Anda di halaman 1dari 5

1.

Ekonomi pembangunan adalah Suatu cabang ilmu ekonomi yang menganalisis masalah-masalah yang dihadapi oleh negara-negara sedang berkembang dan mendapatkan cara-cara untuk mengatasi masalah-masalah tersebut supaya negaranegara berkembang dapat membangun ekonominya dengan lebih cepat lagi. 2. Ruang lingkup ekonomi pemabangunan: Berkaitan dengan alokasi sumber-sumber produktif yang langka dengan efisiensi dan pertumbuhannya Berkaitan dengan formulasi kebijaksanaan pemerintah baik ekonomi maupun non-ekonomi yang diantaranya dengan melibatkan variable-variabel ekonomi makro secara langsung (income, investasi, kesempatan kerja) dan gabungan factor-faktor non-ekonomi yang sama relevan (alokasi SDA yang efisien, perbaikan institusional, usaha-usaha perbaikan diri, nilai-nilai, sikap-sikap ekonomi, dan politik) baik dilakukan oleh pemerintah maupun swasta untuk mempercepat atau memperbesar skala tingkat hidup. 3. Berdasarkan konsep pembangunan berkelanjutan tersebut, maka indikator pembangunan berkelanjutan tidak akan terlepas dari aspek-aspek tersebut diatas, yaitu aspek ekonomi, ekologi/lingkungan, sosial, politik, dan budaya. Sejalan dengan pemikiran tersebut, Djajadiningrat (2005) dalam buku Suistanable Future: Menggagas Warisan peradaban bagi Anak Cucu, Seputar Pemikiran Surna Tjahja Djajadiningrat, menyatakan bahwa dalam pembangunan yang berkelanjutan terdapat 5 aspek keberlanjutan yang perlu diperhatikan, yaitu: 1. Keberlanjutan Ekologis 2. Keberlanjutan di Bidang Ekonomi 3. Keberlanjutan Sosial dan Budaya 4. Keberlanjutan Politik 5. Keberlanjutan Pertahanan Keamanan 6. CIRI-CIRI NEGARA SEDANG BERKEMBANG.

1. Memilikiberbagaimasalahkependudukan: Lajupertumbuhan dan jumlah penduduk relatif tinggi Persebaran penduduk tidak merata Tingginya angka beban tanggungan Kualitas penduduk relatif rendah sehingga mengakibatkan tingkat produktivitas penduduk juga rendah. Angka kemiskinan dan pengangguran relatif tinggi Rendahnya pendapatan perkapita 2. Tingkat pendidikan masih rendah 3. Tingkat pendapatan masih rendah 4. Tingkat kesehatan 5. Produktivitas masyarakat didominasi barang-barang primer 6. Pemanfaatan sumber daya alam belum optimal 7. Ketergantungan terhadap negara maju 8. Kesadaran hukum, kesetaraan gender, dan penghormatan terhadap HAM relatif rendah

Sedangkan, under-development adalah istilah yang sering digunakan untuk merujuk kepada keterbelakangan ekonomi, gejala yang meliputi kurangnya akses ke kesempatan kerja, pelayanan kesehatan, air minum, makanan, pendidikan dan perumahan.

5. Tingkat Pelayanan Publik dan Demokrasi-Partisipasi masyarakat dl pemilu legislatif dan pilpres sejalan dgn tren
nasional karena mobilisasi parpol dan kesadaran politik masyarakat Perda pelayanan satu atap sejalan dgn tren nasional dan meningkat karena kesadaran akan perbaikan pelayanan Penanganan korupsi meningkat (20062008) karena meningkatnya partisipasi civil society dl pelaporan kasus korupsi. Tingkat Kualitas Sumber Daya Manusia-IPM Sulsel dibawah rata-rata nasional karena rendahnya angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah, terkait dgn akses pendidikan yg rendah dan faktor budaya di pedesaan, pesisir, pulau, dataran tinggi. .Tren naik IPM/kualitas SDM pd 2007-2009 terkait dgn kebijakan pendidikan gratis dan kesehatan gratis yg memperbaiki akses pendidikan dan layanan kesehatan serta efek dr kebijakan nasional wajib belajar sembilan tahun, penuntasan buta aksara dan askeskin . Tren indikator kualitas SDM lainnya yakni peserta KB dan pertumbuhan penduduk naik sesuai capaian nasional terkait dgn efek program KB yg relatif konsisten Tingkat Pembangunan Ekonomi-Perbandingan kinerja tren rata-rata ketiga indikator (laju pertumbuhan ekonomi, persentase ekspor terhadap PDRB, dan persentase output manufaktur terhadap PDRB) Sulsel terhadap kinerja nasional, tren pertumbuhan ekonomi, ekspor, manufaktur inves- tasi yg meningkat terkait dgn: 1. pembangunan infrastruktur jalan, bandara, pelabuhan, pergudangan, rehabilitasi irigasi, cetak sawah baru; 2. efek dr upaya pengembangan UKM dan industri lokal melalui program Gerbang Emas (provinsi) dan program nasional seperti revitalisasi pertanian /perkebunan (kakao), promosi/kemudahan investasi, pengembangan pariwisata. 3. kenaikan harga kakao pd pasar internasional. . Pendapatan perkapita dibawah nasional terkait dgn do- minasi pertanian dl perekonomian dmn pertumbuhan menurun tetapi serapan tenaga kerja tinggi. Tingkat Pengelolaan SDA dan Lingkungan Hidup-Kinerja pengelolaan SDA cenderung menurun terkait dengan: 1. berkurangnya areal rehabilitasi lahan terkait dgn tdk berlanjutnya GNRHL; 2. kerusakan terumbu karang terkait dgn berlanjutnya praktek penangkapan ikan yg merusak sementara upaya penanganan terutama melalui program Coremap I dan II belum sepenuhnya efektif menahan laju kerusakan. 3. sejak 2007 pemerintah provinsi mendorong gerakan Go-Green (dlm bentuk penanaman pohon) dan didukung oleh pemerintah kabupaten/kota tetapi efeknya belum signifikan. Tingkat Kesejahteraan Sosial-Capaian kinerja kesra Sulsel terutama ditandai penurun- an % penduduk miskin dan % pengangguran terbuka. Penurunan penduduk miskin/pengangguran terkait dgn: 1. dampak berbagai program nasional (PPK, P2KP, PNPM, BLT, Raskin, Askeskin dsb); 2. dampak program provinsi dan kabupaten (Gerbang Emas dan Gerbang Taskin); 3. dampak berbagai program donor (Jica, Oxfam, DFID); 4. dampak berbagai program sektoral/departemental (PEMP-DKP; pengembangan agribisnis dan ketahanan pangan dsb; 5. remittance anggota keluarga miskin pedesaan yg menjadi TKI.

Indikator Pembangunan Indonesia Indikator pembangunan diperlukan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan pembangunan yang dilakukan berdasarkan ukuran-ukuran tertentu. Indikatorindikator kunci pembangunan secara garis besar pada dasarnya dapat diklasifikasikan menjadi (1) indikator ekonomi; (2) indikator sosial. Sedangkan yang termasuk sebagai indikator ekonomi adalah GNP (GNI) per kapita, laju pertumbuhan ekonomi, GDP per kapita dengan Purchasing Power Parity, sedangkan yang termasuk indikator sosial adalah Human Development Index (HDI) dan PQLI (Physical Quality Life Index) atau Indeks Mutu Hidup. 4. Strategi penanggulangan kemiskinan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Di Jepang, solusi yang diterapkan adalah dengan menerapkan pajak langsung yang progresif atas tanah dan terbatas pada rumah tangga petani pada lapisan pendapatan yang tinggi, sedangkan Cina melakukannya melalui pembentukan kerangka kelembagaan perdesaan dengan kerja sama kelompok dan brigades di tingkat daerah yang paling rendah (communes). Di sisi lain, solusi

pemberantasan kemiskinan di Taiwan melalui mobilisasi sumber daya dari sektor pertanian dengan mengandalkan mekanisme pasar. Selain strategi di atas, ada juga Model Pertumbuhan Berbasis Teknologi atau Rural-Led Development yang menyoroti potensi pesatnya pertumbuhan dalam sektor pertanian yang dibuka dengan kemajuan teknologi dan kemungkinan sektor pertanian menjadi sektor yang memimpin. Di Indonesia, salah satu strategi penanggulangan kemiskinan ditempuh melalui pemberdayaan partisipatif masyarakat melalui P2KP. Sasaran dari program ini adalah kaum miskin perkotaan yang sangat rentan terhadap krisis dibandingkan dengan masyarakat perdesaan. 9. Regulasi dan perundang-undangan dibuat sesusai dengan kebutuhan sebuah Negara. Pembangunan mempunyai dampak yang sangat besar thd semua factor atau indicator dalam kemajuan suatu Negara. Dimana kita tahu bahwa kemajuan dari ekonomi dunia tidak dapat dijangkau oleh seluruh sector tanpa adanya regulasi dan perundang-undangan yang telah di atur oleh pemerintah agar pembangunan di seluruh sector ekonomi mengikuti arus ekonomi dunia agar dapat terus berkembang. Dan pembangunan tanpa regulasi itu sendiri hanya akan timbul permasalahan-permasalahan baru. Regulasi dan perundangundangan mempunyai peran sebagai controller dalam pembangunan. 10. Sebagaimana yang tertuang dalam UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional, perencanaan pembangunan terdiri dari : 1. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), 2. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dan 3. Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Dilihat dari asas manfaat, dalam perencanaan pembangunan di Indonesia belum memiliki rencana pembangunan jangka panjang yang mungkin akan membuat pembangunan Indonesia di masa mendatang akan mengalami kesulitan. Pemerintah patut memikirkan hal ini untuk membantu generasi penerus dapat bertindak lebih baik daripada sebelumnya. Sedangkan dari asas keadilan, pemerintah sudah cukup baik walaupun dalam aktualisasinya masih di ragukan. Tapi kita tidak bisa menyalahkan penuh kepada pemerintah. Kesadaran masyarakat dan pola fikir masyarakat sendiri kadang tidak dapat mendukung seluruh kegiatan pembangunan. Banyak masyarakat yang hanya melihat dari satu sisi dalam pembangunan dimana pemerintah telah memikirkan dari berbagai sisi dalam perencanaan pembangunan. Hal ini membuat rencana dari berbagai kegiatan tidak dapat berkesinambungan. Dalam hal pemerataan, pemerintah sudah sangat baik dalam perencanaan pembangunan. Dapat kita lihat Berdasarkan rencana nasional tersebut semua sektor, dalam hal ini lembaga dan kementerian (K/L), menyusun Rencana Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra K/L) yang berpedoman kepada RPJM dan Rencana Kerja Kementerian/Lembaga (Renja K/L) yang berpedoman kepada RKP. Rencana pembangunan ini kemudian menjadi pedoman dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Pola perencanaan pembangunan daerah persis sama dengan pola perencanaan pembangungan nasional, dimana RPJP Nasional diacu oleh RPJP Daerah, RPJM Nasional diperhatikan oleh RPJM Daerah dan RKP diserasikan dengan RKP Daerah melalui musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang). Rencana pembangunan daerah ini menjadi pedoman dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Dengan kata lain, pemerataan secara nasional dan daerah sudah memiliki pola yang sama yang akan dapat membuat pembangunan secara merata.

7. Sebagaimana kita tahu, paradigma pembangunan Indonesia itu berpatokan pada pancasila. Kalau pada periode 1945-1950, agenda ekonomi belum terarah dan

sistematis, maka sejak tahun 1951 atau mulai masa demokrasi parlementer, paradigma pembangunan menjadi lebih jelas. Paradigma pembangunan Indonesia pada masa itu mencakup atas tiga isu utama. Pertama diperlukan model pembangunan yang dapat menghancurkan distorsi-distorsi kolonial. Model yang dimaksud adalah model dorongan kuat (big push), yakni strategi pembangunan yang mendorong semua sektor ekonomi untuk berkembang, melalui kebijakan intervensi pemerintah secara total . Kedua, intervensi yang dilakukan oleh pemerintah diprioritaskan pada sektor industri. Salah satu argumentasi terhadap pilihan industrialisasi adalah untuk memperbaiki struktur ekonomi yang berat sebelah atau cenderung pada sektor pertanian yang hampir 70 % penduduk Indonesia berada pada sektor itu. Padahal sektor pertanian memiliki nilai tambah kecil, dibandingkan sektor industri. Sehingga sudah pada galibnya kalau pemerintah harus mengambil peranan dalam pengembangan industrialisasi. Di sinilah peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi sangat penting. Ketiga, memberikan perhatian yang besar terhadap perkembangan kelompok usaha pribumi. Hal ini sebagian besar merupakan respons dari adanya adanya dualisme ekonomi dimana terdapat kesenjangan antara pengusaha asing yang kuat dan pribumi yang lemah.
8. hakekat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan
pembangunan masyarakat Indonesia seutuhnya, dengan pancasila sebagai dasar, tujuan dan pedoman pembangunan nasional. Pembangunan nasional dilaksanakan merata di seluruh tanah air dan tidak hanya untuk suatu golongan atau sebagaian dari masyarakat, tetapi untuk seluruh masyarakat, serta harus benar-benar dapat dirasakan seluruh rakyat sebagai perbaikan tingkat hidup yang berkeadilan sisio, yang menjadi tujuan dan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia. Pembangunan nasional dilaksanakan secara berencana menyeluruh terpadu, terarah, bertahap, dan berlanjut untuk memacu peningkatan kemapuan nasional dalam rangka mewujudkan kehidupan yang sejajar dan sedarat dengan bangsa lain yang lebih maju. Pembangunan nasional dilaksanakan bersama oleh masyarakat dan pemerintah. Masyarakat adalah pelaku utama pembangunan dan pemerintah yang memunjang. Kegiatan masyarakat dan kegiatan pemerintah saling menunjang, saling mengisi dan saling melengkapi dalam satu kesatuan langkah menuju tercapainya pembangunan nasional. Pembanguanan nasional diselenggarakan secara bertahap dalam jangka panjang 25 tahun dan jangka sedang 5 tahun, dengan mendayagunakan seluruh sumberdaya nasional untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional. Selain itu pembanguan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seperuhnya dan pembangunan seluruh rakyat Indonesia. Dan beberapa tujuan pembangunan nasional yang perlu kita pahami adalah: 1. Meningkatkan kualitas manusia dan masyarakat Indonesia 2. Melakukan usaha secara berkelanjutan 3. Melandasi diri pada kemampuan nasional 4. Memanfaatkan iptek 5.Memperhatikan tangtangan perkembangan global.