ISSN: 2087-5967

Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada

Lecturer’s Article

Institutional Isomorphism dalam Akuntabilitas Kinerja Sektor Publik di Indonesia

13

Edisi 13

November 2012

dengan pertandingan olah raga bagi karyawan, dosen, dan mahasiswa. Acara bakti sosial berupa pemeriksaan mata dan gigi gratis, operasi katarak, penyumbangan pakaian dan buku, serta dropping air bersih juga berjalan meriah. Tidak ketinggalan pula rangkaian acara berupa anjangsana ke pensiunan karyawan dan janda dosen serta ziarah ke makam sesepuh dan dosen sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasa dan karya yang telah dipersembahkan untuk fakultas tercinta. Rangkaian kegiatan akademik juga tak kalah menarik. Seminar Call for Lecture and Research Presentation, Sarasehan Sambung Rasa Antargenerasi, dan Sarasehan Peningkatan Kualitas Pendidikan semakin memberikan warna pada rangkaian Dies Natalis FEB UGM. Pertunjukan wayang kulit dengan dalang Ki Purba Asmara juga mampu menarik animo sivitas akademika FEB UGM. Unit penelitian FEB, P2EB juga mendatangkan pelaku bisnis industri kreatif pada Kampung Wirausaha dan Musik Kreatif. Acara Family Fun Day berlangsung meriah dengan berbagai doorprize menarik. Tumpengan dengan hiburan ketoprak dosen dan karyawan FEB UGM pun mampu membius sivitas akademika yang hadir. Di penghujung acara, digelarlah pidato Dies Natalis sebagai bentuk pertanggungjawaban dekan dalam mengelola fakultas, orasi ilmiah oleh Prof. Dr. Insukindro, M.A dan peluncuran buku digelar. Sajian pada edisi ini selain penuh dengan kemeriahan acara Dies Natalis, tersaji pula tulisan ilmiah dan cerita dari sivitas academika muda yang potensial. Semoga dapat memberi inspirasi banyak pihak.

S

PREFACE
aya ucapkan terima kasih kepada para dosen, karyawan, mahasiswa, dan alumni yang senantiasa menjadi pembaca setia EB News.

Tanggal 19 September 2012, FEB UGM tepat berusia 57 tahun. Perjalanan panjang telah mengantarkan FEB UGM menjadi universitas terkemuka nasioal dan internasional. Banyak catatan membanggakan yang terukir dan merupakan buah kerja keras serta dedikasi semua pihak dari masa ke masa. Semoga FEB UGM semakin tumbuh dan berkembang dalam penyediaan lingkungan belajar yang kondusif untuk membekali kemampuan softskill dan hardskill bagi calon-calon pemimpin masa depan. Bertemakan “One Faculty, One Family, One Vision” perayaan Dies Natalis 57 FEB UGM berjalan meriah. Rangkaian kegiatan dimulai

Last but not least, saya mohon doa restu dari seluruh sivitas akademika FEB UGM untuk dapat mengemban amanah sebagai Dekan FEB UGM periode 2012-2016. Semoga FEB UGM semakin jaya.
Selamat menikmati! Oktober 2012 Dekan

Prof. Wihana Kirana Jaya, M.Soc.Sc, Ph.D.

Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada

Pengarah

Tim Liputan
Hestining Kurniastuti Kandrika Fadhlan P Prima Yustitia Lukitasari Poppy Laksita

Prof. Wihana Kirana Jaya, M.Soc.Sc, Ph.D Dian Puspa Hartiani (Dekan) Dwi Andi Rohmatika

Diterbitkan oleh

Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Jl. Sosio Humaniora Bulaksumur, Yogyakarta 55281 T: + 62 274 548 510 (hunting) F: + 62 274 563 212 E: dekan@feb.ugm.ac.id W: http://www.feb.ugm.ac.id

B.M. Purwanto, MBA., Ph.D (Wakil dekan Bidang Akademik, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) Eko Suwardi, M.Sc., Ph.D (Wakil Dekan Bidang Administrasi, Keuangan dan Sumber Daya Manusia)

Artistik
Royyan Wicaksono Alkhapila Nahri Z

2

CONTENTS
WHAT’S UP FEB Haru dan Bahagia dalam Pisah Sambut Dekan FEB UGM Temu Kangen Alumni Angkatan 1962 - 1963 Pertemuan Dharma Wanita Persatuan FEB UGM LECTURER’S ARTICLE

4 6 9

Institutional Isomorphism dalam Akuntabilitas Kinerja Sektor Publik di Indonesia
ADVERTORIAL ALUMNI CORNER NEWS FROM ABROAD Sekar Utami Setiastuti Menjadi Mahasiswa di North Carolina: “The Dream I, Even, Have Never Dared to Dream About” STUDENT CORNER SCHOLARSHIP AND RECRUITMENT FACILITIES

32 35 36

37 39 40 41 41 43 48 49 50 51

Duel Musisi Jazz Internasional dan Nasional dalam Economics Jazz Part 17 SPECIAL REPORT

7

PARTNERSHIP UNIT NEWS WHO’S WHO Mulyadi AROUND BULAKSUMUR

Pidato Dekan dan Orasi Ilmiah Bakti Sosial Sambung Rasa dan Kekeluargaan Pagelaran Kethoprak Pentas Drama Sivitas Akademika

21 25 27

FEB IN PICTURES EXCHANGE STUDENTS’ COMMENTS

3

WHAT’S UP FEB

Haru dan Bahagia dalam Pisah Sambut Dekan FEB UGM
enin (8/10) siang, diselenggarakan rapat senat terbuka dalam rangka acara pisah sambut Dekan FEB UGM. Kegiatan yang diselenggarakan di Ruang Sidang Kertanegara ini dihadiri oleh dosen dan karyawan FEB UGM. Mula-mula, acara dibuka pada pukul 11.00 WIB oleh ketua senat, Prof. Dr. Abdul Halim, MBA, Ph.D., yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari dekan FEB UGM periode 2008-2012, Prof. Marwan Asri, MBA., Ph.D. Dalam sambutan tersebut, Marwan berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung selama empat tahun ia menjabat sehingga FEB UGM dapat menjadi besar seperti saat ini. Ia juga mengucapkan selamat mengemban tugas baru kepada Dekan Terpilih dan berpesan kepada seluruh sivitas akademika, “Marilah kita dukung Dekan Terpilih dengan ikhlas dan saling bahu membahu untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang belum selesai.” Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Dekan Terpilih FEB UGM periode 2012-2016, Prof. Wihana Kirana Jaya, M.Soc. Sc, Ph.D., yang telah dilantik oleh Rektor UGM pada pagi hari tersebut. Wihana mengungkapkan, ia berkomitmen untuk mengemban tugas baru tersebut dan tentu saja mengharapkan dukungan dari seluruh pihak yang ada. Ia berterima kasih pula atas masukan-masukan dari kolega-kolega di fakultas untuk perbaikan FEB di masa mendatang. Acara diakhiri dalam suasana haru dan bahagia ketika hadirin memberikan ucapan selamat dan terima kasih kepada keduanya. [hk]

Sambut Kedatangan Mahasiswa Program Double Degree dan Exchange
omitmen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) untuk terus menjadi universitas terkemuka di kawasan Asia Tenggara semakin mendapat pengakuan di mata dunia internasional. Hal ini dibuktikan dengan terus meningkatnya jumlah mahasiswa asing yang datang untuk belajar di FEB UGM baik melalui Program Double Degree maupun Student Exchange. Semester I kali ini diawali dengan penerimaan dua mahasiswa Program Double Degree dan 32 mahasiswa Program Student Exchange, meningkat dari hanya 27 mahasiswa pada semester sebelumnya. Acara penyambutan mahasiswa asing secara resmi dilakukan pada di lantai 7 Gedung Pertamina Tower (7/9). Pada kesempatan ini, Dekan FEB UGM, Prof. Marwan Asri, MBA., Ph.D. menyampaikan ucapan selamat datang disertai harapan agar para mahasiswa asing dapat menjalani proses belajar dengan baik sehingga tercipta hubungan harmonis dengan mahasiswa Indonesia. Selanjutnya, Wakil Dekan Bidang Akademik, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat, B.M. Purwanto, MBA., Ph.D. menyampaikan informasi mengenai peraturan dan kalender akademik untuk memudahkan proses adaptasi mereka. Dalam acara penyambutan ini, para mahasiswa asing juga memperkenalkan diri serta menyampaikan kesan mereka mengenai UGM. Menurut mereka, sangat menarik dan menyenangkan untuk belajar di Indonesia.

S

K

4

Wisata Bersama Dosen dan Karyawan 2012: Jalin Keakraban di Kota Kembang

atas tujuh puluh keluarga karyawan dan lima belas keluarga dosen. Rochmat menambahkan bahwa awalnya acara ini akan dilaksanakan di akhir semester genap 2012. Namun karena berbagai faktor, tertunda hingga akhir September lalu. Sehingga timing yang tidak sesuai rencana ini menjadi salah satu penyebab partisipasi peserta yang ditargetkan menjadi kurang maksimal. Membahas mengenai bagaimana operasional fakultas selama banyak karyawan yang tidak di kantor, Rochmat menyatakan semuanya realatif berjalan lancar meskipun pelayanan pada mahasiswa dan dosen menjadi tidak seoptimal hari-hari biasanya. Kelak, wisata bersama ini diharapkan mampu mengajak lebih banyak lagi partisipasi dari karyawan dan dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM di program lain. “Saat ini wisata bersama ini baru diikuti oleh rekan-rekan khususnya karyawan program S1 dan PPAK saja. Alangkah lebih baik jika dua tahun mendatang rekan-rekan karyawan dari program lain seperti program magister juga turut serta agar esensi keluarga Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM lebih terasa dan terjalin keakraban yang lebih erat antar program,” tambah Rochmat mengenai harapan untuk wisata bersama 2014 mendatang. [poppy]

khir minggu ketiga September lalu, pemandangan yang tidak biasa terlihat di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, khususnya di kantor-kantor unit pegawai. Ruangan akademik yang biasanya ramai nampak lebih lengang, begitu juga di bagian lainnya. Pasalnya, dosen dan karyawan FEB UGM mengadakan wisata bersama (20/922/9). Acara ini tidak hanya diikuti oleh dosen dan karyawan saja, tetapi juga oleh keluarga mereka. Dekanat Fakultas Ekonomika dan Bisnis juga turut berpatisipasi dan antusias mengikuti wisata bersama keluarga karyawan dan dosen ini. Wisata bersama yang dilaksanakan setiap dua tahun ini menjadi program rutin fakultas untuk meningkatkan keakraban tidak hanya pada sesama rekan kerja, tetapi juga antarkeluarga. Tahun 2012 ini, berdasarkan survei yang dilakukan oleh segenap karyawan FEB UGM, terpilihlah Kota Bandung sebagai tujuan wisata. Kegiatan yang dilaksanakan selama wisata bersama ini antara lain mengunjungi Trans Studio Bandung dan family gathering. Dalam wisata bersama ini, Mantan Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Marwan Asri, MBA., Ph.D. sekaligus menyampaikan pamitan kepada segenap dosen, karyawan, beserta para keluarga yang telah bekerja bersama selama masa kepemimpinannya di fakultas. Rochmat, Kepala Bidang Akademik FEB UGM mengungkapkan, “Acara wisata ini merupakan acara yang sudah “dijagakke” (ditunggu-tunggu –red) oleh segenap karyawan sehingga partisipasi karyawan beseta keluarga sangatlah besar. Untuk dosen belum begitu banyak, mungkin karena kesibukan dan waktu yang belum sesuai.” Wisata bersama tahun 2012 ini diikuti oleh kurang lebih 288 orang yang terdiri

A

5

WHAT’S UP FEB

Lima Puluh Tahun pun Berlalu
Temu Kangen Alumni Angkatan 1962 - 1963
lumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) angkatan 19621963 kembali menginjakkan kaki di Jalan Sosio Humaniora. Para alumni dipertemukan dengan jajaran Dekanat FEB UGM di Ruang Kertanegara. Rombongan alumni ini dikoordinasi oleh Indriyo Gitosudarmo, alumni dan dosen aktif FEB UGM. “Saya membawa teman-teman saya angkatan 19621963. Setelah 50 tahun, kami bersatu untuk menyaksikan kembali almamater,” ujar Indriyo. Dekanat pun memaparkan kondisi kampus sekarang ini. Mulai dari kemajuan akreditasi FEB UGM, kondisi dosen, hingga mahasiswa. Profil video FEB UGM pun disajikan pada rombongan sebagai representasi kondisi FEB saat ini. Sebagai pembuka dialog kekeluargaan, beberapa alumni menanyakan kemajuan fakultas, misalnya perihal Pertamina Tower, kondisi akademik, dan student exchange. Meskipun sudah berpisah dengan almamater sekian puluh tahun lamanya, mereka masih tetap memberikan perhatian

A

lebih, antara lain dengan memberikan masukan. Masukan yang dilontarkan bervariasi, mulai dari kemajuan lingkungan FEB dan UGM sampai penanaman pohon trembesi agar FEB UGM lebih sejuk dan teduh. Dekanat pun menampung semua masukan dari para alumni tersebut. Selain bersilaturahmi, temu kangen ini menjadi jembatan bagi beberapa universitas untuk bekerja sama secara akademis. Pasalnya, Beberapa alumni FEB menjadi pengelola beberapa universitas terkemuka, seperti Universitas Budi Luhur dan Universitas Mercubuana. Kedua universitas tersebut menyampaikan niat mereka untuk mengirimkan dosennya melanjutkan studi doktoral di UGM. Pihak Dekanat pun menyambut baik wacana tersebut. Acara temu kangen yang hangat itu pun ditutup dengan berjalan berkeliling Pertamina Tower dengan panduan dari Indriyo dan juga staf fakultas lainnya. [aga]

6

Duel Musisi Jazz Internasional dan Nasional dalam Economics Jazz Part 17
radisi tahunan yang menampilkan musisi jazz internasional kali ini ditepati A. Tony Prasetiantono dalam Economics Jazz Part 17. Walaupun baru kedua kali menampilkan musisi internasional, promotor dan panitia Economics jazz kali ini perlu mendapat acungan jempol atas jerih payahnya menghadirkan lima jam nonstop konser jazz pada Sabtu malam lalu (6/10) di bilangan Jalan Magelang, Yogyakarta. Sebelum konser dimulai, banyak disajikan video dokumentasi konferensi pers dan perjalanan para musisinya datang ke Yogyakarta. Sesuatu yang baru dan segar dalam membuat penonton merasa lebih dekat dengan para pemusik yang tampil di panggung malam itu. Seperti Economics Jazz Part sebelum-sebelumnya, konser malam itu pun dibagi dalam tiga bagian besar dengan menghadirkan: RAN, Raisa, dan David Benoit. Penampilan RAN malam itu dituding lebih “jazzy” daripada penampilan mereka dua tahun silam. Meskipun mereka kurang berinteraksi dengan “jamaah Al-Jazziyah” (sebutan untuk penggemar jazz yang dipopulerkan oleh Butet –red), nomor-nomor lagu mereka seperti “Kulakukan Semua Untukmu” yang dulu dipopulerkan oleh Fatur dan “Kita” yang aslinya dinyanyikan oleh Kla Project mampu membuat penonton bergoyang. Band yang dibawa RAN cukup menghibur dengan membawa banyak nada menggantung yang menjadi ciri khas lagu jazz pada permainan mereka kali ini. Namun, agak disayangkan, interaksi yang sudah dilakukan Rayi dan Nino tidak mencapai klimaks di akhir penampilan mereka. Perpindahan bagian dari satu ke lainnya tidak terasa membosankan berkat pembawaan Charles Bonar Sirait sebagai master of ceremony. Pada bagian kedua, Raisa dengan balutan dress warna biru tua dan belt jingga menyala muncul dengan suara serak-serak basahnya. Beberapa lagu, seperti “Serba Salah”,

Tompi mengundang Idang Rasjidi dan David Benoit untuk duel lewat harmoni nada dari microphone dan hentakan jari di atas tuts piano. In the end, David Benoit memang layak dinominasikan dalam lima kali Grammy Awards.

T

“Apalah (Arti Menunggu)”, dan “Could It Be Love” dibawakan dengan kualitas vokal yang tidak perlu dipertanyakan lagi kehebatannya. Entah karena masih newbie di dunia konser musik, atau pengalamannya dalam panggung jazz yang masih minim, penampilan Raisa dalam mencoba membangun chemistry dengan para penonton tidak mendapatkan sambutan yang menggelegar. Lagu-lagu penyanyi lain yang coba dibawakannya, seperti “Listen”, “Complicated”, dan “Cemburu” hanya terdengar seperti lagu pop biasa yang diperlambat temponya; tidak terasa jazz-nya sama sekali. Penampilan Raisa yang menurunkan ekspektasi penggemar musik jazz beberapa derajat tiba-tiba dihentakkan dengan penampilan David Benoit yang langsung mengguncang seisi Grand Pacific Hall. Suara riuh penonton seakan memberikan tanda, “Welcome to The Jazz World!”. Lagu pembukanya, “Botswana Bossa Nova” segera dilanjutkan dengan “Will’s Chill” dibawakan dengan penuh semangat. David Benoit dan bandnya pun tidak sendiri. Michael Paulo membuktikan keahliannya memainkan flute bersama band pengiring David: Fred Schreuders (gitar), David Hughes (bass), dan Jeremy Tate (drums). Dalam nomor lagu “Letter to Heaven”, sama seperti penampilannya tahun lalu, Michael pun mendapatkan sambutan yang hangat dari penonton. Di barisan depan, beberapa direksi Permata Bank dan dosen UGM yang hadir mulai berdiri dan bergoyang saat lagu “Last Tango in Paris” membawa Michael turun ke panggung menyapa mereka dengan saxophone-nya. David segera menyambut intensitas penonton dengan “Diary of Wimpy Kid” yang meninggalkan kesan lucu, kekanakan, dan konyol di benak ribuan penonton yang hadir. Saat yang ditunggu-tunggu, Michael pun mempersilakan Tompi naik ke atas panggung. Tepuk tangan dan teriakan

7

WHAT’S UP FEB
“jamaah Al-Jazziyah” tak terkendalikan lagi. Ekspektasi mereka terjawab sudah saat “scat singing” yang dilakukannya membalut “What Will You Do to Love Me” dengan indah. Tapi, bukan hanya tarik suara yang dilakukan Tompi malam itu. Dia mengajak duel Michael yang harus mengikuti nada yang dinyanyikannya dengan saxophone dalam “Come Together”. Begitu pula dengan semua anggota band lainnya. Mereka pun sigap menjawab tantangan tersebut. Penonton pun tak kuasa menahan teriakannya saat dia dengan cekatan turun dari panggung dan menggandeng Idang Rasjidi untuk naik. Tak diragukan lagi, Tompi mengundang Idang dan memberikan microphone untuk menantang David duel. Challenge accepted! Suara tegas piano Steinway David selalu bisa memenuhi tantangan Idang. Penonton kembali bertepuk

tangan serasa merubuhkan atap hall saat itu. Tompi pun akhirnya mengobrol dengan Idang menggunakan nada nyanyian (humming) dan isyarat tangan. Penonton dibuat terpingkalpingkal olehnya. Kolaborasi ini pun ditutup dengan “Selalu Denganmu”. Selain berduet dengan Tompi, David pun mengajak Raisa berduet dengan lagu “Somewhere Over The Rainbow”. Sebagai penutup, David memainkan “Freedom at Midnight” yang disambut dengan standing applause oleh seluruh hadirin selama lebih dari sepuluh menit lamanya. Malam itu pun ditutup dengan sebuah janji, Economics Jazz 2013 nanti akan menghadirkan musisi jazz yang tidak kalah menarik asal Negeri Sakura. Meski penonton langsung keluar, dalam perjalanan pulang, tarian jarijemari David Benoit dan hembusan melodi Michael Paulo masih terngiang dan kembali terdengar dalam decak kagum obrolan mereka. [dwi andi]

8

WHAT’S UP FEB

Menjaga Silaturahmi dan Semangat Berbagi
Pertemuan Dharma Wanita Persatuan FEB UGM
ebagaimana rutin dilaksanakan setiap bulannya, Dharma Wanita Persatuan Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM (DWP FEB UGM) kembali mengadakan pertemuan anggota untuk bulan Agustus (8/9) lalu. Pertemuan yang mengundang seluruh anggota DWP FEB UGM dilangsungkan di Ruang Sidang Kartanegara FEB UGM. Pertemuan dibuka dengan sambutan oleh Ketua DWP FEB UGM, Dra. Sri Supartiwi Marwan Asri yang dilanjutkan dengan pembacaan hasil arisan yang dibagikan setiap bulannya. Khusus pertemuan bulan Agustus yang diliputi nuansa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, DWP FEB UGM menyuguhkan acara tutorial kreasi jilbab dari Karita Muslim Square. Agenda penting lainnya adalah penyerahan secara simbolis parcel Hari Raya Idul Fitri dan pinjaman tanpa bunga kepada karyawan oleh Supartiwi Marwan kepada karyawan. Setiap tahunnya, DWP FEB UGM senantiasa memberikan parcel dan bantuan pinjaman tanpa bunga kepada karyawan. Hal ini dimaksudkan agar karyawan FEB UGM dapat memanfaatkan pinjaman tanpa bunga tersebut untuk berlebaran bersama keluarga dan sanak saudara. Namun yang berbeda dari tahun sebelumnya adalah tidak diselenggarakannya bazaar dan pasar murah. Hal ini telah menjadi kesepakatan para anggota DWP FEB UGM karena berbagai aktivitas lain yang sedang fokus dilakukan oleh masing-masing anggota DWP FEB UGM. Pertemuan Anggota DWP FEB UGM bulan Agustus

S

lalu juga merupakan pertemuan terakhir DWP FEB UGM masa kepengurusan Supartiwi Marwan. Dengan bergantinya Dekan FEB UGM, maka kepengurusan DWP FEB UGM kini diamanahkan kepada dr. Usi Sukorini, MKes., SpPK-K, istri Dekan FEB UGM, Prof. Wihana Kirana Jaya, Ph.D. Dengan latar belakang di bidang kedokteran, pada periode kepengurusan tahun ini, dr. Usi Sukorini, MKes., SpPK-K akan banyak berfokus pada bagaimana menjaga kesehatan para anggota DWP FEB UGM. Hal ini terlihat dalam pertemuan anggota DWP FEB UGM bulan November (14/11) yang membahas agenda mengenai upaya pencegahan demam berdarah di lingkungan sekitar. Selain berfokus pada kesehatan para anggotanya, Usi Sukorini juga akan menjaga dan meningkatkan tali silaturahmi antaranggota dan keluarga besar FEB UGM yang telah dibangun dengan baik dalam kepengurusan sebelumnya. Menjaga silaturahmi merupakan nilai utama yang akan terus dijaga oleh seluruh anggota DWP FEB UGM. Semangat ini sejalan dengan harapan dari Ketua DWP FEB UGM periode sebelumnya, “Bahwasannya apabila Ketua DWP FEB UGM akan berganti diharapkan ketua yang baru tetap menjaga semangat dan tatanan kegiatan sosial yang selama ini telah terbangun dalam diri DWP FEB UGM”, ungkap Supartiwi Marwan. [poppy]

9

WHAT’S UP FEB

Magister Sains dan Doktor

Dies Natalis ke-32 Program Magister Sains FEB UGM

Mitra Baru Program Gelar Ganda MSi FEB UGM: Tulane University
rogram MSi FEB UGM mendapatkan mitra baru yaitu Department of Economics, Tulane University, New Orleans, Los Angeles, United States. Dalam kunjungannya ke NOLA, Dr. Supriyadi dan Dr. Arti Adji membahas MoU antara FEB UGM dengan Department of Economics, Tulane University. MoU tersebut telah ditandatangani secara sirkuler oleh Dekan FEB UGM dan perwakilan Tulane University, Prof. James Alm. Kolaborasi yang pertama dilakukan adalah program master dual degree yang akan dimulai Spring 2013 di United States dengan mahasiswa dari PPSDM Kemenkeu. Kegiatan lain yang akan dilakukan adalah community service oleh sekitar 10 undergraduate students dari Tulane University di Summer 2014 di Yogyakarta. Selain community service, mahasiswa dari Tulane akan mengikuti kuliah yang di-tailor-made tentang kewirausahaan dan kebijakan publik. Silabus kedua mata kuliah tersebut disusun bersama oleh Tulane University dan FEB UGM. Kuliah ini juga akan diselenggarakan bersama oleh Tulane University dan FEB UGM.

P

alam rangka memperingati Dies Natalis Program Magister Sains & Doktor FEB UGM yang ke-32, Program Magister Sains menyelenggarakan acara Tumpengan. Acara ini dihadiri oleh Prof. Wihana Kirana Jaya, M.Soc.Sc., Ph.D., Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Pengembangan Usaha saat itu (sekarang Dekan FEB UGM –red), pengelola, dosen, karyawan, dan mahasiswa Program Magister Sains-Doktor FEB UGM. Acara diselenggarakan pada hari Jumat (28/9) di Lobby lantai satu Gedung Program Magister Sains-Doktor FEB UGM. Dalam sambutannya, Ketua Pengelola Program Magister Sains & Doktor, Dr. Supriyadi, M.Sc. menyampaikan bahwa Program Magister Sains di usianya yang ke-32 adalah program yang telah matang dan telah memberikan kontribusi bagi perkembangan desain riset dan studi empiris di bidang ilmu ekonomi, akuntansi, dan manajemen. Sampai saat ini Program MSi FEB UGM telah memiliki alumni yang tersebar di seluruh Indonesia. Diharapkan silaturahmi yang produktif dapat terjalin antara alumni dan Program MSi dan Doktor sehingga produknya dapat turut meningkatkan utilitas sosial. Dr. Supriyadi juga menyampaikan harapan agar hadirin dapat melaksanakan tugas dengan ridho dari Allah SWT. Terutama kepada mahasiswa, Supriyadi juga mendorong supaya cepat menyelesaikan studi. Pada acara tersebut dilakukan pemotongan tumpeng oleh Wihana yang diberikan kepada karyawan paling senior, Siswadi. Acara Dies Natalis ke-32 ini diakhiri dengan doa, foto, dan makan siang bersama. [wiwin]

D

Empat MSc Students Berhasil ke Australian National University (ANU)
hree-Partied Collaboration in Education Program antara Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan-The Australia Agency for International Development-Master of Science Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada merupakan kerja sama yang bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia terutama di bidang public policies and economics. AusAID memberikan 20 beasiswa kepada staf BKF yang dilaksanakan dalam dua tahap (2012 dan 2013) untuk melanjutkan studi dual master degree dengan skema tahun pertama di MSi FEB UGM dan tahun kedua di Crawford School of Public Policy, The Australian National University. Di tahap pertama, BKF Kemenkeu mengirimkan 10 stafnya untuk belajar di Program Studi Ilmu Ekonomi MSi FEB UGM. Untuk tahun 2013, ada empat mahasiswa yang lolos untuk melanjutkan tahun kedua di ANU. Mereka adalah Ilham Soleh Permana, Wachid Kurniawan, Eko Arief Yogama, dan Khanifudin Efendi. Selamat kepada empat mahasiswa kelas internasional yang telah berhasil mendapatkan beasiswa ADS dan melanjutkan tahun ke dua selama 12 bulan di CSPP, ANU. [rory]

T

10

Pelepasan Wisuda Program Magister Sains FEB UGM Lulusan Angkatan Perdana Kelas Khusus BKF Kemenkeu

rogram Magister Sains Ilmu Ekonomi, Manajemen, dan Akuntansi FEB UGM pada Rabu (24/10), melepas 45 wisudawan dengan resmi bergelar Master of Science di Ruang Auditorium BRI Program MSi dan Doktor FEB UGM. Dalam pelepasan kali ini, diwisuda pula tujuh lulusan angkatan perdana kelas khusus BKF Kemenkeu yang pada bulan Agustus 2012 telah menyelesaikan tahun kedua di International University of Japan (IUJ) dengan mendapatkan gelar Master of Arts in Economics dari IUJ dan MSc in Economics dari UGM. Tujuh mahasiswa ini merupakan staf Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan yang mendapatkan beasiswa dari BKF Kemenkeu. Setelah menempuh studi, para lulusan tersebut diharapkan dapat memenuhi internal requirement untuk menganalisis dan meneliti dengan kualitas tinggi, sesuai dengan kebutuhan BKF sebagai think tank Kemenkeu. Kurikulum kelas khusus ini merupakan tailor-made curriculum yang disesuaikan dengan kebutuhan Kemenkeu, namun dengan memfokuskan pada core competence yang berbasis riset. Pada periode wisuda kali ini dua orang wisudawan yang

P

menjadi Best Graduates adalah Aisa Tri Agustini (IPK 3.96; masa studi 1 tahun 4 bulan) dari program studi Akuntansi dengan dosen pembimbing Prof. Dr. Indra Wijaya Kusuma, MBA. dan Maria Delarosa Dipta Dharmesti (IPK 3.82; masa studi 1 tahun 8 bulan) dari program studi Manajemen dengan dosen pembimbing Dr. Sahid Susilo Nugroho, M.Sc. Acara ini dihadiri oleh wisudawan beserta pendamping, Pengelola Program MSi dan Doktor serta Dekan FEB UGM. Pada sambutan pelepasan oleh Ketua Program MSi dan Doktor FEB UGM, Dr. Supriyadi, M.Sc., melaporkan prestasi akademik wisudawan dan mendorong mereka melakukan penelitian dan menjalin networking, terutama dengan almamater. Terakhir, disampaikanlah sambutan oleh Prof. Wihana Kirana Jaya, M.Soc.Sc., Ph.D., Dekan FEB UGM yang mengucapkan selamat atas keberhasilan wisudawan. Momentum ini merupakan awal untuk berkarya di instansi masing-masing, untuk berbagi, mendiseminasi pengetahuan dan mengembangkan kemampuan diri. [rory]

11

WHAT’S UP FEB

Magister Sains dan Doktor

Magister Akuntansi

Visiting “US$ 3 Millions” Students at GSU

Pelepasan Wisuda Mahasiswa Program MAKSI FEB UGM

aat ini, 26 mahasiswa MSi (yang terdiri dari dua batch yang saling overlap di Fall 2012) sedang mengambil kuliah tahun kedua di Department of Economics, Andrew Young School of Policy Studies, Georgia State University. Para mahasiswa tersebut adalah staf BKF dan lembaga lain di lingkungan Kemenkeu yang dibiayai oleh USAID. USAID telah mengucurkan dana sebesar US$ 3 juta untuk membiayai para karyasiswa tersebut di tahun keduanya (atas lobi dari Dr. Anggito Abimanyu –red). Tahun pertama telah diselesaikan dengan sangat baik di MSi. Untuk memonitor para karyasiswa dan mendiskusikan kolaborasi lanjutan, Pengelola MSi, Dr. Supriyadi dan Dr. Arti Adji melakukan a series of meetings dengan Pengelola AYSPS GSU. Direktur International Center for Public Policy AYSPS, Prof. Jorge Martinez dan Chair of Department of Economics GSU, Prof. Sally Wallace, serta Dean of AYSPS, Prof. Mary Beth Walker sangat senang dengan hasil yang dicapai para karyasiswa. Indeks prestasi mereka di atas rata-rata dan beberapa research thesis mereka sangat bagus. Dalam kunjungan ini, direncanakan pula untuk memperluas kolaborasi ke tingkat undergraduate (dengan students exchange dan dual degree) dan juga faculty exchange. Selain itu, tahun 2013 AYSPS GSU dan MSi FEB UGM merencanakan pula untuk mengadakan bersama konferensi internasional di bidang desentralisasi fiskal di Yogyakarta. Konferensi ini merupakan ajang para ekonom GSU dan FEB UGM serta alumni MSi FEB UGM dan AYSPS GSU untuk memaparkan research paper-nya di bidang public finance. Kolaborasi FEB UGM dengan AYSPS GSU juga akan diperluas di bidang public policy dan public administration.

S

rogram Magister Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (MAKSI FEB UGM) kembali menyelenggarakan Pelepasan Wisuda Mahasiswa untuk Periode IV di Ruang Auditorium Lantai 6 Gedung Pertamina Tower FEB UGM (24/7). Pelepasan ini diikuti oleh 20 mahasiswa Maksi dan dihadiri oleh Pengelola Program MAKSI FEB UGM, Prof. Dr. Jogiyanto HM, MBA., Wakil Dekan FEB UGM, Dr. Eko Suwardi, M.Sc., Dosen Program MAKSI FEB UGM serta karyawan Program MAKSI FEB UGM. Dari 20 Mahasiswa, satu orang berpredikat cumlaude, 13 orang berpredikat Sangat Memuaskan dan 6 orang berpredikat Memuaskan. Karena bertepatan dengan bulan Suci Ramadhan, pelepasan ini dikemas bersamaan dengan agenda buka puasa bersama Civitas Akademika Program MAKSI FEB UGM yang diisi dengan banyak kegiatan. Usai acara seremonial pelepasan wisudawan-wisudawati yang terdiri dari beberapa konsentrasi ini, dilantunkanlah pembacaan ayat suci Al Quran oleh mahasiswa dilanjutkan dengan Tausyiah oleh Ustad Suyanto, S.Ag. dari Pondok Pesantren Gedong Kuning Yogyakarta. Acara pelepasan wisuda dan buka puasa bersama ditutup dengan doa, sembahyang berjamaah, dan dilanjutkan buka puasa bersama di Plaza Garden Lantai 8 Gedung Pertamina Tower FEB UGM.

P

12

Program Kelas Khusus ESDM
ada periode perkuliahan semester ganjil tahun ajaran 2012/2013 Program Magister Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (MAKSI FEB UGM) telah menandatangani kesepakatan kerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tentang Penyelenggaraan Beasiswa Pendidikan Program Magister Akuntansi dengan Konsentrasi Akuntansi Sektor Publik. Bentuk kerja sama ini adalah perkuliahan kelas khusus yang akan dilaksanakan di kampus UGM Jakarta, Jalan Dr. Saharjo No. 83 Tebet, Jakarta Selatan. Pada kerja sama ini, Kementerian ESDM mengirimkan 26 pegawainya sebagai calon mahasiswa untuk mengikuti proses seleksi Mahasiswa Baru Program MAKSI UGM. Beberapa tahap proses seleksi ini meliputi Tes Potensi Akademik (TPA) dan ITP TOEFL yang bekeja sama dengan OTO Bappenas, Tes Validasi Kompetensi, dan Tes Wawancara. TPA dan TOEFL dilaksanakan pada tanggal 12 Juli 2012 sedangkan TVK dan Wawancara dilaksanakan pada tanggal 13 Juli 2012 di Kampus UGM Jakarta. Dari proses seleksi 26 calon mahasiswa kelas khusus ESDM, 22 orang lolos untuk menjadi mahasiswa Program MAKSI di kelas Matrikulasi, satu orang dinyatakan tidak lolos, dan tiga orang mengundurkan diri. Perkuliahan Kelas Khusus ESDM ini dimulai pada tanggal 17 September 2012 dan didahului dengan orientasi mahasiswa baru yang dihadiri oleh Prof. Jogiyanto, HM., MBA., C.M.A. dan Dr. Agus Setiawan, M.Soc.Sc., C.M.A. selaku Ketua dan Wakil Pengelola Program. Perkuliahan dilaksanakan setelah jam kerja dengan sistem tatap muka langsung di kampus UGM Jakarta pada hari Senin-Kamis selama 24 bulan. Program MAKSI FEB UGM berharap melalui Beasiswa Pendidikan Program Magister Akuntansi Konsentrasi Akuntansi Sektor Publik ini bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan kementerian ESDM.

Workshop CMA MAKSI

P

etelah melaksanakan Workshop Certified Management Accountant (CMA) pertama beberapa waktu yang lalu (10/11-15/11) dan mendapatkan privilege untuk menyelenggarakan workshop dan Ujian Sertifiksi CMA secara mandiri, Program Magister Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM (MAKSI FEB UGM) pada kesempatan kali ini mengadakan kembali workshop serupa tahap ke-2 (8/1013/10). Selama enam hari berturut-turut, workshop CMA dimulai pada pukul delapan pagi sampai empat sore dan diikuti oleh 12 peserta dari berbagi universitas maupun instansi seperti Universitas Brawijaya, Universitas Mulawarman, Universitas Islam Indonesia, PT Pembangkit Jawa-Bali dan beberapa mahasiswa dari Program MAKSI FEB UGM sendiri. Pelaksanaan Workshop ini bertempat di dua tempat: hari pertama dan kedua dilaksanakan di Ruang Sidang Akuntansi FEB UGM dan hari ketiga sampai hari keenam dilaksanakan di Ruang D Program MAKSI FEB UGM.

S

Workshop ini diampu oleh: Prof. Dr. R.A. Supriyono, S.U., C.M.A. dengan materi Strategic Cost Management yang terdiri dari 12 topik (8/10-10/10) dan Dr. Ertambang Nahartyo, M.Sc., C.M.A. dengan materi Strategic Business Analysis yang terdiri dari 11 topik (11/10-13-10).
Di akhir workshop, masing-masing peserta mendapatkan sertifikat workshop dari Program MAKSI FEB UGM sedangkan pelaksanaan ujian sertifikasi CMA ditetapkan pada tanggal 24 November 2012 di Program MAKSI FEB UGM. Untuk kegiatan workshop CMA selanjutnya direncanakan terlaksana pada tanggal 12-14 November dan 22-24 November 2012 di Kampus UGM Jakarta.

13

WHAT’S UP FEB

Magister Akuntansi

Workshop Pembuatan Proposal Riset Sistem Informasi
rogram Magister Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (MAKSI FEB UGM) tidak hanya sebagai tempat pendidikan tetapi juga menyediakan fasilitas pelatihan-pelatihan akademik salah satunya adalah Workshop Pembuatan Proposal Riset Sistem Informasi. Pengadaan workshop ini ditawarkan bagi pengajar di universitasuniversitas di seluruh Indonesia dan bertujuan agar para peserta diharapkan akan memiliki kemampuan untuk membuat proposal riset yang siap dipublikasikan. Workshop Pembuatan Proposal Riset Sistem Informasi bertempat di Program Magister Akuntansi FEB UGM selama tiga hari (26/9-28/9) mulai pukul delapan pagi sampai tiga sore. Workshop ini diikuti oleh tujuh peserta dari Universitas Islam Sumatera Utara, Universitas Jember, Universitas Negeri Solo, PT BPR Mandiri Artha Abadi dan salah satu mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada sendiri. Materi-materi workshop diampu oleh empat dosen FEB UGM, antara lain Prof. Dr. Jogiyanto H.M., MBA. dengan materi Pembuatan Proposal yang Baik dan Perancangan Riset yang Baik, Prof. Dr. Gudono, MBA, C.M.A. dengan materi praktik mencari topik penelitian melalui digital database dan perencanaan penelitian untuk sistem informasi dan Teknik Analisis Multivariate, Prof. Dr. Suwardjono, M.Sc. dengan materi Pemakaian Bahasa yang Baik dan Benar dan Praktik Penulisan Proposal Riset, sedangkan Dr. Sony Warsono, MAFIS. dengan materi Presentasi Proposal Riset. Pelaksanaan workshop ini meninggalkan kesan yang baik dan membangun dari masing-masing peserta. Mereka sangat senang dengan materi-materi yang disampaikan yang bagi mereka sangat menarik, tidak pasif, dan memberikan banyak maanfaat dalam mengetahui bagaimana riset yang baik. Program MAKSI FEB UGM selanjutnya akan tetap melaksanakan pelatihan akademik yang bertujuan untuk memajukan pengetahuan para profesional pada umumnya. Pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh MAKSI diharapkan dapat sesuai dengan apa yang diinginkan oleh peserta dan bisa berkembang maju dari hari ke hari.

P

14

Magister Manajemen

WHAT’S UP FEB

Wirausaha Muda, Sukses, dan Inovatif ala Sandiaga S. Uno

engulang kesuksesan terlaksananya Executive Series (1) Program Magister Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM (MM FEB UGM) menyelenggarakan Executive Series (2) dengan tajuk “How to be a Young Successful Entrepreneur and Innovative.” Acara yang diselenggarakan di Auditorium Magister Manajemen FEB UGM (5/10) pukul dua siang ini bekerja sama dengan Entrepreneur Club (EC) MM FEB UGM. Kali ini, Executive Series mengundang sosok istimewa dan inspiratif, Sandiaga S. Uno, pengusaha dan wirausahawan muda yang sangat sukses dalam menjalankan bisnisnya. Executive Series (2) dibuka langsung oleh Ketua Program Studi MM UGM, Prof. Lincolin Arsyad, Ph.D., dan dimoderatori oleh Wakil Ketua Bidang Akademik dan Penelitian MM FEB UGM, Nurul Indarti, Ph.D. Sandiaga S. Uno begitu inspiratif menyampaikan gagasannya mengenai menjadi seorang wirausaha muda yang sukses dan inovatif. “Saat ini jumlah wirausaha di Indonesia hanya mencapai kurang lebih 1% dari total jumlah penduduk Indonesia, padahal angka usia produktif penduduk Indonesia mencapai angka 67%,” ungkap Sandiaga S. Uno ketika menyoroti masih minimnya anak muda Indonesia yang belum tergerak menjadi wirausaha. Sandiaga juga memberikan tips and trick bagaimana para calon wirausaha muda yang hadir di Auditorium MM UGM mampu menjalankan bisnisnya dengan sukses. Salah satu kunci kesuksesan dalam wirausaha adalah bagaimana menjadi seorang wirausaha sejati. Seorang wirausaha sejati haruslah melakukan apa yang disukai, menyukai apa yang dilakukan, dan menikmati

M

apa yang dilakukan. Sandiaga menekankan pula bahwa wirausaha tidak boleh lepas dari kedisiplinan, kerja keras, fokus, kreatif, dan inovatif. Untuk memunculkan sisi inovatif ini, para wirausaha harus rajin mengasah kreativitas dan memunculkan ide-ide baru yang segar dan orisinil. Selain itu penting pula untuk memberikan nilai tambah yang berbeda, memoles proses pemasaran, dan membuat beragam perubahan yang positif. Sandiaga juga menyebutkan istilah bahwa seorang wirausaha lebih baik menjadi ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) dibandingkan menjadi seorang ATP (Amati, Tiru, Persis). Sangat penting bagi wirausaha untuk mampu memotivasi dirinya sendiri, berpikir out of the box, dan tidak mudah menyerah dalam menjalankan bisnisnya. Sebelum menutup uraiannya dalam Executive Series (2) ini, Sandiaga menegaskan bahwa kesuksesan ditentukan oleh kejelasan visi. Seorang wirausaha yang baik akan melakukan kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas untuk mencapai apa yang menjadi visinya. Namun, Sandiaga juga mengingatkan untuk tetap berjalan pada koridor etika dan moral yang sesuai. Executive Series (2) ditutup oleh sesi tanya jawab para peserta yang hadir. Dalam sesi tanya jawab ini, tampak antusiasme tinggi dari para peserta yang diharapkan mampu menggambarkan antusiasme anak muda Indonesia untuk menjadi wirausaha muda yang sukses dan inovatif.

15

WHAT’S UP FEB

Magister Ekonomika Pembangunan

Seminar Field Study Wonosobo

EP FEB UGM menyelenggarakan seminar hasil studi lapangan di kampus MEP UGM, Jumat (19/10) lalu. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari studi lapangan yang dilakukan oleh mahasiswa (17/9) di Pemerintah Kabupaten Wonosobo. Pemaparan ini merupakan hasil temuan–temuan berdasarkan fenomena atau permasalahan yang terjadi di lapangan. Peserta seminar merupakan mahasiswa angkatan 46 dan beberapa dosen pembimbing. Selain itu, seminar juga dihadiri oleh Sekretaris Bappeda Pemerintah Kabupaten Wonosobo. Pembahasan dalam seminar ini mencakup dua bagian, antara lain manajemen aset daerah dan pertanian. Poppy Ismalina, Ph.D. selaku Ketua Program MEP dalam sambutannya, menyampaikan bahwa tujuan utama penyelenggaraan studi lapangan adalah melatih dan mengasah kemampuan dan kepedulian mahasiswa dalam proses pengambilan kebijakan pembangunan di tingkat daerah. Kelompok 1 dan 2 mempresentasikan topik manajemen aset daerah yang menekankan pada inventarisasi aset-aset dan optimalisasi aset daerah. “Perlunya inventarisasi dan identifikasi aset Kabupaten Wonosobo mengacu pada peraturan yang terkait aset,” ungkap pembicara kelompok 1. Kelompok 2 menambahkan bahwa dalam optimalisasi aset perlu melakukan penilaian

M

aset yang dimiliki Pemkab Wonosobo. Selanjutnya, kelompok 3 membahas tentang pertanian dengan topik pemabahasan pertanian di lahan miring. Menanggapi hasil presentasi dari mahasiswa, perwakilan dari DPKAD Kabupaten Wonosobo mengakui bahwa selama ini permasalahan aset menjadi pekerjaan rumah Pemkab Wonosobo. “Pembenahan pengelolaan aset daerah menjadi poin penting,” ungkapnya. Berkaitan dengan beberapa status aset-aset, pemerintah telah menelusuri status kepemilikan asetaset yang ada di Kabupaten Wonosobo. Sedangkan pertanian di lahan miring menurut perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Wonosobo, usaha pertanian telah ada sejak dulu dan turun temurun. “Lahan pertanian di Wonosobo hampir semuanya miring,” ujarnya.

16

Korupsi dan Reformasi Birokrasi

antan pimpinan KPK tahun 2004-2009 Erry Riyana Hardjamengkas mengawali kuliah umum pada Kamis (19/7) dengan sedikit cerita yang menekankan pentingnya komunikasi dan persepsi. Dengan lugas, Erry mengatakan bahwa korupsi sebagai kejahatan luar biasa harus dibenahi dan diperangi. “Korupsi tidak bisa diukur,” ujarnya dihadapan mahasiswa MEP UGM. Persepsi adalah kumpulan kesan dari berbagai orang sehingga mengukur korupsi dengan persepsi. Orang-orang bisnis lebih peka terhadap korupsi karena berhubungan dengan kelangsungan hidupnya. Potret tentang korupsi di Indonesia diantaranya dengan melihat Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Pada tahun 2011 skor IPK Indonesia 3, skor meningkat pada tahun 2007 sebesar 2,8. Persepsi korupsi menurut pebisnis digunakan untuk melihat gambaran pelayanan publik. KPK dengan survei intregitas sektor publik tahun 2007 (5,53) 2008 (6,84) 2009 (6,50), 2010 (5,42) dan tahun 2011 (6,31). Tahun 2010 survei PERC menempatkan Indonesia di peringkat pertama sebagai negara terkorup dari 16 negara Asia Pasifik yang menjadi tujuan investasi. Selain itu, Easae of Doing Business (pengukuran kemudahan berusaha) tahun 2010 menempatkan posisi indonesia pada peringkat 122 dari 183 negara. Peta korupsi di Indonesia yang paling mudah adalah menerima suap. penyalahgunaan perizinan dan wewenang oleh aparat birokrasi, kemudian solusinya adalah perbaikan sistem kewenangan. Penyimpangan prosedur pengadaan barang dan jasa sehingga upaya yang dilakukan adalah mendorong e-procurement, pembentukan ULP, penetapan HPS, whistleblower system, transparansi dan akuntabilitas sistem pengadaan. Selain itu, penyimpangan peruntukan dan pengelapan fiktif APBN atu APBD. Menurut Erry Riyana peta korupsi yang paling menonjol adalah penguasa pertambangan mengenai penerbitan izin bagimana kompleksitas pemberian izin pertambangan. Di samping itu, terjadinya benturan kepentingan seperti pengusaha menjadi penguasa.

M

Jenis korupsi salah satunya birokrasi yang kletopkratif yaitu apa yang dimiliki pemerintah diambil. Munculnya pengusaha hitam dan penguasa korup serta didukung stakeholder seperti calo kasus, cukong kasus, dan aktor politik. Menurut mantan pimpinan KPK tersebut kesemuanya itu menjadi pilar korupsi. Modus korupsinya adalah mafia peradilan, mafia pajak, mafia sumber daya alam, dan mafia politik. “Yang paling jahat adalah korupsi legalisasi,” ucapnya. Pemberantasan korupsi cukup sulit karena melibatkan beberapa pihak. Banyak birokrasi dan masyarakat tidak menyadari bahwa untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas dalam mensejahterakan rakyat, sumber dana dan penerimaan pemerintah berasal dari pajak dan retribusi. “Tidak mungkin kita meningkatkan kesejahteraan rakyat tanpa penerimaan pajak dan retribusi,” ujar ketua tim independen reformasi birokrasi nasional. Pajak dan retribusi berasal dari kegiatan bisnis dan ekonomi. “Makin banyak kegiatan usaha, bukan saja lapangan kerja tersedia akan tetapi kapasitas pemerintah (penerimaan) baik pusat maupun daerah akan meningkat, digunakan sebagai dana pemberdayaan kesejahteraan rakyat,” jelasnya. Keinginan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia adalah konsistensi regulasi, kepastian hukum, dan kepastian berusaha. Di Indonesia penguasaha mencari perizinan untuk menutup bisnis membutuhkan waktu 153 hari dan membuka bisnis 155 hari. “Membuka bisnis butuh waktu lama, bahkan menutup bisnis butuh waktu lebih lama dengan menambah persyarataan lain,” imbuhnya. Di samping itu, terdapat korelasi positif dan kuat antara Easae of Doing Buisiness dan Corruption Perception Index (C=0,69) sehingga peningkatan iklim usaha dan pemerintahan sejalan dengan mengurangi korupsi. Selain itu, aturan yang jelas dalam permainan bisinis akan mengurangi diskresi, monopoli dan meningkatkan akuntabilitas. Oleh karena itu, hasil akhir yang menjadi poin penting dalam program reformasi birokrasi adalah meningkatnya kepercayaan publik. [Prast]

17

WHAT’S UP FEB

Magister Ekonomika Pembangunan

Syawalan MEP UGM

ogyakarta (21/9), Program MEP FEB UGM mengelar acara Halal bi Halal di kampus MEP. Segenap keluarga besar MEP di antaranya: pengelola, dosen, karyawan, dan mahasiswa hadir dalam acara Halal bi Halal dengan pembicara Dr. Soeratno. Acara ini sudah menjadi tradisi rutin yang dilakukan oleh program MEP setiap tahunnya. Poppy Ismalina, Ph.D. dalam sambutannya, mengungkapkan bahwa acara ini menjadi media silaturahmi

Y

keluarga besar MEP UGM. “Ini salah satu kegiatan yang merupakan forum kekerabatan keluarga besar MEP,” ungkapnya. Pesan yang disampaikan Soeratno dalam tausiahnya adalah pentingnya memaafkan antarmanusia sebagai makhluk sosial yang saling berinteraksi. Dalam berinteraksi sehari-hari, manusia pasti membuat kesalahan. “Mengaku salah itu bersegera”, ungkap Soeratno. “Jangan mudah menyalahkan orang lain,” tambahnya. [Prast]

18

Program Profesi Akuntansi

WHAT’S UP FEB

Rapat Kerja

Kelas Matrikulasi XXVI B
Kelas matrikulasi XXVI B merupakan hasil dari ujian saringan masuk tanggal 29 September 2012. Pilihan kuliah matrikulasi di Pendidikan Profesi Akuntansi FEB UGM yakni kelas Pagi dan Kelas Sabtu. Perkuliahan kelas reguler angkatan XXVI ini akan dilaksanakan pada tanggal 4 Februari 2013.

Kuliah Umum Ahmad Baraba
Pendidikan Profesi Akuntansi FEB UGM menyelenggarakan rapat kerja (raker) di Magelang pada tanggal 1-2 September 2012. Dalam raker tersebut dibahas rencana-rencana kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahun 2013. Raker ini juga merupakan langkah persiapan PPAk sebagai bagian dari Universitas Gadjah Mada dalam menyongsong fungsinya sebagai Badan Layanan Umum. Raker ini menghasilkan kegiatan/aktivitas yang akan dilaksanakan di tahun depan beserta anggaran yang dibutuhkan agar kegiatan-kegiatan yang direncanakan dapat terlaksana.

Pelaksanaan Tes Validasi Kompetensi 29 September 2012
Kuliah umum merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan pada awal tahun ajaran baru. Kuliah umum bulan September 2012 ini dilaksanakan di Pertamina Tower Lantai 6 dengan dihadiri oleh sekitar 150 orang mahasiswa pendidikan profesi. Yang mengisi acara kuliah umum tersebut adalah alumni dari FEB UGM yang juga berkarir sebagai komisaris di Bank Jabar, yakni Ahmad Baraba. Dalam kuliah umum kali ini, Ahmad menjelaskan secara rinci pentingnya internal audit bagi pencapaian tujuan perusahaan. Kuliah umum ini berlangsung menarik karena banyak pertanyaan dari para peserta yang sangat antusias mengikuti jalannya acara sampai selesai. Ujian saringan masuk atau disebut dengan istilah Tes Validasi Kompetensi merupakan syarat masuk calon mahasiswa pendidikan profesi akuntansi. Ujian ini diselenggarakan pada tanggal 29 September 2012 dengan diikuti oleh sebanyak 59 calon mahasiswa baru dari perguruan tinggi baik negeri maupun swasta seluruh Indonesia. Subjek yang diujikan meliputi: Akuntansi Keuangan, Akuntansi Manajemen dan Pengauditan. Tes masuk ini diselenggarakan di Ruang U 312 dan U 313 dari jam 08.00-11.00. Setelah tes selesai dilaksanakan, hasil tes tersebut langsung dikirimkan ke KERPPA Ikatan Akuntan Indonesia untuk dilakukan koreksi dan hasilnya akan diumumkan oleh KERPPA IAI kurang lebih satu minggu kemudian. Pelaksanaan Tes Validasi Kompetensi berikutnya adalah 8 Desember 2012.

Pelaksanaan Test TOEFL
Salah satu persyaratan kuliah di Pendidikan Profesi Akuntansi FEB UGM adalah memiliki skor TOEFL minimal 425. Pelaksanaan tes TOEFL dilaksanakan sebelum Tes Validasi Kompetensi. Tes TOEFL ini diselenggarakan dua kali, yakni pada tanggal 14 September dan 24 September 2012 dengan diikuti oleh sekitar 50 orang dan bertempat di Ruang Lab. Bahasa FEB UGM.

19

20

SPECIAL REPORT

Pidato Dekan dan Orasi Ilmiah

Dies Natalis Sebagai Momentum Persiapan Langkah ke Depan

eluruh layar televisi di sekitar kampus Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) serentak menayangkan acara yang digelar di Ruang Sidang Kertanegara pagi itu (19/9). Sebagai acara puncak rangkaian Dies Natalis ke-57, Rapat Senat Terbuka Khusus dengan agenda pidato dekan dan orasi ilmiah diselenggarakan selama dua jam. Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh dosen, perwakilan karyawan dan mahasiswa, serta dekan fakultas lain. Rapat Senat Terbuka Khusus resmi dimulai dengan adanya pembukaan acara oleh ketua Senat, Prof. Abdul Halim, MBA., Ph.D. Tanpa berpanjang lebar, rapat dilanjutkan dengan pidato dekan oleh Prof. Marwan Asri, MBA, Ph.D. Dalam pidato selama kurang lebih setengah jam tersebut, Marwan menyampaikan perkembangan FEB UGM selama empat tahun mengemban amanah sebagai Dekan FEB. “Perayaan ulang tahun ke-57 ini mudah-mudahan menjadi momentum yang baik bagi kita semua untuk menengok kembali apa yang telah kita lakukan selama ini, kemudian menyiapkan langkah-langkah selanjutnya dengan lebih merapatkan barisan, mempererat kerja sama, saling melengkapi satu sama lain, sesuai dengan tema Dies tahun ini ‘Satu Fakultas, Satu Keluarga, Bervisi Sama,’” ungkapnya dalam awal pidato. Selama kurun waktu empat tahun, Dekan menyebutkan perkembangan yang cukup signifikan dan baik dalam berbagai bidang yang telah diraih FEB UGM. Perkembangan itu dapat dilihat dari segi sumber daya akademik, yaitu dosen yang

S

meningkat jumlah, tingkat pendidikan, serta jabatannya mengingat enam dosen yang telah mencapai gelar guru besar. Program International Uundergraduate Program (IUP) sendiri mengalami peningkatan jumlah peminat serta mahasiswa yang diterima tiap tahunnya. Penerimaan mahasiswa asing dan pengiriman mahasiswa pertukaran pelajar serta gelar ganda pun meningkat. “Ini adalah indikator pengakuan dunia internasional terhadap FEB UGM,” tegas Dekan. Kemudian, Prof. Marwan Asri, MBA., Ph.D. menyebutkan, mahasiswa FEB tidak hanya mengukir prestasi di bidang akademik, tetapi juga di bidang nonakademik pada berbagai ajang perlombaan nasional maupun internasional. Di bidang penelitian, dosen-dosen FEB telah menerbitkan banyak karya yang dipublikasikan di jurnal nasional maupun internasional serta mengikuti berbagai konferensi atau seminar internasional. Selain itu, kemajuan fakultas ditandai dengan peningkatan di bidang kerja sama dengan mitra pemerintah daerah, universitas lain, serta perusahaan-perusahaan nasional maupun multinasional. Pidato dekan kemudian dilanjutkan dengan orasi ilmiah yang disampaikan oleh Prof. Dr. Insukindro, M.A. Orasi ilmiah tahun ini mengangkat tema “Mengenal Ekonomika Penilaian Properti”. Topik tersebut dipilih karena ekonomika penilaian properti (economics of property valuation) dirasa perlu diketengahkan sebagai salah satu pendekatan alternatif baru dalam memicu pembangunan ekonomi. Booming ekonomika penilaian properti dimulai dari beberapa kali krisis dunia, termasuk krisis 2008, yang salah satunya disebabkan oleh pasar properti atau aset dan

21

SPECIAL REPORT

produk keuangan turunannya. Insukindro menyebutkan, tenaga penilai properti telah dibutuhkan di Indonesia sejak tahun 70-an, dimulai dari sektor perbankan yang kemudian merambah ke penilaian properti komersial dan nonkomersial, penilaian perusahaan yang akan go public, hingga sebagai konsultan investor Indonesia. Sayangnya, jumlah penilai properti di Indonesia tidak sebanding dengan besarnya permintaan jasa penilaian properti. Hal ini terutama disebabkan oleh sedikitnya perguruan tinggi penghasil tenaga penilai. UGM sendiri, merupakan salah satu dari segelintir universitas yang menyediakan pendidikan tenaga penilai di MEP FEB UGM. Sedikitnya jumlah penilai properti, terutama di pemerintahan, menurutnya, “Dapat menyebabkan penilaian properti yang kurang baik dan dapat mengurangi daya saing daerah, investasi, dan pembangunan daerah.” Besarnya kebutuhan akan penilai properti mendorong urgensi dibukanya jurusan ataupun konsentrasi ekonomika penilaian property. FEB UGM menjadi fakultas pertama yang membuka mata kuliah ekonomika properti pada semester ganjil 2012/2013 ini. “Mimpi saya, mudah-mudahan fakultas kita memiliki minat studi dan/ atau program studi ekonomika properti, sehingga kita menjadi acuan bagi studi di bidang ini,” ujar Insukindro sambil mengakhiri orasi ilmiahnya. Penutupan acara dilaksanakan dengan serah terima cinderamata lukisan batik yang dibuat oleh Prof. Basu Swastha Dharmestha, MBA., Ph.D. kepada FEB sebagai hadiah Dies Natalis ke-57 tahun ini. Kemudian, jurusan Manajemen FEB juga memberikan buku ‘Manajemen dalam Perspektif’ yang ditulis oleh dosen-dosen jurusan Manajemen FEB UGM. Sidang senat terbuka diakhiri dengan foto bersama seluruh dosen yang hadir. [prima]

22

Seminar dan Kuliah Terbuka untuk Rakyat

Peningkatan Kualitas SDM, Penanggulangan Kemiskinan, dan Pertumbuhan Inklusif
ebagai rangkaian awal Dies Natalis ke-57, FEB UGM menggelar dialog interaktif dan seminar bertema “Peningkatan Kualitas SDM, Penanggulangan Kemiskinan, dan Pertumbuhan Inklusif”. Acara digelar di Auditorium BRI Gedung Magister Sains dan Doktor FEB UGM Senin lalu (10/9). Seminar yang dilanjutkan kuliah terbuka ini dimulai dengan sambutan Dekan FEB UGM, Prof. Dr. Marwan Asri, MBA. Marwan mengungkapkan, tema seminar tersebut berasal dari kepedulian FEB terhadap tiga aspek: SDM, kemiskinan, dan pertumbuhan inklusif Indonesia. Selain itu, “Kuliah umum merupakan bentuk tanggung jawab sosial FEB UGM dan keinginan dosen-dosen untuk berbagi ilmu serta hasil penelitian kepada masyarakat,” ungkapnya. Sambutan dekan kemudian diikuti dengan sambutan dan pembukaan acara dari Rektor UGM, Prof. Dr. Pratikno, yang memberikan ucapan selamat dan harapan agar FEB UGM terus berkarya dan memperbaiki kualitas agar tidak kalah di kancah internasional. Acara dilanjutkan dengan keynote speech Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Dr. H.R. Agung Laksono, yang dibacakan oleh Deputi Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama, Prof. Dr. R. Agus Sartono. Dalam keynote speech itu, Agung Laksono berharap ekonom-ekonom UGM untuk merembug bersama hal yang bisa dilakukan dalam menanggulangi permasalahan kemiskinan, meningkatkan kualitas SDM, dan pertumbuhan

S

inklusif. “Dibutuhkan sinergi berbagai pihak untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” pesannya. Sebagai puncak acara, dimulailah sesi pleno seminar dengan Dr. Elan Satriawan (FEB UGM) dan Dr. Rabin Hattari (ADB) sebagai pembicara. Bergantian, kedua pemateri mengungkapkan kondisi SDM, kemiskinan, dan kebijakan yang ditempuh pemerintah untuk mengatasi permasalahan tersebut. Sesi pleno dilanjutkan diskusi dengan peserta yang berlangsung hangat karena tingginya anstusiasme mereka. Selepas pleno, dimulailah kuliah terbuka yang terbagi dalam lima kelompok paralel. Sesi paralel ini terbagi dalam empat sesi, masing-masing berlangsung kurang lebih 50 menit. Arijaya, seorang guru SMA 1 Muhammadiyah Yogyakarta berkomentar, “Mengapa strategi selalu gagal dari kelas Pak Amin Wibowo sangat berguna bagi saya karena saya juga punya usaha membuat roti.” Pada setiap sesi, hadir dosen-dosen FEB UGM yang mempresentasikan hasil penelitian maupun pemikiran mereka. Dr. Rimawan Pradiptyo, pengisi salah satu kuliah paralel dengan topik korupsi, berujar, “Seneng sih, dari sesi ke sesi banyak yang mengikuti. Aktif juga orangnya (audience-nya). Ke depan perlu ditingkatkan lagi, mungkin ditambah lagi sesinya.” Topik yang diangkat bervariasi, mulai dari kebijakan pemerintah, korupsi, laporan keuangan, manajemen perusahaan, hingga kewirausahaan. [prima]

23

SPECIAL REPORT

Kampung Wirausaha

Beragam Industri Kreatif di Kampung Wirausaha

Sarasehan Akademik

Demi FEB yang Lebih Baik

ebagai wujud keinginan fakultas untuk mempererat hubungan dengan sivitas akademika FEB, digelar acara Sarasehan Peningkatan Kualitas Akademik pada Kamis (13/9) lalu. Hadir dalam kegiatan tersebut, dosendosen dari seluruh prodi S1, S2, dan S3. Acara pagi itu diawali dengan presentasi Dr. Supriyadi, M.Sc, atas capaian FEB UGM dalam menjalani proses akreditasi AACSB. Dalam presentasi tersebut, Supriyadi mengungkapkan sampai sejauh mana fakultas telah menjalani tahapan menuju akreditasi AACSB. Selain itu, diutarakan pula tingkat partisipasi dosen dalam mencapai AQ/PQ yang menjadi salah satu syarat akreditasi. Dipimpin oleh Prof. Indra Wijaya Kusuma, Ph.D., acara dilanjutkan dengan diskusi untuk mendengarkan masukan dari dosen-dosen yang hadir. Acara sarasehan akademik ini, selain bertujuan untuk mempererat hubungan antara fakultas dengan dosen selaku pelaksana aktivitas akademik, juga untuk mendengarkan keluh kesah serta masukan dosen untuk sistem belajar mengajar di FEB UGM. Diskusi yang berlangsung selama 45 menit tersebut menghasilkan berbagai masukan untuk ditindaklanjuti fakultas selama periode kepemimpinan dekan tahun 2012-2016 mendatang. [prima]

S

alah satu agenda Dies Natalis FEB UGM ke-57 yang tidak boleh terlewatkan adalah Kampung Wirausaha. Acara yang sudah berlangsung selama dua tahun terakhir ini, diselenggarakan di area Plaza FEB UGM (14/9-15/9). Tema yang diangkat pada Kampung Wirausaha kali ini tidak berbeda dengan tahun lalu, yaitu industri kreatif. Tema ini dipilih karena keyakinan FEB UGM terhadap masih banyaknya produk kreatif wirausahawan Indonesia selain produk yang telah ditampilkan tahun lalu. Hal ini terbukti dari beragamnya industri yang ditampilkan dan memang berbeda dari pameran sebelumnya. Terdapat kurang lebih 25 stan yang memamerkan berbagai hasil industri kreatif, seperti mainan anak, aksesoris, sabun susu dan produk turunannya, kreasi bunga, hingga karya seni dari kemasan plastik bekas. Selain itu, diundang pula wirausaha yang dipelopori oleh mahasiswa, seperti fotografi dan apparel. Kampung wirausaha ini memang ditujukan untuk memperkenalkan dunia wirausaha kepada mahasiswa FEB. Harapannya, dengan menunjukkan produk-produk kreatif dan adanya bisnis yang dilakukan oleh mahasiswa, dapat menggerakkan mahasiswa-mahasiswa FEB untuk menjadi wirausahawan sejak masih duduk di bangku perkuliahan. [prima]

S

24

Bakti Sosial

Sambung Rasa dan Kekeluargaan

elasar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) mendadak menjadi ramai dan bersekat-sekat Sabtu (8/9) lalu. Tak jauh dari Selasar –tepatnya di gudang lantai satu gedung barat– terlihat juga kesibukan memilah baju-baju bekas layak pakai. Pada hari itu, dalam rangka Dies Natalis FEB UGM, diadakanlah garage sale dan pemeriksaan mata gratis. Kedua kegiatan tersebut merupakan bagian dari bakti sosial yang terlaksana juga dari bantuan mahasiswa S1, mahasiswa Program Magister, karyawan, dan dosen. Rangkaian acara bakti sosial pun terdiri dari: pemeriksaan mata gratis dan garage sale; pengiriman buku ke SD Bronggang di Cangkringan, Sleman (11/9); pemeriksaan gigi gratis; dan dropping air bersih di Tepus dan Ngestiharjo, Gunung Kidul (15/9). Pukul dua siang, seratusan pasien usia lanjut beserta keluarganya berduyun-duyun mendatangi FEB UGM dan duduk rapi di depan utara Selasar untuk memeriksakan mata mereka, sedangkan panitia sibuk menyiapkan peralatan periksa di bilik – bilik. Selain gratis periksa, lima belas pasien katarak dengan klasifikasi tertentu akan dioperasi gratis di RS Sardjito –tentu dengan keseluruhan biaya ditanggung oleh panitia Dies Natalis. Pemeriksaan mata gratis ini diselenggarakan panitia Dies Natalis bekerjasama dengan Perdami (Persatuan Dokter Mata Indonesia) –melalui Rumah Sakit Akademik– dan Bank Mandiri. Hal tersebut disebutkan oleh Yulia Arisnani, Ph.D., dosen FEB UGM selaku penanggung jawab acara bakti sosial kali ini.

S

Rumah Sakit Akademik mengerahkan empat dokter mata dengan peralatan lengkap pemeriksaan mata umum. Satu per satu pasien memasuki ruangan periksa. Di waktu bersamaan, panitia juga telah menyiapkan garage sale dari pakaian-pakaian bekas pantas pakai dari sumbangan sivitas akademika fakultas dengan harga di bawah Rp10.000,00. Tidak hanya untuk FEB UGM, kegiatan bakti sosial ini memiliki nilai guna bagi masyarakat umum. “Karena saya orang nggak punya, istrinya tukang becak, ya, merasa terbantu (dengan pemeriksaan mata gratis –red). Saya juga senang ada jualan ini, uang dua ribu sudah dapat baju,” ujar Darmiyati. Panitia acara ini tidak hanya terdiri dari dosen dan karyawan. Mahasiswa-mahasiswa pun membantu dengan sukarela. “Senang bisa bantu acara bakti sosial kaya gitu. Terharu juga waktu ketemu orang-orangnya (yang memeriksakan mata),” ujar Titis Anggersari, mahasiswi Manajemen 2011, yang menjadi sukarelawan dalam bakti sosial ini. Selain itu, Dinawaya Widarasti, mahasiswi Akuntansi 2011, mengatakan,”Capek sih, tapi seneng. Soalnya kita ngebantu orang lain juga. Kita kan jualnya murahmurah gitu,” ujarnya. Yulia menerangkan, peringatan Dies Natalis dapat dilakukan dengan berbagi kasih dan rasa dengan sesama yang membutuhkan. “Acara bakti sosial ini mampu menyatukan kembali elemen-elemen fakultas menjadi satu keluarga, keluarga FEB UGM,” tambahnya. [aga]

25

SPECIAL REPORT

Ziarah dan Anjangsana

Penghormatan Bagi Pendahulu
ebagai wujud silaturahmi dan penghormatan kepada para sesepuh, Dies Natalis FEB UGM ke-57 menyelenggarakan acara ziarah dan anjangsana. Kegiatan ini merupakan agenda ketiga dari rangkaian kegiatan yang dilaksanakan. Acara ziarah dan anjangsana ini dimulai dengan mengunjungi makam pendiri dan dosen FEB UGM (5/9), rumah janda dosen, dan pensiunan karyawan FEB UGM. “Ziarah dan anjangsana ini merupakan acara yang harus terus dilestarikan dalam kegiatan fakultas,” ungkap Dekan FEB UGM, Prof. Marwan Asri, MBA., Ph.D., dalam sambutan sebelum ziarah dan anjangsana dilaksanakan. Ziarah dan anjangsana diikuti oleh seluruh perwakilan sivitas akademika FEB UGM baik dosen, karyawan, dan mahasiswa yang dibagi dalam dua kelompok. Ziarah dilaksanakan di empat area pemakaman almarhum/almarhumah dosen, yaitu: Makam Kotagede; Makam Golo; Makam Kuncen; serta Makan Sawitsari dan Makam Sendowo. Doa bersama untuk para dosen yang telah mendahului pun dipanjatkan di setiap makam yang dikunjungi. Dalam ziarah ini telah dikunjungi sekitar dua puluh makam alamarhum/almarhumah dosen FEB UGM yang salah satunya merupakan makam dekan pertama FEB UGM, yaitu Prof. Dr. Kertonegoro. Sementara untuk anjangsana terbagi dalam anjangsana

S

janda dosen dan anjangsana karyawan purnatugas. Anjangsana 19 janda dosen dilakukan oleh Dharma Wanita FEB UGM sementara anjangsana 32 karyawan purnatugas oleh karyawan FEB UGM. Dalam kegiatan ini, Dharma Wanita dan karyawan FEB UGM memberikan bingkisan berupa uang tunai dan undangan untuk menghadiri rangkaian acara Dies Natalis FEB UGM ke57 seperti tumpengan dan pagelaran kethoprak. Pihak yang dikunjungi dalam kegiatan anjangsana ini mengaku senang dan terharu karena FEB UGM sangat peduli dan menganggap mereka seperti keluarga meskipun sudah tidak lagi berkontribusi secara langsung bagi kampus FEB UGM. Meskipun terdapat kendala dalam pelaksanaan acara ini seperti sulitnya menemui pihak yang ingin dikunjungi, tetapi hal ini tidak menyurutkan semangat Dharma Wanita dan karyawan FEB UGM. Kegiatan anjangsana yang pada mulanya akan dilaksanakan selama tiga hari pun akhirnya diperpanjang menjadi empat hari. Salah seorang panitia kegiatan ziarah dan anjangsana Dies Natalis FEB UGM ke-57, Hestining Kurniastuti mengungkapkan ke depannya kegiatan ziarah dan anjangsana ini diharapkan dapat terus dipertahankan dan mampu melibatkan lebih banyak lagi partisipasi dari sivitas akademika FEB UGM. [poppy]

26

Pagelaran Kethoprak

Pentas Drama Sivitas Akademika

empersembahkan lakon “Minak Jinggo Ora Sido Leno”, para dosen dan karyawan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) turut memeriahkan Dies Natalis ke-57 dalam pagelaran kethoprak (15/9). Acara diawali dengan guyonan dan games unik dari Setyawan Tiada Tara sebagai master of ceremony. Penonton larut dalam gelak tawa gurauannya yang juga merupakan artis stand up comedy tersebut. Ketua Dies Natalis FEB UGM ke-57, Gugup Kismono, Ph.D., juga menyampaikan laporan kegiatan rangkaian acara Dies Natalis di mana pagelaran kethoprak merupakan salah satu akhir dari rangkaian acara. Sebelum pertunjukkan dimulai, prosesi potong tumpeng dilakukan oleh Prof. Marwan Asri, MBA., Ph.D., Dekan FEB UGM kepada Dekan Terpilih, Prof. Wihana Kirana Jaya, M.Sos.Sc., Ph.D. Dalam sambutannya Marwan mengungkapkan bahwa rangkaian acara Dies Natalis kali ini terangkum dalam acara yang baik dan variatif. Selain hiburan, diselenggarakan pula acara kepedulian FEB bagi masyarakat yang sangat berkesan bagi masyarakat dan keluarga FEB UGM sendiri khususnya. “Diharapkan kebersamaan ini akan terus diperbaiki untuk masa-masa yang akan datang, sehingga partisipasi seluruh sivitas akademika semakin meningkat,” ungkapnya. Dalam acara ini, Marwan menyampaikan pula beberapa informasi terkait dosen dan karyawan FEB UGM, antara lain: dosen yang kembali setelah selesai menempuh studi di luar negeri, dosen yang sedang melanjutkan studi ke luar negeri, maupun dosen yang telah pensiun.

M

Pertunjukan kethoprak pun dimulai dengan adegan Damarwulan meminta restu kepada Resi Maudoro untuk menjadi abdi di Kepatihan Majapahit. Lakon Kethoprak “Minak Jinggo Ora Sido Leno” ini diperankan oleh karyawan dan dosen FEB UGM. Beberapa dosen yang turut bermain dalam lakon kethoprak ini adalah Hardo Basuki, Ph.D., Prof. Suwardjono, Ph.D., Ph.D., dan Eko Suwardi, M.Sc., Ph.D. Karyawan yang beradu acting dengan para dosen pun tidak tampak canggung berada di atas pentas. Di bawah arahan pelatih dan sutradara Sukisno, S.Sn., M.Hum., para dosen dan karyawan memainkan peran masing-masing dengan apik bak pemain kethoprak profesional. Penonton yang hadir pun terkesan dengan penampilan yang disuguhkan para dosen dan karyawan. Annisa Arumsiwi, salah satu mahasiswa yang hadir mengaku tertarik dengan acting para dosen, khususnya Prof. Basu Swasta Dharmmesta, Ph.D. “Kalo nggak di sini nggak akan lihat para dosen berdandan dan berakting seperti ini,” ungkap Annisa dengan antusias. Meskipun disampaikan dalam bahasa Jawa, lakon kethoprak yang berdurasi sekitar tiga setengah jam tersebut sukses menghibur penonton yang berasal dari kalangan keluarga dosen, karyawan, dan mahasiswa FEB UGM. Rangkaian acara Dies Natalis akan mencapai puncaknya saat diselenggarakan orasi ilmiah (19/9) dan penutupannya dengan Pameran Lukisan Batik Prof. Basu Swasta Dharmmesta, Ph.D. (26/9-30/9).

27

SPECIAL REPORT

Pagelaran Wayang Kulit

Pengakrab dan Pelestari Budaya

orak-sorai terdengar riuh rendah dari lobi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM). Telihat gamelan dan kain putih terbentang di atas panggung. Wanita-wanita berpakaian Jawa lengkap duduk manis di antara pemain gamelan, termasuk sinden bule Amerika dan Nyah Ni, sinden kondang. Para hadirin pun duduk di bawah tenda yang telah disiapkan. Keriuhan ini ternyata menjadi bagian dari ulang tahun Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada ke57, yaitu Pagelaran Wayang Kulit –tradisi yang sudah diadakan bertahun-tahun. Pagelaran Wayang Kulit kali ini dipimpin oleh Dhalang Ki Purbo Asmoro, S. Sn., M. Hum. dari Institut Seni Indonesia Solo, Jawa Tengah. Lakon yang dibawakan adalah Alengka Dirga Brubuh. Cerita ini mengangkat kisah Dasamuka yang geram karena bala tentaranya banyak yang mati melawan tentara Ramawijaya. Dasamuka berniat menghadapinya sendiri. Sebelum berangkat perang, Dasamuka menemui Shinta. Perang pun tak terelakkan antara Ramawijaya dan Dasamuka. Selain pertunjukan wayang yang tayang di ADiTV pada 10 November tersebut, panitia Dies Natalis juga menyiapkan

S

jamuan makan malam dan doorprize seperti sepeda, televisi, dan alat masak untuk hadirin yang beruntung.. Hari Kurniawan, mahasiswa Akuntansi 2011, menuturkan, ”Bagus, melestarikan budaya di tengah globalisasi.” Namun, Andira, mahasiswa Manajemen 2011 berujar, “Bagus sih, tapi sayang aku ga paham ceritanya.” Tidak hanya mahasiswa yang hadir dalam acara ini, alumni dan mahasiswa asing pun terlihat hadir untuk meramaikan acara. Penampilan spesial karyawan FEB UGM yang berbusana adat Jawa lengkap karena menjadi penikmat sekaligus among tamu terlihat spesial malam itu. Jajaran dekanat dan dosen pun duduk di barisan terdepan dengan khidmat bersama dosen FEB UGM lainnya dari berbagai kelompok usia. “Ya bagus ada pertunjukan wayang, nguri-uri kabudayan. Gamelannya bagus, wayangnya kelas wahid, nayogo-nya juga handal plus dalangnya hebat. Jadi pertunjukkannya top markotop,” ujar Rimawan Pradityo, Ph.D., dosen Jurusan Ilmu Ekonomi FEB UGM. Suasana lobi pun tak kalah menarik. Gelak tawa dan riuh rendah obrolan penikmat wayang terdengar dari sudut fakultas. Makin malam, suasana makin ramai. Penonton makin terhanyut atas lakon yang dimainkan. Tawa dan senyum suka cita menyeruak dalam suasana kekeluargaan menyambut ulang tahun FEB. [aga]

28

Family Fun Day

Bergembira Lewat Tawa Bersama Keluarga

ebagai wujud peningkatan kebersamaan dan silaturahmi keluarga besar FEB UGM, diselenggarakan Family Fun Day pada Minggu (16/9). Acara yang penuh kegembiraan ini diikuti oleh keluarga karyawan dan dosen FEB UGM sejak pukul tujuh pagi hingga dua belas siang. Dimulai dengan jalan sehat oleh ratusan keluarga yang mengenakan kaos putih dan hitam bertuliskan angka 57 keemasan, Family Fun Day resmi diawali. Selesai menyusuri seputaran Bulaksumur, keluarga ceria ini kembali ke FEB UGM dan langsung mengikuti berbagai perlombaan yang telah dipersiapkan. Beberapa di antaranya adalah lomba menyusun puzzle, memindahkan air, dan melintasi jaring laba-laba dengan tangan terikat. Lomba tersebut merupakan lomba berkelompok yang anggotanya adalah campuran dari berbagai keluarga. Tidak hanya itu, tersedia pula perlombaan khusus untuk anak-anak, seperti lomba menggambar dan mewarnai.

S

Sembari mengikuti perlombaan dan menikmati sajian yang ada, keluarga FEB UGM ditemani dengan live music performance. Bahkan sempat ada sivitas akademika yang menyumbangkan suara untuk memeriahkan acara. Suasana bertambah seru setiap kali MC mengundi pemenang doorprize. Lina, salah seorang peserta Family Fun Day yang mendapatkan doorprize merasa sangat senang dan terkejut, terutama karena ia dan keluarga mendapatkan tiga doorprize secara berurutan. “Senang, Alhamdulillah. Tidak menyangka juga. Ya, baru kali itu juga semua anggota keluarga dapat doorprize,” ujarnya sembari tertawa renyah. [prima]

29

SPECIAL REPORT

Malam Musik Kreatif

Kolaborasi Musik Tradisional dan Kontemporer

aktu baru menunjukkan pukul tujuh malam, tetapi Plaza FEB UGM sudah ramai dipadati berbagai kalangan, mulai dari kawula muda hingga bapak dan ibu paruh baya. Ada yang spesial pada Sabtu (15/9) malam lalu. Masih dalam rangkaian perayaan Dies Natalis, FEB UGM menggelar agenda seni bertajuk Malam Musik Kreatif yang menghadirkan musisi kaliber nasional: Dwiki Dharmawan, Eya Grimonia (violis), Alsa (drummer), Rafli Kande (penyanyi), dan Kang Ade (kendang). Lenggak-lenggok dua penari Pendet, yang menarik perhatian sekitar 1.400 pasang mata, membuka acara malam itu. Perhatian penonton kian disita ketika artis-artis FEB, seperti grup Tari Saman dan Angklung ESB, tampil di atas panggung. Ketika satu per satu musisi nasional tampil secara bergantian, riuh tepuk tangan dan suara hadirin membahana di seluruh penjuru FEB. Malam itu, ditampilkan kolaborasi secara bergantian antara band Rekoneko dari Yogyakarta dengan Eya Grimonia, Kang Ade, Alsa, Rafli Kande, serta beberapa musisi FEB.

W

Sebagai puncak acara, Dwiki Dharmawan tampil dengan musisi-musisi yang diundang beserta Anggito Abimanyu selaku penggagas Malam Musik Kreatif. Bergantian, mereka bersamasama membawakan lagu-lagu daerah mewakili Sabang sampai Merauke, yaitu Paris Barantai (Kalimantan), Buka Pintu (Maluku), dan ditutup dengan Rentak Rebana (Jawa). Selama menampilkan beberapa lagu tersebut, masing-masing musisi secara bergantian menunjukkan kepiawaiannya dalam menguasai alat musik. Dimulai dengan para violis, yaitu Eya dan Sheila, dilanjutkan gitaris dan basis Rekoneko, kemudian secara bergantian Kang Ade, Alsa, dan drummer Rekoneko saling “bercengkerama” dengan alat musik masing-masing. Rafli Kande, pemilik suara khas melengking senada qira’ah, menunjukkan juga keahlian menyanyi rap-nya dengan mengajak penonton mengikuti nyanyiannya. Tidak ketinggalan, Dwiki unjuk gigi dengan memainkan keyboard, instrumen perkusi, dan sylophone. Acara yang berlangsung selama dua jam tersebut diakhiri dengan lagu Rintak Rebana yang dibawakan oleh seluruh pengisi acara. [prima]

30

EB Olympiad

Sportivitas Untuk Kebersamaan

elama dua minggu (27/8-15/9) telah diadakan kompetisi atau olimpiade untuk sivitas akademika Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM). Acara ini bernama EB Olympiad atau sering disebut Ebol oleh panitia. EB Olympiad ini merupakan salah satu rangkaian Dies Natalies FEB UGM yang ke-57. Acara ini diselenggarakan untuk mahasiswa S1, S2, S3, dan karyawan. Kapasitas acara ini diperbesar dari tahun lalu yang hanya menyasar mahasiswa S1 saja. Salah satu tujuan acara ini adalah untuk mengakrabkan keluarga FEB UGM secara keseluruhan melalui kompetisi olahraga, terang Hilmi Ahmad, ketua panitia EB Olympiad. Hilmi menjelaskan bahwa telah terjadi perubahan format dari yang dulu bersatu dengan Econolympic dan sekarang menjadi EB Olympiad. Hal ini dimaksudkan agar EB Olympiad atau kompetisi antarsivitas akademika FEB UGM terfokus pada FEB saja, tidak terpecah pada kompetisi olahraga berskala nasional seperti Econolympics. EB Olympiad ini merupakan program kerja dari Badan Eksekutif Mahasiswa FEB UGM di bawah Divisi Hubungan Pengembangan Mahasiswa. Selain itu, program kerja ini menjadi satu dengan Dies Natalies FEB UGM, tambah Hilmi. Banyak cabang olahraga yang diselenggarakan oleh EB Olympiad, yaitu pertandingan futsal putra dan putri, basket putra dan putri, sepakbola, softball, tenis meja, tenis lapangan, voli,

S

dan bulu tangkis. Semua cabang olahraga ini diselenggarakan di berbagai tempat, seperti Depok Sport Centre, Lembah UGM, Lapangan Pancasila, Gedung Olah Raga (GOR) Kridosono, dan GOR Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). EB Olympiad ditutup dengan closing di Selasar FEB UGM (25/9) jam tujuh malam. Acara penutupan ini berisi penyerahan hadiah dan trofi kepada juara tiap cabang olahraga. Meskipun tidak ada kerusuhan yang terjadi antarpeserta, tetapi menurut Hilmi, panitia banyak menemui hambatanhambatan dalam pelaksanaannya. Skala pertandingan yang cukup besar mengakibatkan jadwal pemain dan jadwal yang telah ditentukan susah cocoknya. Selain itu, ada miskomunikasi dengan panitia Dies Natalies juga. “Seru! Bisa ngakrabin orang-orang sejurusan. Sayangnya, kurang partisipasi warga FEB, sekedar jadi penonton atau penyemarak. Mungkin publikasi bisa dikencengin lagi biar EB Olympiad makin semarak,” ujar Wildanun, mahasiswa Ilmu Ekonomi 2011. Maharani Wahyu Pinasti, mahasiswa Akuntansi 2011 memiliki pendapat serupa, ”Hmm… untuk softball-nya sih rame, tapi untuk tenisnya sepi.” Hilmi berharap, tahun depan EB Olympiad lebih sering berkomunikasi dengan Panitia Dies Natalis untuk pengkonsepan acara yang lebih matang. Kepanitiaan juga diharapkan lebih baik dengan open recruitment. [aga]

31

LECTURER’S ARTICLE

Institutional Isomorphism dalam Akuntabilitas Kinerja Sektor Publik di Indonesia
Rusdi Akbar, M.Sc.,Ph.D, Ak., CMA1 Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada
Introduksi Sejak reformasi bergulir yang diawali dengan jatuhnya pemerintahan orde baru yang berkuasa lebih dari tiga dekade kata ‘akuntabilitas’ sangat sering digunakan di sektor publik. Istilah akuntabilitas mengandung makna yang kompleks dan multi dimensi serta memiliki definisi yang beragam jika digandengkan dengan kata lain, seperti dalam akuntabilitas keuangan, akuntabilitas kinerja, akuntabilitas politik, akuntabilitas internal, akuntabilitas eksternal, akuntabilitas vertikal, akuntabilitas horisontal, dan sebagainya. Salah satu definisi dasar akuntabilitas adalah: “those acting on behalf of another person or group, report back to the person or group, or are responsible to them in some way” (Hughes, 2003, hal.237). Dalam dua dekade terakhir, akuntabilitas sektor publik telah menjadi topik yang hangat dibicarakan di berbagai forum dunia. Banyak negara yang telah mengintegrasikan konsep ini ke dalam tatanan regulasi dan perundang-undangan (Hyndman dan Anderson, 1995). Salah satu aspek penting dalam akuntabilitas sektor publik adalah pelaporan kinerja dari pemerintah daerah kepada pemerintah pusat dan pemangku kepentingan lainnya. Di Indonesia, pengukuran kinerja juga telah menjadi bagian penting dari reformasi manajemen sektor publik (Podger dan Perwira, 2004). Di era reformasi ini, institusi pemerintah daerah, misalnya, memiliki tanggung jawab melaporkan kinerjanya kepada pemerintah di atasnya (vertical accountability) dan juga kepada publik (horizontal accountability) melalui dewan perwakilan rakyat daerah (Mardiasmo, 2002). Akuntabilitas organisasi sektor publik umumnya disampaikan melalui media laporan keuangan dan laporan kinerja. Dengan demikian, indikator kinerja memiliki peran yang signifikan dalam pengendalian manajemen untuk menjamin bahwa organisasi dikelola dengan baik guna melayani para pemangku kepentingannya sebaik mungkin. Oleh karena itu, pengukuran kinerja menjadi sangat vital untuk mewujudkan akuntabilitas eksternal dan internal (Tilbury, 2006). Akuntabilitas eksternal terwujud jika organisasi publik memberikan pertanggungjawaban kepada pihak luar (Boyne et al, 2002), sementara akuntabilitas internal dilakukan di dalam mata rantai birokrasi (Mejier, 2003). Banyak definisi yang diberikan untuk pengukuran kinerja sektor publik. Salah satu yang populer adalah: “the systematic assessment of how well services are being delivered to a community –both how efficiently and how effectively” (Hatry, 1980,hal. 312) Hubungan antara input yang diperlukan dengan output yang dihasilkan diukur dengan terminologi efficiency, sementara hasil dan kualitas pelayanan diukur dengan effectiveness. Osborne dan Gaebler (1992) dalam karya monumental mereka reinventing government menyatakan bahwa jika ingin memenangkan dukungan publik, pejabat pemerintah perlu menunjukkan hasil yang dicapai. Mengelola dan mengukur kinerja telah menjadi salah satu kunci penting dalam reformasi sektor publik (Gianakis, 2002). Setelah lebih dari satu dekade berlalu, sudahkah akuntabilitas dan kinerja pemerintah yang diamanahkan oleh reformasi terwujud di negeri ini? Jawabannya sudah pasti akan sangat beragam tergantung pada pihak mana yang memberikan jawabannya. Aparat pemerintah kemungkinan besar akan menjawab serentak ‘tentu sudah’, mengingat sejak awal reformasi institusi pemerintah, pemda memang sudah secara formal membuat dan menyerahkan Laporan Akuntabilitas Kinerja Institusi Pemerintah (LAKIP) sesuai dengan Inpres No.7/1999. Di lain pihak, DPR/DPRD, dunia usaha, dan sebagian besar masyarakat luas nampaknya masih merasakan hal yang berlawanan dengan pengakuan pemerintah. Hal ini bisa kita saksikan dengan mudah di dalam kehidupan sehari-hari di mana ketidakpuasan masih lebih dominan daripada kepuasan publik. Perseteruan antara lembaga legislatif dan eksekutif di berbagai

Rusdi Akbar adalah dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta yang meraih gelar doktoralnya dalam bidang akuntansi (sektor publik) dari Curtin University of Technology Perth, Australia pada tahun 2012.

1

32

level pemerintahan semakin sering terjadi. Dunia usaha juga sering melontarkan keluhan tentang kekurangtanggapan pemerintah terhadap kebutuhan pelaku bisnis sehingga menghambat laju pertumbuhan dunia usaha. Institusi pemerintahan hadir untuk melayani kebutuhan segenap pemangku kepentingannya, terutama masyarakat luas. Untuk dapat melayani dengan baik, institusi pemerintah memerlukan tata kelola yang mampu mewujudkan sebuah pelayanan yang disediakan secara transparan, akuntabel, adil, efektif, dan efisien (Good Government Governance atau GGG). Akuntabilitas merupakan salah satu pilar penting dari GGG. Di berbagai belahan dunia, akuntabilitas dengan pengukuran kinerja sebagai salah satu pilar pendukungnya telah menjadi topik yang hangat dan sangat menarik untuk didiskusikan oleh para praktisi maupun akademisi. Sebagai negara berkembang, Indonesia juga tidak bisa lepas dari permasalahan GGG ini, terlebih sejak digulirkannya reformasi tuntutan masyarakat yang semakin menguat agar institusi pemerintah lebih akuntabel dan berkinerja bagus. Institutional Isomorphism Studi tentang pengukuran kinerja di dalam organisasi pemerintahan muncul sebagai akibat dari kehadiran reformasi di sektor publik. Oleh karena itu, sangat tepat jika kita merujuk pada konsep isomorphism (Pilcher, 2007). Konsep ini menggambarkan sebuah proses homogenisasi organisasi dalam sebuah lingkungan tertentu (DiMaggio dan Powell, 1983). Definisi isomorphism adalah: “is a constraining process that forces one unit in a population to resemble other units that face the same set of environmental conditions” (DiMaggio dan Powell, 1983, hal.149). Ada dua tipe isomorphism, yaitu competitive isomorphism dan institutional isomorphism. Yang pertama berhubungan dengan kompetisi pasar dan yang kedua berhubungan dengan sebuah situasi di mana sebuah organisasi juga harus berkompetisi untuk mendapatkan dukungan politik dan legitimasi kelembagaan. Tulisan ini membahas konsep yang kedua karena organisasi pemerintah tidak berada dalam kompetisi pasar yang bebas dan terbuka sepenuhnya. Ada tiga tipe isomorphism, yaitu: (1) coercive isomorphism, yang muncul sebagai akibat dari pengaruh tekanan kekuatan politik guna memperoleh legitimasi bagi sebuah organisasi, (2) mimetic isomorphism, yang merupakan reaksi organisasi atas ketidakpastian yang hadir di lingkungan tempatnya beroperasi, dan (3) normative isomorphism, yang diasosiasikan dengan proses homogenisasi organisasi melalui proses pendidikan dan asosiasi organisasi profesional. Penggunaan pengukuran kinerja dalam organisasi pemerintah bergantung pada tarik-menarik kekuatan antarkonstituennya. Misalnya, sangat mungkin sekali bahwa pelaksanaan pengukuran kinerja dan penyusunan LAKIP di daerah dilakukan karena adanya rasa ketergantungan kepada pemerintah pusat, terutama berkaitan dengan alokasi dana APBD. Dalam konteks inilah coercive isomorphism kemungkinan besar hadir dalam tata kelola organisasi pemerintahan di Indonesia.

Ada 500-an pemerintah kabupaten dan kota di seluruh Indonesia yang secara organisasional kondisinya cukup heterogen baik dari sisi luas wilayah, populasi, SDM, jumlah aset maupun kemampuan keuangan dan manajerialnya. Dalam hal praktik manajemen pemerintahan seperti pengukuran dan pelaporan kinerja, kemampuan mereka juga tidak sama. Sebagian besar, terutama di luar Jawa, masih berada pada level yang sangat elementer, meskipun sudah ada juga yang telah memiliki kemampuan menengah dan lanjut. Konsekuensinya, dalam meningkatkan kualitas LAKIP, pemerintah daerah tertentu bisa mengambil pelajaran dari koleganya yang telah lebih maju baik secara langsung maupun tidak. Oleh karena itu, mimetic isomorphism diduga kuat juga hadir di Indonesia. Mengingat kemampuan SDM pemerintah, terutama di daerah, yang umumnya masih relatif rendah, pada saat ini sudah muncul kecenderungan yang baik dari pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas SDM mereka melalui berbagai jalur. Berbagai pelatihan teknis nongelar sampai dengan jalur akademik bergelar (diploma, strata satu dan magister) telah digunakan untuk meningkatkan kemampuan SDM-nya. Sudah banyak alumni dari berbagai institusi pendidikan tinggi yang kembali bekerja ke daerahnya masing-masing dengan membawa ilmu dan kemampuan baru untuk meningkatkan kualitas manajemen pemerintahan daerah mereka masing-masing. DiMaggio dan Powell (1983) memberikan arguman bahwa semakin berpendidikan SDM yang dimiliki organisasi, semakin besar kemungkinan organisasi tersebut menjadi mirip satu sama lain dalam hal praktik manajemen. Di sini nampaknya normative isomorphism juga akan atau mungkin sudah mulai hadir di Indonesia. Untuk melihat indikasi kehadiran institusional isomorphism perlu dikaji lebih jauh tentang proses pennyusunan dan penggunaan indikator kinerja di dalam organisasi pemerintah. Hasil survey terhadap pemerintah kabupaten/kota di seluruh Indonesia disajikan dalam Tabel 1 dan 2. Tabel 1 Penyusunan Indikator Kinerja

Dari empat faktor yang diteliti dalam studi ini, ada satu faktor yang berada di ambang batas signifikansi, yaitu pengetahuan teknis. Sementara komitmen manajemen merupakan faktor yang memiliki signifikansi tertinggi dalam penyusunan indikator kinerja. Jika untuk pengembangan indikator kinerja hampir semua faktor memiliki pengaruh, hal serupa tidak terjadi untuk

33

LECTURER’S ARTICLE
penggunaan indikator kinerja. Hanya ada dua faktor yang memiliki signifikansi, yaitu komitmen manajemen dan regulasi. Seperti sebelumnya, sekali lagi, komitmen manajemen adalah faktor yang paling tinggi signifikansinya dalam penggunaan indikator kinerja. Tabel 2 Penggunaan Indikator Kinerja Barreto, I., and C. Baden-Fuller. 2006. To Conform or to Perform? Mimetic Behaviour, Legitimacy-Based Groups and Performance Consequences. Journal of Management Studies 43 (7): 15591581. Boyne, G., et al. 2002. Plans, Performance Informations and Accountability: the Case of Best Value. Public Administration 80 (4): 691-710. DiMaggio, P. J., and W. W. Powell. 1983. The Iron Cage Revisited: Institutional Isomorphism and Collective Rationality in Organizational Fields. American Sociological Review 48: 147-160. Gianakis, G. A. 2002. The Promise of Public Sector Performance Measurement: anodyne or placebo? Public Administration Quarterly 26 (1): 34-64. Hatry, H. P. 1980. Performance Measurement: Principles and Techniques. Public Productivity Review December: 312-339. Hughes, O. E. 2003. Public Management and Administration. 3th ed. New York, N.Y.: Palgrave Macmillan. Hyndman, N. S., and R. Anderson. 1995. The Use of Performance Information in External Reporting: An Empirical Study of UK Executive’s Agencies. Financial Accountability and Management 11 (1): 1-17. Mardiasmo. 2002. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Andi Offset. Meijer, A. J. 2003. Transparent Government: Parliamentary and Legal Accountability in An Information Age. Information Policy 8 (1/2): 67-78. Osborne, D., and T. Gaebler. 1992. Reinventing Government: How the Entrepreneurial Spirit is Transforming the Public Sector. Reading, Massachusetts: Addison-Wesley Publishing Company, Inc. Pilcher, R. A. 2007. Preliminary Empirical Evidence of Institutional Isomorphism in Local Authorities. In Annual Meeting of the International Association for Business and Society. Research Paper. Curtin University of Technology, Australia. Podger, O., and I. Perwira. 2004. Review of Legislation on Planning and Budgeting. In Discussion Paper. Jakarta. Bappenas and ADB. Tilbury, C. 2006. Accountability via Performance Measurement: The Case of Child Protection Services. Australian Journal of Public Administration 65 (3): 48-61.

Hasil studi ini menunjukkan bahwa komitmen manajemen berpengaruh sangat signifikan terhadap praktik pengukuran kinerja. Dalam praktik pelaporan kinerja terlihat bahwa faktor regulasi lebih signifikan daripada faktor pengetahuan teknis. Hal ini mengindikasikan bahwa coercive isomorphism lebih dominan daripada normative isomorphism. Konklusi Dalam proses pengukuran kinerja organisasi sektor publik di Indonesia, baik dalam tahap penyusunan indikator maupun saat penggunaannya, hal yang patut dicermati adalah adanya dominasi faktor komitmen manajemen dan regulasi atas pengetahuan teknis dan kesulitan pengukuran yang mengindikasikan bahwa penyusunan dan pelaporan indikator kinerja lebih disebabkan oleh keberadaan peraturan yang mewajibkan organisasi pemerintah untuk membuatnya, bukan karena hadirnya kesadaran akan arti penting laporan itu bagi kelangsungan hidup organisasi yang bersangkutan. Sekali lagi, komitmen di sini lebih disebabkan oleh kepatuhan pada regulasi, bukan karena kesadaran dan pemahaman yang benar tentang manfaat penyusunan dan penggunaan indikator kinerja bagi organisasi pemerintah. Dengan demikian, maka pernyataan yang dibuat oleh Barreto dan Baden-Fuller (2006) yang mengatakan bahwa indikator kinerja yang dibuat oleh organisasi tidak memiliki pengaruh yang berarti dalam operasi internalnya karena hanya dibuat untuk menaati regulasi yang memang wajib untuk dipatuhi. Dengan kata lain, semua itu dilakukan untuk memenuhi kewajiban formal -atau bahkan seremonial- belaka guna meraih legitimasi kelembagaan yang semu, bukan untuk tujuan yang lebih substansial untuk peningkatan kinerja pelayanan publik yang sangat diharapkan oleh masyarakat. Ringkasnya, it’s to simply conform not to perform (Akbar et al., 2012).

Referensi Akbar, R., R. Pilcher, and B. Perrin. 2012. Performance Measurement in Indonesia: The Case of Local Government. Pacific Accounting Review 24 (3) EarlyCite pre-publication article (date online 16/10/12). http://www.emeraldinsight.com/journals

34

ADVERTORIAL

Ardine Agristi Calon Pemegang Dua Gelar Sarjana yang Bermimpi jadi Pengusaha
uda bukanlah suatu kata keramat yang membatasinya untuk mulai berusaha sendiri. Mimpi sebagai wirausahawan membuat mahasiswi religius ini selalu menanamkan sikap mandiri. Oktober siang itu, dengan balutan kerudung merah muda dan baju motif bunga-bunga warna senada, Ardine duduk santai di sofa. Sesekali dia menyandarkan tubuhnya di punggung sofa, dengan masih memasang senyum selalu. Sangat kontras dengan permasalahan izin KKN yang sedang dihadapinya saat ini, sekembalinya dia dari program double degree di Belanda. “Karena semua KKN diurus oleh PPM UGM, jadinya OIA (Office of International Affairs FEB UGM –red) pun tidak punya kuasa untuk menentukan,” keluhnya. Meskipun akhirnya terhambat dalam menjalankan kegiatan KKN, dia merasa sangat bersyukur bisa mengikuti kegiatan double degree tersebut. Mahasiswi Jurusan Manajemen International Undergraduate Program (IUP) FEB UGM angkatan 2009 ini memang agak “nekat” mengambil Financial Economics sebagai jurusan di program double degree-nya. Dengan thesis tentang price multiples, mahasiswi yang aktif juga di Advokasi BEM FEB UGM ini berhasil mendapatkan titel Bachelor of Science dari Erasmus School of Economics, Rotterdam. “Cerita dari yang dulu sih (kakak angkatan yang sebelumnya double degree di Rotterdam –red), kuliahnya memang berat. But I never ever thought it would be that hard!” ujarnya sambil tersenyum simpul. Erasmus mengajari Ardine segalanya: dedikasi, hard work, determination, dan commitment. Di sana jugalah dia mendapatkan ilmu yang benar-benar baru, salah satunya adalah Economics of Aging. Berasal dari Indonesia –negara dengan piramida penduduk bentuk limas (expansive)– menjadikan Ardine mengerti masalah uang pensiun ataupun asuransi yang dihadapi negara dengan

M

piramida penduduk bentuk granat (stationary). Mahasiswi yang berminat meneruskan master degree pada Shariah Economics ini beruntung bisa masuk di Program IUP FEB UGM. Anggota Indonesian Muslim Association, Rotterdam dan Indonesian Students Association, Rotterdam ini mulai berminat di bidang enterpreneur saat dia mengamati orang tuanya membuka usaha franchise restoran di Melbourne, delapan tahun silam. Meskipun berstatus anak pemilik restoran, dia diperlakukan sama dengan pegawai lainnya saat menjadi tenaga part timer di sana selama 12 jam sehari. Walaupun hanya menyapu, membersihkan meja, dan mengangkat piring dan gelas kotor, Ardine belajar banyak dari keterlibatannya di restoran. “Dari situ, diajari tentang supply chain, operations begini, keuangannya seperti ini, gitu,” jelasnya. Kelak, dia bermimpi bisa membuka restoran Korea di Yogyakarta. Setelah sukses dengan menjadi konsultan kosmetik Oriflame Beauty dan finance specialist bisnis T-shirt The Untouchables, Ardine yakin akan sukses jika nantinya berhasil membuka resturan Korea ini. Selain karena passionnya yang besar pada masakan Korea, beberapa teman pun juga mendukung gagasannya tersebut. Dari double degree yang sudah selesai dilakukannya, dia berharap nantinya fakultas dan universitas bisa menjalin kerja sama dan komunikasi yang lebih meringankan beban mahasiswa, seperti perizinan KKN. Bagi mahasiswa double degree pun, dia berpesan untuk selalu siap, apalagi jika mereka melakukan lintas jurusan seperti yang dilakukannya. Walaupun begitu, mendapatkan dua gelar dari dua universitas merupakan hal yang membanggakannya. Saat ditanya kapan rencana wisuda, Ardine menjawab dnegan mata berbinar “Insya Allah, Februari tahun depan.” [dwi andi]

35

ALUMNI CORNER

Aristeus Ligamen Perjalanan Menuju PT Perusahaan Gas Negara*
embilan belas tahun lalu, Aristeus Ligamen Saleppang merantau dari Makassar dengan seorang temannya menuju Yogyakarta untuk mengenyam pendidikan di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM, dahulu Fakultas Ekonomi–red). Sekarang ini, ia menjabat sebagai Assistant Vice President HR Development di PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (PGN). Bukanlah proses sederhana dan sesaat untuk meraih capaiannya saat ini. Dari Tana Toraja Menuju Yogyakarta Lolos dari Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) tahun 1994, Aristeus mantap menempuh pendidikan di FEB UGM.Yogyakarta dan FEB UGM, jurusan Manajemen tepatnya, memang telah menjadi targetnya untuk meneruskanpendidikanselepasdariSeminariMenengah St. PetrusClaver, Makassar. Menurutnya Yogyakarta sebagaikota Pendidikan memiliki iklim persaingan yang bagus untuk mahasiswa. Semasa kuliah, Aristeus mengaku tidak begitu dikenal di kalangan teman-temannya dibandingkan dengan mahasiswa yang aktif di organisasi kemahasiswaan fakultas. Ia banyak menghabiskan waktu di luar kelas untuk mengasah softskills-nya dengan bergabung sebagai anggota Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UGM. Selain itu, Aristeus juga aktif mengurusi Ikatan Pelajar Mahasiswa Toraja di Yogyakarta (Ikapmajaya). Begitu mengingat masa-masa perkuliahan, ia bercerita bahwa FEB saat itu telah menjadi fakultas yang modern (dibandingkan dengan fakultas lain di UGM) dengan dengan laboratorium komputer dan fasilitas internet. Satu lagi yang masih tersimpan dalam ingatannya yaitu kantin depan kampus atau biasa disebut Bonbin. Walaupun becek ketika musim hujan, Bonbin memberikan suasana lain bagi mahasiswa. Ayah tiga putra ini merasa bersyukur dapat mengenyam perkuliahan di FEB. “Konsep teori yang bagus, (dan) dosen-dosen yang kompeten sehingga dapat menciptakan rasa percaya diri pada mahasiswa,” ujarnya. Perkuliahan selama lima tahun ia lalui dengan lancar. Akhirnya, ia dapat bernafas lega setelah lulus dari tiga dosen penguji skripsinya, Prof. Basu Swastha Dharmestha, Prof. Eduardus Tandelilin dan Dr. Wakhid Slamet Ciptono. Mengambil konsentrasi pemasaran, ia meneliti perilaku konsumen pengunjung bioskop
*Hasil wawancara tim EB News di Enak Banget! coffeshop di lantai 8 Pertamina Tower FEB UGM sesaat sebelum Aristeus memberikan kuliah tamu Manajemen Sumber Daya Manusia dengan dosen pengajar Diah Retno Wulandaru, MBA.

S

Empire 21, salah satu bioskop terbesar di Yogyakarta saat itu. Melaju ke Ibu Kota, Tepatnya PGN Sembari menunggu hari wisuda, dengan berbekal Surat Keterangan Lulus dan Transkrip Akademik, Aristeus melamar ke PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. yang menginformasikan lowongannya melalui koran nasional. Lamaran pekerjaannya ia susun secara unik. Pria kelahiran 39 tahun lalu ini tertawa saat mengenangnya. “Amplop surat saya buat dari koran bekas yang berisi iklan suatu bank terkemuka. Dengan membuatnya unik dan eyecatching pasti akan menjadi perhatian HRD dan dipanggil untuk wawancara.” Tak disangka, dua minggu setelah wisuda ia bertolak ke Jakarta untuk memulai rangkaian panjang proses seleksi PGN. Akhirnya ia diterima dan ditempatkan pada Pusat Pendidikan dan Pelatihan PGN. Komitmennya terhadap perusahaan layak diacungi jempol. Manajemen Sumber Daya Manusia bukan merupakan bidang yang tidak ia tekuni di bangku kuliah. Walaupun begitu, ketekunan, kemauan bekerja dan komitmennya yang tinggi, berhasil mengantarkannya menapaki karir dengan sukses. Empat tahun berkarir di perusahaan itu, pria yang hobi memasak dan menyanyi ini menerima beasiswa S2 bidang Human Resources Management di Daniels College of Business, University of Denver, United States. Dua tahun diselesaikannya dengan mudah. Sekembalinya ke PGN, karir di Human Resources Division pun dimulai. Suami dari Yosefina Rumengan ini berbagi kunci sukses dalam berkarir, “intinya mau bekerja! kepandaian memang penting tetapi mesti didukung dengan mental positif dalam menyikapi pekerjaan.” Harapan Bagi Almamater Di sela-sela menghirup secangkir cokelat hangat, ia mengutarakan harapan kepada alamamaternya untuk membuka wawasan mahasiswa akan dunia kerja, misalnya dengan kunjungan perusahaan atau kuliah tamu yang menghadirkan praktisi-praktisi yang ahli di bidangnya. Mahasiswa diberikan pandangan untuk sadar akan tantangan pekerjaan dan tidak hanya bekerja di area-area nyaman saja. Selain itu, penting bagi mahasiswa untuk memperkaya softskills, kemampuan komunikasi (termasuk bahasa asing –red), serta melatih kemandirian. [hk]

36

NEWS FROM ABROAD

Sekar Utami Setiastuti Menjadi Mahasiswa di North Carolina: “The Dream I, Even, Have Never Dared to Dream About”
ungguh merupakan sebuah kehormatan dan kebahagiaan yang luar biasa bagi saya untuk bisa mewartakan secuplik berita dan membagi sedikit cerita kepada segenap sivitas akademika FEB UGM mengenai kehidupan “baru” saya sebagai mahasiswa program doktoral di negara bagian North Carolina, Amerika Serikat. Semoga artikel ini bisa menjadi “obat rindu” bagi kolega dan seluruh sivitas akademika FEB UGM. Kabar Gembira dari Jakarta Enam bulan setelah saya diangkat menjadi tenaga pengajar di Jurusan Ilmu Ekonomi FEB UGM, tepatnya pada medio akhir bulan Desember 2011, datang sebuah kabar yang sangat mengejutkan bahwa saya terpilih menjadi penerima beasiswa program S3 dari Support for Economic Analysis Development in Indonesia (SEADI). Program yang merupakan sebuah proyek dari USAID (United States Agency for International Development) ini menawarkan kerja sama penelitian dan beasiswa penuh bagi akademisi, birokrat, dan ekonom yang bekerja di LSM di seluruh
1

S

Indonesia —untuk mendapatkan gelar pascasarjana S2 atau S3 di universitas di Amerika Serikat. Bagi saya, kesempatan tersebut merupakan sebuah kesempatan yang tidak pernah terbayangkan. At that point of time, saya tidak pernah menyangka bahwa gerbang menuju cita-cita saya terbuka dengan begitu cepat. It was, simply, surreal. Belajar Ilmu Ekonomi di North Carolina State University

“We’re the Red and White from State, And we know we are the best. A hand behind our back, We can take on all the rest…” (The Red and White Song by J. Perry Watson)
1

Biasanya dinyanyikan oleh suporter NC State pada athletic atau sport events antaruniversitas.
2

Merupakan sistem pendidikan tinggi negeri di North Carolina dan terdiri dari 16 institusi diantaranya: NC State University, UNC Chapel-Hill, UNC Charlotte, UNC Greensboro, NC A&T University, NC Central University, dan East Carolina University.

Setelah mendapatkan tawaran dari beberapa universitas, saya memutuskan untuk bergabung dengan NC State University. Universitas ini merupakan bagian dari The University of North 2 Carolina . Dengan jumlah mahasiswa lebih dari 34.000, NC State merupakan universitas terbesar di negara bagian North Carolina. Berumur lebih dari 125 tahun, universitas ini juga merupakan universitas publik yang cukup terkemuka di Amerika Serikat

37

NEWS FROM ABROAD
dengan program yang terkenal antara lain: College of Textile, College of Engineering, dan Department of Statistics —yang tersohor karena salah satu alumni departemen tersebut merupakan pembuat software statistika yang sangat populer, yaitu SAS (Statistical Analysis System). Di universitas ini, saya memilih untuk bergabung dengan Department of Economics, di bawah Poole College of Management. Keputusan saya untuk mengambil program doktoral Ilmu Ekonomi di NC State didasarkan oleh reputasi program yang cukup baik, terutama untuk spesialisasi Ekonometrika, Ekonomika Lingkungan, dan Ekonomika Sumber Daya Alam. Adapun faktor lain yang mendorong saya untuk menerima tawaran dari NC State University adalah konsorsium antara Departemen Ilmu Ekonomi di NC State University, University of North Carolina-Chapel Hill, dan Duke University. Dengan konsorsium ini, mahasiswa doktoral di setiap program diperbolehkan mengambil mata kuliah di kedua universitas yang lain. Tidak hanya itu, ketiga departemen juga memiliki research triangle initiative untuk bidang minat Ekonometrika yang memungkinkan mahasiswa untuk memanfaatkan resources dan expertise di program lain —yang tidak dimiliki oleh program di mana ia tergabung. Dilihat dari struktur program, program doktoral Ilmu Ekonomi di NC State tidak berbeda dengan program doktoral Ilmu Ekonomi yang lain di Amerika Serikat. Seperti yang sudah dijelaskan oleh Bapak Eddy (Eddy Junarsin, Ph.D. –red) di beberapa edisi EB News yang lalu, mahasiswa program doktoral harus menjalani courseworks di dua tahun pertama program doktoral. Beberapa courseworks “standar” yang harus diambil oleh mahasiswa doktoral Ilmu Ekonomi adalah Teori Mikroekonomi, Teori Makroekonomi, dan Ekonometrika. Selain itu, mahasiswa juga sangat disarankan untuk mengambil beberapa mata kuliah dari Department of Mathematics dan Department of Statistics—seperti Advanced Calculus, Real Analysis, Topology, dan Bayesian Inference. Tidak hanya diwajibkan menjalani courseworks, setiap mahasiswa doktoral juga harus melewati ujian komprehensif tertulis, yaitu core courses (Teori Mikroekonomi dan Teori Makroekonomi) di akhir tahun pertama, dan field courses (atau mata kuliah bidang minat) di tahun kedua. Setelah melewati beberapa ujian tersebut, barulah mahasiswa doktoral bisa menyandang “gelar” Ph.D. Candidate dan diperkenankan untuk melanjutkan studi ke tahap riset.

The Journey So Far Baru dua bulan memulai program doctoral –tingginya standar dan ekspektasi staf pengajar dan tekanan akademis luar biasa yang menyeruak tatkala melihat statistik ujian komprehensif– bisa dibilang sangat depressing. Tahun lalu, hanya 30 persen mahasiswa doktoral Ilmu Ekonomi lulus ujian komprehensif dalam percobaan pertama. Sebagai catatan, jika mahasiswa tersebut kembali gagal pada percobaan kedua, maka ia tidak diperkenankan melanjutkan studi S3 dan hanya diluluskan dengan gelar Master of Arts pada tahun kedua.

Oleh sebab itu, di akhir kata —selain meminta maaf jika ada perkataan dan ucapan yang kurang berkenan di dalam artikel ini— saya juga sangat memohon doa dan dukungan dari seluruh sivitas akademika FEB UGM agar dapat melalui seluruh tahapan studi dengan baik dan dapat kembali membagi cerita dan berita melalui EB News di lain kesempatan.

38

STUDENT CORNER

Rahmat Dwi Santoso Menulis Cita di Langit Adelaide

emilir angin di musim dingin berhembus menyambut kedatangan saya di Adelaide, ibukota negara bagian South Australia. Sebuah kebahagiaan besar bagi saya mendapat kesempatan tinggal dan belajar di kota yang dinobatkan sebagai The World Most Liveable City ke-8 oleh The Economist pada tahun 2011. Adelaide merupakan kota yang mengagumkan dengan berbagai bangunan kuno abad-19 berdiri megah menghiasi kota. Tidak jauh dari kota, terhampar perkebunan anggur yang cukup luas di Barossa Valley dan pusat perlindungan satwa di Kangaroo Island. Pertama kali diduduki Kolonial Inggris pada tahun 1836, kota ini didesain secara hati-hati oleh Kolonel William Light. Desain tersebut mengikuti pola segi empat, dikelilingi oleh taman kota luas, dan alun-alun berada dipusatnya. Berbagai fasilitas publik disediakan oleh pemerintah daerah dan kota untuk menunjang aktivitas warga, seperti perpustakaan, museum, taman bermain, dan kebun binatang yang dapat diakses secara gratis. Warga semakin dimanjakan dengan akses transportasi publik yang beragam dan memadai. Belajar di University of Adelaide merupakan alasan utama saya menginjakkan kaki di benua kangguru. Sebagai penerima Beasiswa Endeavour, saya mendapat kesempatan mencicipi pengalaman belajar selama satu semester di universitas

S

ini. University of Adelaide merupakan universitas ketiga tertua di Australia dan merupakan anggota dari Group of Eight, yakni asosiasi delapan universitas terkemuka di Australia. Walaupun demikian, bukan berarti universitas di luar asosiasi tersebut tidak cukup baik. Pada umumnya, pemerintah mengawasi ketat kualitas setiap lembaga pendidikan di Australia. Lembaga pendidikan ini menjadi sektor utama penyokong devisa negara dengan total pelajar internasional tahun 2010 mencapai 450 ribu orang. Kegiatan perkuliahan terdiri dari lecture dan tutorial. Melalui lecture, mahasiswa mendapatkan kuliah umum dari dosen dalam kelas besar, sedangkan tutorial merupakan kelas yang dipandu tutor dalam kelompok kecil untuk memfasilitasi diskusi dan memperdalam pemahaman mahasiswa. Diluar itu, terdapat pula bentuk perkuliahan lain seperti praktikum, workshop maupun seminar. Sebagai mahasiswa, saya sangat terbantu dengan adanya unit khusus bernama Writing Centre. Unit ini memberikan pelatihan intensif tentang teknik penulisan akademik termasuk cara pengutipan untuk menghindari plagiarisme. Terdapat pula drop in service apabila mahasiswa ingin berkonsultasi secara personal kepada pengajar. Mahasiswa di universitas sangat dimanjakan dengan

39

SCHOLARSHIP AND RECRUITMENT
adanya Student Hub Central. Sebuah ruangan tiga lantai yang dikonsep senyaman mungkin sebagai ruang belajar dan diskusi. Ruangan ini terbuka selama 7 hari 24 jam alias non-stop. Terdiri dari puluhan kursi dan sofa empuk warna-warni dilengkapi ratusan komputer dan beberapa mesin cetak. Mahasiswa semakin dibuat betah dengan fasilitas lainnya seperti kafe, bilik khusus untuk belajar kelompok, ruang videocall Skype, Student kitchen, serta game interaktif Kinect. Tidak jarang, banyak mahasiswa yang menginap di kampus karena nyamannya ruangan ini. Sebagai seorang muslim Asia, saya merasakan bagaimana menjadi kelompok minoritas di suatu Negara. Sebuah kebahagiaan yang luar biasa dapat diterima dan dihargai di komunitas tersebut. Kegiatan ibadah tidak terganggu dengan adanya Muslim Prayer Room (Mushola) yang sangat layak di dalam kampus. University of Adelaide sangat menghargai kesetaraan derajat antar manusia. Hal ini ditunjukkan dengan larangan keras terhadap segala macam praktik diskriminasi di kampus. Selain itu, universitas juga sangat ramah bagi akses penyandang disabilitas. Pertama kali menginjakkan kaki di Australia, saya sempat dikejutkan oleh harga-harga barang yang relatif mahal. Salah satu penyebabnya adalah tingginya upah pekerja. Pemerintah sangat melindungi hak pekerja untuk mendapat upah yang layak. Untuk pekerjaan kasual yang tidak membutuhkan keahlian khusus misalnya, upah minimum dipatok AU$15 per jam. Tarif semakin tinggi ketika pekerjaan tersebut membutuhkan keahlian khusus. Mahasiswa dengan visa pelajar berhak untuk bekerja selama 20 jam per dua minggu. Seseorang akan menghargai mahalnya biaya hidup di Australia setelah merasakan bekerja di sini. Banyak hal saya pelajari dalam perjalanan menimba ilmu di Adelaide. Hidup di perantauan dengan anggaran terbatas melatih saya menjadi pribadi mandiri dan bijak dalam mengatur pengeluaran. Hampir semua pekerjaan rumah, mulai dari mencuci, setrika, hingga memasak saya kerjakan sendiri. Hal ini melatih untuk lebih berdisiplin dalam mengatur waktu antara belajar, bekerja, melakukan pekerjaan rumah, serta bersosialisasi. Sebuah pengalaman yang sangat berharga menjalin persahabatan dengan mahasiswa internasional dari berbagai belahan dunia. Mereka mampu menunjukkan perspektif lain tentang cara melihat dunia secara lebih kaya dan luas. Dengan bekal ini, diharapkan seseorang mampu bersikap lebih bijak dalam mengambil suatu keputusan di masa yang akan datang. *Rahmat Dwi Santoso (Mahasiswa FEB UGM jurusan Akuntansi 2009) Exchange Student - University of Adelaide, South Australia 2012 The Harvard Kennedy School Indonesia Program mengundang para peneliti,akademisi,dan praktisi dari FEB UGM, untuk bergabung pada program beasiswa untuk penelitian independen. Info lengkap silakan kunjungi http://ash.harvard. edu/ash/Home/Students-Education/Fellowship/IndonesiaResearch-Fellows Batas akhir aplikasi 15 Februari 2013.

Kesempatan Berkarir di PT Chevron Indonesia
PT Chevron Indonesia sebagai perusahaan produsen minyak mentah di Indonesia, mengundang alumni FEB UGM untuk bergabung. Informasi lengkap silakan kunjungi http://www.chevron.formycareer. com/vacancy/256 sebelum 31 Desember 2012.

Lowongan Pekerjaan PT Yamaha Motor Indonesia
PT Yamaha Motor Indonesia adalah salah satu perusahaan otomotif terbesar di Indonesia, berlokasi di Pulo Gadung, Jakarta timur, membuka kesempatan bagi alumni FEB UGM untuk bergabung dalam tim kami. Informasi lengkap silakan kunjungi http://www.yamaha-motor.co.id/career/ melalui aplikasi online sebelum 31 December 2012.

The Harvard Kennedy School Indonesia Research Fellows 2013/2014

40

FACILITIES

PARTNERSHIP

Kerja Sama Basis Data CEIC dan Bloomberg di Akademik dengan Cologne FEB UGM University of Applied Science

alam rangka mendukung Kampus Biru mewujudkan misi sebagai Universitas Berbasis Riset Bertaraf Internasional, saat ini Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) telah dilengkapi dengan basis data berlangganan yang dapat dimanfaatkan oleh segenap sivitas akademika FEB UGM untuk keperluan penelitian, tugas harian, maupun tugas akhir. Basis data yang disediakan oleh FEB UGM bekerja sama dengan dua mitra, yakni CEIC Database dan Bloomberg Database. Basis Data CEIC menyediakan layanan basis data makroekonomi, industri, dan basis data keuanan real-time. Basis Data CEIC disediakan di ruang Mandiri Macroeconomic Dashboard yang merupakan hibah pendidikan dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Menambah lengkapnya fasilitas, Basis Data Bloomberg menyediakan basis data bisnis, keuangan dan berita ekonomi serta harga saham real-time. Basis Data Bloomberg merupakan hibah dari PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk. yang terintegrasi dengan ruangan BNI Financial Market Update. Basis Data CEIC dapat diakses di Ruang Macroeconomic Dashboard, sedangkan Basis Data Bloomberg dapat diakses di Ruang BNI Financial Market Update Gedung Pertamina Tower FEB UGM lantai empat pada hari kerja, pukul 09.00-15.00 WIB dengan menunjukkan kartu tanda pengenal UGM (misalnya, Kartu Tanda Mahasiswa) kepada petugas ruangan.

D

ebagai bentuk komitmennya untuk menjadi Fakultas Ekonomika dan Bisnis terkemuka di Asia tenggara, pada bulan Juni 2012 kembali FEB UGM memperluas jejaring internasionalnya dengan menginisiasi kerja sama baru dengan Fakultas Ekonomi dan Administrasi Bisnis pada salah satu universitas berbasis terapan terbesar di Jerman, yaitu Cologne University of Applied Science (CUAS). Penandatanganan dilakukan terpisah, oleh Presiden CUAS Prof. Dr. Joachim Metzner, Dekan Fakultas Ekonomi dan Administrasi Bisnis CUAS, Prof. Dr. Frank Gogoll, dan Dekan FEB UGM (pada waktu itu –red) Prof. Dr. Marwan Asri, MBA. Faculty of Economics and Business Administration, Cologne University of Applied Sciences menawarkan konsentrasi Bisnis Internasional (program Master maupun Undergraduate) dan konsentrasi Insurance Business program Undergraduate. Hubungan baik antara Cologne University of Applied Sciences dengan berbagai perusahaan dan industri di Jerman maupun di luar Jerman, memudahkan mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman penerapan langsung dari ilmu-ilmu yang didapatkan di kelas.

S

41

42

UNIT NEWS

Peresmian Macroeconomic Dashboard dan Syariah Corner

asilitas Pendidikan Macroeconomic Dashboard dan Syariah Corner di Gedung Pertamina Tower Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) telah diresmikan dan dibuka untuk sivitas akademika FEB UGM (14/9) oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumi dan Kerjasama FEB UGM Prof. Wihana Kirana Jaya, M.Soc.Sc., Ph.D., Direktur Institutional Banking PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., Abdul Rachman, B.Sc., MBA. dan Direktur Utama PT Bank Syariah Mandiri Dr. (Cand) Yuslam Fauzi, MBA. Peresmian kedua fasilitas pendidikan tersebut turut disaksikan oleh Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. Pratikno, M.Soc.Sc., Ph.D. dan inisiator kerjasama pengadaan fasilitas tersebut, Dr. Anggito Abimanyu, M.Sc. yang saat ini menjabat sebagai Dirjen Penyelenggara Haji Kementerian Agama. Fasilitas Pendidikan Macroeconomic Dashboard yang merupakan kerja sama FEB UGM dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. adalah fasilitas pendidikan yang dilengkapi basis data makroekonomi untuk studi kebijakan serta prediksi kondisi ekonomi makro Indonesia dan internasional. Sedangkan Fasilitas Pendidikan Syariah Corner yang merupakan kolaborasi FEB UGM dengan PT Bank Syariah Mandiri dimaksudkan sebagai fasilitas pendukung pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia melalui penelitian, pelatihan, dan konsultasi ekonomi serta keuangan syariah. Fasilitas Pendidikan Macroeconomic Dashboard

F

dilengkapi basis data CEIC yang merupakan penyedia basis data makroekonomi, industri, dan basis data keuangan real-time. Basis data tersebut dapat dipergunakan oleh seluruh sivitas akademika FEB UGM untuk penelitian, tugas harian, maupun tugas akhir. Kerja sama pengelolaan Fasilitas Pendidikan Macroeconomic Dashboard turut disertai dengan penerbitan Macroeconomic Outlook yang dibidani oleh Dr. Sri Adiningsih, M.Sc. beserta para peneliti dari Jurusan Ilmu Ekonomi FEB UGM sebagai perancang dan penyusunnya. Macroeconomic Outlook yang terbit setiap trimester berisi review serta prediksi perkembangan perekonomian nasional maupun internasional yang mencakup perkembangan makroekonomi, fiskal moneter, dan current issues. Fasilitas Pendidikan Syariah Corner yang dikomando oleh Taufikur Rahman, MBA. diharapkan dapat membantu penguatan pemahaman ilmu yang didapat mahasiswa di kelas dengan: menganalisis fenomena ekonomi dunia nyata terutama perkembangan ekonomi syariah; mendapatkan gambaran mengenai hubungan antarindikator dalam perekonomian; memperoleh basis data untuk studi kebijakan dan forecast kondisi sektor keuangan terutama yang menggunakan praktik syariah; dan mengenalkan produk, kajian, dan publikasi Bank Indonesia serta bank-bank umum syariah kepada sivitas akademika FEB UGM. Dalam kesempatan tersebut, turut pula dilaksanakan peresmian Anjungan Tunai Mandiri (ATM) Bank Syariah Mandiri yang berlokasi di Galeri ATM FEB UGM.

43

UNIT NEWS

44

45

UNIT NEWS

46

JIEB Best Paper Award Seminar 2012

• Nurul Indarti, Ph.D • Prof. Dr. Augusty T. Ferdinand • Prof. Djoko Susanto, Ph.D. • Dr. Sekar Mayang Sari • Prof. Dr. Sukmawati Sukamulja Setelah melalui proses review yang ketat dan rigorous, terpilihlah lima orang pemenang yang berhak untuk mempresentasikan tulisan mereka di event Best Paper Award Seminar 2012. Selain itu, sebanyak 12 artikel mendapat status layak muat dan sebanyak 15 artikel sisanya tidak layak muat di JIEB. Berikut adalah daftar para pembicara atau presenter pada event BPA Seminar 2012: Author: M. Syafi’i Antonio dan Yulizar D. Sanrego Paper: The Effect of Social Capital on Loan Repayment Behavior of the Poor: A Study on Group Lending Model (GLM) Application in Islamic Microfinance Institution Author: Bayu Kharisma dan Samsubar Saleh Paper: Convergence of Income Among Provinces in Indonesia 1984-2008: A Panel Data Approach Author: Suranto dan Rahmawati Paper: Developing the Entrepreneurship Incubator Model to Increase Students Independence of Entrepreneurship Mentality Author: Joko Mariyono Paper: Environmentaly-Adjusted Productivity Growth of Indonesian Rice Production Author: Lilis Nurul Huda dan Sarpono Paper: Spatial Small Area Estimation for Determination of Underdeveloped Villages in the Province of Yogyakarta in 2011 Semua presenter pada Best Paper Award Seminar 2012 mendapat grant uang tunai sebesar Rp3.000.000 untuk Juara I, Rp2.000.000 untuk Juara II, Rp1.500.000 untuk Juara III, dan masing-masing Rp750.000 untuk 2 Juara Harapan. Selain itu semua Paper mendapat prioritas untuk dimuat pada JIEB Volume 28 nomor 1, edisi tahun 2013. Diskusi dari setiap presentasi dimoderatori oleh Arief Surya Irawan, M.Com., Assistant Editor JIEB FEB UGM. Seminar yang dimulai pukul 07.30 WIB ini dihadiri seratusan peserta dari berbagai latar belakang mulai dari mahasiswa/i, praktisi, dan akademisi yang turut meramaikan diskusi. Untuk detail acara, materi presentasi, dan pemenang dapat dilihat di website kami di http://www.jieb-febugm.com atau di facebook page kami di http://www.facebook.com/jieb. febugm.

ournal of Indonesian Economy and Business atau JIEB mengadakan Best Paper Award Seminar 2012 (24/11) di Cakra Kusuma Hotel, Yogyakarta. Acara ini merupakan kelanjutan dari JIEB Call for Paper 2012 yang diumumkan sejak Juni lalu. Sejak tahun 2007, jurnal kebanggaan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada ini rutin mengadakan Call for Paper yang kemudian dilanjutkan dengan Best Paper Award. JIEB Call for Paper selalu mengangkat tema-tema terpanas agar menarik dan relevan bagi penulis untuk berpartisipasi. Temanya selalu mencakup ketiga bidang ilmu, yakni Manajemen, Ilmu Ekonomi, dan Akuntansi sehingga bisa mendapat input yang beragam sekaligus spesifik. Untuk tahun 2012 ini, tema JIEB Call for Paper adalah “Accelerating Social Economy, Entrepreneurship and Accounting Amidst Global Crisis.”

J

Submission entry untuk karya ilmiah dimulai dari 15 Juni sampai dengan 19 Oktober 2012. Sebanyak 33 artikel yang meliputi bidang ilmu Akuntansi, Manajemen dan Ilmu Ekonomi terkumpul di meja sekretariat JIEB di lantai tiga Sayap Barat FEB UGM. Artikel-artikel yang masuk berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, bahkan ada artikel yang berasal dari Norwegia, Afrika, dan Malaysia. Selanjutnya, artikel-artikel yang masuk tersebut di-review oleh para juri yang tediri dari:
• Prof. Mudrajad Kuncoro, Ph.D. • Fahmy Radhi, Ph.D. • Prof. Lincolin Arsyad, Ph.D. • Bagus Santoso, Ph. D. • Prof. Eduardus Tandelilin, Ph.D. • Prof. Indra Wijaya Kusuma, Ph.D • Prof. Catur Sugiyanto, Ph.D. • Hardo Basuki, Ph.D. • Ertambang Nahartyo, Ph.D. • Mamduh M. Hanafi, Ph.D. • M. Edhie Purnawan, Ph. D • Prof. Suwardjono, Ph. D. • Tri Widodo, Ph.D. • Wakhid Slamet Ciptono, Ph.D.

47

WHO’S WHO

Mulyadi Pionir Penerapan Akuntansi Manajemen di Indonesia

Mulyadi lebih tertarik ke pengembangan akuntansi manajemen daripada akuntansi keuangan karena menurut pandangannya, akuntansi manajemen lebih erat berhubungan dengan aspek human behavior: informasi akuntansi dipengaruhi oleh paradigma manajemen dan sebaliknya informasi akuntansi mempengaruhi perilaku manajemen.
i ruang istirahat dosen Magister Akuntansi, Mulyadi duduk santai dan dengan bersemangat menceritakan fokus perhatiannya pada akuntansi manajemen. Beberapa dosen berlalu-lalang di dalam ruangan untuk bersiap-siap mengajar kelas siang itu. Namun, hal itu tidak menjadi pengganggu signifikan bagi Mulyadi untuk menjelaskan pentingnya akuntansi manajemen. Kompetisi yang tajam sekarang ini memaksa perusahaan untuk menggeser paradigma manajemen ke customer value strategy, continuous improvement, cross-functional team, dan employee empowerment Pergeseran paradigma manajemen inilah yang menuntut pendesainan sistem informasi biaya yang menjadi backbone baru akuntansi manajemen. Sistem informasi biaya tersebut dikenal dengan nama activity-based cost system. Konsultan, anggota Komite Audit di beberapa perusahaan swasta, dan komisaris utama di sebuah BUMN ini lalu menjelaskan bahwa the vocal point of managing di jaman sekarang adalah pada activity karena perusahaan harus melaksanakan continuous improvement lebih cepat dari persaingan. Itulah sebabnya informasi berlimpah tentang aktivitas sangat dibutuhkan untuk memberdayakan personel dalam melakukan pengurangan biaya. Activity-based cost system merupakan sistem informasi biaya yang cocok untuk kebutuhan manajemen dalam menghadapi lingkungan bisnis yang kompetitif ini.

Dosen yang memperoleh gelar Master dengan konsentrasi Management and Administrative Science di University of Texas at Dallas U.S.A 29 tahun silam ini mengakui bahwa dirinya sudah menulis sejak mahasiswa. Dia menulis beberapa buku tentang contemporary management, seperti Sistem Perencanaan dan Pengendalian Manajemen (tahun 2007), Activity-Based Cost System (tahun 2003), dan Balanced Scorecard (tahun 2007). Baginya, menulis buku dapat memperluas ruang lingkup knowledge sharing yang dilakukan selama menjadi dosen, tidak hanya terbatas pada mahasiswa di ruang kelas tetapi meluas ke mahasiswa di seluruh Indonesia bahkan ke para profesional. Saat ini, dosen yang gemar mendengarkan musik jazz dan pop ini sedang menulis buku Strategic Management Accounting dengan. pendekatan yang sangat berbeda dengan buku teks main stream. “Yang namanya Management Accounting itu merupakan bagian tidak terpisahkan dari proses manajemen strategik.” “Jadi saya menulis mengenai proses manajemen strategik secara mendalam lalu saya menguraikan informasi akuntansi manajemen (yang tidak lagi terbatas pada informasi keuangan namun mencakup pula informasi nonkeuangan) yang digunakan dalam setiap tahap proses manajemen strategik tersebut,” terangnya. Mulyadi pernah menjadi anggota Dewan Standar Profesional Akuntan Publik pada tahun 1990-1999 dan ikut serta mengembangkan Standar Profesional Akuntan Publik yang berlaku di Indonesia dengan mengadopsi American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) Professional Standards. Dalam tahun 2010-2012, Mulyadi menjadi konsultan Dewan Standar Profesi Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) dalam mengembangkan standar profesi akuntan publik Indonesia yang diadopsi dari International Federation of Accountants (IFAC). Pengalamannya sebagai konsultan telah memberikan peran penting baginya dalam membidani perubahan-perubahan penting dalam penerapan akuntansi manajemen di Indonesia. Pertama, perubahan akuntansi biaya yang dipakai oleh berbagai perusahaan manufaktur Indonesia dari akuntansi Belanda (dikenal pada waktu itu dengan sebutan Administrasi Perusahaan Modern atau APM) menjadi akuntansi biaya Amerika. Kedua, penerapan responsibility accounting dalam pengendalian biaya. Ketiga, penerapan activity-based cost system dalam pengurangan biaya. Pesan yang disampaikan kepada mahasiswa generasi Jaman Digital adalah: bangun kemampuan sebagai life-long learner (karena ilmu dan pengetahuan sekarang berusia pendek) dengan mengembangkan keterampilan dalam speed reading dan bangun keterampilan berbahasa Inggris (karena pengetahuan manajemen dan akuntansi dikembangkan oleh bangsa yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi mereka). [dwi andi]

D

48

AROUND BULAKSUMUR

Fasilitas Baru Untuk Pecinta Literatur
ebelah utara Grha Sabha Pramana (GSP), terlihat sebuah gedung baru dengan cat putih. Gedung tersebut sering dikunjungi dan banyak orang berlalu lalang di sekitarnya. Setelah masuk di dalamnya, banyak kursi dan meja belajar serta rak-rak buku berjejer menunggu untuk dibaca. Ya, itulah Perpustakaan Pusat Universitas Gadjah Mada (UGM). Perpustakaan Pusat didatangi mahasiswa-mahasiswa UGM dan juga luar UGM. Tentu saja, Perpustakaan Pusat ini menjadi alternatif tempat belajar yang nyaman selain perpustakaan fakultas dan tempat tinggal masing-masing. Menurut Bu Budi, pelaksana tugas Kepala Perpustakaan UGM, UGM awalnya memiliki dua perpustakaan, di dekat GSP dan di Sekip atau sering disebut Perpustakaan Unit II. Namun, sekarang UGM telah membangun kompleks perpustakaan, sehingga Perpustakaan Unit II menjadi satu di Perpustakaan Pusat UGM saat ini. Menurutnya, UGM akan membangun lima gedung perpustakaan. Tahap pembangunannya ada tiga tahap. Pada April 2012 ini baru terbangun dua gedung, yaitu gedung L1 dan L5 yang menjadi pembangunan tahap pertama. Tahap selanjutnya adalah pembangunan gedung L2, L3, dan L4. Gedung Perpustakaan Pusat yang lama tetap dipertahankan karena telah menjadi gedung cagar budaya yang tidak boleh dirubuhkan. Gedung lama ini masih berfungsi. Lantai satu digunakan untuk sirkulasi buku, lantai dua digunakan untuk perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, serta lantai tiga digunakan untuk kantor arsip. Gedung baru sekarang masih difungsikan sebagai kantor pelayanan. “Nantinya, perpus, PPTIK, dan kantor arsip menjadi satu kompleks,” ujar Bu Budi. Bu Budi menambahkan, lantai dua gedung L1 nantinya akan digunakan untuk pameran dan galeri tentang UGM. Kemajuan yang pesat dalam dunia informasi dan

S

teknologi pun telah dicapai oleh Perpustakaan Pusat UGM. Bu Budi menerangkan bahwa tesis dan disertasi mahasiswa UGM telah dapat diakses secara online. Disertasi dan tesis yang sudah di-online-kan adalah terbitan tahun 2002 sampai sekarang. Selain online,Perpustakaan Pusat menyediakan tesis dan disertasi dalam bentuk fisik. Namun, untuk pengunjung di luar UGM hanya bisa mengakses abstrak, sedangkan untuk akademisi UGM bisa mengakses full text secara intranet. Selain itu, Bu Budi menjelaskan bahwa database e-journal dan e-book telah tersedia secara cuma-cuma untuk akademisi UGM. Database ini berasal dari seluruh fakultas dan juga dari Perpustakaan Pusat sendiri. Untuk koleksi buku fisik, Perpustakaan Pusat menyediakan buku-buku dasar dan umum, seperti Kimia Dasar, Biologi Dasar, dan lain sebagainya. Selain buku-buku umum kekinian, Perpustakaan Pusat memiliki koleksikoleksi kuno dari tahun 1600–1700. Selain ada sirkulasi buku dan kemajuan teknologi informasi, Perpustakaan Pusat juga mengakomodasi America Corner, World Bank Corner, dan Hatta Corner. Menurut Bu Budi, UGM mendapat hibah koleksi buku dari Yayasan Bung Hatta dan untuk selanjutnya, UGM ingin mendigitalisasi koleksi langka dari Yayasan Bung Hatta. Bu Budi memiliki harapan untuk Perpustakaan Pusat ke depannya. Dia berkeinginan untuk menjadikan perpustakaan mampu mengakomodasi kebutuhan keluarga berekreasi sambil belajar, seperti adanya perpustakaan anak-anak. Perpustakaan buka setiap Senin-Jumat pukul 07.30 – 20.00 dan hari Sabtu pukul 07.30 – 16.00. Pengunjung nonakademisi UGM ditarik biaya Rp 10.000,00 untuk mahasiswa S2, Rp 5.000,00 untuk S1, dan gratis untuk SMA. “Kalau Jumat dan Sabtu, banyak dari universitas luar kota, seperti Unsoed atau Undip datang ke perpus UGM,” tambah Bu Budi.[aga]

49

FEB IN PICTURES

Dosen beserta mahasiswa angkatan ‘86 melakukan kunjungan ke Bank Indonesia.

Mahasiswa angkatan ‘86 foto bersama setelah mengikuti P4.

50

EXCHANGE STUDENTS’ COMMENTS

Lukas Ondrisak

(Exchange Student -HAN Holland, Arnhem Bussiness School)
“I choose FEB UGM because many Indonesian friends in Holland have inspired me to go to Indonesia. It’s a lovely, cozy place, nice people, with such a beautiful nature. Additionally, I also would like to discover possibilities regarding to a business.”

Marjorie Gautillot

(Exchange Student - ESCEM Tours Poitiers France)
“FEB UGM was my first choice and I’m very happy by this (choice)! I’m enjoying my stay here :)”

Anna Brandt

(Exchange Student – UAS Bremen, Germany)
“I came to Indonesia because I heard a lot of positive things about Universitas Gadjah Mada and Yogyakarta. I’m looking forward to getting to know Indonesian culture and I’m really happy that I can spend my exchange year here.”

51

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful