Anda di halaman 1dari 7

B.

PEMBAHASAN
1. Istilah Hadis dan Sunnah Menurut Para Ulama Terdapat perbedaan pendapat para ulama dalam memberikan definisi dan sunnah, perdebatan itu dapat dilihat pada definisi Yng memajukan para ahli hadis (Mahadditsun), para ulama ushul fiqih (Ushuliyyun) dan para ulama fiqh (Fuqaha). Perbedaan dalam memberikan definisi tersebut, disebabkan adanya perbedaan disiplin keilmuan, fokus perhatian serta perspektif yang digunakan, dalam memandang diri Rasulullah saw dalam posisinya sebagai sumber hadis itu sendiri. Dengan kata lain, munculnya perbedaan definisi tersebut terjadi karena adanya perbedaan tinjauan dan objek kajian sesuai dengan latar belakang keilmuan masing-masing1. a. Hadis menurut Muhadditsun Bagi mereka hadis dan sunnah didefinisikan sebagai berikut :

:
Sunnah dalam pengertian para ahli hadis adalah segala riwayat yang berasal dari Rasulullah baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, sifat fisik dan tingkah laku, beliau baik diangkat menjadi Rasul (seperti tahannuts beliau di gua Hira) maupun sesudahnya. Ulama hadis melihat Rasulullah sebagai manusia yang sempurna atau pribadi pilihan Allah yang tidak saja perkataan, perbuatan dan ketetapan beliau dapat dicontoh, akan tetapi seluruh perilaku dan perjalanan hidup beliau pantas untuk dijadikan teladan utama. Rasulullah adalah figur sentral dan model terbaik (uswah hasanah) yang harus diteladani oleh setiap umat islam. Karena itu, dalam rangkan menjadikan nabi sebagai uswah hasanah, muhadditsun juga mengikutkan perbuatan Muhammad SAW, sejak sebelum beliau diangkat sebagai nabi/rasul. Oleh karena itu ulama hadis berusaha meliput sebanyak mungkin riwayat yang berkenaan dengan Rasulullah, tidak saja berkenaan dengan aspek hukum, akan tetapi juga

Dr. Umi Sumbulah, M.Ag, Kajian Kritis Ilmu Hadis, (Malang : UIN Press (Anggota IKAPI), 2010), Hal. 1

menceritakan keadaan beliau, sifat-sifat dan kebiasaan beliau, bahkan hingga gambaran dan performa fisik beliau sekalipun2. b. Hadis menurut Ushuliyyun Sedangkan para ushuliyyun juga mensinonimkan pengertian hadis dan sunnah, difinisinya adalah sebagai berikut:

:
Al-Sunnah menurut ulamaUshul Fiqh adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi saw, selain al-Quran, berupa perkataan, perbuatan maupun ketetapan (taqrir) beliau, yang dapat dijadikan sebagai dalil hukum syariah. Ulama Ushuliyyun menyandarkan dalil-dalil hukum, memandang Rasulullah sebagai musyarri (pembuat undang-undang). Oleh karena itu istilah sunnah dibatasi pengertiannya pada perkataan, perbuatan dan ketetapan beliau sepanjang yang dapat dijadikan dalil syara. Meskipun demikian dengan pembatasan ini para ulama ushul tidak berarti menolak cakupan hadis atau sunnah, yang didedefinisikan oleh para ulama muhadditsun3. Hadis menurut Fuqaha Para ulama fiqh (fuqaha) tidak memberikan definisi secara khusus tentang pengertian hadis. Namun mereka memberikan definisi sunnah, yang dipergunakan untuk menunjukkan salah satu bentuk atau sifat hukum yang lima (al-ahkam alkhamsah).

c.

:
Para fuqaha mendefinisikan sunnah sebagai segala perbuatan yang ditetapkan oleh Rasulullah, namun pelaksanaannya tidak sampai kepada tingkat wajib.

2 3

Ibid, Hal. 2 Ibid, Hal. 3

Dengan kata lain, para ahli fuqaha mendefinisikan sunnah sebagai segala sesuatu yang pelaksanaannya dapat ditinggalkan namun dipandang lebih baik dan lebih utama (afdhal) untuk diamalkan. Adapun ulama fiqih (fuqaha) yang

mengkaji masalah bentuk atau sifat hukum mengenai perbuatan manusia, menggunakan istilah sunnah untuk menyatakan salah satu dari sifat hukum dari perbuatan manusia tersebut. Sunnah adalah salah satu dari sifat hukum yang lain, yakni wajib, mubah, makruh, dan haram. Dengan kata lain, sunnah merupakan sebutan dari salah satu hukum yang lima (al-ahkam al-khamsah).

Dari definisi hadis dan sunnah, terutama perspektif Muhadditsun dan Ushulliyun, tidak seorang ulama-pun yang mengajukan difinisi hadis dan sunnah sebagai segala perkataan, perbuatan, dan ketetapan nabi, tetapi selalu mendefinisikan hadis sebagai segala perkataan, perbuatan dan ketetapan yang disandarkan kepada nabi. Dalam konteks ini, para ulama selalu memberikan kata yang disandarkan (ma udzifa/ma usnida), yang dinukil (ma nuqila), yang diriwayatkan (ma ruwiya), yang bersumber (ma sudira), dan sebagainya. Tentunya hal ini berbeda dengan ketika mendefinisikan al-Quran adalah kalamullah, bukan kalam yang disandarkan kepada Allah. Kata-kata yang digunakan oleh para ulama dalam mendefinisikan hadis atau sunnah tersebut, memiliki makna behwa periwayatan hadis memang diakui tidak seperti periwayatan al-Quran. Jika al-Quran diriwayatkan oleh sekelompok orang secara mutawatir, diriwayatkan dari nabi, sehingga tidak seorangpun yang mampu menyangkal atau membantah ayat al-Quran, namun beda dengan hadis, hadis yang mayoritas diriwayatkan tidak secara mutawatir, menjadikan posisi dan otoritas kesumberannya tidak meyakinkan dari nabi. Bahkan seshahihnya hadis tersebut kalau diriwayatkan secara ahad, maka ia dinilai diduga kuat (dzanni al-wurud) berasal dari nabi SAW. Faktanya hadis tidak selalu shahih, namun juga ada yang dhaif. karena itu, sangat tepat definisi yang dimajukan oleh para ulama bahwa tidak seorangpun diantara mereka yang berani menjamin kepastian bahwa semua hadis berasal dari nabi. Hal itu dikatakan sebagai bentuk kehati-hatian para ulama dalam menisbahkan sesuatu kepada Nabi Muhammad SAW.

2. Pengertian Hadis dan Sunnah

Hadis secara terminologi adalah al-jadid dan al-khabar (baru dan berita). Sedangkan menurut istilah syariat, pemakaian hadis juga berbeda-beda sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing. Dapat pula bermakna ucapan yang digunakan dalam percakapan atau yang digunakan dalam percakapan atau yang datang melalui wahyu. Misalkan dalam ayat :
4

...

Dalam ayat pertama di atas bermakna ucapan sedangkan ayat-ayat berikutnya makna kalam Allah atau wahyu. Dalam ayat-ayat diatas Allah mengatakan bahwa firman-Nya sebagai `hadis`, dan makna ini dapat dikatakan sebagai makna Lughow7i. Sunnah secara literal berarti jalan hidup (sirah) atau jalan (thariqah) yang baik maupun yang buruk. Ibn Taimiyah mengungkapkan bahwa sunnah adalah adat kebiasaan (al-adah), yakni jalan (thariqah) yang terus diulang-ulang oleh beragam manusia, baik yang dianggap sebagai ibadah ataupun bukan ibadah. Sunnah dan atau Hadits bagi sebagian umat didefinisikan dengan struktur definisi yang sama, yakni segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi baik perkataan, perbuatan, persetujuan maupun sifatnya. Akan tetapi jika diadakan telaah lebih lanjut, maka akan didapatkan perbedaan makna yang signifikan baik secara bahasa maupun istilah. Kaitannya dengan hal tersebut Sunnah memiliki makna yang lebih luas daripada Hadits, walaupun dari keduanya terbentang garis kontinuitas yang tidak terputus, namun mencampuradukkan antara keduanya tidak dapat dibenarkan. Sunnah lebih dapat dipahami dengan suatu manifestasi dari hal yang disebut sebagai tradisi Nabi, sedangkan Hadits merupakan bentuk reportase atau penuturan tentang apa yang disebabkan Nabi atau yang dijalankan dalam praktek tindakan orang lain yang
4 5

QS. At-Tahrim 3 QS. At-Thur 34 6 QS. An-Nisa 87 7 H. Zeid B.Smeer, Lc., M.A.Ulumul Hadis(Malang:UIN Press (Anggota IKAPI),2008). Hal.2

didiamkan beliau (yang dapat dapat diartikan sebagai pembenaran). Jadi, tidak berarti bahwa Hadits dengan sendirinya mencakup seluruh Sunnah8.

Sunnah dan atau Hadits bagi sebagian umat didefinisikan dengan struktur definisi yang sama, yakni segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi baik perkataan, perbuatan, persetujuan maupun sifatnya. Akan tetapi jika diadakan telaah lebih lanjut, maka akan didapatkan perbedaan makna yang signifikan baik secara bahasa maupun istilah. Kaitannya dengan hal tersebut Sunnah memiliki makna yang lebih luas daripada Hadits, walaupun dari keduanya terbentang garis kontinuitas yang tidak terputus, namun mencampuradukkan antara keduanya tidak dapat dibenarkan. Sunnah lebih dapat dipahami dengan suatu manifestasi dari hal yang disebut sebagai tradisi Nabi, sedangkan Hadits merupakan bentuk reportase atau penuturan tentang apa yang disebabkan Nabi atau yang dijalankan dalam praktek tindakan orang lain yang didiamkan beliau (yang dapat dapat diartikan sebagai pembenaran). Jadi, tidak berarti bahwa Hadits dengan sendirinya mencakup seluruh Sunnah. (Nurcholis Majid) Telah banyak diketahui bahwa terdapat kelompok-kelompok kaum muslim yang sangat meragukan otentisitas dan otoritas kumpulan hadits. Mereka sebenarnya tidak mengingkari sunnah, karena ingkar pada sunnah Nabi adalah mustahil bagi seorang muslim. Tetapi mereka ini dapat disebut sebagai golongan Ingkar Hadits (sebutlah Inkar al-Hadits). Menurut Dr. Mushthafa al-Sibai, mantan dekan Fakultas Syariah Universitas Syiria, golongan Ingkar Hadits itu terdapat di mana-mana dalam dunia Islam, dari dahulu sampai sekarang. Sangat menarik jalan pikiran seorang tokoh yang ingkar hadits itu di zaman modern, yang disebutkan oleh al-Sibai sebagai contoh, dan yang dinilainya banyak membuka pintu bagi orang lain sesudahnya untuk juga bersikap ingkar pada hadits. Tanpa menyebut namanya secara jelas, al-Sibai mengutip tokoh itu yang pandangannya pernah dimuat oleh majalah al-Manar pimpinan Sayyid Muhammad Rashyid Ridla. Tokoh itu sendiri, menurut Mushthafa al-Sibai, adalah seorang muslim yang bergairah, yang telah tampil membela Islam dengan cara yang mengagumkan. Tapi pandangannya yang menolak otoritas hadits telah menimbulkan heboh di kalangan para ulama al-Azhar. Secara ringkas, menurut al-Sibai, pandangan mereka yang menolak hadits ialah bahwa Islam hanyalah alQuran saja, dan bahwa Kitab Suci merupakan satu-satunya sumber penetapan syariah disebabkan kepastian otentisitasnya. Sedangkan sunnah (yang dimaksud tentunya hadits) mengandung keraguan dalam keabsahannya sebagai sumber argumen (hujjah) karena terjadi penambahan-penambahan padanya, dan karena adanya banyak kontradiksi dalam sebagian cukup besar dari nash-nash-nya. Mereka mendasarkan pandangan itu pada hal-hal berikut: 1.Allah telah menegaskan Tidak ada satu perkarapun yang Kami abaikan dalam Kitab Suci (Q.S. Al-Anam 6:38). Ini menjelaskan bahwa Kitab Suci telah mencakup seluruh prinsip penetapan syariah, sehingga tidak lagi ada peran bagi sunnah (hadits) untuk menetapkan hukum dan membuat syariah. 2.Allah menjamin pemeliharaan al-Quran dari kesalahan, sebagaimana difirmankan, Sesungguhnya Kami benar-benar telah menurunkan pelajaran, dan sesungguhnyalah Kami yang memelihara-Nya (Q.S. al-Hijr 15:9). Tuhan tidak menjamin pemeliharaan sunnah (hadits), sehingga masuk ke dalamnya penambahan dan pemalsuan. Kalau seandainya hadits termasuk sumber penetapan syariah, tentulah
8

http://fahreena.wordpress.com/artikel/studi-hadits/antara-sunnah-dan-hadits/

Tuhan memeliharanya untuk kepentingan para hamba-Nya dari kemungkinan penyelewengan dan perubahan sebagaimana Dia telah memelihara Kitab Suci-Nya. 3.Sunnah (hadits) belum dibukukan di zaman Nabi saw., bahkan secara otentik diceritakan bahwa beliau melarang membukukannya. Hadits juga belum dibukukan di zaman al-Khulafa al-Rasyidun, dan kebanyakan tokoh besar para sahabat Nabi serta para Tabiun seperti Umar, Abu Bakr, Alqamah, Ubaydah, al-Qasim Ibn Muhammad, al-Syabi, al-Nakhai, dll., menunjukkan sikap tidak suka pada usaha membukukannya. Pembukuan hadits baru dimulai pada akhir abad pertama, dan selesai pengumpulan dan koreksinya pada pertengahan abad ketiga. Ini adalah jangka waktu yang cukup panjang untuk menimbulkan keraguan tentang keabsahan teks-teks hadits, dan hal itu dengan sendirinya menempatkan sunnah pada tingkat dugaan (martabat al-dhann) belaka, sedangkan dugaan tidak dapat menghasilkan hukum syari, karena Allah berfirman, Sesungguhnya dugaan tidak sedikit pun menghasilkan kebenaran (Q.S. al-Najm 52:28). 4.Terdapat penuturan dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda Sesungguhnya hadits akan memancarkan dari diriku. Apapun yang sampai kepadamu sekalian dan bersesuaian dengan al-Qur,an, ia berasal dari diriku; dan apapun yang sampai kepadamu dan menyalahi al-Quran, ia tidak berasal dariku. Dalam kutipan al-Sibai tentang argumen orang yang ingkar pada hadits itu disebutkan bahwa pembukaan hadits dimulai pada akhir abad pertama Hijri, dan rampung pada pertengahan abad ketiga. Mungkin yang dimaksudkan ialah adanya dorongan pembukuan hadits oleh Khalifah Umar Ibn Abd al-Aziz (w. 102 H.) dari Bani Umayyah. Khalifah ini terkenal dengan sebutan kehormatan, Umar II, yang mengisyaratkan pengakuan bahwa ia adalah pelanjut kekhalifahan Umar Ibn al-Khaththab yang bijakbestari. Maka banyak kalangan kaum Muslim yang memandang Umar II sebagai anggota kelima dari al-Khulafa, alRasyidun, sesudah Ali Ibn Abi Thalib. Umar II memerintahkan seorang sarjana terkenal, Syihab al-Din al-Zuhri (w. 124 H) untuk meneliti dan membuktikan tradisi yang hidup di kalangan penduduk Madinah, Kota Nabi, karena keyakinan Umar II bahwa tradisi itu merupakan kelanjutan langsung pola kehidupan masyarakat Madinah di zaman Nabi, jika bukannya malah merupakan wujud historis yang kongkret dari tradisi atau sunnah Nabi sendiri. Dari sudut analisa politik, tindakan Umar II ini adalah untuk menemukan dan mengukuhkan landasan pembenaran bagi ideologi Jamaah-nya, yang dengan ideologi itu ia ingin merangkul seluruh kaum Muslim tanpa memandang aliran politik atau pemahaman keagamaan mereka, termasuk kaum Syiah dan Khawarij yang merupakan kaum oposan terhadap rezim Umayyah. Umar II melihat bahwa sikap yang serba akomodatif pada semua kaum muslim tanpa memandang aliran politik atau paham keagamaan khasnya itu telah diberikan contohnya oleh penduduk Madinah, di bawah ke kepeloporan tokoh-tokohnya seperti Abd-Allah ibn Umar (Ibn al-Khaththab), Abd-Allah Ibn Abbas dan Abd-Allah Ibn Masud. Jadi, dalam pandangan Umar II, sikap yang serba inklusifistik sesama kaum muslim itu merupakan tradisi atau sunnah historis penduduk Madinah, dan dengan begitu, juga merupakan kelanjutan yang sah dari tradisi atau sunnah Nabi. Maka penelitian dan pembukaan tentang tradisi penduduk Madinah akan dengan sendirinya menghasilkan pembukaan tradisi atau sunnah Nabi. Selanjutnya, sunnah itu akan memberi landasan legitimasi bagi idenya tentang persatuan seluruh umat Islam dalam Jamaah yang serba mencakup. Berdasarkan latar belakang inilah maka ideologi Umar II kelak disebut sebagai paham sunnah dan jamaah dan para pendukungnya disebut ahl alsunnah wa al-Jamaah (golongan sunnah dan jamaah). Mushthafa al-Sibai amat menghargai kebijakan Umar II berkenaan dengan pembukaan sunnah itu, sekalipun ia menyesalkan sikap Khalifah yang baginya terlalu banyak memberi angin pada kaum Syiah dan Khawarij (karena, dalam pandangan al-Sibai, golongan oposisi itu kemudian mampu

memobilisasi diri sehingga, dalam kolaborasinya dengan kaum Abbasi, mereka akhirnya mampu meruntuhkan Dinasti Umayyah dan melaksanakan pembalasan dendam yang sangat kejam). Dan, menurut al-Sibai, sebelum masa Umar II pun sebetulnya sudah ada usahausaha pribadi untuk mencatat hadits, sebagaimana dilakukan oleh Abd Allah Ibn Amr Ibn al-Ash. Tapi, sesungguhnya, pembukuan hadits secara sistematis dan kritis dan dalam skala besar serta pada tingkat kesungguhan yang tinggi baru dimulai pada awal abad ketiga dengan tampilnya Iman al-Syafii (w. 204 H), dan baru benar-benar rampung pada awal abad keempat Hijri, dengan tampilnya al-Nasai (w. 303 H). Imam al-Syafii adalah tokoh pemikir peletak sebenarnya teori ilmiah pengumpulan dan klasifikasi hadits. Teori dan metodenya kemudian diterapkan dengan setia oleh al-Bukhari (w. 256 H), lalu diteruskan berturut-turut oleh Muslim (w. 261 H), Ibn Majah (w.273 H), Abu Dawud (w.275 H), alTurmudzi (.w. 279 H) dan terakhir, al-Nasai (w. 303 H). Koleksi mereka berenam itulah yang kelak disebut Kitab yang Enam (al-Kutub al-Sittah). Akibatnya, pengertian sunnah pun kemudian menjadi hampir identik dengan koleksi hadits dalam Kitab yang Enam itu. http://fahreena.wordpress.com/artikel/studi-hadits/antara-sunnah-dan-hadits/