Strategi Meningkatkan Kepatuhan Wajib Pajak

PENDAHULUAN

Sejak dilakukannya reformasi perpajakan yang pertama (the first tax reform) pada tahun 1984, diharapkan penerimaan pajak sebagai sumber utama pembiayaan APBN dapat dipertahankan kesinambungannya. Selain sebagai sumber penerimaan (budgetair), pajak juga memiliki fungsi lain yaitu fungsi regulerend. Menteri Keuangan mengatakan selain ditujukan untuk meningkatkan penerimaan negara, penerimaan pajak juga akan diarahkan untuk memberikan stimulus secara terbatas guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas (Fiscal News. 2007). Selanjutnya, beliau mengatakan bahwa kebijakan fiskal dalam tahun 2007 akan tetap diarahkan untuk melanjutkan reformasi administrasi dan penyempurnaan kebijakan di bidang pajak, kepabeanan dan cukai. Masalah kepatuhan pajak merupakan masalah klasik yang dihadapi di hampir semua negara yang menerapkan sistem perpajakan. Berbagai penelitian telah dilakukan dan kesimpulannya adalah masalah kepatuhan dapat dilihat dari segi keuangan publik (public finance), penegakan hukum (law enforcement), struktur organisasi (organizational structure), tenaga kerja (employees),

etika (code of conduct), atau gabungan dari semua segi tersebut (Andreoni et al. 1998). Dari segi keuangan publik, kalau pemerintah dapat menunjukkan kepada publik bahwa pengelolaan pajak dilakukan dengan benar dan sesuai dengan keinginan wajib pajak, maka wajib pajak cenderung untuk mematuhi aturan perpajakan. Namun sebaliknya bila pemerintah tidak dapat menunjukkan penggunaan pajak secara transparan dan akuntabilitas, maka wajib pajak tidak mau membayar pajak dengan benar. Dari segi penegakan hukum, pemerintah harus menerapkan hukum dengan adil kepada semua orang. Apabila ada wajib pajak tidak membayar pajak, siapapun dia (termasuk para pejabat publik ataupun keluarganya) akan dikenakan sanksi sesuai ketentuan. Dari segi struktur organisasi, tenaga kerja, dan etika, ditekankan pada masalah internal di

1992. Jackson. perlakuan perpajakan. Oleh karenanya. baik sampel bersifat individu. Data yang digunakan dalam penelitian adalah data sekunder antara lain jumlah penduduk. grup. jenis penelitian ini cocok dilakukan bila tidak banyak tersedia data dan informasi yang dapat digunakan dalam pembahasan. hasil penelitian di beberapa negara dipakai sebagai referensi. Dalam penelitian digunakan bahan referensi terdiri dari makalah atau penelitian terdahulu mengenai kepatuhan perpajakan. tarif pajak. yaitu penelitian yang melibatkan sampel dalam jumlah kecil. PEMBAHASAN Penelitian ini merupakan penelitian terapan (applied research) yaitu penelitian yang dilakukan dalam rangka mencari solusi atas suatu masalah (Sekaran 2003). pelaksanaan penegakan hukum. Andreoni et al. McKee. jumlah penerimaan negara (APBN). atau kejadian (Sekaran 2003). Tingkat kepatuhan wajib pajak dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain yaitu: besarnya penghasilan. situs Departemen Keuangan dan unitunit kerja yang terkait. Bahl. maka wajib pajak akan cenderung mematuhi berbagai aturan. AIm. 1998. 1990. dan kelengkapan dan keakuratan database (AIm. situs Badan Pusat Statistik. dan informasi lain yang berhubungan dengan penelitian. Murray. Universitas Indonesia dengan Australian National University. Witte dan Woodbury (1985). Data penelitian diperoleh melalui studi kepustakaan dan sumber data juga diperoleh dari situs Bank Indonesia. jumlah tenaga kerja. Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif (exploratory study) dan menurut Sekaran (2003). situs Bank Dunia. persepsi wajib pajak atas penggunaan uang pajak. Sifat penelitian adalah kualitatif. Apabila struktur organisasinya memungkinkan kantor pajak untuk melayani wajib pajak dengan profesional.lingkungan kantor pajak. dan situs hasil kerja sama antara Lembaga Penelitian. . situs IMF. Dubin dan Wilde (1988). walaupun jumlahnya sangat terbatas yang pemah dilakukan di Indonesia. Penelitian dimaksudkan untuk mencari solusi atas suatu masalah yaitu rendahnya jumlah wajib pajak yang terdafar dan kepatuhannya. Penelitian eksploratif juga tepat dilakukan bila penelitian terdahulu belum banyak dilakukan. berat (ringan) sanksi perpajakan.

5 69% 123.3 Uraian Pendapatan Negara dan Hibah Bila dilihat dari struktur jenis penerimaan pajak. maka Pemerintah mengandalkan penerimaan pajak sebagai sumber utama penerimaan APBN.3 3.4 0.2 416.2 67% 205. Hingga awal tahun 1980-an.237.8 0.6 2006 (APBN) 625.0 2004 (APBN-P) 403. dan penerimaan perpajakan cenderung akan terus meningkat jumlahnya secara absolut dari tahun ke tahun seiring dengan kebutuhan dalam pembiayaan APBN.2 2005 (APBN-P2) 516. (lihat Tabel 2) Tabel 2.2 347.3 %PDB 21.115. pajak penghasilan (income tax) memberikan kontribusi penerimaan pajak yang besar walau masih terkonsentrasi pada sejumlah kecil wajib pajak. baik orang pribadi (nature persons)maupun badan (legal persons).8 279. penerimaan negara masih mengandalkan pada hasil penjualan minyak dan gas bumi (oil and gas). (lihat tabel 1) Tabel 1. kontribusi penerimaan perpajakan berkisar antara 67%-71 %. Penerimaan Negara dalam APBN Tahun 2002-2006 (triliun rupiah) 2002 (PAN) 298.1991).1 2005 .6 2003 (PAN) 341.4 7. Dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir yaitu tahun 2002 sampai dengan tahun 2006. Penerimaan Negara dalam APBN Tahun 2004-2005 (miliar rupiah) 2004 Mata Anggaran APBN Pendapatan Negara dan Hibah 625.0 %PDB 20.9 0.1 Penerimaan Perpajakan 70% Penerimaan Bukan Pajak Hibah 88.4 242. namun karena sumber daya alam tidak dapat diandalkan lagi (akan habis dan tidak tergantikan).8 210.Alm.6 APBN-P 659.1 71% 98.7 67% 161.

2 399.2 0.292.882.7 Pajak Penghasilan Migas Non Migas Pajak Pertambahan Nilai Pajak Bumi dan Bangunan BPHTB Cukai Pajak Lainnya B.1 18.0 132.313.5 5.5 6.5 0.1 0. Bagian Laba BUMN .5 16.516.012.2 0.407.3 23.8 5.322.694.0 13.3 5.3 5.583.689.226.4 7.4 416.321.6 146.6 418.2 0.519.1 410.0 4.7 13.6 37.0 1.641.1 1.053.197.6 2.234.8 0.7 4.9 5.3 165.6 13.9 1.6 0.243.0 38.386.906.698.4 13.9 205.1 0.6 15.4 213.280.7 13.2 0.2 0.522. Penerimaan Perpajakan A.6 4.307.153.8 4.6 0.3 151.1 36. Pajak Dalam Negeri         621.1 6.2 6.788.5 21.9 1.826.7 210.727.278.1 0. Penerimaan SDA   Migas Non Migas B.3 0.772.572.7 229.876.8 654.5 128. Penerimaan Negara Bukan Pajak A.Penerimaan Dalam Negeri 1.0 175.5 0.829.2 5.713.4 5.9 159.686.8 16.2 5.0 20.4 22.7 2.2 1. Pajak Perdagangan Internasional   Bea Masuk Pajak/Pungutan Ekspor 2.991.605.1 173.7 14.2 38.4 425.

3 0.294.893 2.980.2%).6 1.232.811. Oleh karenanya sangat wajar bila . Tabel 3.320.899.184 WP Badan 660.327.060 sumber:berita pajak dalam Hutagaol#2 Padahal jumlah penduduk berusia kerja (15 tahun atau lebih) menurut hasil survei Lembaga Penelitian Universitas Indonesia yang bekerja sama dengan Australian National University. Jumlah tersebut tidak termasuk penduduk miskin.709 3.605 jiwa.622.162.802 1.485.047. yang bekerja 35 jam atau lebih mencapai 62. menjelaskan bahwa Indonesia sebenamya memiliki potensi sebesar 30 Juta NPWP tetapi saat ini baru sekitar 4 juta wajib pajak orang pribadi yang memiliki NPWP atau 7.361 879.7 3.835.420 3. karena dari data Badan Pusat Statistik disebutkan bahwa jumlah penduduk miskin adalah sekitar 38.372.690.670. yang telah terdaftar memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) sebanyak 2.582 jiwa. Sehubungan dengan NPWP wajib pajak Orang pribadi. PNBP Lainnya Hibah 30.193 2.1 41. 31 Juli 2007).5% dari potensi (Investor Daily.736 795.9 1. Direktur Ekstensifikasi Direktorat Jenderal Pajak.334 2. Hasan Rahmany. jumlah tersebut akan naik menjadi 77. penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 220 juta orang pada tahun 2005. (lihat tabel 4). Jumlah Wajib Pajak Orang Pribadi dan Badan Tahun 2000-2004 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 WP OP 1.C.9 4.020.375 966.0 0.876 Jumlah 1. Bahkan bila penduduk yang bekerja minimal 25 jam seminggu diperhitungkan.622. (lihat tabel 3).554 2.7 juta jiwa pada tahun 2005.184 orang (kurang lebih 1.157 1.618 2.631.1 Khusus bagi wajib pajak orang pribadi.

datastatistik-indonesia.24 1.082 3.2 Jumlah 62.14 7.45 3.934.34 7.486 6.98 6.Penduduk Umur 15 Tahun ke atas yang bekerja menurut jam kerja seminggu (Perkantoran-Pedesaan) 2005 2005 Jumlah 2.232 Jam Kerja Seminggu 0** 1-4 5-9 10-14 15-19 15-19 20-24 25-34 35-44 45-54 55-59 60-74 75+ % 2.176 3.08 15.34 6.290 6.082 6.27 4.514 3. Rendahnya jumlah wajib pajak yang terdaftar menunjukkan bahwa kepatuhan wajib pajak belum optimal.726.354 1.com .038 227.427.09 25.Direktorat Jenderal Pajak pada tahun 2007 meluncurkan program ekstensifikasi untuk mendaftarkan NPWP Wajib pajak orang pribadi yang telah memenuhi persyaratan.835.378.54 0.410.934.486 7.093.582 Sumber:www. Tabel 4.023.349 14.64.82 2.14 4.548 2.109.327.023 24.023.

Oleh karena itu. ditugaskan sekelompok pegawai yang memiliki kriteria khusus sebagai account representative dengan tugas dan tanggungjawab untuk memberikan pelayanan kepada wajib pajak. Menteri Keuangan merencanakan untuk memperluas penerapan modernisasi administrasi perpajakan (modern tax . Selain itu. Struktur organisasinya didesain secara khusus yang berorientasi pada fungsi dan para pegawainya terikat pada kode etik pegawai (code of conduct). sumber daya manusia yang berkualitas. Kantor pelayanan pajak DJP Wajib Pajak besar dilengkapi dengan sarana dan prasarana. Pada kedua kantor pelayanan pajak DJP Wajib Pajak Besar. pada Kantor Pelayanan Pajak DJP Wajib Pajak Besar. sehingga ke depan penerimaan pajak dapat bertumbuh dari tahun ke tahun dengan kenaikan berkisar antara 20-25% (Bisnis Indonesia. Menteri Keuangan yakin bahwa langkah Pemerintah akan berhasil dalam mengamankan kesinambungan penerimaan pajak sebagai penyangga APBN. Latar belakang pendirian kantor pelayanan pajak DJP wajib pajak besar adalah untuk mengelola penerimaan pajak secara lebih profesional dengan mengadministrasikan penerimaan pajak dari sejumlah kecil wajib pajak yang memberikan kontribusi penerimaan pajak yang signifikan. sistem dan metode kerja. 2006). Direktorat Jenderal Pajak telah merumuskan dan melaksanakan kebijakan strategis (initiative measures) dengan melakukan penyempurnaan seperangkat kebijakan peraturan perpajakan dan administrasi perpajakan (tax policy and administrative reforms).Dalam rangka menjaga kesinambungan penerimaan pajak sebagai tulang punggung penerimaan negara. Pada tahun 2005 Kantor Pelayanan Pajak DJP Wajib Pajak Besar berhasil meningkatkan penerimaan pajak hingga 40%. awalnya terdaftar 200 wajib pajak besar. Sehubungan dengan pendirian Kantor Pelayanan Pajak DJP Wajib Pajak Besar tersebut. Pada tahun 2002 didirikan satu kantor wilayah DJP wajib pajak besar (Large Taxpayer Regional OfficeLTRO) dan 2 (dua) kantor pelayanan pajak DJP wajib pajak besar (Large Taxpayer District Tax Office-LTO) (Situmorang 2006). Kantor Pelayanan Pajak DJP Wajib Pajak Besar diharapkan mampu memberikan pelayanan yang lebih profesional (excellent services) dan juga melakukan pengawasan terhadap kepatuhan wajib pajak (taxpayers' compliance).

000 wajib pajak orang .345 perusahaan (dengan total karyawan berjumlah 69. Dalam perkembangannya. Penelitian dilakukan terhadap 1. Penelitian terdahulu (previous research). Murray (1990). dan Murray (1990) meneliti kepatuhan para pembayar pajak di Jamaika. modernisasi administrasi perpajakan terus bergulir dengan mendirikan Kantor Pelayanan Pajak Madya (medium taxpayer office) pada setiap kantor wilayah dan Kantor Pelayanan Pajak Pratama(small taxpayer office). Beberapa penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya menyangkut kepatuhan wajib pajak disajikan di bawah ini: AIm. Bahl. Dalam rangka menjamin kesinambungan penerimaan pajak sebagai sumber utama APBN dan memberikan keadilan dalam berusaha (level of playingfields). dan banyak potensi pajak yang belum tergali dan terealisasi secara optimal sehingga tax rationya rendah (Kurniawan. Menurut AIm. berhubung penerimaan pajak dibutuhkan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan maupun pembangunan. 2004). upaya tersebut akan menemui banyak kendala (obstacles) karena orang cenderung untuk menghindari pajak(tax avoidance) atau melakukan manipulasi pajak (tax evasion).724 orang) dengan objek penelitian berupa pemotongan Pajak Penghasilan oleh perusahaan untuk tahun 1984.administration) pada seluruh kantor pelayanan pajak di Indonesia (Bisnis Indonesia. Bahl. AIm. Pemerintah perlu memperluas basis pajak dengan meningkatkan jumlah wajib pajak yang terdaftar untuk memiliki NPWP dan sekaligus kepatuhannya. Pemerintah akan terus berupaya menggali potensi pajak (tax coverage) seoptimal mungkin dan juga meningkatkan kepatuhan wajib pajak (taxpayers' compliance). Namun upaya tersebut akan menghadapi berbagai kendala antara lain adalah rendahnya kesadaran masyarakat (taxpayers' awareness) untuk membayar pajak. Artikel ini bertujuan untuk membahas faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan wajib pajak dan upaya yang seyogianya dilakukan oleh Pemerintah dalam rangka meningkatkan kepatuhan wajib pajak sehingga kesinambungan penerimaan pajak dapat terjamin. belum optimalnya pelaksanaan penyuluhan dan pelayanan di bidang perpajakan. Muray (1990). 2006). Bahl. Menurut Choiruman (2004). Penelitian dilakukan secara acak (random) terhadap 10.

tetapi yang paling utama adalah karena tidak adanya data tentang wajib pajak yang dapat digunakan untuk mengetahui kepatuhannya (AIm. Murray.9% dan 90% dari jumlah tersebut diperoleh melalui pemotongan (withholding) oleh pemberi kerja (employers). AIm. sedang bila dibayar dengan kas tidak bisa dianggap sebagai pajak masukan. diperlukan perubahan komprehensif (comprehensive change) yang meliputi perubahan tarif pajak (tax rate). AIm. semua pembayaran yang dilakukan kepada pemasok (suppliers). (Anonim. dan 26% melakukan lebih bayar (tax refunds). Kalaupun ada datanya.govt. apabila dilakukan melalui transfer bank dapat digunakan sebagai pajak masukan (tax credit) . dan Murray (1990) menemukan bahwa hanya 8% wajib pajak yang menghitung dan membayar pajak penghasilan dengan benar. Sedangkan di New Zealand. dan Murray (1990) menyimpulkan bahwa wajib pajak akan lebih patuh (lebih menentang) terhadap sistem pajak bila tarif pajaknya semakin rendah (tinggi). Tarif pajak di Jamaika berjenjang dan progresif. biasanya tersebar di berbagai tempat dengan struktur yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Contoh. Pemerintah New Zealand mendorong para wajib pajak melakukan transaksi melalui bank atau media elektronik bertujuan agar data wajib pajak dapat dipelajari dan diteliti oleh Pemerintah. Bahl. Pemerintah menerapkan aturan-aturan baru yang tujuannya mendorong kepatuhan sukarela wajib pajak (voluntarily compliance). 45%. Pemerintah Jamaika memberlakukan aturan bahwa perusahaan yang tidak melaporkan dengan benar perhitungan dan pemotongan pajak atas penghasilan karyawannya.htm). dan 57.nz/96-99/ compliance/chapter7. http://www. Aparat pajak tidak lagi mempelajari . Bahl. 40%. Rendahnya kepatuhan wajib pajak dapat disebabkan oleh banyak hal. 1990). Namun untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak. dan perbaikan administrasi perpajakan (tax administrative reform). yaitu 30%. Aturan tersebut diberlakukan agar semua transaksi perusahaan dapat dilacak (traceable).executive. 50%. dasar pengenaan pajak (tax base). akan diperiksa oleh Dinas Pajak Jamaika (The Revenue Board of the Government of Jamaica). Bahl. Pajak penghasilan di Jamaika memberi kontribusi penerimaan negara sebesar 28.pribadi (individual taxpayers).5%. sedang sisanya sebesar 66% kurang bayar (unpaid tax).

Sehingga timbul kecenderungan wajib pajak dengan sengaja menyembunyikan informasi tentang perilaku ketidakpatuhannya. Salah satu kesulitan yang mendasar dalam penetapan pajak yang terutang sesungguhnya adalah tidak adanya data dan informasi yang lengkap dan terpercaya mengenai wajib pajak. Kondisi tersebut juga menyulitkan riset empiris yang bertujuan menguji kepatuhan wajib pajak (Komalasari dan Nashih. and White. tingkat kepatuhan justru menurun (meskipun dalam jumlah yang kecil). Penelitian dilakukan dengan memberikan pendapatan kepada masing-masing sampel dan mereka diminta untuk melaporkan pendapatannya tersebut. Namun ada hal yang menarik dari hasil penelitian tersebut yaitu apabila wajib pajak menerima imbal balik dari Pemerintah berupa public goods. AIm. kemungkinan peserta untuk diperiksa (audit). (Witte dan Woodbury 1985). Jackson. Inc. Peneliti juga menggunakan tarif pajak. AIm.dokumen-dokumen fisik tetapi sudah menganalisis data melalui basis data yang tersebar di berbagai lokasi. Jackson. Skelly. Hasil penelitian Alm. Witte dan Woodbury (1985). Jackson. (1984) yang menemukan bahwa 52% pembayar pajak (taxpayers)di Amerika Serikat merasa bahwa perlakuan IRS terhadap mereka tidak konsisten pada kondisi yang relatif sama. dan McKee menggunakan penelitian laboratorium dengan sampel yang terdiri atas 25 percobaan yang masing-masing terdiri atas 15 orang mahasiswa yang mengambil mata kuliah Pengantar Ekonomi. Informasi yang dilaporkan oleh para wajib pajak belum tentu menunjukkan informasi yang benar mengenai dirinya. perlu dicocokkan dengan informasi lain. Jackson. misalnya data sensus. dan McKee (1992) menindaklanjuti penelitian yang dilakukan oleh Yankelovich. McKee (1992). atau data lain yang dimiliki oleh pemerintah. dan McKee (1992) menunjukkan bahwa sanksi untuk diperiksa berpengaruh terhadap peningkatan kepatuhan seorang Wajib Pajak. Untuk meningkatkan kualitas informasi tersebut. dan Dubin dan Wilde (1988). Analisis data digital tersebut memakan waktu lebih singkat dibanding dengananalisis data secara manual. dan bila ketahuan curang maka mereka akan didenda. AIm. . 2005).

Tidak dapat diketahui mengapa para karyawan pabrik tersebut lebih patuh. di Amerika Serikat diperkenalkan suatu program yang disebut Taxpayer Compliance Measurement Program(TeMP). karena jumlah tersebut seharusnya diterima oleh Pemerintah tetapi kenyataannya tidak. Untuk mengetahui selisih antara pajak yang dilaporkan/dibayar dan pajak yang seharusnya dibayar (terutama oleh wajib pajak orang pribadi).Selanjutnya. akuntan. Untuk mengetahui besamya selisih tersebut memang tidak mudah. melakukan pemeriksaan secara acak (random audit) atas pelaporan SPT. Selisih tersebut merupakan kesempatan penerimaan pajak yang hilang (tax revenue forgone). apakah karena mereka memang berniat jujur dalam melaporkan pajak penghasilannya. Tingkat kepatuhan wajib pajak yang masih rendah akan menimbulkan selisih antara jumlah pajak yang dibayar oleh wajib pajak dengan jumlah pajak yang seharusnya dibayar semakin besar. Tinggi (rendah) tingkat kepatuhan wajib pajak dapat diketahui dari besar (kecil) selisih antara pajak yang benar-benar diterima oleh negara dan pajak yang seharusnya diterima. pengacara. dan bankir). 1998. Witte dan Woodbury (1985) dan Dubin dan Wilde (1988) dengan menggunakan data milik IRS dan menghubungkan data sensus menyimpulkan bahwa tingkat kepatuhan penyampaian SPT lebih tinggi: pada daerah yang lebih banyak penduduk kulit putihnya dan proporsi penduduk yang berumur lebih dari 65 tahun lebih besar. Sebaliknya. atau karena mereka tidak pintar dalam memanipulasi pajak. Hasil yang agak unik adalah karyawan pabrik relatif lebih taat dalam melaporkan pajaknya dibanding karyawan jenis lainnya (termasuk para profesional seperti dokter. persentase kepatuhan perpajakan lebih tinggi bila dibanding dengan daerah-daerah lain. Otoritas Pajak di Amerika Serikat. pada daerah yang sebagian besar penduduknya berkulit putih. Semakin besar (kecil) selisih tersebut menunjukkan tingkat kepatuhan yang tinggi (rendah). Andreoni et al. pada karyawan perusahaan manufaktur atau pabrik. Persentase wajib pajak yang dilakukan pemeriksaan pada tahun 1965 mencapai . seperti para pekerja kantor dan para profesional. Inland Revenue Service. Hasil tersebut akan semakin signifikan bila proporsi penduduk senior (senior citizens) lebih besar. Dengan program tersebut.

AIm. Pada tahun 1988. semakin patuh. Murray (1991). dan 7% lebih membayar pajak. Bahl. dapat terjadi para wajib pajak membagi penerimaannya agar tidak termasuk ke dalam persentase pengenaan pajak yang tinggi (Goolsbee. 53% membayar dengan benar. misalnya.8%. misalnya penghasilan tahun tersebut sebagian dilaporkan sebagai penghasilan tahun berikutnya. persepsi wajib pajak mengenai penggunaan uang pajak secara transparan dan akuntabilitas oleh Pemerintah mendorong . penerapan tarif yang lebih rendah mendorong kepatuhan wajib pajak ketimbang penerapan tarif pajak yang tinggi. Murray (1990) melakukan penelitian atas data para wajib pajak di Jamaika. 1998). AIm. tetapi penerimaan pajak tidak langsung justru meningkat Akuntabilitas tajam. Meskipun demikian. Selain itu. 1945). 1992). dan menyimpulkan bahwa kepatuhan wajib pajak ditentukan oleh 2 (dua) hal. AIm (1991) juga menyimpulkan bahwa semakin tinggi tarif pajak. Semakin rendah tarif pajak. Meskipun tidak sepenuhnya dapat mengungkap Wajib Pajak potensial yang masih tersembunyi. reformasi perpajakan dilakukan dengan menetapkan tarif tunggal pajak menjadi 20% pada tahun 1989 (Harta. tarif pajak penghasilan diturunkan dari tingkat tertinggi sebesar 88% menjadi 65%. namun program tersebut menghasilkan informasi terpercaya tentang tingkat kepatuhan Wajib Pajak (Andreoni et al. tetapi tidak lebih dari 1.75% (Alm. penerapan sanksi perpajakan mendorong kepatuhan wajib pajak. Penerimaan pajak langsung tersebut secara total sedikit menurun. yaitu tarif pajak dan penghasilan. 1991). diperoleh hasil-hasil sebagai berikut: wajib pajak yang memiliki penghasilan (income) yang semakin besar cenderung lebih patuh. 2000).75% dan pada tahun 1990 cuma 0. besamya tarif pajak dan penghasilan dapat mempengaruhi kepatuhan Wajib Pajak. Orang dengan penghasilan yang tinggi perlu dikenai tarif pajak yang lebih tinggi pula (Booker. Di Jepang. Bahl. diketahui sebanyak 40% wajib pajak orang pribadi membayar pajaknya terlalu rendah. Pada tahun-tahun berikutnya meningkat. demikian pula semakin besar penghasilan seseorang. orang cenderung mengecilkan penghasilan yang dilaporkan kepada otoritas pajak.4. Berdasarkan data dan informasi mengenai kepatuhan wajib pajak dan hasil evaluasinya. semakin patuh wajib pajak.

kepatuhan wajib pajak. wajib pajak beranggapan bahwa jumlah pajak yang dibayar sesuatu yang wajar karena Pemerintah telah menyediakan fasilitas umum yang dibutuhkan dalam menggerakkan perekonomian. bunga dan kenaikan) dan pidana (kurungan atau penjara) mendorong kepatuhan wajib pajak. Penerapan tarif pajak yang rendah mendorong kepatuhan wajib pajak karena jumlah kewajiban pembayaran pajak tidak memberatkannya. Penerapan perlakuan perpajakan yang adil terhadap wajib pajak mendorong kepatuhan wajib pajak karena hal tersebut menciptakan persaingan yang sehat dalam dunia usaha. Wajib pajak yang memiliki penghasilan besar cenderung untuk lebih patuh ketimbang yang berpenghasilan rendah karena yang berpenghasilan besar cenderung untuk lebih konservatis dalam pelaporan kewajiban perpajakannya. Data-base yang lengkap dan akurat berpengaruh terhadap efektivitas pelaksanaan penegakan hukum dan juga kepatuhan wajib pajak. Wajib pajak memenuhi kewajiban pembayaran pajak bila uang pajak nantinya diperuntukkan untuk membiayai pemerintahan yang bersih dan berwibawa (good governance) serta pembangunan. Namun jika sistem administrasi otoritas perpajakan dari suatu negara lemah dalam artian tidak mampu mengawasi kepatuhan substansi pembayaran pajak dari wajib pajak. Sebaliknya perlakukan perpajakan yang diskriminasi justru mengakibatkan rendahnya kepatuhan Wajib Pajak. Persepsi wajib pajak bahwa uang pajak digunakan oleh Pemerintah secara transparan dan akuntabilitas mendorong kepatuhan wajib pajak. perlakuan perpajakan yang adil (level of playing fields)mempengaruhi kepatuhan wajib pajak. Namun penerapan sanksi harus konsisten dan berlaku terhadap semua wajib pajak yang tidak memenuhi kewajiban perpajakan. Penerapan sanksi perpajakan baik administrasi (denda. Database yang lengkap dan akurat mendorong kepatuhan wajib pajak karena database menyediakan data dan informasi mengenai seluk beluk usaha wajib . maka hal tersebut dapat mendorong wajib pajak tersebut tidak patuh. Selain itu.Selanjutnya kepatuhan wajib pajak berpengaruh pada penerimaan pajak.

asosiasi pengusaha. perlakuan perpajakan yang adil. lembaga swadaya masyarakat. pedagang maupun profesi. kepatuhan wajib pajak merupakan salah satu kunci keberhasilan Pemerintah dalam menghimpun penerimaan pajak. Penyempurnaan perangkat aturan yang tidak mendorong dunia usaha yang kondusif misalnya aturan yang menimbulkan diskriminasi usaha atau yang mendorong wajib pajak menjadi tidak patuh. Untuk menjamin hal tersebut. persepsi penggunaan uang pajak secara transparan dan akuntabilitas. kepatuhan wajib pajak berpengaruh atas penerimaan negara dari sektor pajak. Dalam rangka meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Pemerintah yang good seyogianya mempercepat proses terwujudnya secara pemerintahan kepada governance dan menjelaskan berkala masyarakat (public) mengenai alokasi penggunaan uang pajak. penegakan hukum. kepatuhan wajib pajak berpengaruh pada penerimaan negara dari sektor pajak (tax revenue) karena bila kepatuhan wajib pajak meningkat dalam artian melakukan pemenuhan kewajiban pembayaran pajak sesuai ketentuan yang berlaku maka tax coverage ratio akan meningkat dan juga realisasi penerimaan pajak. database sangat membantu fiskus untuk dapat mengenali usaha dan perilaku wajib pajak (knowing your taxpayers). Sehingga hal tersebut mendorong kepatuhan sukarela karena wajib pajak tidak dapat menghindar dari kewajiban perpajakannya. perguruan tinggi. SIMPULAN Kesinambungan penerimaan negara dari sektor pajak diperlukan karena penerimaan pajak merupakan sumber utama penerimaan APBN. dan database.pajak termasuk kepatuhan pembayaran dan pelaporan pajaknya secara akurat dan real-time. Dalam rangka pengenalan kegiatan usaha wajib pajak (knowing your taxpayers) untuk . yang dilayani dan sekaligus mengawasi kepatuhannya. Selain itu. Diseminasi kebijakan dan perlakuan perpajakan secara berkesinambungan dilaksanakan dengan mengikutsertakan seluruh lapisan masyarakat misalnya tokoh-tokoh masyarakat. Pada akhirnya. sanksi perpajakan. Berdasarkan hasil penelitian terdapat variabel-variabel yang berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak yaitu besarnya penghasilan. Selanjutnya.

James. B.2. NO. Harold L. 1992..4.. Aim. Vol. NO. Englewood Cliffs. 1998. 36. Murray. Vol.. Tax Compliance. aktivitas himbauan(leverage activity). Roy. Aim. Untuk penelitian selanjutnya (future research) disarankan melakukan dengan metode penelitian kuantitatif (quantitative research) agar lebih memberikan hasil yang lebih obyektif. Vol. 107-114 2. Multi-Output InformationSystems.). DAFTAR PUSTAKA 1.. NO.. pengawasan. Human Error in Computer Systems. 1990. Pazer. McKee. intensifikasi penerimaan pajak maupun ekstensifikasi. akurat. Mengembangkan sistem pengelolaan data yang lengkap. A Perspective on the Experimental Analysis of Taxpayer Reporting. Aim. Aparat Pajak Dijatuhi Sanksi.tujuan meningkatkan kepatuhan wajib pajak. 28 Februari 6. dan kunjungan ke lokasi usaha wajib pajak (spot audit). Tax Structure and Tax Compliance. 66. Jackson dan M. 1985. Donald P. W. Brian. Estimating the Determinants of Taxpayer Compliance with Experimental Data. pp. terintegrasi dan terjamin kerahasiannya (database management system) sehingga dapat digunakan untuk mendukung kegiatan pelayanan. (Nov. Anton. Journal of Economic Literature. Management Science. pp. pp. The Review of Economics and Statistics. J. Tempo Interaktif. 1990). 2007. Andreoni. No. pp. Erard. Pemerintah seyogianya melaksanakan kegiatan pendukung (supporting activities) yaitu kemitraan dengan dunia usaha (industry partnership). James. The Accounting Review. 1983. Ballou. Bahl. Aprianto. (Feb.603-613 3. Jonathan. R.. 150-162 . dan Feinstein. (July). Bailey. 577-593 4. 2. 818-860 5. Modeling Data and Process Quality in Multi-Input. NJ: Prentice-Hall 7. Matthew N. National Tax Journal. 31. Melaksanakan penegakkan hukum secara konsisten dan sesuai ketentuan yang berlaku. 45 (March).3. James. 72. Vol. R. 1991.

.99/compliance/chapter7. ___ . Vol. 82.htm#figure2) 14. http://www. www. S. Goolsbee. 1988. The Journal of Political Economy. An Econometric Analysis of Income Tax Evasion and Its Detection. The Underground Economy: Minimizing the Size of Government' in Grubel H. Implementasi Kebijakan Pemeriksaan Pajak dalam Rangka Meningkatkan Kepatuhan. Vancouver (http://www.). Hutagaol. 48. 12. pp. pp.govt. pp. 4 (p. Papers and Proceedings of the Hundred and Fourth Annual Meeting of the American Economic Association (May). D. 41(I). 2006. ___ ' #1 (tanpa tahun). No. Hatta.. Jeffrey A. 334-343 18. Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal dan Kerangka Ekonomi Makro RAPBN.go. Income Tax and Incentive to Effort. pp. pp. X. Economica. PIA FEUI Semester Genap TA2006/2007 . Self Assessment: Implementasi & Kendalanya.8. 14-35 13.2. Austan. Meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak melalui penerapan strategi pelayanan dan penegakan hukum. 4.indodigest. 3. ed. The RAND Journal of Economics. "How to Spend the Fiscal Dividend: The Optimal Size of Government. 243-247 9. Departemen Keuangan.. Fraser Institute. Choiruman.com/indonesia-specialthoughts-106. Jonathan S. Vol. 1992. Giles. Feinstein.. pp. Jurnal Akuntansi. vol.executive. (Spring). The American Economic Review. Booker. (Nov. Tatsuo. Wilde. 1945. Jurnal Perpajakan Indonesia. 108. no.24-27) 17. 231-236 16. bahan kuliah Seminar Doktoral Perpajakan. NO. 2004.61-74 12. Louis L. The Nakasone-Takeshita Tax Reform:A Critical Evaluation. National Taxation Journal. vol. H. Dubin. v. John. New Series. No. 22.2 (April).nz/96 . NO.352-378 15. Ahmad. 1991. Pemeriksaan Pajak Masa Depan. 2005. 1998. v.id 11. Vol.html 10. An Empirical Analysis of Federal Income Tax Auditing and Compliance..1.2006. What Happens When You Tax the Rich? Evidencefrom Executive Compensation. 2000.depkeu.

2004. ed. Bisnis-Indonesia. Juara II pada Lomba Karya Tulis Perpajakan Nasional. bahan kuliah Seminar Doktoral Perpajakan. Modernisasi Pajak Belum Bergaung. Sekaran. Purnomo. Kunci Pembangunan". 4.pajak. Journal of Economic Literature. Reinganum. Taxation and Development. 762-830 30. Michael Brostek. 153-165 21. Uma. 29 Agustus 26. 31.go.id/bapekki/klip/detailklip. Abdi. pp. Komalasari. Vol. Dirjen Pajak-Fisip UI 23. Jennifer F. 1988.. Tax Compliance: Multiple Approaches Are Needed to Reduce the Tax Gap. 12. 2004. PIA FEUI Semester Genap TA 2006/2007 20. 1993.A Note on Enforcement Uncertainty and Taxpayer Compliance. Degree of Tax Payer Compliance and Tax Tariff: The.depkeu. 3 April. Robin Burgess. #2 (tanpa tahun). 793-798 29.id 27. Russell. 2004. Michael R. NO.go. Poernomo. pp. pp. 2005. Vitale.asp?klipID=N835819 222 25. Zaenal. Pikiran Rakyat.. Richard. ____ . 2005.2. Puput Tri dan Nashih.). Mustafa. Louis L. Hadi. GAO 24. Research Methods for Business: A Skill Building Approach. Testing on the Impact of Income Types. The Quarterly Journal of Economics. Vol. NO. Moh. 103..19. 2006. Modernisasi integritas pajak". 1988. No. makalah SNA 2005 22. Kurniawan.fiskal.//www. http. MIS Quarterly. Tempo Interaktif. Johnston. (Nov. Ancaman Paksa Badan Naikkan Setoran Pajak. Creating Competitive Advantage with Interor-ganizational Information Systems. Pemberantasan KKN Melalui Pajak. Vol. H. (June). Wilde. (June). 2007.4. 2. Nicholas Stem. Menuju Administrasi Perpajakan yang Modem. 23 Maret 28. Sadar Pajak. www. New York: John Wiley & Sons .

2. Vol.2. ___ .s. The Effect of Tax Laws and Tax Administration on Tax Compliance: The Case of the u. 2006. Ann D.id. 21 Maret 2007 38. Madeo. Aparat Pajak Dijatuhi Sanksi. National Taxation Journal. The Jakarta Post. pp. 62. Wing Wahyu.31. 1987.pajak. 15 Febmari 2007 37. Wilfred C. Yogyakarta: UPP STIM YKPN 34. ed.go. Investor Daily. Diane F. 1985. ___ . ___ . 1-13 35. Perluasan Pajak Berbasis Kerja Ditunda. 323-342 32. Tempo Interaktif. ___ . vol.. Individual Income Tax. The Accounting Review. 38(1). 28 November 2006 36. 8 March 2007 39. ___ . Albert Schepanski. 24 November 33. Silvia A. dan Woodbury. Program Ekstensifikasi: Ditjen Pajak Jaring 400 Ribu NPWP Bam. Modeling Judgments of Taxpayer Compliance. Wajah Bam Direktorat Jenderal Pajak Melalui Kantor Wilayah DJP Wajib Pajak Besar. www. Sistem Informasi Akuntansi. NO. Winarno. NIK. 2006. Tempo Interaktif. pp. Uecker. Situmorang. Witte.). Kunci Akses Pe1ayanan Publik. Tempo Interaktif. Hotsaritua. 31 Juli 2007 . (Apr. Netting New Taxpayers.