Anda di halaman 1dari 6

LOGBOOK : 2 / PERORANGAN KELOMPOK : 2 / KELAS : A NAMA : YAKUB / NIM : 33090221 Tema / Topik : Bagaimana peran Interfaith Dialogue dalam

membangun sikap saling menghormati antar umat beragama.

BAB I

Pendahuluan

A.

Latar Belakang

B.

Definisi Operasional Judul


1. Pengertian Interfaith Dialogue Secara etimologi, Dialog berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari 2 kata, yaitu Dia dan Logos. Dia berarti jalan, Logos yang berarti kata, sehingga jika diartikan Dialog adalah bagaimana cara manusia dalam menggunakan sebuah kata. Secara umum, Dialog dapat diartikan sebagai sebuah percakapan timbal balik antara 2 orang atau lebih. Interfaith adalah antar kepercayaan atau antar agama. 2. Pengertian sikap saling menghormati Konflik berasal dari bahasa Latin, yaitu configere, yang artinya saling memukul. Menurut ilmu sosiologi, konflik adalah suatu proses sosial antara 2 atau lebih orang atau kelompok dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan pada Tuhan.

Umat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah para penganut suatu agama

3. Pengertian Secara Utuh Interfaith Dialogue Adalah suatu interaksi antar umat beragama yang kooperatif dan positif antar individu atau kelompok yang berbeda agama, dan kepercayaan dengan tujuan untuk membangun dasar kesepahaman dalam setiap kepercayaan, nilai, dan komitmen terhadap dunia yang dapat membangun hubungan yang harmonis antar agama. Konflik antar umat beragama Adalah konflik yang timbul karena perselisihan atau perbedaan pandangan keyakinan dan kepercayaan yang tidak dapat ditoleransi dan dipahami oleh masing-masing penganut suatu agama.

C.

Kerangka Berpikir
Membangun kehidupan beragama dalam masyarakat a. Variabel Bebas : Interfaith Dialogue Indikator : a. Adanya kerjasama antar umat beragama b. Adanya pemahaman dan sikap toleransi antar umat beragama c. Adanya usaha dari setiap masing-masing penganut agama untuk mencapai titik temu akan permasalahan yang terjadi dalam kehidupan antar umat beragama

b. Variabel Terikat: Konflik antar Umat Beragama Indikator : a. Adanya kekerasan antar umat beragama b. Adanya pertentangan pendapat antar umat beragama

D.

Hipotesis
Ho : Terdapat hubungan antara Interfaith Dialogue dengan Konflik antar umat beragama H1: Tidak Terdapat hubungan antara Interfaith Dialogue dengan Konflik antar umat beragama

BAB II Analisis dan Pemecahan Masalah


a. Refleksi Kondisi yang Berkait Dengan Variabel Dependen dan Independen Indonesia, seperti yang kita ketahui adalah negara yang luas yang terdiri dari berbagai macam suku, ras, etnis, maupun agama. Indonesia memiliki 6 agama utama, yaitu Kristen, Katolik, Islam, Hindu, Budha, dan Konghucu. Indonesia merupakan negara yang berpenduduk mayoritas beragama Islam dengan angka mencapai diatas 85% dari jumlah penduduknya. Keenam agama utama itu merupakan pencerminan dari adanya kepelbagaian agama yang dianut oleh masyarakat bangsa kita sebagai satu bangsa yang meliputi satu wilayah tanah air Indonesia. Walaupun masing-masing agama tentu memiliki perbedaan dari cara pandang, keyakinan, tradisi keagamaannya, dan sebagainya, tetapi setiap agama sebenarnya

memiliki kesamaan yaitu dalam hal mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa menurut kepercayaan dan pengertian masing-masing agama. Namun, tidak jarang perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam setiap agama menimbulkan perselisihan dan pertentangan antar umat beragama, yang akhirnya melahirkan konflik antar umat beragama seperti konflik antar umat Islam dan umat Kristen di Maluku, konflik antar umat Islam di Filipina dengan pendatang dari Spanyol yang membawa agama Katolik, Perang Salib pada tahun 1096-1271 antara umat Kristen Eropa dan Islam. Perselisihan tersebut timbul karena kurangnya pemahaman dan sikap toleransi antar umat beragama. b. Analisis Kondisi Konflik antar umat beragama dapat disebabkan oleh berbagai hal,seperti: 1. Sikap Eksklusivisme Dalam menghadapi perbedaan agama tersebut, terdapat 4 jenis sikap yang berkaitan dengan relasi antar umat beragama, yaitu Ekslusivisme, Inklusivisme, Relativisme, dan Pluralisme. Konflik antar umat beragama timbul karena sikap Ekslusivisme seseorang, dimana penganut agama tersebut tidak mentoleransi, menerima, dan mengakui adanya ajaran agama lain. Contohnya, pada kasus di Filipina, konflik antar umat beragama terjadi karena sikap eksklusivisme bangsa Spanyol, tidak mengakui adanya kepercayaan lain selain agamanya, Katolik. 2. Faktor Sosial, Politik, dan Ekonomi Faktor Sosial, Politik, dan Ekonomi sering dijadikan alat pemicu terjadinya konflik antar umat beragama. Contohnya pada kasus di Filipina, kondisi Ekonomi penganut agama Katolik cenderung lebih baik dan stabil, dan kondisi Sosial Politik yang terjadi disana membuat

penduduk Filipina yang menganut agama Islam merasa menjadi penduduk kelas dua. c. Langkah dan Pemecahan Masalah Langkah langkah yang perlu ditempuh setiap penganut agama dalam mengatasi konflik antar umat beragama, adalah dengan mengadakan Interfaith Dialogue dan mengembangkan sikap pluralisme. Interfaith Dialogue dapat dilakukan melalui berbagai cara, misalnya mengadakan pertemuan antar umat beragama dengan melakukan diskusi, mengembangkan proyek kerja sama yang melibatkan partisipasi masing-masing umat beragama, mengadakan seminar dan kegiatan sosial, dan sebagainya. Interfaith Dialogue perlu dikembangkan untuk mengembangkan pemahaman dan toleransi antar umat beragama. Sedangkan sikap pluralisme yang dimaksud adalah sikap yang menerima adanya keragaman keyakinan dan padangan keagamaan dalam masyarakat. Sikap ini perlu dikembangkan karena kita hidup berdampingan dalam masyarakat yang majemuk yang memiliki kepelbagaian dalam berbagai hal d. Kesimpulan Interfaith Dialogue jelas memiliki peran yang signifikan dalam membangun sikap kesepahaman dan toleransi antar umat beragama. Interfaith Dialogue diadakan untuk mencari titik temu atau titik kesamaan antar agama tanpa mempersoalkan perbedaan-perbedaan yang ada. Apabila setiap penganut agama sudah memiliki pemahaman, sikap toleransi , dan mau mengakui perbedaan yang ada, maka secara otomatis, konflik antar umat beragama tidak akan terjadi.