Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL) TEKNIK PEMIJAHAN DAN PEMBESARAN JUVENIL TERIPANG Holothuria scabra DI UPT LOKA

PENGEMBANGAN BIO INDUSTRI LAUT (LPBIL) LIPI MATARAM

DISUSUN OLEH ALFIAN FIRDAUS (G1A 009 040)

PROGRAM STUDI BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS MATARAM 2012


1

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Untuk meningkatkan pendayagunaan sumberdaya hayati laut maka penggalian sumber baru sangat perlu dilakukan, selain apa yang sudah dikenal dalam usaha perikanan saat ini. Usaha tersebut akan meningkatkan penyediaan pangan (protein), juga untuk membantu meningkatkan pendapatan nelayan dan pada gilirannya diharapkan menambah pendapatan negara. Usaha perikanan teripang atau disebut beche-de-mer, terutama berkembang di negara negara Indo-Pasifik termasuk Indonesia (Eddy, 2004). Teripang atau timun laut termasuk kedalam kelas Holothuroidea merupakan salah satu produk perikanan yang telah lama dikenal dan dikonsumsi oleh masyarakat pesisir Indonesia, dan juga sangat dikenal di Negara Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat. Selain bernilai ekonomis, kandungan nutrisinya cukup tinggi. Kandungan protein 43,1 %, lemak 2,2 %, kadar air 27,1 %, kadar abu 27,6 %, dan kalsium, natrium, fosfor serta mineral lainnya 1,2 16,5 %. Dipasaran internasional teripang dikenal dengan nama teat fish, karena kandungan nutrisinya yang tinggi dan sehat untuk dikonsumsi menyebabkan permintaan dunia akan komuditi ini terus meningkat dari tahun ketahun (Rustam, 2006). Berdasarkan hasil pengamatan di beberapa lokasi penangkapan teripang, mulai dirasakan bahwa penangkapan dari alam tidak dapat lagi dipertahankan, karena dikhawatirkan akan merusak kelestarian sumberdaya hayati. Salah satu langkah yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produksi teripang, tanpa merusak kelestarian sumberdaya hayati ini adalah usaha budidaya (Rustam, 2006) Perikanan teripang yang berlangsung selama ini bersumber pada stok alami, yang bersifat perburuan. Usaha pencarian dan pengumpulan teripang tersebut umumnya dilakukan diberbagai lokasi pulau pulau di Kawasan Timur Indonesia. Cara pengumpulan sering dilakukan dengan intensif untuk memperoleh sebanyak
2

banyaknya pada waktu itu. Cara demikian jelas tidak memikirkan kelestariannya. Upaya pembenihan teripang telah dirintis dibeberapa Negara seperti Jepang, Taiwan, India, dan China. Upaya seperti ini merupakan hal baru di Kawasan Timur Indonesia. Sebelumnya berbagai masalah harus diselesaikan untuk terwujudnya hatchery teripang dan dipormulasikannya tekhnik pembenihan teripang. Pemikiran usaha pemijahan teripang pasir (Holothuria scabra) untuk menjamin kelestarian produksi telah dilakukan di Laboratorium Bididaya Laut, Balitbang Sumberdaya Laut-LIPI Ambon (Eddy, 2004)) 1.2. Tujuan 1. 2. Mempelajari teknik pemijahan teripang (Holothuria scabra) Mempelajari teknik pembesaran teripang dari larva sampai anakan.

1.3. Manfaat 1. Memberikan informasi kepada masyarakat untuk tidak mengeksploitasi teripang di alam secara berlebihan 2. Memahami teknik pemijahan dan pembesaran teripang (Holothuria scabra) dari tahap larva sampai anakan.

BAB II PROFIL INSTANSI 2.1. Sejarah Ringkas Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI Sejarah Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI bermula pada awal abad ke 20, tepatnya tahun 1905, ketika Visscherij Station didirikan di Pasar Ikan, Jakarta atas inisiatif dari Dr. J.C Koningsberger, seorang ahli Zoologi, kepala museum Zoologi Bogor saat itu. Visscherij Station didirikan dengan tujuan melakukan penelitian kelautan untuk menggali sumberdaya biota laut yang bernilai ekonomi penting. Dalam perjalanan waktu lembaga telah beberapa kali berganti nama, Tahun 1915 lembaga ini bernama "Visscherij Station te Batavia", berdasarkan SK Pemerintah Belanda No. 37 Tanggal 31 Juli 1911, lembaga ini secara resmi masuk dalam struktur "sLands Plantentuin". Tahun 1922 lembaga ini berganti nama lagi menjadi Laboratorium Voor Het Onderzoek der Zee (LOZ) dibawah pimpinan: Dr. A.L.J. Sunier. 1949 berubah lagi namaya menjadi "Laboratorium Penyelidikan Laut". Tahun 1955 lembaga ini berganti nama lagi menjadi "Lembaga Penyelidikan Laut", dibawah pimpinan Prof. Klaus Wyrtki. Tahun 1962 namanya berubah menjadi "Lembaga Penelitian Laut" sebagai salah satu bagian dari Lembaga Biologi Nasional MIPI Tahun 1970, melalui melalui keputusan presiden No.10 tahun 1970, lembaga ini ditetapkan sebagai lembaga berskala nasional dengan nama Lembaga Oseanologi Nasional (LON) sebagai bagian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Pada tahun 1986, terjadi reorganisasi di LIPI, berdasarkan Keppres R.I no. 1/1986, nama LON diubah menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan OseanologiLIPI (Puslitbang Oseanologi - LIPI), dibawah kedeputian Ilmu Pengetahuan Alam. Tahun 2001, berdasarkan keputusan Kepala LIPI No. 1151/M/2001, Puslitbang Oseanologi - LIPI, diubah lagi namanya menjadi Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI, dibawah naungan Deputi Ilmu Pengetahuan Kebumian.

Organisasi Pusat Penelitian Oseanografi LIPI terdiri dari: Bagian Tata Usaha, Bidang Penelitian Dinamika Laut, Bidang Penelitian Sumberdaya Laut dan Bidang Sarana Penelitian. Pusat Penelitian Oseanografi LIPI dipimpin oleh seorang Kepala (Eselon II) sedangkan Bagian Tata Usaha, Bidang Penelitian Dinamika Laut, Bidang Penelitian Sumberdaya Laut dan Bidang Sarana Penelitian masing-masing dipimpin oleh Kepala (Eselon III). Bagian Tata Usaha terdiri dari: Sub Bagian Kepegawaian, Sub Bagian Umum, Sub Bagian Keuangan dan Sub Bagian Jasa dan Informasi yang masing-masing dipimpin oleh Kepala (Eselon IV), Bidang Sarana Penelitian terdiri dari Sub Bidang Sarana Kapal Penelitian, Sub Bidang Sarana Penelitian Dinamika Laut dan Sub Bidang Sarana Penelitian Sumberdaya Laut yang masing-masing dipimpin oleh Kepala (Eselon IV) Gambar Struktur Organisasi Pusat Penelitan Oseanografi LIPI

2.2. Tugas dan Fungsi Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Sesuai dengan keputusan Kepala LIPI Nomor 1151/M/2001 tanggal 5 Juni 2001, Pusat Penelitian Oseanografi LIPI yang berada dibawah kedeputian Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI mengemban tugas dan fungsi sebagai berikut: 2.3.1. Tugas Tugas Pusat Penelitian Oseanografi LIPI adalah melaksanakan penelitian dan penyiapan kebijakan, penyusunan pedoman, pemberian bimbingan teknis,

penyusunan rencana dan program bidang oseanografi, serta evaluasi dan penyusunan laporan. 2.3.2. Fungsi Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut, maka Pusat Penelitian Oseanografi LIPI mempunyai fungsi: 1. 2. Penyiapan bahan perumusan kebijakan penelitian bidang oseanografi; Penyusunan pedoman, pembinaan dan pemberian bimbingan teknis penelitian bidang oseanografi; 3. 4. 5. 6. Penyusunan rencana, program dan pelaksanaan penelitian bidang oseanografi; Pemantauan pemanfaatan hasil penelitian bidang oseanografi; Pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi bidang oseanografi; Pelaksanaan urusan tata usaha.

Pusat Penelitian Oseanografi LIPI dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh beberapa Unit Pelaksana Teknis (UPT) antara lain sebagai berikut: UPT Balai Konservasi Biota Laut Ambon; UPT Loka Konservasi Biota Laut Tual; UPT Loka Konservasi Biota Laut Bitung; UPT Loka Konservasi Biota Laut Biak; UPT Loka Pengembangan Bioindustri Laut Mataram, Lombok, NTB; dan UPT Loka Pengembangan Sumber Daya Manusia Oseanografi Pulau Pari.

2.3.3. Tujuan Mencapai hasil penelitian yang optimal di bidang oseanografi guna memanfaatkan sumberdaya perairan laut yang berkelanjutan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi. 2.3.4. Visi Reformasi birokrasi di lingkungan Pusat Penelitian Oseanografi LIPI diawali dengan meredefenisi visi dan misi organisasi, sebagai upaya mendorong reposisi Pusat Penelitian Oseanografi LIPI di antara organisasi penelitian bidang kelautan dengan meningkatkan fungsi dan core-competent Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, yaitu untuk menjadi salah satu pusat riset terbaik bidang oseanografi dan berkontribusi nyata di tingkat regional Asia-Pasifik pada tahun 2025 2.3.5. Misi Dalam upaya mencapai peringkat terbaik di tingkat regional, Pusat Penelitian Oseanografi LIPI diharapkan mampu menghasilkan riset dan inovasi yang signifikan dalam memenuhi kebutuhan pemerintah, dengan memberi timbangan ilmiah, saran dan kebijakan serta meningkatkan pelayanan kepada publik, industri, dan pemangku kepentingan lainnya. Pencapaian Visi tersebut dituangkan dalam 3 (tiga) misi utama, yaitu: 1. Meningkatkan output riset oseanografi yang berkontribusi signifikan terhadap ilmu pengetahuan, nyata dirasakan pemangku kepentingan dan berdampak besar bagi publik; 2. Meningkatkan pelayanan publik dalam bentuk penyediaan data dan informasi oseanografi yang akurat, tepat waktu dan tepat guna. 3. Mendukung kelangsungan pemanfaatan sumberdaya laut dan lingkungannya berbasis ilmu pengetahuan untuk kesejahteraan publik.

2.3.6. Strategi Terkait dengan Visi dan Misi Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, maka untuk mengimplementasikannya diperlukan beberapa strategi, yaitu sebagai berikut: 1. Meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, melakukan peningkatan kapabilitas individu peneliti dan kompetensi kelompok-kelompok penelitian melalui peningkatan pendidikan, kerjasama riset, perekrutan SDM peneliti baru yang sesuai kebutuhan serta melakukan pembinaan yang kontinyu dan terarah; 2. Mengembangkan sarana dan prasarana penelitian di bidang oseanografi, melakukan akreditasi laboratorium dan kalibrasi peralatan penelitian, melengkapi kebutuhan peralatan penelitian, membangun fasilitas dan suasana kerja yang nyaman, serta peningkatan sarana dan prasarana teknologi informasi; 3. Menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang berkualitas, melakukan pendidikan dan pelatihan serta kerjasama penelitian dengan peneliti asing agar tercipta alih pengetahuan (transfer knowledge) untuk meningkatkan kapabilitas dan kepakaran peneliti. Selain itu dibuat sistem agar proses regenerasi kepakaran dari peneliti senior ke peneliti junior dapat terlaksana dengan baik. 4. Merumuskan dan melaksanakan program penelitian yang kompetitif, membuat perencanaan kegiatan penelitian yang matang (terarah dan terukur) sehingga dapat menjawab isu-isu lingkungan dan memberikan kontribusi terhadap pengambilan kebijakan oleh pemerintah pusat maupun daerah, bermanfaat bagi masyarakat , industri dan pemangku kepentingan lainnya. 5. Mengkaji hasil penelitian untuk menentukan kebijakan bidang oseanografi, melakukan pengujian dan validasi terhadap setiap hasil penelitian yang berupa data dasar , konsep, model dan rekomendasi terkait isu-isu kelautan Indonesia sehingga dapt dimanfaatkan dan diimplementasikan oleh pengambil keputusan dan pemangku kepentingan. 6. Membangun jejaring kerja (networking) dengan berbagai pemangku

kepentingan. Hal ini dapat dicapai melalui kerjasama riset, melakukan komunikasi ilmiah atau penyelenggaraan workshop, symposium dan seminar
8

terkait

isu-isu

kelautan

Indonesia.

Dengan

demikian,

peluang

untuk

meningkatkan kualitas sumber daya penelti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI menjadi lebih besar dan mudah diwujudkan.

BAB III TINJAUN PUSTAKA 3.1 Klasifikasi Teripang pasir Klasifikasi dari Teripang pasir (Martoyo et al, 2000) adalah sebagai berikut: Kingdom Filum Sub-filum Kelas Sub-kelas Ordo Famili Genus Spesies : Animalia : Echinodermata : Echinozoa : Holothuroidea : Aspidochirotacea : Aspidochirotida : Holothuriidae : Holothuria : Holothuria scabra

Gambar 1. Teripang Pasir Sumber : Dewi et al (2010)

10

3.2

Morfologi Teripang pasir Teripang merupakan salah satu anggota hewan berkulit berduri (Echinodermata).

Duri teripang merupakan butir-butir kapur mikroskopis yang terbenam dalam jaringan dinding tubuh (Hyman 1955; Lawrence 1987). Bentuk tubuh teripang adalah bulat panjang (elongated cylindrical) di sepanjang sumbu oral-aboral, yaitu sumbu yang menghubungkan bagian anterior dan posteriol (Wilmoth 1967). Mulut dan anus teripang terletak pada ujung poros yang berlawanan, yaitu anus berada pada bagian anterior dan anus berada pada bagian posterior. Mulut dikelilingi oleh tentakel-tentakel yang dapat dijulurkan dan ditarik kembali dengan cepat. Tentakel-tentakel ini merupakan modifikasi dari kaki tabung yang berfungsi untuk menangkap makanan (Storer et al 1979, Lawrence 1987). Teripang umumnya memiliki tubuh lunak dan licin. Permukaan tubuh tidak bersilia dan diselimuti oleh lapisan kapur yang tebal tipisnya tergantung umur. Disepanjang mulut ke anus terdapat lima deretan kaki tabung, terdiri dari tiga deretan kaki tabung dengan pengisap pada bagian perut (trivium) yang berperan dalam respirasi (Lawrence 1987). Di bawah lapisan kulit terdapat satu lapis otot melingkar dan lima lapis otot memanjang. Sesudah lapisan otot terdapat rongga tubuh yang berisi organ-organ tubuh seperti gonad dan usus (Storer et al 1979).

Gambar 2 : Morfologi Teripang (Martoyo et al. 2007) Keterangan : A. Tentakel (rumbai-rumbai), sebagai alat peraba dan pengambil makanan yang jumlahnya sekitar 10 buah
11

B. Mulut C. Liang Gonad D. Gonad (organ kelamin) E. Sistem vaskuler air F. Pokok-pokok pernapasan G. Anus H. Kloaka (Lubang pengeluaran) I. Podium J. Tubul cuvierian K. Usus L. Ampulla tentakel M. Cincin air, mengelilingi farinks N. Cincin berkapur, mengelilingi farin Teripang memiliki warna bermacam-macam, yaitu putih, cokelat atau kehijauan, hitam, abu-abu, jingga, unggu bahkan dengan pola berbaris (Ruppert dan Barnes 1994). Teripang pasir (Holothuria scabra), mempunyai punggung berwarna abu-abu atau kehitaman dengan bintik-bintik putih atau kuning. Morgan (2001) menunjukkan bahwa perkembangan Holothuria muda dan dewasa sangat bergantung pada jenis fitoplankton yang mereka makan. Teripang adalah hewan detritus yaitu makan secara menyapu pasir kedalam mulut. Pergerakan teripang yang lambat menyebabkannya perlu mempunyai mekanisme pertahanan tubuh yang efisien, yaitu mengeluarkan holothurin yang toksit dan dapat melumpuhkan hewan kecil. Holothurin di keluarkan oleh kelenjar khusus yang di sebut sebagai kuvier (Michael 2003). 3.3 Habitat Dan Penyebaran Teripang pasir Teripang dapat ditemukan hampir diseluruh perairan pantai, mulai dari daerah pasang-surut yang dangkal sampai periran yang lebih dalam. Teripang lebih menyukai perairan yang jernih dan airnya relative tenang. Umumnya, masing-masing jenis memiliki habitat yang spesifik. Misalnya, teripang putih banyak ditemukan di daerah yang berpasir atu pasir bercampur lumpur pada kedalaman 1-40 m. Teripang putih sering juga ditemukan di perairan yang dangkal dan banyak ditumbuhi ilalang
12

laut (lamun/sea grass). Di habitatnya, terdapat jenis teripang yang hidup berklompok dan ada pula yang hidup soliter (sendiri). Misalnya, teripang putih membentuk kelompok antara 3-10 ekor. Sumber utama makanan teripang di alam yaitu kandungan zat organic dalam lumpur, detritus (sisa pembusukan bahan organic), dan plankton. Jenis makanan yang lain adalah organisme-organisme kecil, masa bakteri yang terdapat dalam substrat, diatomae, protozoa, nematode, algafilamen, kopepoda, strakoda, rumput laut, radoilaria, foraminifera, dan potongan-potongan kecil hewan maupun tumbuhan laut, serta partikel-partikel pasir. Namun, partikel pasir bukan makanan utama, teripang sangat tergantung pada kondisi substrat disekitarnya karena ruang geraknya relative terbatas dan sangat lambat serta tidak mempunyai alat pengunyah dan pemotong (Martoyo, 1996). Daerah persebaran Teripang pasir diIndonesia adalah Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Irian, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Pantai Bara tSumatra, Sumatra Utara, dan Aceh (Hartati et al, 2005). 3.4 Daur Hidup dan Reproduksi Teripang hidup di alam terdiri atas dua periode yaitu sebagai planktonik dan bentik, planktonik hidup melayang-layang di air, pada masa larva yaitu stadia aurikularia hingga diolaria, sedangkan sebagai bentik hidup melekat pada substrat atau benda lain yakni pada stadia penctactula hingga menjadi teripang dewasa

Gambar 3: Siklus hidup teripang di perairan (Shokita. 1993)

13

Keterangan: Perkembangan tidak langsung: Telur yang telah dibuahi 1-2-4-5-juvenil-dewasa Perkembangan langsung: Telur yang telah dibuahi 1-3-4-5-juvenil-dewasa 1.Tahapan gastrula 2.Larva auricularia 3.Larva grastula 4.Larva doliolaria 5.Larva pentactula Teripang pasir adalah dioecious, yaitu alat kelamin jantan dan betina terdapat pada individu yang berbeda secara visual, kedua kelamin ini sulit di bedakan (Hyman 1955). Teripang mempunyai gonad yang multitubular yang terletak pada bagian anterior rongga tubuh secara morfologi, gonad menyerupai sikat dengan tabung-tabung halus yang berhubungan dengan saluran tunggal pada bagian dorsal untuk mengeluarkan telur yang matang keluar tubuh (Storer et al. 1979). Secara umum teripang bereproduksi secara seksual dan asexual (Gambar 5) bergantung pada besar indeks gonad, ukuran dan fekunditas, habitat serta frekuensi reproduksi (pemijahan) dari masing-masing spesies (Hariott 1982; Starr 1990).

Gambar 4. Proses terjadinya reproduksi teripang sampai menjadi larva (Martoyo et al. 2007) Teripang umumnya memijah pada perairan di sekitar lingkungan tempat hidupnya pada daerah sub tropis, hampir setiap spesies mempunyai waktu memijah tertentu, biasanya terjadi 1 atau 2 bulan setiap tahunnya, sedangka di daerah tropis tidak
14

mempunyai waktu atau musim pemijahan tertentu, jadi spesies-spesies di daerah tropis memijah sepanjang tahun (Bakus 1973). Walaupun teripang yang ada di daerah tropis memijah sepanjang tahun, akan tetapi ada puncak pemijahan yang hanya terjadi beberapa bulan dalam setahun. Contohnya, Holthuria scabra yang di daratkan pada di Pulau Saugi, Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan, memiliki puncak pemijahan dua kali dalam setahun yakni pada bulan Desember - januari dan Mei sampai Juni (Jayadi dan Tuwo 1996), Maret dan Nopember untuk Holthuria scabra yang hidup di perairan lampung. (Darsono et al.1995). Di duga siklus reproduksi tersebut di pengaruhi oleh faktor luar di antaranya suhu, perubahan salinitas karena masuknya air tawar sewaktu musim hujan berlangsung, dapat menyebabkan pemijahan pada Holthuria scabra dan organisme laut tropis lainnya. Teripang menjalani dua fase kehidupan di alam, yaitu fase planktonis dan fase bentik. Larva teripang yakni stadia auricularia hingga doliolaria bersifat planktonis, kemudian pada stadia pentactula hidup sebagai bentik sampai menjadi teripang dewasa. (James et al 1994). Tingkat Kematangan Gonad (TKG) diperlukan untuk mengetahui apakah organisme tersebut akan memijah, baru memijah atau sudah memijah (Effendi, 1997). Sehingga dapat diketahui penentuan jenis ukuran yang belum bisa di tangkap dan yang boleh ditangkap. Untuk menentukan tingkat kematangan gonad pada teripang diperlukan pengamatan gonad secara mikroskopis serta perhitungan nilai indeks kematangan gonad. Penentuan IKG dan TKG sangat berguna untuk mengetahui perbandingan gonad yang masak dengan stok yang ada di perairan, ukuran pemijahan, musim pemijahan, lama pemijahan dalam satu siklus. IKG pada teripang adalah suatu nilai yang dinyatakan dalam persen, sebagai hasil dari perbandingan antara bobot gonad dengan bobot tegumen (bobot tubuh) dikalikan 100% (Tuwo dan Conand 1992). Kegunaan mengetahui nilai IKG adalah untuk mengetahui perubahan yang terjadi dalam gonad secara kuantatif, sehingga waktu pemijahan dapat diduga. (Effendie, 2006).

3.5

Pertumbuhan Pertumbuhan individu adalah pertambahan ukuran panjang atau bobot dalam

suatu ukuran waktu,

sedangkan pertumbuhan populasi adalah pertambahan jumlah


15

individu. Pemanfaatan umur teripang merupakan metode yang dipercaya untuk menghitung dan mengambarkan pertumbuhan teripang. Model pertumbuhan yang umum digunakan dalam kajian stok adalah model von Bertalanffy dimana panjang badan sebagai fungsi dari umur (Sparre & Venema, 1999). Menurut (Jennings et al. 2001), beberapa metode identifikasi kohort menggunakan asumsi bahwa distribusi frekuensi panjang dari tiap kohort biasanya normal. Selanjutnya (Sparre & Venema, 1999) menyatakan bahwa metode yang umum digunakan untuk memisahkan suatu distribusi-distribusi yang terpisah dapat dilakukan dengan metode Bhattacharya. Salah satu parameter untuk mengetahui populasi teripang secara lebih mendalam adalah pola pertumbuhan teripang tersebut. Data sebaran frekuensi panjang digunakan untuk penentuan kelompok ukuran teripang dalam populasi, sebaran data frekuensi panjang panjang yang diperoleh selanjutnya digunakan untuk pendugaan umur teripang. Berdasarkan data panjang tersebut dapat ditentukan panjang teripang maksimum (L00) dan koefisien pertumbuhannya (K). Hubungan umur dengan panjang teripang dapat diduga melalui data komposisi panjang yang dapat dikonversi untuk mendapatkan data komposisi umur. Selanjutnya data komposisi umur digunakan dalam pendugaan parameter pertumbuhan teripang (Sparre & Venema, 1999).

3.6

Kandungan tubuh Teripang pasir Teripang pasir mempunyai nilai ekonomis penting karena kandungan atau

kadar nutrisinya yang tinggi. Dari hasil penelitian, kandungan nutrisi teripang pasir dalam kondisi kering terdiri dari protein sebanyak 82%, lemak 1,7%, kadar air 8,9%,kadar abu 8,6%, dan karbohidrat 4,8%. Selain itu, Teripang pasir juga mengandung fosfor, besi, iodium, natrium, vitamin A dan B (thiamin, riboflavin, dan niasin).Kandungan kimia teripang pasir dalam keadaan basah yaitu 44 - 45% protein, 3 - 5%karbohidrat, dan 1,5% lemak (Kustiariyah, 2006). Kandungan bioaktif atau metabolit sekunder pada Teripang pasir diantaranya steroid,sapogenin, saponin, triterpene glycoside, Glycosaminoglycan, Lectin, Phenols dan flavonoid (Bordbar et al , 2011).

16

3.7

Manfaat Teripang Bagi Kesehatan Teripang telah dikenal dan dimanfaatkan sejak lama oleh bangsa Cina. Sejak

zaman Dinasti Ming, teripang telah dijadikan hidangan istimewa pada perayaan psta dan hari-hari besar serta mempunyai khasiat pengobatan untuk beberapa penyakit. Di Negara Cina dilaporkan bahwa secara medis tubuh dan kulit teripang berkhasiat menyembuhkan penyakit ginjal, paru-paru basah, anemia, anti-inflamasi, dan mencegah anteriosklerosis serta penuaan jaringan tubuh. Di samping itu, ekstrak murni teripang mempunyai kecenderungan menghasilkan holotoksin yang efeknya sama dengan antimicyn dengan kadar 6,25 25 mikrogram/milliliter (Martoyo, 1996). Di Indonesia, teripang telah dimanfaatkan cukup lama, terutama, oleh masyarakat di sekitar pantai, sebagai bahan makanan. Untuk konsumsi pasaran Internasional, biasanya teripang diperdagangkan dalam bentuk daging dan kulit kering. Sebagai bahan pangan, teripang mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi dan rasa yang sangat lezat. Selain itu, teripang mengandung asam lemak tidak jenuh jenis W-3 yang penting untuk kesehatan jantung. Selain itu teripang memiliki kandungan CELL GROWTH FACTOR (faktor generasi sel) sehingga mampu merangsang regenerasi / pemulihan sel dan jaringan tubuh manusia yang telah rusak / sakit bahkan membusuk, sehingga menjadi sehat / pulih kembali (Martoyo, 1996

17

BAB IV METODE 4.1. Waktu dan tempat praktikum PKL ini di laksanakan mulai dari tanggal 2 - 20 juli 2012 bertempat di UPT Loka Pengembangan Bio Industri Laut (LPBIL) LIPI Teluk Kodek Desa Malaka Kecamatan Pemenang Lombok Utara NTB. 4.2. Metode Pelaksanaan Praktikum Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini dilaksanakan dengan metode survei langsung di lokasi UPT Loka Pengembangan Bio Industri Laut (LPBIL) LIPI Mataram. Data di peroleh melalaui pengamatan (observasi) langsung di lapangan dan melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang berkaitan langsung dengan kegitatan budidaya di lokasi PKL. 4.2.1. Pemijahan Teripang a) Persiapan indukan dari alam di ambil 10 - 20 ekor dan ditempatkan dalam satu penampungan (aquarium) b) c) Di puasakan selama beberapa hari dalam akuarium Teripang dibuat strees dengan dijemur atau di biarkan di udara terbuka beberapa saat d) e) Di masukkan ke dalam aquarium untuk memijah Dibiarkan selama satu malam dan pada paginya, larvanya di ambil dengan jaring larva (skring net) f) g) Larva di pindahkan ke dalam bak dengan Volume 0,5 ton dan 1 ton Larva telah dibiakkan dalam bak di berikan aerasi secara kontinu

4.2.2. Pemeliharaan Larva a) Larva yang telah dimasukkan di dalam bak larva Vol 0,5 dan 1 ton, di biarkan selama 3 minggu b) Diberikan pakan berupa plankton jenis Nannochloropsis sp ,Isochrysis sp, Pavlova sp, setiap hari selama 3 minggu

18

c)

Dilakukan sipon jika terdapat larva yang mengalami drop dengan menyedot larva yang drop dan di pindahkan ke bak volume 20 liter untuk penjarangan kepadatan larva serta pemulihan dengan pemberian aerasi pada bak

d)

Dilakukan pergantian air pemeliharaan larva pada bak penampungan di lakukan 1 kali dalam 2 hari

e) f)

Dilakukan pergantian air/pengurasan air setiap seminggu sekali Dibiarkan larva pada bak penampungan selama 3 minggu

4.2.3. Pemeliharaan anakan a) Setelah umur larva telah memasuki fase juvenil, dapat dipindahkan ke dalam wadah plastik sebagai tempat penempelan juvenil b) Di beri pakan berupa plankton selama 5 hari dan di letakkan daun lamun, waktu penempelan fase juvenil selama 1 minggu c) d) e) f) Di pindahkan ke aquarium kaca, Di ganti air pada aquarium setiap hari pada pagi dan pemberian pakan Dilakukan seleksi pada teripang setiap 1 bulan sekali Setelah anakan 1 telah mencapai berat 2 gram atau lebih di pindahkan ke bak beton, untuk pertumbuhan selanjutnya g) Pemberian pakan berupa ampas campuran daun lamun dan rumput gajah setiap hari. Dan pergantian air pada aquarium beton di lakukan setiap 1 minggu sekali h) Dilakukan seleksi tripang untuk memilih tripang dengan berat 5-10 gram untuk di pindahkan ke kolam pembesaran dan di beri pakan berupa campuran daun lamun, rumput gajah yang telah di haluskan dan di campur dengan kotoran sapi i) Di lakukan penimbangan setiap satu bulan sekali.

Pada setiap bak penampungan diberikan aerasi, terkecuali pada bak proses pemijahan indukan teripang

19

BAB V PEMBAHASAN 5.1. Proses Produksi Benih (Pemijahan) Pembenihan teripang dimulai dengan mengumpulkan teripang "dewasa" dari laut di habitat tempat hidupnya. Secara morfologi teripang tidak dapat dibedakan jenis kelaminnya, sehingga pemijahan dilakukan dengan massal. Teripang-teripang tersebut dipelihara dalam kolam penampungan untuk dipelihara sebagai stok induk (broodstock). Proses pematangan gonad (gametogenesis) hewan di daerah iklim tropika seperti Indonesia, tidak berpola musiman. Individu teripang di daerah tropis dalam kelompok populasinya mempunyai tingkat perkembangan gonad yang bervariasi, namun selalu ada individu dalam kondisi matang gonad (mature). Induk dalam keadaan matang gonad tersebut siap untuk dipijahkan secara induksi (induced spawning). Sebelum pemijahan dilakukan, perlu disiapkan ketersediaan pakan hidup berupa algae sel tunggal (diatome planktonik) seperti, Nannochloropsis sp, Isochrysis sp, Pavlova sp, Phaeodactylum sp. untuk pakan larva teripang fase planktonik (Darsono, 1999). Pemijahan buatan (induced spawning) dengan tehnik manipulasi lingkungan dilakukan terhadap sekelompok induk teripang. Induk teripang tersebut dibuat stress dengan dijemur dan dimatikan sumber oksigen (aerasi), setelah dibuat stress kemudian ditempatkan kembali pada lingkungan normal. Pada malam harinya diamati sel telur dan sel sperma yang dikeluarkan. Pagi harinya sel telur diamati di bawah mikroskop untuk memastikan telah terjadi fertilisasi. Telur-telur yang dihasilkan dan dibuahi akan berkembang menjadi larva teripang. Larva dichiffon atau disaring yang kemudian dipindahkan ke bak penampung ukuran 0,5 1 ton. Larva-larva ini akan mengalami metamorfosis dalam proses pertumbuhan melalui fase larva Auricularia, Doliolaria, Pentactula, yang kemudian menjadi anakan (juwana/juveniles) teripang (UPT LPBIL Mataram, 2012). Perkembangan ini terjadi dalam satu sampai dua bulan. Pada fase Doliolaria, disiapkan waring sebagai substrat penempelan larva Pentactula yang tumbuh menjadi anakan teripang. Juwana teripang diberi pakan algae sel tunggal. Anakan teripang tersebut berukuran berat inisial rata-rata kurang dari 0,1
20

gram, perlu dipelihara dalam proses pendederan (penggelondongan) untuk menjadi benih teripang dengan ukuran berat antara 10-30 gram. Untuk mencapai ukuran ini diperlukan waktu tidak kurang dari setahun pemeliharaan. Benih teripang ukuran tersebut siap untuk dibesarkan (growing out) atau ditebar dihabitat alamnya (stock enhancement). 5.2. Pemeliharaan Larva Fertilisasi terjadi secara eksternal pada kolam air. Setelah pembuahan, telur akan berkembang menjadi larva teripang. Larva ini dengan proses metamorfosis tumbuh melalui tahap-tahap perkembangan (Gambar 5 dan gambar 6) larva Auricularia, larva Doliolaria, larva Pentactula, dan kemudian akan berkembang menjadi anakan (juvenile) teripang. Sampai dengan fase larva Doliolaria, larva bersifat planktonik, dan pemeliharaan dilakukan dengan pemberian pakan diatom planktonik. Berbagai pengamatan dalam pemeliharaan larva teripang telah dilakukan pada era 90-an. Pakan alami diatom planktonik yang sering diberikan yaitu Tetraselmis sp., Phaeodactylum sp., Dunaliella sp., Chaetoceros sp., Spirulina sp, Isochrysis sp. Skeletonema sp, Nannochloropsis sp , Pavlova sp dan Chlorella sp (Darsono, 1999) Tujuan dalam pemeliharaan larva adalah untuk menghasilkan stok benih teripang. Kegiatan ini menjadi efektif bila diperoleh kelulusan hidup (SR) yang tinggi. Berbagai faktor diduga yang berpengaruh dalam hal ini antara lain kepadatan penebaran (stock-ing density) larva, jenis pakan dan volumenya, dan kualitas lingkungan media air laut pemeliharaan. Secara alami mortalitas merupakan bagian dinamika populasinya. Dalam rekayasa pemeliharaan larva maka mortalitas diharapkan akan menurun sejalan dengan pertumbuhan larva. Pemeliharaan larva dilakukan dengan kepadatan 300 600 individu/liter, atau rata- rata 400 indv/liter. Hal ini berkaitan juga dengan ketersediaan pakan alami bila melakukan pemeliharaan skala massal pada bak pemeliharaan volume l ton. Perkembangan larva atau pertmbuhannya nampak dipengaruhi oleh jenis pakan, kualitas pakan, jumlah atau volume pakan, dan padat penebaran larva. Padat penebaran dalam pemeliharaan larva berpengaruh terhadap kelulusan hidup, tapi tidak terhadap perkembangan. Padat penebaran 100 200 ind/liter memberikan kelulusan
21

yang lebih tinggi dan perkembangan lebih cepat. Frekuensi pemberian pakan tiga kali perhari dengan Chaetoceros sp. Mempercepat perkembangan stadia larva (Darsono, 1999). Penggantian air laut dengan penyiponan dilakukan setiap dua hari sekali sebanyak 1/3 sampai 1/2 volume bak pemeliharaan untuk menjaga kualitasnya dan sekaligus membersihkan copepoda (pemangsa larva) (Gambar 7). Setiap satu minggu bak penampung larva dikuras habis dengan teknik penyiponan. Kualitas air laut yang perlu diperhatikan terutama salinitas, suhu, oksigen terlarut, pH, dan kadar amonia. Salinitas berkisar antara 30 34 ppt., suhu air sekitar 26 28C, pH 7,5 8,5, DO 46 ppm, dan kadar amonia kurang dari 2 ppm. Fluktuasi perubahan kualitas air ambient dengan air pemeliharaan relative tidak jelas, namun perlu diperhatikan kadar amonia (Darsono. 1999). Dalam pada itu pengamatan Hamidah (1999) dalam Darsono (1999) memperlihatkan bahwa suhu air 30C memberi kondisi yang baik bagi perkembangan larva sampai stadia Pentactula. Pada fase larva Auricularia akan terlihat pertumbuhan (bertambah dalam ukuran) secara gradual dari hari kehari sampai sekitar hari kesembilan dan tumbuh menjadi larva Doliolaria pada sekitar hari 13 15. Saat ini merupakan saat kritis bagi perkembangan larva teripang. Pada saat fase Doliolaria ini diperlukan tempat penempelan berupa waring sebagai tempat untuk selanjutnya berkembang menjadi larva Pentactula sebelum metamorfosis menjadi anakan (juvenile) teripang. Penempatan waring juga berfungsi untuk menginduksi metamorfosis larva Doliolaria. Tempat penempelan disini digunakan daun lamun yang diletakkan pada masingmasing bak. Bak yang digunakan untuk tempat penampungan berukuran 25-30 liter dengan jumlah bak yang relative banyak. Perkembangan larva Doliolaria menjadi juvenile teripang akan dipacu oleh kelimpahan diatome perifitik yang ada pada waring tersebut (Darsono, 1999). Namun hal ini belum mendapat perhatian dalam percobaan pengamatan yang dilakukan selama ini. 5.3. Pemeliharaan Juvenil dan Pembesaran Anakan Teripang juvenil teripang adalah anakan teripang pasca larva, berukuran sangat lembut dengan berat basah rata-rata kurang dari 0,1 gram, berumur hari ke 45 sampai 60.
22

Juvenil teripang perlu dibesarkan (digelondongkan) sampai ukuran tertentu yang bisa disebut sebagai benih atau anakan pertama. Pada dasarnya siklus tahap anakan dibagi menjadi 3 tahap yaitu anakan pertama, kedua, dan ketiga. Anakan pertama memiliki ukuran berat sekitar 0,5-2 gram. Anakan pertama ditempatkan pada akuarium yang di dalamnya diletakkan waring. Waring disini berfungsi sebagai tempat menempelnya teripang. Pakan yang diberikan pada tahap ini berupa lamun dan rumput gajah yang sudah dihaluskan (Gambar 8). Pada pagi hari air tetap diganti. Setiap satu bulan sekali dilakukan seleksi ukuran, untuk anakan yang memiliki ukuran berat sekitar 2-5 gram lebih dipindahkan ke wadah bak beton yang berisi waring. Pada tahap ini pakan yang diberikan berupa campuran lamun dan rumput gajah yang sudah dihaluskan, untuk pengurasan bak dilakukan setiap satu minggu sekali. Pengurasan bak dilakukan untuk menghilangkan amphipoda (pemangsa anakan teripang). Selanjutnya satu bulan sekali dilakukan seleksi menggunakan timbangan analitik (Gambar 9), anakan dengan ukuran berat 5 10 gram masuk ke tahap anakan 3 dan dipindahkan bak beton penampungan dengan ukuran bak dan waring yang lebih besar, memiliki kedalaman 0,5 1 m pada area atau tempat terbuka. tahap ini lingkungan teripang dikondisikan seperti di alam. Pakan yang diberikan yaitu campuran lamun, rumput gajah dan kotoran sapi (Gambar 10). Setiap satu bulan sekali dilakukan juga penseleksian dan pengurasan bak, seleksi dilakukan untuk mengetahui rata-rata penambahan berat teripang. Pada tahap anakan tiga merupakan pembesaran yang sampai saat ini telah dilakukan khususnya di UPT LPBIL LIPI Mataram, ini dikarenakan pembesaran teripang di tempat ini baru-baru dilakukan dan semunya masih dalam proses penelitian. Dari hasil penelitian UPT Loka Pengembangan Bio Industri Laut Mataram, pakan yang paling baik diberikan untuk anakan teripang yaitu halusan lamun dan rumput gajah (komunikasi pribadi, 2012).

23

Perkembangan larva teripang Holothuria scabra Gambar 5 : Gambar 6 :

Sumber : UPT LPBIL Mataram Keterangan : 1. Sel telur yang telah dibuahi 2. Telur membelah multisel 3. Gastrula a 4. Gastrula b 5. Gastrula c 6. Auricularia a 7. Auricularia b 8. Auricularia c 9. Auricularia d 10. Auricularia e 12. Doliolaria a 13. Doliolaria b 14. Pentactula a 15. Pentactula b 16. Juvenil a 17. Juvenil b

24

BAB VI PENUTUP 6.1. Kesimpulan Teknik pengembangbiakan teripang (Holothuria scabra) pada dasarnya cukup sederhana dan mudah untuk dilakukan. Pengembangbiakan teripang dimulai dari proses pemijahan dan proses pemeliharaan larva. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti perbedaan teripang jantan dan betina sehingga pemijahan dilakukan secara massal terdiri dari 20-25 indukan yang ditempatkan dalan satu wadah. pemijahan dengan teknik manipulasi lingkungan atau megeringkan tubuh dari indukan teripang hal ini dilakukan dalam akuarium . Setelah terjadi pembuahan, tahap selanjutnya pemeliharaan larva dengan memberikan pakan berupa plankton yang kemudian dilanjutkan proses perbesaran anakan dengan memberikan pakan campuran rumput gajah dan lamun untuk anakan pertama dan kedua ukuran 0,5-5 gram.

Selanjutnya memberikan campuran lamun, rumput gajah dan kotoran sapi untuk anakan tiga ukuran 5-10 gram. Pada masing-masing tahapan ditempatkan dalam wadah dan tempat yang berbebeda, hal ini dilakukan untuk memgkondisikan teripang tersebut agar mampu secara perlahan beradaptasi sesuai dengan lingkungan aslinya 6.2. Saran Diharapkan untuk memperlengkap bacaan atau refrensi dalam website yang dimiliki UPT LPBIL Mataram baik itu profil lembaga dan publikasi-publikasi ilmiah sehingga dapat membantu masyarakat dslsm memperoleh informasi. Kepada adikadik mahasiswa yang Ingin melakukan PKL di UPT LPBIL Mataram diharapkan dapat melanjutkan tulisan ini hingga tahap pembesaran teripang dewasa.

25

DFATAR PUSTAKA

Bakus. 1973. The Biology and Ecology of Tropical Holothurians In : O. A. Jones dan R. Endean (eds), Biology and Geology of Coral Reef. Vol. II. Biology
Academic Press. New York. P. 325 367.

Bruce, C. 1983. Sea cucumbers extra ordi-nary but edible all the same. Infofish. Marketing Digest. No 2 (86) : 19 2 Darsono, P Soekarno, Notowinarto dan Sutomo, 1995. Perkembangan Larva Teripang Pasir, Holothuria scabra Jaeger, Pada Bak Pemeliharaan Pengembangan dan Pemanfaatan Potensi Kelautan : Potensi Biota, Teknik Budidaya dan Kualitas Perairan. Puslitbang Oseanologi LIPI. Jakarta. Hal. 51 61. Darsono, P. 1999. Perkembangan pembenihan teripang pasir, Holothuria scabra Jaeger, Di Indonesia. Dalam: Pesisir dan Pantai Indonesia I. Puslitbang Oseanologi-LIPI, Jakarta, 35-45. Eddy Yusron. 2004. Tekhnologi Pemijahan Teripang Pasir Dengan Cara Effendie, M. I. 1997, Metode Biologi Perikanan.Penerbit Yayasan Dewi Sri Bogor.112 p. Hamidah. 1999. Pengaruh suhu terhadap kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan perkembangan larva teripang pasir (Holothuria scabra Jaeger) pada fase doliolaria sampai pentactula. Skripsi Sarjana, Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fak. Perik. dan Ilm. Kelautan, IPB, Bogor; 70 hal. Hyman, L.H. 1995. The Invertebrates: Echinodermata, the Coelomate Bilateria. Vol. IV. McGraw-Hill Book Company. New York. 761 p. James, D.B. A.D. Gandhi, N. Palaniswamy dan J.X. Rodrigo, 1994. Hatchery Techniques and Culture of Sea Cucumber Holothuria scabra. CMFRI Special Publication. No. 57. India. 41 p Jayadi dan A. Tuwo, 1996. Dinamika Organ Reproduksi teripang jenis Holothuria scabra In : B. Herunadi, I. Mudita, dan Udrekh (eds), Kumpulan Makalah Seminar Maritim Indonesia. Ujung Pandang. Hal. 361-364.
26

Joko Martoyo, 1996. Budidaya Teripang. Niaga Swadaya. Jakarta Kabupaten Selayar. Manipulasi Lingkungan.Oseana (4) : 17 23 MichaelS.http//tolweb.org/tree?group=Holothuridea&contgroup=Echinodermata# TOC1 (14 Oktober 2003) Martoyo, J,. A. Nugroho, dan W. Tjahyo. W. 2007. Budidaya Teripang. Penerbit PT. Penebar Swadaya. 69p. Morgan, A. D. 2001. Husbandry and spawning of sea cucumber Holothuria scabra (Echinodermata: Holothuroidea). SPC Beche de Mer Info. Bull. No. 12: 35. Rustam, 2006. Pelatihan Budidaya Laut Budidaya Tripang. Yayasan Mattirotasi. Sparre, P. SC. Venema. 1999. Introduksi Pengkajian Stok Ikan Tropis. Buku 1: Manual diterbitkan oleh FAO dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Jakarta. Storer, T.I. R.C. Stebbins, R.L. Usinger, dan J.W. Nybakken, 1979. General Zoology. Sixth Edition. McGraw-Hill Inc. New York. 902 p. Sutaman, 1993.Petunjuk Praktis Budidaya Teripang. Penerbit Kanisius Yogyakarta. 68p. Tuwo, A. dan M.N. Nessa, 1991. Beberapa Aspek Biologi Teripang Ekonomis Bulletin Ilmu Kelautan, Torani 1 (1) : 1-20. Wilmoth, J.H. 1967. Biology of Invetebrate. McGraw-Hill. New York. 465 p. UPT LPBIL LIPI Mataram http://www.oseanografi.lipi.go.id/id/content/tugas-dan-fungsi-p2o www.pbil.lipi.go.id/ www.coremap.or.id/downloads/1009.pdf http://eprints.undip.ac.id/22708/ http://www.sciencedirect.com www.google.co.id. Search morfologi teripang.

27

Lampiran 1 Kegiatan PKL Di UPT LPBIL : Gamabar 7. Sipon bak air penampung Larva

Gambar 8. Penumbukan lamun dan rumput gajah

28

Gamabar 9. Penimbangan anakan teripang

Gambar 10. Pemberian pakan anakan teripang

29