Anda di halaman 1dari 10

PRAKTIKUM PASUT LAUT Pendahuluan Pasang Surut Laut (Pasut Laut) adalah fenomena naik turunnya muka air

laut yang disertai oleh gerakan horisontal dari muka air secara periodik. Gerak horisontal muka air laut ini disebut arus pasut (tidal current). Pasut timbul akibat pengaruh gaya tarik benda-benda langit, terutama bulan dan matahari, dan gerakan revolusi sistem bumi dengan benda-benda langit terhadap suatu pusat massa dari sistem tersebut. Pengamatan Pasut Laut Pengamatan pasut laut dilakukan dengan mengamati tinggi permukaan air laut dengan interval waktu pengamatan tertentu dan selama periode waktu tertentu. Interval waktu yang biasa dilakukan dalam pengamatan pasut adalah setiap 1 jam dan lama pengamatan biasanya adalah 29 hari (tinggi muka air diamati dicatat setiap selang waktu satu jam dan dilakukan selama 29 hari). Peralatan Pengamatan Pasut Alat-alat pengamatan pasut ada 2 jenis, yaitu : 1. Palem atau rambu, yaitu suatu mistar panjang yang ditanamkan secara vertikal ke dalam perairan. Palem dibuat dari suatu tonggak dari kayu atau papan sepanjang 35 m dengan lebar 5-15 cm dan ketebalan 1-4 cm. Papan atau kayu tersebut diberi skala pembacaan yang dapat dibaca hingga 1 cm, sehingga perubahan permukaan laut sewaktu air naik dan turun dapat dibaca. Penulisan skala biasanya dilakukan dengan menggunakan cat yang warnanya kontras dengan warna latar dari papan sehingga bisa terbaca dengan jelas dari jarak jauh. Sekarang ada pula skala palem sudah dibuat dalam sticker dan tinggal ditempelkan pada papan yang telah disediakan. 2. Automatic Tide Gauge, alat ini secara otomatis mencatat tinggi muka air pada setiap waktu selama pengamatan. Berdasarkan prinsip pengukurannya automatic tide gauge dapat dibagi menjadi 2 tipe, yaitu : a. Tipe pelampung (float type tide gauge), pada tipe ini gerakan naik turun permukaan laut menyebabkan terakan turun naik pelampung yang diteruskan menjadi gerakan berputar pada sumbu gerigi dan meneruskan gerakan-gerakannya menjadi gerakan naik turun jarum pencatat pada kertas. b. Tipe tekanan (pressure type tide gauge), tipe ini menggunakan tekanan air di atas suatu unit yang berubah-ubah akibat besar kecilnya lapisan air di atas unit sensor tersebut sesuai gerakan turun naiknya permukaan laut. Perubahan tekanan ini diteruskan ke unit recorder melalui selang udara yang biasanya terbuat dari karet atau plastik. Stasiun Pasut Tempat pengamatan pasut yang dilengkapi peralatan untuk pengamatan pasut disebut stasiun pasut. Lokasi yang baik untuk stasiun pasut adalah : 1. Tempatnya mudah untuk pemasangan alat pengamatan pasut baik untuk jenis palem ataupun tide gauge. Tempat yang terbaik adalh suatu bangunan yang kokoh seperti dermaga atau bagan dimana palem dapat diikatkan dengan baik. 2. Kedalaman air di tempat dimana akan dipasang stasiun pasang surut tidak kurang dari 1,5 m di bawah kemungkinan permukaan Air Rendah Terendah. Hal ini penting terutama di daerah terbuka dimana sering terjadi gelombang yang mempunyai amplitudo besar yang dapat mempengaruhi alat pencatat otomatis.

-1-

3.

4. 5. 6. 7.

8.

9. 10.

Lokasinya mudah diamati pada setiap saat (siang ataupun malam) dan pada segala keadaan cuaca apapun (panas ataupun hujan). Misalnya dipasang pada teluk yang terlindung, area pelabuhan, balik tebing, atau pada break water. Pengamat harus mudah mengamati dan mengecek alat. Tempat-tempat yang terlindung tetapi tetap memiliki hubungan langsung dengan laut lepas baik pada keadaan surut ataupun pada saat keadaan pasang. Tidak terkena ombak secara langsung dan tidak terkena arus yang kuat secara langsung. Hal ini karena akan mempengaruhi kestabilan palem ataupun menjadikan pembacaan skala palem yang lebih sulit. Tidak dekat atau pada muara sungai, karena tinggi pasut yang terukur akan dipengaruhi oleh air sungai yang akan masuk ke laut. Dekat dengan benchmark (BM) atau titik referensi lain yang ada. Jika terdapat datum setempat maka sedapat mungkin alat dipasang dekat BM. Hal ini dimaksudkan pula untuk mempermudah pengikatan tinggi muka air terhadap ketinggian BM. Tanah dan dasar laut di tempat didirikannya peralatan pasut harus kuat dan padat. Pada dasar laut di tempat tersebut hendaknya tidak menumpuk lumpur atau pasir yang dibawa oleh aliran sungai di dekatnya ataupun endapan-endapan lain yang disebabkan oleh pengaruh arus atau gelombang. Air laut hendaknya bersih dan tidak ditumbuhi rumput-rumput laut di bawahnya. Selain itu harus pula diperhatikan segi keamanan dari gangguan baik dari hewan ataupun manusia di sekitar stasiun pasut.

Pengamatan dan Pembacaan Data Pasut Pengamatan dan pembacaan data pasut dilaksanakan sebagai berikut: 1. Setiap jam sekali apabila hanya menggunakan palem. Pengamatan dapat dilaksanakan lebih sering (misalnya setiap 20 - 30 menit) terutama jika tunggang airnya besar dan perubahan ketinggian air cepat atupun bila diperlukan untuk penanggulangan bahaya banjir, tsunami, dan sebagainya. Jika disamping pengamatan dengan palem juga, menggunakan alat pencatat otomatis, maka pencatatan data palem dapat dilaksanakan empat kali sehari dan pada kertas alat pencatat otomatis diberikan catatan tanggal, jam, tinggi air, dan keterangan lain yang mungkin diperlukan sekaligus untuk mengontrol apakah alat bekerja dengan baik.

2.

Pencatatan data palem dilaksanakan dengan membaca ketinggian permukaan air pada saat tersebut yang ditunjukkan oleh skala, palem dimana permukaan air berbeda. Pembacaan tinggi air dengan ketelitian hingga 1 cm. Pada waktu terjadi ombak atau gelombang pembacaan dilaksanakan pada waktu lewatnya puncak dan lembah gelombang; kemudian diambil nilai tenahnya atau rata-ratanya. Untuk mendapatkan data yang lebih meyakinkan diambil masing-masing tiga kali pembacaan kemudian diambil nilai rata-ratanya. Jika palem terletak agak jauh ke laut dan sulit untuk diamati maka pembacaan dilaksanakan dengan menggunakan teropong atau didekati dengan perahu. Pada malam hari palem hencaknya diterangi dengan baik dengan menggunakan lampu, senter, ataupun penerangan lainnya.

Jika pengamatan pasut hanya menggunakan palem, maka prosedur instalasi stasiun pasut yang dilakukan adalah sebagai berikut :

-2-

1. 2.

3. 4. 5. 6.

7.

Palem harus dipasang dalam keadaan tegak lurus, bila perlu dapat diberi penyangga, jika sama sekali tidak mungkin untuk memasang palem secara tegak lurus maka sudut miring harus diukur sehingga pembacaan palem dapat dikoreksi. Palem sedapat mungkin kokoh dan tidak berubah terutama tidak turun naik. Sebagai pengecekan maka dapat dibuat suatu tanda pada suatu tonggak pembantu di sampingnya yang menunjukkan ketinggian tertentu pada palem. Pengecekan dapat juga dilakukan dengan mengadakan sipat datar (leveling) terhadap BM, namun hal ini tidak segera dapat menunjukkan keadaan palem yang turun naik. Palem dipasang menghadap sedemikian rupa sehingga mudah dibaca oleh pengamat. Palem dipasang kokoh dalam suatu posisi yang mudah untuk mengadakan penukuran sipat datar. Palem haruslah tidak terganggu oleh kapal atau perahu motor yang mendekat atupun benda-benda terapung lainnya yang hanyut. Jika mungkin palem hendaknya dipasang pada waktu air turun/surut dan sebaiknya pada saat surut perbani sehingga di tempat tersebut nol palem dapat dipasang sedemikian rupa agar tidak kekeringan sewaktu air surut. Demikian pula perlu diperhatikan tinggi palem yang dipasang sehingga puncak palem tidak tenggelam pada waktu air pasang. Jika palem yang dipasang pendek atau nol palem kering pada waktu air turun maka palem kedua perlu segera dipasang untuk pengamatan permukaan air yang lebih rendah, demikian seterusnya. Pemasangan palem di dermaga atau di bangunan pantai jauh lebih mudah dibandingkan dengan pemasangan palem langsung di perairan terbuka. Untuk pemasangan palem langsung di perairan terbuka memerlukan penyangga berbentuk tripod atau menara kecil dibangun dari bambu atau kayu. Tripod ini dapat dibuat di darat dan dipasangkan di perairan dengan mengatur keseimbangan dan kemiringannya. Alternatif lain adalah membuat suatu bangunan berbentuk piramida yang dibuat dari rangkaian segitiga sama sisi.

Untuk pengamatan pasut dengan menggunakan alat pencatat pasut otomatis, maka prosedurnya adalah sebagai berikut : 1. Alat pencatat pasut otomatis ini tetap memerlukan palem atau skala referensi lain untuk pengikatan tinggi terhadap benchmark dan untuk pembuatan koreksi atau kalibrasi alat. Dengan demikian prosedur pemasangan palem seperti dijabarkan di atas harus tetap diikuti. 2. Tempat pemasangan tide gauge hendaknya terlindung dari pengaruh cuaca (hujan, angin kencang, dan lain-lain) dan percikan-percikan air laut. Untuk itu perlu didirikan rumah/kotak pelindung terutama untuk tide gauge yang tidak kedap air. 3. Pada tipe pressure tide gauge harus diperhatikan bahwa unit sensor harus selalu berada di bawah air dalam keadaan kokoh. 4. Pada tipe float tide gauge perlu diperhatikan hal-hal berikut: a. Lubang atau pipa untuk pelampung harus mempunyai ukuran yang cukup sehingga air pasang dan surut bebas masuk keluar namun pengaruh dari ombak, gelombang, dan sebagainya tidak ada. Gerakan air di dalam pipa harus sama dengan gerakan air di luar dan gerakan ini harus selalu tercatat dengan baik pada kertas perekam. b. Pipa harus selalu terendam oleh air tetapi jangan sampai tenggelam. Artinya panjang pipa harus memperhatikan tunggang air di daerah pengamatan. c. Ukuran pipa harus disesuaikan dengan besarnya pelampung sehingga pelampung dapat bergerak bebas mengikuti ketinggian permukaan air di dalam pipa tersebut. d. Pemberat pelampung harus pula diberi pipa dengan ukuran yang sesuai dengan besarnya pemberat tersebut. e. Pelampung jangan sampai keluar dari pipa karena akan menyebabkan pembacaan yang tidak benar bahkan menyebabkan kemacetan pada alat. Hal ini biasanya terjadi karena permukaan air pada saat pasang melebihi tinggi pipa atau jika

-3-

terdapat ombak tinggi yang masuk melalui pipa bagian atas menyebabkan permukaan air di dalam pipa naik dan pelampung terloncat keluar pipa. Demikian pula halnya dengan pemberat pelampung.

Tide Gauge

Palem

-4-

Hasil Rekaman Tide Gauge Pengolahan Data Pasut Pengolahan data pasut dimaksudkan untuk memperoleh komponen harmonik pasut di daerah pengamatan dan untuk memperoleh muka surutan yang diperlukan untuk koreksi pasut pada pengukuran kedalaman laut.

-5-

Pengolahan data pasut dapat dilakukan dengan beberapa metode, antara lain : 1. Metode Pengamatan 39 Jam 2. Metode Admiralty 3. Metode Least Square 4. Metode Analisis Spektral Metode Pengamatan 39 Jam Maksud dari pengolahan data dengan metode pengamatan 39 jam ini adalah untuk menentukan tinggi muka laut rata-rata (duduk tengah sementara) dari data selama 39 jam. Pengolahan data pasut dengan menggunakan metode ini memerlukan data selama 39 jam secara kontinu (terus menerus). Adapun prosedur perhitungannya dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Data pengamatan selama 39 jam tersebut disusun dan kemudian dibuat grafik tinggi muka air laut terhadap waktu. Lakukan penghalusan (smoothing) terhadap grafik yang diperoleh dan diperoleh data yang telah dihaluskan. 2. Kalikan data setiap jam (T) dengan faktor pengali (F) pada jam tersebut. 3. Hitung duduk tengah sementara (DTS) dengan rumus berikut ( TxF ) DTS = F Hitung koreksi pasut/reduksi kedalaman pada jam tertentu untuk data pengukuran yang diperoleh. Untuk lebih memudahkan hendaknya perhitungan dilakukan pada tabel seperti di bawah ini. Jam 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Tinggi Air(T) Faktor Pengali (F) 1 0 1 0 0 1 0 1 1 0 2 0 1 1 0 2 1 1 2 0 TxF Jam 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 Jumlah DTS = (TxF)/F = Tinggi Air(T) Faktor Pengali (F) 2 1 1 2 0 1 1 0 2 0 1 1 0 1 0 0 1 0 1 F=30 TxF

TxF =

-6-

Metode Admiralty Data pasut yang digunakan pada metode ini data pengamatan setiap jam dari seri 29 hari atau 15 hari. Pengolahan data dengan menggunakan metode admiralty dimaksudkan untuk memperoleh amplitudo dan fase dari 9 komponen harmonik utama yaitu M2, S2, N2, K2, K1, O1, P1, M4, dan MS4. Perhitungan amplitudo dan fase kesembilan komponen tersebut menggunakan bantuan skema, tabel, dan rumus yang telah dibuat oleh British Admiralty. Prosedur perhitungan pada metode admiralty dapat dijabarkan sebagai berikut : 1. Jika pengamatan pasut menggunakan Palem, hasil pengamatan harus dibuat grafiknya terlebih dahulu. Lakukan interpolasi terhadap data-data yang hilang. Lakukan smoothing pada grafik tersebut untuk memperoleh bacaan tinggi muka air laut yang telah dihaluskan. Jika menggunakan Tide Gauge, data rekamannya disalin menjadi numerik. 2. Data yang sudah dikoreksi tersebut harus dituliskan dalam Skema I. 3. Jumlahkan data setiap harinya (jam 0 s/d jam 23) dan dituliskan pada Skema 3 kolom X0. 4. Jumlahkan data dikali table-1 baris X1 [ (D*X1) ], untuk setip harinya dan dituliskan pada Skema 3 kolom X1. Rumus dalam excel : SumProduct (range skema1, range tabel1) dimana rangenya adalah jam 0 s/d jam 23 . 5. Skema 3 kolom Y1,X2,Y2,X4,Y4 diisi seperti pada langkah 4. 6. Skema 4 X00 diisi jumlah dari Skema 3 kolom X0. 7. Skema 4 X10 diisi jumlah dari Skema 3 kolom X1 kali Tabel2 kolom 0. 8. Skema 4 Y10 diisi jumlah dari Skema 3 kolom Y1 kali Tabel2 kolom 0. 9. Skema 4 X12 diisi jumlah dari Skema 3 kolom X1 kali Tabel2 kolom 2. 10. Skema 4 Y12 diisi jumlah dari Skema 3 kolom Y1 kali Tabel2 kolom 2. Dan seterusnya hingga Y4d = SumProduct (Skema 3 kolom Y4, Tabel2 kolom d). 11. Skema 5 diisi sesuai rumus pada skema itu misal : X00 dan X10 disalin dari skema 4, hitung X12-Y1b dst (lihat rumusnya). 12. Skema 5 sel (X00,S0) adalah sel X00 dikali Tabel 3 sel (X00,S0). Demikian juga untuk sel-sel yang lainnya. 13. Skema 6 diisi seperti skema 5. 14. Skema 7 baris Pr cos r adalah jumlah dari tiap-tiap kolom di skema 5. 15. Skema 7 baris Pr sin r adalah jumlah dari tiap-tiap kolom di skema 6. 16. Hitung Pr dengan rumus : Pr = SQRT((Pr cos r)^2 + (Pr sin r)^2). 17. Nilai P dan p Skema 7 diisi dari table 3. 18. Hitung nilai f untuk M2 (fM2) dengan rumus : fM2 = 1,004-0,0373 cos N +0,0002 cos (2N) Dimana : N = 259.16-(1934.14*T)+(0.0021*T*T) T = ((365*(th-1900))+JD+NLY)/36525 th = tahun pengamatan JD = Julian Date ( dihitung dari tanggal tengah pengamatan) NLY = INT((th 1901)/4) fS2 = 1 fN2 = fM2 fK1 = 1,006 + 0,115 cos N - 0,0088 cos (2N) + 0,0006 cos (3N) fK2 = 1,0241 + 0,2863 cos N + 0,0083 cos (2N) - 0,00015 cos (3N) fO1 = 1,0089 + 0,1871 cos N - 0,0147 cos (2N) + 0,0014 cos (3N) fM4 = fM2 * fM2 fMS4 = fM2 19. Hitung nilai V dengan rumus : VM2= -2s + 2h , dimana s = 277.02+(481267.89*T)+(0.0011*T*T) h = 280.19+(36000.77*T)+0.0003*T*T)

-7-

VS2 = 0 VN2 = -3s + 2h + p , dimana p = 334.39+(4069.04*T)+0.0103*T*T) VK1 = h + 90 VO1 = -2s + h + 270 VM4 = 2 * VM2 ; VMS4 = VM2 20. Hitung nilai u dengan rumus : uM2 = -0,0374*sin N uS2 = 0 ; uN2 = uM2 uK1 = -0,1546*sin N + 0,0119 sin (2N) - 0,0012 sin (3N) uO1 = 0,1885*sin N - 0,0234 sin (2N) + 0,0033 sin (3N) uM4 = 2*uM2 uMS4 = uM2 21. Hitung nilai w dan (1+W) (1+W) untuk M2 = 1 w untuk M2 = 0 Untuk Komponen S2 : A = (1+W) cos w = 1 + 0,272 cos (2h + uK2) + 0,059 cos (h - 282) B = (1+W) sin w = 0,272 sin (2h + uK2) - 0,059 sin (h - 282) W/f utk S2 = (B/sin(arctan(B/A)))-1 w/f utk S2 = arctan (B/A) Hitungan w dan (1+W) untuk S2 dan MS4 dapat dilihat pada skema 9. Untuk Komponen K1 : A = (1+W) cos w = 1 - 0,331 cos (2h + uK1) B = (1+W) sin w = 0,331sin (2h + uK1) WfK1 = (B/sin(arctan(B/A)))-1 wfK1 = arctan (B/A) Hitungan w dan (1+W) untuk K1 dapat dilihat pada skema 9 Untuk Komponen N2 : A = (1+W) cos w = 1+ 0,189 cos (2h - 2p) B = (1+W) sin w = 0,189 sin (2h - 2p) (1+W) utk N2 = sqrt(A*A+B*B) w utk N2 = arctan (B/A) 22. Hitung r dengan rumus : r = arctan((Pr sin r) / (Pr cos r)). Perhatikan Kuadran dari sudut r. 23. Hitung s = V + u + w + p + r untuk setiap kolom. 24. Hitung g dari nilai s dikurangi kelipatan dari 360 sehingga nilainya antara 0 360. 25. Hitung A = Pr / (P*f*(1+W)). 26. Hasil hitungan A dan g disalin ke skema 8 (Hasil Terakhir) yang diambil angka bulatnya. Metode Kuadrat Terkecil (Least Square) Sebelum pengolahan data pasut, terlebih dahulu dilakukan proses penghalusan (smoothing) data pengamatan. Proses smoothing dilakukan secara grafis dengan memperbandingkan grafik yang dihasilkan dari data pengamatan dengan grafik fungsi sinusoidal dari model analisis harmonik pasut. Pada proses pengolahan data pasut yang dilakukan, seluruh data pengamatan diasumsikan telah terbebas dari kesalahan sistematik dan kesalahan blunder. Hal tersebut dilandasi bahwa pengamatan pasut dilakukan menggunakan peralatan tide gauge, sehingga blunder akibat pembacaan dapat dihindari (sangat kecil sehingga dapat diabaikan), dan kesalahan sistematik telah terkoreksi sebelum dilakukan pengolahan.

-8-

Dalam analisis pasut dengan hitung perataan parameter, panjang pengamatan data pasut akan mempengaruhi jenis informasi yang dapat diperoleh. Jenis informasi yang dimaksud adalah banyak dan jenis konstanta pasut yang dapat dihasilkan dari pengamatan pasut. Sesuai dengan rumus analisis harmonik, maka dapat disimpulkan bahwa semakin banyak konstanta pasut yang dihasilkan dari pengolahan data pasut maka akan menghasilkan analisis pasut yang semakin teliti. Banyak sedikitnya konstanta pasut yang dihasilkan bergantung pada lamanya waktu pengamatan. Semakin panjang waktu pengamatan, maka akan semakin banyak konstanta pasut yang dapat dihasilkan. Selain banyaknya konstanta pasut yang dapat dihasilkan, harus diperhatikan persamaan normal yang dibentuk dari konstantakonstanta tersebut.

Persamaan Normal pada hitungan perataan parameter adalah :

X = ( A t A) 1 A t Y (Y = tinggi air)
Elemen matriks A adalah :

1 cos( 1 t 1 + V1 + u1 ) sin( 1 t 1 + V1 + u1 ) L cos( m t 1 + Vm + u m ) sin( m t 1 + Vm + u m ) 1 cos( t + V + u ) sin( t + V + u ) L cos( t + V + u ) sin( t + V + u ) 1 2 1 1 1 2 1 1 m 2 m m m 2 m m A= . 1 cos( 1 t n + V1 + u1 ) sin( 1 t n + V1 + u1 ) L cos( m t n + Vm + u m ) sin( m t n + Vm + u m )
Langkah Pengolahan data dengan Metode Kuadrat Terkecil Hitung ATA dan ATY untuk t1 (Data pada jam pertama): A(1) =1 ; A(2) = cos(1t1+V1+u1) ; A(3) = sin(1t1+V1+u1)

A(18) = cos(9t1+V9+u9) ; A(19) = sin(9t1+V9+u9) t = (JD-1)*24+jam+menit/60 ; JD = Junian Date = JumlahHari(bulanKe n) + tanggal Contoh : 2 Feb JD=31+2 ; 3 Maret JD=59+3 ; 4 April 5 Mei JD=120+5 ; 6 Juni JD=151+6 ; 7 Juli 8 Agus JD=212+8 ; 9 Sept JD=243+9 ; 2 Okt 3 Nov JD=304+3 ; 4 Des JD=334+4 Jika Tahun Kabisat dan lewat February, maka JD naik 1. = Kecepatan sudut (der/jam) (M2) = (1) = 28.98410425; (N2) = (3) = 28.43972957; (K1) = (5) = 15.04106863; (P1) = (7) = 14.95893136; (MS4) = (9) = 58.98410424 (S2) (K2) (O1) (M4) = = = = (2) = 30.0000000; (4) = 30.08213726; (6) = 13.94303558; (8) = 57.9682085; V(3) = -3 * s + 2 * h + p V(6) = -2 * s + h + 270 V(9) = V(1)

JD=90+4 JD=181+7 JD=273+2

V(1) = -2 * s + 2 * h V(2) = 0 V(4) = 2 * h V(5) = h + 90 V(7) = 350 V(8) = V(1) * 2 s = 277.02 + (481267.89 * T) + (0.0011 * T ^ 2) h = 280.19 + (36000.77 * T) + (0.0003 * T * T)

-9-

p = 334.39 + (4069.04 * T) + (0.0103 * T * T) T = ((365 * (yr - 1900)) + Fix((yr - 1901) / 4)) / 36525 yr = tahun pengamatan u(1) = -0.0374 * Sin(N) u(2) = 0 u(3) = u(1) u(4) = -0.3096 * Sin(N) + 0.0119 * Sin(2 * N) - 0.0007 * Sin(3 * N) u(5) = -0.1546 * Sin(N) + 0.0119 * Sin(2 * N) - 0.0012 * Sin(3 * N) u(6) = 0.1885 * Sin(N) - 0.0234 * Sin(2 * N) + 0.0033 * Sin(3 * N) u(7) = 0 u(8) = 2 * u(1) u(9) = u(1) N = (259.16 - (1934.14 * T) + (0.0021 * T * T)) N,V dan u dalam satuan derajat nilai s,h,p,V,N dan u antara 0-360 Hitung B=ATA dan D=ATY Hitung ATA dan ATY untuk t2 (data pada jam kedua): Hitungan untuk t2 sama t1 , misal untuk t1 = jam 0:00 untuk t2 = jam 1:00. Kemudian jumlahkan masing-masing elemen B dan D yang kedua dengan hasil B dan D yang pertama. Jika menggunakan bahasa pemrograman Basic, sbb: For i = 1 To M : For j = 1 To M : B(i, j) = B(i, j) + A(i) * A(j) : Next j, i For i = 1 To M : D(i) = D(i) + A(i) * Y : Next i Dengan cara yang sama untuk t3 dan seterusnya sampai data habis dihitung seperti diatas. Hitung ATA invers Hitung X B=(ATA)-1 X= B*D ; S0 =X(1)

Hitung amplitude dan fase

Aj =

X i2 + X i2+1 fj

; j=1 to 9 ; i = 2 to 18

X g j = arctan i +1 ; perhatikan kuadran X i


f(1) = 1.004 - 0.0373 * Cos(N) + 0.0002 * Cos(2 * N) f(2) = 1 f(3) = f(1) f(4) = 1.0241 + 0.2863 * Cos(N) + 0.0083 * Cos(2 * N) - 0.00015 * Cos(3 * N) f(5) = 1.006 + 0.115 * Cos(N) - 0.0088 * Cos(2 * N) + 0.0006 * Cos(3 * N) f(6) = 1.0089 + 0.1871 * Cos(N) - 0.0147 * Cos(2 * N) + 0.0014 * Cos(3 * N) f(7) = 1 f(8) = f(1) * f(1) f(9) = f(1)

-10-