Anda di halaman 1dari 45

dari penulis

Salam bahari! Akhirnya setelah hampir tiga minggu berkutat dengan laptop, buku digital Kelana Laut Wallacea ini selesai jua. Ya, sepulangnya berlayar kami langsung disibukkan oleh persiapan sidang skripsi yang melelahkan sehingga ide ini terbengkalai cukup lama. Rasa malas juga menjadi alasan utama untuk kami tidak menulis atau memilah bergiga foto, tetapi adanya dukungan (lebih tepatnya pertanyaan bertubi) dari teman-teman terdekat membuat semangat kami terpompa kembali. Kami memasukkan nama Wallacea, karena perjalanan ini mengingatkan kami akan ekspedisi yang dilakukan oleh Alfred R. Wallace 1,5 abad yang lalu. Memang, pulau yang kami singgahi tidak sebanyak Wallace, pun kami melakukan interaksi dengan masyarakat lokal dalam jumlah yang sangat minim. Anggap saja ini sebagai sebuah awalan untuk pelayaran-pelayaran selanjutnya di lautan kita yang sungguh kaya. Inilah dia, rangkuman kisah pelayaran kami selama satu bulan mengarungi Indonesia Timur bersama ratusan pemuda lain dari seantero nusantara. Buku ini tentu saja masih jauh dari kata sempurna. Mungkin pula terlalu banyak kisah personal dengan bumbu kritikan di sana-sini. Namun, besar harapan kami para pembaca dapat ikut merasakan petualanganyang nampaknya tidak akan kami dapatkan lagidan melihat langsung ironisme yang jamak terjadi di pelosok negeri. Indonesia bukan hanya Jakarta atau Jawa, Bung! Selamat membaca!

Foto Cover Dokumentasi LNRPB - KPN Sail Morotai 2012 Tulisan


Rifian Ernando | Maharsi Wahyu | Hikmah Cut

Foto
Rifian Ernando | Maharsi Wahyu | Retno Nuraini | Hikmah Cut | Fajar | Agus

Layout dan Gambar Peta


Maharsi Wahyu

Saran dan Kritik


maharsiwahyu@yahoo.com | r_ernando@yahoo.com

kan saya dari sebuah lamunan. Satu lagi lompatan kecil dalam kehidupan akan saya jalani. Meninggalkan segala bentuk kenyamanan yang didapatkan dari rutinitas berulang dan terkadang mampu memabukkan serta menjadi candu bagi siapa saja yang tak ingin mengenal keras kehidupan. Tepat setahun yang lalu saya meninggalkan kenyamanan Jogja dan bergabung dengan Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) UGM Unit 43 yang melaksanakan program di Distrik Waibu, Sentani Kabupaten Jayapura. Selang waktu berjalan, kali ini saya kembali melakukan aksi serupa dengan mengikuti program Kapal Pemuda Nusantara yang bersama-sama dengan program lain akan berpartisipasi dalam rangkaian acara Sail Morotai 2012. Selama satu bulan kami yang tergabung dalam Satuan Tugas Lintas Nusantara Remaja dan Pemuda Bahari (LNRPB)/Kapal Pemuda Nusantara (KPN) akan mengarungi ganasnya perairan Indonesia Timur dengan mengambil rute Jakarta-Ambon-Sorong-Raja Ampat-MorotaiTernate-Makassar. Dalam suatu kehidupan, perpisahan adalah sebuah keniscayaan. Sedih karena akan berpisah dengan keluarga, sahabat, dan segala bentuk kenyamanan lain cukup terasa, sekalipun perjalanan ini tak akan memakan waktu lebih dari sebulan. Masih terbayang bagaimana Ibu melepas kepergian dengan mata berkaca-kaca, sahabat yang melambaikan tangan di Stasiun Tugu Jogja, hingga pesan-pesan singkat dari orangorang terkasih yang tak turut mengantar kepergian. Keputusan untuk mengikuti kegiatan ini diambil tidak dalam kondisi yang serba mudah. Banyak hal yang sebelumnya kerap menyurutkan niatan untuk melakukan perjalanan panjang menyusuri perairan Indonesia Timur.

ore itu suara nyaring gaung KRI Surabaya 591 yang menandakan kapal akan segera bertolak meninggalkan dermaga Tanjung Priok menyadar-

Seeing is Traveling
Sebuah prolog oleh Rifian Ernando

Pertimbangan urusan akademis hingga perasaan skeptis terhadap program-program yang digagas pemerintah kerap datang dan meracuni pikiran. Sampai akhirnya saya putuskan: sekarang atau tidak sama sekali. Begitu besar harapan yang saya titipkan pada kegiatan Sail Morotai 2012 ini. Berbagai persiapan pun dilakukan. Membaca berita, memperkaya pengetahuan tentang kemaritiman, hingga persiapan-persiapan teknis sebelum berlayar pun tak luput dari perhatian. Ada sebuah keinginan sederhana yang muncul sebagai bentuk 'hutang moral' atas semua fasilitas yang diberikan negara dalam rangka mendukung kegiatan pelayaran Sail Morotai 2012. Keinginan untuk mengabadikan sekaligus menceritakan pengalaman dalam sebuah tulisan menjadi penting mengingat tak semua orang memiliki kesempatan ini. Menjalani hari-hari di

dalam kapal perang, merasakan kerasnya kehidupan di laut, hingga bagian terbaik dari perjalanan ini, yaitu menyinggahi dan menikmati tempat-tempat terbaik yang bumi Indonesia tawarkan. Bagi segelintir manusia, perjalanan yang keras dan menantang adalah sebuah kebutuhan. Nyamannya kehidupan serta rutinitas yang berjalan terlalu konstan terkadang membuat manusia lupa akan hakikat dan realitas kehidupan yang Tuhan anugerahkan. Realitas maya yang kerap muncul memerlukan konfirmasi nyata dengan pergi dan melihat langsung fenomena yang terjadi di seputar kehidupan manusia. Bepergian dari satu tempat ke tempat lain memiliki makna lebih dari sekedar berekreasi atau menyegarkan pikiran, melainkan menjadi cara terbaik untuk mengenal bumi pertiwi tempat kita lahir dan dibesarkan secara lebih dekat dan nyata. Seeing is traveling.

Multifungsi | Kapal LCU yang biasa digunakan

untuk pendaratan pasukan di tepi pantai menjadi alat

pengangkut utama peserta saat kapal lego jangkar atau tidak dapat merapat di pelabuhan. Saat tidak digunakan, LCU berubah fungsi menjadi tempat menjemur pakaian.

SELAMAT

JAKARTA!
Oleh: Maharsi Wahyu

tinggal

peran muka belakang. Kami berlarian menuju pos masing-masing, berjejeran di tepi pagar helideck, di cardeck, dan di anjungan kapal bergabung dengan ABK yang telah siap lebih dahulu. Kapal ini benarbenar akan berangkat! Tepat di belakang KRI Surabaya, kapal rumah sakit KRI Dr Soeharso 990 pun melakukan hal yang sama. Peluit dari kedua kapal memekik saling bergantian memenuhi udara. Kapal Dr Soeharso ini akan melakJakarta International Container Center, 28 Agustus 2012 Larik-larik cahaya sore menembus railing helideck yang ramai oleh ratusan manusia berbaju putih-merah. Udara panas membabi buta membuat helideck yang begitu luas pun terasa sesak. Hari ini Jakarta berbaik hati menampakkan langit birunya sehingga perairan di sekitar kami pun memantulkan warna yang cemerlang, tidak lagi berwarna keabuan seperti kemarin. Tak ada pula awan mendung atau kabut asap yang menganggu pemandangan. Ah, Jakarta seakan siap memberikan salam perpisahan. Menjelang pukul tiga sore, suasana di dalam kapal menjadi gaduh. Suara peluit yang ditiup dari anjungan tak henti bersahutan dengan pengumuman preyen, Peran Muka Belakang! Peran Muka Belakang! Pintu samping tankdeck yang digunakan sebagai pintu masuk utama sudah tertutup rapat. Sejenak terdengar suara berdebam dari haluan kapal, rupanya jangkar kapal telah selesai ditarik dan kini KRI Surabaya mengapung bebas. Mayor Mahmud memerintahkan kami segera menempati pos untuk melaksanakan sanakan misi pengobatan gratis di daerah terpencil di Indonesia Timur bertajuk Operasi Bhakti Surya Baskara Jaya. Nantinya kami akan bertemu lagi dan berkumpul bersama puluhan kapal perang RI dan negara-negara lain di Morotai dalam perhelatan Sail Morotai 2012. Asap keabuan nan pekat menyeruak liar dari sebuah cerobong utama yang terhubung dengan ruang mesin di geladak bawah. Mesin kapal menderu keras dan perlahan kapal bergerak menjauhi dermaga. Kami mulai bersorak sorai dari tiap dek tanpa menghiraukan sinar matahari membakar pipi. Sebuah kapal tunda oranye bergerak perlahan bersisian dengan KRI Surabaya, sesekali berputar atau memimpin di depan memandu kapal keluar dari pelabuhan. Akhirnya, tumpukan ribuan container di pelabuhan terlihat makin mengecil seperti blok-blok lego yang serupa. Warna air laut Teluk Jakarta yang tadinya keruh mulai membiru seiring tingginya ombak menghantam badan kapal. Kira-kira sepuluh menit kemudian, kami tiba di laut lepas. Lima hari lagi kita akan tiba di Ambon. Ini waktu

bebas, jangan lupa apel malam jam delapan! suara tegas Mayor Mahmud membuyarkan lamunan saya yang asyik bersandar di pagar anjungan. Aroma laut yang harum asin segera menyergap hidung dan seketika perasaan aneh menyelimuti diri. Kami akan tiba dengan selamat di Ambon kan? Bagaimana jika nanti kami melewati perairan Masalembo? Akan tetapi, melihat kapal seberat 7.300 ton ini melenggang angkuh tanpa terganggu oleh hantaman gelombang sedikitpun, seketika hati saya menjadi begitu tenang. Mari ucap salam perpisahan, selamat tinggal Jakarta! Kepulauan Selayar, 31 Agustus 2012 Tiga hari berada di tengah samudera nampaknya sudah cukup bagi kami untuk memahami rutinitas

kapal dan mati bosan. Di hari pertama, kami masih kesulitan mengikuti ritme hidup ala TNI AL yang serba disiplin. Ada apel dua kali sehari untuk mengecek jumlah seluruh penghuni kapal. Pukul setengah enam kami sudah harus bangun dan melakukan olah raga pagi di helideck yang berangin kencang. Saat mandi pertama kali, kami masih malu-malu untuk membilas tubuh bersama di sebuah ruangan pengap berukuran 5x5 meter tanpa sekat dengan lima shower bodong. Tapi lama-lama terbiasa juga, bahkan cenderung tidak tahu malu. Pagi hingga malam pun diisi materi atau dinamika kelompok yang seakan dibuat untuk membunuh hari-hari panjang di atas kapal. Keributan akan selalu terjadi tiap waktu makan datang. Beberapa hari pertama, tempat makan peserta pria dan wanita disatukan di lounge room

pasukan. Ramainya bukan main dan banyak yang tidak kebagian tempat duduk. Antrian mengular ke lorong dan kami harus selalu siap berebutan piring ompreng basah yang dibawa penanting dari dapur. Nasi boleh ambil sebanyak mungkin, tapi untuk lauk? Tunggu dulu. Setiap anak hanya berhak atas satu potong lauk dengan jenis yang sama tiap harinya: pagi telur, siang ayam, dan malam ikan. Sayur kuahnya mungkin lebih tepat disebut kuah bersayur, saking tidak ada isi di dalamnya. Menciduk sampai tangan pegal pun tidak menghasilkan tumpukan sayur di atas piring, yang ada justru kita kena omelan dari belakang. Kemarin siang KRI Surabaya berlayar melewati Pulau Bawean. Dua hari tidak mendapatkan sinyal sudah cukup menjadi alasan kami berlarian keluar kamar ketika terdengar pengumuman preyen bahwa sinyal handphone on di sekitaran pulau. Sayangnya lima belas menit kemudian sinyal langsung hilang karena kapal terus bergerak mengarungi lautan. Saat acara makan siang ini, saya tidak mendengar raungan mesin kapal seperti biasa. Rupanya kami telah tiba di perairan Kepulauan Selayar dan kapal lego jangkar agar tidak terlalu cepat tiba di Ambon. Duh, tak saya sangka bisa mengapung di tengah destinasi impian ini. Saya tidak henti berdecak kagum melihat lanskap Kepulauan Selayar dengan lekuk

gemunung menghijau dan air laut sebening kaca yang beriak tenang. Beberapa teman bahkan berseloroh ingin langsung menceburkan diri dengan melompat dari atas geladak. Sayang, hanya orang-orang tertentu yang dapat menyeberang dan berpesiar di Selayar. Esoknya, kapal sudah angkat jangkar dan kembali berlayar. Ambon masih dua hari jauhnya. Kapal perang pengangkut pasukan ini hanya berlayar dengan kecepatan 14 knot. Duh, tak terperi kebosanan saya menghadapi rutinitas ketat pun berulang. Hiburan terbaik adalah pertunjukan musik oleh band Armada Barat yang berisi para ABK. Saya tidak habis pikir bagaimana para tentara kita mampu bertahan berbulan-bulan berlayar di atas kapal dalam kondisi serba terbatas seperti ini, menghadapi lautan luas setiap hari, tidak ada sinyal, makan dan mandi pun harus antri. Untungnya, hampir tiap hari kami dimanjakan dengan pemandangan matahari terbenam langsung di laut, seakan dimakan bulat-bulat oleh penguasa samudera. Terkadang rombongan lumba-lumba menyambut kami dengan berlompatan di sisi haluan kapal. Ya, selalu ada ucapan syukur terselip di setiap keterbatasan. Tetapi tetap tak sabar kaki ini ingin kembali menjejakkan tanah keras bukannya benda besi berongga macam begini. Ambon, katong datang!

di geladak heli

Sepatu-sepatu yang tengah dijemur setelah dicuci. Karena tiap hari digunakan, sepatu yang lembab sering menimbulkan masalah: bau kaki menyeruak di sepanjang lorong.

sorong

Sejurus kemudian kami semua tersadar prosesi mandi khatulistiwa tengah dilaksanakan. Prosesi pembaptisan para pelaut pemula yang dianggap jiwanya masih kotor dan belum diterima sebagai warga laut ini dilakukan saat kapal berlayar melintasi garis lintang 0. Tiap kapal punya cara untuk melakukan mandi khatulistiwa, ada yang tidak menggunakan prosesi khusus saat melewati khatulistiwa, tetapi ada pula yang menerapkan prosesi berat nan unik sebelum seorang awak diterima sebagai warga laut. Salah satu prosesi mandi khatulistiwa terberat dimiliki oleh KRI Dewaruci sehingga apabila

BAPTIS PELAUT KOTOR di lintang nol


Teks oleh: Rifian Ernando | Foto oleh: Agus & Dok. LNRPB-KPN

seorang pelaut telah dimandikan di Dewaruci, ia tidak perlu mengikuti prosesi di kapal lainnya. KRI Surabaya 591 sebagai salah satu armada perang yang dimiliki oleh TNI-AL juga memiliki tradisi khas berkaitan dengan prosesi mandi khatulistiwa. Setelah semalaman tidur kami tidak nyenyak akibat preyen yang meraung-raung tanpa henti. lepas waktu subuh teror dari pasukan Dewa Neptunus berlanjut. Kami yang sedari malam sulit memejamkan mata kembali dikagetkan dengan gedoran pintu dan teriakan yang memerintahkan kami untuk segera menuju ke helideck. Dalam posisi gelap gulita dan tingkat kesadaran yang belum sempurna, kami semua dipaksa berlari melewati anak tangga kapal. Sesampainya di helideck saya terkejut karena sudah banyak peserta yang di sana ditemani dengan beberapa punggawa berbusana khas Jawa kuno dan seorang kapten bajak laut lengkap dengan dan tangan berkait besi. Para punggawa tersebut berteriak-teriak memerintah kami berjalan jongkok dan bergabung dengan peserta lain. Sesaat setelah seluruh calon warga laut terkumpul di helideck, selang-selang besar pun dikeluarkan oleh awak kapal. Tanpa komando, selang-selang besar tersebut kemudian mulai menyemprotkan air ke arah peserta yang

saat itu kebanyakan masih menggunakan pakaian tidur seadanya. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya berada di dek terbuka, dengan angin laut yang berhembus kencang, suhu udara pagi yang masih cukup dingin, ditambah dengan semprotan air yang sangat kencang. Setelah dirasakan air yang disemprotkan tersebut ternyata bukan sembarang air. Jika diperhatikan secara seksama, dari aroma dan warna air tersebut kemungkinan besar merupakan campuran antara air laut, oli, dan sisa-sisa kuah sayur yang entah sudah disimpan berapa hari. Semua lari kalang kabut berusaha menghindar namun tetap saja sia-sia karena air disemprotkan dari segala penjuru. Bau amis dan busuk yang menyeruak segera membuat kami mual. Setelah para awak kapal merasa cukup dengan sesi awal, prosesi mandi khatulistiwa pun berlanjut. Diiringi suara-suara aneh yang berasal dari preyen, serombongan orang muncul dari bagian dalam kapal. Rombongan itu dipimpin oleh sepasang pria dan wanita dengan pakaian khas jawa, ditemani dengan pengawalnya yang berpakaian mirip pemain reog. Ternyata mereka adalah Dewa Neptunus sang penguasa lautan beserta Dewi Amphitrite

sang ratu laut. Sekilas terlihat aneh memang, mengingat Neptunus dan Amphitrite merupakan tokoh mitologi Yunani, namun saat muncul dalam prosesi mandi khatulistiwa justru berpakaian khas raja dan ratu Jawa. Bahkan setelah saya amati, orang yang berperan sebagai Dewi Amphitrite ternyata juga seorang laki-laki lengkap dengan bulu kakinya yang panjang. Setelah pasangan penguasa laut tersebut duduk di singgasana, seluruh peserta diminta berbaris dan meminum air tujuh samudera yang telah dipersiapkan. Peserta diminta maju satu persatu dan dipaksa minum air tujuh samudera sambil diawasi awak kapal. Saat air berwarna cokelat susu tersebut menyentuh lidah saya, seketika mulut ini berontak tidak mau menerima dan langsung memuntahkannya. Rasa ramuan ini sangat aneh. Jika boleh mendefinisikan, saya rasa ramuan tersebut merupakan campuran air laut serta beberapa jenis rempah dan dan kuah sayur basi. Menjijikkan. Bahkan ada beberapa peserta yang tidak makan seharian setelah dilaksanakannya prosesi mandi khatulistiwa karena lidahnya masih trauma. Selesai dengan prosesi meminum air

tujuh samudera, kami diperintahkan untuk melakukan ritual cium kaki Dewa Neptunus dan Dewi Amphitrite. Sadar dengan kecurangan peserta yang hanya menempelkan dahi pada kaki kedua penguasa laut tersebut, awak kapal kemudian memegangi kepala setiap orang yang akan mencium kaki Dewa Neptunus dan Dewi Amphitrite hingga mau tidak mau harus mencium kedua kaki mereka. Beruntung saya sanggup menahan nafas hingga beberapa detik sehingga tidak perlu merasakan bau tidak sedap dari kaus kaki Sang Dewa. Akhirnya berakhir sudah rangkaian prosesi penuh penderitaan yang dijalani calon warga laut. Komandan KRI Surabaya yang dikisahkan menjadi sandera pasukan Dewa Neptunus akhirnya keluar. Tepuk tangan serta riuh sorak peserta terdengar membahana manakala komandan KRI menyatakan bahwa kami semua telah resmi menjadi warga laut yang jiwanya telah disucikan melalui mandi khatulistiwa. Matahari terbit dan kami diperintahkan untuk melihat gugusan kepulauan di sekeliling KRI. Ternyata prosesi mandi khatulistiwa ini dilakukan di Kepulauan Wayag, Raja Ampat! Gugusan pulau yang menyembul membentuk perbukitan serta air laut yang jernih menjadi saksi bagi kami semua. Saksi hidup bagaimana sulitnya untuk menjadi seorang pelaut tangguh yang siap mengarungi luasnya samudera.

I, ini Raja Ampat? Mata saya membelalak seolah tak percaya ketika turun dari kapal LCU yang mengantar kami ke sebuah pulau, siang itu. Saya berdiri diam sementara teman-teman saya pun hanya terduduk di tepi dermaga memandangi perairan di bawahnya. Pulau ini... kotor.

jangan injak karangnya!

RAJA

ampat

Selamat datang di Karimun Jawa! seorang teman berseloroh sarkas karena melihat situasi di Saonek Besar, Waigeo ini. Tadinya saya pikir kami hanya transit sebentar sebelum melanjutkan ke Wayag, the real Raja Ampat. Tapi rupanya memang di sinilah kami akan berhenti dan dipersilakan bermain hingga sore hari sebelum LCU menjemput kembali. Saya tidak habis pikir bahwa ternyata di Raja Ampat ada pulau yang kondisi pesisirnya sudah cukup memprihatinkan seperti ini. Terasa begitu ironis dibandingkan berita tentang kecantikan Raja Ampat yang digemborgemborkan di berbagai media. Kalo gini mah Pulau Menjangan di Karimun Jawa masih lebih bagus kali, ungkapan kekecewaan lain segera menyeruak dari para peserta karena gagal melihat pemandangan eksotis Wayag pun Misool yang tersohor tersebut. Kalau mau ke Wayag kalian pergi sendiri, kalau ke sana waktunya tujuh jam dan sewa boat delapan juta, ujar Kapten Wendy dingin. Akhirnya daripada tidak melakukan apapun, kami memilih untuk tetap snorkeling di tengah gelombang yang cukup tinggi siang itu. Saya sendiri agak kesulitan untuk mencapai tempat yang lebih dalam karena sudah

lama tidak snorkeling sehingga saya hanya berputarputar di sekitar karang yang rusak. Beberapa puluh meter dari bibir pantai terdapat perkampungan penduduk yang siang itu terlihat sepi. Tak nampak aktivitas warga sehingga saya tidak tahu bagaimana kegiatan ekonomi berjalan di pulau ini. Sedihnya, keindahan Saonek Besar tercemar oleh tumpukan sampah berserakan di bawah pohon, di pantai, dan di rerumputan. Selain sampah yang dihasilkan oleh pulau ini, banyak sampah dari tempat lain yang terbawa arus laut hingga menumpuk di sini. Ketika melihat aktivitas teman-teman di laut, seketika saya bersyukur kami tidak ke Wayag. Rupanya banyak peserta yang snorkeling atau diving tanpa memperhatikan kelestarian terumbu karang. Beberapa orang sengaja menjadikan karang sebagai tempat berpijak, ada pula yang menyelam dan kaki kataknya menyambar terumbu karang sekenanya. Ada lagi yang tak tahu diri membawa bintang laut biru untuk dijadikan kenang-kenangan. Duh, perilakunya sama sekali tidak memperlihatkan responsibility sebagai pejalan yang menghargai aturan. Seharusnya kita datang bersih, pulang pun bersih. Saya berjengit memba

yangkan jika 500 orang ini datang dan menyelam secara bersamaan di Wayag, akan jadi apa tempat tersebut? Komandan KRI Surabaya, Letkol Laut (P) Joni Sudiyanto nampaknya paham akan kekecewaan kami. Memang, beberapa anak masih nampak belum menerima keputusan satgas. Malam harinya, beliau memberi kami penjelasan. Kita bisa saja ke Wayag, tapi kapal perang sebesar ini gak mungkin masuk ke perairan yang dangkal penuh karang. Kalau nekat kita bisa diprotes pecinta lingkungan sedunia. Mau lego jangkar harus jauh-jauh dari Wayag, kemudian kita harus bolak-balik mengantar kalian semua dengan LCU. Butuh berapa jam? Tolong dipahami, ujar Pak Joni. Tetiba saya merasa bahwa kami ini begitu egois. Demi sebuah pengalaman menginjakkan kaki di Wayag Raja Ampat, kami mengabaikan kondisi dan memaksa satgas untuk tetap sandar di sana. Saya mengangkat topi untuk Komandan KRI. Rupanya keesokan harinya KRI menuju Wayag demi memuaskan hasrat ingin tahu para peserta. Akhirnya KRI Surabaya berlayar di titik terdekat Wayag yang memungkinkan tanpa merusak dan berputar-putar agar kami dapat melihat kepulauan eksotis tersebut dengan jelas. Wayag, next time...

Rusaknya Karang Saonek


Teks dan Foto | Hikmah Cut Ramadhana
diawasi oleh beberapa anggota TNI AL.

divers note

Dalam rangkaian kegiatan Sail Morotai 2012, para peserta KPN/LNRPB diberi kesempatan untuk menikmati keindahan Raja Ampat dengan mengunjungi Pulau Saonek Besar di Waigeo. Para peserta yang memiliki lisensi selam diperbolehkan menyelam di tempat ini secara bergantian dengan Sedikit kekecewaan ketika kami tiba di pulau ini. Kondisi perairan yang kami lihat tidak seindah yang kami bayangkan ketika kami mendengar sebutan Raja Ampat. Memang pada saat itu kami tidak berada di Kepulauan Wayag yang menjadi primadona Raja Ampat ataupun di tempat diving terindah, Misool. Hamparan pasir putih masih dapat ditemukan di tempat ini, tetapi masih banyaknya sampah yang ditemukan di pesisir pantai membuat pemandangan terganggu. Masih banyaknya patahan karang (rubble) yang ditemukan pada bibir pantai hingga mendekati tubir mengindikasikan bahwa terjadi kerusakan terumbu karang di wilayah ini. Berdasarkan perbincangan dengan warga sekitar, kerusakan karang ini disebabkan oleh penggunaan bom oleh para nelayan untuk menangkap ikan. Akan tetapi, penggunaan bahan peledak tersebut mulai berkurang sejak lima tahun belakangan karena para nelayan mulai merasakan kerugian dari rusaknya ekosistem terumbu karang. Kerusakan terumbu karang tidak hanya menyebabkan berkurangnya hasil tangkapan ikan, melainkan dapat merusak tatanan kehidupan biota laut yang ada di dalamnya karena ekosistem mereka menjadi hilang. Tipe dasar perairan yang landai (flat) dari pulau ini mengharuskan kita untuk berenang sekitar 100 meter untuk mencapai daerah tubir. Sebelum mencapai tubir, perairan di dominasi oleh rubble, karang lunak dan karang keras dengan tipe pertumbuhan bercabang. Penyelaman yang dilakukan oleh para peserta KPN/LNRPB dilakukan pada kedalaman 7 meter, dekat dengan tubir. Pada lokasi penyelaman banyak ditemukannya jenis soft coral serta hard coral dengan tipe petumbuhan massive dan submassive. Selain itu, berbagai jenis ikan baik yang soliter maupun schooling dapat ditemukan di tempat ini.

rubble

cacing laut

soft coral

schooling

Perairan Ternate, 11 September 2012 Ruangan-ruangan, selesai waktu istirahat malam Bunyi preyen KRI yang merupakan 'alarm' bagi seluruh penumpang tersebut sudah sangat lazim terdengar. Perintah untuk mengakhiri waktu istirahat malam selalu dibunyikan tepat pukul 05.30 waktu kapalwaktu di kapal senantiasa berubah seiring dengan perubahan lokasi terakhir kapal. Biasanya beberapa penumpang sudah bangun lebih awal, terutama bagi penumpang yang beragama muslim karena harus melaksanakan sholat subuh. Pagi itu seperti biasa, setelah melaksanakan ibadah sholat subuh saya pun bergegas menuju kamar mandi untuk mandi dan melaksanakan ritual pagi. Saya menggunakan fasilitas kamar mandi sepagi mungkin agar tidak terjebak antrian mengingat hanya ada empat kloset dan empat shower untuk 60 orang. Selesai dengan rutinitas tersebut, saya pun bergegas menuju cardeck karena berdasarkan jadwal perjalanan seharusnya hari ini kapal bersandar di pelabuhan Ternate. Sesampainya di cardeck saya terkesima memandang hamparan pulau yang berjajar di sekeliling perairan Ternate. Pulau berbukit-bukit raksasa (atau yang lebih tepatnya disebut gunung) berjajar indah di sekeliling KRI Surabaya. Saya berinisiatif menemui seorang ABK dan menanyakan di mana letak Pulau Ternate diantara gugusan kepulauan itu. Itu Pulau Ternate, yang ada gunung besar, ujar sang ABK kepada saya. Seketika saya pun terkagumkagum pada Pulau Ternate. Bagi saya, Ternate lebih tepat dikatakan sebagai gunung daripada sebuah pulau. Secara kasat mata pulau ini memang memiliki kontur yang berbentuk gunung dan hanya menyisakan sedikit dataran landai yang sepenuhnya menjadi kawasan pemukiman. Gunung Gamalama terlihat begitu gagah dengan kontur punggungan yang kokoh.

Peran pemanduan, peran pemanduan Preyen KRI sekali lagi berbunyi menandakan bahwa kapal akan segera memasuki kawasan pelabuhan dan bersandar. Kami semua bergegas bersiap melaksanakan peran muka belakang sebagai bentuk penghormatan kepada warga masyarakat serta pejabat daerah setempat yang sudah menanti dan akan menyambut kehadiran rombongan KPN-LNRPB Sail Morotai 2012. Selang beberapa menit, akhirnya kapal bersandar di Pelabuhan Ahmad Yani Ternate. Selamat datang di Ternate, tanah yang begitu Berjaya di masa lalu. Kota penghasil rempah sekaligus pusat peradaban Islam di kawasan Indonesia Timur.
Berkeliling Ternate Menginjakkan kaki di Pelabuhan Ahmad Yani, jadwal padat pun sudah menanti rombongan peserta KPN-LNRPB Sail Morotai 2012. Terjadwal bahwa kami akan melakukan audiensi dengan Gubernur Maluku Utara dan beberapa veteran Perang Dunia II yang sengaja diundang untuk memeriahkan acara Sail Morotai 2012. Kegiatan audiensi dilakukan di sebuah restoran yang berada di salah satu sudut Kota Ternante. Sejujurnya tidak ada yang menarik dari kegiatan ini. Padahal sejak awal saya sudah cukup tertarik begitu mengetahui akan ada veteran Perang Dunia II yang hadir, namun seketika saja hal tersebut sirna manakala acara berjalan terlambat, ditambah dengan kondisi psikis yang sudah lelah dan ketidakjelasan materi acara yang justru diisi dengan pentas-pentas budaya yang sejujurnya sedikit konyol. Ketidakjelasan tersebut semakin diperparah dengan keterlambatan panitia setempat untuk menyuguhkan makan siang kepada peserta. Dengan kondisi psikis yang sudah cukup lelah setelah

menempuh perjalanan panjang, ditambah hawa panas dari Kota Ternate yang semakin memperparah keadaan, akhirnya beberapa peserta pun berinisiatif mengambil makanan yang sebelumnya sudah disediakan di belakang barisan, sekalipun panitia setempat belum mempersilakan. Ah biar saja dianggap tidak sopan, daripada pingsan, pikir saya yang juga ikut-ikutan meringsek mundur untuk mengambil makanan. Selesai mengambil makanan saya pun bergegas mencari tempat duduk di bagian belakang restoran yang terbuka. Dan tebak pemandangan apa yang saya dapatkan? Luar biasa indah! Sebuah wilayah perairan tenang dengan corak biru tosca yang begitu jernih serta sebuah pulau nampak gagah berdiri. Sungguh pemandangan tersebut menjadi 'penyembuh' bagi otak yang hari itu rasanya hampir mendidih. Saat asik menyantap makan siang sambil menikmati pemandangan tiba-tiba seorang peserta berujar, Eh itu kan pulau yang ada di duit seribuan. Dan benar saja, saat membalikkan badan ternyata di belakang saya ada sebuah pigura cukup besar yang memajang replika pecahan uang seribu dalam ukuran lebih besar dan memperlihatkan gambar pulau yang memang terdapat pada uang tersebut. Itulah Pulau Maitara, pulau pada

uang seribu yang melegenda dan menjadi salah satu landmark keindahan panorama kepulauan Moloku Kie Raha. Sekitar pukul 14.00 WIT rombongan pun bergegas meninggalkan restoran untuk melaksanakan kegiatan berikutnya. Matahari masih bersinar terik, berada di dalam bus yang penuh sasak pun menjadi hal yang sangat menyiksa. Tak lama setelah seluruh peserta naik, bus pun segera meluncur. Destinasi yang akan kami kunjungi berikutnya adalah situs sejarah bernama Benteng Kalamata. Suasana hati yang sudah buruk akhirnya membuat saya dan beberapa peserta urung mengunjungi benteng. Sesampainya di komplek Benteng Kalamata kami malah berjalan menuju sebuah warung untuk sekedar membeli minuman dingin. Mendengar saya dan beberapa teman berbincang menggunakan bahasa jawa, ibu pemilik warung pun menanyakan darimana kami berasal. Serempak kami menjawab dari Jawa. Secara kebetulan ternyata sang ibu berasal dari Temanggung, Jawa Tengah. Ah, bertemu saudara se-daerah asal di daerah perantauan yang jaraknya ribuan kilometer dari Tanah Jawa selalu menyenangkan. Perjalanan kembali dilanjutkan menuju keraton Kesultanan Ternate. Alih-alih mengikuti rombongan yang masuk ke dalam komplek keraton Kesultanan Ternate, saya dan beberapa peserta lain justru berkeliling untuk melihat suasana Kota Ternate sembari mencari mushola untuk melaksanakan Gemunung Hijau | Pemandangan a la postcard: perbukitan menghijau dan lautan biru adalah bentang alam khas Maluku Utara. Ternate, Tidore, Jailolo, dan Maitara adalah empat gunung besar di pulau-pulau yang tersebar di perairan ini. Foto oleh: Dokumentasi LNRPB-KPN ibadah sholat Ashar. Melihat tata kota dan suasana Ternate, pikiran saya langsung tertuju pada kota Temanggung. Tata kota yang rapi, suasana asri, dan jalanan yang tidak terlalu ramai merupakan segelintir gambaran mengenai kondisi kota ini. Panorama alam

yang mempesona pun tersaji manakala di antara gedung-gedung yang berdiri megah, terlihat Gunung Gamalama yang selama ini terkenal cukup galak. Secara geografis, Kota Ternate memang terletak mengitari kaki Gunung Gamalama. Dengan kondisi demikian, mengitari Pulau Ternate dari satu titik hingga ke kembali ke titik tersebut bukanlah suatu hal yang sulit untuk dilakukan. Seorang warga yang saya temui berseloroh bahwa mengelilingi Pulau Ternate tidak akan menghabiskan waktu lebih dari dua jam. Menarik bukan? Sayang, keterbatasan waktu dan padatnya jadwal kegiatan membuat saya tidak dapat merasakan pengalaman tersebut. Kampung Tafure, Ternate Lelah mengelilingi (sebagian kecil) Kota Ternate, sesuai jadwal sore ini kami akan ditempatkan pada homestay yang merupakan salah satu rangkaian kegiatan kami selama di Ternate. Kegiatan homestay dilaksanakan di empat kecamatan, kebetulan saya ditempatkan di Kecamatan Tafure. Bayangan akan lokasi homestay yang berada di kawasan pesisir pantai dengan keluarga angkat yang berprofesi sebagai nelayan sudah terbayang indah dalam angan pada kegiatan sail sebelumnya, kegiatan homestay memang dilakukan di kawasan perkampungan nelayan. Sepanjang perjalanan menuju lokasi homestay bayangan akan kehidupan keluarga nelayan benarbenar mampu membuat saya senyum-senyum sendiri. Tinggal d rumah panggung dengan halaman belakang berupa wilayah perairan, ikut pergi melaut, dan kegembiraan berenang bersama anak-anak dari keluarga angkat sudah terbayang indah dalam pikiran. Baju untuk renang dan peralatan snorkeling pun sudah saya siapkan dalam ransel yang dibawa dari KRI. Namun, seketika bayangan tersebut sirna manakala bus yang kami tumpangi berhenti di sebuah di sebuah daerah yang cukup jauh dari kawasan pesisir. Alih-alih ditempatkan di rumah-rumah keluarga nelayan, kami justru diinapkan di sebuah kawasan padat penduduk yang berada di pinggiran Kota Ternate. Kecewa? Pasti. Namun, pertunjukkan harus tetap berlanjut, bukan? Saya bersama seorang teman akhirnya ditempatkan pada sebuah keluarga besar yang sangat ramah dan baik. Walaupun kegiatan homestay hanya dilakukan selama satu hari satu malam, begitu banyak pelajaran berharga yang bisa saya dapatkan disini. Saya belajar banyak tentang budaya, kebiasaan, dan sifat dasar orang Ternate. Ada beberapa hal menarik yang saya temukan selama menjalani kegiatan homestay di rumah keluarga angkat. Soal kemanan misalnya. Bayangkan saja, rumah keluarga angkat saya berada di pinggir jalan besar dengan intensitas kendaraan yang lalu lalang cukup tinggi, tetapi kendaraan milik mereka tidak pernah sekalipun dimasukkan ke dalam rumah. Kendaraan-kendaraan tersebut dibiarkan berada di luar saat malam hari. Padahal rumah kami tidak memiliki pintu gerbang

ataupun pagar yang mampu mencegah orang yang berniat jahat untuk mengambil kendaraan-kendaraan tersebut. Saat bertanya kepada salah seorang kakak angkat ia justru mengatakan, Di Ternate cuma orang malas yang mencuri. Semua hal bisa dikerjakan di Ternate, dari potong rumput sampai angkut pasir, semua bisa dikerjakan. Orang-orang pun tidak akan tega melihat orang lain yang tidak punya pekerjaan. Saya takjub mendengar perkataan kakak angkat saya tersebut, bisa dibayangkan apa yang terjadi pada kendaraan-kendaraan tersebut apabila kita tinggal di Jawa misalnya. Di Jawa, kendaraan yang sudah dimasukkan ke dalam rumah saja bisa diambil apalagi yang hanya dibiarkan di luar. Siapa yang menyangka pemberitaan media soal keamanan di kawasan Indonesia Timur yang rawan ternyata sama sekali tidak berlaku di Ternate. Selain menawarkan keramahan penduduk dan

suasana kota yang asri, Ternate juga terkenal dengan kekayaan kulinernya. Ada beberapa kuliner khas yang sempat kami cicipi selama tinggal bersama keluarga angkat. Kebetulan mama dan beberapa kakak perempuan kami memang jago dalam urusan masak. Papeda, ikan kuah kuning, gohu, ikan fufu, pisang sambal dabudabu dan air guraka adalah segelintir jenis kuliner yang sempat saya rasakan kelezatan dan kenikmatannya. Tak lupa sirih dan pinang juga disuguhkan sebagai dessert khas Ternate. Selalu ada hal baru yang dapat ditemukan dalam setiap perjalanan. Perkenalan dengan budaya, kebiasaan, orang-orang baru, hingga kuliner khas adalah sesuatu yang tidak akan pernah didapatkan hanya dengan diam dan tinggal di satu daerah. Sekali lagi saya katakan bahwa bepergian dari satu tempat ke tempat lain memiliki makna lebih dari sekedar berplesir atau melancong. Seeing is traveling.

Om Rob, bagaimana awalnya sampai Om memutuskan berlayar dari California ke Bali? Saya sudah lama hidup dan bekerja di San Fransisco selama dua puluh tahun. Ada rasa bosan, jadi ibarat hidup ya seperti itu saja. Monoton sekali. Bekerja, pulang, nyimpen duit. Kemudian tahun 2003 saya membaca buku tentang seorang perempuan yang umurnya baru 18 tahun sudah berlayar keliling dunia sendirian. Saya pikir, wah ini menarik juga. Masa' saya nggak bisa? Tapi baru pada tahun 2005, saya memutuskan beli kapal layar. Lalu kebetulan lihat di internet ada orang yang mau ngajarin. Kemudian saya ambil kelas basic bulan Agustus sampai Oktober dengan harga USD 350. Selain itu, saya juga belajar dengan kapal orang lain. Saya butuh lima tahun untuk mengatasi masalah semangat dan nyali. Sebenarnya ada rencana

Indonesia, sempat tinggal di Jakarta lalu ke Medan. Saya ingat ketika nenek meninggal waktu umur saya sembilan tahun. Sebelum dia meninggal ingin bertemu anak-anaknya tetapi nggak bisa karena semuanya di Eropa. Cuma saya yang ada di sini. Padahal nenek sudah sudah support dan bantu segala macam buat anaknya tapi mereka nggak bisa datang, nenek sedih sekali. Saya jadi kepikiran Ibu dan ingin minta maaf. Saya dulu bandel, hidup pindah-pindah dan terakhir ke Amerika Serikat lalu saya ganti nama jadi Rama Rambini. Tapi orang-orang tidak bisa sebut Rama, selalu Rob, akhirnya nama saya jadi Rob Rama Rambini. Waktu itu saya sudah hilang kontak dengan keluarga di Indonesia. Akhirnya bulan Agustus 2009 saya kirim postcard ke Indonesia, bilang kalau mungkin saya akan pulang. Tapi kapannya itu nggak tahu dan saya nggak bilang akan ke Indonesia naik kapal layar, hahaha. Kapal seperti apa yang Om gunakan untuk berlayar?

Sendirian ya Berlayar Sa Rindu Ibu Karena


Seorang solo voyager peraih rekor Muri rupanya turut serta dalam pelayaran dari Ternate ke Morotai. Rob Rama adalah orang Indonesia pertama yang berlayar sendirian dari California ke Bali pada Agustus 2010-Mei 2011 lalu. Perawakannya tegap dan wajahnya nampak segar, tak ada yang menyangka bahwa pria bernama asli Mahindra Wondowisastro ini telah berusia 54 tahun. Dengan senang hati ia berbagi kisahnya kepada kami.

Rob Rama Rambini:

berangkat tahun 2009, tapi saya undur karena ada rasa takut sehingga akhirnya benar-benar berangkat tahun 2010. Katanya, motivasi Om Rob berlayar ke Indonesia karena rindu dengan Ibu? Seberapa dekat hubungan dengan Ibu? Iya, saya ke Bali karena mau ketemu Ibu saya. Saya nggak pernah bertemu ibu selama 25 tahun, dulu bertengkar terus kemudian nggak ada komunikasi sama sekali. Saya lahir di Italia karena orangtua saya bekerja di kedutaan. Waktu kecil saya dibawa ke

Saya pakai kapal fiber dan saya beri nama Kona. Sebelum beli sudah riset dulu yang harganya nggak mahal dan bisa jalan jauh. Harganya murah, sekitar USD 10 ribu. Kapal ini dibuat tahun 1966, sudah lama sekali tetapi saya pilih karena model baru nggak sekuat ini. Fiber glass zaman dulu lebih tebal (sambil menunjukkan gambar Kona miliknya). Kapalnya dibentuk dengan desain keamanan tapi untuk simpan

barang tidak bisa. Kapal ini cuma 16 PK kekuatannya, jadi saya benar-benar pakai layar. Saya nyalakan mesin hanya untuk isi baterai, selebihnya dia mati. Hanya pas waktu masuk ke Papua saya pakai mesin karena tidak ada angin. Di kapal tidak ada GPS canggih, untuk alat navigasi saya pakai laptop yang terhubung dengan satelit. Perjalanan ini kan lintas negara, bagaimana mengurus perizinannya? Perizinannya nggak susah. Kalau pelaut, kita bisa mendarat di mana saja. Tinggal bilang keadaan darurat bisa berhenti.Kehabisan makanan juga termasuk keadaan darurat kan, hahaha. Jadi kita nggak perlu visa. Tapi perjalanan memang saya lewatkan ke tempat yang tidak memerlukan suratsurat. Perompak Indonesia berseragam ya Om? Wah, kalau itu beda lagi, hahaha.. Apa pengalaman paling berkesan saat berlayar selama sebelas bulan itu? Kalau pengalaman, semuanya berkesan. Tapi layar saya pernah sobek dan rusak waktu baru berlayar 100 mil dari San Fransisco. Waktu itu pilihannya kembali ke darat atau lanjutkan perjalanan. Saya lihat stok makanan masih cukup sampai tiga bulan, akhirnya saya lanjutkan ke Hawaii. Dua bulan berlayar sampai Hawaii, di sana saya beli tiga layar bekas dapat bonus satu layar. Saya juga pernah terkena ombak tinggi 12 meter selama dua hari. Badai memang bisa terjadi di mana saja kapan saja, tidak ada garansi. Waktu itu saya pikir, ini mau ngapain? Mau keluar anginnya kencang Selama 11 bulan itu pernah sakit? Tidak pernah. Kadang hanya sakit kepala karena Pernah ada pikiran siap mati? Tidak. Waktu saya berangkat, saya sudah Nggak bosen Om di kapal? Di kapal, kerjaan saya membaca buku atau betulkan baut-baut kapal. Itu sudah bikin saya sibuk lho. Kalau tidak saya menjahit layar. Teman saya cuma lumba-lumba dan burung camar, sekeliling saya semuanya laut. Saya tidur hanya empat jam sehari.

optimis akan tiba di Bali. Lalu, darimana pembiayaan pelayaran ini? Semuanya dari dana pribadi dan pelayaran ini saya urus sendiri. Waktu itu saya memang tutup buku, semua pekerjaan saya tinggalkan. Kalau mau jalan ya jalan, nggak ada beban. Kan saya nggak ada istri dan anak, jadi nggak ada tanggung jawab. Barang-barang dijual saja buat biaya. Saya juga dibantu orang-orang di pinggir jalan, waktu itu tidak ada hubungan sama pemerintah Indonesia. Saya pernah ke konsulat di San Fransisco, mereka beri makanan untuk dua bulan dan vitamin untuk satu tahun. Tapi sebenarnya saya yakin kalau mereka bisa bantu lebih banyak, hahaha. Tidak terpikir untuk berlayar keliling dunia seperti perempuan yang bikin Om terinspirasi? Tentu saya mau keliling dunia, tapi dananya serius juga. Sebenarnya bisa pakai dana minim, tapi tujuannya harus jelas. Saya pikir-pikir, pemerintah sendiri aja nggak mau bantu. Saya sudah bertemu kementrian macam-macam, ngomongnya sih iya iya tapi besoknya sudah lupa, hahaha. Dari negara-negara yang disinggahi, mana yang paling berkesan? Semua negara ada berkesan dan ada kekhasannya sendiri-sendiri. Tapi waktu itu saya berhenti paling lama di Port Moresby (Papua Nugini, red.) Biasanya hanya satu minggu berhenti, nanti jalan lagi. Selain isi bahan bakar dan makanan ya saya nikmatin negara tersebut. Saya juga sempat berhenti di Solomon, bahkan diminta tinggal di sana. Di Solomon lautnya jernih. Tujuh puluh meter ke bawah, kita masih bisa lihat dasarnya dan ikan-ikan di dalamnya. Bersih sekali.

Teman saya hanya lumba-lumba dan ikan.


banget. Semua barang campur aduk di bawah, entah makanan, pakaian, buku-buku, jatuh semuanya. Saya coba masak kopi, ceretnya saya isi air eh dia terbang gara-gara ombak dan airnya malah numpahin baju bersih yang mau saya pakai, hahaha. Layar saya juga robek tiga-tiganya. terlalu banyak tidur, hahaha. Selama berlayar, pernahkah ada kondisi di mana Om merasa sudah putus asa? Saya merasa putus asa kalau lagi nggak ada angin. Kita di tengah laut kadang-kadang begitu panas, tidak ada angin, makanannya pas-pasan, dan kita kayak duduk di atas kolam nggak bisa kemanamana. Mau mancing, ikan cuma ngetawain dari bawah, hahaha. Saya keluarin pancingnya, ikan sudah tahu maksudnya apa ya mereka kabur aja. Tapi biasanya cuma dua hari nggak ada angin, teman saya pernah cerita kalau biasanya sampai dua bulan. Bayangin aja dua bulan, makan apa kita?

Itu rutenya kemana aja di Indonesia Timur? Perjalanan ini saya mulai di Bali dan selesai di Bali rencananya selama lima bulan. Sekarang saya sudah punya supporting team di Jakarta dan sudah ada sponsor (sambil menunjukkan logo sponsor di bagian belakang kausnya). Tapi saya tetap sendirian berlayar, setelah dari Alor ke Wetar, mungkin akan naik Maluku juga ke Morotai lagi. Lanjut ke Bitung, Bawean, Oh iya, Kona sekarang di mana? Nggak dibawa ke Morotai aja? Kona sekarang ada di Alor. Bulan depan (Oktober, red.) saya sudah harus kembali ke Alor untuk melanjutkan ekspedisi kembara bahari. Kalau Ekspedisi Kembara Bahari tujuannya apa Om? Saya punya misi khusus, menelusuri kembali jalur pelayaran tradisional Indonesia Timur zaman dulu. Indonesia kan negara maritim. Sekarang memang orang sudah kenal motor, tapi di Indonesia Timur kapal masih jadi transportasi utama dan untuk cari sumber penghidupan. Tapi saya lihat fakta, meskipun hidup dari kelautan mereka tidak menjaga tempat yang menjadi sumber di mana mereka hidup. Jadi sedih, kita rusak makanan kita sendiri. Nanti cucu-cucu kita makannya gimana? Harusnya mereka tahu juga, dulu cuma beberapa meter dari darat sudah dapat ikan sekarang makin jauh, makin ke tengah nanti ketemu kapal Taiwan, hahaha. Ingin mengikuti perkembangan Ekspedisi Kembara Bahari Indonesia Timur? Anda dapat mengakses tautan berikut: Facebook
http://www.facebook.com/KembaraBahari

Tetap Ingat | Meski berada di tengah lautan, ibadah tidak boleh ditinggalkan. Imam favorit kami adalah Mayor Mahmud, yang saat apel senantiasa berteriak menggelegar tapi menjadi pelantun ayat-ayat suci yang menenangkan saat sembahyang. Foto oleh: Retno Nuraini

kembali ke Bali. Nanti saya juga akan mengadakan pertemuan dengan masyarakat lokal di sana. Sampai sekarang, menurut saya laut Indonesia itu paling sulit dan ganas dilewati. Di Indonesia kan banyak pulau, jadi arusnya di antara selat lumayan kencang. Pertanyaan terakhir nih, apa makna rumah dan pulang untuk seorang Rama Rambini? Rumah, dimana saya menggantung jaket saya. Dan pulang, dimana hati saya. Pulang juga bisa kemana saja. Nothing fix.

Twitter
http://www.twitter.com/KembaraBahari http://www.twitter.com/solovoyager

Catatan Kritis Sail Morotai 2012

di tepi pasifik

hingar bingar sesaat


Teks: Rifian Ernando | Foto: Dokumentasi LNRPB-KPN

Menuju Era Baru Ekonomi Regional Pasifik adalah tagline yang digadang-gadang oleh pemerintah dalam perhelatan Sail Indonesia di Morotai tahun 2012 ini. Namun, melihat realita saat di lapangan nampaknya semua itu masih terlalu muluk. Rifian Ernando menuliskan sebuah opini untuk kita renungkan bersama.
Apa yang kira-kira akan muncul di benak seseorang kala mendengar kata-kata Sail Morotai 2012? Acara kelautan bertaraf internasional? Promosi wisata bahari Indonesia? Atau acara yang banyak menghabiskan anggaran negara? Secara obyektif mungkin dapat dikatakan ketiganya mewakili apa yang menjadi persepsi awal seseorang ketika mendengar kata Sail Morotai. Saya yang berkesempatan berkunjung dan melihat langsung prosesi acara puncak Sail Morotai 2012 cukup dibuat terkagum-kagum sekaligus prihatin dengan kemeriahan acara tersebut. Acara tersebut memang bukan sembarang acara. Gelontoran dana ratusan miliar mengalir dari kas negara demi suksesnya acara yang rutin dilaksanakan setahun sekali ini. Berdasarkan catatatan, setidaknya ada dana sebesar 500 miliar rupiah yang mengalir dari APBN dan 70 miliar dari APBD Provinsi Maluku Utara. Dana ratusan miliar tersebut diperuntukan bagi pelaksanaan acara sekaligus pembangunan infrastruktur penunjang yang akan digunakan selama kegiatan Sail Morotai 2012 berlangsung. Melihat pada fakta bahwa acara ini disokong dengan dukungan biaya yang sangat besar, tentu ekspekstasi masyarakat dan saya pribadi seketika melangit. Bagi saya bukan soal seberapa meriah acara puncak atau seberapa banyak pejabat dan tamu negara yang ikut menghadiri acara tersebut. Namun, sejauh apa kegiatan ini mampu memberi manfaat pada masyarakat lokal dan pengembangan kawasan Morotai secara lebih luas. Dengan dana sebesar itu rasanya terlalu naf jika hanya mengaharapkan perubahan-perubahan kecil terjadi di Morotai. Sekedar sebagai pembanding, APBD provinsi Maluku Utara pada tahun 2009 saja sudah mencapai 720 Miliar. Sudah sepantasnya kita semua mengharapkan pembangunan dan perubahan besar-besaran dapat terlaksana di Morotai dengan gelontoran dana yang sudah disebutkan di atas. Menginjakkan kaki pertama kali di Pelabuhan Daruba, kesan kurang baik sudah mulai saya rasakan. Pelabuhan Daruba yang sejatinya merupakan pelabuhan utama di Morotai sekaligus lokasi yang akan digunakan dalam acara puncak Sail Morotai 2012 ternyata kondisinya tidak sesuai yang

dibayangkan. Sekalipun berdasarkan informasi panjang dermaga sudah ditambah dari yang semula hanya 50 meter menjadi 98 meter, namun bagi saya tetap saja kondisinya tidak sesuai dengan tajuk perhelatan acara yang bertaraf internasional. Pembangunan infrastruktur memang secara siginifikan dilakukan. Berdasarkan beberapa catatan setidaknya terdapat beberapa pembangunan yang sifatnya cukup progresif seperti: perpanjangan dermaga, pembangunan beberapa fasilitas publik, pelebaran dan perbaikan jalan raya, instalasi listrik yang menyala 24 jam, hingga perluasan bandara. Semua itu dapat dilaksanakan karena besarnya kucuran dana dari pemerintah pusat. Namun sekali lagi kita patut bertanya, akankah semua itu dapat membawa kemanfaatan secara berkelanjutan bagi masyarakat baik dari segi ekonomi, sosial, dan budaya? Ataukah sekedar hingar bingar sesaat yang kemudian lenyap? Pembangunan infrastruktur dan promosi besarbesaran kawasan Morotai memang sebuah keniscayaan bagi kemajuan serta perkembangan masyarakat setempat. Tetapi kita perlu lebih kritis dalam memahami isu ini. Masih segar dalam ingatan bagaimana Presiden mencanangkan Maluku sebagai lumbung ikan nusantara pada kegiatan Sail Banda dua tahun silam, namun kini semakin redup gaungnya. Atau bagaimana misalnya infrastrukutr publik di

Miangas banyak yang terbengkalai, sekalipun awalnya pembangunan tersebut dimaksudkan untuk memajukan serta menyejahterakan daerah-daerah terluar. Demikian pula dengan tema Menuju Era Baru Ekonomi Regional Pasifik pada acara Sail Indonesia kali ini. Kita patut optimis pada misi serta visi yang dicanangkan oleh pemerintah, namun kita juga tidak boleh menutup mata atas kondisi riil sosial, ekonomi, dan pendidikan di Morotai. Sudah siapkah masyarakat Morotai menghadapai ganasnya persaingan ekonomi global? Lantas apa jadinya jika Morotai tetap dipaksakan sebagai kawasan ekonomi regional Pasifik padahal secara empiris masyarakat dan fasilitasnya belum mampu menunjang? Kita patut berbangga hati dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya apabila pemerintah benarbenar serius menggarap potensi Morotai, dan Maluku Utara pada umumnya melalui acara Sail kali ini. Namun kita juga patut berduka dan bersikap kritis manakala kegiatan Sail Morotai 2012 hanya dijadikan proyek prestisius yang semata-mata hanya bertujuan mengejar prosesi seremonial tanpa mengindahkan esensi dan tujuan diselenggarakanya acara ini. Terlebih jika kegiatan ini justru dijadikan sarana pemborosan keuangan negara serta ladang korupsi bagi pihak-pihak terkait yang berkepentingan di dalamnya, sungguh tak ada yang perlu dibanggakan dari perhelatan akbar bernama Sail Morotai 2012.

Parade kapal perang RI dan negara-negara undangan di Laut Morotai

Pertunjukan tari-tarian kolosal pada acara pembukaan Sail Morotai 2012. Para performer harus berjibaku dengan terik matahari di Morotai yang memang sungguh menyengat.

desersi lompat katak


Teks dan Foto Oleh Maharsi Wahyu
Seperti Jenderal MacArthur yang menerapkan strategi lompat katak untuk mengalahkan Jepang pada masa Perang Dunia II, pelarian kami kali ini pun hampir sama. Berpindah dari satu pulau ke pulau lain agar tetap dapat menikmati panorama Kabupaten Morotai dalam waktu sangat singkat.

Hoi! Mau kemana?!


teriakan dari Marinir membuat kami langsung lari berpencar dan bersembunyi di kebun kosong. Ini adalah pelarian kami, dalam arti sebenarnya. Ketidakjelasan agenda membuat kami memilih berkejaran dengan marinir, berkumpul kembali di Pasar Daruba, kemudian menyewa sebuah speedboat untuk kabur ke Pulau Dodola.

Biru. Dimana-mana biru.


Pulau Dodola sebenarnya terdiri dari dua buah pulau yang dihubungkan oleh gosong pasir panjang. Pulau Dodola Besar memiliki sebuah dermaga kecil dan beberapa pondok untuk beristirahat. Sementara Pulau Dodola Kecil tidak begitu luas dan dipenuhi rimbunnya pepohonan. Jika datang pada siang hari, panasnya pasir Dodola terasa begitu menyengat kaki. Karena itu, jangan pernah tinggalkan sandal anda di speedboat!

Demi foto wisuda.


Isti Fadatul (Geografi UGM 07) terpaksa tidak mengikuti wisuda universitas karena bertepatan dengan pelayaran. Meski hanya seremoni, wisuda S1 adalah momen sekali seumur hidup. Beruntung, dia mendapatkan momen yang lebih cantik dari sekedar foto studio.

MacArthur Island
Saat kami datang, Pulau Zumzum tengah berbenah. Meskipun esok harinya adalah puncak perhelatan Sail Morotai 2012, siang itu patung Jenderal Mac Arthur nampak belum selesai dibuat. Tangga monumen dan jalan berkonbloknya masih terlihat basah. Padahal, pulau ini adalah salah satu tujuan utama wisatawan yang ingin mengetahui sejarah panjang Pulau Morotai pada zaman Perang Dunia II.

jernihnya perairan dodola


Teks dan Foto | Hikmah Cut Ramadhana
Salah satu keindahan alam yang dapat dinikmati di Morotai adalah Pulau Dodola. Pulau ini berjarak 5 mil dari Daruba, ibukota kabupaten Morotai. Dari pelabuhan Daruba perjalanan menuju Pulau Dodola dapat dilakukan dengan menggunakan speedboat dengan waktu tempuh sekitar 20 menit perjalanan. Pulau Dodola dikelilingi oleh hamparan pantai berpasir putih yang sangat luas serta lautan biru yang menawan. Apabila kondisi perairan sedang surut (pukul 10.30-19.00 WIT), kita dapat melihat dan melewati hamparan pasir yang seolah seperti jembatan penghubung antara Pulau Dodola Besar dengan Pulau Dodola Kecil. Tidak hanya pantai dengan pasir putihnya, akan tetapi kita akan menemukan pula keindahan bawah laut yang luar biasa di perairan Pulau Dodola. Tidak jauh dari Pulau Dodola, sekitar 500 meter dari bagian belakang

divers note

pulau, kita dapat menemukan hamparan karang yang begitu indah dan rapat dari kedalaman tiga meter hingga sepuluh meter ke bawah. Hal ini membuktikan bahwa perairan Pulau Dodola masih terjaga dan jauh dari aktivitas yang dapat merusak lingkungan perairan tersebut. Karang dengan tipe pertumbuhan becabang (branching), meja (tabulate), massive serta submassive dapat ditemukan di sini. Selain karang, di perairan ini kita dapat menemukan berbagai jenis ikan terumbu yang berwarnawarni, bintang laut, anemon, softcoral, kima (Tridacna sp.), serta biota lainnya yang tak kalah indahnya. Kondisi perairan yang jernih sangat mendukung para wisatawan yang ingin berkunjung ke pulau ini. Tidak hanya menikmati diving ataupun snorkeling, sekedar untuk berenang saja, kita akan merasakan keindahan bawah laut Pulau Dodola.

M O ROTA I 365 HA R I
Inilah perbandingan keadaan di Pulau Morotai sebelum dan saat dilaksanakan perhelatan akbar Sail Morotai 2012. Apakah sebuah tempat harus menjadi lokasi Sail Indonesia dulu agar pembangunan infrastrukturnya diperhatikan pemerintah?

2012 2011

Bersantai di haluan sambil menikmati semilir angin laut. Sayang tempat ini justru kerap dijadikan smoking area.

Hari-Hari Si Ma nusia Laut


Di atas kapal raksasa ini, tali persaudaraan baru terjalin.
Allahuakbar Allahuakbar.. Adzan subuh bergema melalui preyen KRI Surabaya. Di anjungan kapal, seorang muadzin yang merangkap sebagai awak kapal mengumandangkan adzan setiap harinya. Seperti biasa, hawa sejuk kabin pasukan yang berasal dari pendingin ruangan mampu membius dan membuat kami terlena untuk bangun dan bergegas melaksanakan sholat berjamaah. Preyen kembali berbunyi. Kali ini seluruh peserta pelayaran diperintahkan untuk segera menuju helideck. Ya, kami semua selalu mengawali hari dengan olahraga. Kalau ingat pesan Mayor Mahmud, Orang yang sakit di kapal, pasti nggak pernah ikut olaharaga pagi!, itulah motivasi mengapa saya selalu menyempatkan berolahraga walau sebentar. Kehidupan di kapal yang serba teratur dan terjadwal terkadang memang membuat tubuh menjadi kurang bergerak dan olahraga menjadi satu-satunya cara untuk menggerakkan tubuh secara aktif selama pelayaran. Selesai berolahraga kami segera kembali ke barak masing-masing. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan acara 'mandi masal' dimana hanya tersedia empat shower dan empat kloset untuk dua barak pasukan yang jumlah penghuninya sekitar 60 orang. Tidak ada kata malas atau anda akan terlambat ikut kegiatan. Selesai mandi pagi dan sarapan, saatnya pertunjukan dimulai!

Peserta tengah berlatih flag cheers. Sayangnya, ketidakjelasan rundown membuat flag cheers ini gagal ditampilkan tiap kapal sandar.

Sebagian besar kegiatan di atas kapal dilaksanakan di helideck. Angin laut yang terus menerpa membuat kami mudah flu.

Olahraga pagi di tengah lautan luas adalah pengalaman unik tak terlupakan. Tapi anginnya nggak nguatin bro...

Para peserta dan pemuda-pemudi Ternate berlomba tarik tambang di tengah kegiatan homestay.

Apel dua kali sehari untuk mengecek jumlah peserta: tidak boleh lebih apalagi kurang.

Barak dengan bunk bed sempit bertingkat dan jumlah penghuni yang terlalu banyak justru membuat kami lebih akrab.

Sinyal on! Menelpon orang terkasih sembari duduk menikmati pemandangan di cardeck adalah salah satu moment terbaik saat berlayar.

Make-up, demi kesempurnaan penampilan dalam pentas seni yang ditampilkan hampir setiap malam. Kapal Pemuda (Budaya) Nusantara?

Persahabatan yang terjalin di atas kapal membuat hari ulang tahun terasa istimewa meski dirayakan secara sederhana.

Peserta pesiar di Saonek Besar dengan latar belakang KRI Surabaya 591.

Chasing Sunset.
Seorang peserta tengah mengabadikan suasana senja di Raja Ampat. Pemandangan matahari terbit dan terbenam akan selalu menemani pelayaran kami.
Anjungan kapal menjadi lokasi foto favorit untuk kenang-kenangan.

Selamat makan!
Lauk seadanya. Mungkin ini alasan kami selalu lapar.

Mengantri hingga lorong, berebutan ompreng, dan merayu penanting agar mendapatkan dua lauk, jamak terjadi saat acara makan tiba.

Tanda mata paling terkenal dari Morotai adalah kerajinan besi putih. Bahan baku kerajinan ini diperoleh dari bangkai kapal dan pesawat perang peninggalan Sekutu yang tersebar di seluruh penjuru pulau. Bahkan saya pernah ditawari sebuah kalung tentara AS asli yang diambil langsung dari tengkoraknya di dasar laut. Harga besi putih sangat bervariasi, dari lima ribu hingga ratusan ribu rupiah pun tersedia. Besi putih bisa diperoleh di Morotai, Tobelo, dan Ternate.

Dok. LNRPB-KPN

Dok. LNRPB-KPN

Bon Voyage!
Pelabuhan adalah tempat pertemuan dan perpisahan. Sambutan dari masyarakat yang berbeda di tiap kota mengingatkan kami betapa menyenangkannya perjumpaan. Dan tiap kapal bertolak dari pelabuhan, ada sebagian kecil hati kami yang tertinggal beserta janji untuk mengunjunginya kembali. Sorong adalah kota yang memberikan kami sambutan dan salam perpisahan terhangat dari semua kota singgah. Dengan penuh semangat mereka menampilkan tari-tarian Papua dan mendendangkan lagu Saputangan Biru yang sukses membuat saya menangis haru saat kapal berlayar menjauh.
Maharsi Wahyu

BAIT perpisahan
Sebuah epilog oleh Maharsi Wahyu

Ada perasaan aneh ketika membalas lambaian tangan ratusan ABK yang berjajar rapi di tepian dek KRI Surabaya 591 pada siang yang terik itu. Sedih tapi bahagia. Kapal perang yang menjadi rumah kami selama sebulan penuh itu telah selesai mengantarkan kami ke Kolinlamil dan berlayar kembali menuju Surabaya. Di atas kapal dan mengarungi lautan lepas membuat kami melihat sendiri betapa luasnya negeri ini. Beribu pulau, beratus ribu kilometer, menemui berbagai macam suku dan beragam budaya yang rasanya tak akan habis dipelajari. Kami juga banyak belajar mengenai angkatan laut Republik Indonesia serta merasakan banyaknya

pengalaman yang menguji idealisme kami sebagai generasi muda. Saya dan Edo bersepakat bahwa pelayaran ini mungkin kurang cocok bagi para pejalan yang mencari sebenar-benarnya petualangan. Bergelut dengan ketidakpastian. Berbaur dengan masyarakat lokal. Di sini kami tidak mendapatkannya. Inilah kali pertama saya menjadi bagian dari program pemerintah di mana kami telah kenyang oleh berbagai selebrasi penyambutan dan birokrasi ala tentara. Hidup di kapal penuh dengan peraturan. Atur atur atur. Lalu saya tertawa sendiri mengingat bisa-bisanya saya bertahan dalam keteraturan tersebut. Mungkin ada yang bertanya, kok jarang nyem-

plung di laut? Nampaknya hidup dihabiskan di atas kapal. Saya pun mempertanyakan hal yang sama. Pada mulanya saya berpikir akan benar-benar ditempa menjadi pemuda cinta laut yang handal tentang kemaritiman. Ada banyak kritik yang perlu diberikan demi perkembangan program kedepannya. Tetapi satu yang saya pelajari: pentingnya membuka mata dan melihat Indonesia dari dekat. Untungnya, saya mendapatkan kesempatan bertemu dengan ratusan teman baru dari seluruh Indonesia. Teman-teman saya ini berasal dari seluruh pelosok dan masing-masing punya kekhasan masing-masing. Pulau Weh hingga Merauke. Jakarta hingga Raja Ampat. Si Jawa berteman baik dengan si

Bugis. Si Kristen senantiasa berbagi cerita dengan si Buddhis. Ah, tentu saja kami mengabaikan seluruh atribut tersebut dan menyatu dalam semangat tenggang rasa di bawah bendera Indonesia. Bertemu ratusan pemuda ini, kecintaan saya pada Indonesia bertambah berkali-kali lipat. Akhirnya, tibalah kita pada bait perpisahan. Tapi, bukankah perpisahan adalah awal dari pertemuan yang lain? Biarlah KRI Surabaya berlayar menjauh, tapi ada bagian kecil dari hati yang tertinggal di antara dek besinya yang menanti kami kembali. Sampai jumpa di pelayaran selanjutnya! Bon Voyage KRI Surabaya!

di balik layar