Anda di halaman 1dari 34

1

MANAGEMEN AGRIBISNIS:
ORGANISASI DAN MANAJEMEN SUMBERDAYA MANUSIA

Oleh: DR Ir Soemarno, MS Dosen Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang

Makalah disajikan dalam Penatraan Agribisnis bagi Kepala Bidang Pertanian Umum Kanwil Pertanian dan Kepala Sub Dinas Bina Usaha Lingkup Pertanian pada tanggal 30 s/d 3 Oktober 1996 din Hotel Mirama Surabaya.

Managemen Agribisnis

PENDAHULUAN Dalam Pelita VI pembangunan ekonomi menjadi prioritas dengan titik berat pada sektor pertanian yaitu peningkatan produksi pertanian dalam usaha mempertahankan swasembada pangan, meningkatkan komoditas ekspor non-migas serta mengembangkan agroindustri. Secara lebih spesifik tujuan pembangunan pertanian adalah meningkatkan produksi pertanian guna memenuhi kebutuhan pangan dan industri dalam negeri serta meningkatkan ekspor, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, memperluas kesempatan kerja, mendorong pemerataan kesempatan berusaha serta mnedukung pembangunan daerah. Jalur pembangunan pertanian mencakup kegiatan peningkatan komoditi pertanian yang pelaksanaannya melalui pembinaan dan pengembangan agribisnis yang meliputi kegiatan terpadu dan tidak dapat dipisahkan mulai dari penyediaan sarana produksi, pembinaan usahatani, pasca panen, pengolahan hasil serta pemasaran hasil. Propinsi Jawa Timur terbagi dalam 37 Daerah Tingkat II yang masing-masing mempunyai potensi wilayah yang berbeda, baik potensi sumberdaya manusia dengan segenap budayanya maupun potensi sumberdaya alam dengan keanekaragaman hayatinya. Potensi sumberdaya ini masih belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan dan dikembangkan, terutama daerah-daerah lahan kering. Dari sumberdaya lahan yang ada, sebagian besar merupakan lahan kering dan menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar petani. Permasalahan klasik yang ada pada lahan kering ini adalah rendahnya produktivitas lahan. Beberapa kendala yang dihadapi antara lain karena masih terbatasnnya informasi tentang teknologi yang dapat digunakan untuk mengembangkan wilayah tersebut, tingkat kesulitan faktor pembatas pertumbuhan tanaman yang relatif tinggi dan pengembangan teknologi produksi yang sangat lamban. Pada setiap tahap pengusahaan (usahatani) komoditas andalan, pemasaran dan pengolahannya diperlukan lembaga sosial- ekonomi sebagai suatu wadah, pola organisasi dan atribut yang dibutuhkan oleh para petani untuk dapat melakukan fungsinya. Lembaga sosialekonomi ini dapat bersifat lembaga non-formal atau formal. Suatu bentuk kelembagaan dengan ikatan-ikatan dan hubungan sosialekonomi berdasarkan kebutuhan masyarakat diperlukan dalam penanganan Sistem Agrikoman (Agribisnis Komoditi Andalan). Menemukan lembaga-lembaga tradisional yang tumbuh dalam masyarakat pedesaan, khususnya dalam pengusahaan komoditas andalan, sejak saat penanaman bibit, pengelolaan lahan, pengerahan tenaga kerja, perkreditan, panen dan pengolahan hasil, serta pemasaran hasil merupakan langkah awal dalam upaya rekayasa dan

Managemen Agribisnis

peningkatan fungsi kelembagaan tersebut. Selanjutnya, keberhasilan dalam sistem produksi menuntut adanya bentuk-bentuk kelembagaan yang lebih besar dan berorientasi ekonomis sehingga mampu mengelola sistem agribisnis secara lebih efisien dan mampu meningkatkan kesejahteran masyarakat. PENDEKATAN DAN ORIENTASI AGRIBISNIS Sistem usaha pertanian yang mengintegrasikan faktor produksi lahan, tenagakerja, modal dan teknologi/manajemen sangat dipengaruhi oleh kondisi spesifik wilayah, yang mencakup bio- fisik, ekonomi, dan sosial. Sektor pertanian hingga saat ini masih diartikan sebagai "sistem usaha pertanian" yang sangat berkaitan erat dengan sistem lainnya seperti industri hulu, industri hilir, pemasraan/perdagangan dan permintaan datri konsumen. Keseluruhan aspek-aspek ini SALING terintegrasi dan dalam pengertian makna yang luas lazim disebut "Sistem Agribisnis" . Keseluruhan sistem yang berkaitan dengan sektor pertanian tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi sumberdaya, kelembagaan, dan kebijaksanaan pembangunan pertanian. Dari keseluruhan sistem agribisnis seperti yang diabstraksikan di atas, dapat diambil beberapa aspek atau bidang kajian epenting, yaitu: (a). Sistem Agribisnis dan Perdagangan/pemasaran (b). Sumberdaya manusia dan kelembagaan (c). Pengelolaan sumberdaya alam (d). Sistem usaha pertanian (atau usahatani) (e). Pengembangan agroindustri (f). Rintisan dan pengembangan produk. Istilah "agribisnis" telah menjadi semakin populer, berbagai macam pengertian dan pemahaman tentang istilah ini telah berkembang. Dari asal katanya, "agribisnis" terdiri dari dua suku kata, yaitu "agri" (agriculture = pertanian) dan "bisnis" (business = usaha komersial). Oleh karena itu, agribisnis adalah kegiatan bisnis yang berbasis pertanian. Sebagai konsep, agribisnis dapat diartikan sebagai jumlah semua kegiatan-kegiatan yang berkecipung dalam industri dan distribusi alat-alat maupun bahan-bahan untuk pertanian, kegiatan produksi komoditas pertanian, pengolahan, penyimpanan dan distribusi komoditas pertanian atau barang-barang yang dihasilkannya (Davis dan Golberg, 1957). Menurut Snodgrass dan Wallace (1974), kegiatan agribisnis tersebut merupakan kegiatan pertanian yang kompleks sebagai akibat dari pertanian yang semakin modern. Pertanian meliputi perkebunan,

Managemen Agribisnis

pertanian tanaman pangan, peternakan, perikanan dan kehutanan. Agribisnis dapat memfokuskan kegiatannya pada satu segmen dari keseluruhan industri atau keseluruhan kegiatan secara terintegrasi. Agribisnis dapat berupa perusahaan besar seperti perkebunan besar, pabrik pupuk, pabrik pestisida, pabrik minyak, pabrik susu, perusahaan perikanan, dan lainnya. Selain itu juga dapat berupa perusahaan kecil, seperti perkebunan rakyat, nelayan, petani, pedagang (bakul), peternak, dan lainnya. Menurut Balbin dan Clemente (1986), pengertian agribisnis dapat diperluas mencakup pemerintah, pasar, asosiasi perdagangan, koperasi, lembaga keuangan, sekelompok pendidik dan lembaga lain yang mempengaruhi dan mengarahkan bermacam-macam tingkatan arus komoditas. Halcrow (1981) mengartikan agribisnis hanya meliputi kegiatan industri jasa dan material untuk usahatani (produksi pertanian) dan industri pengolahan dan pemasaran hasil-hasil pertanian. William dan Karen (1985) mengartikan agribisnis sebagai perusahaan besar (profit company) yang berbeda dengan petani kecil. Ciri-ciri agribisnis adalah merupakan suatu industri yang kompleks dan berstruktur vertikal, setiap komponen secara terpisah independen tetapi dalam arti yang luas saling tergantung membentuk sebuah sistem komoditas. Oleh karena itu pengambilan keputusan yang baik memerlukan pengertian tentang keseluruhan struktur industri dan harus mampu memahami titik sentral dari berbagai bagian yang relevan dari berbagai bagian sistem struktural. Berdasarkan keterangan di atas, "agribisnis" secara luas dapat dipandang sebagai "bisnis" yang berbasis pertanian. Secara struktural usaha bisnis ini terdiri atas tiga sektor yang saling bergantung, yaitu (i) sektor masukan, yang ditangani oleh berbagai industri hulu yang memasok bahan masukan kepada sektor pertanian , (ii) sektor produksi (farm), yang ditangani oleh berbagai jenis usahatani yang menghasilkan produk-produk bio- ekonomik, dan (iii) sektor keluaran, yang ditangani oleh berbagai industri hilir yang mengubah hasil usahatani menjadi produk konsumsi awetan/olahan dan yang menyalurkan produk ini melalui sistem pemasaran kepada konsumen (Downey dan Erickson, 1989). Dengan demikian "agribisnis" meliputi seluruh sektor yang terlibat dalam pengadaan bahan masukan /input usahatani; terlibat dalam proses produksi bio-ekonomik; menangani pemrosesan hasilhasil usahatani; penyebaran, dan penjualan produk-produk pemrosesan tersebut kepada konsumen. Dalam kaitannya dengan komoditas di suatu wilayah , sebagian besar aktivitas ekonomi dapat dilakukan oleh petani dan penduduk pedesaan dengan skala ekonomi yang berbeda-beda.

Managemen Agribisnis

ANALISIS PEWILAYAHAN KOMODITAS 1. Seleksi Komoditas Seleksi komoditas dilakukan untuk mendapatkan alternatif komoditas yang sesuai dikembangkan di suatu wilayah dengan lngkungan tumbuh tertentu. Inventarisasi dimulai dari jenis- jenis komoditas yang banyak diusahakan oleh rakyat, kemudian baru melibatkan jenis-jenis komoditas yang belum dikenal. Kriteria yang digunakan sebagai dasar seleksi tertumpu pada segi agroteknologinya untuk dikembangkan lebih lanjut serta potensi pasarnya baik domestik maupun ekspor, nilai tambah ekonomi bagi petani serta dampaknya terhadap kesempatan kerja dan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Dari seleksi ini akan didapatkan beberapa komoditas terpilih baik berupa tanaman pangan, perkebunan, maupun tanaman hortikultura. 2. Analisis Budidaya dan Pengkajian Kelayakan Usaha Uraian tentang teknik budidaya meliputi persiapan tanam, pemeliharaan pertanaman, sampai dengan pemungutan hasil. Berdasarkan pada teknologi budidaya yang diterapkan di lapang saat ini, dengan penyesuaian seperti yang dianjurkan oleh lembaga penelitian. Selain itu pemilihan teknologi terutama didasarkan pada kemampuan produsen, baik dari segi managerial maupun parsialnya. Pertimbanagn yang sama juga berlaku bagi industri pengolahan dengan mempertimbangkan skala yang memadai dan kemungkinan tersedianya bahan baku. Modal usahatani maupun industri pengolahan diasumsikan berasal dari sistem perbankan formal, sehingga tingkat bunga harus disesuaikan. Lama analisis keuangan atau finansial yang dilakukan akan bervariasi disesuaikan selama satu siklus umur tanaman dengan lausan satu hektar. Untuk mengetahui tingkat kelayakan usahanya digunakan beberap[a tolok ukur yaitu pendapatan B/C, MPV dan IRR, kecuali untuk tanaman semusim digunakan pendapatn dan R/C. STRATEGI PENANGANAN SISTEM AGRIKOMAN Sebagaimana dijelaskan dalam bagian sebelumnya, penyusunan konsep penanganan Sistem Agribisnis Komoditas Andalan dilandasi dengan pendekatan "Agrosistem" dengan tiga aspek utamanya, yaitu aspek teknis-teknologi (termasuk pertimbangan bio-fisik), aspek ekonomi-bisnis, dan aspek sosial-budaya (termasuk kelembagaan penunjang). 1. Penetapan Komoditas Unggulan

Managemen Agribisnis

Suatu tanaman akan tumbuh dan berkembang dengan baik di suatu lahan pertanian apabila kondisi lahan tersebut memenuhi syarat. Masing-masing daerah mempunyai ciri khusus tentang macam komoditi yang dikembangkan. Selain kondisi lingkungan yang sesuai tentunya pengembangan komoditi juga harus mempertimbangkan tingkat keuntungan yang dapat dipetik. Kepentingan ini dapat direncanakan sejak dini, misalnya dengan membuat peta wilayah komoditi pada masing-masing daerah yang akan dikembangkan. Untuk menentukan peta wilayah komoditi dapat dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu : (a). Pendekatan ekonomi wilayah Pendekatan ini dilakukan dengan cara menentukan jenis tanaman yang secara ekonomi layak untuk dikembangkan dan dibudidayakan. Pewilayahan tanaman yang dilakukan berdasar kepada keuntungan atau nilai tambah yang diterima petani dalam upaya meningkatkan pendapatan perkapita. Dengan kata lain tanaman tersebut menguntungkan petani apabila dibudidayakan. Analisis ini diperoleh dari selisih antara investasi yang ditanam dari usaha tersebut dengan hasil yang diperoleh. Dari sektor-sektor usaha yang berkembang di masyarakat akan terpilih beberapa sektor dominan yang layak untuk ditangani lebih serius, karena memberikan prospek baik. Berdasarkan pendekatan ini dari seluruh sektor yang ada di masyarakat yaitu , tanaman pangan dan hortikultura, tanaman perkebunan, tanaman hutan, peternakan, industri,perdagangan, angkutan, jasa , tambang, ada lima sektor yang berperan dan sangat menentukan tingkat pendapatan perkapita petani meliputi ; sektor peternakan, industri, pertanian tanaman pangan dan hortikultura, tanaman perkebunan serta tanaman hutan. Dari lima sektor tersebut, masing-masing daerah mempunyai prioritas yang berbeda-beda. Ini dikarenakan adanya perbedaan daya dukung lahan serta alam di lokasi tiap-tiap wilayah. Di Wilayah pedesaan biasanya terdapat dua sektor paling doniman memberikan sumbangan terbesar bagi pendapatan petani yaitu sektor pertanian tanaman dan subsektor peternakan. Dua sektor tersebut masing-masing memberi sumbangan sebesar 60-80 % dan 20-40% dari pendapatan petani. Dari hasil pengamatan didapatkan jenis komoditi yang secara ekonomi berkembang di masyarakat dan banyak diusahakan oleh petani sebagai tumpuhan hidup mereka, baik tanaman pangan dan hortiukltura maupun tanaman perkebunan; diantaranya : padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kedelai, kacang tanah, cabe, kelapa dan kapok randu. Sedang di sektor peternakan nampaknya kambing dan sapi lokal merupakan primadona peternakan yang perlu mendapatkan perhatian lebih serius.

Managemen Agribisnis

(b).Pendekatan Ekologi Wilayah Pendekatan ini didasarkan pada kesesuaian komoditi pertanian untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di suatu daerah. Untuk menentukan jenis komoditi yang mampu berkembang, selain berdasar kepada komoditi yang sudah ada tidak menutup kemungkinan mengembangkan jenis komoditi yang secara ekologis sesuai. Penentuan jenis komoditi yang sesuai untuk dikembangkan di suatu wilayah dilakukan dengan cara pendekatan secara ekologis yaitu dengan cara melihat syarat tumbuh bagi masing-masing komoditi dan juga melihat kondisi wilayahnya. Dari kedua faktor ekologis yang berperan menetukan tingkat kesesuaian lahan yaitu konsidi wilayah dan syarat tumbuh yang dibutuhkan setiap komoditi, akan diperoleh informasi tentang jenis komoditi yang secara ekologis sesuai untuk dikembangkan. Berdasarkan hasil pengamatan secara ekologis jenis komoditi yang dapat tumbuh dengan baik pada kondisi lahan di Kecamatan Kedungdung meliputi : padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, cabe, kelapa, mangga, rambutan, melinjo , jeruk, jambu mete dan kapok randu. Dengan diketahuinya jenis komoditi yang secara ekomonis lebih menguntungkan atau lebih menguntungkan diantara komoditi lain yang sudah ada dan secara ekologis daerah tersebut sesuai (baik syarat tumbuh maupun kondisi wilayah bersangkutan), maka komoditikomoditi tersebut perlu segera dikembangkan. 2. Organisasi dan Kelembagaan Untuk memperlancar program pengembangan Sistem AGRIKOMAN yang sudah terencana, setelah diketahuinya komoditi andalan yang akan dekembangkan, diperlukan langkah-langkah yang harus dilaksanakan. Paket pengembangan program harus tersusun secara sistematis sehingga tahapan pelaksanaan dapat berjalan dengan baik, mulai dari persiapan sampai usaha tersebut menghasilkan sesuatu. (a). Penentuan Kelompok Sasaran (POKSAR) Program pengembangan ini tentunya diproiritaskan bagi petani yang kurang mampu, dengan harapan dapat meningkatkan kesejahteraan petani kecil. Dasar pertimbangannya adalah bahwa petani tersebut biasanya kurang berani mengambil resiko kegagalan dan menanamkan modal untuk usaha yang belum pernah ditekuni. Disamping itu petani tersebut kurang mampu untuk mencari modal yang cukup besar untuk usahataninya. Penentuan kelompok sasaran ini dilakukan dengan cara seleksi yang mendasarkan kepada beberapa kriteria yang dapat digunakan sebagai tolok ukur taraf hidup petani. Kriteria pemilihan berpedoman kepada beberapa fasilitas sarana fisik yang dimiliki seperti, pemilikan

Managemen Agribisnis

ternak, alat transport, luas lahan, rumah serta status pekerjaan. Apabila petani tersebut lolos dari persyaratan minimal yang diajukan maka tidak memenuhi syarat sebagai petani kurang mampu, sehingga tidak mendapatkan prioritas bantuan dan sebaliknya. Berdasarkan kenyataan bahwa suatu usaha adalah suatu investasi bisnis, maka prinsip kelayakan usaha juga harus menjadi pertimbangan. Prinsip-prinsip tersebut adalah : (1). Kelayakan Usaha Berdasarkan Finansial, meliputi: Comparative advantage, enterprise choice cabang usaha, Opportunity cost, dan Economic of scale. (2). Kelayakan Usaha Berdasarkan Managerial, meliputi : Sistem pengorganisasian, model kredit begulir, model pembinaan, model pelunasan pinjaman, sistem keterkaitan dengan mitra usaha, dll. (3). Kelayakan Usaha Berdasarkan Sosial, meliputi : respon masyarakat, Partisipasi, dan daya jangkau kebutuhan masyarakat. (b). Penyuluhan Mengingat tingkat pengetahuan petani lahan kering di wilayah pedesaan miskin sangat terbatas, khususnya mengenai hal- hal yang mesih dianggap baru, maka petani harus diperkenalkan dengan teknologi budidaya tanaman tersebut. Pengenalan IPTEK baru ini meliputi beberapa aspek baik teknis maupun non teknis. Hal-hal yang bersifat teknis misalnya teknologi budidaya yang perlu diperhatikan mulai dari penyediaan bibit atau bahan tanam, pemupukan, pemeliharaan tanaman sampai kepada pasca panennya. Hal yang bersifat noon teknis misalnya manfaat tanaman bagi peningkatan pendapatan, prospek tanaman untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal maupun peluangnya untuk ekspor dan sebagainya. Dengan demikian petani akan terbuka wawasannya dan mempunyai minat besar untuk mengembangkan komoditi tersebut. (c). Penyediaan bahan tanam/Bibit Salah satu aspek yang menentukan berhasil tidaknya suatu usahatani adalah tersedianya bahan tanam baik berupa bibit maupun benih. Kesalahan dalam memilih bahan tanam tersebut banyak yang mengakibatkan kerugian yang membawa akibat fatal bagi petani. Sebagai contoh, kalau seandainya petani ingin menanam kelapa, sementara mereka tidak memperhatikan bibit yang digunakan sebagai bahan tanam, maka kesalahan penggunaan bibit ini akan baru dirasakan setelah menunggu selama 5 - 7 tahun berikutnya. Sehingga petani disamping rugi dengan biaya yang dikeluarkan, juga akan rugi waktu. Karena mereka bersusah payah menunggu sampai bertahuntahun akhirnya tanaman yang diusahakan tidak memuaskan.

Managemen Agribisnis

MANAGEMEN SUMBERDAYA DAN ORGANISASI Agribisnis menghimpun sejumlah manusia yang bekerja sama untuk mencapai maksud dan tujuan bersama. Segera setelah agribisnis melibatkan lebih dari satu orang, berbagai hal mengenai organisasi, personalia, kepemiminan dan faktor pemotivasi pasti langsung bermunculan. Semakin besar organisasi, semakin rumit dan semakin penting permasalahannya. Oleh karena salah satu tanggung jawab dasar manajer adalah memperoleh, menata, memotivasi dan mengnedlaikan sumberdaya manusia, untuk mencapai tujuan bisnisnya seefektif mungkin, maka manajemen harus mengemban tanggung jawab tersebut. Pengelolaan sumberdaya manusia dalam agribisnis mempunyai banyak dimensi. Pertama, melibatkan kesleuruhan fungsi personalia, yaitu perekrutan, pengangkatan, pelatihan, pengevaluasian, pengajuan promosi, pengelolaan balas jasa dan tunjangan, dan pada agribisnis tertentu berurusan dengan serikat pekerja. Selain itu, manajemen juga harus mengembangkan struktur organisasi dimana tanbggung jawab, wewenang, dan tanggung gugat perorangan dirumuskan dengna jelas. Kemudian manajemen harus memusatkan perhatian pada pengarahan dan pemantauan kegiatan harian. Kepemimpinan akan menjadi faktor penentu keberhasilan bisnis apabila manajer berupaya memotivasi dan mengendalikan sumberdaya manusia untuk memaksimasi produktivitas. "Manajemen" dapat didefinisikan sebagai: seni untuk keberhasilan mencapai hasil yang diinginkan secara gemilang dengan sumber-sumber yang tersedia bagi organisasi. (1). Manusia yang melaksanakan manajemen (Manajer) Kemampuan manajer untuk mencapai hasil melalui ornag lain snagat epenting sekali dlaam manajemen yang baik. Investasi berupa waktu dan perhatian kepada bawahan sering mendatangkan imbalan sangat berharga. (2). Seni dan bukan ilmu. Setiap orang dapat menggunakan prinsip-prinsip manajemen untuk mewujudkan pertumbuhan dan kemajuan secara berkelanjutan. (3). Berhasil dengan gemilang. (4). Sumberdaya yang tersedia. Manajer menggunakan apa yang dimiliki untuk memperoleh apa yang didinginkan, dan mereka berurusan dengan peluang , bukan fantasi. Konsep Manajemen

Managemen Agribisnis

10

(1).

Konsep 6M Daya upaya untuk mencapai hasil yang diinginkan melalui pemanfaatan yang efektif atas sumberdaya yang tersedia (Money, Markets, Material, Machinery, Methods, dan Man). (2). Konsep Perilaku Manajer memperluas dan memperkaya pekerjaan; memberi lebih banyak tanggungjawab dan wewenang kepada setiap pekerja, dan menciptakan lingkungan kerja dimana para pekerja merasa puas karena kebutuhannya diakui, diterima dan dipenuhi. (3). Konsep 5P. Manajemen merupakan sederetan fungsi : Perencanaan, Pengorganisasian, Pengarahan, Pengendalian, dan Pengkoordinasian. Dua fungsi tambahan: Pengkomunikasian dan Pemotivasian. Keberhasilan agribisnis pada dasarnya tergantung pada efektiftidaknya pemanfaatan sumberdaya organisasi oleh manajer. Kemampuan untuk memanajemen atau mengelola sesuatu merupakan bakat bawaan, namun dapat juga merupakan keahlian yang dapat dan harus dipelajari. Bagi sementara orang, "manajemen" dianggap sebagai suatu "kegaiban dan permainan sulap". Namun tentu saja kesan seperti ini tidaklah profesional. Dewasa ini pendidikan bisnis telah sedemikian canggihnya dengan berbagai model dan kelengkapannya. Manajer bisnis yang berhasil dibimbing oleh pronsip dan pengetahuan manajemen, hal ini mengisyaratkan bahwa keahlian manajemen dapat dipelajari. Bisnis harus mencoba memahami, bahwa mereka harus bersedia menginvestasi waktu, uang, dan daya-upaya untuk karyawan sebagaimana halnya dengan investasi dalam bentuk tambahan peralatan dan perlengkapan. Seorang manajer dapat dipandang sebagai seorang yang menyiapkan organisasi dengan kepemimpinannya dan bertindak sebagai katalisator perubahan. Manajer yang baik sangat efektif dalam lingkungan yang memungkinkan perubahan bersifat kreatif. Manajer yang tidak efektif memusatkan pikirannya untuk melaksanakan sesuatu dengan cara yang tepat, bukannya memikirkan apa yang tepat untuk dilakukan. Ciri-ciri khusus manajemen agribisnis: (1). Jenis-jenis bisnis yang sangat beraneka-ragam, mulai dari para produsen dasar hingga para pengirim, perantara, pedagang borongan, penroses, pengepak, pembuatn barang, usaha pergudangan, pengangkut, lembaga keuangan, pengecer, kongsi bahan pangan, restoran dan lain sebagainya. Perjalanan sepotong roti mulai dari bibit gandum hingga gudang grosir dan toko makanan jelas melibatkan berbagai macam jenis usaha bisnis.

Managemen Agribisnis

11

(2). Berjuta bisnis yang berbeda-beda telah lazim menangani route dari produsen hingga pengecer dan konsumen. (3). Pembentukan agribisnis dasar (primer) di sekeliling pengusaha tani. Para petani (pengusaha tani) ini menghasilkan berbagai produk pertanian. Hampir semua agribisnis terkait dengan pengusaha tani ini, baik secara langsung maupun tidak langsung. (4). Ukuran agribisnis sangat beragam dan tidak menentu, mulai dari yang berukuran raksasa hingga organisais yang dikelola oelh satu orang atau satu rumahtangga. (5). Agribisnis berukuran kecil dan harus berjuang di pasar yang relatif bebas dnegna penjual yang berjumlah banyak dan pembeli yang lebih sedikit. (6). Falsafah hidup tradisional yang dianut oleh para pelaku agribisnis cenderung mengakibatkan agribisnis lebih kolot dibandingkan dengan bisnis lainnya. (7). Badan usaha agribisnis cenderung berorientasi pada keluarga. Suami dan istri seingkali terlibat dengna sangat baik pada tahap pengoperasian dan tahap pengambilan keputusan bisnis berdasarkan mitra kerja penuh. (8). Agribisnis cenderung berorientasi pada masyarakat . Banyak agribisnis berlokasi di kota kecil dan pedesaan dimana hubungan antar perorangan sangat penting dan ikatan ini bersifat jangka panjang. Antar ependuduk dan antar rumahtangga saling kenal dalam jangka panjang. (9). Agribisnis bersifat musiman. Maslaah-masalah khusus sering muncul sebagai akibat dari eratnya ketergantungan antara agribisnis dengan pengusaha tani, dan juga karena sifat musiman komoditas. (10). Agribisnis bertalian dengan gejala alam, seperti kekeringna, banjir, hama & penyakit, dan cuaca/iklim. (11).Dampak dari program dan kebijakan pemerintah mengena langsung kepada agribisnis. Manajemen Sumberdaya Manusia Pada dasarnya manajemen sumberdaya manusia dapat dibagi menjadi : (1) pengelolaan fungsi dan (2) pengelolaan motivasi. Apabila orangnya dan pekerjaannya tidak serasi, motivasi tidak akan timbul. Tiga hal pokok fungsi sumberdaya manusia dalam kebanyakan agribisnis adalah (a) ukuran perusahaan, (b) pengetahuan mengenai fungsi sumberdaya manusia, dan (c) falsafah manajemen puncak mengneai sumberdaya manusia. Fungsi manajemen sumberdaya manusia: Menentukan kebutuhan personil perusahaan Mencari dan merekrut tenagakerja Mengangkat atau memilih tenagakerja Mengorientasikan tenagakerja pada pekerjaannya

(1). (2). (3). (4).

Managemen Agribisnis

12

(5). (6). (7). (8). (9).

(1). (2). (3). (4).

Menetapkan persyaratan kompensasi dan tunjangan Mengevaluasi prestasi kerja Mengawasi pelatihan dan pengembangan Mengadakan promosi atau kenaikan jabatan Menangani pemutusan hubungna kerja atau pemindahan. Langkah pertama manajemen sumberdaya manusia adalah perumusan pekerjaan yang akan dilakukan. Tantangan perumusan pekerjaan terletak pada rencana organisasional yang tersusun dan berwawasan mendalam. Setiap posisi harus mempunyai job-goals yang menunjang keberhasilan perusahaan. Pekerjaan dapat dirumuskan dengna menggunakan dua pendekatan: (1) spesifikasi kerja dan (2) uraian kerja. Spesifikasi kerja mengisyaratkan kualifikasi yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan secara memuaskan. Spesifikasi kerja ini dapat mencakup beberapa aspek, yaitu: Maksud pekerjaan: tujuannya, kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Jenis pekerjaan: supervisi, pelatihan, tanggungjawabnya; apakah pekerjaan merupakan tugas seumur hidup atau menjanjikan peningkatan karir. Persyaratan pekerja: pendidikan, pengalaman, ketrampilan khusus, kesehatan, kepribadian dlsb. Cara-cara khusus untuk menentukan kemampuan pelamar: ujian, catatan kerja masa lalu, dlsb. Uraian kerja (job description) berittik berat pada kegiatan dan tugas kerja . Calon karyawan dapat dicari pada banyak sumber. Kualifikasi kerja, upah atau gaji, jenis dan ukuran organisasi, dan lokasi agribisnis memainkan peranan penting dalam perekrutan karyawan. Pertimbangan penting ialah rekomendasi dari karyawan sendiri yang selama ini telah selalu bekerja dengan baik. Apabila pekerjaan memerlukan pelatihan dan pendidikan khusus, Balai Latihan kerja atau penyuluh dapat diminta untuk mencarikan calon pekerja. Sumberdaya manusia merupakan aktiva terpenting pada setiap agribisnis. Fungsi manajemen sumberdaya manusia bersnagkut paut dengan pengelolaan mekanisme pengkaryaan. Semakin besar agribisnis, semakin formal dan rumit proses tersebut; tetapi setiap agribisnis harus mampu menyelenggarakan fungsi personalia secara tuntas. Manajemen sumberdaya manusia mengawalinya dengan menentukan kebutuhan pengkaryaan. Dalam hal ini biasanya harus ada perumusan atas pekerjaan dan pengembangan uraian kerja sehingga personil yang tepat dapat direkrut. Perekrutan mencakup usaha mencari calon karyawan yang qualified atau berbobot,

Managemen Agribisnis

13

wawancara, dan peran-serta dalam memilih yang terbaik. Setelah itu, fungsi personalia harus senantiasa mengamati kegiatan-kegiatan pada masa awal pengkaryaan, orientasi, dan pelatihannya. Fungsi personalia lainnya ialah pengembangan dan pengelolaan program tunjangan karyawan; asuransi, pensiun, kesehatan, kecelakaan kerja , pendidikan, dan berbagai program untuk meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas kerja. Pada kebanyakan agribisnis, fungsi personalia juga mencakup evaluasi prestasi kerja karyawan secara teratur dan pengupayaan pertumbuhan profesional yang berkelanjutan melalui program pelatihan dan pengembangan yang diselenggarakan. Pelatihan dapat dilaksanakan secara informal, sambil kerja, atau berupa seminar formal, yang semuanya harus mengarah kepada peningkatan produktivitas. Pengelolaan sumberdaya manusia merupakan tanggungjawab dasar bagi manajer agribisnis. Para manajer harus mengembangkan struktur organisasi dimana tanggungjawab, wewenang, dan tanggung gugat perorangan ditentukan secara jelas. Manajemen harus mengarahkan dan memantau kegiatan harian, memotivasi dan mengnedalikan para karyawan agar berupaya mencapai produktivitas yang maksimum. Banyak agribisnis menggunakan bagan organisasi formal untuk memperjelas tanggung jawab, wewenang dan tanggung uggat para karyawan. organisasi lini merupakan struktur dimana setiap orang berada dalam rantai komando dan mempunyai tanggungjawab langsung bagi fungsi- fungsi utama dalam bisnis. Dalam struktur organisasi lini dapat ditambahkan tenaga staf ahli tanpa diberi wewenang dan hanya berhak memberi nasihat kepada para manajer lini organisasi; sedangkan dalam struktur organisasi fungsional para staf ahli diberi wwewenang untuk melaksanakan gagasan-gagasan dalam bidang tanggung-jawabnya. Kepemimpinan merupakan tugas yang menantang bagi hampir semua manajer agribisnis. Banyak gaya kepemimpinan yang berbeda dan berjenjang mulai dari yang bersifat otokratik, demokratik, hingga yang bersifat bebas. Pemotivasian berarti mendorong karyawan agar bertindak dalam cara- cara tertentu. Maslow menjelaskan kebutuhan pokok manusia sebagai hierarkhi, pemenuhan kebutuhan pokok inilah yang memotivasi manusia. Namun demikian, faktor lainnya seperti uang sudah merupakan bagian dari pengharapan wajar manusia sehingga hal ini bukan lagi merupakan faktor pemotivasi tetapi sudah merupakan faktor higienik, yang jika jumlahnya tidak memadai, akan menciptakan ketidak puasan. Analisis transaksional merupakan salah satu model untuk memahami keinginan karyawan dan dan faktor pemotivasinya.

Managemen Agribisnis

14

Analisis transaksional merupakan alat yang bagus untuk membantu para manajer mengerti kehendak bawahan, tetapi hal ini hanya perlu digunakan sebagai alat tambahan saja. Tidak ada rumus yang siap pakai atau jawaban yang tepat dalam bentuk yang terbaik untuk memanajemeni manusia. Manajemen merupakan proses rumit yang didasarkan pada sifat watak pemimpin, sifat si terpimpin, dan situasi. DESKRIPSI PROFIL SISTEM AGRIBISNIS KOMODITAS MANGGA DI JATIM 1. Pendahuluan Beberapa permasalahan agribisnis mangga di Jawa Timur yang dapat diidentifikasikan selama ini adalah: (a). Volume ekspor buah mangga selama ini mengalami fluktuasi yang sangat tajam dari waktu ke waktu. Beberapa faktor yang terkait dengan masalah ini adalah potensial demand pasar luar negeri dan domestik ; kendala-kendala kualitas (terutama tentang jenis/varietas yang paling disukai konsumen); keadaan teknik penanganan pascapanen; serta kendala-kendala kontinyuitas dan peningkatan produksi buah. (b). Sebagian besar tanaman mangga ditanam penduduk di lahan pekarangan di sela-sela tanaman lainnya. Alternatif pengembangan kebun mangga monokultur pada lahan tegalan atau perkebunan masih belum diketahui secara meyakinkan, apakah tanaman mangga yang diusahakan secara komersial cukup "layak" (feasible) baik ditinjau dari aspek finansial, ekonomi, maupun sosial. (c). Biaya investasi untuk pengusahaan mangga apabila dilakukan secara komersial (perkebunan) cukup besar, sulit terjangkau oleh petani yang permodalannya lemah. Oleh karenanya, dalam rangka pengembangan agribisnis mangga, perlu dikaji model pengelolaan yang dapat memecahkan masalah tersebut, termasuk permodalan, pemasaran, transfer teknologi serta permasalahan lainnya. 2. Potensi Produksi Mangga Perkembangan produksi mangga di Jawa Timur semenjak tahun 1985 menunjukkan peningkatan (Tabel 1). Tiga jenis mangga yang dominan adalah Arumanis, Gadung dan Manalagi (Tabel 2) Tabel 1. Perkembangan Produksi Mangga di Jawa Timur Selama Tahun 1985-1990.

Managemen Agribisnis

15

Tahun

Produksi Perkembangan (ton) (% /th) 1985 186.250 1986 207.600 11.46 1987 284.850 37.21 1988 306.225 7.50 1989 452.500 47.77 1990 611.250 35.08 Sumber: Diolah dari laporan Tahunan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Jawa Timur 1991/1992

Tabel 2. Produksi Mangga Berdasarkan Jenisnya di Jawa Timur, Tahun 1990 Produksi (ton) Arumanis 216.994 Golek 92.290 Manalagi 132.641 Jenis lain 169.316 Sumber: Diolah dari Laporan Tahunan Dinas Pangan Jawa Timur, 1991/1992. 3. Wilayah Agroekologi Mangga Tanaman mangga sangat cocok untuk daerah-daerah yang mempunyai bulan kering sekitar tiga bulan (tipe iklim yang sesuai B2, C dan D), ia cukup tahan kekeringan. Di daerah yang beriklim basah tanaman mangga sering mengalami ganggua seperti kerontokan bunga, gangguan penyakit Gleosporium dan penggerek buah. Di daerah iklim kering diperlukan persyaratan bahwa kedalaman air tanah tidak boleh lebih dari 200 cm. Tanaman ini kurang sesuai untuk daerah dataran tinggi (>1000 m dpl). Periode kering sebelum dan sewaktu pembungaan sangat diperlukan untuk keberhasilan pembuahan, sedangkan cuaca berawan dan banyak hujan pada saat pohon berbunga dapat mengganggu perkawinan bunga dan mengakibatkan kerontokan. Karakteristik tanah yang sesuai adalah gembur dan tekstur lempung berpasir, dan solumnya cukup dalam. Tiga macam faktor agroekologi utama yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman mangga adalah Jenis Mangga Persen (%) 35.50 15.10 21.70 27.70 Pertanian Tanaman

Managemen Agribisnis

16

ketinggian tempat, pola hujan sepanjang tahun, dan solum tanah. Sedangkan faktor-faktor agroekologi lain yang dapat membatasi produktivitas tanaman mangga adalah (i) salinitas tanah yang tinggi, (ii) muka air tanah yang terlalu dangkal, (iii) tekstur tanah liat berat, (iv) drainase tanah yang jelek/daerah genangan/banjir, (v) faktor khusus. Hasil evaluasi rekonaisans di Jawa Timur diabstraksikan dalam Tabel 3. Secara general, wilayah pengembangan mangga di Jawa Timur dapat dijelaskan seperti berikut. (1). Wilayah pengembangan dataran menengah beriklim basah (400-1000 m dpl, CH = > 2000 mm/tahun) Daerah ini kurang sesuai bagi tanaman mangga, faktor pembatasnya adalah curah hujan yang berlebihan. Pada saat tanaman mangga menghendaki periode kering ternyata masih turun hujan. Oleh karena itu kasus yang sering terjadi ialah kerontokan bunga dan bakal buah. (2). Wilayah pengembangan dataran menengah beriklim agak basah (400- 1000 m dpl, CH = 1000 - 2000 mm/tahun) Sebaran wilayah ini di Jawa Timur sangat luas dengan kondisi agroekologi sangat beragam. Keadaan ini memungkinkan berbagai jenis mangga tumbuh dan berkembang dengan baik. Kendala yang mungkin dihadapi adalah solum tanah yang tipis, tekstur liat berat atau berpasir. (3). Wilayah pengembangan dataran rendah beriklim kering (0-400 m dpl, CH = < 1000 mm/tahun) Wilayah pengembangan ini hanya sesuai bagi tanaman mangga yang tahan terhadap kekeringan, yaitu jenis-jenis lokal yang mempunyai perakaran sangat dalam dan luas, penetrasinya kuat dan umumnya mempunyai tajuk yang daunnya kecil-kecil. Kendala yang lazim adalah cekaman air tanah yang mengakibatkan kegagalan fruitset. Tabel 3. Klasifikasi lahan bagi pengembangan mangga di Jawa Timur (Soemarno dkk, 1992)
N o 1. 2. 3. Development zones (Symbols) A1R1S1 (Sesuai) A1R1S2 (Sesuai) A1R1S3 (Kurang sesuai) Altitude ( m dpl 0-400 0-400 0-400 Tipe iklim C2C3 C2C3 C2C3 Solum (cm) > 100 60100 < 60 Possible constraint*) k1; k2 k1; k2 k1; k2 k3 k4 k5 k3 k4 k5 k3 k4 k5

Managemen Agribisnis

17

4. 5. 6. 7. 8. 9. 10 11 12 13 14 15 16

A1R2S1 (Kurang sesuai) A1R2S2 (Kurang sesuai) A1R3S1 (Kurang sesuai) A1R3S2 (Kurang sesuai) A2R1S1 (Sesuai) A2R1S2 (Sesuai) A2R1S3 (Cukup sesuai) A2R2S1 (Cukup sesuai) A2R2S2 (Cukup sesuai) A2R2S3 (Kurang sesuai) A2R3S1 (Kurang sesuai) A2R3S2 (Kurang sesuai) A3R2S3 (Tidak sesuai)

0-400 0-400 0-400 0-400 4001000 4001000 4001000 4001000 4001000 4001000 4001000 4001000 >1000

D D B; E B; E C2C2C2-

> 100 k2 60100 > 100 60100 > 100 60100 < 60 > 100 60100 < 60 > 100 60100 < 60

k1; k1; k2 k1; k2 k1; k2 k1; k2 k1; k2 k1; k2 k1; k2 k1 ;k2 k1; k2 k1; k2 k1; k2 k1; k2

k3 k3 k3 k3 k3 k3 k3 k3 k3 k3 k3 k3 k3

k4 k4 k4 k4 k4 k4 k4 k4 k4 k4 k4 k4 k4

k5 k5 k5 k5 k5 k5 k5 k5 k5 k5 k5 k5 k5

C3 C3 C3 D D D

B; E B; E D

Keterangan : *) Kendala yang mungkin ada; k1 = salinitas yang tinggi; k2 = kedalaman muka air tanah < 50 cm; k3 = tekstur tanah liat berat; k4 = drainase buruk/daerah genangan/banjir; k5 = kekeringan; k6 = kondisi iklim (suhu dan kelembaban udara) ; k7 = curah hujan berlebihan. (4). Wilayah pengembangan dataran rendah beriklim agak basah (0400 m dpl, CH = 1000-2000 mm/tahun) Wilayah ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadi pusat produksi mangga. Kondisi agroklimat umumnya sesuai bagi pertumbuhan dan produksi mangga. Periode kering cukup panjang bagi periodisasi pertumbuhan tanaman mangga. Kendala yang mungkin dihadapi adalah muka air tanah yang terlalu dangkal, drainase yang jelek atau genangan air, dan tekstur tanah liat berat. 4. Pusat produksi mangga

Managemen Agribisnis

18

Tanaman mangga di Jawa Timur tersebar pada hampir seluruh wilayah. Daerah-daerah sentra produksi aktual mangga di Jawa Timur disajikan dalam Tabel 4. Tabel 4. Daerah Sentra Produksi Mangga di Jawa Timur Kabupaten Produksi buah (ton) Kultivar: Arumanis Golek Lainnya 44.436 27.025 29.143

1 Pasuruan . 2 Probolinggo 28.895 2.565 9.620 . 3 Kediri 4.962 8.575 24.850 . 4 Lumajang 7.040 4.128 13.760 . 5 Jombang 17.940 1.331 5.430 . 6 Gresik 7.524 1964 9.642 . 7 Mojokerto 7.434 1.127 8.270 . 8 Ponorogo 7.560 975 7.515 . Sumber: Diolah dari Laporan Tahunan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Jawa Timur, 1991/92.

5. Keragaan Sistem Agribisnis Mangga 5.1. Usahatani Tanaman mangga pada umumnya diusahakan di lahan pekarangan secara sambilan. Estimasi tentang persentase luas pengusahaan mangga berdasarkan sistim pengusahaannya disajikan dalam Tabel 5. Tanaman mangga di lahan pekarangan penduduk tidak mendapatkan perawatan secara memadai, pemupukan dilakukan ala kadarnya, pemangkasan tajuk tidak dilakukan. Sebagian besar tanaman berumur tua dan ditanam dari biji.

Managemen Agribisnis

19

Tabel 5. Estimasi Persentase Usahatani Berdasarkan Sistem Pengusahaannya 1. 2. 3.

Tanaman

Mangga

Farming systems Mangga diusahakan pada lahan pekarangan Mangga diusahakan pada lahan tegal dan tumpangsari dengan tanaman pangan Mangga diusahakan pada lahan tegal secara monokultur Sumber: Soemarno dkk., 1992.

% luasan 90 - 95 5.0 1.0

5.2. Produktivitas mangga Jumlah tanaman mangga dan produksinya di daerah sentra produksi Probolinggo disajikan dalam Tabel 6. Tabel 6. Jumlah Tanaman dan Produksi Buah Mangga di Kabupaten Probolinggo, 1990/91. Jumlah pohon mangga: Productif Muda Total

Kultivar

Produksi buah (kw) Gadung 95.527 55.520 151.047 137.085 Manalagi 44.735 33.149 77.884 58.357 Golek 20.950 23.986 44.936 35.803 Madu 7.229 18.303 25.532 7.898 Jenis lain 45.972 63.932 109.904 142.372 Jumlah 214.413 204.890 419.303 381.515 Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, 1991/1992. 5.3. Usahatani mangga rakyat Deskripsi ringkas sistem usahatani mangga yang dilakukan oleh petani sebagaimana disajikan dalam Tabel 7. 5.4. Sistem Pemasaran

Managemen Agribisnis

20

Buah mangga pada umumnya dikonsumsikan dalam bentuk segar, kurang dari satu persen dari total produksi yang diproses menjadi bentuk olahan (Direktorat Bina Produksi Hortikultura, 1986). Buah mangga sebagian besar dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. a. Saluran Pemasaran. Buah mangga yang dihasilkan di Kabupaten Pasuruan, Probolinggo dan sekitarnya dipasarkan di dalam wilayah Kabupaten dan sebagian dikirim ke luar wilayah. b. Cara Pemasaran Penjualan buah mangga pada umumnya dilakukan melalui tiga cara, yakni tebasan, ijon dan kontrak. Sebagian besar petani melakukan pemasaran mangganya dengan cara tebasan (80%), sisanya dengan cara ijon dan kontrak. Dalam hal ijon dan kontrak, penentuan harga sangat didominasi oleh pedagang. Tabel 7. Deskripsi Sistem Usahatani Mangga Yang Dilakukan Petani, 1992/1993 Kondisi aktual 3-5 pohon Lahan pekarangan Tidak beraturan Sebagian besar berasal dari cangkokan Arumanis (gadung) dan Manalagi Umumnya dilakukan pada waktu tanaman umur 1-3 tahun Umumnya dilakukan pada waktu tanaman umur 1-2 tahun dan Jarang dilakukan

1. 2. 3. 4.

Rata-rata jumlah pohon Lahan yang digunakan Jarak tanam Sistim penanaman

5. Jenis mangga yang banyak diusahakan 6. Pemangkasan 7. Pemupukan

8.Pemberantasan hama penyakit Sumber: Soemarno dkk. 1992. c. Marjin pemasaran

Marjin pemasaran mangga di Kabupaten Probolinggo sebagaimana Tabel untuk pemasaran sampai luar Probolinggo (ke

Managemen Agribisnis

21

Jakarta) . Market Share petani dari harga beli konsumen hanya sebesar lebih kurang 45% (Tabel 8).

Tabel 8.

Pemasaran Mangga dari Kabupaten Probolinggo ke luar Kabupaten, 1992/1993 Nilai (Rp/100 buah) 14.280 14.280 714 460 1.285 250 860 5.732 9.301 31.945 8.355 Pangsa (%) 44.70 44.70 2.23 1.44 4.02 0.78 2.69 17.94 29.12 100 26.15

Aktivitas 1. Petani Harga jual 2. Pedagang pengumpul a. Harga beli b. Biaya - Panen - Sortasi - Packing - Transport lokal - Kuli angkut - Transpor ke luardaerah (Jakarta) Total c. Harga jual d. Keuntungan Sumber: Soemarno dkk, 1993

5.5. Agroteknologi mangga Berdasarkan hasil penelitian di Kabupaten Pasuruan dan Probolinggo diperoleh informasi tentang agro-teknologi mangga seperti yang diabstraksikan dalam Tabel 9. Sebagian besar petani mangga di dua daerah sentra produksi mangga (Pasuruan dan Probolinggo) kurang menerapkan teknologi budidaya mangga. Terutama para petani yang menanam mangga di pekarangan dapat dikatakan belum melakukan usaha kearah peningkatan teknologi budidaya, atau boleh dikatakan melakukan budidaya apa adanya. 6. Tingkat Kelayakan 6.1. Aspek Agroekologi

Managemen Agribisnis

22

Tanaman mangga dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik pada tempat-tempat dengan ketinggian 0-600 meter diatas permukaan laut, sedangkan kondisi yang ideal adalah 0-300 m dpl. Syarat-syarat tumbuh (pola hujan) untuk tanaman mangga sebagai berikut : (1). Daerah-daerah yang kondisi iklimnya ditandai oleh bulan basah kurang dari 9 bulan dan bulan kering minimal 2 bulan, daerah toleransinya adalah 7-8 bulan basah dan 4-5 bulan kering . Kedalaman muka air tanahnya 50 cm atau lebih, sehingga tidak terjangkau oleh sistem perakaran . (2). Daerah-daerah yang bulan basahnya 5-7 bulan dan bulan keringnya 4-6 bulan, dengan kedalaman muka air tanah 50 cm sampai 150 cm. (3). Daerah-daerah yang bulan basahnya kurang dari 5 bulan dan bulan keringnya 6 bulan, sampai yang bulan basahnya 2-4 bulan dan keringnya 8 bulan, dengan kedalaman muka air tanahnya 50 cm sampai dengan 150 cm di bawah permukaan. 6.2. Prospek pengembangan Mangga Keberhasilan pengembangan mangga di Jawa Timur menghadapi beberapa faktor: (a). Swa sembada pangan Pengembangan tanaman mangga haruslah diarahkan pada lahan kering (pekarangan, tegalan, kebun campuran, dan lahan-lahan kritis). Arah kebijakan ini dipertegas oleh Dinas Pertanian Cabang Kabupaten yang menggelarkan "gerakan mangganisasi", yaitu menanam tanaman mangga pada setiap jengkal lahan yang kosong. (b). Pengelolaan lahan kritis Lahan-lahan kritis di Jawa Timur sampai saat ini masih memer lukan penanganan yang lebih serius, terutama yang berada di kawasan lahan usaha milik penduduk. Kenyataan ini mendorong adanya kebijakan Pemerintah Daerah untuk menggerakkan program penghijauan. Jenis tanaman unggulan yang dianjurkan adalah mangga, karena tanaman ini disamping untuk tujuan penghijauan sekaligus dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. (c). Respons petani Respon petani untuk menanam mangga pada lahan kering (pekarangan, tegalan, kebuun, dan lahan-lahan terlantar) cukup besar. Untuk lebih membantu respon penduduk ini pemerintah daerah telah mengarahkan bantuan pembangunan desa untuk pengadaan bibit mangga yang baik.

Managemen Agribisnis

23

(d). Intensifikasi penggunaan lahan Intensitas penggunaan lahan kering masih sangat rendah yakni satu sampai dua kali setahun (tanam yang kedua kadang-kadang berhasil dipanen dan kadang-kadang gagal dipanen karena mengalami kekeringan). Pada musim kemarau lahan-lahan seperti ini praktis tidak menghasilkan produk, sehingga lazimnya dikategorikan sebagai lahan "Sleeping Land". Dengan demikian penanaman mangga pada lahan seperti ini diharapkan dapat meningkatkan intensitas produktivitasnya. Tabel 9. Keadaan Agro-Teknologi Budidaya Mangga di Kabupaten Pasuruan dan Probolinggo . Pasuruan
Homeyards Gardens

Probolinggo
Homeyard s Gardens

I. Bibit dan Pembibitan a. Asal bibit - Sendiri - Membeli b. Cara Pembibitan - Biji - Sambungan - Okulasi - Cangkok c. Jarak Tanam; m - Tak teratur - Teratur d. Sistim Penanaman - Tumpangsari - Monokultur II. Pemeliharaan a. Pemangkasan/ Benalu b. Pemupukan c. Pemberantasan hama penyakit d. Penyiangan

75.0 % 25.0 % 55.0 % 26.0 % 15.0 % 4.0 % 8x8 10 x 10 100 % -

36.5 % 63.5 % 0 55.0 30.0 15.0 12 x 12 75 % 25 %

55 % 45 % 15 % 30 % 20 % 35 % 7x7 10 x 10 85 % 15 % 50 % 20 % 12 % 20 %

20% 80 60% 40 10 x 10 50% 50 80% 90% 70% 80%

55.55 40.75 % % 11.00 55.00 % % 5.00 % 40.00 % 45.00 % 75.00%

Managemen Agribisnis

24

III. Jumlah rata-rata

pohon setiap orang Sumber: Soemarno, dkk. 1992. (e). Peningkatan pendapatan petani Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman mangga membe rikan sejumlah pendapatan keluarga. Kenyataan ini menunjukkan bahwa apabila pengembangan mangga diarahkan pada lahan-lahan petani tersebut diharakan dapat meningkatkan pendapatan petani. 6.3. Aspek Sosio-teknologi Penguasaan agroteknologi mangga oleh penduduk pada umumnya sudah menguasai syarat minimal, akan tetapi untuk menuju kepada usahatani yang lebih intensif masih diperlukan tambahan informasi teknologi inovatif. Teknologi bibit dan pembibitan, penanaman bibit dan perawatan tanaman, serta fungsi pascapanen sederhana telah dikuasai penduduk. 6.4. Ketersediaan sarana produksi Ketersediaan sarana produksi untuk pengembangan mangga yang terpenting adalah bibit yang kualitasnya baik. Potensi bibit mangga di Jawa Timur masih dapat dikembangkan lagi sesuai dengan permintaan pasar. Dalam rangka penyediaan bibit mangga, peranan masyarakat dalam usahatani pembibitan mangga dipandang perlu dilibatkan, karena usahataninya cukup efisien dan meningkatkan pendapatan petani (Tabel 10). 6.5. Aspek Finansial a. Tingkat profit Usahatani mangga apabila akan dikembangkan secara kormersial dalam bentuk kebun mangga monokultur, terlebih dahulu perlu dievaluasi keuntungannya. Perkiraan biaya investasi dan keuntungan iusahatani kebun mangga monokultur disajikan dalam Tabel 11 dan 12. Ramalan produksi mangga dilakukan hingga umur ekonomi tanaman mangga 30-35 tahun pada tingkat produktivitas medium. Hal ini dilakukan dengan alasan untuk memperhitungkan faktor resiko dikarenakan adanya mangga yang tidak bisa dipasarkan karena busuk, terlalu kecil, kecurian, gangguan hama-penyakit dan lain-lain.

pohon

60

40

Managemen Agribisnis

25

Berdasarkan estimasi cash flow selama 30 tahun diperoleh informasi bahwa tanaman mangga baru mendatangkan keuntungan setelah umur 5 tahun. Sedangkan apabila modalnya berasal dari kredit akan dapat terlunasi pada tahun ke-10. Besarnya keuntungan mangga pada "discount rate" 18 persen per tahun dengan "Net Present Value" (NPV) sekitar Rp.4.000.000,- sedangkan besarnya "Internal Rate of Return" (IRR) sekitar 32.5 persen. Dengan informasi ini dapat disimpulkan bahwa secara finansial usahatani kebun mangga secara monokultur sangat menguntungkan.

Tabel 10 . Analisis Usaha pembibitan mangga dengan volume 1500 buah bibit mangga Bahan : a. Sewa Tanah 015 Ha b. Benih 2000 x Rp. 10 c. Pupuk I 10 Kg x Rp. 170.II 30 Kg x Rp. 170.d. Tali Plastik e. Kranjang 2000 x Rp. 50.f. Entris 2000 x Rp. 15 Tenaga_Kerja : a. Pengolahan Tanah: - Bajak 10 HKSP x Rp. 2.000.- Bedengan 17.5 HKSP x Rp. 2.000.b. Penanaman: - Ajir & tanam 125 HKSP x Rp.2.000 c. Pengairan: - Penyiraman 25 HKSP x Rp. 2.000.- Pengairan 24 HKSP x Rp. 2.000.d. Penyiangan 18 HKSP x Rp. 2.000.e. Pemupukan 10 HKSP x Rp. 2.000.f. Penyambungan 1500 x Rp. 100 .g. Pemanenan & pembungkusan 50 HKSP x Rp. 2.000.Total Produksi : 1500 bibit x Rp. 1.250.Total biaya: Rp.307.800 + Rp. 484.000 Pendapatan : Sumber: Soemarno dkk.,1993. Rp. 150.000.Rp. 20.000.Rp. 1.700.Rp. 5.100.Rp. 1.000.Rp. 100.000.Rp. 30.000.Rp. 307.800.Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. 20.000.35.000.25.000.50.000.48.000.36.000.20.000.150.000.-

Rp. 100.000.Rp. 484.000.Rp. 1.875.000.Rp. 791.800.Rp. 1.083.200.-

Managemen Agribisnis

26

7. Kebun Percobaan Mangga 7.1. Pendahuluan Kebun percobaan tanaman mangga Cukur Gondang terletak di desa Cukur Gondang, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan. Luas areal seluruhnya kurang lebih 11 Ha. Jenis tanahnya termasuk komplek latosol dengan ketinggian 50 m di atas permukaan laut. Rataan curah hujan tahunan 1100 mm, dengan suhu udara rata-rata 31 oC. Kedalaman air tanah dapat mencapai sekitar 1,5 m di bawah permukaan tanah. Tabel 11. Biaya Investasi Awal Untuk Usahatani Mangga di Probolinggo dan Pasuruan Uraian 1. Sewa tanah 2. Sarana pengairan (pembuatan sumur) (@ Rp. 200.000 3. Sarana produksi: a. Bibit b. Pengolahan tanah c. Penanaman d. Pengairan e. Pupuk dan rabuk Satuan Ha Buah Volume 1 2 Nilai (Rp) 200.000 400.000

batang HKSP HKSP HKSP unit Sub Total Total of initial invesment Sumber: N. Hanani dkk. 1992.

175 11 20 8 175

218.750 22.000 40.000 16.000 43.750 340.500 940.500

Tabel 12. Analisis Keuntungan Usahatani kebun mangga (untuk setiap Hektar kebun Mangga) Keterangan 1. Umur mulai berproduksi 2. Umur impas permodalan 3. Net Present Value (NPV) dengan DF = 18 % 4. Internal Rate of Return (IRR) Keadaan 4 tahun 10 tahun Rp. 4.059.068 32.77 %

Managemen Agribisnis

27

5. Nilai Break Event Point (BEP) a. Produksi b. Harga Sumber: Soemarno dkk, 1993.

189 buah / pohon Rp. 24.4 / buah

Tanaman uatamanya adalah mangga yang merupakan tanaman koleksi. Pada umumnya tanaman ini sudah tua ( ditanam tahun 1941). Adapun tanaman lainnya adalah koleksi pisang, tanaman pekarangan, tanaman buah-buahan aneka warna. Koleksi mangga terdiri dari 197 jenis yang berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan luar negeri. Pada bulan juni 1981 yang baru lalu ditambah 6 jenis mangga baru asal Pakistan. PUSTAKA ACUAN Afandi, S. 1991. Pengaruh Beberapa macam Media terhadap Pertumbuhan Tiga Varietas Batang Bawah Mangga dan Keberhasilan Sambungan Muda dengan Teknik Mini-Trees. Tesis S1, Jurusan Budidaya Pertanian, Faperta Unibraw, Malang. Affandie, A. 1995. Abstraksi Agroteknologi Jeruk di Jawa Timur. Prosiding Lokakarya Review Hasil-hasil Penelitian dalam Rangka Implementasi PIP Unibraw 1990/91- 1993/94. Lembaga Penelitian Unibraw. Aliudin. 1979. Masalah kerontokan buah pada mangga. Departemen Agronomi, Fakultas Pertanian, Unibraw. Aravindakshan,M. dan J. Philip. 1980. Effect of varying doses of NPK on growth and vigour of mango during prebearing stage. South Indian Horticulture 28(3): 94-97 Arifin, M.S. 1986. Studi tentang Penggunaan Zat Penghambat Pertumbuhan pada Buah Mangga (Mangifera indica L.). Tesis S1, Jurusan Budidaya Pertanian, Faperta Unibraw, Malang.

Astawa, I,N,G. 1986. Pengaruh beberapa Wadah Pembibitan dan Pemupukan Terhadap Pertumbuhan Berbagai Jenis Mangga Sebagai Bahan Batang Bawah. Tesis S1, Jurusan Budidaya Pertanian, Faperta Unibraw, Malang.

Managemen Agribisnis

28

Budhi,

D.D. 1988. Pengaruh Penyambungan terhadap Tingkat Keberhasilan dan Pertumbuhan Tiga Varietas Batang Bawah Mangga. Tesis S1, Jurusan Budidaya Pertanian, Faperta Unibraw, Malang.

Das, G.C. dan J. Panda. 1975. Study on the effect of B- nine (NDimethyl Amino Succinamic Acid) and Maleic Hydrazide on vegetative shoots of late occurrence in mango. Orissa Jour. of Hort. 4(1&2): 33-36. Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan RI. 1981. Daftar Komposisi Bahan Makanan. Bhatara Karya Aksara, Jakarta. Downey, W.D. dan S.P. Ericson. 1989. Management Agribisnis. Penerbit Erlangga, Jakarta. FAO. 1978. A Framework for Land Evaluation. Soils Bulletin No. 32. Food and Agriculture Organization of The United Nations. Rome. FAO. 1978. Agro-ecological Zone Project. Soil Resources Report No. 48. . Hanani, N. 1991. Studi Kelayakan Pengembangan Komoditas komoditas andalan dalam Rangka Peningkatan Ekspor dan Agribisnis Hortikultura. Laporah Hasil Penelitian No Kontrak 351/P4M DPPM/BD XXI/1990. Fakultas Pertanian Unibraw. Hanani, N., A. Affandie dan Soemarno. 1995. Deskripsi Sistem Agribisnis Mangga di Jawa Timur. Prosiding Lokakarya Review Hasil-hasil Penelitian dalam Rangka Implementasi PIP Unibraw 1990/91- 1993/94. Lembaga Penelitian Unibraw. Hanani, N., R. Dwiastuti, Syafrial, S. Wijana, M. Dewani dan A. Affandie. 1991. Studi Pengembangan Agribisnis Mangga di Jawa Timur. Laporan Hasil Penelitian PHB I/1 DP-4M, Lembaga Penelitian Unibraw. Handajani, S. 1979. Mencagah kerontokan buah mangga. Cabang Lembaga Penelitian Hortikultura, Malang. Hussein, M.A., dan K.E. Youssef. 1973. Physico-chemical Parameter as An Index of Optimum Maturity in Egyptian Mango Fruit, Mangifera indicaL. Hort. Dept., Univ. of Assiut, Assiut, Egypt.

Managemen Agribisnis

29

Idiyah, S. 1987. Studi Budidaya Tanaman Mangga (Mangifera indica L.) di Balai Benih Induk Pohjentrek , Kebun Percobaan Kraton dan Kebun Percobaan Cukur-Gondang Pasuruan. Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Unibraw, Malang. Imam Syafii. 1995. Deskripsi Sistem Agribisnis Tanaman Melinjo di Magetan. Prosiding Lokakarya Review Hasil-hasil Penelitian dalam Rangka Implementasi PIP Unibraw 1990/91- 1993/94. Lembaga Penelitian Unibraw. Ingdrawati, M.L.A. 1989. Pengaruh Penggunaan Berbagai Jenis Lokal yang Berpotensi Sebagai Batang Bawah terhadap Keberhasilan Sambungan dengan Batang Atas Mangga Gadung. Tesis S1, Jurusan Budidaya Pertanian, Faperta Unibraw, Malang. Kartasapoetra, G., A.G. Kartasapoetra dan R.G. Kartasapoetra. 1985. Management Pertanian (Agribisnis). Bina Aksara, Jakarta. Kuntari, Y.B. 1989. Pengaruh Letak Sambungan dan Waktu Defoliasi Batang Atas Terhadap Keberhasilan Grafting pada Mangga Batang Bawah Varietas Madu. Tesis S1, Jurusan Budidaya Pertanian, Faperta Unibraw. Kusumaningsih, D. 1990. Pengaruh Pemangkasan dan Pemberian Dormex terhadap Pemecahan Kuncup dan Pertumbuhan Tunas Lateral pada Bibit mangga Varietas Lokal. Tesis S1, Jurusan Budidaya Pertanian, Faperta Unibraw. Kusumo, S. dan T. Suminto. 1971. Jenis-jenis Mangga yang Baik Untuk Buah Meja. Bulletin Tjahort. 5: 1-24. Masyrofie dan Soemarno. 1995. Sistem Agribisnis Kenanga di Jawa Timur. Prosiding Lokakarya Review Hasil-hasil Penelitian dalam Rangka Implementasi PIP Unibraw 1990/91- 1993/94. Lembaga Penelitian Unibraw. Mujiono. 1988. Pengaruh Cara Penyambungan terhadap Tingkat Keberhasilan dan Pertumbuhan Beberapa Varietas Batang Atas Mangga (Mangifera indica L.). Tesis S1, Jurusan Budidaya Pertanian, Faperta Unibraw, Malang. Musrifah, S. 1991. Pengaruh Pemberian Zat Pengatur Tumbuh terhadap Pembibitan Buah Mangga (Mangifera indica L.). Tesis S1, Jurusan Budidaya Pertanian, Faperta Unibraw, Malang.

Managemen Agribisnis

30

Notodimedjo, S. 1983. Pengantar Ilmu Hortikultura. Pertanian. Universitas Brawijaya Malang.

Fakultas

Oetomo, T.K. 1987. Pengaruh Penggunaan Berbagai Dosis Herbisida Otyfluorfen Dalam Pengendalian Gulma dan Akibatnya terhadap Pertumbuhan Tanaman Mangga (Mangifera indica L.) Varietas Madu di Pesemaian. Tesis S1, Jurusan Budidaya Pertanian, Faperta Unibraw, Malang. Patel, B.M. dan R.S. Amin. 1981. Investigation Into the Best Period for Soft Wood Grafting of Mango in Situ South Indian Horticulture. 29(2):90-94. PPA. 1988. Commodity Profiles, Pusat Pengembangan AGribisnis, Jakarta. Purbiati, T., Widodo, dan A. Supriyanto. 1986. Pengaruh Media dan Saat Penyambungan pada Pembibitan Mangga Secara Cepat. Sub Balai Penelitian Hortikultura, Malang. Hortikultura No. 21: 84-92. Purushatham, K. dan B. Narasimhan. 1981. Depletion of Soil Moisture by Young Mango Trees With and Without Irrigation. South Indian Horticulture 29(1):68-69. Purwati, S. 1987. Budidaya Tanaman Mangga dan Permasalahannya di Kabupaten Pasuruan. Laporan Praktek Kerja Lapang, Jurusan Budidaya Pertanian, Faperta Unibraw, Malang. Rachim, F. 1988. Pengaruh KNO3 pada Pertumbuhan Vegetatif dan Generatif mangga Varietas Gadung, Golek, dan Kopyor. Tesis S1, Jurusan Budidaya Pertanian, Faperta Unibraw, Malang. Rao, V.N.V., J.B.M.M.A. Khader. 1980. Effect of Pruning and Thinning of Young Shoot Clusters of Mango Vari eties. Indian Food Packer. 34(3):60-63. Rini Dwiastuti. 1995. Abstraksi Sistem Agribisnis Rambutan di Jawa Timur. Prosiding Lokakarya Review Hasil-hasil Penelitian dalam Rangka Implementasi PIP Unibraw 1990/91- 1993/94. Lembaga Penelitian Unibraw. Ryall, A.L. dan W.J. Lipton. 1983. Handling, Transportation and Storage of Fruits and Vegetables. Volume I. AVI Publishing Company, Inc. Westport, Connecticut.

Managemen Agribisnis

31

Santoso, R.D. 1987. Keberhasilan Umur Penyambungan Muda beberapa Varietas Batang Bawah dan Batang Atas Tanaman Mangga (Mangifera indica L.). Tesis S1, Jurusan Budidaya Pertanian, Faperta Unibraw, Malang. Sentra, I.W. 1988. Pengelolaan Kebun bibit buah-buahan Bank Indonesia, Pasuruan. Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Unibraw, Malang. Simon B.W. dan Soemarno. 1995. Sistem Agribisnis Pisang di Jawa Timur. Prosiding Lokakarya Review Hasil-hasil Penelitian dalam Rangka Implementasi PIP Unibraw 1990/91- 1993/94. Lembaga Penelitian Unibraw. Soemarno, N. Hanani, W. Susinggih, dan M. Dewani. 1993. Penelitian Pengembangan Agroindustri Buah-buahan di Jawa Timur. Kerjasama antara Bappeda Tk I Jawa Timur dan Pusat Penelitian Universitas Brawijaya, Malang. Soemarno, K. Sukesi, B. Setiawan. L. Agustina, B.S. Suprih, dan Sudarto. 1995. Identifikasi Potensi Komoditas Andalan Berdasarkan Agribisnis. Kerjasama P2LK Pusat dengan Fakultas Pertanian Unibraw. Soemarno dan Iksan Semaoen. 1995. Model Pengentasan Kemiskinan di Wilayah Pedesaan. Prosiding Lokakarya Review Hasil- hasil Penelitian dalam Rangka Implementasi PIP Unibraw 1990/911993/94. Lembaga Penelitian Unibraw. Soemarno. 1991. Model Pewilayahan Komoditi Pertanian yang Berwawasan Lingkungan. Makalah disampaikan dalam Seminar Ilmiah Tanggal 12 Juni 1991 di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang. Soemarno. 1995. Konsep Sistem Agribisnis Komoditi Unggulan. Prosiding Lokakarya Review Hasil-hasil Penelitian dalam Rangka Implementasi PIP Unibraw 1990/91- 1993/94. Lembaga Penelitian Unibraw. SP2UK-PPLK. Jatim. 1991. Petunjuk Teknis Budidaya dan Konservasi Lahan Kering. SP2UK-PPLK Jawa Timur, Malang.

Managemen Agribisnis

32

Suhadak, E. 1988. Pengaruh Zat Antioksida pada Kultur kalus Tanaman Mangga (Mangfera indica L.). Tesis S1, Jurusan Budidaya Pertanian, Faperta Unibraw, Malang. Sukindar. 1991. Observasi tanaman mangga (Mangifera indica L.) di Kebun Percobaan Cukur Gondang, Pasuruan. Departemen Agronomi, Fakultas Pertanian, Unibraw, Malang. Sumarno, S.Z. Nurchasanah dan H. Danoesastro. 1981. Usaha Mempercepat Perakaran "Turus Daun" Apel dan Mangga Dengan IBA. Fakultas Pertanian, Universitas Gajahmada, Yogyakarta. Sumiatun. 1989. Pengaruh Pemberian Zat Pengatur Tumbuh terhadap Pembentukan Buah Mangga. Tesis S1, Jurusan Budidaya Pertanian, Faperta Unibraw, Malang. Sunaryono, H. 1981. Pengenalan Jenis Tanaman Buah- Buahan dan Bercocok Tanam Buah-Buahan Penting di Indonesia. Penerbit Sinar Baru. Bandung. Tan Bock Thiam dan Shao-Er Ong. 1979. Readings in Asian Farm Management. Singapore University Press. KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji sykur kehadirat Allah swt, atas segala karuniaNya, makalah yang berjudul " MANAGEMEN AGRIBISNIS: Orgasnisasi dan Managemen Sumberdaya Manusia" ini dapat disusun . Makalah ini menyajikan pokok-pokok pikiran mengenai keterkaitan pengembangan managemen agribisnis yang diabstraksikan dari berbagai referensi. Makalah ini disajikan sebagai salah satu materi dalam Penataran Agribisnis bagi Kepala Bidang Pertanian Umum Kanwil Pertanian pada tanggal 30 s/d 3 Oktober 1996 di Surabaya. Diharapkan makalah ini dapat memberikan gambaran kepada para peserta tentang pentingnya program pembangunan agribisnis . Dengan telah selesainya makalah ini, maka perkenankanlah kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua rekan yang telah membantu.

Managemen Agribisnis

33

Malang, SEPTEMBER 1996 Penulis.

DAFTAR

ISI

No KATA PENGANTAR DAFTAR ISI PENDAHULUAN

Teks

Halaman

1 2 3 AGRIORGA4 7

PENDEKATAN DAN ORIENTASI AGRIBIS-NIS ANALISIS PEWILAYAHAN KOMODITAS STRATEGI KOMAN MANAJEMEN NISASI PENANGANAN SUMBERDAYA SISTEM DAN

Managemen Agribisnis

34

DESKRIPSI PROFIL SISTEM AGRIBISNIS KOMODITAS MANGGA DI JAWA TIMUR PUSTAKA ACUAN

12 25

Managemen Agribisnis