Anda di halaman 1dari 27

PENGANTAR KAJIAN HUMAN SECURITY Oleh : Erwin Ruhiyat

1.

Pendahuluan Dengan berakhirnya Perang Dingin, konsep keamanan/security semakin

menjadi perhatian para sarjana dan praktisi. Dalam formulasi klasik, keamanan adalah mengenai bagaimana negara menggunakan kekuatan/power untuk mengelola ancaman/threaths terhadap integritas teritorial, otonomi, dan ketertiban politik dalam negeri mereka, terutama dari negara-negara lain. Formulasi keamanan klasik ini telah banyak menuai kritik. Bagi sebagian orang, formulasi klasik terlalu unilateralis dalam penekanannya pada kekuatan di dunia dimana ada senjata pemusnah massal dan saling ketergantungan yang merajut bangsa bersama-sama. Sebuah gagasan unilateralis mengenai keamanan harus memberi jalan, dalam hal ini cooperative security. Bagi yang lain, formulasi klasik keliru dalam membatasi lingkup keamanan pada ancaman militer dari negara-negara lain. Dalam pandangan ini, negaranegara bersaingan mungkin menyebarkan beragam jenis ancaman terhadap integritas teritorial dan politik dalam negeri saingan. Ancaman Ini termasuk ancaman lingkungan, ekonomi, dan budaya. Sebagai tambahan, ancaman terhadap integritas teritorial dan tatanan politik harus diperhitungkan bukan hanya dari negara lain, tetapi juga dari berbagai aktor non-negara dan bahkan bencana alam. Ini merupakan gagasan keamanan yang diperluas, perluasan instrumen dan sumber ancaman ini dapat disebut sebagai comprehensive security. Kritik lainnya dan lebih mendasar dari keamanan bahkan melangkah lebih jauh, menyarankan bahwa keamanan tidak dapat dibatasi pada

kesejahteraan/well-being negara. Dari perspektif ini, tersirat dalam perumusan keamanan klasik adalah perlindungan/protection dan kesejahteraan negara,

sedangkan apa yang seharusnya menjadi pusat perhatian adalah perlindungan dan kesejahteraan dari warga negara secara individu/human being. Suatu konsep keamanan yang berpusat pada kesucian individu disebut sebagai Human Security. Tulisan ini menelusuri asal-usul pemikiran human security dan menguraikan dua kerangka kerja penting mengenai subjek human security - oleh UNDP dan Pemerintah Kanada juga human security pasca 9/11.

2.

Konsep Human Security Apakah human security itu? Konsep human security didasarkan pada

premis dimana individual human being merupakan satu-satunya fokus mengagumkan untuk diskursus mengenai keamanan. Klaim dari referents lainnya (grup, komunitas, negara, kawasan, dan dunia) diturunkan dari kedaulatan/sovereignity manusia secara individu dan hak individu terhadap martabat/dignity dalam kehidupannya. Dalam tataran etika, keamanan (human security) mengklaim referents lain, termasuk negara, menarik nilai apapun yang mereka (negara) miliki dari klaim yang mereka tujukan kebutuhan dan aspirasi dari individu yang membuatnya. Silsilah konsep/ide ini dapat dihubungkan dengan tumbuhnya

ketidakpuasan terhadap gagasan-gagasan pembangunan dan keamanan yang berlaku di tahun 1960-an, 1970-an, dan 1980-an. Ahli-ahli Ekonomi tanpa diragukan lagi menuntun dengan kritik mereka mengenai model dominan

pembangunan ekonomi pada awal tahun 1960-an. Pada pertengahan 1970-an, dalam International Relations, rumah bagi studi keamanan/security studies, World Order Models Project (WOMP) meluncurkan upaya ambisius untuk menggagas dan membangun tatanan dunia yang lebih stabil dan adil, dan sebagai bagian dari usaha ini perhatian diarahkan terhadap masalah kesejahteraan individu/individual well-being dan keselamatan/safety. Mungkin pelopor yang paling penting mengenai gagasan human security, berupa laporan

dari serangkaian komisi independen multinasional terdiri dari tokoh pemimpin, intelektual, dan akademisi. Dimulai pada 1970-an, kelompok Club of Rome menghasilkan serangkaian volume tulisan mengenai problematika dunia/world problematique yang didasarkan pada gagasan bahwa ada suatu masalah kompleks yang

mengganggu umat dari segala bangsa yaitu kemiskinan; degradasi lingkungan; hilangnya kepercayaan pada institusi; penyebaran penduduk di wilayah perkotaan yang tidak terkendali; tidak adanya jaminan pekerjaan; alienasi pemuda; penolakan nilai-nilai tradisional; dan inflasi dan gangguan moneter dan ekonomi lainnya. Laporan tersebut mencatat bahwa Setiap orang di dunia menghadapi serangkaian tekanan dan masalah yang memerlukan perhatian dan penindakan. Masalah-masalah ini mempengaruhi mereka di berbagai tingkatan. Dia mungkin menghabiskan banyak waktu berusaha untuk menemukan

makanan untuk esok; dia mungkin khawatir tentang kekuasaan pribadi atau kekuatan bangsa di mana dia tinggal. Dia mungkin khawatir tentang perang dunia; atau perang berikutnya terjadi minggu depan dengan klan saingan di lingkungannya. keprihatinan Ini dan lainnya harus dipahami dalam konteks tren global dan kekuatan yang melanggar individu, khususnya industrialisasi yang cepat, pertumbuhan penduduk yang cepat, malnutrisi yang meluas, penipisan sumber daya tak terbarukan, dan memburuknya kualitas lingkungan. Hubungan antara variabel planetari makro tersebut menyarankan bahwa ada batas-batas pertumbuhan ekonomi global dan karena itu masa depan yang sulit mungkin menghadang masyarakat dunia. Namun, keadaan kesetimbangan global/global equlibrium bisa dirancang sehingga kebutuhan dasar dari setiap orang dapat terpuaskan, dan masing-masing orang memiliki kesempatan yang sama untuk menyadari potensi individu manusianya/individual human potential. Singkatnya, Kelompok tersebut mengusulkan bahwa ada sebuah sistem global yang kompleks mempengaruhi peluang kehidupan individu dan ada cara-cara

alternatif konseptualisasi pembangunan global dan, pada akhirnya, keamanan global untuk mempertahankan dan meningkatkan peluang hidup tersebut. Pada tahun 1980-an, dua komisi independen lain memberikan kontribusi terhadap perubahan pemikiran tentang pembangunan dan keamanan. Yang pertama adalah Independent Commission on International Development Issues diketuai oleh Willy Brandt pada tahun 1980, mengeluarkan laporan North-South report. Dalam pengantar untuk laporan tersebut, Brandt menulis: Laporan kami adalah didasarkan pada apa yang tampaknya menjadi kepentingan bersama yang sederhana: umat manusia ingin bertahan hidup, dan bahkan bisa menambahkan memiliki kewajiban moral untuk bertahan hidup. Hal ini tidak hanya menimbulkan pertanyaan tradisional mengenai perdamaian dan perang, tetapi juga mengenai bagaimana mengatasi kelaparan di dunia, kesengsaraan masal dan kesenjangan antara kondisi kehidupan kaya dan miskin. Dalam perdebatan untuk perlunya keterlibatan Utara-Selatan untuk pembangunan, laporan tersebut mencatat bahwa inti permasalahan adalah kemauan untuk mengatasi ketegangan berbahaya dan menghasilkan keputusan signifikan dan berguna untuk negara dan kawasan - namun, yang pertama dan paling penting adalah bagi manusia - di semua belahan dunia ini. Komisi kedua pada tahun 1980-an, adalah Independent Commission on Disarmament and Security Issues yang diketuai oleh Olof Palme, menulis laporan yang terkenal yaitu Common Security yang juga menarik perhatian pada cara-cara berfikir alternatif tentang

perdamaian dan keamanan/peace and security. Laporan tersebut juga mencatat bahwa common security mengharuskan orang hidup bermartabat dan damai, bahwa mereka memiliki cukup makanan dan mampu mendapatkan pekerjaan dan hidup di dunia tanpa kemiskinan dan kemelaratan. Dengan berakhirnya Perang Dingin, panggilan untuk pemikiran baru dalam masalah keamanan tumbuh dengan cepat.

Pada tahun 1991, Stockholm Initiative on Global Security and Governance mengeluarkan seruan Common Responsibility in The 1990s yang disebut sebagai tantangan terhadap keamanan selain persaingan politik dan persenjataan dan bagi konsep yang lebih luas dari keamanan, yang juga membahas ancaman yang berasal dari kegagalan dalam pembangunan, degradasi lingkungan, pertumbuhan dan pergerakan penduduk yang berlebihan, dan kurangnya kemajuan menuju demokrasi. Empat tahun kemudian, The

Commission on Global Governance mengeluarkan laporan Our Global Neigborhood, menggemakan wacana keamanan dari Stockholm Initiative yaitu konsep keamanan global harus diperluas dari fokus tradisional keamanan

negara/state security untuk menyertakan keamanan masyarakat/security of people dan keamanan planet/security of the planet. Jika laporan komisi-komisi tersebut adalah prekursor untuk pemikiran mengenai human security, maka di awal tahun 1990-an perspektif human beberapa rigor. Kontribusi

security secara eksplisit diartikulasikan dengan

pertama adalah dari Mahbub ul Haq dan United Nations Development Program (UNDP). Haq, adalah seorang ahli ekonomi pembangunan yang dihormati dan merupakan konsultan UNDP, beliau adalah tokoh sentral dalam peluncuran Human Development Index (HDI). Upaya pembangunan manusia/human development secara eksplisit menempatkan di pusat perumusannya, gagasan bahwa perkembangan pemikiran dan kebijakan harus mengambil fokus kesejahteraan individu, bukan hanya ekonomi makro. Intervensi penting kedua mengenai human security adalah dari pemerintah Kanada dan berbagai akademisi Kanada yang memimpin middle powers initiative. Untuk memahami kedua pendekatan ini dan untuk memperjelas perbedaan antara human security dan konsepsi tradisional mengenai keamanan nasional/national security, maka perlu merujuk beberapa istilah umum sebagai referensi dalam tulisan ini kita akan merujuk kepada analis politik David Baldwin. Baldwin mengambil sebagai titik awal yaitu diskusi mengenai kemanan dari

Arnold Wolfers yaitu tidak adanya ancaman terhadap nilai-nilai yang diperoleh/the absence of threats to acquired values dan memodifikasinya untuk dibaca sebagai probabilitas rendah dari kerusakan pada nilai-nilai yang diperoleh/a low probability of damage to acquired values. Baldwin, berpendapat bahwa untuk mengevaluasi perdebatan mengenai konsepsi keamanan/security, sangat penting untuk mendefinisikan istilah lebih tepat. Hal ini memerlukan, setidaknya, dua hal : kesepakatan mengenai arti mendasar dari

keamanan/security; dan spesifikasi yang lebih besar dari istilah, dengan mengacu pada serangkaian pertanyaan: keamanan untuk siapa/security for whom, keamanan untuk nilai-nilai apa/security for which values, berapa banyak

keamanan/how much security, keamanan dari ancaman apa/security from what threats, dan keamanan dengan cara apa/security by what means?. Dengan menanyakan keempat pertanyaan ini kita akan mulai pencarian untuk kejelasan konseptual dari human security.

2.1.

Mahbub ul Haq dan Human Security Ide mengenai human security umumnya berpikir untuk kembali ke

Laporan UNDP tahun 1994. Terkait dengan ide dari awal adalah ahli ekonomi dan konsultan UNDP, Mahbub ul Haq yang sebelumnya memainkan peran kunci dalam pembangunan Indeks Pembangunan Manusia/Human Development Index (HDI) dan merupakan tokoh yang bergerak di belakang pembentukan Human Governance Index (HGI). Pendekatan Haq diuraikan dalam makalahnya, New Imperatives of Human Security (1994). Haq menjawab pertanyaan keamanan untuk siapa/security for whom? dengan cukup sederhana. Human security bukan tentang negara dan bangsa, tetapi tentang individu dan orang-orang. Dengan demikian, ia berpendapat bahwa dunia memasuki era baru human security di mana seluruh konsep keamanan/security akan berubah - dan berubah secara dramatis. Dalam konsepsi baru ini, keamanan/security akan disamakan dengan keamanan

individu/security of individuals, bukan hanya keamanan negara mereka atau, dengan kata lain, human security, bukan hanya keamanan wilayah/teritorial. Lebih normatif, dia menulis, Kita perlu untuk menghargai konsep baru human security yang tercermin dalam kehidupan rakyat kita, bukan di senjata negara kita. Dalam Penciptaan konsep baru ini, nilai-nilai/values apa yang berusaha untuk dilindungi? Haq tidak secara eksplisit tentang masalah ini, tapi jelas keamanan individu/individual safety dan kesejahteraan/well-being dalam arti luas merupakan nilai utama. Sedangkan konsepsi tradisional mengenai keamanan menekankan integritas teritorial dan kemerdekaan nasional sebagai nilai-nilai utama yang perlu dilindungi, human security menempatkan di atas semuanya keselamatan dan kesejahteraan dari semua orang dimanapun-di rumah mereka, dalam pekerjaan mereka, di jalan-jalan umum, dalam komunitas mereka, di lingkungan mereka. Apa saja ancaman utama terhadap nilai-nilai ini? Haq menulis esai singkat yang mengilustrasi sederet ancaman: obat, penyakit, terorisme, dan kemiskinan. Kemudian dijelaskan juga dalam esai tersebut diskusi tentang apa yang harus dilakukan untuk memajukan human security, jelas bahwa, setidaknya secara tersirat, bahwa ada ancaman yang jauh lebih mendasar yaitu, tatanan dunia yang tidak adil dimana beberapa negara dan elit mendominasi, merugikan kemanusiaan secara luas. Tatanan dunia ini diwujudkan dalam konsepsi yang berlaku dan praktek pembangunan, ketergantungan pada persenjataan untuk keamanan, kesenjangan antara Utara dan Selatan secara global, dan meningkatnya marjinalisasi institusi global (misalnya PBB dan Bretton Woods arrangements). Lalu apa yang harus dilakukan? Bagaimana human security dicapai? Ini adalah sebagian besar dari kontribusi Haq, dan itu adalah sebuah program yang radikal. Pada dasarnya, human security akan dicapai melalui pembangunan, bukan melalui senjata. Secara khusus, lima langkah yang agak radikal

diperlukan untuk memberi nyawa kepada konsepsi baru mengenai keamanan: konsepsi pembangunan manusia/human development dengan penekanan pada pemerataan, keberlanjutan, dan partisipasi akar rumput, dividen perdamaian untuk menanggung agenda yang lebih luas dari human security; kemitraan baru antara Utara dan Selatan berdasarkan keadilan, bukan amal yang menekankan pada akses yang adil terhadap peluang pasar global dan restrukturisasi ekonomi; sebuah kerangka baru pemerintahan global dibangun di atas reformasi lembaga internasional seperti IMF, Bank Dunia, dan PBB; dan akhirnya, peran yang terus meningkat bagi global civil society. Haq menguraikan daftar panjang yang benar-benar merupakan far reaching proposals untuk human security secara global. Ini termasuk: Secara Pembangunan : keberlanjutan; kesetaraan peluang (distribusi yang lebih baik dari aset produktif, termasuk tanah dan kredit, akses terbuka untuk peluang pasar; penciptaan lapangan kerja, jaring pengaman sosial), dan keadilan global melalui restrukturisasi besar dari pendapatan dunia, konsumsi, dan pola gaya hidup. Secara militer: mengurangi pembelanjaan senjata, menutup semua pangkalan militer; mengkonversi bantuan militer menjadi bantuan ekonomi, menghentikan transfer senjata, menghilangkan subsidi ekspor senjata, pelatihan ulang pekerja di industri pertahanan. Restrukturisasi utara-Selatan : pemerataan akses ke pasar global untuk negara-negara miskin yang dibangun berdasarkan penghapusan

hambatan-hambatan perdagangan (terutama dalam industri tekstil dan pertanian); kompensasi finansial dari negara-negara kaya dengan imbalan kontrol imigrasi dan pemanfaatan secara berlebihan sumber daya lingkungan global, dan mekanisme pembayaran global untuk berbagai layanan yang diberikan/service rendered (misalnya jasa lingkungan, pengendalian narkotika dan penyakit), untuk kerusakan dalam kasuskasus cedera ekonomi/economic injury, dan perilaku ekonomi yang buruk

(Misalnya mendorong brain drain, membatasi migrasi tenaga kerja rendah keterampilan, pembatasan ekspor). Secara kelembagaan: resusitasi dan restrukturisasi IMF, Bank Dunia, dan PBB untuk lebih fokus pada pembangunan manusia, penyesuaian ekonomi/economic adjustments yang menargetkan orang kaya daripada orang miskin, pola pemerintahan baru di mana-mana yang

memberdayakan kaum miskin; lembaga baru seperti bank sentral dunia, suatu sistem perpajakan global, organisasi perdagangan dunia, dana investasi internasional, treasury dunia/world treasury, dan di atas semua, Dewan Keamanan Ekonomi di PBB yang representatif dan veto-less akan menjadi forum pengambilan keputusan tertinggi untuk menangani semua masalah yang dihadapi umat manusia termasuk keamanan pangan/food security dan keamanan lingkungan/environment security, kemiskinan dan penciptaan lapangan pekerjaan, migrasi dan

perdagangan narkoba. Evolusi dari masyarakat sipil global/global civil society: semua hal di atas akan membutuhkan partisipasi akar rumput dan perubahan dari pemerintahan otoriter ke demokrasi.

2.2.

UNDP dan Human Security Diterbitkan pada tahun yang sama seperti monografi Haq adalah Laporan

Pembangunan Manusia/Human Development Report UNDP tahun 1994 yang menyertakan bagian tentang human security, yaitu Redefining Security: The Human Dimension (selanjutnya disebut Laporan), dimaksudkan untuk menawarkan alternatif menyeluruh terhadap keamanan tradisional/traditional security dan suplemen yang diperlukan untuk pembangunan manusia. Bagaimana cara laporan tersebut menjawab empat pertanyaan-pertanyaan sentral mengenai keamanan? Laporan ini menjawab pertanyaan tentang keamanan untuk siapa/security for whom dengan mengacu kepada pengertian

keamanan tradisional. keamanan tradisional prihatin dengan Keamanan wilayah dari agresi eksternal, atau sebagai perlindungan kepentingan nasional di kebijakan luar negeri, atau sebagai keamanan global dari ancaman bencana nuklir. Konsepsi keamanan tradisional lebih terkait dengan bangsa-negara daripada orang. Apa yang terabaikan oleh konsepsi ini adalah keprihatinan dari orang-orang biasa yang mencari keamanan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Human security, di sisi lain berpusat pada orang/individu. Dengan demikian, Laporan tersebut menegaskan, seperti yang dilakukan Haq, bahwa objek referen human security adalah individu atau orang. Untuk mendukung konsepsi human security, Laporan tersebut mengutip dokumen pendirian PBB dan deliniasi asli keamanan sebagai kebebasan dari rasa takut/freedom from fear" seperti juga "kebebasan mendapatkan keinginan/freedom from want dan kesetaraan antara teritori wilayah dan orang-orang bahwa pembedaan itu tersirat. Sayangnya, selama Perang Dingin, pemikiran mengenai keamanan telah terlalu diarahkan terhadap perlindungan wilayah, setelah Perang Dingin, Laporan mengusulkan, sekarang saatnya untuk memperbaiki keseimbangan dan menyertakan perlindungan orang/individu. Laporan tersebut membagi nilai-nilai keamanan dalam dua bagian. Pertama-tama, membuat sejumlah pernyataan yang agak umum tentang nilainilai yang menekankan keselamatan, kesejahteraan, dan martabat individu manusia dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mengingat Haq, Laporan tersebut mencatat bahwa konsepsi keamanan tradisional, berfokus pada integritas wilayah, kemajuan kepentingan nasional, dan pencegahan nuklir, jelas mengabaikan bahaya yang lebih nyata yang dihadapi di setiap kesempatan oleh pria dan wanita biasa: bagi banyak orang perlindungan keamanan dilambangkan sebagai perlindungan dari ancaman pengangguran, penyakit, kelaparan,

kejahatan, konflik sosial, represi politik, dan bahaya lingkungan. Human security adalah anak yang tidak mati, penyakit yang tidak menyebar, pekerjaan yang tidak dipecat, ketegangan etnis yang tidak meledak menjadi kekerasan, seorang

10

pembangkang yang tidak dibungkam. Human security tidak perhatian dengan senjata perhatiannya adalah kehidupan manusia dan harga diri, berapa besar akses yang mereka dapat terhadap pasar dan kesempatan sosial-dan apakah mereka hidup dalam konflik atau dalam damai. Human security juga meliputi pilihan pribadi dan jaminan tentang masa depan dan efikasi personal dan peluang. Dengan demikian, dalam menarik perhatian pada perbedaan antara human security dan human development, Laporan ini berpendapat bahwa

human development adalah Konsep yang lebih luas dan mengacu pada proses memperluas berbagai pilihan masyarakat sementara human security

menyiratkan bahwa orang-orang dapat melaksanakan berbagai pilihan tersebut dengan aman dan bebas dan bahwa mereka dapat relatif yakin bahwa peluang yang mereka miliki hari ini tidak akan hilang esok. Seiring dengan pilihan dan kepastian tentang masa depan, orang harus lebih giat dan cukup berdaya untuk mampu mengurus diri sendiri: semua orang harus memiliki kesempatan untuk memenuhi kebutuhan mereka yang paling penting/mendasar dan untuk mendapatkan perikehidupan mereka sendiri/own living. Di luar generalisasi ini, Laporan tersebut mendaftar tujuh komponen atau tujuh nilai-nilai spesifik dari human security : keamanan ekonomi/economic security, keamanan pangan/food security, keamanan kesehatan/health security, keamanan lingkungan/environmental security, keamanan

pribadi/personal security, keamanan komunitas/community security, dan politik keamanan/political security. Keamanan ekonomi mengacu pada kenikmatan individu atas pendapatan dasar/basic income, baik melalui pekerjaan yang menguntungkan atau dari jaring pengaman sosial. Keamanan pangan mengacu pada akses individu terhadap makanan melalui aset, pekerjaan, atau penghasilan yang dimilikinya. Keamanan Kesehatan mengacu pada kebebasan individu dari berbagai penyakit dan melemahkan penyakit dan akses nya kepada perawatan kesehatan. Keamanan lingkungan mengacu pada integritas tanah, udara, dan air, yang membuat manusia betah untuk tinggal/habitable. Keamanan

11

pribadi

mengacu pada kebebasan individu dari kejahatan dan kekerasan,

khususnya perempuan dan anak-anak. Keamanan komunitas mengacu pada martabat budaya dan perdamaian antar-komunitas di mana individu hidup dan tumbuh. Akhirnya, keamanan politik mengacu pada perlindungan terhadap pelanggaran hak asasi manusia. Apa saja ancaman terhadap nilai-nilai human security? Laporan ini membedakannya menjadi dua set ancaman. Pertama, ancaman yang lebih

terlokalisasi. Ini adalah ancaman yang khusus untuk masyarakat atau daerah yang berbeda di dunia dan tampaknya berbeda-beda berdasarkan tingkat perkembangan ekonomi dan lokasi geografis. Kedua, ancaman bersifat global karena ancaman dalam negara dengan cepat meluas diluar batas-batas nasional. Menurut Laporan tersebut, ancaman yang lebih lokal dapat dipahami dalam kaitannya dengan tujuh nilai dari keamanan manusia. Berikut adalah ringkasannya: Ancaman terhadap keamanan ekonomi: kurangnya lapangan kerja produktif dan menguntungkan, kerja apa adanya, tidak adanya jaring pengaman sosial yang dibiayai publik. Ancaman terhadap ketahanan pangan: kurangnya hak makanan/food entitlements termasuk kurang akses yang cukup terhadap aset, pekerjaan, dan pendapatan yang terjamin. Ancaman terhadap keamanan kesehatan: penyakit infeksi dan parasit, penyakit pada sistem peredaran darah dan kanker, kurangnya air bersih, polusi udara, kurangnya akses ke fasilitas perawatan kesehatan. Ancaman terhadap keamanan lingkungan: penurunan ketersediaan air, polusi air, menurunnya lahan garapan, deforestasi, desertifikasi, polusi udara, bencana alam.

12

Ancaman terhadap keamanan pribadi: kejahatan dengan kekerasan, perdagangan narkoba, kekerasan dan penyalahgunaan anak-anak dan perempuan.

Ancaman terhadap keamanan masyarakat: perceraian, runtuhnya bahasa dan budaya tradisional, diskriminasi etnis dan perselisihan, genosida dan pembersihan etnis.

Ancaman terhadap keamanan politik: represi pemerintah, pelanggaran hak asasi manusia secara sistematis, militerisasi. Selain ancaman yang lebih lokal yang tercantum di atas, Laporan tersebut

mengutip sejumlah ancaman yang lebih global atau transnasional yang menyebar atau efeknya melampaui batas-batas nasional. Ini dikelompokkan menjadi enam area: Pertumbuhan penduduk yang meningkatkan tekanan pada sumber daya tak terbarukan dan terkait erat dengan kemiskinan global, degradasi lingkungan, dan migrasi internasional. Disparitas dalam pendapatan global menyebabkan konsumsi berlebihan dan kelebihan produksi di negara-negara industri dan kemiskinan dan degradasi lingkungan di negara-negara berkembang. Peningkatan migrasi internasional sebagai fungsi dari pertumbuhan penduduk, kemiskinan, dan kebijakan-kebijakan negara-negara industri telah memberikan kontribusi terhadap aliran migran internasional seperti juga peningkatan pengungsi dan pengungsi internal/IDPs. Berbagai bentuk kerusakan lingkungan (yang antara lain menyebabkan hujan asam, kanker kulit, dan pemanasan global) serta berkurangnya keanekaragaman hayati, dan penghancuran lahan basah, terumbu karang, dan hutan temperate serta hutan hujan tropis. Perdagangan obat, yang telah berkembang menjadi industri multinasional global.

13

Terorisme internasional yang telah menyebar dari Amerika Latin pada tahun 1960 menjadi fenomena global. Mengingat banyaknya nilai-nilai yang harus dilindungi dan ancaman yang

harus diperangi, apa sebenarnya yang perlu dilakukan? Bagaimana seharusnya masyarakat dunia merespon? ancaman keamanan tradisional dapat ditangani oleh senjata nuklir dan konvensional, aliansi dan keseimbangaan

kekuatan/balance of power, serta kekuatan besar dan intervensi PBB. Agenda keamanan baru menuntut sarana-sarana yang lebih luas dan kerjasama lebih besar antara berbagai aktor - dan tentu ada tempat kecil untuk penggunaan kekuatan. Antara lain, Laporan tersebut merekomendasikan dukungan dari konsep human security itu sendiri, perubahan kebijakan nasional dan internasional berfokus pada kebutuhan dasar, ketenagakerjaan produktif dan menguntungkan dan hak asasi manusia, diplomasi preventif dan pencegahan pembangunan, dan reformasi lembaga-lembaga global.

2.3.

Pendekatan Kanada dan Negara-Negara Kekuatan Tengah/Middle Power Terhadap Human Security Pendekatan kekuatan tengah terhadap human security yang dipimpin

Kanada tumpang tindih dengan pendekatan UNDP tetapi selama bertahun-tahun telah membedakan dirinya dari pendekatan UNDP. Menguraikan dasar-dasar Pendekatan Ottawa atas dasar empat pertanyaan mengenai human security mengungkapkan bahwa dua pendekatan ini cukup berbeda dalam beberapa hal. Kanada telah membuat dua pernyataan utama mengenai Posisi mereka (1997, 1999) dan bersama dengan Norwegia menyelenggarakan konferensi kekuatan menengah di Lysoen, Norwegia (1999) yang sebagian besar hasilnya menegaskan sudut pandang/viewpoint mereka terhadap human security. Bagi Kanada, seperti UNDP, human security menyiratkan keamanan untuk individu. Pandangan keamanan yang berpusat pada individu/people-centered, Menteri Luar Negeri Kanada, Lloyd Axworthy berpendapat pada makalahnya

14

tahun 1997, termasuk keamanan terhadap privasi ekonomi, kualitas yang dapat diterima dari hidup, dan jaminan hak asasi manusia. Dua tahun kemudian, pada tahun 1999, ia mencatat bahwa keamanan individu - yaitu, human security telah menjadi ukuran baru keamanan global. Paper yang terakhir itu kemudian mengakui bahwa Keamanan antar negara tetap menjadi kondisi yang diperlukan untuk keamanan rakyat tetapi berargumen bahwa sejak Perang Dingin semakin jelas bahwa keamanan nasional tidak cukup untuk menjamin keamanan rakyat. Dibalik keamanan untuk siapa/security for whom adalah masalah keamanan atas nilai-nilai apa/security of what values. Sebagaimana dicatat di atas, nilainilai human security termasuk kualitas yang dapat diterima dari hidup, dan jaminan dasar hak asasi manusia. Minimal, itu berarti kebutuhan dasar, pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, hak asasi manusia dan kebebasan dasar, aturan hukum, tata pemerintahan yang baik, pembangunan berkelanjutan dan keadilan sosial. Deklarasi Lysoen berpendapat bahwa nilai-nilai

fundamental dari human security adalah kebebasan dari rasa takut/freedom from fear, bebas mendapat yang diinginkan/freedom from want, dan kesempatan yang sama/equal opportunities. Nilai inti dari konsep human security adalah kebebasan dari ancaman luas terhadap hak-hak rakyat, keselamatan mereka atau kehidupan mereka, adalah bahwa, apa yang deklarasi tersebut nyatakan sebagai kebebasan dari rasa takut/freedom from fear. Apa saja ancaman terhadap nilai-nilai kunci tersebut? Paper Kanada kurang lengkap dan kurang sistematis dari laporan UNDP, tapi tetap menyajikan daftar ancaman yang cukup mengesankan. Paper tahun 1997 mengutip antara lain : kesenjangan pendapatan antara negara kaya dan miskin, konflik internal dan kegagalan negara, kejahatan transnasional, proliferasi senjata pemusnah massal, pertentangan agama serta etnis, degradasi lingkungan, pertumbuhan penduduk, konflik etnis dan migrasi, represi negara, meluasnya penggunaan ranjau darat anti-personil, pelecehan anak, keterbelakangan ekonomi, dan proteksionis perdagangan sistem internasional yang tidak stabil. Makalah tahun

15

1999 mengacu pada bahaya yang ditimbulkan oleh konflik sipil, kekejaman skala besar, dan genosida. Globalisasi adalah faktor lain, yang telah membawa kekerasan kejahatan, perdagangan narkoba, terorisme, penyakit dan kerusakan lingkungan dan perang internal diperjuangkan oleh pasukan iregular dari etnis dan kelompok-kelompok keagamaan yang dilengkapi dengan persenjataan. Penurunan kontrol negara dan, berhubungan dengan pertumbuhan

warlordisme/penguasa militer, bandit, kejahatan terorganisir, perdagangan narkoba, dan pasukan keamanan swasta, semua ini telah meningkatkan kekerasan terhadap individual. Selain itu, Memperluas kisaran berbagai ancaman transnasional membuat orang lebih rentan: globalisasi ekonomi dan komunikasi serta transportasi yang lebih baik meningkatkan polusi, vektor penyakit, dan ketidakstabilan ekonomi dunia. Dengan cara apa agenda keamanan kompleks ini dimajukan? Pada tahun 1997, Kanada menyarankan bahwa membangun perdamaian, menjaga perdamaian, perlucutan senjata (terutama penghapusan ranjau darat antipersonil), menjaga hak-hak anak, dan pembangunan ekonomi melalui perdagangan berbasis aturan/rule based trade adalah bidang utama dari upaya human security untuk Ottawa. Untuk menggerakkan agenda ini, Kanada harus makin mengandalkan soft power - seni menyebarkan informasi sedemikian rupa sehingga hasil yang diinginkan dicapai melalui persuasi bukan paksaan. Kanada dan berbagai kekuatan menengah lainnya cocok untuk

membuat jaringan, membangun koalisi, dan membawa lainnya untuk memahami pentingnya human security. Pemerintah, LSM, akademisi, bisnis dan warga negara biasa semuanya merupakaan calon mitra endeavor ini. Paper Kanada tahun 1999 menguatkan pendekatan tahun 1997 dengan mendaftar enam prinsip yang lebih luas yang mungkin memandu tindakan. Menggabungkannya menjadi tiga prinsip utama, yaitu : Pertama, masyarakat internasional harus mempertimbangkan

pemaksaan/coersion

termasuk penggunaan sanksi dan kekuatan jika

16

perlu. Kedua, kebijakan keamanan nasional itu sendiri harus diubah, untuk memberikan pertimbangan bagi mempromosikan tujuan human security. Integral dengan agenda kebijakan keamanan yang baru harus mempromoskani norma / lembaga dan penggunaan strategi

pembangunan - norma / lembaga (misalnya HAM, hukum kemanusiaan dan pengungsi) akan menetapkan standar perilaku, dan strategi pembangunan mungkin akan membawa kondisi dimana akan lebih mudah bagi aktor negara-negara dan non-negara untuk mengamati norma-norma tersebut. Norma di bidang apa tepatnya? Deklarasi Lysoen, yang dibantu pihak Kanada dalam rancangannya, mendaftar sepuluh area di mana norma-norma tersebut diperlukan: ranjau darat anti personil, senjata, anak-anak dalam konflik bersenjata, proses pengadilan pidana internasional, eksploitasi anak, keselamatan personil kemanusiaan, pencegahan konflik, kejahatan transnasional terorganisir, dan sumber daya untuk pembangunan. Penting juga untuk dilakukan adalah perbaikan-perbaikan dalam kapasitas pemerintahan, baik di dalam negara dan internasional, yaitu demokratisasi dan struktur PBB yang lebih efektif. Prinsip ketiga, tindakan efektif atas nama human security adalah membangun koalisi negara-negara, organisasi internasional, dan LSM yang akan mempromosikan pembangunan dan membantu menegakkan norma-norma yang telah disepakati.

2.4.

Human Security : Definisi Sempit dan Luas Pendekatan pertama(sempit) memandang human security secara negatif,

dalam konteks tidak adanya ancaman/the absence of threaths terhadap physical security atau keamanan individu. Definisi sempit ini telah diadopsi oleh Pemerintah Kanada dan dibakukan dalam publikasi Human Security Report oleh Human Security Centre yang berlokasi di Liu Institute for Global Issues, University

17

of British Columbia yang mendefinisikan human security sebagai perlindungan individu dari ancaman kekerasan. Pendekatan Kanada telah diinstituionalkan melalui pembentukan Human Security Network (HSN), sebuah grup yang terdiri dari negara-negara barat dibawah dipimpinan Kanada yang bertemu secara informal pada tingkat menteri untuk membahas isu-isu mengenai human security. Terlepas dari menyediakan kejelasan metodologi, definisi sempit dari human security memiliki keuntungan dengan mengakar kepada tradisi liberal barat yang berbasis teori politik. Individu dipandang sebagai unencumbered, terabstraksi dari social and cultural mores masyarakat dan dipenuhi dengan kesetaraan politik formal/formal political equality. Seluruh individu dianggap memiliki hak yang inaleniable dan mendasar terhadap hidup, kebebasan, dan kepemilikan dengan kebajikan/virtue common humanity mereka. Hak-hak ini termaktub dalam Piagam PBB dan khususnya Deklarasi Hak asasi Manusia PBB. Pendekatan berbasis-hak ini betujuan untuk memperkuat kerangka kerja legal normatif juga mendalami komitmen regional dan nasional terhadap legislasi hak asasi manusia. Institusi internasional penuh dengan tanggungjawab membangun dan mengkoordinasikan norma-norma hak asasi manusia regional dan nasional dengan pandangan untuk menunjukkan kecenderungannya. Sementara para penulis human Security Report memilih untuk menempatkan human security dalam konsepsi tradisional Hak Asasi Manusia (HAM) dengan fokus pada ancaman kekerasan terhadap individu, laporan akhir dari Commision on Human Security (CHS) yang diketuai oleh Amartya Sen dan Sadako Ogata, memberikan pendekatan lebih luas, yang menyertakan freedom from want, freedom from fear, dan freedom to take action on ones own behalf. Laporan ini dipresentasikan kepada Dewan Keamanan PBB dan dibiayai oleh Pemerintah Jepang, berusaha untuk menjembatani debat mengenai human security dengan perhatian yang lebih luas pada human development seperti yang diadvokasikan oleh UNDP. Sementara fokus dari human development adalah untuk menghilangkan pembatasan dan belenggu

18

yang mencegah menikmati kehidupan/human life, sedangkan human security memperhatikan downside risk, insecurities yang mengancam keberlangsungan, keamanan, dan martabat manusia. Inti dari pendekatan CHS adalah definisi positif dari human security sebagai petunjuk dari vital core kehidupan manusia : seperangkat hak-hak dasar dan kebebasan yang dinikmati orang dan dianggap penting bagi kesejahteraannya. Tujuan dari human security adalah untuk melindungi inti vital dari seluruh nyawa/kehidupan manusia dengan cara-cara yang mendorong kebebasan manusia dan pemenuhan kebutuhan manusia. Sementara masih berakar dalam diskursus mengenai kemerdekaan/liberty dan hak-hak individu universal/universal individual rights, pendekatan CHS bertujuan untuk melampaui hak-hak sipil dan politis dan perhatian sempit terhadap konflik kekerasan. Melindungi inti vital dari kehidupan manusia membutuhkan aksi melawan kehilangan/kerugian akibat kemiskinan, penyakit dan kemalangan lainnya, dan pengaruh dari degradasi lingkungan. Tetapi, perlindungan saja dianggap tidak cukup untuk melawan human insecurity : human security juga bertujuan untuk memberdayakan mereka untuk bertindak on their behalf. Terlepas dari definisi CHS yang menarik banyak kritik untuk kebingungan konseptualnya, definisi tersebut menggarisbawahi dan memperkuat pendekatan yang dilakukan oleh mantan Sekjen PBB Kofi Annan dalam Deklarasi Mileniumnya. Bagi Annan, human security dalam lingkupnya yang luas, merangkul lebih dari sekedar tidak adanya konflik kekerasan. Human security juga melingkupi Hak Asasi Manusia, good governance, akses terhadap pendidikan, dan perawatan kesehatan, dan memastikan bahwa setiap individu memiliki kesempatan dan pilihan untuk memenuhi potensinya (Pidato Kofi Annan di Harvard University, 2006). Lima tahun kemudian, Sekjen PBB Kofi Annan meneguhkan kembali komitmen PBB terhadap visi luas dari keamanan yang menyertakan tidak hanya perang dan konflik tetapi juga kemiskinan, penyakit menular yang mematikan, dan degradasi lingkungan. kebebasan yang lebih luas, bagi Annan

19

tidak hanya mengimplikasikan bahwa individu harus memiliki hak untuk berbicara, beribadah, berserikat/berkumpul dan memiliki hak diperintah atas kesadaran mereka/to be governed by their own consent juga bahwa individu harus free from want sehingga hukuman mati akibat kemiskinan dan penyakit menular dihilangkan dari kehidupannya dan free from fear sehingga hidup dan kehidupan mereka tidak dihancurkan oleh kekerasan dan perang.

3.

Perbedaan Pendekatan Human Security dengan Pendekatan Traditional Security, Human Development dan Human Rights Human security melengkapi state security, memperkuat human

development dan mendorong human rights (CHS 2003). Tetapi pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana perbedaan substantif yang ada antar pendekatanpendekatan tersebut, berikut adalah beberapa diantaranya : Dimana state security berkonsentrasi pada ancaman-ancaman yang ditujukan kepada negara, terutama dari serangan militer, human security menarik perhatian kepada ancaman yang lebih luas yang dihadapi oleh individu dan masyarakat. Human security fokus kepada akar

permasalahan dari ketidakamanan dan peningkatan solusi yang berpusat kepada manusia/people-centered yang didorong secara lokal,

komprehensif dan berkelanjutan/sustainable. Oleh karenannya, human security melibatkan beragam aktor, sebagai contoh: masyarakat lokal, organisasi internasional, civil society dan tentunya negara. Human security tidak dimaksudkan untuk mengganti state security, bahkan hubungannya adalah saling melengkapi (tanpa human security, state security tidak dapat dicapai dan sebaliknya). Bagi tujuan human development yaitu petumbuhan dengan kesetaraan, human security menambahkan dimensi penting dari downturn with security. Human security mengenali hasil dari downturns yaitu: konflik,

20

krisis ekonomi dan keuangan, kesehatan yang buruk, dan bencana alam, sudden insecurities, dan deprivasi. Hal-hal tersebut tidak hanya memundurkan hasil-hasil pembangunan tetapi juga menciptakan kondisi dimana rasa dukacita bisa menuju kepada ketegangan yang meningkat. Oleh karena itu, sebagai tambahan penekanan terhadap human wellbeing, human security didorong oleh nilai-nilai yang terkait dengan keamanan, stabilitas, dan keberlanjutan/sustainability dari hasil-hasil pembangunan. Terakhir, seringkali pelanggaran human rights merupakan hasil dari konflik, pengungsian, dan penderitaan manusia skala besar. Melihat permasalahan ini, human security menggarisbawahi kesemestaan dan keutamaan dari seperangkat hak-hak dan kebebasan yang mendasar bagi kehidupan manusia. Human security tidak membuat pembedaan antara berbagai jenis human rights sipil, politik, ekonomi, sosial dan budaya olehkarenanya menyasari kerentanan dan ancaman secara multidimensi dan komprehensif. Human security memperkenalkan kerangka kerja praktis untuk identifikasi hak-hak spesifik yang dipertaruhkan dalam situasi ketidakamanan tertentu dan untuk mempertimbangkan

pengaturan-pengaturan institusional dan pemerintahan diperlukan untuk melaksanakan dan mempertahankannya.

4.

Human Security Pasca 9/11 Batasan dari paradigma keamanan nasional yang telah mendominasi teori

dan praktik hubungan internasional selama abad 20 telah menjadi sangat jelas dalam lima tahun pasca kejadian 11 September 2001. Respon koalisi yang dipimpin oleh Amerika Serikat terhadap serangan 9/11 telah menjadi suatu usaha secara fisik menghilangkan ancaman teroris di Afghanistan dan Irak, dengan menghilangkan rezim yang dituduh memberi perlindungan dan pelatihan terhadap teroris. Kejadian ini dapat dianggap konsisten dengan pendekatan

21

konvensional terhadap studi keamanan, didirikan atas asumsi realis, yang memberikan hak khusus bagi negara sebagai aktor dalam hubungan internasional. Cara pandang realis yang mengkristalisasi selama era perang dingin lebih memilih perlindungan negara daripada warganya, sebagai fungsi keamanan. Sebagaimana ungkapan dari kritikus utamanya, Sadako Ogata : secara tradisional, ancaman terhadap keamanan dianggap berasal dari sumber eksternal. Isu keamanan olehkarenanya dikaji dalam konteks keamanan negara, sebagai contoh : perlindungan negara, batas wilayahnya, warga, institusi dan nilai-nilai dari serangan pihak luar (Ogata dalam Commission on Human Security). Secara umum, pendekatan konvensional terhadap studi keamanan tetap mengakar dalam tiga asumsi realis berikut. Pertama, negara dianggap sebagai aktor kunci dalam hubungan internasional dan sebagai perwakilan resmi dari collective will dari bangsa. Negara mendefinisikan dan melindungi kepentingan nasional sebagai tujuan kolektif inti jangka panjang dari negara. Kedua, tanggungjawab utama dari para pemimpin negara untuk menjamin keberlangsungan negara dalam sistem internasional yang anarkis. Anarki didefinisikan oleh Wendt sebagai the absense of authority merupakan ordering principle dari sistem internasional, memaksa negara-negara untuk

bertanggungjawab terhadap keamanannya dengan membuat

kerjasama

diantaranya menjadi sulit. Konflik, sebagai akibatnya dianggap tidak terhindarkan dan endemik bagi hubungan internasional, dengan aksi militer dianggap sebagai instrumen legal dari kebijakan negara. Ketiga, defence of the realm kadangkala mementingkan membatasi kemerdekaan rakyat sipil, terutama grup-grup dan individu dianggap mengancam kepentingan nasional. Ancaman terhadap kepentingan nasional dianggap sebagai ancaman terhadap batas negara, institusi, subyek dan nilai dari luar bahkan apabila ancaman berasal dari dalam negeri.

22

preemtive invasion pada tahun 2003 dan pendudukan Irak terbukti menghabiskan biaya dan nyawa, tetapi tujuan utama dari pasukan koalisi untuk mengungkap senjata pemusnah massal yang dimiliki Irak tetap belum tercapai. Estimasi National Intelligence tahun 2006 menyimpulkan bahwa perang Irak telah meningkatkan ancaman teroris terhadap Amerika Serikat dan Sekutunya. Lebih jauh, kegagalan koalisi pimpinan Amerika Serikat yang menghabiskan banyak waktu dan sumberdaya bagi rekonstruksi negara yang didudukinya dengan menghancurkan kekuatan militer negara tersebut membuat radikal Islam menjadi lebih marah, menciptakan perlawanan yang lama dan berkepanjangan di Irak yang menunjukkan tidak ada tanda-tanda akan berkurang, terlepas penangkapan dan eksekusi Saddam Hussein, pembunuhan putra-putranya, transfer kekuasaan kepada pemerintahan transisi Irak, gempuran benteng perlawanan pemberontak di Fallujah, pemilihan umum, pembunuhan pemimpin self-proclaimed Al Qaeda di Irak, Abu Musab al-Zarqawi. Kegagalan war on terror Amerika Serikat mencapai tujuan utamanya menggambarkan ketidakmampuan paradigma keamanan negara untuk secara efektif menghadapi ancaman dari non-state actors dalam dunia global. Meskipun beraliran sangat konservatif bila bukan reaksioner, intrepretasi dari Islam Suni, al-Qaeda bisa dipandang sebagai jaringan transnasional yang sangat efektif, dengan beberapa titik kontrol. Tidak adanya struktur organisasi tunggal yang formal bisa dianggap sebagai keuntungan, membuatnya lebih elusive dan sulit diberantas secara tuntas. Tentunya, akhir-akhir ini para sarjana peneliti menyatakan bahwa derajat kontrol dari kepemimpinan jaringan organisasi Islam radikal semacam itu diragukan, dengan beberapa otoritas yang mengklaim bahwa al-Qaeda bukan merupakan organisasi atau jaringan atau sebaliknya tetapi hanya merupakan nama dari merk yang siap untuk waralaba global. Ini menyatakan bahwa ancaman teroris yang dihadapi dunia barat, sampai taraf tertentu, dianggap sebagai buatan rumah, membuatnya lebih sulit untuk dikalahkan oleh aksi militer di seberang lautan.

23

Singkat kata, konsep tradisional kemanan nasional seperti yang disederhanakan oleh Amerika Serikat dengan kebijakan war on terror bisa dianggap gagal untuk memberikan keamanan bagi masyarakat di dunia barat, Irak dan dimanapun. Lebih jauh, dengan memprioritaskan perhatian dan keamanan negara dan mengandalkan kekuatan militer, doktrin kemanan nasional meninggalkan perhatian yang paling mendasar dan sah terhadap kehidupan masyarakat. Seperti yang ditunjukkan oleh para penulis laporan International Commission on Intervention and State Sovereignity (ICISS), doktrin keamanan nasional juga menghabiskan banyak kekayaan negara dan sumberdaya manusia untuk persenjataan dan angkatan bersenjata, sementara negara gagal melindungi warganya dari ketidakamanan kronis seperti kelaparan, penyakit, pemukiman tidak layak, kejahatan, pengangguran, konflik sosial, dan bahaya lingkungan. Lebih jauh lagi, doktrin keamanan nasional berfungsi untuk membungkam oposisi dan telah memberikan pihak yang berkuasa banyak kesempatan untuk mengekspoitasi ancaman untuk kepentingan domestik, untuk mengklaim hak menangani sesuatu dengan kontrol dan batasan demokratis yang kurang.

4.

Critical Insight Kritik paling keras terhadap konsep human security secara umum adalah

bahwa human security itu buram, incoherent, arbitrary, dan sulit untuk dipraktikkan. Banyak kritikus akan setuju dengan Roland Paris bahwa definisi eksisting dari human security adalah cenderung luarbiasa ekspansif dan buram, merujuk segalanya dari physical security hingga psychological wellbeing, yang memberikan para pembuat keputusan sedikit panduan dalam memprioritaskan tujuan-tujuan yang saling berkompetisi dan bagi akademisi sedikit arahan mengenai apa sebenarnya yang dipelajari. Apakah kita harus setuju dengan pandangan Paris yang menyatakan bahwa ambiguitas dari konsep tersebut menyebabkan human security sebagai useless tool bagi penelitian

24

akademis atau pembuatan keputusan? Bila tidak, pendekatan mana (sempit atau luas) yang paling cocok untuk melindungi human security di dunia pasca 9/11? Terlebih lagi, apakah prinsip-prinsip yang menyebabkan

ketidakamanan/insecurity pasca 9/11, terutama bagi mereka di bagian selatan bumi ini?. Banyak para ilmuwan yang mengkaji human security berkutat antara dua kontradiksi sentral yang terletak pada inti dari pendekatan human security. Pertama memperhatikan peran dari unit primer dalam tatanan international : negara berdaulat secara teritorial. Dilain pihak, pendekatan human security menandai kemajuan dalam studi keamanan secara khusus dan hubungan internasional secara umum, karena human security membuat individu dan bukan negara berdaulat sebagai obyek referent dari keamanan. Tetapi di lain pihak, konsep human security melengkapi atau bahkan memperkuat doktrin keamanan nasional. Tentunya, konsep human security seperti diadvokasi oleh PBB dibawah pimpinan Kofi Annan dalam naungan rekomendasi dari laporan ICISS dan CHS berusaha untuk memberdayakan (kembali) negara dengan menuntutnya melaksanakan responsibility to protect (R2P) terhadap warganya dalam dunia global. Menurut MacFarlane dan Khong, human security bukan mengenai transending atau marginalisasi negara tetapi mengenai jaminan bahwa negara melindungi rakyatnya. Hal ini memunculkan keprihatinan, seperti yang ditunjukkan oleh beberapa ahli, bahwa human security cukup malleable untuk digunakan melegitimasi kontrol lebih besar dari negara terhadap masyarakat dengan alasan perlindungan/protection. Dengan kata lain, konsep human security menuju kepada securitization yang lebih besar terhadap keseharian masyarakat. Lebih jauh, dalam kasus-kasus dimana negara tidak cukup kuat melindungi rakyatnya, konsep human security bisa digunakan untuk legitimasi intervensi dan kehadiran personil militer di wilayah strategis penting di selatan oleh negara-negara barat, memfasilitasi proyek-proyek neo-konsevatif dari imperialisme demokratik. Pendek kata, konsep human security merupakan

25

pedang bermata dua : cukup tajam untuk menembus perisai kedaulatan yang negara berusaha lindungi dan menginsulasi negara dari tantangan subaltern warga negaranya, tetapi tidak cukup tajam untuk digunakan negara-negara untuk legitimasi kepentingan strategis mereka dan seringkali blantantly material. Kontradiksi sentral kedua memperhatikan pengaruh-pengaruh dari apa yang disebut sebagai globalisasi human security. Globalisasi didefinisikan sebagai proses (atau serangkaian proses) yang membentuk suatu transformasi dalam organisasi spasial dari hubungan sosial dan transaksi/pertukaran-dikaji dalam konteks extensity, intensity, velocity, dan impact-menghasilkan aliran dan jaringan kegiatan, interaksi, dan praktik-praktik kekuasaan secara

transkontinental atau interregional. Dalam konteks ekonomi, globalisasi merujuk kepada perluasan dan pendalaman arus internasional dari perdagangan, keuangan, dan informasi dalam satu pasar global terintegrasi. Dilain pihak, penciptaan ekonomi global pada garis kapitalis dilandaskan kepada

meningkatnya pergerakan barang dan jasa melintasi batas-batas negara telah menyebabkan meningkatnya saling ketergantungan/interdependency, integrasi dan emeshment antara ekonomi nasional menuju kepada periode sustained dari pertumbuhan ekonomi bagi ekonomi global. Tetapi, keuntungan dari globalisasi ekonomi belum terdistribusi secara merata, baik secara domestik maupun global. Lebih jauh, terdapat bukti yang menyarankan bahwa

ketidaksetaraan/inequality dan ketidakamanan/insecurity pada skala global meningkat seiring banyaknya orang di negara-negara berkembang, terutama di Afrika sub-Sahara, telah mengalami penurunan pendapatan dan asupan kalori. Ini menyebabkan meningkatnya perdebatan bahwa globalisasi neo-liberal atau predatory globalization yang telah mengambil bentuk liberalisasi yang lebih besar, privatisasi, dan disiplin fiskal, dialami oleh banyak orang di negara berkembang secara coersive melalui Structural Adjustment Programmes (SAPs) dari IMF/World Bank, memiliki efek detrimental pada kemampuan negara untuk

26

melindungi warga negaranya dari kemiskinan, kesehatan yang buruk, dan kelaparan. Negara di wilayah selatan, oleh karenanya ditempatkan pada posisi sulit. Disatu sisi, dituntut untuk melakukan responsibility to protect terhadap warga negaranya dari want and fear. Disisi lainnya, kemampuan untuk melaksanakan tanggungjawab tersebut dilumpuhkan oleh efek dari globalisasi ekonomi.

Sumber : 1. Human Security : Concept and Measurement 2. Human Security Now (CHS report 2003) 3. Human Security : After 9/11 4. Human security in East Asia 5. Journal of Human security Studies

27