Anda di halaman 1dari 3

Perbandingan Sistem Pers di Indonesia dan Malaysia Munculnya sistem pers di setiap negara dipengaruhi oleh sistem sosial

politik dan filsafat sosial negara masing-masing. Pers menjadi bagian atau subsistem dari sistem politik, sehingga hubungan keduanya menjadi sangat erat (Oetama, 2001 : 50).. Indonesia dan Malaysia sendiri sebenarnya memiliki banyak persamaan satu sama lain seperti letak geografis yang berdekatan, berasal dari ras Melayu, memiliki rakyat dengan mayoritas beragama Islam dan juga sama-sama pernah menjadi jajahan negara asing. Selain itu, kedua negara juga memiliki hubungan budaya dan kekerabatan yang sangat erat dan mungkin yang paling erat dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara yang telah terjalin selama ratusan tahun (Ahira, 2010). Namun, Indonesia dan Malaysia sendiri nyatanya memiliki sistem yang berbeda dalam menentukan sistem pers di negaranya masing-masing. Layaknya 2 mata uang yang memiliki 2 perspektif dalam suatu masalah, demikian pula negara memandang sistem pers yang digunakan oleh pemerintahannya yakni libertarianisme dan otoritanisme. Sistem Libertarianisme Pers Indonesia Indonesia merupakan negara dengan konsep pemerintahan demokrasi liberal, yang mana membuat Indonesia secara tak langsung menganut system pers liberal atau libertarianisme (Oetama, 2001 : 51). I. Bayo Oloyede dalam Press Freedom: A Conceptual Analysis mengutip pandangan kalangan libertarian yakni Siebert, Peterson dan Schramm (1956) tentang kebebasan pers. Pandangan ketiganya didasarkan pada konflik oposisional antara libertarian dan kekuasaan otoritarian. Pandangan kebebasan ala libertarian yakni Manusia bukan lagi terbayangkan sebagai makhluk yang memiliki ketergantungan (sebagaimana dalam sistem Otoritarian) yang terpimpin dan terarahkan, tapi sebagai makhluk rasional yang bisa membedakan kebenaran dan kepalsuan, antara alternatif yang lebih baik dan lebih buruk, ketika berhadapan dengan bukti dan pilihan alternatif. Kebenaran bukan lagi alat kekuasaan. Hak untuk mencari kebenaran merupakan hak alami manusia yang tak terasingkan dari dirinya(dan) Pers merupakan mitra untuk mencari kebenaran. Doktrin libertarianisme yang menjadi doktrin kebebasan, terus bergerak liar mendukung kepemilikan pribadi/swasta untuk mengganti otoritas kepemilikan negara (Mustafa, 2011). Inti dari system pers liberal di Indonesia terdapat dari kebebasan sebagai ekspresi hak asasi dan hak politik yang dijamin oleh konstitusi. Hanya pers bebas yang dapat memberikan informasi secara jujur dan mengontrol

bentuk serta penyelenggaraan kekuasaan oleh pemerintah dan oleh masyarakat (Oetama, 2001: 51). Sistem Otoritarianisme Pers Malaysia Di Malaysia pers lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan negara, yang kemudian disebut sebagai pers otoriter (Oetama, 2001 : 51). Undang Undang Media Cetak dan Publikasi yang dikeluarkan pemerintah Malaysia di tahun 1984 memberikan kewenangan kepada Departemen Dalam Negeri Malaysia untuk menghentikan penerbitan media massa. Jika pemberitaan tidak sejalan dengan pemerintah, maka izin penerbitan dapat dicabut tanpa alasan yang jelas atau melalui proses hukum. Pers Malaysia tidak pernah memberitakan hal-hal yang negatif tentang suasana negerinya sendiri. Pemerintah mengontrol dengan ketat pemberitaan. Pemerintah memberikan jutlak soal apa yang boleh dan tidak boleh diberitakan. Meskipun Malaysia menganut ideologi demokrasi, dengan seorang perdana menteri sebagai kepala pemerintahan. Demokrasi tersebut tidak berlaku bagi institusi pers. Pers di sama seperti di Indonesia pada masa orde baru, yakni dikontrol lewat keharusan pembaruan izin terbit semacam SIUP. Pembaruan izin terbit di ini jauh lebih ketat dibandingkan dengan di Indonesia pada masa lalu, yakni setiap tahun.utama di kuasai pemerintah atau partai-partai yang berkuasa, yang tergabung dalam koalisi Barisan Nasional. Di Malaysia kepemilikan pers dikuasai oleh partai nasional yang menggenggam status quo selama berdekade, pers sebagai komponen vital kontrol sosial berperan aktif melakukan pengawasan terhadap sistem politik, hukum, keadilan, penegakan hak asasi, dan sebagainya. Di Malaysia karena pers dikekang dan diatur ketat oleh pemerintah yang berkuasa. Peran utama pers yaitu kontrol sosial hampir tidak pernah dijalankan oleh pers Malaysia. Lewat pers, salah satu nilai yang dijunjung demokrasi dipenuhi, yakni kebebasan menyampaikan pendapat. Demokrasi diidentikkan dengan kebebasan mengungkapkan pendapat. Karena itu, orang banyak berharap dari demokrasi.Dalam melihat kecendrungan tersebut, dapat disimpulkan sistem pers di Malaysia menganut sistem teori pers Otoritarian, dimana pemerintah dapat menekan media massa yang ada di negaranya. Pers di Malaysia tidak bisa menjalankan fungsinya dengan sewajarnya. Malaysia memiliki hukum penyensoran yang tergolong keras di dunia. Pemerintah terus melakukan kendali atas media. Larangan yang diterapkan seringkali mengatasnamakan keamanan nasional.

Daftar Pustaka Ahira, Anne. 2011. Indonesia-Malaysia dalam http://www.anneahira.com <diakses pada 25 Oktober 2012> Oetama, jacob. 2001. Pers indonesia: Berkomunikasi dalam Masyarakat Tidak Tulus. Jakarta : PT Kompas Media Nusantara Mustafa, Ostaf Al. 2011. Kebebasan Pers tak Terbebaskan. Dalam http://media.kompasiana.com <diakses pada 25 Oktober 2012>