, dapat dilakukan operasi.

Pterigium (pterygium) adalah kelainan pada konjungtiva bulbi, pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif. Pertumbuhan ini biasanya terdapat pada celah kelopak bagian nasal ataupun temporal konjungtiva yang meluas ke daerah kornea. Pterigium berbentuk segitiga dengan puncak di bagian sentral atau di daerah kornea. Pterigium mudah meradang dan bila terjadi iritasi, maka bagian pterigium akan berwarna merah. Pterigium sering mengenai kedua mata.1,2,3,4,5,6

EPIDEMIOLOGI Di Amerika Serikat, kasus pterigium sangat bervariasi tergantung pada lokasi geografisnya. Di daratan Amerika serikat, Prevalensinya berkisar kurang dari 2% untuk daerah di atas 40o lintang utara sampai 515% untuk daerah garis lintang 28-36o. Hubungan ini terjadi untuk tempat-tempat yang prevalensinya meningkat dan daerah-daerah elevasi yang terkena penyinaran ultraviolet untuk daerah di bawah garis lintang utara ini.7 Pterigium relatif jarang di Eropa. Kebanyakan pasien berasal dari daerah dengan garis lintang 30-35 dari kedua sisi equator. Distribusi geografis ini mengindikasikan bahwa sinar UV merupakan faktor risiko yang penting.8 Pterigium dilaporkan bisa terjadi pada golongan laki-laki dua kali lebih banyak dibandingkan wanita. Jarang sekali orang menderita pterigium umurnya di bawah 20 tahun. Untuk pasien umurnya diatas 40 tahun mempunyai prevalensi yang tertinggi, sedangkan pasien yang berumur 20-40 tahun dilaporkan mempunyai insidensi pterigium yang paling tinggi.7 ANATOMI Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak bagian belakang. Bermacammacam obat mata dapat diserap melalui konjungtiva ini. Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel Goblet. Musin bersifat membasahi bola mata terutama kornea.1,9

Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu :1 1.Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal sukar digerakkan dari tarsus. 2.Konjungtiva bulbi menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sklera di bawahnya. 3.Konjungtiva forniks yang merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi. Konjungtiva bulbi dan konjungtiva forniks berhubungan sangat longgar dengan jaringan di bawahnya, sehingga bola mata mudah bergerak.1 ETIOPATOFISIOLOGI Etiologi belum diketahui pasti. Teori yang dikemukakan :4,5,6,7,10 1. Paparan sinar matahari (UV) Paparan sinar matahari merupakan faktor yang penting dalam perkembangan terjadinya pterigium. Hal ini menjelaskan mengapa insidennya sangat tinggi pada populasi yang berada pada daerah dekat

equator dan pada orang orang yang menghabiskan banyak waktu di lapangan. 2. Iritasi kronik dari lingkungan (udara, angin, debu) Faktor lainnya yang berperan dalam terbentuknya pterigium adalah alergen, bahan kimia berbahaya, dan bahan iritan (angin, debu, polutan). UV-B merupakan mutagenik untuk p53 tumor supressor gen pada stem sel limbal. Tanpa apoptosis, transforming growth factor-beta over produksi dan memicu terjadinya peningkatan kolagenasi, migrasi seluler, dan angiogenesis. Selanjutnya perubahan patologis yang terjadi adalah degenerasi elastoid kolagen dan timbulnya jaringan fibrovaskuler subepitelial. Kornea menunjukkan destruksi membran Bowman akibat pertumbuhan jaringan fibrovaskuler. GEJALA KLINIS Pterigium dapat tidak memberikan keluhan atau akan memberikan keluhan mata iritatif, gatal, merah, sensasi benda asing dan mungkin menimbulkan astigmat atau obstruksi aksis visual yang akan memberikan keluhan gangguan penglihatan.1,7,5,10,11 Berdasarkan luas perkembangannya diklasifikasikan menjadi:4 Stadium I : pterigium belum mencapai limbus Stadium II : sudah mencapai atau melewati limbus tapi belum mencapai daerah pupil Stadium III : sudah mencapai daerah pupil

Berdasarkan progresifitas tumbuhnya :4 1.Stasioner : relatif tidak berkembang lagi (tipis, pucat, atrofi) 2.Progresif : berkembang lebih besar dalam waktu singkat PENATALAKSANAAN Karena munculnya pterigium akibat paparan lingkungan, penatalaksanaan kasus dengan tanpa gejala atau iritatif yang sedang dengan kacamata anti UV dan pemberian air mata buatan/topical lubricating drops. Pasien disarankan untuk menghindari daerah yang berasap atau berdebu. Pterigium dengan inflamasi atau iritasi diobati dengan kombinasi dekongestan/antihistamin (seperti Naphcon-A) dan/atau kortikosteroid topikal potensi sedang (seperti FML, Vexol) 4 kali sehari pada mata yang terkena.7,12 Indikasi operasi eksisi pterigium yaitu karena masalah kosmetik dan atau adanya gangguan penglihatan, pertumbuhan pterigium yang signifikan (> 3-4 mm), pergerakan bola mata yang terganggu/terbatas, dan bersifat progresif dari pusat kornea/aksis visual.6,7,12 Operasi mikro eksisi pterigium bertujuan mencapai keadaan yang anatomis, secara topografi membuat

permukaan okuler rata. Teknik operasi yang umum dilakukan adalah menghilangkan pterigium menggunakan pisau tipis dengan diseksi yang rata menuju limbus. Meskipun teknik ini lebih disukai dilakukan diseksi ke bawah bare sclera pada limbus, akan tetapi tidak perlu diseksi eksesif jaringan Tenon, karena kadang menimbulkan perdarahan akibat trauma terhadap jaringan otot. Setelah eksisi, biasanya dilakukan kauter untuk hemostasis sclera. Beberapa teknik operasi antara lain : -Bare Sclera : tidak ada jahitan atau menggunakan benang absorbable untuk melekatkan konjungtiva pada sklera superfisial di depan insersi tendon rektus, meninggalkan area sklera yang terbuka. (teknik ini menghasilkan tingkat rekurensi 40% - 50%). -Simple Closure : tepi bebas dari konjungtiva dilindungi (efektif jika defek konjungtiva sangat kecil) -Sliding flap : insisi L-shaped dilakukan pada luka sehingga flap konjungtiva langsung menutup luka tersebut. -Rotational flap : insisi U-shaped dibuat membuat ujung konjungtiva berotasi pada luka. -Conjunctival graft: graft bebas, biasanya dari konjungtiva bulbar superior dieksisi sesuai ukuran luka dan dipindahkan kemudian dijahit. 6

DIAGNOSIS BANDING 4,5,7 -Pinguekula Merupakan degenerasi hialin jaringan submukosa konjungtiva.1 -Pseudopterigium Merupakan perlekatan konjungtiva dengan kornea yang cacat. Sering terjadi pada proses penyembuhan tukak kornea.1 KOMPLIKASI Komplikasi dari pterigium meliputi sebagai berikut:7 -Gangguan penglihatan -Kemerahan -Iritasi -Gangguan pergerakan bola mata. PROGNOSIS Eksisi pada pterigium pada penglihatan dan kosmetik adalah baik. Prosedur yang baik dapat ditolerir pasien dan disamping itu pada beberapa hari post operasi pasien akan merasa tidak nyaman,

kebanyakan setelah 48 jam pasca operasi pasien bisa memulai aktivitasnya. Bagaimanapun juga, pada beberapa kasus terdapat rekurensi dan risiko ini biasanya karena pasien yang terus terpapar radiasi sinar matahari, juga beratnya atau derajat pterigium. Pasien dengan pterygium yang kambuh lagi dapat mengulangi pembedahan eksisi dan grafting. 7,12 DAFTAR PUSTAKA 1. Ilyas, S. Pterigium. In : Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2004. p. 116-7 2. Anonim. Pterygium (Conjunctiva). [online] 2009 [cited 2009 July 5th]. Available from: http://en.wikipedia.org/wiki/Pterygium_(conjunctiva) 3. Pope, DB. Pterygium and Pinguecula. [online] 2009 [cited 2009 July 5th]. Available from: http://eyenet.org 4. Tim Pengajar Oftamologi FKUH. Pterigium. Makassar: FKUH. 2005 5. The College Of Optometrists. Pterygium. [online] 2009 [cited 2009 July 5th]. Available from: http://www.med-support.org.uk/IntegratedCRD.../Pterygium%20FINAL.pdf 6. Lisegang JL, Scuta GL, Cantor LB, editors. External Disease and Cornea. In: Basic and Clinical Science Course. American Academy of Ophthalmology. The Eye M.D. Association. 2003-2004 7. Fisher, J. Pterygium. [online] 2009 [cited 2009 July 5th]. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/1192527-overview 8. Garbaulet A., Limbergen EV. Pterygium. [online] 2009 [cited 2009 July 5th]. Available from: http://www.estro-education.org/publications/Documents/TB%20%2034%200508 2002%20Pterygium%20Print_proc.pdf 9. Nemeth SC and Shea C. Conjuctiva, Episclera, and Sclera. [online] 2009 [cited 2009 July 7th]. Available from: http://www.slackbooks.com/excerpts/67921/67921.asp 10. Anonim. Pterygium. [online] 2009 [cited 2009 July 5th]. Available from: http://www.revoptom.com/HANDBOOK/sect2i.htm 11. Olver J and Cassidy L, Editors. More on the Red Eye. In : Ophthalmology at a Glance. Massachusetts : Blackwell Science Ltd. 2005. p. 34-5 12. Anonim. Pterygium. [online] 2009 [cited 2009 July 5th]. Available from: http://www.chadrostron.co.uk/Cornea/Assets/Pterygium.pdf