Anda di halaman 1dari 6

KEMISKINAN DAN KETIDAKBERDAYAAN NELAYAN A.

Pengertian Kemiskinan Nelayan Kemiskinan adalah suatu konsep yang cair, serba tidak pasti dan bersifat multi dimensional. Disebut cair karena kemiskinan bisa bermakna subjektif, tetapi sekaligus juga bermakna objektif. Secara objektif bisa saja masyarakat tidak dapat dikatakan miskin karena pendapatannya sudah berada di atas batas garis kemiskinan, yang oleh sementara ahli diukur menurut ukuran kebutuhan pokok berdasarkan atas kebutuhan beras dan gizi. Akan tetapi apa yang tampak secara objektif tidak miskin itu, bisa saja dirasakan sebagai kemiskinan oleh pelakunya karena adanya perasaan tidak mampu memenuhi kebutuhan ekonominya, atau bahkan dengan membandingkan dengan kondisi yang dialami oleh orang lain, yang pendapatannya lebih tinggi darinya (Imron, 2003).

Secara umum istilah kemiskinan selalu menunjuk pada sebuah kondisi yang serba kekurangan. Dalam kaitan itu, kondisi serba kekurangan bisa saja diukur secara objektif, dirasakan secara subjektif atau secara relatif didasarkan pada perbandingan dengan orang lain, sehingga melahirkan pandangan objektif, subjektif dan relatif tentang kemiskinan. Selain itu, kondisi serba kekurangan juga bukan hanya dilihat dari sisi ekonomi, tetapi juga dari sisi sosial budaya (Nugroho, 1995). B. Ruang Lingkup Kemiskinan Nelayan Dilihat dari lingkupnya, kemiskinan nelayan terdiri atas kemiskinan prasarana dan kemiskinan keluarga. Kemiskinan prasarana dapat diindikasikan pada ketersediaan prasarana fisik di desa-desa nelayan yg pada umumnya masih sangat minim, seperti tidak tersedianya air bersih, jauh dari pasar dan tidak adanya akses untuk mendapatkan bahan bakar yang sesuai dengan harga standar.

C. Ketidakberdayaan Teknologi dan Ekonomi Nelayan Pada umumnya nelayan masih mengalami keterbatasan teknologi penangkapan. Dengan alat tangkap yang sederhana, wilayah operasi pun menjadi terbatas, hanya di sekitar perairan pantai. Di samping itu, ketergantungan terhadap musim sangat tinggi, sehingga tidak setiap saat nelayan turun melaut, terutama pada musim ombak. Akibatnya selain hasil tangkapan menjadi terbatas, dengan kesederhanaan alat tangkap yang dimiliki pada musin tertentu tidak tangkapan yang bisa diperoleh. Kondisi ini merugikan nelayan, karena secara riil rata-rata pendapatan per bulan menjadi lebih kecil dan pendapatan pada saat musim ikan akan habis dikonsumsi pada saat paceklik.

D. Upaya Mengatasi Kemiskinan Nelayan Kemiskinan merupakan masalah yang bersifat kompleks dan multi dimensional, baik dilihat dari aspek kultural maupun dari aspek struktural. Ada empat masalah pokok yang menjadi penyebab dari kemiskinan, yaitu: 1. Kurangnya kesempatan (lack of opportunity) 2. Rendahnya kemampuan (low of capabilities) 3. Kurangnya jaminan (low level-security) dan 4. Keterbatasan hak-hak sosial, ekonomi dan politik sehingga menyebabkan: * kerentanan (vulnerability) * keterpurukan (voicelessness) * ketidakberdayaan (powerlessness) dalam segala bidang.

Contoh dari keempat hal tersebut dapat dilihat dari masalah kemiskinan struktural yang terjadi pada masyarakat pantai, dimana faktor-faktor yang menjadi penyebabnya pada dasarnya dikelompokkan atas: 1. Masalah yang berkaitan dengan kepemilikan alat tangkap atau lebih tegasnya perahu bermotor. 2. Akses terhadap modal khususnya menyangkut persyaratan kredit. 3. Persyaratan pertukaran hasil tangkapan yang tidak berpihak pada buruh nelayan. 4. Sarana penyimpanan ikan (cold storage) 5. Hak pengusahaan kawasan tangkap 6. Perusakan sistem organisasi masyarakat pesisir.

Menghadapi kenyataan ini, tampaknya perlu dibentuk suatu lembaga ekonomi formal apapun namanya yang berfungsi: 1. Menutup utang nelayan kepada tengkulak dan mengalihkan pinjaman itu sebagai pinjaman kepada lembaga. 2. Memberikan kredit kepada nelayan, baik dalam bentuk uang maupun barang (peralatan tangkap, bahan bakar, gula, kopi, dsb) 3. Mengadakan pembelian hasil tangkapan.

Selesai.