AKREDITASI GUDEP

Posted on November 24, 2011 by trisnomarsa1 AKREDITASI GUDEP MATRIK PENILAIAN INSTRUMEN AKREDITASI GUGUSDEPAN 1 STANDAR ADMINISTRASI GUGUSDEPAN A 1 Memiliki Nomor Gudep 2 Memiliki Buku Registrasi Pesertadidik 3 Memiliki Buku Catatan Pribadi Pesertadidik 4 Memiliki Buku Presensi 5 Memiliki Buku Daftar Anggota di setiap Satuan 6 Memiliki Log Book 7 Memiliki Buku Inventaris Satuan 8 Memiliki Buku Iuran 9 Memiliki Buku Administrasi Dana dan Keuangan Satuan 10 Memiliki Buku Registrasi Pembina dan Anggota Mabi 11 Memiliki Catatan/notulen rapat/risalah rapat 12 Memiliki Formulir Pelaksanaan Kegiatan 13 Memiliki Buku Agenda, Verbal dan expedisi surat menyurat 14 Memiliki Buku Acara Kegiatan 15 Memiliki Program Kegiatan 16 Memiliki Buku Laporan Keuangan Bulanan 17 Memiliki Buku Inventaris Gugusdepan 18 Memiliki Catatan tentang Pelaksanaan Pelatihan (Program Kegiatan) 19 Memiliki Buku Catatan Pribadi setiap Pembina 20 Mengirimkan laporan Gudep ke Kwarran dan Kwarcab 21 Memiliki Buletin Gudep B 1 Memiliki Nomor Gudep 2 Memiliki Buku Registrasi Pesertadidik 3 Memiliki Buku Catatan Pribadi Pesertadidik 4 Memiliki Buku Presensi 5 Memiliki Buku Daftar Anggota di setiap Satuan 6 Memiliki Log Book 7 Memiliki Buku Inventaris Satuan 8 Memiliki Buku Iuran 9 Memiliki Buku Administrasi Dana dan Keuangan Satuan Matrik Akreditasi 25 nop Page 1

Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan. kemandirian dan tanggungjawab. tanpa ketiga aspek ini. karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya. kedelapan. baik dan rendah hati. keenam. dan kesatuan. ketujuh. kepribadian dan akhlak mulia. yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive). namun juga berkepribadian atau berkarakter. suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama. Martin Luther King.PENDIDIKAN KARAKTER Posted on Desember 5. maka pendidikan karakter tidak akan efektif. dan tindakan (action). karakter toleransi. karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan. kelima. diplomatis. intelligence plus character… that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter… adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya). dan. diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan . Kesembilan pilar karakter itu. Menurut Thomas Lickona. perasaan (feeling). yakni. dermawan. percaya diri dan pekerja keras. ketiga. hormat dan santun. Memahami Pendidikan Karakter Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus. termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. bangsa dan negara. Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal. masyarakat. kedamaian. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat. kedua. baik dalam lingkup keluarga. kesembilan. kejujuran/amanah. 2011 by trisnomarsa1 PENDIDIKAN KARAKTER PENDIDIKAN KARAKTER Rate This Urgensi Pendidikan Karakter Prof . sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama. seorang anak akan menjadi cerdas emosinya.D Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan. Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas. juga pernah dikatakan Dr. yaitu: pertama. Suyanto Ph. keempat. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan. Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu. kepemimpinan dan keadilan.

seyogyanya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk dalam lingkungan sekolah. yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak. dan kemampuan berkomunikasi. yang dalam filosofi Jawa disebut digugu lan ditiru. Dasar pendidikan karakter ini. dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua.St. terutama bagi sebagian orang tua yang terjebak pada rutinitas yang padat. Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Marvin Berkowitz dari University of Missouri.al. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun. Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr.holistik menggunakan metode knowing the good. et. Namun bagi sebagian keluarga. dipertaruhkan. Hal itu sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat. Sebuah buku yang berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins. kemampuan bergaul. menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. rasa empati. terutama sejak play group dan taman kanak-kanak. dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). kemampuan bekerja sama. yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang bisa membuat orang senantiasa mau berbuat sesuatu kebaikan. Character Educator. karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Sehingga tumbuh kesadaran bahwa. yaitu rasa percaya diri. sudah sepatutnya pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Setelah terbiasa melakukan kebajikan. feeling the good. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan adanya penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik. Dampak Pendidikan Karakter Apa dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. yang berhadapan langsung dengan peserta didik. Di sinilah peran guru. barangkali proses pendidikan karakter yang sistematis di atas sangat sulit. orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. maka acting the good itu berubah menjadi kebiasaan. tetapi pada karakter. sebaiknya diterapkan sejak usia kanak-kanak atau yang biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age). ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi. 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Karena guru adalah ujung tombak di kelas. Karena itu. Dari sini. kemampuan berkonsentrasi. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin. yang diterbitkan oleh Character Education Partnership. Faktorfaktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak. Anak-anak yang mempunyai . Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good. dan acting the good. Louis.

Ph. pada dasarnya pembentukan karakter itu . Prof. selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa. SU. Prof.Dr. akan mengalami kesulitan belajar. perilaku seks bebas.MD. Prof. Seiring sosialisasi tentang relevansi pendidikan karakter ini.Dadan Wildan. dibidani oleh Pusat Kajian Nasional Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan UPI.dr. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. M. M. M. berakhlak mulia. Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah.Pd.” Dari bunyi pasal tersebut. Jepang. Prof. Pendidikan karakter kini memang menjadi isu utama pendidikan.si. Wamendiknas pun mengatakan bahwa. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis. Wamendiknas dalam acara ini mengungkapkan arti penting pendidikan karakter bagi bangsa dan negara.A. Prof. beliau pun menjelaskan bahwa pendidikan karakter sangat erat dan dilatar belakangi oleh keinginan mewujudkan konsensus nasional yang berparadigma Pancasila dan UUD 1945. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah.Hum dan Drs. Acara yang digelar di Balai Pertemuan UPI ini. Konsensus tersebut selanjutnya diperjelas melalui UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. sehat. semoga dalam waktu dekat tiap sekolah bisa segera menerapkannya.Fasli Jalal. hadir pula menjadi pembicara seperti Prof.Dr. berilmu.H. dan Korea. kemarin (1/06) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengadakan Rembuk Nasioanal dengan tema “ Membangun Karakter Bangsa dengan Berwawasan Kebangsaan”. miras. tawuran. cakap. Tidak kecuali di pendidikan tinggi.M. Selain Wakil Menteri Pendidikan Nasional.Dr. Sebaliknya para remaja yang berkarakter akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan. Di lingkungan Kemdiknas sendiri.Dr.D. Yadi Ruyadi. SH. dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab.Sunaryo Kartadinata. Cina. narkoba.Dr. mandiri.SH. yang berbunyi “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. pendidikan karakter pun mendapatkan perhatian yang cukup besar. dan sebagainya. Amerika Serikat.Mahfud.Jimly Asshiddiqie. Pendidikan Karakter Sebagai Pondasi Kesuksesan Peradaban Bangsa.masalah dalam kecerdasan emosinya. kreatif. agar nantinya lahir generasi bangsa yang selain cerdas juga berkarakter sesuai nilai-nilai luhur bangsa dan agama. Wamendiknas mengungkapkan bahwa telah terdapat 5 dari 8 potensi peserta didik yang implementasinya sangat lekat dengan tujuan pembentukan pendidikan karakter.H. Kelekatan inilah yang menjadi dasar hukum begitu pentingnya pelaksanaan pendidikan karakter. bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. pendidikan karakter ini pun diharapkan mampu menjadi pondasi utama dalam mensukseskan Indonesia Emas 2025. pendidikan karakter menjadi fokus pendidikan di seluruh jenjang pendidikan yang dibinannya. dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa.Djohermansyah Djohan.

Mendiknas. Wamendiknas menganjurkan agar setiap sekolah dan seluruh lembaga pendidikan memiliki school culture . Wamendiknas juga mengatakan bahwa hendaknya pendidikan karakter ini tidak dijadikan kurikulum yang baku. yang kemudian membentuk jati diri dan prilaku. Menbudpar. Menkokesra sebagai koordinator perumus pendidikan karakter ini menyebutkan bahwa setiap kementerian yang terikat memiliki program-program berencana mengenai pendidikan karakter yang nantinya diajukan sebagai bahan untuk mengagas lahirnya Keppres mengenai pendidikan karakter. Tetapi yang masih umum diterapkan mengenai pendidikan karakter ini masih pada taraf jenjang pendidikan pra sekolah (taman bermain dan taman kanak-kanak). diadakan Rapat Kerja yang membahas pendidikan karakter. tapi itu masih sebatas teori dan tidak dalam tataran aplikatif. Dalam Rapat Kerja tersebut dibahas mengenai kesiapan masing-masing kementerian mengenai pendidikan karakter tersebut. serta para pejabat eselon 1 kementerian terkait. Prihal pengembangannya sendiri. karena yang diperlukan adalah proses penyadaran dan pembiasaan. meskipun ada pelajaran pancasila. melainkan sebagai corong utama titik balik kesuksesan peradaban bangsa. agar para pemimpin dan pendidik lembaga pendidikan tersebut dapat mampu memberikan suri teladan mengenai karakter tersebut. Wamendiknas. di Ruang Rapat Komisi X. Selain itu mengenai sarana-prasaran. adalah Menkokesra. Semoga pendidikan karakter ini tidak hanya menjadi proses pencarian watak bangsa saja. Menag. . sementara pada jenjang sekolah dasar dan seterusnya masih sangat-sangat jarang sekali. Para anggota fraksi pun melihat pendidikan karakter ini sangat penting dalam membentuk akhlak dan paradigma masyarakat Indonesia. sehingga lingkungan memilki peranan yang cukup besar dalam membentuk jati diri dan prilaku. Menpora. Hadir dirapat tersebut selain 25 anggota fraksi. Dalam prosesnya sendiri fitrah Ilahi ini dangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan. dimana setiap sekolah memilih pendisiplinan dan kebiasaan mengenai karakter yang akan dibentuk. Menkokesra pun menyebutkan bahwa nantinya pendidikan karakter ini akan dijadikan aksi bersama dalam pelaksanaannya.dimulai dari fitrah yang diberikan Ilahi. kewarganegaraan dan semisalnya. mengingat ruang lingkup pendidikan karakter sendiri ssangatlah luas. Wamendiknas melihat bahwa kearifan lokal dan pendidikan di pesantern dapat dijadikan bahan rujukan mengenai pengembangan pendidikan karakter. kurikulum pendidikan di Indonesia masih belum menyentuh aspek karakter ini. Perwakilan Kementerian Dalam Negeri. DPR-RI. melainkan dibiasakan melalui proses pembelajaran. Lebih lanjut Wamendiknas pun berpesan. maka indonesia harus merombak istem pendidikan yang ada saat ini. pendidikan karakter ini tidak memiliki sarana-prasarana yang istimewa. Padahal jika Indonesia ingin memperbaiki mutu SDM dan segera bangkit dari ketinggalannya. Oleh karena itu Wamendiknas mengatakan bahwasanya sekolah sebagai bagian dari lingkungan memiliki peranan yang sangat penting. Sehari sebelum acara yang digelar di UPI ini ( 31/05). Saat ini mulai marak dibicarakan mengenai pendidikan karakter.

Namun masalahnya. narkoba. Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan. Dengan pendidikan karakter. seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. kemampuan bekerja sama. dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). yaitu rasa percaya diri. rasa empati. yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive). akan mengalami kesulitan belajar. menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. et. dan sebagainya. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin. Namun banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter. Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah. Marvin Berkowitz dari University of Missouri. miras. Sebuah buku yang baru terbit berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan. Menurut Thomas Lickona. Selain itu Daniel Goleman juga mengatakan bahwa banyak orang tua yang gagal dalam mendidik karakter anak-anaknya entah karena kesibukan atau karena lebih mementingkan aspek kognitif anak. walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Louis. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik. yang diterbitkan oleh Character Education Partnership.Mungkin banyak yang bertanya-tanya sebenarnya apa sih dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. tanpa ketiga aspek ini. tawuran. perilaku seks bebas.Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus. dan tindakan (action). dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. tetapi pada karakter. termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya.al. dan hanya baru-baru ini saja pentingnya pendidikan budi pekerti menjadi bahan . perasaan (feeling). kemampuan berkonsentrasi. Namun ini semua dapat dikoreksi dengan memberikan pendidikan karakter di sekolah. karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak. bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. dan kemampuan berkomunikasi. Kalau seorang anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik dari keluarganya. maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Sebaliknya para remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan. Character Educator. kebijakan pendidikan di Indonesia juga lebih mementingkan aspek kecerdasan otak. ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi. Hal ini sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat. anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya.St. Dikatakan bahwa ada sederet faktorfaktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. kemampuan bergaul.

pendidikan karakter atau budi pekerti plus adalah suatu yang urgent untuk dilakukan. lokakarya maupun workshop yang digelar di hampir seluruh wilayah Kalimantan Barat atau bahkan pelosok negeri. terlibat kriminalitas. Di sisi lain tidak sedikit pula peserta yang memilih melewati seminar. melibatkan 300 hingga 600 peserta. Juga Theodore Roosevelt yang mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat). Kami ingin mengutip kata-kata bijak dari pemikir besar dunia. Pada usia remaja biasanya keadaan ini akan mendorong remaja berperilaku negatif. tidak heran kalau kita lihat perilaku remaja kita yang senang tawuran. lokakarya maupun workshop sebagai sebuah protokoler demimendapat selembar sertifikat belaka. Dr. Mahatma Gandhi memperingatkan tentang salah satu tujuh dosa fatal. Artinya sebagian besar anak sekolah (80-90 persen) tidak dapat mengikuti kurikulum pelajaran di sekolah.itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya). terlebih dengan narasumber yang terbatas dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Martin Luther King juga pernah berkata: “Intelligence plus character…. dan menurunnya mutu lulusan SMP dan SMU. Maka. SMP dan SMU.pembicaraan ramai. akan menimbulkan stress berkepanjangan. Namun. Ada yang mengatakan bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia dibuat hanya cocok untuk diberikan pada 10-20 persen otak-otak terbaik. lokakarya maupun workshop yang seakan terhipnotis untuk dapat segera mengaplikasikan konsep-konsep dan wacana tersebut ke dalam proses pembelajaran. Bahkan kesan yang timbul adalah demikian kentalnya unsur . Rasa tidak mampu yang berkepanjangan yang akan membentuk pribadi yang tidak percaya diri. sehingga tidak sedikit dari kalangan pendidik sebagai peserta seminar. Tentu yang demikian bukan sesuatu yang diharapkan dari sebuah seminar atau apapun namanya itu. terutama pasca digulirkannya UU Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005. Sistem seperti ini tentunya berpengaruh negatif terhadap usaha membangun karakter. sebagai anak yang kurang pandai. putus sekolah. Akibatnya sejak usia dini.that is the goal of true education” (Kecerdasan plus karakter…. yang kesemuanya merupakan konsep dan wacana pendidikan yang sangat brilian. yaitu “education without character”(pendidikan tanpa karakter). apa mau dikata jika realitanya demikian? Karena pertanyaannya. maka tanpa pendidikan karakter adalah usaha yang sia-sia. dimana sejak dini anak-anak justru sudah “dibunuh” rasa percaya dirinya. ANTARA PENDIDIKAN KARAKTER DAN KARAKTER PENDIDIKAN “Pendidikan karakter” atau “character building”. Kalau kita peduli untuk meningkatkan mutu lulusan SD. Ditambah lagi dengan adanya sistem ranking yang telah “memvonis” anak-anak yang tidak masuk “10 besar”. sebagian besar anakanak akan merasa “bodoh” karena kesulitan menyesuaikan dengan kurikulum yang ada. Jadi. dan masih banyak lagi tema lain yang tidak kalah menarik. apa mungkin lokakarya atau workshop itu bisa berjalan secara efektif (sampai pada tahap perumusan kesimpulan untuk direkomendasikan) jika perbandingan antara jumlah peserta dengan kapasitas ruangan menunjukkan keadaan yang tidak representatif? Adalah sesuatu yang nyaris impossible untuk bisa berjalan sebagaimana yang diharapkan jika sebuah forum.. menjadi tema yang sangat akrab di ruang-ruang seminar.

hingga sampai pada tahap aplikasinya di lapangan. lokakarya maupun workshop.“komersialisme” di balik penyelenggaraan seminar. karena baik forum. lokakarya maupun workshop selelu menjadi hal lain yang hanya hangat dalam pembahasan dan penyelenggaraan. jelas menunjukkan karakter yang menyimpang karena seharusnya karakter yang ada adalah penyelenggara yang mengutamakan proses serta hasil secara substansial. topik masalah maupun pihak yang terlibat di dalamnya adalah bagian dari komponen pendidikan. Hal itu membuktikan bahwa faktor keberuntungan masih terbuka dalam penyelenggaraan UAN dengan bentuk soal yang “multiple choice” itu. Pertanyaannya adalah. menambah lagi panjang daftar “karakter menyimpang” dari dunia pendidikan kita. dampak dari pengumuman kelulusan itu sendiri. haruskah “standardisasi Nasional” menjadi sesuatu yang yang selalu naif serta memilukan dan berujung dengan dinginnya tembok-tembok penyelenggaraan ujian paket demi menyandang label lulus? Sementara seminar. Penyelenggra yang cenderung sengaja membludagkan peserta demi kepentingan komersial atau peserta yang cenderung hanya mengejar sertifikat demi nilai poin portopolio dalam sertifikasi. stres. namun selalu dingin dan beku dalam penerapan karena indahnya konsep-konsep pendidikan yang “brilian” ternyata tidak pernah mampu menembus kerasnya dinding-dinding gedung tempat . Dengan demikian. Padahal belum tentu mereka tidak cerdas. adanya kecenderungan membocorkan soal atau kunci jawaban UAN oleh sejumlah oknum dari dunia pendidikan demi pencapaian prosentase kelulusan di wilayahnya. tanpa disadari baik dari sisi penyelenggara maupun peserta telah dapat terpotret “sebuah karakter” tegasnya “bagian dari karakter pendidikan kita”. adanya kecenderungan masyarakat (orang tua / wali murid) menempuh jalan pintas demi kelulusan putra-putrinya sampai pada adanya kecenderungan siswa mempercayai sms-sms menyesatkan. UAN dengan SKLnya merupakan upaya yang tepat untuk sekedar kepentingan standardisasi Nasional. Belum lagi. apakah benar. jika realitanya demikian terasa memvonis anak bangsa? Memvonis karena perjuangan dan keluh kesah siswa selama kurang lebih 3 tahun dengan indeks prestasi “memuaskan” untuk setiap bidang studi selama ini menjadi sia-sia tatkala karena sesuatu hal “lebih karena teknis LJK” maka terpaksa harus menerima pahitnya “label tidak lulus” dan pada akhirnya justru label lulus diperoleh dari ujian paket yang mau tidak mau mempengaruhi kelancaran mereka dalam menempuh pendidikan lebih lanjut termasuk juga mempengaruhi nasib mereka dalam memasuki dunia kerja. demikian pula halnya bagi mereka yang lulus UAN yang ternyata tidak juga menjamin untuk bisa mask ke sekolah / pendidikan tinggi unggulan terlebih ke dunia kerja yang prospektif. lokakarya maupun workshop. seperti berupa. Dari sini jelas. histeria. penyelenggara bisa membatasi jumlah peserta jika memang menghendaki lokakarya/workshop bisa berjalan lebih kondusif dengan segala hasilnya. bahkan bunuh diri yang dialami dan dilakukan oleh siswa yang tidak lulus. Hal itu menunjukka UAN sebagai “monster” yang menakutkan sehingga lagi-lagi ditempuh berbagai cara demi mendapatkan label “lulus”. Di sisi lain. Padahal penyelenggara sudah jelas dari lingkungan pendidikan atau minimal LSM yang mengklaim peduli terhadap pendidikan. Karena setidaknya. Maka pertanyaannya kemudian adalah. Begitu pun karakter peserta yang seharusnya memilih aktif melibatkan diri dalam proses seminar.

dunia pendidikan Nasional kita bisa merumuskan kembali sistem serta ukuran keberhasilan yang lebih representatif. sebagai bidang kompetensinya? Sehingga dengan demikian.digodognya sistem serta ukuran keberhasilan pendidikan Nasional kita. seyogianya. SQ. Padahal tidak sedakit masyarakat/orang tua murid yang entah sampai kapan harus merindukan suatu sistem dan ukuran keberhasilan pendidikan yang lebih protektif terhadap minat dan bakat anaknya. Barangkali kita sepakat bahwa standardisasi Nasional merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan kita. Presented by Pradhani Khatulistyaningrum Bagian Akademik Ilmiah Penelitian dan Pengembangan HMJ PGSD FKIP UNTAN PONTIANAK . efektivitas serta efisiensi pendidikan akan lebih bisa dirasakan. serta bisa lebih protektif terhadap berkembangnya kecerdasan yang komprehensif dan holistik. serta sedapat mungkinmenghindari faktor keberuntungan. lokakarya maupun workshop yang sejatinya mengakui bahwa kontribus IQ terhadap keberhasilan hidup anak manusia hanya sebesar 20%. serta cerdas dalam skill yang sangat dibutuhkan untuk bisa hidup layak di zamannya. sedang selebihnya ditentukan oleh EQ dan SQ. jika kita menginginkan terbentuknya karakter bangsa sebagaimana tersirat dalam konsep-konsep dan wacana pendidikan di ruang-ruang seminar. tidak cukupkah KTSP sebagai penyempurnaan dari KBK yang selayaknya mampu menerjemahkan minat dan bakat peserta didik sejak dini untuk kemudia dibina semaksimal mungkin. Maka pertanyaannya adalah. EQ. Hal ini penting. Oleh karena itu. Namun kiranya perlu formulasi sistem serta ukuran keberhasilan pendidikan yang tidak hanya menekankan “hasil kuantitatif” hanya pada bidang-bidang akademis melainkan perlu rumusan sistem serta ukuran keberhasilan yang protektif terhadap “esensi proses” serta nilai sikap (kualitatif) termasuk pada bidang-bidang non akademis yang selama ini “teranaktirikan” atau “termarjinalkan”. Mengingat pendidikan hanya akan bisa dikatakan berhasl jika mampu mencetak manusia yang cerdas secara IQ.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful