Anda di halaman 1dari 33

1

BAB I STATUS PENDERITA

A. PENDAHULUAN Kolesistitis adalah inflamasi akut dan kronis dari kandung empedu, biasanya berhubungan dengan batu kandung empedu yang tersangkut pada duktus sistikus dan menyebabkan distensi kandung empedu. Kasus kolesistitis ditemukan pada sekitar 10% populasi, sekitar 90% kasus berkaitan dengan batu empedu, sedangkan 10% sisnya tidak. Kasus minorotas yang disebut juga dengan istilah acalculous cholecystitis ini, biasanya berkitan dengan pasca bedah umum, cedera berat, sepsis (infeksi berat). Individu yang beresiko terkena kolesistitis adalah jenis kelamin wanita, umur tua, obesitas, obat-obatan kehamilan, dan suku bangsa tertentu. B. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Pendidikan Agama Alamat Status Perkawinan Suku Tanggal MRS C. ANAMNESA 1. Keluhan Utama 2. Keluhan Tambahan : Nyeri perut sebelah kanan : mual, nafsu makan menurun, demam. : Tn. D : 40 tahun : Laki-laki : Swasta : SMA : Islam : Jl. Bayam Dalam, Bumi Ayu : Menikah : Jawa : 21 November 2012

3. Riwayat Penyakit Sekarang : Nyeri didaerah perut kanan menjalar ke pinggang sejak tadi sore, nyeri terus menerus seperti ditusuk-tusuk. Pasien juga mengeluh mual (+), nafsu makan menurun, demam (+), muntah (-), buang air besar dan buang air kecil tidak ada keluhan. 1 bulan yang lalu (16-10-2012) pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan badan meriang dan nyeri pinggang kanan. Oleh dokter disarankan untuk melakukan USG. Dokter mendiagnosa cholelithiasis.

Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat Penyakit Serupa Riwayat Mondok Riwayat Sakit Gula : dibenarkan : disangkal : disangkal

Riwayat Penyakit Jantung : disangkal Riwayat Hipertensi Riwayat Sakit Kejang Riwayat Alergi Obat Riwayat Alergi Makanan Riwayat Keganasan : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

4. Riwayat Penyakit Keluarga :

Riwayat Keluarga dengan penyakit serupa Riwayat Hipertensi

: disangkal : ibu memiliki riwayat hipertensi

Riwayat Sakit Gula Riwayat Penyakit Jantung Riwayat keganasan

: disangkal : disangkal : disangkal

5. Riwayat Kebiasaan Riwayat Merokok

: : dibenarkan, sejak SMA, baru berhenti semenjak sakit

Riwayat Minum Alkohol Riwayat Olahraga Riwayat Pengisian Waktu Luang

: disangkal : jarang : menata taman.

6. Riwayat Sosial-Ekonomi

Penderita aktif dalam kegiatan di masyarakat. Penghasilan perbulan tidak tetap, namun cukup untuk menghidupi keluarganya. 7. Riwayat Gizi : Makan sehari-hari dengan nasi, lauk, sayur, buah jarang. Makan tidak teratur.

A.

ANAMNESIS SISTEM 1. Kulit 2. Kepala : kulit gatal (-), : pusing (-),

3. Mata 4. Hidung 5. Telinga 6. Mulut 7. Tenggorokan 8. Pernafasan 9. Kadiovaskuler

: pandangan mata berkunang-kunang (-/-), penglihatan kabur (-/-), ketajaman penglihatan dalam batas normal : tersumbat (-/-), mimisan (-/-) : pendengaran berkurang (-/-), berdengung (-/-), keluar cairan (-/-) : sariawan (-), mulut kering (+), lidah terasa pahit (+) : sakit menelan (-), serak (-) : sesak nafas (-), batuk lama (-) : berdebar-debar (-), nyeri dada (-) makan menurun (+),

10. Gastrointestinal : nyeri perut (+), mual (+), muntah (-), diare (-),nafsu 11. Genitourinaria 12. Neurologik 13. Psikiatri : BAK lancar, warna dan jumlah dalam batas normal : kejang (-), lumpuh (-), kesemutan dan rasa tebal pada kedua kaki (-) : emosi stabil, mudah marah (-) nyeri otot (-) 15. Ekstremitas o Atas kiri o Bawah kanan o Bawah kiri D. PEMERIKSAAN FISIK 1. Keadaan Umum : : : bengkak (-), sakit (-), luka (-) : bengkak (-), sakit (-), luka (-) : bengkak (-), sakit (-),luka (-) : bengkak (-), sakit (-), luka (-) o Atas kanan 14. Muskuloskeletal : kaku sendi (-), nyeri/linu-linu pada lutut kanan-kiri (-),

kesadaran Compos Mentis, tampak lemah (GCS E4V5M6) 2. Tanda Vital Tensi Nadi Pernafasan : 130/80 mmHg : 80x/menit : 20x/menit

Suhu TB BB BMI

: 38oC : 165 cm : 55 kg : 20,2

1.

Kulit

turgor baik, ikterik (-), sianosis (-), pucat (-), venektasi (-), petechie (-), spider nevi (-). 2. Kepala : Luka (-), rambut tidak mudah di cabut, keriput (-), makula (-), papula (-), nodula (-), kelainan mimic wajah / bells palsy (-). 3. Mata : Mata tidak cowong, konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), pupil isokor (+/+), reflek kornea (+/+), radang (-/-), warna kelopak mata (coklat kehitaman). 4. Hidung : Nafas cuping hidung (-), secret (-/-), epistaksis (-/-), deformitas hidung (-), hiperpigmentasi (-). 5. Mulut : Bibir pucat (-), bibir kering (-), lidah kotor (-), papil lidah atrofi (-), tepi lidah hiperemi (-), gusi berdarah (-), sariawan (-). 6. Telinga : Nyeri tekan mastoid (-/-), secret (-/-), pendengaran berkurang (-/-), cuping telinga dalam batas normal. 7. 8. 9. Tenggorokan : Tonsil membesar (-/-), faring hiperemis (-) Leher Toraks Normochest, : : simetris, pernafasan thoracoabdominal, retraksi (-), Trakea di tengah, pembesaran kelenjar limfe (-), lesi pada kulit (-).

spidernevi (-), pulsasi intrasternalis (-), sela iga melebar (-)

Cor Inspeksi Palpasi Perkusi : ictus cordis tidak tampak : ictus cordis kuat angkat : Batas kiri atas Batas kanan atas Batas kiri bawah Batas kanan bawah Pinggang jantung : ICS II linea para sternalis sinistra : ICS II linea para sternalis dekstra : ICS V linea medio clavicularis sinistra : ICS IV linea para sterna dekstra : ICS II linea para sternalis sinistra (kesan jantung tidak melebar) Auskultasi : Bunyi jantug I-II intensitas normal, regular, bising (-) Pulmo Inspeksi Palpasi Perkusi : Pengembangan dada kanan sama dengan kiri, benjolan (-), luka (-) : Fremitus taktil kanan sama dengan kiri, nyeri tekan (-), krepitasi (-) : Sonor Sonor Sonor Sonor Sonor

Auskultasi : suara dasar vesikuler

+ + +

+ +

Suara tambahan : Ronkhi


-

wheezing
-

10. Sistem Collumna Vertebralis : Inspeksi Palpasi Perkusi 11. Ektremitas Akral dingin 12. Kesadaran Fungsi luhur Fungsi vegetative Fungsi sensorik Fungsi motorik : Deformitas (-), skoliosis (-), kiphosis (-), lordosis (-) : Nyeri tekan (-) : NKCV (-) : palmar eritema (-/-) Odem : : GCS E4V5M6 : dalam batas normal : dalam batas normal : N N : 5 5 N N 5 5 N N N N 2 2 RF : 2 2 RP -

Pemeriksaan Neurologik

Kekuatan 13. Penampilan Kesadaran Afek Psikomotor Proses piker

Tonus

Pemeriksaan Psikiatrik : Perawatan diri baik

: Kualitatif tidak berubah, kuantitatif compos mentis : Appropriate : Normoaktif : Bentuk Isi Arus Insight : realistik : waham (-), hausinasi (-), ilusi (-) : koheren : Baik

Status Lokalis : Abdomen : Inspeksi : datar Auskultasi : Bising usus 6x/menit,

Palpasi

:dinding

abdomen

supel,

nyeri

tekan

pada

kanan

bawah, hepar lien tidak teraba, rovsing sign (-), psoas sign (-), obturator sign (-) E. PEMERIKSAAN PENUNJANG Tgl 22-November-2012 Darah Lengkap Item periksa Hemoglobin Leukosit LED Trombosit PCV/HCT Eritrosit Diff.count Hitung jenis Eosinofil Hitung jenis Basofil Hitung jenis N.Stab. Hitung jenis N.Segmen Hitung jenis Lymphosit Hitung jenis Monosit Kimia Darah Item periksa Gula darah sesaat Cholesterol total Trigliserida Ureum/urea Creatinin Uric acid/asam urat Bilirubin total dewasa Bilirubin direct Bilirubin indirect SGOT SGPT Albumin Hasil Pemeriksaan 14,6 11.500 7 315.000 45,5 4,89 1 1 0 85 6 7 Hasil Pemeriksaan 85 172 136 15 0,7 2,3 0,76 0,33 0,43 20 15 3,71 Nilai Normal 12 16 4 10 2 20 150 400 37 48 45 13 01 26 50 70 20 40 28 Nilai Normal <105 123 240 30 150 15 39 <1,3 2,6-7,2 <1,0 <0,20 <0,80 <40 <41 2,8-4,8 Satuan mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl u/L u/L g/dl Satuan g/dl Ribu/mm3 mm/jam Ribu/mm3 % Juta/mm3

Urinalisis Item periksa Warna Albumin Reduksi Bilirubin Urobilin Keton Nitrit Erytrosit Leukosit Epithel Kristal Bakteri Hasil Pemeriksaan Kuning jernih negatif negatif negatif negatif negatif negatif 0-1 0-1 0-1 negatif negatif negatif negatif negatif negatif negatif negatif 0-2 0-4 0-1 /LPB /LPB /LPB Nilai Normal Satuan

Serologi Thypi O Thypi H Parathypi OA Parathypi OB F. RESUME Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri didaerah perut kanan sejak sore tadi, nyeri terus menerus seperti ditusuk-tusuk. Pasien juga mengeluh mual (+), nafsu makan menurun, demam(+). Dari pemeriksaan fisik pasien didapatkan keadaan umum tampak lemah, compos mentis, status gizi kesan cukup. Tanda vital T:130/80 mmHg, N: 80x/menit, S: 38oC, RR : 20x/menit. Status lokalis abdomen nyeri tekan bagian kanan. Dari pemeriksaan penunjang didapatkan peningkatan leukosit, neutrofil segmen, NEGATIVE NEGATIVE NEGATIVE (+)1/80

10

dan parathypi OB dan penurunan limfosit dan asam urat, serta didapatkan gambaran batu ginjal pada pemeriksaan USG abdomen. G. DIAGNOSA KERJA Cholelhitiasis Cholesistitis H. DIAGNOSA BANDING Apendisitis Kolitis I. PENATALAKSANAAN Non medika mentosa promotif yaitu edukasi pada pasien dan keluarga untuk kontrol rutin ke dokter, preventif menjaga pola makan, Medikamentosa Tanggal 21-11-2012 Infus RA 20 tpm Inj. Terfacet 2 x 1 g iv Inj. Ladex 500 3 x 1 Inj. Norages 3 k/p p.o urdahex 250 2 x 1 PLANNING DIAGNOSA Cek DL, UL, USG abdomen B. FOLLOW UP Tanggal 21 November 2012 S : pusing

11

: KU cukup, kesadaran: CM, BP: 130/80mmHg, N: 80x/menit S: 38C. Abdomen : nyeri tekan (+),

A P

: MTS : Infus RA 20 tpm Inj. Terfacet 2 x 1 g iv Inj. Ladex 500 3 x 1 Inj. Norages 3 k/p p.o urdahex 250 2 x 1

Tanggal 22 November 2012 S O A P : nyeri (+) : KU cukup, kesadaran: CM, GCS: 456 T: 110/80, N: 80, S: 38C. Abdomen : nyeri tekan (+), : MTS : Infus RA 20 tpm Inj. Terfacet 2 x 1 g iv Inj. Ladex 500 3 x 1 Inj. Norages 3 k/p p.o urdahex 250 2 x 1 C. FLOW SHEET No. Tanggal Vital Sign Status Lokalis 1. 21-1120112 T : 130/80 Abd : nyeri tekan (+),
panas (+), perut sakit

Keluhan

Rencana

Terapi medikamentosa

12

S : 38oC N : 80x/m

(), mual (+),

dilanjutkan

2.

22-112012

T : 110/80 S : 38oC N : 80x/m

Abd : nyeri tekan (+)

panas (+), perut sakit (), mual (-)

Terapi medikamentosa dilanjutkan,

J. DIAGNOSTIK HOLISTIK 1. Diagnosis dari Segi Biologis Cholelhitiasis Cholesistitis 2. Diagnosis dari Segi Psikologis Hubungan dengan keluarga baik, pasien memiliki 1 istri dengan 3 anak.

3. Diagnosis dari Segi Sosial Keluarga ini tidak mempunyai kedudukan sosial tertentu dalam masyarakat, hanya sebagai anggota masyarakat biasa. Hubungan pasien dengan masyarakat sekitar baik, pasien aktif dalam beberapa kegiatan. Aspek Personal Keluhan utama : nyeri perut. Harapan : ingin cepat sembuh Kekhawatiran : penyakitnya bertambah parah, dan tidak sembuhsembuh Aspek Klinis

13

Cholelitiasis Aspek Resiko Internal Laki-laki, jarang olahraga, suka makan jeroan, pengetahuan pasien tentang penyakitnya kurang. 4. Aspek Resiko Ekternal Hubungan dengan masyarakat baik. Aktif dalam berbagai kegiatan. Hubungan keluarga dalam satu rumah terjalin dengan baik. 5. Aspek Fungsional Derajat fungsionalnya dengan score 1 karena pasien mampu melakukan pekerjaan seperti sebelum sakit.

14

BAB II IDENTIFIKASI FUNGSI-FUNGSI DALAM KELUARGA A. KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA Nama Kepala Keluarga Alamat Lengkap Bentuk Keluarga Daftar Anggota Keluarga No. Nama Kedudukan L/P Umur Pendidikan Pekerjaan Pasien 1. Tn. D Suami (kepala 2. Ny. S 3. An.A 5. An.N 6. An.R keluarga) Istri Anak Anak Anak P 39 thn P 18 thn L 11 thn P 6 thn SMA SMA SD TK Wiraswasta Tidak Pelajar Pelajar Pelajar Tidak Tidak Tidak sehat sehat sehat sehat L 40 thn SMA Klinik Wiraswasta Ya Ket. Cholelithiasis : Tn.D : Malang : nuclear family

B. FUNGSI HOLISTIK 1. 2. Fungsi Biologis : Keluarga terdiri dari pasien (Tn.D 40 tahun), 1 istri dengan 3 anak. Diagnosis klinis Tn.D adalah cholelithiasis. Fungsi Psikologis : Hubungan keluarga terjalin dengan baik, pasien mempunyai 1 istri dengan 3 anak. Interaksi dan komunikasi terjalin dengan baik antara orang tua dan anak. 3. Fungsi Sosial : Hubungan pasien dengan masyarakat sekitar baik, pasien aktif dalam beberapa kegiatan. Kesimpulan : Fungsi holistik keluarga Tn.D baik. B. FUNGSI FISIOLOGIS

15

ADAPTATION Kemampuan anggota keluarga tersebut beradaptasi dengan anggota keluarga yang lain, serta penerimaan, dukungan dan saran dari anggota keluarga yang lain. PARTNERSHIP Menggambarkan komunikasi, saling membagi, saling mengisi antara anggota keluarga dalam segala masalah yang dialami oleh keluarga tersebut. GROWTH Menggambarkan dukungan keluarga terhadap hal-hal baru yang dilakukan anggota keluarga tersebut. AFFECTION Menggambarkan hubungan kasih sayang dan interaksi antar anggota keluarga. RESOLVE Menggambarkan kepuasan anggota keluarga tentang kebersamaan dan waktu yang dihabiskan bersama anggota keluarga yang lain. A P G APGAR Terhadap Keluarga Tn.D Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga 2 saya bila saya menghadapi masalah Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan A kegiatan baru atau arah hidup yang baru Saya puas dengan cara keluarga saya 2 2 2

mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon R emosi saya seperti kemarahan, perhatian, dll Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama SKOR APGAR skor = Fungsi fisiologis keluarga baik Keterangan Skoring : : 2 10

16

Hampir selalu Kadang kadang Hampir tak pernah

: 2 poin : 1 poin : 0 poin

Total APGAR score keluarga Tn.D adalah = (10) Kesimpulan: Fungsi fisiologis keluarga Tn.D baik. C. FUNGSI PATOLOGIS DENGAN ALAT SCREEM SCREEM SUMBER PATHOLOGY Social Tn.D berpartisipasi dalam kegiatan di lingkungannya Cultural Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya baik, dapat dilihat Religius dari sikap pasien dan keluarga yang menghargai adat istiadat. Pemahaman terhadap ajaran agama baik, demikian juga dalam ketaatannya dalam beribadah dan pasien sering mengikuti Economy Educatio n Medical kegiatan keagamaan. Menengah ke atas Tn.D lulusan SMA, namun tingkat pemahaman tentang kesehatanya kurang. Jika sakit pergi ke pelayanan kesehatan terdekat + KET -

Kesimpulan : fungsi patologis pada keluarga ini terletak pada fungsi education.

D. GENOGRAM : Bentuk Keluarga : nuclear Family

17

Keterangan : : pasien : perempuan : laki-laki E. INFORMASI POLA INTERAKSI KELUARGA Pola interaksi keluarga Tn.M

Keterangan : : Hubungan baik Kesimpulan : Hubungan antara anggota keluarga di keluarga ini baik

18

BAB III IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN A. IDENTIFIKASI KELUARGA 1. Faktor Perilaku Keluarga a. Pengetahuan Keluarga kurang memahami kesehatan penderita. b. Sikap Keluarga ini peduli terhadap kesehatan penderita c. Tindakan keluarga membawa Tn.D ke pelayanan kesehatan terdekat 2. Faktor Non Perilaku a. Lingkungan Rumah yang dihuni keluarga ini cukup memenuhi standar kesehatan. Kebersihan lingkungan terjaga dengan baik dengan pencahayaan ruangan dan ventilasi rumah yang cukup memadai. Untuk kebutuhan air sehari-hari diperoleh dari PDAM b. Keturunan tidak ada faktor keturunan. c. Pelayanan Kesehatan Keluarga Tn.D biasanya pergi kerumah sakit sebagai sarana untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. FAKTOR PERILAKU DAN NON PERILAKU

19

Pemahaman: keluarga memahami penyakit penderita

Lingkungan : rumah cukup memenuhi syarat kesehatan

Sikap: keluarga sudah peduli terhadap penyakit penderita

Keluarga Tn.D

Keturunan : Tidak ada faktor keturunan

Tindakan: keluarga ikut mengantarkan Tn.D untuk berobat

Pelayanan Kesehatan : Jika sakit ke dokter praktek

Faktor Perilaku Faktor Non Perilaku Kesimpulan : Faktor perilaku keluarga berpengaruh positif terhadap kesehatan Tn.D karena pengetahuan keluarga tentang kesehatan sudah baik terutama tentang penyakit yang diderita. Faktor non-perilaku keluarga berpengaruh positif terhadap kesehatan Tn.D.

B. IDENTIFIKASI LINGKUNGAN RUMAH Lingkungan Luar Rumah Keluarga tinggal di rumah berukuran 56 m2 yang berdempetan disebuah perampungan. Memiliki pekarangan rumah dan terdapat pagar pembatas. Saluran pembuangan limbah sudah tersalur ke got. Pembuangan sampah di rumah diangkut oleh petugas kebersihan. Lingkungan Dalam Rumah Dinding rumah terbuat dari batu bata yang di cat, sedangkan lantai rumah sudah menggunakan keramik. Rumah ini terdiri dari Lima ruangan yaitu ruang tamu, 4 kamar tidur, satu dapur dan satu kamar mandi. Rumah ini hanya mempunyai satu pintu untuk keluar masuk (di bagian depan) serta dua jendela kaca. Keluarga ini sudah mempunyai fasilitas MCK keluarga dan

20

fasilitas air dari PDAM. Ventilasi udara cukup baik karena terdapat jendela pada tiap ruangan. Denah Rumah Tn.D 7m U

Dapur kamar kamar Kamar mandi 8m Ruang Keluarga + Tamu kamar

Kamar Kamar mandi Keterangan : Indoor Outdoor Luas rumah 56 m2. Lantai sudah menggunakan keramik. Pencahayaan dan ventilasi baik.

Sumber air bersih dari PDAM. Saluran pembuangan air langsung menuju selokan. Saluran jamban menuju septic tank.

21

BAB IV DAFTAR MASALAH A. MASALAH MEDIS : a. Cholesistitis B. MASALAH NON MEDIS : 1. Rendahnya tingkat pengetahuan kesehatan 2. Kepedulian terhadap penyakit penderita kurang C. DIAGRAM PERMASALAHAN PASIEN Rendahnya pengetahuan tentang kesehatan
1.

2. Kepedulian terhadap penyakit penderita kurang


Tn.D Kolesistitis

22

BAB V KOLESISTITIS Definisi dan Epidemiologi Kolesistitis adalah inflamasi akut dan kronis dari kandung empedu, biasanya berhubungan dengan batu kandung empedu yang tersangkut pada duktus sistikus dan menyebabkan distensi kandung empedu. Kasus kolesistitis ditemukan pada sekitar 10% populasi, sekitar 90% kasus berkaitan dengan batu empedu, sedangkan 10% sisnya tidak. Kasus minorotas yang disebut juga dengan istilah acalculous cholecystitis ini, biasanya berkitan dengan pasca bedah umum, cedera berat, sepsis (infeksi berat). Individu yang beresiko terkena kolesistitis adalah jenis kelamin wanita, umur tua, obesitas, obat-obatan kehamilan, dan suku bangsa tertentu. Kolelitiasis adalah terdapatnya batu dalam kandung empedu. Kedua penyakit diatas dapat terjadi sendiri saja, tapi sering kali dijumpai bersamaan karena saling berkaitan. Sekitar 95% penderita peradangan kandung empedu akut memiliki batu empedu. Batu empedu yang menyumbat saluran empedu akan membuat kandung empedu meregang, sehingga aliran darah dan getah bening akan berubah, terjadilah kekurangan oksigen dan kematian jaringan empedu. Sedangkan kasus tanpa batu empedu, kolesistitis lebih disebabkan oleh faktor keracunan empedu (endotoksin) yang membuat garam empedu tidak dapat dikeluarkan dari kandung empedu.

23

Anatomi dan Fisiologi Anatomi

Kandung empedu (vesica fellea) adalah kantong berbentuk buah pear yang terletak pada permukaan visceral hepar. Vesica fellea dibagi menjadi fundus, corpus, dan collum. Fundus berbentuk bulat dan biasanya menonjol dibawah pinggir inferior hepar, dimana fundus berhubungan dengan dinding anterior abdomen setinggi ujung costa IX kanan. Corpus merupakan bagian terbesar dari kandung empedu. Corpus bersentuhan dengan permukaan visceral hepar dan arahnya keatas, belakang, dan kiri. Collum adalah bagian yang sempit dari kandung empedu. Collum dilanjutkan sebagai duktus cysticus yang berjalan dalam omentum minus untuk bersatu dengan sisi kanan ductus hepaticus comunis membentuk duktus koledokus. Peritoneum mengelilingi fundus vesica fellea dengan sempurna menghubungkan corpus dan collum permukaan viscera hati. Pembuluh arteri kandung empedu adalah A. cystica cabang A. hepatica kanan. V. cystic mengalirkan darah langsung ke vena porta. Sejumlah arteri yang sangat kecil dan vena-vena juga berjalan antara hati dan kandung empedu. Pembuluh limfe berjalan menuju ke nodi lymphatici cysticae yang terletak dekat collum vesic fellea. Disini pembuluh limfe berjalan melalui nodi lymphatici hepaticum sepanjang perjalanan A. hepatica menuju ke nodi lymphatici coeliacus. Saraf yang menuju ke kandung empedu berasal dari plexus coeliacus. Variasi anatomi misalnya double folded atau double twisted sangat sering ditemukan, juga kandung empedu yang besar, non obstruktif, sering dijumpai pada penderita alkoholisme atau diabetes mellitus.

24

Fisiologi Vesica fellea berperan sebagai reservoir empedu dengan kapasitas sekitar 50ml. vesica fellea memiliki kemampuan memekatkan empedu. Dan untuk membantu proses ini, mukosanya memiliki lipatan-lipatan yang satu sama lain saling berhubungan. Sehingga permukaannya tampak seperti sarang tawon. Selsel thorak membatasinya juga mempunyai banyak mikrofili Empedu dibentuk oleh sel-sl hati yang ditampung di dalam kanalikuli. Kemudian disalurkan ke duktus biliaris terminalis yang terletak di dalam septum interlobaris. Saluran ini kemudian keluar dari hati sebagai duktus hepatikus kanan dan kiri. Kemudian keduanya membentuk duktus biliaris komunis. Pada saluran ini sebelum mencapai duodenum terdapat cabang ke kandung empedu yaitu duktus sistikus yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan empedu sebelum disalurkan ke duodenum. Fungsi primer dari kandung empedu adalah memekatkan empedu dengan absorbs air dan natrium. Kandung empedu mampu memekatkan zat terlarut yang kedap, yang terkandung dalam empedu hepatik 5-10 kali dan mengurangi volumenya 80-90%. Menurut Guyton & Hall, 1997 empedu melakukan dua fungsi penting yaitu : a. Empedu memainkan peranan penting dalam pencernaan dan absorbsi lemak, karena asam empedu melakuakn dua hal antara lain: asam empedu membantu mengemulsikan partikel-partikel lemak yang besar menjadi partikel yang lebih kecil dengan bantuan enzim lipase yang disekresikan dalam getah pankreas. Asam empedu membantu transport dan absorbsi produk akir lemak yang dicerna menuju dan melalui membran mukosa intestinal. b. Empedu bekerja sebagai suatu alat untuk mengeluarkan beberapa produk buangan yang penting dari darah, antara bilirubin, suatu produk akhir dari penghancuran hemoglobin, dan kelebihan kolesterol yang dibentuk oleh selsel hati. Pengosongan Kandung Empedu Empedu dialirkan sebagai akibat kontraksi dan pengosongan parsial kandung empedu. Mekanisme ini diawali dengan masuknya makanan berlemak ke

25

dalam duodenum. Lemak meyebabkan pengeluaran hormon kolesistokinin dari mukosa duodenum, hormone kemudian masuk dalam darah, menyebabkan kandung empedu berkontraksi. Pada saat yang sama, otot polos yang terletak pada ujung distal duktus coledokus dan ampula relaksasi, sehingga memungkinkan masuknya emepdu yang kental ke dalam duodenum. Garam-garam empedu dalam cairan emepdu penting untuk emulsifikasi lemak dalam usus halus dan membantu pencernaan dan absorbs lemak. Proses koordinasi kedua aktifitas ini disebabkan oleh dua hal yaitu: 1. Hormonal Zat lemak yang terdapat pada makanan setelah sampai duodenum akan merangsang mukosa sehingga hormone cholecystokinin akan terlpas. Hormon ini yang paling besar peranannya dalam kontraksi kandung empedu. 2. Neurogen: Stimulasi vagal yang berhubungan dengan fase cephalik dari sekresi cairan lambung atau dengan refleks intestino-intestinal akan menyebabkan kontraksi dari kandung empedu Rangsangan langsung dari mkanan yang masuk sampai ke duodenum dan mengenai Sphincter Oddi. Sehingga pada keadaan dimana kandung empedu akan tetap keluar walaupun sedikit. Pengosongan empedu yang lambat akibat gangguan hormonal mauapun neurologis memegang peran penting dalam perkembangan inti batu. Komposisi Cairan Empedu Komponen Air Garam empedu Bilirubin Kolesterol Asam lemak Lecithin Elektrolit Dari hati 97,5 gm% 1,1 gm% 0,04 gm% 0,1 gm% 0,12 mg% 0,04 mg% Dari kandung empedu 95 mg% 6 mg% 0,3 mg% 0,3-0,9 mg% 0,3-1,2 mg% 0,3 mg% -

26

Garam empedu Asam empedu berasal dari kolesterol. Asam empedu dari hati ada dua macam yaitu: Asam Deoxcycholat dan Asam Cholat. Fungsi garam empedu adalah : Menurunkan tegangan permukaan dari partikel lemak yang terdapat dalam makanan, sehingga partikel lemak yang besar dapat dipecah menjadi partikel-partikel kecil untuk dapat dicerna lebih lanjut. Membantu absorbsi lemak, monoglycerid, kolesterol, dan vitamin yang larut dalam lemak. Garam empedu yang masuk ke dalam lumen usus oleh kerja kumankuman usus diubah menjadi deoxycholat dan lithocholat. Sebagian besar (90%) garam empedu dalam lumen usus akan diabsorbsi kembali oleh mukosa usus sedangkan sisanya akan dikeluarkan bersama feses dalam bentuk lithocholat. Absorbsi garam empedu tersebut terjadi di segmen distal dari ilium. Sehingga bila ada gangguan pada daerah tersebut misalnya oleh karena radang atau reseksi maka absorbsi garam empedu akan terganggu. Kolesistitis 1. Kolesistitis akut A. Pengertian Radang kandung empedu (kolesistitis akut) adalah reaksi inflamasi akut dinding kandung empedu yang disertai keluhan nyeri perut kanan atas, nyeri tekan, dan demam. B. Etiologi dan Patogenesis Faktor yang mempengaruhi timbulnya serangan kolesistitis akut adalah statis cairan empedu, infeksi kuman, dan iskemia dinding kandung empedu. Penyebab utama kolesistitis akut adalah batu kandung empedu (90%) yang terletak di duktus sistikus yang menyebabkan statis cairan empedu, sedangkan sebagian kecil kasus timbul tanpa adanya batu empedu (kolesistitis akut alkalkulus). Bagaimana statis di duktus sistikus dapat menyebabkan kolesistitis akut, masih belum jelas. Diperkirakan banyak faktor yang

27

berpengaruh, seperti kepekatan cairan empedu, kolesterol, lisolesitin, dan prostaglandin yang merusak lapisan mukosa dinding kandung empedu diikuti oleh reaksi inflamasi dan supurasi. Kolesistitis akut akalkulus dapat timbul pada pasien yang dirawat cukup lama dan mendapat nutrisi secara parenteral, pada sumbatan karena keganasan kandung empedu, batu disaluran emepdu, atau merupakan salah satu komplikasi penyakit lain seperti demam tifoid dan diabetes mellitus. C. Gejala klinis Keluhan yang agak khas untuk serangan kolesistitis akut adalah kolik perut disebelah kanan atas epigastrium dan nyeri tekan serta kenaikan suhu tubuh. Kadang-kadang rasa sakit menjalar ke pundak atau skapula kanan dan dapat berlangsung sampai 60 menit tanpa reda. Berat ringannya keluhan sangat bervariasi tergantung dari adanya kelaianan inflamasi ringan sampai dengan gangrene atau perforasi kandung empedu. Penderita kadang menderita demam, mual, dan muntah. Pada orang lanjut usia, demam sering kali tidak begitu nyata dan nyeri lebih terlokalisasi hanya pada perut kanan atas. D. Pemeriksaan fisik Teraba masa kandung empedu, nyeri tekan disertai tanda-tanda peritonitis lokal (Murphy sign). E. Laboratorium Ikterus dijumpai pada 20% kasus, umumnya derajat ringan (bilirubin <4,0mg/dl). Apabila konsentrasi bilirubin tinggi, perludiperkirakan adanya batu disaluran empedu ekstrahepatik. Leukositosis . Peningkatan bilirubin). Peninggian transaminase dan fosfatase alkali. F. Radiologi Foto polos abdomen tidak dapat memperlihatkan gambaran kolesistitis akut. Hanya pada 15% banyak. pasien kemungkinan dapat terlihat batu tidak tembus pandang (radioopak) oleh karena mengandung kalsium cukup enzim-enzim hati (SGOT,SGPT,alkali fosfatase,dan

28

Kolesistografi oral tidak dapat memperlihatkan gambaran kandung empedu bila ada obstruksi sehingga pemeriksaan ini tidak bermanfaat untuk kolesistitis akut. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) sebaiknya dikerjakan secara rutin dan sangat bermanfaat untuk memperlihatkan besar, bentuk, penebalan dinding kandung empedu, batu dan saluran empedu ekstrahepatik. Nilai kepekaan dan ketepatan USG mencapai 90-95%. Skintigrafi saluran empedu mempergunakan zat radioaktif HIDA atau 99nTc6 Iminodiacetic acid mempunyai nilai sedikit lebih rendah dari USG tapi teknik ini tidak mudah. Terlihatnya gambaran duktus koledukus tanpa adanya gambaran kandung empedu pada pemeriksaan kolesistografi oral atau scintigrafi sangat menyokong kolesititis akut. CT scan abdomen kurang sensitive dan mahal tapi mampu memperlihatkan adanya abses perikolesistik yang masih kecil yang mungkin tidak terlihat pada pemeriksaan USG. Kolangiografi transhepatik perkutaneos : pembedahan gambaran dengan fluroskopi antara penyakit kandung empedu dan kanker pancreas (bila ikterik ada). MRI G. Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala dan hasil dari pemeriksaan tertentu. Pemeriksaan USG bisa membantu memperkuat adanya batu empedu dalam kandung empedu, dan cairan peradangan disekitar empedu. ERCP (endoscopic retrograde cholangiopancreatography) juga dapat dilakukan untuk melihat anatomi saluran empedu, sekaligus untuk mengangkat batu apabila memungkinkan. Diagnosis yang paling akurat diperoleh dari pemeriksaan skintigrafi hepatobilier, yang memberikan gambaran dari hati, saluran empedu, kandung empedu dan bagian atas usus halus. H. Penatalaksanaan

29

Penderita dengan kolesistitis akut pada umumnya dirawat dirumah sakit, diberikan cairan dan elektrolit intravena dan tidak diperbolehkan makan mupun minum. Mungkin akan dipasang pipa nasogastrik untuk menjaga agar lambung tetap kosong sehingga mengurangi rangsangan terhadap kandung empedu. Antibiotik diberikan sesegera mungkin dicurigai kolesistitis akut. Jika diagnosis sudah pasti dan resikonya kecil, biasanya dilakukan pembedahan untuk mengangkat kandung empedu pada hari pertama atau kedua. Jika penderita memiliki penyakit lainnya yang meningkatkan resiko pembedahan, operasi ditunda dan dilakkan pengobatan terhadap penyakitnya. Jika serangan mereda, kandung empedu bisa diangkat 6 minggu kemudian atau lebih. Jika terdapat komplikasi (misalnya abses, gangren, atau perforasi kandung empedu), diperlukan pembedahan segera. Sebgian kecil penderita akan merasakan episode nyeri yang baru atau berulang, yang menyerupai serangan kandung empedu, meskipun sudah tidak memiliki kandung empedu. Penyebab terjadinya episode ini tidak diketahui, tetapi mungkin merupakan akibt dari fungsi sfingter oddi yang abrnormal. Sfingter Oddi adalah lubang yang mengatur pengaliran empedu kedalam usus halus. Rasa nyeri ini mungkin terjadi akibat peningkatan tekanan didalam saluran yang disebabkan oleh penahanan aliran empedu atau sekresi pankreas. Untuk melebarkan sfingter Oddi dapat menggunakan endoskopi. Hal ini biasanya akan mengurangi gejala pada penderita yang memiliki kelainan sfingter, tapi tidak akan membantu penderita yang memiliki nyeri tanpa disertai kelaianan pada sfingter. I. Prognosis Penyembuhan spontan didapatkan 85% kasus, sekalipun kandung empedu menjadi tebal, fibrotic, penuh dengan batu dan tidak berfungsi lagi. Tidak jarang menjadi kolesititis rekuren. Kadang-kadang kolesistitis akut berkembang secara cepat menjadi gangren, empiema, dan perforasi kandung empedu, fistel, abses hati atau peritonitis umum. Hal ini dapat dicegah dengan pemberian antibiotic yang adekuat pada awal serangan. Tindakan bedah akut pada pasien tua (>75tahun) memiliki prognosis jelek disamping kemungkinan timbul komplikasi pasca bedah.

30

2. Kolesistitis kronik Kolesistits kronik lebih sering dijumpai di klinis, dan sangat erat hubungannya dengan litiasis dan lebih sering timbulnya perlahan-lahan. A. Pengertian Kolesistitis kronis adalah peradangan menahun dari dinding kandung empedu, yang ditandai dengan serangan berulang dari nyeri perut yang tajam dan hebat. B. Etiologi Kolesistitis kronis terjadi akibat serangan berulang dari kolesistitis akut, yang menyebabkan terjadinya penebalan dinding kandung empedu dan penciutan kandung empedu. Pada akhirnya kandung empedu tidak mampu menampung empedu. Penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita dan angka kejadiannya meningkat pada usia diatas 40 tahun. Faktor resiko terjadinya kolesistitis kronis adalah adanya riwayat kolesistitis akut sebelumnya. C. Gejala klinis Timbulnya gejala bisa dipicu oleh makan makanan berlemak. Gejalanya sangat minimal dan tidak menonjol, seperti dyspepsia, rasa penuh di epigastrium, dan nausea khususnya setelah makan makanan berlemak tinggi, yang kadang-kadang hilang setelah bersendawa. D. Radiologi Kolesistografi oral, ultrasonografi, dan kolangiografi dapat memperlihatkan kolelitiasis dan afungsi kandung emepdu. Pada USG, dinding menjadi sangat tebal dan eko cairan lebih terlihat hiperekoik. Sering terdapat pada kolesistitis kronik lanjut dimana kandung empedu susah mengisut. Kadang-kadang hanya eko batunya saja yang terlihat. Endoskopi retrograde choledochopancreaticography duktus koledokus. Kolesistogram (untuk kolesistitis kronik): menyatakan batu pada sistem empedu. (ERCP) sangat bermanfaat untuk memperlihatkan adanya batu di kandung empedu dan

31

CT scan: dapat menyatakan kista kandung empedu, dilatsi duktus empedu, dan membedakan antara ikterik obstruksi / non obstruksi. MRI

E. Diagnosis Diagnosis kolesistits kronik sering sulit ditegakkan. Riwayat penyakit batu kandung empedu di keluarga, ikterus dan kolik berulang, nyeri local di daerah kandung empedu disertai tanda Murphy positif menegakkan diagnosis. F. Penatalaksanaan Pengobatan yang biasa dilakukan adalah pembedahan. Kolesistektomi bisa dilakukan melalui pembedahan perut maupun laparoskopi. Penderita yang memiliki resiko pembedahan tinggi karena keadaan medis lainnya, dianjurkan untuk menjalani diet rendah lemak dan menurunkan berat badan. Bisa diberikan antasid dan obat-obat antikolinergik. G. Pencegahan Seorang yang pernah mangalami serangan kolesistitis akut dan kandung empedunya belum diangkat, sebaiknya mengurangi asupan lemak dan menurunkan berat badannya. dapat menyokong

32

BAB VI I. KESIMPULAN HOLISTIK Diagnosis Holistik: Tn.D usia 40 tahun datang dengan mengeluh nyeri perut. Tn.D tinggal dalam bentuk keluarga nuclear family. Hubungan kehidupan kemasyarakatan. 1. Diagnosis dari segi biologis: Cholesistitis 2. Diagnosis dari segi psikologis: Hubungan Tn.D dengan keluarganya harmonis. 3. Diagnosis dari segi sosial: Hubungan mereka dengan anggota masyarakat yang lain (tetangga) baik. Aktif mengikuti kegiatan kemasyarakatan di rumahnya. Tn.D dengan keluarganya harmonis. Tn.D adalah anggota masyarakat biasa dalam

33

DAFTAR PUSTAKA Rasad, Sjahriar. 2010. Radilogi Diagnostik Edisi Kedua. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Patel, Pradip R. 2007. Lecture Notes : Radiologi Edisi Kedua. (diterjemahkan oleh penerbit Erlangga), Jakarta : Penerbit Erlangga Richard S. Snell. 2002. Anatomi Klinik. Edisi Ketiga. Jakarta : EGC Sudoyo, Aru W dkk. 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi Kelima. Jakarta ; Interna publishing Sherlock S, Dooley J. 1993. Disease of the liver and biliary sistem 9 th. London : Blackwell Scientific Publication Sjamsuhidajat R, Wim de jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC