Anda di halaman 1dari 21

1. KESESUAIAN DAN KEMAMPUAN LAHAN a.

Kesesuaian Lahan 1) Pengertian Keseuaian Lahan: Kesesuaian lahan adalah tingkat kecocokan suatu bidang lahan untuk suatu penggunaan tertentu. 2) Pengertian Klasifikasi Kesesuaian Lahan: Klasifikasi kesesuaian lahan adalah perbandingan (matching) antara kualitas lahan dengan persyaratan penggunaan lahan yang diinginkan. 3) Struktur Klasifikasi Keseuaian Lahan: Struktur klasifikasi kesesuaian lahan menurut kerangka kerja FAO 1976 dalam Rayes (2007) adalah terdiri dari 4 kategori sebagai berikut: (1) Ordo (Order): menunjukkan keadaan kesesuaian secara umum. (2) Klas (Class) : menunjukkan tingkat kesesuaian dalam ordo. (3) Sub-Klas : menunjukkan keadaan tingkatan dalam kelas yang didasarkan pada jenis pembatas atau macam perbaikan yang diperlukan dalam kelas. (4) Satuan (Unit): menunjukkan tingkatan dalam sub-kelas didasarkan pada perbedaanperbedaan kecil yang berpengaruh dalam pengelolaannya. Kesesuaian Lahan Pada Tingkat Ordo: Kesesuaian lahan pada tingkat Ordo berdasarkan kerangka kerja evaluasi lahan FAO (1976) dibedakan menjadi 2 kategori, yaitu: (1) Ordo S : Sesuai (Suitable) Ordo S atau Sesuai (Suitable) adalah lahan yang dapat digunakan untuk penggunaan tertentu secara lestari, tanpa atau sedikit resiko kerusakan terhadap sumber daya lahannya. Penggunaan lahan tersebut akan memberi keuntungan lebih besar daripada masukan yang diberikan. (2) Ordo N: Tidak Sesuai (Not Suitable) Ordo N atau tidak sesuai (not suitable) adalah lahan yang mempunyai pembatas demikian rupa sehingga mencegah penggunaan secara lestari untuk suatu tujuan yang direncanakan. Lahan kategori ini yaitu tidak sesuai untuk penggunaan tertentu karena beberapa alasan. Hal ini dapat terjadi karena penggunaan lahan yang diusulkan secara teknis tidak memungkinkan untuk dilaksanakan, misalnya membangun irigasi pada lahan yang curamyang berbatu, atau karena dapat menyebabkan degradasi lingkungan yang parah, seperti penanaman pada lereng yang curam. Selain itu, sering pula didasarkan pada pertimbangan ekonomi yaitu nilai keuntungan yang diharapkan lebih kecil daripada biaya yang dikeluarkan. Kesesuaian Lahan pada Tingkat Kelas Pengertian Kelas Kesesuaian Lahan: Kelas kesesuaian lahan merupakan pembagian lebih lanjut dari Ordo dan menggambarkan tingkat kesesuaian dari suatu Ordo.
1

Tingkat dalam kelas ditunjukkan oleh angka (nomor urut) yang ditulis dibelakang simbol Ordo. Nomor urut tersebut menunjukkan tingkatan kelas yang makin menurun dalam suatu Ordo. Jumlah kelas yang dianjurkan adalah sebanyak 3 (tiga) kelas dalam Ordo S, yaitu: S1, S2, S3 dan 2 (dua) kelas dalam Ordo N, yaitu: N1 dan N2. Penjelasan secara kualitatif dari definisi dalam pembagian kelas disajikan dalam uraian berikut: Kelas S1: Kelas S1 atau Sangat Sesuai (Highly Suitable) merupakan lahan yang tidak mempunyai pembatas yang berat untuk penggunaan secara lestari atau hanya mempunyai pembatas tidak berarti dan tidak berpengaruh nyata terhadap produksi serta tidak menyebabkan kenaikan masukan yang diberikan pada umumnya. Kelas S2: Kelas S2 atau Cukup Sesuai (Moderately Suitable) merupakan lahan yang mempunyai pembatas agak berat untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus dilakukan. Pembatas akan mengurangi produktivitas dan keuntungan, serta meningkatkan masukan yang diperlukan. Kelas S3: Kelas S3 atau Sesuai Marginal (Marginal Suitable) merupakan lahan yang mempunyai pembatas yang sangat berat untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus dilakukan.Pembatas akan mengurangi produktivitas dan keuntungan. Perlu ditingkatkan masukan yang diperlukan. Kelas N1: Kelas N1 atau Tidak Sesuai Saat Ini (Currently Not Suitable) merupakan lahan yang mempunyai pembatas yang lebih berat, tapi masih mungkin untuk diatasi, hanya tidak dapat diperbaiki dengan tingkat pengetahuan sekarang ini dengan biaya yang rasional. Faktor-faktor pembatasnya begitu berat sehingga menghalangi keberhasilan penggunaan lahan yang lestari dalam jangka panjang. Kelas N2: Kelas N2 atau Tidak Sesuai Selamanya (Permanently Not Suitable) merupakan lahan yang mempunyai pembatas yang sangat berat, sehingga tidak mungkin digunakan bagi suatu penggunaan yang lestari. b. Kemampuan lahan 1) Pengertian kemampuan lahan kemampuan suatu lahan untuk digunakan sebagai usaha pertanian yang paling intensif yang termasuk juga tindakan pengelolaannyatanpa menyebabkan tanahnya menjadi rusak dalam jangka waktu yang terbatas.Lahan yang mempunyai kemampuan yang baik memiliki sifat fisik dan kimiay a n g s e s u a i d e n g a n k e b u t u h a n t a n a m a n s e h i n g g a a k a n m a m p u m e n d u k u n g pertumbuhan dan produksi tanaman secara optimal dan berkesinambungan.

2) Klasifikasi kelas kemampuan lahan Yaitu Tingkat kecocokan pola penggunaan lahan . Berdasarkan kelas kemampuannya, lahan dikelompokkan dalam delapan kelas. Lahan kelas I sampai IV merupakan lahan yang sesuai bagi usaha pertanian, sedangkan lahan kelas V sampai VIII merupakan lahan yang tidak sesuai untuk usaha pertanian. Ketidak sesuaian ini bisa jadi karena biaya pengolahannya lebih tinggi dibandingkan hasil yang bisa dicapai. Secara lebih terperinci, kelas-kelas kemempuan lahandapat dideskripsikan sebagaiberikut: Kelas I.Merupakan lahan dengan cirri tanah datar, butiran tanah agak halus, mudah diolah, sangat responsive terhadap pemupukan dan memiliki system pengaliran air yang baik. Tanah kelasI sesuai untuk semua jenis penggunaan pertanian tanpa memerlukan usaha pengawetan tanah. Untuk meningkatkan kesuburannya dapat dilakukan pemupukan. Kelas II.Merupakan lahan denga ciri lereng landai, butiran tanah yang halus sampai agak kasar. Tanah kelas II agak peka terhadap erosi. Tanah ini sesuai untuk usaha pertanian dengan tindakan pengawetan tanah yang ringan, seperti pengolahan tanah berdasarkan garis ketinggian dan penggunaan pupuk hijau. Kelas III Merupakan lahan dengan cirri tanah terletak di daerah yang agak miring dengan system pengairan air yang kurang baik. Tanah kelas III sesuai untuk segala jenis usaha pertanian dengan tindakan pengawetan tanah yang khusus seperti pembuatan terasering, pergiliran tanaman dan system penanaman berjalur. Untuk mempertahankan kesuburan tanah perlu pemupukan Kelas IV,Merupakan lahan dengan cirri tanah terletak pada wilayah yang miring sekitar 12-30% dengan system pengairan yang buruk. Tanah kelas IV ini masih dapat dijadikan lahan pertanian dengan tingkatan pengawetan tanah yang lebih khusus dan lebihberat. Kelas V,Merupakan lahan dengan cirri terletak di wilayah yang datar atau agak cekung, namun permukaannya banyak mengandung batu dan tanah liat. Karena terdapat di daerah yang cekung tanah ini sering kali tergenag air sehingga tingkat keasaman tanahnya tinggi. Tanah ini tidak cocok untuk dijadikan lahan pertanian, tetapi ini pun lebih sesuai untuk dijadikan padang rumput atau dihutankan. Kelas VI,Merupakan lahan dengan cirri ketebalantanahnya tipis dan terletak di daerah yang agak curam dengan kemiringan lahan sekitar 30-45 %. Lahan kelas VI ini mudah sekali tererosi,sehingga lahan ini pun lebih sesuai untuk dijadikan padang rumpu tatau dihutankan Kelas VII,Merupakan lahan dengan ciriter letak di wilayah yang sangat curam dengan kemiringan antara 45-65 % dan tanahnya sudah mengalami erosi berat. Tanah ini sama sekali tidak sesuai untuk dijadikan lahan pertanian, namun lebih sesuai ditanami tanaman tahunan (tanaman keras).

Kelas VIII,Merupakan lahan dengan cirri terletak di daerah dengan kemiringan di atas 65 %, butiran tanah kasar dan mudah lepas dari induknya. Tanah ini sangat rawan terhadap kerusakan, karena itu lahan kelas VIII harus dibiarkan secara alamiah tanpa campur tangan manusia atau dibuat cagar alam. c. Indeks kemampuan lahan Indeks kemampuan lahan dilakukan dengan pendekatan kualitatif, yaitu evaluasi yang dilaksanakan dengan cara mengelompokkan lahan kedalam beberapa kategori berdasarkan parameter pembanding kualitas lahan, agar seterusnya dapat dilakukan klasifikasi kemampuan lahannya. Klasifikasi kemampuan lahan adalah pengelompokkan lahan kedalam satuan-satuan khusus menurut kemampuannya untuk penggunaan yang paling intensif dan perlakukan yang diberikan untuk dapat digunakan secara terus menerus. Oleh karena itu sistem klasifikasi lahan ini bertujuan mengelompokkan lahan yang dapat digarap menurut potensi dan penghambatnya untuk dapat berproduksi secara lestari. Sistem tersebut didasarkan pada faktor-faktor penghambat dan potensi bahaya lain yang masih dapat diterima dalam klasifikasi lahan (Sitorus, 1985). Potensi lahan dinyatakan dengan nilai angka yang disebut Indeks Potensi lahan (IPL). Besarnya IPL ditentukan oleh pengharkatan 5 faktor perhitungan formula rasional berikut: Keterangan : IPL R L T H B = = = = = = Indeks Potensi Lahan Harkat Faktor Relief atau Topografi Harkat Faktor Litologi Harkat Faktor Tanah Harkat Faktor Hidrologi Harkat Kerawanan Bencana atau Pembatas

Indeks Potensi Lahan (IPL) menyatakan potensi relatif lahan untuk kegunaan umum. Semakin tinggi nilai IPL maka semakin tinggi pula kemampuan lahan tersebut apabila digunakan untuk kegiatan pengolahan lahannya sehingga dapat memberikan hasil yang optimal. Potensi lahan dapat digolongkan secara relatif menjadi 5 kelas yaitu Tabel 1 Kelas Indeks Potensi Lahan Kelas Kelas Lahan I. II. III. IV. V. Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah

(Sumber : Anonim, 1998)


4

2. METODE ANALISIS KESESUAIAN DAN KEMAMPUAN LAHAN SERTA DATA DAN PETA YANG DIBUTUHKAN a. Mempersiapkan bahan dan alat Bahan dan alat yang dibutuhkan untuk kegiatan inventarisasi sumber daya lahan terdiri dari peta dan foto udara, perangkat penafsiran foto udara dan perangkat pengelola data. Bahan:

Peta topografi atau rupa bumi 1 : 50 000 sebagai peta dasar Foto udara skala 1 : 50 000 atau lebih besar

Peralatan:

Peralatan tulis dan untuk penafsiran foto Peralatan lapangan untuk survei tanah. Peralatan penafsiran foto udara: stereoskop cermin dan saku, zoom transferscope Perangkat pengelola data: terdiri dari perangkat keras (komputer, digitizer, printer dan plotter) dan perangkat lunak (program SIG dan program pengelolaan data dasar).

b. Pembatasan Unit Lahan. Pembatasan unit lahan dilakukan melalui penafsiran citra, baik foto udara maupun citra satelit. Penafsiran foto udara atau klasifikasi citra satelit pada tahap persiapan dititikberatkan untuk membatasi satuan lahan yang mempunyai karakteristik fisik yang sama. Dalam hal ini digunakan satuan bentuk lahan (landform). Hasil dari tahap ini akan menjadi masukan data yang berupa data grafis pada SIG. Satuan lahan ini selanjutnya dapat digunakan untuk referensi batas petak, sehingga setiap petak akan mempunyai karakteristik fisik yang sama. Dengan demikian disarankan batas petak menggunakan batas alam. Prosedur pembatasan unit lahan dapat diuraikan sebagai berikut: 1) Persiapan o Siapkan stereoskop cermin o Siapkan pasangan foto udara yang akan digunakan untuk penafsiran o Siapkan kertas transparansi dan pena transparansi o Siapkan peta-peta dasar yang berupa peta topografi skala 1 : 50 000, peta petak skala 1 : 50 000 dan peta geologi skala 1 : 250 000. o Tempelkan kertas transparansi di atas foto udara dengan selotip. 2) Identifikasi Lokasi o Identifikasikan lokasi dengan penandaan gambaran yang mudah ditentukan, misalnya desa, jalan, sungai dsb. o Identifikasikan lokasi tersebut pada peta-peta dasar yang ada. 3) Delineasi Unit Lahan
5

Batasi tiap-tiap satuan bukit dan dataran sebagai satu satuan bentuk lahan (landform unit). o Setiap satuan bentuk lahan dibagi lagi menjadi beberapa unit berdasarkan keseragaman kemiringan lereng. o Unit yang ada dibagi lagi berdasarkan jenis tanaman dan kelompok umur tanaman yang ada. Satuan terkecil yang diperoleh tersebut merupakan unit lahan yang akan dinilai parameter-parameter fisik lahannya. Contoh pembatasan unit lahan dengan bantuan foto udara dapat dilihat pada Gambar 2a dan 2b. 4) Transfer Batas Unit Lahan ke Peta Dasar. o Hasil penafsiran foto udara perlu ditransfer ke peta dasar. Peta dasar yang digunakan adalah peta petak skala 1 : 25 000 atau 1 : 50 000 o Perlu dicatat bahwa foto udara yang digunakan mungkin mempunyai skala yang berbeda dengan peta dasar sehingga dibutuhkan alat bantu yang disebut Zoom trasferscope. Bila alat bantu (zoom transferscope) tersebut tidak tersedia maka pemindahan hasil penafsiran bisa menggunakan cara bebas (free hand).

Gambar 1. Pembatasan Unit Lahan : Gambaran Unit lahan di Lapangan (atas) Pembatasan Unit Lahan di Foto Udara
6

c. Mempelajari dan menafsirkan parameter yang terkait Aspek Lahan: Bentuk lahan Kemiringan dan arah lereng Kondisi drainase Kondisi permukaan Aspek Tanah Jenis tanah Tipe batuan dan kedalaman regolit Kedalaman tanah Sifat fisik tanah Keasaman tanah (pH tanah) Kondisi Erosi Jenis dan tingkat erosi Prosentase lahan tererosi dalam satu satuan lahan. Aspek Tanaman Aspek Iklim Rata-rata hujan setahun (dari rekaman data 10 tahun terakhir) Jumlah bulan basah dalam setahun Jumlah bulan kering dalam setahun Berikut adalah uraian tentang identifikasi masing-masing parameter di lapangan yang akan digunakan pada klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan 1. Bentuk Lahan

2. Kemiringan dan Arah Lereng.

3. Kondisi Drainase

4. Kondisi Permukaan Lahan.

5. Jenis Tanah.

6. Tipe batuan dan Kedalaman Regolit.

7. Kedalaman Tanah.

10

8. Sifat Fisik Tanah.

9. Sifat Kimia Tanah.

11

10. Kondisi Erosi

11. Iklim.

d. Survei kelapangan e. Survei inventarisasi sumber daya lahan dari hadil foto udara Survei inventarisasi sumber daya lahan dilaksanakan dengan mendeskripsikan setiap unit lahan di lapangan dan memanfaatkan bahan informasi yang diperoleh dari penafsiran foto udara. Jumlah titik atau tempat yang dideskripsikan di setiap unit lahan tergantung pada skala surveinya. Hubungan antara skala survei dan jumlah titik sampel pengamatan dapat dilihat pada Tabel 1

12

f. Pengelolaan Data inventarisasi sumber daya lahan

Keterangan: LU = land unit LF = Landform SL = Slope = kemiringan lereng DR = Drainase PrBT = Prosentase Batuan PrSg = Prosentase singkapan Tbt = Tipe batuan Teks = Tekstur tanah Struk = Struktur tanah pH = Keasaman tanah KdT = Kedalaman tanah

13

3. CONTOH KASUS DAN LANGKAH LANGKAH DALAM ANALISIS KESESUAIAN LAHAN DAN KEMAMPUAN LAHAN Kasus: kesesuaian dan kemampuan lahan untuk kegiatan pengembangan Hutan Rakyat dan mendukung silvikultur hutan tanaman baik program PHBM maupun HKM dengai menggunakan SIG a. Mengklasifikasikan kemampuan lahan

b. Mengklasifikasikan kesesuaian lahan

14

c. Mengklasifikasikan kemampuan dan kesesuaian lahan dengan pendayagunaan SIG Sistem Informasi Geografi (SIG) merupakan suatu sistem analisis yang digunakan untuk operasi analisa data spasial. Data spasial merupakan data yang berkaitan dengan suatu tempat (locational) dan terdiri dari dua bentuk yaitu data grafis dan data atribut yang menerangkan data grafis tersebut (Gambar 4). Analisa SIG yang sudah lama dikenal adalah analisa tumpang susun (overlay) dan analisa basis data dalam tabel. Prinsip dasar analisa ini sudah lama dikenal dan dilaksanakan secara manual, terutama oleh perencana untuk mendukung pengambilan keputusan yang berkaitan dengan suatu pengelolaan. Perkembangan komputerisasi dan kartografi kemudian memungkinkan analisis dalam SIG yang dahulunya dikerjakan secara manual sekarang dapat dikerjakan secara elektronis sehingga prosesnya lebih cepat dan hasilnya akurat.

15

16

1. Pemasukan data. a) Jenis data yang akan dimasukkan ke dalam sistem dapat dibagi menjadi dua bentuk yaitu data grafis (berupa peta-peta dasar dan peta hasil penafsiran foto udara) dan data atribut (berupa data hasil penilaian parameter fisik lapangan di setiap unit lahan pada waktu ISDL). b) Data grafis dimasukkan ke dalam sistem melalui proses Digitasi, sedangkan data atribut langsung dimasukkan melalui sistem pengelolaan data dasar (Database Management System/ DBMS). DBMS yang saat ini banyak dikenal yaitu DBASE IV. c) Pemasukan lembar peta baru (coverage) harus selalu dimulai dengan pemasukan titik kontrol. Pada umumnya setiap perangkat lunak SIG menghendaki paling sedikit empat titik kontrol. Titik-titik kontrol ini harus jelas posisinya dan mudah diidentifikasi koordinatnya di peta dasar maupun di lapangan, karena titik-titik ini nantinya digunakan untuk transformasi. Persimpangan jalan atau percabangan sungai dapat digunakan sebagai titik-titik kontrol yang mudah diidentifikasi. d) Pada saat digitasi akan terjadi dua kemungkinan kesalahan penggambaran pada pertemuan dua garis, yaitu garis yang tidak bertemu (undershoot) dan garis yang berpotongan (overshoot). Berdasarkan pengalaman editing garis berpotongan lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan garis yang tidak bertemu. Untuk itu dianjurkan melebihkan garis pada akhir digitasi. Garis tak menyambung (Undershoot) Garis yang berpotongan (Overshoot)

Gambar 6 : Cara mengakhiri digitasi pada ujung garis e) Sesuai dengan jenis gambaran yang ada (titik, garis dan poligon), maka digitasi tiap lembar perlu ditentukan jenis gambaran nya. Sungai dan jalan dimasukkan ke dalam sistem sebagai lembar garis (line coverage), peta unit lahan dan peta hujan dimasukkan sebagai lembar poligon (polygon coverage), sampel pengamatan dan desa dimasukkan sebagai lembar titik (point polygon). f) Data atribut dimasukkan langsung dengan fasilitas DBMS yang ada. 2. Transformasi dan Pembentukan Topologi
17

a) Transformasi dilakukan untuk memproyeksikan koordinat suatu coverage dari suatu sistem koordinat ke sistem koordinat baku. Hal ini diperlukan karena pada waktu melakukan masukan data malalui digitizer, koordinat yang digunakan adalah koordinat digitizer. Transformasi ini didasarkan pada titiktitik kontrol yang telah ditentukan pada saat digitasi. Transformasi dilakukan dengan mengganti koordinat digitizer suatu coverage dengan koordinat sebenarnya yang diperoleh dari peta rujukan. Peta kerja yang telah disiapkan kemudian ditransformasikan ke coverage kosong yang telah mempunyai koordinat peta rujukan tersebut. b) Transformasi dianjurkan untuk menggunakan sistem proyeksi UTM. Bila peta dasarnya belum mempunyai proyeksi peta tertentu, maka bisa menggunakan peta dasar berkoordinat UTM sebagai referensi dengan menggunakan titik kontrol. Namun bila peta kerja mempunyai sistem proyeksi peta yang belum seragam, perlu disamakan terlebih dahulu. Ada beberapa perangkat lunak untuk mengkonversi sistem proyeksi peta yang berbeda. c) Setelah peta ditransformasikan, maka bisa dibuat plotting dengan berbagai skala sesuai kebutuhan. d) Topologi dalam bahasa yang sederhana bisa diartikan sebagai hubungan antara data grafis dengan tabel atribut. Di setiap perangkat lunak telah tersedia fasilitas untuk pembentukan topologi secara otomatis. Pada ARC/INFO, misalnya, tersedia BUILD dan CLEAN. 3. Editing Perbaikan hasil digitasi data grafis mutlak diperlukan untuk mendapatkan data yang akurat. Proses pembentukan hasil pemasukan data ini biasa disebut editing. Beberapa kesalahan yang sering timbul pada proses digitasi, yaitu:

Poligon yang tidak berlabel atau mempunyai label lebih dari satu Kesalahan pada saat mengakhiri digitasi garis (overshoot dan undershoot) Kesalahan posisi label Penomoran label Kesalahan penomoran

4. Analisis Secara garis besar ada dua jenis analisis dalam SIG yang digunakan dalam proses Klasifikasi Kemampuan dan Kesesuaian Lahan, yaitu analisis data grafis dan analisis data dasar. Analisis data grafis lebih dikenal dengan tumpang susun (overlay), sedangkan analisis data dasar disebut query. a. Tumpang Susun (overlay) Tumpang Susun (overlay) suatu data grafis adalah menggabungkan antara dua atau lebih data grafis untuk diperoleh data grafis baru yang memiliki satuan peta gabungan dari dua atau lebih data grafis tersebut. Jadi akan diperoleh suatu peta baru. Untuk dapat melakukan tumpang susun, semua data grafis harus memiliki sistem koordinat yang sama. Koordinat yang sama diperoleh dari hasil transformasi nilai
18

koordinat digitizer ataupun nilai koordinat yang sebenarnya. Dengan memasukkan nilai koordinat sebenarnya akan diperoleh luasan baku masing-masing unit lahan. Tumpang susun dapat dilakukan dengan perintah identity, intersect, union dan update. Pada kegiatan analisis kemampuan dan kesesuain lahan, tumpangsusun dilakukan untuk menggabungkan peta unit lahan dengan peta hujan, peta petak dan peta topografi (Gambar 1). Dengan SIG yang berstruktur data vektor melalui penggabungan tersebut akan diperoleh data vektor baru yang merupakan kombinasi data-data dari coverage/peta yang digabungkan. Sedangkan pada SIG yang berstruktur data raster, informasi yang terbentuk akan tercampur menjadi suatu nilai pixel baru. b. Analisis Basis Data Analisis ini hanya dilakukan pada SIG yang berstruktur data vektor. Prinsip dasar untuk melakukan analisis ini adalah melakukan perhitungan atau sleksi kriteria menurut kolo-kolom dalam basis data. Untuk memudahkan prosedur kerja dan meneliti kebenaran operasi analisis data, maka dianjurkan untuk menggunakan bahasa makro sederhana yang dituliskan sesuai dengan kriterianya. Penulisan bahas makro dapat dimasukkan pada textfile kemudian baru dijalankan pada programnya. Analisis basis data untuk klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan dilakukan dengan menggunakan urutan perintah makro berdasarkan kriteria kemampuan dan kesesuaian lahan, yang dijalankan pada tabel atribut pada coverage hasil penggabungan. Kriteria klasifikasi kemampuan lahan dapat dilihat pada Lampiran 1 dan contoh urutan bahasa makro yang mendasarkan pada kriteria tersebut dapat dilihat pada Lampiran 3. Contoh kriteria kesesuaian lahan untuk beberapa jenis tanaman industri,, tanaman pangan dan tanaman buah dapat dilihat pada Lampiran 2 dan contoh urutan bahasa makro untuk melakukan analisis pada Lampiran 4. Pada tabel basis data atau tabel atribut, hasil klasifikasi tersebut perlu dimasukkan padakolom tersendiri, sehingga memudahkan untuk menyajikan suatu tampilan hasil klasifikasi. IV. PENYAJIAN HASIL KLASIFIKASI Penyajian hasil klasifikasi dapat dilakukan dalam tiga bentuk yaitu melalui suatu cetakan tabel basis data atau tabel hasil analisis frekuensu, cetakan peta dan penayangan tabel basis data dan data grafis pada monitor melalui fasilitas display. Penayangan dan pencetakan tabel basis data dapat berupa penayangan seluruh data, sebagian data maupun pengelompokan data. Pencetakan peta dapat dilakukan setelah terlebih dahulu disusun sustu komposisi peta. Sedangkan penayangan tabel basis data dan data grafis pada layar monitor dapat dilakukan dengan fasilitas display pada piranti lunak SIG atau piranti lunak khusus untuk display. Fasilitas display dalam suatu proses perencanaan dibutuhkan untuk menampilkan data dasar dan menyajikan hasil analisis yang telah dilakukan pada tahap sebeelumnya. Setiap piranti lunak akan mempunyai modul display. Pada PC ARC/INFO, misalnya modul display terdapat pada pada

19

ARCPLOT. Disamping itu ada pula perangkat lunak yang dirancang khusu untuk penayangan hasil analisis SIG misalnya ARCVIEW. Penampilan data dasar dan penyajian hasila anlisi dapat dilakukan melalui beberapa cara yaitu pembuatan komposisi peta atau tampilan menu (user interface). Tujuan utama membuat komposisi peta adalah untuk menyajikan informasi data grafis ke dalam format kartografiyang baik dan benar. Hasil komposisi peta dapat disimpan dalam bentuk plot file atau dapat juga langsung dicetak dengan plotter atau printer.

20

DAFTAR PUSTAKA Arsyad S, 1989, Konservasi Tanah dan Air, Penerbit IPB Bogor, 200pp CSR/FAO. 1983. Reconnaisance Land Resources Surveys 1 : 250.000 Scale, Atlas Format Procedures. Ministry of Agriculture and FAO/UNDP. Bogor. 106 pp. Desaunettes, J.R, 1977, Catalogue of Landforms for Indonesia, Soil Research Institute Bogor, FAO, 11 pp and appendixes Djaenuddin, D, Dkk, (1994), Kesesuaian Lahan untuk Tanaman Pertanian dan Kehutanan (Land Suitability for Agriculture and Silvicultural Plants), Second Land Resource Evaluation and Planning Project, ADB Loan 1099, INO, Laporan Teknis No 7 Versi 1.0. 51 pp FAO. 1976. A Framework for Land Evaluation. FAO Soils Bulletin no 32 and ILRI Publication no 22. International Institute for Land Reclamation and Improvement/ILRI. Wageningen. the Netherlands. 87 pp.

21