Anda di halaman 1dari 14

RPP RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah Mata Pelajaran Kelas / Semester Pertemuan Alokasi Waktu Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

: SMA : Seni Budaya / Seni Rupa :X/1 : 1 (satu) : 2 x 45 menit : 1. Mengapresiasikan Karya Seni Rupa : 1.1 Mengidentifikasi keunikan gagasan dan teknik dalam karya seni rupa terapan daerah Sumatera Utara

Indikator : 1. Mengidentifikasikan karya seni rupa terapan Sumatera Utara secara lisan ataupun tertulis berdasarkan sejarahnya. 2. Menjelaskan karya seni rupa terapan daerah setempat berdasarkan fungsinya 3. Membedakan bentuk-bentuk seni berdasarkan fungsi sosial masyarakat 4. Menjelaskan karya seni rupa terapan daerah setempat secara lisan dan tetulis berdasarkan sosial budaya dan klasifikasinya. Tujuan Pembelajaran : Setelah materi pembelajaran selesai, peserta didik diharapkan mampu : 1. Mengidentifikasikan karya seni rupa terapan Sumatera Utara tradisionil Batak Simalangun secara lisan ataupun tertulis berdasarkan sejarahnya. 2. Menjelaskan karya seni rupa terapan daerah setempat berdasarkan fungsinya 3. Membedakan bentuk-bentuk seni berdasarkan fungsi sosial masyarakat 4. Menjelaskan karya seni rupa terapan daerah setempat secara lisan dan tetulis berdasarkan sosial budaya dan klasifikasinya. Materi Pembelajaran : A. Pengertian Seni Didalam diri setiap manusia (makhluk individu) terdapat suatu perasaan yang dimana perasaan itu baik secara langsung maupun tidak langsung berasal dari dalam diri pribadi. Oleh karena itu cenderung setiap individu selalu ingin mengungkapkan perasaan

itu yang terkadang bisa berwujud seperti kegemaran, keinginan untuk dimengerti oleh individu lain dan sebagainya. Dimana dalam hal tersebut, setiap individu tersebut mempunyai cara-cara yang berbeda-beda dalam mengaplikasikannya, menuangkannya, dan memvisualisasikannya agar perasaannya tersampaikan, biasanya hal ini berhubungan dengan konteks seni dan atau sebagai seni yang dimana setiap individu tersebut terkadang secara tidak sadar sering mengapresiasikan perasaannya tersebut dalam konteks seni tersebut. Dalam konteks seni itu sendiri dibagi atas beberapa cabang seni, yang pembagian golongannya adalah sebagai berikut: a. b. c. d. e. Seni Tari Seni Musik Seni Rupa Seni teater/ Drama Seni Sastra

Dalam pengertian secara sederhana, seni sering diartikan sebagai keindahan ciptaan manusia, yang membedakannya dengan keindahan alam semesta beseta isinya oleh Sang Pencipta, tetapi dalam kehidupan sehari-hari kata seni sering digunakan dalam berbagai bidang keperluan, sampai kepada ungkapan-ungkapan seperti, seni bela diri, seni memasak, seni bercinta, dan sebagainya. Hal itu dikarenakan adanya variasi kehidupan yang berkenaan dengan kata seni. Kata seni yang disebut dalam bahasa Indonesia kerap disamakan dengan kata art dalam bahasa inggris yang antara lain mengandung arti sebagai berikut : Kreasi-kreasi atau hasil kerja manusia yang mengandung nilai

dan kualitas estetis. (creation, work, production of humans that have aesthetics qualities or values). Keterampilan-keterampilan yang diperoleh dari pengalaman

yang berarti : kecakapan membuat, menyusun dan merencanakan, melakukan secara sistematis dan bertujuan dengan menngunakan makna kejiwaan untyuk mencapai hasil-hasil yang menyenangkan sesuai dengan prinsip-prinsip estetis, baik yang dipahami secara intuitif maupun kognitif. (skill acquired in experience that make possible : the ability to contrive, to systematically and intentionally use physical means to achive

desired result according to aesthetic principles, wheter intuitively or cognitively understood). Para ahli filsafat mengemukakan bahwa pengertian seni dapat diperluas, yaitu sebagai : Kemahiran untuk melakukan atau menciptakan sesuatu untuk memuaskan pengalaman seseorang dalam menikmati keindahan. Kemahiran seseorang dalam mengungkapkan atau mengomunikasikan perasaannya, baik secara individual maupun sosial. Kemahiran dalam merancang, menyusun, atau mempertunjukkkan suatu kegiatan yang memiliki nilai-nilai keindahan yang bersifat subjektif. Wujud sebuah produk/hasilan dengan kemahiran yang baik, baik dilakukan oleh pribadi maupun kelompok. Wujud utama dari kebudayaan manusia ataupun bangsa yang memiliki makna. Unsur-unsur seni itu sendiri berasal berupa dari nilai-nilai kebudayaan, nilai-nilai relegi (agama), nilai-nilai estetika, nilai-nilai sosial, unsur komunikasi sebagainya. Sifat seni itu sendiri berfungsi pada bagan seperti berikut secara lazim : dan lain

B. Pengertian Seni Rupa Seni rupa merupakan suatu hasil interpretasi dan tanggapan pengalaman manusia dalam bentuk visual rabaan, dimana seni rupa berperan dalam memenuhi

tujuan-tujuan tertentu dalam kehidupan manusia maupun semata-mata memenuhi kebutuhan estetik. Karya seni rupa dapat menimbulkan berbagai kesan (indah, Unik, atau kegetiran) serta memiliki kemampuan untuk mmbangkitkan pikiran dan perasaan. Dengan memahami makna tentang bentuk-bentuk seni rupa , maka akan diperoleh rasa kepuasan dan kesenangan. Jenis-jenis seni rupa merupakan suatu proses pembuatan dan bentuk karya yang dihasilkan serta nama pembuatnya yaitu seniman, kriyawan dan desainer. Dalam hal ini sesuai perkembangan perjalanan seni rupa itu sendiri maka menurut fungsinya seni rupa dibedakan menjadi : 1. Seni Rupa Murni (Fine Art) Seni rupa murni lebih menekankan pada ungkapan pikiran dan perasaan yakni meliputi seni lukis, seni patung dan seni grafis. 2. Seni Rupa Terapan (Applied Art) Seni Rupa Terapan lebih cenderung menekankan pada keterampilan teknik pembuatan karya dengan hasil berupa karya yang fungsional dan non fungsional, dengan kata lain dibuat dengan tujuan fungsi praktis atau dapat dimanfaatkan menjadi fungsi pakai kebutuhan sehari-hari, namun diupayakan juga memiliki fungsi artistik. Misalnya : kriya kayu, kriya logam, kriya tekstil dan sebagainya. 3. Desainer (Designer) Desain merupakan proses pembuatan karya yang maksud dan tujuannya telah ditentukan lebih dulu. Karya desain merupakan rancangan gambar, benda, atau lingkungan yang didasarkan pada persyaratan-persyaratan tertentu. Secara sederhana seniman atau kriyawan dapat bekerja secara mandiri, sedangkan desainer bekerja untuk keperluan klien. C. Seni Rupa terapan tradisionil Batak Toba Dalam seni rupa terapan biasanya jenis, bentuk, teknik dan fungsinya disesuaikan dengan kebutuhan manusia dan permintaan dipasaran oleh yang membutuhkannya. Beragam jenis, bentuk, teknik pembuatan dan fungsinya bisa kita lihat dan tidak terlepas keberadaannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Ada yang

bermacam bidang, bermacam ruang, bermacam bentuk dan ukuran, dan teknik pembuatannya biasanya disesuaikan dengan benda fungsional apa yang akan kita terapkan dan merupakan kegiatan dari pemberiaan solusi dari permasalahan kebutuhan masyarakat. Dalam materi pembelajaran seni rupa terapan daerah setempat khususnya seni rupa terapan daerah Sumatera Utara memiliki berbagai etnis budaya batak yakni : Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Karo, Batak Angkola Mandailing, Batak Pakpak Dairi, Melayu dan Nias. Namun sesuai daerah setempat dalam materi ini diambil dari salah satu etnis budaya yaitu etnis budaya tradisionil Batak Toba yang tidak terlepas dari materi yang bahasannya adalah mengenai bentuk-bentuk ornamen rumah adat dan benda-benda pakainya. 1. Identifikasi Suku bangsa batak toba adalah salah satu diantara suku-suku batak di Sumatera Utara yang berdomisili di Tapanuli Utara. Pada mulanya suku bangsa batak mempunyai kebudayaan dan keseniaan yang sama, akan tetapi karena adanya pengaruh kebudayaan asing maka makin besarlah perbedaan itu pada masa sekarang ini. Hal itu disebabkan letak geografis yang berbatasan dengan sukusuku lain, seperti Karo dengan Aceh dan Melayu, Simalungun dengan Melayu dan sebagainya. Karena akan adanya perbedaan-perbedaan terebut, maka timbullah istilah Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Karo, Batak Pak-pak Dairi, Batak Angkola-Mandailing, Melayu dan Nias. Dalam bahasan ini unsur-unsur yang dibicarakan adalah mengenai ornamen-ornamen rumah adat dan benda-benda pakainya. Rumah adat dalam kebudayaan batak pada umumnya dihiasi dengan ornamen-ornamen yang penuh arti dengan ukiran yang indah, padat dan rapat menggunakan tiga unsur warna yaitu merah, putih dan hitam. Hampir setiap lembar papan rumah terdapat hiasan ornamen yang dalam bahasa batak disebut Gorga. 2. Pengertian Ornamen dan Gorga a) Ornamen (Ragam Hias) Ornamen berasal dari bahasa Yunani yaitu ornare yang artinya hiasan atau perhiasan. Ornamen disebut juga sebagai ragam hias yang terdiri dari

berbagai jenis motif, dimana motif-motif itulah yang digunakan sebagai penghias untuk menghias sesuatu bidang atau benda sehingga benda-benda tersebut menjadi indah seperti yang kita lihat pada hisan kulit buku, piagam, kain batik, uang kertas, tempat bunga, dan sebagainya. Dari hal tersebut, dapat diterima bahwa pengertian ornament atau ragam hias sangat sulit dibuat batasannya, akan tetapi sangat jelas terkandung didalamnya beragam-ragam pola hias. Karena banyaknya jenis-jenis gambar atau pola hias maka perlu diatur jumlahnya menurut bentuknya, seperti : Pola berbentuk manusia Pola berbentuk hewan Pola berbentuk tumbuh-tumbuhan Pola berbentuk geometris (garis gelombang dan lingkaran, berlian, ikal, swastika, meander, guir lande, tumpal, dsb) Pola berbentuk kosmos atau alam

Adapun pola-pola ragam hias tersebut contohnya adalah sebagai berikut :

Pola-pola ragam hias

b) Gorga Berbicara tentang gorga batak (hiasan), gorga batak adalah merupakan suatu ragam hias yang dipergunakan dalam menghias suatu benda-benda atau lebih terlihat pada rumah-rumah adat batak di Sumatera Utara khususnya, yang dulunya memiliki selain sebagai fungsi menghias gorga-gorga tersebut sebagai simbol-simbol yang mengandung magis dan memiliki nilai-nilai spiritual yang sangat tinggi. Bahan-bahan untuk Gorga ini biasanya kayu lunak yaitu yang mudah dikorek/dipahat. Biasanya nenek-nenek orang Batak memilih kayu ungil atau ada juga orang menyebutnya kayu ingul. Kayu Ungil ini mempunyai sifat tertentu yaitu antara lain tahan terhadap sinar matahari langsung, begitu juga terhadap terpaan air hujan, yang berarti tidak cepat rusak/lapuk akibat kena sengatan terik matahari dan terpaan air hujan. Kayu Ungil ini juga biasa dipakai untuk pembuatan bahan-bahan kapal/ perahu di Danau Toba. Dalam gorga batak menggunakan 3 unsur warna yaitu : merah, putih dan hitam yang pewarnaannya pada zaman dahulu adalah dengan menggunakan warna alamiah, yakni : Cat Warna Merah diambil dari batu hula, sejenis batu alam yang berwarna merah yang tidak dapat ditemukan disemua daerah. Cara untuk mencarinya pun mempunyai keahlian khusus. Batu inilah ditumbuk menjadi halus seperti tepung dan dicampur dengan sedikit air, lalu dioleskan ke ukiran itu. Cat Warna Putih diambil dari tanah yang berwarna Putih, tanah yang halus dan lunak dalam bahasa Batak disebut Tano Buro. Tano Buro ini digiling sampai halus serta dicampur dengan sedikit air, sehingga tampak seperti cat tembok pada masa kini. Cat Warna Hitam diperbuat dari sejenis tumbuh-tumbuhan yang ditumbuk sampai halus serta dicampur dengan abu periuk atau kuali. Abu itu dikikis dari periuk atau belanga dan dimasukkan ke daun-daunan yang ditumbuk tadi, kemudian digongseng terus menerus sampai menghasilkan seperti cat tembok hitam pada zaman sekarang.

3. Klasifikasi Jenis-jenis Gorga rumah adat Batak Toba dan Benda-benda Pakainya a) Jenis-jenis gorga Batak Toba 1) Gorga Sitompi Tompi adalah sejenis alat yang dipergunakan untuk mengikat leher kerbau pada gagang bajak sewaktu membajak disawah. Dibuat dari rotan yang dianyam, dari gerakan anyaman itulah dasar motif gorga sitompi terbentuk.

2) Gorga Dalihan Na Tolu Gorga ini biasa ditempatkan pada rame-rame atau dorpijolo. Yaitu jalinan sulur yang saling ikat mengikat yang menggambarkan suatu hubungan kemasyarakatan diatur menurut adat yang bertitik tolak pada Dalihan Na Tolu. Dalihan Na Tolu itu diartikan kesatuan tiga tungku, dimana hubungan ketiga kaki tungku melambangkan hubungan keakraban dengan makna : Dongan sabuhuta, pihak yang seketurunan atau semarga Hula-hula, pihak (marga) pemberi anak perempuan yang menjadi isti Boru, pihak (marga) yang mengambil anak perempuan, biasa disebut pihak menantu.

3) Gorga Simeol-meol Meol berarti melenggang lenggok. Dengan beraneka gerak dan beragam irama gerakan garis menampilkan kegembiraan. Tidak ada sedikitpun bidang yang dibiarkan kosong, semua diisi dengan jalinanjalinan sulur ibarat sulur tumbuhan yang melilit-lilit kesana kemari dengan

gaya yang indah. Tidak terdapat pengertian simbolik mistik akan tetapi lebih dekat pada pengertian kegembiraan saja.

4) Gorga Simeol-meol Masialoan Bentuknya sama dengan gorga simeol-meol, disebut masialoan artinya dibuat dua motif bersebrangan atau berhadap-hadapan. Fungsi dan pengertiannya sama dengan gorga simeol-meol.

5) Gorga Sijonggi Jonggi adalah lambing kejantanan, terkenal pada kelompok sapi. Bila terdapat seekor sapi jantan seabagai pemimpin rombongan sapi, maka sapi jantan itu disebut lembu jonggi. Gorga ini mengandung arti keperkasaan yang dihargai dan dihormati (pahlawan). 6) Gorga Silintong Silintong mengartikan putaran air, gerakan putaran air dianggap gerakan garis yang indah. Gorga silintong mengandung arti kekuasaan sakti yang bisa melindungi manusia dari segala bala bencana. 7) Gorga Simarogung-ogung Ogung artinya gong, yaitu salah satu jenis alat musik. Gorga ini dianggap sebagai bentuk kegembiraan, simbol pesta yang diharapkan

semua manusia. Pengertiannya melambangkan kejayaan dan kemakmuran.

8) Gorga Ipon-ipon Hiasan ini sebagai garis bawah suatu hiasan gorga dengan kata lain sebagai hiasan tepi. Fungsi dan artinya hanya sebagai keindahan dan memperkuat komposisi. Manusia tanpa gigi sangat kurang menarik, begitulah ukiran Batak, tanpa adanya ipon-ipon sangat kurang keindahan dan keharmonisannya.

9) Gorga Iran-iran Iran adalah sejenis pemanis muka manusia agar nampak lebh cantik dan berwibawa. Gorga ini dianggap sebagai simbol kecantikan, sering dipakai sebagai penghias benda-benda pakai. 10) Gorga Hariara Sundung di Langit

Bentuknya seperti pohon hayat yang dimiliki suka bangsa di SumateraUtara dan gunungan pada suku-suku bangsa jawa. Gambar burung sebelah atas disebut manuak-manuak hulambujati warna putih membawa berkah, pada ranting bawah gambar manuak-manuak imbulu buntal berwarna mearah membawa padi dan kapas pada patuknya. Pada bagian bawah diatas tanah terdapat binatang-binatang melata seperti ular, disusun sebagai lambing sejarah asal-usul manusia turun ke dunia. 11) Gorga hoda-hoda Gorga ini menceritakan pesta adat, yaitu mangaliat horbo (pesta besar), dan sebagai lambang kebesaran.

12) Gorga Simata Ni Ari (matahari) Gorga yang menggambarkan matahari, terdapat disudut kiri dan kanan rumah. Gorga ini diperbuat tukang ukir (Pande) mengingat jasa matahari yang menerangi dunia ini, karena matahari juga termasuk sumber segala kehidupan, tanpa matahari takkan ada yang dapat hidup.

13) Gorga Desa Na Ualu (mata angin) Gorga ini menggambarkan gambar mata angin yang ditambah hiasan-hiasannya. Orang Batak dahulu sudah mengetahui/kenal dengan mata angin. Mata angin ini pun sudah mempunyai kaitan-kaitan erat dengan aktivitas-aktivitas ritual ataupun digunakan di dalam pembuatan horoscope seseorang/sekeluarga. Sebagai pencerminan perasaan akan pentingnya mata angina pada suku Batak maka diperbuatlah dan diwujudkan dalam bentuk Gorga. 14) Gorga Jenggar (Jorngom)

Jenggar atau jorngom adalah hiasan berbentuk raksasa yang biasa terdapat pada bagian tengah adop-adop dan haling gordang. Jenggar dianggap sebagai simbol penjaga keamanan, sebagai dewa yang sanggup melawan segala jenis setan-setan. 15) Gorga Gaja Dompak

Bentuknya sepeti jenggar, hanya beda pada posisi pemakaian. Gaja dompak tergantung diujung dila paung. Gaja dompak sebagai simbol

kebenaran bagi orang batak dan berfungsi sebagai penegak hukum terhadap semua umat manusia. 16) Ulu Paung Ulu Paung terdapat di puncak rumah Gorga Batak. Tanpa Ulu Paung rumah Gorga Batak menjadi kurang gagah. Pada zaman dahulu Ulu Paung dibekali (isi) dengan kekuatan metafisik bersifat gaib. Disamping sebagai memperindah rumah, Ulu Paung juga berfungsi untuk melawan begu ladang (setan) yang datang dari luar kampung. Zaman dahulu orang Batak sering mendapat serangan kekuatan hitam dari luar rumah untuk membuat perselisihan di dalam rumah (keluarga) sehingga tidak akur antara suami dan isteri. Atau membuat penghuni rumah susah tidur atau rasa takut juga sakit fisik dan berbagai macam ketidak harmonisan.

17) Singa-singa Dengan mendengar ataupun membaca perkataan Singa maka akan terlintas dalam hati dan pikiran kita akan perkataan: Raja Hutan, kuat, jago, kokoh, mampu, berwibawa. Tidak semua orang dapat mendirikan rumah Gorga disebabkan oleh berbagai faktor termasuk factor social ekonomi dan lain-lain. Orang yang mampu mendirikan rumah Gorga Batak jelaslah orang yang mampu dan berwibawa di kampungnya. Itulah sebabnya Gorga Singa dicantumkan di dalam kumpulan Gorga Batak.

18) Boraspati dan Adop-adop (tetek/ hiasan susu)

Boras Pati sejenis mahluk yang menyerupai kadal atau cicak. Boras Pati jarang kelihatan atau menampakkan diri, biasanya kalau Boras Pati sering nampak, itu menandakan tanam-tanaman menjadi subur dan panen berhasil baik yang menuju kekayaan (hamoraon). Gorga Boras Pati dikombinasikan dengan tetek (susu, tarus). Bagi orang Batak pandangan terhadap susu (tetek) mempunyai arti khusus dimana tetek yang besar dan deras airnya pertanda anaknya sehat dan banyak atau punya keturunan banyak (gabe). Jadi kombinasi Boras Pati susu (tetek) adalah perlambang Hagabeon, Hamoraon sebagai idaman orang Batak. b) Penerapan gorga pada benda-benda pakai

Beri Nilai