Anda di halaman 1dari 25

Mushaf-mushaf Al-Quran Istana Nusantara

Katalog ini diterbitkan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI dalam rangka pameran pada Museum goes to Istana, Festival Museum DIY tanggal 23-28 September 2012 Pengarah: Drs. H. Muhammad Shohib, MA Penanggung Jawab: Drs. H. Yasin Rahmat Ansori Koordinator: Drs. H. Sujai, MM Editor: Ali Akbar Riset: Ahmad Yunani, Abdul Hakim, Adimas Bayumurti, Ida Fitriani Tim Pameran: Bubun Budiman, Nurudin, Aris Munandar Desain & Layout: Syaifuddin

Kata Pengantar
Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an
Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, berdasarkan Peraturan Menteri Agama RI Nomor 3 Tahun 2007, ditetapkan sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI. Lembaga ini memiliki tiga ranah tugas yang terwujud dalam 3 bidang, yaitu Bidang Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, Bidang Pengkajian Al-Qur'an, serta Bidang Bayt Al-Qur'an dan Dokumentasi. Bidang Pentashihan Mushaf Al-Qur'an bertugas melaksanakan pentashihan mushaf, terjemahan dan tafsir Al-Qur'an, baik dalam bentuk cetak, elektronik maupun digital, serta melaksanakan pembinaan dan pengawasan hasil pentashihan dan peredaran mushaf di masyarakat. Naskah mushaf yang sudah melewati proses pentashihan akan memperoleh tanda tashih. Bidang Pengkajian Al-Qur'an bertugas melaksanakan pengembangan, pengkajian, penerbitan mushaf, terjemah dan tafsir Al-Qur'an, serta melakukan sosialisasi dan pelaporan hasil pengkajian Al-Qur'an. Di antara produk yang telah dihasilkan di antaranya penyempurnaan Al-Qur'an dan Tafsirnya, Tafsir Tematik, Tafsir Ilmi, serta beberapa judul buku lain. Adapun Bidang Bayt Al-Qur'an dan Dokumentasi bertugas melaksanakan pemeliharaan dan pengelolaan Bayt Al-Qur'an & Museum Istiqlal, melaksanakan pengumpulan dan pemeliharaan benda budaya Islam, menyelenggarakan pameran, serta pelayanan kepustakaan. Pameran dengan tema: Museum goes to Istana, yang diselenggarakan dalam rangka Festival Museum DIY, tanggal 23-28 September 2012 merupakan peristiwa penting terkait dengan aspek kesejarahan Al-Qur'an. Oleh karena itu Lajnah merasa perlu berpartisipasi dalam bentuk pameran khusus, berjudul Mushaf-mushaf Al-Quran Istana Nusantara. Dari penyelenggaraan pameran ini diharapkan masyarakat mengetahui tahap-tahap perkembangan penyalinan mushaf Al-Qur'an khususnya di Indonesia sejak tulisan tangan, cetakan awal (early printing), cetakan offset, hingga era digital. Saya menyampaikan terima kasih yang setulusnya kepada Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI yang senantiasa memberikan arahan untuk suksesnya program kegiatan Lajnah, termasuk kegiatan pameran ini. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada segenap anggota tim pameran yang telah mempersiapkan katalog dan menyelenggarakan pameran ini.

Jakarta, September 2012 Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an,

Drs. H. Muhammad Shohib, MA NIP 19540709 198603 1 002

Daftar Isi
Kata Pengantar 3 Mushaf-mushaf Al-Quran Istana Nusantara 7 Kanjeng Kiai Al-Qur'an Mushaf Pusaka Kraton Yogyakarta 13 Katalog 15

Mushaf-mushaf

AL-QURAN
Istana Nusantara
ulisan ini ingin memberikan gambaran singkat mengenai sejumlah mushaf AlQur'an yang disalin di beberapa istana kesultanan di Nusantara. Mushaf-mushaf tersebut sebagian kini masih tersimpan di istana atau museum istana tempat asal mushaf tersebut disalin, dan sebagian lain kini telah berpindah tangan menjadi koleksi museum, perpustakaan, atau bahkan diperdagangkan dan menjadi koleksi pribadi. Mushaf-mushaf yang ditampilkan dalam tulisan ini berasal dari 10 istana Nusantara, yaitu Banten, Cirebon, Yogyakarta, Surakarta, RiauLingga, Terengganu (Malaysia), Sumbawa, Bima, Bone, dan Ternate. Pemilihan warisan mushaf dari ke-10 istana tersebut terutama karena keindahan iluminasi, kaligrafi, dan kekhasan mushafnya. Meskipun demikian, tidak semua dari masingmasing istana tersebut melahirkan tradisi seni mushaf tersendiri yang berbeda dari istana lainnya. Sebagian dari istana-istana tersebut memiliki hubungan yang baik dengan istana lainnya, sehingga mushaf yang indah dapat berpindah dari suatu istana ke istana lainnya. Sebuah mushaf tinggalan Kesultanan Bima, misalnya, diduga kuat disalin di Kesultanan Terengganu (kini Malaysia), dan sebuah mushaf warisan Kesultanan Tidore, berdasarkan kaligrafi dan iluminasinya, diduga kuat berasal dari Patani (kini Thailand Selatan). Mushaf-mushaf dari istana memiliki keistimewaan yang berbeda dengan mushafmushaf yang berasal dari kalangan masyarakat di

luar istana pada umumnya. Keistimewaan itu terutama dalam hal keindahan iluminasi, kaligrafi, desain, dan kelengkapan teksnya. Dari sejumlah naskah yang ada, dapat diasumsikan bahwa istana di Nusantara merupakan pusat produksi naskah dan kajian ilmu keagamaan. Ragam Iluminasi dan Kaligrafi Iluminasi adalah hiasan di sekitar teks yang berfungsi untuk memperterang (illuminate) suatu teks. Dalam bahasa Arab disebut tazhb, karena iluminasi biasanya menggunakan emas. Terkait iluminasi mushaf Al-Qur'an, biasanya hiasan yang istimewa terdapat di halaman awal, tengah, dan akhir mushaf. Ini telah menjadi semacam konvensi penyalinan mushaf Nusantara, dan berlaku di hampir seluruh wilayah Nusantara, dari Aceh, Patani, Terengganu, Filipina Selatan, hingga Ternate. Nah, siapakah gerangan para seniman hebat penghias Al-Qur'an itu? Sedikit agak jauh ke belakang, sebenarnya salahsatu tantangan (jika bukan 'persoalan') dalam kajian mushaf Nusantara, adalah bahwa mushaf-mushaf di Nusantara demikian pula naskah selain mushaf kebanyakan tidak memiliki kolofon (yaitu catatan naskah, biasanya terdapat di bagian belakang, yang berisi tentang nama penyalin, waktu dan tempat penyalinan, atau informasi lainnya). Sedikitnya kolofon dalam mushaf-mushaf Nusantara menjadikan gambaran kesejarahan mushaf tidak begitu lengkap, misalnya menyangkut nama-nama penyalin, iluminator, atau pemrakarsanya. Keadaan ini agak

Mushaf-mushaf Al-Quran Istana Nusantara

Gambar 1. Koleksi Islamic Arts Museum Malaysia (IAMM 1998-1-3427). [Semua foto oleh Ali Akbar, kecuali disebut sumbernya].

Gambar 2. Koleksi Muzium Negeri Terengganu, Malaysia.

berbeda dengan mushaf-mushaf t i n g g a l a n b e b e r a p a kesultanan besar Islam seperti Mamluk di Mesir, Usmaniyah di Turki, Syafawiyah di Persia, serta Moghul di India, yang kebanyakan memiliki kolofon lengkap, sehingga kesejarahan naskahnya, juga tokoh-tokohnya, dapat diketahui dan ditelusuri dengan lebih baik. Di Nusantara, dari sekian banyak mushaf dengan iluminasi nan indah, sejauh pengkajian hingga kini, belum pernah ditemukan satu pun nama seniman penghias mushaf! Nama penyalin mushaf masih muncul dalam sebagian mushaf. Namun, entah mengapa, nama pelukis iluminasi mushaf tidak pernah muncul! Apakah mereka merasa derajat-nya lebih rendah dibandingkan dengan seorang kaligrafer, penyalin kalam Ilahi itu? Padahal, dalam sebuah mushaf indah, iluminasi dan kaligrafi menjadi suatu kesatuan yang tak terpisahkan! Iluminasi dalam mushafmushaf Nusantara memiliki kekhasan tersendiri. Agak berbeda dengan iluminasi mushaf dari wilayah dunia Islam lainnya yang banyak menggunakan unsur-unsur geometris (selain unsur floral), iluminasi mushaf Nusantara pada umumnya floral dan hanya sedikit menggunakan pola geometris. Keterpesonaan kepada motif tetumbuhan itu menjadi gejala umum dalam mushaf Nusantara.

Pola iluminasi mushaf Nusantara sangat beragam. Karena wilayah Nusantara membentang sangat luas, masing-masing istana seakan-akan mengembangkan gaya iluminasi tersendiri untuk salinan mushafnya. Kesultanan Terengganu di pantai timur Semenanjung Malaysia mengembangkan gaya iluminasi floral dengan taburan emas yang mewah (Gambar 1, 2). Agaknya, mushaf-mushaf dari Kesultanan Terengganu inilah yang terkesan paling 'glamor', dengan penggarapan detail yang menawan. Terengganu juga mengembangkan pola-pola desain yang beragam, seperti tampak pada kedua mushaf itu.Kemewahan itu juga tampak dalam sebuah mushaf dari Kesultanan Bima (Gambar 3), yang berdasarkan iluminasi dan kaligrafinya diduga juga berasal dari Terengganu. Kesan mewah dengan taburan emas juga tampak pada mushaf dari negeri Melayu lainnya, yaitu Kesultanan Riau-Lingga (Gambar 4, 5).

Gambar 3. Mushaf wakaf dari Kesultanan Bima, koleksi Bayt Al-Qur'an & Museum Istiqlal, Jakarta.

Corak iluminasi yang berbeda tampak pada mushaf-mushaf yang berasal Kesultanan Bone, Sulawesi Selatan(Gambar 6), serta corak diasporanya seperti tampak pada mushaf dari Kesultanan Bima (Gambar 7), dan Kesultanan Ternate (Gambar 8, 9). Dalam sejarahnya, orangorang Bugis dan keturunannya berlayar jauh ke

Mushaf-mushaf Al-Quran Istana Nusantara

barat mencapai Aceh, ke utara mencapai ke Kedah dan Filipina Selatan, ke selatan mencapai Bima,dan ke timur paling kurang mencapai Ternate. Luasnya jelajahan orang-orang Bugis itu sedikit-banyak tercermin pada gaya iluminasi dan kaligrafi mushafnya.Memang, di sana-sini ada ragam variasi yang berkembang di masing-masing daerah itu, namun ada unsur-unsur yang 'menyatukan', misalnya penggunaan garis vertikal di sisi luar, bentuk segitiga, serta setengah lingkaran di bagian atas, bawah, dan samping luar. Para seniman mushaf mengembangkan gaya iluminasi itu dari masa ke masa.

Gambar 6. Mushaf asal Bone, Sulawesi Selatan, 1804, koleksi Museum Aga Khan, Jenewa, Swiss.[Foto: Annabel Teh Gallop].

Gambar 7. Koleksi Museum Samparaja, Bima.

Gambar 4. Koleksi Masjid Raya Sultan Riau, Pulau Penyengat.


Gambar 8. Koleksi Museum Babullah, Ternate.

Gambar 5. Koleksi Museum Linggam Cahaya, Daik, Pulau Lingga. [Foto: Aswandi Syahri]

Mushaf-mushaf Al-Quran Istana Nusantara

Gambar 9. Koleksi Museum Babullah, Ternate.

Gaya iluminasi yang berbeda lagi tampak pada mushaf tinggalan Kesultanan Sumbawa (Gambar 10, 11). Berbeda dari lainnya, kedua mushaf ini mempunyai pola hiasan semacam pintu, dengan kubah di tengahnya. Corak seperti ini tidak banyak digunakan di wilayah lain meskipun masih perlu bukti mushaf-mushaf lain untuk bisa mengatakannya sebagai khas Sumbawa. Model iluminasi yang kurang banyak digunakan juga tampak pada mushaf dari Kesultanan Kacirebonan (Gambar 12). Motif hiasan seperti itu tidak khas 'Cirebonan' yang biasanya 'menjunjung tinggi' motif mega mendung. Motif khas Cirebon digunakan pada mushaf lain koleksi Kesultanan ini.

Gambar 11. Mushaf dari Kesultanan Sumbawa, selesai ditulis pada Kamis, 24 Muharam 1254 (19 April 1838).

Gambar 12. Koleksi Keraton Kacirebonan.

Gambar 10. Mushaf dari Kesultanan Sumbawa, selesai ditulis pada Ahad, 28 Zulqa'dah 1199 H (2 Oktober 1785). [Foto: Asep Saefullah]

Jika mushaf dari beberapa kesultanan di atas menonjol dalam iluminasi, mushaf-mushaf dari Kesultanan Banten menonjol dalam kaligrafinya. Iluminasi yang biasanya terdapat di bagian awal, tengah dan akhir mushaf, tidak kita temukan pada mushaf Kesultanan Banten (gambar 13, 14). Sementara, gaya khat yang digunakan adalah gaya Naskhi yang kadangkadang dekat dengan gaya Muhaqqaq, dengan ciri huruf yang menjulur-julur. Gaya kaligrafi seperti itu kita temukan baik di Banten sendiri, maupun mushaf Banten koleksi Perpustakaan Nasional, Jakarta.
[Ali Akbar]

10 Mushaf-mushaf Al-Quran Istana Nusantara

Gambar 13. Mushaf A.50 dari Kesultanan Banten, koleksi Perpustakaan Nasional RI.

Gambar 14. Mushaf A.51 dari Kesultanan Banten, koleksi Perpustakaan Nasional RI.

Mushaf-mushaf Al-Quran Istana Nusantara

11

Mushaf-mushaf

AL-QURAN Kanjeng Kiai Al-Qur'an


MushafIstana Kraton Yogyakarta Pusaka Nusantara
ushaf ini memiliki nama 'Kanjeng Kiai Al-Qur'an'. Nama kanjeng kiai lazim diberikan untuk tiap benda pusaka milik Kraton. Mushaf ini ditulis oleh seorang pegawai Kraton Surakarta bernama Ki Atma Parwita dalam waktu dua setengah bulan pada tahun 1724 (Jawa) atau bertepatan dengan 1212 H dan 1797 M.Pada kolofon mushaf ini tertulis (Gambar 5): Kagungan dalem Qur'an ingkang nerat Abdi Dalem Ki Atma Perwita Hurdenas Sepuh. Kala wiwit anerat ing dinten Arba' wanci pukul setengah sewelas tanggal ping selikur ing wulan Rabiul Akhir ing tahun jim awal angkaning warsa 1724. Kala sampun aneratipun ing dinten salasa wanci pukul setengah sanga tanggal ping nem ing wulan Ramdhon ing Surakarta Adiningrat hadza baladi Jawa. Mushaf Al-Qur'an ini awalnya milik Kanjeng Gusti Raden Ayu Sekar Kedhaton, putri Sultan Hamengkubuwana II (1772-1828). Diajarkan oleh gurunya, Haji Mahmud kepadanya. Pemilik naskah ini adalah istri dari RT Notodiningrat, anak pangeran Notokusumo. Mushaf ini berukuran 40 x 28cm dengan ketebalan 11cm. Ukuran teks 32 x 20 cm. Terdapat 15 baris tulisan tiap halaman. Kondisi utuh,lengkap 30 juz, 575 halaman, termasuk halaman kolofon. Sampulnya berbahan kulit dengan hiasan sederhana. Khat yang digunakan adalah Naskhi. Jenis rasmnya campuran antara rasm usmani dan imla'i. Menggunakan tinta hitam (untuk huruf) dan merah (untuk harakat panjang). Tanda ayat

menggunakan lingkatan kuning, tanpa nomor ayat. Pada ayat terakhir yang berbatasan dengan juz, ditandai dengan lima lingkaran. Setiap awal surah ditandai dengan kotak yang di dalamnya tertulis nama surah, jumlah ayat, dan tempat diturunkannya. Ditulis dengan huruf Arab dengan teknik pilinan. Mushaf ini bisa dikatakanpenuh hiasan. Setiap halaman terdapat hiasan dengan komposisi warna merah, emas, biru, hitam, pink, dan hijau muda. Motif hias pada halaman biasa berupa sulur bunga, motif saton,serta garis tegas yang membingkai teks dengan warna emas dan merah. Pada halaman awal juz lebih banyak lagi hiasan, berupatiga buah setengah lingkaran, masing-masing terletak di bagian tengah atas, bawah dan samping halaman (Gambar 3). Pada hiasan setengah lingkaran samping ditulis 'juz' dengan tinta emas. Iluminasi lebih 'mewah' terdapat pada awal mushaf (Surah al-Fatihah dan al-Baqarah), tengah mushaf (Surah al-Kahf), dan akhir mushaf (Surah al-Falaq dan an-Nas) (Gambar 1, 2, 4). Pada halaman khusus ini hanya diisi 5-7 baris tulisan. Pada awal dan tengah mushaf menggunakan hiasan berupa silangan garis-garis tegas yang membentuk motif kotak-kotak dan segitiga. Warna yang digunakan adalah hijau, emas, merah, dan biru muda. Adapun motif hias yang digunakan hampir sama dengan hiasan yang ada pada setiap awal juz. Mushaf 'Kanjeng Kiai Al-Qur'an' ini sangat mirip dengan sebuah mushaf yang kini menjadi koleksi Museum Purna Bhakti Pertiwi di Taman

Mushaf-mushaf Al-Quran Istana Nusantara

13

Mini Indonesia Indah, Jakarta (Gambar 6). Mushaf ini juga disalin di Surakarta.Pada bagian depan terdapat kolofon dalam tulisan pegon berbunyi Punika Qur'an kagungan [Al-Qur'an ini milik]Dalem Kanjeng Bendara Raden Mas Tumenggung Wirya Hadiningrat Surakarta Haji Abdul Hadi. Jika memperhatikan kaligrafimushaf ini, yang ditulis secara konsisten dari awal hingga akhir mushaf, tampak bahwa kedua mushaf itu ditulis oleh orang yang sama. Dalam hal iluminasi, keduanya agak berbeda pola dan itu menunjukkan kreativitas senimannya namuntampak bahwa teknik pembuatannya sama. Jenis kaligrafi unik yang digunakan pada halaman iluminasi juga tampaknya dikerjakan oleh orang yang sama.[]

Gambar 3. Iluminasi pada halaman permulaan juz.[Foto: LPQ]

Gambar 5. Kolofon di bagian akhir mushaf.[Foto: LPQ] Gambar 1. Halaman iluminasi awal mushaf.[Foto: LPQ]

Gambar 2. Halaman iluminasi tengah mushaf.[Foto: LPQ]

Gambar 6. Iluminasi awal mushaf, koleksi Museum Purna Bhakti Pertiwi, TMII, Jakarta.

14 Mushaf-mushaf Al-Quran Istana Nusantara

Katalog

Catatan: Semua mushaf yang dipamerkan dan dimuat dalam katalog ini adalah koleksi Bayt Al-Quran & Museum Istiqlal.

Mushaf La Lino Bima, abad ke-19 Mushaf ini adalah wakaf Hj. Siti Maryam Rakhmat Shalahuddin, puteri Sultan Muhammad Shalahuddin. Naskah ini memiliki kaligrafi dan iluminasi yang sangat indah. Berdasarkan iluminasinya, mushaf ini diperkirakan berasal dari Terengganu, Malaysia. Ditulis di atas kertas Eropa. Ukuran 35 x 22 cm.

Naskah Tafsir Al-Quran Yogyakarta, 1716/1717 Nakah ini berisi tafsir Al-Quran, mulai Surah al-Fatihah sampai dengan Surah al-Isra. Ditulis oleh Muhammad Bashir, tebal 259 halaman.

Terjemahan Al-Quran Bahasa Jawa Madura, abad ke-19 Naskah ini berasal dari Sumenep, Madura, berisi terjemahan Al-Quran antarbaris dalam bahasa Jawa. Naskah ditulis di atas kertas kulit kayu (dluwang).

Mushaf Al-Quran (Tulisan Tangan) Surakarta, abad ke-19, 31,5 x 22 cm. Bahan kertas dluwang (kulit kayu).Iluminasi terdapat di awal mushaf. Di akhir mushaf memuat doa khatam Al-Quran. Setiap halaman 15 baris teks, 385 halaman.

16

Katalog

Mushaf Al-Quran (Tulisan Tangan) Cirebon, abad ke-19, 42 x 27 cm. Bahan kertas Eropa.Dihiasi iluminasi bercorak khas kain batik Cirebon pada bagian awal, tengah dan akhir mushaf. Setiap halaman memuat 15 baris teks.

Mushaf Al-Quran Cetak Singapura, akhir abad ke-19, 33 x 21 cm. Bahan kertas Eropa. Dicetak dengan teknologi cetak batu (litografi). Tulisan gaya Naskhi, khas mushaf cetakan Singapura. Setiap halaman memuat 15 baris teks. Iluminasi terdapat di bagian awal, tengah, dan akhir mushaf.

Mushaf Al-Quran Cetakan Turki Istanbul, 1894, 18 x 26 cm. Ditulis oleh al-Hafiz Usman, kaligrafer terkenal Turki, selesai pada 1881. Mushaf ini menjadi dasar penulisan Mushaf Al-Quran Standar Bahriyah yang biasanya digunakan oleh para hafiz Al-Quran.

Mushaf Al-Quran Cetakan Abdullah bin Afif Cirebon, 1933. Dicetak di percetakan milik Abdullah bin Afif, Cirebon, dan ditashih oleh H Ahmad Badawi, Kaliwungu, Kendal, pada 1933. Mushaf ini merupakan reproduksi cetakan Bombay, India, dan merupakan generasi awal cetakan mushaf Al-Quran di Indonesia.

Katalog

17

Terjemahan Al-Quran Nur Anjawen Surakarta, huruf Jawa, 1935. Disusun oleh Muhammad Amin bin Abdul Muslim, pengasuh Madrasah Mambaul Ulum, Surakarta. Diterbitkan oleh toko buku Ab. Sitti Syamsiah, Surakarta, Jawa Tengah.

Mushaf Al-Quran Cetak Bukittinggi, 1933. Dicetak oleh Percetakan Al-Islamiyah milik Haji HMS Sulaiman, Bukittinggi, Sumatra Barat, selesai pada bulan Rabiul Akhir 1352 H (Juli/Agustus 1933 M). Mushaf ini merupakan reproduksi cetakan Bombay, India, dan merupakan generasi awal cetakan mushaf Al-Quran di Indonesia.

Mushaf Al-Quran Cetak Jakarta, 1956. Dicetak oleh Percetakan Bir & Company, Jakarta. Mushaf jenis ini merupakan reproduksi mushaf cetakan Bombay, India.

Mushaf Al-Quran Cetak Surabaya, 1960. Dicetak oleh Percetakan Salim bin Saad bin Nabhan, Surabaya. Naskah awal berasal dari mushaf cetakan Bombay, India.

18

Katalog

Terjemahan Al-Quran Bahasa Mandar Cetakan Mujamma, Saudi Arabia, 2004. Mushad Al-Qurab terjemahan bahasa Mandar, Sulawesi Barat. Diterbitkan oleh percetakan Al-Quran Mujamma Al-Malik Fahd, Saudi Arabia.

Tafsir Al-Quran Suci Basa Jawi Bandung, 1984. Tafsir atau terjemahan Al-Quran dalam bahasa Jawa ini ditulis oleh Prof KHR Muhammad Adnan, dosen di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Diterbitkan oleh PT AlMaarif, Bandung.

Terjemahan Al-Quran Bahasa Mandar Cetakan Mujamma, Saudi Arabia, 2004. Mushad Al-Qurab terjemahan bahasa Mandar, Sulawesi Barat. Diterbitkan oleh percetakan AlQuran Mujamma Al-Malik Fahd, Saudi Arabia.

Terjemahan Al-Quran Bahasa Aceh Banda Aceh, 1994 Diterjemahkan dalam bentuk sajak oleh Tengku Haji Mahjuddin Jusuf. Penerjemahan asli ditulis dengan huruf Arab Melayu Pase (Jawi). Diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Islam (P3KI), Banda Aceh.

Katalog

19

Al-Quran dengan Tajwid Blok Warna Jakarta, 2008. Al-Quran yang dilengkapi dengan transliterasi dan terjemahannya ini dilengkapi dengan blok warna yang menunjukkan hukum suatu bacaan menurut ilmu tajwid. Diterbitkan oleh Lautan Lestari, Jakarta, dan beberapa penerbit lain.

Al-Mudarris, Al-Quran Readboy Al-Mudarris merupakan metode baru dalam mempelajari Al-Quran melalui sentuhan dan pengucapan. Dengan menunjuk ayat Al-Quran yang dikehendaki, alat ini akan memperdengarkan bacaan Al-Quran yang dilantunkan oleh Syekh Saad alGhamidi.

Al-Quran dan Terjemahannya Departemen Agama Surabaya, 2004. Terjemahan Al-Quran ini merupakan terjemahan resmi Departemen Agama (sekarang Kementerian Agama) RI. Diterbitkan oleh UD. Mekar, Surabaya, dan banyak penerbit lain.

Terjemahan Al-Quran Per Kata Bandung, 2007. Terjemahan per kata (lafziyah) untuk belajar menerjemahkan Al-Quran. Diterbitkan oleh Syamil Cipta Media, Bandung. Tuntunan terjemahan AlQuran seperti ini cukup digemari masyarakat, dan beberapa penerbit lain juga menerbitkan terjemahan sejenis.

20

Katalog

Mushaf Al-Quran Standar Braille Indonesia 2009. Penulisan mushaf untuk tunanetra ini menggunakan huruf Braille Arab. Mushaf ini telah ditetapkan sebagai Mushaf Al-Quran Standar Braille Indonesia pada tahun 1984, dengan SK Menteri Agama RI No.25/1984.

Mushaf Istiqlal Jakarta, 1995. Dihiasi iluminasi 46 ragam hias dari Aceh sampai Papua. Dirancang oleh Mahmud Buchari, AD Pirous, dan Ahmad Noeman. Dikerjakan selama 4 tahun, pada 1991-1995.

Mushaf Sundawi Bandung, 1997. Dihiasi ragam hias khas Jawa Barat yang diambil dari motif-motif pada batik, ukiran, gerabah, dan lain-lain. Terdapat 17 desain biasa dan 3 desain khusus untuk halaman awal, tengah, dan akhir Al-Quran.

Mushaf At-Tin Jakarta, 1999. Mushaf beriluminasi indah ini dibuat untuk mengenang Almarhumah Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto (Ibu Tien Soeharto). Didesain oleh Mahmud Buchari, Mohammad Djaelani, dan Achmad Haldani D, dan kaligrafi Al-Quran ditulis oleh para penulis kaligrafi Indonesia terkemuka.

Katalog

21

Mushaf Jakarta Jakarta, 2000 Dihiasi iluminasi ragam hias DKI Jakarta. Penerbitan mushaf ini diprakarsai oleh H. Sutiyoso, Gubernur DKI Jakarta pada waktu itu.

Mushaf Banten 2010 Dihiasi dengan iluminasi yang berasal dari khazanah budaya provinsi Banten. Kaligrafi teks Al-Qurannya ditulis oleh para ahli kaligrafi dari Banten yang dikoordinasi oleh khattat Dr Ahmad Tholabi Kharlie. Pembuatan mushaf ini diprakarsai oleh Pemerintah Provinsi Banten.

Mushaf Al-Quran Standar Jakarta, 2010 Mushaf ini merupakan Mushaf Al-Quran Standar Kementerian Agama RI, yang ditulis ulang oleh Ustaz Baiquni Yasin dan tim, pada tahun 1999-2001.

22

Katalog

Tafsir Al-Quran Tematik Jakarta, 2008, 2009, 2010. Tafsir maudui (tematis) yang disusun berdasarkan tema-tema aktual di tengah masyarakat, dan diharapkan dapat memberi jawaban atas berbagai problematika umat. Ditulis oleh para ahli tafsir Indonesia dewasa ini.

Serial Tafsir Ilmi Jakarta, 2010, 2011 Tafsir Ilmi menjelaskan maksud firman Allah yang mengandung isyarat-isyarat ilmiah. Pada tahun 2010 dan 2011 telah terbit Penciptaan Jagat Raya;Penciptaan Bumi; Penciptaan Manusia; Tumbuhan; Air; dan Kiamat.

Al-Quran dan Tafsirnya Kementerian Agama RI Jakarta, 2009. Terdiri atas 11 jilid, termasuk 1 jilid khusus Mukaddimah. Merupakan edisi yang disempurnakan dari Al-Quran dan Tafsirnya Kementerian Agama yang sudah dirintis sejak tahun 1975. Penyempurnaan yang dimulai pada tahun 2003 ini mencakup aspek bahasa, substansi, kandungan makna, munasabah, asbabun nuzul, transliterasi, kajian ayat-ayat kauniyah, indeks, dan kosakata.

Katalog

23