Anda di halaman 1dari 103

I.

PEMBAGIAN ALAT BERAT


Alat berat dapat dibagi menurut dua kategori: berdasarkan penggerak utamanya, dan Berdasarkan fungsinya.

A.

Pembagian Berdasarkan Penggerak Utama

Pembagian alat berat berdasarkan penggerak utamanya, dapat digolongkan menjadi dua yakni traktor roda kelabang (Crawler Tractor) dan traktor yang menggunakan roda ban (wheel tractor).

1.

Traktor Roda Kelabang (Crawler Tractor)

Crawler Tractor dibutuhkan jika antara roda dan permukaan tanah dikehendaki gesekan yang besar, serta mendapatkan tenaga maksimum pada waktu kerja, sebab Crawler Tractor tidak bisa selip, tetapi kecepatannya sangat rendah; kecepatan maksimum Crawler Tractor hanya sekitar 4,5 km/ jam. Umumnya Crawler Tractor digunakan untuk menggusur tanah, contoh Crawler Tractor terdapat pada Gambar: 1.1 Kegunaan Crawler Tractor terutama sebagai: Tenaga penggerak untuk mendorong, misalnya: Buldoser, Loader. Tenaga penggerak untuk penarik, misalnya: Scrapper, Sheep foot roller. Tenaga penggerak alat angkut, misalnya: truck. Tempat duduknya alat-alat berat lain, misalnya: Crane

Gambar: 1.1. Traktor Roda Kelabang (Crawler Tractor)

2.

Traktor Roda Ban (Wheel Tractor)

Wheel Tractor menggunakan ban karet yang dipompa (Gambar: 1.2), dan penggunaannya dimaksudkan untuk memperoleh kecepatan yang lebih besar dari Crawler Tractor, tetapi Wheel Tractor memiliki daya tarik yang lebih kecil dari Crawler Tractor.

Gambar: 1.2. Traktor Roda Ban (Wheel Tractor)

Tipe Wheel Tractor ada dua yaitu, Wheel Tractor roda dua dan Wheel Tractor roda empat. Jika dibandingkan dengan yang menggunakan roda empat Wheel Tractor roda dua mempunyak kemungkinan selip yang lebih besar, tetapi sebaliknya Wheel Tractor ruda dua memiliki kemampuan menarik yang lebih besar, sebab seluruh beratnya dilimpahkan pada dua roda saja. Selain itu pemeliharaan Wheel Tractor dengan roda dua lebih murah karena jumlah rodanya lebih sedikit; tetapi karena rodanya lebih sedikit itulah maka Wheel Tractor mempunyai ketahanan gelinding yang lebih kecil. Wheel Tractor roda empat lebih nyaman dikemudikan; pada kondisi kerja jalan yang sangat jelek lebih stabil sehingga kemungkinan berjalan pada kecepatan yang lebih tinggi lebih besar. Traktor jenis ini jika dilepas dapat bekerja sendiri.

Tabel I.1 Perbedaan Crawler Tractor dan wheel tractor. Crawler Tractor Wheel Tractor Memiliki kemampuan tarik yang besar Kemampuan tarik lebih kecil Kecepatannya relatif kecil Kecepatan relatif besar Luas bidang singgung antara roda dengan tanah Luas bidang singgung antara roda dengan lebih besar tanah lebih kecil Dapat bekerja pada kondisi tanah yang buruk Efektivitas kerja dipengaruhi oleh kondisi tanah di lapangan Kemungkinan selip tidak ada Mungkin terjadi selip

B.

Pembagian Berdasarkan Fungsi

Berdasarkan fungsinya, traktor dapat dibedakan menjadi: (1) Peralatan pekerjaan tanah, (2) Peralatan pengangkut, (3) Peralatan fondasi, (4) Peralatan Stone Crusher, (5) Peralatan Pengaspalan, dan (6) Peralatan lain-lain. Mengingat materi perkuliahan ini adalah alat berat yang digunakan sebagai pemindahan tanah mekanis; maka peralatan yang dibahas hanya yang berkaitan dengan pemindahan tanah mekanis saja yaitu (1) Peralatan pekerjan tanah, dan (2) Peralatan pengangkut.

1.

Peralatan Pekerjaan Tanah

Peralatan pekerjaan tanah dapat dibagi menjadi lima kategori yaitu: (a) alat penggusur tanah, (b) alat penggali tanah, (c) alat pengangkut tanah, (d) alat perata tanah, dan (e) alat pemadat tanah.

a.

Alat Penggusur Tanah

Secara umum alat penggusur tanah dapat dibedakan menjadi dua yaitu Bulldozer (Buldoser) dan scarapper.

Buldoser Buldoser dapat dibedakan menjadi dua yakni menggunakan roda kelabang (Crawler Tractor Dozer) dan Buldoser yang menggunakan roda karet (Wheel Tractor Dozer), Bentuk ke dua Buldoser tersebut seperti pada Gambar: 1.13 Pada dasarnya Buldoser menggunakan traktor sebagai tempat dudukan penggerak utama, tetapi lazimnya traktor tersebut dilengkapi dengan sudu sehingga dapat berfungsi sebagai Buldoser yang bisa untuk menggusur tanah.

Sudu
a. Bulldozer Roda Kelabang (CrawlerTractor Dozer)

Gambar: 1.3. Bulldozer Roda Karet (Wheel Tractor Dozer)

Buldoser digunakan sebagai alat pendorong tanah lurus ke dapan maupun ke samping, tergantung pada sumbu kendaraannya. Untuk pekerjaan di rawa digunakan jenis Buldoser khusus yang disebut Swamp Bulldozer. (Gambar: 1. 14)

Gambar: 1.4 Swamp Buldozer

Tabel I.2. Perbandingan antara Crawler Tractor Dozer dan Wheel Tractor Dozer Crawler Tractor Dozer Wheel Tractor Dozer Punya daya dorong besar, terutama pada tanah Daya dorongnya lebih kecil tapi kecepatannya lunak karena bidang geser besar lebih besar Dapat digunakan pada tanah lumpur maupun Tak dapat digunakan pada tanah lumpur, jika berbatu tajam digunakan pada tanah berbatu usia ban menjadi lebih pendek Untuk membawa ke lokasi harus diangkut, Dapat dibawa ke lokasi tanpa diangkut karena jika berjalan di aspal dapat merusak aspal Memiliki jarak angkut yang pendek (maksumum Jarak angkutnya bisa jauh 30 feet) Operator cepat lelah Enak dikendarai Jalan proyek tak perlu dipelihara Jalan proyek harus dipelihara

Scrapper Alat ini digunakan untuk menggali muatannya sendiri, lalu mengangkut ke tempat yang ditentukan, kemudian muatan itu disebagkan dan diratakan. Scrapper mampu menggali/ mengupas permukaan tanah sampai setebal + 2,5 mm atau menimbun suatu tempat sampai tebal minimum + 2,5 mm pula. Scrapper dapat digunakan untuk memotong lereng tanggul atau lereng bendungan, menggali tanah yang terdapat diantara bangunan beton, meratakan jalan raya atau lapangan terbang. Efisiensi penggunaan Scrapper tergantung pada: (1) kedalaman tanah yang digali, (2) kondisi mesin, dan (3) operator yang bekerja. Jika ditinjau dari penggeraknya, jenis Scrapper ada dua macam yakni: (1) Scrapper yang ditarik Buldoser (Down Scrapper Tractor), dan (2) Scrapper yang memiliki mesin penggerak sendiri (Self Propelled Scrappers). Down Scrapper Tractor adalah jenis Scrapper kuno, Scrapper ini bekerja dengan ditarik oleh Buldoser atau traktor sehingga punya kapasitas produksi yang kecil, sebab gerakan Buldoser sebagai alat penarik sangat lamban, dan jarak angkut yang ekonomis kurang dari 67 m. Self Propelled Scrappers adalah jenis Scrapper yang modern dan saat ini banyak digunakan. Scrapper ini memiliki mesin penggerak khusus sehingga gerakannya gesit dan lincah. Produksi Self Propelled Scrappers dapat tinggi, jika digunakan untuk mengangkut jarak yang sedang (+ 5 km) efektivitasnya dapat menyaingi truck, baik itu dalam produksi beaya tiap ton (m3) maupun kecepatannya; bentuk Self Propelled Scrappers terdapat pada Gambar: 1.5.

Gambar: 1.5

Self Propelled Scrappers

b.

Alat Penggali Tanah (Excavator)

Alat penggali sering juga disebut Excavator; ada dua tipe Excavator yaitu: (1) Excavator yang berjalan menggunakan roda kelabang (Crawler Excavator) dan (2) Excavator yang menggunakan roda karet dipompa (Wheel Excavator). Bentuk ke dua jenis Excavator ini terdapat pada Gambar 1.6. Bagian-bagian utama dari Excavator antara lain: Bagian atas yang dapat berputar (Revolving unit) Bagian bawah untuk berpindah tempat (Travelling unit) Bagian-bagian tambahan (attachment) yang dapat diganti sesuai dengan jenis pekerjaan yang akan dikerjakan.

a. Wheel Excavator Gambar: 1.6 Excavator

b. Crawler Excavator

Bagian-bagian tambahan yang penting diketahui adalah: Crane, Shovel, Back Hoe, Dragline, dan Clam shell. Bagian bawah Excavator ada yang menggunakan roda rantai (Crawler truck) ada yang dipasang di atas truck (mounted truck) seperti ditunjukkan pada Gambar: 1.7

a. Truck Crawler Gambar: 1.7. Bagian Bawah Excavator

b. Truck Mounted

Crane Crane (alat pengangkat) jenisnya ada bermacam-macam: Crane gelegar, crane kolom putar, crane putar, crane portal, crane menara, crane kabel, dan mobil crane. Beberapa contoh jenis Crane terdapat pada Gambar: 1.8, jenis yang banyak digunakan dalam proyek-proyek bangunan sipil yang berkaitan dengan pemindahan tanah adalah mobile crane, sebab crane ini dapat dengan mudah dipindah-pindahkan, karena pekerjaan pemindahan tanah secara mekanis membutuhkan mobilitas alat yang relatif tinggi.

a. Cable cranes Gambar: 1.8. Macam-macam Crane

a. Crane Putar, banyak digunakan di pelabuhan laut

b. Crane Kolom Putar, digunakan untuk konstruksi bangunan tinggi

d. Crane Gelegar, banyak digunakan di pabrik pabrik

c. Crane Portal, (kolom portal tidak kelihatan), crane jenis ini banyak digunakan di pabrik atau gudang-gudang besar.

e. Crane Menara f. Mobile Crane Gambar: 1.8. (lanjutan)

Shovel Alat ini baik untuk menggali tanah tanpa bantuan alat lain, dan memasukkannya ke dalam truck atau alat angkut lainnya. Shovel dapat juga digunakan untuk membuat timbunanbahan-bahan persediaan seperti kerikil, pasir, semen PC, dan sebagainya. Umumnya Shovel dipasang di Truck Crawler. Dalam pengunaannya Shovel terutama digunakan untuk menggali tebing yang letaknya lebih tinggi dari tempat kedudukan alat itu sendiri.

Gambar: 1.9. Shovel

Back Hoe Back Hoe adalah alat dari golongan Shovel yang khusus dibuat untuk menggali material yang letaknya di bawah tempat kedudukan alat itu. Jenisnya ada dua yaitu Wheel Back Hoe dan Crawler Back Hoe seperti ditunjukkan pada Gambar: 1.10.

a. Wheel Back Hoe (Back Hoe dengan roda karet) Gambar: 1.10. Jenis Back Hoe.

b. Crawler Back Hoe (Back Hoe yang menggunakan roda rantai)

Dragline Dragline merupakan alat penggali tanah dan dapat sekaligus memuatkan pada alatalat angkut misalnya truck, traktor penarik gerobak, atau meletakkan tanah ke tempat-tempat penimbunan yang dekat dengan lokasi galian; bentuk fisik Dragline seperti pada Gambar: 1.11.

Drag Bucket dari Dragline Gambar: 1.11. Dragline

Pada proyek-proyek yang membutuhkan pekerjaan penggalian tanah dengan volume besar, biasanya Dragline bekerja bersama-sama dengan Shovel; fungsi Shovel untuk menggali (terutama pada lokasi-lokasi yang letaknya berada di atas alat) sedangkan Dragline bekerja di daerah permukaan tanah yang bekas digali. Jika hasil galiannya terus dimuat ke dalam truck, maka truck tersebut tidak perlu masuk ke dalam galian sebab ada kemungkinan truck terjebak di lumpur dan tak bisa keluar. Dragline dapat digunakan pada lokasi yang berlumpur dan penuh air. Dragline sangat baik untuk penggalian parit-parit, sungai yang memiliki tebing yang curam sehingga kendaraan untuk mengangkut hasil galian tak perlu masuk ke lokasi galian. Kerugian penggunaan Dragline untuk penggalian adalah produktivitasnya sangat rendah, jika dibandingkan dengan Shovel yang punya kapasitas yang sama hasilnya hanya sekitar 70 sampai 80% kapasitas Shovel.

Clam Shell Perbedaan antara Dragline dan Clam Shell hanya terletak pada Drag Bucket yang digunakan saja. Clam Shell lebih cocok jika digunakan pada bahan-bahan yang berbutiran lepas seperti pasir, pasir, batu pecah, batu bara dan sebagainya. Clam Shell bekerja dengan mengisi bucket, mengangkat ke arah vertikal ke atas kemudian 10

dengan gerakan memutar, mengangkut ke tempat yang dikehendaki disekelilingnya, dan kemudian ditumpahkan ke dalam truck atau alat angkut lainnya, atau hanya menumpuk material yang digali ke tempat-tempat yang ada disekelilingnya. Cara mengangkat dan membuang Clam Shell aalah dalam arah vertikal, oleh karena itu Clam Shell sangat sesuai jika digunakan untuk pekerjaan pengisian gerobakgerobak yang letaknya lebih tinggi dari Clam Shell tersebut. Contoh bentuk fisik Clam Shell seperti pada Gambar: 1.12.

Drag Bucket dari Clamshell

Gambar: 1.12. Clamshell

Alat Pengangkut (Loader) Loader adalah alat pemuat hasil galian/ gusuran dari alat berat lainnya seperti Buldoser, Grader dan sejenisnya. Pada prinsipnya Loader merupakan alat pembantu untuk menngangkut material dari tempat-tempat penimbunan ke alat pengangkut lain. Selain itu Loader dapat digunakan sebagai alat pembersih lokasi (Cleaning) yang ringan, untuk menggusur bongkaran, menggusur tonggak-tonggak kayu kecil, menggali pondasi basement dan lain-lain. Loader merupakan alat pengangkut material dalam jarak pendek, bila digunakan sebagai alat pengangkut maka Loader dapat bekerja lebih aik dari Buldoser, sebab dengan menggunakan Loader tak ada material yang tercecer. Jenis Loader ada dua yaitu : (1) Loader dengan roda rantai (Crawler Loader), dan (2) Loader dengan roda karet (Wheel Loader). Contoh jenis Loader terdapat pada Gambar: 1.13

11

a. Crawler Loader Gambar: 1.13. Jenis Loader

b. Wheel Loader

Dalam pemilihan Loader sebagai alat pengangkut, hal yang perlu diperhitungkan adalah beban harus diperhitungkan jangan sampai berat muatan melebihi berat dari loader itu sendiri, sebab ada kemungkinan Loader dapat terjungkal ke depan, lebihlebih jika digunakan Wheel Loader.

Alat Perata Tanah (Grader)

Alat perata tanah (Grader) berfungsi untuk meratakan pembukaan tanah secaa mekanis; dusamping itu Grader dapat dipakai pula untuk keperluan lain misalnya untuk penggusuran tanah, pencampuran tanah, meratakan tanggul, pengurugan kembali galian tanah dan sebagainya; akan tetapi khusus untuk penggunaan pada pekerjaan pengurugan kembali galian tanah hasilnya kurang memuaskan. Bentuk Grader sepeti pada Gambar: 1.14, beberapa pekerjaan yang dapat dikerjakan oleh Grader antara lain adalah: Perataan tanah (Spreading). Pekerjaan tahap akhir (finishing) pada pekerjaan tanah. Pencampuran tanah maupun pencampuran material (Side cast/ mixing). Pembuatan parit (Crowning Ditching) Pemberaian butiran tanah (scarifying)

Penggunaan untuk finishing pekerjaan tanah, diperlukan kondisi tanah yang sudah dalam kondisi mampat semaksimal mungkin.

12

Gambar: 1.14. Grader

Alat Pemadat Tanah (Compactor) Pekerjaan pembuatan landasan pesawat terbang, jalan raya, tanggul sungai dan sebagainya tanah perlu dipadatkan semaksimal mungkin. Pekerjaan pemadatan tanah dalam skala kecil pemadatan tanah dapat dilakukan dengan cara menggenangi dan membiarkan tanah menyusust dengan sendirinya, namun cara ini perlu waktu lama dan hasilnya kurang sempurna; agar tanah benar-benar mampat secara sempurna diperlukan cara-cara mekanis untuk pemadatan tanah. Pemadatan tanah secara mekanis umumnya dilakukan dengan menggunakan mesin penggilas (Roller); klasifikasi Roller yang dikenal antara lain adalah: Berdasarkan cara geraknya; ada yang bergerak sendiri, tapi ada juga yang harus ditarik traktor. (Gambar: 1.15) Berdasarkan bahan roda penggilasnya, ada yang terbuat dari baja (Steel Wheel) dan ada yang terbuat dari karet (pneumatic). Dilihat dari bentuk permukaan roda; ada yang punya permukaan halus (plain), bersegmen, berbentuk grid, berbentuk kaki domba, dan sebagainya. Dilihat dari susunan roda gilasnya; ada yang dengan roda tiga (Three Wheel), roda dua (Tandem Roller), dan Three Axle Tandem Roller. Alat pemadat yang menggunakan penggetar (viberator). 13

a. Wheel Riller

c. Ditarik Traktor

c. Grid Roller

Gambar: 1. 15 Roler yang Ditarik Traktor

Three Wheel Roller (Gambar: 1.16) sering juga disebut Macadam Roller, untuk menambah bobot alat ini, roda silinder baja yang kosong diisi dengan zat cair (minyak atau air), bahkan dalam kondisi tertentu kadang-kadang diisi dengan pasir. Berat mesin penggilas ini berkisar antara enam sampai 12 ton.

Gambar: 1.16 Three Wheel Roller

Tandem Roller (Gambar:1.17) ada dua jenis, yaitu berporos dua dan berporos tiga, berat Tandem Roller berkisar antara delapan sampai 14 ton..

14

Gambar: 1.17. Tandem Roller

Segment Roller (Gambar: 1.18) merupakan mesin penggilas yang memiliki roda tersusun dari lempengan-lempengan baja; walaupun masuknya roda beserta lempengannya ke dalam tanah tidak terlalu dalam, alat ini mampu memberikan efek pemadatan tanah pada bagian bawah.. Selain itu alat ini juga membantu menekan kelebihan air yang terkandung dalam lapisan tanah yang sedang dipadatkan, sehingga tanah memiliki kepadatan yang maksimal.

Segment Roller
Gambar: 1.18a. Segment Roller Gambar: 1.18b. Pad Food Roller

Grid Roller (Gambar: 1.19) mempunyai mesin penggilas yang berbentuk anyaman; alat ini memberikan efek pemadatan pada bagian bawah permukaan, namun pemadatannya tak bisa rata, sebab rodanya berbentuk anyaaman. Grid Roller sangat baik jika digunakan untuk menggilas lapisan material berbutir kasar dan relatif tak

15

lengket; Grid Roller merupakan alat pemadat tanah yang relatif baru dan belum banyak digunakan secara luas.

Gambar: 1.19. Grid Roller

Pneumatic Roller (Gambar: 1.20) sering juga disebut Universal Compactor, rodaroda penggilasnya terdiri dari ban karet yang dipompa (pneumatic). Roda-roda tersebut kecoali dapat bergerak maju dapat pula digetarkan atau digerakkan naik turun untuk memberikan tumbukan yang kuat. Alat ini beratnya 80 ton, dalam satu kali lintasan mampu memadatkan material timbunan sedalam 24 inci.

Gambar: 1.20. Pneumatic Roller

16

Vibvrator Roller (Gambar: 1.21), adalah mesin pemadat dengan roda silinder baja dibagian depan yang dapat digetarkan; efisiensi alat ini sangat tinggi dan dapat digunakan secara luas dalam setiap jenis pemadatan tanah.

Gambar: 1.21. Vibrator Roller

Peralatan Pengangkut

Alat yang khusus digunakan sebagai alat angkut adalah truck sebab: mempunyai kemampuan yang besar, dapat bergerak dengan cepat, punya kapasitas angkut yang besar, dan beaya operasional yang murah. Salah satu syarat yang perlu dipenuhi agar truck dapat digunakan dengan baik, efektif, dan efisien adalah jalan angkut yang cukup rata, kuat, dan keras. Pada jalan angkut dengan kondisi jelek, perlu penggunaan truck-truck cross countrying yang harga dan beaya operasionalnya lebih tinggi jika dibandingkan dengan truck-truck biasa. Truck jenis ini dalam pekerjaan konstruksi bangunan sipil dikenal dengan nama Dump Truck. Dump Truck dapat menumpahkan muatan secara hidrolis yang menyebabkan satu sisi baknya terangkat, sedangkan satu sisi lainnya berfungsi sebagai sumbu putar atau engsel. Perbandingan bentuk antara truck dan Dump Truck terdapat pada Gambar: 1.22. Jika dilihat dari cara pengosongan muatan, jenis truck dapat dibedakan menjadi tiga yaitu: (1) End-Dump atau Rear Dump, yaitu Dump Truck dengan cara pengosongan muatan ke belakang, (2) Side-Dump, Dump Truck dengan cara pengosongan muatan ke samping, dan (3) Bottom-Dump, Dump Truck dengan cara pengosongan muatan ke samping. Perbedaan ke tiga Dump Truck di atas dapat dilihat pada Gambar: 1.23.

17

a. Truck, bak truck tidak dapat diangkat, untuk mengeluarkan muatannya harus dilakukan secara maual dengan tenaga manusia

b. Dump Truck, sisi bak truck dapat diangkat secara hidrolis untuk menumpahkan muatannya.

Gambar: 1.22. Perbandingan Truck dan Dump Truck

a. End- Dump b. Side-Dump

c. Bottom-Dump Gambar: 1.23. Pembagian Dump Truck Menurut Cara Pengosongan Muatan

18

Berdasarkan ukuran muatannya, dump truck dapat dibedakan menjadi tiga: Ukuran kecil, memiliki kapasitas angkut maksimum 25 ton, ukuran sedang memiliki kapasitas 25 sampai 100 ton, dan ukuran besar jika kapasitasnya lebih dari 100 ton. Bentuk ke tiga Dump Truck tersebut seperti pada Gambar: 1.24.

a. Dump Truck ukuran kecil (Kapasitas 18 Ton)

b. Dump Truck ukuran sedang (Kapasitas 35 Ton)

19

c. Dump Truck ukuran besar Gambar: 1.24. Pembagian Dump Truck berdasarkan ukurannya. Tabel. 1.3. Untung- rugi penggunaan truck ukuran kecil Keuntungan Kerugian Lebih lincah Punya kapasitas yang kecil Lebih cepat dan ringan sehingga Membutuhkan banyak pengemudi tidak merusak jalan Bila truck macet, kemerosotan Perawatan lebih banyak produksi kecil Lebih mudah untuk disesuaikan Biasanya bahanbakarnya lebih mahal dengan kapasitas alat gali

20

II.

ANALISIS TEMPAT KERJA

Untuk dapat membuat rencana kerja yang realistis, rapi, dan teratur, sebelum menjatuhkan pilihan jenis alat yang akan digunakan, perlu dipelajari dan penelitian kondisi lapangan dimana pekerjaan akan dilakukan. Komponen-komponen lapangan yang perlu diperhatikan adalah: Jalan dan sarana angkutan. Jenis vegetasi di lokasi proyek Macam dan perubahan volume dari material. Daya dukung material setempat. Iklim. Ketinggian dari permukaan laut. Kemiringan, jarak, dan kondisi jalan. Efisiensi kerja. Syarat penyelesaian pekerjaan. Syarat penimbunan tanah. Waktu. Ongkos produksi.

Data jalan dan sarana angkutan yang ada dibutuhkan untuk pengangkutan alat-alat mekanis dan logistik menuju ke tempat kerja; kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi adalah: (1) Lokasi proyek dilalui, atau dekat dengan jalan umum yang sudah ada. (2) Lokasi proyek dilalui, atau dekat dengan jalur kereta api. (3) okaasi proyek dekat dengan sungai besar, sehinggga memungkinkan transportasi lewat sungai. (4) Lokasi proyek dekat dengan lapangan terbang atau pelabuhan laut. (5) Belum ada jalur umum atau kereta api ke arah lokasi proyek, sehingga perlu pembuatan jalan baru ke jalau umum terdekat yang sudah ada. Jenis vegetasi atau tumbuhan yang ada di t empat kerja perlu diteliti, apakah lokasi tersebut terdiri dari hutan besar, semak, rawa, pohon besar dengan akar yang kuat, dan sebagainya. Dengan demikian dapat ditentukan jenis alat berat yang akan dipakai, berapa jumlahnya, bagaimana cara pembersihannya, berapa lama alat itu akan dipakai, dan berapa ongkosnya. Macam dan Perubahan Volume dari Material di suatu lokasi perlu diketahui, sebab pada dasarnya tiap macam tanah atau batuan memiliki sifat fisik dan mineral yang berbeda, sehingga macam material yang terdapat disuatu lokasi proyek harus diketahi dengan tepat, apa jenis dari material tersebut. Pekerjaan pemindahan tanah pada dasarnya merupakan pekerjaan untuk meratakan suatu daerah; umumnya jika digali tanah atau batuan akan bertambah volumenya sekitar 30%, dan akan berkurang sekitar 10% kalau sudah dipadatkan kembali di tempat lain. Sifat-sifat tanah seperti basah/ kering, lengket/ tidak, keras/ lunak, dan sebagainya perlu diketahui, sebab akan mempengaruhi hasil kerja alat yang dipakai dan lama pekerjaan itu harus dilakukan. Tanah atau batuan yang keras lebih sukar untuk dikoyak, digali, atau dikupas; hal ini tentu akan menurunkan produktivitas alat 21

mekanis yang dipakai. Tanah yang banyak mengandung humus dan subur, harus dipisahkan sebab dapat dipakai lagi untuk menutup tempat penimbunan bila daerah tersebut harus segera ditanami (reklamasi). Daya dukung material setempat sangat menentukan pemilihan jenis alat, sebab ketika alat berat berada di atas tanah atau batuan, alat tersebut akan memberikan gaya tekan pada lapisan tanah/ batuan dimana alat itu berada. Tanah/ batuan yang tertekan itu akan memberikan reaksi atau perlawanan yang disebut daya dukung. Bila daya tekan lebih besar dari daya dukung material, maka alat tersebut akan tenggelam/ terbenam. Nilai daya dukung tanah dapat diketahui dengan cara pengukuran langsung di lapangan menggunakan cone penetrometer. Iklim dapat mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan, hujan yang sangat lebat dapat menghambat kelancaran pekerjaan, sebab tanah menjadi becek dan lengket yang mengakibatkan alat tak dapat bekerja secara maksimal; tetapi sebaliknya, pada musim kem arau akan menimbulkan banyak debu. Untuk mengetahui kondisi klim setempat, diperlukan data curah hujan dari Stasiun Klimatologi terdekat. Ketinggian dari permukaan laut berpengaruh pada kerja mesin, sebab cara kerja mesin dipengaruhi oleh kerapatan udara setempat. Semakin tinggi lokasi proyek, kerapatan udara di tempat itu semakin rendah. Berdasarkan pengalaman, tenaga diesel akan berkurang kira-kira 3% setiap kenaikan 300 ft dari permukaan laut, hal ini akan menyebabkan turunnya produksi alat, dan dapat menambah ongkos untuk tiap satuan volume atau berat. Kemiringan, jarak, dan kondisi jalan perlu diperhitungkan, sebab kondisi jalan yang akan dilalui sangat berpengaruh pada daya angkut dan kemampuan alat angkut yang dipakai. Jalur jalan yang baik, membuat kapasitas angkut dari alat yang dipakai menjadi bedar, sebab alat angkut dapat bergerak lebih cepat. Kemiringan dan jarak angkut harus diukur dengan teliti, sebab akan menentukan cycle time (waktu tempuh) dalam pengangkutan material tersebut. Kecerobohan penentuan kemiringan, jarak angkut, dan kondisi jalan (lebar, kekuatan, dan kelas jalan) dapat menurunkan jumlah material yang diangkut oleh alat angkut yang digunakan, hal ini akan menambah ongkos pengangkutan. Efisiensi kerja perlu dipertimbangkan karena orang atau mesin tak mungkin selamanya mampu bekerja 60 menit selama satu jam, sebab pasti ada hambatanhambatan walau sekecil apapun. Berdasarkan pengalaman lapangan, efisiensi kerja jarang dapat mencapai 83%. Syarat penyelesaian pekerjaan untuk mengetahui, kapan pekerjaan itu telah dianggap selesai; biasanya ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi, misalnya ditempat-tempat tertentu harus ditanami pohon, bunga, rumput dari jenis tertentu, dan sebagainya. Pekerjaan-pekerjaan tersebut harus dihitung, karena menambah waktu kerja, peralatan, dan ongkos kerja.

22

Syarat penimbunan tanah untuk mengetahui bagian pekerjaan mana yang mrnghendaki timbunan perlu diratakan, dipadatkan, atau persyaratan kelembaban tertentu supaya tidak terjadi amblesan dan menjamin kemantapan lereng. Untuk itu ada kemungkinan dibutuhkan alat-khusus. Kemungkinan lain timbunan disyaratkan harus rapi dan dapat segera ditanami; halhal di atas akan menambah waktu kerja, alat, dan ongkos; oleh sebab itu syarat penimbunan harus dicermati agar semua jenis pekerjaan yang dipersyaratkan dapat diperhitungkan dengan teliti. Waktu berkaitan dengan alat berat yang digunakan, sebab pekerjaan yang dilakukan menggunakan alat berat harus diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Oleh sebab itu kapasitas harian yang sudah ditentukan harus dipenuhi, sebab ongkos sewa alat berat umumnya dihitung dalam satuan jam sehingga beaya sewa sangat tinggi. Untuk itu perlu pengetahuan dan data lengkap untuk mengetahui perkiraan kemampuan alat yang dipakai, agar jumlahnya cukup memenuhi kapasitas harian yang telah ditentukan. Bila pekerjaan yang menggunakan alat berat itu di sub oleh kontarktor lain, maka bila pekerjaan dapat diselesaikan sebelum batas waktu yang telah disepakati, sub kontraktorr berhak mendapatkan premi dari perhitungan sewa alat; tapi sebaliknya jika terlambat, maka nontraktor harus membayar ganti rugi ongkos sewa alat. Ongkos produksi yang harus diperhitungkan dengan cermat meliputi: Ongkos tetap, misalnya asuransi, depresiasi, pajak, dan bunga pinjaman. Ongkos operasional, misalnya upah, ongkos pemeliharaan alat, service alat, pembelian suku cadang, BBM, dan sebagainya. Ongkos pengawasan, misalnya gaji mandor, teknisi, direksi, dan lainlain. Ongkos lain-lain, misalnya biaya upacara, peresmian, jamuan untuk tamu, dan sejenisnya.

23

III PENGGUNAAN DAN KEMAMPUAN ALAT BERAT

Alat berat yang umum dipakai dalam pekerjaan pemindahan tanah mekanis ada tujuh macam yaitu: Buldoser Power Scrapper Alat pengangkut (Hauling units) Alat pemuat (Loading units) Alat penggaru (Rooters/ Rippers) Alat penggilas (Rollers) Graders

A.

Buldoser

Alat ini merupakan alat berat yang sangat kuat untuk pekerjaan pekerjaan: penggalian tanah (excavator), mendorong tanah, menggusur tanah (dozer), membantu pekerjaan alat-alata muat, dan pembersihan lokasi (land clearing).

1.

Kegunaan

Kegunaan Buldoser sangat beragam antara lain untuk: Pembabatan atau penebasan (cleraring) lokasi proyek. Merintis (pioneering) jalan proyek. Gali/ angkut jarak pendek. Pusher loading. Menyebarkan material. Penimbunan kembali. Trimming dan sloping Ditching Menarik Memuat.

Sebagai alat pembabat atau penebang, Buldoser mampu membersihkan lokasi dari semak-semak, pohon besar/ kecil, sisa pohon yang sudah ditebang, menghilangkan/ membuang bagian tanah atau batuan yang menghalangi pekerjaanpekerjaan selanjutnya. Seluruh pekerjaan ini dapat dikerjakan sebelum pemindahan tanah itu sendiri dilakukan atau dikerjakan bersama-sama. Pembabatan ada beberapa cara, tergantung dari keadaan lapangan; bila daerah itu hanya ditumbuhi semak dan pohon kecil dengan diameter yang kurang dari 10 cm, 24

cukup langsung didorong. Kalau diameternya agak besar (10 cm < < 25 cm) dan akarnya kokoh, ada dua cara untuk merobohkannya. Didorong bebarapa kali dengan perlahan supaya bagian pohon yang kering gugur, lalu didorong secara mendadak dengan sedikit mengangkat sudunya sampai pohon roboh. Pohon dilingkari dengan rantai lalu ditarik oleh dia buah Buldoser.

Jika diameter pohon itu lebih besar dari 25 cm, ada tiga cara yang dapat dilakukan. Tanah disekeliling pohon digali supaya akar-akarnya putus, lalu pohon didorong. Bila pohon tidak roboh, pohon dililit dengan rantai lalu ditarik Buldoser, tetapi jika di lokasi terdapat dua atau tiga Buldoser, lebih baik jika ditarik dengan Buldoser pada arah masing-masing menerong agar supaya lebih aman. Jika dengan cara-cara di atas pohon itu tetap tidak roboh, batang digergaji, kemudian tunggulnya diangkat dengan peledakan. Jika di lokasi proyek terdapat bongkahan batu besar yang mengganggu pekerjaan, maka batu harus dicongkel dan didorong dari sebelah luar sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya sampai pada batas luar daerah kerja. Jika batu tersebut ada disebuah lembah, maka lerengnya harus digali dulu agar tidak terlalu curam, sebab ada kemungkinan Buldoser akan terbalik. Pioneering atau pekerjaan perintisan merupakan kelanjutan dari pekerjaan pembabatan/ penabasan. Pekerjaan merintis meliputi: pekerjaan perataan tanah, pembuatan jalan darurat untuk transportasi alat mekanis, dan jika perlu adalah pembuatan saluran air untuk drainase tempat kerja. Gali/ angkut jarak pendek adalah menggali lalu mendorong tanah galian itu ke suatu tempat tertentu, misalnya pada pembuatan jalan raya, kanal, dan sebagainya. Bila kondisi jalan tidak licin, penggunaan Buldoser roda karet akan lebih efisien. Jika dibandingkan dengan cara pemindahan tanah yang lain, pada tahap-tahap tertentu cara gali/ angkut menggunakan Buldoser tidak selalu ekonomis; penggunaan Buldoser untuk gali angkut sangat efisien jika: (1) jarak dorong Buldoser roda besi < 200 ft, dan untuk roda karet < 400 ft, pemakaian lebih dari itu sangat tidak efisien, dan (2) volume material yang akan dipindahkan tak lebih dari 500 m3; jika lebih dari itu penggunaan Buldoser perlu dipertimbangakan lagi. Pusher loading, adalah membantu Power Scrapper konvensional (standar) dalam mengisi muatan. Bantuan Buldoser itu diperlukan untuk menambah tenaga agar diperoleh kecepatan pengisian yang lebih tinggi. Menyebarkan material, maksudnya adalah menyebarkan tanah ke tempat-tempat tertentu denganketebalan yang dikehendaki; misalnya material yang ditumpuk disuatu tempat oleh truck atau alat angkut lainnya.

25

Penimbunan kembali, merupakan pekerjaan penimbunan kembali terhadap bekas lubang-lubang galian seperti menutup kembali gorong-gorong di bawah tanah, penimbunan lubang fondasi atau tiang penyangga bangunan besar (jembatan, menara beton, dan lain-lain), dan menutup kembali pipa minyak, pipa gas alam, atau pipa air minum bila sudah terpasang. Trimming dan Sloping, yaitu pekerjaan pembuatan kemiringan tertentu pada suatu tempat; misalnya tanggul, dam, kanal besar, tepi jalan raya, dan sebagainya. Pekerjaan ini hanya dapat dilakukan oleh operator yan sudah berpengalaman, lebihlebih jika sudut kemiringannya besar, sebab ada kemungkinan Buldoser tergelincir ke bawah. Ditching, adalah kegiatan menggali saluran/ selokan/ kanal yang penampangnya berbentuk U atau V. Menarik (Winching), yaitu pekerjaan untuk menarik benda-benda berat atau peralatan mekanis yang sedang rusak, agar dapat dipindahkan ke tempat yang diinginkan. Memuat menggunakan Buldoser diperlukan pada kondisi-kondisi tertentu, misalnya medan dengan topografi tertentu truck tak dapat langsung dikendarai menuju lokasi. Buldoser dapat digunakan untuk memuat truck tersebut.

2.

Bentuk Sudu/ Bilah/ Blade

Sudu/ Bilah/ Blade pada Buldoser bentuknya tergantung pada jenis pekerjaan yang akan dilakukan oleh Buldoser itu. Jenis Sudu ada 10 macam: (a) U-Blade, (b) Straight Blade, (c) Angling Blade, (d) Cushion Blade, (e) Power Angle and Tild Blade, (f) AEM U Blade, (g) K/ G Blade, (h) Landfill Blade, (i) V-Tree Cutter Blade, (j) dan Rake Blade.

a.

U-Blade

Sudu ini sangat efisien untuk memindahkan material dalam jumlah besar dengan jarak dorong yang besar, misalnya pada pekerjaan-pekerjaan reklamasi, penggusuran lapisan top soil. Di samping itu sudu bentuk ini dapat pula digunakan untuk mengumpulkan material disekitar stack pile dan membantu alat muat dalam pengisian ke hopper (gerobak, biasanya digunakan pada tambang-tambang batu batra untuk mengangkat batu bara). Bentuk sudu seperti Gambar: 3.1.a.

26

Gambar: 3.1.a. Buldoser dengan Sudu U-Blade

b.

Straight Blade (S-Blade)

Sudu jenis ini khusus digunakan untuki menggali atau mendorong material berat yang memerlukan tenaga dorong yang cukup besar. Ukuran S-Blade jebih kecil dari U-Blade, sehingga lebih mudah digerakkan. S-Blade (Gambar: 3.1. b) juga sangat cocok untuk menagani material-material yang tersebar.

Gambar: 3.1.b. Buldoser dengan Sudu S-Blade

27

c.

Angling-Blade (A-Blade)

Dirancang untuk dipergunakan pada pembuangan material ke arah samping, misalnya pada perintisan jalan, pengisian kembali material ke tempat semula, pembuatan parit dan sebagainya. (Gambar 3.1.c)

Sudu bisa miring ke kiri atau ke kanan

Gambar: 3.1.c. Buldoser dengan Sudu Angling-Blade (A-Blade)

d.

Cushion Blade (C-Blade)

Cushion Blade (Gambar: 3.1.d.) digunakan untuk pekerjaan cut maintenance dan pekerjaan penggusuran, di samping itu dapat digunakan untuk pemuatan Power Scrapper dengan cara mendorong.

28

Gambar: 3.1.d. Buldoser dengan Sudu Cushion-Blade (C-Blade)

e.

Power Angle and Tilt Blade (PAT-Blade)

Dirancang untuk pekerjaan penyebaran dan perataan tanah, pengisian kembali material landscaping, dan pembersihan tanah. Blade jenis ini dapat diatur pemakaiannya dengan melakukan pengangkatan maupun memiringkan ke arah kanan atau kiri. Bentuk PAT-Blade seperti pada Gambar: 3.1.e

a. Bentuk Sudu Power Angle and Tilt-Blade (PAT-Blade) b. Sudu dapat dimiringkan Gambar: 3.1.e Buldoser Dengan Sudu Power Angle and Tilt-Blade (PAT-Blade)

29

f.

AEM U-Blade

Merupakan pengembangan dari U-Blade, sehingga dapat digunakan untuk memindahkan material dengan volume yang lebih besar.

Gambar: 3.1.f. Bentuk Sudu AEM U-Blade

g.

K/G Blade

Khusus digunakan untuk beberapa pekerjaan pembersihan tanah, seperti membabat semak-semak, menebas pepohonan, menimbun pohon-pohon sisa penebasan, membuat saluran penirisan, dan juga mampu untuk memadamkan timbunan kayukayu jering.

K/ G-Blade
Gambar: 3.1.g. Buldoser dengan Sudu K/ G-Blade

30

h.

Landfill Blade

Dirancang untuk menangani material bangunan dan material lapisan penutup bagian atas; bilah dilengkapi dengan saringan untuk melindungi radiator mesin. Bentuk blade yang melengkung menyebabkan material yang didorong menyebar lebih merata.

Sudu dilengkapi saringan untuk melindungi radiator mesin

Gambar: 3.1.h. Buldoser dengan Sudu Landfill Blade

i.

V-Tree Cutter Blade

Dirancang khusus untuk memotong semak belukar, pepohonan, dan sisa tungul agar rata dengan tanah. Bilah ini membentuk huruf V dengan ujung pemotong yang bererigi menyerupai gergaji.

Gambar: 3.1.i. Buldoser dengan Sudu V Tree Blade

31

j.

Rake Blade

Bentuknya mirip garu yang bergerigi rapat; sudu bentuk ini digunakan untuk mencabut semak-semak, membuat akar pohon, memindahkan tunggul-tunggul kecil, memisahkan bongkahan batuan dan lain-lain.

Gambar: 3.1.j. Buldoser dengan Sudu Rake Blade

B.

Power Scrapper

Kemampuan Power Scrapper: (1) dapat menggali dan mengisi muatannya sendiri, (2) mengangkut ke tempat yang telah ditentukan, lalu (3) menyebar dan meratakan muatan itu.

1.

Menggali dan Mengisi

Untuk memperoleh hasil kerja yang maksimal harus dilakukan dengan cara: (a) Pusher Loading, (b) Down Hill Loading, dan (c) Straddle Loading.

a.

Pusher Loading

Power Scrapper sebenarnya dapat mengisi muatan tanpa bantuan alat lain, tetapi memakan waktu yang lama. Oleh karena itu pengisian muatan sebaiknya dibantu oleh Buldoser. 32

Dalam Pusher Loading perlu diperhatikan beberapa hal yaitu: Pekerjaan harus dilakukan minimum dengan kecepatan 10 ft/ detik, agar laju Power Scrapper tak terhambat oleh tatanan material yang sedang digali. Harus dilakukan sinkronisasi kecepatan antara Power Scrapper dan Buldoser yang digunakan. Diusahakan tiap 1,5 2 menit datang Power Scrapper yang sudah siap untuk didorong, dengan demikian Scrapper tak sampai menunggu untuk didorong Buldoser. Sebaiknya memilih operator Buldoser yang telah terlatih dan berpengalaman.

b.

Down Hill Loading

Diuasahakan agar pola kerja Power Scrapper selalu menuju ke bagian yang lebih rendah, agar gaya berat alat akan membantu Power Scrapper dalam mengisi muatannya sendiri, sehingga waktu pengisian menjadi lebih singkat.

c.

Straddle Loading

Straddle Loading adalah suatu pola pemuatan/ pengisian Power Scrapper di mana tiap dua kali pengisian, bagian tengahnya ditinggalkan kurang lebih selebar 5 ft. Bagian yang ditinggalkan itu akan dipotong/ digali pada perjalanan pengisian yang berikutnya (Gambar: 3.2).

Gambar: 3.2 Straddle Loading

33

2.

Mengangkut

Hal yang perlu diperhatikan dalam mengangkut material menggunakan Power Scrapper adalah kecepatan geraknya; Power Scrapper yang menggunakan roda karet sangat disukai, karena memiliki kecepatan yang tinggi. Cara untuk memperlancar pengangkutan menggunakan Power Scrapper: Power Scrapper yang masih baik dan memiliki kecepatan tinggi jangan disatukan pada jalan yang sama dengan Power Scrapper yang mempunyak kecepatan rendah, sebab akan mengganggu; kecuali jika jalan cukup lebar sehingga Power Scrapper dapat saling menyalib. Diusahakan untuk menghindari belokan tajam atau yang melingkar terlalu jauh, diusahakan waktu membelok tak lebih dari 15 ddetik. Supaya Power Scrapper dapat bergerak dengan kecepatan yang maksimum maka jalan harus terpelihara baik. Pengangkutan ke dua arah sangat menguntungkan, sebab mengurangi waktu untuk membelok.

3.

Menyebarkan Material

Ada beberapa cara yang baik untuk mengosongkan, lalu menimbun dan menyebarkan material muatan menggunakan Power Scrapper. Apron (pinggiran) dibuka, lalu fail gate (lubang untuk keluar masuk material) didorong ke depan dengan hati-hati agar material keluar dengan teratur. Pisau (Cutting Edge) jangan diturunkan terlalu rendah supaya material tak terhalang. Kalau material belum turun/ keluar karena apron belum dibuka, fail gate jangan didorong ke depan, sebab apron bisa rusak akibat tekanan yang terjadi. Jika material sangat lengket (misalonya material yang diangkut adalah lempung) apron perlu dibuka/ tutup beberapa kali agar material mau keluar dari bowl, lalu pisau diturunkan sampai ketebalan yang dikehendaki. Penyebaran akan merata jika kecepatan Power Scrapper disesuaikan dengan kecepatan keluarnya material dari dalam bowl. Material yang mudah mengalir keluar (misalnya pasir) dapat disebarkan dengan kecepatan tinggi, dan biasanya mudah diperoleh sebaran material berupa lapisan-lapisan yang tipis serta merata.

4.

Cara Menggali Tanah Penutup yang Tipis Menggunakan Scrapper

Contoh pemakaian untuk menggali tanah penutup yang terlalu curam (Gambar: 3.3), Power Scrapper harus dibantu dengan Buldoser; jika kecuramannya telah dikurangi/ sudah dilandaikan menggunakan Buldoser, maka barulah digali menggunakan Power Scrapper, dan tanah diangkut ke tempat lain. 34

Tanah Penutup

Buldoser

Power Scrapper

Gambar: 3.3 Panggalian Tanah Penutup yang Tipis

5.

Cara Menggali Tanah Penutup yang Tebal dengan Scrapper

Bila lapisan penutup tanah sangt tebal, maka cara pengalian tidak diarahkan ke sisi tebing yang curam, tetapi kurang lebih sejajar dengan tebing tersebut (Gambar: 3.4)

35

a. Garis merah, elevasi permukaan tanah yang direncanakan

b. Gali Timbun Tahap ke 1

c. Gali Timbun Tahap ke 2

d. Gali Timbun Tahap ke 3, target elevasi permukaan yang direncanakan telah tercapai. Gambar: 3.4 Cara Menggali Penutup Tanah yang Tebal

C.

Alat Pengangkut (Hauling Units)

Alat pengangkut sangat mempengaruhi kelancaran operasional proyek, salah satu untung/ rugi suatu proyek dipengaruhi oleh kelancaran sarana angkutan yang tersedia. Ada bermacam-macam alat angkut yang dapat digunakan untuk kegiatan kegiatan pemindahan material dan karyawan seperti: Truck Jungkit (Dump Truck) Power Scrapper Conveyor Cable Way Trasportation Lokomotif dan Lori Pompa dan Pipa Tongkang (Barge) dan kapal tunda (Tug Boat) Kapal Curah (Bulk use Ship)

Untuk pengangkutan jarak dekat (kurang dari 5 km) biasanya digunakan truck dan Power Scrapper, pengangkutan jarak sedang (5-20 km) dapat menggunakan truck ukuran besar, belt conveyor, dan cable way. Untuk pengangkutan jarak jauh (lebih dari 20 km) bisa digunakan kereta api, pompa dan pipa; namun demikian pada proyek-proyek bangunan sipil alat angkut yang lazim dipakai adalah truck. Kelebihan truck sebagai alat angkut adalah mempunyai kecepatan yang tinggi (jika jalurnya baik), sehingga memiliki produktifitas yang tinggi pula. Hal ini menyebabkan ongkos angkut per-ton material menjadi murah. Di semping itu truck juga luwes, artinya dapat digunakan untuk mengangkut macam-macam barang 36

dengan muatan yang bentuk dan jumlah yang beraneka ragam pula, dan tidak tergantung pada jalur jalan; bandingkan dengan lori atau belt conveyor! Truck dapat digerakkan dengan motor bensin, diesel, butane, atau propane. Truck dengan ukuran besar biasanya digerakkan dengan mesin diesel. Kemiringan jalan atau tanjakan yang dapat dilalui dengan baik oleh truck berkisar antara 7 sampai 18%, jika memakai motorized wheel dapat mengambil tanjakan sampai 35%.

D.

Alat Pemuat (Loading Units)

Untuk pengambilan dan pemuatan material ke atas alat angkut (truck, lori, dan sebagainya) dipergunakan alat pemuat yang sangat banyak macamnya, karena keadaan lapangan kerja sangat beragam. Tetapi dalam pekerjaan Pemindahan Tanah Mekanis alat muat yang umum digunakan adalah: (1) Power Shovel, (2) Dragline, (3) Bucket Wheel Excavator (BWE), dan (4) Wheel Loader.

1.

Power Shovel

Power Shovel merupakan skop mekanis yang amat besar. Alat ini digerakkan oleh mesin uap, mesin bensin, mesin diesel, atau dapat juga motor listrik. Ukuran alat ini ditentukan oleh besarnya sekop yang dapat digerakkan, baik dalam arah horisontal maupun vertikal. Ukuran skop Power Shovel kecil berkisar sampai 2 yard3 (1 yard = 3 ft = 90 cm) atau sekitar 0,36 m3 sampai 1,56 m3; ukuran sedang berkisar 2 sampai 8 yard3 ( 1,56-18,2 m3), dan ukuran besar 8 35 yard3 (18,2 25,5 m3). Pada umumnya semakin keras jenis material yang digali semakin kecil ukuran skop yang harud dipakai, tetapi gigi-gigi pada skop tersebut harus terbuat dari baja mangan (manganese steel) Fe2MgO3, cara penggaliannya tergantung pada cara menggerakkan lengan sekop tersebut. Produktivitas Power Shovel tergantung dari: a. Keadaan material (keras, lunak) b. Kondisi lapangan, misalnya tinggi lereng yang digali. c. Efisiensi alat muat dan alat angkut, serta keserasian ukuran ke dua alat tersebut. d. Pengalaman operator yang menanganinya. Pekerjaan-pekerjaan yang dapat dilakukan oleh Power Shovel adalah: Penggalian di lereng-lereng bukit. Pemuatan material ke alat angkut. Pembuangan tanah penutup ke bagian belakang yang daerahnya sudah dikosongkan, cara ini disebut juga dengan Back Fill Digging Method. Penggalian ke bawah tempat alat berpijak, untuk pembuatan selokan, terusan, kanal, dan pekerjaan sejenis. Penggalian secara mendatar untuk perataan (grading) atau pemotongan lapisan tanah, batuan yang tipis dan mendatar.

37

Cara penempatan Power Shovel di tempat kerja ada bermacam-macam, tergantung dari kondisi topografi lapangan dan tujuan pekerjaan tersebut. Jika tempat kerja telah tersedia, misalnya pada daerah kerja yang sudah merupakan lereng bukit, maka tidak perlu lagi dibuatkan jalan masuk dan tempat kerja awal. Bila tempat yang akan digali masih merupakan daerah yang datar, maka perlu dibuat dulu sebuah jalan masuk dan tempat kerja awal yang berbentuk lereng landai. Pembuatantersebut dapat dilakukan menggunakan alat itu sendiri, atau menggunakan Buldoser; kemudian kalau sudah di tempat kerjanya, harus diletakkan sedemikian rupa sehingga gerakannya efisien dan cukup tempat untuk alat-alat angkut yang mendekat ke situ (Gambar: 3.5)

Alat pengangkut Power Scrapper

Power Scrapper

Gambar: 3.5. Tempat Kerja Power Scrapper

2.

Dragline

Alat ini hanya dipakai maksimum untuk batuan yang relatif lunak atau yang sudah lepas (loose materials), jadi bukan digunakan pada lapisan batuan keras dan kompak. Dragline dipakai untuk meggali material yang berada di bawah tempat alat itu berdiri. Alat penggerak yang dipakai persis sama seperti Power Shovel.

38

Ukran Dragline ditentukan oleh besar mangkuk (bucket) yang terpasang; ukuran kecil memiliki mangkuk sampai 2 cu yd (0,18 sampai 1,46 m3), ukuran sedang 2 sampai 8 cu yd (1,46 sampai 5,83 m3), dan ukuran besar 8 sampai 35 cu yd (5,83 sampai 23,32 m3) atau lebih. Mangkuk dengan ukuran sama mungkin mempunyai berat yang berlainan, tergantung dari jenis material apa yang digali. Umumnya semakin keras material yang digali, semakin berat pula mangkuknya, dan berat itu diletakkan di dekat gigi atau bagian depan mangkuk. Umumnya mangkuk dibuat dari baja mangan, kecuali pada bagian atas dan belakang mangkuk dibuat dari material yang berbeda. Pekerjaan-pekerjaan yang dapat dilakukan oleh Dragline: Menggali lapisan tanah penutup yang lunak atau sedikit keras, terutama untuk lapisan tanah penutup dengan ketebalan yang tidak teratur. Menggali dari atas jenjang. Membuat terusan, selokan, trench dan lain-lain; jika tanahnya lunak, bisa menjadi lebih efisien jika dibandingkan dengan menggunakan Power Shovel. Menggali lumpur, pasir, kerikil, atau batuan yang terletak di bawah permukaan air. Memperdalam terusan, kanal, sungai, dan lain-lain. Membuat dam kecil dengan cara penggalian tanah dan batuan dari daerah disekitarnya. Menggali lalu mengangkat, memuat, atau melepaskan pasir, kerikil, maupun batu bara ke atas alat angkut. Untuk penempatan ditempat kerja yang baru atau memindahkan alat untuk jarak yang jauh, biasanya dilakukan dengan Trailler (Gambar: 3.6), sebab jalannya alat ini sangat perlahan, kecepatannya sekitar 1 km/ jam.

Gambar: 3.6. Trailler

39

Keadaan tempat kerja Dragline yang baru bisa bermacam-macam, tergantung dari kondisi topografi lapangan dan tujuan kerjanya. Jika tempat kerja itu sudah berupa lereng, maka tak perlu lagi dibuat tempat kerja khusus; jika daerah yang akan digali itu masih berupa lapangan yang datar, Dragline harus membuat sendiri lereng tempat kerjanya. Panjang/ pendeknya boom tergantung dari macam kerja alat yang dilakukan oleh itu, boom pendek digunakan untuk mengangkut dan megisi alat-alat angkut seperti truck, lori dan sebagainya; boom panjang umumnya digunakan pada pekerjaan-pekerjaan penggalian dang pengupasan pada tambang aluvial, industri mineral dan sejenisnya.

3.

Bucket Wheel Excavator (BWE)

Bucket Wheel Excavator (sering disingkat BWE) adalah alat gali untuk pemindahan tanah, alat ini sesuai untuk digunakan pada material tanah penutup, baik itu berupa lapisan tipis maupun lapisan yang tebal, terutama jika berupa tanah, lempung, pasir, maupun material serpihan yang lunak. BWE merupakan salah satu alat gali yang bekerja secara terus menerus, umumnya dapat digunakan dengan baik di atas, di bawah, maupun pada lantai kerjanya; hasil penggalian kemudian dilimpahkan ke Belt Conveyor. Penggalian oleh BWE dilakukan oleh sebuah boom yang pada ujungnya terdapat roda besar yang sekelilingnya dipasang mangkuk-mangkuk (Gambar: 3.7). Boom beserta mangkuk-mangkuk yang berputar pada roda itu ditekan ke arah material yang digali. Jumlah mangkuk berkisar antara enam sampai 12 buah, sehingga penggalian dengan BWE dapat dilakukan secara terus menerus.

Gambar: 3.7. Bucket Wheel Excavator (BWE)

40

Cara penggalian mangkuk-mangkuk BWE dapat dibedakan menjadi tiga macam: a. Terrace Cut; yaitu penggalian dengan cara pemotongan permuka kerja ke arah depan, sehingga membentuk jenjang (Gambar: 3.8.a). b. Dropping Cut; yaitu suatu cara penggalian dengan memotong bagian permuka kerja ke arah bawah (Gambar: 3.8.b). c. Combination Cut, suatu cara penggalian gabungan; artinya cara penggalian permuka kerja secar terrace cut untuk bagian atas lapisan, dan secara dropping cut untuk bagian bawahnya.

a. Terrace Cut

b. Dropping Cut Gambar: 3.8. Cara penggalian mangkuk BWE

41

Kemampuan BWE antara lain: Menggali lapisan tanah penutup, menambang endapan-endapan material yang relatif lunak secara terus menerus, sehingga produksinya besar.

4.

Wheel Loader

Wheel Loader adalah salah satu alat muat yang kini banyak digunakan, sebab gerakannya lincah; tetapi jika digunakan untuk menangani daerah yang berlumpur atau berbatu tajam, maka sebaiknya roda-roda karetnya dilindungi dengan rantai baja. Bucket pada Wheel Loader digunakan untuk: menggali, mengangkat, dan mengangkut kesuatu tempat yang terjauh atau langsung dimuatkan ke alat angkut yang letaknya sama tinggi dengan tempat dimana Wheel Loader bekerja. Daya jangkau mangkuknya sangat terbatas, artinyatidak terlalu tinggi. Untuk menggerakkan bucketnya biasanya dilakukan dengan sisitim hidrolis. Untuk penggalian menggunakan Wheel Loader, mangkuk harus didorong ke arah permuka kerja, jika mangkuk telah penuh, kemudian Wheel Loader dimundurkan dan mangkuk diangkat ke atas untuk selanjutnya materialdiangkut kesuatu tempat penimbunan atau ke atas alat angkut. Kelebihan dan kekurangan Wheel Loader sebagai alat muat: Dalam operasinya, antara posisi memuat dan posisi membongkar Wheel Loader membutuhkan jarak untuk melakukan manuver. Jika jarak tersebut terbatas, maka akan menimbulkan persoalan, sebab ada kemungkinan Wheel Loader tidak dapat memutar. Buldoser hanya dapat mendorong material; kelebihan material yang diangkut oleh Buldoser akan tercecer ke sisi-sisi sudunya, untuk membersihkan ceceran itu digunakan Wheel Loader. Jika dibandingkan dengan Power Shovel, Wheel Loader mempunyai kelebihan dalam pemuatan material hasil peledakan, sebab Power Shovel sulit ditaruh di tempat yang sempit. Dibandingkan dengan Truck Loader, Wheel Loader lebih lincah dan lebih gesit.

E.

Alat Garu (Rooter / Ripper)

Sebenarnya alat garu (Ripper) berfungsi untuk membantu Buldoser dan Power Scrapper dalam mengatasi batu-batu yang keras. Buldoser ataupun Power Scrapper yang bekerja sendiri tanpa dibantu oleh Ripper dalam menghadapi batu-batu yang keras, hasil kerjanya tidak semaksimal seperti kalau dibantu dengan Ripper. Kakuatan Ripper tergantung pada kemampuan gigi-giginya untuk masuk ke dalam

42

tanah dan kekuatan Buldoser yang digunakan sebagai mesin penarik Ripper itu sendiri. Gigi Ripper dapat dinaik-turunkan sesuai dengan kedalaman penggalian yang dikehendaki dan kondisi material yang akan digaru. (Gambar: 3.9)

Gambar: 3.9. Ripper

Kegunaan Ripper: Membantu Buldoser pada waktu pembersihan lapangan, yaitu dengan melewatkan Ripper bebarapa kali, sehingga sebagian besar akar-akar pohon yang dilewati akan terputus, sehingga kerja Buldoser menjadi lebih ringan. Dengan gigi-giginya pohon dapat ditimbangkan tanpa harus menggali tanah disekeliling pohon itu. Membantu Power Scrapper ditempat-tempat yang bertanah keras; misalnya lumpur yang kering dan mengeras karena sinar matahari, akan lebih mudah ditangani oleh Power Scrapper jika sebelumnya telah dilalui beberapa kali oleh Ripper. Membuat parit kecil untuk mengalirkan genangan air. Merobek pavemet yang terbuat dari ubin, beton, atau aspal yang sangat sukar jika digali dengan alat lain.

43

Merusak jalan atau landasan pesawat terbang yang terbuat dari beton. Perusakan harus dimulai dari ujung landasan, supaya gigi Ripper dapat mencongkel lapisan beton tersebut dari bawah.

F.

Alat Penggilas (Roller)

Roller adalah peralatan untuk pemadatan tanah atau batuan secara mekanis. Pemadatan tanah isian atau batu, sering kali harus dilakukan pada pekerjaanpekerjaan pemindahan tanah. Tujuan dari pemadatan tanah isian ini perlu dikerjakan untuk menghindari terjadinya ruang-ruang pada tanah yang tak terisi material secara penuh. Tempat-tempat yang demikian ini bila mengalami tekanan yang sedikit besar akan tenggelam (ambles) dan menimbulkan lekukan-lekukan yang tidak dikehendaki. Pemadatan tanah tujuannya untuk mendekatkan masing-masing partikel tanah, sehingga kohesi dan sudut geser dalam dari tanah tersebut menjadi lebih besar; artinya tanah dapat lebih mantap/ tak mudah longsor. Tanah yang dipatdatkan tak mudah rusak karena adanya tekanan-tekanan luar yang tidak dikehendaki. Jadi memadatkan tanah/ batuan tujuannya untuk memperooeh suatu nilai kepadatan atau daya dukung yang dikehendaki, atau disesuaikan dengan beban/ muatan serta frekuensi litasan yang akan diderita oleh lapisan tanah itu. Kepadatan yang diinginkan biasanya dinyatakan dengan nilai California Bearing Ratio (CBR). Semakin besar nilai CBR suatu material, semakin baik pula kepadatan material itu. Ada tujuh macam Roller yang sering digunakan yaitu: (1) Sheep Foot Roller, (2) Smooth Steel Wleel Rolers, (3) Grid Type Rollers, (4) Mesh-Grid Roler, (5) Segment Rollers, (6) Pneumatic Tired Rollers, dan (7) Viberation Rollers.

G.

Grader

Grader dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu Tower Grader, dan Motor Grader. (Gambar: 3.10). Tower Grader membutuhkan alat penarik seperti Traktor atau Buldoser, tetapi Motor Grader mempunyai tanaga penggerak sendiri.

a. Tower Grader Gambar: 3.10. Jenis Grader

b. Motor Grader

44

Jenis Motor Grader dapat dibedakan menjadi tiga yaitu Straight Motor Grader, Articulated Motor Grader, dan Crab Type Motor Grader. (Gambar: 3.11) Straight Motor Grader adalah tipe yang paling sederhana, kerangka bagian depan menjadi satu dengan bagian belakang, sehingga dalam operasinya tidak luwes. Articulated Motor Grader mempunyai kerangka bagian depan dan roda-roda depanya dapat digerak-gerakkan, atau terpisah dengan kerangka bagian belakang; dalam operasionalnya tipe ini lebih luwes dan punya jari-jari perputaran yang lebih kecil dari tipe Straight Motor Grader. Crab Type Motor Grader hampir sama dengan tipe Articulated, tetapi roda-roda bagian belakan yang sebelah kanan dan kiri berotasi sendiri-sendiri, sehingga memungkinkan melakukan gerakan yang lebih bervariasi, jenis ini sangat cocok untuk daerah yang masih belum rata.

a. Straight Motor Grader

b. Articulated Motor Grader

Roda bagian muka dan belakang bisa dimiringkan dan berotasi sendirisendiri

c. Crab Motor Grader Gambar: 3.11. Jenis Motor Grader

45

III PENGGUNAAN DAN KEMAMPUAN ALAT BERAT

Alat berat yang umum dipakai dalam pekerjaan pemindahan tanah mekanis ada tujuh macam yaitu: Buldoser Power Scrapper Alat pengangkut (Hauling units) Alat pemuat (Loading units) Alat penggaru (Rooters/ Rippers) Alat penggilas (Rollers) Graders

A.

Buldoser

Alat ini merupakan alat berat yang sangat kuat untuk pekerjaan pekerjaan: penggalian tanah (excavator), mendorong tanah, menggusur tanah (dozer), membantu pekerjaan alat-alata muat, dan pembersihan lokasi (land clearing).

1.

Kegunaan

Kegunaan Buldoser sangat beragam antara lain untuk: Pembabatan atau penebasan (cleraring) lokasi proyek. Merintis (pioneering) jalan proyek. Gali/ angkut jarak pendek. Pusher loading. Menyebarkan material. Penimbunan kembali. Trimming dan sloping Ditching Menarik Memuat.

Sebagai alat pembabat atau penebang, Buldoser mampu membersihkan lokasi dari semak-semak, pohon besar/ kecil, sisa pohon yang sudah ditebang, menghilangkan/ membuang bagian tanah atau batuan yang menghalangi pekerjaanpekerjaan selanjutnya. Seluruh pekerjaan ini dapat dikerjakan sebelum pemindahan tanah itu sendiri dilakukan atau dikerjakan bersama-sama. Pembabatan ada beberapa cara, tergantung dari keadaan lapangan; bila daerah itu hanya ditumbuhi semak dan pohon kecil dengan diameter yang kurang dari 10 cm, 46

cukup langsung didorong. Kalau diameternya agak besar (10 cm < < 25 cm) dan akarnya kokoh, ada dua cara untuk merobohkannya. Didorong bebarapa kali dengan perlahan supaya bagian pohon yang kering gugur, lalu didorong secara mendadak dengan sedikit mengangkat sudunya sampai pohon roboh. Pohon dilingkari dengan rantai lalu ditarik oleh dia buah Buldoser.

Jika diameter pohon itu lebih besar dari 25 cm, ada tiga cara yang dapat dilakukan. Tanah disekeliling pohon digali supaya akar-akarnya putus, lalu pohon didorong. Bila pohon tidak roboh, pohon dililit dengan rantai lalu ditarik Buldoser, tetapi jika di lokasi terdapat dua atau tiga Buldoser, lebih baik jika ditarik dengan Buldoser pada arah masing-masing menerong agar supaya lebih aman. Jika dengan cara-cara di atas pohon itu tetap tidak roboh, batang digergaji, kemudian tunggulnya diangkat dengan peledakan. Jika di lokasi proyek terdapat bongkahan batu besar yang mengganggu pekerjaan, maka batu harus dicongkel dan didorong dari sebelah luar sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya sampai pada batas luar daerah kerja. Jika batu tersebut ada disebuah lembah, maka lerengnya harus digali dulu agar tidak terlalu curam, sebab ada kemungkinan Buldoser akan terbalik. Pioneering atau pekerjaan perintisan merupakan kelanjutan dari pekerjaan pembabatan/ penabasan. Pekerjaan merintis meliputi: pekerjaan perataan tanah, pembuatan jalan darurat untuk transportasi alat mekanis, dan jika perlu adalah pembuatan saluran air untuk drainase tempat kerja. Gali/ angkut jarak pendek adalah menggali lalu mendorong tanah galian itu ke suatu tempat tertentu, misalnya pada pembuatan jalan raya, kanal, dan sebagainya. Bila kondisi jalan tidak licin, penggunaan Buldoser roda karet akan lebih efisien. Jika dibandingkan dengan cara pemindahan tanah yang lain, pada tahap-tahap tertentu cara gali/ angkut menggunakan Buldoser tidak selalu ekonomis; penggunaan Buldoser untuk gali angkut sangat efisien jika: (1) jarak dorong Buldoser roda besi < 200 ft, dan untuk roda karet < 400 ft, pemakaian lebih dari itu sangat tidak efisien, dan (2) volume material yang akan dipindahkan tak lebih dari 500 m3; jika lebih dari itu penggunaan Buldoser perlu dipertimbangakan lagi. Pusher loading, adalah membantu Power Scrapper konvensional (standar) dalam mengisi muatan. Bantuan Buldoser itu diperlukan untuk menambah tenaga agar diperoleh kecepatan pengisian yang lebih tinggi. Menyebarkan material, maksudnya adalah menyebarkan tanah ke tempat-tempat tertentu denganketebalan yang dikehendaki; misalnya material yang ditumpuk disuatu tempat oleh truck atau alat angkut lainnya.

47

Penimbunan kembali, merupakan pekerjaan penimbunan kembali terhadap bekas lubang-lubang galian seperti menutup kembali gorong-gorong di bawah tanah, penimbunan lubang fondasi atau tiang penyangga bangunan besar (jembatan, menara beton, dan lain-lain), dan menutup kembali pipa minyak, pipa gas alam, atau pipa air minum bila sudah terpasang. Trimming dan Sloping, yaitu pekerjaan pembuatan kemiringan tertentu pada suatu tempat; misalnya tanggul, dam, kanal besar, tepi jalan raya, dan sebagainya. Pekerjaan ini hanya dapat dilakukan oleh operator yan sudah berpengalaman, lebihlebih jika sudut kemiringannya besar, sebab ada kemungkinan Buldoser tergelincir ke bawah. Ditching, adalah kegiatan menggali saluran/ selokan/ kanal yang penampangnya berbentuk U atau V. Menarik (Winching), yaitu pekerjaan untuk menarik benda-benda berat atau peralatan mekanis yang sedang rusak, agar dapat dipindahkan ke tempat yang diinginkan. Memuat menggunakan Buldoser diperlukan pada kondisi-kondisi tertentu, misalnya medan dengan topografi tertentu truck tak dapat langsung dikendarai menuju lokasi. Buldoser dapat digunakan untuk memuat truck tersebut.

2.

Bentuk Sudu/ Bilah/ Blade

Sudu/ Bilah/ Blade pada Buldoser bentuknya tergantung pada jenis pekerjaan yang akan dilakukan oleh Buldoser itu. Jenis Sudu ada 10 macam: (a) U-Blade, (b) Straight Blade, (c) Angling Blade, (d) Cushion Blade, (e) Power Angle and Tild Blade, (f) AEM U Blade, (g) K/ G Blade, (h) Landfill Blade, (i) V-Tree Cutter Blade, (j) dan Rake Blade.

a.

U-Blade

Sudu ini sangat efisien untuk memindahkan material dalam jumlah besar dengan jarak dorong yang besar, misalnya pada pekerjaan-pekerjaan reklamasi, penggusuran lapisan top soil. Di samping itu sudu bentuk ini dapat pula digunakan untuk mengumpulkan material disekitar stack pile dan membantu alat muat dalam pengisian ke hopper (gerobak, biasanya digunakan pada tambang-tambang batu batra untuk mengangkat batu bara). Bentuk sudu seperti Gambar: 3.1.a.

48

Gambar: 3.1.a. Buldoser dengan Sudu U-Blade

b.

Straight Blade (S-Blade)

Sudu jenis ini khusus digunakan untuki menggali atau mendorong material berat yang memerlukan tenaga dorong yang cukup besar. Ukuran S-Blade jebih kecil dari U-Blade, sehingga lebih mudah digerakkan. S-Blade (Gambar: 3.1. b) juga sangat cocok untuk menagani material-material yang tersebar.

Gambar: 3.1.b. Buldoser dengan Sudu S-Blade

49

c.

Angling-Blade (A-Blade)

Dirancang untuk dipergunakan pada pembuangan material ke arah samping, misalnya pada perintisan jalan, pengisian kembali material ke tempat semula, pembuatan parit dan sebagainya. (Gambar 3.1.c)

Sudu bisa miring ke kiri atau ke kanan

Gambar: 3.1.c. Buldoser dengan Sudu Angling-Blade (A-Blade)

d.

Cushion Blade (C-Blade)

Cushion Blade (Gambar: 3.1.d.) digunakan untuk pekerjaan cut maintenance dan pekerjaan penggusuran, di samping itu dapat digunakan untuk pemuatan Power Scrapper dengan cara mendorong.

50

Gambar: 3.1.d. Buldoser dengan Sudu Cushion-Blade (C-Blade)

e.

Power Angle and Tilt Blade (PAT-Blade)

Dirancang untuk pekerjaan penyebaran dan perataan tanah, pengisian kembali material landscaping, dan pembersihan tanah. Blade jenis ini dapat diatur pemakaiannya dengan melakukan pengangkatan maupun memiringkan ke arah kanan atau kiri. Bentuk PAT-Blade seperti pada Gambar: 3.1.e

a. Bentuk Sudu Power Angle and Tilt-Blade (PAT-Blade) b. Sudu dapat dimiringkan Gambar: 3.1.e Buldoser Dengan Sudu Power Angle and Tilt-Blade (PAT-Blade)

51

f.

AEM U-Blade

Merupakan pengembangan dari U-Blade, sehingga dapat digunakan untuk memindahkan material dengan volume yang lebih besar.

Gambar: 3.1.f. Bentuk Sudu AEM U-Blade

g.

K/G Blade

Khusus digunakan untuk beberapa pekerjaan pembersihan tanah, seperti membabat semak-semak, menebas pepohonan, menimbun pohon-pohon sisa penebasan, membuat saluran penirisan, dan juga mampu untuk memadamkan timbunan kayukayu jering.

K/ G-Blade
Gambar: 3.1.g. Buldoser dengan Sudu K/ G-Blade

52

h.

Landfill Blade

Dirancang untuk menangani material bangunan dan material lapisan penutup bagian atas; bilah dilengkapi dengan saringan untuk melindungi radiator mesin. Bentuk blade yang melengkung menyebabkan material yang didorong menyebar lebih merata.

Sudu dilengkapi saringan untuk melindungi radiator mesin

Gambar: 3.1.h. Buldoser dengan Sudu Landfill Blade

i.

V-Tree Cutter Blade

Dirancang khusus untuk memotong semak belukar, pepohonan, dan sisa tungul agar rata dengan tanah. Bilah ini membentuk huruf V dengan ujung pemotong yang bererigi menyerupai gergaji.

Gambar: 3.1.i. Buldoser dengan Sudu V Tree Blade

53

j.

Rake Blade

Bentuknya mirip garu yang bergerigi rapat; sudu bentuk ini digunakan untuk mencabut semak-semak, membuat akar pohon, memindahkan tunggul-tunggul kecil, memisahkan bongkahan batuan dan lain-lain.

Gambar: 3.1.j. Buldoser dengan Sudu Rake Blade

B.

Power Scrapper

Kemampuan Power Scrapper: (1) dapat menggali dan mengisi muatannya sendiri, (2) mengangkut ke tempat yang telah ditentukan, lalu (3) menyebar dan meratakan muatan itu.

1.

Menggali dan Mengisi

Untuk memperoleh hasil kerja yang maksimal harus dilakukan dengan cara: (a) Pusher Loading, (b) Down Hill Loading, dan (c) Straddle Loading.

a.

Pusher Loading

Power Scrapper sebenarnya dapat mengisi muatan tanpa bantuan alat lain, tetapi memakan waktu yang lama. Oleh karena itu pengisian muatan sebaiknya dibantu oleh Buldoser. 54

Dalam Pusher Loading perlu diperhatikan beberapa hal yaitu: Pekerjaan harus dilakukan minimum dengan kecepatan 10 ft/ detik, agar laju Power Scrapper tak terhambat oleh tatanan material yang sedang digali. Harus dilakukan sinkronisasi kecepatan antara Power Scrapper dan Buldoser yang digunakan. Diusahakan tiap 1,5 2 menit datang Power Scrapper yang sudah siap untuk didorong, dengan demikian Scrapper tak sampai menunggu untuk didorong Buldoser. Sebaiknya memilih operator Buldoser yang telah terlatih dan berpengalaman.

b.

Down Hill Loading

Diuasahakan agar pola kerja Power Scrapper selalu menuju ke bagian yang lebih rendah, agar gaya berat alat akan membantu Power Scrapper dalam mengisi muatannya sendiri, sehingga waktu pengisian menjadi lebih singkat.

c.

Straddle Loading

Straddle Loading adalah suatu pola pemuatan/ pengisian Power Scrapper di mana tiap dua kali pengisian, bagian tengahnya ditinggalkan kurang lebih selebar 5 ft. Bagian yang ditinggalkan itu akan dipotong/ digali pada perjalanan pengisian yang berikutnya (Gambar: 3.2).

Gambar: 3.2 Straddle Loading

55

2.

Mengangkut

Hal yang perlu diperhatikan dalam mengangkut material menggunakan Power Scrapper adalah kecepatan geraknya; Power Scrapper yang menggunakan roda karet sangat disukai, karena memiliki kecepatan yang tinggi. Cara untuk memperlancar pengangkutan menggunakan Power Scrapper: Power Scrapper yang masih baik dan memiliki kecepatan tinggi jangan disatukan pada jalan yang sama dengan Power Scrapper yang mempunyak kecepatan rendah, sebab akan mengganggu; kecuali jika jalan cukup lebar sehingga Power Scrapper dapat saling menyalib. Diusahakan untuk menghindari belokan tajam atau yang melingkar terlalu jauh, diusahakan waktu membelok tak lebih dari 15 ddetik. Supaya Power Scrapper dapat bergerak dengan kecepatan yang maksimum maka jalan harus terpelihara baik. Pengangkutan ke dua arah sangat menguntungkan, sebab mengurangi waktu untuk membelok.

3.

Menyebarkan Material

Ada beberapa cara yang baik untuk mengosongkan, lalu menimbun dan menyebarkan material muatan menggunakan Power Scrapper. Apron (pinggiran) dibuka, lalu fail gate (lubang untuk keluar masuk material) didorong ke depan dengan hati-hati agar material keluar dengan teratur. Pisau (Cutting Edge) jangan diturunkan terlalu rendah supaya material tak terhalang. Kalau material belum turun/ keluar karena apron belum dibuka, fail gate jangan didorong ke depan, sebab apron bisa rusak akibat tekanan yang terjadi. Jika material sangat lengket (misalonya material yang diangkut adalah lempung) apron perlu dibuka/ tutup beberapa kali agar material mau keluar dari bowl, lalu pisau diturunkan sampai ketebalan yang dikehendaki. Penyebaran akan merata jika kecepatan Power Scrapper disesuaikan dengan kecepatan keluarnya material dari dalam bowl. Material yang mudah mengalir keluar (misalnya pasir) dapat disebarkan dengan kecepatan tinggi, dan biasanya mudah diperoleh sebaran material berupa lapisan-lapisan yang tipis serta merata.

4.

Cara Menggali Tanah Penutup yang Tipis Menggunakan Scrapper

Contoh pemakaian untuk menggali tanah penutup yang terlalu curam (Gambar: 3.3), Power Scrapper harus dibantu dengan Buldoser; jika kecuramannya telah dikurangi/ sudah dilandaikan menggunakan Buldoser, maka barulah digali menggunakan Power Scrapper, dan tanah diangkut ke tempat lain. 56

Tanah Penutup

Buldoser

Power Scrapper

Gambar: 3.3 Panggalian Tanah Penutup yang Tipis

5.

Cara Menggali Tanah Penutup yang Tebal dengan Scrapper

Bila lapisan penutup tanah sangt tebal, maka cara pengalian tidak diarahkan ke sisi tebing yang curam, tetapi kurang lebih sejajar dengan tebing tersebut (Gambar: 3.4)

57

a. Garis merah, elevasi permukaan tanah yang direncanakan

b. Gali Timbun Tahap ke 1

c. Gali Timbun Tahap ke 2

d. Gali Timbun Tahap ke 3, target elevasi permukaan yang direncanakan telah tercapai. Gambar: 3.4 Cara Menggali Penutup Tanah yang Tebal

C.

Alat Pengangkut (Hauling Units)

Alat pengangkut sangat mempengaruhi kelancaran operasional proyek, salah satu untung/ rugi suatu proyek dipengaruhi oleh kelancaran sarana angkutan yang tersedia. Ada bermacam-macam alat angkut yang dapat digunakan untuk kegiatan kegiatan pemindahan material dan karyawan seperti: Truck Jungkit (Dump Truck) Power Scrapper Conveyor Cable Way Trasportation Lokomotif dan Lori Pompa dan Pipa Tongkang (Barge) dan kapal tunda (Tug Boat) Kapal Curah (Bulk use Ship)

Untuk pengangkutan jarak dekat (kurang dari 5 km) biasanya digunakan truck dan Power Scrapper, pengangkutan jarak sedang (5-20 km) dapat menggunakan truck ukuran besar, belt conveyor, dan cable way. Untuk pengangkutan jarak jauh (lebih dari 20 km) bisa digunakan kereta api, pompa dan pipa; namun demikian pada proyek-proyek bangunan sipil alat angkut yang lazim dipakai adalah truck. Kelebihan truck sebagai alat angkut adalah mempunyai kecepatan yang tinggi (jika jalurnya baik), sehingga memiliki produktifitas yang tinggi pula. Hal ini menyebabkan ongkos angkut per-ton material menjadi murah. Di semping itu truck juga luwes, artinya dapat digunakan untuk mengangkut macam-macam barang 58

dengan muatan yang bentuk dan jumlah yang beraneka ragam pula, dan tidak tergantung pada jalur jalan; bandingkan dengan lori atau belt conveyor! Truck dapat digerakkan dengan motor bensin, diesel, butane, atau propane. Truck dengan ukuran besar biasanya digerakkan dengan mesin diesel. Kemiringan jalan atau tanjakan yang dapat dilalui dengan baik oleh truck berkisar antara 7 sampai 18%, jika memakai motorized wheel dapat mengambil tanjakan sampai 35%.

D.

Alat Pemuat (Loading Units)

Untuk pengambilan dan pemuatan material ke atas alat angkut (truck, lori, dan sebagainya) dipergunakan alat pemuat yang sangat banyak macamnya, karena keadaan lapangan kerja sangat beragam. Tetapi dalam pekerjaan Pemindahan Tanah Mekanis alat muat yang umum digunakan adalah: (1) Power Shovel, (2) Dragline, (3) Bucket Wheel Excavator (BWE), dan (4) Wheel Loader.

1.

Power Shovel

Power Shovel merupakan skop mekanis yang amat besar. Alat ini digerakkan oleh mesin uap, mesin bensin, mesin diesel, atau dapat juga motor listrik. Ukuran alat ini ditentukan oleh besarnya sekop yang dapat digerakkan, baik dalam arah horisontal maupun vertikal. Ukuran skop Power Shovel kecil berkisar sampai 2 yard3 (1 yard = 3 ft = 90 cm) atau sekitar 0,36 m3 sampai 1,56 m3; ukuran sedang berkisar 2 sampai 8 yard3 ( 1,56-18,2 m3), dan ukuran besar 8 35 yard3 (18,2 25,5 m3). Pada umumnya semakin keras jenis material yang digali semakin kecil ukuran skop yang harud dipakai, tetapi gigi-gigi pada skop tersebut harus terbuat dari baja mangan (manganese steel) Fe2MgO3, cara penggaliannya tergantung pada cara menggerakkan lengan sekop tersebut. Produktivitas Power Shovel tergantung dari: e. Keadaan material (keras, lunak) f. Kondisi lapangan, misalnya tinggi lereng yang digali. g. Efisiensi alat muat dan alat angkut, serta keserasian ukuran ke dua alat tersebut. h. Pengalaman operator yang menanganinya. Pekerjaan-pekerjaan yang dapat dilakukan oleh Power Shovel adalah: Penggalian di lereng-lereng bukit. Pemuatan material ke alat angkut. Pembuangan tanah penutup ke bagian belakang yang daerahnya sudah dikosongkan, cara ini disebut juga dengan Back Fill Digging Method. Penggalian ke bawah tempat alat berpijak, untuk pembuatan selokan, terusan, kanal, dan pekerjaan sejenis. Penggalian secara mendatar untuk perataan (grading) atau pemotongan lapisan tanah, batuan yang tipis dan mendatar.

59

Cara penempatan Power Shovel di tempat kerja ada bermacam-macam, tergantung dari kondisi topografi lapangan dan tujuan pekerjaan tersebut. Jika tempat kerja telah tersedia, misalnya pada daerah kerja yang sudah merupakan lereng bukit, maka tidak perlu lagi dibuatkan jalan masuk dan tempat kerja awal. Bila tempat yang akan digali masih merupakan daerah yang datar, maka perlu dibuat dulu sebuah jalan masuk dan tempat kerja awal yang berbentuk lereng landai. Pembuatantersebut dapat dilakukan menggunakan alat itu sendiri, atau menggunakan Buldoser; kemudian kalau sudah di tempat kerjanya, harus diletakkan sedemikian rupa sehingga gerakannya efisien dan cukup tempat untuk alat-alat angkut yang mendekat ke situ (Gambar: 3.5)

Alat pengangkut Power Scrapper

Power Scrapper

Gambar: 3.5. Tempat Kerja Power Scrapper

2.

Dragline

Alat ini hanya dipakai maksimum untuk batuan yang relatif lunak atau yang sudah lepas (loose materials), jadi bukan digunakan pada lapisan batuan keras dan kompak. Dragline dipakai untuk meggali material yang berada di bawah tempat alat itu berdiri. Alat penggerak yang dipakai persis sama seperti Power Shovel.

60

Ukran Dragline ditentukan oleh besar mangkuk (bucket) yang terpasang; ukuran kecil memiliki mangkuk sampai 2 cu yd (0,18 sampai 1,46 m3), ukuran sedang 2 sampai 8 cu yd (1,46 sampai 5,83 m3), dan ukuran besar 8 sampai 35 cu yd (5,83 sampai 23,32 m3) atau lebih. Mangkuk dengan ukuran sama mungkin mempunyai berat yang berlainan, tergantung dari jenis material apa yang digali. Umumnya semakin keras material yang digali, semakin berat pula mangkuknya, dan berat itu diletakkan di dekat gigi atau bagian depan mangkuk. Umumnya mangkuk dibuat dari baja mangan, kecuali pada bagian atas dan belakang mangkuk dibuat dari material yang berbeda. Pekerjaan-pekerjaan yang dapat dilakukan oleh Dragline: Menggali lapisan tanah penutup yang lunak atau sedikit keras, terutama untuk lapisan tanah penutup dengan ketebalan yang tidak teratur. Menggali dari atas jenjang. Membuat terusan, selokan, trench dan lain-lain; jika tanahnya lunak, bisa menjadi lebih efisien jika dibandingkan dengan menggunakan Power Shovel. Menggali lumpur, pasir, kerikil, atau batuan yang terletak di bawah permukaan air. Memperdalam terusan, kanal, sungai, dan lain-lain. Membuat dam kecil dengan cara penggalian tanah dan batuan dari daerah disekitarnya. Menggali lalu mengangkat, memuat, atau melepaskan pasir, kerikil, maupun batu bara ke atas alat angkut. Untuk penempatan ditempat kerja yang baru atau memindahkan alat untuk jarak yang jauh, biasanya dilakukan dengan Trailler (Gambar: 3.6), sebab jalannya alat ini sangat perlahan, kecepatannya sekitar 1 km/ jam.

Gambar: 3.6. Trailler

61

Keadaan tempat kerja Dragline yang baru bisa bermacam-macam, tergantung dari kondisi topografi lapangan dan tujuan kerjanya. Jika tempat kerja itu sudah berupa lereng, maka tak perlu lagi dibuat tempat kerja khusus; jika daerah yang akan digali itu masih berupa lapangan yang datar, Dragline harus membuat sendiri lereng tempat kerjanya. Panjang/ pendeknya boom tergantung dari macam kerja alat yang dilakukan oleh itu, boom pendek digunakan untuk mengangkut dan megisi alat-alat angkut seperti truck, lori dan sebagainya; boom panjang umumnya digunakan pada pekerjaan-pekerjaan penggalian dang pengupasan pada tambang aluvial, industri mineral dan sejenisnya.

3.

Bucket Wheel Excavator (BWE)

Bucket Wheel Excavator (sering disingkat BWE) adalah alat gali untuk pemindahan tanah, alat ini sesuai untuk digunakan pada material tanah penutup, baik itu berupa lapisan tipis maupun lapisan yang tebal, terutama jika berupa tanah, lempung, pasir, maupun material serpihan yang lunak. BWE merupakan salah satu alat gali yang bekerja secara terus menerus, umumnya dapat digunakan dengan baik di atas, di bawah, maupun pada lantai kerjanya; hasil penggalian kemudian dilimpahkan ke Belt Conveyor. Penggalian oleh BWE dilakukan oleh sebuah boom yang pada ujungnya terdapat roda besar yang sekelilingnya dipasang mangkuk-mangkuk (Gambar: 3.7). Boom beserta mangkuk-mangkuk yang berputar pada roda itu ditekan ke arah material yang digali. Jumlah mangkuk berkisar antara enam sampai 12 buah, sehingga penggalian dengan BWE dapat dilakukan secara terus menerus.

Gambar: 3.7. Bucket Wheel Excavator (BWE)

62

Cara penggalian mangkuk-mangkuk BWE dapat dibedakan menjadi tiga macam: d. Terrace Cut; yaitu penggalian dengan cara pemotongan permuka kerja ke arah depan, sehingga membentuk jenjang (Gambar: 3.8.a). e. Dropping Cut; yaitu suatu cara penggalian dengan memotong bagian permuka kerja ke arah bawah (Gambar: 3.8.b). f. Combination Cut, suatu cara penggalian gabungan; artinya cara penggalian permuka kerja secar terrace cut untuk bagian atas lapisan, dan secara dropping cut untuk bagian bawahnya.

a. Terrace Cut

b. Dropping Cut Gambar: 3.8. Cara penggalian mangkuk BWE

63

Kemampuan BWE antara lain: Menggali lapisan tanah penutup, menambang endapan-endapan material yang relatif lunak secara terus menerus, sehingga produksinya besar.

4.

Wheel Loader

Wheel Loader adalah salah satu alat muat yang kini banyak digunakan, sebab gerakannya lincah; tetapi jika digunakan untuk menangani daerah yang berlumpur atau berbatu tajam, maka sebaiknya roda-roda karetnya dilindungi dengan rantai baja. Bucket pada Wheel Loader digunakan untuk: menggali, mengangkat, dan mengangkut kesuatu tempat yang terjauh atau langsung dimuatkan ke alat angkut yang letaknya sama tinggi dengan tempat dimana Wheel Loader bekerja. Daya jangkau mangkuknya sangat terbatas, artinyatidak terlalu tinggi. Untuk menggerakkan bucketnya biasanya dilakukan dengan sisitim hidrolis. Untuk penggalian menggunakan Wheel Loader, mangkuk harus didorong ke arah permuka kerja, jika mangkuk telah penuh, kemudian Wheel Loader dimundurkan dan mangkuk diangkat ke atas untuk selanjutnya materialdiangkut kesuatu tempat penimbunan atau ke atas alat angkut. Kelebihan dan kekurangan Wheel Loader sebagai alat muat: Dalam operasinya, antara posisi memuat dan posisi membongkar Wheel Loader membutuhkan jarak untuk melakukan manuver. Jika jarak tersebut terbatas, maka akan menimbulkan persoalan, sebab ada kemungkinan Wheel Loader tidak dapat memutar. Buldoser hanya dapat mendorong material; kelebihan material yang diangkut oleh Buldoser akan tercecer ke sisi-sisi sudunya, untuk membersihkan ceceran itu digunakan Wheel Loader. Jika dibandingkan dengan Power Shovel, Wheel Loader mempunyai kelebihan dalam pemuatan material hasil peledakan, sebab Power Shovel sulit ditaruh di tempat yang sempit. Dibandingkan dengan Truck Loader, Wheel Loader lebih lincah dan lebih gesit.

E.

Alat Garu (Rooter / Ripper)

Sebenarnya alat garu (Ripper) berfungsi untuk membantu Buldoser dan Power Scrapper dalam mengatasi batu-batu yang keras. Buldoser ataupun Power Scrapper yang bekerja sendiri tanpa dibantu oleh Ripper dalam menghadapi batu-batu yang keras, hasil kerjanya tidak semaksimal seperti kalau dibantu dengan Ripper. Kakuatan Ripper tergantung pada kemampuan gigi-giginya untuk masuk ke dalam

64

tanah dan kekuatan Buldoser yang digunakan sebagai mesin penarik Ripper itu sendiri. Gigi Ripper dapat dinaik-turunkan sesuai dengan kedalaman penggalian yang dikehendaki dan kondisi material yang akan digaru. (Gambar: 3.9)

Gambar: 3.9. Ripper

Kegunaan Ripper: Membantu Buldoser pada waktu pembersihan lapangan, yaitu dengan melewatkan Ripper bebarapa kali, sehingga sebagian besar akar-akar pohon yang dilewati akan terputus, sehingga kerja Buldoser menjadi lebih ringan. Dengan gigi-giginya pohon dapat ditimbangkan tanpa harus menggali tanah disekeliling pohon itu. Membantu Power Scrapper ditempat-tempat yang bertanah keras; misalnya lumpur yang kering dan mengeras karena sinar matahari, akan lebih mudah ditangani oleh Power Scrapper jika sebelumnya telah dilalui beberapa kali oleh Ripper. Membuat parit kecil untuk mengalirkan genangan air. Merobek pavemet yang terbuat dari ubin, beton, atau aspal yang sangat sukar jika digali dengan alat lain.

65

Merusak jalan atau landasan pesawat terbang yang terbuat dari beton. Perusakan harus dimulai dari ujung landasan, supaya gigi Ripper dapat mencongkel lapisan beton tersebut dari bawah.

F.

Alat Penggilas (Roller)

Roller adalah peralatan untuk pemadatan tanah atau batuan secara mekanis. Pemadatan tanah isian atau batu, sering kali harus dilakukan pada pekerjaanpekerjaan pemindahan tanah. Tujuan dari pemadatan tanah isian ini perlu dikerjakan untuk menghindari terjadinya ruang-ruang pada tanah yang tak terisi material secara penuh. Tempat-tempat yang demikian ini bila mengalami tekanan yang sedikit besar akan tenggelam (ambles) dan menimbulkan lekukan-lekukan yang tidak dikehendaki. Pemadatan tanah tujuannya untuk mendekatkan masing-masing partikel tanah, sehingga kohesi dan sudut geser dalam dari tanah tersebut menjadi lebih besar; artinya tanah dapat lebih mantap/ tak mudah longsor. Tanah yang dipatdatkan tak mudah rusak karena adanya tekanan-tekanan luar yang tidak dikehendaki. Jadi memadatkan tanah/ batuan tujuannya untuk memperooeh suatu nilai kepadatan atau daya dukung yang dikehendaki, atau disesuaikan dengan beban/ muatan serta frekuensi litasan yang akan diderita oleh lapisan tanah itu. Kepadatan yang diinginkan biasanya dinyatakan dengan nilai California Bearing Ratio (CBR). Semakin besar nilai CBR suatu material, semakin baik pula kepadatan material itu. Ada tujuh macam Roller yang sering digunakan yaitu: (1) Sheep Foot Roller, (2) Smooth Steel Wleel Rolers, (3) Grid Type Rollers, (4) Mesh-Grid Roler, (5) Segment Rollers, (6) Pneumatic Tired Rollers, dan (7) Viberation Rollers.

G.

Grader

Grader dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu Tower Grader, dan Motor Grader. (Gambar: 3.10). Tower Grader membutuhkan alat penarik seperti Traktor atau Buldoser, tetapi Motor Grader mempunyai tanaga penggerak sendiri.

a. Tower Grader Gambar: 3.10. Jenis Grader

b. Motor Grader

66

Jenis Motor Grader dapat dibedakan menjadi tiga yaitu Straight Motor Grader, Articulated Motor Grader, dan Crab Type Motor Grader. (Gambar: 3.11) Straight Motor Grader adalah tipe yang paling sederhana, kerangka bagian depan menjadi satu dengan bagian belakang, sehingga dalam operasinya tidak luwes. Articulated Motor Grader mempunyai kerangka bagian depan dan roda-roda depanya dapat digerak-gerakkan, atau terpisah dengan kerangka bagian belakang; dalam operasionalnya tipe ini lebih luwes dan punya jari-jari perputaran yang lebih kecil dari tipe Straight Motor Grader. Crab Type Motor Grader hampir sama dengan tipe Articulated, tetapi roda-roda bagian belakan yang sebelah kanan dan kiri berotasi sendiri-sendiri, sehingga memungkinkan melakukan gerakan yang lebih bervariasi, jenis ini sangat cocok untuk daerah yang masih belum rata.

a. Straight Motor Grader

b. Articulated Motor Grader

Roda bagian muka dan belakang bisa dimiringkan dan berotasi sendirisendiri

c. Crab Motor Grader Gambar: 3.11. Jenis Motor Grader

67

B.

Memperkirakan Produksi Alat Berat

Produktivitas alat-alat pemindahan tanah mekanis ada beberapa cara, tergantung dari tingkat ketelitian yang dikehendaki, namun demikian secara umum produktivitas alat dapat dihitung dengan rumus yang sangat sederhana yaitu:

Q = q x (60/ Ws) x E Keterangan: Q = q = Ws = E =

Produktivitas alat dalam satu jam (satuan volume/ jam) Kapasitas alat per-siklus (satuan volume/ siklus) Waktu Siklus (menit) Efisiensi Total.

Dari rumus di atas dapat dilihat bahwa produktivitas alat tergantung pada jenis alat dan kapasitasnya, serta waktu siklus dan efisiensinya. Ada dua pengertian mengenai kapasitas alat yaitu peres dan munjung. Kapasitas peres adalah volume material dalam bucket atau alat untuk menempatkan material lainnya yang diukur rata dengan tepian bucket (Gambar 4.4.A); sedangkan kapaitas munjung adalah volume material di dalam bucket yang diusahakan menggunung sesuai dengan sifat materialnya. (Gambar 4.4B)

a. Kapasitas Peres Gambar 4.4. Kapasitas Alat

b. Kapasitas Minjung

Setiap alat berat yang bekerja pasti mempunyai kemampuan memindahkan material per- siklus atau per-jam. Siklus kerja adalah proses gerak dari alat mulai dari gerakan awalnya sampai alat itu kembali ke gerak awal itu lagi. Siklus antara satu dan alata berat lainnya berbeda.

68

Contoh: Siklus kerja Dump Truck Memuat mengangkut membuang Kembali

Siklus kerja Buldozer Tancap Sudu menggusur angkat sudu

Berputar kembali

Siklus kerja Dragline Melempar Bucket mengeruk tanah Nangkat bucket

Mangayunkan Bucket

Membuang tanah

Mengayunkan Bucket

Silus kerja alat teragantung dari macam pekerjaan yang ditangani, misalnya untuk Buldozer, apakah alat ini untuk menggusur tanah, memotong tanah, mengepras atau leveling, masing-masing pekerjaan ini punya siklus yang berbeda. Selain itu siklus kerja juga tergantung pada metode kerja yang digunakan, misalnya sebuah Back Hoe yang mengeruk tanah kemudian tanahnya dibuang begitu saja, siklusnya lain dengan jika Back Hoe tersebut megeruk tanah kemudian dimuatkan ke atas truck, atau tanah itu ditimbun pada stock pile. Dalam menangani pekerjaan tanah menggunakan alat berat, senantiasa diusahakan untuk memperkecil waktu siklus. Waktu siklus itu sendiri terdiri dari dua macam komponen yaitu waktu tetap dan waktu variabel/ berubah. Waktu tetap digunakan untuk : (1) memuat, (2) membuang, dan (3) manuver alat (Gambar 4.5)

69

Gambar 4.5. Waktu Siklus

WS = (D/VA + (D/VK) + t

Keterangan: WS D VA VK = = = = waktu siklus Jarak Keceepatan angkat Kecepatan kembali.

1.

Memperkirakan Produksi Bulldozer

Dalam hal ini Bulldozer digunakan untuk mendorong tanah dengan gerakan-gerakan yang teratur, misalnya pada penggalian selokan, pembuatan jalan raya, penimbunan kembali (Back Filling) dan penumpukan atau penimbunan (Stock Filling). Disarankan penggunaan Bulldozer untuk mendorong tanah bila: Jarak dorong tak lebih dari 200 ft untuk Bulldozer yang roda kelabang, dan 400 ft untuk Bulldozer roda karet. Material yang dipindahkan tak lebih dari 500 m3. Bila volumenya lebih banyak lebih baik mengunakan Power Scrapper.

70

Contoh 1. Bulldozer roda kelabang dengan mesin 180 HP memiliki sudu yang panjangnya 9,5 ft dan tinggi 3 ft. Kapasitas sudu dengan kemiringan tanah didepannya 1 : 1 besarnya 1,58 cu yd pada volume lepas (loose atau LCM). Material yang digali berupa tanah liat berpasir, jarak dorongnya 100 ft pulang pergi, kondisi lapangan kerja datar. Kecepatan maksimum pada Gigi-1 = 1,5 mph, dan gigi mudur = 3,5 mph. Hitunglah produktivitas alat tersebut tiap jam. Penyelesaian: Dianggap efisiensi kerja operator = sedang. Menurut Tabel 4.5 (Tabel Operator eficiency), untuk jenis Bulldozer roda kelabang dengan efisiensi kerja sedang, harga E = 83%. Besarnya Angka penyusutan/ pemuaian tanah liat berpasir pada kondisi lepas (SF) pada Tabel 4.6 besarnya 1,25.

a.

Mencari waktu siklus (WS) Waktu tetap (t) untuk memindahkan gigi, berhenti, manuver alat dan sebagainya = 0,320 menit (diketahui dari spesifikasi alat atau dapat juga berdasarkan anggapan). Jarak angkut (D) = 100 ft. Kecepatan angkut (VA) = 1,5 mph ( 1 mph = 5278 ft/ jam = 88 ft/ menit). Kecepatan mundur (VK) = 3,5 mph. = (D/VA) + (D/VK) + t WS = [100/(1,5 x 88)] + [100/ (3,5 x 88)] + 0,320 = 0,7588 menit + 0,327 menit + 0,320 menit = 1,4058 menit WS

b.

Mencari kapasitas alat per siklus (q) q q dalam kondisi BCM = = = 1,58 cu yd (dalam kondisi LCM) 1/1,25 x 1,58 cu yd 1,264 cu yd

c.

Mencari produktivitas alat per-jam (Q) Q = = = = q x 60/WS x E 1,264 c yd x 60 menit/ 1,4058 menit x 83% 44,8 cu yd per-jam 45 cu yd per-jam 34,23 m3/ jam (1 cu jd = 0,764 m3)

71

Contoh 2. Sebuah Crawler Dozer merk Catepillar Tipe D-5B akan digunakan untuk menggusur tanah lempung. Dari manual spesifikasi alat yang dikeluarkan oleh pabrik pembuatnya diketahui bahwa:

Catepillar Tipe D-5B mempunyai daya 105 HP Kecepatan dorong alat sebagai berikut:
Gear (gigi) Forewad (maju) 1 2 3 4 5 6 Reverse (Mundur) 1 2 3 Speed (kecepatan) mph Km/ jam 1,4 2,3 2,0 3,0 2,9 4,7 3,7 6,0 4,4 7,1 5,7 9,2 Draw Bar Pull (DBP) lbs kg 26.000 12.066 17,.450 7.915 12.300 5.580 9.300 4.220 7.750 3.515 5.640 2.565

1,6 3,4 4,4

2,6 5,5 7,1

23.600 10.250 7.700

10.750 4.650 3.495

Ukuran sudu: Panjang (P) = 3,15 m, Tinggi (H) = 960 mm Berat alat total = 11.700 kg (25.800 lbs)

Hitunglah taksiran produktivitas alat jika jarak dorongnya 60 m.

Penyelesaian. a. Mencari kapasitas sudu

2H

Kapasitas sudu = volume sudu = P x H x x (2H) = 3,15 x 0,96 x x (2 x 0,96) = 2,90 m3 (tanah dalam kondisi loose/ lepas)

72

Menurut Tabel 4.7 (Tabel Berat Jenis Tanah Asli, Berat Jenis Tanah Lepas, dan % Pengembangan) tanah lempung yang digali akan mengembang sebesar 22%. Jadi kapasitas sudu dalam kondisi padat (bank) adalah: Volume lepas = SF x Volume Bank 2,90 m3 = (100% + 22%) x Volume Bank Volume Bank = 2,38 m3

b.

Mencari berat beban pada sudu Berat Beban = = = Volume pada kondisi Bank x BJ Material *] 2,38 m3 x 2040 kg/ m3 4855 Kg

*]

Lihat Berat Jenis Lempung Tanah Liat Asli pada Tabel 4.7.

c.

Mencari kecepatan dorong Bulldozer Dari manual alat pada Tabel kecepatan dorong alat, untuk DBP = 5580 kg, kecepatan dorong alat = 4,7 km/ jam untuk DBP = 4220 kg, kecepatan dorong alat = 6,0 km/ jam.

Menurut hitungan, Berat beban = 4855 kg, maka keceepatan dorong untuk DBP = 4855 kg adalah: 4,7 + (5580 4855) / (5580 4220) x (6,0 -4,7) = 5,39 km/ jam.

d.

Kontrol apakah Dozer selip? Traksi Kritis (TK) = = = CT *] x 0,9 x 14.900 kg Berat total alat dan muatannya (11.700 kg + 4.855 kg)

*]

CT jalan lempung kering, bulldozer roda kelabang CT = 0,9 (Lihat Tabel 4.2)

Syarat agar Bulldozer tidak selip: TK > DBP *] 14.900 > 12.066 Kesimpulan: Dozer yang digunakan tidak selip.
*]

Lihat pada Tabel Kecepatan dorong alat. DBP maksimum = 12.066 kg, yaitu pada saat Dozer berjalan pada Gigi-1.

e.

Mencari waktu siklus. Waktu tetap (t) Jarak angkat (D) 73 = = 0,320 menit 60 m

Kecepatan angkut (VA) = 5,39 km/ jam = 89,833 m/ menit Kecepatan mundur (WK) = 7,1 km/ jam = 118,3 m/ menit (mundur mengunakan Gigi-3) WS = D/VA + D/VK + t = (60/89,833) + (60/118,3) + 0,320 WS = 1,495 menit

f.

Mencari produktivitas alat per-jam Q


Q

= =
=

q x 2,38 m3

60/WS + E*] x 60/1,493

+ 83%

79,28 m3/ jam (bank)

*]

Evisiensioperataor dianggap sedang (Lihat Tabel 4.5)

Selain untuk menggusur tanah, bulldozer sering digunakan untuk merobohkan atau membabat pohon. Bila digunakan untuk pembabatan, pohon yang akan dirobohkan punya diameter yang bermacam-macam, untuk itu digunakan persamaan: T = B + M1N1 + M2N2 + M3N3 +M4N4 + D x F Keterangan: T = Waktu yang digunakan untuk merobohkan pohon pada lapangan kerja seluas 1 acre (dalam satuan menit).
1 acre = 4046,71 m2 = 0,405 Ha = 43,560 ft2 1 mil = 640 acre = 259 Ha.

B M N D F

= = = = =

ft)

Waktu untum menjelajahi lapangan seluas 1 acre tanpa merobohkan pohon. Pohon dengan diameter tertentu (dalam ft) Jumlah pohon tiap acre untuk selang diameter tertentu. Jumlah diameter semua pohon > 6ft tiap acre (dalam Waktu untum merobohkan per ft dameter pohon yang mempunyai diameter > 6 ft di lapangan

Contoh 3 Bulldozer atepillar D7G dipakai untuk merobohkan pohon disuatu lapangan seluas 2 acre. Data pohon yang ditebang adalah sebagai berikut:
Diameter pohon (ft) Jumlah pohon (batang) Waktu untuk menebang per pohon

74

1-2 23 34 46 > 6,5

10 15 10 5 4

(menit) 0,3 1,5 2,5 7,0 2,0

Kecepatan jelajah lapangan seluas 2 acre = 20 menit Berapa lama perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk membabat pohon-pohon tersebut?

Penyelesaian: T = B + M1N1 + M2N2 + M3N3 +M4N4 + D x F = (20/2) + (10/2 x 0,3) + (15/2 x 1,5) + (10/2 x 2,5) + [(4x6,5/2) x 2,0] T = 78,8 menit

2.

Memperkirakan Produktivitas Power Scrappers

Produktaivitas Power Scrappers tergantung pada beberapa faktor, antara lain adalah: Keadaan material. Tenaga yang tersedia pada Power Scrappers untuk memuat. Rutet pengangkutan (kemiringan, trachee-nya, dan kondisi jalan). Kecepatan yang dapat dipakai sepanjang rute. Efisiensi kerja. Kapasitas Scrappers tergantung pada ukuran bowl (mangkuk) tempat wadah material, dan ditentukan oleh tanah yang dapat dimuat ke dalam bowl itu. Kapasitas Scrappers dinyatakan dalam dua ukuran yaitu: ukuran peres, dan ukuran munjung. Tanah yang dimuat dalam bowl adalah dalam kondisi lepas atau loose.

Contoh 1 Sebuah Power Scrapper mempunyai spesifikasi sebagai berikut: Kapasitas munjung = 15 cu yd. Berat kosong = 34.000 lbs (15,4 ton), di mana 60% beratnya diterima oleh roda yang bergerak. Bila berisi muatan, maka 50% dari beratnya diterima oleh roda penggeraknya. Kekuatan mesin = 186 HP Efisiensi mekanis = 85%. Kecepatan maksimum tiap-tiap gigi adalah: * Gigi-1 = 3,41 mph * Gigi-2 = 7,25 mph 75

* Gigi-3 = 12,65 mph * Gigi-4 = 22,28 mph * Gigi-5 = 35,03 mph. Scrapper tersebut akan digunakan pada lapangan dengan kondisi sebagai berikut: Jarak tempuh = 2 x 34.00 ft (lihat gambar) Tempat kerja dekat dengan permukaan laut. Lebar galian = 8 ft Kedalaman = 4 inchi Tebal isian = 9 inchi tiap pengosongan Power Scrapper. Kondisi jalan bagus dengan Rolling Resistance (RR) = 70 lbs/ ton dan coefisien (CT) = 60%. Jenis material yang diangkut adalah tanah dengan Swelling Factor (SF) = 80%.

Gambar lintasan scapper

Bobot isi tanah dalam kondisi bank = 2300 lbs/ cu yd. Efisiensi kerja dianggap = 83%.

Hitunglah produktivitas alat per-jam.

Penyelesaian: a. Mencari kapasitas bowl dalam kondisi Bank Cubic Yard (BCY) Kapasitas munjung = 15 cu yd ( dalam kondisi Loose Cubic Yard (LCY) Kapasitas BCY = Kapasitas LCY x SF = 15 cu yd x 80% = 12 cu yd. Mencari panjang galian agar scrapper penuh. Panjang galian = Volume Bowl dalam kondisi BCY Lebar galian x kedalaman galian = 12 cu yd / (8 ft x 4 inc) = 122 ft. Mencari panjang pengosongan Bowl Panjang pengosongan = Volume Bowl dalam kondisi LCY 76

b.

c.

Labar galian x tebal galian = 15 cu yd/ (lebar galian x tebal isian) = ( 15 x 27 ft3) [8 ft x (9/12)ft)] = 67,5 ft 67 ft. d. Mencari waktu tetap Waktu untuk mencapai kecepatan maksimum dan menganti gigi (t1) = 0,972 menit (diambildari data spesifikasi alat) Waktu untuk membelok (t2) --------> dua kali belok = 2 x 0,30 menit = 0,60 menit Jarak angkut waktu mengisi tanah (D1) = 122 ft. Kecepatan angkut waktu pengosongan (D2) = 67 ft Kecepatan angkut (VK) = 3,41 mph = 300,8 ft/ menit Waktu tetap = D1/VA + D2/VK + t1 + t2 = (122/300,08 + 67/300.08 + 0,972 + 0,6) menit Waktu tetap = 2,2018 menit

e.

Kontrol apakah roda selip? Mencari DBP pada masing-masing gigi. Rumus : DBP = RP = HP x 375 x Efisiensi mesin Kecepatan Hasil hitungan:
Gigi ke 1 2 3 4 5 Keceepatan (Mph) 3,41 7,25 12,65 22,28 35,03 DBP maks atau RP maks (lbs) 17.400 8.200 4.700 2.600 1.695

Mencari Traksi Kritis (TK). TK adalah Rimpull (RP) yang bisa diterima oleh roda kendaraan. Berat kendaraan = 3.400 lbs (=15,4 ton) Berat muatan dlm kondisi BCY = Vol dlm kondisi BCY x Bobot isi = 12 cu yd x 2.300 lb/ cu yd = 27.600 lbs Berat kedaraan dan muatannya = 34.000 lbs + 27.600 lbs = 61.600 lbs = 31 ton 50% dari berat tersebut diterima oleh roda penggerak. TK = Berat kendaraan x CT x 50% = 61.600 lbs x 60% x 50% = 18.480 lbs Syarat agar roda tideak selip: TK > DBP maksimum. RP yang bisa diterima oleh roda kendaraan = TK = 18.480 lbs DBP maksimum atau RP Maksimum = 17.400 lbs (alat berat 77

Bergerak pada Gigi-1). TK = 18.480 lbs > DBP maksimum = 17.400 lbs Jadi: roda tidak selip.

f.

Mencari waktu untuk mengangkut muatan Pada Jalur A-B Jarak angkut : 1600 ft dengan kemiringan 0% DBP untuk mengatasi RR = RR x Berat Kendaraan = 70 lbs/ ton x 31 ton = 2,170 lbs DBP untuk mengatasi kemiringan = 0 DBP Total = DBP untuk mengatasi RR + DBP untuk mengatasi kemiringan.

= 2.170 lbs + 0 = 2.170 lbs ---------> alat dapat bergerak dengan Gigi3 atau Gigi-4 Scrapper berjalan dengan Gigi-3. (DBP Gigi-3 = 4.700 lbs > DBP Total = 2.170 lbs, alat tidak selip) Kecepatan pada Gigi-3 = 22,28 mph = 1960 ft/ menit. Waktu tempuh jalur AB = Jarak/ Kecepatan = 1600/ 1960 = 0,816 menit Pada jalur B-C Jarak angkut = 1200 ft, dengan kemiringan -9%. DBP untuk mengatasi RR = RR x Berat kendaraan = 70 lbs/ ton x 31 ton = 2.170 lbs. DBP untuk mengatasi kemiringan = Berat kendaraan x GR x Kemiringan DBP utk mengatasi kemiringan = 31 ton x 20 lbs/ton/1% x (-9%) = - 5.580 lbs DBP Total = DBP untuk mengatasi RR + DBP untuk mengatasi Kemiringan DBP Total = 2.170 lbs 5.580 lbs = - 3.410 lbs. (BDP negatif berarti kemiringan medan membantu alat bergerak, dengan demikian scrapper dapat bergerak memakai gigi berapapun) Scrapper bergerak pada Gigi-5, kecepatan = 30 mph = 2640 ft/ menit Waktu tempuh jalur B-C = Jarak/ kecepatan = (1200/ 2640) menit = 0,454 menit 78

DBP Total

Pada Jalur C-D Jarak angkut 600 ft, dengan kemiringan 6%. DBP untuk mengatasi RR = RR x Berat kendaraan = 70 lbs/ ton x 31 ton = 2.170 lbs DBP utk mengatasi kemiringan = Berat kend x GR x kemirigan = 31 ton x 20 lbs/t/ 1% x 6% = 3.720 lbs DBP tot = DBP utk mengatasi RR + DBP utk mengatasi kemiringan = 2.170 lbs + 3.720 lbs = 5.890 lbs Agar tidak selip Scrapper dijalankan pada Gigi-2 (Pada Gigi-2 DBP = 8.200 lbs > DBP tot = 5.890). Kecepatan pada Gigi-2 = 7,25 mph = 638 ft/ menit. Waktu tempuh Jalur C-D = Jarak/ kecepatan = (600/638) menit = 0,94 menit

Total waktu mengangkut muatan Tot waktu mengangkut muatan = Waktu tempuh Jalur AB + BC + CD = (0,816 + 0,454 + 0,94) menit = 2,21 menit

g. alat

Mencari waktu saat kembali kosong Berat Scrapper kosong = 34.000 lbs = 17 ton, pada saat kosong 60% berat tersebut diterima oleh roda penggeraknya. Menghitung Traksi Kritis (TK) yang bisa diterima roda kendaraan. TK = Berat kedaraan x CT x 60% = 34.000 lbs x 60% x 60% = 12.240 lbs DBP yang mampu diterima roda = TK = 12.240 lbs DBP pada Gigi-2 = 8.200 lbs. TK = 12.240 lbs > DBP Gigi-2 = 8.200 lbs Jadi scrapper tidak selip jika dijalankan pada Gigi-2 Pada jalur D-C Jarak angkut = 60 ft, kemiringan -6%. DBP untuk mengatasi RR = RR x Berat kendaraan = 70 lb/ ton x 17 ton = 1.190 lbs

79

DBP utk mengatasi kemiringan = Berat Kendaraan x GR x kemiringan = 17 x 20 lbs/ ton/ 1% x (-6%) = -2.040 lbs DBP total = DBP utk mengatasi RR + DBP utk mengatasi kemiringan = 1.190 lbs - 2.040 lbs = -850 lbs Kemiringan negatif membantu scrapper bergerak, scrapper dapat berjalan menggunakan gigi berapapun. Dipakai Gigi-4, kendati pada gigi ini scrapper dapat bergerak dengan kecepatan maksimum 22,28 mph, tetapi dijalankan dengan kecepatan 20 mph (1.760 ft/ menit) Waktu tempuh Jalur D-C = Jarak/ kecepatan = 600/ 1.760 = 0,34 menit Pada jalur B-C Jarak angkut = 1.200 ft dengan kemiringan 9%. DBP utk mengatasi RR = RR x berat kendaraan = 70 lb/ ton x 13 ton = 1.190 lbs DBP utk mengatasi kemiringan = Berat kendaraan x GR x kemiringan = 17 ton x 20 lbs/ ton/ 1% x 9% = 3.060 lbs DBP total = DBP utk mengatasi RR + DBP utk mengatasi kemiringan DBP total = 1.190 lbs + 3.060 lbs = 4.250 lbs Scrapper dapata berjalan pada Gigi-3. DBP pada Gigi-3 = 4.700 lbs > DBP total = 4.250 lbs Kecepatan pada Gigi-3 = 12,65 mph = 1.113,2 ft/ menit Waktu tempuh Jalur B-C = Jarak / kecepatan = 1.200ft/ (1.113,2 ft/ menit) = 1,078 menit Paada Jalur A-B Jarak angkut = 1.600 ft dengan kemiringan 0%. DBP utk mengatasi RR = RR x Berat kendaraan = 70 lbs/ ton x 17 ton = 1.190 lbs DBP utk mengatasi kemiringan = 0 DBP total = 1.190 lbs + 0 = 1.190 lbs Scrapper dapata berjalan pada Gigi-5. DBP pada Gigi-5 = 1.695 lbs > DBP total = 1.190 lbs Kecepatan pada Gigi-5 = 35,03 mph = 3.082 ft/ menit Waktu tempuh Jalur A-B = Jarak / Kecepatan = 1.600 ft / (3.082 ft/ menit) = 0,519 menit 80

Total waktu untuk kembali Total waktu untuk kembali

= Waktu tempuh Jalur DC + CB + AB = (0,341 + 1,078 + 0,519) menit = 1,938 menit.

h.

Mencari Waktu Siklus WS = Waktu tetap + = 2,2018 menit + = 6,349 menit

Waktu Angkat 2,21 menit 6,35 menit

+ +

Waktu kembali 1,938 menit

i.

Mencari Kapasitas Scrapper per-Jam (Q) Q = q x 60/ Ws x = 12 cu yd x 60/ 6,35 x = 94,1 cu yd (dalam kondisi BCY) = 72 m3 (BCY)

E 83%

3.

Memperkirakan Produktivitas Dump Truck

Efisiensi dari kebanyakan dump truck bervariasi antara 80 sampai 85%, sedangkan produktivitasnya bergantung pada ukuran beban dan jumlah rit yang dapat dilakukan setiap jamnya. JUmlah rit per-jam bergantung pada: berat kendaraan, tenaga mesin dari truck itu, jarak angkut, dan kondisi jalan yang dilewatinya. Hal-hal tersebut berpengaruh pada waktu siklus dump truck itu. Waktu siklus dump truck terdiri dari: Waktu muat Waktu angkut

Waktu buang

Kembali

Manuver kendaraan

Cara memperkirakan produksi dump truck mirip dengan memperkirakan produktivitas Power Scrapper, bedanya hanya dalam hal perhitungan untuk memperkirakan waktu pemuatan dan pengosongan saja.

Contoh 1 Sebuah proyek perlu melakukan pemindahan tanah dengan kondisi sebagai berikut: 81

Proyek terletak pada ketinggian 900 m dari permukaan laut (dpl), jenis material yang ditangani adalah tanah liat berpasir dalam kondisi kering dan lepas, jarak pengangkutan 0,66 mil ( + 1,056 km), kemiringan jalan rata-rata = 2%.

Pemuatan material ke dump truck menggunakan power scrapper dengan data sebagai berikut: Kapasita produksi per-jam = 312 cu yd (BCM) RR rata-rata = 60 lbs/ ton CT rata-rata = 70%. Spesifikasi dump truck yang digunakan: Kapasitas muat = 15 cu yd (dalam kondisi BCM) Efisiensi mekanis = 85%. Efisiensi kerja = 50 menit/ jam. Berat kendaraan kosong = 36.800 lbs (= 16,56 ton). Tenaga = 200 HP Kecepatan dan Rimpull rata-rata di atas permukaan laut:
Perseneling 1 2 3 4 5 Kecepatan (mph) 3,2 6,3 11,9 20,8 32,7 Rimpull (lbs) 19.900 10.100 5.350 3.060 1945

Distribusi beban pada roda:

42,5% 42,5%

15%

Hitung berapa buah dump truck yang dibutuhkan

Penyelesaian 82

a.

Mencari Rimpull efektif pada masing-masing gigi. Karena elevasi proyek berada pada ketingian 900 m (= 3000 ft) dpl, maka ada pengaruh pada HP mesinnya. Kemerosotan HP karena elevasi = 3% x HP x [(elevasi 1000)/ 1000] = 12 HP Jadi HP efektif truck = 200 12 = 188 HP RP efektif pada masing-masing gigi: RP efektif = H efektif x 375 x (efisiensi mesin / kecepatan) Hasil hitungan:
Gigi 1 2 3 4 5 Kecepatan (mph) 3,2 6,3 11,9 20,8 32,7 RP (lbs) 18.726 9.512 5.036 2.881 1.832

b.

Kontrol apakah roda selip? 1.) Saat muatan penuh Menurut Tabel 4.6 dan Tabel 4.7 , untuk tanah liat berpasir yang kondisinya kering dan lepas: Berat jenis tanah asli = 2.700 lbs/ cu yd (BM) Swelling Factor (SF) = 25%. Berat kendaraan kosong = 36.800 lbs Berat muatan = 15 cu yd x 2.700 lbs/ cu yd = 40.500 lbs. Berat total = Berat kendaraan + berat muatan = 36.800 lbs + 40.500 lbs Berat total = 77.300 lbs 34,80 ton Traksi Kritis (TK) = Berat total x CT x 42,5% = 77.300 x 70% x 42.50% = 22.996,75 lbs RP untuk mengatasi RR = RR x berat total = 60 lbs/ ton x 34,8 ton = 2.076 lbs RP untuk mengatasi kemiringan = Berat kendaraan x GR x kemiringan = 16,56 ton x 20 lbs/ ton/ 1% x 2% = 662,4 lbs RP total = 2.076 lbs + 662,4 lbs = 2.738,4 lbs Syarat supaya tidak selip : TK > RP total TK = 22.996,75 lbs > RP total = 2.738,4 lbs ---> tidak selip. Pada saat muatan penuh truck bisa berjalan pakai Gigi-1 sampai Gigitanpa selip. 83

Truck berjalan pada Gigi-3, RP = 5.036 lbs dan kecepatan = 11,9 mph.

2.) -

= = = RP untuk mengatasi kemiringan =

Saat truck kosong RP untuk mengatasi RR

RR x Berat truck kosong 60 lbs/ ton x 16,56 ton 993,6 lbs

Berat kendaraan x GR x kemiringan = 16,56 ton x 20 lbs/ton/1% x 2% = 662,4 lbs RP total = RP utk mengatasi RR + RP utk mengatasi kemiringan = 993,6 lbs + 662,4 lbs = 1.656 lbs Traksi Kritis (TK) = Barat truck kosong x CT x 42,4% = 36.800 lbs X 70% x 42.4% = 10.948 lbs Syarat supaya tidak selip : TK > RP total TK = 10.948 lbs > RP total = 1.656 lbs ---> truck tidak selip. Pada saat kosong truck bisa berjalan pakai gigi berapapun. Truck dijalankan pada Gigi-5, RP = 1.832 lbs & kec = 32,7 mph

c. jam)

Mencari waktu siklus Waktu pemuatan

= (Kapasitas truck) / (Kapasitas Shovel per-

-.

= 15 cu yd/ ( 312 cu yd/ jam) = 0,0048 jam = 2,88 menit Waktu pengangkutan = Jarak angkut/ Kecepatan truck pada Gigi-3 = 0,66 mil / 11,9 mph = 0,055 jam = 3,33 menit Waktu kembali = Jarak angkut/ kecepatan truck pd Gigi-5 = 0,66 mil / 32,7 mph = 0,002 jam = 1,211 menit Waktu untuk menambah kecepatan = 1,5 menit (anggapan) Waktu untuk manufer dan pembuangan material = 1 menit (anggapan) WS = (2,88 + 3,33 + 1,5 + 1) menit = 9,921 menit

d.

Mencari kapasitas truck per-jam (Q) Q = = q 15 x x 84 60/ WS 60/9,921 x x E 50/60

= e.

75,6 cu yd/ jam

Mencari jumlah truck yang dibutuhkan (N) N = Q shovel / Q truck = 312/ 75,6 = 4,13 buah -------> dipakai 4 buah truck

Contoh 2. Pada penyelesaian Contoh 1, hasil hitungan menunjukkan bahwa jumlah truck yanga dibutuhkan (N) = 4,13 buah. Dalam hal ini ada dua kemungkinan, menggunakan 4 buah truck, atau 5 buah truck. Coba dihitung mana yang paling menguntungkan !

Penyelesaian. a. Jika menggukanan 4 buah truck waktu pemuatan untuk 4 buah truck = jumlah truck x waktu pemuatan = 4 x 2,88 menit = 11,52 menit Waktu Siklus (WS) = 9,92 menit Truck menunggu = 11,52 menit - 9,92 menit = 1,6 menit Efisiensi karena menunggu = WS / Waktu pemuatan x 100% = 9,92 menit/ 11,52 menit x 100% = 86,11% Jika mengukanan 5 buah truck waktu pemuatan untuk 5 buah truck = jumlah truck x waktu pemuatan = 5 x 2,88 menit = 14,4 menit Waktu Siklus (WS) = 9,92 menit Truck menunggu = 14,4 menit - 9,92 menit = 4,48 menit Efisiensi karena menunggu = WS / Waktu pemuatan x 100% = 9,92 menit/ 14,4 menit x 100% = 69% Efisiensi menunggu jika menggunakan 4 truck = 86,11% Efisiensi menunggu jika menggunakan 5 truck = 69% Kesimpulan: lebih untung menggunakan 4 buah truck.

b.

Contoh 3 85

Bagaimana jika menggunakan 3 buah truck?

Penyelesaian Menurut hitungan pada Contoh 1, untuk mengimbangi produktivitas Shovell dibutuhkan 4,13 truck. Jika hanya digunakan 3 buah truck saja, maka shovell harus menunggu truck untuk jangka waktu tertentu. menit WS Shovell menungu Efisiensi menunggu = = = = 8,64 menit = 9,92 menit = 9,92 menit 8,64 menit = 1,28 menit Waktu pemuatan / WS 8,64 / 9,92 x 100% 87% Waktu pemuatan untuk 3 buah truck = 3 x 2,88

4.

Memperkirakan Produktivitas Power Shovel

Cara memperhitungkan produktivitas power shovel agak berbeda, sebab harus memakai beberapa tabel khusus yang biasanya sudah dibuat oleh pabrik pembuatnya. Hal ini disebabkan karena adanya faktor-faktor yang mempengaruhi hasil produktivitas alat satu dan lainnya, faktor-faktur tersebut adalah: Macam material yang digali, dalamnya sudut penggalian, sudut putar, kondisi kerja, kondisi pengelolaan, ukuran alat angkut, pengalaman dan keterampilan operator, kondisi fisik alat, ketinggian dari muka laut. Power shovel mempunyai waktu siklus yang lebih pendek jika dibandingkan dengan alat-alat berat lainnya. Siklusnya terdiri dari empat gerakan dasar yaitu: Hoist = mengangkut dan menurunkan bucket, Crowd = mendorong dan menarik bucket, Swing = memutar bucket antara pengali dan membuang beban, Dump = membuka pintu bucket di bagian bawah untuk membuang beban. Operator yang sudah mahir dapat menggabungkan gerakan-gerakan siklus yang cepat tetapi beraturan, sehingga siklusnya lebih pendek. ini dengan

86

Contoh 1 Sebuah power shovel dengan unuran sekop (dipper) 1 cu yd, digunakan untuk menggali tanah keras. Kedalaman galian 7,5 ft dengan sudut putar rata-rata 70o. Dari hasil pengamatan di lapangan diketahui bahwa: Kondisi kerja termasuk kategori sedang, kondisi pengelolaan (manajenem) meralatan dikategorikan baik. Hiting produktivitas power shovel per-jamnya. Tabel 4.8 Tinggi Penggalian Ideal dan Produktivitas Dari Power Shovel dalam Cu yd/ jam (Pay Yard)*]
Macam tanah Moist loam atau light sandy clay Pasir dan Kerikil Tanah biasa Tanah liat, keras dan liat Batuan hasil peledakan Tanah liat, basah dan lengket Batuan yang besar-besar
*]

3/8 3.8 85 3.8 80 4.5 70 6.0 50 -40 6.0 25 -15

1/2 4.6 115 4.6 110 5.7 9.5 7.0 75 -60 7.0 40 -25

3/4 5.3 165 5.3 155 6.8 135 8.0 110 -95 8.0 70 -50

1 6.0 205 6.0 200 7.8 175 9.0 145 -125 9.0 95 -75

Ukuran Sekop (Shovel) dalam Cu Yd 11/2 13/4 2 21/2 11/4 6.5 7.0 7.4 7.8 8.4 250 285 320 335 405 6.5 7.0 7.4 7.8 8.4 230 270 300 330 290 8.5 9.2 9.7 10.2 11.2 210 240 270 300 350 9.8 10.7 11.5 12.2 13.3 180 210 235 265 310 -----155 180 205 230 275 9.8 10.7 11.5 12.2 13.3 120 145 165 185 230 -----95 115 140 160 195

23/4 435 420 380 335 300 250 215

3 465 450 405 360 320 270 225

31/2 525 485 455 405 365 310 270

4 500 555 510 450 420 345 305

Prodjosumarto, 1996

Penyelesaian. a. Mencari kedalaman optimal Dari Tabel 4.8 : untuk ukuran sekop = 1 cu yd dan material tanah liat keras, maka produktivitas ideal = 145 cu jd/ jam, dan kedalaman penggalian optimum = 9,0 ft.

Persen kedalaman penggalian = kedalaman galian x 100% Kedalaman galian optimum = (7.5/ 9,0) x 100% = 83% b. Mencari faktor konversi Faktor konversi dicari dari Tabel 4.9.

Tabel 4.9. Faktor Konversi (Pengaruh Kedalaman Penggalian dan Sudut Putar Power Shovel)*]
Dalamnya Penggalian Optimum (%) 45 60 Sudut Putar (o) 75 90 120 150 180

87

40 60 80 100 120 140 160 *] Prodjosumarto, 1996

0,93 1,10 1,22 1,26 1,20 1,12 1,03

0,89 1,03 1,12 1,16, 1,11 1,04 0,96

0,85 0,96 1,04 1,07 1,03 0,97 0,85

0,80 0,91 0,98 1,00 0,97 0,91 0,85

0,72 0,81 0,86 0,88 0,86 0,81 0,75

0,65 0,73 0,77 0,79 0,77 0,73 0,67

0,59 0,66 0,69 0,71 0,70 0,66 0,62

Menurut Tabel 4.9, untuk persen kedalaman 80% dan sudut putar 75o, besarnya faktor konversi = 1,04. Untuk persen kedalaman 80%, dan sudut putar 60o, besarnya faktor konversi = 1,12. Untuk persen kedalaman 80% dengan sudut putar 70o, dicari dengan cara interpolasi sebagai berikut: 1,04 + (75 70) x (1,12 - 1,04) = 1,07. (75 60) Persen kedalaman = 100% dan sudut putar = 75o, faktor konversinya = 1,07. Persen kedalaman 100% dan sidut putar = 60o faktor konversinya = 1,16, maka untuk persen kedalaman 100% dan sudut putar 70o, mempunyai faktor konversi sebesar: 1,07 + (75 70) x (1,16 + 1,07) = 1,1 (75 60) Persen kedalaman 80% dan sudut putar 70o, faktor konversinya = 1,07. Persen kedalaman 100% dan sudut putar 70o, faktor konversinya = 1,1. Untuk persen kedalaman 83% dan sudut putar 70o, faktor konversinya: 1,07 + (100 83) + (1,1 -1,07) = 1,0955 (100 80)

c.

Mencari produktivitas kerja Shovel (Q)

Untuk mencari praoduktivitas kerja harus diketahui dulu evisiensi kerja yang besarnya tergantung dari cara pengelolaan dan kondisi lokasi dimana pekerjaan itu dilakukan. Tabel 4.10 merupakan nilai efisiensi kerja dengan berbagai macam manajemen pengelolaan alat dan kondisi lapangan dimana pekerjaan tersebut dilakukan. Menurut Tabel tersebut, untuk kondisi kerja yang sedang dengan pengelolaan lapanganbagus, maka nilai efisiensi kerja = 0,69 Q = = Produktiivitas ideal x faktor konversi x efisiensi kerja 145 cu yd/ jam x 1,0955 x 0,6 = 109,6 cu yd/ jam 4.10. Evisiensi Kerja *] 88

Kondisi kerja Bagus sekali (exellent) Bagus (good) Sedang (fair) Buruk (poor) *] Prodjosumarto, 1996.

Kondisi Pengelolaan (Manajemen) Bagus sekali Bagus Sedang Buruk 0,84 0,81 0,76 0,70 0,78 0,75 0,71 0,65 0,72 0,69 0,65 0,60 0,63 0,61 0,57 0,52

Contoh 2 Tentukan perkiraan produktivitas dari 2 cu yd power shovel untuk menggali lempung keras dengan pemotongan = 7,5 ft. Menurut analisa lapangan, sudut ayun rata-rata = 75o, kondisi kerja = sedang, dan tata laksana = baik. Penyelesaian. Bucket dengan kapasitas 2 cu yd dapat menampung meterial lepas munjung sebanyak + 2,25 cu yd (LCD). Jadi untuk kapasitas munjung dengan kondisi BCY, kapasitas bucket = 2,25 : 1,25 = 1,8 BCY. (lihat Tabel 4.6, SF untuk lempung keras = 25%) a. Mencari % kedalaman optimum Menurut Tabel 4.8, untuk ukuran bucket bucket = 1,8 cu yd ( 13/4 cu yd) dan jenis material = tanah liat keras, diperoleh data: Produksi ideal = 235 cu yd kedalaman penggalian optimum = 11,5 ft Maka persen (%) kedalaman optimum = dalamnya pemotongan x 100% Penggalian optimum = 7,5/ 11,5 x 100% = 65%. b. Mencari produktivitas Shovel (Q) Menurut Tabel 4.10, untuk kondisi kerja sedang dengan tata laksana baik, harga efisiensi kerja (E) = 0,69. Q = Produksi Ideal x Faktor Konversi x E = 235 x 0,966 x 0,69. = 161,6 cu yd (tanah dalam kondisi BCY).

5.

Memperkirakan Produktivitas Dragline

Perhitungan produktivitas Dragline dapat dilakukan dengan cara yang mirip dengan perhitungan produksi kerja Power Shovel, tetapi gerakan dari Dragline agak berbeda, karena bucket pada Dragline dikotrol oleh kabel angkat dan tarik.

89

Siklus operasi Dragline terdiri dari empat gerakan dasar yaitu: Drag, menarik bucket melalui material untuk mengisi bucket. Hoist, mengangkat bucket setinggi pembuangan dari penggalian material, Swing, memutar bucket, Dump, membuang beban dengan cara mengendorkan kabel tarik. Menurut pengalaman, produksi Dragline berkisar antara 75 80% dari produksi Power Shovel dengan ukuran bucket yang sama. Sebagaimana pada Power Shovel, kapasitas kerja per-jam dari Dragline juga dipengaruhi oleh ukuran mangkuk, jenis tanahnya, sudut putar dan persen optimum penggalian. Disamping faktor-faktor yang tersebut di atas, jenis material mempengaruhi faktor muat dari Dragline tersebut; berikut ini diberikan tabel-tabel yang diperlukan untuk memperkirakan produktivitas Dragline. Tabel 4.11. Kapasitas dan Tinggi Penggalian Ideal dari Dragline dalam cu yd/ jam*]
Jenis Tanah /8 Tanah liat lunak 5,0 70,0 Pasir atau 5,0 kerikil 65,0 Tanah biasa 6,0 55,0 Tanah liat keras 7,3 35,0 Tanah liat basah 7,3 dan lengket 20,0 *] Prodjosumarto, 1996.
3

5,5 95,0 5,5 90,0 6,7 75,0 8,0 55,0 8,0 30,0

Ukuran Mangkok (Bucket) dalam Cu yd 3 /4 1 11/4 11/2 13/4 6,0 6,6 7,0 7,47 7,7 130,0 160,0 195,0 220,0 245,0 6,0 6,6 7,0 7,4 7,7 125,0 155,0 185,0 210,0 235,0 7,4 8,0 8,5 9,0 9,5 105,0 135,0 165,0 190,0 210,0 8,7 9,3 10,5 10,7 11,3 90,0 110,0 135,0 160,0 180,0 8,7 9,3 10,5 10,7 11,3 55,0 75,0 95,0 110,0 130,0

2 8,0 265,0 8,0 255,0 9,9 230,0 11,8 195,0 11,8 145,0

21/2 8,5 305,0 8,5 295,0 10,5 265,0 12,3 230,0 12,3 175,0

Tabel 4.12. Pengaruh Kedalaman Penggalian dan Sudut Putar Dragline *]


Dalam Penggalian % Optimum 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 Prodjosumarto, 1996. 30o 1,06 1,17 1,24 1,29 1,32 1,29 1,25 1,20 1,15 1,10 45o 0,99 1,08 1,13 1,17 1,19 1,17 1,14 1,10 1,.05 1,00 60o 0,94 1,02 1,06 1,09 1,11 1,09 1,06 1,02 0,98 0,94 Sudut Putar (derajad) 75o 90o 120o 0,90 0,87 0,81 0,97 0,93 0,85 1,01 0,97 0,88 1,04 0,99 0,90 1,05 1,00 0,91 1,03 0,99 0,90 1,00 0,96 0,88 0,97 0,93 0,85 0,94 0,90 0,82 0,90 0,87 0,79 150o 0,75 0,78 0,80 0,82 0,83 0,82 0,81 0,79 0,76 0,.73 180o 0,70 0,72 0,74 0,76 0,77 0,76 0,75 0,73 0,71 0,69

*]

90

Tabel 4.13. Hubungan Faktor Muat dan Material *] Material Faktor Muat (%) Sand & Gravel 90 100 Common Earth 80 -090 Hard Clay 65 75 Wet Clay 50 60 Rock, Well Blaster 60 75 Rock, Poorly Blaster 40 50 *] Prodjosumarto, 1996

Contoh. Tentukan perkiraan produktivitas dari 2 cu yd dragline dengan boom 70 ft pada 40o dan berat muatan maksimum alat = 11.000 lbs. Dragline digunakan untuk menggali hard clay dengan kedalaman potongan = 15,4 ft, sudut ayun dragline = 120o. Berat bucket kosong = 4.825 lbs, berat material = 2.400 lbs, dan kondisi kerja dianggap sama seperti pada contoh Power Shovel. Penyelesaian. a. Menghitung kemampuan muat dragline Berat material Berat bucket kosong = 2.400 lbs (LCY) = 4.825 lbs + Berat Total = 7.225 lbs < 11.000 lbs Berat total < Berat muatan maksimum dari alat.

b.

Mencari % kedalaman optimum Ukuran bucket = 2 cu yd. Material yang digali: lempung keras; menurut Tabel 4.11 Produksi ideal = 195 cu yd (BCM) Kedalaman penggalian optimum = 11,8 ft % kedalaman optimum = Dalamnya penggalian x 100% Penggalian optimum = 15,4 ft x 100% 11,8 ft = 130% Mencari faktor konversi Menurut Tabel 4.12, untuk sudut putar 120o dan persen kedalaman optimum 120%, besarnya faktor konversi = 0,90, sedangkan untuk sudut putar 120o dengan persen kedalaman optimal 140%, besar faktor konversinya = 0,99. Dengan cara interpolasi dapat dicari sudut putar ideal = 120o dan persen kedalaman optimum = 130%. Menurut hasil hitungan besar faktor konversi = 0,945. 91

c.

d.

Mencari produktivitas kerja (Q) Efisiensi kerja (E1) menurut contoh soal Power Shovel = 0,69. Faktor muatan (E2) untuk jenis material Hard Clay menurut Tabel besarnya = 65%. Q = Produksi ideal x Faktor Konversi x E1 x E2 Q = 195 x 0,945 x 0,69 x 0,65 = 82,64 cu yd/ jam (BCM)

4.13

6.

Memperkirakan Produktivitas Bucket Wheel Excavator (BWE)

Secara teoritis, produksi BWE dapat dihitung menggunakan rumus: Qth Keterangan: Qth I S f = (I x S x 60 x f) 27

= = = = =

Produksi teoritis (cu yd/ jam) Kapasitas mangkuk (cu yd) Banyaknya penumpahan mangkuk per menit Swelling Factor (SF) Faktor pengembangan material (%)

Perhitungan produksi BWE dapat didasarkan pada kecepatan penggalian da ri mangkuknya, sehingga dapat dihitung dengan rumus: Qth Keterangan: Qth Z Vc D Vc Keterangan: S = I x Z x Vc x 3600 x f / (D x 27) Produksi teoritis (cu yd/ jam) Jumlah mangkuk Kecepatan menggalian (ft/ detik) Diameter roda (ft) (S x D) / (60 / Z)

= = = = =

Banyaknya penumpahan mangkok per-menit

Jika perhitungan produksi BWE dilakukan bersarkan kecepatan ayunan (swing) dari boom, maka digunakan rumus: Qth Keterangan: = h x D x Vs x 60

h = tinggi setiap lapisan penggalian 92

7.

Memperkirakan Produktivitas Loader

Dasar kerja untuk memperkirakan produksi loader adalah gerakan dasar pada bucket dan cara membawa muatan untuk dimuatkan ke tempat lain. Gerakan bucket yang terpenting adalah: Turun ke permukaan tanah, mendorong ke depan (baik untuk memuat, atu menggusur material), mengangkat bucket dari permukaan tanah, membawa dan membuang muatan tersebut. Bila material yang d ibawa harus dimuat ke alat angkut yang lain seperti truck, ada cara pemuatannya: (Lihat Gambar 4.6) V loding, yaitu cara pemuatan dengan lintasan yang berbentuk V. I loading, yaitu truck berada di belakang loader lalu melintas. Cross loading, yaitu cara pemuatan dengan truck yang juga aktif.

Gambar 4.6. Cara Pemuatan pada Loader


[Sumber:Suryadharma dan Wigroho, 1998]

Hal yang perlu mendapat perhatian adalah: dalam pemuatan material diusahakan sedemikian rupa sehingga berat material yang diangkut tak sampai menyebabkan Loader terjungkal. Untuk itu biasanya kapasitas maksimum diambil 50% dari muatan statis (static tipping load) yang paling tidak menguntungkan.

93

Faktor-faktor yang mempengaruhi kapasitas produksi loader meliputi: Kapasitas ukuran bucket (q) Waktu siklus (Ws) Kondisi/ efisiensi kerja (E) Seperti pada peralatan yang lain, waktu siklus (WS) untuk loader terdiri dari: waktu tetap dan waktu tidak tetap. Waktu tetap digunakan untuk gerakan-gerakan: Raise time; jaitu waktu yang digunakan untuk mengangkut bucket dari bawah ke suatu ketinggian yang diinginkan (dalam detik) Lower time, yaitu waktu yang diperlukan untuk menurunkan bucket yang telah kosong (dalam detik) Dump time, yaitu waktu yang diperlukan untuk pembonbkaran atau penuangan muatan (dalam detik)

Waktu tak tetap digunakan untuk mengatur posisi loader (Gambar 4.7); untuk pemilihan alat digunakan beberapa urutan hitungan/ prakiraan yaitu: Hitung terlebih dahulu produksi yang diperlukan (Q) Hitung perkiraan waktu siklus (WS) Menentukan besarnya beban angkut per-siklus dalam satuan volume (m3), atau dalam satuan berat (kg). Pilih ukuran bucket yang menguntungkan. Pilih ukuran alat dengan ukuran bucket dan beban angkat yang sesuai dengan produktivitas yang harus dihasilkan.

Gambar 4.7. Waktu tak Tetap pada Cara Pemuatan V Loading


[Sumber: Rochmanhadi, 1985]

94

Kapasita loader antara pabrik pembuat satu dengan yang lain berbeda-beda, biasanya cara perhitungan produktivitas loader didasarkan pada spesifikasi pabrik yang memproduksi alat tersebut, misalnya Catepillar, Komatsu dan sebagainya. Tabel 4.14 adalah contoh kemampuan Wheel Loader merk Catepillar dan static tipping load dari beberapa tipe alat. Static tipping load (STL) adalah berat statis total loader dengan muatannya yang menyebabkan loader tersebut terjungkal. Umumnya maksimum beban bucket yang diijinkan diambil 50% dari STL alat yang digunakan. Perhitungan basic cycle time (dasar waktu siklus) didasarkan pada tiga cara pemuatan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.6, Catepillar memberikan perkiraan lamanya antara 0,45 sampai 0,55 menit, perkiraan tersebut dihitung berdasarkan pada: Kondisi permukaan tanah yang dianggap tanah keras, sudah termasuk waktu muat dan waktu buang, pengangkutan dilakukan dengan jarak minimal. Tabel 4.14 Kemampuan Wheel Loader Merk Pabrik Catepillar*]
Kapasitas Bucket (m3) Munjung Peres 910 1,00 0,67 920 1,15 0,91 930 1,53 1,15 950B 2,40 2,03 966D 3,10 2,60 980C 4,00 3,45 988B 5,40 4,50 992C 10,32 8,56 Suryadharma, 1998. Model Static Tipping Load (kg) Lurus Membuat sudut 45o 4.504 4.062 5.923 5.443 7.230 6.676 10.630 9.550 13.774 12.667 18.490 16.945 22.450 20.290 48.133 43.206

*]

Waktu siklus (Cycle time) dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: Material yang dibawa, asal material itu diambil tempat pembuangan material yang diangkut, alat yang dipakai, apakah alat itu milik sendiri atau menyewa. Penambahan waktu siklus atau faktor-faktor tersebut terdapat pada Tabel 4.15, kendati tabel tersebut diambil dari loader keluaran Catepillar, namun untuk perhutungan perkiraan bagi loader merk-merk lainnya sudah cukup baik. Tabel 4.15. Faktor Cycle Time pada Wheel Loader merk Catepillar*]
1. Kondisi Material Bahan a. Campuran b. sampai dengan 3 mm c. 3 mm sd 20 mm d. 20 mm sd 150 mm e. > 150 mm Penambahan/ pengurangan waktu (menit) + 0,02 + 0,02 - 0,02 0 + 0,03 atau lebih

95

2.

Mengambil dari timbunan a. Hasil timbunan dari conveyor atau dozer > 3m b. Hasil timbunan dari conveyor atau dozer < 3m c. Hasil buangan truck

0 + 0,01 +0,02 - 0,04 atau lebih + 0,04 atau lebih - 0,04 atau lebih + 0,04 atau lebih + 0,04 atau lebih + 0,04 atau lebih

Lain-lain a. Truck & Loader milik sendiri b. Truck & Loader bukan milik sendiri c. Operasi tetap d. Operasi tidak tetap e. Empat buangan sempit f. Tempat buangan luas *] Suryadharma, 1998.

3.

Dalam setiap kali pengangkutan, jumlah material yang dibawa oleh bucket tak selalu tepat dengan kapasitas sebenarnya, ada kalanya dapat penuh, tetapi sering kali juga tak penuh. Hal tersebut tergantung rari jenis material yang dibawa, oleh karena itu perlu dilakukan koreksi sebab penuh/ tidaknya kapasitas bucket dalam setiap kali pengangkutan tergantung pada mataerial yang dibawa. Jenis bahan yang diangkut beserta besarnya faktor koreksi dari bucket terdapat pada Tabel 4. 16. Tabel 4.16 Bermacam-macam Harga Bucket Fill Factor (BFF) Dari Wheel Loader Merk Catepillar.*] 1.
Bahan Material Lepas a. Butiran basa tercampur b. Butiran seragam sampai dengan 3 mm c. Bitiran 3 mm sd 9 mm d. Butiran 12 mm sd 20 mm e. > 24 mm BFF (%) 95 100 95 100 90 95 85 90 85 - 90

Material Pecah a. Radasi baik b. Gradasi sedang c. Gradasi jelek *] Suryadharma, 1998.

2.

80 85 75 80 60 - 65

Loader merk Komatsu menentukan waktu silkus berdasarkan pada cara pemuatannya. Untuk cara pemuatan V loading atau I loading digunakan rumus: WS = 2 (J/F + J/R) + Z

Untuk cara pemuatan Cross Loading digunakan rumus: WS = J/F + J/R + Z

Untuk cara pemuatan Load and Carry digunakan rumus:

96

WS Keterangan: WS J F R Z

= 2 x J/F + Z

= = = = =

Waktu Siklus (menit) Jarak angkut (meter) Kecepatan maju (meter/ menit) Kecepatan mundur (meter/ menit Waktu tetap

Kecepatan maju dan mundur untuk beberapa wheel loader merk Komatsu terdapat pada Tabel 4.17, sedangkan waktu tetap untuk ke tiga cara pemuatan terdapat pada Tabel 4.18.

Tabel 4.17. Kecepatan Whell Loader Komatsu.*]


Kapasitas Bucket (m3) W-20 0,60 W-30 0,80 W-40 1,20 W-60 1,40 W-70 1,70 W-90 2,30 W-120 3,30 W-170 3,50 W-260 5,70 *] Suryadharma, 1998 Model Static Tipping Load (kg) Lurus belok 2.400 2.150 2.940 2.635 4.350 3.800 5.170 4.240 6.690 6.080 9.670 8.700 13.150 11.840 14.300 12.900 27.200 24.450 Kecepatan (km/ jam) Maju Mundur 7,5 25 5 10 7,5 25 5 10 7,2 -34,5 7,2 35 7,6 38,1 7,6 38,3 7,1 34,4 7,1 34,5 7,5 30,4 8,0 32,3 7,1 30 7,5 32,3 7 40 7 40 7,2 32,6 7,2 32,6

Tabel 4.18. Waktu Tetap untuk Wheel Loader Komatsu (menit)*]


Cara muat Direct Drive Hydraulic Shift Drive Torqlow Drive *] Suryadharma, 1998 I dan V Loading 0,25 0,20 0,20 Cross Loading 0,35 0,30 0,30 Load & Carry ----0,35

Contoh 1 Suatu proyek membutuhkan material sebanyak 250 ton/ jam untuk dimuatkan ke truck. Material yang dimuat adalah kerikil 9 mm yang berasal dari stockpile yang tinginya 6 m. Berat volume kerikil tersebut 1.660 kg/ m3, kapasitas truck yang dipakai 9 m3 milik dari tiga kontraktor yang berbeda. Cara muatan tetap, permukaan tanah keras, kondisi medan baik, dan manajemen peralatannya baik. Peralatan yang digunakan adalah Wheel Loader merk Catepillar, pilihlah wheel loader mana yang paling sesuai untuk pekerjaan itu. Penyelesaian. 97

Basic Cycle Time menurut Catepillar berkisar antara 0,45 sampai 0,55 menit; diambil = 0,50 menit. Jenis material, kerikil 9 mm yang berasal dari stocpile. Menurut Tabel 4.16 ada pengurangan waktu sebesar -0,02 menit. Truck yang dipakai adalah sewaan, menurut Tabel 4.15, untuk truck yang disewa terdapat mpenambahan waktu sebesar + 0,04 menit. Cara pemuatanya tetap, menurut Tabel 4.15, terdapat pengurangan waktu sebanyak 0,04 menit. Material diambil dari stock pile, menurut Tabel 4.15 jika material diambil dari conveyor (operasi tetap) tak ada penambahan/ pengurangan waktu. Mencari WS Basic Time = 0,50 menit Janis material, kerikil 9 mm = - 0,02 menit Truck menyewa = 0,04 menit Operasi tetap = - 0,04 menit Asal material dari stock pile = 0,00 menit + WS = 0,48 menit Jumlah siklus per-jam = 60/ Ws = 60/ (0,48) 125 siklus Berat volume tarerial = 1.660 kg/ m3 1,66 ton/ m3 Rerata produksi per-jam yang dibutuhkan = 250 ton Berat Volume = 250 ton/ (1,66 ton/ m3) = 150 m3 per-jam Volume yang dibutuhkan per-siklus = Produksi per-jam jumlah siklus per-jam = (150 m3 per-jam) (125 per-jam) = 1,2 m3 Mencari Bucket Fill Factor (BFF) menggunakan Tabel 4.17. Untuk material lepas yang berupa butiran kerikil 9 mm, maka besarnya BFF antara 90 sampai 95%, diambil BFF = 95%. Mencari Efisiensi Kerja (E) nmengunakan Tabel 4.10. Untuk kondisi medan baik dan manajemen alat yang bagus E = 0,75. Mencari kapasitas bucket yang diperlukan (q) Volume per-siklus (BFF x E) = 120 m3 (0,95 x 0,75) = 1,68 m3 Mencari berat muatan pada Bucket Berat muatan pada bucket = q x Berat Volume material = 1,68 m3 x 1,66 ton/ m3 = 2,789 ton = 2789 kg Memilih tipe alat (Tabel 4.14) Dicoba Tipe (50 B ----------> STL = 9.550 kg 98 q =

Kapasitas maksimum alat

Berat muatan

= = = =

50% x STL 50% x 9.550 kg 4.775 kg 2.789 kg

Jadi Catepillar Tipe 950B dapat dipakai. Seperti pada loader keluaran Catepillar, loader Merk Komatsu juga membutuhkan faktor koreksi bucket, sebab dalam setiap kali angkut material dalam bucket tidak mungkin sama banyaknya. Komatsu mengeluarkan pedoman untuk penentuan Bucket Fill Factor (BFF) yang berbeda dengan Catepillar. (Tabel 4.19)

Contoh 2. Coba selidiki, apakah sebuah Wheel Loader Komatsu W 170 dengan kapasitas bucket = 3,50 m3 dapat digunakan untuk memuatkan tanah urug ke atas truck. Kondisi operasi pemuatan: (1) cara pemuatan Cross Loading dengan hidroulic shift drive, (2) jarak angkut = 10 m, (3) material yang diangkat adalah lempung berpasir dengan berat volume = 1.640 kg/ m3, (4) kondisi medat dan manajemen alat mempunyai kategori baik. Tabel 4.19. Bucket Fill Factor (BFF) dari Wheel Loader Merk Komatsu*]
Kriteria Penggalian Mudah Kondisi Muatan Gali dan muat material dari stock pile, atau material yang sudah digusur degnan alat lain, sehingga tidak diperlukan tenaga menggali yang besar dan bucket dapat penuh, misalnya: tanah pasir, tanah gembur. Gali dan muat dari stockpile memerlukan tekanan yang cukup, kapasitas bucket kurang dapat munjung, misalnya: pasir kering, tanah lempung lunak, kerikil Sulit untuk mengisi bucket pada jenis material yang digali, misalnya batu-batuan, lempug keras, kerikil berpasir, tanah berpasir, lumpur Manggali pada batu-batuan tidak beraturan bentuknya, yang sulit diambil dengan bucket., misalnya: batu pecah den gan gradasi jelek. BFF (%) 80 - 100

Sedang

60 - 80

Agak Sulit

50 - 80

Sulit
*]

40 -50

Suryadharma, 1998

Penyelesaian a. Menghitung WS Mencari kecepatan loader; menurut Tabel 4.17, Komatsu Tipe W 170 mempunyai kecepatan: Kecepatan maju (F) = 7 km/ jam 116,6 m/ menit Kecepatan mundur (R) = 7 km/ jam 116,6 m/ menit. Kapasitas bucket (q) = 3,5 m3 (LCM) 99

Cara pemuatan = Cross loading dengan Hidroulic Shift Drive. Menurut Tabel 4.18, nilai Z untuk cara pemuatan seperti di atas besarnya = 0,3. WS = J/F + J/R + Z = 10/116,6 + 10/116,6 + 0,3*] = 0,471 menit

b.

Menghitung produktivitas alat per-jam (Q) Material yang digali adalah lempung kepasiran dengan kategori pengerjaan mudah; menurut Tabel 4.19, besarnya nilai BFF berkisar antara 80 sampai 100%, diambil BFF = 90% Untuk pengelolaan manajemen dan kondisi kerja yang bagus, nilai evisiensi (E) pada Tabel 4.10 besarnya = 0,75. Q = q x 60/WS x E x BFF = 3,5 m3 x 60 menit x 0,75 x 90% 0,471 menit = 301 m3/ jam

Kontrol kestabilan alat Menurut Tabel 4.17, Komantsu Tipe W170 mempunyai Static Tipping Load (STL) yang besarnya 12.900 kg, yaitu pada saat belok. Kapasitas angkut maksimum 50% dari STL Kapasitas angkut maksimum = 50% x 12.900 kg = 6.450 kg Berat muatan = q x berat Volume material = 3,5 ton x 1.640 ton/ m3 = 5,74 ton = 5.740 kg Syarat agar loader tidak terjungkal: Kapasitas angkut maksimum > Berat muatan 6.450 kg > 5.740 kg Jadi Komatsu W 170 dapat digunakan dengan aman. c.

8.

Memperkirakan Produktivitas Ripper

Ripper atau garu merupakan alat pembantu Bulldozer dan Power Scrapper untuk mengatasi material yang keras. Pada kenyataannya pekerjaan penggaruan (ripping) merupakan pekerjaan awal untuk membantu tugas penggusuran (dozing) terhadap penanganan tanah atau batuan yang agak keras, artinya seteelah material itu digaru, selanjutnya akan digusur. Rumus-rumus untuk memperkirakan produksi ripper biasanya ada dua yaitu: (1) rumus untuk ripper yang diletakkan di belakang atau ditarik dengan bulldozer, dan (2) rumus untuk ripper yang digabungkan dengan alat penggusur. Rumus untuk ripper yang diletakkan di belakang atau ditarik dengan 100

Bulldozer. Q = LK x KP X J x 60 x FK (J/F + J/R + Z) = Produktivitas ripper (m3/ jam dalam kondisi LCM), = Kedalaman penetrasi alat garu (m) = Lebar permukaan kerja (m), biasanya besarnya dihitung = 2 x KP = Jarak penggaruan (m) = Faktor koreksi = Kecepatan maju (m/ menit) = Kecepatan mundur (m/ menit) = Waktu tetap.

Keterangan: Q KP LK J FK F R Z -

Rumus untuk ripper yang digabungkan dengan alat pengusur Qgab = (Qgr x Qgs)/ (Qgr + Qgs) = = = Produktivitas gabungan (m3/ jam) Produktivitas alat penggaru (m3/ jam) Produktivitas alat penggusur (m3/ jam)

Keterangan: Qgab Qgr Qgs Contoh 1

Sebuah Bulldozer Komatsu D 355A digunakan untuk tugas penggaruan dengan jarak pengaruan rata-rata 30 m. Data teksis alat: Kedalaman penetrasi gigi = 0,30 m. Faktor pengembangan (SF) = 80%. Efisiensi waktu = 0,83. Efisiensi operator = 0,80. Kecepatan Bulldozer pada Gigi-1, maju = 2,3 km/ jam. Kecepatan Bulldozer pada Gigi-1, mundur = 2, 6 km/ jam. Waktu tetap (Z) = 0,05 menit. Hitunglah produktivitas alat per-jam dengan memperhitungkan faktor kecepatan. Penyelesaian. Karena faktor percepatan diperhitungkan, maka perlu ada koreksi pada kecepatankecepatan bulldozer pada saat maju maupun mundur. Pada waktu perpindahan gigi, misalnya dari Gigi-1 ke Gigi-2, alat tak dapat langsung berada pada kecepatan maksimal gigi yang baru. Untuk mencapai kecepatan gigi baru secara maksimal, dibutuhkan waktu beberapa saat. Koevisien pengali untuk waktu yang dibutuhkan 101

oleh alat tersebut mencapai kecepatan maksimal pada gigi yang baru ini disebut faktor kecepatan. Faktor kecepatan dipengaruhi oleh jarak yang ditempuh, semakin jauh jarak tempuhnya maka semakin besar pula faktor kecepatrannya; karena faktor kecepatan ini merupakan perkiraan saja, maka dalam perhitungannya tanpa diperhatikan bagaimana kondisi jalan yang dilalui alat berat itu. Besar faktor kecepatan dalam berbagai-bagai jarak tempuh terdapat pada Tabel 4.4. Kedalaman penetrasi alat garu (KP) = 0,30 m. Lebar Permukaan Kerja (LK) = 2 KP = 2 x 0,30 m = 0,60 m. Jarak penggaruan (J) = 30 m Kecepatan maju (F) pada Gigi-1 sebelum dikoreksi = 2,3 km/ jam Kecepatan mudur (R) pada Gigi-1 sebelum dikoreksi = 2,6 km/ jam Mencari Faktor Kecepatan dari Tabel 4.4. J = 30 m = 100 ft Faktor Kecepatan = 0,46 sd 0,78. Diambil waktu maju = 0,70 dan waktu mundur = 0,75. F koreksi = F x Faktor kecepatan = 2,3 km/ jam x 0,70 = 1,6 km/ jam = 26,83 m/ menit R koreksi = R x Faktor kecepatan = 2,6 km/ jam x 0,75 = 1,95 km/ jam = 32,5 m/ menit Waktu tetap (Z) = 0,05 menit Faktor Koreksi (FK) = efisiensi waktu x efisiensi kerja x Efisiensi operator FK = 0,80 x 0,75 X 0,80 FK = 0,498 0,50 Produktivitas Alat per-jam (Q) = LK x KP x J x 60 x FK (1/F + 1/R + Z) Q = 0,60 x 0,30 x 30 x 60 x 0,50 (30/26,83 + 30/32,5 + 0,05) = 46,48 m3/ jam

Contoh 2 Sebuah alat garu yang hanya memakai satu gigi garu, dipergunakan untuk menggali dengan jarak antar lintasan sepanjang 3 ft. Kecepatan alat rata-rata = 1 mph. Tiap 300 ft guru harus diangkat, berputar dan mulai menggaru lagi. Gerakan-gerakan tersebut membutuhkan waktu 0,25 menit. Kedalaman garu rata-rata 2 ft dan efisiensi kerja diperkirakan 75% (lihat gambar). Hitung produksi alat tersebut tiap jam.

102

Penyelesaian Kecepatan alat = 1 mph = 88 ft/ jam Mencari Waktu Siklus (WS) Waktu tiap lintasan = Jarak Kecepatan alat = 300 ft 88 ft/ menit = 3,41 menit Waktu mengangkut, berputar, dan menggaru lagi (WS) = 0,25 + 2,42 menit = 3,66 menit Mencari volume material yang tergaru dalam tiap lintasan (q) q = Kedalaman garu rata rata x jarak lintasan = 0,67 yard x 100 yard x 1 yard = 67 cu yd Mencari produktivitas alat per-jam (Q) Q = q x 60/ WS x E = 67 cu yd x (60/3,60) jam x 0,75 = 823 cu yd per-jam (LCY)

Contoh 3 Sebuah Bulldozer Komatsu D355A yang dilengkapi dengan garu digunakan untuk tugas penggaruan sekaligus juga untuk penggusuran dengan jarak garu dan gusur rata-rata 30 m. Dari hasil perhitingan diperoleh hasil sebagai berikut: Qqs = 495,17 LCM/ jam Qgr = 112,5 LCM/ jam Berapa produksi alat gabungan? Penyelesaian Qgab = = = Qqs x Qgr Qgs + Qgr (495,17 x 112,5) (495,17 + 112,5) 91,67 LCM/ jam 103