Anda di halaman 1dari 20

PEMERIKSAAN KADAR GLUKOSA

1. Tujuan Percobaan Setelah menyelesaikan praktikum dalam menentukan kadar glukosa dalam sampel. a. Memiliki keterampilan dalam menentukan kadar glukosa dalam sampel b. Memahami metode penentuan kadar glukosa c. Memahami peranan pemeriksaan kadar glukosa dalam menegakan diagnosis kondisi patologis. 2. Teori Dasar 2.1 Glukosa Darah Karbohidrat sebagai sumber energi utama bagi kelangsungan makhluk hidup merupakan polisakarida yang monomernya adalah monosakarida. Hasil pencernaan karbohidrat dalam saluran pencernaan hampir semuanya adalah glukosa, fruktosa, dan galaktosa dimana glukosa merupakan bagian terbesar. (Anonim,2002) Glukosa adalah gula yang terpenting bagi metabolisme tubuh, dikenal juga sebagai gula fisiologis. Dalam ilmu kedokteran, gula darah adalah istilah yang mengacu kepada tingkat glukosa di dalam darah. Sedangkan dalam tumbuhan Glukosa 6-fosfat yang dihasilkan selama fotosintetis adalah precursor dari tiga jenis karbohidrat tumbuhan, yaitu sukrosa, pati dan selulosa. Konsentrasi gula darah, atau tingkat glukosa serum, diatur dengan ketat di dalam tubuh. Glukosa yang dialirkan melalui darah adalah sumber utama energi untuk sel-sel tubuh. Penggunaan glukosa diatur dalam tubuh oleh insulin. Kelebihan glukosa akan diubah menjadi glucagon dan akan disimpan dalam hati dan otot, dan akan

digunakan bila diperlukan dan akhirnya diubah menjadi lemak dn disimpan sebagai jaringan lemak. (Anonim,2002) Kadar glukosa dalam darah merupakan factor yang sangat penting untuk kelancaran kerja tubuh.Tubuh memiliki mekanisme untuk menjaga kadar glukosa darah tetap normal (insulin, glucagon, epinefrin, dll) dan enzim (glikogen sintetase,fosforilase, dll). Jika mekanisme ini terganggu maka akan terjadi kondisi hiperglikemia. 2.2 Mekanisme Pengaturan Gula darah Tingkat gula darah diatur melalui umpan balik negatif untuk

mempertahankan keseimbangan di dalam tubuh. Level glukosa di dalam darah dimonitor oleh pankreas. Bila konsentrasi glukosa menurun, karena dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh, pankreas melepaskan glukagon, hormon yang menargetkan sel-sel di liver (hati). Kemudian sel-sel ini mengubah glikogen menjadi glukosa (proses ini disebut glikogenolisis). Glukosa dilepaskan ke dalam aliran darah, hingga meningkatkan level gula darah. Apabila level gula darah meningkat, sel beta pancreas akam meepaskan hormone insulin sehingga akan menyebabkan hati mengubah lebih banyak glukosa menjadi glikogen. Proses ini disebut glikogenosis yang mengurangi level gula darah.
2.3 Masalah Klinis

a. Peningkatan Kadar (hyperglycaemia) : diabetes mellitus, asidosis diabetik, hiperaktivitas kelenjar adrenal (sindrom Chusing), akromegali,

hipertiroidisme, kegemukan (obesitas), feokromositoma, penyakit hati yang parah, reaksi stress akut (fisik atau emosi), syok, kejang, MCI akut, cedera tabrakan, luka bakar, infeksi, gagal, ginjal, hipotermia aktifitas, pankreatitis akut, kanker pankreas, CHF, sindrom pasca gastrektomi (dumping

syndrome), pembedahan mayor. Pengaruh obat : ACTH; kortison; diuretik (hidroklorotiazid, furosemid, asam etakrinat); obat anestesi, levodopa. b.Penurunan Kadar (hypoglycaemia) : reaksi hipoglikemik (insulin berlebih), hipofungsi korteks adrenal (penyakit Addison), hipopituitarisme,

galaktosemia, pembentukan insulin ektopik oleh tumor/kanker (lambung, hati, paru-paru), malnutrisi, ingesti alkohol akut, penyakit hati yang berat, sirosis hati, beberapa penyakit penimbunan glikogen, hipoglikemia fungsional (aktifitas berat), intoleransi fruktosa herediter, eritroblastosis fetalis, hiperinsulinisme. Pengaruh obat : insulin yang berlebih, salisilat, obat antituberkulosis. 2.4 Diabetes Mellitus Diabetes melitus adalah (DM) adalah gangguan metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemia yang berhubungan dengan abnormalitas metabolism karbohidrat, lemak, dan protein yang disebabkan oleh penurunan sekresi insulin atau penurunan sensitivitas insulin, atau keduanya dan menyebabkan komplikasi kronis mikrovaskular, dan neuropati. Diabetes Melitus, penyakit gula atau kencing manis adalah suatu gangguan kronis yang bercirikan hiperglikemia ( glukosa darah terlampau meningkat dan khususnya menyangkut hidratarang (glukosa) didalam tubuh Tetapi metabolism lemak dan protein juga terganggu.(Obat-obat penting edisi ke 6, 2007 hal 738). 2.5 Macam-macam Pemeriksaan Kadar Glukosa Darah

a. Glukosa sewaktu Glukosa sewaktu adalah pengukuran kadar glukosa dalam darah yang diambil kapan saja, tanpa mempertimbangkan makan terakhir. Nilai normal glukosa sewaktu yaitu < 180 mg/ dL.

b. Glukosa puasa Glukosa puasa adalah pemeriksaan ini memerlukan puasa 8 jam sbelum darah diambil untuk diperiksa. Puasa adalah keadaan tanpa suplai makanan (kalori) selama 8 jam, tetapi diperbolehkan minum air putih. Jadi bukan puasa makan dan minum yang biasa dilakukan. Jika kadar glukosa darah puasa sama atau lebih dari 126 mg/dL maka dikategorikan Diabetes Mellitus. c. Glukosa 2 jam setelah makan atau 2 jam pp Glukosa 2 jam setelah makan (2 jam pastprandial) adalah pemeriksaan glukosa yang dilakukan setelah 2 jam pembebasan glukosa yang setara dengan 75 gram glukosa. Pemeriksaan ini dapat digunakan utnuk evaluasi insulin dalam tubuh. Nilai normal glukosa 2 jam pp adalah 140 mg/dL. 2.6 Faktor yang Dapat Mempengaruhi Hasil Pemeriksaan Glukosa darah

Obat-obatan

(kortison,

tiazid,

loop

diuretik)

dapat

menyebabkan

peningkatan kadar gula darah.


Trauma, stress dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah. Penundan pemeriksaan serum dapat menyebabkan penurunan kadar gula darah.

Merokok dapat meningkatkan kadar gula darah serum.

2.7 Metode Pengukuran Kadar Glukosa a. Metode kimia Sebagian besar pengukuran dengan metode kimia yang didasarkan atas kemampuan reduksi sudah jarang dipakai karena spesifitas pemeriksaan kurang tinggi (Departemen Kesehatan RI, 2005 ). Prinsip pemeriksaan, yaitu proses kondensasi glukosa dengan akromatik amin dan asam asetat glasial pada suasana panas, sehingga terbentuk senyawa berwarna hijau kemudian diukur secara fotometri (Departemen Kesehatan RI, 2005 ).

Beberapa kelemahan atau kekurangan dari metode kimia adalah memerlukan langkah pemeriksaan yang panjang dengan pemanasan, sehingga memungkinkan terjadinya kesalahan besar bila dibandingkan dengan metode enzimatik. Selain itu, reagen-reagen pada metode kimiawi ini bersifat korosif pada alat laboratorium. Dan gula selain glukosa dapat terukur kadarnya sehingga menyebabkan hasil tinggi palsu. Pada penderita gagal ginjal, kadar ureum tinggi akan terjadi hasil pengukuran kadar glukosa yang lebih tinggi. Demikian juga pada bayi yang baru lahir, akan tetapi penyebabnya kadar bilirubin yang tinggi. Peningkatan kadar glukosa pada bayi yang baru lahir karena terbentuk biliverdin yang berwarna hijau dan pada metode kimiawi ini hasil reaksi antara glukosa dan reagen adalah warna hijau (Departemen Kesehatan RI, 2005 ). b. Metode enzimatik Metode enzimatik pada pemeriksaan glukosa darah memberikan hasil dengan spesifitas yang tinggi, karena hanya glukosa yang akan terukur. Cara ini adalah cara yang digunakan untuk menentukan nilai batas. Ada 2 macam metode enzimatik yang digunakan yaitu glucose oxidase dan metode hexokinase (Departemen Kesehatan RI, 2005 ). 1). Metode glucose oxidase Metode glucose oxidase merupakan metode yang paling banyak digunakan di laboratorium yang ada di Indonesia. Sekitar 85% dari peserta Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal bidang Kimia Klinik (PNPME-K) memeriksa glukosa serum kontrol dengan metode ini (Departemen Kesehatan RI, 2005). Prinsip pemeriksaan pada metode ini adalah enzim glucose

oxidase mengkatalisis reaksi oksidasi glukosa menjadi asam glukonat dan

hidrogen peroksida. Hidrogen peroksida yang terbentuk bereaksi dengan phenol dan 4-amino phenazone dengan bantuan enzim peroksidase menghasilkan quinoneimine yang berwarna merah muda dan dapat diukur dengan fotometer pada panjang gelombang 546 nm. Intensitas warna yang terbentuk setara dengan kadar glukosa darah yang terdapat dalam sampel (Riyani, 2009). Digunakannya Kesehatan RI, 2005). 2). Metode hexokinase Metode hexokinase merupakan metode pengukuran kadar glukosa darah yang dianjurkan oleh WHO dan IFCC. Baru sekitar 10% laboratorium yang ikut PNPME-K menggunakan metode ini untuk pemeriksaan glukosa darah (Departemen Kesehatan RI, 2005). Prinsip pemeriksaan pada metode ini adalah hexokinase akan mengkatalis reaksi fosforilasi glukosa dengan ATP membentuk glukosa-6fosfat dan ADP. Enzim kedua yaitu glukosa-6-fosfat dehidrogenase akan mengkatalisis oksidasi glukosa-6-fosfat dengan nicotinamide adenine dinocleotide phosphate (NADP+) (Departemen Kesehatan RI, 2005). Pada metode ini digunakan dua macam enzim yang baik karena kedua enzim ini spesifik. Akan tetapi, metode ini membutuhkan biaya yang relatif mahal (Departemen Kesehatan RI, 2005). enzim glucose oxidase pada reaksi pertama

menyebabkan sifat reaksi pertama spesifik untuk glukosa (Departemen

2.8

Prinsip Reaksi Penentuan kadar glukosa dilakukan menggunakan metode enzimatis

dengan reaksi utama yaitu oksidasi terhadap glukosa dengan bantuan Glukosa Oksidase (GOD) membentuk asam glukanoat dan peroksida. Reaksi indikasi dilakukan terhadap peroksida yang dihasilkan dengan 4-aminoantipirin yang dikopling dengan fenol menghasilkan senyawa quinoneimina. Tahapan reaksi enzimatis yang terjadi adalah sebagai berikut:

GOD

oksigen Air Glukosa Asam glukanoat


Hidrogen peroksida

Gambar 1. Reaksi utama pada pemeriksaan kadar glukosa secara enzimatik

Gugus kromofor

Hidrogen peroksida Fenol 4-aminoantipirin

Quinineimina

Gambar 2. Reaksi indikasi pada pemeriksaan kadar glukosa secara enzimatik

2.9 Spektrofotometri Uv-Vis Spektrofotometer adalah alat untuk menukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Spektrofotometer merupakan gabungan dari alat optik dan elektronika serta sifat-sifat kimia fisiknya. Dimana detector dapat mengukur intensitas cahaya yang dipancarkan secara tidak langsung cahaya yang diabsorbsi. Tiap media akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu tergantung pada senyawa atau warna yang terbentuk.(Anna,2011) Spektrofotometri UV-Vis merupakan gabungan antara spektrofotometri UV dan Visible. Alat ini menggunakan dua buah sumber cahaya yang berbeda, yaitu sumber cahaya UV dan sumber cahaya Visible. Larutan yang dianalisis diukur serapan sinar ultra violet atau sinar tampaknya. Konsentrasi larutan yang dianalisis akan sebanding dengan jumlah sinar yang diserap oleh zat yang terapat dalam larutan tersebut. Prinsip kerja Spektrofotometri uv-vis mengacu pada hukum Lambert-Beer. Apabila cahaya monokromatik melalui suatu media (larutan), maka sebagian cahaya tersebut akan diserap, sebagian dipantulkan dan sebagian lagi akan dipancarkan.

Gambar 3. Diagram Spektrofotometer UV-Vis

2.10 Persyaratan Suatu pengujian Secara Kualitatif dan Kuantitatif Terdapat berbagai persyaratan yang harus dipenuhi dalam suatu pengujian baik secara kualitatif ataupun kuantitatif. Syarat tersebut terdiri dari spesifisitas, sensitivitas, presisi dan akurasi. Akurasi adalah kemampuan metode untuk mengukur dan mendeteksi nilai aktual atau nilai sebenarnya dari dalam sampel, akurasi merupakan ukuran ketepatan atau kedekatan hasil pengujian dengan hasil yang sebenarnya. Presisi adalah tingkat kesesuaian antara hasil pengujian individual dengan hasil rata-rata pengujian berulang pada sampel yang homogen dengan kondisi pengujian yang sama. Sensitivitas atau kepekaan adalah kemampuan metode untuk mendeteksi atau mengukur sampel dalam jumlah sekecil mungkin. Spesifisitas adalah kemampuan metode untuk meendeteksi atau mengukur sampel tertentu secara cermat dan seksama dengan adanya bahan atau matriks lain. (Ibrahim, 2010).

3. Alat dan Bahan a. Alat - Pipet 0,50 mL dan 1,0 mL b. Mikropipet 10 L,50 L,100 L. Tabung reaksi Penangas 37o C Sperktofotometer dengan panjang gelombang 492 nm- 546 nm Bahan Darah NaF atau serum Enzim (GOD, Peroksidase) Pelarut (aquadest)

Standar Reagen warna (4- aminoantipirin)

4. Prosedur

5. Data Pengamatan

6. Perhitungan Kadar Glukosa darah sewaktu masing-masing sampel: Dik: Absorbansi standar = 0,693

Absorbansi sampel 1 = 0, 381 Absorbansi sampel 2 = 0, 334 Absorbansi sampel 3 = 0,140 Absorbansi sampel 4 = 0,108 Kadar lar. Standar = 200 mg/dL

Dit: Kadar Glukosa darah sewaktu = ? Kadar glukosa darah sewaktu sampel 1 = = x Kadar standar x 200 mg/dL

= 109, 96 mg/dL Kadar glukosa darah sewaktu sampel 2 = = x Kadar standar x 200 mg/dL

= 96,39 mg/dL Kadar glukosa darah sewaktu sampel 3 = = x Kadar standar x 200 mg/dL

= 40,40 mg/dL Kadar glukosa darah sewaktu sampel 4 = = x Kadar standar x 200 mg/dL

= 31,16 mg/dL Tabel 1. Hasil Pengamatan Kadar (x) mg/dL Blangko Standar Sampel 1 Sampel 2 Sampel 3 Sampel 4 200 109,96 96,39 40 40 0 0,693 0,381 0,334 0,140 0,108 95,582 A mg/dL -104,418 -14,378 -0,808 55,182 64,442 | 10903,12 206,726 0,653 3045,05 4150,19 |2 = 18305,74 - x ) | |2

Standar Deviasi (SD) = Range = SD

=67,649 mg/dL

= ( - SD) mg/dL - ( + SD) mg/dL = (95,582 - 67,649 ) mg/dL - (95,582 + 67,649 ) mg/dL = 27,933 mg/dL 163,231 mg/dL

7. Pembahasan Karbohidrat sebagai sumber energi uatama bagi kelangsungan makhluk hidup merupakan polisakarida yang monomernya adalah monosakarida. Hasil pencernaan karbohidrat dalam saluran cerna akan masuk kedalam daerah porta dan kemudian masuk kedalam hati. Dalam hati semua monosakarida yang dihasilkan diubah menjadi glukosa kemudian diangkut ke seluruh tubuh oleh aliran sirkulasi untuk digunakan sebagai sumber energi oleh sel-sel tubuh. (Anonim,2002) Tubuh manusia memiliki mekanisme untuk menjaga kadar glukosa darah tetap normal dengan bantuan hormon seperti insulin, glukagon. Selain itu juga peranan berbagai enzim juga diperlukan untuk menjaga kesetimbangan kadar glukosa darah seperti enzim glikogen sintase, fosforilase dan lain-lain. Gangguan pada metabolisme karbohidrat salah satunya menimbulkan penyakit Diabetes Mellitus (DM). Diabetes mellitus adalah suatu sindroma klini yang ditandai oleh poliuri, polidipsi dan polifagi, disertai peningkatan kadar glukosa darah atau hiperglikemia. (Gunawan, 2007). Pemeriksaan kadar glukosa darah berperan dalam diagnosa atau pemantauan pengobatan atau pengelolaan Diabetes Mellitus. Pemeriksaan kadar glukosa darah terdiri dari pemeriksaan glukosa darah puasa, glukosa darah sewaktu dan pemeriksaan kadar glukosa darah 2 jam pp. Pada praktikum ini dilakukan pemeriksaan kadar glukosa dari seorang relawan laki-laki. Jenis pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu dimana merupakan pengukuran kadar glukosa dalam darah saat itu atau ketika pemeriksaan dilakukan. Kadar normal glukosa darah sewaktu adalah 110-180 mg/dL. Tahapan awal dari percobaan ini adalah penyiapan alat dan bahan. Instrumen yang digunakan untuk percobaan ini adalah spektrofotometri Uv-Vis, sedangkan bahan yang digunakan terdiri dari serum yang diambil dari darah relawan, enzim GOD (Glukosa Oksidase) dan Peroksidase, aquadest, dan reagen warna yaitu 4 aminoantipirin.

Enzim GOD dan Peroksidase dilarutkan dalam pelarutnya sampai tercampur baik dan stabil, kemudian disiapkan blanko yang terdiri dari aquadest 10 L dan reagen warna sebanyak 1 ml. Pembuatan larutan blanko adalah untuk kalibrasi atau sebagai larutan pembanding dalam analisis fotometri. Larutan blanko tidak mengandung analit yang akan dianalisis, hanya saja berisi pelarut dan reagen yang digunakan untuk mengkalibrasi spektrofotometri. Metode yang digunakan pada percobaan ini adalah one point methoddimana dilakukan perbandingan antara larutan standar dan larutan uji. Larutan standar dibuat dengan memasukkan standar sebanyak 10 L kemudian dicampur dengan reagen warna. Larutan standar ini diperlukan untuk menghitung kadar gula darah dalam serum dengan membandingkan absorbansi larutan uji dan larutan standar. Larutan uji terdiri dari specimen yaitu serum darah relawan sebanyak 10 L yang kemudian dicampur dengan reagen warna. Dalam serum yang diperoleh dari relawan, terdapat glukosa sebagai sumber energi. Ketika serum tersebut dicampur dengan reagen, maka terjadi reaksi enzimatik yang terdiri dari rekasi utama dan reaksi indikasi, dimana reaksi utamanya adalah:

GOD
oksigen Air Asam glukanoat Glukosa
Hidrogen peroksida

Gambar 1.Reaksi utama pada pemeriksaan kadar glukosa secara enzimatik Pada reaksi diatas, glukosa oksidase (GOD) yang terdapat dalam reagen mengkatalisis oksidasi glukosa. Dilihat dari strukturnya glukosa terdiri dari gugus aldehid dan gugus alkohol. Gugus - gugus ini ketika teroksidasi dengan bantuan enzim GOD akan membentuk asam karboksilat yaitu berupa asam glukanoat dengan hasil samping peroksida (H2O2). Hasil samping dari reaksi ini yaitu hidrogen peroksida (H2O2) akan menjadi dasar reaksi indikasi, dimana hidrogen peroksida

akan bereaksi dengan 4-aminoantipirin yang merupakan reagen warna yang dikopling dengan fenol dengan katalis enzim peroksidase. Hasil dari reaksi ini menghasilkan senyawa quinoneimina, dimana senyawa ini menimbulkan warna yang intensitasnya sebanding dengan kadar glukosa yang dapat diukur dengan spektrofotometri. Adapun reaksi indikasi yang terjadi dapat digambarkan seperti berikut:
Gugus kromofor

Hidrogen peroksida Fenol 4-aminoantipirin

Quinineimina

Gambar 2. Reaksi indikasi pada pemeriksaan kadar glukosa secara enzimatik

Setelah larutan uji, standar dan blanko telah dibuat kemudian didiamkan dalam suhu 37C selama 10 menit atau pada suhu kamar selama 20 menit. Pada praktikum ini, larutan uji, larutan blanko dan larutan standar disimpan pada suhu ruangan, sehingga memerlukan waktu yang lebih lama yaitu 20 menit. Hal tersebut berdasarkan prinsip laju reaksi, dimana laju reaksi reaksi sebanding dengan energi aktivasi. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan energi aktivasi diantaranya adalah penambahan katalis dan peningkatan suhu, sehingga ketika disimpan dalam suhu kamar diperlukan waktu yang lebih lama. Setelah didiamkan selama 20 menit, maka larutan uji, blanko dan standar dimasukkan kedalam spektrofotometri. Ketika larutan uji dimasukkan dalam spektrofotometri, maka terjadi penyerapan gelombang elektromagnetik pada daerah visible (380-780 nm) yaitu pada panjang gelombang 545 nm oleh senyawa yang memiliki gugus kromofor yang terdapat dalam larutan uji (Quinineimina). Karena cahaya yang ditembakkan mengandung energi (E= h. c/) menyebabkan terjadinya

eksitasi elektron molekul tersebut dari keadaan dasar (ground state) ke tingkat energi yang lebih tinggi. Ketika elektron-elektron tersebut tereksitasi, maka

spektrofotometer menghasilkan nilai absorbansi, dimana absorbansi ini setara dengan jumlah energi yang dioabsorpsi oleh molekul untuk mengeksitasi elektron dari keadaan dasar ke tingkat energi yang kebih tinggi, dimana perpindahan tersebut dapat digambarkan seperti dibawah ini:

Gambar 3.Proses eksitasi elektron dari ground state ke tingkat energi yang lebih tinggi

Terdapat berbagai persyaratan yang harus dipenuhi dalam suatu pengujian baik secara kualitatif ataupun kuantitatif. Syarat tersebut terdiri dari spesifisitas, sensitivitas, presisi dan akurasi. Akurasi adalah kemampuan metode untuk mengukur dan mendeteksi nilai aktual atau nilai sebenarnya dari dalam sampel, akurasi merupakan ukuran ketepatan atau kedekatan hasil pengujian dengan hasil yang sebenarnya. Presisi adalah tingkat kesesuaian antara hasil pengujian individual dengan hasil rata-rata pengujian berulang pada sampel yang homogen dengan kondisi pengujian yang sama. Sensitifitas atau kepekaan adalah kemampuan metode untuk mendeteksi atau mengukur sampel dalam jumlah sekecil mungkin. Spesifisitas

adalah kemampuan metode untuk meendeteksi atau mengukur sampel tertentu secara cermat dan seksama dengan adanya bahan atau matriks lain. (Ibrahim, 2010). Keempat persyaratan tersebut diusahakan dapat dipenuhi dalam percobaan ini walaupun tidak dapat dilakukan dengan sempurna. Hal tersebut dikarenakan keterbatasan alat, personal, kondisi ruangan, dan lain-lain. Alat yang digunakan yaitu spektrofotometri yang mempunyai spesifitas dan sensitifitas yang tinggi, untuk memenuhi akurasi dan presi, pengujian juga diulang sebanyak empat kali walupun orang yang mengerjakannya tidak sama. Setelah diukur dengan spektrofotometri, pada larutan standar didapat absorbansi sebesar 0,693. Nilai absorbansi ini merupakan nilai absorbansi yang baik karena berada di rentang absorbansi yang memenuhi standar yaitu 0,2 sampai 0,8dan kadar dari larutan standar adalah 200 mg/dL. Pada larutan uji dari kelompok pertama diperoleh absorbansi sebesar 0,381, pada kelompok kedua diperoleh absorbansi 0,334, pada kelompok ketiga diperoleh absorbansi sebesar 0, 140 dan pada kelompok empat sebesar 0,108. Dilihat dari nilai absorbansi yang diperoleh dari keempat kelompok, nilainya berbeda cukup jauh padahal sampel dan prosedur yang digunakan sama. Pada kelompok pertama dan kedua, nilai absorbansi yang diperoleh merupakan nilai absorbansi yang baik, karena berada pada rentang 0,2 sampai 0,8. Sedangkan pada kelompok 3 dan kelompok 4 nilai absorbansi yang diperoleh kurang baik karena nilainya dibawah batas terkecil dari nilai absorbansi yang baik. Terdapat banyak faktor yang dapat menyebabkan kesalahan pada kelompok 3 dan 4. Faktor pertama adalah kesalahan dari personal atau praktikan baik pada saat penggunaan alat, penggunaan mikropipet yang kurang tepat, padahal sampel yang digunakan sangat sedikit (dalam L) sehingga diperlukan kehati-hatian dalam penggunaan mikropipet, ataupun dikarenakan pencampuran

bahan yang kurang homogen, sehingga reaksi enzimatik tidak bereaksi dengan sempurna dan menghasilkan absorbansi yang kurang baik. Faktor kedua bisa disebabkan karena instrumen yang digunakan sudah rusak sehinga hasil yang dihasilkan tidak memenuhi standar.

Berdasarkan teori, kadar normal dari glukosa darah sewaktu adalah 110-180 mg/dL, sedangkan berdasarkan hasil percobaan didapatkan kadar glukosa sewaktu dari rata-rata seluruh kelompok adalah 95,582 mg/dL, standar deviasinya 67,649 mg/dL dan range hasil percobaan adalah 27,933 mg/dL sampai 163,231 mg/dL. Standar deviasi merupakan salah satu teknik statistik yg digunakan untuk menjelaskan homogenitas kelompok. Standar Deviasi merupakan variasi sebaran data, semakin kecil nilai standar deviasi maka semakin homogen data yang didapatkan dan semakin besar nilai standar deviasi, maka data yang dihasilkan kurang homogen atau bervariasi. Dilihat dari kadar yang didapat, kadar glukosa sewaktu dari relawan tersebut sangat rendah dengan standar deviasi yang tinggi. Standar deviasi yang tinggi tersebut menunjukkan bahwa data yang dihasilkan bervariasi. Padahal seharusnya dengan sampel dan prosedur yang sama akan dihasilkan standar deviasi yang kecil atau data yang homogen. Kesalahan tersebut dapat disebabkan karena beberapa faktor, seperti pemipetan serum yang kurang benar, atau pencucian alat yang kurang bersih, sehingga masih terkandung banyak pengotor dalam alat yang dapat mengganggu hasil pengukuran dengan alat spektrofotometri yang sangat sensitif. Dari data-data pada perhitungan, didapat range dari hasil percobaan adalah 27,933 mg/dL sampai 163,231 mg/dL. Dari data masing-masing kelompok, kadar yang dihasilkan berada pada range tersebut, sehingga kesalahan-kesalahan yang dilakukan masih dapat ditoleransi.

7. Kesimpulan Dari hasil percobaan, kadar glukosa darah sewaktu dari relawan dengan jenis kelamin laki-laki adalah 95,582 mg/dL. Standar deviasi dari hasil percobaan berdasarkan pengolahan data dengan metode statistika adalah 67,649 mg/dL dengan range hasil percobaan adalah 27,933 mg/dL sampai 163,231 mg/dL DAFTAR PUSTAKA
Anna. 2011. Spektrofotometer Uv Visible.

http://annapermanasari.staf.upi.edu/files/2011/03/Spektro-UV-Vis.pdf. Diakses
tangal 7 Oktober 2012

Anonim.2002.Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29.hal 931-932. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta Departemen Kesehatan RI, 2005, Pedoman Pemeriksaan Laboratorium Untuk Penyakit Diabetes Melitus, Jakarta Limanto K,dkk.2010. Laporan Praktikum Biokimia Penetapan Kadar Glukosa Darah dengan Metode GOD PAP Diakses .http;// tanggal 7

http://www.scribd.com/doc/32769806/UJI-GOD-PAP. Oktober 2012

Riyani, Ani, 2009, Penuntun Praktikum Kimia Klinik II, Analis Kesehatan Bandung, Bandung. Tan Hoan tjay, Kirana Raharja.2007., Obat-obat penting kasiat, penggunaan dan efek-efek sampingnya edisi ke 6.Penerbit: PT Elex Media Komputindo.Jakarta. hal 738