Anda di halaman 1dari 22

BANTAHAN TERHADAP KITAB

"RIFQON AHLAS SUNNAH BI AHLIS SUNNAH"

Ditulis Oleh: Fadhilatusy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi - Semoga Alloh merohmati beliau-

Alih Bahasa: Ahmad bin Mas'ud Abu Umar Al Jawi

Darul Hadits - Dammaj Semoga Alloh menjaganya

Editor: ISNAD.Net

Bantahan Kitab Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah

www.isnad.net


Fadhilatusy Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi rohimahulloh berkata: Kepada Fadhilatusy Syaikh Al-Fadhil Al-'Allamah: 'Abdul Muhsin bin Hamd Al 'Abbad Al Badr yang dimuliakan.


Wa ba'd; Saudaraku, saya telah menerima telepon pada malam Kamis bertepatan dengan tanggal 10/5/1424 H, di dalam pembicaraan tersebut Anda memarahiku. Anda berkata bahwa Anda telah menerima telepon dari seseorang yang mengabarkan tentang sebuah rekaman pembicaraan saya. Di antara isi pembicaraan tersebut, saya berkata kepada si penanya, "Sesungguhnya tidak ada yang menyebarkan kitab ini yaitu kitab Anda yang berjudul "Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah" kecuali seorang ahlul bid'ah". Saya katakan kepada Anda, "Alloh Maha Mengetahui bahwa saya tidak pernah membid'ahkan Anda, dan tidak pula (dengan perkataan tersebut) saya bermaksud untuk membid'ahkan Anda; karena saya masih menganggap Anda sebagai seorang pengikut Sunnah yang gigih dalam menyebarkannya. Akan tetapi saya menganggap tindakan Anda menulis kitab ini sebagai suatu perbuatan yang buruk terhadap Sunnah yang masih senantiasa Anda sebarkan dan Anda ajarkan kepada manusia sejak masa yang cukup lama. Meskipun saya yakin, tentunya Anda tidak bermaksud untuk berbuat buruk terhadap Sunnah. Sebenarnya maksud Anda menurut dugaan saya hanyalah untuk mendamaikan antara dua kubu yang sedang bertikai, yaitu antara kelompok garis keras yang karena kerasnya sehingga keluar dari sikap adil, dengan kelompok pertengahan, Wallohu a'lam. Akan tetapi Anda telah berbuat tidak baik dengan menulis kitab ini; bahkan tampak dengan jelas dalam kitab tersebut darinya upaya untuk melemahkan salafiyyin dari membicarakan kesalahan ahlul bid'ah dan mengkritik mereka.
1

Bantahan Kitab Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah

www.isnad.net

Kedua: Tampak jelas dari kitab tersebut sikap Anda dalam menyalahkan salafiyyin terhadap apa-apa yang muncul dari mereka berupa perkataan tentang ahlul bid'ah, dan celaan-celaan terhadap mereka. Ketiga: Anda menjadikan pembicaraan tentang kesalahan ahlul bid'ah yang semula merupakan suatu sarana untuk mendekatkan diri kepada Alloh, bahkan merupakan seagung-agungnya amalan untuk mendekatkan diri kepada Alloh, Anda menjadikannya sebagai suatu kejahatan dari sebesar-besar kejahatan. Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal rohimahulloh pernah ditanya tentang seorang yang sholat, puasa, membaca Al Quran dan seorang yang membicarakan kesalahan ahlul bid'ah, maka beliau menjawab, "Seorang yang sholat, berpuasa, dan membaca Al Quran, itu semua hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri. Adapun orang yang membicarakan kejelekan ahlul bid'ah di depan orang banyak, manfaatnya kembali kepada orangorang tersebut; karena dia telah memperingatkan mereka dari ahlul bid'ah." Keempat: Ahlul bid'ah mengunakan sikap Anda ini sebagai alat untuk membela kesesatan mereka dan sebagai pelindung mereka. Oleh karena itu mereka mencetak kitab Anda ini ratusan eksemplar, bahkan ribuan dan membagikannya. Demikian yang kami dengar. Maka lihatlah, siapakah yang mengambil manfaat dari Anda, dan di barisan manakah Anda berpihak ? Kelima: Dengan perbuatan Anda ini, Anda telah mengganti sesuatu yang baik dengan sesuatu yang jelek. Maksudnya dan tentunya Anda lebih tahu Anda telah mengganti pertolongan dan pembelaan terhadap salafiyyin dengan pertolongan dan pembelaan terhadap ahlul bid'ah, baik Anda sadari atau tidak, sungguh hal ini telah terjadi. Hendaklah Anda lihat, siapakah yang gembira dengan kitab Anda dan siapakah yang menyayangkannya? Tidak diragukan lagi bahwa yang bergembira dengannya adalah para hizbiyyin, dan yang menyayangkannya adalah salafiyyin. Oleh karena itu salafiyyin berdoa kepada Alloh semoga mengembalikan Anda kepada kebenaran dengan sebaik-baiknya, menjadikan Anda sebagai salah seorang yang membela Sunnah dan yang melindunginya, sebagaimana Alloh telah menjadikan Anda sebagai seorang yang menyebarkannya. Keenam: Saya telah membaca kitab Anda yang berjudul Takhrij Thuruqi Hadits:
2

Bantahan Kitab Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah

www.isnad.net

Sejak lebih dari tigapuluh tahun yang lalu, maka saya menghormati Anda dan bertambah kecintaan saya terhadap Anda. Dan saya masih mendengar bahwa Anda mempunyai satu atau beberapa pelajaran ilmu hadits. Saya juga menyimak sebagian pelajaran tersebut lewat siaran radio beberapa hari lalu. Saya mendengar bagaimana luasnya penguasaan Anda terhadap biografi para periwayat hadits, sehingga saya ingin sekali menjadi seperti Anda. Saya bercita-cita semoga Alloh memberi saya taufiq untuk bisa menghafal para periwayat hadits seperti Anda. Ketujuh: Dengan ditulisnya kitab ini maka Anda telah menggiring diri Anda sendiri kepada sesuatu yang tidak Anda inginkan, ketika Anda mendakwakan bahwa membicarakan kejelekan ahlul bid'ah adalah suatu ghibah. Sedangkan Anda tahu bahwa ghibah adalah suatu celaan semata-mata, tanpa disertai keinginan untuk membela dien ini dengannya. Adapun apabila dimaksudkan dengannya untuk membela dien ini, maka itu tidak disebut ghibah. Bukankah Anda terkadang harus mengatakan, "Si fulan seorang murjiah atau dituduh mempunyai paham murjiah, fulan mempunyai pemikiran khowarij, fulan pengikut qodariyyah, atau dituduh mempunyai pemahaman qodariyyah" dan sebagainya? Apabila Anda berkata, "Ini adalah ghibah dan ghibah itu harom," maka tidak boleh bagi Anda untuk mengghibah orang lain, tidak boleh pula Anda memakan daging-daging mereka. Dan bila Anda berkata, "Ghibah diperbolehkan bila maksudnya untuk membela dien ini," Maka kami katakan, "Demikian juga diperbolehkan bagi kita untuk berkata: "Fulan seorang ahlul bid'ah," apabila maksud kita dengan perkataan tersebut adalah untuk memperingatkan manusia darinya, supaya tidak tersebar bid'ahnya. Dan kami sependapat dengan Anda; bahwa siapa saja yang tidak diketahui darinya suatu bid'ah, maka dia tidak boleh untuk kita sebut-sebut kejelekannya. Akan tetapi bila dia melakukan suatu bid'ah, kemudian dinasehati untuk meninggalnya, tapi dia enggan untuk menerima nasehat tersebut, maka dia berhak untuk dihajr (dikucilkan) dan ditinggalkan. Kedelapan: Dalil-dalil tentang bolehnya ghibah apabila dimaksudkan dengannya untuk memperingatkan manusia, sangat banyak. Termaktub dalam Kitab dan
3

Bantahan Kitab Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah

www.isnad.net

Sunnah, juga telah diikrarkan oleh para pendahulu ummat ini dari para shohabat, tabi'in, dan orang-orang yang datang setelah mereka dari para imam yang mengikuti jejak salaf serta para penjaga dien ini. Adapun dalil dari Kitab Al Quran, di antaranya firman Alloh Ta'ala: ]37 :( ) [ "Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafiq, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah Jahannam, dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya." (QS At taubah:73) Makna yang terkandung dalam ayat tersebut mencakup semua munafiq, baik munafiq I'tiqodi (berdasarkan keyakinan) atau munafiq 'amali (beramal dengan amalan munafiq), di antaranya ahlul bid'ah. Sedangkan dalil dari Sunnah, di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh imam Al Bukhori dari 'Aisyah rodhiyallohu 'anha, berkata: : : : Ada seseorang meminta izin untuk masuk menemui Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam. Ketika beliau melihatnya, beliau berkata, "Dia adalah sejelek-jelek saudara dari suatu kabilah dan sejelek-jelek anak suatu kabilah!" Kemudian setelah dia duduk, Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam bersikap ramah dan lemah lembut terhadapnya. Maka setelah orang itu beranjak, 'Aisyah berkata kepada beliau, "Wahai Rosululloh, ketika Anda melihatnya, Anda berkata demikian dan demikian, kemudian Anda bersikap ramah dan lemah lembut terhadapnya?!!" Rosululloh menjawab, "Wahai 'Aisyah, pernahkah kamu melihatku bersikap kasar? Sesungguhnya orang yang paling jelek kedudukannya di sisi Alloh pada hari kiamat adalah orang yang dijauhi oleh manusia karena takut terkena kejahatannya." (HR Bukhori dan Muslim) . Juga hadits Fathimah bin Qois rodhiyallohu 'anha, mengabarkan bahwa Abu 'Amr bin Hafsh (suami Fathimah) menceraikannya selama-lamanya (thalaq tiga) ketika suaminya itu sedang bepergian, dan mengutus seorang wakilnya untuk
4

Bantahan Kitab Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah

www.isnad.net

mengirim sya'ir (sejenis gandum), maka seketika itu Fathimah marah kepadanya. Lalu utusan tersebut berkata, "Demi Alloh, kami tidak berkewajiban untuk memberimu nafkah sedikitpun." Setelah mendengar perkataan itu, dia bergegas menemui Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam untuk menceritakan hal tersebut. Maka Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam berkata, "Kamu tidak tidak berhak untuk mendapatkan nafkah darinya." Kemudian beliau memerintahkannya untuk menghabiskan masa 'iddahnya di rumah Ummu Syarik, tapi tiba-tiba beliau berkata, "Perempuan itu (Ummu Syarik) sering didatangi oleh shohabatku, sebaiknya kamu tinggal bersama Ibnu Ummi Maktum; karena dia seorang yang buta matanya, sehingga kamu bisa dengan leluasa untuk menanggalkan pakaian di rumahnya. Dan bila telah selesai 'iddahmu segera beri tahu aku." Fathimah berkata, "Ketika selesai masa 'iddahku, aku mengabarkan kepada beliau bahwa Mu'awiyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm meminangku, maka beliau berkata, "Adapun Abu Jahm, dia tidak pernah meletakkan tongkatnya dari bahunya (suka memukul atau suka bepergian), sedangkan Muawiyah, dia seorang yang faqir, tidak punya harta. Sebaiknya kamu menikah dengan Usamah bin Zaid!" Sedangkan aku tidak menyukainya, tapi beliau berkata lagi, "Menikahlah kamu dengan Usamah!" Setelah itu aku menikahinya, maka Alloh menjadikan padanya kebaikan, sehingga aku suka kepadanya." (HR Bukhori dan Muslim) Demikian juga hadits 'Aisyah rodhiyallohu 'anha, dia berkata, "Hindun binti 'Utbah, istri Abu Sufyan, masuk menemui Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam, lalu berkata, "Wahai Rosululloh, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang yang bakhil, tidak memberiku nafkah yang bisa mencukupi kebutuhanku dan kebutuhan anak-anakku, kecuali apa yang aku ambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya. Maka apakah aku berdosa atas apa yang aku lakukan?" Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam menjawab, "Ambillah dari hartanya sekedar yang bisa mencukupi kebutuhanmu dan kebutuhan anak-anakmu." (HR. Bukhori dan Muslim). Juga hadits dari Abdulloh bin Mughoffal rodhiyallohu 'anhu, bahwa dia melihat seseorang sedang main ketapel, maka dia berkata kepadanya, "Jangan main ketapel; karena Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam melarang dari bermain ketapel," atau "tidak menyukainya, dan beliau berkata, "Sesungguhnya ketapel (dengan kerikil atau biji kurma atau sejenisnya) tidak bisa untuk berburu binatang buruan, dan tidak bisa melemahkan musuh, tapi hanya bisa untuk memecahkan gigi atau membutakan
5

Bantahan Kitab Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah

www.isnad.net

mata." Setelah itu dia melihat orang tadi masih main ketapel juga, maka dia berkata kepadanya, "Bukankah sudah kukatakan bahwa Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam melarang dari bermain ketapel atau tidak menyukainya, tapi tetap saja kamu bermain dengannya?? Aku tidak mau berbicara denganmu sampai waktu demikian dan demikian." (dalam riwayat lain: "selama-lamanya.") (HR Bukhori dan Muslim) Dan semakna dengan itu hadits Abu Bakroh rodhiyallohu 'anhu. Adapun atsar-atsar dari salaf, banyak sekali, di antaranya: Apa yang dihikayatkan dari Syu'bah bin Hajjaj rohimahulloh, bahwa dia berkata, "Marilah kita berghibah karena Alloh 'Azza wa Jalla." Demikian juga yang dihikayatkan dari 'Ashim Al Ahwal rohimahulloh, bahwa dia berkata,"Suatu ketika Qotadah menjelek-jelekkan 'Amr bin 'Ubaid, maka aku bersimpuh di hadapannya sambil berkata, "Wahai Abul Khoththob, mengapa para fuqoha saling membicarakan kejelekan satu dan yang lain?" Maka dia menjawab, "Wahai Ahwal, bila ada orang yang melakukan suatu bid'ah alangkah baiknya bila dia disebutkan kebidahannya daripada didiamkan saja." Dari Al Hasan bin Robi' menceritakan bahwa Abdulloh ibnul Mubarok rohimahulloh berkata, "Al Mu'alla bin Hilal memang dialah orangnya, tapi apabila datang hadits kepadanya, dia berdusta." Sebagian orang sufi yang mendengar perkataan itu berkata, "Wahai Ibnul Mubarok, Anda mengghibah" Ibnul Mubarok menjawab, "Diamlah kamu! Bila bukan kita yang menerangkan hal ini, bagaimana akan diketahui yang haq dan yang batil?!" Abdulloh bin Ahmad rohimahulloh berkata, "Aku berkata kepada ayahku, "Bagaimana pendapat Anda bila ada seorang syaikh datang kepada para pencari hadits, bisa jadi dia seorang murjiah atau syi'ah atau mempunyai pemahaman yang menyelisihi sunnah, apakah aku diam saja atau aku memperingatkan mereka darinya?" Maka ayahku berkata, "Apabila dia mengajak kepada suatu bid'ah, bahkan barangkali dia imam dari paham bid'ah tersebut dan dia berdakwah kepadanya, maka ya, kamu harus memperingatkan darinya." Al Hasan Al Bashri rohimahulloh berkata, "Tidak ada ghibah bagi ahlul bid'ah." 'Affan (bin Muslim) rohimahulloh berkata, "Suatu ketika kami sedang dudukduduk bersama Isma'il bin Ulayyah. Tiba-tiba ada seseorang yang membawakan
6

Bantahan Kitab Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah

www.isnad.net

riwayat dari fulan, maka aku berkata, "Si Fulan ini bukan orang yang terpercaya," maka orang tadi berkata, "Kamu telah mengghibahinya!" Maka Isma'il menimpalinya seraya berkata, "Dia tidak mengghibahinya, melainkan dia menghukumi bahwa orang itu bukan orang yang terpercaya." Ibnu Taimiyyah rohimahulloh berkata, sebagaimana dimuat di Majmu' Fatawa (28/217): "Apabila seseorang menampakkan kemungkaran-kemungkaran, wajib untuk mengadakan pengingkaran terhadapnya dengan terang-terangan, dan tidak ada ghibah baginya, bahkan orang itu wajib untuk dihukum dengan terang terangan dengan hukuman yang bisa membuatnya jera, baik dengan hajr (pengucilan) atau yang lainnya." Ibnul Jauzi rohimahulloh berkata dalam kitab "Manaqib Al Imam Ahmad bin Hambal" (hal.185): "Sungguh Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal dikarenakan kuatnya dalam berpegang terhadap Sunnah dan kuatnya dalam melarang dari bid'ah, beliau sampai berani untuk mengungkapkan kejelekan beberapa orang yang terpandang, ketika muncul dari mereka apa-apa yang menyelisihi sunnah. Dan ucapan beliau tersebut adalah dalam rangka menjaga dien ini." Dan secara umum, amat banyak atsar-atsar shohabat dalam bab ini, sehingga tidak memungkinkan bagi kami untuk menyebutkan semuanya dalam jawaban singkat ini. Dan ada juga atsar-atsar yang lain yang menyeru kepada pengingkaran terhadap siapa saja yang muncul darinya penyelisihan terhadap makna-makna yang dhohir (jelas) dari syari'at, dan dalil-dalil yang bisa dibawa kepada makna yang benar dan salah, atau siapa saja yang mencampur sunnah dengan bid'ah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh berkata dalam kitab beliau yang berjudul Daru Ta'arudhul 'Aql wan Naql (1/254): "Metode salaf dan para imam adalah mereka memilih makna-makna yang benar dan mudah dipahami dengan perantaraan syariat dan akal. Mereka juga memilih lafadz-lafadz syariat dan mengungkapkan dengannya bila mendapatkan jalan untuk mengungkapkannya. Dan barang siapa berbicara dengan ungkapan yang mengandung makna batil, menyelisihi Kitab dan Sunnah, mereka membantahnya. Sedangkan yang berbicara dengan lafadz yang bid'ah (diada-adakan), yang mengandung makna yang benar dan makna yang batil, mereka menisbatkan orang yang seperti itu kepada bid'ah,
7

Bantahan Kitab Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah

www.isnad.net

mereka mengatakan, "Orang ini tidak lain hanya melawan bid'ah dengan bid'ah yang lain dan membantah kebatilan dengan kebatilan pula." Beliau juga berkata dalam Majmu' Fatawa (28/22): "Poros dien ini ada dua, yang pertama: Kita tidak beribadah kecuali kepada Alloh semata, yang kedua: Kita beribadah kepada Alloh dengan apa-apa yang disyariatkan, bukan dengan bid'ah, sebagaiman firman Alloh Ta'ala: ]2:( ) [ "Supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya." (QS Al Mulk:2) Fudhoil bin 'Iyadh berkata, "(yaitu) yang paling ikhlash dan paling benar." Ditanyakan kepadanya, "Apa yang Anda maksud dengan yang paling ikhlash dan paling benar?" Dia menjawab, "Sesungguhnya suatu amalan apabila ikhlash tapi tidak benar, tidak diterima. Demikian pula jika amalan itu benar tapi tidak disertai keikhlasan, tidak diterima, sampai amalan tersebut dilakukan dengan ikhlash dan dengan cara yang benar. Yang dimaksud dengan ikhlash adalah apabila amalan tersebut ditujukan hanya kepada Alloh. Dengan cara yang benar, maksudnya dilakukan sesuai dengan Sunnah." Sampai pada perkataan beliau: "Maka apabila para masyayikh dan ulama terdapat pada tingkah laku dan ucapan mereka hal-hal yang ma'ruf dan yang mungkar, hidayah dan kesesatan, kelurusan dan penyimpangan, hendaknya mereka mengembalikan semuanya itu kepada Alloh dan Rosululloh, kemudian mereka hendaknya menerima apa yang diterima oleh Alloh dan RosulNya dan menolak apa yang ditolak oleh Alloh dan RosulNya." Demikian yang dikatakan Syaikhul Islam.

Dan ketahuilah bahwa dien kita ini dibangun di atas tiga perkara: Pertama: Iman kepada Alloh. Kedua: Perintah kepada kebaikan. Ketiga: Larangan dari kemungkaran.
8

Bantahan Kitab Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah

www.isnad.net

Alloh Ta'ala berfirman: ]:( ) .[ Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali 'Imron: 110). Dan disebutkan dalam Shohih Muslim suatu hadits yang diriwayatkan oleh 'Ubadah bin Al Walid bin 'Ubadah bin Ash Shomit dari bapaknya dari kakeknya, bahwa dia berkata, "Kami membai'at Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam untuk tunduk dan patuh (kepada penguasa) baik dalam keadaan lapang atau sempit, suka ataupun terpaksa, atau dalam keadaan mereka lebih mementingkan orang lain daripada kita, dan supaya kita tidak merampas kekuasaan dari yang berhak untuk berkuasa, dan supaya kita mengatakan yang benar di manapun kita berada, tidak takut celaan orang yang mencela." Dan dalam suatu riwayat, setelah perkataan: dan supaya kita tidak merampas kekuasaan dari yang berhak untuk berkuasa," Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam berkata: "Kecuali apabila kalian melihat suatu kekafiran yang jelas, dan kalian mempunya bukti dari Alloh akan hal itu." Dari dalil-dalil tersebut menjadi jelas bahwa Alloh Azza wa Jalla telah memerintahkan hamba-hambaNya untuk menyuruh kepada hal-hal yang ma'ruf dan melarang dari kemungkaran, dan supaya mereka menyampaikan kebenaran di manapun mereka berada, tidak takut karena Alloh terhadap celaan orang yang mencela. Dan inilah yang mendorong saya untuk mengatakan kebenaran yang saya ketahui, maka saya katakan bahwa: Syaikh Abdul Muhsin adalah seorang ahlus sunnah, dan kita tidak membicarakannya dengan kejelekan sedikitpun. Akan tetapi beliau telah berbuat sesuatu yang tidak baik dengan menulis kitab (Rifqon) ini, sehingga bergembiralah ahlul bid'ah dengan sebab itu, dan mencetaknya dalam jumlah banyak dan membagi-bagikannya. Kesembilan: Bisa jadi Anda mengatakan, "Aku tidak bermaksud untuk diam dari ahlul bid'ah, tidak pula menyuruh orang lain supaya diam dari mereka. Yang kumaksudkan hanyalah untuk memperkecil kerasnya sikap saling tuduh-menuduh di antara salafiyyin.
9

Bantahan Kitab Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah

www.isnad.net

Saya katakan, "Sesungguhnya yang wajib atas Anda dan siapa saja yang berbicara tentang perkara seperti ini adalah hendaknya membedakan antara salafiyyin dan hizbiyyin dalam menghukumi, sehingga menjadi jelas perbedaan hukum terhadap masing-masing jama'ah. Terlebih lagi para khowarij pada zaman ini telah menjadikan sikap pura-pura dan kemunafikan sebagai kebiasaan mereka. Sehingga Anda melihat mereka berada dalam satu kesatuan dengan penguasa, dan hanya Allohlah yang tahu tentang semua rahasia. Kesepuluh: Perkataan Anda, "Sikap ahlus sunnah terhadap seorang alim apabila dia terjatuh dalam kesalahan adalah memberinya udzur (memaafkan), tidak membid'ahkannya dan tidak pula mengucilkannya." Kemudian Anda membawakan biografi tiga orang ulama terdahulu yaitu: Al Baihaqi, An Nawawi dan Ibnu Hajar. Mereka semua terjatuh ke dalam ta'wil terhadap beberapa sifat Alloh, akan tetapi mereka mempunyai kitab-kitab karangan yang besar dan bermanfaat. Oleh karena itu ahlus sunnah wal jama'ah memandang bahwa manusia perlu untuk mengambil faidah dari kitab-kitab mereka pada selain bid'ah-bid'ah yang mereka terjatuh di dalamnya. Maka para penuntut ilmu harus berhati-hati terhadap bid'ah-bid'ah mereka dan mengambil faidah dari kitab-kitab mereka di selain tempat-tempat yang mereka salah padanya. Adapun ucapan bahwa mereka diberi udzur, maksudnya bahwa ahlus sunnah memberikan udzur bagi mereka pada penakwilan mereka terhadap beberapa sifat Alloh, dan tidak melepaskan lafadz bid'ah kepada mereka maka sepengetahuanku yang seperti ini tidak benar. Setelah itu Anda membawakan contoh dengan Syaikh Al Albani dari ulama zaman ini. Syaikh Al Albani adalah sosok ahlus sunnah yang mempunyai beberapa pendapat yang menyendiri dengannya yang muncul karena ijtihad beliau yang bisa dikatakan bahwa beliau syadz dalam permasalahan-permasalahan tersebut, meskipun pendapat tersebut dibangun di atas dalil-dalil yang beliau yakini keshohihannya. Maka permisalan Anda dengan Syaikh Al-Albani adalah permisalan yang tidak pada tempatnya; karena permasalahan yang sedang Anda bahas adalah permasalahan hajr ahlul bid'ah, sedangkan Syaikh Al Albani rohimahulloh bukan seorang ahlul bid'ah, dan amat mustahil beliau menjadi seorang ahlul bid'ah, justru
11

Bantahan Kitab Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah

www.isnad.net

beliau adalah tempat bersemayamnya Sunnah dan Atsar siang dan malam, baik berupa takhrij, penjelasan sebab-sebab dhoifnya hadits, juga menshohihkan atau mendhoifkan hadits. Maka alangkah baiknya bila Anda tidak menyebutnya di dalam pembahasan Anda ini. Kemudian Anda membawakan beberapa ucapan salaf yang maknanya umum Anda tidak membawakan satupun perkataan mereka yang memenuhi kitabkitab tentang hajr ahlul bid'ah. Dan tidak disangsikan bahwa Anda pasti pernah membaca kitab-kitab tersebut atau sebagiannya, yaitu: "Al Ibanah Al Kubro" karya Ibnu Baththoh, juga "Al Ibanah Ash Shughro," "Syarhus Sunnah" karya Al-Lalikai, Kitab "As Sunnah" karya Ibnu Abi 'Ashim, "Asy Syari'ah" karya Al Ajurri, dan kitabkitab lain yang telah mengumpulkan atsar-atsar salaf tentang disyariatkannya menghajr ahlul bid'ah. Saya katakan: Wahai Syaikh, sesungguhnya diamnya Anda dari membicarakan atsar-atsar tersebut menjadi sebab terpatahkannya hujjah Anda di hadapan Alloh sebelum di hadapan manusia. Apakah Anda lupa, wahai Syaikh, bahwa imam ahlus sunnah Ahmad bin Hambal rohimahulloh telah memerintahkan manusia untuk menghajr Husein bin Ali Al Karobisi dan melarang untuk mengambil ilmu darinya, atau membaca kitab-kitabnya, maka dia (Husein) ditinggalkan dan tidak seorangpun mendatanginya walau betapapun banyak ilmunya. Beliau juga memerintahkan untuk menghajr Sahl bin Abdillah At Tasturi yang dijuluki Sahl Al Qoshir1, dan beliau melarang dari membaca kitab-kitabnya, maka dia ditinggalkan oleh ahlul hadits.

Catatan Abu Fairuz semoga Alloh memaafkannya-: barangkali yang beliau maksudkan adalah Al Harits Al Muhasibiy, yang dijuluki sebagai Al Harits Al Qoshir. Ali bin Abi Kholid berkata: Saya katakan kepada Ahmad: "Sesungguhnya orang tua ini -yang saat itu bersama kami- adalah tetanggaku. Aku telah menasehatinya agar menjauhi seseorang, tetapi dia ingin mendengar dari Anda tentang Harits Al-Qoshir -maksudnya Harits Al-Muhasibi-. Anda pernah melihatku bersamanya selama bertahun-tahun, kemudian Anda mengatakan kepadaku: "Janganlah kamu duduk-duduk dan berbicara dengannya!!" Maka sejak itu aku tidak berbicara dengannya sampai saat ini, tetapi orang tua ini duduk-duduk dengannya, maka apa pendapatmu tentang orang ini?" Maka aku lihat Ahmad merah padam mukanya, urat leher dan matanya membesar. Aku tidak pernah melihat dia seperti itu sama sekali. Kemudian dia mengibaskan tangannya seraya berkata: "Orang itu (Harits Al-Muhasibi), semoga Alloh memperlakukannya dengan seperti ini dan itu. Tidak
11

Bantahan Kitab Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah

www.isnad.net

Beliau juga tidak mau menerima kedatangan Dawud bin Ali Adz Dzohiri ke rumah beliau. Dan ahlus sunnah menghajr Al Hasan bin Sholeh bin Hay, ketika mengetahui kebid'ahannya. Saya tidak tahu, wahai Syaikh, apakah Anda lupa akan atsar-atsar ini atau purapura lupa?!! Saya menasehatkan kepada syaikh dan kepada diri saya sendiri untuk mengikuti jejak-jejak salaf dan berjalan di atas tuntunan dan jalan mereka. Dan Anda tahu, wahai Syaikh, bahwa kesalahan yang terjadi dari seorang syaikh dalam perkara cabang yang diperbolehkan untuk berijtihad padanya, inilah kesalahan yang bisa diberi udzur bagi yang melakukannya, sehingga tidak dibid'ahkan, tidak pula dihajr. Adapun kesalahan yang pelakunya bisa dibid'ahkan dan dihajr adalah kesalahan dalam aqidah, dan kita tidak mengetahui bahwa para salaf memberi udzur bagi seorangpun yang terjatuh dalam bid'ah pada masalah aqidah. Kesebelas: Anda mengatakan, "Sesungguhnya salafiyyin telah terpecah menjadi dua kelompok hanya disebabkan karena dua orang." Agaknya yang Anda maksud dengan dua orang tersebut adalah Syaikh Robi' bin Hadi Al Madkholi dan Abul Hasan As Sulaimani Al Ma'ribi.

ada yang mengetahuinya kecuali orang yang telah bergaul dan mengenalnya dengan baik. Uwaih, uwaih, uwaih. orang itu tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang yang pernah bergaul dengannya dan mengenalnya dengan baik. Orang itu berteman dengan Al-Mughozili, Ya'qub dan juga si fulan kemudian menjerumuskan mereka ke dalam pemikiran Jahm (bin Sofwan, pencetus paham Jahmiyyah). Mereka binasa karena ulahnya." Kemudian orang tua itu berkata: "Wahai Abu Abdillah, dia (Harits Al-Muhasibi) meriwayatkan hadits, pembawaannya tenang, khusyu' dan seperti ini dan seperti itu. Maka Abu Abdillah marah kemudian berkata: "Janganlah kamu tertipu dengan kekhusyu'an dan kelembutannya!!" Juga berkata: "Janganlah tertipu karena dia menundukkan kepala. Dia itu adalah seorang yang jahat, tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang yang telah mengenalnya dengan baik. Janganlah kamu berbicara dengannya; tidak ada kemuliaan baginya. Apakah setiap orang yang membawakan hadits dari Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam- tetapi dia adalah seorang ahlul bid'ah, lantas kamu duduk dengannya?!! Tidak, tidak ada kemuliaan baginya, dan tiada kesenangan baginya!" Kemudian dia terus mengatakan bahwa dia itu seperti ini dan itu. (Thobaqotul Hanabilah/1/hal. 234).
12

Bantahan Kitab Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah

www.isnad.net

Saya katakan kepada Anda, "Sesungguhnya permasalahannya adalah antara suatu kebenaran yang seharusnya ditolong dan dikuatkan, dan kebatilan yang seharusnya dibinasakan dan dijelaskan kebatilannya. Ucapan Anda ini merupakan tuduhan dari Anda terhadap salafiyyin, baik dari para ulama ataupun para penuntut ilmu. Anda telah menuduh mereka dengan pengkhianatan dan fanatik buta, sedangkan mereka telah diselamatkan oleh Alloh darinya. Alloh Ta'ala berfirman: ( ]: ) [ "Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kalian menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum, mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa, bertaqwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui terhadap apa yang kalian lakukan" (QS Al Maidah:8) Dalam hadits Ubadah rodhiyallohu 'anhu (telah lewat penyebutannya secara lengkap) yang muttafaq 'alaih disebutkan: (bahwa Rosululloh membaiat kita) untuk mengatakan yang benar di manapun kita berada, tidak takut karena Alloh terhadap celaan orang yang mencela. Hadits ini dan yang semisalnya itulah yang menjadikan kita wajib untuk menyampaikan kebenaran walaupun itu menyebabkan marahnya sebagian pihak. Wahai Syaikh, apakah Anda menyangka saya ini berjalan di atas tuntunan orangorang jahiliyyah yang sebagian mereka mengatakan:

Dan tidaklah aku ini kecuali dari (bani) Ghuzayyah, jika mereka sesat Akupun sesat, dan jika mereka lurus akupun ikut lurus Dan sebagian mereka berkata kepada Musailamah ketika dia bertanya kepadanya, "Temanmu datang bersama cahaya atau kegelapan?" Musailamah menjawab, "Bersama kegelapan." Maka orang itu berkata, "Demi Alloh kamu sungguh pendusta, akan tetapi seorang pendusta dari bani Robi'ah lebih aku sukai
13

Bantahan Kitab Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah

www.isnad.net

daripada seorang yang jujur dari bani Mudhor (maksudnya Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam)." Apakah Anda menyangka kami ini seperti mereka yang kasar dan sesat, padahal Alloh telah menerangi hati-hati kita dengan kitabNya dan Sunnah NabiNya shollallohu 'alaihi wa sallam? Sungguh celaka orang yang berlaku seperti itu (maksudnya seperti ahlu jahiliyyah) dan amat jauh (kesesatannya) kemudian celaka dan amat jauh (kesesatannya). Kemudian perlu diketahui bahwasanya kedua orang tersebut, yang telah menyebabkan berpecahnya ahlus sunnah sebagaimana yang Anda katakan sangat mustahil keduanya sama-sama di atas kebenaran, sedangkan masing-masing saling bertolak belakang. Yang mana hal tersebut melazimkan salah satu dari mereka di atas kebenaran dan yang lain di atas kebatilan, baik kebatilan yang murni atau bercampur dengan kebenaran. Dan telah dimaklumi bahwa Alloh ta'ala telah memerintahkan kita untuk mengikuti kebenaran, menolongnya, dan menolong para pengikutnya. ]7:) ) [ "Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Robb kalian dan janganlah kalian mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya, amat sedikitlah kalian mengambil pelajaran (daripadanya)." (QS Al A'rof:3) Dan Alloh 'Azza wa Jalla berfirman: ) ( ]:[ "Dan bahwa (yang Aku perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Alloh agar kalian bertaqwa." (QS Al An'am:153) Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam berkata: "Tolonglah saudaramu dalam keadaan dia berbuat dzolim atau didzolimi!" seseorang berkata: "Itu kalau dia

14

Bantahan Kitab Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah

www.isnad.net

didzolimi, bagaimana aku menolongnya bila dia yang berbuat dzolim?" Beliau berkata: "Dengan mencegahnya dari perbuatan dzolim tersebut." Jadi, Alloh telah memerintahkan kita untuk mengikuti syari'atnya, karena padanya terkandung kebenaran yang murni dan bebas dari kesamaran. Hal itu dikarenakan Alloh telah mengecam kebatilan dan para pengikutnya, dan melarang kita dari mencampur kebenaran dengan kebatilan, juga dari menutup-nutupi kebenaran. Alloh ta'ala berfirman: ]:( ) [ "Dan janganlah kalian campur-adukkan kebenaran dengan kebatilan dan janganlah kalian sembunyikan kebenaran itu, sedang kalian mengetahuinya." (QS Al Baqoroh:2) ]:( ) [ "Wahai ahli Kitab, mengapa kalian mencampur-adukkan kebenaran dengan kebatilan, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kalian mengetahuinya?" (QS Ali Imron:71) Siapa saja yang mempelajari seluk-beluk kedua orang tersebut niscaya akan mendapatkan kesimpulan sebagai berikut: Pertama: Bahwa Syaikh Robi' telah dikenal dengan dakwahnya menuju Sunnah, dengan disertai pengetahuan yang sempurna terhadapnya, dan dikenal kegigihannya dalam dakwah sejak waktu yang lama. Kedua: Bahwa Syaikh Robi' telah berhasil menulis berbagai kitab, yang sebagian besarnya ditulis untuk membantah orang-orang yang menyelisihi Sunnah, dalam rangka pembelaan terhadap Sunnah dan berjihad dijalannya, dan kita tidak pernah mengetahui beliau menyelisihi dalil-dalil dalam satu permasalahan pun, dan sungguh Syaikh Al-Albani telah bersaksi tentang hal tersebut. Adapun Abul Hasan, dia adalah seorang anak muda yang baru menulis satu atau dua kitab, dan dalam tulisan-tulisan tersebut dia tidak memihak kepada kebenaran secara murni, tidak pula berjalan bersama dalil-dalinya. Bahkan didapati padanya banyak hal-hal yang dipertanyakan. Demikian bila dibandingkan pribadi masingmasing dari kedua orang tersebut.
15

Bantahan Kitab Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah

www.isnad.net

Adapun bila dilihat dari permasalahan khusus yang berkaitan dengan mereka berdua yang baru-baru ini terjadi, maka kami dapati Abul Hasan meragukan diterimanya khobar ahad (hadits yang melalui jalan satu orang rowi) sebagai hujjah (dalil), apabila sanad (jalan hadits)nya shohih menurut kaidah ilmu hadits. Ini merupakan penyelisihan terhadap ahlus sunnah wal jama'ah, bahkan sebaliknya dia dengan ini telah memilih pendapat mu'tazilah dan yang sependapat dengan mereka. Kesalahan kedua: (Abul Hasan) berpendapat bahwa perkataan para ulama yang mujmal (bersifat umum) harus dikembalikan kepada yang mufashshol (terperinci dan jelas) dari perkatan mereka. Ini menyelisihi pendapat salaf yang telah sepakat bahwasanya perkataan yang mujmal tidak dikembalikan kepada yang mufashshol kecuali perkataan orang yang terjaga dari kesalahan (yaitu Rosululloh) shollallohu 'alaihi wa sallam. Kesalahan ketiga: Menghina dan merendahkan martabat ahlus sunnah dan justru memuji dan mengagungkan ahlul bid'ah. Dia menjuluki ahlus sunnah dengan sebutan-sebutan di antaranya: ghoughoiyyin (orang-orang yang banyak omong), aqzam (orang-orang hina dan tercela), qowati sholshoh (tutup kaleng saus tomat yang dibuang), shighor (orang-orang rendahan), dan julukan-julukan lain yang merendahkan. Lain halnya dengan ahlul bid'ah, di mata Abul Hasan mereka adalah gununggunung yang tinggi menjulang. Ketika dia ditanya tentang Al Maghrowi, dia berkata, "Bagaimana bisa aku menggeser sebuah gunung yang kokoh?" Kesalahan keempat: Memberikan udzur bagi ahlul bid'ah, seperti Sayyid Quthb yang jelas-jelas telah menyatakan pada pembukaan tafsir surat Al Hijr, bahwa semua ummat Muhammad shollallohu 'alaihi wa sallam telah murtad dari dien ini dan menyatakan tidak adanya negara Islam, tidak pula masyarakat islami yang bermuamalah dengan syariat Islam. Dia mengatakan hal tersebut pada jilid keempat halaman 21-22. dia juga menyatakan pada tafsir surat Yunus bahwa masjid-masjid kaum muslimin tidak lain merupakan kuil-kuil para penyembah berhala. Juga menafsirkan surat Al Ikhlash dengan tafsir yang mengandung aqidah wihdatul wujud (menyatunya sang Kholiq dengan makhlukNya).

16

Bantahan Kitab Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah

www.isnad.net

Kesalahan kelima: memberikan udzur bagi Al Maghrowi, sedangkan dia itu adalah seorang takfiri (suka mengkafirkan muslimin). Kesalahan keenam: Singgah di tempat ahlul bid'ah, dan disambut oleh ahlul bid'ah di tempat-tempat yang disinggahinya, dan dia tidak betah kecuali dengan mereka. Kesalahan ketujuh: Dia pernah ditanya tentang Ikhwanul Muslimin, apakah mereka termasuk ahlus sunnah wal jama'ah? Dia menjawab, "Ya!" Kesalahan kedelapan: Beberapa orang penuntut ilmu yang dipercayai keilmuan mereka bersaksi bahwa mereka telah mendapati dia berdusta pada banyak kesempatan. Beginilah keadaan Abul Hasan. Maka bagaimana kita bisa mengatakan bahwa telah terpecah ahlus sunnah menjadi dua kelompok disebabkan dua orang?!! Bisa dipahami dari ucapan seperti ini yang Anda ucapkan kepada saya pada pembicaraan kita lewat telepon bahwa kedua orang tersebut semuanya bersama ahlus sunnah. Bagaimana kita bisa mengatakan Abul Hasan itu seorang ahlus sunnah, sedangkan dia membawa hal-hal tercela yang telah saya sebutkan?!! Jawabannya adalah: "Tidak!" Kemudian apakah para pengikutnya bisa dikatakan sebagai ahlus sunnah?!! Jawabannya adalah: "Tidak!" Dan jika Anda meyakini bahwa Abul Hasan dan pengikutnya adalah ahlus sunnah, maka kami menyayangkan hal yang seperti ini, dan kami menasehatkan Anda untuk ruju' dari ucapan seperti ini. Kemudia Anda berkata pada suatu halaman, "Fitnah yang ditimbulkan akibat jarh dan hajr di antara sesama ahlus sunnah pada masa ini telah menyebabkan tersibukkannya ahlus sunnah dengan sebagian jarh dan tahdzir, yang mana hal itu menyebabkan adanya perpecahan, perselisihan dan saling hajr .dan seterusnya. Sampai pada perkataan Anda, "hal tersebut bersumber dari dua sebab: Pertama: Ada sebagian ahlus sunnah pada zaman ini yang kegemaran dan kesibukannya dicurahkan untuk menelusuri dan mencari-cari kesalahan, baik dalam

17

Bantahan Kitab Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah

www.isnad.net

kitab-kitab ataupun kaset-kaset, kemudian mentahdzir siapa saja yang terjatuh dalam salah satu dari kesalahan tersebut." Komentar saya: yang Anda katakan ini adalah suatu keutamaan bukan suatu celaan. Penjagaan terhadap Sunnah merupakan suatu keutamaan menurut salaf. Memang, sebagian pemuda salafi mempunyai kecemburuan, apabila mendapati penyimpangan terhadap Sunnah baik di kitab atau kaset, atau bila mereka melihat sebagian dari ahlus sunnah berjalan bersama ahlul bid'ah tentunya setelah dinasehati mereka mengingkari hal tersebut. Dan menasehati orang yang berbuat seperti itu atau meminta sebagian masyayikh untuk menasehatinya. Kemudian apabila telah dinasehati tetapi tidak mau menerima nasehat itu, mereka menghajr dan mengucilkannya. Ini adalah suatu keutamaan bagi mereka dan bukan suatu celaan. Kemudian Anda mengatakan: "Salah satu dari sekian kesalahan yang dengannya seseorang bisa dijarh dan ditahdzir adalah kerjasamanya dengan salah satu jam'iyyat (perkumpulan, organisasi) baik dengan menyampaikan muhadhoroh (ceramah), atau mengikuti kegiatan-kegiatan mereka. Sedangkan Syaikh bin Baz dan Syaikh Utsaimin pernah mengisi muhadhoroh-muhadhoroh pada jam'iyyat-jam'iyyat tersebut lewat telepon. Kemudian mereka juga dicela pada perkara-perkara yang mereka lakukan berdasarkan fatwa kedua ulama yang mulia itu." Komentar saya: "Jam'iyyat yang Anda maksud adalah jam'iyyat Ihyaut Turots di Kuwait yang dipimpin oleh Abdurrohman Abdulkholiq yang bersamanya ada temanteman khusus, dan dia sendiri mempunyai beberapa perkara yang patut untuk dikritik. Di antara perkataan dan gunjingannya terhadap salafiyyin adalah ucapannya: "Sesungguhnya kaum muslimin sampai hari ini terus-menerus bermunculan kepada mereka orang-orang yang mendakwakan diri bahwa dia ingin menolong dien ini, mengatasnamakan kebenaran, akan tetapi mereka meninggalkan para penyembah berhala, orang-orang yang berbuat syirik, orang-orang yang serba boleh dan orangorang kafir, justru mereka mengarahkan goresan pena-pena mereka ke arah muslimin, bahkan kita dapati sebagian mereka tidak punya keinginan kecuali untuk menyibukkan para dai penyeru ke jalan Alloh, mengarahkan kepada mereka celaan

18

Bantahan Kitab Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah

www.isnad.net

dan cemoohan, serta menulis buku-buku yang menjelaskan kejelekan para dai tersebut" dan seterusnya. Ini merupakan tikaman bagi salafiyyin dan celaan bagi mereka beserta manhaj mereka dalam mengingkari ahlul bid'ah. Dan yang dia maksud dengan dai dalam ucapannya: "bahkan kita dapati sebagian mereka tidak punya keinginan kecuali untuk menyibukkan para dai penyeru ke jalan Alloh," adalah para pengikut ikhwanul muslimin, sururiyyin, quthbiyyin, jama'ah takfir, dan khowarij yang telah mempersiapkan sarana dan prasarana untuk memberontak. Dahulu mereka mengingkari perkataan seperti ini dari kita. Adapun sekarang, rahasia mereka telah dibongkar oleh Alloh, dengan sebab peledakan-peledakan yang terjadi dan juga terbongkarnya gudang-gudang senjata dan peluru yang telah mereka persiapkan untuk merencanakan suatu pemberontakan. Bahkan dari ucapan Abdurrohman Abdulkholiq sendiri bisa disimpulkan bahwa dia itu seorang takfiri (yang mudah mengkafirkan orang lain) terbukti dari ucapannya pada lanjutan perkataannya di atas, dia berkata, "ini adalah sebesarbesar dosa, dan sebesar-besar sebab yang bisa membatalkan pondasi keimanan yang paling kokoh, yaitu pondasi wala' (loyalitas, kecintaan)." Dalam ucapannya ini dia menyangka bahwa membicarakan kejelekan ahlul bid'ah adalah salah satu hal yang membatalkan keislaman seseorang. Kaidah seperti ini adalah kaidah takfiriyyin. Ucapan dia ini saya nukil dari kitab "Al Qudwatul Kubro Bainat Ta'dzim wal Inbihar" yang ditulis oleh Muhammad bin Musa Asy Syarif, halaman 66-67. Dan penulis menisbatkan ucapan tersebut kepada buku yang berjudul "Al Wala wal Baro" yang ditulis oleh Abdurrohman Abdulkholiq. Kemudian yang terakhir, wahai Syaikh Abdul Muhsin, saya katakan bahwa muhadhoroh yang disampaikan oleh Syaikh Ibnu Bazz dan Syaikh Ibnu 'Utsaimin pada jamiyyat ini berlangsung dalam waktu yang sudah lama sekali, tidak dalam rangka mentazkiyah (memuji) Jam'iyyat tersebut, akan tetapi barang kali beliau berdua menyampaikan muhadhoroh tersebut sebelum mengetahui kalau di dalam jam'iyyat tersebut terdapat hal-hal yang menyimpang, wabillahit taufiq.

19

Bantahan Kitab Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah

www.isnad.net

Anda juga berpendapat tidak bolehnya menguji seseorang, bahkan Anda menganggapnya sebagai suatu bid'ah. Ketahuilah semoga Alloh memberi Anda pengetahuan bahwa Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam telah menguji seorang budak perempuan, beliau berkata, "Di manakah Alloh?" Budak itu menjawab, "Di langit." Beliau berkata, "Siapakah aku?" Jawab"Anda Rosululloh." Beliau berkata, "Bebaskanlah dia karena dia telah beriman!" Sebagian salaf berkata, "Salah satu tanda seorang ahlul bid'ah adalah mencela ahlul atsar (orang-orang yang meniti jejak salaf)." Mereka juga berkata, "Jika engkau melihat seorang dari Kufah menjelek-jelekkan Sufyan Ats Tsauri, maka ketahuilah bahwa dia adalah seorang pengikut syi'ah, dan bila engkau melihat seorang dari Marw menjelek-jelekkan Abdulloh ibnul Mubarok, maka ketahuilah bahwa dia seorang pengikut jahmiyyah. Mereka juga berkata, "Barang iapa bisa menyembunyikan bid'ahnya dari pandangan kami, tidak akan tersembunyi dari kami dengan siapa dia bergaul," maksudnya; seseorang itu bisa diketahui bahwa dia seorang ahlul bid'ah adalah dengan siapa yang berteman dengannya dan yang akrab dengannya, karena dia tidak mungkin berteman akrab kecuali dengan orang-orang yang dia ridho terhadap jalan mereka. Yang terakhir kali saya ucapkan, bahwa ini adalah nasehat yang ringkas dari seorang saudara untuk saudaranya. Saya ingin untuk menasehati Anda dari beberapa perkara. Dan saya memohon kepada Alloh Yang Maha Mulia keadaannya, agar memperbaiki keadaan kita semua dan supaya menunjukkan kita kepada apaapa yang terdapat kebaikan di dalamnya di dunia dan di akhirat, sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Dan kami memohon kepada Alloh untuk menjaga kita dari fanatik buta, dan menjadikan amalan-amalan kita hanya untuk mengharapkan wajahNya dan demi mengharap ridhoNya. Dan semoga Alloh melimpahkan sholawat dan salam kepada nabi kita Muhammad dan segenap keluarga beserta para shohabat beliau.

21

Bantahan Kitab Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah

www.isnad.net

Ditulis oleh: Ahmad bin Yahya An Najmi Selesai diterjemahkan di Darul Hadits Dammaj, 14 Muharrom 1434 H Wal hamdu lillahi Robbil alamin.

21