Anda di halaman 1dari 6

II.

KONDISI DAN GAMBARAN UMUM LOKASI PRAKTIK UMUM

A. Sejarah Umum dan Perkembangan BALITRO

Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (BALITRO) Bogor, mempunyai

kaitan dengan berdirinya Kebun Raya Bogor tanggal 18 Mei 1817. Pada tahun

1830-1880 Kebun Raya Bogor ini telah menjadi sumber tanaman terutama

tanaman hias, tanaman rakyat, tanaman dagang, dan obat.

Pada tahun 1876 koleksi tanaman di Kebun Raya Bogor sudah mencapai kurang

lebih 10 ribu spesies dan pada tahun yang sama Dr. A. C. C. Scheffer, direktur

Kebun Raya Bogor pada waktu itu membeli sebidang tanah di Cikeumah (dari

Jalan Merdeka, ujung sebelah utara hingga Cimanggu). Seluas 72,5 ha yang

kemudian dibangun “CULTURTURIN” (Economic Garden) dan masih

merupakan bagian dari Kebun Raya Bogor. Culturturin kemudian mengalami

perubahan yang dimulai tahun 1918, antara lain dibangunnya Balai Besar

Penyelidikan Pertanian di Cikeumah (Jalan Merdeka 99).

Pada tahun 1929, Dr. L. G. Den Berger mengelompokkan balai-balai yang

diantaranya menjadi Balai Fisiologi Tanaman, Hama, dan Penyakit Tanaman,

Balai Penyelidikan Tanaman, dan Balai Penyelidikan Teknik Pertanian (BPTP).

Tugas dan fungsi BPTP itu terus berlangsung baik pada masa penjajahan Jepang

maupun sesudah kemerdekaan hingga tahun 1960.


Pada tahun 1961 dalam lingkungan Departemen Pertanian terjadi reorganisasi

lembaga-lembaga penelitian, khususnya BPTP yang mengakibatkan BPTP

terpecah menjadi dua lembaga yang diberi tugas untuk kegiatan penelitian

industri. Kedua lembaga tersebut ialah:

1. Lembaga penelitian tanaman serat dan jenis-jenis tanaman industri lainnya

2. Lembaga penelitian kelapa dan jenis-jenis tanaman lemak lainnya.

Memasuki Orde Baru yaitu pada tahun 1976 kedua lembaga tersebut digabung

dengan nama Lembaga Penelitian Tanaman Industri, M/AP/467/67 dan SK No.

16/M/AP/468/67, dengan pimpinan Dr. Ir. Rahmat Sutiapraja. Kemudian dialih

tugas kepada A. TH. Loebis, dan terakhir Ir. Asman Azis.

Hingga tahun 1973 Lembaga Penelitian Tanaman Industri masih merupakan unit

Dirjen Perkebunan dengan adanya Keputusan Presiden No. 44 dan 45 tahun 1974

maka tugas pembinaan unit penelitian dan pengembangan pertanian menjadi tugas

Balitbang Pertanian (SK Mentan No. 190 Tahun 1975).

Pada tahun 1980 terjadi reorganisasi yang antara lain adalah perubahan dari

Lembaga Penelitian Tanaman Industri (PUSLITBANGTRI) berdasarkan SK

Mentan No. 07.210/706/Kpts/9/83 dipimpin oleh Dr. Ir. M. Soeharjan. Lembaga

ini membawahi empat Balai Penelitian, diantaranya Balai Penelitian Tanaman

Industri (BALITRI), Bogor yang berkedudukan di jalan Cimanggu No. 1, dengan

pimpinan balai yang pertama adalah H. Achmad Abdullah Bsc.

Perkembangan reorganisasi yang terakhir adalah dengan keluarnya SK Mentan

No. 613/Kpts/OT/210/84 tertanggal 16 Agustus 1984 antara lain berisikan

6
likuidasi BALITRI Tanjung Karang dan BALITRI Bogor menjadi Balai Penelitian

Tanaman Rempah dan Obat (BALITRO), berkedudukan di Jalan Cimanggu No. 3

dipimpin oleh Dr. Ir. Pasril Wahid M.S.

B. Tugas dan Fungsi BALITRO

BALITRO mempunyai tugas untuk melaksanakan penelitian dan pengembangan

bibit unggul (pemulian), penelitian hama dan penyakit, agronomi dan

agroekonomi juga teknologi.

Atas dasar tugas tersebut, balai mempunyai fungsi:

1. Melakukan penelitian dan pengembangan teknik produksi teknologi hasil,

budidaya serta usaha tani tanaman rempah dan obat.

2. Melakukan penelitian pensifatan, evolusi, pemanfaatan, dan kelestarian

sumberdaya alam.

3. Melakukan urusan informasi, laporan, dan perpustakaan.

4. Mengkordinir dan mengelola sarana penelitian.

5. Melakukan urusan tata usaha dan rumah tangga balai.

Balai melaksanakan penelitian komoditi seluruh tanaman rempah dan obat,

tanaman jambu mente, dan tanaman industri lainnya.

C. Struktur Organisasi

7
BALITRO merupakan unit pelaksana teknis di bidang penelitian dan

pengembangan yang berada di bawah Pusat Penelitian dan Pengembangan

Perkebunan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Republik Indonesia.

Dalam melaksanakan tugasnya balai ini dipimpin oleh seorang Kepala Balai dan

dibantu oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Kepala Seksi Pelayanan Teknis dan

Kepala Urusan Keuangan Kerja. Berdasarkan SK Mentan No.

613/Kpts/OT/210/84 tertanggal 16 Agustus 1984, maka struktur organisasi

BALITRO adalah seperti tercantum dalam bagan (Lampiran 2).

Disamping ketiga pejabat eselon IVa tersebut, dalam melaksanakan tugas sehari-

hari Kepala Balai dibantu oleh dua kelompok program komoditas (Tanaman Obat

dan Aromatik), Ketua Kelompok Peneliti (Kelti) yaitu: 1) Kelti Pemuliaan,

Plasma Nutfah, dan Pembenihan; 2) Kelti Entomologi dan Fitopatologi, dan 3)

Kelti Fisiopatologi. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya yang telah dibentuk

2 unit organisasi fungsional yang langsung berada dibawah kordinasi Kepala

Balai yaitu, Unit Komersialisasi Teknologi (UKT) dan Unit Pengelola Benih

Sumber (UPBS).

D. Sumber Daya Manusia dan Fasilitas

BALITRO didukung oleh 368 orang pegawai terdiri atas tenaga peneliti bergelar

Doktor (S3) 18 orang, Magister (S2) 26 orang, Sarjana (S1) 57 orang, Sarjana

Muda/Diploma 10 orang, SLTA 152 orang, SLTP 31 orang, dan SD 74 orang.

8
Para peneliti BALITRO tergabung kedalam tiga kelompok peneliti, yaitu:

Pemuliaan, Plasma Nutfah, dan Pembenihan, Entomologi dan Fitopatologi, dan

Fisiopatologi.

Fasilitas pendukung penelitian yang dimiliki BALITRO antara lain:

• Lima unit laboratorium

Laboratorium agronomi, laboratorium pemulian, laboratorium hama dan

penyakit, laboratorium hasil, laboratorium mutu.

• Sembilan unit rumah kaca (rumah kaca agronomi, pemuliaan dan hama

penyakit).

• Sstu unit bengkel mekanisasi.

• Lima kebun percobaan

Lokasi kebun percobaan ini terdapat di Cimanggu, Cibinong (Bogor),

(Bogor), Gunung Putri (Cianjur), Cikampek (Purwakarta), Monoko

(Bandung), dan Sukamulya (Sukabumi).

• Satu unit perpustakaan.

• Satu ha petak pamer.

• Empat ha Kebun Wisata Ilmiah Tanaman Perkebunan.

E. Tugas Pokok BALITTRO

Tugas pokok dibalai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) secara

terstruktur telah terbagi sesuai dan fungsi jabatan masing-masing dan telah

9
mempunyai tugas pokok yang harus dijalankan. Tugas pokok dari kepala Balai

adalah sebagai ketua kelompok peneliti untuk menghasilkan paket teknologi

pengembangan budidaya tanaman obat dan aromatik, serta pengembangan

tanaman obat dan aromatik dengan membentuk suatu tim penyusun program

balai.

Tugas pokok kepala sub Bagian Tata Usaha adalah melaksanakan kepegawaian,

keuangan, surat menyurat,rumah tangga dan perlengkapan agar pelaksanaan

kegiatan balai sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang telah

ditetapkan.Adapun tugas pokok dari kepala seksi pelayanan teknik adalah

mengawasi pemanfaatan peralatan dan lahan percobaan untuk kelancaran

penelitian,menyiapkan rencana kebutuhan perawatan sarana dan prasarana

penelitian spesifikasi. Sedangkan tugas poko dari kepala Seksi Jasa Penelitian

adalah mengkoordinasi dan mengawasi kinerja dari pekerja jasa penelitian yang

lingkup pekerjaanya yaitu membantu penelitian dari peneliti-peneliti untuk

mengsukseskan program penelitian yanfg telah ditetapkan.

10