HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit

BAB IV PERMASALAHAN BAYI BARU LAHIR

A. Asfiksia Neonatorum Laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa sejak tahun 2000 – 2003 asfiksia menempati urutan ke-6, yaitu sebanyak 8%, sebagai penyebab kematian anak diseluruh dunia setelah pneumonia, malaria, sepsis neonatorum dan kelahiran prematur.1,2 Diperkirakan 1 juta anak yang bertahan setelah mengalami asfiksia saat lahir, kini hidup dengan morbiditas jangka panjang seperti cerebral palsy, retardasi mental dan gangguan belajar.3 Data dari Riset Kesehatan Dasar Depkes tahun 2007 menyatakan bahwa kematian pada bayi baru lahir usia 0-6 hari 35,9% disebabkan oleh gangguan pernafasan.4 WHO mendefinisikan asfiksia neonatorum sebagai kegagalan bernapas secara spontan dan teratur segera setelah lahir.5 Dalam rangka menegakkan diagnosis, dilakukan anamnesis untuk mendapatkan faktor risiko terjadinya asfiksia neonatorum. Kemudian dilakukan pemeriksaan fisis sesuai dengan algoritma resusitasi neonatus, yaitu: 1) Bayi tidak bernafas atau menangis; 2) Denyut jantung kurang dari 100x/menit; 3) Tonus otot menurun; 4) Cairan ketuban ibu bercampur mekonium, atau sisa mekonium pada tubuh bayi; 5)BBLR.
Tabel 4. Faktor risiko asfiksia neonatorum Faktor Faktor risiko antepartum risiko intrapartum 7 Primipara Malpresentasi7 Penyakit pada ibu:3 Partus lama7 Demam saat kehamilan Persalinan yang sulit dan - Hipertensi dalam kehamilan traumatik7 Anemia Mekoneum dalam ketuban3,7 Diabetes mellitus Ketuban pecah dini3 Penyakit hati dan ginjal Induksi Oksitosin Penyakit kolagen dan Prolaps tali pusat3 pembuluh darah Perdarahan antepartum3,7 Riwayat kematian neonatus sebelumnya7 Penggunaan sedasi, anelgesi atau anestesi3 Faktor risiko janin Prematuritas3,7 BBLR3,7 Pertumbuhan janin terhambat3,7 Kelainan kongenital3,7

49

HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit

Bayi Lahir
Cukup bulan? Air ketuban jernih ? Bernapas atau menangis ? Tonus otot baik ?

Ya

Perawatan rutin : Berikan kehangatan Bersikan jalan nafas Keringkan Nilai warna kulit

Berikan kehangatan Posisikan, bersihkan jalan napas* (bila perlu) Keringkan,rangsang, posisikan lagi

30 detik

Evaluasi napas, frekuensi denyut jantung dan warna

Bernapas, FJ>100, kemerahan

Perawatan suportif

Bernapas, FJ>100, sianosis Apneu atau FJ<100 Beri tambahan oksigen sianosis menetap Berikan ventilasi tekanan positif*(VTP)

kemerahan

30 detik

Ventilasi efektif

FJ> 100 & kemerahan

Perawatan Pasca resusitasi

FJ < 60

FJ > 60

30 detik

Lakukan ventilasi tekanan positif* Kompresi dada FJ < 60 Berikan epinefrin* Nilai kembali efektivitas : Ventilasi Kompresi dada Intubasi endotrakeal Pemberian epinefrin Pertimbangkan kemungkinan : Hipovolemia

FJ< 60 atau sianosis menetap atau ventilasi tidak berhasil FJ = Frekuensi Jantung *Intubasi endotrakeal dapat dipertimbangkan pada beberapa langkah Pertimbangkan : Malformasi jalan napas Gangguan paru seperti pneumotoraks Hernia diafragmatika Penyakit jantung bawaan

Pertimbangkan untuk menghentikan resusitasi

Gambar 27. Algoritma resusitasi neonatus6

50

HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit

Penatalaksanaan resusitasi dasar pada penanganan segera asfiksia neonatorum dilakukan sesuai dengan algoritma tatalaksana asfiksia neonatorum yang direkomendasikan American Heart Association (AHA)/American Academy of Pediatrics (AAP)6, dengan melakukan beberapa penyesuaian: 1. Tim resusitasi Di tingkat puskesmas, bidan harus dapat mengantisipasi, mengenali gejala asfiksia dan dapat memberikan resusitasi dasar dengan segera, bila diperlukan segera melakukan rujukan ke rumah sakit. Di tingkat pelayanan kesehatan yang lebih tinggi, tiap rumah sakit yang menolong persalinan harus memiliki tim resusitasi yang terdiri dari dokter dan paramedis yang telah mengikuti pelatihan resusitasi neonatus yang diselenggarakan oleh organisasi profesi.7 2. Alat resusitasi Di tingkat puskesmas, harus tersedia minimal balon mengembang sendiri (self inflating bag/ ambu bag) bagi pelaksanaan ventilasi dalam resusitasi asfiksia neonatorum. Balon mengembang sendiri juga minimal harus ada sebagai cadangan dimanapun resusitasi dibutuhkan, bila sumber gas bertekanan gagal atau T-piece resusitator tidak berfungsi.8 Di tingkat pelayanan kesehatan yang lebih tinggi, rumah sakit harus dilengkapi dengan alat ventilasi yang lebih canggih. Neopuff harus ada ditingkat ini. 3. Penggunaan oksigen Penelitian Saugstad dkk9,10 menyatakan bahwa penggunaan oksigen aliran bebas (21%) menurunkan risiko mortalitas dan hipoksik iskemik ensefalopati. 11,12,13 Penelitian Tan dkk14 menyatakan bahwa saat ini belum cukup bukti yang bisa dijadikan dasar untuk merekomendasikan penggunaan oksigen aliran bebas sebagai ganti oksigen 100%, karena beberapa penelitian yang menggunakan oksigen aliran bebas tetap menggunakan oksigen 100% sebagai cadangan pada lebih dari ¼ objek penelitiannya. Karenanya bila oksigen aliran bebas (O 2 21%) digunakan pada awal resusitasi bayi-bayi cukup bulan, oksigen 100% tetap harus tersedia sebagai cadangan bila resusitasi gagal. 4. Penggunaan oksimeter untuk monitoring dan panduan pemberian oksigen Alat ini dapat mendeteksi hipoksia pada bayi sebelum bayi terlihat sianosis secara klinis.15 Oksimeter tidak dapat digunakan pada kondisi hipovolemia dan vasokontriksi. Keakuratannya ada pada kisaran saturasi oksigen 70-100% (± 2%). Dibawah 70% alat ini kurang akurat. Pada pemakaian klinis, oksimeter dapat mendeteksi hipoksia secara cepat sehingga dapat dapat dijadikan alat monitoring dan panduan untuk pemberian oksigen secara lebih akurat.15,16 Resusitasi pada bayi kurang bulan memerlukan tambahan tenaga terampil, termasuk petugas yang terlatih dalam melakukan intubasi endotrakeal, dan tambahan sarana untuk menjaga suhu tubuh. Jika bayi diantisipasi kurang bulan secara signifikan (misalnya <28 minggu), diperlukan plastik pembungkus (polyethylene) yang dapat dibuka-tutup serta alas hangat yang dapat dipindahpindahkan siap pakai. Penelitian Vohra dkk17 pada neonatus dengan usia gestasi <37 minggu atau berat lahir < 2.500 gram menunjukkan bahwa penggunaan plastik pembungkus dalam 10 menit pertama setelah lahir pada bayi usia gestasi < 28 minggu efektif, namun tidak terbukti efektif pada usia gestasi 28-31 minggu.

51

tekanan awal 20-25 cmH2O cukup untuk sebagian besar bayi kurang bulan.18 Inkubator transpor juga diperlukan untuk memindahkan bayi ke ruang perawatan setelah resusitasi. Pengatur aliran dapat dihubungkan ke blender dengan kecepatan aliran 0 sampai 20 L/menit untuk mendapatkan konsentrasi oksigen yang dapat diberikan langsung ke bayi atau melalui alat tekanan positif.19 Untuk menghindari pemberian oksigen yang berlebihan saat resusitasi pada bayi kurang bulan.7 c. b. Plastik yang digunakan adalah plastik transparan atau kantong pembungkus yang terbuat dari low density polyethylene (LDPE) atau linear low density polyethylene (LLDPE) atau polyvinylidene chloride (PVDC) atau plastik membran semi-permeabel seperti Opsite® atau Tegaderm®. Pada umumnya TPAE sampai 6 cmH2O cukup. terlalu tinggi bagi bayi kurang bulan dan berbahaya bagi jaringannya yang imatur. Jika tidak ada perbaikan frekuensi jantung atau gerakan dada.Tekanan terendah digunakan untuk memperoleh respons yang adekuat Jika VTP intermiten diperlukan karena apnu. karena beberapa penelitian yang menggunakan oksigen aliran bebas tetap menggunakan oksigen 100% sebagai cadangan pada lebih dari ¼ objek penelitiannya. Saturasi oksigen lebih dari 95% dalam waktu lama. Blender oksigen diperlukan untuk memberikan konsentrasi oksigen antara 21% sampai 100%. Secara garis besar hal-hal berikut harus diperhatikan pada resusitasi bayi kurang bulan : a. digunakan blender oksigen dan oksimeter agar jumlah oksigen yang diberikan dapat diatur dan kadar oksigen yang diserap bayi dapat diketahui. frekuensi jantung kurang dari 100 x/menit. Ventilasi Bayi kurang bulan mungkin sulit diventilasi dan juga mudah cedera dengan ventilasi tekanan positif yang intermiten. Pemberian oksigen Saugstad dkk9. ii. kepala dikeringkan dan dibiarkan terbuka.10 menyatakan bahwa penggunaan oksigen aliran bebas (21%) menurunkan risiko mortalitas dan hipoksik iskemik ensefalopati 11. diperlukan tekanan yang lebih tinggi.Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) Jika bayi bernapas spontan dengan frekuensi jantung diatas 100 x/menit tapi tampak sulit bernapas dan sianosis pemberian CPAP mungkin bermanfaat. Menjaga bayi tetap hangat Bayi yang lahir kurang bulan hendaknya mendapatkan semua langkah untuk mengurangi kehilangan panas.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit Bayi dibungkus plastik transparan dari ujung kaki sampai sebatas leher.12.13 Sementara Tan dkk14 menyatakan bahwa saat ini belum cukup bukti untuk merekomendasikan penggunaan oksigen aliran bebas sebagai ganti oksigen 100%. Hal-hal berikut perlu dipertimbangkan:7 i. CPAP diberikan dengan memasang sungkup balon yang tidak mengembang sendiri atau T-piece resuscitator pada wajah bayi dan mengatur katup pengontrol aliran atau katup Tekanan Positif Akhir Ekspirasi (TPAE) sesuai dengan jumlah CPAP yang diinginkan. atau sianosis menetap. Selang bertekanan tinggi menghubungkan oksigen dan sumber udara ke blender mengatur gas dari 21% ke 100%. CPAP tidak dapat digunakan dengan balon mengembang sendiri. 52 .

Setiap anggota tim persalinan harus dapat mengidentifikasi situasi persalinan yang dapat menyebabkan kesalahpahaman atau menyebabkan keterlambatan pada situasi gawat. 53 . Bila ibu memiliki faktor risiko yang memungkinkan bayi lahir dengan asfiksia.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit iii. Adanya kebutuhan dan tantangan untuk meningkatkan kerjasama antar tenaga obstetri di kamar bersalin. pemberian minum yang dilakukan secara perlahan dan hati-hati sambil mempertahankan nutrisi melalui intravena dan pemantauan kecurigaan tehadap infeksi. Pemeriksaan antenatal dilakukan minimal 4 kali selama kehamilan seperti anjuran WHO untuk mencari dan mengeliminasi faktor-faktor risiko. 21 Bila bayi berisiko lahir prematur yang kurang dari 34 minggu. pemberian kortikosteroid 24 jam sebelum lahir menjadi prosedur rutin yang dapat membantu maturasi paru-paru bayi dan mengurangi komplikasi sindroma distres pernapasan (respiratory distress syndrome). Pencegahan asfiksia neonatorum Pencegahan. sewaktu masih di kamar bersalin atau bahkan jika mereka belum mengalami distres pernapasan.Pemberian surfaktan secara signifikan Bayi sebaiknya mendapat resusitasi lengkap sebelum surfaktan diberikan. penggunaan partogram yang benar dapat membantu deteksi dini kemungkinan diperlukannya resusitasi neonatus. perlu dilakukan pemantauan kadar gula darah.20 Pada saat persalinan. Perlu diadakan pelatihan untuk penanganan situasi yang tak diduga dan tidak biasa yang dapat terjadi pada persalinan. Penelitian menunjukkan bayi yang lahir kurang dari usia kehamilan 30 minggu mendapatkan keuntungan dengan pemberian surfaktan setelah resusitasi. jumlah oksigen dan ventilasi yang tepat. kejadian apnu dan bradikardi pada bayi.Pencegahan terhadap kemungkinan cedera otak Setelah resusitasi. Penelitian Fahdhly dan Chongsuvivatwong22 terhadap penggunaan partogram oleh bidan di Medan menunjukkan bayi yang dilahirkan dengan skor apgar 1 menit < 7 berkurang secara signifikan dengan pemantauan partogram WHO. iv.20. eliminasi dan antisipasi terhadap faktor-faktor risiko asfiksia neonatorum menjadi prioritas utama. maka langkah-langkah antisipasi harus dilakukan.

kateter penghisap. Fasilitas pelayanan kesehatan pada pelayanan primer direkomendasikan ketersediaan alat-alat/bahan resusitasi berupa oksigen. [Rekomendasi C LoE IV] 54 . 3% bayi dengan asfiksia neonatorum yang mengalami komplikasi dan sesuai dengan 4 kriteria klinis asfiksia menurut AAP/ACOG perlu penanganan dan pemantauan dengan sarana yang lebih lengkap tingkat pelayanan kesehatan yang lebih tinggi. Namun begitu. kateter umbilikal dan obat-obat resusitasi seperti cairan kristaloid dan epinefrin. Asfiksia neonatorum merupakan masalah pada bayi baru lahir dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. balon mengembang sendiri.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit REKOMENDASI HTA 1. [Rekomendasi C LoE IV] 4. Secara umum definisi asfiksia neonatorum yang digunakan mengacu pada definisi WHO. penghangat. Dalam penatalaksanaan asfiksia neonatorum. masalah ini perlu segera ditanggulangi dengan berbagai macam cara dan usaha mulai dari aspek promotif. laringoskop. balon mengembang sendiri. kuratif dan rehabilitatif. Tenaga resusitasi di tingkat pelayanan dasar direkomendasikan dapat melakukan resusitasi dasar yang bersertifikasi terutama memberikan ventilasi yang adekuat. pipa orogastrik. [Rekomendasi C LoE IV] 5. sungkup oksigen. pipa endotrakeal. [Rekomendasi C LoE IV] 3. kateter penghisap. Dalam rangka menurunkan Angka Kematian Perinatal dan Angka Kematian Neonatal Dini. direkomendasikan ketersediaan alat-alat/bahan resusitasi di tingkat pelayanan dasar berupa oksigen. [Rekomendasi B LoE IIb] 2. pipa orogastrik. sungkup oksigen. kateter umbilikal dan obat-obat resusitasi seperti cairan kristaloid dan epinefrin. penghangat.

PMK intermiten PMK yang dapat dilakukan saat bayi belum stabil (masih mendapatkan sokongan medis) Waktu: dilakukan saat ibu menjenguk bayinya. pemberian oksigen terapi. PMK kontinu PMK yang dilakukan saat bayi sudah dalam keadaan stabil (tidak ada penyakit akut) Waktu: ibu dan bayi bersama dalam 24 jam Tempat : ruangan rawat khusus PMK kontinu Kriteria Pelaksanaan PMK PMK intermiten: Bayi kurang bulan yang masih memerlukan pemantauan kardiopulmonal. Kangaroo support (dukungan) 4. tidak ada kelainan kongenital yang berat. berat lahir ≤2000 gram. dan pemantauan lain.26 55 . dan mampu bernapas sendiri. cairan intravena.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit B. Perawatan Bayi Berat Lahir Rendah dengan Metode Kanguru Perawatan metode kanguru (PMK) adalah perawatan untuk bayi baru lahir dengan melakukan kontak langsung antara kulit bayi dengan kulit ibu (skin-to-skin contact).23 Perawatan metode kanguru ini bermanfaat terutama untuk bayi kurang bulan. keadaan tersebut tidak mencegah pelaksanaan PMK.24. Ibu dapat memberikan nutisi (ASI dan formula secara oral maupun melalui pipa lambung) Meskipun demikian. dada bayi menempel ke dada ibu. pada sebagian besar kasus PMK dapat segera dilakukan setelah bayi lahir. lama dikerjakan sebaiknya lebih dari 1 jam Tempat: perawatan bayi (NICU/Special care nursery) 2. Terdapat dua tipe PMK: 1.25 PMK kontinu: Bayi yang memenuhi kriteria untuk dilakukan PMK adalah bayi prematur (kurang bulan). Posisi kanguru ini disebut juga dengan kontak kulit-ke-kulit.23. Kangaroo discharge (pemulangan) dan pemantauan ketat Kangaroo position (posisi) Bayi diletakkan diantara payudara dengan posisi tegak lurus. Kangaroo position (posisi) 2. karena kulit bayi mengalami kontak seluas-luasnya secara langsung dengan kulit ibu.23 Implementasi PMK Komponen PMK Terdapat empat komponen PMK yaitu : 1. tidak ada kegawatan pernapasan dan sirkulasi. oksimetri. Kangaroo nutrition (nutrisi) 3.

Kangaroo support (dukungan) Bentuk dukungan pada PMK dapat berupa dukungan fisik maupun emosional. Perut bayi sebaiknya berada di sekitar epigastrium ibu dan diperhatikan agar tidak tertekan. Dukungan dapat diperoleh dari petugas kesehatan. Ibu dapat tidur dengan kepala lebih tinggi menggunakan beberapa bantal dan tetap melaksanakan PMK. seluruh anggota keluarga. ibu dan masyarakat. akan sangat sulit bagi ibu untuk dapat 56 . Posisi bayi diamankan dengan kain panjang atau pengikat lainnya. 1st ed. ibu tetap dapat melakukan pekerjaan ringan sehari-hari. tangan harus dalam posisi fleksi.23 Pemberian nutrisi pada saat melakukan PMK dapat ASI atau formula baik oral maupun melalui pipa lambung. Tanpa adanya dukungan. 2003. Bayi menggunakan popok dan topi.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit Gambar 28. Kangaroo nutrition (nutrisi) Posisi kanguru sangat ideal bagi proses menyusui. Kangaroo mother care. Tungkai bayi haruslah dalam posisi ”kodok”. Tepi pengikat tepat berada di bawah kuping bayi. proses menyusui menjadi lebih lama dan dapat meningkatkan volume ASI. Cara dan waktu pemberian nutrisi sesuai protokol untuk BBLR/neonatus kurang bulan. Bila ibu ingin kekamar mandi atu melakukan aktivitas yang mengharuskan tidak dapat menggendong bayinya maka anggota keluarga lain dapat bergantian menggendong bayi tersebut. Dengan cara ini bayi dapat melakukan pernapasan perut dan napas ibu akan merangsang bayi. 23 Kain diikatkan dengan kuat setinggi dada bayi agar bayi tidak tergelincir saat ibu bangun dari duduk. Memposisikan bayi untuk PMK23 Sumber: World Health Organization. Hindari posisi kepala terlalu fleksi atau ekstensi. PMK membuat proses menyusui menjadi lebih berhasil. Posisi kepala seperti ini bertujuan untuk menjaga agar saluran napas tetap terbuka dan memberi peluang agar terjadi kontak mata antara ibu dan bayi. 23 Ibu dapat menggunakan baju berkancing depan.A practical guide. Kepala bayi dipalingkan ke sisi kanan atau kiri. dengan posisi sedikit tengadah (ekstensi).

Memfasilitasi perawatan metode kanguru dari yang intermiten menjadi kontinu hingga bayi dapat dilepas dari PMK 5. Untuk mempromosikan pemberian ASI eksklusif 6. Memberikan pelayanan pada bayi berat lahir rendah/ prematur pascarawat inap yang telah menjalani Perawatan Metode Kanguru 2. Satu kali kunjungan perminggu setelah 37 minggu 57 . berhenti minum atau muntah Kejang Diare Kulit menjadi kuning Kangaroo discharge (pemulangan) dan pemantauan Pemulangan berarti ibu dan bayinya boleh pulang ke rumah dengan tetap menjalani PMK di rumahnya dan dapat dilakukan pemantauan oleh pusat pelayanan kesehatan terdekat dengan domisili keluarga. PMK dapat dipulangkan dari rumah sakit ketika telah memenuhi kriteria dibawah ini: 23 Ibu dan bayi : Kesehatan bayi secara keseluruhan dalam kondisi baik dan tidak ada apnea atau infeksi Bayi minum dengan baik Berat bayi selalu bertambah (sekurang-kurangnya 15g/kg/hari atau 20-30 g/hari) untuk sekurang-kurangnya tiga hari berturut-turut Ibu mampu merawat bayi dan dapat datang secara teratur untuk melakukan follow-up Tujuan tindak lanjut dan monitoring (pemantauan): 1. Meningkatkan angka kesintasan BBLR Waktu yang baik saat ibu melakukan pemantauan adalah: 1. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan bayi yang menjalani PMK 3. Edukasi yang diberikan kepada ibu di antaranya harus mengandung informasi mengenai pemantauan terhadap tanda bahaya. Dua kali kunjungan perminggu sampai dengan 37 minggu usia pascamenstruasi 2. Berikut ini beberapa tanda bahaya: Kesulitan bernapas : dada tertarik ke dalam. Wanita hamil sebaiknya sudah diberikan informasi dan edukasi tentang PMK sejak kunjungan antenatal pertama. Skrining gangguan pertumbuhan dan perkembangan bayi yang menjalani PMK di rumah 4. merintih Bernapas sangat cepat atau sangat lambat Serangan apnea sering dan lama Bayi terasa dingin : suhu bayi di bawah normal walaupun telah dilakukan penghangatan Bayi teraba panas Sulit minum: bayi tidak lagi terbangun untuk minum. Mempromosikan dan melakukan imunisasi 7.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit melakukan PMK dengan berhasil.

PMK direkomendasikan untuk BBLR di Indonesia terutama apabila bayi tersebut stabil keadaan klinisnya dan hanya memerlukan inkubator untuk perawatannnya. Rekomendasi waktu pemantauan: [Rekomendasi C LoE IV] Dua kali kunjungan follow up perminggu sampai dengan 37 minggu usia pascamenstruasi. Kriteria definitif pemulangan terdiri dari : [Rekomendasi C LoE IV] Bayi mencapai berat badan minimum yakni 1500 g. PMK memberikan ibu kepercayaan diri dalam merawat bayi berat lahir rendah. sedangkan dan bayi dengan berat badan >1800 gram dilakukan follow-up setiap dua minggu. Bayi yang belum dapat dilakukan PMK kontinu. Kesehatan bayi secara keseluruhan dalam kondisi baik dan tidak ada apnea atau infeksi Bayi minum dengan baik Berat bayi selalu bertambah (sekurang-kurangnya 15g/kg/hari) untuk sekurang-kurangnya tiga hari berturut-turut Ibu mampu merawat bayi dan dapat datang secara teratur untuk melakukan follow-up Bayi yang dipulangkan dengan berat badan < 1800 gram difollow-up setiap minggu dan dilakukan minimal di RS Umum Daerah. Satu kali kunjungan follow up perminggu setelah 37 minggu. [Rekomendasi A LoE Ia] 4. PMK dapat dilakukan disemua level pelayanan kesehatan di Indonesia sesuai dengan sarana dan prasarana yang tersedia. [Rekomendasi A LoE Ib] 2. PMK terbukti dapat menstabilkan suhu bayi dengan menggunakan panas badan ibu dan sama efektif bahkan lebih baik dari inkubator. Pusat pelayanan kesehatan sekunder dapat melakukan PMK kontinu untuk BBLR yang masih menggunakan alat kesehatan minimal.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit REKOMENDASI HTA 1. [Rekomendasi A LoE Ia] 3. boleh dilakukan di Puskesmas. Kunjungan pertama paling lambat dalam 48 jam setelah pemulangan. 6. PMK kontinu di RS lebih efisien dalam hal maka keperluan tenaga kesehatan khususnya perawat. [Rekomendasi A LoE Ia] 5. Ibu yang melakukan PMK mempunyai kadar stress hormone (kortisol) yang lebih rendah sehingga diasumsikan ibu dan bayi lebih tenang/tidak stress. dianjurkan untuk melakukan PMK intermitten untuk membiasakan ibu merawat bayi dengan PMK. 58 . Pusat pelayanan primer seperti PUSKESMAS dapat meneruskan perawatan BBLR yang telah di pulangkan dari pusat pelayanan sekunder atau tersier.

kelainan endokrin metabolik. tertundanya asupan minum.27. jarang mengalami peningkatan bilirubin serum > 12 mg/dL.28 Sebagian besar kuning adalah jinak.28.33 Bayi baru lahir dengan risiko tersebut perlu diobservasi ketat sepanjang mingguminggu awal kelahirannya. dan hipotiroidisme) akan meningkatkan risiko hiperbilirubinemia. Pada neonatus yang mengalami kernikterus.500 gram (RO=3. yaitu ≥ 5 mg/dL (86 mol/L). Faktor Risiko Hiperbilirubinemia neonatal.45 IK=3. kelainan anatomi organ hati.31 Etiologi dan Faktor Risiko Neonatus tanpa faktor risiko yang teridentifikasi. 28. 28. Banyak faktor risiko yang dapat meningkatkan level bilirubin serum.77).HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit C.28. Hiperbilirubinemia Neonatal Definisi dan Epidemiologi Jaundice/kuning terjadi pada sekitar 60% bayi baru lahir yang sehat dengan usia gestasi ≥ 35 minggu. kloramfenikol 59 .32 Tertundanya pelepasan mekonium (sumbatan mekonium.28 Tabel 5.7% (n=834) kasus hiperbilirubinemia pada bayi dengan berat lahir < 2.34 IK=3.01) dan 47. yaitu peningkatan produksi bilirubin.30 Hiperbilirubinemia neonatal berhubungan dengan penyakit lain seperti anemia hemolitik. 27 Hiperbilirubunemia neonatal: adalah naiknya kadar bilirubin serum total (BST) melebihi normal.28.34 Faktor risiko neurotoksisitas hiperbilirubinemia serta dampak kernikterus terdapat pada tabel 3 dan 4. dan infeksi. penurunan konjugasi bilirubin dan terganggunya proses eksresi bilirubin (Tabel 5).28 Penyebab hiperbilirubinemia neonatal dapat diklasifikasikan ke dalam 3 kelompok berdasarkan mekanisme akumulasi bilirubin. persalinan dengan tindakan Obat-obatan : sulfisoxazole asetil dengan eritromisin suksinat (Pediazole).35 Faktor maternal Golongan darah ABO atau inkompatibilitas Rh Ibu menyusui (ASI ekslusif) Faktor neonatal Trauma saat lahir : sefalhematoma. dua etiologi terbanyak penyakit hemolitik yang menyebabkan kuning pada bayi baru lahir. Tabel 2 menampilkan berbagai faktor risiko hiperbilirubinemia neonatal.5% (n=777) kasus hiperbilirubinemia pada bayi kurang bulan (usia gestasi < 37 minggu) (RO=4. yaitu inkompatibilitas ABO dan defisiensi enzim glukosa-6-fosfat-dehidrogenase (G6PD).28 Kernikterus: konsekuensi neurologis akibat deposisi bilirubin tidak terkonjugasi pada jaringan otak (ganglia basal otak). akan tetapi karena potensi toksik dari bilirubin. akan didapatkan nilai bilirubin yang sangat tinggi – dapat mencapai > 20-25 mg/dL.28 Di Indonesia. semua bayi lahir harus dipantau untuk mendeteksi kemungkinan menjadi hiperbilirubinemia berat. memar yang luas.29 Harvard School of Public Health: terdapat 42.

Efek dari Toksisitas Bilirubin pada Neonatus28 Dini Letargi Asupan ASI yang buruk Suara tangisan dengan nada tinggi Hipotonia Lanjut Iritabilitas Opistotonus Gagal nafas/apneu Oculogyric crisis Hipertonia Demam Kronis Athetoid cerebral palsy Kehilangan pendengaran frekuensi tinggi Paralisis terhadap lirikan ke atas Displasia gigi Retardasi mental ringan Tabel 8. atresia ileum. minor antigens Tes Coomb’s negatif : defek selaput lendir sel darah merah (sferositosis. sepsis Kausa nonhemolitik Karakteristik : peningkatan kadar bilirubin indirek. memar. cytomegalovirus. Faktor Risiko Neurotoksisitas Hiperbilirubinemia35 Penyakit hemolitik autoimun Defisiensi G6PD Asfiksia Sepsis Asidosis Albumin < 30 mg/dl Tabel 7. penyakit Hirschprung’s. other viruses. transfusi darah antar janin kembar. defisiensi piruvat kinase). herpes (simplex) viruses. abnormalitas sel darah merah (hemoglobinopati).HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit (chloromycetin) Obat-obatan : diazepam (Valium). persentase retikulosit normal Kelainan ekstravaskular : sefalhematoma. keterlambatan penjepitan tali pusat Gangguan sirkulasi enterohepatik : fibrosis kistik. obat (Pediazole. eliptositosis). Klasifikasi Hiperbilirubinemia neonatal36 Peningkatan Produksi Bilirubin Kausa hemolitik Karakteristik : peningkatan kadar bilirubin indirek. rubella. perdarahan SSP. persentase retikulosit normal 60 . swallowed blood Polisitemia : transfusi darah ibu-janin. >6% retikulosit. defek enzim sel darah merah (defisiensi G6PD*. **G6PD = glucose-6-phosphate dehydrogenase. streptomisin. Native American Penyakit Maternal : DM Gestasional Kehilangan berat badan yang masif setelah kelahiran Infeksi TORCH* Jenis kelamin laki-laki Polisitemia Prematuritas Saudara kandung dengan hiperbilirubinemia Ikterus dalam 24 jam pascakelahiran Penyakit autoimun atau hemolitik (contoh : defisiensi G6PD**) *TORCH = toxoplasmosis. Tabel 6. vitamik K). Oksitosin (Pitosin) Etnis : Asia Timur. ikterus karena ASI Penurunan Bilirubin Direk Karakteristik : peningkatan level bilirubin indirek. stenosis pilorus. inkompatibilitas ABO. konsentrasi hemoglobin <13 g/dl (130 g/L) Tes Coomb’s positif : inkompatibilitas faktor Rh.

serta peningkatan sirkulasi enterohepatik. sulfa. hipotiroidisme. penyakit Wilson’s. dan total bilirubin serum > 17 mg/dL pada neonatus cukup bulan. namun mungkin bertahan tinggi dalam 1-3 bulan. asetaminofen.28 Jika diagnosis ikterus karena ASI meragukan atau total bilirubin serum terus meningkat. keganasan.28 Neonatus yang minum ASI memiliki kemungkinan 3-6 kali lebih besar untuk mengalami ikterus sedang (total bilirubin serum > 12 mg/dL) atau ikterus berat (total bilirubin serum > 15 mg/dL = 257 mol/L) daripada neonatus yang mendapat susu formula. hal ini tidak selalu direkomendasikan. sindroma trisomi kromosom 18 dan 21 Obat-obatan : aspirin. penyakit Gaucher’s.37 Pemberian ASI pada neonatus mungkin meningkatkan risiko terjadinya awitan dini ikterus fisiologis. maka pemberian ASI digantikan sementara dengan susu formula namun ibu tetap melanjutkan memerah ASI untuk mempertahankan kuantitas produksi ASI.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit Ikterus fisiologis Sindroma Chrigler-Najjar tipe 1 dan 2 Sindroma Gillbert Hipotiroidisme Ikterus karena ASI Gangguan pada Eksresi Bilirubin Karakteristik : peningkatan bilirubin direk dan indirek. sindroma Dubin-Johnson. pemendekan masa hidup eritrosit. infeksi saluran kemih. alcohol.28 Pada ikterus karena ASI awitan lambat. galaktosemia. eritromisin.28.28 Meskipun menghentikan ASI akan menurunkan bilirubin dengan cepat dalam waktu 48 jam dan sekarang ini merupakan satu-satunya pemeriksaan diagnostik definitif. choledocal cyst.38 Ikterus patologis harus dicurigai jika kriteria ikterus fisiologis atau ikterus karena ASI tidak terpenuhi.37 Bilirubin serum akan menurun setelah 2 minggu pascakelahiran. penyakit Niemann-Pick Abnormalitas kromosom : sindroma Turner’s. Total bilirubin serum antara 12-20 mg/dL dan sifatnya nonpatologis. imaturitas ambilan hepatik dan proses konjugasi. glycogen storage disease. batu empedu. disebabkan antara lain karena polisitemia relatif. tes Coomb’s negatif. kortikosteroid. hepatitis. namun terdapat teori yang menyatakan suatu substansi dalam ASI yaitu β-glukoronidase dan asam lemak nonesterifikasi akan menghambat metabolisme bilirubin. fibrosis kistik. toksoplasmosis. Tetrasiklin *G6PD = glucose-6-phosphate dehydrogenase. Penyebab ikterus karena ASI belum diketahui secara pasti. puncak peningkatan nilai bilirubin terjadi pada hari ke-6 sampai 14 pascakelahiran. Diagnosis dan Manifestasi Klinis Ikterus fisiologis pada bayi baru lahir mengikuti pola tertentu. yaitu kadar bilirubin serum tertinggi mencapai 5-6 mg/dL (86-103 mol/L) dan dicapai pada hari ke-3 sampai 4 kemudian menurun pada 1 minggu pertama pascakelahiran. sklerosis kolangitis primer. herpes Kelainan metabolisme : defisiensi alfa1 antitripsin. sifilis. rifampisin (Rifadin). nilai bilirubin direk > 2 mg/dl (34 mol/L) atau > 20% dari total bilirubin serum. Manifestasi ikterus patologis terjadi dalam 24 jam pascakelahiran. sindroma Rotor’s Infeksi : sepsis. bilirubin direk pada urin Obstruksi bilier : atresia bilier. Penggantian ASI dengan susu formula akan menurunkan bilirubin total dalam 48 jam (rata-rata 3 mg/dL/hari) – hal ini akan mengkonfirmasi diagnosis dan proses menyusui dihentikan. peningkatan total bilirubin serum > 5 mg/dL/hari.39 Hal lain yang perlu 61 . rubella. tuberkulosis.

Skala Krammer dengan modifikasi41 Perkiraan total bilirubin serum dengan penilaian secara klinis yaitu mengenai wajah 5 mg/dL.40 Gambar 29. nilai bilirubin akan bervariasi. dada bagian tengah.41 Pemeriksaan terhadap neonatus meliputi warna kulit (pucat). Ikterus tidak tampak jika total bilirubin serum < 4 mg/dL (68 mol/L). perbedaan persepsi antarpengamat dan faktor lain yang menyulitkan prediksi secara tepat hanya melalui pengamatan visual.28 Perkiraan yang konsisten dan dapat diandalkan untuk memperkirakan total bilirubin serum adalah ikterus terlihat di atas garis puting susu. dada bagian atas 10 mg/dL. sedangkan jika meliputi sampai telapak tangan dan kaki > 15 mg/dL. toksoplasmosis. abdomen 12 mg/dL. dan peningkatan bilirubin direk serum > 2 mg/dL atau > 20% dari total konsentrasi bilirubin. eritroblastosis fetalis).28 Pemeriksaan fisis pada neonatus dengan ikterus dapat dilakukan dalam ruangan dengan pencahayaan yang baik dan pada kulitnya disinari cahaya putih (dapat pula dengan cahaya langsung dari jendela) untuk menilai warna kulit dan jaringan subkutan. Hal ini disebabkan perbedaan warna kulit diantara etnis. Penyinaran dilakukan pada dahi. ekstravasasi darah (misalnya sefalhematoma atau memar). Penilaian dengan Skala Krammer berdasarkan zona batas pada kulit yang mengalami ikterus dan intensitas warna kulit (kuning atau oranye – kuning oranye=tidak terkonjugasi) – sesuai dengan pengukuran level bilirubin transkutaneus (TcB: transcutaneous bilirubin). hepatosplenomegali 62 . tungkai.40 Jika ikterus telah mencapai pertengahan dada ke bawah maka korelasi antara pengamatan visual dengan total bilirubin serum akan semakin tidak akurat.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit dipertimbangkan antara lain kejadian ikterus yang memanjang. Pada keadaan ini. pletora. serta telapak tangan dan kaki.40 Gambar 3 menampilkan pelaporan penilaian ikterus secara visual. lengan. petekiae. namun < 12 mg/dL. Ikterus dapat hilang timbul menyerupai warna kulit. Ikterus biasanya dimulai dari bagian wajah kemudian turun ke batang tubuh sampai ekstremitas. lambatnya deposit pigmen pada kulit meski nilai bilirubin meningkat. perdarahan masif. riwayat penyakit (sepsis. rubela.

42 *Tatalaksana Bilirubinemia42 ≤24 jam 25-48 jam 49-72 jam >72 jam Fototerapi 10-12 (7-10) 12-15 (10-12) 15-18 (12-15) 18-20 (12-15) Transfusi Tukar 20 (18) 20-25 (20) 25-30 (>20) 25-30 (>20) Keterangan : nilai bilirubin dinyatakan dalam mg/dL – nilai tanda dalam kurung merupakan nilai bilirubin untuk neonatus dengan faktor risiko Gambar 30.28. dan tanda dehidrasi. Berikut ini adalah pedoman terapi sinar pada bayi usia gestasi ≥ 35 minggu yang direkomendasikan oleh 63 .HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit (karena anemia hemolitik atau infeksi). mikrosefali (infeksi kongenital). Fototerapi Sebagian besar unit neonatal di Indonesia memberikan fototerapi pada setiap bayi baru lahir cukup bulan dengan BST ≥ 12 mg/dL atau bayi prematur dengan BST ≥10 mg/dL tanpa melihat usia. Nomogram42 Penatalaksanaan Hiperbilirubinemia a. kehilangan berat badan.38 Gambar 4 menampilkan nomogram untuk menentukan risiko dari 2. tanda sepsis neonatorum.500 gram berdasarkan nilai spesifik serum bilirubin menurut jam. Pemeriksaan harus pula menggali adakah riwayat kelahiran kurang bulan dan kecil masa kehamilan pada neonatus.000 gram / usia gestasi ≥ 35 minggu dengan berat lahir ≥ 2.840 bayi baru lahir dengan usia gestasi ≥ 36 minggu dan berat lahir ≥ 2.

asfiksia. o Terapi sinar konvensional/standar dapat dilakukan di RS atau di rumah jika kadar BST 2-3 mg/dl di bawah garis cut off point (35-50 mg/dl). intervensi dapat mengacu pada garis di sekitar risiko sedang. tetapi fototerapi dapat dihentikan bila kadar BST sudah berada di bawah cut off point dari setiap kategori. o Untuk neonatus 35-37 minggu dengan kondisi sehat. Fototerapi intensif: radiasi dalam spektrum biru-hijau (panjang gelombang antara 430-490 nm).HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit Subcommitte on Hyperbilirubinemia.35 Gambar 31. defisiensi G6PD. setidaknya 30 μW/cm2 per nm (diukur pada kulit bayi secara langsung di bawah pertengahan unit fototerapi) dan diarahkan ke permukaan kulit bayi seluas-luasnya. Pengukuran harus dilakukan dengan radimeter spesifik dari manufaktur unit fototerapi tersebut. o Fototerapi intensif digunakan bila nilai BST sudah melampaui cut off point untuk fototerapi pada setiap kategori.27 Untuk bayi yang dirawat di RS pertama kali setelah lahir (umumnya dengan BST ≥ 18 mg/dL atau 308 μmol/L) maka fototerapi dapat dihentikan bila kadar BST turun sampai di bawah 13-14 mg/dL (239 μmol/L). Tatalaksana Fototerapi untuk neonatus dengan usia gestasi ≥ 35 minggu35 Keterangan Gambar 31 : o Gunakan bilirubin total. Jangan dikurangi dengan bilirubin direk atau bilirubin terkonjugasi. letargi signifikan. Terapi sinar di rumah tidak dianjurkan pada bayi yang mempunyai faktor risiko. asidosis. atau albumin < 3. o Faktor risiko : penyakit hemolitik isoimun.27 Belum ada standar pasti untuk menghentikan fototerapi. American Academy of Pediatrics (Gambar 5). sepsis.0 g/dL (jika diukur). instabilitas suhu. 64 .27 Untuk bayi dengan penyakit hemolitik atau dengan keadaan lain yang difototerapi di usia dini dan dipulangkan sebelum bayi berusia 3-4 hari.

fototerapi harus diberikan secara kontinu sampai terjadi penurunan BST yang diharapkan atau sampai dilakukan trasfusi tukar. Indikasi transfusi tukar berdasarkan rasio bilirubin : albumin pada usia gestasi dan kelompok risiko tertentu27. tetapi keterpaparan sinar matahari secara langsung harus dihindari terutama pada kondisi bayi telanjang sebab dapat meningkatkan risiko kulit terbakar.43 Usia gestasi dan kelompok risiko 38 minggu dan sehat > 38 minggu + hemolisis atau 35 – 37 6/7 dan sehat 35 – 37 6/7 + hemolisis Rasio bilirubin : albumin 8. Prosedur ini jarang diperlukan jika fototerapi dilakukan dengan intensif.27 Meskipun sinar matahari memberikan radiasi yang cukup pada gelombang 425-475 nm sebagai fototerapi.28. anemia berat atau peningkatan total bilirubin serum yang tinggi (> 1 mg/dL perjam dalam < 6 jam).28. Oleh karena itu.27 Untuk bayi yang dirawat di RS untuk kedua kalinya dengan hiperbilirubinemia dan kemudian dipulangkan. transfusi tukar merupakan tatalaksana yang direkomendasikan.27. Pada kelainan hemolisis.43 Tabel 9. 8 Ikterus yang terjadi < 24 jam pada neonatus cukup bulan selalu dikategorikan sebagai ikterus patologis. Tidak ada bukti ilmiah yang dapat dipercaya dalam penggunaan fototerapi kontinu.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit direkomendasikan untuk pemeriksaan ulang bilirubin 24 jam setelah dipulangkan. tatalaksana yang diutamakan adalah fototerapi.33 Komplikasi transfusi tukar antara lain emboli udara. 27 Pernah dibandingkan antara pemberian fototerapi secara intermiten dan kontinu dan hasilnya bervariasi.35. jarang terjadi kekambuhan yang signifikan sehingga pemeriksaan ulang bilirubin dilakukan berdasarkan indikasi klinis. fototerapi intensif harus lebih dulu diupayakan sebelum beralih pada transfusi tukar.33 Rasio bilirubin total berbanding albumin dapat digunakan sebagai pedoman tambahan untuk menentukan apakah terdapat indikasi transfusi tukar (Tabel 6). Berdasarkan kenaikan nilai total bilirubin serum. vasospasme. infeksi dan bahkan kematian. yang biasanya ditandai dengan nilai total bilirubin serum > 20 mg/dL karena adanya hemolisis.2 6. cenderung toleran terhadap nilai total bilirubin serum yang tinggi.0 7. Transfusi tukar Transfusi tukar diindikasikan pada kernikterus.35.28 Transfusi tukar dipertimbangkan pada keadaan hiperbilirubinemia yang signifikan. 65 .28 Pada neonatus cukup bulan yang tidak mengalami hemolisis.33 Prosedur ini perlu dipertimbangkan pada ikterus nonhemolitik pada neonatus jika fototerapi gagal untuk menurunkan nilai bilirubin.27 b.28 Transfusi tukar merupakan metode tercepat untuk menurunkan nilai total bilirubin serum. infark.27 Fototerapi dapat diinterupsi/dihentikan sesaat pada saat pemberian minum atau pemeriksaan fisis singkat.28. Bila kadar bilirubin mencapai zona transfusi tukar.

Transfusi tukar dengan darah yang memiliki rhesus positif: 3 bayi C. maka dapat diprediksi nilai total bilirubin serum dan dapat dihitung dalam berapa hari lagi kemungkinan kejadian toksisitas akibat hiperbilirubin. D. Hubungan antara konsentrasi hemoglobin darah. Transfusi tukar dengan darah yang memiliki rhesus negatif: 4 bayi B. Setiap poin mewakili rerata perminggu pengamatan hidup pada masing-masing kelompok A.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit risiko hiperbilirubinemia neonatal dapat diklasifikasikan sebagai rendah. atau tinggi (lihat Gambar 31). Beberapa transfusi kecil dengan endapan sel Rh negatif: 9 bayi.35 Gambar 32. menengah. Penyembuhan spontan: 1 bayi 66 . sementara bagan 2 menjelaskan algoritma manajemen dan kontrol sesuai rekomendasi American Academy of Pediatrics (2009). Dengan asumsi bahwa nilai total bilirubin serum akan meningkat secara kontinu. massa hemoglobin total dan persentase retikulosit Keterangan Gambar 32 : Setiap tabel menunjukkan hasil pengamatan pada bayi yang diberikan perlakuan yang sama.28 Bagan 1 menjelaskan pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk evaluasi ikterus pada neonatus.

Algoritma Evaluasi Bayi Baru Lahir dengan Hiperbilirubinemia (Modifikasi dari Maisles et al35) 67 .HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit Gambar 33.

HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit A Usia gestasi 35-37 minggu + faktor risiko hiperbilirubinemia lainnya Pengukuran nilai TcB dan TSB sebelum keluar RS Penilaian zona bilirubin (Gambar 4) Risiko tinggi Risiko menengah tinggi Risiko menengah rendah Risiko rendah Evaluasi fototerapi (lihat Gambar 5) Pengukuran TSB dalam 4-8 jam Evaluasi fototerapi (lihat Gambar 5) Pengukuran TSB/TcB dalam 4. kontrol dalam 2 hari B Usia gestasi 35-37 minggu. kontrol dalam 2 hari Pertimbangkan pengukuran TcB/TSB saat kontrol Jika keluar RS dalam < 72 jam. kontrol dalam 2 hari Jika keluar RS dalam < 72 jam.24jam Jika keluar RS dalam < 72 jam. kontrol dalam 2-3 hari 68 . tanpa risiko hiperbilirubinemia atau Usia gestasi ≥ 38 minggu + faktor risiko hiperbilirubinemia lainnya Pengukuran nilai TcB dan TSB sebelum keluar RS Penilaian zona bilirubin (Gambar 4) Risiko tinggi Risiko menengah tinggi Risiko menengah rendah Risiko rendah Evaluasi fototerapi (lihat Gambar 5) Pengukuran TSB dalam 4-24 jam Evaluasi fototerapi (lihat Gambar 5) Pengukuran TSB/TcB dalam 24jam Jika keluar RS dalam < 72 jam.

maka pengukuran ulang harus segera dilakukan.44 Di bawah ini adalah tabel indikasi tatalaksana fototerapi dan transfusi tukar pada bayi kurang bulan. kontrol dalam 2-3 hari Jika keluar RS dalam < 72 jam. Hal ini disebabkan makin muda usia gestasi. 69 .44 Kejadian kuning pada bayi kurang bulan memiliki awitan yang lebih dini. kontrol sesuai dengan usia ketika keluar RS atau pertimbangan selain ikterus (ASI) Gambar 34. kadar puncak lebih tinggi dan memerlukan lebih banyak waktu untuk menghilang (sampai dengan 2 minggu). dokter akan melakukan pemeriksaan klinis sesuai standar. Pengulangan pengukuran TSB tergantung pada usia saat pengukuran dan perbandingan nilai TSB terhadap persentil 95 (lihat gambar 1). Algoritma Manajemen dan Kontrol Hiperbilirubinemia Neonatal (Modifikasi dari Maisles et al35) Keterangan Bagan 2 : Evaluasi terhadap laktasi dan dukung ibu untuk menyusui bayinya. Pada saat kontrol. mencapai puncak lebih lambat.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit C Usia gestasi ≥38 minggu tanpa faktor risiko hiperbilirubinemia lainnya Pengukuran nilai TcB dan TSB sebelum keluar RS Penilaian zona bilirubin (Gambar 4) Risiko tinggi Risiko menengah tinggi Risiko menengah rendah Risiko rendah Evaluasi fototerapi (lihat Gambar 5) Pengukuran TSB dalam 4-24 jam Kontrol dalam 2 hari Pertimbangkan pengukuran TcB/TSB saat kontrol Jika keluar RS dalam < 72 jam. Tatalaksana Hiperbilirubinemia pada Bayi Kurang Bulan Sekitar 80% bayi kurang bulan mengalami kuning pada minggu pertama kehidupan. usia eritrosit lebih singkat serta kemampuan hepar untuk ambilan dan konjugasi bilirubin belum optimal. Semakin dini pengukuran TSB dan semakin tinggi nilainya.

000 g Kadar Bilirubin (µmol/L) >85 >140 >200 >240 Tabel 11.500-2. Di negara berkembang termasuk Indonesia. (3) tetanus.500 g Kadar Bilirubin (µmol/L) >170 .49 Kajian WHO dalam Meeting to explore simplified antimicrobial regimens for the treatment of neonatal sepsis (2002) menyatakan bahwa bakteri batang Gram-negatif. mikroorganisme penyebabnya adalah batang Gram negatif. dan Escherichia (Gambar 32 dan 33). khususnya Klebsiella merupakan penyebab utama sepsis neonatorum.46 Sepsis awitan dini (SAD) merupakan infeksi perinatal yang terjadi segera dalam periode pascanatal (kurang dari 72 jam) dan biasanya diperoleh pada saat proses kelahiran atau in utero.000 g Kadar Bilirubin (µmol/L) Risiko tinggi : >70 dan yang lainnya: > 70 >120 >155 >170 Berat > 2. Sepsis neonatorum Dalam laporan WHO yang dikutip dari State of the world’s mother 2007 (data tahun 2000-2003) dikemukakan bahwa 36% dari kematian neonatus disebabkan oleh penyakit infeksi.000 g Kadar Bilirubin (µmol/L) >255 >255 >270 >290 Berat > 2.50 70 . (2) pneumonia. Indikasi Tatalaksana Fototerapi pada Bayi Kurang Bulan 45 Usia < 24 jam 24-48 jam 49-72 jam >72 jam Berat <1.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit Tabel 10.255 >170-255 >170-255 >255 Berat 1. diantaranya (1) sepsis. diikuti dengan Staphylococcus.000 g Kadar Bilirubin (µmol/L) >270-310 >270-310 >290-320 >310-340 <24 jam 24-48 jam 49-72 jam >72 jam D. dan (4) diare.48 Sepsis neonatorum awitan dini memiliki kekerapan 3.500 g Kadar Bilirubin (µmol/L) Risiko tinggi dan yang lainnya: > 70 >85 >120 >140 Berat 1.000 kelahiran hidup dengan angka mortalitas sebesar 15-50%.500-2. Indikasi Tatalaksana Transfusi Tukar pada Bayi Kurang Bulan45 Usia Berat <1.5 kasus per 1.47.

51. Perubahan spektrum patogen pada sepsis neonatorum50 Sepsis awitan lambat (SAL) merupakan infeksi pascanatal (lebih dari 72 jam) yang diperoleh dari lingkungan sekitar atau rumah sakit (health care-associated infection). ditegakkan jika tidak ada bukti bahwa infeksi sedang terjadi atau sedang dalam masa inkubasi ketika bayi mulai dirawat di rumah sakit. Patogen pada neonatus50 Gambar 35. HAI didefinisikan sebagai kondisi sistemik atau lokal sebagai reaksi akibat adanya agen infeksi atau toksinnya.53 CDC (2008) telah mengganti istilah infeksi nosokomial menjadi health careassociated infection (HAI).HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit Gambar 32.54 71 .52 Proses infeksi pasien semacam ini disebut juga infeksi dengan transmisi horizontal.

Syok septik terjadi jika terdapat hipotensi sebagai akibat tidak adekuatnya penggantian volume cairan tubuh. syok septik Infeksi Terbukti infeksi (proven infection) bila ditemukan kuman penyebab atau Tersangka infeksi (suspected infection) bila terdapat sindrom klinis (gejala klinis dan pemeriksaan penunjang lain). Sepsis yang disertai disfungsi organ kardiovaskular atau disertai gangguan napas akut atau terdapat gangguan dua organ lain (seperti gangguan neurologi.55 Definisi sepsis neonatorum ditegakkan bila terdapat systemic inflammatory response syndrome (SIRS) yang dipicu oleh infeksi. perawatan tali pusat. dan hepatologi). atau hipotensi – sepsis dikategorikan sebagai sepsis berat. sepsis berat. Kriteria infeksi.53 Faktor predisposisi HAI yang mencetuskan SAL antara lain BBLR. perawatan di NICU. baik tersangka infeksi (suspected) maupun terbukti infeksi (proven).58 Tabel 12. dan minum susu botol. urogenital. (c) takipneu atau hiperventilasi. Klebsiella.5 atau <5 Usia 0-7 hari Usia 7-30 hari >38. SIRS disertai infeksi yang terbukti atau tersangka. Sepsis Sepsis berat Syok septik Sumber: Goldstein B. Di negara berkembang didominasi oleh mikroorganisme batang Gram negatif (E.5ºC atau <36ºC >38. Giroir B. prosedur invasif. dan pemberian cairan parenteral. sedangkan faktor risiko dari komunitas yang mencetuskan SAL antara lain buruknya higienitas. hematologi.5ºC atau <36ºC Catatan: Definisi SIRS pada neonatus ditegakkan bila ditemukan 2 dari 4 kriteria dalam tabel (salah satu di antaranya kelainan suhu atau leukosit) Sumber: Goldstein B. (b) takikardia.57 Jika sepsis disertai dengan disfungsi organ.Pediatr Crit Care Med 2005.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit Angka mortalitas SAL lebih rendah daripada SAD yaitu kira-kira 10-20%. Sepsis dengan hipotensi (tekanan darah sistolik <65 mmHg pada bayi <7 hari dan <75 mmHg pada bayi 7-30 hari). sepsis. Randolph A. 6(1): 2-8 72 . Giroir B. Kriteria SIRS Usia Neonatus Suhu Laju Nadi per menit >180 atau <100 >180 atau <100 Laju napas per menit >50 >40 Jumlah leukosit X 103/mm3 >34 >19. Randolph A. dan (d) jumlah leukosit abnormal atau meningkatnya morfologi leukosit abnormal.Pediatr Crit Care Med 2005.56 Definisi SIRS dipakai untuk menjelaskan sindroma klinis yang ditandai oleh 2 atau lebih dari kriteria ini: (a) demam atau hipotermia. coli. prematuritas. 6(1): 2-8 Tabel 13. hipoperfusi. penggunaan ventilator mekanis. dan Pseudomonas aeruginosa).

menit ke-5 < 7 ) Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) < 1500 gram. Pada tahun 2004. terdapat beberapa kendala yaitu kultur kuman penyebab seringkali menunjukkan hasil yang tidak memuaskan. Selain itu. Tabel 15. Namun demikian. Kehamilan ganda. Risiko minor Ketuban pecah > 12 jam Ibu demam. 7. Dilain pihak. 2. variabel perfusi jaringan. penegakan diagnosis secara dini berperan sangat penting karena dapat membantu menurunkan tingkat mortalitas. saat intrapartum suhu > 37. < 100 kali/menit Laju nafas > 60 kali/menit. Keputihan pada ibu.5 C Nilai Apgar rendah ( menit ke-1 < 5 . Pengelompokan faktor risiko59 Risiko mayor 1. 2. Kriteria diagnosis sepsis pada neonatus Variabel Klinis Suhu tubuh tidak stabil Laju nadi > 180 kali/menit. 6.59 Tabel 14. Gambaran klinis sepsis neonatorum dikelompokkan menjadi 4 variabel. baik antar klinik. 3. saat intrapartum suhu > 38 C Korioamnionitis Denyut jantung janin yang menetap > 160x/menit Ketuban berbau 1. ataupun antar negara. Hal yang penting juga diperhatikan bahwa kuman penyebab infeksi tidak selalu sama. kualitas isi nadi dan pengisian kapiler) TD < 2 SD menurut usia bayi 73 . dan variabel inflamasi. antar waktu. 4.60 Pemeriksaan penunjang seperti biakan darah untuk kultur kuman penyebab merupakan standar baku emas dalam menegakkan diagnosis sepsis. 4. Ketuban pecah > 24 jam Ibu demam. Ibu dengan infeksi saluran kemih (ISK) / tersangka ISK yang tidak diobati. dengan retraksi atau desaturasi oksigen Letargi Intoleransi glukosa ( plasma glukosa > 10 mmol/L ) Intoleransi minum Variabel Hemodinamik* (atau dapat digantikan dengan laju nadi. Usia gestasi < 37 minggu. yaitu variabel klinis. variabel hemodinamik. 5. hasil pemeriksaan baru dapat diketahui setelah 48-72 jam. yaitu dapat menyerupai keadaan lain yang disebabkan oleh keadaan non-infeksi. Bila terdapat satu faktor risiko mayor dan dua risiko minor maka pendekatan diagnosis dilakukan secara aktif dengan melakukan pemeriksaan penunjang (septic work-up) sesegera mungkin.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit Dalam hal penegakan diagnosis sepsis neonatorum mengalami kendala karena gejala dan tanda klinis sepsis tidak spesifik. Ada sarana kesehatan yang menggunakan pendekatan diagnosis berdasarkan faktor risiko dan mengelompokkan faktor risiko tersebut ke dalam risiko mayor dan risiko minor (Tabel 9). 3. The International Sepsis Forum mengajukan usulan kriteria diagnosis sepsis pada neonatus berdasarkan perubahan klinis sesuai dengan perjalanan infeksi. 5. 8.

Jika kultur darah steril dalam 2-3 hari.  Kelompok pemeriksaan penunjang canggih : marker/petanda dan mediator. Gunakan sedapat mungkin antibiotik spektrum sempit.1 mg/dL atau > 2 SD dari nilai normal** IL-6 atau IL-8 >70 pg/mL** 16 S rRNA gene PCR : positif** *sangat dianjurkan apabila fasilitas tersedia ** di Negara maju dan dalam penelitian Sumber : Haque KN. 5. Jangan memulai terapi dengan sefalosporin generasi ke tiga (sefotaksim.61. Peningkatan CRP bukan berarti sepsis.62 Philip dan Mills (2000) merekomendasikan neonatus (usia berapapun) dengan CRP ≥ 10 mg/L dan terdapatnya satu atau lebih tanda klinis dan atau satu atau lebih faktor risiko untuk infeksi.63 7. 74 . pemeriksaan penunjang untuk penegakan diagnosis sepsis dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu :  Kelompok pemeriksaan penunjang konvensional. Percaya hasil kultur dan laboratorium mikrobiologi. meropenem). penghentian antibiotik hampir selalu aman dan tepat.2 Trombositopenia <100000 x 109/L C Reactive Protein > 10 mg/dL atau > 2 SD dari nilai normal* Procalcitonin > 8. Usahakan untuk tidak menggunakan antibotik untuk waktu yang lama. maka dapat ditegakkan diagnosis septikemia neonatorum awitan dini atau lanjut pada neonatus usia berapapun yang dirawat di NICU. Franz AR (1999) menyatakan terdapatnya satu saja tanda klinis (yang menandakan infeksi) ditambah dengan CRP > 10 mg/L. seftazidim) atau karbapenem (imipenem. harus dipindahkan dari ruang rawat biasa ke NICU dan mendapatkan terapi antibiotik. kultur darah dan CRP.Pediatr Crit Care Med 2005. yang meliputi pemeriksaan darah perifer lengkap. 9. Kultur darah (dan mungkin cairan serebrospinal dan atau urin) harus dimulai sebelum memulai terapi antibiotik. 4. Kembangkan kebijakan antibiotik lokal dan nasional untuk membatasi pengguanaan antibiotik spektrum luas yang mahal seperti imipenem untuk pengobatan empirik. Berikut ini 10 langkah perencanaan penggunaan antibiotik: 1. 8. 6: S45-9 Pada dasarnya. Obati sepsis bukan kolonisasi. 2. 6. seperti penisilin (piperacillin-tazobactam) dan aminoglikosida (amikasin). 3.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit TD sistolik < 50 mmHg ( bayi usia 1 hari ) TD sistolik < 65 mmHg ( bayi usia < 1 bulan ) Variabel Perfusi Jaringan Pengisian kembali kapiler > 3 detik Asam laktat plasma > 3 mmol/L* Variabel Inflamasi Leukositosis ( > 34000x109/L ) Leukopenia ( < 5000 x 109/L ) Neutrofil muda > 10% Neutrofil muda/total neutrofil ( I/T ratio ) > 0.

% Tinggi Rendah Hitung leukosit (x 1.54 10.9 30-50 0.5 2.. mEq/L Tinggi Rendah Kalium.07-0.40 .0 < 2.1-0...20 66-70 30-35 2. ... mg/dL Natrium. > 4...HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit Kolonisasi merupakan presentasi mikroorganisme pada kulit..9 3 poin 81-100 20-29 201-250 40-79 > 100 92-94.000) I/T rasio Hitung netrofil absolut Hitung trombosit (x 1.. .3-2.21 500-999 30-100 40-80 1.000) Blood urea nitrogen. luka terbuka.0 5 poin > 100 < 20 > 250 < 40 . Terdapat kesulitan untuk menilai tingkat keparahan penyakit pada neonatus. Sampai saat ini.5 50-65 0.3 > 90 > 0... mg/dL Kreatinin..0-5.4 0.. ..0 < 0.. > 9.49 > 20 > 10 .0 . mg/dL Urin output.. Penilaian kondisi bayi dengan SNAP65 Parameter Tekanan Darah (mmHg) Tinggi Rendah Frekuensi Nadi Tinggi Rendah Frekuensi Napas Temperatur oF PO2. . antara lain (a) Clinical Risk Index for Babies (CRIB)... (b) Score for Neonatal Acute Physiology (SNAP).5-0.40 > 70 20-29 < 2.2-2. mmHg Indeks oksigenasi Hematokrit.. mL/kg/jam Bilirubin indirek (sesuai dengan berat badan) > 2 kg. dan kejang – tidak dapat memberikan gambaran menyeluruh tentang kondisi kesehatan atau morbiditas pada neonatus.9 15-20 5-10 ≥ 2. ..... Mulai dikembangkan pula sistem penilaian lain untuk mengukur tingkat keparahan penyakit neonatus..49 66-90 0. dan skor APGAR merupakan petanda morbiditas neonatus. Lakukan yang terbaik untuk pencegahan infeksi nosokomial dengan cara menggalakkan pengendalian infeksi.. membran mukosa..0 > 0. 75 . < 500 0-29 > 80 2. mEq/L Tinggi Rendah Kalsium (terionisasi).. kesulitan makan per oral. Kondisi hipoglikemi.0-2.1 . mg/dL ≤ 2 kg.. .0 150-160 120-130 6.65..6-9..5-4.6-7. berat lahir. < 20 . khususnya mencuci tangan.. mg/dL 1 poin 66-80 30-35 180-200 80-90 60-100 95-96 50-65 2... usia gestasi....5-3. (c) Score for Neonatal Acute Physiology and SNAP Perinatal Extension (SNAP-II dan SNAPPE II)..0 . mmHg Rasio PO2/FiO2* PCO2. > 180 .66 Tabel 16.0 0... mg/dL Bilirubin direk.21-0.64.. atau pada eksresi/sekresi tetapi tidak menyebabkan tambahan gejala atau tanda klinis.. 161-180 < 120 7.. < 92 < 30 < 0.

. data kuman dan rasio jumlah tenaga medis dibandingkan jumlah pasien 3.8-1.8 . Bentuk ruang perawatan 4. Pada wanita dengan korioamnionitis dapat diberikan ampicillin dan gentamicin.. .10-7... . Surveilans angka infeksi.67 Pencegahan untuk SAL : berhubungan dengan HAI antara lain :68 1.... yang dapat menurunkan angka kejadian sepsis neonatorum sebesar 82% dan infeksi GBS sebesar 86%. Program pendidikan : meningkatkan kepatuhan pegawai berdasarkan hasil program kontrol...69 76 ...30 Sekali Responsif dengan stimulasi Positif . ≤ 10 7.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit Tinggi Rendah Kalsium (total). .... Perhatian terhadap penanganan dan perawatan kateter vena sentral 7....19 Berkali-kali Tidak responsif dengan stimulasi . mg/dL Tinggi Rendah Glukosa (atau dengan strip reagen).4 0. Pemakaian kateter vena sentral yang minimal 8. ..20-7. ....0 ≥ 12 5. Uji darah samar feses *FiO2 : fraction of inspired oxygen as a percent Pencegahan dibagi atas pencegahan untuk sepsis awitan dini (SAD) dan sepsis awitan lambat (SAL). dapat menurunkan risiko terjadinya infeksi awitan dini (early-onset) sampai 56% pada bayi lahir prematur karena ketuban pecah dini.0-6. < 7.... Pemakaian antibiotik yang rasional 9.0 > 250 < 30 .. < 0...10 . Sosialisasi insidens infeksi nosokomial kepada pegawai 5. Pencegahan untuk SAD : Dengan pemberian ampicillin 1 gram intravena yang diberikan pada awal persalinan dan tiap 6 jam selama persalinan. mEq/L Tinggi Rendah pH serum Kejang Apnu ≥ 1......9 150-250 30-40 ≥ 33 11-15 7.... Pemantauan yang berkelanjutan 2. mg/dL Tinggi Rendah Bikarbonat serum. .. serta menurunkan resiko infeksi GBS sampai 36%.. < 5. Terdapat indikasi pemberian antibiotik intrapartum untuk profilaksis infeksi GBS onset dini melalui skrining kultur prenatal universal terhadap setiap wanita hamil pada usia gestasi 35-37 minggu (Bagan 3).. Program untuk meningkatkan kepatuhan mencuci tangan 6. Terdapat rekomendasi dari the Centers for Disease Control and Prevention/CDC (2002) mengenai kemoprofilaksis pada wanita hamil terhadap infeksi GBS onset dini pada neonatus.. . .... Apnu komplit .

HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit Gambar 36. Indikasi Intrapartum Antimicrobial Prophylaxis Sumber : http://aapredbook.org 77 .aappublication.

HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit Gambar 37. Algoritma Intrapartum Antimicrobial Prophylaxis Sumber : http://aapredbook.org 78 .aappublication.

org 79 .newbornwhocc.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit Gambar 38. Protokol Sepsis Sumber : http://www.

Dalam rangka menurunkan Angka Kematian Perinatal dan Angka Kematian Neonatal Dini. Penajaman tentang pemeriksaan klinis untuk menentukan diagnosis sepsis atau dugaan sepsis sangat penting. Sepsis neonatorum merupakan masalah pada bayi baru lahir dengan angka mortalitas yang cukup tinggi. [Rekomendasi B LoE IIb] 2. variabel hemodinamik. apabila terdapat indikasi dapat melakukan pemeriksaan penunjang canggih sesuai dengan fasilitas yang ada. variabel perfusi jaringan. yaitu variabel klinik. 80 . selain melakukan pemeriksaan penunjang konvensional seperti tersebut di atas. prokalsitonin. Penegakkan diagnosis dilakukan secara klinis dengan disertai pemeriksaan penunjang. kuratif dan rehabilitatif.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit REKOMENDASI HTA 1. masalah ini perlu segera ditanggulangi dengan berbagai macam cara dan usaha mulai dari aspek promotif. PCR. Selain itu penegakan diagnosis juga dapat mengacu pada usulan kriteria diagnosis menurut The International Sepsis Forum. sitokin.  Di sarana kesehatan yang memiliki fasilitas lengkap untuk pemeriksaan penunjang canggih. Pemeriksaan penunjang sangat tergantung dari ketersediaan fasilitas di tempat pelayanan kesehatan:  Di sarana yang memiliki fasilitas untuk pemeriksaan penunjang konvensional dianjurkan untuk melakukan :  Skrining Infeksi maternal  Pemeriksaan untuk bayi meliputi pemeriksaan darah perifer lengkap. Penegakan diagnosis : Penegakan diagnosis Sepsis neonatorum dipilih dengan pendekatan standar klinis yang menggunakan faktor risiko dan mengelompokkan faktor risiko tersebut dalam risiko mayor dan risiko minor. dan lain-lain. interleukin. CRP dan IT ratio. pemeriksaan kultur/biakan. Kriteria diagnosis sepsis didasarkan pada perubahan klinis sesuai dengan perjalanan infeksi. IgM. seperti pemeriksaan IgG. Gambaran klinis sepsis neonatorum dikelompokkan menjadi 4 variabel. dan variabel inflamasi.

Sebaiknya diberikan kombinasi dua antibiotik: Dapat mencakup sebagian besar penyebab sepsis. Pemilihan jenis antibiotik empirik harus berdasarkan hal-hal berikut: 1. Spesies bakteri yang paling sering menyebabkan infeksi. Skrining infeksi maternal kemudian mengobatinya. Penatalaksanaan Pada kasus tersangka sepsis. misalnya infeksi TORCH. Farmakokinetik antibiotik. Beberapa mikro-organisme penyebab infeksi dapat berkembang menjadi mutan resisten selama terapi (Pseudomonas sp). Efek sinergis antibiotik (penisilin dan aminoglikosida untuk GBS). Adapun kebijakan terapi antibiotik empirik akan berpengaruh pada pola resistensi kuman. [Rekomendasi A LoE Ia] 4.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit 3. Usia saat awitan penyakit 2. 4. Melakukan Perawatan Neonatal Esensial yang terdiri dari :  Persalinan yang bersih dan aman  Stabilisasi suhu  Inisiasi pernapasan spontan dengan melakukan resusitasi yang baik dan benar sesuai dengan kompetensi penolong  Pemberian ASI dini dan eksklusif  Pencegahan infeksi dan pemberian imunisasi Membatasi tindakan/prosedur medik pada bayi. Listeria). Pada kasus sepsis neonatorum berat. dll. Aktivitas bakterisidal serum yang lebih tinggi dibandingkan hanya menggunakan antibiotik tunggal (Enterococci. pemberian fresh frozen plasma. granulocyte-macrophage colony stimulating factor (G-CSF dan GM-CSF). pemberian pentoxifilin. transfusi tukar (TT). 3. 5. Pencegahan Pencegahan secara umum : Melakukan pemeriksaan antenatal yang baik dan teratur. pemberian antibiotik diberikan tanpa harus menunggu hasil kultur darah. Memberikan terapi kortikosteroid antenatal untuk ibu dengan ancaman persalinan kurang bulan. Beberapa terapi suportif yang terbukti memberikan dampak positif antara lain : Pemberian intravenous immunoglobulin (IVIG). Meningkatkan status gizi ibu agar tidak mengalami kurang gizi dan anemia. selain pemberian antibiotik juga diberikan terapi suportif. Mencegah persalinan prematur atau kurang bulan. Konseling ibu tentang risiko kehamilan ganda. infeksi saluran kemih. 81 . Pola resistensi antibiotik pada masing-masing rumah sakit.

yang dapat menurunkan angka kejadian sepsis neonatorum sebesar 82% dan infeksi GBS sebesar 86%.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit Pencegahan untuk SAD : dapat dilakukan dengan pemberian antibiotik. serta menurunkan resiko infeksi GBS sampai 36%. dapat menurunkan risiko terjadinya infeksi awitan dini (early-onset) sampai 56% pada bayi lahir prematur karena ketuban pecah dini. Pada wanita dengan korioamnionitis dapat diberikan ampicillin dan gentamicin. Dengan pemberian ampicillin 1 gram intravena yang diberikan pada awal persalinan dan tiap 6 jam selama persalinan. data kuman dan rasio jumlah tenaga medis dibandingkan jumlah pasien Bentuk ruang perawatan Sosialisasi insidens infeksi nosokomial kepada pegawai Program untuk meningkatkan kepatuhan mencuci tangan Perhatian terhadap penanganan dan perawatan kateter vena sentral Pemakaian kateter vena sentral yang minimal Pemakaian antibiotik yang rasional Program pendidikan Meningkatkan kepatuhan pegawai berdasarkan hasil program kontrol. [Rekomendasi A LoE Ia] 82 . [Rekomendasi B LoE IIa] Pencegahan untuk SAL : berhubungan dengan infeksi nosokomial antara lain: Pemantauan yang berkelanjutan Surveilans angka infeksi.

htm 16 Jubran A. Resuscitation of depressed newborn Infants with ambient air or pure oxygen : a meta-analysis. Susan Mayor.al.748-g 3 Lee. 2008 5 World Health Organization. Basic Newborn Resuscitation: A Practical GuideRevision. Yee W.: CD004210.1186/cc341. Zhang B. 6 American Heart Association & American Academy of Pediatrics. Interventions to prevent hypothermia at birth in preterm and/or low birthweight infants.who.uk/wfsa/html/u05/u05_003. Janes M. Lancet Neonatal Survival Steering Team.330. PEDIATRICS Vol.. Pulse oximetry.87(1):27-34. 5 May 2008. J Trop Pediatr. et. 7 American Academy of Pediatrics and American College of Obstetricians and Gynaecologists. Crit Care. Halliday HL. Geneva. 2007 Mar.pub3. J Pediatr.nda. Guidelines for perinatal care. (Level of evidence IIb) 4 Departemen Kesehatan Republik Indonesia. doi: 10. 8 IDAI. Oh W. Biol Neonate. Elk Grove Village (IL): American Academy of Pediatrics. 196-7. Care of the neonate. Cochrane Database of Systematic Reviews 2008. 12 Rabi Y. (level of evidence IV) 9 Saugstad OD. Published online 1999 May 18. 17 Vohra S. Resuscitation. editors. Which is better to resuscitate asphyxiated newborn infants : room air or pure oxygen?.1542/peds. 2008.7494. Zupan J. Riset Kesehatan Dasar tahun 2007. Buku Panduan Resusitasi Neonatus Edisi ke-5.1016/S0140-6736 (04)17189-4) 15 Fearnley SJ. 121 No.2007 Sep.1002/14651858. Cousens S. Switzerland: World Health Organization. Accessed June 20. Heat Loss Prevention (HeLP) in the delivery room: a randomized controlled trial of polyethylene occlusive skin wrapping in very preterm infants. 364:1329-1333 (DOI : 10.1136/bmj. Roberts RS.ox. 94(3):176-182 10 Saugstad OD. Zhonghua Er Ke Zha Zhi.Dapat diakses pada www. 4 million neonatal deaths: When? Where? Why? Lancet. Davis PG. 2005. Room air vs 100 percent oxygen for neonatal resuscitation: a controlled clinical trial.365 (9462):891 –900. Udani RH. 2005 Aug. Schmidt B. Community-Based Cohort Study. Issue 1. Vohra S. Resuscitation of Newborn Infants with 21% or 100% Oxygen : An updated systematic review and meta-analysis. Neonatology 2008. 14 Tan A. Jenkins JG. Nanavati RN. Schulze A.al. Resuscitation of Newborn infants with 100% oxygen or air : a systematic review and meta-analysis.145 :750 –753. 2004. 1999. The Lancet 2004. BMJ 2005. Wu MY. Available at: www. Asfiksia Neonatorum. pp. 72(3):353-363. Communicable disease and neonatal problems are still major killers of children. 13 Bajaj N. Pulse Oximetry. Art. 11 Zhu JJ.Standar Pelayanan Medis Kesehatan anak . No. Risk Factors for Neonatal Mortality Due to Birth Asphyxia in Southern Nepal: A Prospective.int/reproductivehealth/publications/newborn_resus_citation/index. Update in Anaesthesia.45(9):644-649. (Level of evidence Ia) 83 . Vento M. 2002. 1995: Issue 5. O'Donnell CPF. DOI:0. doi:10. Gilstrap LC. 1999. 18 McCall EM. Alderdice FA. 2006.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit DAFTAR PUSTAKA 1 Lawn JE. 2004 : 272276.ac.html. Rabi D.2007-1966). Room air resuscitation of depressed newborn: a systematic review and meta-analysis. et. 2005. 51(4):206-211. e1381-e1390 (doi:10. 3(2): R11–R17. Ramji S. 2 London.p.330:748 (2 April). CD004210.

Pencegahan Hipotermia pada Perawatan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di Rumah dengan Metoda Kanguru. 31 Suradi R. (p. P. Cnattingius S. University of Manitoba. 2000:511-28.gov/medlineplus/ency/article/007309. 24 London. (Level of evidence IIIb) 22 Fahdhy M. Evaluation of World Health Organization partograph implementation by midwives for maternity home birth in Medan. 1st ed. Guinsburg R. Suparno. Triyanti A. 2003. Nelson Textbook of pediatrics. Upper Saddle River. CD004210. DOI:0. Dalam :Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK). 2005 Dec. 34 Raunch D. Pettersson H. BJOG 2008. (Level of evidence IIb) 21 Berglund S.. Glucose-6-phosphate dehydrogenase deficiency in the dr. Grunewald C. Peres CA. 114: 297-316.pub3. Halliday HL..nlm. 29 Sarici SU. 1985.21(4):301-10. American Academy of Pediatrics Journal. & Bindler. Ciptomangunkusumo general hospital..2008. J. 30 Linn S. Irawaty S. Russo RH. No. World Health Organization. Miyoshi MH.613–4. Geneva : WHO. 35 Maisles MJ. Philadelphia: Saunders. 33 Hiperbilirubinemia pada neonatus. Kopelman BI. Camano L.Epub 2005 Aug 1. Hyperbilirubinemia in the newborn infant ≥ 35 weeks’ gestation: an update with clarifications. American Academy of Pediatrics Journal. Cochrane Database of Systematic Reviews 2008. Munthe BG. Pediatrics 2004. Severe asphyxia due to delivery-related malpractice in Sweden 1990–2005. Kangaroo care: The human incubator for the premature infant. (Level of evidence Ia) 20 Meneguel JF. Women’s Hospital in the Health Sciences Centre: Winnipeg. Number 4.770-774.65:599–606. Jenson HB.A practical guide. Chongsuvivatwong V. Vohra S. 573. 23 Department of Reproductive Health and Research.e53. Indonesia. NJ: Pearson Prentice Hall. (2006). 16th ed.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit 19 McCall EM. 2002. 16th ed. MN. American Academy of Pediatrics Journal.115:316–323.109(4). 121(2):45-52. pediatrics. Epidemiology of neonatal hyperbilirubinemia. Kliegman RM.183-96. 32 Jaundice and hyperbilirubinemia in the newborn. Diunduh dari http://www. 791 .75. Et al. Ball. R. Kernicterus. 2009.793) 25 Robles. Sao Paulo Med J 2003. Kangaroo mother care. Monintja HE. Dennis BL.1002/14651858. Bandung 1996. Vol 124. Pediatr Indones 1979: 19:30-40.1193-8. Diakses tanggal 10 Desember 2009. 28 Porter ML.nih. An Early (Sixth-Hour) Serum bilirubin measurement is useful in predicting the development of significant hyperbilirubinemia and severe abo hemolytic disease in a selective high-risk population of newborns with abo incompatibility. Unit Penelitian FK Unpad/RSHS. Alderdice FA.htm.). Jenkins JG. et al. Midwifery. Philadelphia: Saunders. et al. Antenatal treatment with corticosteroids for preterm neonates: impact on the incidence of respiratory distress syndrome and intra-hospital mortality. Art. Am Fam Physician 2002. Alisjahbana A.: CD004210. Hyperbilirubinemia in the term of newborn. 27 Subcommitte on Hyperbilirubinemia. Issue 1. 26 Usman A. Clinical practice guidelies : Management of hyperbilirubinemia in the newborn 35 or more weeks gestasion. eds. Maternal and child nursing care (2nd ed. 84 . M. Interventions to prevent hypothermia at birth in preterm and/or low birthweight infants. M. (1995). In: Behrman RE. 2000:511-28. Ladewig.

105: 21-26.p 68-9. Pediatr Clin North Am 2001. Diakses tanggal 10 Desember 2009. 52 Mupanemunda RH. 40(1): 17-33. 1999. [Tingkat pembuktian IIIb] 47 Gordon A. Antibiotic regimens for suspected late onset in newborn infants. Iannone R. 31: 3-8.jpg. Mupanemunda RH. 843-861 (2004). Watkinson M.103:6-14 43 Treatment of Hyperbilirubinemia.org. Risk Factors and Opportunities for Prevention of Early-onset Neonatal Sepsis: A Multicenter Case-Control Study. Herschel M. Sri Lanka J Child Health 2002. 41 Bhutani VK. Louis: Mosby. 51. eds. Jeffery HE. [Tingkat Pembuktian IV] 49 Schuchat A. 15th ed.2009. 1999. Pediatrics. Predictive ability of a predischarge hourspesific serum bilirubin for subsequent significant hyperbilirubinemia in a healthy term and near-term newborns. O’Sullivan MJ.yalepediatrics. 38 WHO Indonesia. et al. Akinbi HT.who. Turk J Pediatr 1994.177-8. Johnson L. Jakarta: WHO. Diunduh dari www. Pediatrics 2000.171-4.medscape.HTM [Tingkat Pembuktian Ia] 48 Yurdakok M. Paket Pelatihan Pelayanan Obstetri dan Neonatal (PONEK): Asuhan Neonatal Esensial. Keren R: Diagnosis and management of hyperbilirubinemia in the term neonate: for a safer first week. h. Explore simplified antimicrobial regimens for the treatment of neonatal sepsis.nih. 53 Rodrigo I. Diakses Mei 2007. Changing patterns of neonatal sepsis. Romaguera J. Strategies to reduce bilirubin-induced complications. February 2009. [Tingkat Pembuktian IIb] 50 Department of Child and Adolescent Health and Development World Health Organization. Buku saku pelayanan kesehatan anak di rumah sakit rujukan tingkat pertama di kabupaten/kota. 46 WHO. In: Harvey DR. 143-6. Diunduh dari http://www. Jaundice and breastfeeding. North Am. 40 Bhutani VK. 85 . Infection-Neonatal. 42 Bhutani VK. www.106:167-8. Key topics in Neonatology.com.nichd. Screening for Severe Neonatal Hyperbilirubinemia: Tests. 37 Gartner LM. Pediatr. Washington DC: Bios Scientific Publisher Limited. 44 Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Dinsmoor MJ. Neonatal jaundice. Meeting to explore simplified antimicrobial regimens for the treatment of neonatal sepsis (2002). Key topics in Neonatology. Watkinson M. penyunting. Infection-Neonatal. penyunting. h. Available at: URL: http://www. Washington DC: Bios Scientific Publisher Limited. Departement of Child and Adolescent Health and Development. Masalah-masalah bayi baru lahir:Ikterus. 2008. Watkinson M. St. Clin. In: Harvey DR. 45 The Royal Women’s Hospital Neonatal Services: Clinician’s Handbook. 1999. Postgrad Med 1999. Watkinson M. Mupanemunda RH. 147-150. 39 Melton K. Johnson LH. The Harriet Lane handbook: a manual for pediatric house officers. Zywicki SS. Antibiotic use in neonatal sepsis. 51 Mupanemunda RH.int/child-adolescent-health/OVERVIEW/CHILD_HEALTH/map_00-03_ world. Mercer B. 2000:257-8.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit 36 Siberry GK.48:389-99.gov/cochrane/Gordon/GORDON. Sivieri EM.

57 Angus DC. doi:10. 138:92-100. 68 Clark R. [Tingkat Pembuktian IIa]. Pediatr Infect Dis J 1999. Kron M. CDC/NHSN surveillance definition of health care–associated infection and criteria for specific types of infections in the acute care setting. [Tingkat Pembuktian Ia].2004.106:e4. AIIMS. 24: 446-53.31:1250-6.2008.002. Comparison of procalcitonin with interleukin-8. Sanchez P. et al. Pediatr Crit Care Med 2005. Andrus M dan Dudeck MA.Pediatr Crit Care Med 2005. Lancet 2003.104:447-53. Sepsis in the Newborn. 6(3): Suppl: S55-60. Fink MP. Angus D.NICU protocols (2008). 69 Centers for Disease Control and Prevention. Concept of PIRO as a new conceptual framework to understand sepsis. bloom B.51(RR-11):1-22. 2001 SCCM/ESICM/ACCP/ATS/SIS International Sepsis Definitions Conference.91:617-23. 2002. Definitions of Bloodstream Infection in the Newborn. 65 Ricardson DK et al. 78. 55 Sankar JM. Pohlandt F. Cook D. Benjamin DK. Revised guidelines from CDC. Pediatrics 1999. Gould JB. Use of C-reactive protein in minimizing antibiotic exposure. Pediatrics 2000. 63 Phillip AGS. Abraham E.ajic. 59 Pusponegoro HD. Epidemiology of sepsis: an update.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit 54 Horan TC. 103. MMWR Recomm Rep. Score for Neonatal Acute Physiology : a physiology severity index for neonatal intensive care. Pohlandt F. Pediatrics 1999. 86 . Antimicrobial Prevention of Early-onset Group B Streptococcal Sepsis: Estimates of Risk Reduction Based on a Critical Literature Review. Prevention of perinatal group B streptococcal disease.03. Druzin ML. Dalam : Standard Pelayanan Medik IDAI. CRIB II : an update of the Clinical Risk Index for Babies score. h 286-90 60 Haque KN. Prevention and treatment of nosocomial sepsis in the NICU. Deorari AK. Power R. 58 Levy MM. SNAP-II and SNAPPE-II : Simplified newborn illness severity and mortality risk scores. experience with infants initially admitted to a well-baby nursery. 6: S45-9.36:309-32. et al.361(9371):1789-91.1016/j. Sepsis neonatorum. Tridjaja B. Agarwal R. Reduction of unnecessary antibiotics therapy in newborn infants using interleukin-8 and C-reactive as markers of bacterial infections. Pediatr 2001. Hadinegoro SRS. 29 (Suppl): S109-16. C-reactive protein and differential white blood cell count for the early diagnosis of bacterial infections in newborn infants. 67 Benitz WE. Parry et al. Kron M. 64 G. Journal of perinatology 2004. 56 Opal SM. Marshall JC. Wax RS. 61 Franz AR. Crit Care Med 2003. Paul VK. Steinbach G. Crit Care Med 2001. Steinbach G. Am J Infect Control 2008. Firmanda D. Pediatrics 1993. 62 Franz AR. Mills PC.18:666-71. White R. 66 Richardson DK et al.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful