Anda di halaman 1dari 5

PEMBAHASAN

Menurut Farmakope Indonesia III (hal. 8) Elixir adalah sediaan berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau sedap, mengandung selain obat, juga seperti gula atau zat pemanis lainnya, zat warna, zat wewangi, dan zat pengawet: digunakan sebagai obat dalam. Sebagai pelarut utama digunakan etanol yang dimaksudkan untuk mempertinggi kelarutan obat. Dapat ditambahkan gliserol, sorbitol, dan propilen glikol; sebagai pengganti gula dapat digunakan sirup gula. Pada praktikum pembuatan larutan larutan ini digunakan teofilin yang memiliki

kelarutan 1:120 dalam air, ini berarti dibutuhkan pelarut campuran untuk dapat meningkatkan kelarutan bahan aktif. Bentuk sediaan yang terpilih adalah Eliksir karena kelarutan teofilin yang sangat kecil (1:120) dalam air, sehingga dipilih eliksir agar kelarutan teofilin meningkat. Disini dipilih sediaan eliksir non alcohol sebagai co-solvent, dan sebagai pelarut digunakan gliserin dan propilen glikol karena konsumen yang dituju adalah anak-anak. Selain itu, propilen glikol juga dapat berfungsi ganda yaitu sebagai pengawet, sedangkan gliserol berfungsi juga sebagai pemanis sehingga dapat menutupi rasa dari bahan obat (teofilin) yang rasanya pahit. Dalam sediaan ini mengandung teofilin 28,2 mg dalam 5 mL dengan kemasan terkecil 60 ml. Kelarutan teofilin yang rendah dalam air, maka digunakan pelarut campuran yang dapat menginduksi kelarutan teofilin dengan tetapan dielektrik tertentu yang dapat meningkatkan kelarutannya. Pelarut yang digunakan adalah gliserin dan propilen glikol. Gliserin juga dapat berfungsi sebagai pemanis dan pengawet pada konsentrasi tertentu. Propilen glikol juga dapat berfungsi sebagai pengawet. Rasa teofilin yang pahit menimbulkan ketidaknyamanan bagi pasien sehingga harus ditambahkan pemanis dan perasa dalam sediaan larutan ini. Bahan pemanis yang dipilih adalah sakarin-Na, sorbitol dan sukrosa. Pemilihan sakarin-NA karena tingkat kemanisannya mencapai 300 kali sukrosa. Sedangkan sukrosa sendiri selain sebagai pemanis juga berfungsi menutupi rasa pahit setelah penggunaan sakarin-Na, sebagai pengental untuk memudahkan penuangan. Sedangkan sorbitol digunakan untuk mencegah terjadinya caplocking karena penggunaan sukrosa.

Untuk bahan perasa dipilih Asam sitrat monohydrate karena Dapat digunakan sebagai perasa jeruk, memiliki rasa asam dan juga dapat digunakan sebagai dapar. Pemilihan perasa menentukan pewarna yang akan dipilih. Bahan Pewarna yang dipilih adalah FD&C Yellow 6 (Sunset Yellow FCF) karena relative lebih aman digunakan daripada Tartrazine FD&C Yellow 5 yang dapat meyebabkan sejumlah reaksi alergi dan intoleransi terhadap aspirin atau penderita asma dan juga rasa dari sediaan obat adalah rasa jeruk sehingga dipilih pewarna FD&C Yellow6. Pada pembuatan sediaan larutan ini ditentukan pH sediaan 4,5 0,5 (pH stabilitas

teofilin 4,3-4,7). Untuk menjaga agar pH sediaan masih berada dalam rentang spesifikasi yang telah ditentukan maka sediaan ditambahkan dapar. Dapar yang digunakan adalah dapar sitrat dengan pKa= 4,761 karena pKa tersebut dekat dengan pH sediaan yang akan dibuat. Adanya air dan sukrosa yang merupakan bahan alam dalam sediaan larutan ini memungkinkan terjadi pertumbuhan mikroba yang dapat mempengaruhi stabilitas sediaan. Pengawet yang dipilih adalah propilen glikol dan asam sitrat.pemilihan propilen glikol karena selain berfungsi sebagai pengawet pada konsentrasi 15-30%, juga dapat berfungsi sebagai kosolven. Sedangkan asam sitrat karena selain digunakan sabagai rasa asam dapat berfungsi sebagai antioksidan. Pemilihan bahan eksipien harus benar-benar dipertimbangkan dengan matang, karena penggunaan bahan eksipien yang banyak dapat meningkatkan interaksi bahanbahan tersebut dengan bahan aktif sehingga dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti kestabilan yang turun, terjadi pengendapan bahan eksipien dan bahkan bahan aktif menjadi tidak larut. Oleh karena itu, pemilihan bahan eksipien harus seminimal mungkin tetapi tetap harus memenuhi spesifikasi sediaan yang diinginkan. Pada pembuatan sediaan larutan ini dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu tahap optimasi dan tahap scale up. Pada tahap optimasi semua formula yang direncanakan dikerjakan sesuai dengan prosedur dan metode yang telah dirancang sebelumnya dan dicatat berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai teofilin larut sempurna. Dalam kelompok ini digunakan tiga formula yang memiliki perbedaan pada konsentrasi pelarut campuran yang digunakan ( propilen glikol, gliserin) . sedangkan bahan eksipien lain dtambahkan dalam jumlah yang sama untuk setiap formula. Hal ini dilakukan untuk melihat formula mana yang memiliki kelarutan teofilin yang paling besar dan pH yang paling mendekati pH sediaan yang diinginkan. Ada tiga metode yang dipakai dalam melarutkan teofilin yaitu metode 1 dengan mencampur semua pelarut terlebih

dahulu baru ditambahkan dengan bahan aktif yang sebelumnya telah digerus sampai halus. Metode 2 dengan melarutkan sebagian teofilin dalam propilen glikol dan sebagian lain dalam gliserin. Sedangkan metode 3 dengan melarutkan teofilin dalam pelarut yang dapat melarutkan teofilin paling besar terlebih dahulu sampe ke pelarut yang melarutkan teofilin paling kecil. Kemudian dilihat berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh setiap metode untuk melarutkan teofilin dengan sempurna. Dari hasil percobaan, diperoleh bahwa dengan metode 1 membutuhkan waktu yang paling cepat dalam melarutkan teofilin. Oleh Karena itu, dipilih metode 1 untuk proses scale up. Walaupun formula lain yang menggunakan metode 2 dan 3 tidak terpilih untuk optimasi, tapi tetap dikerjakan sampai akhir untuk melihat hasil akhir sediaan dan pH nya apakah masih mendekati pH spesifikasi atau tidak. Selama proses optimasi dan scale up ditemukan beberapa permasalahan sebagai berikut: 1. Kelarutan teofilin tidak sesuai dengan perhitungan kelarutan teofilin jenuh. Seharusnya berdasarkan perhitungan KD, teofilin akan larut dengan mudah dalam pelarut campuran, namun kenyataannya tidak demikian. Hal ini disebabkan pada saat penambahan teofilin tidak secara perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit, tapi sekaligus ditambahkan pada pelarut campur yang sedang diaduk dengan megnetik stirrer. Penambahan sekaligus seperti ini membuat waktu yang dibutuhkan untuk melarutkan bahan obat dengan sempurna menjadi semakin lama. Menaikkan kecepatan pengadukan dapat sedikit membantu dalam pelarutan bahan aktif. Namun cara ini sebaiknya dihindari karena pengadukan yang terlalu cepat akan menimbulkan masalah lain yakni timbulnya buih. Buih ini bisa hilang dengan pendiaman tapi memerlukan waktu yang cukup lama. Selain itu, buih ini juga dapat mengganggu pengamatan apakah teofilin sudah larut sempurna apa belum. Solusinya: penambahan teofilin ke pelarut harus sedikit demi sedikit dan perlahanlahan dengan kecepatan pengadukan yang tidak terlalu cepat atau terlalu lambat. Tetapi harus diingat bahwa teofilin sebelum ditambahkan ke pelarut campuran harus digerus sampai halus terlebih dahulu.

2. Teofilin tetap tidak larut sempurna Setelah dicoba dengan cara yang dijelaskan pada point 1, kelarutan teofilin tetap rendah sehingga diputuskan untuk mengubah dosis dengan cara diturunkan menjadi 28,2 mg/5ml

3. Penambahan essence yang kurang sehingga setelah penyimpanan bau atau aromanya hilang. Satu minggu setelah proses pembuatan, bau atau aroma dari sediaan menghilang. Solusinya: penambahan essence sedikit demi sedikit dengan diselingi pengecekan rasa dan aroma ( dicicipi setiap penambahan essence) 4. Pelarutan sukrosa membutuhkan air lebih banyak dari perhitungan teoritis. Menurut literature, kelarutan sukrosa dalam air 1:0,5. Namun dalam praktiknya membutuhkan air untuk melarutkan hampir dua kali lipat. Hal ini disebabkan terdapat sukrosa yang bentuk Kristal dan serbuk. Pada sukrosa yang bentuk serbuk membutuhkan air untuk melarutkan lebih banyak daripada sukrosa yang bentuknya serbuk. Solusinya: dipilih bentuk serbuk atau bila hanya terdapat yang bentuk Kristal, sukrosanya dihaluskan terlebih dahulu sebelum dilarutkan. 5. Pengamatan dengan alat pH meter yang berbeda menghasilkan pembacaan pH yang berbeda pula. Pada penentuan pH, alat yang digunakan beda sehingga hasilnya berbeda. Solusi: sebaiknya menggunakan pH meter yang sama dari awal hingga akhir pembuatan. 6. pH yang didapat saat optimasi turun. Setelah disimpan beberapa hari, pH sediaan turun. Hal ini disebabkan karena pada saat scale up teofilin, air yang digunakan tidak dibuat baru sehingga dalam air yang mulanya bebas CO2 sudah banyak mengandung CO2 akibatnya pH nya turun. Pada evaluasi sediaan teofilin, dari bentuk sediaan, viskositas, warna, dan berat jenis memenuhi spesifikasi sediaan. pH sediaan yang didapat pada pada scale up 3,96 . pH ini tidak memenuhi spesifikasi dimana spesifikasi sediaan 4,5 0,5. Hal ini dapat disebabkan karena

penggunaan air yang tidak dibuat baru sehingga sudah tidak bebas CO2 lagi mengakibatkan pH sediaan turun. Sedangkan untuk berat jenis pada sediaan parasetamol juga memenuhi spesifikasi

yang telah dibuat yakni diantara berat jenis air dan gliserin. Untuk berat jenis air = 0,998 g/cm3 dan gliserin 1,251 g/cm3. Pada sediaan diperoleh berat jenis 1,127 g/cm3. Sedangkan untuk kadar bahan aktif tidak dilakukan evaluasi. Pada pengamatan organoleptis pada sediaan teofilin tidak memenuhi spesifikasi sediaan dimana warna sediaan tetap oranye tapi bau jeruknya hilang. Hal ini disebabkan karena penambahan essence yang kurang sehingga bau atau aromanya cepat hilang.