P. 1
Laporan PBL #2 - Blok 16 FK UNSRI - Somatorom Disorder

Laporan PBL #2 - Blok 16 FK UNSRI - Somatorom Disorder

5.0

|Views: 1,127|Likes:
Dipublikasikan oleh Andre Saputra
oke, satu lagi laporan hasil tutorial kelompok gw di Blok 16 !

mengenai kasus wanita yang merasa mengalami keluhan penyakit jantung, dan disimpulkan bahwa penyakitnya adalah somatoform disorder !

Mrs. Cek Molek, a-30 year old house wife, was admitted to the emergency room in Rumah Sakit Muhammad Hoesin (RSMH) Palembang with the complaints: dyspnea, palpitation, and epigastric pain. She thought that she got a heart attack. She looked very anxious and sweating. These complaints recurrent 1-3 times monthly.

She was accompanied by her husband, Lanang Belagak, and he told that his wife has been suffered these complaints since 2 years ago. At the beginning, her complaints rather infrequent and then increased from time to time. She had been consulted with many doctors, starting from General Practitioners in Puskesmas to internist (specialists of internal medicine). Almost all of medical examination procedures had been performed to her, such as ECG, abdominal USGand stomach contrast X ray photos, thoracic X ray photos; complete blood, urine and feces laboratory examination with result in normal limit. Although no pathological finding of all those examinations, she still repeat presented her physical symptoms, and request for more sophisticated examination,

Mrs. Cek Molek has been married since 4 years. They love each other and already have a three-year old son.

dengan model analisa seven Jump !

akhirnya kasus ini rampung juga dengan segala keterbatasan !

semoga bermanfaat!
oke, satu lagi laporan hasil tutorial kelompok gw di Blok 16 !

mengenai kasus wanita yang merasa mengalami keluhan penyakit jantung, dan disimpulkan bahwa penyakitnya adalah somatoform disorder !

Mrs. Cek Molek, a-30 year old house wife, was admitted to the emergency room in Rumah Sakit Muhammad Hoesin (RSMH) Palembang with the complaints: dyspnea, palpitation, and epigastric pain. She thought that she got a heart attack. She looked very anxious and sweating. These complaints recurrent 1-3 times monthly.

She was accompanied by her husband, Lanang Belagak, and he told that his wife has been suffered these complaints since 2 years ago. At the beginning, her complaints rather infrequent and then increased from time to time. She had been consulted with many doctors, starting from General Practitioners in Puskesmas to internist (specialists of internal medicine). Almost all of medical examination procedures had been performed to her, such as ECG, abdominal USGand stomach contrast X ray photos, thoracic X ray photos; complete blood, urine and feces laboratory examination with result in normal limit. Although no pathological finding of all those examinations, she still repeat presented her physical symptoms, and request for more sophisticated examination,

Mrs. Cek Molek has been married since 4 years. They love each other and already have a three-year old son.

dengan model analisa seven Jump !

akhirnya kasus ini rampung juga dengan segala keterbatasan !

semoga bermanfaat!

More info:

Published by: Andre Saputra on Jan 30, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX or read online from Scribd
See more
See less

12/27/2012

original

LAPORAN HASIL TUTORIAL

Problem Based Learning 2 BLOK 16
KELOMPOK

1

TUTOR: DR. YULI, SP.KK DR. LEGIRAN

Kelompok 1
• • • • • • • Andre Saputra Apriansyah Teddy Wijaya Nur Dewi Rani Apriani Lidya Pratiwi Veronica Yoseva • • • • • • Cynthia Mutiara Maria Ulfa Teddy Wijaya Deniz Mawarni Ariyu jiwa Novita Purnama

Skenario
• Mrs. Cek Molek, a-30 year old house wife, was admitted to the emergency room in Rumah Sakit Muhammad Hoesin (RSMH) Palembang with the complaints: dyspnea, palpitation, and epigastric pain. She thought that she got a heart attack. She looked very anxious and sweating. These complaints recurrent 1-3 times monthly. • She was accompanied by her husband, Lanang Belagak, and he told that his wife has been suffered these complaints since 2 years ago. At the beginning, her complaints rather infrequent and then increased from time to time. She had been consulted with many doctors, starting from General Practitioners in Puskesmas to internist (specialists of internal medicine). Almost all of medical examination procedures had been performed to her, such as ECG, abdominal USGand stomach contrast X ray photos, thoracic X ray photos; complete blood, urine and feces laboratory examination with result in normal limit. Although no pathological finding of all those examinations, she still repeat presented her physical symptoms, and request for more sophisticated examination, • Mrs. Cek Molek has been married since 4 years. They love each other and already have a three-year old son.

Skenario

(Informasi Tambahan)

The Result from Physiciatric interview is as follow: • Mrs. Cek Molek, about 2 years ago, visited her neighbor who died because of acute cardiac attack. She got the information about the symptoms of cardiac du=isease, i.e.: frequent palpitations, chest or epigastric pain and discomfort feeling. • Several days later, she thought that if she died she would leave her little son alone and worried that none would take care of him. The bad thoughts continued, that if she died her little son would get step mother. Sometimes she aware that the bad thoughts were useless. But she couldn’t stop it. Those bad thoughts made her depressed and very anxious and cause palpitation. When she aware that her heart beat was increasing, she felt epigastric pain. • Her premorbid personality characterized by: over-concern with physical attractiveness so her appearance and behavior makes her easily to get attention, continuing seeking for appreciation by others, and emotional labile (histrionic personality).

Klarifikasi Istilah

Klarifikasi Istilah

Identifikasi Masalah
1. Mrs. Cek Molek dating ke ER RSMH dengan keluhan dyspnea, palpitation dan epigastric pain yang berulang, 1 – 3 kali/bulan 2. 3. 4. Dia berpikir, ia mengalami serangan jantung. Dia terlihat cemas dan berkeringat. Menurutnya suaminya : keluhan ini sejak 2 tahun yang lalu pada awaknya infrekuen dan kemudian meningkat dari waktu ke waktu. Dia telah berkonsultasi ke banyak dokter mulai dari dokter umum samapai dokter spesialis penyakit dalam dan hamper semua pemeriksaan dalam batasan normal. 6. Mrs. Cek Molek telah menikah sejak 4 tahun yang lalu dan memiliki 1 orang anak (3 tahun).

5.

Analisis Permasalahan
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Apakah yang dimaksud dengan kepribadian histrionik ( karakteristik, psikodinamik dan komorbid)? Bagaimana hubungan antara tetangganya meninggal akibat serangan jantung dengan perubahan psikologis yang dialamimya? Bagaimana hubungan stres dengan keluhan fisik yang dialami (dyspnea, palpitation dan epigastric pain) Bagaimana penegakan diagnosis Mrs. Cek Molek? Apa saja Diagnosis Banding dalam kasus ini? Apa Diagnosis Kerjanya? Bagaimana penatalaksanaan pada pasien dalam kasus ini? Bagaimana prognosis dan komplikasinya?

Hipotesis

Mrs. Cek Molek, 30 tahun, mengalami gangguan somatoform.

Kerangka Konsep
Premorbid Histrionik

Pikiran-pikiran buruk

Depressed-very anxious

dyspnea, palpitation dan epigastric pain

Berulang dan meningkat

Perasaan terkena serangan jantung

Hasil px. normal

UGD

Sintesis >>

Kepribadian Histrionik
A. Karakteristik (PPDGJ III)
• Gangguan kepribadian dengan ciri-ciri: a) Ekspresi emosi yang dibuat-buat (self-dramatization), seperti bersandiwara (theatricality), yang dibesar-besarkan (exaggerated); b) Bersifat sugestif, mudah dipengaruhi oleh orang lain atau oleh keadaan; c) Keadaan afektif yang dangkal dan labil; d) Terus-menerus mencari kegairahan (excitement), penghargaan (appreciation) dari orang lain, dan aktivitas dimana pasien menjadi pusat perhatian; e) Penampilan atau perilaku “merangsang” (seductive) yang tidak memadai; f) Terlalu peduli dengan daya tarik fisik. • Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.

Kepribadian Histrionik
B. Psikodinamika Gangguan Kepribadian Histrionik
Penderita gangguan ini, ketika masa kanak mengalami hubungan dengan orang tua yang tidak harmonis sehingga kehilangan rasa cinta. Lalu untuk mempertahankan ketakutan akan kehilangan yang sangat, dia bereaksi secara dramatis. Para ahli sosiobudaya menganggap bahwa kesombongan, dramatisasi, dan egosentrisnya merupakan pembesaran dari sifat kewanitaannya.

Kepribadian Histrionik
C. Komorbid
Gangguan kepribadian ini mempunyai resiko untuk terkena major depression, somatization disorder, dan conversion disorder. Sering terjadi bersamaan dengan gangguan kepribadian narcistik, antisosial, dependen.

Tetangga Meninggal dan Perubahan Psikis
Premorbid personality, gangguan kepribadian histrionik - emosi labil -sugestif, mudah dipengaruhi -suka mendapat perhatian dari orang lain Timbul pikiran-pikiran buruk (konflik dalam diri sendiri) Penderita sangat merasakan penyakit orang lain & secara tidak sadar diidentifikasi pada dirinya Timbul anxietas & depresi Defense mekanisme dari tubuh Gagal atau berhasil tapi defense mekanisme tampak dominan dalam tingkah laku, tampak sebagai konflik yang terus tak terselesaikan timbul sebagai gejala neurotik
Faktor pencetus, stressor

Tetangganya meninggal akibat acute cardiac attack

Stress dan Symptoms
• Stres adalah suatu respon tubuh yang tidak spesifik terhadap aksi atau tuntutan atasnya. • Stres merupakan respon automatik tubuh (adaptif) pada setiap perlakuan yang menimbulkan perubahan fisis atau emosi yang bertujuan untuk mempertahankan kondisi fisis yang optimal suatu organisme.

Stress dan Symptoms

Stress dan Symptoms

Penegakan Diagnosis

DD/

• Dilihat dari gejala-gejala khas untuk tiap gangguan di atas, yang paling mendekati pada kasus yaitu “disfungsi otonomik somatoform F45.30 jantung & system kardiovaskuler”

DK/
Gangguan Somatoform
“ Suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik dimana tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang adekuat.”

Epidemiologi
• Penyakit ini sering didapatkan, berkisar antara 2-20 dari 1000 penduduk. Lebih banyak pada wanita. Pasien pada umumnya mempunyai riwayat keluhan fisik yang banyak. Biasanya dimulai sebelum berumur 30 tahun. • Sebelumnya pasien telah banyak mendapat diagnosis, makan banyak obat, dan banyak menderita alergi.

Etiologi
• Faktor genetik dan lingkungan somatisasi pada subtipe gangguan

• Alkohol dan penyalahgunaan obat-obatan, intoksikasi obat, dll.

Kriteria Diagnosis
Kriteria Diagnostik Berdasarkan PPDGJ III: • Ciri utama gangguan ini adalah adanya keluhan-keluhan gejala fisik yang berulang-ulang disertai dengan permintaan pemeriksaan medik, meskipun sudah berkali-kali terbukti hasilnya negatif dan juga sudah dijelaskan oleh dokternya bahwa tidak ditemukan kelainan yang menjadi dasar keluhannya • Penderita juga menolak dan menyangkal untuk membahas kemungkinan kaitan antara keluhan fisik dengan problem atau konflik dalam kehidupannya, bahkan meskipun didapatkan gejalagejala anxietas dan depresi. • Tidak adanya saling pengertian antara dokter dan pasien mengenai kemungkinan penyebab keluhan-keluhannya menimbulkan frustasi dan kekecewaan pada kedua belah pihak.

Gangguan Somatoform
1. Gangguan somatisasi (F45.0) 2. Gangguan somatoform tidak terinci (F45.1) 3. Gangguan hipokondrik (F45.2) 4. Disfungsi otonomik somatoform (F45.3) 5. Gangguan nyeri somatoform menetap (F45.4) 6. Gangguan somatoform lainnya (F45.8) 7. Gangguan Somatoform YTT

Disfungsi Otonomik Somatoform [F 45.3]
Diagnosis pasti membutuhkan semua hal berikut:
• Adanya gejala-gejala bankitan otonomik, seperti palpitasi, berkeringat, tremor, muka panas/ “flushing”, yang menetap dan mengganggu • Gejala subjektif tambahan mengacu pada sistem atau organ tertentu (gejala tidak khas) • Preokupasi dengan dan penderitaan (disteress) mengenai kemungkinan adanya gangguan yang serius (sering tidak begitu khas) dari sistem atau organ tertentu, yang tidak terpengaruh oleh hasil pemeriksaan berulang, maupun penjelasan-penjelasan dari para dokter • Tidak terbukti adanya gangguan yang cukup berarti pada struktur/fungsi dari sistem atau organ yang dimaksud

Karakter kelima
F45.30 = Jantung dan sistem kardiovaskular F45.31 = Saluran pencernaan bagian atas F45.32 = Saluran pencernaan bagian bawah F45.33 = Sistem pernapasan F45.34 = Sistem genito-urinaria F45.38 = Sistem atau organ lainnya

Gangguan Somatoform Spesifik DSM-IV
1. Gangguan Somatisasi 2. Gangguan Konversi 3. Hipokondriasis 4. Gangguan Dismorfik Tubuh 5. Gangguan Nyeri 6. Gangguan Somatoform yang Tidak Digolongkan

Kriteria Diagnostik Gangguan Somatisasi
• Riwayat banyak keluhan fisik yang dimulai sebelum usia 30 tahun yang terjadi selama periode beberapa tahun dan membutuhkan terapi, yang menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain. • Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan, dengan gejala individual yang terjadi pada sembarang waktu selama perjalanan gangguan: ▫ Empat gejala nyeri ▫ Dua gejala gastrointestinal ▫ Satu gejala seksual ▫ Satu gejala pseudoneurologis

Kriteria Diagnostik Gangguan Somatisasi
• Salah satu (1)atau (2): ▫ Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam kriteria B tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh sebuah kondisi medis umum yang dikenal atau efek langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol) ▫ Jika terdapat kondisi medis umum, keluhan fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan dan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium. • Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti gangguan buatan atau pura-pura).

Penatalaksanaan
• Pendekatan bio-psiko-sosio-spiritual • Obat-obat psikofarmako; untuk kelaian medis yang ditemukan + simptomatis • Olahraga , makan , tidur, hobby secara teratur • Psikoterapi → hubungan baik, beri kesempatan mengutarakan konfliknya daari hatinya. • Melakukan re-edukasi→meluruskan pendapat-pendapat pasien yang salah, member keyakinan pengertian tentang sebab-sebab penyakitnya. • Menekankan kembali komitmen agama dan pengamalannya • Pengobatan pendukung → perbaiki kondisi sosial ekonomi, kebutuhan RT dan pekerjaan, menolong menunkukkan jalan keluar (saran). • Meningkatkan kemampuan penyesuaian diri dengan likungan.

Skema Penatalaksanaan
gg. psikosomatik Gejala fisik Terapi farmakologik 1 mggu Sembuh Gejala psikiatri Gejala cemas Anxiolytic s psikotera pi Gejala depresi Anti dpresi psikotera pi 1 bln Tenang Follow up Rujuk ya tappering off lanjutkan psikoterapi tidak Rujuk

Ya

Tidak

Medikamentosa
• Anxiolytics
▫ Benzodiazepin
Diazepam (10-30 mg/hari, 2-3x sehari) Lorazepam (2-3x sehari) Aprazolam (3x0,25-0,5 mg/hari)

▫ Non-Benzodiazepin
Sulpirid (100-200 mg/hari) Buspiron (15-30 mg/hari)

• Antidepressant
▫ SSRI Sertralin, Paroksetin, Fluoksetin, Fluvoksamin ▫ Trisiklik Fenotiazine ▫ RIMA (Reversible Inhibitor y Monoamin Oxidase) Moklobemid

Psikoterapi suportif
Psikoterapi merupakan cara pengobatan terhadap gangguan mental emosional dengan mengubah pola pikiran, perasaan, perilaku agar terjadi keseimbangan dalam diri individu tersebut. Tujuan: • Menguatkan daya tahan mental yang telah dimilikinya • Mengembangkan mekanisme daya tahan mental yang baru dan yang lebih baik untuk mempertahankan fungsi kontrol diri • Meningkatkan kemampuan adaptasi dengan lingkungan. Indikasi : Semua gangguan jiwa

Psikoterapi suportif
1. Ventilasi ; • memberi kesempatan selus-luasnya pada pasien untuk mengemukakan isi hatinya agar ia merasa lega dan keluhanya akan berkutrang. • sikap terapis ; pendengar yang baik dan penuh perhatian • topik pembicaraan ; permasalahan yang jadi stress utama 6. Persuasi • menerangkan secara masuk akal tentang gejala-gejala penyakitnya yang timbul akibat cara berpikir,perasaan , sikap terhadap masalah yang dihadapinya. • Terapist: membangun,ubah, kuatkan impuls tertentu yang masuk akal dan sesuai hati nurani. Serta jelaskan pada pasien bahwa gejalanya akan hilang • -Topik ; Ide dan kebiasaan pasien yang mengarah pada terjadinya gejala. 11. Psikoterapi • meyakinkan kembali kemampuan pasien bahwa ia sanggup mengatasi masalah yang dihadapinya. • therapist; yakinkan secara tegas dan tunjukan hal yang telah dicapai pasien • topic ; pengalaman pasien yang berhasil nyata

Psikoterapi suportif
4. Sugestif
• menanamkan kepercayaan pada pasien bahwa gejala-gejala akan hilng. • terapis; yakinkan tegas bahwa gejla akan hilang • -topik; gejala-gejala bukan karena kerusakan organic /fisik,

10. Bimbingan
• nasehat yang penuh wibawa dan penertian • terapis; nasehat • -topik; cara hubungan antar manusia , cara komunikasi, cara bekerja dan belajar yang baik

16. Penyuluhan dan Konseling • bantu pasien mengerti dirinya sendiri secara baik agar ia dapat menyelesaikan masalahnya dan menyesuaikan diri

Prognosis
Pada kasus, berdasarkan diagnosis multiaksial :

Skenario

Skenario

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->