Anda di halaman 1dari 46

BAB I PENDAHULUAN

A. KONSEP DASAR MEDIS 1. DEFENISI Tumor tulang adalah istilah yang dapat digunakan untuk pertumbuhan tulang yang tidak normal (Wong. 2003: 595). Osteokondroma adalah tumor jinak tulang dengan penampakan adanya penonjolan tulang yang berbatas tegas sebagai eksostoksis yang muncul dari metasfisis, penonjolan tulang ini ditutupi oleh cartilago hialin. Tonjolan ini menyebabkan suatu pembengkakan atau gumpalan dan mirip seperti kembang kol (cauliflower appeareance). Tumor ini berasal dari komponen tulang (osteosit) dan komponen tulang rawan (chondrosit). (Sjamjuhidayat & Wim de Jong. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta). Osteokondroma (Eksostosis Osteokartilaginous) merupakan tumor tulang jinak yang paling sering ditemukan. Biasanya menyerang usia 10-20 tahun. Tumor ini tumbuh pada permukaan tulang sebagai benjolan yang keras. Penderita dapat memiliki satu atau beberapa benjolan. (Meyer WH; 1998; Osteosarcoma : Clinical features and Evolving Surgical and Chemotheraputic Strategies)

Osteochondroma merupakan tumor yang bersifat jinak, berasal dari komponen tulang (osteosit) dan komponen tulang rawan (kondrosit). Tumor ini sering mengenai tulang panjang di daerah metafisis terutama di daerah sekitar lutut. Tumor ini terutama ditemukan pada remaja yang

pertumbuhannya aktif dan pada dewasa muda. Lokasi osteochondroma biasanya pada daerah metafisis tulang panjang terutama disekitar sendi lutut (articulatio genu), khususnya femur distal, tibia proksimal dan humerus proksimal. Juga dapat ditemukan pada tulang scapula dan ilium. (Rasjad, Choiruddin. 2003. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Makasar).

2. KLASIFIKASI Klasifikasi neoplasma tulang berdasarkan asal sel. a. Primer a. Tumor yang membentuk tulang (Osteogenik) Jinak : - Osteoid Osteoma - Osteoblastoma - Parosteal Osteosarkoma, Osteoma Ganas: - Osteosarkoma b. Tumor yang membentuk tulang rawan (Kondrogenik) Jinak : - Kondroblastoma - Kondromiksoid Fibroma - Enkondroma - Osteochondroma Ganas : - Kondrosarkoma c. Tumor jaringan ikat (Fibrogenik) Jinak : - Non Ossifying Fibroma Ganas : - Fibrosarkoma d. Tumor sumsum tulang (Myelogenik) Ganas : - Multiple Myeloma - Sarkoma Ewing - Sarkoma Sel Retikulum e. Tumor lain-lain Jinak : - Giant cell tumor Ganas : - Adamantinoma - Kordoma b. Sekunder/Metastatik Tumor Tulang Metastatik merupakan tumor tulang yang berasal dari tumor di bagian tubuh lain yang telah menyebar ke tulang.

3. ETIOLOGI Penyebab pasti terjadinya tumor tulang tidak diketahui. Akhir-akhir ini, penelitian menunjukkan bahwa peningkatan suatu zat dalam tubuh yaitu CFos dapat meningkatkan kejadian tumor tulang. Radiasi sinar radio aktif dosis tinggi Keturunan Beberapa kondisi tulang yang ada sebelumnya seperti penyakit paget (akibat pajanan radiasi ), (Smeltzer. 2001).

4. PATOFISIOLOGI Tumor terjadi karena pertumbuhan abnormal dari sel-sel tulang (osteosit) dan sel-sel tulang rawan (kondrosit) di metafisis. Pertumbuhan abnormal iniawalnya hanya akan menimbulkan gambaran pembesaran tulang dengan korteks dan spongiosa yang masih utuh. Jika tumor semakin membesar maka akan tampak sebagai benjolan menyerupai bunga kol dengan komponen osteosit sebagai batangnya dan komponen kondrosit sebagai bunganya. Tumor akan tumbuh dari metafisis, tetapi adanya pertumbuhan tulang yang semakin memanjang maka makin lama tumor akan mengarah ke diafisis tulang. Pertumbuhan ini membawa ke bentuk klasik coat hanger variasi dari osteokondroma yang mengarah menjauhi sendi terdekat.

5. MANIFESTASI KLINIS Tumor ini tidak memberikan gejala sehingga sering ditemukan secara kebetulan, namun terabanya benjolan yang tumbuh dengan sangat lama dan membesar. Bila tumor ini menekan jaringan saraf atau pembuluh darah akan menimbulkan rasa sakit.

Dapat juga rasa sakit ditimbulkan oleh fraktur patologis pada tangkai tumor, terutama pada bagian tangkai tipis. Kadang bursa dapat tumbuh diatas tumor (bursa exotica) Bila mengalami inflamasi pasien dapat mengeluh bengkak dan sakit. Apabila timbul rasa sakit tanpa adanya fraktur,bursitis, atau penekanan pada saraf dan tumor terus tumbuh setelah lempeng epifisis menutup maka harus dicurigai adanya keganasan. Osteokondroma dapat menyebabkan timbulnya pseudo aneurisma terutama pada a.poplitea dan a.femoralis disebabkan karena fraktur pada tangkai tumor di daerah distal femur atau proximal tibia. Osteokondroma yang besar pada kolumna vertebralis dapat

menyebabkan angulasi kyfosis danmenimbulkan gejala spondylolitesis. Pada herediter multipel exositosis keluhan dapat berupa massa yang multipel dan tidak nyeri dekat persendian.

6. KOMPLIKASI a. Penekanan pada saraf (lebih sering n.poplitea) b. Penekanan pada pembuluh darah, menimbulkan pseudo

aneurisma pada a.poplitea dan a.femoralis c. Penekanan tulang sekitar d. Fraktur patologis e. Inflamasi bursa pada daerah lesi 7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK CT-Scan MRI Biopsi bedah dilakukan untuk identifikasi histologik. Biopsi harus dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran dan kekambuhan yang terjadi setelah eksesi tumor. (Rasjad, 2003).

8. GAMBARAN RADIOLOGIS

Tam

osteokondroma 1/3proksimal tulang humerus

Osteokondroma sessile pada os tibia 1/3 distal

Osteokondroma bertangkai

Penonjolan bertangkai dimetafisis tulang tibia, Proksimal dengan kalsifikasi

9. PENATALAKSANAAN a. Penatalaksanaan Medis Penatalaksanaan tergantung pada tipe dan fase dari tumor tersebut saat didiagnosis. Tujuan penatalaksanaan secara umum meliputi pengangkatan tumor b. Tindakan Keperawatan Manajemen nyeri Teknik manajemen nyeri secara psikologik (teknik relaksasi napas dalam, visualisasi, dan bimbingan imajinasi) dan farmakologi

(pemberian analgetika). Mengajarkan mekanisme koping yang efektif Motivasi klien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan mereka, dan berikan dukungan secara moril serta anjurkan keluarga untuk berkonsultasi ke ahli psikologi atau rohaniawan. Memberikan nutrisi yang adekuat Berkurangnya nafsu makan, mual, muntah sering terjadi sebagai efek samping kemoterapi dan radiasi, sehingga perlu diberikan nutrisi yang adekuat. Antiemetika dan teknik relaksasi dapat mengurangi reaksi gastrointestinal. Pemberian nutrisi parenteral dapat dilakukan sesuai dengan indikasi dokter. Pendidikan kesehatan Pasien dan keluarga diberikan pendidikan kesehatan tentang

kemungkinan terjadinya komplikasi, program terapi, dan teknik perawatan luka di rumah. (Smeltzer. 2001)

10. Pencegahan hindari dari Radiasi sinar radio aktif dosis tinggi Melakukan olahraga yang teratur

BAB II KONSEP DASAR KEPERAWATAN

A. ASKEP TEORI 1. DATA DASAR PENGKAJIAN a) Aktivitas /Istirahat Gejala: kelemahan dan atau keletihan. - Perubahan pada pola tidur dan waktu tidur pada malam hari, adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur seperti : nyeri, ansietas, dan berkeringat malam. - Keterbatasan partisipasi dalam hobi dan latihan. - Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen, tingkat stress tinggi. b) Sirkulasi Gejala : - palpitasi dan nyeri dada pada aktivitas fisik berlebih. - Perubahan pada TD. - Demam Tanda : - Ruam kulit, ulserasi. c) Integritas Ego Gejala : - Faktor stress ( keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara mengatasi stres (misalnya merokok, minum alkohol, menunda mencari pengobatan, keyakinan religious/spiritual). - Masalah tentang perubahan dan penampilan, misalnya : alopesia, lesi, cacat, pembedahan. - Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa,

tidak mampu, tidak bermakna, rasa bersalah, kehilangan. Tanda : - Kontrol depresi. - Menyangkal, menarik diri, dan marah.

d)

Eliminasi Gejala : - Perubahan pola defikasi, misalnya : darah pada feses, nyeri saat defikasi. Perubahan eliminasi urinearius misalnya : nyeri atau rasa terbakar pada saat berkemih, hematuria, sering berkemih. Tanda: - Perubahan bising usus, distensi abdomen.

e)

Makanan/Cairan Gejala: - Kebiasaan diet buruk (misalnya : rendah serat, tinggi lemak, aditif, dan bahan pengawet). - Anoreksia, mual/muntah. - Intoleransi makanan. Tanda: - Perubahan berat badan (BB), penurunan BB hebat,

berkurangnya massa otot. - Perubahan pada kelembapan/turgor kulit, edema. f) Neurosensori Gejala : - Pusing, sinkope. g) Nyeri/Kenyamanan Gejala : - Tidak ada nyeri yang bervariasi, misalnya : kenyamanan ringan sampai nyeri berat (dihubungkan dengan proses penyakit). h) Pernafasan Gejala : - Merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seseorang yang merokok), pemajanan asbes. i) Keamanan Gejala : - Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen. - pemajanan matahari lama/berlebihan.

j)

Seksualitas Gejala : - Masalah seksual, misalnya dampak pada hubungan, perubahan pada tingkat kepuasaan. - Nuligravida lebih besar dari usia 30 tahun. - Multigravida, pasangan seks multiple, aktivitas seksual dini, dan herpes genital.

k) Interaksi Social Gejala : - Ketidakadekuatan/kelemahan system pendukung. - Riwayat perkawinan (berkenaan dengan kepuasan di rumah, dukungan atau bantuan). Masalah tentang fungsi/tanggung jawab peran.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1) Nyeri berhubungan dengan spasme otot 2) Gangguan pola tidur berhubungan dengan Nyeri 3) Anxietas berhubungan dengan krisis situasi 4) Kurang pengetahuan tentang penyakit, prognosis, dan kebutuhan perawatan) berhubungan dengan kurang informasi, salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi, atau keterbatasan kognitif. 5) Resiko infeksi , factor resiko : pertahanan sekunder tidak adekuat, malnutrisi, proses penyakit kronis, atau prosedur invasif.

3. RENCANA TINDAKAN 6) DX. I. Nyeri berhubungan dengan spasme otot Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tidak terjadi nyeri dengan kriteria : Nyeri hilang / terkontrol Mengikuti aturan farmakologi yang ditentukan Mendemontrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktifitas hiburan sesuai indikasi situasi individu. Intervensi : 1) Kaji status nyeri ( lokasi, frekuensi, durasi, dan intensitas nyeri ) R/ memberikan data dasar untuk menentukan dan mengevaluasi intervensi yang diberikan. 2) Ajarkan teknik Manajemen Stress seperti teknik relaksasi napas dalam, visualisasi, dan bimbingan imajinasi. R/ meningkatkan relaksasi yang dapat menurunkan rasa nyeri klien

3) Ciptakan pengunjung.

lingkungan yang nyaman, dengan membatasi jumlah

R/ Memberikan ketenangan kepada klien sehingga dapat meningkatkan relaksasi klien. 4) Kolaborasi dalam pemberian obat analgesik sesuai kebutuhan indikasi R/ Analgetik dapat mengurangi dan memblok lintasan nyeri dan spasme otot

7) DX. II. Gangguan pola tidur berhubungan dengan Nyeri Tujuan : Gangguan pola tidur klien terpenuhi dengan kriteria hasil : Klien tidur 8 jam perhari Klien tidak sering terbangun saat tidur

Intervensi : 1) Kaji factor pencetus timbulnya istirahat tidur terutama pada malam hari R/ dengan mengetahui factor pencetus sedapat mungkin dapat menghindarinya 2) Batasi aktivitas klien R/ dengan menbatasi aktivitas klien akan menberi kesempatan untuk lebih banyak beristirahat 3) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat pengantar tidur R/ untuk membantu terpenuhi istirahat tidur klien

8) DX. III. Anxietas berhubungan dengan krisis situasi

Tujuan : tanpak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai dapat ditangani dengan kriteria :

Mengakui dan mendiskusikan rasa takutnya menunjukkan rentang perasaan yang tepat Intervensi : 1) Diskusikan tindakan keamanan R/ menenangkan dan menurunkan ansietas karena ketidaktahuan dan takut menjadi kesepian ( tidak terawat ). 2) Dorong ekspresi ketakutan / Masalah R/ mendefinisikan masalah dan pengaruh pilihan intervensi 3) Akui kenyataan atau normalitas perasaan , termasuk marah R/ menberikan dukungan emosi yang dapat menbantu pasien melalui penilaian awal juga selama pemulihan

DX. IV. Kurang pengetahuan tentang penyakit, prognosis, dan kebutuhan perawatan) berhubungan dengan kurang

informasi, salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi, atau keterbatasan kognitif. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pengetahuan klien dan keluarga dapat bertambah dengan kriteria : Klien dan keluarga tidak bertanya lagi tentang penyakitnya Partisipasi aktif dalam aturan pengobatan Klien tampak tenang dan rileks Ekspresi wajah tampak tenang Intervensi : 1) injau ulang dengan klien/orang terdekat tentang pemahaman diagnosis, alternative pengobatan, dan sifat harapan. R/ : Memvalidasi tingkat pemahaman saat ini, mengidentifikasi kebutuhan belajar, dan memberikan dasar pengetahuan di mana klien membuat keputusan berdasarkan informasi.

2) Berikan informasi yang jelas dan akurat. Jawab pertanyaan secara khusus, tetapi tidak memaksakan detail-detail yang tidak penting. R/ : Membantu penilaian diagnosis kanker, memberikan informasi yang diperlukan. Kecepatan dan metode pemberian informasi perlu diubah agar mengurangi ansietas klien dan meningkatkan kemampuan untuk mengasimilasi informasi. 3) Minta umpan balik verbal klien, dan perbaiki kesalahan konsep tentang tipe tumor yang dialami klien dan pengobatan. R/: Kesalahan konsep tentang kanker lebih mengganggu daripada kenyataan dan mempengaruhi penguatan/penurunan penyembuhan. 4) Tinjau ulang aturan pengobatan dan penggunaan obat R/: Meningkatkan kemampuan untuk mengatur perawatan diri dan menghindari risiko komplikasi, reaksi/interaksi obat. 5) Anjurkan meningkatkan masukan cairan dan serat dalam diet serta latihan teratur. R/ : Memperbaiki konsistensi feses dan merangsang peristaltik.

DX. V. Resiko tinggi factor risiko : pertahanan sekunder tidak adekuat, malnutrisi, proses penyakit kronis, atau prosedur invasif. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan resiko infeksi tidak terjadi dengan kriteria : Tidak terdapat adanya tanda-tanda peradangan Intervensi : 1) Tingkatkan prosedur mencuci tangan yang baik dengan staff dan pengunjung sebelum dan setelah bersentuhan dengan klien. Batasi pengunjung yang mengalam i infeksi. R/ : Lindungi klien dari sumber-sumber infeksi, seperti pengunjung dibatasi

2) Tekanan hygene personal kepada klien R/ : Mengurangi risiko infeksi dan/atau pertumbuhan sekunder. 3) Observasi tanda tanda vital R / : sebagai bahan pertimbangan dan memudahkan dalam melakukan intervensi selanjutnya 4) Ubah posisi dengan sering, pertahankan kl;ien kering dan bebas kerutan. R/ : Menurunkan tekanan dan iritasi pada jaringan dan mencegah kerusakan kulit. 5) Tingkatkan istirahat yang cukup dengan periode latihan. R/ : Membatasi keletihan, mendorong gerakan yang cukup untuk mencegah komplikasi stasis, misalnya : pneumonia, dekubitus, dan pembentukan thrombus.

6) Kolaborasi dalam pemberian obat antibiotic sesuai indikasi. R/ : Mungkin digunakan untuk mengidentifikasi infeksi atau diberikan secara profilaktik

4. EVALUASI Pasien mampu mengontrol nyeri a. Melakukan teknik manajemen nyeri b. Mematuhi dalam pemakaian obat yang diresepkan c. Tidak mengalami nyeri atau mengalami pengurangan nyeri saat istirahat, selama menjalankan aktifitas hidup sehari-hari Memperlihatkan pola penyelesaian masalah yang efektif. a. Mengemukakan perasaanya dengan kata-kata b. Mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki pasien c. Keluarga mampu membuat keputusan tentang pengobatan pasien

Memperlihatkan konsep diri yang positif a. Memperlihatkan kepercayaan diri pada kemampuan yang dimiliki pasien b. Memperlihatkan penerimaan perubahan citra diri Pasien mampu memperlihatkan kemampuan pemahaman tentang penyakitnya Memperlihatkan tidak terdapat adanya tanda-tanda infeksi yang dialami oleh klien

B. PENYIMPANGAN KDM

Faktor pencetus ( Radiasi sinar radio aktif dosis tinggi , keturunan , pajanan radiasi )

Pertumbuhan abnormal osteosit dan kondrosit

Drafisis tulang

Osteokandroma

Tindakan pembedahan Tindakan pembedahan Terputusnya kontinitas jaringan Terdapat tempat masuknya Pelepasan mediator kimia ( k + , bradikinin , serotonin , prostaglandin ) Histamine
Risiko infeksi

mikroorganisme

Merangsang nosiseptor Perubahan status kesehatan Thalamus Hospitalisasi Korteks cerebri Kurang terpajang informasi Nyeri dipresepsikan Kekurangan informasi
Nyeri

stessor meningkat

Kurang pengetahuan

Mekanisme koping tidak Efektif

Meransang saraf simpatis


Ansietas

Mengaktifkan RAS / SAR ( system aktifitas resukuler )

REM menurun

Gangguan pola tidur

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY E DENGAN POST OP OSTEO CANDROMA DI RUANG PERAWATAN BEDAH RSUD HAJI MAKASSAR

PENGKAJIAN KMB

I.

DATA DEMOGRAFI A. Biodata 1. Inisial pasien 2. No. medical record 3. Usia / tanggal lahir 4. Jenis kelamin 5. Alamat ( lengkap dengan no.telp ) 6. Suku / bangsa 7. Status pernikahan 8. Agama / keyakinan 9. Pekerjaan / sumber penghasilan B. Penanggung jawab 1. Inisial 2. Usia 3. Jenis kelamin 4. Pekerjaan / sumber penghasilan 5. Hubungan dengan klien

: : : : : : : : :

NY. E 1395664 18 Tahun Perempuan Jl. veteran selatan Makassar/Indonesia belum menikah Islam wiraswasta Ny. A 45 Tahun Perempuan Ibu rumah tangga Ibu klien

: : : : :

II.

STATUS KESEHATAN SAAT INI A. Alasan kunjungan

B. Keluhan utama : C. Riwayat keluhan utama : 1. Waktu timbulnya penyakit : klien mengatakan sudah 2 tahun yang lalu ada benjolan pada paha kanan bagian dalam 2. Bagaimana awal munculnya : klien mengatakan awal munculnya berangsur-angsur 3. Keadaan penyakit, apakah sudah membaik, parah atau tetap sama dengan sebelumnya : keadaan penyakit klien sudah mulai membaik 4. Usaha yang dilakukan untuk mengurangi keluhan : klien mengatakan untuk mengurangi keluhan klien mengkonsumsi obat asam mefanamat dan amoxilin 5. Kondisi saat dikaji : P : nyeri pada luka bekas operasi Q : sedang R : pada daerah femur bagian kiri S : 4-6

Klien mengeluh Nyeri pada paha kanan bagian dalam,dan terdapat benjolan sehingga membutuhkan perawatan medis Nyeri pada luka post op

D. E. F. G. H.

Diagnosa medis Tanggal masuk RS Tanggal pengkajian Tanggal rencana operasi Tanggal operasi

: : : : :

Post Op Osteo Chondroma 20 September 2012 24 September 2012 (post-op hari ke- 1) 24September 2012 24 September 2012

III.

RIWAYAT KESEHATAN A. Riwayat kesehatan lalu 1. Penyakit yang pernah dialami : Typoid 2. Tidak ada alergi terhadap makanan, obat-obatan, dan minuman 3. Imunisasi : Tidak lengkap 4. Klien memiliki kebiasaan mengkonsumsi teh 5. Klien tidak pernah mengalami kecelakaan 6. Prosedur operasi dan perawatan rumah sakit yang pernah dialami :klien mengatakan pernah di opname di rumah sakit Haji 3 bulan yang lalu dengan Demam Thipoid 7. Pengobatan dini (konsumsi obat-obatan yang dijual bebas tanpa resep dokter) :klien mengatakan perna mengkonsumsi Obat Antalgin 8. Pola nutrisi SEBELUM SAKIT SAAT SAKIT Selera makan Baik Baik Menu makanan Nasi putih, sayur, Nasi putih, sayur, ikan,Tempe,Tahu ikan,Tempe,Tahu Makanan pantangan Tidak ada Tidak ada Frekuensi makan 3 kali sehari 3 kali sehari Cara makan Makan mandiri Disuap Tinggi badan 160 cm 160 cm Berat badan 45 kg 45 kg Indeks Massa Tubuh 17,5 17,5 (IMT) Mual/muntah Tidak ada Tidak ada 9. Pola cairan SEBELUM SAKIT Jenis minuman Teh dan Air putih Frekuensi minum 7 - 8 gelas perhari Pemenuhan Cukup kebutuhan cairan dalam 24 jam Cara minum Minum mandiri 10. Pola eliminasi SEBELUM SAKIT a. BAB 1) Kelancaran 2) Tempat pembuangan 3) Frekuensi 4) Konsistensi b. BAK 1) Kelancaran 2) Tempat pembuangan 3) Frekuensi 4) Jumlah urine Lancar Toilet 1-2 kali/hari Padat pasta Lancar Toilet 3-4 kali/hari 2500 cc SAAT SAKIT Lancar Pispot 1 kali/hari Padat pasta Lancar Di tempat tidur menggunakan pispot 3-4 kali perhari 2500 cc SAAT SAKIT Air mineral 7-8 gelas/hari Cukup

Disuapi

5) Warna 6) Konsistensi 7) Bau 11. Pola tidur dan istirahat

Kuning jernih Encer Amoniak

Kuning jernih Encer Amoniak

SEBELUM SAKIT SAAT SAKIT Waktu tidur 22.00 05.00 pada 22.00 - 06.00 pada malam malam hari hari Lama tidur 7 jam/hari 8 jam/hari Kebiasaan pengantar Sikat gigi, cerita Tidak ada tidur Gangguan tidur Tidak ada Tidak ada 12. Pola aktivitas/olahraga dan latihan SEBELUM SAKIT Frekuensi 1 kali/minggu Perasaan setelah Merasa segar setelah berolah raga berolahraga

SAAT SAKIT Tidak pernah berolah raga Tidak dapat dinilai sebab pasien tidak melakukan olahraga

13. Pola pekerjaan Jenis Kemampuan untuk melakukan pekerjaan SEBELUM SAKIT Wiraswasta Kurang SAAT SAKIT Pasien hanya berbaring di tempat tidur Tidak dapat dinilai karna pasien tidak melakukan pekerjaan

IV.

RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA A. Genogram : Buatlah genogram dimana pasien berada pada generasi ketiga yang dapat menggambarkan hubungan pasien dan keluarga. Keterangan: = laki-laki = Meninggal = Serumah =Pasien ? = Tidak diketahui pasien = Perempuan = Cerai
45

= Menikah
47

= Umur

= Kembar

= Hamil

B. Identifikasi berbagai penyakit keturunan yang umumnya menyerang : C. Anggota keluarga yang terkena alergi, asma, TBC, hipertensi, penyakit jantung, stroke, anemia, hemopilia, arthritis, migrain, DM, kanker dan gangguan emosional : D. Kesimpulan: terdapat/tidak terdapat penyakit yang terkait dengan kromosom (dapat diturunkan kepada generasi selanjutnya). V. RIWAYAT LINGKUNGAN A. Lingkungan sekitar pasien terpapar dengan polusi dari kendaraan bermotor/mobil B. Lingkungan rumah klien berbeda dengan kondisi Rumah sakit

VI.

ASPEK PSIKOSOSIAL A. Pola pikir dan persepsi Pasien tidak menggunakan alat bantu penglihatan, tidak menggunakan alat bantu pendengaran. Terdapat penurunan sensitifitas terhadap Nyeri B. Persepsi sendiri Pasien ingin cepat sembuh dari penyakitnya. C. Konsep diri 1. Citra tubuh : Klien memandang tubuhnya positif 2. Identitas : Pasien menerima jenis kelaminnya sebagai perempuan 3. Peran: klien berperan sebagai pekerja setelah ayah klien meninggal 2 tahun yang lalu.dan klien bercita-cita untuk dapat melanjutkan kuliah dan dapat membantu ibu dan adik-adiknya. 4. Klien dapat mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang ada pada dirinya 5. Harga diri : klien mempunyai harga diri yang positif D. Status emosi 1. Klien dapat mengekpresikan perasaanya. 2. Suasana hati klien yang utama/dominan adalah irritable. Rentang perhatian tidak menyempit, pasien focus pada kondisinya. 3. Perilaku verbal klien sesuai dengan perilaku non verbal 4. klien slalu bercerita/curhat kepada ibunya bila suasana hatinya sedang gembira dan sedih 5. Tanggapan klien tentang biaya RS :klien dapat menerima tentang biaya RS C. Hubungan/komunikasi/pola interaksi 1. Tempat tinggal Pasien tinggal bersama keluarga 2. Bicara Pasien berbicara jelas, relevan, mampu mengekspresikan pikiran dan perasaannya serta mampu mengerti orang lain. Bahasa utama : Bahasa Indonesia Bahasa daerah : Bahasa Makassar 3. Kehidupan keluarga Adat istiadat yang dianut adalah Adat Makassar Pembuat keputusan dalam keluarga adalah IBU klien. Pola komunikasi dalam keluarga baik. Pola keuangan cukup. 4. Kesulitan dalam hubungan keluarga Hubungan pasien dengan keluarga baik, tidak ada kesulitan dalam hubungan dengan Ibu dan saudara. 5. Pasien senang dengan kehidupan sosialnya. 6. Klien berespon dengan baik kepada keluarga 7. Klien berespon sesuai dengan tahapan perkembangannya sebagai Remaja terhadap situasi yang dialaminya. 8. Klien meminta bantuan kepada keluarga apabila mempunyai masalah 9. Yang lebih berpengaruh pada klien adalah keluarga 10. Klien dapat mengidentifikasi keterlibatannya dalam interaksinya dengan orang lain. D. Kebiasaan seksual 1. Klien mengetahui tentang adanya perubahan suara, penonjolan jakun, dan mimpi, dsb. 2. Perubahan suara dan penonjolan jakun serta mimpi telah dialami sejak berusia 14 tahun 3. Klien memandang dirinya sebagai perempuan normal 4. Klien mengidolakan Group Band WALI 5. Klien menampilkan perilaku yang baik sebagai perempuan

6. Pertahanan koping/mekanisme pertahanan diri 1. Dalam mengambil keputusan pasien dibantu oleh Ibu dan saudara 2. Pasien membanggakan pekerjaannya. 3. Klien menangani stress dengan berusaha mencari solusi. 4. Hasil dari penanganan stress yang biasa digunakan pasien stress teratasi 5. Apa upaya klien untuk mengatasi masalah yang dihadapi sekarang :klien selalu mengkonsumsi Obat yang di berikan tim medis sesuai dosis dan aturan yang di anjurkan dan klien selalu berdo,a kepada Tuhan semoga sakitnya cepat sembuh E. Tingkat perkembangan 1. Usia : 18 tahun 2. Karakteristik : Remaja VII. RIWAYAT SPIRITUAL/ SYSTEM NILAI DAN KEPERCAYAAN A. Tuhan adalah sumber kekuatan bagi pasien B. Tuhan, agama, dan kepercayaan penting bagi pasien. C. Sebelum dirawat pasien rutin melaksanakan shalat 5 waktu/beribadah/menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran agama yang dianut. D. Ada kegiatan agama/kepercayaan yang ingin dilaksanakan di rumah sakit. E. Menurut agama yang dianut klien, hubungan antara Tuhan dan manusia bisa dekat apabila manusia selalu menyembah,berdo,a dan bersyukur kepada ALLAH SWT F. Dalam keadaan sakit klien mengalami hambatan dalam melaksanakan ibadahnya G. Tuhan dan keluarga yang diharapkan klien yang dapat menolongnya saat merasa takut H. klien selalu menyuruh keluarga untuk membacakan ayat-ayat suci Alqur,an I. sumber kekuatan klien sekarang adalah Tuhan J. klien di bantu dalam melakukan Ibadah K. Selama klien dirawat klien tidak memerlukan ahli agama dan pembibing rohani PEMERIKSAAN FISIK A. Keadaan umum klien 1. Kesadaran : Composmentis 2. Keadaan umum : Lemah 3. Tidak ada Tanda-tanda dari distress 4. Penampilan dihubungkan dengan usia Remaja 5. Ekspresi wajah, bicara, mood baik 6. Berpakaian dan kebersihan umum baik 7. Gaya berjalan : Tidak di lakukan pengkajian karna klien tidak dapat berjalan B. Tanda-tanda vital 1. Suhu 2. Nadi 3. Pernafasan 4. Tekanan darah

VIII.

: : : :

36 c 80 x/i 18 x/i 110/80 mmHg

C. Berat badan (BB) : 45 kg D. Tinggi badan (TB) : 160 cm E. Indeks massa tubuh (IMT) 1,60 x1,60 =2,56. 45 : 2,56 = 17,5 F. Pemeriksaan fisik 1. Pemeriksaan kepala a. Inspeksi 1) Rambut berwarna hitam

2) Rambut nampak bersih. 3) Rambut tidak mudah tercabut b. Palpasi 1) Tidak terdapat benjolan 2) Tidak terdapat tanda bekas luka 3) Tidak terdapat pembengkakan 4) Tidak terdapat nyeri tekan

2. Pemeriksaan mata a. Inspeksi 1. Posisi mata simetris kanan dan kiri. 2. Warna kelopak mata normal, sama dengan warna sekitarnya 3. Tidak nampak pembengkakan pada kelopak mata. 4. Konjunctiva berwarna merah (normal, tidak anemis) 5. Sklera berwarna putih (normal, tidak ikterik) 6. Kornea jernih, teksturnya halus 7. Refleks kornea baik. 8. Ukuran pupil isokhor kanan dan kiri . Refleks cahaya baik. 9. Akomodasi mata baik 10. Pergerakan bola mata ke delapan arah baik. 11. Lapang pandang mata kanan baik. Lapang pandang mata kiri baik. b. Pasien dapat membaca naskah dari jarak 10 cm (normal). Tidak menggunakan kartu Snellen. c. Pasien dapat membedakan warna dengan baik. d. Palpasi Konsistensi bola mata lunak (normal), tidak ada nyeri tekan Kesimpulan: Fungsi penglihatan baik. 3.Pemeriksaan telinga. Inspeksi Aurikula (daun telinga) atas pasien berada sejajar dengan kantus lateral mata, simetris. Warna aurikula coklat (sama dengan warna sekitar). Hygiene baik. Lesi tidak ada. Kanalis auditorius (liang telinga) bersih, tidak terdapat penumpukan serumen. tidak terdapat radang dan perdarahan. Palpasi Tidak terdapat massa dan nyeri tekan. Kesimpulan: Fungsi pendengaran baik 4.Pemeriksaan hidung Inspeksi Tulang hidung nampak lurus.

Kulit hidung berwarna putih sama dengan warna sekitar. tidak ada

pembengkakan Lubang hidung simetris. tidak terdapat rabas (pengeluaran cairan dari

hidung). Septum hidung berada di tengah. tidak terjadi hipersekresi. tidak terdapat pembengkakan pada hidung bagian dalam. Patensi hidung kanan dan kiri baik

Palpasi tidak terdapat massa tekan dan nyeri tekan. tidak terdapat nyeri tekan pada sinus.

Kesimpulan: fungsi penciuman baik. 5.Pemeriksaan mulut dan faring Inspeksi Klien tidak mengalami bibir sumbing Bibir berwarna merah Bibir pasien simetris kanan dan kiri. Bibir pasien nampak lembab tidak nampak adanya pembengkakan. tidak nampak lesi (luka), Tidak nampak ulkus (luka yang dalam) Gigi berjumlah 32 buah Posisi gigi beraturan Jarak gigi rapat satu sama lain. Warna gigi putih Gigi nampak bersih.tidak terdapat karang gigi. tidak nampak karies (gigi berlubang) tidak nampak lesi (luka) pada gusi. tidak nampak pembengkakan/tumor pada gusi. tidak terdapat halitosis (bau mulut). Mukosa mulut berwarna merah.Hidrasi (kelembaban) mulut baik tidak terdapat lesi pada mukosa mulut. tidak nampak kelainan pada mulut. tidak terdapat lesi pada lidah. Berwarna merah.tidak mengalami

radang. tidak mengalami peradangan.

Palpasi tidak terdapat pembengkakan/tumor pada pipi. tidak terdapat nyeri tekan pada pipi.

tidak terdapat massa tekan dan nyeri tekan pada dasar mulut. tidak terdapat massa tekan dan nyeri tekan pada lidah.

Kesimpulan: fungsi pengecapan baik. 6.Pemeriksaan leher Inspeksi Leher pasien pendek dan ramping Warna kulit leher sawo matang tidak nampak pembengkakan. tidak nampak jaringan parut. tidak nampak massa/benjolan. tidak nampak kelenjar tiroid ketika pasien diinstruksikan menelan. tidak nampak pergerakan takik suprasternal ketika pasien inspirasi.

Palpasi tidak terdapat pembesaran kelenjar limfe. tidak teraba pembesaran kelenjar tiroid. Trakea berada di tengah-tengah leher.

Mobilitas leher Pasien dapat melakukan fleksi dengan sudut 45 secara aktif Pasien dapat melakukan dorsofleksi/hiperekstensi dengan sudut10

secara aktif Pasien dapat melakukan rotasi ke kanan dengan sudut180 secara aktif Pasien dapat melakukan rotasi ke kiri dengan sudut 180 secara aktif Pasien dapat melakukan lateral fleksi ke kiri dengan sudut 40-50

secara aktif Pasien dapat melakukan lateral fleksi ke kanan dengan sudut 40-50 secara aktif 7.Pemeriksaan dada dan paru Inspeksi Sternum tidak menonjol. Klavikula dan costa nampak simetris kanan dan kiri. Vertebra tidak nampak mengalami lordosis/kifosis/skoliosis. Skapula nampak simetris kanan dan kiri. Diameter dada antero-posterior : lateral = 1:2 tidak terdapat retraksi (tarikan/pergerakan) otot-otot interkostalis (otot di sela-sela costa) selama bernapas tidak terdapat jaringan parut pada permukaan kulit dada. tidak terdapat kelainan pada permukaan kulit dada.

Palpasi

Gerakan dada simetris kanan dan kiri. tidak terdapat massa tekan dan nyeri tekan. Taktil fremitus sama kanan dan kiri.

Perkusi

Perkusi sama kanan dan kiri serta atas dan bawah.tidak terdapat nyeri ketuk.

Auskultasi

Tidak terdengar bunyi napas tambahan (normalnya hanya terdengar bunyi tarikan dan hembusan napas tanpa disertai bunyi tambahan).

Kesimpulan: fungsi pernapasan baik 8.Pemeriksaan jantung Inspeksi

tidak nampak pulsasi jantung.

Palpasi tidak teraba titik denyut maksimal (Point of Maximal Impuls/PMI). tidak teraba massa tekan dan nyeri tekan.

Perkusi Batas jantung kiri berada+3 cm dari sternum. Batas jantung kanan berada +3 cm dari sternum. Batas atas jantung berada pada costa/ICS Batas bawah jantung berada pada costa/ICS

Auskultasi Hitung frekuensi denyut jantung selama 1 menit, yaitu setelah kedua bunyi jantung terdengar jelas seperti lub dub, hitung setiap kombinasi S1 dan S2 sebagai satu denyut jantung. tidak terdapat bunyi jantung S3 dan S4 (bunyi jantung abnormal).

Kesimpulan: fungsi jantung baik 9.Pemeriksaan payudara dan ketiak tidak lakukan pengkajian

10.Pemeriksaan abdomen Inspeksi Permukaan abdomen nampak cembung Kulit perut berwarna sama dengan sekitarnya. Abdomen simetris kanan dan kiri. Tidak nampak pertumbuhan rambut pada linea mediana tubuh Tidak nampak retraksi (kulit nampak tertarik ke dalam) pada permukaan abdomen. Tidak nampak penonjolan pada permukaan abdomen.

tidak Nampak jaringan parut (bekas luka operasi) pada permukabdomen. Tidak nampak stretch mark (regangan kulit akibat abdomen yang membesar) pada permukaan abdomen. Terdapat inflamasi pada permukaan abdomen Umbilikus tidak menonjol. Pergerakan abdomen seirama dengan gerakan pernapasan.

Auskultasi Bunyi peristaltic ( + ) Durasi bunyi peristaltik terdengar.

Perkusi Tidak terdapat perkusi pekak di atas kandung kemih. Tidak terdapat nyeri ketuk pada abdomen

Palpasi Tidak teraba hepar. Batas atas hepar tidak teraba. Batas bawah hepar tidak teraba. Batas kiri hepar tidak teraba. Batas kanan hepar tidak teraba. Tidak teraba lien. Batas atas lien tidak teraba. Batas bawah lien tidak teraba. Batas kiriklien tidak teraba. Batas kanan lien tidak teraba. Tidak teraba ren kanan dan kiri. Batas atas ren kanan tidak teraba. Batas atas ren kiri tidak teraba. Batas bawah ren kanan tidak teraba. Batas bawah ren kiri tidak teraba. Batas kiri ren kiri tidak teraba. Batas kiri ren kanan tidak teraba. Batas kanan ren kiri tidak teraba. Batas kanan ren kanan tidak teraba. Tidak terdapat massa/benjolan. Tidak Terdapat nyeri tekan. Tidak terdapat nyeri lepas. Tidak terdapat penegangan abnormal. Tidak teraba distensi kandung kemih

Tidak terdapat asites.

Kesimpulan: fungsi pencernaan baik 11.Pemeriksaan genitalia Tidak Di lakukan pengkajian karna klien Tidak setuju

12.Pemeriksaan rektum dan anus Tidak Di lakukan pengkajian karna pasien tidak setuju

13. Status neurologis. GCS: 15 (E=4, M=6, V=5)= composmentis. 14. Pemeriksaan ekstremitas Inspeksi Terpasang IVFD pada ekstermitas atas (sinistra) Mobilisasi ekstremitas bawah (sinistra) tidak baik tidak terdapat atrophy. Warna kulit sama dengan warna sekitarnya. tidak terdapat pigmentasi kulit (area kulit yang lebih gelap dari

sekitarnya). terdapat /traksi/balutan pada femur Warna kulit di sekitarnya sama rata Tidak terdapat lesi di sekitarnya Tidak terdapat edema di sekitarnya Kuku: Warna kuku sama dengan kuku yang lain Warna dasar kuku putih Tekstur kuku kasar Kuku tipis Sudut antara kuku dan bantalan kuku 180 0/ . tidak terjadi clubbing finger. Telapak tangan berwarna kemerah-merahan Tidak terdapat luka dekubitus.

Palpasi Kulit lembab Akral teraba hangat, sama dengan akral pada bagian tubuh yang

simetris. Tekstur kulit kasar Turgor kulit baik CRT = 3 detik Nadi perifer teraba kuat dengan frekuensi teratur

Tidak terdapat pitting edema Tidak terdapat nyeri tekan. Tidak Terdapat baal (mati rasa) pada ekstermitas bawah (sinistra0

Kesimpulan: fungsi perabaan (taktil) baik. Fungsi pergerakan kurang baik.

15. Pemeriksaan penunjang a. CT Scan b. MRI c. Biopsi d. Laboratorium darah (tanggal pemeriksaan) : 20 September 2012 LABORATORIUM WBC HGB PLT HASIL 5,8 14,0 160 NORMAL 4,8-10,8 14,0-18,0 150-450 SATUAN 10 /mm gr/dl 10 /mm

16. Terapi medis 1. injeksi a. IVFD RL 20 tpm. b. Ranitidine 1 amp/8 jam/IV. c. Ketorolac 1 amp/8 jam/IV. d. cefotaxime 1 amp/12 jam/IV 2. Obat oral a. Amoxilin 3x1 b. Asam Mefanamat 3x1 c. Diet bebas d. Minum 2 liter/hari 17. Kesan perawat terhadap pasien Pasien kooperatif dan mampu bekerja sama dengan perawat dalam pengkajian, perawatan dan pengobatan.

KLASIFIKASI DATA

DATA SUBJEKTIF -Klien mengatakan nyeri pada daerah Bekas operasi - Klien mengatakan nyeri meningkat saat beraktivitas - Klien mengatakan susah tidur - Klien mengatakan cemas dan takut dengan penyakitnya - klien mengatakan kapan penyakitnya sembuh

DATA OBJEKTIF -Ekspresi wajah klien tampak meringis -Klien tampak nyeri

-klien serin terbangun dari tidurnya - Ekspresi wajah klien Nampak cemas dan takut - Klien Nampak selalu bertanya- tanya tengtang penyakitnya TTV: TD : 110/70 mmhg N : 74 x/menit P : 20x/menit S : 36 C

ANALISA DATA

MASALAH NO 1 DS: Klien mengatakan nyeri pada daerah bekas operasi DATA PENYEBAB KEPERAWATAN Tindakan pembedahan Terputusnya kontunitas jaringan Pelepasan mediator kimia (k+,bradikinin,serotonin,prostaglan din, histamin ) Meransang nosiseptor DO: - Ekspresi wajah klien tampak meringis Thalamus Cortex cerebri Nyeri di persepsikan Anoreksia, mual
Nyeri

Nyeri

- Klien mengatakan nyeri mening-kat saat beraktivitas.

. 2. DS : Meransang saraf simpatis Klien mengatakan susah tidur. DO : klien serin terbangun dari tidurnya Mengaktifkan RAS / SAR REM menurun Gangguan pola tidur

Risiko pola tidur Gangguaninfeksi

3.

DS : - Klien mengatakan cemas dan takut dengan penyakitnya DO : - Ekspresi wajah klien Nampak cemas dan takut

Stressor meningkat

Ansietas

Mekanisme koping tidak efektif

Ansietas

4. DS : klien mengatakan kapan penyakitnya sembuh DO : Klien Nampak selalu bertanya- tanya tengtang penyakitnya

kurang pengetahuan Perubahan status kesehatan

Hospitalisasi

Kurang terpajan informasi

Kurang pengetahuan

INTERVENSI KEPERAWATAN

DIAGNOSA NO KEPERAWATAN TUJUAN 1. Nyeri berhubungan dengan Setelah : spasme otot DS : - Klien mengatakan nyeri pada daerah bekas operasi - Klien mengatakan nyeri meningkat beraktivitas. saat dilakukan tindakan keperawatan

PERENCANAAN

INTERVENSI

RASIONAL

1.Kaji status nyeri 1. memberikan data dasar ( lokasi,frekuensi, durasi,dan untuk menentukan dan mengevaluasi yang diberikan. intervensi

diharapkan tidak intensitas nyeri ) terjadi nyeri 2. Ajarkan teknik Manajemen Stress seperti relaksasi teknik napas 2. meningkatkan relaksasi

yang dapat menurunkan rasa nyeri klien

DO : dalam, visualisasi, - Ekspresi wajah nampak meringis dan bimbingan

imajinasi. 3.Ciptakan lingkungan nyaman, yang dengan 3. Memberikan ketenangan kepada dapat klien sehingga

meningkatkan

relaksasi klien.

membatasi jumlah pengunjung. 4.Analgetik 4.Kolaborasi dalam pemberian analgesik dapat mengurangi dan memblok

obat lintasan nyeri dan spasme sesuai otot

kebutuhan indikasi

DIAGNOSA NO KEPERAWATAN TUJUAN

PERENCANAAN

INTERVENSI

RASIONAL

- .

1.

DIAGNOSA NO KEPERAWATAN TUJUAN

PERENCANAAN

INTERVENSI

RASIONAL

IMPLEMENTASI/EVALUASI

NO. TGL DX 25-09-2012 1. 1. Mengkaji tingkat nyeri, intensitas dan lokasi Hasil : Tingkat nyeri ringan, intensitas 5 , lokasi/penyebaran daerah suprapubik, sifat keluhan hilang timbul dan menusuk. O: Ekspresi wajah rileks 2. Menganjurkan penggunaan tekhnik relaksasi (menarik napas panjang/dalam saat nyeri dirasakan) dan tekhnik distraksi (pengalihan perhatian dengan pijatan terapeutik atau mengalihkan perhatian pada objek lain seperti nonton TV, membaca buku/koran. 2. Dorong penggunaan tehnik relaksasi dan distraksi saat nyeri P: Intervensi dipertahankan : A: Masalah nyeri mengatasi nyeri yang dirasakan. S: Klien mengatakan dapat mengontrol/ JAM IMPLEMENTASI EVALUASI

sebagian teratasi.

NO. TGL DX Hasil : Klien bersedia melakukan sesuai anjuran yang diberikan. 3. Meningkatkan pemasukan cairan sampai 3000 ml setiap hari sesuai toleransi. Hasil : Intake 500 cc (2 gelas). 4. Mengukur TTV : Hasil : T : 150/80 mmHg N : 84 x/menit P : 20 x/menit S : 36,90C 5. Penatalaksanaan pemberian obat a-nalgetik sesuai the-rapi. Hasil : ketorolak 1 Amp/12 jam 3. timbul. Ukur tanda tanda vital. 4. Penatalaksanaan pemberian obat analgetik sesuai therapi. JAM IMPLEMENTASI EVALUASI

2.

12.

Mengkaji pola makan klien.

S: - Klien mengatakan nafsu makan kurang. - Klien menghabis-kan makanan siang hanya porsi. O:- Klien menghabiskan porsi. - Klien nampak tidak berselera. - BB 65 kg. A:Masalah nutrisi

Hasil : Frekuensi makan 3 x sehari pola makan nasi, lauk, pauk dan buah. 13. Memberi makan dalam porsi

sedi-kit tapi sering. Hasil : Klien dapat menghabiskan makanan yang diberikan. 14. Menyajikan makanan dalam

keadaan hangat. Hasil : klien berselera makan mamakan yang disajikan.

sebagian terata-si. P: Intervensi

NO. TGL DX 15. Mengajurkan keluarga dilanjutkan: 2. Beri porsi Hasil : Keluarga menyetujui anjuran yang diberikan (1/2 porsi). 5.Menimbang BB tiap hari Hasil : BB 65 kg 1. Mengkaji tanda-tanda infeksi. 3. Hasil : tidak ditemukan adanya tanda-tanda infeksi. sering. 3. Sajikan makanan danlam keadaan hangat. 5.Timbang BB tiap hari S: O: - Tidak nampak makan sedikit dalam tapi JAM IMPLEMENTASI EVALUASI

membawa makanan yang disukai klien.

adanya-tanda tanda infeksi.

2. Mempertahankan sterilitas cath. A: Risiko infeksi tidak Hasil : Membersihkan ujung dan slang cath dengan kasa NaCl 0,9 P: Lanjutkan intervensi: % + bethadine. 3. Memberi HE tentang sterilitas. Hasil : Menjelaskan bahwa steril adalah keadaan dan bebas untuk 2.Pertahankan sterilitas catheter. terjadi.

mikroorganisme

mempertahankannya dibutuhkan kerjasama dengan pasien. 4. Penatalaksanaan antibiotic Hasil : Ciprofloxaxcin 500 mg 1 tab. pemberian

26-09-2012

S: Klien mengatakan

NO. TGL DX 1. Menganjurkan penggunaan tekhnik relaksasi (menarik napas panjang/dalam saat nyeri dirasakan) dan tekhnik distraksi (pengalihan dirasakan. dapat mengontrol/ mengatasi nyeri yang JAM IMPLEMENTASI EVALUASI

perhatian dengan pijatan terapeu-tik O: Ekspresi wajah rileks atau mengalihkan perhatian pada A: Masalah nyeri objek lain seperti nonton TV, sebagian teratasi. membaca buku/koran. P: Intervensi dipertahanHasil : Klien bersedia melakukan sesuai anjuran yang diberikan. 2. Mengukur TTV : Hasil : TD : 140/90 mmHg N P S : 88 x/menit : 24 x/menit : 36,5 0C kan : 1. Dorong penggunaan tehnik relaksasi dan distraksi saat nyeri timbul. 2. Ukur tanda tanda vital. 3. Penatalaksanaan pemberian obat analgetik sesuai the-rapi.

3. Penatalaksanaan pemberian obat analgetik sesuai the-rapi. Hasil : ketorolak 1 Amp/12 jam

S: - Klien mengatakan
1. Memberi makan dalam porsi sedi-

nafsu makan membaik - Klien menghabis-kan makanan siang hanya porsi. O:- Klien menghabiskan porsi.

kit tapi sering. Hasil : Klien dapat menghabiskan makanan yang diberikan.
2. Menyajikan

makanan

dalam

NO. TGL DX keadaan hangat. Hasil : klien berselera makan mamakan yang disajikan.
3. Menimbang BB tiap hari

JAM

IMPLEMENTASI

EVALUASI - Klien nampak tidak berselera. - BB 65 kg. A: Masalah teratasi P: Intervensi dipertahankan nutrisi

Hasil : BB 65 kg

S: O: Tidak 1. Mempertahankan sterilitas cath. nampak

adanya-tanda tanda infeksi.

Hasil : Membersihkan ujung dan

slang cath dengan kasa NaCl 0,9 % A: Risiko infeksi tidak + bethadine. terjadi. P: Pertahankanintervensi

27-09-2012

S: Klien mengatakan dapat mengontrol/ 1. Menganjurkan penggunaan tekhnik relaksasi (menarik napas panjang/dalam saat nyeri dirasakan) dan tekhnik distraksi (pengalihan perhatian dengan pijatan terapeutik atau mengalihkan perhatian pada objek lain seperti nonton TV, membaca buku/koran. Hasil : Klien bersedia melakukan sesuai anjuran yang diberikan. 2. Mengukur TTV : Hasil : tehnik relaksasi kan : 1. Dorong penggunaan O: Ekspresi wajah rileks A: Masalah nyeri mengatasi nyeri yang dirasakan.

sebagian teratasi. P: Intervensi dipertahan-

NO. TGL DX TD : 140/80 mmHg N P S : 80 x/menit : 20 x/menit : 36 0C dan distraksi saat nyeri timbul. 2. Ukur tanda tanda vital. 3. Penatalaksanaan 3. Penatalaksanaan pemberian obat a-nalgetik sesuai the-rapi. Hasil : ketorolak 1 Amp/12 jam pemberian obat analgetik sesuai the-rapi. JAM IMPLEMENTASI EVALUASI

BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN

Tumor

tulang adalah

istilah yang dapat digunakan

untuk

pertumbuhan tulang yang tidak normal Osteochondroma merupakan neoplasma tulang jinak yang paling sering didapat, dimana tumor ini terdapat pada usia dewasa muda dengan keluhan adanya benjolan yang keras dan tidak terasa sakit, tumbuh sangat lambat. Osteochondroma ditemukan pada bagian metafisis tulang panjang terutama pada bagian distal femur, proksimal tibia dan proksimal humerus, pelvis dan scapula. Pada foto rontgen osteochondroma terdapat 2 bentuk yaitu: bertangkai (pedunculated) dan mempunyai dasar yang lebar (Sessile). Gambaran foto CT. Scan menunjukkan adanya tulang yang

bertangkai diluar pertumbuhan daerah metafisis. Bentuk lesi yang seragam, kartilago dengan kalsifikasi. Corteks dan medulla dihubungkan oleh lesi. Bila tumor memberikan keluhan karena menekan struktur didekatnya seperti tendon, saraf, maka dilakukan eksisi. Prognosis baik. Komplikasi degenerasi ganas (menjadi Kondrosarkoma) lebih kurang 1 %.

B. SARAN 1) Sebagai perawat disarankan untuk memberikan dukungan kepada pasien untuk bertahan hidup 2) Menganjurkan pasien maupun keluarga untuk tidak putus asa terhadap kemungkinan buruk yang akan terjadi 3) Menganjurkan pasien untuk mengikuti terapi dan pengobatan yang dianjurkan.

PENYIMPANGAN KDM

Faktor pencetus ( Radiasi sinar radio aktif dosis tinggi , keturunan , pajanan radiasi )

Pertumbuhan abnormal osteosit dan kondrosit

Drafisis tulang

Osteokandroma

Tindakan pembedahan Tindakan pembedahan Terputusnya kontinitas jaringan Terdapat tempat masuknya Pelepasan mediator kimia ( k + , bradikinin , serotonin , prostaglandin ) Histamine
Risiko infeksi

mikroorganisme

Merangsang nosiseptor Perubahan status kesehatan Thalamus Hospitalisasi Korteks cerebri Kurang terpajang informasi Nyeri dipresepsikan Kekurangan informasi
Nyeri

stessor meningkat

Kurang pengetahuan

Mekanisme koping tidak Efektif

Meransang saraf simpatis


Ansietas

Mengaktifkan RAS / SAR ( system aktifitas resukuler )

REM menurun

Gangguan pola tidur

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda juall. (2001). Dokumentasi Asuhan Keperawatan Edisi 8. EGC : Jakarta Corwin, Elizabeth J. (2000). Buku Saku Patofisiologi, EGC : Jakarta Doenges, E, Marilyn. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan keperawatan pasien. Edisi 3 . EGC : Jakarta Lukman dan Nurna Ningsih. (2009). Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Salemba Medika :Palembang Meyer WH; Malawer MM. (1998). Osteosarcoma : Clinical features and Evolving Surgical and Chemotheraputic Strategies, Pediatr Clin North Am 38:317 Rasjad, Choiruddin. (2003). Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Bintang Lamimpatue.: Makasar Sjamjuhidayat & Wim de Jong. (2005). Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. EGC : Jakarta Smeltzer & Brenda G. bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Vol III. Edisi 8, EGC : Jakarta Wong, Donna. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik, EGC : Jakarta