Anda di halaman 1dari 27

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Studi kekerabatan merupakan bagian dari studi sistematik.

Sistematik ini meliputi studi mengenai identifikasi, taksonomi, tatanama, keanekaragaman organisme, dan studi mengenai berbagai hubungan kekerabatan antara organisme. Kemiripan struktur dari suatu individu dapat digunakan untuk mengetahui berbagai hubungan kekerabatan antara organisme. Tipe atau ciri yang mirip dan berbeda dibahas untuk menentukan ada atau tidaknya hubungan kekerabatan dalam filum. Sejumlah ciri yang tinggi dapat digunakan sebagai indikator kekerabatan yang signifikan (Kastawi, 2003). Beberapa ahli mengusulkan bahwa untuk menentukan jauh-dekatnya hubungan kekerabatan fenetik antara takson-takson organisme satu sama lain atau menggambarkan kekerabatan tingkat jenis dapat dilakukan dengan cara menentukan kesamaan ciri morfologi secara berpasangan. Jumlah sifat yang digunakan diusahakan sebanyak mungkin dan sekurang-kurangnya 40 sifat. Borror (1992) menyatakan, ciri-ciri utama yang digunakan untuk mengidentifikasi Diptera adalah sungut, tungkai, sayap, dan ketotaksis (susunan rambut bulu terutama dari kepala dan toraks). Sedangkan menurut Bock (1976) berpendapat bahwa sejumlah karakter penting yang digunakan untuk mengidentifiksai Drosophila yaitu kepala, torak, sayap, dan sisir kelamin. Penelitian ini menggunakan Drosophila, karena marga Drosophila mempunyai jumlah anggota yang sangat besar. Lingkungan di sekitar kita banyak dijumpai Drosophila. Keberadaan jenis Drosophila sangat beragam dan memiliki pola penyebaran dari dataran rendah hingga daerah pegunungan dan daerah tropis sampai tundra (Bock 1976 dalam Warsini, 1996). Populasi Drosophila memiliki kemampuan yang tidak mudah selektif karena pengaruh lingkungan, sehingga perbedaan spesies dalam populasi sedikit. Oleh karena itu diperlukan kajian tentang hubungan kekerabatan Drosophila dalam hal ini terbatas pada persamaan ciri morfologi. Drosophila yang digunakan sebagai sampel diambil dari tiga

daerah yang berbeda yaitu Pandaan, Probolinggo, dan Lumajang. Drosophila disetiap daerah memiliki ciri morfologi yang khusus. Berdasarkan paparan yang telah dikemukakan, maka dilakukan penelitian dengan judul Kajian Hubungan Kekerabatan Drosophila Tangkapan Di Daerah Pandaan, Probolinggo, dan Lumajang Berdasarkan Persamaan Ciri Morfologi. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dari penelitian ini yaitu bagaimana hubungan kekerabatan Drosophila tangkapan di daerah Pandaan, Probolinggo, dan Lumajang berdasarkan persamaan ciri morfologi? 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan kekerabatan Drosophila tangkapan di daerah Pandaan, Probolinggo, dan Lumajang berdasarkan persamaan ciri morfologi. 1.4 Kegunaan Penelitian Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa diantaranya sebagai berikut:
1. memberikan tambahan informasi mengenai ciri-ciri morfologi pada spesies

Drosophila dari daerah Pandaan, Probolinggo, dan Lumajang.


2. memberikan

informasi

tentang

hubungan

kekerabatan

Drosophila

tangkapan dari daerah Pandaan, Probolinggo, dan Lumajang berdasarkan ciri-ciri morfologi.
3. melatih

keterampilan

mahasiswa

untuk

melakukan

pengamatan

kekerabatan pada spesies lain. 1.5 Batasan Masalah Batasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.

penelitian ini dibatasi pada pengamatan ciri-ciri morfologi

Drosophila tangkapan pada tiga daerah yaitu Pandaan, Probolinggo, dan Lumajang.
2.

bagian yang diamati adalah warna tubuh, kepala, toraks, abdomen, indikator yang menunjukkan kekerabatan adalah kesamaan ciri data yang diperoleh diambil dari kesamaan ciri morfologi

sayap, dan bagian kaki.


3.

morfologi secara berpasangan.


4.

Drosophila. 1.6 Asumsi Penelitian Asumsi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. 2.

medium yang digunakan untuk pembiakan dianggap sama. Drosophila tangkapan yang digunakan pada daerah Pandaan,

Probolinggo, dan Lumajang dianggap sudah dapat mewakili keberadaan Drosophila seluruh daerah tersebut.
3.

faktor lingkungan tempat hidup Drosophila tangkapan dianggap

sama seperti suhu, kelembaban, dan lain-lain. 1.7 Definisi Operasional Untuk menghindari perbedaan penafsiran dalam mendefinisikan suatu istilah, maka definisi operasional dalam penelitian ini dijelaskan sebagai berikut
1.

dendogram merupakan diagram bercabang yang menggambarkan

hierarki kategori berdasarkan derajat kesamaan sejumlah karakter dalam taksonomi


2.

kekerabatan

merupakan

hubungan tingkat taksonomi yang

mengarah pada jauh dekatnya kekeluargaan pada suatu spesies.


3.

kekerabatan fenetik yaitu kekerabatan yang didasarkan pada

kesamaan sifat menyuluruh (overall similarity) dari kelompok-kelompok makhluk hidup yang ada.

4.

ciri morfologi merupakan ciri yang nampak di luar tubuh sebagai pemurnian merupakan upaya untuk mendapatkan spesies yang

fenotip.
5.

benar-benar berasal dari galur murni dan membuktikan bahwa spesies tersebut bukan merupakan mutan. 6. STO (Satuan Taksonomi Operasional) adalah satuan taksonomi yang dijadikan dasar penelitian, dalam penelitian ini STO yang digunakan yaitu antar spesies
7.

koefisien asosiasi merupakan suatu nilai atau koefisien yang

menunjukkan hubungan antara organisme yang satu terhadap yang ke dua atau yang lain
8.

koefisien similaritas merupakan suatu nilai atau koefisien yang

menunjukkan kesamaan karakter diantara organisme yang satu terhadap yang ke dua atau yang lain
9.

spesies adalah tingkat takson yang paling rendah (individu)

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Filum Anak filum Induk kelas Kelas Anak kelas Bangsa Anak bangsa Induk suku Suku Marga Spesies 2.2 Sistematika Drosophila : Arthropoda : Mandibulata : Hexapoda : Insecta : Pterygota : Dyptera : Cycloprappa : Ephydroidea : Drossophilidea : Drosophila : Drosophila sp Deskripsi Drosophila

Sistematika Drosophila menurut Boror (1992) adalah sebagai berikut:

Marga atau genus dari Drosophila menurut Bock (1982) dalam Warsini (1996) masih dapat dibagi lagi menjadi beberapa subgenus yaitu sebagai berikut 1) a) Subgenus Drosophila Bristel kedua lebih dari setengah panjang bristel oral pertama, hampir selalu panjang oral bristel kedua sama panjang dengan oral bristel yang pertama, jika fibisa tunggal carinannya besar dengan sulkus median yang pendek.

b)

Garis-garis apical pada tergit abdomen anterior terputus ditengah

(tidak tersembung) pipi sering kali lebar, femur depan dalam beberapa species mempunyai deret setulae ventremedial yang berwarna hitam, kuat dan pendek (femoral comb). c) Contoh : D. funebris (fabrinus), D. replata Wollaston, D. hydei Sturtevant, D. rubida Marther, D. sulfringaster (duda). 2) a) b) c) Subgenus Sophopora Bristel kedua lebih dari setengah panjang bristel oral pertama, jika Garis-garis pada tergit abdomen bersambung, pipi biasanya sempit, Contoh : D. melanogaster Meigen, D. Ananassae Doleschall, D. vibrisa tunggal carinannya besar dengan sulkus median yang pendek. dan tidak mempunyai femoral comb. Debticulata Bock dan Wheller, D. Bipectinata Duda dan lain-lain. 3) a) b) Subgenus Hhirtodrosophila Vibrisa tunggal carina tidak ada, tidak bersulkus. Presticular acrostichal tidak membesar, bristel anterior dan tengah

sternopleural dan bristel orbital recnilate anterior biasanya kecil dan halus. c) d) lain. 4) a) b) c) Subgenus Scaptodrosophila Vibrisa tunggal, carina jika ada tidak bersulkus Bristel aerostical prescutellar yang membesar, bristle sternopleur Anak marga ini dibagi menjadi beberapa kelompok species, yaitu 1. kelompok species inornata Femur depan tanpa deret vebtromodial bristel yang seperti rambut Contoh : D. Borbosor Bock, D. Bannae Bock dan Person dan lainkusut.

(anterior, tengah, posterior) semua besar dan ada bristle propleural

D. inornata Malloch, D. Rabdote Bock, D. obselettamalloch, D. Collesh Bock 2. kelompok species barkeri D. barkeri Bock, D. Lovisae Bock dan Person 3. kelompok species coracina D.cancellata Mather, D. Ellenae Bock, dan lain-lain
4. kelompok species brunniepenis

D. brunneipennis Malloch, D. Notha Bock dan lain-lain


5. kelompok species brunea

D. brunea de Meijere, D. Cultello sp. Nov dan lain-lain 6. species yang dikelompokkan D. altera Bock, D. Anthermon dan lain-lain 2.3 Ciri-ciri Morfologi Drosophila

Bagian-bagian tubuh Drosophilla menurut Shorrock (1972) dalam Warsini (1996) adalah sebagai berikut 1. sayap Pada bagian sayap Drosophila memiliki venasi khusus yang berbeda dengan famili Insekta lainnya. Pada bagian pangkal sayap tersusun atas (dari atas ke bawah) sel costal, vena auksiler, vena melintang humeral, costa, alula, sel basal, sel anal, sel aksiler. Pada bagian sayap juga terdapat venasi longitudinal yang menyusun bagian proksimal sayap antara lain (dari bagian atas ke bawah): vena longitudinal 1, vena longitudinal 2, vena longitudinal 3, vena longitudinal 4 vena longitudinal 5, vena longitudinal 6 dan juga terdapat vena longitudinal melintang anterior serta vena longitudianal posterior. Venasi longitudinal tersebut membentuk beberapa sel penyusun sayap, antara lain sel marginal, sel sub marginal, sel posterior 1, sel posterior 2 dan sel posterior 3. Semua bagian venasi sayap ditunjukan melalui gambar di bawah ini.

2.1 Gambar venasi sayap Drosophila (Sumber: Sorrock dalam Warsini, 1996) 2. kaki Kaki Drosophila tersusun atas 5 bagian antara lain coxa yang terdapat pada ujung distal, femur, tibia, metatarsus, tarsus. Pada bagian metatarsus terdapat sex comb yang tersusun atas 5 deret bristle (pada Drosophila jantan. Bagianbagian kaki Drosophila ditunjukkan oleh gambar di bawah ini.

2.2 Gambar kaki Drosophila (Sumber: Sorrock dalam Warsini, 1996) 3. kepala Bagian kepala Drosophila tersusun atas sepasang mata faset yang berukuran besar pada bagian kanan kiri kepala. Mata ocelar terdapat pada bagian anterior. Di bagian anterior juga terdapat sepasang antena yang tersusun 8

bersegmen-segmen yakni terdapat 5 segmen yang menyusunnya ( gambar 2.6). Pada ujungnya terdapat arista yang bercabang. Bagian-bagian kepala Drosophila ditunjukkan pada gambar 2.3 dan 2.4. Probosis tersusun atas pulpus inksilari, labrum, dan labellum. Bagian-bagian antena ditunjukkan oleh gambar 2.5.

2.3 Gambar kepala (kiri), kepala tampak lateral (kanan) Drosophila (Sumber: Sorrock dalam Warsini, 1996)

2.4 Gambar kepala (Tampak lateral), b. Bagian-bagian Mulut (Tampak Anterior) (Sumber: Sorrock dalam Warsini, 1996)

2.5 Gambar Antena (Sumber: Sorrock dalam Warsini, 1996) 4. bagian tubuh Pada bagian tubuh yaitu dada terdiri dari tiga segmen, yaitu protoraks, mesotoraks, dan metatoraks. Pada tiap segmen terdapat kaki. Pada ujung anterior disebut akrostikal dan bagian posterior terdapat sutura skutoskutellar. Di bagian kanan dan kiri terdapat sepasang halter yang berguna sebagai organ penyeimbang.

2.6 Gambar Dada (Tampak Dorsal) Droshopila (Sumber: Sorrock dalam Warsini, 1996)

2.7 Gambar Dada (Tampak Lateral) Droshopila (Sumber: Sorrock dalam Warsini, 1996)

10

2.4

Hubungan Kekerabatan Drosophila Kekerabatan antar kelompok taksonomi dapat ditinjau dari dua sudut

pandang, yaitu fenetik dan filetik. Kekerabatan fenetik yaitu kekerabatan yang didasarkan pada kesamaan sifat menyuluruh (overall similarity) dari kelompok-kelompok makhluk hidup yang ada. Semakin banyak kesamaan ciri yang dipunyai oleh kelompok-kelompok makhluk hidup tersebut maka dianggap semakin dekat kekerabatan kelompok-kelompok tersebut. Demikian pula sebaliknya. Kekerabatan filetik yaitu kekerabatan yang didasarkan pada sifat makhluk hidup secara filogenetik (Sulasmi, Eko Sri, 1997:24). Menurut Davis dan Heywood (1973) dalam Indriwati (2011), dalam prakteknya lebih umum digunakan kekerabatan fenetik dengan alasan: 1) untuk penerapan klasifikasi secara filogenetik tidak tersedia bukti-bukti yang cukup sebagai penunjang pelaksanaan sistem klasifikasi tersebut, 2) bila cukup banyak sifatsifat yang dipertimbangkan, biasanya kekerabatan fenetik akan menggambarkan kekerabatan filogenetik. Salah satu tahap penting dalam kegiatan taksimetri adalah penentuan satuan taksonomi operasional (STO). Satuan taksonomi operasional (STO) yaitu satuan taksonomi yang akan dijadikan dasar penelitian, mungkin berupa infraspesies, jenis atau marga. Dari setiap STO dipilih ciri sebanyak mungkin. Agar diperoleh hasil penelitian yang memuaskan maka paling sedikit diperlukan 50 karakter atau ciri yang bersifat mantap yaitu ciri yang tidak mudah dipengaruhi oleh lingkungan (Sulasmi, Eko Sri, 1997:25). Ciri morfologi (fenotip) merupakan bentuk luar atau kenyataan karakter yang dikandung suatu individu. Selain itu fenotip juga dapat dikatakan sebagai hasil kerja sama antara genotip dengan lingkungan (Yatim, 1991:48). Oleh karena itu kemiripan struktur pada organisme dapat dipakai sebagai kriteria untuk menentukan kekerabatan (Kastawi, 2005:3). 2.5 Penyebaran Drosophila Marga Drosophila mempunyai jumlah anggota yang paling besar, bermacam-macam dan habitatnya tersebar luas. Anggota-anggotanya ditemukan mulai daratan rendah hingga daerah pegunungan dan daerah tropis

11

sampai daerah tundra. Daratan subur, gurun pasir, rawa, dan savana, semuanya merupakan habitat dari anggota-anggota Drosophila, tak terkecuali daerah hutan dan pegunungan (King, 1975 dalam Warsini 1996). Kondisi alam pada setiap daerah berbeda satu sama lainnya, yang memungkinkan ditemukannya jenis-jenis Drosophila yang berbeda pula antar daerah. Shorrock (1981) dalam Warsini (1996) menyatakan bahwa faktor yang mendorong adanya pembeda penyebaran habitat tersebut adanya rintangan alam yang menajdi isolasi bagi penyebaran jenis-jenis Drosophila dari daerah satu dengan daerah lainnya. Misalnya adanya rintangan yang berupa lautan luas atau gunung-gunung yang tinggi, yang dapat memperkecil terjadinya migrasi Drosophila ke daerah lain. Kondisi ini yang menyebabkan jenis Drosophila yang ada di suatu kawasan tertentu mungkin akan berbeda dengan jenis-jenis Drosophila yang ada di kawasan lain. Tetapi tidak menutup kemungkinan juga adanya perpindahan Drosophila ke daerah lain yang jaraknya jauh atau kondisi daerahnya berbeda dengan habitat aslinya. Hal ini misalnya saja terjadi karena terbawa oleh transportasi hasil bumi dari daerah pegunungan ke daerah kota. Jarak dari suatu tempat ke tempat yang lain juga bisa menjadi salah satu faktor penyebab perbedaan ciri morfologi dari Drosophila sp menjadi berbeda-beda. Hal sama juga diungkapkan oleh Kusrini dkk (2010) yang menyatakan bahwa terjadinya pengelompokan yang terlihat pada dendogram dikarenakan oleh adanya faktor kedekatan lokasi geografi. 2.6 Dendogram Dendogram merupakan diagram bercabang yang menggambarkan hierarki kategori berdasarkan derajat kesamaan sejumlah karakter dalam taksonomi. Untuk menentukan jauh-dekatnya hubungan kekerabatan fenetik antara takson-takson organisme satu sama lain, Davis dan Heywood (1973) dalam Indriwati (2011) mengusulkan dengan cara menentukan kesamaan (resemblance atau simi-larity) antara takson-takson organisme tersebut secara berpasangan. Untuk keperluan ini hanya digunakan sifat-sifat morfologi. Alternatif sifat yang mungkin ada pada organisme tersebut diberi kode secara

12

numerik 1, 2, 3, dst sebagai pembeda. Khusus untuk organisme yang tidak memiliki sifat yang ditampilkan diberi kode 0. Menurut Sokal dan Sneth (1963), Davis dan Heywood (1973) dalam Indriwati (2011) ada tiga cara menentukan kesamaan atau similaritas, yaitu dengan mencari: 1) koefisein asosiasi, 2) koefisien korelasi, dan 3) jarak taksonomi. BAB III KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS 3.1 Kerangka Konseptual Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan kekerabatan pada Drosophila tangkapan daerah Pandaan, Probolinggo dan Lumajang, maka disusun kerangka konseptual sebagai berikut Kekerabatan fenetik merupakan kekerabatan yang mendasarkan pada kesamaan sifat menyeluruh Kemiripan struktur pada organisme dapat dipakai sebagai kriteria untuk menetukan hubungan kekerabatan (Kastawi, dkk, 2005:3). Drosophila dari daerah Pandaan, Probolinggo, dan Lumajang Drosophila setiap daerah memiliki ciri morfologi yang khusus Menghitung indeks kesamaan (indeks asosiasi dan indeks similaritas)

Hubungan kekerabatan Drosophila tangkapan daerah Pandaan, Probolinggo dan Lumajang

3.2 Hipotesis

13

Ada hubungan kekerabatan antara Drosophila tangkapan daerah Pandaan, Probolinggo, dan Lumajang berdasarkan persamaan ciri morfologinya.

BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif yaitu dengan mengamati ciriciri morfologi Drosophila di tiga daerah berbeda yaitu Pandaan, Probolinggo, dan Lumajang. Kemudian dianalisis berdasarkan persamaan ciri yang diperoleh dengan koefisien asosiasi dan membuat dendogram untuk mengetahui secara jelas tingkat kekerabatan antar spesies Drosophila di tiga daerah tersebut. 4.2 Waktu dan Tempat Penelitian Pengambilan sampel dilakuakan di daerah Pandaan, Probolinggo, dan Lumajang pada tanggal 22 September 2012 dan penelitian dilakukan di ruang Genetika (ruang BIO 310) gedung Biologi FMIPA UM, yang dilakukan sejak September 2012 sampai November 2012. 4.3 Populasi dan Sampel a. Populasi Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Drosophila di tiga daerah yaitu Pandaan, Probolinggo, dan Lumajang. b. Sampel Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Drosophila yang ditangkap dari Kec. Pandaan Pasuruan, Kec. Bantaran Probolinggo, dan Kec. Candipuro Lumajang. 4.4 Alat dan Bahan 1. Alat

14

Mikroskop stereo, botol selai, selang ampul, selang kecil, kuas, pengaduk kayu, kardus, panci, kompor gas, cutter, timbangan, blender, baskom, pisau, dan spidol. 2. Bahan Pisang raja mala, papaya, manga, nangka gula merah, tape singkong, air, yeast, kertas label, kertas pupasi, plastik, spons, dan kain kassa. 4.5 Prosedur Kerja 1. Menangkap Drosophila a. menentukan daerah penangkapan yaitu di Pandaan, Probolinggo, dan Lumajang b. memasang perangkap dengan toples atau bekas air mineral yang diisi pisang, papaya, tape, nangka, mangga. c. meletakkan perangkap pada tempat-tempat tertentu d. menunggu sampai sekiranya sudah terdapat banyak Drosophila e. menutup dengan hati-hati menggunakan kain kassa atau spons. 2. Membuat medium memotong pisang kecil-kecil, menimbang

a. menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan b. mengupas pisang dan sampai 700 gram (untuk 1 resep) c. menimbang tape singkong sebanyak 200 gram dan gula merah 100 gram. d. memblender pisang dan tape singkong dan menambahkan air secukupnya. e. memasak bahan yang sudah diblender selama 45 menit jika pembuatan satu resep, bila dua resep selama 1 jam. f. memasukkan ke botol selai. g. menutup botol dengan spons h. mendinginkan medium i. memasukkan kertas pupasi. j. memberi yeast secukupnya (7 butir)

15

3. Mengidentifikasi Drosophila a. mencari minimal 50 ciri morfologi Drosophila dari buku Borror b. mengampul pupa yang telah menghitam dari masing-masing daerah c. apabila sudah menetas lalu memasukkan ke dalam plastik d. mengamati ciri-ciri morfologi Drosophila minimal 50 ciri di bawah mikroskop stereo 4. Pemurnian a. mengampul pupa dari masing-masing daerah b. mengamati ciri-ciri morfologi pupa yang sudah menetas minimal 50 ciri c. mengawinkan Drosophila (parental) dengan ciri yang sama dari masing-masing daerah d. setelah 2 hari jantan dilepas e. menunggu sampai bertelur, lalu menjadi larva dan menjadi pupa f. jika pada botol sudah ada larva, betina dipindah ke medium baru g. mengampul pupa dari perkawinan parental apabila sudah menghitam (F1) h. setelah menetas kemudian menyilangkan sesama F1 yang memilki ciri sama dengan parental i. demikain seterusnya sampai F3 j. setelah mendapat F3 mengamati fenotipnya dan menyamakan dengan ciri parental k. menghitung indeks kesamaan (indeks asosiasi dan indeks similaritas) l. membuat dendogram 4.6 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan pengamatan ciri-ciri morfologi dari Drosophila tangkapan yang berasal dari daerah Pandaan, Probolinggo, dan Lumajang. Kemudian data yang diperoleh dimasukkan ke dalam tabel berikut ini:

16

No

Ciri-ciri Morfologi

Pandaan (A)

Probolinggo (B)

Lumajang (C)

1 2 3 Dst 4.7 Teknik Analisis Data Data dianalisis dengan mengelompokkan ciri morfologi Drosophila yang sama. Setelah similaritas diketahui, kemudian hasil perhitungan disusun dalam matriks jumlah karakter pasangan STO pada tabel kedua. Selanjutnya berdasarkan tabel tersebut, dihitung indeks kesamaan dari tiap pasangan STO dengan menggunakan rumus: S= Dimana: S = koefisien asosiasi sepasang STO yang dibandingkan Ns = Jumlah sifat yang sama untuk sepasang STO yang dibandingkan Nd = Jumlah sifat yang berbeda untuk sepsang STO yang dibandingkan Kelompok didasarkan atas tingkat kesamaan tertinggi, kemudian berturut-turut ketingkat kesamaan yang lebih rendah. Hasil perhitungan koefisien asosiasi pasangan-pasangan STO tersebut kemudian dianalisis dengan indeks koefisien similaritas dengan rumus: r (A+B).C = Dimana: r AB = kelompok dengan kesamaan terbesar r AC dan r BC = kelompok selain kelompok AB Analisis terakhir dengan memaparkan hasil perhitungan kekerabatan jenisjenis Drosophila dalam bentuk dendogram taksonomi hierarki.

17

BAB V DATA DAN ANALISIS DATA 5.1 Data Pandaan (A) Probolinggo (B) Lumajang (C) 18

Tabel 5.1 Karakter pada Satuan Taksonomi Operasional (STO) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Ciri-ciri Warna tubuh kuning kecoklatan Warna mata majemuk merah Bentuk mata majemuk oval dan cembung Diameter mata majemuk lebih besar dari diameter pipi Faset mata halus Terdapat mata tunggal (ocelli) Jumlah mata tunggal (ocelli) 3 Ocelli membentuk segitiga Terdapat rambut disekitar mata tunggal (ocelli) Arista berambut Memiliki rambut mulut (oral bristle) Terdapat rambut halus disekitar proboscis Tipe mulut penjilat Sungut berambut Terdapat rambut fronto orbital (fob) Terdapat rambut post vertical (pv) Warna tubuh bagian ventral

18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47

kuning pucat Sayap menutupi tubuh sempurna Warna sayap metalik Ujung sayap membulat Terdapat rambut halus pada tepi sayap Rangka sayap anterior tebal Rangka sayap posterior tipis Costa mencapai ujung sayap Costa berambut Terdapat kalipter Terdapat alula Sel anal tidak terbuka pada ujung sayap Terdapat halter Terdapat rambut pada tibia Terdapat taji tibia Terdapat rambut pada femur Tarsus berambut halus Segmen tarsus tampak jelas Ruas tarsus pertama lebih panjang Bentuk empodium seperti rambut Koksa tampak jelas Koksa berambut Terdapat rambut akrostikal pada thorax Rambut akrostikal pendek Rambut akrostikal terdiri dari 12 baris dibagian dorsal thorax Terdapat rambut vertical bagian dalam (ivb) Terdapat rambut vertical bagian luar (ovb) Sternopleura berambut Terdapat rambut pada skutellum Terdapat sutura frontalis Terdapat lunula frontalis

19

48 49 50 51 52 53 54 55

Notopleura berambut Betina: ovipositornya berambut Jantan: seks comb terdapat di segmen tarsus 1 dan 2 Seks comb tersusun secara transversal Jantan: kait seks terlihat jelas Terdapat mesonotum Terdapat targid Terdapat rambut pada ruas

55

53

56

abdomen 56 Ruas sungut berjumlah 3 Total Keterangan: : karakter yang sama -: karakter yang berbeda A. Analisis Data

Berdasarkan tabel 5.1 diatas diketahui bahwa terdapat ciri-ciri yang sama (berkode ) pada setiap pasang STO dijumlah, demikian pula karakter yang tidak sama (berkode - ). Hasil perhitungan tersebut disusun dalam matriks jumlah karakter pasangan STO pada tabel di bawah ini. Tabel 5.2 Matriks Jumlah Pasangan Satuan Taksonomi Operasional (STO) Spesies Pandaan (A) Probolinggo (B) Pandaan (A) 52 Probilinggo (B) *4 Lumajang (C) *1 *3 Keterangan: Tanda * adalah karakter yang tidak sama Tanpa Tanda * adalah karakter yang sama Tanda (-) adalah tidak ada perbedaan dan persamaan pada spesies yang sama (AA, BB, CC) Berdasarkan tabel 5.2 dapat dihitung indeks kesamaan dari setiap pasangan STO yaitu dengan rumus S= Ns Ns+Nd Dari rumus tersebut didapatkan hasil sebagai berikut: 20 Lumajang (C) 55 53 -

SAB = SAC = SBC =

= 0,928 = 0,982 = 0, 946

Tabel 5.3 Koefisien asosiasi antar spesies Spesies Pandaan (A) Probolinggo (B) Lumajang (C) Keterangan: nilai tinggi Indeks koefisien similaritas r (A+C).B = = = = = = 0,9416 = 0,94 Berdasarkan dari nilai Indeks koefisien similaritas tersebut, maka dapat dibuat grafik dendogram sebagai berikut 0,98 0,94 A C Pandaan (A) Probolinggo (B) Lumajang(C) 1 0,928 1 0,982 0, 946 1 1 menunjukkan tingkat hubungan kekerabatan paling

0,00

0,90

0,92

0,94

0,96

0,98

1,00

21

22

BAB VI PEMBAHASAN Berdasarkan hubungan kekerabatan dari kelompok Drosophila tangkapan yang telah diamati, dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan dan persamaan yang tampak. Salah satu dari dua metode yang dipakai adalah metode fenetik yang didasarkan pada kepemilikan karakter atau ciri yang sama dari suatu kelompok organisme. Tujuan dari metode ini dapat menggambarkan hubungan kekerabatan antara kelompok-kelompok organisme untuk memahami keanekaragaman hayati (Hidayat dan Pancoro, 2008). Salah satu tahap penting dalam kegiatan taksimetri adalah penentuan satuan taksonomi operasional (STO). Satuan taksonomi operasional (STO) yaitu satuan taksonomi yang akan dijadikan dasar penelitian, mungkin berupa infraspesies, jenis atau marga. Dari setiap STO dipilih ciri sebanyak mungkin. Agar diperoleh hasil penelitian yang memuaskan maka paling sedikit diperlukan 50 karakter atau ciri yang bersifat mantap yaitu ciri yang tidak mudah dipengaruhi oleh lingkungan (Sulasmi, Eko Sri, 1997:25). Pada perhitungan analisis data, digunakan perhitungan indeks kesamaan dengan cara jumlah ciri yang sama dibagi dengan jumlah semua ciri yang diamati, maka akan diperoleh nilai hasil perbandingan yang paling besar. Selanjutnya dapat dilakukan perhitungan koefisien similaritasnya untuk mengetahui seberapa besar hubungan kekerabatan antar semua spesies. Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa nilai koefisien asosiasi Drosophila sp. Pandaan-Probolinggo (A-B) sebesar 0,928; Pandaan-Lumajang (A-C) sebesar 0,982; dan Probolinggo-Lumajang (B-C) sebesar 0,946. Dari hasil tabel koefisien asosiasi diketahui bahwa nilai koefisien asosiasi tertinggi yaitu pada Pandaan-Lumajang (A-C) sebesar 0,982. Hal ini menunjukkan bahwa Drosophila sp. pada daerah dan Pandaan-Lumajang mempunyai Untuk nilai hubungan koefisien kekerabatan paling dekat dibandingkan dengan Drosophila sp. pada daerah Probolinggo-Lumajang Pandaan-Probolinggo. similaritas dari ketiga Drosophila sp. adalah 0,941. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan kekerabatan diantara Drosophila sp. pasangan Pandaan-Lumajang.

23

Kekerabatan suatu makhluk hidup dapat ditentukan melalui kemiripan dari ciri morfologi. Semakin banyak kesamaan ciri yang dipunyai oleh kelompokkelompok makhluk hidup tersebut maka dianggap semakin dekat kekerabatan kelompok-kelompok tersebut (Sulasmi, Eko Sri, 1997:24). Hubungan kekerabatan antara dua individu atau populasi dapat diukur berdasarkan kesamaan sejumlah karakter dengan asumsi bahwa karakter-karakter berbeda disebabkan oleh adanya perbedaan susunan genetik. Karakter pada makhluk hidup dikendalikan oleh gen. Gen merupakan potongan DNA yang hasil aktivitasnya (ekspresinya) dapat diamati melalui perubahan karakter morfologi yang dapat diakibatkan oleh pengaruh lingkungan (Kartikaningrum et al., 2002; Souza dan Sorells cit. Hadiati, 2003 dalam Purwantoro dkk, 2005). Berdasarkan nilai koefisien asosiasi dan indeks koefisien similaritas diatas, kemudian dibuat pemetaan yang disusun dalam suatu diagram pohon (dendogram). Dendogram merupakan suatu diagram bercabang yang menggambarkan hierarki kategori berdasarkan derajat kesamaan sejumlah karakter dalam taksonomi. Hasil dari dendogram dapat menunjukkan hubungan kekerabatan yang dekat dan yang jauh. Berdasarkan dendogram terlihat bahwa jarak kekerabatan Pandaan-Lumajang lebih dekat dibanding ProbolinggoLumajang. Hal ini dimungkinkan karena perbedaaan geografis dari ketiga daerah tersebut. Keadaan geografis daerah pandaan hampir sama dengan Lumajang yaitu berupa daerah yang dekat dekat dengan pegunungan. Sedangkan keadaan geografis daerah Probolinggo merupakan daerah yang lebih dekat dengan laut. Pandaan dan Lumajang memiliki ketinggian yang hampir sama. Pandaan terletak disekitar di kaki gunung Penanggungan dengan ketinggian sekitar 300 mdpl dan suhu rata-rata 27C (BPN kota Pandaan). Lumajang terletak pada ketinggian sekitar 100-500 mdpl dengan suhu rata-rata 27C (BPS Lumajang), sedangkan Probolinggo tertelak diketinggian 0-50 mpdl dan memiliki suhu 28-29 C (BPS Probolinggo). Adanya tingkat kekerabatan yang berbeda antar daerah menunjukkan adanya tingkat keragaman di alam. Penyebab dari perbedaan ini dapat diakibatkan oleh kondisi khusus yang ada di daerah tersebut, misalnya jenis makanan tertentu yang tidak terdapat di daerah lain dan juga sifat adaptif dari Droshopila yang

24

sudah terbiasa dengan kondisi alam di daerah tertentu. Hal lain juga disebutkan Shorrock (1981) dalam Warsini (1996) yang mengungkapkan bahwa adanya rintangan alam yang menjadi isolasi bagi penyebaran jenis Drosophila. dari satu daerah ke daerah lainnya. Adanya laut serta banyaknya pegunungan-pegunungan tinggi yang memungkinkan migrasi dari Drosophila itu tidak terjadi. Jarak dari suatu tempat ke tempat yang lain juga bisa menjadi salah satu faktor penyebab perbedaan ciri morfologi dari Drosophila menjadi berbeda-beda. Hal sama juga diungkapkan oleh Kusrini dkk (2010) yang menyatakan bahwa kedekatan lokasi geografi. terjadinya pengelompokan yang terlihat pada dendogram dikarenakan oleh adanya faktor

25

BAB VII PENUTUP 7.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil yang didapatkan maka hubungan kekerabatan Drosophila yang paling dekat dari ketiga daerah terdapat pada daerah Pandaan dan Lumajang (AC) yang memiliki nilai paling besar yaitu sebesar 0,982. Hal ini terjadi karena letak geografis dari daerah Pandaan dan Lumajang memiliki ketinggian tempat serta suhu lingkungan yang hampir sama. Namun Drosophila pada tiga daerah yaitu Pandaan, Probolinggo, dan Lumajang masih terdapat hubungan kekerabatan dengan indeks kesamaan sebesar 0,941. 7.2 Saran 1. Kajian mengenai indeks asosiasi dan indeks similaritas serta kajian tentang kekerabatan hendaknya difahami terlebih dahulu sebelum penelitian ini dilakukan. 2. Semakin banyak ciri morfologi yang didapatkan maka akan semakin akurat data yang diperoleh. 3. Penelitian selanjutnya sebaiknya dilakukan dengan Drosophila dari berbagai kota yang lain sehingga dapat diketahui hubungan kekerabatan antar spesies Drosophila dari berbagai daerah. 4. Dalam penelitian ini diperlukan kesabaran, ketelitian dan kecermatan dalam pengamatan. 5. Dalam menentukan hubungan kekerabatan sebaiknya menggunakan lebih banyak spesies sehingga dapat diketahui hubungan kekerabatannya secara signifikan.

26

27