Anda di halaman 1dari 24

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...............................................................................................................................1 BAB I BAB II BAB III BAB IV BAB V PENDAHULUAN..............................................................................................2 LAPORAN KASUS............................................................................................3 PEMBAHASAN.................................................................................................4 TINJAUAN PUSTAKA...................................................................................18 KESIMPULAN.................................................................................................23

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................24

BAB I PENDAHULUAN

Ilmu Kedokteran Forensik, juga dikenal dengan nama Legal Medicine, adalah salah satu cabang spesialistik dari Ilmu Kedokteran, yang mempelajari pemanfaatan ilmu kedokteran untuk kepentingan penegakan hukum serta keadilan. Di masyarakat, kerap terjadi peristiwa pelanggaran hukum yang menyangkut tubuh dan nyawa manusia. Untuk pengusutan dan penyidikan serta penyelesaian masalah hukum ini di tingkat lebih lanjut sampai akhirnya pemutusan perkara di pengadilan, diperlukan bantuan berbagai ahli dibidang terkait untuk membuat jelas jalannya peristiwa serta keterkaitan antara tindakan yang satu dengan yang lain dalam rangkaian peristiwa tersebut. Dalam hal terdapat korban, baik yang masih hidup maupun yang meninggal akibat peristiwa tersebut, diperlukan seorang ahli dalam bidang kedokteran untuk memberikan penjelasan bagi para pihak yang menangani kasus tersebut. Ilmu kedokteran forensik tidak semata-mata bermanfaat dalam urusan penegakan hukum dan keadilan di lingkup pengadilan saja, tetapi juga bermanfaat dalam segi kehidupan bermasyarakat lain, misalnya dalam membantu penyelesaian klaim asuransi yang adil, baik bagi pihak yang diasuransi maupun pihak yang mengansuransi, dalam membantu pemecahan masalah paternitas (penemuan ke-ayah-an), membantu upaya keselamatan kerja dalam bidang industri dan otomotif dengan pengumpulan data korban kecelakaan industri maupun kecelakaan lalu-lintas dan sebagainya. Untuk dapat memberi bantuan yang maksimal bagi berbagai keperluan di atas, seorang dokter dituntut untuk dapat memanfaatkan ilmu kedokteran yang dimilikinya secara optimal.

BAB II LAPORAN KASUS

Seorang laki-laki ditemukan di sebuah sungai kering yang penuh batu-batuan dalam keadaan mati tertelungkup. Ia mengenakan kaos dalam (oblong) dan celana panjang yang di bagian bawahnya di gulung hingga setengah tungkai bawahnya. Lehernya terikat lengan baju (yang kemudian diketahui sebagai baju miliknya sendiri) dan ujung lengan baju lainnya terikat ke sebuah dahan pohon perdu setinggi 60 cm. Posisi tubuh relatif mendatar, namun leher memang terjerat oleh baju tersebut. Tubuh mayat tersebut telah membusuk, namun masih dijumpai adanya satu luka terbuka di daerah ketiak kiri yang memperlihatkan pembuluh darah ketiak yang putus, dan beberapa luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri yang memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan akibat kekerasan tajam. Perlu diketahui bahwa rumah terdekat dari TKP adalah kira-kira 2 km. TKP adalah suatu daerah perbukitan yang berhutan cukup lebat.

BAB III PEMBAHASAN

Interpretasi Temuan Seorang laki-laki ditemukan di sebuah sungai kering yang penuh batu-batuan dalam keadaan mati tertelungkup. Lehernya terikat lengan baju (yang kemudian diketahui sebagai baju miliknya sendiri) dan ujung lengan baju lainnya terikat ke sebuah dahan pohon perdu setinggi 60 cm. Posisi tubuh relatif mendatar, namun leher memang terjerat oleh baju tersebut. Pada keterangan di atas, ada dua kemungkinan yang dapat terjadi pada korban, yakni korban mati akibat bunuh diri atau korban merupakan korban dari aksi pembunuhan. Jika kemungkinan bahwa kasus ini adalah kasus pemunuhan dengan ditemukannya luka lain pada tubuh korban yang ganjil dan sesuai dengan tandatanda kekerasan fisik maka si pelaku membuat keadaan korban seolah-olah mati karena bunuh diri. Pelaku menggunakan baju milik korban dan mengikat leher korban pada sebuah dahan pohon dengan harapan apabila ditemukan mayatnya maka masyarakat akan berpikir bahwa korban menjerat lehernya sendiri. Dijumpai adanya satu luka terbuka di daerah ketiak kiri yang memperlihatkan pembuluh darah ketiak yang putus dan beberapa luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri yang memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan akibat kekerasan tajam. Temuan ini menyingkirkan bahwa korban mati bunuh diri. Karena luka yang ditemukan merupakan tanda bukti korban penganiayaan orang lain terhadap korban yang diduga sekaligus pelaku pembunuhan. Temuan nomor satu hanya manipulasi dari pelaku agar orang menduga korban mati bunuh diri. Putusnya pembuluh darah ketiak merupakan mekanisme dari kematian korban, karena pembuluh darah ketiak merupakan salah satu pembuluh darah besar dari bagian tubuh di daerah aksila (ketiak). Dimana kekerasan tajamlah yang menyebabkan putusnya pembuluh darah berupa luka bacok. Luka berupa bacokan memiliki ciri-ciri, yaitu kedua sudut lancip dan relatif dalam, bentuk garis lurus, 4

tak ada lecet atau memar di sekitar luka, tepi dinding rata, folikel rambut terpotong, serta tidak ada jembatan jaringan.

Gambar 1: A. Axillaris

Beberapa luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri yang juga memiliki ciri-ciri yang sesuai akibat benda tajam memungkinkan hipotesis bahwa korban sempat melakukan perlawanan dengan kakinya sehingga kaki ikut terluka oleh benda tajam tersebut dan menimbulkan luka sayat. Luka berbentuk sayatan tersebut memiliki ciri-ciri, yaitu kedua sudut lancip dan relatif superfisial, bentuk garis lurus, tak ada lecet atau memar di sekitar luka, tepi dinding rata, folikel rambut terpotong, serta tidak ada jembatan jaringan. Ia mengenakan kaos dalam (oblong) dan celana panjang yang di bagian bawahnya digulung hingga setengah tungkai di bawahnya. Dari pakaian yang dikenakan korban saat ditemukan di TKP maka kami berasumsi bahwa korban dibunuh ketika melakukan rutinitas pekerjaannya sehari-hari yakni ketika menebang kayu. Rata-rata para penebang kayu ketika akan menjalankan pekerjaannya mereka memakai pakaian yang tidak membuat gerah dan memungkinkan untuk melakukan pergerakan secara bebas dan memakai celana pendek ataupun menggulung celana panjang supaya dapat berjalan dengan lebih mudah ke dalam hutan maupun ketika mengambil air di sungai. Tubuh mayat tersebut telah membusuk Diduga korban telah meninggal lebih dari 24 jam yang lalu. Rumah terdekat dari TKP adalah kira-kira 2 km. TKP adalah daerah suatu perbukitan yang berhutan cukup lebat. Ini membuktikan bahwa dalam menjalankan aksinya kemungkinan besar tidak akan ada saksi mata mengingat jauhnya jarak TKP ke pemukiman masyarakat terdekat. Pelaku dapat dengan leluasa melakukan tindak kejahatan di tempat yang sepi dan sunyi.

Perkiraan Kronologi Kasus Pada suatu pagi di bulan September 2012, seorang bapak datang ke tepian suatu sungai yang sudah hampir mengering hendak mengambil air untuk kebutuhan rumah tangganya. Ketika ia sedang mengambil air di tengah sungai ia melihat sesosok tubuh manusia yang terikat di daerah lehernya pada sebuah pohon perdu di tepi seberang sungai. Ia mengenali pria itu sebagai Tn. A yang adalah seorang penebang kayu di desanya dan segera berlari melaporkannya.

Saat polisi datang, mereka menemukan tubuh Tn. A terkelungkup mengenakan kaos dalam dan celana panjang yang di bagian bawahnya digulung hingga setengah tungkai bawahnya. Pada pengamatan lebih lanjut, leher Tn. A terikat lengan baju yang dikenali warga desa sebagai baju Tn. A sehari-hari. Ujung lengan baju lain korban terikat ke sebuah dahan pohon perdu setinggi 60 cm. Posisi tubuh relatif mendatar dan telah membusuk, namun masih dijumpai adanya satu luka terbuka di daerah ketiak kiri yang memperlihatkan pembuluh darah ketiak yang putus, dan beberapa luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri yang memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan akibat kekerasan tajam.

Beberapa hari sebelum penemuan korban, saksi mata melihat korban berjalan kearah hutan bersama adiknya, Tn. B. Keduanya sudah lama bekerja sebagai penebang kayu di sebuah perkebunan kayu swasta yang terletak sekitar 2 km dari desa. Lebih lanjut saksi menegaskan bahwa hubungan keduanya akhir-akhir ini kurang baik akibat masalah pembagian warisan.

Setelah penyelidikan lebih lanjut diketahui Tn. B sebagai pembunuh Tn. A. Pembunuhan dilakukan B pada saat jam istirahat kerja. Saat itu B mengajak A, yang seorang penebang kayu, untuk mengambil air di sungai yang terletak di ujung perkebunan. Waktu A membungkuk hendak mengambil air B mengayunkan kapak untuk membacok A, namun meleset karena A berbalik melihat pantulan bayangan B pada permukaan air dihadapannya. A terjatuh dan merangkak berusaha menghidari tebasan berulang kapak B namun terkena sayatan pada beberapa bagian tungkainya. A terpojok dekat pohon perdu di tepian sungai dan berusaha menahan tebasan terakhir B. Sayangnya mata kapak mengenai ketiak kiri Tn. A dan mengakibatkan perdarahan yang hebat. Beberapa saat kemudian A tergeletak tak sadarkan diri lalu mati. Untuk menutupi pembunuhan B berusaha memanipulasi pembunuhan A dengan mengikat korban sedemikian rupa. 7

Prosedur Medikolegal Penemuan Tn. A ditemukan di sebuah sungai kering yang penuh batu-batuan dalam keadaan mati oleh masyarakat. Pelaporan Dilakukan oleh orang yang menemukan Tn. A ke pihak yang berwajib. Penyelidikan Dilakukan oleh penyelidik yang menindak-lanjuti pelaporan kasus pembunuhan Tn. A, untuk mengetahui apakah benar ada kejadian pembunuhan seperti yang dilaporkan. Penyidikan Dilakukan oleh penyidik. Penyidikan merupakan tindak lanjut setelah diketahui

benar-benar telah terjadi pembunuhan pada kasus Tn. A ini. Penyidik dapat meminta bantuan seorang ahli. Dalam kasus pembunuhan yang mengenai tubuh manusia, maka penyidik dapat meminta bantuan dokter untuk dilakukan penanganan dan penyidikan dengan kedokteran forensik. Penyidik wajib meminta sacara resmi kepada kedokteran forensik untuk melakukan pemeriksaan atas korban. Pemberkasan perkara Dilakukan oleh penyidik, menghimpun semua hasil penyidikannya, termasuk hasil pemeriksaan kedokteran forensic yang dimintakan kepada dokter. Kemudian hasil berkas perkara ini akan diteruskan ke penuntut umum. Penuntutan Dilakukan oleh penuntut umum di sidang pengadilan setelah berkas perkara yang lengkap diajukan ke pengadilan. Persidangan - Persidangan pengadilan dipimpin oleh hakim atau majelis hakim. - Dilakukan pemeriksaan terhadap terdakwa pembunuhan (Tn. B), para saksi dan juga para ahli. Dan sebaiknya dokter atau pemeriksa korban dapat di hadirkan di sidang pengadilan ini sebagai saksi ahli. Putusan pengadilan Vonis dijatuhkan oleh hakim dengan ketentuan : - Keyakinan pada diri hakim bahwa memang telah terjadi suatu pembunuhan di kasus ini dan terdakwa memang bersalah melakukan tindak pidana tersebut. 8

Kayakinan hakim ini harus ditunjang oleh sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah.

Identifikasi Forensik Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu penyidik untuk menemukan identitas seseorang. Identitas seseorang dipastikan bila paling sedikit dua metode yang digunakan memberikan hasil positif. Penentuan identitas personal dapat menggunakan metode identifikasi sidik jari, visual, dokumen, pakaian dan perhiasan, identifikasi medik, pemeriksaan gigi, pemeriksaan serologi dan pemeriksaan DNA. a. Pemeriksaan sidik jari Dengan membandingkan gambaran sidik jari jenazah dengan data sidik jari ante mortem. Setelah mengambil sidik jari jenazah (cap) hasil kita berikan kepada pihak yang berwajib. b. Metode visual Jenazah Tn.A sudah membusuk, maka metode ini kurang efektif dilakukan, karena metode visual hanya efektif apabila didapatkan jenazah yang belum mebusuk. c. Pemeriksaan dokumen Tidak ditemukannya dompet ataupun dokumen dan kartu identifikasi lainnya pada pakaian Tn. A. d. Pemeriksaan pakaian dan perhiasan Pemeriksaan terhadap apa yang dipakai oleh korban ketika terakhir kali ditemukan dapat membantu untuk mengenali identitas korban tersebut. Pada pemeriksaan didapatkan mayat berpakaian: - Atas: kaos dalam (oblong) berwarna putih yang sudah lusuh dan berlumuran darah di bagian sisi kiri tubuh Tn. A. - Bawah: celana panjang jeans berwarna hitam dengan dua buah saku di bagian belakang dan satu buah saku pada bagian depan kanan dan kiri. Bagian bawahnya digulung hingga setengah tungkai bawah. Celana Tn. A pun berlumuran darah pada bagian sisi kiri dan kotor terkena campuran tanah dan pasir. - Celana dalam berwarna putih polos tanpa corak dan motif bergambar. Celana dalam ini sedikit berlumuran darah pada bagian depan atas sebelah kiri 9

e. Identifikasi medik Metode ini menggunakan data tinggi badan, berat badan, warna rambut, warna mata, cacat/kelainan khusus, tattoo (rajah). Pada pemeriksaan didapatkan bahwa mayat adalah seorang laki-laki bangsa Indonesia, berumur kurang lebih tiga puluh tahun, kulit berwarna sawo matang, gizi cukup, panjang badan 170 cm dan berat badan 65 kg. Rambut kepala berwarna hitam kecoklatan, tumbuh sedikit bergelombang, panjang 11 cm. Alis berwarna hitam, tumbuh sedikit menipis di arah tengah. Kumis berwarna hitam, tumbuh lebat dengan panjang 10mm. Hidung berbentuk normal dan kedua daun telinga berbentuk normal. Alat kelamin berbentuk normal, tidak menunjukkan kelainan. Lubang dubur tidak terdapat kelainan f. Pemeriksaan gigi Pada mayat didapatkan gigi geligi lengkap kecuali geraham depan pertama rahang bawah sebelah kanan dan geraham kedua rahang bawah sebelah kiri yang tidak ada. g. Pemeriksaan serologik Pemeriksaan serologik bertujuan untuk menentukan golongan darah jenazah. Pemeriksaan golongan darah yang telah membusuk dapat dilakukan dengan memeriksa rambut, kuku dan tulang.

Tanatologi Aspek tanatologi pada kasus ini, yaitu: Tubuh mayat ditemukan telah membusuk, sehingga perkiraan saat kematian korban lebih dari 24 jam karena pembusukan baru tampak kira-kira 24 jam pasca mati. Pembusukan ini awalnya berupa warna kehijauan pada perut kanan bawah, yaitu daerah sekum yang isinya lebih cair dan penuh dengan bakteri serta terletak dekat dinding perut. Warna kehijauan ini disebabkan oleh terbentuknya sulf-methemoglobin. Secara bertahap warna kehijauan ini akan menyebar ke seluruh tubuh, dan bau busuk pun akan tercium. Ditemukan lebam mayat tetap pada bagian dada dan perut karena korban diketemukan dalam keadaan tertelungkup sebab setelah kematian klinis, maka eritrosit akan menempati tempat terbawah akibat gaya tarik bumi (gravitasi). Lebam mayat yang tetap ini dikarenakan bertimbunnya sel-sel darah dalam jumlah yang cukup banyak, sehingga sulit berpindah lagi, dan kekakuan otot-otot dinding pembuluh darah ikut 10

mempersulit perpindahan tersebut. Dan lebam mayat yang menetap ini akan terjadi setelah 8-12 jam pasca kematian. Pada korban juga terdapat penurunan suhu tubuh (algor mortis). Pada korban tidak diketemukan kaku mayat (rigor mortis) karena korban sudah meninggal kira-kira 24 jam, sedangkan kaku mayat akan timbul dan menjadi lengkap pada 12 jam pertama, kemudian menetap selama 12 jam dan akan menghilang dalam urutan yang sama.

Pemeriksaan Medis Pemeriksaan Luar 1. Label mayat: sehelai karton berwarna merah muda dengan materai lak merah, terikat pada ibu jari kaki kiri mayat. 2. Tutup mayat: 3. Bungkus mayat: 4. Pakaian: Korban menggunakan kaos dalam (oblong) berwarna putih yang sudah lusuh dan berlumuran darah di bagian sisi kiri tubuh dan celana panjang jeans berwarna hitam dengan dua buah saku di bagian belakang dan satu buah saku pada bagian depan kanan dan kiri. Bagian bawahnya digulung hingga setengah tungkai bawah dan berlumuran darah pada bagian sisi kiri dan kotor terkena campuran tanah dan pasir. Celana dalam berwarna putih polos tanpa corak dan motif bergambar. Celana dalam ini sedikit berlumuran darah pada bagian depan atas sebelah kiri Perhiasan: tidak ditemukan 5. Benda di samping mayat: pohon perdu setinggi 60 cm, kerikil dan pasir 6. Tanda kematian: Lebam mayat Dilakukan pencatatan letak dan distribusi lebam. Pada kasus ini korban ditemukan dalam posisi tertelungkup, sehingga lebam mayat akan ditemukan pada bagian perut dan dada korban. Dan lebam mayat tidak hilang pada penekanan dan

11

tidak dapat berpindah. Lebam mayat biasanya mulai tampak 20-30 menit paska mati dan akan menetap 8-12 jam. Kaku mayat Kaku mayat mulai tampak kira-kira 2 jam setelah mati klinis,dan distribusinya dimulai dari kepala ke kaki. Setelah mati klinis 12 jam kaku mayat menjadi lengkap. Suhu tubuh Suhu tubuh menurun akibat berhenti nya proses metabolisme, hal ini dipengaruhi juga oleh suhu lingkungan sekitar korban dan keadaan korban yang hanya menggunakan kaos dalam. Pembusukan Tanda pembusukan tampak pertama kali pada kulit perut sebelah kanan bawah yang berwarna kehijau-hijauan. Pembusukan baru tampak kira-kira 24 jam pasca mati. Pada kasus ini telah ditemukan adanya pembusukan, jadi perkiraan saat kematian pada korban ini adalah lebih dari 24 jam. 7. Identifikasi umum: Jenis Kelamin : Laki-laki Bangsa Ras Umur Warna Kulit : Indonesia : Jawa : 30 tahun : sawo matang

Keadaan gizi : cukup Tinggi badan : 170 cm Berat badan : 65 kg

8. Identifikasi khusus: Tattoo :-

Jaringan parut : Anomali :-

9. Pemeriksaan rambut: hitam kecoklatan dan sedikit bergelombang 10. Pemeriksaan mata: tertutup, tidak ada gambaran perbendungan mata dan tidak ada bintik-bintik perdarahan pada komjungtiva bulbi dan palpebra. 12

11. Pemeriksaan daun telinga dan hidung: tidak terdapat busa/cairan dan darah 12. Pemeriksaan terhadap mulut dan rongga mulut: tidak terdapat kelainan 13. Pemeriksaan alat kelamin dan lubang pelepasan: tidak ada kelainan 14. Pemeriksaan terhadap tanda-tanda kekerasan : a) Letak luka: ditemukan adanya satu luka terbuka didaerah ketiak kiri dan beberapa luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri. b) Jenis luka: luka terbuka yang memperlihatkan pembuluh darah ketiak yang putus dan luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri yang memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan akibat kekerasan tajam. c) Arah luka: mendatar d) Tepi luka: rata dan teratur e) Sudut luka: kedua sudut luka lancip f) Dasar luka: dalam luka tidak melebihi panjang luka g) Ukuran luka: 9 cm 15. Pemeriksaan terhadap patah tulang: tidak ada tanda patah tulang

Pemeriksaan Dalam 1. Lidah 2. Tonsil 3. Kerongkongan 4. Batang tenggorok 5. Rawan gondok : tidak ada bekas gigitan dan masih utuh : tidak ada kelainan : tidak ditemukan benda asing : tidak ditemukan busa : terdapat sedikit resapan darah

6. Arteria karotis interna : tidak terdapat kerusakan 7. Kelenjar timus 8. Paru-paru 9. Jantung : ditemukan adanya thymic fat body : tidak tampak adanya edema : sebesar kepalan tangan kanan mayat. Selaput luar tampak licin, tidak terdapat bintik perdarahan. 10. Aorta thorakalis 11. Aorta abdominalis 12. Ginjal: Bersimpai lemak tipis. Simpai ginjal kanan dan kiri tampak rata dan licin, berwarna coklat dan mudah dilepas. Berat ginjal sebelah kanan sembilan puluh dua gram dan yang kiri seratus lima gram. 13 : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan

13. Hati, kandung empedu, dan pankreas: Hati berwarna coklat, permukaan rata, tepi tajam dan perabaan kenyal. Penampang hati berwarna merah-coklat dan gambaran hati tampak jelas. Berat hati adalah seribu dua ratus lima puluh tiga gram. Kandung empedu berisi cairan berwarna hijau coklat, selaput lendir berwarna hijau. Tidak terdapat penyumbatan pada saluran empedu. 14. Limpa dan kelenjar getah bening: Limpa penampang berwarna merah hitam dengan gambaran limpa jelas. Berat limpa seratus dua belas gram. 15. Lambung dan Usus: lambung selaput lendir berwarna putih dan menunjukkan lipatan yang biasa , tidak terdapat kelainan. Usus tidak ada kelainan. 16. Otak besar, otak kecil, dan batang otak: tidak ada kelainan 17. Alat kelamin dalam: tidak ada kelainan

Pada autopsi semua organ harus diperiksa secara menyeluruh untuk dapat mengetahui kemungkinan-kemungkinan lain penyebab kematian. Berdasarkan temuan dari pemeriksaan luar berupa adanya satu luka terbuka di daerah ketiak kiri yang memperlihatkan pembuluh darah ketiak yang putus, maka kemungkinan sebab kematian korban adalah akibat kekerasan tajam dan bukan karena akibat penjeratan karena dalam kasus ini tidak ditemukan adanya tanda-tanda kematian akibat jeratan berupa tanda-tanda asfiksia maupun resapan darah pada otot-otot leher sebelah dalam. Sedangkan mekanisme kematian korban adalah syok karena perdarahan masif akibat putusnya pembuluh darah ketiak kiri. Aspek Hukum Aspek hukum yang terkait dalam kasus pembunuhan atau penganiayaan yang menyebabkan kematian adalah sebagai berikut. Pasal 338 KUHP Barangsiapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan, dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. Pasal 339 KUHP Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana, yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya, atau untuk melepaskan diri sendiri mupun peserta lainnya dari pidana dalam hal 14

tertangkap tangan, ataupun untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya secara melawan hukum, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun. Pasal 340 KUHP Barangsiapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh lima tahun. Pasal 354 KUHP (1) Barang siapa dengan sengaja melukai berat orang lain, diancam, karena melakukan penganiayaan berat, dengan pidana penjara paling lama delapan tahun. (2) Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan pidana paling lama sepuluh tahun Pasal 355 KUHP (1) Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana lebih dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. (2) Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

Visum et Repertum Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jl. Salemba Raya 6 Telp. 3106197, Fax. 3154626, Jakarta 10430

Nomor : 1435-SK.III/VER/3-11 Jakarta, 12 September 2012 Lamp : Satu sampul tersegel----------------------------------------------------------------------------Perihal : Hasil Pemeriksaan Pembedahan--------------------------------------------------------------atas jenazah Tn. A-------------------------------------------------------------------------------PROJUSTITIA Visum Et Repertum Yang bertanda tangan di bawah ini, Watson, dokter ahli kedokteran forensik pada Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta, menerangkan bahwa atas permintaan tertulis dari Kepolisian Resort Jakarta Timur No. Pol: A/044/Ver/LK/I/2012 tertanggal 10 September 2005, maka pada tanggal sebelas September tahun dua ribu dua belas, pukul enam belas lewat empat puluh empat menit Waktu Indonesia bagian Barat, bertempat di ruang bedah jenazah Forensik Fakultas Kedokteran Universitas

15

Indonesia telah melakukan pemeriksaan atas jenazah yang menurut surat permintaan tersebut adalah : Nama : A. ----------------------------------------------------------------------------------------Umur : 30 tahun ---------------------------------------------------------------------------------Jenis kelamin : Laki-laki --------------------------------------------------------------------------------Warga negara : Indonesia -------------------------------------------------------------------------------Pekerjaan : -------------------------------------------------------------------------------------------Agama : Islam ------------------------------------------------------------------------------------Alamat : --------------------------------------------------------------------------------------------Mayat telah diidentifikasi dengan sehelai label berwarna merah muda, dengan materai lak merah, terikat pada ibu jari kaki kanan.------------------------------------------------------------Hasil Pemeriksaan I. Pemeriksaan Luar 1. Mayat tidak terbungkus.------------------------------------------------------------------------2. Mayat berpakaian sebagai berikut:-----------------------------------------------------------a. kaos dalam (oblong) berwarna putih polos berlumuran darah di bagian sisi kiri tubuh korban.-----------------------------------------------------------------------------b. celana panjang jeans berwarna hitam dengan dua buah saku di bagian belakang dan satu buah saku pada bagian depan kanan dan kiri. Bagian bawahnya digulung hingga setengah tungkai bawah korban. Celana berlumuran darah pada bagian atas kiri dan kotor akibat campuran tanah dan pasir.-----------------c. celana dalam berwarna putih tanpa motif dan corak. Celana dalam ini sedikit berlumuran darah pada bagian atas sebelah kiri.-------------------------------------3. Kaku mayat lengkap pada seluruh persendian korban, lebam mayat ditemukan pada bagian perut dan dada korban berwarna merah kebiruan. Lebam mayat tidak hilang pada penekanan dan tidak dapat berpindah. Mayat dalam kondisi telah membusuk.--4. Mayat adalah seorang laki-laki bangsa Indonesia, umur kurang lebih tiga puluh tahun, kulit berwarna sawo matang, gizi cukup, panjang badan seratus tujuh puluh sentimeter dan berat badan enam puluh lima kilogram.------------------------------------5. Rambut kepala berwarna hitam kecoklatan, tumbuh sedikit bergelombang, panjang sebelas sentimeter. Alis berwarna hitam, tumbuh sedikit menipis di arah tengah. Kumis berwarna hitam, tumbuh lebat dengan panjang sepuluh milimeter.-------------6. Kedua mata tertutup, tidak ada gambaran perbendungan mata dan tidak ada bintikbintik perdarahan pada komjungtiva bulbi dan palpebra.---------------------------------7. Hidung berbentuk normal dan kedua daun telinga berbentuk normal.------------------8. Mulut tertutup. Kedua bibir tampak tebal. Gigi geligi lengkap kecuali geraham depan pertama rahang bawah sebelah kanan dan geraham kedua rahang bawah sebelah kiri.------------------------------------------------------------------------------------------------9. Dari lubang hidung, telinga, mulut dan lubang tubuh lainnya tidak keluar apa-apa.--10. Alat kelamin berbentuk normal, tidak menunjukkan kelainan. Lubang dubur berbentuk biasa tidak terdapat kelainan.----------------------------------------------------11. Pada tubuh terdapat luka-luka sebagai berikut:---------------------------------------------a. Pada daerah ketiak kiri, terdapat luka terbuka mendatar berukuran kurang lebih sembilan sentimeter dengan tepi rata dan teratur serta sudut luka lancip, dalam luka tidak melebihi panjang luka. Pembuluh darah ketiak tampak putus .----------b. Pada daerah tungkai bawah kanan, tiga belas sentimeter dari mata kaki, dua puluh empat sentimeter dari garis bawah lutut terdapat beberapa luka terbuka melintang berukuran kurang lebih lima sentimeter dengan tepi beraturan.-----------------------

16

c. Pada daerah tungkai bawah kiri, sembilan sentimeter dari mata kaki, dua puluh tujuh sentimeter dari garis bawah lutut terdapat luka terbuka melintang berukuran kurang lebih enam sentimeter dengan tepi beraturan.---------------------12. Patah tulang tidak tampak pada tubuh jenazah.----------------------------------------------II. Pemeriksaan Dalam (Bedah Jenazah) 13. Lidah utuh dan tidak terdapat bekas gigitan maupun resapan darah.--------------------14. Tonsil tidak membesar dan penampangnya tidak menunjukkan kelainan.--------------15. Kelenjar gondok rata, tidak ada kelainan----------------------------------------------------16. Kerongkongan kosong, selaput lendirnya berwarna putih. -------------------------------17. Trakea/batang tenggorok tidak ditemukan busa ataupun darah.--------------------------18. Rawan gondok tidak terdapat resapan darah------------------------------------------------19. Arteria karotis interna tidak terdapat kerusakan intima------------------------------------20. Kelenjar timus (kacangan): didapati thymic fat body dan tidak terdapat perdarahan berbintik------------------------------------------------------------------------------------------21. Paru-paru tidak terdapat kelainan-------------------------------------------------------------22. Jantung sebesar kepalan tangan kanan mayat. Selaput luar tampak licin, tidak terdapat bintik perdarahan.---------------------------------------------------------------------23. Ginjal kanan dan kiri bersimpai lemak tipis. Simpai ginjal kanan dan kiri tampak rata dan licin, berwarna coklat dan mudah dilepas. Berat ginjal sebelah kanan delapan puluh gram dan yang kiri sembilan puluh gram. ---------------------------------24. Hati berwarna coklat, permukaan rata, tepi tajam dan perabaan kenyal. Penampang hati berwarna merah-coklat dan gambaran hati tampak jelas. Berat hati adalah seribu dua ratus lima puluh tiga gram.---------------------------------------------------------------25. Kandung empedu berisi cairan berwarna hijau coklat, selaput lendir berwarna hijau. Saluran empedu tidak menunjukkan penyumbatan.----------------------------------------26. Limpa penampang berwarna merah hitam dengan gambaran limpa jelas. Berat limpa seratus dua belas gram.-------------------------------------------------------------------------27. Lambung selaput lendir berwarna putih dan menunjukkan lipatan yang biasa , tidak terdapat kelainan.-------------------------------------------------------------------------------28. Usus dua belas jari, usus halus dan usus besar tidak menunjukkan kelainan.----------29. Pankreas tidak ada kelainan.-------------------------------------------------------------------30. Alat kelamin dalam tidak ada kelainan.------------------------------------------------------Kesimpulan Pada mayat laki-laki ini ditemukan luka terbuka dan pembuluh darah yang putus pada daerah ketiak kiri dan beberapa luka terbuka pada tungkai bawah kanan dan kiri yang memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan akibat kekerasan tajam.--------------------------------------Luka pada ketiak kiri menunjukkan ciri-ciri yang sesuai dengan bacokan benda tajam.--Sebab mati orang ini adalah kekerasan tajam pada ketiak kiri yang menyebabkan terjadinya perdarahan hebat.-----------------------------------------------------------------------------Demikianlah saya uraikan dengan sebenar-benarnya berdasarkan keilmuan saya yang sebaik-baiknya mengingat sumpah sesuai dengan KUHAP.----------------------------------------Dokter yang memeriksa,

dr. J.H. Watson NIP 07022180

17

BAB IV TINJAUAN PUSTAKA

Benda-benda yang dapat mengakibatkan luka dengan sifat luka seperti ini adalah benda yang memiliki sisi tajam, baik berupa garis maupun runcing, yang bervariasi dari alatalat seperti pisau, golok, dan sebagainya hingga keeping kaca, gelas, logam, sembilu bahkan tepi kertas atau rumput. Gambaran umum luka yang diakibatkannya adalah tepi dan dinding luka yang rata, berbentuk garis tidak terdapat jembatan jaringan dan dasar luka berbentuk garis atau titik. Luka akibat kekerasan benda tajam dapat berupa luka iris atau luka sayat, luka tusuk dan luka bacok. Selain gambaran umum luka tersebut di atas, luka iris atau sayat dan luka bacok mempunyai kedua sudut luka lancip dan dalam luka tidak melebihi panjang luka. Sudut luka yang lancip dapat terjadi dua kali pada tempat yang berdekatan akibat pergeseran senjata sewaktu ditarik atau akibat bergeraknya korban. Bila dibarengi gerak memutar, dapat menghasilkan luka yang tidak selalu berupa garis. Pada luka tusuk, sudut luka dapat menentukan perkiraan benda penyebabnya, apakah berupa pisau bermata satu atau bermata dua. Bila satu sudut luka lancip dan yang lain tumpul, berarti benda penyebabnya adalah benda tajam bermata satu. Bila kedua sudut luka lancip, luka tersebut dapat diakibatkan oleh benda tajam bermata dua. Benda tajam bermata satu dapat menimbulkan luka tusuk dengan kedua sudut luka lancip apabila hanya bagian ujung benda saja yang menyentuh kulit, sehingga sudut luka dibentuk oleh ujung dan sisi tajamnya. Kulit di sekitar luka akibat kekerasan benda tajam biasanya tidak menunjukkan adanya luka lecet atau luka memar, kecuali bila bagian gagang turut membentur kulit. Pada luka tusuk, panjang luka biasanya tidak mencerminkan lebar benda tajam penyebabnya, demikian pula panjang saluran luka biasanya tidak menunjukkan panjang benda tajam tersebut. Hal ini disebabkan oleh factor elastisitas jaringan dan gerakan korban. Umumnya, luka akibat kekerasan benda tajam pada kasus pembunuhan, bunuh diri atau kecelakaan memiliki ciri-ciri berikut:

18

Pembunuhan Lokasi luka Jumlah luka Pakaian Luka tangkis Luka percobaan Cedera sekunder Sembarang Banyak Terkena Ada Tidak ada Mungkin ada

Bunuh Diri Terpilih Banyak Tidak terkena Tidak ada Ada Tidak ada

Kecelakaan Terpapar Tunggal/banyak Terkena Tidak ada Tidak ada Mungkin ada

Tabel 1: perbedaan ciri-ciri luka akibat benda tajam pada kategori kasus

Ciri-ciri pembunuhan di atas dapat dijumpai pada kasus pembunuhan yang disertai perkelahian, Tetapi bila tanpa perkelahian maka lokasi luka biasanya pada daerah fatal dan dapat tunggal. Luka tangkis merupakan luka yang terjadi akibat perlawanan korban dan pada umumnya ditemukan pada telapak dan punggung tangan, jari-jari tangan, punggung lengan bawah dan tungkai. Pemeriksaan pada kain (baju) yang terkena pisau bertujuan untuk melihat interaksi antara pisau-kain-tubuh, yaitu melihat letak/lokasi kelainan, bentuk robekan, adanya partikel besi (reaksi biru berlin dilanjutkan dengan pemeriksaan spektroskopi), serat kain dan pemeriksaan terhadap bercak darahnya. Bunuh diri yang menggunakan biasanya diarahkan pada tempat yang cepat mematikan misalnya leher, dada kiri, pergelangan tangan, perut (harakiri) dan lipat paha. Bunuh diri dengan senjata tajam tentu saja akan menghasilkan luka-luka pada tempat yang terjangkau oleh tangan korban serta biasanya tidak menembus pakaian karena umumnya korban menyingkap pakaian terlebih dahulu. Luka percobaan khas ditemukan pada kasus bunuh diri yang menggunakan senjata tajam, sehubungan dengan kondisi kejiwaan korban. Luka percobaan tersebut dapat berupa luka sayat atau luka tusuk yang dilakukan berulang dan biasanya sejajar. Yang dimaksud dengan kecelakaan pada tabel di atas adalah kekerasan tajam yang terjadi tanpa unsur kesengajaan misalnya kecelakaan industri, kecelakaan pada kegiatan sehari-hari; sedangkan cedera sekunder adalah cedera yang terjadi bukan akibat benda tajam penyebab, misalnya luka akibat terjatuh.

19

Jenis-Jenis Luka Terdapat beberapa jenis luka yang dapat ditemukan pada tubuh korban seperti lecet/abrasi, luka lecet tekan, hematom, laserasi, patah tulang rupture abdomen/rongga thorax, dan perdarahan. Lecet/abrasi Luka lecet terjadi akibat cedera pada epidermis yang bersentuhan dengan benda yang memiliki permukaan kasar atau runcing, misalnya pada kejadian kecelakaan lalu lintas, tubuh terbentur aspal, atau sebaliknya benda tersebut yang bergerak dan bersentuhan dengan kulit. Manfaat interpretasi luka lecet ditinjau dari aspek medikolegal seringkali diremehkan, padahal pemeriksaan luka lecet yang teliti disertai pemeriksaan di TKP dapat mengungkapkan peristiwa yang sebenarnya terjadi. Misalnya suatu luka lecet yang semula diperkirakan sebagai akibat jatuh dan terbentur aspal jalanan atau tanah, seharusnya dijumpai pula aspal atau debu yang menempel di luka tersebut. Bila setelah dilakukan pemeriksaan yang teliti ternyata tidak dijumpai benda asing tersebut, maka harus timbul pemikiran bahwa luka tersebut bukan terjadi akibat jatuh ke aspal/tanah, tapi mungkin akibat tindak kekerasan. Luka lecet tekan Disebabkan oleh penjejakan benda tumpul pada kulit. Karena kulit adalah jaringan yang lentur, maka bentuk luka lecet tekan belum tentu sama dengan bentuk permukaan benda tumpul tersebut, tetapi masih memungkinkan identifikasi benda penyebab yang mempunyai bentuk yang khas misalnya kisi-kisi radiator mobil, jejas gigitan, dan sebagainya. Gambaran luka lecet tekan yang ditemukan pada mayat adalah daerah kulit yang kaku dengan warna lebih gelap dari sekitarnya akibat menjadi lebih padatnya jaringan yang tertekan serta terjadinya pengeringan yang berlangsung pasca mati. Hematom Adalah suatu perdarahan dalam jaringan bawah kulit/kutis akibat pecahnya kapiler dan vena, yang disebabkan oleh kekerasan benda tumpul. Luka memar kadangkala member petunjuk tentang bentuk benda penyebabnya, misalnya jejas ban yang sebenarnya adalah suatu perdarahan tepi (marginal haemorrhage) Letak, bentuk dan luas luka memar dipengaruhi oleh berbagai factor seperti besarnya kekerasan, jenis benda penyebab (karet, kayu, besi), kondisi dan jenis jaringan (jaringan ikat longgar, jaringan lemak), usia, jenis kelamin, corak dan warna 20

kulit, kerapuhan pembuluh darah, penyakit (hipertensi, penyakit kardio vascular, diatesis, hemoragik). Pada bayi, hematom cenderung lebih mudah terjadi karena sifat kulit yang longgar dan masih tipisnya jaringan lemak subkutis., demikian pula pada usia lanjut sehubungan dengan menipisnya jaringan lemak subkutan dan pembuluh darah yang kurang terlindung. Akibat gravitasi, lokasi hematom mungkin terletak jauh dari letak benturan, misanya kekerasan benda tumpul pada dahi menimbulkan hematom palpebra atau kekerasan benda tumpul pada paha dengan patah tulang paha menimbulkan hematom pada sisi lain tungkai bawah. Umur luka memar secara kasar dapat diperkirakan melalui perubahan warnanya. Pada saat timbul, memar berwarna merah, kemudian berubah menjadi ungu atau hitam, setelah 4 sampai 5 hari akan berwarna hijau yang kemudian akan berubah menjadi kunin dalam 7 sampai 10 hari, dan akhirnya menghilang dalam 14 sampai 15 hari. Perubahan warna tersebut berlangsung mulai dari tepid an waktunya dapt bervariasi tergantung derajat dan berbagai factor yang mempengaruhinya. Dengan perjalanan waktu, baik pada orang hidup maupun mati, luka memar akan member gambaran yang makin jelas. Hematom ante mortem yang timbul beberapa saat sebelum kematian biasanya akan menunjukkan pembengkakan dan infiltrasi darah dalam jaringan sehingga dapat dibedakan dari lebam mayat dengan melakukan penyayatan kulit. Pada lebam mayat darah akan mengalir keluar dari pembuluh darah yang tersayat bila dialiri air, penampang sayatan akan tampak bersih, sedangkan pada hematom, penampang sayatan akan berwarna merah kehitaman. Tetapi harus diingan bahwa pada pembusukan juga terjadi ekstravasasi darah yang dapat mengacaukan pemeriksaan ini. Laserasi Adalah luka terbuka kekerasan benda tumpul. Bentuk daripada laserasi dapat menunjukkan sifat benda penyebabnya dan dampak patofisiologi dapat sebagai sumber perdarahan yang fatal dan menimbulkan suatu infeksi. Ciri-ciri daripada suatu laserasi adalah tepi/dindin tidak rata, kadang ditemukan jembatan jaringan, dan lecet mungkin ditemukan di sekitar luka. Patah tulang Bentuk daripada patah tulang dapat menentukan sifat benda penyebab. Perubahan terjadi berdasarkan waktu. Dampak patofisiologi yang dapat ditimbulkan 21

oleh patah tulang adalah antara lain, perdarahan, disfungsi, kerusakan jaringan sekitar, emboli lemak dan sumsum tulang. Cedera kepala Selain kelainan pada kulit kepala dan patah tulang tengkorak, cedera kepala dapat pula mengakibatkan perdarahan dalam rongga tengkorak berupa perdarahan epidural, subdural dan subarakhnois, kerusakan selaput otak dan jaringan otak. Perdarahan epidural sering terjadi pada usia dewasa sampai usia pertengahan, dan sering dijumpai pada kekerasan benda tumpul di daerah pelipis (kurang lebih 50%) dan belakang kepala akibat garis paah yang melewati sulcus arteriea meningea tetapi perdarahan epidural tidak selalu disertai patah tulang. Perdarahan subdural terjadi karena robeknya sinus, vena jembatan (bridging vein), arteri basilaris atau berasal dari perdarahan subarachnoid. Perdarahan subarakhnois biasanya berasal dari focus kontusio/laserasi jaringan otak. Perlu diingat bahwa perdarahan ini juga bisa terjadi spontan pada sengatan matahari (heat stroke), leukemia, tumor, keracunan CO dan penyakit infeksi tertentu. Lesi otak tidak selalu terjadi hanya pada daerah benturan (coup), tetapi dapat terjadi di seberang titik benturan (contre coup) atau di antara keduanya (intermediate lesion).

22

BAB V KESIMPULAN

Pada kasus pembunuhan Tn. X di atas maka dapat disimpulkan bahwa sebab kematian Tn. X diakibatkan karena adanya perdarahan yang hebat pada A. Axillaris kiri akibat bacokan kapak dari pelaku pembunuhan sehingga Tn. X mati karena kehilangan cukup banyak darah. Pelaku berusaha membuat keadaan seolah-olah Tn. X mati bunuh diri. Namun dengan melakukan pemeriksaan yang teliti dan pengamatan yang cermat oleh polisi dan dokter forensik setempat maka kasus pembunuhan ini dapat terpecahkan dan berjalan sesuai dengan prosedur medikolegal yang berlaku.

23

DAFTAR PUSTAKA

1. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, et al. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI; 1997.

2. MI, Abdul. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Ed 1. 1997. Jakarta: Binarupa Aksara.

3. Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik FKUI. Peraturan Perundang-undangan Bidang Kedokteran. Hukum Acara Pidana, Prosedur Medikolegal, dan Kejahatan terhadap Tubuh dan Jiwa Manusia. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI; 1994.

4. Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik FKUI. Teknik Autopsi Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI; 2000.

5. www.elsevierimages.com. The Premier Source for Medical Images. A Graft From Axillary Artery to Axillary Vein. Available in: http://www.elsevierimages.com/image/25114.htm. Accessed Oct 3 2012.

24