Anda di halaman 1dari 6

1 Topik: kejang demam Tanggal (kasus): 28 September 2012 Persenter: Dr.

Ummi Kaltsum Pulungan Tangal presentasi: Tempat presentasi: Obyektif presentasi: Keilmuan Diagnostik Neonatus Keterampilan Manajemen Bayi Penyegaran Masalah Anak Tinjauan Pustaka Istimewa Remaja Dewasa Lansia Bumil Pendamping: Dr. Desi Puspa A. Siregar

Deskripsi: anak berumur 3 tahun, keluhan kejang 15 menit sebelum masuk rumah sakit, riwayat batuk, flu, dan demam sebelumnya. Tujuan: mengatasi kejang pada anak, Bahan bahasan: Cara membahas: Tinjauan Pustaka Diskusi Riset Kasus Email Audit Pos

Presentasi dan diskusi

Data pasien:

Nama: Anak R, 3 tahun Telp:

Nomor Registrasi: Terdaftar sejak:

Nama klinik: Data utama untuk bahan diskusi:

1. Diagnosis/ Gambaran Klinis: Kejang demam simpleks. Seorang anak umur 3 tahun 4 bulan dibawa dengan riwayat kejang 15 menit sebelum masuk rumah sakit, kejang dialami 5 menit, 1x. Riwayat batuk flu dan demam sebelumnya. 2. Riwayat Pengobatan: Tidak jelas 3. Riwayat kesehatan/ Penyakit: Batuk dan pilek 2 hari sebelumnya. Pasien belum pernah mengalami kejang sebelumnya. 4. Riwayat keluarga: Anak pertama. Hasil Pembelajaran 1. Sujektif Pasien datang dibawa oleh keluarga yang mengeluhkan pasien mengalami kejang 15 menit sebelum dibawa ke rumah sakit, kejang dialami 5 menit, kejang seluruh tubuh dengan mata terbelalak ke atas, dan kejang hanya dialami sekali. Demam dijumpai. Sebelumnya pasien mengalami batuk, dan pilek selama 2 hari. Riwayat tidak sadar tidak dijumpai. Riwayat kejang sebelumnya disangkal oleh orang tua pasien. Orang tua pasien tidak ada yg mengalami kejang sewaktu masih kecil.

2. Objektif Hasil pemerikasaan klinis dan fisik : Sensorium : Compos mentis Nadi : 90 x/menit : 38,6 oC

Frek. Nafas : 20 x/menit Temp.

Berat badan : 15 kg

Pemeriksaan Fisik Kepala Thoraks : : Conj. Palpebra anemis /ikterik -/-, kaku kuduk (-), bibir sianosis (-) Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Abdomen Ekstremitas : : : bentuk simetris, pernafasan torako-abdominal, ptekie (-) : stem fremitus ,ka = ki : sonor kedua lap. Paru : vesikuler

Soepel, peristaltik normal, ptekie (-) bergerak aktif, tidak dijumpai kelainan, kernig sign (-), brudzinski sign (-)

Pemeriksaan tambahan Darah rutin : tidak dijumpai kelainan

3. Assessment ( Penalaran klinik )

Kejang demam merupakan kejang yang terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun, yang disertai dengan demam tetapi tidak didasari adanya bukti keterlibatan kelainan intrakranial Puncak terjadinya kejang demam pada usia 18 bulan 3. Pada kasus ini kejang terjadi pada pasien berumur 3 tahun dengan demam suhu 38,6 oC, dari riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik tidak dijumpai tanda-tanda kelainan intrakranial. Kejang demam diklasifikasikan menjadi kejang demam simpleks dan kejang demam kompleks. Kejang demam simpleks diartikan kejang keseluruhan tanpa dijumpai kejang fokal yang terjadi selama kurang dari 15 menit dan tidak berulang dalam waktu 24 jam, kejang demam tipe ini terjadi pada 2/3 kasus kejang demam2,3. Sedangkan kejang demam kompleks diartikan sebagai kejang dengan dijumpai salah satu hal dari kriteria ini yaitu dijumpai kejang sebagian/fokal, durasi kejang lebih dari 15 menit dan kejang berulang dalam 24 jam. Perlu diklasifikasikan kejang demam menjadi simplek atau kompleks mengingat prognosa terjadi ulangan kejang dan kemungkinan dasar penyakit yang menyertai kejang disertai demam lebih sering terjadi pada kejang demam kompleks 3. Pada kasus ini pasien kejang seluruh badan dengan mata terbelalak keatas, durasi kejang kurang dari 5 menit, tidak ada dijumpai kejang ulangan. Sehingga pasien ini digolongkan kejang demam simpleks. Penanganan saat kejang mencakup menjaga jalan nafas dengan memiringkan badan anak agar memudahkan muntah dan saliva agar tidak teraspirasi, mengganjal mulut dengan kassa atau goodle untuk menjaga agar lidah tidak tergigit, pemberian oksigen kanule atau mask, sesuai keadaan anak ketika masuk dan pemberian diazepam rektal 0,5 mg/kg bb maksimum 10 mg, atau jika jalur intravena telah terpasang, pemberian diazepam intravena 0,3-0,5 mg/kg bb. Pemberian intravena dilakukan secara perlahan untuk menghindari depresi pernafasan, pemantauan pernafasan setelah pemberian intravena harus dilakukan 3. Setelah kejang teratasi, penjajakan penyebab demam dan kejang penting untuk dilakukan, yang harus difikirkan ialah meningitis dan ensefalitis, sehingga pemeriksaan fisik yang teliti harus dilakukan dan tindakan pemeriksaan lumbal pungsi harus dipertimbangkan 3. Pada kejang demam simpleks tidak dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan lumbal pungsi, pemeriksaan lumbal pungsi dilakukan pada pasien yang menunjukkan gejala meningtis, ensefalitis dengan jelas atau kejang demam kompleks, seperti kaku kuduk, Kernig sign,
1,2,3

. Kejang demam terjadi pada suhu rektal mencapai lebih dari 38 oC

1,2,3

Brudzinski sign, atau dijumpai penurunan kesadaran sejak onset kejang 1. Selain itu keadaan kelainan elektrolit juga harus dipertimbangkan sebagai pencetus terjadinya kejang 3. Setelah penyebab demam dan kejang ditemukan maka terapi defenitif untuk mengkoreksi penyebab demam dan kejang harus dilakukan. 4. Plan Diagnosis : Diagnosis pasien ini berdasarkan Gejala klinis : Dijumpai riwayat kejang seluruh tubuh selama 5 menit , hanya 1 kali kejang dalam 1 hari, sebelumnya pasien mengalami batuk pilek dan demam dengan suhu 38,6oC. Pemeriksaan fisik : tidak dijumpai kelainan berupa kaku kuduk, kelumpuhan anggota gerak, semua dalam batas normal. Pemeriksaan tambahhan : tidak dijumpai kelainan. Disimpulkan sebagai kejang demam simpleks Pengobatan : Pasien datang dengan keadaan demam sehingga pemberian antipiretik paracetamol 10mg/kgbb merupakan pilihan, selain itu ibuprofen dapat diberikan dengan dosis 5-10mg/kgbb1,3 penyebab demam pada pasien ini adalah batuk pilek atau disebut dengan common cold sehingga terapi defenitif yang diberikan hanya simptomatik saja mengingat common cold merupakan self limited disease. Penjajakan lebih lanjut seperti melakukan lumbal pungsi, EEG, atau CT Scan tidak dianjurkan pada kejang demam simplek yang tidak menunjukkan tanda-tanda klinis yang mendukung untuk kelainan intrakranial 1. Pemantauan ketat untuk terjadinya kejang ulangan harus dilakukan, sehingga diazepam rektal atau intravena harus disediakan. Berat badan pasien ialah 15kg, sehingga penyediaan diazepam 10mg/2ml dengan kecepatan pemberian tidak lebih dari 2 mg/menit. Kemungkinan terjadinya epilepsi kedepan sangat mungkin untuk kasus kejang demam, tetapi pada kasus kejang demam simpleks kemungkinan terjadinya epilepsi hanya 2-7%, dan lebih besar lagi pada kejang demam kompleks 3. Pendidikan : Orang tua pasien hendaknya diedukasi untuk menangani anak dengan demam , misalnya edukasi cara mengukur suhu anak dan waspada jika suhu anak lebih dari 38 oC, mengkompres anak yang sedang demam dan pemberian antipiretik saat demam 2, walaupun

menurut studi yang ada menurunkan suhu saat demam tidak terbukti menghindari terjadinya kejang demam 1. Orang tua juga diedukasi untuk memberikan penanganan awal kejang jika terjadi kejang ulangan. Konsultasi dan rujukan : Dilakukan jika terjadi ulangan kejang dalam pemantauan 24 jam, dijumpai kelainan neurologis yang nyata setela kejang pertama atau terjadi penurunan kesadaran. Kontrol : Pasien dianjurkan untuk kontrol dalam pemberian obat rumatan, pemberian obat rumatan diindikasikan pada kasus kejang demam kompleks, serta dijumpai adanya kelainan neurologis yang nyata setelah onset kejang, dan dipertimbangkan jika kejang terjadi lebih dari 1 menit, atau lebih dari 2 kali dalam 24 jam, serta kejang demam terjadi lebih dari 4 kali dalam setahun 2. Pemberian obat kejang dengan efek samping minimal ialah asam valproat dengan dosis 20-40 mg/kgbb dibagi dalam 1-2 kali pemberian perhari, diberikan selama 1 tahun bebas kejang dan di turunkan dosisnya secara bertahap dalam waktu 1-2 bulan 2. Pada kasus ini tidak diperlukan untuk pemberian obat rumatan sebab tidak termasuk dalam faktor resiko diatas.

Daftar Pustaka 1. American Academy of Pediatrics. Practice parameter: the neurodiagnostic evaluation of the child with a first simple febrile seizure. Pediatrics 1996;97:76975. 2. Konsensus Penganan Kejang Demam. Unit Kerja Koordinasi Neurologi Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia .2005-2008. 3. Shrinivasan, Jayastri MBBS, Febrile Seizure, Australian Family Physician, vol 34 no 12 , Desember 2005 .