Anda di halaman 1dari 15

A.

PENGERTIAN Coronary Artery Bypass Graft ( CABG ) merupakan salah satu penanganan intervensi dari penyakit jantung koroner (PJK) dengan cara membuat saluran baru melewati arteri koroner yang mengalami penyempitan / penyumbatan. ( Feryawati,L.2005 ) Coronary Artery Bypass Graft ( CABG ) adalah bedah pintas koroner yang merupakan salah satu upaya atau tindakan yang dilakukan untuk revaskularisasi pada penderita penyakit jantung koroner. ( Muttaqin, A.2009 ) CABG adalah operasi yang menanamkan pembuluh darah dari tempat laindi tubuh untuk memberikan bypass ( jalur alternatif ) di dalam pembuluh jantung yang tersumbat sehingga darah dapat kembali mengalir lancar ke seluruh bagian jantung itu sendiri untuk memberikan nutrisi bagi jantung. ( Anwar,M.2006 ) CABG adalah teknik operasi atau jenis operasi yang digunakan untuk meningkatkan aliran darah ke jantung pada orang dengan penyakit arteri koroner berat ( CAD ). ( Institute Kesehatan Nasional, Departement Kesehatan & Layanan Kemanusiaan ) Coronary Artery Disease (CAD) adalah penyakit arteri koroner yang meliputi berbagai kondisi patologis yang menghambat aliran darah dalam arteri yang mensuplai jantung, biasanya disebabkan oleh atherosklerosis yang menyebabkan insufiisiensi suplay darah ke miokard. ( Long.1996 ) Coronary Artery Disease (CAD) dapat dikarakteristikkan sebagai akumulasi dari plak yang semakin lama semakin membesar, menebal dan mengeras didalam pembuluh darah arteri. (Naettina.2005) Coronary Artery Disease (CAD) adalah gangguan vaskular yang membuat sumbatan dan penyempitan pembuluh darah coronary artery dan menyebabkan berkurangnya aliran darah dan suplay oksigen ke otot jantung. (McCance & Huether.2005)

B. ETIOLOGI Terdapat beberapa hipotesis mengenai apa yang pertama kali menyebabkan kerusakan sel sel endotel. Dapat di katakan bahwa beberapa proses pencetus yang terlibat adalah berlainan, dengan derajat yang berbeda beda, pada orang yang berbeda pula. a) Kolesterol serum yang tinggi Hipotesis pertama mengisyaratkan bahwa kadar kolesterol serum dan trigliserida yang tinggi dapat menyebabkan pembentukan atherosklerosis. Kolesterol dan trigliserida di bawa dalam darah terbungkus dalam protein pengangkut lemak yang disebut lipoprotein.

Contoh ekstrim tingginya kolesterol yang menyebabkan atherosklerosis di jumpai pada diabetes militus. Diabetes militus adalah faktor resiko utama untuk atherosklerosis. b) Tekanan darah tinggi Hipotesis kedua mengenai pembentukan atherosklerosisdi dasarkan pada kenyataan bahwa tekanan darahyang tinggi secara kronis menimbulkan gaya regang / potong yang merobek lapisan endotel arteri dan arteriol. c) Infeksi virus Hipotesis ketiga menjelaskan bagaimana atherosklerosis terbentuk mengisyaratkan bahwa sebagian sel endotel mungkin terinfeksi oleh suatu virus. Infeksi mencetuskan siklus peradangan. d) Kadar besi darah yang tinggi Hipotesis keempat mengenai atherosklerosis arteri koroner adalah bahwa kadar besi serum yang tinggi dapat merusak arteri koroner atau memperparahkerusakan yang disebabkan oleh hal lain. Penyebab tersering dari artery coronary disease adalah : 1. Penyempitan lumen progresif akibat pembesaran plak. 2. Perdarahan pada plak ateroma. 3. Pembentukan trombus yang diawali agregrasi trombosit. 4. Embolisasi trombus / fragmen plak. 5. Spasme arteria koronaria

Corwin, Elizabeth.2000.Buku Saku Patofisiologi.Jakarta:EGC

C. PATOFISOLOGI Atherosklerosis dimulai ketika kolesterol berlemak tertimbun di intima arteri besar, sehingga dapat disebut ateroma / plak yang akan mengganggu absorbsi nutrien oleh sel sel endotel yang menyusun lapisan dinding pembuluh darah dan menyumbat aliran darah karena timbunan ini menonjol ke lumen pembuluh darah. Endotel pembuluh darah yang terkena akan mengalami nekrotik dan menjadi jaringan parut sehingga lumen menjadi semakin sempit dan berdinding kasar menyebabkan aliran darah terhambat atau terhenti, kecuali sejumlah kecil aliran kolateral dari pembuluh disekitarnya. Daerah otot yang sama sekali tidak mendapat aliran atau mendapat sedikit aliran sehingga tidak dapat mempertahankan fungsi otot jantung, dikatakan mengalami infark, seluruh proses ini disebut infark miokardium. Segera setelah mulai timbul infark, sejumlah kecil darah kolateral meresap kedalam daerah infark, dan hal ini bersama dengan dilatasi progresif pada pembuluh darah lokal, menyebabkan daerah tersebut dipenuhi oleh darah yang terbendung. Secara bersamaan, serat otot memakai sisa akhir oksigen dalam darah, sehingga hemoglobin menjadi tereduksi secara total menjadi berwarna

biru gelap. Daerah yang mengalami infark menjadi berwarna coklat kebiru-biruan dan pembuluh darah dari daerah tersebut tampak mengembang walaupun aliran darahnya kurang. Pada tingkat lanjut, dinding pembuluh menjadi sangat permeabel dan membocorkan cairan, jaringan menjadi edematosa, dan sel otot jantung mulai membengkak akibat berkurangnya metabolisme selular. Dalam waktu beberapa jam tanpa penyediaan darah, sel-sel akan mati. Otot jantung memerlukan kira-kira 1,3 mililiter oksigen per 100 gram jaringan otot per menit agar tetap hidup. Nilai ini sebanding dengan kira-kira 8 mililiter oksigen per100 gram yang diberikan pada ventrikel kiri dalam keadaan istirahat setiap menitnya. Karena itu, bila tetap terdapat 15 sampai 30% aliran darah koroner normal dalam keadaan istirahat, maka otot tidak akan mati. Namun, pada bagian sentral dari suatu daerah infark yang besar, dimana hampir tidak terdapat aliran darah kolateral, otot akan mati.

D. MANIFESTASI KLINIK Atherosklerosis koroner menimbulkan gejala dan komplikasi sebagai akibat penyempitan lumen arteri dan penyumbatan aliran darah ke jantung. Sumbatan aliran darah berlangsung progresif, dan suplai darah yang tidak adekuat ( ischemia ) yang di timbulkannya akan membuat sel sel otot kekurangan komponen darah yang di butuhkan untuk hidup. Kerusakan sel akibat ischemia terjadi dalam berbagai tingkat. Manifetasi utama ischemia miokardium adalah nyeri dada. Angina pektoris adalah nyeri dada yang hilang timbul, tidak di sertai kerusakan irreversibel sel-sel jantung. Ischemia yang lebih berat, disertai kerusakan sel dinamakan infark miokardium. Jantung yang mengalami kerusakan irreversibel akan mengalami degenerasi dan kemudian deganti dengan jaringan parut. Bila kerusakan jantung sangat luas, jantung akan mengalami kegagalan, artinya, ia tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan tubuh akan darah dengan memberikan curah jantung yang adekuat. Manifestasi klinik lain penyakit arteri koroner dapat berupa perubahan pola EKG, aneurisma ventrikel, distritmia dan kematian mendadak. Smeltzer, SC & Bare, BG. 2002.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Volume 2. Jakarta:EGC

E.KOMPLIKASI

1. Kerusakan sementara pada Neurokognitif, namun penelitian terbaru bahwa penurunan kognitif tidak disebabkan oleh CABG tetapi lebih merupakan konsekuensi dari penyakit vaskuler. 2. Infark miokard akut akibat emboli. 3. Gagal renal akut akibat emboli atau hipoperkusi.

4. Stenosis pada cangkokan 5. Stroke skunder terhadap emboli atau hipoperkusi. Muttaqin, A.2009.Buku Ajar Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler dan Hematologi.Jakarta:Salemba Medika

F. PENATALAKSANAAN 1) PROSEDUR PELAKSANAAN I. Persiapan sebelum pelaksanaan operasi CABG : i. Persiapan pasien : a) Inormed concern b) Obat obatan pra operasi : aspirin, nitrogliserin, nifedipin, diltiazem c) Pemeriksaan laborat lengkap terutama : Hb, Hematokrit, jumlah leukosit, kadar elektrolit, faal hemotasis, foto thorak, EGC, serta tes fungsi paru paru ( vital capacity ) d) Persiapan darah 6 10 bag sesuai golongan darah pasien e) Puasa m alam10 2 jam f) Cukur area pembedahan g) Lepaskan perhiasan, kontak lensa, mata palsu, gigi palsu ( identifikasi dan simpan yang aman atau berikan keluarganya ). h) Cek benda benda asing dalam mulut. ii. Persiapan alat dan bahan penunjang operasi : a) Bahan habis pakai (spuit, masker, jarum, benang, dll) b) Alat penunjang kamar operasi c) Linen set ( 3 set ) d) Instrument dasar (1 set dasar bedah jantung dewasa ) e) Instrumen tambahan ( 1 set tambahan bedah jantung ) f) Intrumen AV graft ( 1 set ) g) Instrument mikrocoroner ( 1 set ) h) Instrument kateter (1 set ) Muttaqin, A.2009.Buku Ajar Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler dan Hematologi.Jakarta:Salemba Medika Feriyawati, L. 2005. CABG dengan Menggunakan Vena Saphenous, Arteri Mammaria Interna dan Arteri Radialis. FK USU

2) TUJUAN 1. Membuat rute dan saluran baru pada arteri yang terbendung sehingga oksigen dan nutrisi dapat mencapai otot jantung. 2. Mengatasi terhambatnya aliran artery coronaria akibat adanya penyempitan bahkan penyumbatan ke otot jantung. 3. Meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi gejala angina dan PJK lainnya. 4. Memungkinkan klien untuk melanjutkan gaya hidup yang lebih aktif. 5. Meningkatkan tindakan pemompaan jantung jika sudah rusak oleh serangan jantung. 6. Menurunkan rsiko serangan jantung ( pada beberapa pasien, seperti mereka yang memiliki diabetes ) 7. Meningkatkan kesempatan klien untuk bertahan hidup. ( Institute Kesehatan Nasional, Departement Kesehatan & Layanan Kemanusiaan )

3) INDIKASI 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Penderita penyakit arteri utama / setara Penderita dengan 3 vessel disease Abnormal fungsi ventrikel kiri Oklusi cangkokan dari CABG sebelumnya Angina yang tidak dapat di kontrol dengan terapi medis Angina yang tidak stabil Sumbatan yang tidak dapat ditangani dengan terapi PTCA Stenosis arteri koroner kiri lebih dari 70 % Klien dengan komplikasi kegagalan PTCA ( Institute Kesehatan Nasional, Departement Kesehatan & Layanan Kemanusiaan )

4) KONTRA INDIKASI 1. 2. 3. 4. 5. Usia Lanjut Tidak ada gangguan angina Fungsi ventrikel kiri jelek ( kurang dari 30 % ) Struktur arteri koroner tidak memungkinkan untuk di sambung Sumbatan pada arteri kurang 70 %, sebab jika sumbatan pada arteri kurang dari 70 %, maka aliran darah tersebut masih cukup banyak sehingga mencegah aliran darah yang adekuat pada pintasan, akibatnya akan terjadi bekuan pada CABG, sehingga hasil operasi menjadi sia sia.

Muttaqin, A.2009.Buku Ajar Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler dan Hematologi.Jakarta:EGC 5) PELAKSANAAN 1) Pemasangan CVP pada vena jugularis dekstra atau vena subklavia dekstra, arteri line dan saturasi oksigen. 2) Pasien dipindah dari ruang premedikasi ke kamar operasi. 3) Pasang kateter dan kabel monitor suhu, diselipkan dibawah femur kiri pasien dan diplester. 4) Pasang plate diatermi di daerah pantat / pangkal femur bawah . 5) Posisi pasien terlentang, kedua tangan disamping kiri dan kanan badan dan diikat dengan duek kecil, dibawah punggung tepat di scapula diganjal guling kecil. 6) Bagian lutut kaki diganjal guling, untuk memudahkan pengambilan graft vena. 7) Menyuntikkan agen induksi untuk membuat pasien tidak sadar. 8) Petugas anestesi memasang ETT memulai ventilasi mekanik. 9) Melakukan desinfeksi dengan betadin 10 % mulai dari batas dagu dibawah bibir kesamping leher melewati mid aksila samping kanan kiri, kedua kaki sampai batas malleolus ke pangkal paha (kedua kaki diangkat) kemudian daerah pubis dan kemaluan didesinfeksi terakhir selnjutnya didesinfeksi dengan larutan hibitan 1% seperti urutan tersebut diatas dan dikeringkan dengan kasa steril. 10) Dada dibuka melalui jalur median sternotomi dan operator mulai memeriksa jantung. 11) Pembuluh darah yang sering digunakan untuk bypass grafting ini antara lain ; arteri thoracic internal, arteri radial, dan vena saphena. 12) Saat dilakukan pemotongan arteri tersebut, klien diberi heparin untuk mencegah pembekuan darah. 13) Pada operasi off pump, operator menggunakan alat untuk menstabilkan jantung. 14) Pada operasi on Pump, maka ahli bedah membuat kanul ke dalam jantung dan menginstruksikan kepada petugas perfusionist untuk memulai cardiopulmonary bypass (CPB). 15) Setelah CPB terpasang, operator ditempat klem lintas aorta (aortic cross clamp) diseluruh aorta dan mengintruksikan perfusionist untuk memasukkan cardioplegia untuk menghentikan jantung. 16) Ujung setiap pembuluh darah grefting dijahit pada arteri koronaria diluar daerah yang diblok dan ujung alin dihubungkan pada aorta. 17) Jantung dihidupkan kembali; atau pada operasi off pump alat stabilisator dipisahkan. Pada beberapa kasus, aorta didukung sebagian oleh klem C-Shaped, jantung dihidupkan kembali dan penjahitan jaringan grafting ke aorta dilakukan sembari jantung berdenyut. 18) Protamin diberikan untuk memberikan efek heparin . 19) Sternum dijahit bersamaan dan insisi dijahit kembali. 20) Pasien akan dipindahkan ke unit perawatan intensif (ICU) untuk penyembuhan. 21) Setelah keadaan sadar dan stabil di ICU (sekitar 1 hari), pasien bisa dipindah ke ruang rawat samapi pasien siap untuk pulang.

6) KEPERAWATAN PRE OPERASI

1) Status psikologi : cemas 2) Nitrogliserin SL/ transdermal-Status klinik : nyeri dada 3) Riwayat penyakit dahulu : Kaji riwayat DM karena DM memicu aterosklerosis, menghambat penyembuhan luka dan predisposisi infeksi. Hipertensi dan obesitas meningkatkan beban kerja jantung. Obesitas meningkatkan resiko infeksi karena jaringan adiposa mengandung sedikit vaskularisasi. 4) Pemberian antibiotic profilaksis : Mencegah infeksi 5) Tanda-tanda vital : Tekanan darah bilateral, nadi, suhu, RR 6) Jaga pasien tetap hangat dengan memberi selimut-Observasi adanya shivering : Menggigil (Shivering) dapat meningkatkan pelepasan katekolamin. 7) Thorak foto : dapat memberikan informasi mengenai ruang jantung, aorta torakal, pembuluh darah pulmonal. Pada pasien dengan kalsifikasi aorta asendens yang luas maka dihindari penggunaan klem pembuluh darah aorta atau cardiopulmonary bypass. 8) Ekokardiografi : Untuk evaluasi fungsi ventrikel sebelum dan segera setelah operasi, untuk mengetahui adanya tumor, thrombus atau udara yang masih ada di rongga atrium atau ventrikel setelah intervensi bedah jantung. 9) Kateterisasi jantung : Untuk mengetahui lokasi dan luasnya arteri yang menyempit/tersumbat. 10) Laboratorium: DL, profil koagulan, Faal Homeostasis, Renal Fungsi Tes, Liver Fungsi Tes. 11) Edukasi : Melatih batuk efektif dan nafas dalam . 7) KEPERAWATAN INTRA OPERASI 1) Posisi : supin 2) Pengkajian : monitoring EKG, tanda tanda vital, menyiapkan defibrillator. Jika jantung fibrilasi dan tidak dapat diresusitasi maka segera dilakukan pijatan langsung pada jantung. 3) Insisi : Median sternotomy. Kulit diinsisi dari sternal notch sampai ke linea alba dibawah prosesus xipoidius. 4) Pemilihan saluran (conduit): Arteri mamaria interna, vena saphena, arteri radialis, arteri gastroepiploik, arteri epigastrik inferior. 5) Pintasan jantung paru : pada pendekatan ini kanula dimasukkan melalui atrium kanan ke vena kava superior dan inferior untuk mengalirkan darah dari tubuh ke system pintasan. System pompa menciptakan vakum, menarik darah ke reservoir vena ; darah dibersihkan dari gelembung udara, bekuan darah dan partikulatnya dengan filter.

Darah kemudian dialirkan ke oksigenator, melepaskan karbondioksida dan mendapat oksigen. Darah ditarik ke pompa dan kemudian didorong ke penukar panas, dimana temperaturnya diatur, dan kemudian dikembalikan ke tubuh melalui aorta asendens (Smeltzer, 2002). 6) Peran perawat : Membantu prosedur operasi, menjaga keamanan dan kenyaman pasien. Ruang lingkup intervensi diantaranya mengatur posisi, perawatan kulit, dukungan emosional pada pasien dan keluarga. 7) Komplikasi intraoperatif yang mungkin terjadi: Aritmia, perdarahan, infark miokard, cedera pembuluh darah otak, emboli, syok.

8) KEPERAWATAN POST OPERASI

1) Pengkajian a). Status neurologi : Tingkat responsivitas, ukuran pupil dan reaksi terhadap cahaya, reflex, gerakan ekstremitas, dan kekuatan genggaman tangan. b). Status jantung : Frekuensi dan irama jantung, CVP, curah jantung, tekanan arteri paru, PAWP, saturasi oksigen arteri paru, drainase rongga dada, status serta fungsi pacu jantung. c). Status respirasi: Gerakan dada, suara nafas, setting ventilator (frekuensi, volume tidal, konsentrasi oksigen, mode) . d). Status pembuluh darah perifer : Denyut nadi perifer, warna kulit, dasar kuku, mukosa, bibir dan cuping telinga, suhu, edema, kondisi balutan dan pipa invasive. e). Fungsi ginjal : Haluaran urine, berat jenis urin dan osmolaritas. f). Status cairan dan elektrolit : Intake dan output, nilai laboratorium untuk kalium, natrium, calcium g). Nyeri: Sifat, jenis, lokasi, durasi, respon terhadap analgesic. Pasien yang menjalani CABG dengan arteri mamaria interna dapat mengalami parestesis sementara atau menetap nervus ulnarispada sisi yang sama dengan graf yang diambil. Pasien yang menjalani CABG dengan arteri gastroepiploik juga dapat mengalami ileus selama beberapa waktu dan akan mengalami nyeri abdomen pada tempat insisi selain nyeri dada. 2) Pengkajian komplikasi: a). Penurunan curah jantung

Penyebabnya antara lain ; Gangguan preload, gangguan afterload, gangguan frekuensi jantung, gangguan kontraktilitas. b). Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit Pantau asupan dan haluaran cairan, kadar elektrolit. c). Gangguan pertukaran gas Indikasi gangguan pertukaran gas ; gelisah, cemas, sianosis pada selaput lendir dan jaringan perifer, takikardia, berusaha melepas ventilator. Suara nafas ronki. d). Gangguan peredaran darah otak: hipoksia

Muttaqin, A.2009.Buku Ajar Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler dan Hematologi.Jakarta:Salemba Medika Feriyawati, L. 2005. CABG dengan Menggunakan Vena Saphenous, Arteri Mammaria Interna dan Arteri Radialis. FK USU

G. PENGKAJIAN a. Demografi (Terfokus pada kasus) a) Identitas pasien : Nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, agama, pendidikan, diagnose medis, tanggal dan jam MRS, tanggal dan jam pengkajian. b) Keluhan utama : Nyeri dada, sesak nafas, palpitasi, pingsan . b. Riwayat Kesehatan (Terfokus pada kasus) a) Riwayat penyakit sekarang: Pasien mengeluh nyeri, sesak nafas,palpitasi, pingsan. b) Riwayat penyakit dahulu : Kaji riwayat DM karena DM memicu aterosklerosis, menghambat penyembuhan luka dan predisposisi infeksi. Hipertensi dan obesitas meningkatkan beban kerja jantung. Obesitas meningkatkan resiko infeksi karena jaringan adiposa mengandung sedikit vaskularisasi. c) Riwayat penyakit keluarga : Riwayat penyakit yang pernah diderita keluarga seperti DM, hipertensi, penyakit jantung koroner. d) Riwayat psikologis : Pasien yang akan dilakukan CABG dapat mengalami kecemasan sampai ketakutan akan kematian. c. Pemeriksaan Fisik

d. Pemeriksaan Penunjang a) EKG (Elektrokardiografi) Adanya gelombang patologik disertai peninggian S-T segmen yang konveks dan diikuti gelombang T yang negative dan simetrik. Kelainan Q menjadi lebar (lebih dari 0,04 sec) dan dalam (Q/R lebih dari ). b) Laboratorium a. Creatin fosfakinase (CPK). Iso enzim CKMB meningkat Hal ini terjadi karena kerusakan otot, maka enzim intra sel dikeluarkan ke dalam aliran darah. Normal 0-1 mU/mL. b. SGOT (Serum Gluramic Oxalotransaminase Test) Nomal kurang dari 12 mU/mL. kadar enzim ini naik pada 12-24 jam setelah serangan. c. LDH (Lactic De-Hydrogenase) Normal kurang dari 195 mU/mL. kadar enzim biasanya baru mulai naik setelah 48 jam. c) Pemeriksaan lain : Ditemukan peninggian LED, Lekositosis ringan, dan kadang Hiperglikemi ringan. d) Kateterisasi : Angiografi koroner untuk mengetahui derajat obstruksi. e) Radiology : Pembesaran dari jantung.

Muttaqin, A.2009.Buku Ajar Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler dan Hematologi.Jakarta:Salemba Medika Feriyawati, L. 2005. CABG dengan Menggunakan Vena Saphenous, Arteri Mammaria Interna dan Arteri Radialis. FK USU

H. PATHWAYS KEPERAWATAN

I. DIAGNOSA KEPERAWATAN

a. Resiko/aktual Penurunan curah jantung berhubungan dengan : Kehilangan darah dan gangguan miokardium, gangguan preload (hipovolemia), gangguan konduksi (aritmia). b. Ansietas berhubungan dengan rasa takut akan kematian, penurunan status kesehatan, kurang pengetahuan terhadap tindakan CABG. c. Gangguan pertukaran gas sehubungan dengan kongesti paru. d. Nyeri berhubungan dengan luka insisi. e. Resiko infeksi berhubungan dengan port de entry kuman

J. INTERVENSI DAN RASIONAL

a. DX : Resiko/aktual Penurunan curah jantung berhubungan dengan : Kehilangan darah dan gangguan miokardium, gangguan preload (hipovolemia), gangguan konduksi (aritmia). Tujuan : Dalam waktu 2 X 24 jam curah jantung meningkat . Kriterian Hasil : a. Hemodinamik stabil (tekanan darah dalam batas normal (TDS 100-130, TDD 60-90). b. Asupan dan haluaran sesuai c. Nadi normal (60-100x/menit) tidak ada disritmia), d. Produksi urine 0,5-1 cc/kgBB/jam e. CRT < 2 detik f. Suhu normal (36-370C) g. RR normal (12-20 X/menit) h. Drainase dada melalui selang pada 4-6 jam pertama < 300 cc

INTERVENSI 1. Catat dan pantau HR, TD, RR terutama adanya hipotensi, waspadai penurunan sistol/diastole 2. Pantau irama jantung, disritmia. Observasi respon pasien terhadap disritmia contoh penurunan tekanan darah 3. Observasi perubahan status

RASIONAL Hipotensi dapat terjadi akibat kekurangan cairan, disritmia, gagal jantung/syok

Letal disritmia dapat menyebabkan penurunan curah jantung

Dapat mengindikasikan penurunan aliran

mental/orientasi/ gerakan reflex tubuh/ gelisah 4. Catat suhu kulit dan kualitas nadi perifer 5. Ukur dan catat asupan dan haluaran cairan

darah otak akibat penurunan curah jantung

Kulit hangat, merah muda dan nadi kuat adalah indikasi curah jantung adekuat Berguna dalam menentukan kebutuhan cairan atau mengidentifikasi kelebihan cairan yang dapat mempengaruhi curah jantung Gejala bisa tertutup oleh tingkat kesadaran pasien dan obat anti nyeri Perdarahan dapat terjadi akibat insisi jantung, trauma jaringan,gangguan pembekuan Gagal jantung yang terjadi akibat penurunan aksi pompa jantung; dapat menurunkan perfusi ke organ vital

6. Observasi adanya infark miokard melalui pemeriksaan EKG berkala 7. Observasi perdarahan, drainase darah terus-menerus, CVP rendah, takikardia 8. Observasi adanya gagal jantung: hipotensi, peningkatan PAWP, CVP dan tekanan atrium kiri, takikardia, gelisah, sianosis, distensi vena, dipsnea, asites. Persiapkan pemberian diuretik dan digitalis

b. DX : Ansietas berhubungan dengan rasa takut akan kematian, penurunan status kesehatan, kurang pengetahuan terhadap tindakan CABG. Tujuan: Setelah 2 x 24 jam dirawat, ansietas berkurang atau hilang. Kriteria hasil: a. Gelisah hilang atau berkurang b. Klien kooperatif c. Mengungkapkan perasaanya pada perawat tentang tindakan yang diprogramkan d. Klien dapat mengidentifikasi penyebab atau faktor yang mempengaruhinya e. Menyatakan cemas berkurang/hilang INTERVENSI 1. Kaji tanda-tanda dan ekspresi verbal dari kecemasan RASIONAL Cemas dapat merangsang respon simpatik dengan melepaskan katekolamin, sehingga menyebabkan peningkatan kebutuhan jantung akan oksigen Mengungkapkan perasaan dapat mengurangi

2. Berikan kesempatan pada klien untuk

mengungkapkan perasaan dan kecemasannya 3. Jelaskan kepada klien tentang prosedur tindakan CABG (pengertian, manfaat, indikasi, persiapan, prosedur, efek samping dan resiko yang timbul apabila tidak dilakukan CABG ) 4. Berikan posisi yang nyaman, lingkungan yang tenang bagi klien

ansietas dan dapat membuat klien lebih tenang Pengetahuan yang adekuat dapat mengurangi kecemasan

Situasi yang tenang dapat mengurangi kecemasan klien

5. Observasi TD, nadi, RR

Peningkatan nadi dapat menjadi indikasi adanya kecemasan

6. Beri kesempatan orang terdekat untuk mendampingi klien

Keluarga dapat membantu klien untuk mengungkapkan perasaan cemas

c. DX : Gangguan pertukaran gas sehubungan dengan kongesti paru Tujuan : Dalam waktu 1x 24 jam setelah intervensi diberikan, gangguan pertukaran gas tidak terjadi. Kriteria hasil: a. Klien melaporkan tidak adanya/ penurunan dipsnea b. Klien menunjukkan tidak ada distress nafas c. RR = 12-20 x/menit d. nilai GDA dalam rentang normal (pH: 7,35-7,45 ; pO2= 95-100% ; PaCO2= 35-45 mmHg)

INTERVENSI 1. Auskultasi bunyi nafas, catat bunyi nafas (ronki) 2. Kolaborasi pemberian oksigen

RASIONAL Ronki dapat menjadi indikasi kongesti paru

Meningkatkan oksigen alveoli yang dapat memperbaiki atau menurunkan hipoksemia jaringan Hipoksemia dapat menjadi berat selama

3. Pantau hasil analisa gas darah,

oksimetri 4. Berikan obat sesuai indikasi: diuretik, brokodilator 5. Kolaborasi pemilihan pemberian cairan

edema paru Berikan obat sesuai indikasi: diuretik, brokodilator Cairan yang berlebihan dapat menyebabkan edema paru

d. DX : Nyeri berhubungan dengan luka insisi Tujuan: Setelah dilakukan intervensi 3 x 24 jam nyeri berkurang atau hilang. Kriteria hasil: a. Skala nyeri 0-3, klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang b. Klien dapat rileks dan istirahat dengan tenang c. Tanda vital stabil INTERVENSI RASIONAL 1. Catat sifat, jenis, lokasi, dan durasi Nyeri dapat meningkatkan konsumsi oksigen nyeri dan beban kerja jantung 2. Bantu pasien membedakan nyeri Nyeri angina memerlukan penanganan segera bedah dan nyeri angina 3. Berikan posisi nyaman dan ajarkan tehnik relaksasi 4. Pantau TTV Posisi memberikan rasa nyaman

HR dapat meningkat sebagai respon dari nyeri

5. Kolaborasi pemberian analgesik

Menurunkan nyeri, menurukan ketegangan otot dan meningkatkan penyembuhan

e. DX : Resiko infeksi berhubungan dengan port de entry kuman Tujuan: Infeksi tidak terjadi. Criteria hasil: Luka operasi tidak berbau dan tidak ada pus. INTERVENSI 1. Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan RASIONAL Mencegah infeksi

2. Kaji daerah sekitar luka operasi, observasi adanya pus, bau.

Gejala dini infeksi diketahui

3. Pantau suhu tubuh, nadi 4. Kolaborasi antibiotik 5. Beri nutrisi yang adekuat

Hipertermi dan takikardia dapat menjadi tanda infeksi Membunuh bakteri/kuman Membantu meningkatkan imunitas.

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, M.E. 2000. Rencana Asuhan keperawatan ; Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta. EGC Smeltzer, SC & Bare, BG. 2002.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Volume 2. Jakarta:EGC Feriyawati, L. 2005. CABG dengan Menggunakan Vena Saphenous, Arteri Mammaria Interna dan Arteri Radialis. FK USU ( Institute Kesehatan Nasional, Departement Kesehatan & Layanan Kemanusiaan ) Dongoes, Marilynn.1999.Rencana Asuhan Keperawatan.ed.3.Jakarta.EGC Muttaqin, A.2009.Buku Ajar Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler dan Hematologi.Jakarta:Salemba Medika