Anda di halaman 1dari 129

Senin, 06 Februari 2012

Konsep Dsar Keperawatan Anak konsep dasar keperawatan anak


FILOSOFI KEPERAWATAN ANAK Filosofi keperawatan anak merupakan keyakinan atau pandangan yang dimiliki perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan pada anak yang berfokus pada keluarga (family centered care), pencegahan terhadap trauma (atraumatic care) dan manjemen kasus. 1. Perawatan berfokus pada keluarga Keluarga merupakan unsur penting dalam perawatan anak mengingat anak bagian dari keluarga. Dalam Pemberian Askep diperlukan keterlibatan keluarga karena anak selalu membutuhkan orang tua di Rumah Sakit seperti aktivitas bermain atau program perawatan lainnya. Pentingnya keterlibatan keluarga ini dapat mempengaruhi proses kesembuhan anak. Program terapi yang telah direncanakan untuk anak bisa saja tidak terlaksana jika perawat selalu membatasi keluarga dalam memberikan dukungan terhadap anak yang dirawat, hal ini hanya akan meningkatkan stress dan ketidaknyamanan pada anak. Perawat dengan menfasilitasi keluarga dapat membantu proses penyembuhan anak yang sakit selama dirawat. Kebutuhan keamanan dan kenyamanan bagi orang tua pada anaknya selama perawatan merupakan bagian yang penting dalam mengurangi dampak psikologis anak sehingga rencana keperawatan dengan berprinsip pada aspek kesejahteraan anak akan tercapai 2. Atrumatic care Atrumatic care adalah perawatan yang tidak menimbulkan trauma pada anak dan keluarga. Atraumatik care sebagai bentuk perawatan terapeutik dapat diberikan kepada anak dan keluarga dengan mengurangi dampak psikologis dari tindakan keperawatan yang diberikan., seperti memperhatikan dampak psikologis dari tindakan keperawatan yang diberikan dengan melihat prosedur tindakan atau aspek lain yang kemungkinan berdampak adanya trauma.. untuk mencapai perawatan tersebut beberapa prinsip yang dapat dilakukan oleh perawat antara lain: a. Menurunkan atau mencegah dampak perpisahan dari keluarga Dampak perpisahan dari keluarga akan menyebabkan kecemasan pada anak sehingga menghambat proses penyembuhan dan dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. b. Meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan pada anak Kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan pada anak dapat meningkatkan kemandirian anak dan anak akan bersikap waspada dalam segala hal. c. Mencegah atau mengurangi cedera (injuri) dan nyeri (dampak psikologis) Proses pengurangan rasa nyeri sering tidak bisa dihilangkan secara cepat akan tetapi dapat dikurangi melalui berbagai tenik misalnya distraksi, relaksasi dan imaginary. Apabila tindakan pencegahan tidak dilakukan maka cedera dan nyeri akan berlangsung lama pada anak sehingga dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. d. Tidak melakukan kekerasan pada anak Kekerasan pada anak akan menimbulkan gangguan psikologis yang sangat berarti dalam kehidupan anak, yang dapat menghambat proses kematangan dan tumbuh kembang anak.

e. Modifikasi lingkungan Melalui modifikasi lingkungan yang bernuansa anak dapat meningkatkan keceriaan dan nyaman bagi lingkungan anak sehingga anak selalu berkembang dan merasa nyaman dilingkungan. 3. Manajemen kasus Pengelolaan kasus secara komprehensif adalah bagian utama dalam pemberian asuhan keperawatan secara utuh, melalui upaya pengkajian, penentuan diagnosis, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dari berbagai kasus baik yang akut maupun kronis. Kemampuan perawat dalam mengelola kasus secara baik akan berdampak pada proses penyembuhan. Pendidikan dan ketrampilan mengelola kasus pada anak selama di RS akan mampu memberikan keterlibatan secara penuh bagi klg PRINSIP-PRINSIP KEPERAWATAN ANAK Terdapat prinsip atau dasar dalam keperawatan anak yang dijadikan sebagai pedoman dalam memahami filosofi keperawatan anak. Prinsip dalam asuhan keperawatan anak adalah: 1. Anak bukan miniatur orang dewasa tetapi sebagai individu yang unik, dimana tidak boleh memandang anak dari ukuran fisik saja melainkan anak sebagai individu yang unik yang mempunyai pola pertumbuhan dan perkembangan menuju proses kematangan. 2. Anak adalah sebagai individu yang unik dan mempunyai kebutuhan yang sesuai dengan tahap perkembangan. Kebutuhan tersebut meliputi kebutuhan fisiologis (seperti nutrisi, dan cairan, aktivitas, eliminasi, istirahat, tidur dan lain-lain), kebutuhan psikologis, sosial dan spritual. 3. Pelayanan keperawatan anak berorientasi pada upaya pencegahan dan peningkatan derjat kesehatan, bukan hanya mengobati anak yang sakit. 4. Keperawatan anak merupakan disiplin ilmu kesehatan yang berfokus pada kesejahteraan anak sehingga perawat bertanggung jawab secara komprehensif dalam memberikan asuhan keperawatan anak. Anak dikatakan sejahtera jika anak tidak merasakan ganggguan psikologis, seperti rasa cemas, takut atau lainnya, dimana upaya ini tidak terlepas juga dari peran keluarga. 5. Praktik keperawatan anak mencakup kontrak dengan anak dan keluarga untuk mencegah, mengkaji, mengintervensi dan meningkatkan kesejahteraan hidup, dengan menggunakan proses keperawatan yang sesuai dengan aspek moral (etik) dan aspek hukum (legal). Sebagai bagian dai keluarga anak harus dilibatkan dalam pelayanan keperawatan, dalam hal ini harus terjadi kesepakatan antara keluarga, anak dan tim kesehatan. 6. Tujuan keperawatan anak dan remaja adalah untuk meningkatkan maturasi atau kematangan yang sehat bagi anak dan remaja sebagai makhluk biopsikososial dan spritual dalam kontek keluarga dan masyarakat 7. Pada masa yang akan datang kecendrungan perawatan anak berfokus pada ilmu tumbuh kembang, sebab ilmu tumbuh kembang ini akan mempelajari aspek kehidupan anak. PARADIGMA KEPERAWATAN ANAK Paradigma keperawatan anak merupakan landasar berfikir dalam penerapan ilmu keperawatan anak, dimana landasar berfikir tersebut terdiri atas empat komponen Bagan 1.komponen paradigma keperawatan anak Anak Dalam keperawatan anak yang menjadi individu (klien) adalah anak,anak diartikan sebagai seseorang yang berusia kurang dari delapan belas tahun dalam masa tumbuh kembang dengan kebutuhan khusus baik kebutuhan fisik, psikologis, sosial dan spritual. Masa anak merupakan

masa pertumbuhan dan perkembangan yang dimulasi dari bayi (0-1 tahun), usia bermain/ todler (1-2,5 tahun), pra sekolah (2,5-5 tahun), usia sekolah (5 11 tahun), remaja (11-18 tahun). Sehat dan Sakit Rentang sehat sakit adalah suatu kondisi anak berada dalam status kesehatan yang meliputi sejahtera, sehat optimal, sehat, sakit, sakit kronis dan meninggal. Rentang ini suatu alat ukur dalam menilai status kesehatan yang bersifat dinamis dalam setiap waktu, selama dalam batas rentang tersebut anak membutuhkan bantuan perawat baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti apabila anak berada pada rentang sehat maka upaya perawat untuk meningkatkan derjat kesehatan sampai mencapai taraf sejahtera baik fisik, sosial maupun spritual. Lingkungan Lingkungan dalam paradigma keperawatan anak yang dimaksud adalah lingkungan eksternal maupun internal yang berperan dalam status kesehatan anak, seperti keturunan, jenis kelamin, emosi dan lain-lain. Keperawatan Komponen ini merupakan bentuk pelayanan keperawatan yang diberikan kepada anak dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan secara optimal dengan melibatkan keluarga seperti adanya dukungan, pendidikan kesehatan dan upaya dalam rujukan ke tenaga kesehatan dalam program perawatan anak. PERAN PERAWAT DALAM PERAWATAN ANAK 1. Pemberi perawatan 2. Sebagai advokat keluarga 3. Pencegahan penyakit 4. Pendidikan 5. Konseling 6. Kolaborasi 7. Pengambilan keputusan etik 8. peneliti LINGKUP PRAKTEK KEPERAWATAN ANAK Dalam memberikan askep pada anak harus berdasarkan kebutuhan dasar anak yaitu: kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan seperti asuh, asih dan asah 1. Kebutuhan asuh Kebutuhan dasar ini merupakan kebutuhan fisik yang harus dipenuhi dalam pertumbuhan dan perkembangan. Kebutuhan ini dapat meliputi kebutuhan akan nutrisi atau gizi, kebutuhan pemberian tindakan keperawatan dalam meningkatkan dan mencegah terhadap penyakit, kebutuhan perawatan dan pengobatan apabila anak sakit, kebutuhan akan tempat atau perlindungan yang layak dan lain-lain. 2. Kebutuhan asih Kebutuhan ini berdasarkan adanya pemberian kasih sayang pada anak atau memperbaiki psikologi anak.

3. kebutuhan asah kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi pada anak, untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan secara optimal dan sesuai dengan usia tumbuh kembang. Daftar pustaka 1. Hidayat, Aziz Alimul (2005), Pengantar Ilmu Keperawatan Anak, Ed I: Jakarta, Salemba Medika Diposkan oleh Andhy Bhawel di 01:04 http://kakilangi.blogspot.com/2012/02/konsep-dsar-keperawatan-anak.html

Zen Akatsuki Ners pada Kamis, Desember 02, 2010 0 Komentar Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Categories : Neonatus - Anak 1. Anak Sebagai Manusia Seutuhnya Anak : 1. 2. 3. 4. Merupakan individu yang berada dalam suatu rentang perubahan perkembangan (bayi remaja) Merupakan anggota unik keluarga dalam suatu kultur dan masyarakat Merupakan anak dalam proses perkembangan 0-18 tahun: Ciri fisik atau kognitif Konsep diri Pola koping Perilaku social Diyakini bahwa anak bukan merupakan miniature orang dewasa, harta dan kekayaan orang tua yang dinilainya dihitung secara ekonomi tetapi anak adalah makhluk yang unik dan utuh, biopsiko-sosial cultural spiritual 5. Anak merupakan masa depan bangsa dan Negara (dunia) yang berhak atas pelayanan kesehatan untuk memenuhi bkebutuhan spesifik pada tiap tahap usia Keluarga : 1. Merupakan system terbuka anggota keluarga bisa dirawat secara efektif bila mengikutsertakan anggota keluarga lainnnya yang berpengaruh dan terpengaruh oleh anggota keluarga memerlukan pelayanan keperawatan 2. Semua diperhatikan 3. Unit 4. Orang tua bertanggungjawab terhadap kesehatan anak 5. Tergantung tipe keluarga

2. Perawatan Berfokus pada Anak Keluarga merupakan unsur penting dalam perawatan anak, mengingat anak bagian dari keluarga. Kehidupan anak dapat ditentukan oleh lingkungan keluarga, Untuk itu keperawatan anak harus mengenal keluarga sebagai tempat tinggal atau sebagai konstanta tetap dalam kehidupan anak (Wong, perry, 2002) Perawat yang bertindak sebagai pemberi pelayanan keperawatan hendaknya berfokus pada keluarga, dgn memperhatikan kemampuan dalam menentukan kekuatan dan kelemahan pemberian pelayanan keperawatan. Untuk itu dalam pemberian askep diperlukan keterlibatan keluarga. Hal ini sangat penting , mengingat anak selalu membutuhkan orang tua selama di RS. Perawat dgn menfasilitasi keluarga dapat membantu proses penyembuhan pada anak yang sakit selama di RS. untuk dijadikan acuan dalam

3. Prinsip Perawatan Anak 1. Keperawatan kesehatan anak meliputi hubungan antara perawat dengan anak dan perawat dengan keluarga

2.

Perawat

tidak

semata-mata

merawat

anak

selama

sakit,

tetapi

bertanggungjawab secara keseluruhan yang memunhkinhkan pemenuhan kebutuhan anak dan keluarga 3. Lingkungan di sekitar anak memegang peranan penting perawat perlu memahami bagaiman anak berinteraksi dengan lingkungannya 4. Perawat dipandang sebagai orang yang dapat bekerja secara efektif dengan bayi dan anak serta dapat menciptakan suatu kondisi bagi anak lain agar berfungsi lebih efektif dalam merawat anaknya 5. Berpikir kritis 6. Menggunakan data ilmiah 7. Untuk memilih intervensi yang serasi perawat mengikutsrtakan anak dan keluarga 8. 9. Perawat harus mempunyai keterampilan professional untuk dapat memberikan askep yang berkualitas Anak bukan miniatur ordes tetapi sebagai individu yang unik. dengan tahap perkembangan. 11. Pelayanan keperawatan anak berorientasi pada upaya pencegahan penyakit dan peningkatan derajat kesehatan bukan hanya mengobati anak yang sakit. 12. Keperawatan anak merupakan disiplin ilmu kesehatan yang berfokus pada kesejahteraan anak sehingga perawat bertanggung jawab secara komprehensif dalam memberikan askep anak. 13. Praktik keperawatan anak mencakup kontrak dengan anak dan keluarga untuk mencegah, mengkaji, mengintervensi, dan meningkatkan kesejahteraan hidup, dengan menggunakan proses keperawatan yang sesuai dengan aspek moral dan hukum. 14. Tujuan keperawatan anak dan remaja adalah untuk meningkatkan maturasi atau kematangan yang sehat bagi anak dan remaja sebagai mahluk biopsikososial dan spiritual dalam konteks keluarga dan masyarakat. 10. Anak adalah sebagai individu yang unik dan mempunyai kebutuhan sesuai

15. Pada masa yang akan datang kecenderungan keperawatan anak berfokus pada ilmu tumbuh kembang, Sebab ilmu tumbuh kembang ini akan mempelajari aspek kehidupan anak. 4. Fungsi Perawatan Anak a. Family advokasi atau pembelaan Bersama keluarga perawat mengidentifikasi kebutuhan anak, tujuan dan merencanakan intervensi keperawatan yang cocok untuk memenuhi kebutuhan anak dan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak Perawat bertanggungjawab untuk memastikan bahwa keluarga mengetahui semua pelayanan kesehatan tersedia, menjelaskan prosedur dan pengobatan, mengikutsertakan dalam perawatan anak dan menganjurkan perubahan atau mengsopport praktet pelayanan kesehatan Perawat menggunakan pengetahuannya untuk membantu anak dalam mencapai keadaan fisik dan emosional yang optimal Perawat dapat terlibat dalam pendidikan, perubahan politik atau legislative, rehabilitasi, skraning, administrasi b. Prepention atau fasilitator Perawat yang terlibat dalam perawatan oleh karena harus dapat dan

menjalankan praktek dalam berbagai dimensi pencegahan Merencanakan perawatan disiplin sekolah) c. Pendekatan yang paling baik adalah pendidikan dan antisipatoring guidence Membimbing orang tua untuk mencegah kemungkinan adanya masalah Health teaching Tidak dapat dipisahkan dengan family advokasi dan prepention dan dapat dilakukan di tiap tatanan pelayanan kesehatan dalam berbagai aspek pertumbuhan perkembangan (nutrisi, eliminasi, keamanan, perawatan gigi, sosialisasi,

Menyarankan orang tua untuk memberikan kesempatan pada anak merawat dirinya sendiri dan meningkatkan rasa harga diri dan kerja sama anak

Perawat sebagai role model bagi orang tua dan anak bagaiman merawat anak dan pengaruh kebiasaan hidup sehari-hari terhadap kesehatan anak d. Support atau konseling Support dapat dengan cara bermacam-macam, misalnya: dengan

mendengarkan, sentuhan, kehadiran fisik, hal ini dapat menolong anak untuk mengadakan nonverbal Konseling bertukar pendapat untuk mengatasi masalah menjadi landasan konseling e. Terapeutik role Bertugas untuk memenuhi kebutuhan fisik dan mental anak, termasuk makan, mandi, minum, BAK, BAB, pakaian, keamanan social Bertanggungjawab terhadap pengobatan yang telah dirumuskan dokter dan terhadap tindakannya dan keputusannya Aspek yang penting adalah pengkajian terus-menerus dan mengevaluasi status fisik Pengawasan terhadap kebutuhan klien dan perkembangan secara individu yang dapat mempengaruhi proses penyakit f. Koordinasi atau kolaborasi Perawat sebagai anggota tim kesehatan bekerja sama dan mengkoordinasi pelayanan keperawatan dengan kegiatan yang dilakukan tenaga kesehatan lainnya Pendekatan interdisiplin memungkingkan asuhan holistic dengan saling melengkapi Perawat bekerja sam dengan anak dan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan

Perawat mempunyai posisi penting untuk mengikutsertakan klien secara langsung ataupun tidak langsung untuk mengkomunikasikan pendapatnta ke tim kesehatan lainnya g. Health care planning Perawat tidak hanya berfokus pada keluarga inti saja, teta[pi juga berperan dalam masyarakat yang lebih luas Harus tahu kebutuhan masyarakat secara aktif terlibat dalam memelihara kesejahteraan Perawat meningkatkan kualitas pelayanan dan menjalankan asuhan sesuai dengan kode etik dan standar praktek Daftar Pustaka Samidah, Ida SKp, dkk. Perawatan Anak Buku 1

Amparita, 02 Desember 2010 19.46 WITA http://akatsuki-ners.blogspot.com/2010/12/keperawatan-anak-dalam-konteks-keluarga.html

Pengertian Anak sebagai Makhluk Sosial


February 4, 2012 Pengertian Anak Tinjauan Secara Sosial. Anak adalah makhluk sosial seperti juga orang dewasa. Anak membutuhkan orang lain untuk dapat membantu mengembangkan kemampuannya, karena anak lahir dengan segala kelemahan sehingga tanpa orang lain anak tidak mungkin dapat mencapai taraf kemanusiaan yang normal. Menurut John Locke (dalam Gunarsa, 1986) anak adalah pribadi yang masih bersih dan peka terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan.

Augustinus (dalam Suryabrata, 1987), yang dipandang sebagai peletak dasar permulaan psikologi anak, mengatakan bahwa anak tidaklah sama dengan orang dewasa, anak mempunyai kecenderungan untuk menyimpang dari hukum dan ketertiban yang disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan pengertian terhadap realita kehidupan, anak-anak lebih mudah belajar dengan contoh-contoh yang diterimanya dari aturan-aturan yang bersifat memaksa. Sobur (1988), mengartikan anak sebagai orang yang mempunyai pikiran, perasaan, sikap dan minat berbeda dengan orang dewasa dengan segala keterbatasan. Haditono (dalam Damayanti, 1992), berpendapat bahwa anak merupakan mahluk yang membutuhkan pemeliharaan, kasih sayang dan tempat bagi perkembangannya. Selain itu anak merupakan bagian dari keluarga, dan keluarga memberi kesempatan bagi anak untuk belajar tingkah laku yang penting untuk perkembangan yang cukup baik dalam kehidupan bersama. Pengertian anak juga mencakup masa anak itu exist (ada). Hal ini untuk menghindari keracunan mengenai pengertian anak dalam hubugannya dengan orang tua dan pengertian anak itu sendiri setelah menjadi orang tua. Kasiram (1994), mengatakan anak adalah makhluk yang sedang dalam taraf perkembangan yang mempunyai perasaan, pikiran, kehendak sendiri, yang kesemuannya itu merupakan totalitas psikis dan sifat-sifat serta struktur yang berlainan pada tiap-tiap fase perkembangannya. Dalam proses perkembangan manusia, tahap-tahap perkembangan anak, dijumpai beberapa tahapan atau fase dalam perkembangan, antara fase yang satu dengan fase yang lain selalu berhubungan dan mempengaruhi serta memiliki ciri-ciri yang relatif sama pada setiap anak. Disamping itu juga perkembangan manusia tersebut tidak terlepas dari proses pertumbuhan, keduanya akan selalu berkaitan. Apabila pertumbuhan sel-sel otak anak semakin bertambah, maka kemampuan intelektualnya juga akan berkembang. Proses perkembangan tersebut tidak hanya terbatas pada perkembangan fisik, melainkan juga pada perkembangan psikis. Anak merupakan mahkluk sosial, yang membutuhkan pemeliharaan, kasih sayang dan tempat bagi perkembangannya, anak juga mempunyai perasaan, pikiran, kehendak tersendiri yang kesemuanya itu merupakan totalitas psikis dan sifat-sifat serta struktur yang berlainan pada tiap-

tiap fase perkembangan pada masa kanak-kanak (anak). Perkembangan pada suatu fase merupakan dasar bagi fase selanjutnya. Rujukan Buku : Suryabrata, Sumadi, 2000. Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Yogyakarta:ANDI. Artikel Pengertian Anak sebagai Makhluk Sosial pertama kali diterbitkan dunia psikologi pada 20 November 2008 http://www.duniapsikologi.com/pengertian-anak-sebagai-makhluk-sosial/

Pengertian anak menurut pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, yang dimaksud anak menurut undangundang tersebut adalah seseorang yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan 1. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak, pada bab I ketentuan umum pasal (1) poin (2). Yang dimaksud anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 2 (dua puluh satu) tahun dan belum kawin. Sedangkan pengertian anak menurut pasal 1 ayat (5) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia (HAM), anak adalah setiap m a n u s i a y a n g b e ru s i a d i b a w a h 1 8 t a h u n d a n b e l um m e n i k a h, t e r m a s uk a n a k y a n g m a s i h d a l a m k a n d u n g an apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya Meskipun banyak rumusan mengenai batasan dan pengertian anak, namun pada prinsipnya perbedaan tersebut mempunyai implikasi yang sama yaitu memberikan perlindungan pada anak. Diterbitkan di: 07 Juni, 2011 Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2170479-pengertiananak/#ixzz24j3G333Z

Falsafah Keperawatan Anak


0.00 / 5 5 1/5 2/5 3/5 4/5 5/5

0 votes, 0.00 avg. rating (0% score)

FALSAFAH KEPERAWATAN ANAK Keperawatan anak telah mengalami perubahan yang sangat mendasar, terutama dalam cara memandang terhadap klien anak itu sendiri dan pendekatan dalam pelayanan keperawatan anak. Berikut ini akan dipaparkan tentang paradigma keperawatan anak. Ada empat komponen dalam keperawatan anak, yaitu manusia, sehat, lingkungan, dan keperawatan itu sendiri. 1. 1. Manusia (anak)

Manusia sebagai klien dalam keperawatn anak adalah individu yang berusia antara 0 18 tahun, yang sedang dalam proses tumbuh kembang, mempunyai kebutuhan yang spesifik (fisik, psikologis, sosial, dan spiritual) yang berbeda dengan orang dewasa. Kebutuhan fisik/biologis anak mencakup makan, minum, udara, eliminasi, tempat berteduh dan kehangatan. Secara psikologis anak membutuhkan cinta dan kasih sayang, rasa aman atau bebas dari ancaman. Anak membutuhkan disiplin dan otoritas untuk menghindari bahaya, mengembangkan kemampuan berpikir, dan bertindak mandiri. Anak juga membutuhkan kesempatan untuk belajar berpikir dan membuat keputusan secara mandiri. Untuk pengembangan harga diri, anak membutuhkan penghargaan pribadi terutama pada usia 1 sampai 3 tahun (toddler), penghargaan merupakan pengalaman positif dalam membentuk harga diri. Untuk itu diperlukan penerimaan dan pengakuan dari orang tua dan lingkungannya. Secara sosial anak membutuhkan lingkungan yang dapat memfasilitasinya untuk berinteraksi dan mengekspresikan ide/pikiran dan perasaannya, sedangkan secara spiritual anak membutuhkan penanaman nilai agama dan moral serta nilai budaya sebagai anggota masyarakat timur.

1. 2.

Sehat

Sehat dalam keperawatan anak adalah sehat dalam rentang sehat-sakit. Sehat adalah keadaan kesejahteraan optimal antara fisik, mental, dan sosial yang harus dicapai sepanjang kehidupan anak dalam rangka mencapai tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang optimal sesuai dengan usianya. Dengan demikian apabila anak sakit, hal ini akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan fisik, psikologis, intelektual, sosial, dan spiritual. Sehat sakit berada dalam suatu rentang mulai dari sehat optimal pada satu kutub sampai meninggal pada kutub lainnya. Sepanjang rentang tersebut, anak memerlukan bantuan perawat baik secara langsung saat anak sakit maupun tidak langsung dengan melakukan bimbingan antisipasi pada orang tuanya. Dalam keadaan sehat optimal pun anak memerlukan bantuan perawat, misalnya untuk upaya pencegahan dan promosi kesehatan seperti pelayanan imunisasi atau peningkatan pengetahuan tentang kebersihan perseorangan dan gizi yang memenuhi syarat kesehatan. Apabila terjadi perbedaan persepsi antara orang tua dan perawat tentang konsep sehat sakit tersebut, timbul masalah pemahaman keluarga tentang makna sehat sakit. Kondisi sehat yang berat menurut persepsi perawat dapat dipersepsikan sebagai suatu kondisi yang biasa saja oleh orang tua. Untuk itu diperlukan bantuan perawat untuk menyamakan persepsi tersebut. Pada kutub ekstrem, yaitu

kematian anak, orang tua tetap memerlukan bantuan perawat untuk mengantarkan anak pada kematian yang tenang melalui perawatan menjelang ajal (dying care). 1. 3. Lingkungan

Seperti telah dikemukakan di atas, anak adalah individu yang masih bergantung pada lingkungan, yaitu orang dewasa di sekitarnya. Lingkungan terdiri dari lingkungan internal dan lingkungan eksternal dan dapat memenuhi kesehatan anak. Lingkungan internal, yaitu genetik (keturunan), kematangan biologis, jenis kelamin, intelektual, emosi, dan adanya predisposisi atau resistensi terhadap penyakit.lingkungan eksternal, yaitu status nutrisi, orang tua, saudara kandung (sibling), masyarakat atau kelompok sekolah, kelompok atau geng, disipli yang ditanamkan orang tua, agama, budaya, status social-ekonomi, iklim, cuaca sekitar dan lingkungan fisik atau biologis baik rumah maupun sanitasi di sekelilingnya. Perkembangan anak sangat dipengaruhi rangsangan terutama dari lingkungan eksternal yaitu lingkungan yang aman, peduli dan penuh kasih sayang. 1. 4. Keperawatan

Untuk memperoleh pertumbuhan dan perkembangan yang opimal, perawat dapat membantu anak dan keluarganya memenuhi kebutuhan yang spesifik dengan cara membina hubungan terapeutik dengan anak atau keluarga melalui perannya sebagai pembela, pemulih/pemelihara keshatan, koordinator, kolaborator, pembuat keputusan etik dan perencana kesehatan. Fokus utama dalam pelaksanaan pelayanan keperawatan adalah peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit, dengan falsafah yang utama yaitu asuhan keperawatan yang berpusat pada keluarga dan perawatan yang terapeutik. Selama proses asuhan keperawatan dijalankan, keluarga dianggap sebagai mitra bagi perawat dalam rangka mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak. Dua konsep yang mendasari dalam kerjasama orang tuaperawat ini adalah memfasilitasi keluarga untuk aktif terlibat dalam asuhan keperawatan anaknya di rumah sakit dan memberdayakan kemampuan keluarga baik dari aspek pengetahuan, ketrampilan maupun sikap dalam melaksanakan perawatan anaknya di rumah sakit, melalui interaksi yang terapeutik dengan keluarga (empowering). Bentuk intervensi utama yang diperlukan anak dan keluarganya adalah pemberian dukungan, pemberian pendidikan kesehatan, dan upaya rujukan kepada tenaga kesehatan lain yang berkompeten sesuai dengan kebutuhan anak. 1. B. PERAWATAN BERPUSAT PADA KELUARGA

Pada dasarnya, setiap asuhan pada anak yang dirawat di rumah sakit memerlukan keterlibatan orang tua. Waktu kunjungan bagi orang tua terhadap anaknya harus terbuka selama 24 jam, tersedia aktivitas bermain dan layanan pendidikan kesehatan pada orang tua yang terprogram secara regular. Anak membutuhkan orang tua selama proses hospitalisasi. Terjadinya perpisahan orang tua dan anak karena harus dirawat di rumah sakit dapat menimbulkan dampak psikologis pada anak. Apabila anak mengalami kecemasan tinggi saat dirawat di rumah sakit, orang tua menjadi stress. Selanjutnya, apabila orang tua stress anak pun menjadi semakin stress. Hal ini terjadi seperti satu lingkaran setan. Untuk mencapai tujuan dari

upaya pencegahan dan pengobatan pada anak yang dirawat di rumah sakit, sangat diperlukan kerja sama antara orang tua dan tim kesehatan dan asuhan pada anak baik sehat maupun sakit paling baik dilaksanakan oleh orang tua, dengan bantuan tenaga kesehatan yang kompeten sesuai kebutuhannya. Dua konsep yang mendasari asuhan yang berpusat pada keluarga yaitu fasilitasi keterlibatan orang tua dalam perawatan dan peningkatan kemampuan keluarga dalam merawat anaknya. Perawat juga mempunyai peran penting untuk memfasilitasi hubungan orang tua dan anaknya selama di rumah sakit. Harus diupayakan jangan sampai terjadi perpisahan antara orang tua dan anaknya di rumah sakit. Hal ini bertujuan agar dengan difasilitasinya hubungan anak dan orang tuanya, orang tua diharapkan mempunyai kemampuan meneruskan peran dan tugasnya merawat anak selama di rumah sakit. Perawat juga mempunyai peran penting untuk meningkatkan kemampuan orang tua dalam merawat anaknya. Orang tua dipandang sebagai subjek yang punya potensi untuk melaksanakan perawatan anaknya. Diharapkan selama perawatan anaknya di rumah sakit, terjadi proses belajar pada orang tua, baik dalam hal peningkatan pengetahuan maupun ketrampilan yang berhubungan dengan keadaan sakit anaknya. Misalnya pada saat seorang ibu mempunyai anak yang sakit panas dan dirawat di rumah sakit, jika pada awal masuk orang tua tidak tahu tentang perawatan anak panas, saat keluar rumah sakit orang tua sudah dapat memberikan kompres hangat pada anak, dan mengukur suhu dengan temometer. Proses perawatan anak di rumah sakit harus memberikan kesempatan belajar pada orang tua untuk merawat anak. Etos asuhan yang berpusat pada keluarga pada dasarnya karena asuhan dan pemberian rasa aman dan nyaman orang tua terhadap anaknya merupakan asuhan keperawatan anak di rumah sakit sehingga asuhan keperawatan pada anak di rumah sakit harus berpusat pada konsep anak sebagai bagian dari keluarga dan keluarga sebagai pemberi dukungan yang paling baik bagi anak selama proses hospitalisasi. Keluarga aalah pusat kehidupan keluarga sehingga fokus perencanaan asuhan keperawatan anak harus mencerminkan kerja sama orang tua dengan perawat/tim kesehatan. Elemen pokok asuhan yang berpusat pada keluarga yaitu : 1. Hubungan anak dan orang tua adalah unik, berbeda anatar yang satu dengan yang lain. Setiap anak mempunyai karakteristik yang berbeda dan berespon terhadap sakit dan perawatan di rumah sakit secara berbeda pula. Demikian pula orang tua mempunyai latar belakang yang berbeda pula dalam berespon terhadap kondisi anak dan perawatan di rumah sakit. 2. orang tua dapat memberikan asuhan yang efektif selama hospitalisasi anaknya. Telah terbukti pada bebrapa penelitian bahwa anak akan merasa aman apabila berada di samping orang tuanya, terlebih lagi saat menghadapisituasi yang menakutkan seperti dilakukan prosedur invasive. Dengan demikian tujuan asuhan akan tercapai dengan baik apabila ada kerja sama yang baik antaraperawat dengan orang tua. 3. kerja sama dalam model asuhan adalah fleksibel dan menggunakan konsep dasar asuhan keperawatan anak. Saat tetentu dapat melakukan asuhan keluarga dan keluargadapat melakukan asuhan keperawatan. Pada saat tertentu saat orang tua harus meninggalkan anaknya sesaat, perawat harus siap menggantikannya. Sebaliknya orang tua harus belajar

melakukan tindakan keperawatan, seperti memberikan kompres, mengukur suhu, atau mengobservasi gejala panas pada anak, melalui pendidikan kesehatan yang diberikan perawat. 4. keberhasilan dan pendekatan ini bergantung pada kesepakatan tim kesehatan untuk mendukung kerjasama yang aktif dari orang tua. Kesepakatan untuk menggunakan family centred tidak cukup hanya dari perawat, tetapi juga seluruh petugas kesehatan yang ada. (Yupi, 2005).

1. C.

ATRAUMATIC CARE

Sakit dan dirawat di rumah sakit merupakan krisis utama yang tampak pada anak. Jika seorang anak dirawat di rumah sakit, maka anak tersebut akan mudah mengalami krisis karena: (1) Anak mengalami stress akibat perubahan baik terhadap status kesehatannya maupun lingkungannya dalam kebiasaan sehari hari, dan (2) Anak mempunyai sejumlah keterbatasan dalam mekanisme koping untuk megatasi masalah maupun kejadian kejadian yang bersifat menekan. Reaksi anak dalam mengatasi krisi tersebut dipengaruhi oleh tingkat perkembangan usia, pengalaman sebelumnya terhadap proses sakit dan dirawat, system dukungan (support system0 yang trsedia, serta ketrampilan koping dalam menangani stress. Peran perawat dalam meminimalkan stress akibat hospitalisasi pada anak dan bayi adalah sangat penting. Perawat perlu memahami konsep stress hospitalisasi dan prinsip-prinsip asuhan keperawatan melalui pendekatan proses keperawatan..(Nursalam,2005). Sebagian besar stress yang terjadi pada bayi di uasia pertengahan sampai anak periode prasekolah, khususnya anak yang berumur 6 sampai 30 bulan adalah cemas karena perpisahan. Balita belum mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang memadai dan memiliki pengertian yang terbatas terhadap realita. Hubungan anak dengan ibu adalah sangat dekat, akibatnya perpisahan dengan ibu akan menimbulkan rasa kehilangan pada anak akan orang yang terdekat bagi dirinya dan akan lingkungan yang dikenal olehnya, sehinggi pada akhirnya akan menimbulkan perasaan tidak aman dan rasa cemas. (Nursalam, 2005). Respon perilaku anak akibat peerpisahan dibagi dalam 3 tahap, yaitu : 1. Tahap protes (phase of protest) Tahap ini dimanifestasikan dengan menangis kuat, menjerit, dan memanggil ibunya atau menggunakan tingkah laku agresif, seperti menendang, menggigit, memukul, mencubit, mencoba untuk membuat orang tuanya tetap tinggal dan menolak perhatian orang lain. Perilaku tersebut akan berlangsung dari beberapa jam sampai beberapa hari. Perilaku ini akan berhenti bila anak merasa kelelahan. Pendekatan orang asing yang tergesa gesa akan meningkatkan protes. 1. Tahap putus asa (phase of despair) Pada tahap ini, anak tampak tegang, tangisnya berkurang, tidak aktif, kurang berminat untuk bermain, tidak ada nafsu makan, menarik diri, tidak mau berkomunikasi, sedih, apatis, dan

regresi (misalnya : mengompol ). Pada tahap ini, kondisi anak mengkhawatirkan karena anak menolak untuk makan, minum, atau bergerak. 1. Tahap menolak (phase of denial) Pada tahap ini, secara samar samar anak menerima perpisahan, mulai tertarik dengan apa yang ada di sekitarnya, dan membina hubungan dangkal dengan orang lain. Anak mulai kelihatan gembira. Akibat sakit dan dirawat di rumah sakit, anak akan kehilangan kebebasan pandangan egosentris dalam mengembangkan otonimnay. Hal ini akan menimbulkan regresi. Ketergantungan merupakan karakteristik dari peran sakit. Anak akan bereaksi terhadap ketergantungan dengan negativistis, terutama anak akan menjadi cepat marah dan agresif. Jika terjadi ketergantungan dalam jangka waktu lama (karena penyakit kronis), maka anak akan kehilangan otonominya dan pada akhirnya akan menarik diri dari hubungan interpersonal. (Nursalam, 2005). Konsep tentang citra tubuh (body image), khusunya pengertian mengenai perlindungan tubuh, sedikit sekali berkembang pada balita. Berdasarkan pengamatan, bila dilakukan pemeriksaan telinga, mulut atau suhu pada anus akan membuat anak menjadi sangat cemas. Reaksi terhadap tindakan yang tidak menyakitkan sama dengan reaksi terhadap tindakan yang sangat menyakitkan. Reaksi balita terhadap nyeri sama seperti sewaktu masih bayi, namun jumlah variable yang mempengaruhi responsnya lebih kompleks dan bermacam macam. Anak akan bereaksi terhadap rasa nyeri dengan menyeringaikan wajahnya, menangis, mengatupkan gigi, menggigit bibir, membuka mata lebar atau melakukan tindakan agresif seperti menggigit, menendang, memukul, atau berlari keluar. (Nursalam, 2005). Adapun reaksi orang tua terhadap anak yang sakit dan dirawat di rumah sakit dipengaruhi oleh berbagai macam faktor antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Tingkat keseriusan penyakit anak Pengalaman sebelumnya terhadap sakit dan dirawat di rumah sakit Prosedur pengobatan Sistem pendukung yang tersedia Kekuatan ego individu Kemampuan dalam penggunaan koping Dukungan dkeluarga Kebudayaan dan kepercayaan Komunikasi dalam keluarga

Di samping hal hal tersebut di atas, ada beberapa reaksi lain orang tua dalam mengahdapi anak yang sakit dan dirawat di rumah sakit : 1. Penolakan/ketidakpercayaan Yaitu menolak atau tidak percaya. Hal ini terjadi terutama bila anak tiba-tiba sakit serius.

1. Marah atau merasa bersalah atau keduanya Setelah mengatahui bahwa anaknya sakit, maka reaksi orang tua adalah marah dan menyalahkan dirinya sendiri. Mereka merasa tidak merawat anaknya dengan benar. Jika dirawat di rumah sakit, orang tuia menyalahkan dirinya sendiri karena tidak dapat menolong mengurangi rasa sakit yang dialami oleh anaknya. 1. Ketakutan, cemas dan frustasi Ketakutan dan rasa cemas dihubungak dengan seriusnya penyakit dan tipe prosedur medis. Frustasi dihubungkan dengan kurangnya informasi mengenai prosedur dan npengobatan atau tidak familiar dengan peraturan rumah sakit. 1. Depresi Biasanya depresi ini terjadi setelah masa krisi anak berlalu. Ibu sering mengeluh merasa lelah baik secar fisik maupun mental. Orang tua mulai merasa khawatir terhadap anak-anak mereka yang lain, yang dirawat oleh amggota keluarga lainnya, oleh teman atau tetangga. (Nursalam, 2005). Atraumatic care atau asuhan yang tidak menimbulkan trauma pada anak dan keluarganya merupakan asuhan yang terapeutik karena bertujuan sebagai terapi bagi anak. Dasar pentingnya asuhan terapeutik ini adalah bahwa walaupun ilmu pengetahuan dan tekhnologi di bidang pediatrik telah berkembang pesat, tindakan yang dilakukan pada anak tetap menimbulkan trauma, rasa nyeri, marah, cemas, dan takut pada anak. Sangat disadari bahwa sampai saat ini belum ada tekhnologi yang dapat mengatasi masalah yang timbul sebagai dampak perawatan tersebut di atas. Hal ini memerlukan perhatian khusus dari tenaga kesehatan,khususnya perawat dalam melaksanakan tindakan pada anak dan orang tua. Beberapa bukti menunjukkan bahwa lingkungan rumah sakit yang dapat menimbulkan trauma pada anak adalah lingkungan fisik rumah sakit, tenaga kesehatan baik dari sikap maupun pakaian putih, alatalat yang digunakan, dan lingkungan sosial antar sesama pasien. Dengan adanya stressor tersebut, distress yang dapat dialami anak adalah gangguan tidur, pembatasan aktivitas, perasaan nyeri, dan suara bising. Sedangkan distress psikologis mencakup kecemasan, takut, marah, kecewa, sedih, malu dan rasa bersalah. (Yupi Supartini, 2004). Atraumatic care adalah bentuk perawatan terapeutik yang diberikan oleh tenaga kesehatan dalam tatanan pelayanan kesehatan anak, melalui penggunaan tindakan yang dapat mengurangi distress fisik maupun distress psikologis yang dialami anak maupun orang tuanya. Atraumatic care bukan satu bentuk intervensi yang nyata terlihat, tetapi memberi perhatian pada apa, siapa, di mana, mengapa, dan bagaimana prosedur dilakukan pada anak dengan tujuan mencegah dan mengurangi stress fisik dan psikologis. (Yupi Supartini, 2004). Asuhan yang terapeutik tersebut dapat dilakukan melalui tindakan pencegahan, penetapan diagnosis, pengobatan, dan perawatan baik pada kasus akut maupun kronis dengan intervensi mencakup pendekatan psikologis, misalnya menyiapkan anak untuk prosedur fisik, memberikan

kesempatan pada orang tua untuk terlibat merawat anak di rumah sakit, dan menciptakan suasana/lingkungan rumah sakit yang nyaman bagi anak dan orang tua. (Yupi Supartini, 2004). Satu hal yang harus menjadi perhatian perawat adalah dampak dari lingkungan fisik rumah sakit dan perilaku petugas itu sendiri seringkali menimbulkan trauma pada anak. Lingkungan rumah sakit yang asing bagi anak maupun orang tuanya dapat menjadi stressor. Demikian juga pakaian seragam tim kesehatan, yaitu baju seragam putih menjadi stressor bagi anak, sedangkan orang tua dapat menjadi stress apabila mendapat informasi yang mengejutkan tentang kondisi penyakit anaknya. (Yupi Supartini, 2004). Dapat anda bayangkan bagaimana bila seorang perawat atau dokter anak datang kepada pasien (anak dan keluarganya ) untuk melakukan asuhan keperawatan, tetapi dengan wajah cemberut, masam, dan tidak ada sapaan ramah sedikitpun. Mungkin sebelum dilakukan tindakan anak sudah takut dan menangis atau bahkan tidak mau didekati. Akan tetapi, bagaimana bila seorang perawat datang dengan wajah yang manis, tersenyum, dan sapaannya pada anak demikian menyenangkan, lemah lembut, sambil menawarkan mainan kecil yang menarik hati. (Yupi Supartini, 2004). Dengan demikian, jelas lingkungan fisik dan psikososial rumah sakit dapat menjadi stressor bagi anak. Selain perilaku petugasnya, ruang perawatan untuk anak tidak dapat disamakan seperti orang dewasa. Ruang tersebut memerlukan dekorasi yang penuh dengan nuansa anak, seperti adanya gambar dinding berupa gambar binatang atau bunga, tirai dan seprai serta sarung bantal yang berawarna dan bercorak binatang atau bunga, cat dinding yang berwarna, serta tangga yang pegangannya berwarna ceria. (Yupi Supartini, 2004). Satu hal yang tidak boleh dikesampingkan dan harus menjadi perhatian dalam memberikan atraumatic care yang pertama yaitu hindari tindakan yang dapat menimbulkan trauma pada anak. Adapun 3 prinsip untuk dapat mencapai tujuan tersebut antara lain : 1. Mengurangi perpisahan orang tua anak. 2. Menganjurkan untuk control perasaan 3. Mencegah terjadinya cedera tubuh dan nyeri. Contoh atraumatioc care meliputi membantu perkembangan hubungan orang tua anak selama proses hospitalisasi di rumah sakit, mempersiapkan anak sebelum menjalani prosedur yang mungkin belum dikenal oleh anak, mengontrol nyeri, menyediakan privacy bagi anak, memberikan aktivitas bermain untuk mengekspresikan ketakutan dan ekspresi melawan mereka, memberikan pilihan pada anak serta menghormati perbedaan budaya. Adapun asuhan keperawatan dalam mengurangi stress akibat hospitalisasi antara lain meliputi hal hali berikut di bawah ini : 1. Pengkajian Pengkajian dilakukan sebelum anak dirawat di rumah sakit. Namun pengkajian juga dapat dilakukan secara besamaan ketika dilakukan prosedur tindakan medis. Area yang penting untuk

dikaji yaitu rasa nyeri/rasa sakit,. Dalam melkukan pengkajian hendaknya perawat melibatkan orang tua atau orang lainterkait dalam memberikan perawatan pada anak. Pengkajian yang dilakukan meliputi pertumbuhan dan perkembangan anak, kebutuhan psikososial, kebutuhan pendidikan, dan efek dari hospitalisasi pada keluarga. (Joint Commission on Accreditation of Healthcare Organization, 1992 dalam Nursalam, 2005). Pengkajian meliputi pengkajian rasa nyeri. Rasa nyeri merupakan suatu fenomena dimana tipa orang mempunyai pengalaman yang berbeda beda sehingga mempersepsi rasa nyeri pada orang lain seringkali tidak tepat dan akurat. Secara operasional, pengertian rasa nyeri yang biasanya digunakan dalam klinik adalah apapun yang diperlihatkan dan dikatakan seseorang, kapan saja orang tersebut mengatakannya (McCaffery and Beebe, 1989 dalam Nursalam, 2005). Pengkajian rasa nyeri pada anak meliputi verbal dan non verbal. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah QUEST : - Question the child (bertanya pada anak) - Use pain rating scale (gunakan skala peringkat rasa nyeri) - Evaluate behaviour and physiologic changes (evaluasi perubahan tingkah laku dan fisiologis) - Secure parents involvement (melibatkan orang tua) - Take cause of pain into account (tentukan dan catat penyebab rasa nyeri) - Take action and evaluate results (ambil tindakan dan evaluasi hasilnya). 2. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan tergantung pada kasus yang dijumpai, yang meliputi anak dan orang tua. Salah satu kasus yang mungkin timbul adalah : Pada anak : 1. Cemas/takut sehubungan dengan : 1. perpisahan dengan orang tua 2. lingkungan yang asing 3. prosedur-prosedur tindakan 4. Kehilangan kendali sehubungan dengan dirawat Pada orang tua : 1. Cemas/takut sehubungan dengan 1. kondisi anak yang kritis 2. perubahan fungsi peran 3. perubahan lingkungan

4. Penurunan dalam proses keluarga sehubungan dengan : 1. anak yang dirawat 2. situasi anak yang kritis 3. a. Mencegah atau meminimalkan dampak perpisahan 1. Rooming In 3. Perencanaan 4. Tindakan keperawatan Rooming in berarti orang tua dan anak tinggal bersama. Jika tidak bisa, sebaiknya orang tua dapat melihat anak setiap saat untuk mempertahankan kontak/komunikasi antara orang tua anak. Jika orang tua tidak dapat tinggal bersama anaknya, maka perawat sebaiknya mengantisipasi fase protes yang akan terjadi pada anak. Perpisahan juga merupakan hal yang sulit bagi orang tua. Orang tua selalu merssa khawatir mengenai perilaku anaknya setelah ditinggalkan. 1. Partisipasi orang tua Orang tua diharapkan dapat berpartisipasi dalam merawat anak yang sakit, terutama dalam perawatan yang bisa dilakukan. Perawat dapat memberikan kesempatan pada orang tua untuk menyiapkan makanan anak atau memandikannya. Dalam hal ini, perawat berperan sebagai pendidik kesehatan (health educator) bagi keluarga. 1. Membuat ruang perawatan seperti situasi di rumah dengan mendekorasi dinding memakai poster/kartu bergambar sehingga anak merasa aman jika berada di ruang tersebut. 2. b. Meminimalkan perasaan kehilangan kendali 1. Mengusahakan kebebasan bergerak Pada beberapa kasus yang diisolasiseperti luka baker berat, lingkungan dapat dimanipulasi untuk meningkatkan kebasan sensori, misalnya menempatkan tempat tidur di dekatpintu atau jendela, memperdengarkan musik, dsb. 1. Mempertahankan kegiatan rutin Kehilangan kegiatan rutinitas merupakan stressor pada anak balita dan hal ini akan meningkatkan stress akibat perpisahan. Sedapat pembuatan rencana asuhan perawatan didasarkan pada aktivitas yang biasa dilakukan anak sewaktu di rumah. 1. Dorongan anak untuk independent 2. anak pada periode balita mulai belajar mengenai otonomi. Balita mulai menjadi independent dan sangat menyenangi peran barunya tersebut. Hospitalisasi membuat anak menjadi tergantung pada orang lain dan ini menimbulkan perasaan kehilangan kendali. 3. c. Mencegah dan meminimalkan perlukaan tubuh dan rasa sakit Persiapan anak terhadap prosedur yang menimbulkan rasa nyeri adalah penting untuk mengurangi ketakutan. Perasaan dapat menjelaskan apa yang akan dilakukan, siapa yang dapat

ditemui oleh anak jika dia merasa akut, dan seterusnya. Memanipulasi prosedur juga dapat mengurangi ketakutan akibat perlukaan tubuh. Misalnya, jika anak takut diukur temperaturnya melalui anus, maka hal tersebut dapat dilakukan melalui ketiak.

1. D.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENINGKATAN KESEHATAN ANAK 1. 1. Sosial Budaya

Masa depan masyarakat bergantung pada anak anak mereka. Oleh sebab itu, masyarakat harus memberikan perhatian, pengawasan serta pendidikan pada anak anak. Budaya memegang peran penting dalam sosialisasi anak dilihat dari didikan orang tua serta perkembangan anak tersebut. (Yoos and others, 1995). Budaya berhubungan dengan pengalaman anak baik sehat maupun sakit (Talabere, 1996 dalam Wong 2001). Melalui tinjauan holistic anak, perawat diwajibkan untuk mengembangkan sebuah pengertian dimana budaya memberikan kontribusi terhadap perkembangan social dan hubungan emosional dan mempengaruhi perilaku anak dan sikap positif kesehatan. (Wong,2001). Pengetahuan keperawatan transcultural menjadi penting sejak decade dahulu karena adanya kenaikan tingkat migrasi masyarakat di seluruh dunia. Ahli keperawatan memberikan perawatan pada populasi yang bermacam-macam dari setiap titik. (Cooper, 1996 dalam Wong, 2001). 1. 2. Sosial Ekonomi

Tingkat social ekonomi keluarga mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Dalam presentase tinggi, individu dengan tingkat social ekonomi rendah, menderita permasalahan kessehatan dalam suatu waktu. Sejumlah aspek yang menambah masalah kesehatan antara lain, sesaknya rumah tinggal dan sssssanitaaasi yang kurang. Hali ini dapat menimbulkan penyakit seperti misalnya TBC. Selain itu insiddensi tinggi keracunan juga terjadi pada anak anak dari tingkat ekonomi rendah,dimana disebabkan adanay pencemaran lingkungan yang lebih banyak terjadi, misaalnya keracunan bahan dasar cat pada rumah yang sudah tua. (Centers for Diseaase Control and Prevention, 1997 dalam Wong 2001). Anak-anak dalam keluarga tingkat ekonomi rendah, kekebalan tubuh terhadap penyakit juga lebihkurang disbanding anak-anak dari tingkat ekonomi menengah dan atas. Kurangnya pelayanan kesehatan, meyebabkan kurangnya tindakan untuk menangani penyakit yang parah atau cedera. Terkadang perawatan kesehatan juga kurang adekuat disebabkan kurangnya pengetahuan. Di beberapa tempat penyakit tersebut dianggap sudah biasa dan tidak dapat dihindarkan, bahkan hal ini bukan merupakan hal yang perlu diberi tindakan. Para orang tua mungkin tidak punya pengetahuan mengenai penyebab penyakit, tindakan yang harus diberikan, akibat dari penyakit atau pencegahannya. Perawat dapat menggunakan kesempatan yang terbatas ini ketika keluarga datang ke peleyanan kesehatan untuk menanyakan imunisasi, maka berikan masukan masukaan mengenai masalah kesehatan, agar mereka lebih tahu mengenai pentingnya

kesehatan, beeerikan informasi gizi, dan perawat dapat menawarkan pencegahan serta peningkatan kesehatan. (Wong,2001) Salah satu masalah kesehatan yang sidnifikan adalah tingginya tingkat kematian bayi. (Annie E. Casey Foundation, 1999 dalam Wong 2001). Keluarga kurang mampu menolak akses ke rumah sakit gawat darurat atau rumah sakit lain. Lebih seringnya karena mereka harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk mendapat pelayanan kesehatan yang mau untuk merawat mereka. Dalam keadaan darurat mereka harus mendapatkan uang untuk membayar taksi, meminjam mobil, atau mencari transportasi lain. (Wong, 2001). Nutrisirendah menyebabkan masalah kesehatan pula pada tingkat ekonomi rendah. Kurangnya pengetahuan akibat diet yang berat mengakibatkan kurangnya asupan makanan essensial, seperti protein, vitamin dan zat besi. Tidak adekuatnya diet sering mnyebabkan terjadinya penyakit defisiensi gizi dan retardasi pertumbuhan pada anak anak. (Wong, 2001). Karena kurangnya pencegahan, masalah gigi merupakan masalah yang cukup umum terjaadi. Kurangnya standar imunisasi, bersamaan berkurangnya pertahanan tubuh karena kurang gizi, menyebabkan mudahnya anak anak ini terserang penyakit. Ssanitasi yang kurang dan sesaknya tempat tinggal juga dapat menambah tingginya insiden penyakit. Pada umumnya, orang yang kurang mampu lebih sering terkena sakit dan penyakit akan lebih lama menetap dalam tubuh dibanding orang orang pada populasi umumnya.(Wong,2001) 1. 3. Hereditas

Faktor hereditas atau faktor keturunan merupakan salah satu faktor dalam peningkatan kesehatan pada anak. Berdasarkan sejarah, peningkatan resiko kesehatan ada kaitannya dengan masalah etnis seperti masalah genetic, sebagaimana faktor sosialekonomi. (Scribner, 1996 dalam Wong, 2001). Faktor genetic seseorang ddalam suatu kelompok dapat mempengaruhi tingkat kerentanan terhadap suatu penyakit tetentu. Hal ini mungkin akibat kurang kuatnya pertahanan tubuh terhadap organisme penyakit. Karena itu tidak dianjurka melakukan perkawinan antar individudengan jarak yang cukup dekat, missalnya masih ada hubungan saudara yang cukup dekat, sebab hal ini dapat menyebabkan efek kurang baik pada anak-anakny kelak. Misalnya saja data terjaadi retardasi mental pada anak tersebut. Hal ini tentunya dapat mengganggu perkembangan dan pertumbuhan anak tersebut di kemudian hari. http://healthyenthusiast.com/falsafah-keperawatan-anak.html

PERSPEKTIF KEPERAWATAN ANAK


Diposkan oleh fani_afnan_janati_arysa , 09, April KESEHATAN ANAK Kesehatan merupakan fenomena kompleks yang didefenisikan sebagai suatu keadaan kesejahteraaan fisik, mental dan social yang komplet dan bukan semata-mata terbebas dari penyakit.( WHO ).

Indikator yang perlu diperhatikan adalah: Mortalitas Morbiditas Dimana, informasi tentang keduanya memberikan informasi tentang: Penyebab kematian dan kesakitan Kelompok usia berisiko tinggi terhadap gangguan/penyakit tertentu Kemajuan pengobatan dan pencegahan Bidang/area tertentu dalam konseling kesehatan MASYARAKAT SEHAT TAHUN 2010 Di tetapkan berdasarkan inisiatif untuk melanjutkan Masyarakat Sehat 2000. Tujuan dan sasarannya saat ini dikembangkan melalui konsultasi yang luas dan bersifat memiliki kolaborasi dan melibatkan masyarakat. Adapun tujuan Indonesia sehat 2010 adalah: Meningkatkan usia hidup sehat Menghilangkan kesenjangan kesehatan Meningkatkan prilaku sehat, perlindungan kesehatan Menjamin akses ke pelayanan, kesehatan berkualitas Menekankan pecegahan di komunitas MORTALITAS DAN MORBIDITAS PADA BAYI DAN ANAK-ANAK 1. MORTALITAS Mortalitas adalah ukuran jumlah kematian (umumnya, atau karena akibat yang spesifik) pada suatu populasi, skala besar suatu populasi, per dikali satuan. Mortalitas khusus mengekspresikan pada jumlah satuan kematian per 1000 individu per tahun, hingga, rata-rata mortalitas sebesar 9.5 berarti pada populasi 100.000 terdapat 950 kematian per tahun. Mortalitas Bayi Angka mortalitas bayi merupakan jumlah kematian per 1000 kelahiran hidup selama tahun pertama kehidupan, yang kemudian dibagi menjadi mortalitan neonatal (usia <28 hari) dan mortalitas pascanatal (usia 28 hari-11 bulan) Proporsi Penyakit penyebab kematian bayi (Depkes, 2004): : Penyakit system pernafasan 29,5 % Gangguan perinatal 29,3 % Diare 13,9 % Penyakit sistem syaraf 5,5 % Tetanus 3,68% Infeksi dan parasit lain 3,5 % Mortalitas anak-anak Yang dimaksud dengan anak (1-4 tahun) disini adalah penduduk yang berusia satu sampai menjelang 5 tahun atau tepatnya 1 sampai dengan 4 tahun 11 bulan 29 hari. Angka Kematian Anak mencerminkan kondisi kesehatan lingkungan yang langsung mempengaruhi tingkat kesehatan anak. Angka Kematian Anak akan tinggi bila terjadi keadaan salah gizi atau gizi buruk, kebersihan diri dan kebersihan yang buruk, tingginya prevalensi penyakit menular pada anak, atau kecelakaan yang terjadi di dalam atau di sekitar rumah (Budi Utomo, 1985). 2. MORBIDITAS

Morbiditas dapat merujuk kepada: pernyataan terkena penyakit (dari bahasa Latin morbidus: sakit, tidak sehat), derajat kerasnya penyakit, meratanya penyakit: jumlah kasus pada populasi, insiden penyakit: jumlah kasus baru pada populasi. Cacat terlepas dari akibat (contoh cacat disebabkan oleh kecelakaan). Morbiditas anak-anak Banyak disebabkan oleh penyakit akut (penyakit pernapasan 50%, infeksi dan penyakit parasit 11%), cedera 15 %, dan ketidakmampuan yang dapat diukur dengan aktivitas dalam derajat tertentu (Pless dan Pless,1997) Morbiditas meningkat pada mereka yang mengalami kesulitan ekonomi.Penyebab utama hal ini adalah terbatasnya akses ke pelayanan kesehatan. 11 juta balita dunia meninggal/tahun karena infeksi, 54% berkaitan dengan kurang gizi ( WHO, 2002).Angka kurang gizi (Depkes, 2004): 1989 ; 37,% 2000 : 24,7% 2001 : 26,1% 2002 : 27,3% 2003 : 27,5% BBLR : 350.000 bayi / tahun EVOLUSI PELAYANAN KESEHATAN ANAK DI INDONESIA Perkembangan pelayanan keperawatan terkini Era globalisasi dan era informasi yang akhir-akhir ini mulai masuk ke Indonesia telah membuat tuntutan-tuntutan baru di segala sektor dalam Negara kita. Tidak terkecuali dalam sektor pelayanan kesehatan, era globalisasi dan informasi seakan telah membuat standar baru yang harus dipenuhi oleh seluruh pemain di sektor ini. Hal tersebut telah membuat dunia keperawatan di Indonesia menjadi tertantang untuk terus mengembangkan kualitas pelayanan keperawatan yang berbasis teknologi informasi. Namun memang kita tidak bisa mnutup mata akan hambatanhambatan yang dihadapi oleh keperawatan di Indonesia, diantaranya adalah keterbatasan SDM yang menguasai bidang keperawatan dan teknologi informasi sevara terpadu, masih minimnya infrastruktur untuk menerapkan sistem informasi di dunia pelayanan, dan masih rendahnya minat para perawat di bidang teknologi informasi keperawatan. Kualitas atau mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit bergantung kepada kecepatan, kemudahan, dan ketepatan dalam melakukan tindakan keperawatan yang berarti juga pelayanan keperawatan bergantung kepada efisiensi dan efektifitas struktural yang ada dalam keseluruhan sistem suatu rumah sakit. Pelayanan rumah sakit setidaknya terbagi menjadi dua bagian besar yaitu pelayanan medis dan pelayanan yang bersifat non-medis, sebagai contoh pelayanan medis dapat terdiri dari pemberian obat, pemberian makanan, asuhan keperawatan, diagnosa medis, dan lain-lain. Ada pun pelayanan yang bersifat non medis seperti proses penerimaan, proses pembayaran, sampai proses administrasi yang terkait dengan klien yang dirawat merupakan bentuk pelayanan yang tidak kalah pentingnya. Pelayanan yang bersifat medis khususnya di pelayanan keperawatan mengalami perkembangan teknologi informasi yang sangat membantu dalam proses keperawatan dimulai dari pemasukan data secara digital ke dalam komputer yang dapat memudahkan pengkajian selanjutnya, intervensi apa yang sesuai dengan diagnosis yan sudah ditegakkan sebelumnya, hingga hasil keluaran apa yang diharapkan oleh perawat setelah klien menerima asuhan keperawatan, dan

semua proses tersebut tentunya harus sesuai dengan NANDA, NIC, dan NOC yang sebelumnya telah dimasukkan ke dalam database program aplikasi yang digunakan. Namun ada hal yang perlu kembali dipahami oleh semua tenaga kesehatan yang menggunakan teknologi informasi yaitu semua teknologi yang berkembang dengan pesat ini hanyalah sebuah alat bantu yang tidak ada gunanya tanpa intelektualitas dari penggunanya dalam hal ini adalah perawat dengan segala pengetahuannya tentang ilmu keperawatan. Contoh nyata yang dapat kita lihat di dunia keperawatan Indonesia yang telah menerapkan sistem informasi yang berbasis komputer adalah terobosan yang diciptakan oleh kawan-kawan perawat di RSUD Banyumas. Sebelum menerapkan sistem ini hal pertama yang dilakukan adalah membakukan klasifikasi diagnosis keperawatan yang selama ini dirasa masih rancu, hal ini dilakukan untuk menghilangkan ambiguitas dokumentasi serta memberikan manfaat lebih lanjut terhadap sistem kompensasi, penjadwalan, evaluasi efektifitas intervensi sampai kepada upaya identifikasi error dalam manajemen keperawatan. Sistem ini mempermudah perawat memonitor klien dan segera dapat memasukkan data terkini dan intervensi apa yang telah dilakukan ke dalam komputer yang sudah tersedia di setiap bangsal sehingga akan mengurangi kesalahan dalam dokumentasi dan evaluasi hasil tindakan keperawatan yang sudah dilakukan. PENGARUH BUDAYA, AGAMA DAN KEPERCAYAAN TERHADAP KESEHATAN ANAK Keyakinan keluarga tentang kesehatan, pola didik dan pola asuh terhadap anak juga dipengaruhi oleh nilai budaya, agama dan moral yang dianutnya. Ini akan mempengaruhi kesehatan anak bahkan dimulai sejak ia masih di dalam kandungan ibunya. Setiap keluarga memiliki pandangan yang berbeda dalam membesarkan anaknya, seperti yang memiliki perbedaan budaya antara keluarga dengan budaya minang dan keluarga berbudaya batak. Hal-hal yang ditanamkan terhadap anak-anak mereka berbeda sehingga pola hidup dan kesehatan anaknya juga berbeda misalnya dalam kesehatan emosional. KEPERAWATAN PEDIATRIK Pediatrik berkenaan dengan kesehatan bayi, anak remaja, , pertumbuhan dan perkembagannya dan kesempatannya untuk mencapai potensi penuh sebagai orang dewasa.Lebih dari seabad yang lalu ilmu pediactrik muncul sebagai kekhususan dalam menanggapi meningkatan kasadaran bahwa problem kesehatan anak berbeda dengan orang dewasa dan bahwa respon anak terhadap sakit dan stres berdeda beda sesuai dengan umur FILOSOFI KEPERAWATAN ANAK KEPERAWATAN ANAK konsisten dengan pengertian keperawatan merupakan keyakinan atau pandangan yang dimiliki perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan pada anak yang berfokus pada keluarga, pencegahan terhadap trauma dan manajemen kasus. TUJUAN DAN MANFAAT Pencapaian derajat kesehatan yang tinggi bagi anak sebagai satu bagian dari sistem pelayanan kesehatan di keluarga. Meningkatkan kepuasaan anak dan keluarga Mengurangi fragmentasi pemberian asuhan PERAWATAN BERFOKUS PADA KELUARGA (FAMILY CENTERED CARE) Keluarga sebagai suatu kehidupan yang konstan dan individu mendukung, menghargai dan

meningkatkan kekuatan dan kompetensi dalam memberikan asuhan terhadap anak (Johson, 1989). System pelayanan dan personel harus juga mendukung, menghargai, mendorong dan meningkatkan kekuatan dan kompetensi keluarga melalui pemberdayaan pendekatan dan pemberian bantuan efektif (Duns dan Trivette, 1996) Sebagai seorang perawat, kita harus mampu memfasilitasi keluarga dalam pemberian tindakan keperawatan langsung, pemberian pendidikan kesehatan pada anak, memperhatikan bagaimana kehidupan social, budaya dan ekonomi keluarga sehingga dapat membantu mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari keluarga tersebut dalam memberikan pelayanan keperawatan. Perawat juga melibatkan keluarga dalam hal ini yaitu dengan cara mengajak kerjasama/ melibatkan dan mengajarkan pada keluarga tentang perawatan anak ketika sehat maupun sakit. Konsep dasar Family Center Care Enabling: melibatkan keluarga (memampukan, memberdayakan, dan kemitraan) Empowering : pengambil keputusan ATRAUMATIC CARE Tujuan utama : DO NO HARM yaitu : Mencegah/mengurangi anak berpisah dari orang tua Perlindungan Mencegah/mengurangi trauma fisik dan nyeri PRIMARY NURSING Mendukung pelaksanaan askep anak Menjadikan asuhan yang konsisten dan berfokus pada keluarga sebagai komponen integral pada perencanaan dan pelaksanaan. MANAJEMEN KASUS (CASE MANAGEMENT) Sistem pemberian asuhan yang seimbang antara biaya dan kualitas. PERAN KELUARGA DALAM KEPERAWATAN ANAK KELUARGA: Suatu sistem terbuka terdapat sub / komponen, memiliki tujuan/fungsi, interrelasi dan interdependensi, dipengaruhi oleh system luar. FUNGSI KELUARGA: Merawat fisik anak Mendidik anak untuk menyesuaikan dengan kultur Bertanggung jawab terhadap kesejahteraan anak secara psikologis/emosional. ELEMEN KUNCI FAMILY-CENTERED CARE Mengenal bahwa keluarga bersifat menetap pada kehidupan anak, sedangkan personil dan sistem pelayanan berfluktuasi Memfasilitasi kolaborasi orang tua dan perawat pada semua tingkat asuhan Menghormati keanekaragaman ras, budaya, dan sosio ekonomi dalam keluarga Mengenali kekuatan keluarga dan perorangan serta menghormati perbedaan Mendorong dan memfasilitasi dukungan keluarga dan jaringan kerja Mengerti dan memasukkan kebutuhan perkembangan bayi, anak, remaja dan keluarga dalam sistem asuhan. Menerapkan sistem asuhan yang dpt dilaksanakan secara fleksibel

PRINSIP PERAWATAN ANAK Perawat tidak boleh mengabaikan ketrampilan & pengetahuan orang tua anak Perawat tidak boleh mengabaikan kepercayaan anak Perawat harus selalu memperhatikan keadaan kesehatan mental, spiritual dan fisiknya sendiri Perawat juga tidak boleh mengabaikan kemampuannya sendiri untuk mengubah sesuatu menjadi lebih baik PERAN PERAWAT PEDIATRIK Hubungan terapeutik Diterapkan dalam berkomunikasi dengan anak dan keluarga, bersifat empati dan professional dengan memisahkan peran perawat dari keluarga tanpa mengganggu kenyamanan anak dan keluarga Family advocacy/caring Advokasi meliputi jaminan bahwa keluarga akan mengetahui yankes yang tersedia, diinformasikan tentang prosedur dan pengobatannya secara benar. Caring berarti memberikan yankes secara langsung pada anak. Disease prevention/Health promotion Melakukan dan mengajarkan keluarga tentang bagaimana cara mencegah penyakit baik dari luar maupun dari dalam tubuh. Health education Memberikan pendidikan kesehatan yang bertujuan membantu orangtua dan anak memahami suatu pengobatan medis, mengevaluasi pengetahuan anak tentang kesehatan mereka, memberi pedoman antisipasi Support/counseling Memberikan perhatian pada kebutuhan emosi melalui dukungan dan konseling. Dukungan diberikan dengan mendengar, menyentuh dan kehadiran fisik untuk memudahkan komunikasi nonverbal. Sedangkan, konseling dalam bentuk pertukaran pendapat, melibatkan dukungan, penyuluhan teknik untuk membantu keluarga mengatasi stress dan mendorong ekspresi perasaan dan pikiran. Yang membantu keluarga mengatasi stress dan memampukan untuk mendapatkan tingkat fungsi yang lebih tinggi. Pengambil keputusan etis Prinsipnya, tindakan yang ditentukan adalah yang paling menguntungkan klien, dan sedikit bahayanya terhadap segala aspek yang berhubungan denagn pelaksanaan asuhan keperawatan. Seperti dalam kerangka kerja mesyarakat, standar praktik professional, hukum, aturan lembaga, tradisi religius, sistem nilai keluarga dan nilai pribadi perawat. Coordination/Collaboration bekerjasama dengan spesialis / profesi lain dalam mengatasi kesehatan anak. Peran restoratif Keterlibatan perawat secara langsung dalam aktivitas pemberi asuhan yang dilakukan atas daar konsep teori yang berfokus pada pengkajian dan evaluasi status yang berkesinambungan. Perawat punya tanggung jawab dan tanggung gugat terhadap tindakannya. Research melakukan praktik berasarkan penelitian, menerapkan metode inovatif dalam memberikan intervensi pada anak, melakukannya berdasarkan penelitian dan sesuai rasional. Health care planning

menggunakan perencanaan & metode yang tepat untuk perawatan anak. Perawat melibatkan penyediaan layanan yang baru, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan Trend masa depan Ada beberapa hal yang dituntut : Pengobatan penyakit (kuratif) menjadi promosi kesehatan (promotif) Filosofi asuhan berpusat pada keluarga bukan pilihan melainkan kewajiban Perawat dituntut meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan, komputer, membuktikan keunikan peran mereka dan dituntut lebih mandiri dan melebihi lingkungan asuhan terdahulu. BERPIKIR KRITIS Berpikir kritis adalah suatu proses berpikir sistematik yang penting bagi seseorang perawatt professional.berpikir kritis akan membatu professional dalm memenuhi kebutuhan klien.Berpikir kritis adalah berpikir dengan tujuan dan mengarah-arahkan yang membatu indivudu membuat penilaian berdasarkan data bukan perkiraan.Berpikir kritis berdasarkan metode penyelidikan ilmiah yang juga menjadi akar dalam mengambil keputusan PROSES KEPERAWATAN I. PENGKAJIAN Proses yang berkesinambungan, diterapkan di seluruh tahap penyelesaian masalah. Dasar pengambilan keputusan. Terdiri dari pengumpulan, pengelompokan, dan analisis data. Dilakukan secara menyeluruh (bio-psiko-sosiokultural-spiritual). II. DIAGNOSA KEPERAWATAN Adl keputusan klinis tentang respon individu, keluarga, atau komunitas terhadap masalah kesehatan/proses hidup yang aktual maupun potensial (NANDA). Perawat menginterpretasi dan membuat keputusan tentang data yang telah dikumpulkan. Komponen: PES (problem, etiology, symptom). Jenis: aktual, risiko, potensial. III. PERENCANAAN Prinsip: 1. Memahami konsep dan karakterisik tum-bang anak. 2. Memahami hubungan anak dengan pengasuh 3. Melibatkan keluarga 4. Orientasi 5. Menciptakan lingkungan yang kondusif 6. Meminimalkan trauma fisik 7. Universal precaution 8. Membantu keperluan pasien IV. IMPLEMENTASI Menerapkan intervensi yang dipilih dan melakukan umpan balik. Prinsip: 1. Jangan menawarkan pilihan apakah bersedia dilakukan tindakan atau tidak 2. Beri kesempatan anak memilih tempat dilakukannya tindakan 3. Jangan membohongi anak bahwa tindakan yang akan dilakukan tidak menimbulkan rasa sakit 4. Jelaskan tindakan secara singkat dan sederhana

5. Perkenankan anak untuk mengeluh/menangis jika terasa sakit 6. Jangan berbisik kepada perawat lain atau keluarga di depan anak 7. Berpikir positif dan asertif 8. Waktu tindakan sesingkat mungkin 9. Libatkan keluarga. V. EVALUASI Perawat mengumpulkan, mensortir, dan menganalisis data untuk menentukan apakah tujuan tercapai, perlu modifikasi rencana, perlu alternatif. VI. DOKUMENTASI Pengkajian, identifikasi masalah, perencanaan, implementasi, dan evaluasi dilakukan dengan adanya bukti tertulis tentang pencapaian hasil, apakah ada kemajuan dalam proses keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA Hidayat, A Aziz Almull .2005. Pengatar Ilmu keperawatan Anak jilid 1. Jakarta: Salemba Nelson, Waldo E. 2000. Ilmu Kesehatan Anak volume 1. Jakarta: EGC Rochemi, Hemi.NS 2009. perspektif keperawatan anak. http://www.scribd.com/doc/14365045/PERSPEKTIF-KEPERAWATAN-ANAK (on-line/ diakses tanggal 11 Februari 2010) Supartini,Yeni. 2004. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak 1. Jakarta: EGC Wong, Donna L. 2008. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC http://aryuliasunarti.blogspot.com/2010/04/perspektif-keperawatan-anak.html

Rabu, 27 Oktober 2010


PERSPEKTIF KEPERAWATAN ANAK

MATERI KKA By. Ns. Wahdaniah, S. Kep

A. PERKEMBANGAN KEPERAWATAN ANAK Dewasa ini keperawatan anak telah mengalami pergeseran yang sangat mendasar. Anak sebagai klien tidak lagi dipandang sebagai miniatur orang dewasa, melainkan sebagai mahluk unik yang memiliki kebutuhan spesifik dan berbeda dengan orang dewasa. Setiap perawat perlu memahami perspektif keperawatan anak sehingga dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada anak selalu berpegang pada prinsip perawatan anak. Perspektif keperawatan anak merupakan landasan berpikir bagi seorang perawat anak dalam melaksanakan pelayanan keperawatan terhadap klien anak maupun keluarganya. Isi bahasan perspektif keperawatan anak mencakup perkembangan keperawatan anak, falsafah keperawatan anak, dan peran perawat anak. Untuk dapat memahami perkembangan keperawatan anak, kita diajak untuk mempelajari evolusi kesehatan anak dan keperawatan anak. Sebelum abad ke-19 : kesehatan anak kurang mendapat perhatian dari berbagai pihak,jumlah tenaga kesehatan terutama dokter dan bidan sangat sedikit sementara epidemic terjadi dibanyak tempat dan tidak ada kontrol Akhir abad ke-19 : dikatakan sebagai abad kegelapan untuk kesehatan anak ( the dark age of paediatric). Pertengahan thn 1800 : mulai ada studi kesehatan anak yang dilakukan oleh seorang tokoh kesehatan anak, yaitu Abraham Jacobi yang melakukan penyelidikan tentang kesehatan anak, khususnya pada tunawisma dan buruh. Upayanya didukung oleh seorang wanita yang bernama Lilian Wald yang mengembangkan pelayanan keperawatan yang juga berfokus pada pelayanan social, program sosial, dan pendidikan khusus untuk orang tua dalam hal perawatan anak sakit. Awal tahun 1900 : perawatan isolasi berkembang sejak ditemukannya penyakit menular. Orang tua dilarang untuk mengunjungi dan membawa mainan ke RS. Akan tetapi, pada Thn 1940, ditemukan efek psikologis dari tindakan isolasi yaitu anak menjadi stress selama di RS, begitupun dengan orang tuanya. Akhirnya, orientasi pelayanan keperawatan anak berubah menjadi rooming in, yaitu orang tua boleh tinggal bersama anaknya di RS selama 24 jam.

B. FALSAFAH DAN PARADIGMA KEPERAWATAN ANAK 1. FALSAFAH KEPERAWATAN ANAK Falsafah keperawatan anak merupakan keyakinan atau pandangan yang dimiliki perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan pada anak yang berfokus keluarga (family centered care), pencegahan terhadap trauma (atraumatic care), dan manajemen kasus. a. Perawatan berfokus pada keluarga (family centered care) Keluarga merupakan unsur penting dalam perawatan anak mengingat anak bagian dari keluarga. Kehidupan anak dapat ditentukan oleh lingkungan keluarga, untuk itu, keperawatan anak harus mengenal keluarga sebagai tempat tinggal atau sebagai konstanta tetap dalam kehidupan anak. Keperawatan anak perlu memperhatikan kehidupan social, budaya, dan ekonomi dari keluarga dapat menentukan pola kehidupan anak selanjutnya factor-faktor tersebut sangat menentukan perkembangan anak dalam kehidupan dimasyarakat. Kehidupan anak juga sangat ditentukan oleh bentuk dukungan keluarga, bila dukungan keluarga sangat baik, maka pertumbuhan dan perkembangan anak relatif stabil, tetapi apabila dukungan keluarga pada anak kurang baik, maka anak akan mengalami hambatan pada dirinya yang dapat mengganggu psikologis anak. Dengan demikian, dalam pemberian asuhan keperawatan pada anak, diperlukan keterlibatan keluarga. Seringkali didapatkan dampak cukup berarti pada anak apabila ditinggal sendiri tanpa ada yang menemani seperti kecemasan bahkan menjadi stres yang apabila dibiarkan maka upaya penyembuhan sulit tercapai. Kerjasama antara anak dan orang tua dapat terjalin hingga program perawatan dirumah melalui peningkatan kemampuan dan keterampilan dalam perawatan anak seperti tindakan mengukur suhu ketika panas dan dalam pemberian kompres dingin/hangat. b. Atraumatic care

Atraumatic care yang dimaksud disini adalah perawatan yang tidak menimbulkan trauma pada anak dan keluarga. Perawatan tersebut difokuskan dalam pencegahan terhadap trauma. Perhatian khusus kepada anak sebagai individu yang masih dalam usia tumbuh kembang sangat penting karena masa anak merupakan proses menuju kematangan. Kalau proses menuju kematangan tersebut terdapat hambatan atau gangguan maka anak tidak akan mencapai kematangan. Beberapa kasus yang sering diumpai di masyarakat seperti peristiwa yang dapat menimbulkan trauma pada anak adalah cemas, marah, nyeri dan lain-lain. Apabila hal tersebut dibiarkan dapat menyebabkan dampak psikologis pada anak dan tentunya akan menganggu perkembangan anak. Dengan demikian atraumatic care diberikan kepada anak dan keluarga dengan mengurangi dampak psikologis dari tindakan keprerawatan yang diberikan dengan melihat prosedur tindakan atau aspek lain yang kemungkinan berdampak adanya trauma. Beberapa prinsip yang dapat dilakukan oleh perawat, antara lain: 1) Menurunkan atau mencegah dampak perpisahan dari keluarga 2) Meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan anak 3) Mencegah atau mengurangi cedera ( injury) dan nyeri (dampak psikologis) 4) Tidak melakukan kekerasan pada anak 5) Modifikasi lingkungan fisik c. Manajemen kasus Pengelolaaan kasus secara komprehensif adalah bagian utama dalam pemberian asuhan keperawatan secara utuh, melalui upaya pengkajian, penentuan diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.Pendekatan psikologis yang dilakukan yang mempersiapkan secara fisik, memberi kesempatan pada orang tua dan menciptakan lingkungan yang nyaman bagi anak dan orang tua. 2. PARADIGMA KEPERAWATAN ANAK Paradigma keperawatan anak merupakan suatu landasan berfikir dalam penerapan ilmu keperawatan anak. Tanpa batasan dan lingkup keperawatan tidak mudah dipahami secara jelas. Landasan berfikir

tersebut terdiri dari 4 komponen, yaitu manusia dalam hal ini adalah anak, keperawatan, sehat sakit, keperawatan dan lingkungan yang dapat digambarkan sebagai berikut:

Manusia (anak) Sehatsakit Lingkungan

Keperawatan

a. Anak Dalam keperawatan anak yang menjadi individu (klien) dalam hal ini adalah anak, anak diartikan sebagai seseorang yang berusia kurang dari 18 tahun dalam masa tumbuh kembang dengan kebutuhan khusus baik kebutuhan fisik, psikologis, social dan spiritual. Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang perubahan perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Masa anak merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari bayi (0-1 tahun) , usia bermain/ toddler ( 1-2,5 tahun), pra sekolah (2,5 5 tahun), usia sekolah (5-11 tahun) hingga remaja (11-18 tahun). Rentang ini berbeda antara satu dengan yang lain mengingat latarbelakang anak berbeda. Pada anak terdapat rentang perubahan tumbang yaitu rentang cepat dan lambat. Dalam proses berkembang anak memiliki ciri fisik, kognitif, konsep diri, pola koping dan perilaku sosial. Respons emosi terhadap penyakit sangat bervariasi tergantung pada usia dan pencapaian tugas perkembangan anak. Beberapa respon ini dapat dilihat pada anak, mulai dari perkembangan bayi hingga remaja. Misalnya, saat terjadi perpisahan dengan orang tua, maka respon yang

dapat muncul yaitu menangis, berteriak, menarik diri, dan menyerah pada situasi yaitu diam. Karena anak merupakan anggota unit keluarga dalam suatu kultur masyarakat, maka keperawatan anak tidak boleh hanya memperhatikan anak itu sendiri, akan tetapi kultur keluarga dan masyarakat harus diperhatikan seperti masalah pengetahuan keluarga, budaya, lingkungan dan lain-lain. Dalam memberikan pelayanan keperawatan, anak selalu diutamakan. Pemberian prioritas ini oleh karena beberapa perbedaan antara anak dan dewasa, antaranya :pertama, struktur fisik anak dan dewasa berbeda, mulai dari ukuran besarnya hingga aspek kematangan fisik. Demikian juga ketahanan fisik anak lebih rentang. Kedua, proses fisiologis anak dengan dewasa mempunyai perbedaan dalam fungsi tubuh. Ketiga, kemampuan berfikir anak kurang sistematis dibanding orang dewasa. Keempat, tanggapan terhadap pengalaman masa lalu pada anak cenderung kepada dampak psikologis yang berdampak kepada tumbang anak. b. Sehat sakit Rentang sehat sakit merupakan batasan yang dapat diberikan bantuan pada pelayanan keperawatan pada anak. Dalam status kesehatan yang meliputi sejahtera, sehat optimal, sehat, sakit, sakit kronis dan meninggal. Rentang ini suatu alat ukur dalam menilai status kesehatan yang bersifat dinamis dalam setiap waktu, selama dalam rentang tersebut anak membutuhkan bantuan perawat baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti apabila anak berada dalam rentang sehat, maka upaya perawat untuk meningkatkan derajat kesehatan sampai mencapai taraf kesejahteraan baik fisik, social, maupun spiritual. Demikian sebaliknya, apabila kondisi anak dalam kondisi kristis atau meninggal maka perawat selalu memberikan bantuan dan dukungan pada keluarga. Batasan sehat secara umum dapat diartikan suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan social serta tidak hanya bebas dari penyakit dan kelemahan ( WHO,1974 ). c. Lingkungan Lingkungan dalam paradigma keperawatan anak yang dimaksud adalah lingkungan internal dan lingkungan eksternal yang berperan

dalam perubahan status kesehatan anak, seperti, keturunan, jenis kelamin, emosi dan lain-lain. d. Keperawatan Komponen ini merupakan bentuk pelayanan keperawatan yang diberikan kepada anak dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan secara optimal dengan melibatkan keluarga seperti adanya dukungan, pendidikan kesehatan, dan upaya dalam rujukan ketenaga kesehatan dalam program perawatan anak. C. PRINSIP PRINSIP KEPERAWATAN ANAK 1. Anak bukan miniatur orang dewasa tetapi individu yang unik 2. Anak adalah sebagai individu yang unik dan mempunyai kebutuhan sesuai dengan tahap perkembangannya. 3. Pelayanan keperawatan anak berorientasi pada upaya pencegahan penyakit dan peningkatan derajat kesehatan, bukan hanya mengobati anak yang sakit. 4. keperawatan anak merupakan disiplin ilmu kesehatan yang berfokus kepada kesejahteraan anak sehingga perawat bertanggung jawab secara komprehensif dalam memberikan asuhan keperawatan anak. 5. praktek keperawatan anak mencakup kontarak dengan anak dan keluarga untuk mencegah, mengakaji, mengintervensi, dan meningktkan kesejahteraan hidup, dengan menggunakan proses keperawatan yang sesuai dengan aspek moral ( etik) dan aspek hukum (legal). 6. tujuan praktek keperawatan anak dan remaja adalah untuk meningkatkan maturasi atau kematangan yang sehat pada anak dan remaja sebagai mahluk biopsikososial dan spiritual dalam konteks keluarga dan masyarakat. 7. pada masa yang akan datang, kecendrungan keperawatan anak berfokus kepada ilmu tumbuh kembang anak. D. PERAN PERAWAT DALAM KEPERAWATAN ANAK 1. Care Giver 2. Sebagai advocate keluarga 3. Pencegah penyakit 4. Pendidikan

5. 6. 7. 8.

Konseling Kolaborasi Pengambil keputusan etik Peneliti

E. LINGKUP PRAKTEK KEPERAWATAN ANAK Lingkup praktek merupakan hak dan otonomi dalam melaksanakan asuhan keperawatan yang berdasarkan atas kemampuan, tingkat pendidikan, dan dalam batas profesi. Sedangkan praktik keperawatan itu sendiri merupakan tindakan mendiri perawat profesional dengan melalui kerjasama secara kolaboratif dengan klien dan tenaga kesehatan dalam memberikan asuhan keperawatan. Harus berdasarkan kebutuhan dasar anak yaitu kebutuhan akan tumbuh kembang anak seperti asuh, asih, asah. Kebutuhan asuh Merupakan kebutuhan fisik yang harus dipenuhi dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Ex : gizi/nutrisi, pencegahan penyakit, lingkungan sehat, pakaian, rekreasi, dll. Kebutuhan asih Kebutuhan ini berdasarkan adanya pemberian kasih sayang pada anak atau memperbaiki psikologis anak. Kebutuhan asah Kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi pada anak, untuk mencapai tumbang yang optimal dengan memberikan stimulasi mental sejak dini.

KONSEP BERMAIN DAN TOILET TRAINING PADA ANAK A. KONSEP BERMAIN 1. Defenisi bermain

2. Fungsi bermain pada anak 3. Tujuan bermain 4. Factor yang mempengaruhi aktifitas bermain 5. Klasifikasi bermain 6. Bermain untuk anak yang dirawat di RS B. KONSEP TOILET TRAINING 1. Defenisi toilet training 2. Cara toilet training pada anak 3. Pengkajian masalah toilet training 4. Dampak toilet training

Diposkan oleh Ners Corner di 06:01 http://wahdaniah-ns.blogspot.com/2010/10/perspektif-keperawatan-anak.html

Perspektif Keperawatan Anak

KESEHATAN ANAK Kesehatan merupakan fenomena kompleks yang didefenisikan sebagai suatu keadaan kesejahteraaan fisik, mental dan social yang komplet dan bukan semata-mata terbebas dari

penyakit.( WHO ). Indikator yang perlu diperhatikan adalah:


Mortalitas Morbiditas

Dimana, informasi tentang keduanya memberikan informasi tentang:


Penyebab kematian dan kesakitan Kelompok usia berisiko tinggi terhadap gangguan/penyakit tertentu Kemajuan pengobatan dan pencegahan Bidang atau area tertentu dalam konseling kesehatan

Read more: http://powerpointku.blogspot.com/2011/12/perspektif-keperawatananak.html#ixzz24j9iVnEI

Senin, 05 Desember 2011


Perspektif Keperawatan Anak

PERSPEKTIF KEPERAWATAN ANAK


Ns Nyimas Heny Purwati, Mkep, Sp. Kep. An KESEHATAN ANAK Kesehatan merupakan fenomena kompleks (WHO) Indikator : Mortalitas Morbiditas BEBERAPA FAKTOR YANG TERKAIT DENGAN KESEHATAN ANAK Masalah-masalah kesehatan Penyakit infeksi Undernutrition Kecelakaan dan keracunan Penyakit menahun Penyajit yang memerlukan tindakan operasi Masalah yang sering terjadi pada setiap tingkat perkembangan FILOSOFI KEPERAWATAN ANAK Pencapaian derajat kesehatan yang tinggi baik anak sebagai satu bagian dari sistem pelayanan kesehatan di keluarga Tujuan utama keperawatan anak : optimal tumbuh kembang Pencapaian tergantung kondisi kesehatan dan tahapan tumbang Sangat individual bagi tiap-tiap anaK KUNCI FILOSOFI KEPERAWATAN ANAK FAMILY CENTERED CARE Keluarga sebagai suatu kehidupan yang konstan dan individu mendukung, menghargai dan meningkatkan kekuatan dan kompetensi dalam memberikan asuhan terhadap anak (Johson, 1989) Perlunya kerjasama antara orangtua dan tim kesehatan Prinsip pelayanan keperawatan pada anak harus berfokus pada anak dan keluarga, untuk memenuhi kebutuhan anak dan keluarga Konsep dasar family center care Enabling : melibatkan keluarga Empowering : pengambil keputusan

ATRAUMATIC CARE Bukan satu bentuk intervensi yang nyata terlihat, tetapi memberi perhatian pada apa, siapa, dimana, mengapa, dan bagaimana prosedur dilakukan pada anak Tujuan utama : DO NO HARM yaitu : 1. Mencegah/meminimalkan perpisahan 2. Meningkatkan perasaan kendali diri/perlindungan

3. Mencegah/mengurangi trauma fisik dan nyeri PRIMARY NURSING Mendukung pelaksanaan askep anak Menjadikan asuhan yang konsisten dan berfokus pada keluarga sebagai komponen integral pada perencanaan dan pelaksanaan CASE MANAGEMENT Sistem pemberian asuhan yang seimbang antara biaya dan kualitas BERMAIN Merupakan bagian integral dari intervensi keperawatan, karena bermain dipandang sebagai pendekatan yang paling sesuai kepada anak untuk setiap tindakan keperawatan yang dapat memenuhi kebutuhan anak ARTI BERMAIN BAGI ANAK Anak belajar hal-hal yang tidak bisa diajarkan orang lain Cara untuk mengatasi ketegangan/stress Memberi kesempatan pada anak untuk bersosialisasi dan berkembang Anak lebih mengungkapkan dirinya dalam bermain PARADIGMA KEPERAWATAN Manusia (anak dan keluarga) Sehat Keperawatan Lingkungan

1. 2. 3. 4.

1. Manusia (anak dan keluarga Anak Individu berusia antara 0 sampai 18 tahun Dalam proses tumbuh kembang Mempunyai kebutuhan yang spesifik yang berbeda dengan orang dewasa Individu unik bukan orang dewasa mini harta/kekayaan orang tua Individu yang masih bergantung pada orang dewasa dan lingkungannya/sesuai tahapan tumbuh kembang HAK-HAK ANAK (DEKLARASI PBB) Bebas dari diskriminasi Berkembang secara fisik dan mental Mempunyai nama dan bangsa Mendapat gizi, rumah, rekreasi dan pelayanan kesehatan yang cukup Mendapat perawatan khusus jika mengalami cacat Menerima cinta, pengertian dan keamanan Menerima pendidikan dan mengembangkan kemampuannya Yang pertama mendapat pertolongan ketika ada bencana Dilindungi dari pengabaian, kekejaman dan eksploitasi Dididik dalam semangat persahabatan di tengah masyarakat KELUARGA Family/keluarga sebagai sistem Orangtua bertanggung jawab terhadap anak

Keluarga memiliki tipe yang berbeda, sehingga pola asuh beda Anak adalah bagian dari keluarga

2. Lingkungan Adalah semua kondisi yang berada di sekitar anak dan keluarga yang selalu berinteraksi dan akan mempengaruhi sistem tersebut a. Eksternal Nutrisi, orangtua, saudara kandung, sanak saudara, disiplin, maturasi, biologik, sekolah, kelompok, penerimaan sosial, identitas rasial agama, kultur, pelayanan kesehatan, bermain b. Internal Genetik, jenis kelamin, emosi, predisposisi atau resistensi terhadap penyakit 3. Sehat Suatu kondisi dari sejahtera tinggi samapi sakit berat atau mati muda. Untuk mencapai optimal anak perlu asah, asih, dan asuh 4. Keperawatan Merupakan bagian integral dari sistem kesehatan yang bertujuan memberikan bantuan keperawatan kepada pasien menggunakan metode proses keperawatan Fokus utama adalah peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. Peran perawat dalam melakukan tiga tingkat pencegahan : Pencegahan primer : Promosi kesehatan Pencegahan penyakit Pencegahan kecelakaan

Penyuluhan, Bimbingan Antisipasi Pencegahan sekunder

Saat anak sakit, agar tidak terjadi komplikasi perawat memberikan askep langsung

Pencegahan tersier

Agar anak tetap bisa berfungsi dalam ketidakmampuan

Untuk mengoptimalkan tumbang anak, perawat mengemban berbagai peran mulai dari pembina hubungan terapeutik samapi dengan peneliti STANDAR KEPERAWATAN ANAK Membantu anak dan keluarga mencapai dan mempertahankan tingkat kesehatan yang optimal Membantu keluarga mencapai dan mempertahankan keseimbangan antara kebutuhan pertumbuhan personal anggota keluarga dan fungsi optimal dari keluarga Melakukan intervensi pada anak dan keluarga yang mempunyai resiko terserang penyaklit

Meningkatkan kondisi lingkungan agar terbebas dari bahaya sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara optimal Menanggulangi perubahan status kesehatan dan terjadinya pergeseran perkembangan yang optimal Memberikan intervensi dan terapi yang sesuai untuk tetap mampu melangsungkan hidup dan sembuh dari penyakit Membantu klien dan keluarga memahami, mengatasi situasi traumatik selama sakit PRINSIP PERAWATAN ANAK Perawat tidak boleh mengabaikan ketrampilan dan pengetahuan orang tua anak Perawat tidak boleh mengabaikan kepercayaan anak Perawat harus selalu memperhatikan keadaan kesehatan mental, spiritual dan fisiknya sendiri Perawat juga tidak boleh mengabaikan kemampuannya sendiri untuk mengubah sesuatu menjadi lebih baik PERAN KELUARGA DALAM KEPERAWATAN ANAK KELUARGA : Suatu sistem terbuka Terdapat sub/komponen, memiliki tujuan/fungsi Interrelasi dan interdependensi, dipengaruhi oleh sistem luar FUNGSI KELUARGA : Merawat fisik anak Mendidik anak untuk menyesuaikan dengan kultur Bertanggung jawab terhadap kesejahteraan anak secara psikologis/emosional ELEMEN KUNCI FAMILY-CENTERED CARE Mengenali kekuatan keluarga dan perorangan serta menghormati perbedaan Memfasilitasi kolaborasi orang tua dan perawat pada semua tingkat asuhan Menghormati keanekaragaman ras, budaya, dan sosio ekonomi dalam keluarga Mendorong dan memfasilitasi dukungan keluarga dan jaringan kerja Mengerti dan memasukkan kebutuhan perkembangan bayi, anak, remaja dan keluarga dalam sistem asuhan Menetapkan sistem asuhan yang dapat dilaksanakan secara fleksibel PERAN PERAWAT ANAK Family advocacy/caring Disease prevention/ health promotion Health eeducation Support/ counseling Therapeutik role Coordination/ collaboration Research Health care planning Diposkan oleh KELAS B RSJHK UMJ 2011-2012 di 08:07 http://programbrsjhk2011umj.blogspot.com/2011/12/perspektif-keperawatan-anak.html

Kamis, 18 Agustus 2011


perspektif keperawatan anak
TEORITIS 1. PERSPEKTIF KEPERAWATAN ANAK Perspektif keperawatan anak merupakan landasan berfikir bagi seorang perawatanak dalam melaksanakan pelayanan keperawatan terhadap klien anak maupun keluarga. A. Filosofi keperawatan Anak a. Perawatan Berfokus pada anak Keluarga merupakan unsur penting dalam perawatan anak, mengingat anak bagian dari keluarga. Kehidupan anak dapat ditentukan oleh lingkungan keluarga, untuk itu keperawatan anak harus mengenal keluargasebagai tempat tinggal atau sebagai konstanta tetap dalam kehidupan anak (Wong, perry, 2002 ) Perawat yang bertindak sebagai pemberi pelayanan kep hendaknya berfokus pada keluarga, dengan memperhatikan kemampuan dalam menentukan kekuatan dan kelemahan untuk dijadikan acuan dalam pemberian pelayanan keperawatan. Untuk itu dalam pemberian askep diperlukan keterlibatan krluarga. Hal ini sangat penting , mengingat anakselalu membutuhkan orang tua selama di rumah sakit. Perawat dengang menfasilitasi keluarga dapat membantu proses penyembuhan pada anak yang sakit selama di Rumah sakit. b. Atraumatic Care Atraumatic Care adalah perawatan yang tidak menimbulkan adanya trauma pada anak dan keluarga. AC sebagai bentuk perawatan terapeutik dapat diberikan kepada anak dan kelurga dengan mengurangi dampak psikologis dari tindakan kep yang diberikan, seperti memperhatikan dampak tindakan yang diberikan dgn melihat prosedur tindakan yang kemungkinan berdampak adanya trauma 2. pertumbuhan dan perkembangan anak Pertumbuhan adalah suatu proses alamiah yang terjadi pada individu, yaitu secara bertahap anak akn semakin bertambah berat dan tinggi. Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar,gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian. Pertumbuhan terjadi secara simultan dengan perkembangan. Berbeda dengan pertumbuhan, perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf

pusat dengan organ yang dipengaruhinya, misalnya perkembangan sistem neuromuskuler, kemampuan bicara, emosi dan sosialisasi. Kesemua fungsi tersebut berperan penting dalam kehidupan manusia yang utuh. 2. Ciri-ciri dan Prinsip-prinsip Tumbuh Kembang Anak. Perkembangan menimbulkan perubahan.Perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan. Setiap pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi. Misalnya perkembangan intelegensia pada seorang anak akan menyertai pertumbuhan otak dan serabut saraf. Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan perkembangan selanjutnya. Setiap anak tidak akan bisa melewati satu tahap perkembangan sebelum ia melewati tahapan sebelumnya. Sebagai contoh, seorang anak tidak akan bisa berjalan sebelum ia bisa berdiri. Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda. Sebagaimana pertumbuhan, perkembangan mempunyai kecepatan yang berbedabeda, baik dalam pertumbuhan fisik maupun perkembangan fungsi organ dan perkembangan pada masing-masing anak. Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan. Pada saat pertumbuhan berlangsung cepat, perkembangan pun demikian, terjadi peningkatan mental, memori, daya nalar, asosiasi dan lain-lain. Anak sehat, bertambah umur, bertambah berat dan tinggi badannya serta bertambah kepandaiannya. Perkembangan mempunyai pola yang tetap. Perkembangan fungsi organ tubuh terjadi menurut dua hukum yang tetap, yaitu: a. Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah kepala, kemudian menuju ke arah kaudal/anggota tubuh (pola sefalokaudal).b. Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah proksimal (gerak kasar) lalu berkembang ke bagian distal seperti jari-jari yang mempunyai kemampuan gerak halus (pola proksimodistal). Perkembangan memiliki tahap yang berurutan. Tahap perkembangan seorang anak mengikuti pola yang teratur dan berurutan. Tahap-tahap tersebut tidak bisa terjadi terbalik, misalnya anak terlebih dahulu mampu membuat lingkaran sebelum mampu membuat gambar kotak, anak mampu berdiri sebelum berjalan dan sebagainya. Prinsip-prinsip Proses tumbuh kembang anak Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar. Kematangan merupakan proses intrinsik yang terjadi dengan sendirinya, sesuai dengan potensi yang ada pada individu. Belajar merupakan perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha. Melalui belajar, anak memperoleh kemampuan menggunakan sumber yang diwariskan dan potensi yang dimiliki anak. Pola perkembangan dapat diramalkan. Terdapat persamaan pola perkembangan bagi semua anak. Dengan demikian perkembangan seorang anak dapat diramalkan. Perkembangan berlangsung dari tahapan umum ke tahapan spesifik, dan terjadi berkesinambungan. Bermain dan hospitalisasi

3.

Bermain adalah hal yang sangat penting bagi anak-anak karena dengan bermain mereka dapat mengaktualisasikan dirinya sendiri. Selain itu penting juga bagi pertumbuhan dan perkembangan mereka karena bermain merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam periode perkembangan diri anak, meliputi dunia fisik, sosial dan sistem komunikasi. Para ahli berpendapat, anak-anak harus bermain agar mereka dapat mencapai perkembangan yang optimal. Seperti Herbert Spencer (Catron & Allen,1999) menyatakan bahwa anak senang bermain karena mereka mempunyai energi berlebih. Energi ini yang mendorong mereka melakukan aktivitas sehingga mereka terbebas dari perasaan tertekan. Hospitalisasi adalah bentuk stressor individu yang berlangsung selama individu tersebut dirawat dirumah sakit. Hospitalisasi merupakan pengalaman yang mengancam bagi individukarena stressor yang dihadapi dapat menimbulkan perasaan tidak aman, seperti:1. Lingkungan yang asing2. Berpisah dengan orang yang berarti3. Kurang informasi4. Kehilangan kebebasan dan kemandirian5. Pengalaman yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan , semakin sering berhubungandengan rumah sakit, maka bentuk kecemasan semakin kecil atau malah sebaliknya Perubahan yang terjadi akibat Hospitalisasi p e r u b a h a n k o n s e p d i r i . Akibat penyakit yang di derita atau tindakan seperti pembedahan, pengaruh citratubuh , perubahan citra tubuh dapat menyebabkan perubahan peran , idial diri, hargadiri dan identitasnya R e g r e s i Klien mengalami kemunduran ketingkat perkembangan sebelumnya atau lebih rendahdalam fungsi fisik, mental, prilaku dan intelektual. d e p e n d e n s i Klien merasa tidak berdaya dan tergantung pada orang lain. D i p e r s o n a l i s a s i Peran sakit yang dialami klien menyebabkan perubahan kepribadian, tidak realistis,t i d a k d a p a t m e n y e s u a i k a n d i r i d e n g a n l i n g k u n g a n , p e r u b a h a n i d e n t i t a s d a n s u l i t bekerjasama mengatasi masalahnya. T a k u t d a n A n s i e t a s Perasaan takut dan ansietas timbul karena persepsi yang salah terhadap penyakitnya. K e h i l a n g a n d a n p e r p i s a h a n Kehilangan dan perpisahan selama klien dirawat muncul karena lingkungan yangasing dan jauh dari suasana kekeluargaan, kehilangan kebebasan, berpisah denganpasangan dan terasing dari orang yang dicintai Komunikasi pada bayi anak dan keluarga Pengertian Komunikasi Komunikasi adalah pengiriman pesan atau tukar menukar informasi atau ide / gagasan ( Oxford Dictionary ). Komunikasi adalah suatu proses ketika informasi disampaikan kepada orang lain melalui symbol, tanda, atau tingkah laku ( Haber, 1987 ) Komunikasi bisa berbentuk komunikasi verbal, komunikasi nonverbal, dan komunikasi abstrak ( Champbell dan Glasper, 1995 ) Berkomunikasi dengan Bayi

4.

Belum dapat mengekspresikan perasaan dan pikirannya dengan kata-kata, sehingga bahasa nonverbal sering digunakan Mengungkapkan kebutuhan dengan tingkah laku dan bersuara yang dapat diinterpretasikan oleh orang sekitar Untuk bayi yang masih muda ( usia < 6 bulan ) Berespon positif terhadap kontak fisik yang lembut Perilaku menggerak gerakkan tangan, kaki, menendang yang merupakan rangsangan untuk memperoleh perhatian ( misalnya bayi ingin diberi sentuhan, didekap, digendong, diajak komunikasi dengan lembut ). Untuk bayi yang lebih tua ( usia > 6 bulan ) Berkomunikasi dengan Anak Balita Komunikasi verbal belum efektif, karena memang belum fasih dalam berbicara. Gunakan kata-kata simple, singkat, yang dikenal oleh anak karena anak hanya dapat menerima informasi secara harfiah. Beri pujian untuk hal-hal yang dicapai Sangat egosentris. Berkomunikasi dengan Anak Usia Sekolah Anak Usia 5-8 tahun Bila menemui masalah hanya percaya terhadap apa yang mereka lihat dan yang mereka ketahui tanpa memerlukan penjelasan secara mendalam. Anak tertarik pada aspek fungsional dari semua prosedur, objek dan aktivitas, mengapa, bagaimana, untuk apa prosedur tersebut dilakukan. Melihat hal tersebut, perlu menjelaskan setiap prosedur yang akan dilakukan Kalau perlu dengan alat yang ada peragakan cara penggunaannya, serta sebutkan fungsi peralatan yang ada. Anak usia tersebut, sangat memperhatikan keutuhan tubuhnya, oleh karena itu mereka peka terhadap sesuatu yang mengancam atau menyakitkan tubuhnya, sehingga beri pendekatan yang positif. komunikasi pada orang tua dalam keperawatan anak, klien bukan hanya anak tapi juga orang tua. Oleh sebab itu perawat harus memiliki komunikasi yang baik dangan orang tua. Dalam berkomunikasi danagan orang tua, perawat harus menggunakan komunikasi terapeutik. 5.

Kebutuhan gizi bagi bayi dan anak Nutrient adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh untuk tumbuh dan berkembang . jenis nutrient yang dibutuhkan tubuh adalah:
Protein: untuk pembentukan dan pemeliharaan jaringan tubuh. Beberapa sumber protein berkualitas tinggi Karbohidrat: memberikan energi kepada bayi Nukleotida: meningkatkan respons imun dan memperkecil kemungkinan terjadinya diare pada bayi. Sekalipun tubuh dapat memproduksi nukleotida, bayi-bayi tetap membutuhkan penambahan nukleotida untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhannya yang cepat. Makanan pada awal masa sapih bukan sumber nukleotida yang baik. Beberapa susu-lanjutan telah diperkaya dengan nukleotida. Susu-lanjutan premium dari Wyeth, yaitu PROMIL* GOLD, diperkaya dengan 5 nukleotida yang bermanfaat. Aa dan dha Asam arakhidonat (AA) dan asam dokosaheksaenoat (DHA) adalah dua asam lemak penting, khususnya dalam masa pertumbuhan otak bayi yang berlangsung sangat pesat selama 6 bulan kedua kehidupan. Pada periode ini, AA dan DHA berperan besar dalam perkembangan mental dan daya lihat bayi. Karena sebagian besar makanan sapihan mengandung sedikit AA dan DHA, susu-lanjutan yang diperkaya dengan AA dan DHA akan menjadi sumber penting dua asam lemak ini. PROMIL GOLD diperkaya dengan AA dan DHA yang siap pakai. Vitamin dan mineral Vitamin dan mineral sangat diperlukan agar tubuh dapat berfungsi dan tumbuh secara normal. Seperti:

-Vitamin C: membantu penyerapan zat besi. -Vitamin D: membantu kalsium masuk ke tulang. -Vitamin A: Vitamin ini membantu perkembangan daya lihat bayi. Juga berperan dalam proses kerja sel tulang -Vitamin B-kompleks: Semua vitamin B membantu produksi energi, dan membantu terbentuknya sel-sel otak bayi. Vitamin B1 dan niasin (salah satu anggota B-kompleks) membantu sel tubuh menghasilkan energi. Vitamin B6 membantu tubuh melawan penyakit dan infeksi. B12 digunakan dalam pembentukan sel darah merah. -Zat besi: mengangkut oksigen ke dalam sel. -Kalsium: Kalsium adalah mineral yang diperlukan dalam pertumbuhan tulang.

6.

Imunisasi Imunisasi adalah suatu cara untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau sakit ringan. (Depkes RI, 2005). Imunisasi adalah suatu tindakan untuk memberikan kekebalan dengan cara memasukkan vaksin ke dalam tubuh manusia, untuk mencegah penyakit. (Depkes-Kessos RI, 2000).
Tujuan dari diberikannya suatu imunitas dari imunisasi adalah untuk mengurangi angka penderita suatu penyakit yang sangat membahayakan kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian pada penderitanya. Beberapa penyakit yang dapat dihindari dengan imunisasi yaitu seperti hepatitis B, campak, polio, difteri, tetanus, batuk rejan, gondongan, cacar air, tbc, dan lain sebagainya. Macam-macam / jenis-jenis imunisasi ada dua macam, yaitu imunisasi pasif yang merupakan kekebalan bawaan dari ibu terhadap penyakit dan imunisasi aktif di mana kekebalannya harus didapat dari pemberian bibit penyakit lemah yang mudah dikalahkan oleh kekebalan tubuh biasa guna membentuk antibodi terhadap penyakit yang sama baik yang lemah maupun yang kuat. Teknik atau cara pemberian imunisasi umumnya dilakukan dengan melemahkan virus atau bakteri penyebab penyakit lalu diberikan kepada seseorang dengan cara suntik atau minum / telan. Setelah bibit penyakit masuk ke dalam tubuh kita maka tubuh akan terangsang untuk melawan penyakit tersebut dengan membantuk antibodi. Antibodi itu uumnya bisa terus ada di dalam tubuh orang yang telah diimunisasi untuk melawan penyakit yang mencoba menyerang.

7.

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Pengkajian fisik Dalam melakukan pengkajian fisik anak seringkali sulit diajak bekerja sama, untuk itu diperlukan sekali perawat melakukan teknik pendekatan yang tepat Pendekatan umum bagi perawat dalam melakukun pengkajian fisik bicara terlebih dahulu pada orang tua, tunjukkan bahwa kita ingin membina hubungan baik dengannya mulai kontak dengan anak dengan menceritakan hal yang lucu gunakan mainan sebagai pihak ketiga dalam bentuk yang lain sebagai titik masukberbicara pada anak apabila memungkinkan beri pilihan pada anak tentang tempat pemeriksaan yang diinginkan pemeriksaan yang menimbulkan trauma dilakukan paling akhir hindari pemeriksaan yang menimbulkan rasa takut \

PEMBAHASAN Perspektif keperawatan anak adalah landasan berfikir bagi perawat dalam melakukan asuhan keperawatan pada anak. Perspektif keperawatan anak meliputi filosofi, dan peran perawat. Pertumbuhan adalah bertambahnya tinggi dan bertambah berat badan anak. Sedangkan pekembangan adalah bertambahnya fungsi tubuh seperti kemampuan bicara, berjalan, dan sebagainya Bermain adalah kegiatan yang dapat membuat anak senang, bermain dapat membantu proses berfikir anak karna bermain dapat memicu perkembangan otak anak. Dengan bermain anak dapat belajar dan mengetahui hal-hal yang ada disekitarnya. Hospitalisasi adalah stressor yang dirasakan anak saat berada dirumah sakit, seperti merasa tidak betah dirumah sakit, tidak nyaman dengan kondisi rumah sakit. Dalam melakukan asuhan keperawatan hal ini harus diminimalisasi, agar proses kesembuhan anak akan lebih cepat Komunikasi adalah proses bertukar informasi antara stu indifidu denagn indifidu yang lain. Dalam melakkan komunikasi pada ank perawat harus memiliki teknik komunikasi yang tepat. Perawat harus menggunakan teknik komunikasi terpeitik saat berbicara dengan anak. Dalam melakukan komunikasi denagn anak, perawat harus melakukan hal-hal yang bisa membuat anak tertarik dan perawat dapat melakukan pengkajian fisik dengan baik. Gizi adalah zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh untuk tetap hidu dan menjalankan kehidupan. Anak sangat membutuhkan gizi yang cukup karna pada masa itu manusia berkembang dengan cepat. Zat gizi yang pertama kali yang diapatkan oleh bayi adalah asi. Dalam asi terdapat zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh. Seperti karbohidrat, protein, lemak,vitamin dan mineral dan sebagainya. Oleh sebab itu asi sebaiknya diberikan pada bayi secara exklusif. Imunisasi adalah pemberian suatu vaksin untuk mencegah terjadinya suatu penyakit. Imunisasi diberikan untuk meransang sistim imun agar memberikan kekebalan pada tubuh, hingga saat tubuh terpapar suatu penyakit sistim imun sudah siap untuk menhadapinya.

PENUTUP kesimpulan perspektif keperawatan anak adalah landasan berfikir yang digunakan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada anak. Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar,gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian. Pertumbuhan terjadi secara simultan dengan perkembangan. sedangkan Pertumbuhan adalah bertambahnya tinggi, berat dan luas Bermain adalah hal yang sangat penting bagi anak-anak karena dengan bermain mereka dapat mengaktualisasikan dirinya sendiri.Herbert Spencer (Catron & Allen,1999) Hospitalisasi adalah bentuk stressor individu yang berlangsung selama individu tersebutdirawat dirumah sakit. Hospitalisasi merupakan pengalaman yang mengancam bagi individukarena stressor yang dihadapi dapat menimbulkan perasaan tidak aman Komunikasi pengiriman pesan atau tukar menukar informasi atau ide / gagasan ( Oxford Dictionary ). unsur-unsur gizi utama wajib dalam makanan sapihan bernutrisi yaitu:Protein, karbohidrat, nukleotida, Aa dan dha, Vitamin dan mineral Imunisasi adalah suatu cara untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau sakit ringan. (Depkes RI, 2005). Dalam melakukan pengkajian fisik anak seringkali sulit diajak bekerja sama, untuk itu diperlukan sekali perawat melakukan teknik pendekatan yang tepat Saran Dalam melakukan asuhan keperawatan pada anak perawat haruslah memiliki cara berfikir yang beda dalam memberikan asuhan keperawatan. Karna ank memiliki sifat yang berbeda dengan orang dewasa. Perawat harus menggunakan teknik yang tepat dan menggunakan konunikasi yang tepat saat berhadapan dengan anak. Perwat harus bisa memberikan kenyamanan pada anak dan menghindari terjadinya stressor pada anak. Agar pelaksanaan asuhan keperawatan dapat berjalan dengan baik

DAFTAR PUSTAKA Musfiroh, Tadkiroatun. 2008. Cerdas Melalui Bermain : Cara Mengasah Multiple Intelligence pada Anak Sejak Usia Dini. Jakarta : PT. Grasindo Bodrova, Elena & Leong, Deborah.1996. Tools of The Mind : The Vygotskian Approach to Early Childhood Education. New Jersey: Merill Prentice Hall. Semiawan, C.R.2002. Belajar dan Pembelajaran dalam Taraf Usia Dini: Pendidikan Prasekolah dan Sekolah Dasar. Jakarta: PT Prenhallindo. Bates, Barbara. Buku Saku Pemeriksaan fisik dan Riwayat Kesehatan. Edisi 2. Jakarta: EGC 1997 Hidayat, Aiziz Alimul. Pengantar Ilmu keperawatan Anak. Buku 1. jakarta: Salemba Medika. 2006 Sacharin, Rosa M. Prinsip Keperawatan Pediatrik. Edisi 2. Jakarta: EGC. 1996 Wong, Donna L. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Edisi 4. jakarta: EGC. 2003 Diposkan oleh pipit fadhilla di 20:18 http://nursepipit.blogspot.com/2011/08/perspektif-keperawatan-anak.html

Kebutuhan Dan Perkembangan Anak


etiap anak mempunyai kebutuhan-kebutuhan khusus dan tahap-tahap bagaimana mereka bertumbuh. Karena itu setiap orang tua seharusnya mengerti apa yang menjadi kebutuhan dasar seorang anak dan prinsip perkembangannya. Hal ini penting karena anak adalah seorang individu, anak mengalami proses perkembangan, dan pendidikan harus disesuaikan dengan kemampuan anak. Seperti yang dikatakan oleh John Comenius, We must understand the child, so that our teaching may be designed to match his capacity. Kebutuhan Dasar Seorang Anak Setiap individu mempunyai kebutuhan dasar, termasuk anak-anak. Kebutuhan tersebut adalah kebutuhan fisik, psikologis, dan kerohanian atau spiritual. Dalam bagian ini secara khusus akan membahas kebutuhan dasar anak secara psikologis dan kerohanian. Kedua kebutuhan dasar ini akan berkaitan erat dengan pendidikan iman yang diberikan oleh orang tuanya. Kebutuhan Dasar Secara Psikologis Menurut Paul D. Meier, seorang anak akan berkembang menjadi orang dewasa yang matang dan bahagia, baik secara emosi dan rohani, jika berada di dalam keluarga yang sehat secara mental. Keluarga yang demikian akan memenuhi kebutuhan dasar anak secara psikologis secara konsisten, yaitu : kasih sayang, disiplin, konsistensi, teladan atau contoh, dan pimpinan. Kebutuhan Akan Rasa Aman Setiap anak sangat membutuhkan rasa aman. Dengan rasa aman yang diberikan khususnya oleh orang tuanya, seorang anak akan lebih mudah untuk mengekspresikan dirinya, berkembang dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Alkitab juga mengajarkan bahwa ketakutan adalah suatu keadaan emosi yang tidak nyaman dan merusak (lihat 1 Yoh 2:18). Rasa aman meliputi beberapa hal, yaitu rasa aman secara fisik, emosi, dan ekonomi. Keamanan secara fisik jelas akan di dapat jikalau seorang anak terlindung dari bahaya secara fisik, tempat tinggal yang memadai, dan pengawasan fisik yang cukup pada masa kanak-kanak awalnya. Keamanan secara emosi lebih mengacu pada kebutuhan anak akan kasih sayang dan kelekatan. Keamanan secara ekonomi, bukan berarti memberikan pakaian yang mahal, barang-barang berharga dan berbagai bentuk kemewahan. Tetapi kebutuhan ini seharusnya dimengerti bahwa anak sangat sensitif terhadap persaingan dalam unsur-unsur kehidupan yang bersifat materialistis. Dengan demikian, seorang anak yang aman secara ekonomi akan belajar bertumbuh dengan lebih menghargai/peka terhadap nilai-nilai kemurahan dan belas kasihan. Sebaliknya, tidak diharapkan bagi orang tua ketika memberikan rasa aman secara ekonomi ini akan jatuh pada kesalahan penanaman sistem nilai

materialisme.

Bagi orang tua, memberikan rasa aman bagi anak lebih dari sekedar membebaskan dari rasa takut. Maksudnya, ketika orang tua ingin anaknya mengerti tentang hukuman sebagai konsekuensi dan kesalahan, tidak berarti harus dimotivasi dengan rasa takut. Memotivasi anak dengan rasa takut atau menakut-nakuti anak seharusnya bukan hal yang primer untuk mendorong mereka melakukan hal yang baik. Sebaliknya anak yang tidak selalu dibayangi ketakutan, akan mudah didorong melakukan hal yang baik. Kebutuhan Akan Kasih Sayang Setiap orang tua mengetahui bahwa anak membutuhkan kasih sayang. Yang perlu diperhatikan adalah kadar kebutuhan setiap anak berbeda satu dengan yang lainnya. Anak yang satu membutuhkan kasih sayang yang lebih dari yang lain, walaupun tidak dapat mengekspresikan dengan jelas. Anak yang normal mempunyai kebutuhan kasih sayang yang berbeda dengan anak yang cacat atau kurang normal.

Kasih sayang sebagai kebutuhan yang mendasar bagi anak, akan mempengaruhi seluruh perkembangan hidupnya. Kasih sayang yang diperlukan adalah kasih sayang yang murni dan tulus dari orang tua. Kasih yang tidak mementingkan diri sendiri dan tanpa syarat. Karena itu setiap orang tua harus selalu mengingat bahwa sangat mungkin bagi orang tua memberikan kasih dengan mengharapkan sesuatu dari anak. Orang tua yang memberikan kasih sayang sebagai alat agar anak melakukan kehendak orang tua, cenderung akan memanipulasi anak. Anak-anak yang mendapatkan kasih sayang yang cukup dari orang tuanya akan bertumbuh lebih sehat secara emosi, sosial, dan kerohanian. Anak yang demikian akan merasa bahwa dirinya penting, berharga dan patut dicintai. Hal ini akan membuat anak menjadi lebih leluasa mengembangkan dirinya, merasa diterima seutuhnya, dan kelak lebih mudah pula untuk mengasihi orang lain.

Proporsi kebutuhan dan ketulusan kasih sayang ini penting bagi anak berkaitan dengan pengertiannya secara konkret tentang kasih Allah. Inti berita Injil adalah kasih Allah, dan orang tua mempunyai hak istimewa yang dapat menarik anak kepada Kristus yang mengasihi dan memberikan diriNya bagi orang tua terlebih dahulu. bersambung...

http://www.oocities.org/~eunike-net/12/butuh12.html

Monday, April 03, 2006


"KONSEP PENGARUH KULTUR DAN KELUARGA TERHADAP KESEHATAN ANAK"
1. Pendahuluan Masa yang akan datang sangat tergantung kepada anak-anak pada masa sekarang. Jika ingin masa depan menjadi lebih baik dari masa sekarang tentu menjadi tanggung jawab bagi generasi sekarang untuk memberikan trasfer kultur dan nilai-nilai sosial kepada generasi selanjutnya. Keluarga memegang peranan yang penting dalam rangka pencapaian hal tersebut dikarenakan orang tua memiliki tanggung jawab yang besar dalam rangka pembentukan perilaku bagi anakanaknya. Unit dasar dari masyarakat adalah keluarga dan dalam unit ini lahirlah anak yang muda. Dalam unit ini juga sebagian besar dari kebutuhan perkembangan anak terpenuhi. Secara tradisional, paling tidak kebutuhan seorang anak dipenuhi oleh ayah dan ibu selaku orang tuannya. Kebutuhan yang segera termasuk nutrisi, kehangatan, naungan dan perlindungan dari bahaya, penyediaan lingkungan dalam rangka pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan sosial kultural. Interaksi awal yang terjadi adalah antar ibu dan bayi, dimana ini memuaskan kebutuhan fisik dan psikologis yang mendasar. Ayah juga memainkan peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Peranannya adalah ganda yaitu: a. Dalam proses identifikasi jati diri (identitas diri) dari seorang anak b. Pendukung dan pelindung yang akan memperkuat peranan dari ibu. Jika salah satu dari kebutuhan dasar tidak terpenuhi atau dipenuhi secara tidak adekuat maka

perkembangan akan terhambat atau terganggu. Pada hakekatnya ada kemungkinan bila salah satu kebutuhan gagal dipenuhi, maka kebutuhan lainnya juga akan terpengaruh. Unsur penting untuk perkembangan yang berhasil adalah diberikannya rasa cinta dan rasa aman. Kekurangan akan hal ini akan mengakibatkan masalah serius pada seorang individu. 2. Posisi Anak Dalam Keluarga Anak merupakan pewaris dari nilai-nilai norma yang dianut oleh sebuah keluarga. Dari segi komponen struktur suatu unit akan disebut keluarga bila didalamnya terdiri dari ayah, ibu dan anak. Secara genetik anak akan mewarisi sisfat-sifat darai kedua orang tuanya dimana ia akan mempertahankan exsistensinya di masa kehidupan selanjutnya. Diseluruh dunia latihan dan asuhan terhadap anak identik dalam berbagai segi penting tertentu. Pada semua masyarakat bayi yang tidak berdaya harus diubah menjadi seorang dewasa yang bertanggung jawab, mematuhi aturan masyarakat. Walupun demikian anak juga dipengaruhi oleh lingkungan luar, misalnya sekolah . Hal ini menunjukan terdapatnya cara universal dalam mendidik anak sesuai keinginan dan posisi anak di dalam keluaga tersebut. 3. Sosio-Kultural Keluarga Kulture adalah Suatu cara perkembangan hidup dari suatu kelompok masyarakat dalam upayanya beradaptasi terhadap lingkungan fisik dan sosial dalam rangka mempertahankan diri sedangakan "sosialisasion" adalah suatu proses dimana seorang individu belajar terhadap nilainilai, kepercayaan, dan perilaku dari suatu lingkungan sosial di dialam kelompok atau masyarakatnya.(Elkin and Handel, 1989). Ethnis adalah pengelompokan individu atau berdasarkan ras, cultural, sosial, dan bahasa sebagai alat komunikasinya (Marthinson, 1989). Komponen dari Kulture dibedakan dalam dua kelompok yaitu : a. Material Objek meliputi : Pakaian, bagunan, peratan rumah tangga b. Non material Objek seperti : idea, kepercayaan dan agama dan lain-lain. Kebudayaan atau kulture akan membentuk seorang anak dalam berbagai aktifitasnya seperti cara makan, bahasa yang digunakan dalam berbicara, idea dan pola pikir dalam berperilaku, dan banyak hal yang berkaitan dengan perannya dalam lingkungan sosialnya. Anak diasuh dalam unit keluarga, walaupun demikian unit ini dapat mempunyai bentuk yang berbeda-beda dan merupakan bagian dari kebudayaan yang berbeda-beda pula. Dalam keluarga inti anak dibesarkan oleh orang tuannya menurut ide-idenya. Semakin primitif suatu budaya, maka akan semakin mendasar polanya, semakin canggih suatu budaya, maka akan semakin intelektual pendekatannya. Walaupun demikian tujuannya adalah sama yaitu membentuk seorang individu yanag dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat tersebut. 4. Struktur dan Fungsi Keluarga a. Struktur Keluarga - Merupakan unit dasar dari masayarakat - Komposisi keluarga bervariasi tergantung dari bentuk keluarga tetapi biasanya salah satu menjadi kepala keluarga

- Memiliki tujuan dan kepercayaan serta nilai-nilai moral yang dianut - Menjalankan peran dalan rangka memenuhi kebutuan individu dan kelompok dalam keluarga - Status dari anggota keluarga ditentukan oleh posisinya dalam keluarga berhubungan dengan pandangan sosialnya. b. Fungsi Keluarga Sementara struktur formal dari keluarga secara tetap tidak berubah, justru fungsinya telah mengalami modifikasi yang sangat luas. Pada suatu waktu keluarga merupakan unit produksi dan konsumsi; sekarang keluarga terutama merupakan unitkonsumsi saja. Fungsi terpenting dari keluarga terutama dalam masyarakat yang terdapat banyak ketegangan adalah keamanan emosional. Adapun fungsi keluarga secara spesifik adalah sebagai berikut : * Reproduksi : Suatu kelompok akan berkembang menjadi besar dengan proses tersebut dalam rangka mempertahankan keberadaannya serta menjadikan besar baik secara kualitas maupun kuantitas. Pemeliharaan dalam rangka meningkatkan kondisi menjadi lebih baik : Hali ini meliputi pemenuhan kebutuhan seperti pakaian, tempattinggal, makanan, dan perawatan diri, selain itu keluarga juga memenuhi kebutuhan anggota keluarganya dari aspek yang lain seperti : sosial, psikologis, dukungan emosional. Perlindungan terhadap anggota keluarga yang belum mature juga senantiasa diberikan sampai individu tumbuh menjadi manusia dewasa. Selain menjadi anggota keluarga anak juga menjadi bagian dari masyarakat. * Socialization ; Anak akan menyesuaikan diri dengan kebudayaan, kebiasaan, dan situasi sosial dalam perkembangan perilakunya, akan ada proses pembentukan identitas diri dalam proses hubungan anak dengan anggota keluarga yang lain. Akhirnya anak akan belajar peran model sesuai dengan jenis kelaminnya dan akan berusaha menjalankan apa yang menjandi tanggung jawabnya. * Pertumbuhan individu ; Di dalam keluarga individu (anak) akan tumbuh dan berkembang menjadi individu yang matang (mature) dan mandiri (Independence). * Pendidikan; Fungsi primer terpenting dari keluarga adalah pewarisan norma kebudayaan dari satu generasi ke generasi lainnya. Selama anak masih dalam perawatan orang tuanya peranan orang tua dalam pendidikan anak tetap menonjol. * Religius (Agama dan Keyakinan) : Manusia menganut agama sesuai dengan agama dimana ia dilahirkan, walaupun nantinya pada suatu saat akan terjadi perubahan yang menyangkut agama dan keyakinannyaseiring dengan proses kehidupan dewasa yang dialaminya. * Rekreasi : Keluarga memiliki fungsi rekreasi karena pada suatu waktu rekreasi sebagaian besar berdasar pada keluarga, walaupun sekarang rekreasi lebih sering terjadi di luar keluarga. *Perawatan Kesehatan :

Keluarga masih merupakan unit utama dimana pencegahan dan pengobatan penyakit dilakukan. Masih sanagt ditemukan keterlibatan dan dukungan dalam keluarga dimana tanpa hal ini proses rehabilitasi akan susah dilakukan di dalam keluarga. 5. Masalah-masalah Sosial di dalam Keluarga a. Disorganisasi Keluarga Tidak ada keluarga yang terlepas dari konflik, tetapi setiap keluarga memiliki cara sendiri untuk menaganinya. Sebagai besar konflik berasal dari perkawinan itu sendiri dan mempunyai efek langsung terhadap anak. Jika timbul permasalahan maka setiap pasangan akan berusaha mencari pemecahannya tetapi jika hal ini tidak mungkin maka akan timbul perceraian dan perpisahan. Perceraian merupakan penyelesaian perkawinan yang syah dan mempengaruhi anak dalam berbagai aspek serta dapat mengganggu sosialisasi anak jika anak masih sangat muda. Penelitian menunjukan bahwa, anak laki-laki yang kurang dapat menyesuaikan diri memperlihatkan bahwa persentasi perceraian yang lebih tinggi datang dari keluarga yang bercerai juga. Pengadilan cenderung mempercayakan ibu dalam mengasuh anak-anak kecuali terdapat alasan yang kuat untuk menentang hal ini. Penelitian menunjukan bahwa anak laki-laki yang tumnuh bersama ibu dan tanpa kontak dengan ayahnya atau tanpa role model perilaku laki-laki maka anak akan mengalami kesulitan dalam menentukan peranannya sendiri di kemudian hari. b. Keluarga dengan orang tua tunggal (single parent) Keluarga dengan single parent merupakan kelopok yang sangat beraneka ragam terdiri dari ayah atau ibu dengan anak-anaknya. Pada sebagian besar keluarga dengan orang tua tunggal, ibu mkerupakan orang tua yang bertanggung jawab bagi anak-anaknya dan sejumlah besar dari mereka adalah wanita yang diceraikan atau ditinggalkansuaminya. Pengaruh anak yang ditinggalkan orang tuannya dapat bervariasi, seperti depresi yang menetap, gangguan perilaku, kepribadian anti sosial, kegagalan dalam proses pendidikan. Pada tahun 1976, Biro Anak-anak Nasional menerbitkan hasil survei dari suatu penelitian bahwa ketidakberuntungan anak yang dibesarkan dengan single parent lebih disebabkan karena kemiskinan dan akumulasi masalah yang timbul karenanya.Tahun 1974 melaporkan sejumlah komentar dan anjuran termasuk perhatian khusus bagi wanita yang ditinggalkan oleh suaminya. c. Kehilangan Ibu dan Pengaruhnya Bowlby (1965), menyatakan bahwa tipe hubungan emosional anak secara dini dengan ibunya sangat penting dan anak memerlukan ditegakkannya ikatan yang lestari. Bila ikatan ini pecah atau ikatan ini ditegakan secara tidak memuaska, maka perkembangan fisik, intelektual, emosional, dan sosial akan terpengaruh. Penelitian terakhir menunjukan bahwa perilaku keterikatan terbentuk dari beberapa komponen yang terkait. Schaffer, mempelajari bayi yang diasuh didalam istitusi yang banyak stafnya akan menunjukan respon yang lebih cepat dibanding dengan bayi yang berada atau lahir di institusi yang stafnya sedikit. Rutter (1972),membenarkan bahwa faktor genetik dan organik juga terlibat, ini dibuktikan dengan bahwa anak yang dibesarkan disuatu lingkungan dan terpisah dari ibunya dalam waktu

yang lama akan berpengaruh pada kemampuan intelektualnya. d. Penganiayaan terhadap Anak (child abuse) Penyalahgunaan anak atau Battered baby syndrome pertama kali diuraikan oleh seorang ahli radiologi USA pada tahun 1946, tetapi baru pada tahun 1962, CH.Kempe, pertama kali menggunakan istilah ini. Terdapat banyak keluarga yang memperlakukan anak-anaknya dengan kasar seperti memukul, dan perlakuan kasar. Terdapat kecenderungan bagi anak pertama atau bungsu untuk mendapat perlakuan seperti ini, demikian juga pada bayi dengan BBLR. * Gambaran Klinis Penganiayaan : - Anak pada umumnya terlambat dibawa berobat dan tidak diberikan keterangan, atau keterangan tidak mendukung cidera yang diderita anak. - Cidera bersifat multi ganda dan tipenya bermacam-maca, misalnya lebam dan cakaran. - Lesi terdapat dalam berbagai tingkat, misalnya berada dalam berbagai macam tingkatan penyembuhan. - Jenis lesi termasuk : fraktur (tidak biasa pada bayi, Luka bakar dan terseduh, bintik-bintik pada kulit dan keadaan dingin berhubungan dengan kebiruan pada ekstremitas dalam kaitannya dengan berat badan yang rendah, selain depresi emosi. - Tempat dari cidera seperi petekhiepada lobus telinga (karena trikan atau cubitan), bekas ikatan di sekeliling leher (usaha pencekikan), sundutan rokok, juga terdapat cidera khusus pada mata, perdarahan dan cidera gigi. * Sikap dan Perilaku Anak : Ekspresi anak harus dipelajari karena memiliki nilai yang besar dalam menilaistatus emosionalnya seperti : ketakutan, kesal, mengadu dsb. e. Pelecehan Seksual pada Anak Pelecehan seksual pada anak-anak sulit untuk dinilai, tanpa kerjasama dengan anggota keluarga. Walaupun demikian, terdapt kesadaran akan adanya peningkatan tindakanyang merupakan pelecehan seksual. Jika pelecehan seksual terjadi maka keta harus melaporkan pada yang berwajib. * Tanda-tanda umum dari Pelecehan Seksual : - Dapat diperoleh riwayat serangan seksual dari anak atau anggota keluarga - Jika terjadi kehamilan atau penyakit venerik pada anak yang berusia 12 tahun atau lebih muda. - Terdapat suatu riwayat yang bertentangan mengenai trauma genital antara anak dengan orang dewasa. - Jika anak mengalami nyeri pada saat mikturisi atau defekasi, hal ini dapat merupakan tanda awal dari pelecehan seksual. * Anamnesa : - Selalu harus ada saksi dalam wawancara dengan orang tua, serta anak harus diperlakukan dengan lembut. Penting juga mempertimbangkan pertumbuhan dan perkembangan kognitif anak. Juga penting agar anak diberikan keyakinan bahwa ia dipercaya, dan membiarkannya ia bercerita

tanpa putus. Manian, bisa dijadikan alat untuk memotivasi anak agar bercerita. Suatu pendekatan yang hangat dan sabar penting sekali, dan permusuhan yang nyata terhadap orang tua harus dihindarkan. Lebih baik ibu diwawancarai terakhir, terpisah secara sendiri. f. Eksploitasi Anak Selain penganiayaan juga terdapat masalah eksploitasi anak, Kelalaian dan penyalahgunaan anak dapat dilihat dalam berbagai bentuk yang dapat terabaikan. Suatu tinjauan di luar keluarga menemukan adanya pekerja anak dalam kondisi yang berbahaya bagi kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut. Bentuk lain dari penyalagunaan anak adalah Sindroma Munchausen, berasal dari nama perilaku pada orang dewasa dimana anak mengalamipenipuan yang berhasil berlanjut selama bertahun-tahun, dan anak menderita karena menjalani pengobatan dan pemeriksaan yang tidak perlu. Seperti pemberian obat-obatan pada anak-anak tanpa diagnosa yang jelas. # Rujukan : Dolores F. Saxton, Comprehensive Review Of Nursing For NCLEK-RN, Sixteenth Edition, Mosby, St. louis, Missouri, 1999. Lucille F. Whaley, et. al., Nursing Care Of Infants and Children, Fourth Edition, Mosby, St. Louis, 1991. Rosa M. Sacharin, Alih : R.F. Maulany, dr, MSc. Prinsip Keperawatan Pediatrik, Edisi 2, EGC, Jakarta, 1996. *****030303***** Manusia tidak bisa mengajarkan apapun kepada manusia lainnya, kecuali hanya bisa membantu menemukan sesuatu di dalam diri mereka sendiri maka jangan pernah merasa besar karenanya by, ss,-03 (dikutip dari, karya besar Galileo) *****030303***** http://sisroom.blogspot.com/2006/04/konsep-pengaruh-kultur-dan-keluarga.html

Pengaruh Media Bagi Pendidikan Anak


Kamis, 2012 Juni 21 15:08 153101 Views

Font Size
Print

SHARE
Tweet it Digg it Google

Para psikolog menyakini bahwa kegiatan mendidik anak adalah sebuah seni yang membutuhkan kreativitas, energi, waktu, dan biaya. Sebagian besar energi itu digunakan untuk menyusun program dan mengatur waktu luang anak-anak. Akan tetapi, hasilnya tentu saja tidak selalu memuaskan, sebab kebanyakan orang tua tidak berhasil dalam menciptakan kondisi ideal untuk mengisi waktu luang putra-putri mereka. Mayoritas anak dan bahkan orang tua lebih memilih menonton televisi dan memainkan game ketimbang hiburan-hiburan lain. Padahal, dampak buruk yang diakibatkan oleh kegiatankegiatan seperti ini terkadang tidak kurang dari kekerasan sosial.

Masa kanak-kanak di dunia modern dianggap sebagai sebuah kategori penting dan berpengaruh dalam berbagai bidang riset. Para pakar dan lembaga-lembaga di seluruh dunia berusaha menyelesaikan problema dunia anak dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap hal itu. Menurut statistik, lebih dari dua juta anak tersebar di seluruh dunia dan setiap harinya hak-hak jutaan dari mereka dirampas. Di antara problema utama mereka adalah hilangnya kebutuhankebutuhan dasar seperti, asupan gizi yang cukup, air bersih, bantuan medis, pendidikan, dan pengasuhan.

Selama beberapa tahun terakhir, kebanyakan peneliti, pemikir, dan guru ilmu sosial menilai pendidikan anak di dunia modern sebagai salah satu hal yang menghadapi berbagai masalah dan hambatan. Kajian terhadap pelanggaran norma-norma sosial menunjukkan bahwa pendidikan di masa kanak-kanak memainkan peran penting dalam menciptakan penyimpangan sosial atau penyakit-penyakit psikis pada usia remaja dan pemuda. Dalam proses itu, dapat disinggung dampak media-media visual seperti, televisi, sinema, video, parabola, dan komputer dan sarana tersebut memiliki peran signifikan dalam pendidikan generasi masa depan.

Hampir semua anak sejak lahir duduk rapi di depan layar televisi dan suara televisi sudah menjadi bagian dari lingkungan mereka sepanjang sarana itu menyala. Namun, motivasi menonton televisi berubah seiring bertambahnya usia anak-anak. Dua pertiga anak secara sadar mengikuti acara televisi dan sekitar usia 2,5 tahun mereka menjadi pemirsa setia dan mengikuti berbagai program televisi.

Penelitian menunjukkan bahwa dominasi televisi pada 10 tahun pertama usia anak sangat menakjubkan dan 90 persen anak-anak pada usia 6 tahun, menonton televisi secara rutin. Oleh karena itu, televisi berperan lebih dari setiap media lain dalam mempersiapkan anak-anak untuk kehidupan sosial dan perilaku-perilaku individu. Media ini bahkan menjadi parameter pengambilan keputusan anak untuk memilih media-media lain dan di masa depan juga mempengaruhi proses kehidupannya secara langsung.

Peneliti ilmu komunikasi, Doktor Naser Bahonar percaya bahwa televisi sebagai pendidik yang tangguh dan kemungkinan berbahaya. Dia berpendapat kebanyakan pemirsa tidak sadar bahwa mereka sedang mengenyam sesuatu ketika memanfaatkan media. Berbagai informasi secara tidak sadar tertanam dalam memori pemirsa dan pesan-pesan acara televisi terserap tanpa disadari. Seraya memaparkan metode pemahaman anak-anak terhadap pesan-pesan acara televisi dan pengolahan informasi di memori mereka, Doktor Bahonar meyakini bahwa anak-anak tidak hanya membutuhkan liburan dan hiburan, namun mereka ingin mempelajari sesuatu.

Berdasarkan itu, Doktor Bahonar mengatakan bahwa tugas utama media adalah mempersiapkan pendidikan yang dapat membantu pertumbuhan kepribadian anak. Sebab, pendidikan adalah sebuah usaha matang untuk membentuk kepribadian. Dia melanjutkan bahwa media dapat menaruh perhatian pada masalah pendidikan anak dalam dimensi moral, mengajak mereka memperhatikan nilai-nilai agama dan spiritual, serta mengarahkan mereka dalam kesehatan fisik dan mental. Pendidikan anak dalam bidang-bidang tersebut dapat disesuaikan dengan kemampuan pemahaman dan kapasitas mereka, di samping memperkuat kemampuan penilaian anak.

Konsep "masa kanak-kanak" sebagai bagian dari proses evolusi individu dengan segala karakteristiknya, merupakan sesuatu yang baru dalam literatur Barat. Menurut penuturan Neil Postman, hingga empat tahun lalu, dalam sejarah dan budaya Barat, tidak ada kata yang mendefinisikan anak seperti sekarang ini. Pada dasarnya, kata anak sebagai sebuah fenomena yang dikaji di bidang kemasyarakatan dan ilmu psikologi, baru lahir pada abad ke-16. Tentu saja sebelum itu ada sebuah konsep umum, di mana kencenderungan dan hasrat anak tidak diperhatikan dan mereka hanya mengikuti kehendak dan keinginan orang tua.

Postman lebih lanjut menjelaskan bahwa ketidakpedulian terhadap struktur fisik dan mental anak hingga masa Renaissance telah menyebabkan orang dewasa mengajari anak-anak dengan hal-hal yang mereka anggap baik. Menurut pandangan ini, anak diajari untuk menjadi masyarakat masa depan dan masa kanak-kanak sendiri terlupakan begitu saja. Proses memperhatikan masa kanakkanak berlanjut hingga abad ke-18 dan pada masa itu, perlahan mulai muncul pertanyaanpertanyaan tentang anak, pertumbuhan manusia pada usia dini, dan karakteristik setiap jenjang usia serta pendidikan anak-anak.

Dalam mendidik anak, pendidikan dimensi rasionalitas kepribadian mereka memiliki banyak manfaat, sebab dimensi itu punya hubungan erat dengan seluruh eksistensi anak. Perlu diperhatikan bahwa kekuatan akal ibarat seorang raja yang memerintah kerajaannya dan dengan berbekal pendidikan yang benar, manusia akan sampai pada kesempurnaan. Oleh karena itu, para pemilik media perlu memiliki kepekaan untuk membangkitkan semangat berpikir dan rasionalitas dalam diri anak-anak. Kemampuan ini selain sebagai sebuah keahlian akal yang sangat bernilai, juga dapat menyelamatkan anak-anak dari bahaya-bahaya seperti, takhayul dan ilusi.

Pendidikan rasionalitas bagi anak-anak memiliki banyak hasil positif, seperti memperkuat insting rasa ingin tahu dan kecenderungan untuk menyingkap rahasia alam, di mana rasa itu akan hadir bersama mereka sepanjang usianya. Oleh sebab itu, jika kinerja sebuah media berlandaskan pada peningkatan kesadaran dan penguatannya, maka para penikmat media juga dapat mengenal konsep-konsep penting di sela-sela program media dan berpengaruh langsung bagi pendidikan mereka. Sebagai contoh, pendidikan konsep agama untuk anak-anak di media.

Keterbatasan berpikir dan kemampuan anak-anak untuk memahami argumentasi-argumentasi rumit membuat pendidikan langsung tidak efektif bagi mereka. Oleh karena itu, prioritas utama media adalah perlu menggunakan bahasa yang menarik dan contoh-contoh yang akrab dalam mengajari pendidikan agama kepada anak-anak. Format cerita dan tamsil sangat sesuai dan hingga usia akhir Sekolah Dasar dapat menjadi metode ideal untuk memberi pendidikan agama kepada anak-anak.

Anak-anak dapat mengenal Tuhan dan nikmat-nikmat serta bentuk kasih sayang-Nya. Turunnya salju dan hujan, mekarnya bunga-bunga, dan panorama alam, semua dapat menghidupkan sinyal pengingat Tuhan dalam memori anak-anak dan membuat mereka cinta kepada Sang Pencipta.

Media dan program-programnya dapat menghadirkan gambaran ini dalam pikiran anak-anak, di mana Tuhan mencintai mereka dan menciptakan dunia yang indah untuk mereka. Oleh sebab itu, penegasan pada rahmat dan kasih sayang Tuhan merupakan prinsip utama dalam pendidikan agama untuk anak-anak. (IRIB Indonesia/RM/NA) http://indonesian.irib.ir/kultur/-/asset_publisher/Kd7k/content/pengaruh-media-bagi-pendidikananak

Beranda Curriculum Vitae Gallery Forum Kontak Kami

Sabtu, 19 Juni 2010


PENGARUH LINGKUNGAN KELUARGA TERHADAP KEPRIBADIAN ANAK

Oleh : Mustofa Abi Hamid 0913022055 PENDIDIKAN FISIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG 2009 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lingkungan memiliki peran penting dalam mewujudkan kepribadian anak. Khususnya lingkungan keluarga. Kedua orang tua adalah pemain peran ini. Peran lingkungan dalam mewujudkan kepribadian seseorang, baik lingkungan pra kelahiran maupun lingkungan pasca kelahiran adalah masalah yang tidak bisa dipungkiri khususnya lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga adalah sebuah basis awal kehidupan bagi setiap manusia. Banyak hadis yang meriwayatkan pentingnya pengaruh keluarga dalam pendidikan anak dalam beberapa masalah seperti masalah aqidah, budaya, norma, emosional dan sebaginya. Keluarga menyiapkan sarana pertumbuhan dan pembentukan kepribadian anak sejak dini. Dengan kata lain kepribadian anak tergantung pada pemikiran dan perlakuan kedua orang tua dan lingkungannya. Rasulullah saw bersabda, Setiap anak yang dilahirkan berdasarkan fitrah, Kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya dia yahudi atau nasrani atau majusi. Perlu ditekankan bahwa lingkungan tidak seratus persen mempengaruhi manusia, karena Allah menciptakan manusia disertai dengan adanya ikhtiar dan hak pilih. Dengan ikhtiarnya, manusia bisa mengubah nasibnya sendiri. Dalam tulisan ini penulis ingin mencoba mengkaji peran lingkungan keluarga dalam pembentukan pribadi seseorang. Lingkungan adalah sesuatu yang berada di luar batasan-batasan kemampuan dan potensi genetik seseorang dan ia berperan dalam menyiapkan fasilitas-fasilitas atau bahkan menghambat seseorang dari pertumbuhan.Lingkungan jika dihadapkan dengan genetik ia adalah faktor luar yang berpengaruh dalam pembentukan dan perubahan kepribadian seseorang baik itu faktor-faktor lingkungan pra kelahiran atau pasca kelahiran yang mencakup lingkungan alam, lingkungan ekonomi dan lingkungan sosial. Dalam hal ini yang akan dibahas adalah lingkungan sosial yang di dalamnya terdapat lingkungan keluarga yang sangat berperan dalam pembentukan kepribadian anak dan faktor-faktor di dalamnya yang memiliki andil besar dalam pembentukan kepribadian tersebut yang tentunya tidak terlepas dari peran keluarga. B. Tujuan Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran lingkungan keluarga terhadap pembentukan kepribadian anak termasuk besarnya pengaruhnya terhadap anak tersebut dan faktor-faktor yang berpengaruh di dalamnya. BAB II ISI

Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak. Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tetang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat. F.J. Brown dalam Syamsu (2000 ; 36) mengemukakan bahwa ditinjau dari sudut pandang sosiologi, keluarga dapat diartikan dua macam, yaitu a) dalam arti luas, keluarga meliputi semua pihak yang berhubungan darah atau keturunan yang dapat dibandingkan dengan clan atau marga; b) dalam arti sempit keluarga meliputi orang tua dan anak. Kata kepribadian berasal dari bahasa Italia dan Inggris yang berarti persona atau personality yang berarti topeng. Akan tetapi sampai saat ini asal usul kata ini belum diketahui. Konteks asli dari kepribadian adalah gambaran eksternal dan sosial. hal ini diilustrasikan berdasarkan peran seseorang yang dimainkannya dalam masyarakat. Pada dasarnya manusialah yang menyerahkan sebuah kepribadian kepada masyarakatnya dan masyarakat akan menilainya sesuai degan kepribadian tersebut. Definisi kepribadian memiliki lebih dari lima puluh arti akan tetapi definisi kepribadian yang penulis maksud di sini adalah himpunan dan ciri-ciri jasmani dan rohani atau kejiwaan yang relatif tetap yang membedakan seseorang dengan orang lain pada sisi dan kondisi yang berbeda-beda yang sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Keluarga merupakan bagian dari sebuah masyarakat. Unsur-unsur yang ada dalam sebuah keluarga baik budaya, mazhab, ekonomi bahkan jumlah anggota keluarga sangat mempengaruhi perlakuan dan pemikiran anak khususnya ayah dan ibu. Pengaruh keluarga dalam pendidikan anak sangat besar dalam berbagai macam sisi. Keluargalah yang menyiapkan potensi pertumbuhan dan pembentukan kepribadian anak. Lebih jelasnya, kepribadian anak tergantung pada pemikiran dan tingkah laku kedua orang tua serta lingkungannya. Kedua orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan kepribadian anak. Islam menawarkan metode-metode yang banyak di bawah rubrik aqidah atau keyakinan, norma atau akhlak serta fikih sebagai dasar dan prinsip serta cara untuk mendidik anak. Dan awal mula pelaksanaannya bisa dilakukan dalam keluarga. Sekaitan dengan pendidikan, Islam menyuguhkan aturan-aturan di antaranya pada masa pra kelahiran yang mencakup cara memilih pasangan hidup dan adab berhubungan seks sampai masa pasca kelahiran yang mencakup pembacaan azan dan iqamat pada telinga bayi yang baru lahir, tahnik (meletakkan buah kurma pada langit-langit bayi, mendoakan bayi, memberikan nama yang bagus buat bayi, aqiqah (menyembelih kambing dan dibagikan kepada fakir miskin), khitan dan mencukur rambut bayi dan memberikan sedekah seharga emas atau perak yang ditimbang dengan berat rambut. Pelaksanaan amalan-amalan ini sangat berpengaruh pada jiwa anak. Perilaku-perilaku anak akan menjadikan penyempurna mata rantai interaksi anggota keluarga dan pada saat yang sama interaksi ini akan membentuk kepribadiannya secara bertahap dan memberikan arah serta menguatkan perilaku anak pada kondisi-kondisi yang sama dalam kehidupan. Ayah dan ibu adalah teladan pertama bagi pembentukan pribadi anak. Keyakinan-keyakinan, pemikiran dan perilaku ayah dan ibu dengan sendirinya memiliki pengaruh yang sangat dalam terhadap pemikiran dan perilaku anak. Karena kepribadian manusia muncul berupa lukisanlukisan pada berbagai ragam situasi dan kondisi dalam lingkungan keluarga. Keluarga berperan

sebagai faktor pelaksana dalam mewujudkan nilai-nilai, keyakinan-keyakinan dan persepsi budaya sebuah masyarakat. Ayah dan ibulah yang harus melaksanakan tugasnya di hadapan anaknya. Khususnya ibu yang harus memfokuskan dirinya dalam menjaga akhlak, jasmani dan kejiwaannya pada masa pra kehamilan sampai masa kehamilan dengan harapan Allah memberikan kepadanya anak yang sehat dan saleh. Faktor-faktor (genetik dan lingkungan) secara terpisah atau dengan sendirinya tidak bisa menentukan pendidikan tanpa adanya yang lainnya, akan tetapi masing-masing saling memiliki andil dalam menentukan pendidikan dan kepribadian seseorang sehingga jika salah satunya tidak banyak dipergunakan maka yang lainnya harus dipertekankan lebih keras. Konteks kepribadian yang sudah didefinisikan pada pembahasan di atas tidak ada kaitannya dengan kepribadian baik atau buruk, akan tetapi dalam tulisan ini penulis berusaha mengkaji kepribadian yang baik dan positif dalam bingkai peran kedua orang tua dalam mewujudkan kepribadian anak. Kedua orang tua memiliki tugas di hadapan anaknya di mana mereka harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan anaknya. Anak pada awal masa kehidupannya memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhinya. Dengan dipenuhinya kebutuhan-kebutuhan mereka maka orang tua akan menghasilkan anak yang riang dan gembira. Untuk mewujudkan kepribadian pada anak, konsekuensinya kedua orang tua harus memiliki keyakinan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, begitu juga kedua orang tua harus memiliki pengetahuan berkaitan dengan masalah psikologi dan tahapan perubahan dan pertumbuhan manusia. Keluarga juga dipandang sebagai institusi (lembaga) yang dapat memenuhi kebutuhan insani (manusiawi), terutama kebutuhan bagi pengembangan kepribadiannya dan pengembangan ras manusia. Apabila mengaitkan peranan keluarga dengan upaya memenuhi kebutuhan individu, maka keluarga merupakan lembaga pertama yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Melalui perawatan dan perlakuan yang baik dari orang tua, anak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya, baik fisik-biologis maupun sosiopsikologisnya. Apabila anak telah memperoleh rasa aman, penerimaan sosial dan harga dirinya, maka anak dapat memenuhi kebutuhan tertingginya, yaitu perwujudan diri (self actualization). Keluarga yang bahagia merupakan suatu hal yang sangat penting bagi perkembangan emosi para anggotanya (terutama anak). Kebahagiaan ini diperoleh apabila keluarga dapat memerankan fungsinya secara baik. Fungsi dasar keluarga adalah memberikan rasa memiliki, rasa aman, kasih sayang, dan mengembangkan hubungan yang baik di antara anggota keluarga.Secara psikososiologis keluarga berfungsi sebagai : (1) pemberi rasa aman bagi anak dan anggota keluarga lainnya, (2) sumber pemenuhan kebutuhan, baik fisik maupun psikis, (3) sumber kasih sayang dan penerimaan, (4) model pola perilaku yang tepat bagi anak untuk belajar menjadi anggota masyarakat yang bak, (5) pemberi bimbingan bagi pengembangan perilaku yang secara sosial dianggap tepat, (6) pembentuk anak dalam memecahkan masalah yang dihadapinya dalam rangka menyesuaikan dirinya terhadap kehidupan, (7) pemberi bimbingan dalam belajar keterampilan motorik, verbal dan sosial yang dibutuhkan untuk penyesuaian diri, (8) stimulator bagi pengembangan kemampuan anak untuk mencapai prestasi, baik di sekolah maupun di masyarakat, (9) pembimbing dalam mengembangkan aspirasi, dan

(10) sumber persahabatan/teman bermain bagi anak sampai cukup usia untuk mendapatkan teman di luar rumah. Hubungan cinta kasih dalam keluarga tidak sebatas perasaan, akan tetapi juga menyangkut pemeliharaan, rasa tanggung jawab, perhatian, pemahaman, respek dan keinginan untuk menumbuh kembangkan anaka yang dicintainya. Keluarga yang hubungan antar anggotanya tidak harmonis, penuh konflik, atau gap communication dapat mengembangkan masalahmasalah kesehatan mental (mental illness) bagi anak. Dilihat dari sudut pandang sosiologis, fungsi keluarga ini dapat diklasifikasikan ke dalam fungsifungsi berikut: 1.Fungsi Biologis Keluarga dipandang sebagai pranata sosial yang memberikan legalitas, kesempatan dan kemudahan bagi para anggotanya untuk memenuhi kebutuhan dasar biologisnya. Kebutuhan itu meliputi (a) pangan, sandang, dan pangan, (b) hubungan seksual suami-istri, dan (c) reproduksi atau pengembangan keturunan (keluarga yang dibangun melalui pernikahan merupakan tempat penyemaaian bibit-bibit insani yang fitrah). 2. Fungsi Ekonomis Keluarga (dalam hal ini ayah) mempunyai kewajiban untuk menafkahi anggota keluarganya (istri dan anak). Maksudnya, kewajiban suami memberi makan dan pakaian kepada para istri dengan cara yang maruf (baik). Seseorang (suami) tidak dibebani (dalam memberi nafkah), melainkan menurut kadar kesanggupannya. 3. Fungsi Pendidikan (Edukatif) Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak. Menurut UU No. 2 tahun 1989 Bab IV Pasal 10 Ayat 4: Pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral, dan keterampilan. 4 Fungsi Sosialisasi Keluarga merupakan buaian atau penyemaian bagi masyarakat masa depan, dan lingkungan keluarga merupakan factor penentu (determinant factor) yang angat mempengaruhi kualitas generasi yang akan datang. Keluarga berfungsi sebagai miniatur masyarakat yang mensosialisasikan nilai-nilai atau peran-peran hidup dalam masyarakat yang harus dilaksanakan oleh para anggotanya. Keluarga merupakan lembaga yang mempengaruhi perkembangan kemampuan anak untuk menaati peraturan (disiplin), mau bekerjasama dengan orang lain dan lain-lain. 5. Fungsi Perlindungan Keluarga berfungsi sebagai pelindung bagi para anggota keluarganya dari gangguan, ancaman atau kondisi yang menimbulkan ketidakyamanan para anggotanya. 6. Fungsi Rekreatif Keluarga harus diciptakan sebagai lingkungan yang memberikan kenyamanan, keceriaan, kehangatan dan penuh semangat bagi anggotanya. 7. Fungsi Agama (Religius) Keluarga berfungsi sebagai penanaman nilai-ilai agama kepada anak agar mereka memiliki pedoman hidup yang benar. Keluarga berkewajiban mengajar, membimbing atau membiasakan anggotanya untuk mempelajari dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. Bagi kebanyakan anak, lingkungan keluarga merupakan lingkungan pengaruh inti, setelah itu

sekolah dan kemudian masyarakat. Keluarga dipandang sebagai lingkungan dini yang dibangun oleh orang tua dan orang-orang terdekat. Dalam bentuknya keluarga selalu memiliki kekhasan. Setiap keluarga selalu berbeda dengan keluarga lainnya. Ia dinamis dan memiliki sejarah perjuangan, nilai-nilai, kebiasaan yang turun temurun mempengaruhi secara akulturatif (tidak tersadari). Sebagian ahli menyebutnya bahwa pengaruh keluarga amat besar dalam pembentukan pondasi kepribadian anak. Keluarga yang gagal membentuk kepribadian anak biasanya adalah keluaraga yang penuh konflik, tidak bahagia, tidak solid antara nilai dan praktek, serta tidak kuat terhadap nilai-nilai yang rusak. Sejalan dengan modernitas, sekolah memang berperan sebagai in loco parentis atau mengambil alih peran orang tua. Tetapi institusi sekolah tidak akan mampu mengambil alih seluruh peran orang tua dalam pendidikan anak. Globalisasi, kalau ditinjau dari dampak cultural dan kemajuan teknologi, merupakan wahana penjajahan oleh kultur yang dominan. Nilai-nilai budaya dominan ini yang sebagian besar tidak sesuai dengan timbangan moral Indonesia sudah menembus kamar-kamar dan sekeliling kita. Dalam konteks ini, keluarga bisa dimetafora sebagai sebuah benteng yang mampu menciptakan imunisasi bukan sterilisasi. Pendekatan imunisasi bermakna bahwa anak tetap berperan aktif dalam lingkungan global tetapi pendidikan dalam keluarga memberinya kekebalan terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari globalisasi. Dengan kata lain, putra-putri kita diarahkan untuk secara optimal meraih manfaat dan nilai positif dari globalisasi. Idealnya, kita arahkan mereka untuk menjadi pemain, bukan penonton apalagi obyek globalisasi. Sedangkan sterilisasi akan berdampak kurang baik bagi pertumbuhan anaka dan bisa menumbuhkan sikap eskapisme dan isolatif. Orang tua mempunyai peranan yang sangat penting dalam menumbuh kembangkan fitrah beragama anak. Menurut Hurlock dalam Syamsu (2001 ; 138) Keluarga merupakan Training Centre bagi penanaman nilai-nilai. Pengembangan fitrah atau jiwa beragama anak, seyogianya bersamaan dengan perkembangan kepribadiannya, yaitu sejak lahir bahkan lebih dari itu sejak dalam kandungan. Pendidikan dalam lingkungan keluarga sebaiknya diberikan sedini mungkin St. Franciscus Xaverius mengatakan: Give me the children until are seven and anyone may have them afterward. Sedangkan menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib (RA), seorang sahabat utama Rasulullah Muhammad (SAW), menganjurkan: Ajaklah anak pada usia sejak lahir sampai tujuh tahun bermain, ajarkan anak peraturanatau adab ketika meraka berusia tujuh sampai empat belas tahun, pada usia empat belas sampai dua puluh satu tahun, jadikanlah anak sebagai mitra orang tuanya. Ketika anak masuk ke sekolah mengikuti pendidikan formal, dasar-dasar karakter anak ini sudah terbentuk. Anak yang sudah memiliki watak yang baik biasanya memiliki achievement motivation yang lebih tinggi karena perpaduan antara intelligence quotient, emotional quotient dan spiritual quotient sudah mulai terformat dengan baik. Disamping itu, hal tersebut bisa pula mengurangi beban sekolah dengan pemahaman bahwa sekolah bisa lebih berfokus pada aspek bagaimana memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi anak untuk mengembangkan potensi konigtif, afektif dan motorik. Pada perkembangan emosi berhubungan dengan seluruh aspek perkembangan anak. Pada perkembangan awal anak, mereka telah menjalin hubungan timbal balik dengan orang-orang yang mengasuhnya. Kepribadian orang yang terdekat akan mempengaruhi perkembangan baik

sosial maupun emosional. Kerjasama dan hubungan dengan teman berkembang sesuai dengan bagaimana pandangan anak terhadap lingkungan sekitarnya. Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi; meleburkan diri menjadi suatu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama. Perkembangan sosial biasanya dimaksudkan sebagai perkembangan tingkah laku dalam menyesuaikan diri dengan aturan-aturan yang berlaku di dalam masyarakat di mana anak berada. Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh proses perlakuan atau bimbingan orangtua terhadap anak dalam mengenalkan berbagai aspek kehidupan sosial, atau norma-norma kehidupan bermasyarakat serta mendorong dan memberikan contoh kepada anaknya bagaimana menerapkan norma-norma tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Peran kedua orang tua dalam mewujudkan kepribadian anak antara lain: 1. Kedua orang tua harus mencintai dan menyayangi anak-anaknya. Ketika anak-anak mendapatkan cinta dan kasih sayang cukup dari kedua orang tuanya, maka pada saat mereka berada di luar rumah dan menghadapi masalah-masalah baru mereka akan bisa menghadapi dan menyelesaikannya dengan baik. Sebaliknya jika kedua orang tua terlalu ikut campur dalam urusan mereka atau mereka memaksakan anak-anaknya untuk menaati mereka, maka perilaku kedua orang tua yang demikian ini akan menjadi penghalang bagi kesempurnaan kepribadian mereka. 2. Kedua orang tua harus menjaga ketenangan lingkungan rumah dan menyiapkan ketenangan jiwa anak-anak. Karena hal ini akan menyebabkan pertumbuhan potensi dan kreativitas akal anak-anak yang pada akhirnya keinginan dan Kemauan mereka menjadi kuat dan hendaknya mereka diberi hak pilih. 3. Saling menghormati antara kedua orang tua dan anak-anak. Hormat di sini bukan berarti bersikap sopan secara lahir akan tetapi selain ketegasan kedua orang tua, mereka harus memperhatikan keinginan dan permintaan alami dan fitri anak-anak. Saling menghormati artinya dengan mengurangi kritik dan pembicaraan negatif sekaitan dengan kepribadian dan perilaku mereka serta menciptakan iklim kasih sayang dan keakraban, dan pada waktu yang bersamaan kedua orang tua harus menjaga hak-hak hukum mereka yang terkait dengan diri mereka dan orang lain. Kedua orang tua harus bersikap tegas supaya mereka juga mau menghormati sesamanya. 4. Mewujudkan kepercayaan. Menghargai dan memberikan kepercayaan terhadap anak-anak berarti memberikan penghargaan dan kelayakan terhadap mereka, karena hal ini akan menjadikan mereka maju dan berusaha serta berani dalam bersikap. Kepercayaan anak-anak terhadap dirinya sendiri akan menyebabkan mereka mudah untuk menerima kekurangan dan kesalahan yang ada pada diri mereka. Mereka percaya diri dan yakin dengan kemampuannya sendiri. Dengan membantu orang lain mereka merasa keberadaannya bermanfaat dan penting. 5. Mengadakan perkumpulan dan rapat keluarga (kedua orang tua dan anak). Dengan melihat keingintahuan fitrah dan kebutuhan jiwa anak, mereka selalu ingin tahu tentang dirinya sendiri. Tugas kedua orang tua adalah memberikan informasi tentang susunan badan dan perubahan serta pertumbuhan anak-anaknya terhadap mereka. Selain itu kedua orang tua harus mengenalkan mereka tentang masalah keyakinan, akhlak dan hukum-hukum fikih serta kehidupan manusia. Jika kedua orang tua bukan sebagai tempat rujukan yang baik dan cukup bagi anak-anaknya maka anak-anak akan mencari contoh lain; baik atau baik dan hal ini akan menyiapkan sarana penyelewengan anak.

Yang paling penting adalah bahwa ayah dan ibu adalah satu-satunya teladan yang pertama bagi anak-anaknya dalam pembentukan kepribadian, begitu juga anak secara tidak sadar mereka akan terpengaruh, maka kedua orang tua di sini berperan sebagai teladan bagi mereka baik teladan pada tataran teoritis maupun praktis. Ayah dan ibu sebelum mereka mengajarkan nilai-nilai agama dan akhlak serta emosional kepada anak-anaknya, pertama mereka sendiri harus mengamalkannya BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Masa anak merupakan periode perkembangan yang cepat dan dapat terjadinya perubahan dalam banyak aspek perkembangan. Pengalaman masa kecil mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perkembangan berikutnya. Pengetahuan tentang perkembangan anak dapat membantu mereka mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya dan melalui pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak dan pembentukan karakter atau kepribadian anak yang bermula dari lingkungan pertama dan lingkungan terkecil yaitu lingkungan keluarga. Bagi kebanyakan anak, lingkungan keluarga merupakan lingkungan pengaruh inti, setelah itu sekolah dan kemudian masyarakat. keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak, oleh karena itu kedudukan keluarga dalam pengembangan kepribadian anak sangatlah penting. Orang tua adalah contoh atau model bagi anak, orang tua mempunyai pengaruh yang sangat kuat bagi anak ini dapat di lihat dari bagaimana orang tua mewariskan cara berpikir kepada anak-anaknya, orang tua juga merupakan mentor pertama bagi anak yang menjalin hubungan dan memberikan kasih sayang secara mendalam, baik positif atau negatif. B. Saran Sebaiknya sebagai orang tua hendaknya selalu memperhatikan dan memberikan pengawasan serta bimbingan kepada anak-anaknya. Hal ini sangat diperlukan karena anak rentan terhadap pengaruh lingkungan. Orang tua harus memberikan teladan yang baik untuk anak-anaknya karena orang tua sangat berperan dalam pembentukan kepribadian anak. DAFTAR PUSTAKA Gunaryadi (2007, 3 Juni). Pendidikan Nasional, Globalisasi, dan Peranan Keluarga, pada: http://www.geocities.com/~eunike-net. Idris, Z. dan L. Jamal, 1992. Pengantar Pendidikan: Jakarta. Grasindo. Hamalik Oemar, 2000. Psikologi Belajar dan Mengajar: Bandung. PT. Sinar Baru Algesindo Hartono Agung dan Sunarto, 2002. Perkembangan Peserta Didik: Jakarta. PT. Rineka Cipta. Nana Syaodih, S. 2000. Landasan Psikologi: Bandung. PT. Remaja Rosdakarya. Soemiarti Patmonodewo, 2000. Pendidikan Anak Prasekolah: Jakarta. PT. Rineka Cipta. Syamsu Yusuf, 2006. Perkembangan Anak dan Remaja: Bandung. PT. Rineka Cipta. http://mustofaabihamid.blogspot.com/2010/06/pengaruh-lingkungan-keluarga-terhadap.html

Pengaruh Keluarga Bagi Anak-anak


6:47:00 PM Erlian No comments Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook

Keluargamerupakan kelompok primer yang paling penting di dalam masyarakat. Keluarga terdiri dari suami, istri dan anak yang belum dewasa Keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama dalam kehidupan manusia, tempat dimana ia belajar dan menyatakan diri sebagai

manusia hubungan interaksi dengan kelompoknya.

sosial

dalam

Di dalam keluarga inilah seorang anak belajar untuk berinteraksi berdasarkan empati dan belajar bekerja sama dengan orang lain. Dengan kata lain dalam keluarga anak belajar memegang peranannya sebagai makhluk sosial yang memiliki aturan dan kemampuan tertentu dalam pergaulannya dengan orang lain. Apa yang dialami melalui interaksi sosial dalam keluarganya turut menentukan tingkah lakunya terhadap orang lain dalam pergaulan sosial di luar keluarga, yaitu di lingkungan masyarakat luas. Di sini kita melihat bahwa keluarga mempengaruhi seorang anak dalam menjalankan perannya sebagai makhluk sosial (dalam bersosialisasi). Setelah kita melihat betapa pentingnya peranan keluarga dalam perkembangan sosial seorang anak, sekarang kita melihat beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial seorang anak. Faktor-faktor tersebut antara lain: 1. Status sosio-ekonomi. Seorang anak yang dibesarkan dengan kondisi perekonomian yang cukup maka dia akan mempunyai kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan diri. Dalam hal ini status sosial ekonomi sebuah keluarga bukanlah faktor mutlak dalam perkembangan sosial manusia. Namun paling tidak hal ini memberi sumbangan bagi perkembangan sosial seseorang. Bisa saja seorang anak dilahirkan ditengah-tengah keluarga yang berkecukupan namun tidak harmonis, tentunya hal ini tidak akan menguntungkan bagi perkembangan sosial seorang anak. 2. Keutuhan Keluarga. Seperti telah diterangkan di atas, keluarga adalah kelompok masyarakat terkecil yang terdiri dari suami, istri dan anak yang belum dewasa. Apabila salah satu dari unsur-unsur tersebut tidak ada, misal ada ibu namun tidak ada ayah (baik karena meninggal atau bercerai), maka keluarga tersebut tidak bisa dikatakan sebagai keluarga yang utuh lagi. Ini disebut keutuhan keluarga secara stuktur. Disamping itu ada pula keutuhan dalam interaksi, yaitu adanya interaksi sosial yang wajar (harmonis). Ketidakutuhan keluarga tentunya berpengaruh negative bagi perkembangan sosial seorang anak. 3. Sikap dan Kebiasaan Orang Tua. Cara-cara dan sikap orang tua dalam pergaulannya memegang peranan yang cukup penting dalam perkembangan sosial seorang anak. Beberapa penelitian telah membuktikan hal ini dan didapati kesimpulan sebagai berikut: Makin otoriter orang tuanya, makin berkuurang ketidaktaatan, tetapi makin banyak timbul ciri-ciri pasivitas, kurangnya inisiatif, tidak dapat merencanakan sesuatu, daya tahan berkurang dan

penakut. Sebaliknya sikap demokratis dari orang tua menimbulkan cirri-ciri berinisiatif, tidak penakut, lebih giat dan lebih bertujuan, namun juga menimbulkan kemungkinan berkembangnya ketidaktaatan dan tidak mau menyesuaikan diri. Bila orang tua terlalu melindungi anak-anaknya maka akan timbul ketergantungan kepada orang tua. Bila orang tua mengembangkan sikap penolakan terhadap anaknya, maka akan timbul ciri-ciri agresivitas dan tingkah laku bermusuhan pada anak tersebut dan juga gejala-gejala menyeleweng seperti berdusta dan mencuri.

Pengaruh Lingkungan Keluarga Terhadap Perkembangan Sosial pada Seorang Anak


Selain hal di atas, keluarga juga berpengaruh terhadap perkembangan sosial anak. Karena memang keluarga sebagai faktor awal pelaksana dalam mewujudkan nilai-nilai, keyakinankeyakinan dan persepsi budaya sebuah masyarakat. Ayah dan ibulah yang harus melaksanakan tugasnya di hadapan anaknya. Khususnya ibu yang harus memfokuskan dirinya dalam menjaga akhlak, jasmani dan kejiwaannya pada masa pra kehamilan sampai masa kehamilan dengan harapan Allah memberikan kepadanya anak yang sehat dan saleh. Banyak hadis yang mengisyaratkan tentang pengaruh genetik dan lingkungan dalam pendidikan anak. Hadis yang mengisyaratkan tentang pengaruh genetik, Orang yang bahagia adalah orang yang sudah bahagia semenjak ia berada di dalam perut ibunya dan orang yang celaka adalah orang yang sudah celaka semenjak ia berada di dalam perut ibunya. Hadis yang mengisyaratkan tentang pengaruh lingkungan: Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia yahudi atau Nasrani atau majusi. Berdasarkan hadis Rasul saw yang mengatakan, Anak adalah raja selama tujuh tahun pertama dan hamba pada tujuh tahun kedua serta teman musyawarah pada tujuh tahun ketiga, menunjukkan bahwa masa kehidupan anak dibagi menjadi tiga masa. Orang tua harus tahu bahwa cara menghadapi anak harus berdasarkan ketiga masa ini. jika kedua orang tua menjalankan dengan baik metode-metode yang diberikan Islam maka mereka nantinya bisa menyerahkan anak yang berkepribadian baik kepada masyarakat. Kedua orang tua memiliki tugas di hadapan anaknya di mana mereka harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan anaknya. Anak pada awal masa kehidupannya memiliki kebutuhankebutuhan yang harus dipenuhinya. Dengan dipenuhinya kebutuhan-kebutuhan mereka maka orang tua akan menghasilkan anak yang riang dan gembira. Untuk mewujudkan kepribadian pada anak, konsekuensinya kedua orang tua harus memiliki keyakinan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dalam al-Quran, begitu juga kedua orang tua harus memiliki pengetahuan berkaitan dengan masalah psikologi dan tahapan perubahan dan pertumbuhan manusia. Dengan demikian kedua orang tua dalam menghadapi anaknya baik dalam berpikir atau menghukumi mereka, akan bersikap sesuai dengan tolok ukur yang sudah ditentukan dalam al-Quran. Peran kedua orang tua dalam mewujudkan kepribadian anak antara lain:

1. Kedua orang tua harus mencintai dan menyayangi anak-anaknya. Ketika anak-anak mendapatkan
cinta dan kasih sayang cukup dari kedua orang tuanya, maka pada saat mereka berada di luar rumah dan menghadapi masalah-masalah baru mereka akan bisa menghadapi dan menyelesaikannya dengan baik. Sebaliknya jika kedua orang tua terlalu ikut campur dalam urusan mereka atau mereka memaksakan anak-anaknya untuk menaati mereka, maka perilaku kedua orang tua yang demikian ini akan menjadi penghalang bagi kesempurnaan kepribadian mereka.

2. Kedua orang tua harus menjaga ketenangan lingkungan rumah dan menyiapkan ketenangan jiwa
anak-anak. Karena hal ini akan menyebabkan pertumbuhan potensi dan kreativitas akal anakanak yang pada akhirnya keinginan dan Kemauan mereka menjadi kuat dan hendaknya mereka diberi hak pilih.

3. Saling menghormati antara kedua orang tua dan anak-anak. Hormat di sini bukan berarti bersikap
sopan secara lahir akan tetapi selain ketegasan kedua orang tua, mereka harus memperhatikan keinginan dan permintaan alami dan fitri anak-anak. Saling menghormati artinya dengan mengurangi kritik dan pembicaraan negatif sekaitan dengan kepribadian dan perilaku mereka serta menciptakan iklim kasih sayang dan keakraban, dan pada waktu yang bersamaan kedua orang tua harus menjaga hak-hak hukum mereka yang terkait dengan diri mereka dan orang lain. Kedua orang tua harus bersikap tegas supaya mereka juga mau menghormati sesamanya.

4. Mewujudkan kepercayaan. Menghargai dan memberikan kepercayaan terhadap anak-anak berarti


memberikan penghargaan dan kelayakan terhadap mereka, karena hal ini akan menjadikan mereka maju dan berusaha serta berani dalam bersikap. Kepercayaan anak-anak terhadap dirinya sendiri akan menyebabkan mereka mudah untuk menerima kekurangan dan kesalahan yang ada pada diri mereka. Mereka percaya diri dan yakin dengan kemampuannya sendiri. Dengan membantu orang lain mereka merasa keberadaannya bermanfaat dan penting.

5. Mengadakan perkumpulan dan rapat keluarga (kedua orang tua dan anak). Dengan melihat
keingintahuan fitrah dan kebutuhan jiwa anak, mereka selalu ingin tahu tentang dirinya sendiri. Tugas kedua orang tua adalah memberikan informasi tentang susunan badan dan perubahan serta pertumbuhan anak-anaknya terhadap mereka. Selain itu kedua orang tua harus mengenalkan mereka tentang masalah keyakinan, akhlak dan hukum-hukum fikih serta kehidupan manusia. Jika kedua orang tua bukan sebagai tempat rujukan yang baik dan cukup bagi anak-anaknya maka anak-anak akan mencari contoh lain; baik atau baik dan hal ini akan menyiapkan sarana penyelewengan anak. Dan yang paling penting adalah bahwa ayah dan ibu adalah satu-satunya teladan yang pertama bagi anak-anaknya dalam pembentukan kepribadian, begitu juga anak secara tidak sadar mereka akan terpengaruh, maka kedua orang tua di sini berperan sebagai teladan bagi mereka baik teladan pada tataran teoritis maupun praktis

http://simetriradial.blogspot.com/2012/03/pengaruh-keluarga-bagi-anak-anak.html

Pengaruh Lingkungan Keluarga Terhadap Perkembangan Sosial pada Seorang Anak


OPINI | 12 April 2010 | 09:16 Dibaca: 5548 Kompasianer menilai Bermanfaat Komentar: 8 2 dari 2

Masalah perkembangan manusia tak akan terlepas dari pengaruh lingkungan di sekitarnya. Sebelum hal ini dibahas lebih lanjut, marilah kita melihat beberapa penjelasan pengertianpengertian di bawah ini.

Pengaruh, berarti daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang.[1] Lingkungan,berarti daerah (kawasan dsb) yang termasuk di dalamnya, golongan, kalangan.[2] Perkembangan, berarti perihal berkembang ( menjadi besar, menjadi bertambah sempurna- tt perilaku, pikiran, pengetahuan dsb).[3] Sosial, berarti berkenaan dengan masyarakat.[4] Manusia, makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain).[5] Jadi kita bisa simpulkan bahwa manusia sebagai makhluk yang berakal budi secara keseluruhan baik watak, kepercayaan maupun perbuatannya dalam hal-hal yang berkaitan dengan kemasyarakatan dipengaruhi oleh suatu daya yang keluar dari kawasan atau golongan di mana dia tinggal. Dalam melihat dan mempelajari perkembangan manusia ada banyak persoalan harus dihadapi oleh para peminatnya, baik kalangan ilmuwan ataupun golongan awam. Baik para filsuf, teolog dan para pendidik memiliki cara pandang yang berbeda. Hal ini menggambarkan bahwa ada dugaan yang berbeda tentang hakekat manusia. Pada akhirnya hal ini memunculkan berbagai teori perkembangan. Ada sebuah kontroversi antara penganut faham perkembangan alamiah dan penganut faham perkembangan bentukan. Golongan yang pertama menganggap bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh faktor genetis, kematangan fisik dan fungsi saraf. Perkembangan universal manusia seperti berjalan, berbicara dan bereaksi terhadap manusia dapat diterangkan secara tepat sebagai hasil bawaan biologis. Pada pihak lain, golongan yang kedua (dalam hal ini ahli lingkungan) menekankan pengaruh lingkungan fisik dan sosial terhadap pola perkembangan jiwa. Perubahan perkembangan jiwa terutama diakibatkan oleh pengalaman hidup mereka. Namun demikian kedua pendapat tersebut masing-masing mempunyai kelemahan. Para psikolog lebih melihat kepada penggabungan keduanya. Keduanya mempunyai peran dalam perkembangan jiwa.[6] Perkembangan sosial manusia dimulai dari masa bayinya. Bayi merupakan makhluk sosial sejak awal hidupnya. Pada usia satu bulan bayi bereaksi terhadap suara dan wajah seseorang. Antara dua dan tiga bulan bayi mengembangkan senyum sosial, yaitu mereka mulai tersenyum hampir pada setiap orang. Ini merupakan perkembangan yang penting karena mengundang orang dewasa untuk berinteraksi dengan bayi.[7]

Dalam masa perkembangan selanjutnya beberapa hal yang terjadi dalam hidupnya antara lain: 1. Ada proses imitasi dalam kehidupan seorang anak. Salah satu fungsi dari hal meniru ini ialah untuk memajukan interaksi sosial. Anak-anak lebih mungkin meniru suatu tindakan yang telah disetujui, misalnya makan dengan sendok, dibanding suatu tanggapan yang tidak diperhatikan misalnya memukul dua garpu secara serentak.[8] 2. Memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain Anak usia dua tahun mulai mengarahkan perilaku orang lain.Tujuannya bukan untuk mendapatkan benda tertentu, tetapi untuk mempengaruhi orang dewasa. Anak tidak akan memberi perintah jika mereka tidak berharap orang tua mematuhi mereka. Di sini kita bisa melihat bahwa seorang anak mempunyai kesadaran tentang kemampuannya dalam mempengaruhi orang lain[9]. 3. Memiliki empati. Yang dimaksudkan di sini ialah kemampuan untuk menghargai persepsi dan perasaan orang lain. Hal ini ditunjukkan dengan sikap anak jika mereka melihat orang lain terluka atau tertekan. Walaupun banyak kemampuan pada tahun kedua seperti memiliki kemampuan meniru, mempengaruhi orang lain dan memiliki empati, perkembangan berikutnya tergantung pada pengalaman seseorang. Untuk anak kecil, pengalaman yang paling penting terjadi dalam keluarga. Keluarga merupakan kelompok primer yang paling penting di dalam masyarakat. Keluarga terdiri dari suami, istri dan anak yang belum dewasa.[10] Keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama dalam kehidupan manusia, tempat dimana ia belajar dan menyatakan diri sebagai manusia sosial dalam hubungan interaksi dengan kelompoknya.[11] Di dalam keluarga inilah seorang anak belajar untuk berinteraksi berdasarkan empati dan belajar bekerja sama dengan orang lain. Dengan kata lain dalam keluarga anak belajar memegang peranannya sebagai makhluk sosial yang memiliki aturan dan kemampuan tertentu dalam pergaulannya dengan orang lain. Apa yang dialami melalui interaksi sosial dalam keluarganya turut menentukan tingkah lakunya terhadap orang lain dalam pergaulan sosial di luar keluarga, yaitu di lingkungan masyarakat luas.

Di sini kita melihat bahwa keluarga mempengaruhi seorang anak menjalankan perannya sebagai makhluk sosial (dalam bersosialisasi).

dalam

Setelah kita melihat betapa pentingnya peranan keluarga dalam perkembangan sosial seorang anak, sekarang kita melihat beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial seorang anak. Faktor-faktor tersebut antara lain: 1. Status sosio-ekonomi. Seorang anak yang dibesarkan dengan kondisi perekonomian yang cukup maka dia akan mempunyai kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan diri. Dalam hal ini status sosial ekonomi sebuah keluarga bukanlah faktor mutlak dalam perkembangan sosial manusia. Namun paling tidak hal ini memberi sumbangan bagi perkembangan sosial seseorang. Bisa saja seorang anak dilahirkan ditengah-tengah keluarga yang berkecukupan namun tidak harmonis, tentunya hal ini tidak akan menguntungkan bagi perkembangan sosial seorang anak. 2. Keutuhan Keluarga. Seperti telah diterangkan di atas, keluarga adalah kelompok masyarakat terkecil yang terdiri dari suami, istri dan anak yang belum dewasa. Apabila salah satu dari unsur-unsur tersebut tidak ada, misal ada ibu namun tidak ada ayah (baik karena meninggal atau bercerai), maka keluarga tersebut tidak bisa dikatakan sebagai keluarga yang utuh lagi. Ini disebut keutuhan keluarga secara stuktur. Disamping itu ada pula keutuhan dalam interaksi, yaitu adanya interaksi sosial yang wajar (harmonis). Ketidakutuhan keluarga tentunya berpengaruh negative bagi perkembangan sosial seorang anak.[12] 3. Sikap dan Kebiasaan Orang Tua. Cara-cara dan sikap orang tua dalam pergaulannya memegang peranan yang cukup penting dalam perkembangan sosial seorang anak. Beberapa penelitian telah membuktikan hal ini dan didapati kesimpulan sebagai berikut: Makin otoriter orang tuanya, makin berkuurang ketidaktaatan, tetapi makin banyak timbul ciri-ciri pasivitas, kurangnya inisiatif, tidak dapat merencanakan sesuatu, daya tahan berkurang dan penakut. Sebaliknya sikap demokratis dari orang tua menimbulkan cirri-ciri berinisiatif, tidak penakut, lebih giat dan lebih bertujuan, namun juga menimbulkan kemungkinan berkembangnya ketidaktaatan dan tidak mau menyesuaikan diri. Bila orang tua terlalu melindungi ketergantungan kepada orang tua. anak-anaknya maka akan timbul

Bila orang tua mengembangkan sikap penolakan terhadap anaknya, maka akan timbul ciri-ciri agresivitas dan tingkah laku bermusuhan pada anak tersebut dan juga gejala-gejala menyeleweng seperti berdusta dan mencuri. 4. Status Anak. Yang dimaksud sebagai status anak di sini ialah apakah dia anak tunggal, anak sulung atau bungsu di dalam keluarga.[13] Seorang anak tunggal perkembangan sosialnya berbeda dengan yang bukan anak tunggal. Anak tunggal cenderung egosentris, mencari penghargaan secara berlebihan, memiliki keinginan untuk berkuasa secara berlebihan dan mudah sekali rendah diri. Kita melihat di sini corak negatif dalam perkembangan sosial seorang anak tunggal. Anak tunggal cenderung mengalami hambatan dalam perkembangan sosialnya, karena ia tidak terbiasa bergaul dalam kelompok kekeluargaan yang sangat ia perlukan. Anak yang memiliki saudara lebih aktif dan berambisi dibanding anak tunggal yang pasif dan kurang mau berusaha. Hal ini didasarkan pada kenyataan ketika anak pertama memiliki perasaan dihargai dan diperhatikan orang tua yang lebih besar daripada anak yang kedua dan seterusnya. Anak yang berikutnya justru merasa harus lebih giat berjuang memperoleh penghargaan dan perhatian dari orang tuanya sebesar yang telah diterima oleh kakak pertama. Demikianlah beberapa hal yang dapat saya jelaskan perkembangan sosial seorang anak, semoga bermanfaat. berkaitan dengan

http://edukasi.kompasiana.com/2010/04/12/pengaruh-lingkungan-keluarga-terhadapperkembangan-sosial-pada-seorang-anak/

Monday, May 7, 2012


Pengaruh Keluarga Broken Home pada Anak 2
1. Perkembangan Emosi Anak Menurut Hather Sall (dalam Elida Prayitno 2006 : 96) Emosi merupakan situasi psikologi yang merupakan pengalaman subjektif yang dapat dilihat dari reaksi wajah dan tubuh. Perceraian adalah suatu hal yang harus dihindarkan, agar emosi anak tidak menjadi terganggu. Perceraian adalah suatu penderitaan atau pengalaman traumatis bagi anak (Singgih,1995:166). Adapun dampak pandangan kelurga broken home terhadap perkembangan emosi remaja menurut Wilson Madeah (1993 : 42) adalah : Perceraian orang tua membuat terpramen anak terpengaruh, pengaruh yang tampak secara jelas dalam perkembangan emosi itu membuat anak menjadi pemurung, pemalas (menjadi agresif) yang ingin mencari perhatian orang tua / orang lain. Mencari jati diri dalam suasana rumah tangga yang tumpang dan kurang serasi Sedangkan menurut Hetherington (Save M.Degum 1999:197) Peristiwa perceraian itu menimbulkan ketidak stabilan emosi. Ketidak berartian pada diri remaja akan mudah timbul jika peristiwa perceraian dialami oleh kedua orang tuanya, sehingga dalam menjalani kehidupan Anak merasa bahwa dirinya adalah pihak yang tidak diharapkan dalam kehidupan ini. (Alex Sobur, 1985:282) Anak yang kebutuhannya kurang dipenuhi oleh orang tua emosi marahnya akan mudah terpancing. Seperti yang dikemukakan oleh Hurlock (didalam Elida Priyitno. 2006 : 74) Hubungan antara kedua orang tua yang kurang harmonis terabaikannya kebutuhan remaja akan menampakkan emosi marah. Jadi keluarga sangat berpengaruh pada perkembangan emosi Anak karena keluarga yang tidak harmonis menyebabkan dalam diri anak merasa tidak nyaman dan kurang bahagia. 2. Perkembangan Sosial Anak Menurut Brim (dalam Elida Prayitno. 2006 : 81) Tingkah laku sosial kelompok yang memungkinkan seseorang berpartisipasi secara efektif dalam kelompok atau masyarakat.

Dampak keluarga Broken Home terhadap perkembangan sosial Anak menurut Sunggih D Gunawan 1995 : 108 adalah : Perceraian orang tua menyebabkan tumbuh pograan infenority terhadap kemampaun dan kedudukannya, dia merasa rendah diri menjadi takut untuk meluarkan pergaualannya dengan teman-teman. Sedangkan willson Nadeeh (1993 : 42) menyatakan bahwa : Anak sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan. Anak yang dibesarkan dikeluarga pincang, cendrung sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan. kesulitan itu datang secara alamiah dari diri anak tersebut. Dan dampak bagi Anak perempuan menurut Hethagton (dalam santrok 1996 : 2000) menyatakan bahwa : Anak perempuan yang tidak mempunyai ayah berprilaku dengan salah satu cara yang ekstrim terhadap laki-laki, mereka sangat menarik diri pasif dan minder kemungkinan yang kedua terlalu aktif, agresif dan genit. Jadi keluarga broken home sangat berpengaruh pada perkembangan sosial anak karena dari keluarga anak menampilkan bagaimana cara bergaul dengan teman dan masyarakat. 3. Perkembangan Kepribadian Anak Perceraian ternyata memberikan dampak kurang baik terhadap perkembangan kepribadian anak. Menurut Westima dan Haller (dalam Syamsyu Yusuf 2001 : 99) yaitu bahwa remaja yang orang tuanya bercerai cenderung menunjukkan ciri-ciri : a. Berpilaku nakal b. Mengalami depresi c. Melakukan hubungan seksual secara aktif d. Kecenderungan pada obat-obat terlarang http://rizkyfauzi19.blogspot.com/2012/05/pengaruh-keluarga-broken-home-pada-anak.html

Posted on 27 April 2009 by andaners

KONSEP TUMBUH KEMBANG


Sebagai pemberi pelayanan keperawatan, perawat memeberikan pelayanan dari mulai manusia sebelum lahir sampai dengan meninggal, dalam merawat kasus yang samapun tindakan yang diberikan akan sangat berdeda karena setiap orang adalah unik, sehingga seorang perawat dituntut untuk mengerti proses tumbuh kembang. Tumbuh kembang merupakan hasil dari 2 faktor yang berinteraksi yaitu 1. faktor herediter 2. faktor lingkungan. Manusia dalam tumbuh dan berkembang dipengaruhi oleh kondisi: 1. 2. 3. 4. 5. fisik kogniti psikologis moral spiritual

Tumbuh kembang merupakan proses yang dinamis dan terus menerus. Prinsip tumbuh kembang 1. 2. 3. 4. tumbuh kembang terus menerus dan komplek tumbuh kembang merupakan proses yang teratur dan dapat diprediksi tumbuh kembang berbeda dan terintegrasi setiap aspek tumbuh kembang berbeda dalah setiap tahapnya dan dapat dimodifikasi 5. tahapan tumbang spesifik untuk setiap orang Prinsip Perkembangan dari Kozier dan Erb 1. manusia tumbuh secara terus menerus

2. manusia mengikuti bentuk yang sama dalam pertumbuhan dan perkembangan 3. manusia berkembang menyebabkan dia mendapatkan proses pembelajaran dan kematangan 4. masing-masing tahapan perkembangan memiki karakteristik tertentu 5. selama bayi (infancy) dan balita merupakan saat pembentukan perilaku, gaya hidup, dan bentuk pertumbuhan. Tumbuh kembang adalah Orderly (tertib) dan sequential tetapi juga terus menerus dan komplek. 1. Setiap orang memiliki pengalam yang sama bentuknya 2. Setiap bentuk dan tingkat perkembangan adalah khas Tumbuh kembang memiliki pola teratur dan dapat diprediksi; 1. Cephalocaudal (head to tail) 2. Proximaldistal 3. Symetrical Tumbuh kembang berbeda dan terintegrasi Contoh syaraf tumbuh khas atau berbeda karena berespon terhadap rangsangan yang berbeda. Perbedaan aspek dalam tumbuh kembang terjadi karena beda tahap, jumlah dan dapat dimodifikasi. 1. tulang tumbuh cepat pada tahun pertama, selama tahun sebelum sekolah pertumbuhan tulang melambat 2. bicara berkembang cepat pada usia 3 5 tahun Tahapan tumbuh kembangspesifik untuk setiap orang Keterampilan dan kematangan fisik dan psikologis berbeda dan khusus dari setiap orang Teori tumbuh kembang 1. 2. 3. 4. 5. Psychoanalisa dari Sigmund Freud Psichososial dari Erik Erikson Perkembangan Kognitif dari Jean Piaget Perkembangan Moral dari Lawrence Kohlberg dan Carol Gilligan Perkembangan kepercayaan dari James Fowler

Psikoanalisa
1. 2. 3. 4. Oral (0-18 bulan), kesenangan berpusat pada mulut Anal (8 bulan 4 tahun), kesenangan pada anal Phallic (3 tahun 7 tahun), tertarik pada perbedaan jenis kelamin Latency (5 tahun 12 tahun) a. meningkat peran sex b. proses identifikasi pada orang tua c. persiapan berperan sebagai orang dewasa dan menjalin hubungan

1. Genital (12 tahun 20 tahun) a. Menjalin hubungan dengan hetero seksual b. Sexual pressures

Psikososial
Berdasarkan pada 4 konsep utama 1. 2. 3. 4. tahapan perkembangan tujuan dan tugas perkembangan krisis psikososial proses koping

Tahapan perkembangan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. basic trust vs mistrust autonomy vs shame & doubt initiative vs guilt (kesalahan) industri vs inferiority identity vs role confusion intimacy vc isolation generativity vs stagnation ego integrity vs despair (putus asa)

Basic Trust vs Mistrust, (Infancy, 0-1 tahun) Pada tahap ini bayi mencari kebutuhan dasarnya seperti kehangatan, makanan dan minuman serta kenyamanan dari orang lain dengan keyakinan bahwa setiap dia membutuhkan pasti ada orang yang akan memberikan maka tumbuh pada dirinya sendiri kepercayaan (trust). Mistrust disebabkan karena inkonsistensi, ianadequate atau unsafe care. Perilaku positif 1. Kasih sayang 2. Gratification (kegembiraan, kegiarangan)

3. Recognition (pengakuan/penghargaan) Autonomy Vs Shame & Doubt (Toddler, 1-3 tahun)


motorik dan bahasa berkembang mulai belajar makan, berpakaian dan toilet orang tua yang overprotec atau terlalu tinggi pengaharapan terhadap anak akan menyebabkan anak Shame & Doubt (malu dan ragu) Perilaku positif: tergantung kepada orang tua tetapi memmandang diri sendiri sebagai seseorang yang merupakan bagain dari orang tua

Initiative Vs Guilt, (Preschool, 4 5 tahun)


kepercayaan diri tumbuh maka anak akan memiliki isisiatif pengekangan menyebabkan perasaan berdosa Perilaku positif: menunjukan imajinasi, imitasi orang dewasa, mengetes realitas, anticipates roles (mengharapkan peran)

Industry Vs Inferiority (School age, 6 11 tahun)


anak senang menyelesaikan ssesuatu dan menerima pujian anak tidak berhasil menyelesaikan tugasnya akan menjadi inferior perilaku positif: memiliki perasaan untuk bekerja atau melaksanakan tugas, mengembangkan kompetisi sosial dan sekolah, melakukan tugas yang nyata.

Identity Vs Role Confusion (Adolesence, 12 20 tahun)


banyak perubahan yang terjadi pada fisik mencoba berperan dan apabila berhasil maka identitas akan terbangun akan tetapi apabila tidak akan terjadi kebingungan confusion perilaku positif: percaya pada diri sendiri (self certain), memiliki pengalaman sexual, comitmen terhadap ideologi/kepercayaan

Intimacy Vs Isolation ( Young adulthood 20 40 tahun)


dewasa muda, membangun komitmen sehingga timbulah keintiman apabila tidak mampu membangun komitmen anak akan mengalami isolasi perilaku positif: menunjukan kemampuan untuk komitmen terhdap diri sendiri dan orang lain, memmiliki kemampuan untu mencintai dan bekerja

Generativity Vs Stagnantion ( Midle adulthood, 41 65 tahun)


memikirkan keturunan (generasi) stagnasi disebabkan karena hanya memikirkan diri sendiri Perilaku positif: produktif dan kreatif untuk diri sendiri dan orang lain

Ego Integrity Vs Despair (Late adulthood, 65 tahun lebih)

apabila orang dewasa tua tidak mampu membangun integritas egonya maka ia akan mengalami putus asa Perilaku positif; menghargai kejadian masa lalu, sekarang dan yang akan datang, menerima siklus hidup dan gaya hidup, menerima kematian

Teori perkembangan Piaget Jean Piaget lebih menekankan kepada perkembangan kognitif atau intelektual. Piaget menyatakan perkembangan kognitif berkembang dengan proses yang teratur dengan 4 urutan/tahapan melalui proses ini: 1. Assimilasi, adalah proses pada saat manusia ketemu dan berekasi dengan situasi baru dengan mengunakan mekanisme yang sudah ada. Pada tahap ini manusia mendapatkan pengalaman dan keterampilan baru termasuk cara pandang terhadap dirinya dan duania disekitarnya 2. Akomodasi, merupakan proses kematangan kognitive untuk memecahkan masalah yang sebelumnya tidak dapat dipecahkan. Tahap ini dapat tercapai karena ada pengetahuan baru yang menyatu. 3. Adaptasi, merupakan kemampuan untuk mengantisipasi kebutuhan

Tahapan Perkembangan Piaget


Tahap Sensorimotor Usia Tingkah laku yang signifikan 0 2 tahun Perilaku preverbal, kegiatan motorik sederhana terkoordinasi, dapat mempersepsikan perasaan yang berbeda Preoperasional 3 7 tahun Egoscentrism: dapat menghubungkan konsep suatu benda dengan kenyataan, konsep elaborate (rumit/panjang), mengajukan pertanyaan Concrete 7 11 atau Pemecahan masalah: mulai mengerti operation 12 tahun hubungan seperti ukuran, mengetahuai kiri dan kanan, mempunyai penda[at atau sudut pandang Formal 11 15 atau Hidup dalam sekarang/nyata dan bukan operation 16 tahun sekarang/ tidak nyata, lebih mempokuskan kepada sesuatu yang mungkin, dapat menggunakan alasan ilmiah, dapat menggunakan logika Robert J. Havighurst Havighurst meyakini ada 6 periode atau tahap dari perkembangan. 1. Infancy dan early childhood

2. 3. 4. 5. 6.

Middle childhood Adolesence Early Adulthood Middle Age Later maturity

6 Periode Havighurst dari Tugas Perkembangan Tugas Belajar berjalan, belajar berbicara, belajar makan makanan cair, belajar mengontrol eleiminasi kotoran dari tubuh, belajar membedakan kelamin, menerima kestabilan psikologi, membentuk konsep sosial dan fisik yang sederhana, belajar berhubungan emosi dengan orang tua, saudara (sibling), dan orang lain, belajar membedakan benar dan salah, mengembangkan nurani Middle childhood Belajar keterampilan fisik yang penting dalam permainan, membangun perilaku yang menunjukan diri sendiri sebagai organisme yang berkembang. Belajar mendapatkan teman sebaya, belajar menilai peran feminim dan maskulin, mengembangkan keterampilan dasar membaca, menulis dan menghitung, mengembangkan konsep yang penting dalam kehidupan sehari-hari, mengembangkan nilai perasaan, moral, dan skala, mendapatkan kebebasan individu, mempertahankan perilaku dalam kelompok dan institusi. Adolesence Menerrima keadaan fisik dan menerima peran maskulin atau feminim, mengembangkan hebungan dengan jenis kelamin yang berbeda, memiliki ketidak tergantungan emosid engan orang tua dan orang dewasa lain, memiliki jaminan ekonomi sendiri, memilih dan mempersiapkan pekerjaan sendiri, mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep dalam kehidupan sipil, mempersiapkan perkawinan, dan kehidupan berkeluarga, mendapatkan nilai dan sistem etik yang harmoni dalam memandang dunia, memiliki keinginan dan menerima tanggung jawab perilaku sosial. Early adulthood Memilih teman hidup, belajar hidup dengan pasangan perkawinan, memulai berkeluarga, memiliki anak, mengatur rumah, mulai mendapatkan pekerjaan, memikirkan kepentingan umum, menemukan grup hobies Midle age Menerima peran sivil dan tanggung jawab sosial, Periode Infancy dan childhood

Late maturity

membangun dan mempertahankan standar ekonomi kehidupan, membantu remaja memmiliki tanggung jawab, menggunakan waktu luang untuk mengembangkan kedewasaan, menerima dan menilai perubahan psikologis usia pertengahan, mengatur waktu sebagai orang tua Menerima penurunan kekuatan fisik dan kesehatan, menerima pensiun dan penurunan pendapatan, menerima kematian pasangan, membangun hubungan ekplisit dengan kelompok seusia, kegiatan sosial dan melakukan kewajiban sipil, membangun kepuasan kehidupan fisik

http://andaners.wordpress.com/2009/04/27/konsep-tumbuh-kembang/

BAB II TINJAUAN TEORI A. KONSEP TUMBUH KEMBANG 1. Definisi Pertumbuhan dan Perkembangan Istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup dua peristiwa yang sifatnya berbeda, tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm,meter), umur tulang dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh); sedangkan perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan.(Soetjiningsih. 1998 ) Pertumbuhan adalah bertambah banyak dan besarnya sel seluruh bagian tubuh yang bersifat kuantitatif dan dapat diukur; sedangkan perkembangan adalah bertambah sempurnanya fungsi dari alat tubuh. ( Depkes RI ) Pertumbuhan berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu; perkembangan lebih menitikberatkan aspek perubahan bentuk atau fungsi pematangan organ atau individu, termasuk perubahan aspek sosial atau emosional akibat pengaruh lingkungan.(Markum,1991) 2. Prinsip-Prinsip Tumbuh Kembang Tumbuh kembang merupakan proses yang dinamis dan terus menerus.Prinsip tumbuh kembang a. Tumbuh kembang terus menerus dan komplek b. Tumbuh kembang merupakan proses yang teratur dan dapat diprediksi c. Tumbuh kembang berbeda dan terintegrasi d. Setiap aspek tumbuh kembang berbeda dalah setiap tahapnya dan dapat dimodifikasi

e. Tahapan tumbang spesifik untuk setiap orang Prinsip tumbuh kembang menurut Potter & Perry ( 2005 ) a. Perkembangan merupakan hal yang terartur dan mengikuti rangkaian tertentu b. Perkembangan adalah sesuatu yang terarah dan berlangsung terus menerus, dalam pola sebagai berikut : Cephalocaudal : pertumbuhan berlangsung terus dari kepala ke arah bawah bagian tubuh Proximodistal : perkembangan berlangsung terus dari daerah pusat ( proksimal ) tubuh kea rah luar tubuh ( distal ) Differentiation : ketika perkembangan berlangsung terus dari yang mudah kearah yang lebih kompleks. Perkembangan merupakan hal yang kompleks, dapat diprediksi , terjadi dengan pola yang konsisten dan kronologis Prinsip Perkembangan dari Kozier dan Erb a. Manusia tumbuh secara terus menerus b. Manusia mengikuti bentuk yang sama dalam pertumbuhan dan perkembangan c. Manusia berkembang menyebabkan dia mendapatkan proses pembelajaran dan kematangan d. Masing-masing tahapan perkembangan memiki karakteristik tertentu selama bayi (infancy) dan balita merupakan saat pembentukan perilaku, gaya hidup, dan bentuk pertumbuhan. 3. Ciri Ciri Tumbuh Kembang Tumbuh kembang yang dimulai sejak konsepsi sampai dewasa mempunyai cirri-ciri tersendiri, yaitu (Soetjiningsih, 1995) : a. Tumbuh kembang adalah proses yang kontinyu sejak konsepsi sampai maturitas atau dewasa, dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan. b. Dalam periode tertentu terdapat adanya masa percepatan atau masa perlambatan, serta laju tumbuh kembang yang berlainan diantara organ-organ. c. Pola perkembangan anak adalah sama, tetapi kecepatannya berbeda antara anak satu dengan lainnya. d. Perkembangan erat hubungannya dengan maturasi system susunan saraf. e. Aktivitas seluruh tubuh diganti respon individu yang khas. f. Arah perkembangan anak adalah cephalocaudal. g. Refleks primitive seperti refleks memegang dan berjalan akan menghilang sebelum gerakan volunter tercapai. 4. Tahap Tahap Tumbuh Kembang Bayi dan Balita PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN BAYI DAN BALITA UMUR MOTORIK KASAR MOTORIK HALUS KOMUNIKASI/BICARA SOSIAL/KEMANDIRIAN 1 Bulan Tangan & kaki bergerak aktif Kepala menoleh ke samping kanan dan kiri Bereaksi terhadap bunyi lonceng Menatap wajah ibu/pengasuh. 2 Bulan Mengangkat kepala ketika tengkurap Bersuara Tersenyum Spontan 3 Bulan Kepala tegak ketika didudukan Memegang mainan Tertawa/Berteriak Memandang tangannya 4 Bulan Tengkurap-terlentang sendiri

5 Bulan Meraih, menggapai Menoleh ke suara Meraih mainan 6 Bulan Duduk tanpa berpegangan Memasukkan biskuit ke mulut 7 Bulan Mengambil mainan dengan tangan kanan dan kiri Bersuara ma, ma 8 Bulan Berdiri berpegangan 9 Bulan Menjimpit Melambaikan tangan 10 Bulan Memukul mainan di kedua tangan Bertepuk tangan 11 Bulan Memanggil Mama, Papa Menunjuk, meminta 12 Bulan Berdiri tanpa berpegangan Memasukkan mainan ke cangkir Bermain dengan orang lain 15 Bulan Berjalan Mencoret-coret Berbicara 2 kata Minum dari gelas 1,5 Tahun Lari naik tanggaMenendang bola Menumpuk 2 mainan Berbicara beberapa kata (mimik, pipis) Memakai sendok, menyuapi boneka 2 Tahun Menumpuk 4 mainan Menunjuk gambar (bola,kucing) Menggabungkan beberapa kata (mama pipis) Menunjuk bagian tubuh (mata, mulut) Melepas pakaian,Memakai pakaian,Menyikat gigi 2,5 Tahun Melompat Mencuci tangan dan mengeringkan tangan 3 Tahun Menggambar garis tegak Menyebutkan warna benda, menyebutkan penggunaan benda (gelas untuk minum) Menyebutkan nama temanMemakai baju kaos 3,5 Tahun Berdiri 1 kaki Menggambar lingkaran, menggambar tanda tambah, Menggambar manusia (kepala,badan, kaki) 4 Tahun Memakai baju tanpa dibantu 4,5 Tahun Bermain kartu, menyikat gigi tanpa dibantu 5 Tahun Menghitung mainan BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan : 1) Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interselular, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat. 2) Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian. 3) Perkembangan fisik mencakup pertumbuhan biologis. Misalnya, pertumbuhan otak, otot, tulang serta penuaan dengan berkurangnya ketajaman pandangan mata dan berkurangnya kekuatan otot-otot. 4) Sebagai pemberi pelayanan keperawatan, perawat memberikan pelayanan dari mulai manusia sebelum lahir sampai dengan meninggal, dalam merawat kasus yang samapun tindakan yang diberikan akan sangat berdeda karena setiap orang adalah unik, sehingga seorang perawat dituntut untuk mengerti proses tumbuh kembang. 5) Tumbuh kembang merupakan proses yang dinamis dan terus menerus B. Saran 1. Agar anak dapat tumbuh kembang dengan baik maka para ibu ibu diharapkan dapat memeperhatikan gizi pada bayi dan melatih anak untuk belajar sesuai dengan tahapanya. Sebab belajar merupakan perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha. Melalui belajar, anak memperoleh kemampuan menggunakan sumber yang diwariskan dan potensi yang dimiliki

anak 2. Dalam mengajar, guru hendaknya mampu mengomunikasikan materi dan menyampaikan informasi dengan menggunakan berbagai metode mengajar agar setiap anak dapat menyerap dan memahaminya untuk kemudian digunakan pada saat diperlukan. Hal ini hanya dapat dicapai bila guru mengetahui karakteristik murid-muridnya yang visual, yang auditorial maupun yang kinestik. 3 Bagi ibu ibu yang mempubyai anak diharapkan dapat membimbing anaknya ke arah yang benar agar anaknya memiliki kognitif yang luas daN tidak neniliki gangguan mental. DAFTAR PUSTAKA Markum, A.H. 1991. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Diposkan oleh KULIAH BIDAN di 07:39

Minggu, 27 Maret 2011


KONSEP TUMBUH KEMBANG MANUSIA
2.1 PENGERTIAN TUMBUH KEMBANG Pertumbuhan (growth) adalah merupakan peningkatan jumlah dan besar sel di seluruh bagian tubuh selama sel-sel tersebut membelah diri dan mensintesis protein-protein baru, menghasilkan penambahan jumlah dan berat secara keseluruhan atau sebagian. Dalam pertumbuhan manusia juga terjadi perubahan ukuran, berat badan, tinggi badan, ukuran tulang dan gigi, serta perubahan secara kuantitatif dan perubahan fisik pada diri manusia itu. Dalam pertumbuhan manusia terdapat peristiwa percepatan dan perlambatan. Peristiwa ini merupakan kejadian yang ada dalam setiap organ tubuh. Pertumbuhan adalah suatu proses alamiah yang terjadi pada individu,yaitu secara bertahap,berat dan tinggi anak semakin bertambah dan secara simultan mengalami peningkatan untuk berfungsi baik secara kognitif, psikososial maupun spiritual ( Supartini, 2000). Perkembangan (development) adalah perubahan secara berangsur-angsur dan bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh, meningkatkan dan meluasnya kapasitas seseorang melalui pertumbuhan, kematangan atau kedewasaan (maturation), dan pembelajaran (learning).

Perkembangan manusia berjalan secara progresif, sistematis dan berkesinambungan dengan perkembangan di waktu yang lalu. Perkembangan terjadi perubahan dalam bentuk dan fungsi kematangan organ mulai dari aspek fisik, intelektual, dan emosional. Perkembangan secara fisik yang terjadi adalah dengan bertambahnya sempurna fungsi organ. Perkembangan intelektual ditunjukan dengan kemampuan secara simbol maupun abstrak seperti berbicara, bermain, berhitung. Perkembangan emosional dapat dilihat dari perilaku sosial lingkungan anak. 2.2 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TUMBUH KEMBANG Setiap manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda-beda antara satu dengan manusia lainnya, bisa dengan cepat bahkan lambat, tergantung pada individu dan lingkungannya. Proses tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor di antaranya : a. Faktor heriditer/ genetik Faktor heriditer Pertumbuhan adalah suatu proses alamiah yang terjadi pada individu, yaitu secara bertahap, berat dan tinggi anak semakin bertambah dan secara simultan mengalami peningkatan untuk berfungsi baik secara kognitif, psikososial maupun spiritual ( Supartini, 2000). Merupakan faktor keturunan secara genetik dari orang tua kepada anaknya. Faktor ini tidak dapat berubah sepanjang hidup manusia, dapat menentukan beberapa karkteristik seperti jenis kelamin, ras, rambut, warna mata, pertumbuhan fisik, dan beberapa keunikan sifat dan sikap tubuh seperti temperamen. Faktor ini dapat ditentukan dengan adanya intensitas dan kecepatan dalam pembelahan sel telur, tingkat sensitifitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas, dan berhentinya pertumbuhan tulang. Potensi genetik yang berkualitas hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan yang positif agar memperoleh hasil yang optimal. b. Faktor Lingkungan/ eksternal Lingkungan merupakan faktor yang mempengaruhi individu setiap hari mulai lahir sampai akhir hayatnya, dan sangat mempengaruhi tercapinya atau tidak potensi yang sudah ada dalam diri manusia tersebut sesuai dengan genetiknya. Faktor lingkungan ini secara garis besar dibagi menjadi 2 yaitu : Lingkungan pranatal (faktor lingkungan ketika masihdalam kandungan)

Faktor prenatal yang berpengaruh antara lain gizi ibu pada waktu hamil, faktor mekanis, toksin atau zat kimia, endokrin, radiasi, infeksi, stress, imunitas, dan anoksia embrio. Lingkungan postnatal ( lingkungan setelah kelahiran ) Lingkungan postnatal dapat di golongkan menjadi : c. Lingkungan biologis, meliputi ras, jenis kelamin, gizi, perawatan kesehatan, penyakit kronis, dan fungsi metabolisme. Lingkungan fisik, meliputi sanitasi, cuaca, keadaan rumah, dan radiasi. Lingkungan psikososial, meliputi stimulasi, motivasi belajar, teman sebaya, stress, sekolah, cinta kasih, interaksi anak dengan orang tua. Lingkungan keluarga dan adat istiadat, meliputi pekerjaan atau pendapatan keluarga, pendidikan orang tua, stabilitas rumah tangga, kepribadian orang tua. Faktor Status Sosial ekonomi Status sosial ekonomi dapat berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Anak yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan status sosial yang tinggi cenderung lebih dapat tercukupi kebutuhan gizinya dibandingkan dengan anak yang lahir dan dibesarkan dalam status ekonomi yang rendah. d. Faktor nutrisi Nutrisi adalah salah satu komponen penting dalam menunjang kelangsungan proses tumbuh kembang. Selama masa tumbuh kembang, anak sangat membutuhkan zat gizi seperti protein, karbohidrat, lemak, mineral, vitamin, dan air. Apabila kebutuhan tersebut tidak di penuhi maka proses tumbuh kembang selanjutnya dapat terhambat. e. Faktor kesehatan Status kesehatan dapat berpengaruh pada pencapaian tumbuh kembang. Pada anak dengan kondisi tubuh yang sehat, percepatan untuk tumbuh kembang sangat mudah. Namun sebaliknya, apabila kondisi status kesehatan kurang baik, akan terjadi perlambatan. 2.3 CIRI PROSES TUMBUH KEMBANG Menurut Soetjiningsih, tumbuh kembang anak dimulai dari masa konsepsi sampai dewasa memiliki ciri-ciri tersendiri yaitu : Tumbuh kembang adalah proses yang kontinyu sejak konsepsi sampai maturitas (dewasa) yang dipengaruhi oleh faktor bawaan daan lingkungan.

Dalam periode tertentu terdapat percepatan dan perlambatan dalam proses tumbuh kembang pada setiap organ tubuh berbeda. Pola perkembangan anak adalah sama, tetapi kecepatannya berbeda antara anak satu dengan lainnya. Aktivitas seluruh tubuh diganti dengan respon tubuh yang khas oleh setiap organ. Secara garis besar menurut Markum (1994) tumbuh kembang dibagi menjadi 3 yaitu: a. Tumbuh kembang fisis Tumbuh kembang fisis meliputi perubahan dalam ukuran besar dan fungsi organisme atau individu. Perubahan ini bervariasi dari fungsi tingkat molekuler yang sederhana seperti aktifasi enzim terhadap diferensi sel, sampai kepada proses metabolisme yang kompleks dan perubahan bentuk fisik di masa pubertas. b. Tumbuh kembang intelektual Tumbuh kembang intelektual berkaitan dengan kepandaian berkomunikasi dan kemampuan menangani materi yang bersifat abstrak dan simbolik, seperti bermain, berbicara, berhitung, atau membaca. c. Tumbuh kembang emosional Proses tumbuh kembang emosional bergantung pada kemampuan bayi umtuk membentuk ikatan batin, kemampuan untuk bercinta kasih. Prinsip tumbuh kembang menurut Potter & Perry (2005) yaitu: Perkembangan merupakan hal yang teratur dan mengikuti arah rangkaian tertentu Perkembangan adalah suatu yang terarah dan berlangsung terus menerus, dalam pola sebagai berikut Cephalocaudal yaitu pertumbuhan berlangsung terus dari kepala ke arah bawah bagian tubuh, Proximodistal yaitu perkembangan berlangsung terus dari daerah pusat (proksimal) tubuh kearah luar tubuh (distal), Differentiation yaitu perkembangan berlangsung terus dari yang mudah kearah yang lebih kompleks. Perkembangan merupakan hal yang kompleks, dapat diprediksi, terjadi dengan pola yang konsisiten dan kronologis. 2.4 TAHAP-TAHAP TUMBUH KEMBANG MANUSIA Tahap-tahap tumbuh kembang pada manusia adalah sebagai berikut : Neonatus (bayi lahir sampai usia 28 hari)

Dalam tahap neonatus ini bayi memiliki kemungkinan yang sangat besar tumbuh dan kembang sesuai dengan tindakan yang dilakukan oleh orang tuanya. Sedangkan perawat membantu orang tua dalam memenuhi kebutuhan tumbuh kembang bayi yang masih belum diketahui oleh orang tuanya. Bayi (1 bulan sampai 1 tahun) Dalam tahap ini bayi memiliki kemajuan tumbuh kembang yang sangat pesat. Bayi pada usia 1-3 bulan mulai bisa mengangkat kepala,mengikuti objek pada mata, melihat dengan tersenyum dll. Bayi pada usia 3-6 bulan mulai bisa mengangkat kepala 90, mulai bisa mencari benda-benda yang ada di depan mata dll. Bayi usia 6-9 bulan mulai bisa duduk tanpa di topang, bisa tengkurap dan berbalik sendiri bahkan bisa berpartisipasi dalam bertepuk tangan dll. Bayi usia 9-12 bulan mulai bisa berdiri sendiri tanpa dibantu, berjalan dengan dtuntun, menirukan suara dll. Perawat disini membantu orang tua dalam memberikan pengetahuan dalam mengontrol perkembangan lingkungan sekitar bayi agar pertumbuhan psikologis dan sosialnya bisa berkembang dengan baik. Todler (usia 1-3 tahun) Anak usia toddler ( 1 3 th ) mempunyai sistem kontrol tubuh yang mulai membaik, hampir setiap organ mengalami maturitas maksimal. Pengalaman dan perilaku mereka mulai dipengaruhi oleh lingkungan diluar keluarga terdekat, mereka mulai berinteraksi dengan teman, mengembangkan perilaku/moral secara simbolis, kemampuan berbahasa yang minimal. Sebagai sumber pelayanan kesehatan, perawat berkepentingan untuk mengetahui konsep tumbuh kembang anak usia toddler guna memberikan asuhan keperawatan anak dengan optimal. Pra Sekolah (3-6 tahun) Anak usia pra sekolah adalah anak yang berusia antara 3-6 tahun ( Wong, 2000), anak usia prasekolah memiliki karakteristik tersendiri dalam segi pertumbuhan dan perkembangannya. Dalam hal pertumbuhan, secara fisik anak pada tahun ketiga terjadi penambahan BB 1,8 s/d 2,7 kg dan rata-rata BB 14,6 kg.penambahan TB berkisar antara 7,5 cm dan TB rata-rata 95 cm. Kecepatan pertumbuhan pada tahun keempat hampir sama dengan tahun sebelumnya.BB mencapai 16,7 kg dan TB 103 cm sehingga TB sudah mencapai dua kali lipat dari TB saat lahir. Frekuensi nadi dan pernafasan turun sedikit demi sedikit. Pertumbuhan pada tahun kelima sampai akhir masa pra sekolah BB rata-rata mencapai 18,7 kg dan TB 110 cm, yang mulai ada perubahan adalah pada gigi yaitu kemungkinan munculnya gigi permanent ssudah dapat terjadi.

Usia sekolah (6-12 tahun) Kelompok usia sekolah sangat dipengaruhi oleh teman sebayanya. Perkembangan fisik, psikososial, mental anak meningkat. Perawat disini membantu memberikan waktu dan energi agar anak dapat mengejar hoby yang sesuai dengan bakat yang ada dalam diri anak tersebut. Remaja ( 12-18/20 tahun) Perawat membantu para remaja untuk pengendalian emosi dan pengendalian koping pada jiwa mereka saat ini dalam menghadapi konflik. Dewasa muda (20-40 tahun) Perawat disini membantu remaja dalam menerima gaya hidup yang mereka pilih, membantu dalam penyesuaian diri, menerima komitmen dan kompetensi mereka, dukung perubahan yang penting untuk kesehatan. Dewasa menengah (40-65 tahun) Perawat membantu individu membuat perencanaan sebagai antisipasi terhadap perubahan hidup, untuk menerima faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kesehatan dan fokuskan perhatian individu pada kekuatan, bukan pada kelemahan. Dewasa tua Perawat membantu individu untuk menghadapi kehilangan (pendengaran, penglihatan, kematian orang tercinta). 2.5 PERKEMBANGAN PSIKOSEKSUAL Dalam perkembangan psikoseksual dalam tumbuh kembang dapat dijelaskan beberapa tahap sebagai berikut : a) Tahap oral-sensori (lahir sampai usia 12 bulan) Dalam tahap ini biasanya anak memiliki karakter diantaranya aktivitasnya mulai melibatkan mulut untuk sumber utama dalam kenyamanan anak, perasaannya mulai bergantung pada orang lain (dependen), prosedur dalam pemberian makan sebaiknya memberkan kenyamanan dan keamanan bagi anak. b) Tahap anal-muskular (usia 1-3 tahun / toddler) Dalam tahap ini anak biasanya menggunakan rektum dan anus sebagai sumber kenyamanan, apabila terjadi gangguan pada tahap ini dapat menimbulkan kepribadian obsesif-kompulsif seperti keras kepala, kikir, kejam dan temperamen. c) Tahap falik (3-6 tahun / pra sekolah)

Tahap ini anak lebih merasa nyaman pada organ genitalnya, selain itu masturbasi dimulai dan keinggintahuan tentang seksual. Hambatan yang terjadi pada masa ini menyebabkan kesulitan dalam identitas seksual dan bermasalah dengan otoritas, ekspresi malu, dan takut. d) Tahap latensi (6-12 tahun / masa sekolah) Tahap ini anak mulai menggunakan energinya untuk mulai aktivitas intelektual dan fisik, dalam periode ini kegiatan seksual tidak muncul, penggunaan koping dan mekanisme pertahanan diri muncul pada waktu ini. e) Genital (13 tahun keatas / pubertas atau remaja sampai dewasa) Tahap ini genital menjadi pusat kesenangan seksual dan tekanan, produksi horman seksual menstimulasi perkembangan heteroseksual, energi ditunjukan untuk mencapai hubungan seksual yang teratur, pada awal fase ini sering muncuul emosi yang belum matang, kemudian berkembang kemampuan untuk menerima dan memberi cinta. 2.6 PERKEMBANGAN BIOLOGIS Teori biologisme, biasa disebut teori nativisme menekankan pentingnya peranan bakat. Pendirian biologisme ini dimulai lebniz (1646-1716) yang mengemukakan teori kontunuitas yang dilanjutkan dengan evoluisionisme. Selanjutnya Haeckel (1834-1919) seorang ahli biologi Jerman mengemukakan teori biogenese, yang menyatakan bahwa perkembangan ontogenese (individu) merupakan rekapitulasi dari filogesenasi. Para penganut bilogisme menekankan pada faktor biologis, menekankan fase-fase perkembangan yang harus dilalui. Sedangkan penganut sosiologisme atau empirisme menekankan peranan lingkungan pada perkembangan pribadi. Wolf menentang teori biogenese dan mengemukakan teori epigenese, yang menyatakan bahwa perkembangan organisme itu tidak ditentukan oleh performansinya, melainkan ada sesuatu yang baru. William Stern mengemukakan teori konvergensi yang berusaha mensitesakan kedua teori tersebut. Sebagai makhluk kodrati yang kompleks, manusia memiliki inteligensi dan kehendak bebas. Dalam hal perkembangan, pada awalnya manusia berkembang alami sesuai dengan hukum alam. Kemudian perkembangan alami manusia ini menjadi jauh melampui perkembangan makhluk lain melalui intervensi inteligensi dan kebebasannya.

2.7 PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL Erik H Erickson mengungkapkan pendapatnya tentang teori tentang perkembangan psikososial diantaranya : 1) Trust vs mistrust -- bayi (lahir 12 bulan) Anak memiliki indikator positif yaitu belajar percaya pada orang lain, tetapi selain itu ada segi negatifnya yaitu tidak percaya, menarik diri dari lingkungan masyarakat,dan bahkan pengasingan. Pemenuhan kepuasan untuk makan dan menghisap, rasa hangat dan nyaman, cinta dan rasa aman itu bisa menghasilkan kepercayaan. Pada saat kebutuhan dasar tidak terpenuhi bayi akan menjadi curiga, penuh rasa takut, dan tidak percaya. Hal ini ditandai dengan perilaku makan, tidur dan eliminasi yang buruk. 2) Otonomi vs ragu-ragu dan malu (autonomy vs shame & doubt) todler 3 tahun) Gejala positif dari tahap ini adalah kontrol diri tanpa kehilangan harga diri, dan negatifnya anak terpaksa membatasi diri atau terpaksa mengalah. Anak mulai mengembangkan kemandirian dan mulai terbentk kontrol diri. Hal ini harus didukung oleh orang tua, mungkin apabila dukungan tidak dimiliki maka anak tersebut memiliki kepribadian yang ragu-ragu. 3) Inisiatif vs merasa bersalah (initiative vs guilt) -- pra sekolah ( 3-6 tahun) Anak mulai mempelajari tingkat ketegasan dan tujuan mempengaruhi lingkungan dan mulai mengevaluasi kebiasaan diri sendiri. Disamping itu anak kurang percaya diri, pesimis, pembatasan dan kontrol yang berlebihan terhadap aktivitas pribadinya. Rasa bersalah mungkin muncul pada saat melakukan aktivitas yang berlawanan dengan orang tua dan anak harus diajari memulai aktivitas tanpa mengganggu hak-hak orang lain.. 4) Industri vs inferior (industry vs inferiority) -- usia sekolah (6-12 tahun) Anak mendapatkan pengenalan melalui demonstrasi ketrampilan dan produksi benda-benda serta mengembangkan harga diri melalui pencapaian, anak biasanya terpengaruhi oleh guru dan sekolah. Anak juga sering hilang harapan, merasa cukup, menarik diri dari sekolah dan teman sebaya. 5) Identitas vs bingung peran (identity vs role confusion) -- remaja (12 - 18 tahun) Teman sebaya memiliki pengaruh yang sangat besar yang kuat terhadap perilaku anak, anak mengembangkan penyatuan rasa diri sendiri, kegagalan untuk mengembangkan rasa identitas dengan kebingungan peran,sering muncul dari perasaan tidak adekuat, isolasi dan keragu-raguan. (1-

6) Intimasi vs isolasi (intimacy vs isolation) dewasa muda (18-25sampai 45tahun) Individu mengembangkan kedekatan dan berbagi hubungan dengan orang lain, yang mungkin termasuk pasangan seksualnya, ketidakpastian individu mengenai akan mempunyai kesulitan mengembangkan keintiman, individu tidak bersedia atau tidak mampu berbagi mengenai diri sendiri hal ini akan menjadikan individu meraa sendiri. 7) Generativitas vs stagnasi atau absorpsi diri dewasa tengah (45 65 tahun) Absorpsi diri orang dewasa akan direnungi selanjutnya, mengekspresikan kepedulian pada dunia di masa yang akan datang, perenungan diri sendiri mengarah pada stagnasi kehidupan. Orang dewasa membimbing generasi selanjutnya, mengekspresikan kepada dunia dimasa yang akan datang. 8) Integritas ego vs putus asa -- dewasa akhir (65 tahun keatas) Masa lansia dapat melihat kebelakang dengan rasa puas dan penerimaan hidup dan kematian, pencaian yang tidak berhasil dalam krisis ini bisa menghasilkan perasaan putus asa karena individu melihat kehidupan sebagai bagian dari ketidakberuntungan. Selain teori tersebut menurut, diketahui bahwa gejolak emosi remaja dan masalah remaja lain pada umumnya disebabkan antara lain oleh adanya konflik peran sosial. Di satu pihak ia sudah ingin mandiri sebagai orang dewasa, di pihak lain ia masih harus terus mengikuti kemauan orang tua. Rasa ketergantungan pada orang tua di kalangan anak anak Indonesia lebih besar lagi, karena memang dikehandaki demikian oleh orang tua.Konflik peran yang yang dapat menimbulkan gejolak emosi dan kesulitan kesulitan lain pada amasa remaja dapat dikurangi dengan memberi latihan latihan agar anak dapat mandiri sedini mungkin. Dengan kemandiriannya anak dapat memilih jalannya sendiri dan ia akan berkembang lebih mantap. Oleh karena ia tahu dengan tepat saat saat yang berbahaya di mana ia harus kembali berkonsultasi dengan orang tuanya atau dengan orang dewasa lain yang lebih tahu dari dirinya sendiri. 2.8 PERKEMBANGAN MORAL Moral merupakan bagian yang cukup penting dalam jiwa remaja. Sebagian orang berpendapat bahwa moral bisa mengendalikan tingkah laku anak yang beranjak dewasa ini sehingga ia tidak melakukan hal hal yang merugikan atau bertentangan dengan kehendak atau pandangan masyarakat.Di sisi lain tiadanya moral seringkali dituding sebagai faktor penyebab

meningkatnya

kenakalan

remaja.

Para sosiolog beranggapan bahwa masyarakat sendiri punya peran penting dalam pembentukan moral. W.G. Summer (1907), salah seorang sosiolog, berpendapat bahwa tingkah laku manusia yang terkendali disebabkan oleh adanya kontrol dari masyarakat itu sendiri yang mempunyai sanksi sanksi tersendiri buat pelanggar pelanggarnya.Bayi berada dalam tahap perkembangan moral yang oleh Piaget (Hurlock, 1980) disebut moralitas dengan paksaan (preconventional level) yang merupakan tahap pertama dari tiga tahapan perkembangan moral. Menurut teori Kohlberg (1968) menyatakan bahwa perkembangan moral meliputi beberapa tahap meliputi : Tingkat premoral (prekonvensional) : lahir sampai 9 tahun Anak menyesuaikan minat diri sendiri dengan aturan, berasumsi bahwa penghargaan atau bantuan akan diterimanya, kewaspadaan terhadap moral yang bisa diterima secara sosial, kontrol emosi didapatkan dari luar. Tingkat moralitas konvensional : 9-13 tahun Usaha yang dilakukan untuk memyensngkan orang lain, kontrol emosi didapat dari dalam, anak menyesuaikan diri untuk menghindari penolakan dan menghindari kritikan dari yang berwenang. Tingkat moralitas pasca konvensional : 13 tahun sampai meninggal Individu memperoleh nilai moral yang benar, pencapaian nilai moral yang benar terjadi setelah dicapai formal operasional dan tidak semua orang mencapai tingkatan ini. Konsep kunci untuk memahami perkembangan moral, khususnya teori Kohlberg, ialah internalisasi (internalization), yakni perubahan perkembangan dari perilaku yang dikendalikan secara eksternal menjadi perilaku yang dikendalikan secara internal. 2.9 PERKEMBANGAN SPIRITUAL Sejalan dengan perkembangan social, perkembangan keagamaan mulai disadari bahwa terdapat aturan-aturan perilaku yang boleh, harus atau terlarang untuk melakukannya.Perkembangan spiritual anak sangat bepengaruh sekali dalam tumbuh kembang anak. Agama sebagai pedoman hidup anak untuk masa yang akan datang. Selain itu, moral seorang anak juga dapat dibentuk melalui perkembangan spiritual. Anak diberi pengetahuan adanya kepercayaan terhadap Tuhan YME sesuai dengan kepercayaan yang dianut orang tua. Karena agama seorang anak itu diturunkan/diwariskan oleh orang tuanya.

Para ahli berpendapat bahwa perkembangan spiritual dibagi menjadi 3 tahapan yaitu : Masa kanak-kanak (sampai tujuh tahun) Tanda-tandanya antara lain : sikap keagamaan resepsif meskipun banyak bertanya, pandangan ke- Tuhanan masih dipersonifikasikan, penghayatan secara rohaniah masih belum mendalam meskipun mereka telah melakukan kegiatan ritual. Masa anak sekolah Tanda-tandanya antara lain : sikap keagamaan resepsif tetapi disertai pengertian, pandangan dan faham ke-Tuhanan diterangkan secara rasional berdasarkan kaidah-kaidah logika yang bersumber pada indikator alam semesta sebagai manifestasi dari eksistensi dan keagungan-Nya, pengahayatan secara rohaniah makin mendalam dalam melaksanakan ritual. Masa remaja (12-18 tahun) Tanda-tanda masa remaja awal : sikap negatif disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat kenyataan orang-orang beragama secara hypocrit yang pengakuan dan ucapannya tidak selalu sama dengan perbuatannya, pandangan dalam hal ke-Tuhanan menjadi kacau karena ia bingung terhadap berbagai konsep tentang aliran dan paham yang saling bertentangan. Tanda-tanda masa remaja akhir : sikap kembali kearah positif dengan tercapainya kedewasaan intelektual, pandangan dalam hal ke-Tuhanan dipahamkan dalam konteks agama yang dianut dan dipilih, penghayatan rohaninya kembali tenang setelah melalui proses identifikasi dan membedakan agama sebagai doktrin bagi para penganutnya. Perawat bisa membantu dengan melakukan tindakan memberikan pengetahuan kepada anak tentang apa yang terbaik bagi kesehatan anak dan keadaan dimana anak memerlukan dorongan secara spiritual demi kesembuhan penyakitnya. Allah selamanya mendengar bisikan dan pembicaraan, melihat setiap gerak-geriknya dan mengetahui apa yang dirahasiakan , memperhatikan khusu', taqwa dan ibadah. 2.10APLIKASI TUMBUH KEMBANG DENGAN KEPERAWATAN Dalam teori perkembangan hanya menjelaskan satu aspek yaitu perawat harus mengaplikasikan beberapa teori perkembangan yang ada untuk memahami pasien saat melakukan pengkajian dan implementasi tindakan keperawatan tentang tumbuh kembang.Perkembangan setiap individu berbeda antara yang satu dengan yang lainnya sesuai

dengan tingkat perkembangan dirinya sendiri oleh arena itu perawat tidak boleh membedabedakan antara klien yang satu dengan yang lainnya. Teori-teori tumbuh kembang dapat bermanfaat dalam dunia keperawatan diantaranya untuk pengkajian, mengetahui tingkatan perilaku klien dan memberikan intervensi keperawatan terhadap klien sesuai dengan masalah yang dihadapinya. Konsep tumbuh kembang manusia ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam mempelajari konsep tumbuh kembang manusia pada berbagai macam tingkatan usia dan masalah yand ada dalam masyarakat http://hatyascenter.blogspot.com/2011/03/konsep-tumbuh-kembang-manusia.html

PENGARUH TUMBUH KEMBANG PADA PENINGKATAN KESEHATAN ANAK


Diposkan oleh fani_afnan_janati_arysa , 09, April 1. a). Tumbuh kembang Dalam Ilmu Kesehatan Anak istilah pertumbuhan dan perkembangan menyangkut semua sapek kemajuan yang dicapai oleh jasad manusia dari konsepsi sampai dewasa. Jenis tumbuh kembang dibedakan menjadi tiga, yaitu tumbuh kembang fisis, intelektual, dan social emosional. Penilaian tumbuh kembang meliputi evaluasi pertumbuhan fisis ( kurva/grafik berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, lingkar dada dan lingkar perut), evaluasi umur tulang, evaluasi pertumbuhan gigi geligi, evaluasi neurologis, dan perkembangan social serta evalusai keremajaan. b). Dasar-dasar tumbuh kembang ( Tahap perkembangan, Pola Tumbuh kembang, perbedaan individual ) Pertumbuhanpeningkatan jumlah dan ukuran sel pada saat membelah diri dan mensintesis protein baru; menghasilkan ukuran dan berat seluruh atau sebagian bagian sel. Perkembanganperubahan dan perluasan secara bertahap; perkembangan tahap kompleksitas dari yang lebih rendah ke yang lebih tinggi; peningkatan dan peruasaan kapasitas seseorang melalui pertumbuhan, maturasi dan pembelajaran. Maturasipeningkatan kompetensi dan kemampuan adaptasi; penuaan; biasanya digunakan untuk menjelaskan perubahaan kualitatif; perubahan kompleksitas struktur yang memungkinkan berfungsinya struktur tersebut pada tingkat yang lebih tinggi. Diferensiasiproses modifikasi sel dan struktur awal secara sistematik untuk mencapai sifat fisik dan kimaiwi yang spesifik; terkadang digunakan unutk menjelaskan kecendrungan massa kea rah spesifikasi; perkembangan aktivitas dan fungsi dari yang sederhana ke yang lebih kompleks. Tahap Perkembangan Periode prenatal : konsepsi sampai lahir Germinal; konsepsi sampai kira-kira 2 minggu

Embrio : 2 sampai 8 minggu Janin : 8 sampai 40 minggu ( lahir ) Masa bayi : lahir sampai 1 tahun Neonatus : lahir sampai 27 atau 28 hari Bayi : 1 sampai kira-kira 1 tahun Masa kanak-kanak awal : 1 sampai 6 tahun Toddler : 1 sampai 3 tahun Prasekolah : 3 sampai 6 tahun Peride ini, yang berasal dari waktu anak-anak dapat bergerak sambil berdiri sampai mereka masuk sekolah, dicirikan dengan aktivitas ynag tinggi dan penemuan-penemuan. Masa kanak-kanak pertengahan : 6 sampai 11 atau 12 tahun merupakan salah satu tahap perkembangan ketika anak diarahkan menjauh dari kelompok keluarga dan berpusat si dunia hubungan sebaya yang lebih luas. Masa Kanak-kanak akhir : 11-19 tahun Prapubertas : 10-13 tahun Remaja : 13 sampai kira-kira 18 tahun Periode maturasi dan perubahan cepat yang membingungkan yang dianggap sebagi masa remaja dianggap sebagi periode transisi yang dimulai pada masa pubertas dan berakhir pada saat memasuki dunia dewasabiasanya lulus sekolah menengah atas Pola Tumbuh Kembang Kecenderungan arah : tumbuh kembang terjadi dengan arah/tahapan yang teratur dan terikat serta mencerminkan prkembangan dan maturasi fungsi neuromuscular Kecenderungan Urutan. Laju perkembangan. Meskipun perkembangan memiliki urutan yang pasti dan tepat, namun laju perkembangan tidak sama karena setiap idividu itu unik. Periode Sensitif. Terdapat batasan waktu selama proses pertumbuhan ketika organism berinteraksi dengan ligkungan tertentu dengan cara yang spesifik. Perbedaan Individual Setiap anak tumbuh dengan keunikan dan caranya sendiri. Terdapat variasi yang besar dalam hal usia pencapaian tahap perkembangan. c). Pertumbuhan biologis dan perkembangan fisik ( proporsi eksternal, determinan biologis dari pertumbuhan dan perkembangan, pertumbuhan dalam maturasi tulang rangka, maturasi neulogik, jaringan limpoid, perkembangan system organ ) Proporsi Eksternal Variasi laju pertumbuhan jaringan dans system organ yang berbeda menghasilkan perubahan yang signifikan pada proporsi tubuh selama masa kanak-kanak. Determinan Biologis dari Pertumbuhan dan Perkembangan Pada sebagian jaringan, perubahan tersebut terjadi secari kontinu (mis.pertumbuhan tulang dan gigi); pada jaringan lai; prubahan signifikan terjadi pada tahap yag spesifik (mis.penampakan karakteristik seks sekunder). Pertumbuhan Dan Maturasi Tulang Rangka Pengukuran yang paling akurat dari perkembangan umum adalah tulang rangka atau usia tulang karena usia tulang rangka erat hubungannya dengan pengukuran maturitas lainnya. Usia tulang ini ditentukan dengan membandingkan mineralisasi pusat osifikasi pusat tulang dan bentuk

bentuk tulang yang terkait usia.pusat osifikasi pertama kali muncul pada usia embrio dua bulan. Maturasi Neurologik System syaraf tumbuh proposional lebih cepat sebelum kelahiran.pertumbuhannya terjadi secara cepat pada masa bayi sampai masa kanak-kanak awal dan malambat pada masa kanak-kanak akhir dan remaja. perkembangan neurologic terkadang digunakan sebagai indikator usia maturasi pada minggu-minggu awal kehidupan. Jaringan Limfoid Jaringan limfoid (terdapat dalam nodus limfe, timus, limpa, tonsil, adenoid, limfosit darah) berukuraan kecil, tetapi telah berkembang dengan baik pada saat lahir. Jaringan ini mencapai ukuran dewasa dengan cepat pada usia 6 bulan. Pada usia 10-12 bulan, jaringan ini mencapai perkembangan maksimal yang kira-kira dua kali ukuran dewasa. Pada masa remaja, terjadi penurunan yang cepat. Perkembangan system organ Jaringan dan system orgam mengalami perubahan pada masa perkembangan, baik secara mencolok maupun samar-samar. Perubahan tersebut berpengaruh pada pengkajian dan perawatan. d). Perubahan fisiologis ( Metabolisme, suhu, tidur dan istirahat ), Temperamen (makna temperamen ). Perubahan fisiologis Perubahan fisiologis yang terjadi di semua organ dan system didiskusikan berkaitan dengan disfungsinya. yaitu : 1. Metabolisme BMR menunjukkan perubahan jelas semasa kanak-kanak. BMR tertinggi pada bayi baru lahir (108 kkal/kg Bb), menurun progresif sampai maturitas (40-45 kkal/Kg BB), proporsi sedikit lebih tinggi pada laki-laki pada semua usia dan meningkat selama masa pubertas melampaui perempuan. 2. Suhu Pada neonates yang sehat, hipotermi dapat menyebabkan konsekuensi metabolic negative seperti hipoglikemi. Bayi dan anak kecil rentan terhadap fluktuasi suhu, beespon terhadap perubahan suhu lingkungan, kerena menangis, marah,emosi, aktifitas fisik, maupun karena infeksi. 3. Tidur dan Istirahat Bayi baru lahir, tidur selama waktu yang tidak digunakan dan aspek-aspek lain dalam perawatannya.. selama akhir tahun pertama, sebagian anak tidur sepanjang malam disertai tidur 1-2 kali siang harinya. Usia 3 tahun anak-anak tidak lagi tidur siang, usia 4-10 tahun waktu tidur menurun dan meningkat pada priode pubertas. TEMPERAMEN Temperamen adalah cara berfikir, berperilaku atau bereaksi dan merujuk pada cara seseorang dalam menjalani kehidupannya. Ada 9 ciri/atribyt temperamen: 1) Aktifitas : gerakan fisik seperti makan, tidur, madi, berpakain dan bermain 2) Ritrisitas : keteraturan fungsi fisiologis seperti lapar, tidur, eliminasi 3) Pendekatan(+) atau menarik diri (-) : terhadap stimulus baru 4) Kemampuan adaptasi 5) Ambang renposivitas : batas kekuatan stimulus untuk memunculkan reaksi 6) Intensitas reaksi : tingkat energy reaksi 7) Mood : jumlah perilaku menyenangkan dantidak menyenangkan

8) Distraksibilitas : mudah mengalihkan perhatian anak dengan stimulus eksternal 9) Rentang perhatian dan Persistensi :ketekunan dan kontinuitas aktivitas tampa peduli hambatan Kategori umum temperamen berdasarkan atribut temperamen : a. The easy child. Berkepribadian santai, teratur, mudah diprediksi. Jumlah anak 40% b. The difficult child. Sangat aktif, sensitive, dantidak teratur. Jumlah anak 10% c. The slow-to-warm-up child. Bereaksi secara negative, penolakan ringan, sulit beradabtasi pada paparan berulang, pasif pada situasi barum ketidakteraturan tingkat sedang. Jumlah anak 15% d. Rentang luas dan tidak konsisten. Jumlah anak 35%. PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN DAN FUNGSI MENTAL DASAR TEORITIK PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN Manurut Freud, semua prilaku manusia digerakkanoleh kekuatan psikodinamik, dan energi fisik ini dibagi menjadi 3 komponen : id, ego dan superego. PERKEMBANGAN PSIKOSEKSUAL Menurut Sigmund Freud (1856-1939) Fase-fase perkembangan individu didorong oleh energi psikis yang disebut libido (dorongan kehidupan yang sudah ada sejak bayi). Freud membagi perkembangan manusia menjadi 6 fase : Fase Oral (0-1tahun) Anak memperoleh kepuasan dan kenikmatan yang bersumber pada mulutnya. Hubungan sosial lebih bersifat fisik, seperti makan atau minum susu. Objek sosial terdekat adalah ibu, terutama saat menyusu. Fase Anal (1-3tahun) : Pada fase ini pusat kenikmatannya terletak di anus, terutama saat buang air besar. Inilah saat yang paling tepat untuk mengajarkan disiplin pada anak termasuk toilet training. Fase Falik (3-5tahun) : Anak memindahkan pust kenikmatannya pada daerah kelamin. Anak mulai tertarik dengan perbedaan anatomis antara laki-laki dan perempuan. Pada anak laki-laki kedekatan dengan ibunya menimbulkan gairah sexual perasaan cinta yang disebut Oedipus Complex. Sedangkan pada anak perempuan disebut Electra Complex. Periode Laten (5-12tahun) : Ini adalah masa tenang, walau anak mengalami perkembangan pesat pada aspek motorik dan kognitif.. Anak mencari figure ideal diantara orang dewasa berjenis kelamin sama dengannya. Fase Genital (12tahun keatas) : Alat-alat reproduksi sudah mulai masak, pusat kepuasannya berada pada daerah kelamin. Energi psikis (libido) diarahkan untuk hubungan-hubungan heteroseksual. Rasa cintanya pada anggota keluarga dialihkan pada orang lain yang berlawan jenis. PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL ( Erik Erickson) 1. Trust vs Mistrust (Kepercayaan vs Kecurigaan) Tahap ini berlangsung pada masa oral, kira-kira terjadi pada umur 0-1 atau 1 tahun. Tugas yang harus dijalani pada tahap ini adalah menumbuhkan dan mengembangkan kepercayaan tanpa harus menekan kemampuan untuk hadirnya suatu ketidakpercayaan. 2. Otonomi vs Perasaan Malu dan Ragu-ragu Pada tahap kedua adalah tahap anus-otot (anal-mascular stages), masa ini biasanya disebut masa balita yang berlangsung mulai dari usia 18 bulan sampai 3 atau 4 tahun. Tugas yang harus diselesaikan pada masa ini adalah kemandirian (otonomi) sekaligus dapat memperkecil perasaan malu dan ragu-ragu.

3. Inisiatif vs Kesalahan Tahap ketiga adalah tahap kelamin-lokomotor (genital-locomotor stage) atau yang biasa disebut tahap bermain. Tahap ini pada suatu periode tertentu saat anak menginjak usia 3 sampai 5 atau 6 tahun, dan tugas yang harus diemban seorang anak pada masa ini ialah untuk belajar punya gagasan (inisiatif) tanpa banyak terlalu melakukan kesalahan. 4. Kerajinan vs Inferioritas Tahap keempat adalah tahap laten yang terjadi pada usia sekolah dasar antara umur 6 sampai 12 tahun. Salah satu tugas yang diperlukan dalam tahap ini ialah mengembangkan kemampuan bekerja keras dan menghindari perasaan rasa rendah diri. 5. Identitas vs Kekacauan Identitas Tahap kelima merupakan tahap adolesen (remaja), yang dimulai pada saat masa puber dan berakhir pada usia 18 atau 20 tahun. melalui tahap ini orang harus mencapai tingkat identitas ego, dalam pengertiannya identitas pribadi berarti mengetahui siapa dirinya dan bagaimana cara seseorang terjun ke tengah masyarakat 6. Keintiman vs Isolasi yaitu pada masa dewasa awal yang berusia sekitar 20-30 tahun. Adalah ingin mencapai kedekatan dengan orang lain dan berusaha menghindar dari sikap menyendiri. 7. Generativitas vs Stagnasi Masa dewasa (dewasa tengah) berada pada posisi ke tujuh, dan ditempati oleh orang-orang yang berusia sekitar 30 sampai 60 tahun. salah satu tugas untuk dicapai ialah dapat mengabdikan diri guna keseimbangan antara sifat melahirkan sesuatu (generativitas) dengan tidak berbuat apa-apa (stagnasi). 8. Integritas vs Keputusasaan Tahap terakhir dalam teorinya Erikson disebut tahap usia senja yang diduduki oleh orang-orang yang berusia sekitar 60 atau 65 ke atas. Yang menjadi tugas pada usia senja ini adalah integritas dan berupaya menghilangkan putus asa dan kekecewaan. DASAR TEORI PERKEMBANGAN MENTAL PERKEMBANGAN KOGNITIF PIAGET a. fase sensorimotor (lahir 2 tahun) tahap 1 : Penggunaan aktivitas refleks (lahir 1 bulan) tahap 2 : reaksi sirkular primer (1-4 bulan) tahap 3 : reaksi sirkular sekunder (4-8 bulan) tahap 4 : koordinasi dari skema sekunder (8-12 bulan) tahap 5 : reaksi sirkular tersier (12-18 bulan) tahap 6 : intervensi dari arti baru (18-24 bulan) b. fase preoperasional (2-7 tahun) simbol seperti kata untuk mewakili manusia, benda dan tempat. kemampuan berfokus hanya pada satu aspek pada satu waktu, dan pemikiran sering terlihat tidak logis c. fase konkret operasional (7-11 tahun) memecahkan masalah konkret, mulai mengerti tentang suatu hubungan misalnya ukuran, mengerti kanan dan kiri. Dan Anak dapat membuat alasan mengenai apa itu, tapi tidak dapat membuat hipotesa mengenai apa kemungkinannya dan dengan demikian tidak dapat berpikir mengenai masalah ke depan d. Fase formal operasional (11-15 tahun) pemikiran rasional, bersifat keakanan

kemampuan untuk berperilaku yang abstrak, dan muncul pemikiran ilmiah menyadari masalah moral dan politik dari berbagai pandangan yang ada PERKEMBANGAN BAHASA Anak-anak memiliki kemampuan untuk mengembagkan bicara dan keterampilan berbahasa. Laju perkembangan bicara berkaitan denagn kompetensi neurologik dan perkembangan kognitif. Di semua tahap perkembangan bahasa, pemahaman anak tentang perbendaharaan kata yang mereka pahami dan perbendaharaan kata yang merka ucapkan mencerminkan proses modifikasi dan kontiniu yang melibatkan peolehan kata-kata baru, adanya perluasan atau penghalusan arti dari kata-kata yang dipelajari. PERKEMBANGAN MORAL (KOHLBERG) Prakonvensional, Terorientasi secara budaya dengan label baik/buruk dan benar/salah. Konvensional, Anak terfokus pada kepatuhan dan loyalitas. Mereka menghargai pemeliharaan harapan keluarga, kelompok atau Negara tanpa memperdulikan konsekuensinya Pascakonvensional, Individu mencapai tahap kognitif operasional formal. Prilaku yang telah sesuai dengan standar yang ada di masyarakat. PERKEMBANGAN SPIRITUAL Tahap 0: Undifferentiated Ketika bayi, anak tidak memiliki konsep benar/salah, keyakinan dan tidak ada keyakinan yang membimbing prilaku mereka Tahap 1: Intuitive-Projective Anak mulai meniru apa yang dilakukan orang lain dlm segi agama, diusia praskolah, mereka mulai memahami beberapa nilai dan keyakianan orangtuanya. Tahap 2: Mythical-Literal Selama usia sekolah, anak sangat tertarik pada agamaereka menerima ketuhanan, bagaimana pentingnya doa, prilaku yang baik/buruk akan mendapat balasannya. Tahap 3: Suntethic- Convention Saat mendekati remaja, anak mulai menyadari kekecewaan spiritual, mereka bahkan mulai berfikir dan mempertanyakan standar keagamaan orang tuanya sampai ada yang membantahnya. Tahap 4: Individuating- Reflexive Remaja menjadi lebih skeptis, dan mulai membandingkan berbagai standar keagamaan orangtuanya dengan orang lain, atau dengan sudut pandang ilmiah. PERKEMBANGAN KONSEP DIRI Konsep diri mencakup konsep, keyakinan, dan pendirian yang ada dalam pengetahuan seseorang tentang dirinya sendiri dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain. Dan berkembang perlahan-lahan sebagai hasil pengalaman unik dengan diri sendiri dan orang lain. Citra Tubuh Terdiri atas sifat fisiologis(persepsi tgentang karakter fisik), psikologi (nilai dan sikap terhadap tubuh, kemampuyan dan ideal diri), dan sifat social tentang citra diri seseorang(diri sendiri maupun orang lain). Harga diri Merupakan nilai yang ditempatkan individu pada diri sendiri dan mengcu pada evaluasi diri secara menyeluruh terhadap diri sendiri (Willoughby, King dan Polatajka,1996). Harga diri berubah sesuai perkembangan.umpan balik positif meningkatkan harga diri mereka dan rentan terhadap perasaan tidak berharga dan mencemaskan kegagalan. BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN 1. Keturunan Jenis kelamin dan determinan keturunan lain secara kuat mmpengaruhi hasil akhir pertumbuhan

dan laju perkembangan untuk mendapatkan hasil akhir tersebut. Terdapat hubungan yang besar antara orangtua dan anak dalam hal sifat seperti tinggi badan, berat badan, dan laju pertumbuhan.. 2. Neuroendokrin Beberapa hubungan fungsional diyakini ada diantara hipotalamus dan system endokrin yang memengaruhi pertumbuhan.Kemungkinan semua hormone memengaruhi pertumbuhan dan beberapa cara. Tiga hormon-hormon pertumbuhan, hormone tiroid, dan endrogen. Tampak bahwa setiap hormone yang mempunyai pengaruh bermakna pada pertumbuhan memanifestasikan efek utamanya pa periode pertumbuhan yang berbeda. 3. Nutrisi Nutrisi mungkin merupakan satu-satunya pengaruh paling pentng pada pertumbuhan. Faktor diet mengatur pertumbuhan pada semua tahap perkembangan, dan efeknya ditujukan pada cara beragam dan rumit. 4. Hubungan Interpersonal Hubungan dengan orang terdekat memainkan peran penting dalam perkembangan, terutama dalam perkembangan emosi, intelektual, dan kepribadian. luasnya rentang kontak penting untuk pembelajaran dan perkembangan kepribadian yang sehat. 5. Tingkat Sosioekonomi Riset menunjukkan bahwa tingkat sosioekonomi keluarga anak mempunyai dapak signifikan pada pertumbuhan dan perkembangan. 6. Penyakit Banyak penyakit kronik dan Gangguan apapun yang dicirikan dengan ketidakmampuan untuk mencerna dan mengabsorbsi nutrisi tubuh akan member efek merugikan pada pertumbuhan dan perkembangan. 7. Bahaya lingkungan Bahaya dilikungan adalah sumber kekhawatiran pemberi asuhan kesehatan dan orang lain yang memerhatikan kesehatan dan keamanan. Bahaya dari residu kimia ini berhubungan dengan potensi kardiogenik, efek enzimatik, dan akumulasi (Baum dan Shannon, 1995) . 8. Stress pada Masa Kanak-Kanak Stress adalah ketidakseimbagan antara tuntutan lingkungan dan sumber koping individu yang menggangggu ekuiibrium individu tersebut ( mastern dkk, 1998). Usia anak, temperamen situasi hidup, dan status kesehatan mempengaruhi kerentanan, reaksi dan kemampuan mereka untuk mengatasi stress. Koping Koping adalah tahapan khusus dari reaksi individu terhadap stressor. Strategi koping adalah cara khusus anak mengatasi stersor ang dibedakan dari gaya koping yang relative tidak mengubah karakteristik kepribdian atau hasil koping ( Ryan-wengger, 1992). 9. Pengaruh Media Masa Terdapat peningkatan kekhawatiran mengenai berbagai pengaruh media pada perkembangan anak (Rowitz, 1996) Materi Bacaan Buku, Koran, dan majalah adalah bentuk media masa paling tua.. Pengenalan dampak materi bacaan yang digunakan disekolah pada system nilai pada proses social telah mendorong evaluasi ulang tentang isi buku. Film Riset menunjukkan bahwa video dapat menurunkan sensitivitas penonton terhadap perilaku

kekerasan (Rowtiz, 1996). Televisi TV memanjakan anak pada berbagai topic dan kejadian yang lebih luas dari yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.Kebanyakan peneliti telah menyimpulkan bahwa menonton televise yang berturut-turut memiliki efek menyimpang pada anak. Computer/Internet Beberapa kretivitas seperti cybersex dan kiddie porn serta chat room, dapat memanjakan anak pada individu yang berupaya mendapatkan keuntungan dari kepolosan anak untuk mencapai tujuan. Salah satu strategi yang bermanfaat menempatkan computer diruang prublik dirumah seperti dapur atau ruang keluarga agar orang tua dapat dengan mudah memantau penggunaannya. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Tumbuh kembang yang terjadi pada anak dimulai dari sejak anak lahir sampai ia menua. Prosesnya ada beberapa macam dilihat dari beberapa segmen. Mulai dari perkembangan fisik sampai pada perkembangan kepribadian dan mental anak. Ada beberapa para ahli yang mengungkapkan teorinya tentang tumbuh kembang. Dan semua itu terjadi tidak dengan instant atau sendirinya melainkan ada factor-faktor yang mempengaruhinya. 3.2 Saran Berdasarkan isi dari makalah banyak kekurangan yang terdapat pada isi yang dijelaskan dan bahasa yang di gunakan penulis sebagian besar masih teksbook. Hal ini di sebabkan karena kurangnya pemahaman dari penulis. Hendaknya dimasa yang akan datang diharapkan para penulis dan penerus selanjutnya lebih memahami lagi terhadap materi yang akan dibuatnya. DAFTAR PUSTAKA Ardiana, Anisah. 2007. Konsep Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia. http//KonsepPertumbuhan-dan-Perkembangan-Manusia.html (on-line/ diakses tanggal 15 Februari 2010) Diah. 2009. perbedaan teori perkembangan kepribadian dan persepsi manusia sigmund freud dan erik erickson. http// perbedaan-teori-perkembangan-kepribadian-dan-persepsi-manusia.html (on-line/ diakses tanggal 15 Februari 2010) Hidayat, Aziz alimul. 2008. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta: Salemaba Medika Mansyoer, arif, dkk. 2000. Kapita Salekta Kedokteran Jilid 2 Edisi 3. Jakarta :Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Staff Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1985. Buku Kuliah 1 Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Wong, Donna L, dkk. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Volume 1. Jakarta: EGC

http://aryuliasunarti.blogspot.com/2010/04/pengaruh-tumbuh-kembang-pada.html

Pentingnya Peran Keluarga Harmonis Bagi Tumbuh Kembang Anak


Keluarga adalah satu komunitas terkecil dalam masyarakat. Keberhasilan seorang anak sangat tergantung dari bagaimana cara didik yang diterapkan oleh orang tua. Untuk itulah, sebagai orang tua peranan kita sangatlah besar.

Bagaimana cara mengkondisikan keluarga menjadi harmonis dan bahagia sehingga menjadi pondasi kuat dan mendukung terbentuknya perilaku anak yang positif. Berikut beberapa langkah yang mungkin bisa diterapkan oleh para orang tua 1. Saling menghargai dan memahami

Bangunlah komunikasi antar semua anggota keluarga. Biasakan bertanya jawab dengan anak anak sejak usia dini, hal ini akan sangat berpengaruh bagi pembentukan mental. Luangkan waktu khusus di sela sela kesibukan anda. Dengan rutinitas berbagi seperti ini secara tidak langsung anak anakpun akan merasa dekat dengan kita. Beri kesempatan untuk mereka bercerita, tentang sekolahnya, teman temannya dan semua yang berhubungan dengan kegiatannya hari itu. 2. Adanya pembagian tugas

Cara yang paling tepat untuk melatih tanggung jawab adalah dengan memberinya tugas. Berilah pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya, bedakan antara si sulung dengan si bungsu. Pembagian semacam inipun akan sangat baik dalam membantu anak memahami hak dan kewajiban setiap individu 3. Pengaturan waktu

System pengaturan yang baik sangat perlu dmiliki oleh seorang ibu, mengingat aktivitasnya bukan hanya di dalam rumah, seperti kegiatan PKK, pengajian, arisan, atau kegiatan sosila lain atau bahkan bekerja, tetapi kita tetap dituntut untuk bisa menghandle keluarga. Keluarga harmonis akan tetap terjaga dengan manajemen waktu yang baik. 4. Pendidik yang baik

Tugas orang tua bukanlah sebatas mengajari putra putri, hal yang paling mulia dan merupakan keberhasilan bagi para orang tua adalah jika kita bisa menjadi pendidik yang baik. Pendidikan bukan sekedar pemberian materi secara kaku, tetapi pembelajaran yang mudah dipahami dari keteladana orang tua itu sendiri. Oleh karena itu kita sebagai orang tua tidak bisa begitu saja menginginkan putra putri kita menjadi orang yang berhasil, berakhlak dan berbakti jika contoh yang baik tidak kita terapkan. 5. Jadi Pendengar yang baik

Sebagai orang tua, menjadi tempat keluh kesah sang anak sangatlah wajar. Menjadi pendengar yang baik bagi setiap masalahnya merupakan wujud kepedulian, dan perhatian kita pada mereka. Jadilah orang pertama yang mengetahui ketika sang buah hati menghadapi masalah. Berusahalah menjadi penengah, carilah solusi yang baik dengan penuh kelembutan. Dengan hal inipun anak akan merasa kedekatan dengan keluarga adalah hal yang paling menentramkan. Disamping uraian diatas kitapun perlu memberikan sanksi ketika anak melakukan kesalahan. Terapkan sanksi yang mendidik, yang bisa menjadikan itu sebagai pelajaran hingga mereka tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Tanggung jawab orang tua memberikan yang terbaik adalah kewajiban kita. Seperti apa mereka di masa depan, kesuksesan mereka, keberhasilan mereka adalah cerminan dari pada pola pendidikan yang diterapkan. Raihlah keluarga harmonis dengan menjadi pendidik yang berkualitas guna mengantarkan putra putri kita menjadi anak yang bermanfaat dan berbudi pekerti.(dy)

Pengaruh Kekerasan terhadap Tumbuh Kembang Anak


31-12-2010 diposkan oleh melindacare
Mendidik anak memang suatu hal yang gampang-gampang sulit. Bila Anda sebagai orangtua mendidik anak dengan benar, maka sang anak pun akan berkembang ke arah yang kita inginkan baik secara fisik, mental, spiritual dan intelegensia. Namun bila sejak awal Anda telah salah langkah dan tidak menyadari kesalahan tersebut, jangan heran bila kelak kemampuan dan tumbuh kembang anak Anda tidak berkembang seperti yang diharapkan. Salah satu cara yang kurang tepat dalam mendidik anak adalah menerapkan metode dengan kekerasan. Hal ini biasanya Anda lakukan untuk mencoba menerapkan disiplin pada sang anak atau memberi hukuman saat anak Anda melakukan kesalahan. Metode kekerasan seperti ini sering ditemui pada keluarga yang orangtuanya merupakan aparat penegak hukum seperti tentara atau polisi. Sepertinya, mereka melakukan hal tersebut karena didasari oleh latar pekerjaan mereka yang mendapatkan pendidikan keras ala militer sehingga berusaha menerapkannya juga pada keluarga mereka. Selain latar belakang pekerjaan, kadang secara tidak sadar Anda juga bisa melakukan kekerasan pada anak karena tidak mampu mengontrol emosi. Sebagai manusia, wajar bila Anda suatu saat merasa emosi baik karena ada masalah di kantor maupun stres karena kemacetan dan sebab-sebab lainnya. Hal tersebut terkadang membuat Anda tidak mampu berpikir jernih dan khilaf dengan melakukan kekerasan pada anak Anda saat mereka melakukan kesalahan.

Bila Anda termasuk orangtua yang menerapkan disiplin dengan cara kekerasan, sebaiknya Anda berpikir ulang mulai sekarang. Tidak semua anak mampu dididik dengan cara keras, meskipun ada pula sebagian kecil yang mampu bertahan dengan didikan ala militer tersebut. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mendidik anak dengan kekerasan lebih banyak efek negatifnya dibandingkan dampak positif yang dihasilkan. Murray Strauss, seorang peneliti dari New Hampshire University, Amerika Serikat, melakukan penelitian terhadap 1.510 anak, baik yang mendapatkan perlakuan kasar dari orangtuanya maupun tidak. Semua anak tersebut menjalani tes IQ pada saat memulai penelitian dan pada akhir penelitian. 4 tahun kemudian atau di akhir penelitian, Murray mendapatkan hasil bahwa anak-anak yang tidak mengalami kekerasan di rumahnya mengalami peningkatan IQ antara 2,8 hingga 5 poin, sementara IQ anak-anak yang mengalami kekerasan cenderung statis dan kesulitan untuk mengikuti jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Penelitian lain yang dilakukan oleh Duke University, Amerika Serikat, juga memperkuat hasil penelitian di atas. Hasil penelitian di Duke menunjukkan bahwa anak-anak balita yang sering mendapatkan perlakuan kasar cenderung memiliki IQ yang rendah. Penelitian yang dilakukan terhadap anak-anak berumur satu tahun yang mengalami kekerasan dari orangtuanya tersebut ternyata membuat mereka memiliki kemampuan kognitif yang lebih rendah setelah kembali diteliti dua tahun kemudian dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mendapatkan perlakuan kasar. Selain dalam hal IQ, ternyata perlakuan kasar orangtua dalam mendidik anak juga berpengaruh terhadap perilaku dan tumbuh kembang anak di kemudian hari. Sebuah penelitian mengenai kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh Tulane University, Amerika Serikat, memaparkan fakta bahwa anak-anak berusia tiga tahun yang sering mengalami kekerasan secara fisik dari orangtuanya akan bersikap lebih agresif saat sang anak menginjak usia lima tahun. Perilaku agresif tersebut akan meningkat sejalan dengan lebih seringnya kekerasan yang dialaminya. Mulai dari sekarang, didiklah anak Anda dengan cara yang halus, karena tindakan kekerasan yang dilakukan orangtua merupakan pengalaman yang traumatik bagi anak. Semakin sering anak mendapatkan kekerasan, maka akan semakin lambat juga perkembangan kemampuan mental mereka. Berbagai penelitian juga telah menunjukkan bahwa kejadian yang traumatik akan berakibat buruk bagi otak. Di samping itu, trauma tersebut juga akan membuat anak Anda stres pada kejadian-kejadian yang sulit dihadapi dan lebih jauh lagi akan berdampak buruk pada perkembangan kognitifnya. Didikan yang terlalu keras juga akan menghambat kreativitas dan kemampuan anak Anda untuk berpikir secara bebas, selain itu juga anak Anda tidak terlatih untuk mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya. http://www.melindahospital.com/modul/user/detail_artikel.php?id=1014_Pengaruh-Kekerasanterhadap-Tumbuh-Kembang-Anak