Anda di halaman 1dari 5

INFANTICIDE/PEMBUNUHAN BAYI SENDIRI BARU LAHIR

Definisi : sesuai dengan unsur2 psl 341 KUHP, yaitu : pembunuhan atas bayi oleh ibunya karena takut ketahuan melahirkan, pada saat itu atau tidak lama setelah anak dilahirkan. Beda dengan Eropa/negara barat. Infanticide cakupannya sampai anak berumur 1 tahun. Unsur2 yang harus dipenuhi untuk menyebutkan infanticide : 1. Unsur menghilangkan nyawa anak (anak lahir hidup). 2. Unsur pelaku ibu kandung 3. Unsur waktu (pada saat/tdk lama setelah lahir) 4. Unsur psikis (takut ketahuan) Cara pembunuhan : Paling sering adalah dengan menimbulkan asphyxia mekanik (pembekapan, penjeratan, penyumbatan). Cara lain adalah dipukul, ditusuk dan ditenggelamkan. Pemeriksaan : Ditujukan untuk memenuhi ke 4 unsur yang ada dalam pasal 341 KUHP 1. Unsur menghilangkan nyawa : Tentukan apakah bayi lahir hidup/mati , paling penting adalah pemeriksaan paru2 baik secara makro/mikroskopis. Tentukan sebab kematian dan mekanismenya. 2. Unsur waktu : Usia post partum ditentukan dengan melihat : Ada/tidak udara / susu dalam lambung. Tanda tanda perawatan Ada/tidak mekonium. Perubahan pada tali pusat. Pemeriksaan sel darah merah (sel HbF). 3. Viabilitas Bayi diluar kandungan : Penentuan usia bayi dalam kandungan, ukur : panjang badan, berat badan, lingkar kepala dan tanda2 lain. Pusat2 penulangan Layak / tidaknya bayi hidup di luar kandungan dicari2 cacat bawaan. 4. Pembuktian unsur psikis : Banyak ditentukan oleh penyidik / hakim. 5. Unsur dilakukan oleh ibu : Dicari tanda2 post partum tinggi fundus uteri, lochia, dll. Pemeriksaan tambahan : Dilakukan bila masih ditemukan placenta (berat, kelainan anatomis, gambaran mikroskopis seperti memar-memar, potongan tali pusat (digunting/ditarik) serta ukuran panjang. Beberapa patokan : 1. Penentuan tanda tanda lahir hidup/mati (terutama pemeriksaan paru2) a. Makroskopis paru
PARU TLH BERNAFAS -Berkembang (Iga 4/5 ki/ Iga 5/6 ka ) -Mempunyai gambaran mozaik dan marmer. -Tepi tumpul seperti spons. -Berat 1/35 Berat Badan BELUM BERNAFAS -Menguncup (tidak khas) -Homogen spt hepar. -Tepi tajam, kenyal. -Berat 1/70 Berat Badan.

b. Mikroskopis paru Pemeriksaan yang penting untuk menentukan paru bernafas / tidak adalah pemeriksaan mikroskopis. Gambaran mikros paru telah bernafas adalah :

-Alveoli berkembang secara tidak uniform. -Dinding alveoli terenggang menjadi lurus dan melengkung. -Tidak nampak adanya tonjolan2 dinding alveoli (projection). -Di beberapa bagian masih nampak adanya alveoli yang belum berkembang (Crumpled Sac alveoli). Sedangkan yang belum berkembang : -Bayi belum mencapai umur 2/3 masa kehamilan, gambaran seperti kelenjar. -Kadang2 Janin berat lebih 2500 gram paru2nya nampak seperti berkembang dan uniform, dengan dinding berlekuk dan menonjol (projection) disebut Cushion Like. c. Tes Apung paru Jaringan paru paru dipotong kecil kecil bebentuk kubus ( 5 mm ) dari masing - masing baga sebanyak 5 potong , kemudian ditekan dengan hati-hati agar tidak rusak lalu diletak di air, paru - paru yang telah bernafas akan mengapung ( tes ini lebih bermakna bila paru - paru telah membusuk ). Bila paru paru masih baik cukup dilihat gambaran makroskopisnya ( gambaran mazaik & marmer ). Pemeriksaan lain adalah tes apung lambung (Berlaws Second Life Test). 2. Usia Kehamilan : Patokan yang lebih akurat untuk menentukan usia kehamilan (78%) adalah kombinasi antara panjang badan pusat ossifikasi. Untuk panjang badan menggunakan rumus Hanse dan Streeter. Pusat Ossifikasi : Distal femur diaphisa = usia 8-9 minggu. Distal femur epiphysa = usia 35-40 minggu. Progsamal tibia diaphysa = usia 8-9 minggu. Progsamal tibia epiphysa = usia 40 minggu. OS Calceneus = usia 21-29 minggu. 3. Cukup bulan dalam kandungan Bayi usia cukup bulan ( lebih 38 minggu) : Berat Badan lebih 2500 gram. Panjang Badan lebih 48 cm. Lingkar kepala lebih 31 cm (32 cm). Pusat penulangan distal feuur dan proksimal tibia (+) ukuran 5 x 5 mm. Tanda2 lain : Lanugo sedikit Kuku telah melewati ibu jari Gambaran gurat kaki lebih 1/3 tapak kaki. Lingkar puting susu lebih 7 mm. Testis telah lengkap turun dengan ruggae scrotum jelas. Labia mayor telah menutupi vulva. Daun telinga telah terbentuk dengan baik dan tegak. Menurut Prof. Arief, tanda external yang utama untuk menentukan maturitas adalah : - Lingkar kepala - Rawan telinga Umur bayi diluar kandungan : Udara dalam Lambung 15 menit pertama. Usus halus 1-2 jam. Usus besar 5-6 jam Rectum 12 jam. -Tali pusat -/+ 2 hari mongering 4-5 hari terlepas (jarang pada hari 3/6). -PA pada tali pusat.

d.

Sel Darah Merah > 24 jam masih ditemukan bentuk foetal ( Sel Darah Merah berinti ). Bila umur berumur dibawah 28 minggu, tanda hidup (+) karena tidak viable dan akhirnya mati namum tidak dilaporkan dapat dihukum karena membiarkan/ menyembunyikan jenazah pasal 308 KUHP hukuman 4,5 tahun. Pembunuhan : bisa bersifat aktif dengan (menusuk, memukul, dll). Dapat juga bersifat pasif, tanpa tindakan (membiarkan anak baru lahir, dll). Untuk menentukan tanda lahir hidup/mati : Gambarkan mozaik/marmer (markros)/utama. Tes apung. Mikroskopis. Penentuan tali pusat terpotong rata/tidak untuk menegtahui apakah ada unsur perencanaan atau tidak. Defferensial diagnosis dan infanticiade : Anoxia / Hypoxia Neonotarum. Kelainan sistem haemapoetik. Trauma lahir. Abortus. Kelainan ibu selama melahirkan. Kelainan congenital. Partus praecipitarus. Menurut Prof. Samil (Maj. Obstet. Genek Indon. Vol . 12 No. 1. 1986 Januari). Penyebab kematian neountal adalah sebagai berikut : Aspiksia neunatarum (36,9 - 43,4%). Infeksi (23,6 34%). BBLR (15,7 20%). Sindr. Distres pernafasan (12,5 %). Trauma lahir (2 7%). Cacat bawaan (3,9%). Aspiksia neonaturum 63,9%. Mati pada 24 jam pertama. Diagnosa tarauma jalan lahir : 1. Anak Fraktur tengkorak akibat forcep , di daerah puncak kepala, frontal, temporal.tidak selalu ada kalau ada Hipermoulage dan Caput Suscendaneum (-). Cephal hematon (+). Terdapat perdarahan pada Sinus Cavernosus dan Falx cerebri. Getah paru-paru ditemukan adanya diatom, bila ada riwayat jatuh ke air/got. 2. Ibu Tanda2 baru melahirkan. Ukuran panggul. Dapat Primi/Multi para.

ABORTUS PROVOKATUS
Definisi menurut hukum : terhentinya kehamilan sebelum waktunya sedangkan istilah medis pengeluaran mudigah sebelum usia kehamilan 20 minggu . Pasal KUHP yang berlaku : -Pasal 346 Wanita mengugurkan/mematikan kandungan ancaman hukuman (4thn).

-Pasal 347 orang lain/tidak ada ijin ibu (12thn). -Pasal 348 orang lain dengan ijin ibu (5,6thn). -Pasal 349 - dokter/para medis yang membantu tambah (1/3) -Pasal 299 memberi obat, menyuruh, diberitahu, timbul harapan untuk aborsi (4 tahun). -Pasal 355 menunjukkan, mempertontonkan, mengeluarkan alat gugur (4 bulan). Pembagian Abartus 1. Spontan 2. Provakatus a. Terapeutik b. Kriminalis Semua tindakan abortus provokatus terkena pidana, hanya pada terapeutik ada pengecualian untuk menghilangkan sifatnya pidana yaitu: Adanya hak profesi, perlu mengikuti kaidah standard profesi. Misalnya : hanya atas indikasi si ibu konsult 2-3 orang ahli. Secara materiel tidak melawan hukum, ada ijin dari yang bersangkutan kecuali dalam keadaan gawat darurat. Mengenai penjualan / penjelasan mengenai alat pencegah kehamilan yang seharus dihukum sesuai pasal 534, dapat ditiadakan karena adanya hak opprtunitas dari jaksa agung untuk mendeponir kasus (keputusan tahun 1968). Pemeriksaan forensik : 1. Pada Ibu : Tanda2 kehamilan (pasti dan tidak pasti). Usaha2 penghentian kehamilan (alat, obat2an dan tanda2 kekerasan). 2. Hasil usaha penghentian kehamilan. Pemeriksaan meliputi : -Uterus, dipotong-potong mendatar, tiap 1 cm, deteksi adanya luka/perdarahan. -Tes emboli, pada venacava inferior dan pada jantung. -Toksikologi terhadap : cairan rongga pinggul, darah (obat2an), lambung. Pasal pasal dalam Undang Undang RI no 36 tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 72 Setiap orang berhak: a. menjalani kehidupan reproduksi dan kehidupan seksual yang sehat, aman, serta bebas dari paksaan dan/atau kekerasan dengan pasangan yang sah. b. menentukan kehidupan reproduksinya dan bebas dari diskriminasi, paksaan, dan/atau kekerasan yang menghormati nilai-nilai luhur yang tidak merendahkan martabat manusia sesuai dengan norma agama. c. menentukan sendiri kapan dan berapa sering ingin bereproduksi sehat secara medis serta tidak bertentangan dengan norma agama. d. memperoleh informasi, edukasi, dan konseling mengenai kesehatan reproduksi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Pasal 75 (1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi. (2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan: a. indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau

b. kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan. (3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 76 Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan: a. sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis; b. oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri; c. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan; d. dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan e. penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri.

--o--