Anda di halaman 1dari 86

MANAJEMEN LIMBAH

PENGELOLAAN LIMBAH GAS-PARTIKULAT

Presentasi PowerPoint disiapkan oleh Haryo Kuntoro Adi


Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

JENIS ZAT PENCEMAR


Jenis limbah gas-partikulat utama: Karbon monoksida (CO) Oksida Nitrogen (NOx) Oksida Sulfur (SOx) Hidrokarbon (HC) Partikulat Debu Mist Fume Smoke Smog
Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

KARAKTERISASI GAS-PARTIKULAT
Karbon monoksida (CO) Gas tidak berasa, berwarna dan berbau Terbentuk karena:
Pembakaran tak sempurna Karbon atau senyawaan Karbon

Reaksi CO2 dan C pada suhu tinggi Penguraian CO2 pada suhu tinggi

Dihasilkan :
Kegiatan pembakaran bahan bakar minyak, kayu, dll
Tranportasi dan pemukiman

Industri peleburan logam, minyak bumi, kayu, kertas,dll


Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

KARAKTERISASI GAS-PARTIKULAT
Oksida Nitrogen (NOx) NO : gas tak berwarna dan tak berbau NO2 : gas berwarna coklat kemerahan dan berbau tajam Terbentuk dari : Reaksi N2 dan O2 pada suhu tinggi (>1210 oC) Pembakaran bahan bakar mengandung N (Heavy Oil Fuel) Reaksi N2 dengan radikal hidrokarbon Dihasilkan : Tranportasi, pembangkit listrik, industri perminyakan
Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

KARAKTERISASI GAS-PARTIKULAT
Oksida Sulfur (SOx) SO2 : gas tidak berwarna dan berbau tajam SO3 : gas tak berwarna dan larut dalam air Terbentuk dari: Pembakaran senyawa yang mengandung Sulfur Dihasilkan: Pembakaran bahan bakar fosil Industri pengolahan minyak dan geotermal Pembangkit listrik tenaga uap (batu bara)

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

KARAKTERISASI GAS-PARTIKULAT
Hidrokarbon (HK) Karateristik bervariasi. Wujud padat, cair dan uap Titik didih dan leleh rendah Berasal dari Penggunanan dan produksi senyawaan hidrokarbon, pembakaran bahan bakar fosil. Aktivitas industri pengolahan minyak bumi, gas bumi, geotermal

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

KARAKTERISASI GAS-PARTIKULAT
Partikulat Padatan dan ciran yang melayang di udara Ukuran partikulat berkisar antara 0,0002 500 mikron Dapat sebagai media adsorpsi Bentuk
Debu Mist Fume Smoke Smog
Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH GAS-PARTIKULAT


Secara umum pengolahan limbah gas-partikulat dialkukan dengan dua cara: Pengenceran dan pembauran (dilute and dispersion) Pengolahan emisi limbah gas-partikulat

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH GAS-PARTIKULAT


Pengenceran dan pembauran dilakukan dengan meningkatkan kemampuan pengenceran dan permbauran limbah gas-partikulat di atmosfer Cara ini bergantung dari: jenis dan konsentrasi kondisi geografis kondisi meteorologis lingkungan. Cara yang dapat dilakukan:
Mengatur ketinggian cerobong emisi karena pada ketinggian tertentu limbah gas-partikulat yang terdispersi akan lebih efektif Memilih tempat dan waktu untuk emisi limbah
Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Relokasi lokasi industri

PENGOLAHAN LIMBAH GAS-PARTIKULAT


Pengolahan emisi limbah gas-partikulat menggunakan rekayasa teknik atau teknologi tertentu Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan teknologi dan rancangan sistem adalah: karakterisasi limbah gas-partikulat tingkat pengurangan limbah gas-partikulat yang dibutuhkan teknologi komponen alat pengendalian pencemaran kemungkinan perolehan senyawa pencemar yang bernilai ekonomi Besarnya aliran gas Waktu pembersihan
Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH PARTIKULAT


Teknik Pengolahan Emisi Partikulat Pengendapan dengan gravitasi (Settling chambers) Pengumpul mekanik (Cyclones) Pengendap Elektrostatik (Electrostatic Precipitator ) Penapisan (Fabric filters) Pengosok / sikat basah ( Wet Scrubbers)

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH PARTIKULAT


Pengendapan dengan gravitasi (Settling chambers) Menggunakan wadah besar atau ruangan agar kecepatan alir lambat Partikulat berukuran besar mudah mengendap pada bagian pengumpul debu (dust collecting hoppers) Tergantung pada kecepatan mengendap secara gravitasi Untuk menyisihkan partikel ukuran besar (sangat kasar, supercoarse) sekitar >=75 mikrometer Biasa digunakan untuk penyaringan awal (prefiltration) untuk partikulat berukuran besar

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH PARTIKULAT

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH PARTIKULAT

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH PARTIKULAT

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH PARTIKULAT


Kelebihan : Desain alat sederhana, mudah untuk dibuat konstruksinya Pemeliharaan yang mudah dan biaya pemeliharaan sangat rendah Kekurangan : Ukurannya besar, memerlukan lahan yang luas Harus dibersihkan secara manual dalam interval waktu tertentu Hanya dapat menyisihkan partikel berukuran besar (10-50mm)
Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH PARTIKULAT


Pengumpul mekanik (Cyclones) Mengunakan aliran udara yang berputar (vortex) dan prinsip gaya sentrifugal Partikulat berukuran besar akan terlempar dan mudah diendapkan Dibutuhkan banyak tabung vortex untuk menghilangkan semua partikulat (multiple cyclones).

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH PARTIKULAT

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH PARTIKULAT


Siklon digunakan untuk menyisihkan partikulat berukuran lebih besar dari 5 mikron, dengan efisiensi penyisihan partikulat antara 50 - 90%. Digunakan sebagai pengumpul awal (pre-collector), pelindung alat pengendali partikulat efisiensi tinggi (spt fabric filter, electrostatic precipitator) Tidak cocok digunakan bagi industri yang mengemisikan partikulat basah, krn dapat terkumpul di dinding siklon atau di inlet (inlet spinner vanes)

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH PARTIKULAT

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH PARTIKULAT


Kelebihan Dapat dioperasikan pada temperatur tinggi Pemeliharaan yang mudah Kekurangan Efisiensi rendah (terutama untuk partikel yang sangat kecil) Biaya operasi tinggi karena tingginya pressure drop

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH PARTIKULAT


Pengendap Elektrostatik (Electrostatic Precipitator )
Menggunakan prinsip gaya elektrostatis dari dua kutub listrik searah. Menggunakan medan listrik voltase tinggi untuk memberikan muatan listrik terhadap partikulat. Partikulat bermuatan bergerak melewati permukaan pelat pengumpul yang bermuatan berlawanan.

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH PARTIKULAT


Jenis-Jenis Pengendap Elektrostatik negatively charged dry precipitators Jenis ini paling sering digunakan di PLTU batubara, pabrik semen, atau kraft pulp mills negatively charged wetted-wall precipitators Jenis ini sering digunakan untuk mengumpulkan mist atau partikulat yang sedikit basah positively charged two-stage precipitators Jenis ini digunakan untuk menyisihkan mist

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH PARTIKULAT

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH PARTIKULAT

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH PARTIKULAT


Kekurangan dan Kelebihan ESP memiliki efisiensi sangat tinggi krn adanya daya tarik listrik terhadap partikulat ukuran kecil Dapat digunakan jika aliran gas tidak explosive dan tidak mengandung bahan yang mudah melekat Karakteristik partikulat sangat penting krn mempengaruhi konduktansi elektrik dalam lapisan partikulat yang terkumpul di pelat pengumpul

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH PARTIKULAT


Penapisan (Fabric filters) Menggunakan media penyaring (saringan). Partikulat tertangkap akibat: Gaya tumbukkan inertial Tertahan atau tersaring Difusi Brown Media penyaring yang biasa digunakan adalah wol, kapas, serat sinteteis atau gelas pada suatu tabung atau kantung. Paling umum digunakan karena lebih efisien, mudah dan murah Dapat menyaring hingga 99 % partikulat berukuran kecil
Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH PARTIKULAT

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH PARTIKULAT

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH PARTIKULAT

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH PARTIKULAT


Kelebihan dan Kekurangan Diaplikasikan untuk penyisihan partikulat dengan efisiensi tinggi (99% - 99.5%) Dapat menyisihkan partikulat segala jenis ukuran Kinerja fabric filters biasanya tidak tergantung komposisi kimia partikulat, tetapi fabric filter tidak digunakan untuk gas yang mengandung senyawa korosif yang bisa merusak filter bag Tidak digunakan untuk partikulat yang basah atau lengket karena akan terakumulasi di permukaan filter dan menghambat pergerakan gas Fabric filters harus didesain dengan hati-hati jka terdapat partikulat yang mudah terbakar atau mudah meledak
Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH PARTIKULAT


Pengosok / sikat basah ( wet scrubbers) Partikulat berkecepatan rendah dengan aliran air yang bertekanan tinggi dalam bentuk butiran. Relatif sederhana dengan kemampuan penghilangan sedang (moderate). Mampu mengurangi kandungan debu dengan rentang ukuran diameter 10-20 mikron dan gas yang larut dalam air. Ukuran partikel menjadi besar dan mudah dikumpulkan.
Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH PARTIKULAT

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH PARTIKULAT

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH PARTIKULAT

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH PARTIKULAT


Kelebihan Membutuhkan ruang/tempat yang lebih kecil Dapat digunakan pada temperatur dan kelembaban yang tinggi Bahaya kebakaran dan ledakan lebih rendah Dapat mengolah limbah gas dan partikulat secara bersamaan. Kekurangan Dapat menyebabkan korosi Membutuhkan daya listrik yang tinggi
Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Membutuhkan pengelohan limbah cair

PENGOLAHAN LIMBAH PARTIKULAT

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH GAS


Teknik Pengolahan Emisi Gas Kondensasi Absorpsi Adsorpsi Insenerasi (Flares)

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH GAS


Kondensasi Merubah fase gas menjadi fase cair dengan cara kondensasi Metode: Penurunan Temperatur Menaikkan Tekanan Kombinasi Keduanya Jenis Kondensor Kondensor Kontak Langsung Kondensor Permukaan
Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH GAS

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH GAS

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH GAS


Keunggulan kondensor permukaan menghasilkan senyawa yang murni Pendingin yang digunakan di daur ulang Kelemahan Effisiensi relatif rendah

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH GAS


Absorpsi Menyerap / melarutkan gas hidrokarbon dalam cairan. Gas hidrokarbon akan larut atau tersuspensi. Biasanya digunakan dalam kolom atau menara yang tinggi. Gas yang dapat dieliminasi dengan proses absorpsi:
SO2 H2S Cl2 NH3 NOX
Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Senyawa hidrokarbon dengan C-rendah

PENGOLAHAN LIMBAH GAS


Alat pengendali proses absorpsi disebut Scrubber Transfer Massa dari fasa gas ke fasa cair yang dikendalikan oleh:
Gas Film Liquid Film

Jenis Absorber
Packed Tower Plate Tower Spray Tower Liquid Jet Scrubber

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH GAS

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH GAS

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH GAS


Kelebihan Kehilangan tekanan rendah Dapat digunakan fiberglass/plastik Efisiensi relatif tinggi Biaya investasi relatif murah Tidak membutuhkan space yang luas Mampu menyisihkan gas dan partikulat

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH GAS


Kekurangan Menimbulkan masalah pencemaran air Menghasilkan produk basah Debu yang mengendap dapat menyumbat kolom atau plate Biaya perawatan relatif tinggi

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH GAS


Adsorpsi Menyerap uap pada permukaan suatu padatan Karbon aktif paling banyak digunakan Uap dan gas hidrokarbon kemudian dikondensasikan dan dapat digunakan kembali.

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH GAS

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH GAS

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH GAS


Kelebihan Produk dapat di-recovery Sistemnya berjalan secara otomatis Mampu menyisihkan zat pencemar konsentrasi rendah (sangat rendah) Kekurangan Untuk me-recovery produk perlu proses Kerusakan adsorbent Perlu uap panas (steam) untuk regenerasi Biaya investasi cukup tinggi Perlu filter agar partikulat tidak menyumbat
Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH GAS


Insenerasi (Flares) Emisi hidrokarbon dipanaskan pada suhu tinggi. Menggunakan api atau katalis. Hasil pembakaran dalah Air dan Karbon dioksida.

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH GAS

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH GAS

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH GAS


Kelebihan Operasinya sederhana Daur ulang panas hasil pembakaran Efisiensi penghancuran senyawa organik tinggi Kekurangan Biaya operasi relatif mahal Bahaya ledakan Katalis dapat teracuni Pembakaran tidak sempurna Menghasilkan pencemaran yang lebih buruk
Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH GAS


Pengolahan limbah gas sumber bergerak

Resirkulasi gas-gas buangan

Katalis

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH GAS


Exhaust Gas Recirculation Metode untuk mereduksi NOx dengan mengurangi suhu pembakaran. Gas buang disirkulasi kembali ke ruang pembakaran untuk mengurangi suhu. Metode ini dapat pula mengurangi konsentrasi CO.

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH GAS

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH GAS


Catalytic converter Digunakan untuk mengurangi emisi gas buangan sumber bergerak two-way catalytic converter mengurangi konsentrasi CO dan Hidrokarbon three-way catalytic converter mengurangi konsentrasi NOx, CO dan Hidrokarbon

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH GAS

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

PENGOLAHAN LIMBAH GAS

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

SELESAI DAN TERIMA KASIH

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Pengendalian Emisi Oksida Nitrogen

Teknik Pengendalian Emisi NOx Selective catalytic reduction (SCR) Selective non-catalytic reduction (SNCR) Low NOx Burners Exhaust gas recirculation Catalytic converter

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Pengendalian Emisi Oksida Nitrogen

Selective catalytic reduction (SCR)


Menambahkan amonia pada gas buangan. Amonia bereaksi dengan NOx membentuk H2O and N2 Reaksi berlangsung pada 500F dan 1200F bergantung katalis yang digunakan Dapat mengurangi emisi sampai 90%. Biasa digunakan pada kegiatan industri dan pemanas air tekanan tinggi (boiler)

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Pengendalian Emisi Oksida Nitrogen

Selective Catalyst Reduction

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Pengendalian Emisi Oksida Nitrogen

Selective non-catalytic reduction (SNCR)


Menambahkan urea pada bagian atas pemanas. Reaksi berlansung lama pada suhu 1400-1600 F. Dapat mengurangi emisi sampai 70%.

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Pengendalian Emisi Oksida Nitrogen

Thermal DeNOx Process

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Pengendalian Emisi Oksida Nitrogen

Low NOx Burners


Mengatur bentuk dan proses pembentukkan api dengan plat-plat yang mengatur aliran udara. Suhu yang dihasilkan lebih rendah untuk mengurangi pembentukaan NOx termal. Tetapi konsentrasi CO meningkat.

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Pengendalian Emisi Oksida Sulfur


Pengolahan limbah gas SOx Penggunaan bahan bakar rendah sulfur Subtitusi sumber energi Desulfurisasi bahan bakar Menghilangkan Sulfur Dioksida dari gas buangan

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Pengendalian Emisi Oksida Sulfur

Teknik Pengendalian Emisi SOx Wet Scrubber Dry Scrubber Flue Gas Desulfurization (FGD)

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Pengendalian Emisi Oksida Sulfur Wet Scrubber Mengubah Sox menjadi ion bisulfit dan mereaksikannya dengan ion sitrat Gas buangan didinginkan pada suhu 50 oC dan dibersihkan dari partikulat dan sisa H2SO4. Dilewatkan dalam menara absorpsi dan kontak dengan larutan sitrat Larutan kompleks bisulfit-sitrat kontak dengan Hidrogen sulfida

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Pengendalian Emisi Oksida Sulfur Sulfur hasil reaksi diendapkan, dilelehkan dan dipisahkan dari larutan sitrat. Sulfur diubah menjadi hidrogen sulfida yang digunakan dalam proses ini. Larutan sitrat disirkulasikan kembali untuk digunakan

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Pengendalian Emisi Oksida Sulfur

Limestone scrubbing

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Pengendalian Emisi Oksida Sulfur

Magnesium Oxide Scrubbing

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Pengendalian Emisi Oksida Sulfur Dry Scrubber Menyuntikkan batu kapur atau Magnesium Oksida. Reaksi dengan SOx membentuk garam sulfat Efisiensi sampai 90%

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Pengendalian Emisi Oksida Sulfur

Dry Scrubbing

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Anda mungkin juga menyukai