Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyemenan suatu sumur merupakan salah satu faktor yang tidak kalah pentingnya dalam suatu operasi pemboran. Berhasil atau tidaknya suatu pemboran, salah satu diantaranya adalah tergantung dari berhasil atau tidaknya penyemenan sumur tersebut. Penyemenan sumur secara integral, merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam suatu operasi pemboran, baik sumur minyak maupun gas. Semen tersebut digunakan untuk melekatkan rangkaian pipa selubung dan mengisolasi zona produksi serta mengantisipasi adanya berbagai masalah pemboran. Perencanaan penyemenan meliputi : Perkiraan kondisi sumur (ukuran, tem-peratur, tekanan, dsb.) Penilaian terhadap sifat lumpur pem-boran Pembuatan suspensi semen (slurry de-sign) Teknik penempatan Pemilihan peralatan, seperti centralizers, scratchers, dan float equipment

Program perencanaan penyemenan secara tepat, merupakan hal pokok yang akan mendukung suksesnya operasi pemboran. Pada dasarnya operasi penyemenan bertujuan untuk : 1. Melekatkan pipa selubung pada dinding lubang sumur, 2. Melindungi pipa selubung dari masalah-masalah mekanis sewaktu operasi pem-boran (seperti getaran), 3. Melindungi pipa selubung dari fluida formasi yang bersifat korosi, dan 4. Memisahkan zona yang satu terhadap zona yang lain dibelakang pipa selubung.

1.2 Rumusan Masalah 1. Apa maksud primery cementing,secondary cementing ? 2. Bagaimanakah fungsi dari primery cementing ? 3. Bagaimanakah teknik dari proses penyemenan?

1.3 Tujuan 1. Agar dapat mengetahui fungsi dari prosen cementing 2. Agar dapat mengetahui teknik penyemenan

BAB II

CEMENTING

Setelah rangkaian casing diturunkan ke dalam lubang, ruang antara rangkaian casing de-ngan dinding lubang diisi dengan bubur semen. Bubur semen ini dibiarkan disitu sampai keras membatu, sehingga mengikatkan rangkaian ke dinding lubang, dan sumur menjadi kuat dan kokoh. Gambaran casing yang sudah disemen dapat dilihat pada gambar 8.1.

Gb. 1.1. Gambaran Rangkaian Casing yang Telah Disemen Penyemenan dapat dibagi dua, yaitu : Primary Cementing Secondary Cementing

Penyemenan yang dilakukan setelah pemasangan casing di dalam disebut dengan primary casing. Sedangkan penyemenan selain dari primary cementing dikelompokkan ke dalam secondary cementing

2.1 Primary Cementing Primary cementing adalah penyemenan yang langsung dilakukan setelah rangkaian casing diturunkan ke dalam lubang.

2.1.1

Fungsi Penyemenan Primary

a. Semen melekatkan casing ke formasi Bubur semen yang ditempat diannulus antara casing dan dinding lubang, setelah dibiarkan akan mengeras. Dengan demikian casing menyatu dengan formasi dan sumur menjadi kuat dan kokoh. Gambarannya seperti gambar 8.1

Gb. 8.1 casing menyatu dengan formasi b. Melindungi casing dari cairan korosif
Bila terdapat formasi yang mengandung cairan korosif, cairan ini kontak dengan casing, maka casing akan berkarat dan lama kelamaan akan bocor. Dengan ditempatkan semen diantara casing dan dinding lubang, cairan korosif akan ditahan oleh semen dan tidak kontak langsung dengan casing. Sehingga casing terhindar

dari berkarat. Gambarannya dapat dilihat pada gambar 8.2

Gb. 8.2 Semen menahan cairan korosif

c. Mencegah hubungan formasi formasi di belakang casing Bila di belakang casing terdapat dua formasi yang berbeda tekanannya, fluida dari formasi yang bertekanan tinggi akan masuk ke formasi yang bertekanan rendah. Untuk mencegah perpindahan fluida dari
formasi-formasi yang berbeda tekanan ini, annulus casing dengan formasi diisi dengan semen, sehingga semen akan mengisolasi annulus, sehingga tidak ada perpindahan fluida diantara formasi yang mempunyai perbedaan tekanan.. Gambarannya dalapat dilihat pada gambar 8.3

d. Menutupi formasi formasi yang membahayakan Formasi yang membahayakan misalkan formasi bertekanan tinggi. Selama tekanan hydrostatik lumpur lebih besar dari tekanan formasi , formasi ini tidak berbahaya.Akan tetapi apabila disaat melanjutkan pemboran terjadi mud loss, permukaan lumpur turun, tekanan hisdrostatik lumpur turun.

Gb. 8.3 Semen mencegah hubungan formasi-formasi dibelakang casing

Bila tekanan hidrostatik lumpur menjadi lebih kecil dari tekanan formasi, maka sumur akan menjadi kick, ini yang berbahaya. Terjadi dua masalah, lumpur masuk ke dalam formasi loss, dan fluida formasi yang bertekanan tinggi masuk ke dalam sumur, dan terjadi kick. Kondisi seperti ini sulit mengatasinya.Sebaiknya bila menemukan formasi bertekanan tinggi, rangkaian casing dipasang setelah menembus formasi tersebut dan disemen, kemudian baru melanjutkan pemboran. Apabila terjadi mud loss formasi yang bertekanan tinggi sudah tertutup, fluida formasi tidak dapat keluar lagi karena sudah ditahan semen dan casing. Masalah yang dihadapi hanya loss Gambarannya dapat dilihat pada gambar 8.4

Formasi-formasi yang membahayakan yang lain adalah : formasi bertekanan rendah ( loss) formasi yang mengandung gas H2S formasi yang mengandung cairan korosif formasi shale yang mudah runtuh dan menjepit pipa.

Gb. 8.4 Semen Menutup Formasi Bertekanan Tinggi.

2.1.2

Teknik Penyemenan Primer Teknik penyemenan primer dilakukan segera setelah rangkaian casing

dipasang di dalam lubang. Penyemenan ini adalah penyemenan yang utama Primary cementing adalah penyemenan yang langsung dilakukan setelah rangkaian casing diturunkan ke dalam lubang. Peralatan penyemenan yang dipasang pada rangkaian casing adalah sebagai berikut : casing shoe casing collar shoetrack centralizer scratcher cementing head

a. Casing Shoe Casing shoe adalah peralatan yang dipasang pada ujung bawah rangkaian casing. Bentuknya adalah bulat lonjong. Kegunaannya adalah untuk menuntun rangkaian casing agar tidak tersangkut disaat menurunkan ke dasar lubang.

Casing shoe yang hanya berfungsi untuk menuntun rangkaian casing agar tidak tersangkut disaat menurunkan ke dasar lubang, disebut dengan Guide Shoe. Gambaran dari beberapa guide shoe dapat dilihat pada gambar 8.6.

Gb.8.6 Guide Shoe b. Shoetrack Shoe track adalah satu sampai dua batang casing yang dipasang antara casing shoe dengan casing collar. Fungsinya adalah untuik menampung bubur semen yang terkontaminasi. Kalau bubur semen yang terkontaminasi sampai

masik ke annulus casing dengan lubang, kualitas semen akan tidak baik.
3

c. Casing Collar Casing collar adalah sambuangan pendek yang dipasang di atas shoetrack. Alat ini berfungsi manahan cementing plug setelah penyemenan. Bila casing shoe adalah float shoe, maka casing collar umumnya tidak pakai floating system. Casing collar yang pakai floating system disebut dengan float collar . Gambaran dari beberapa float collar dapat dilihat pada gambar 8.8.

d. Cantralizer Centralizer adalah peralatan yang dipasang untuk membuat rangkaian casing berada ditengah-tengah lubang , agar didapatkan ketebalan semen dibelakang casing sama. Centralizer dipasang di bagian luar casing. Gambaran dari centralizer dapat dilihat pada gambar 8.9.

e. Scratcher Scratcher adalah peralatan yang berfungsi untuk mengikis mudcake pada dinding lubang. Mud cake harus dikikis agar ikatan bubur semen dengan dinding lubang dapat bagus. Scratcher dipasang di bagian luar rangkaian casing. Scratcher yang mengikis dengan cara menaik turunkan rangkaian casing disebut dengan reciprocating scratcher. Gambaran dari centralizer dapat dilihat pada gambar 8.10. Scratcher yang mengikis dengan cara memutar rangkaian casing disebut dengan rotating scratcher. Gambaran dari centralizer dapat dilihat pada gambar 8.11.

f. Cementing Head Cementing head dipasang pada ujung atas dari rangkaian casing. Jenis cementing head untuk Perkins Cementing System umumnya adalah plug container, yang mempunyai tiga saluran, yaitu : - saluran lumpur - saluran bubur cement - saluran lumpur pendorong
3

Di dalam cementing head ditempatkan cementing plug, yaitu : - bottom plug - top plug Gambaran plug container dapat dilihat pada gambar 8.12

2.2 Secondary Cementing

Secondary cementing sering disebut juga dengan remedial cementing yaitu proses penyemenan yang dilakukan apabila pengeboran gagal mendapatkan minyak dan menutup kembali zona produksi yang diperforasi. Secondary cementing dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: Squeeze cementing, Re-cementing dan Plug-back cementing. a. Squeeze cementing Squeeze cementing dilakukan untuk : 1.Menutup formasi yang sudah tidak lagi produktif 2.Menutup zona lost circulation 3.Memperbaiki kebocoran yang terjadi di casing b. Re-cementing Re-Cementing dilakukan untuk menyempurnakan primary cementing yang gagal dan untuk memperluas perlindungan casing di atas top semen.

c. Plug-back cementing Plug-back cementing dilakukan untuk : 1. Menutup atau meninggalkan sumur 2. Menutup zona air di bawah zona minyak agar water-oil ratio berkurang pada open hole completion.

BAB III PENUTUP

3.1 Simpulan Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa cementing terbagi atas dua tahap, tahap pertama yaitu primery cementing yaitu penyemenan yang langsung dilakukan setelah rangkaian casing diturunkan ke dalam lubang setelah itu pada tahap ke dua yaitu secondary cementing yaitu proses penyemenan yang dilakukan apabila pengeboran gagal mendapatkan minyak dan menutup kembali zona produksi yang diperforasi. 3.2 Saran Saya sangat menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu saya sangat mengharap kritik dan saran yang membangun dari para pembaca, agar saya dapat memperbaiki pembuatan makalah saya di waktu yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmed, Tarek. 2001. Reservoir Engineering Handbook Second Edition.. Gulf Professional Pub