Anda di halaman 1dari 9

FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM DALAM KONTEKS PEMIKIRAN AL GHAZALI

A.

LATAR BELAKANG MASALAH Sejak awal perkembangan Pendidikan Islam telah berdiri tegak di atas dua sumber pokok yang amat penting, yaitu Al Quran dan Sunnah Nabi. Di dalam kitab suci ini terkandung ayat-ayat mufasshalaat (terinci) dan ayat-ayat mubayyinat (yang memberikan bukti kebenaran) yang mendorong kepada orang untuk belajar membaca dan menulis serta menuntut ilmu, memikirkan, membaca dan menulis serta menganalisis ciptaan langit dan bumi. Rasulullah SAW sendiri diutus pertama-tama untuk menjadi pendidik, dan beliau adalah guru yang pertama dalam Islam. Sasaran, metode dan tujuan-tujuan pendidikan Islam sangat berbeda dengan yang terdapat dalam pendidikan umum, karena pendidikan Islam berlandaskan pada Al Quran dan Sunnah RasulNya, tetapi system pendidikannya selalu mengkaitkan pola dan system pendidikan umum. Sebagaimana yang telah diketahui bersama bahwa problem mendasar yang dihadapi oleh masyarakat dari negara berkembang, terutama Negara masyarakat muslim adalah keterbelakangan ekonomi sebagai akibat dari rendahnya tingkat kualitas pendidikan. Pendidikan Islam menghadapi persoalan yang cukup serius dan rentan terhadap terjadinya krisis nilai. Para tokoh muslim terdahulu telah meletakkan dasar yang kuat dalam bidang pendidikan serta mempunyai konsepsi yang ideal di zamannya, baik yang

terkodifikasi dalam karya tulis maupun sekedar konvensi yang berdasarkan praktis empiris. Zaman keemasan dunia pendidikan terjadi di masa al Ghazali, dimana pada masa itu berdiri sebuah lembaga pendidikan dengan system madrasah. Integritas Al Ghazali sebagai praktisi pendidikan telah mendorong banyak kalangan mengkaji tentang pemikirannya tentang pendidikan. Hal ini semakin menemukan korelasinya ketika konsep pendidikan Islam hingga saat ini masih jauh dari ideal. Hal lainnya yang penting dibahas adalah pandangan Al Ghazali tentang pendidikan Islam, khususnya tentang system dan metodologi dan metodelogi pengajaran serta relevansinya dengan konteks kekinian. Oleh karena itu, pembahasan dalam paper ini mengangkat judul Filsafat Pendidikan Islam Dalam Konteks Pemikiran Al Ghazali.

B.

RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut :

1. 2.

Bagaimana konsep bangunan pemikiran pendidikan Islam Al Ghazali? Bagaimana hakikat pendidikan Islam menurut Al Ghazali?

C.

PEMBAHASAN 1. Sejarah Hidup Al Ghazali

Al Ghazali memiliki nama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali. Ia lahir di perkampungan kecil bernama Ghazalah, daerah thus, Khurasan, suatu wilayah di Persi (Iran), pada tahun 450H/1058 M. Al-Ghazali mengawali pendidikan agamanya di kota Thus. Di kota ini ia mempelajari ilmu hadits, Al Quran dan tasawuf dasar. Setelah biaya pendidikannya habis,al-Ghazali berpindah dan berguru ilmu fikih kepada Syekh Ahmad bin Muhammad al-Radzkani. Sedangkan ilmu tasawuf ia peroleh dari Yusuf al-Nassaj. Pada waktu Al-Ghazal pindah ke Bagdad, ia telah terkenala sebagai ulama ahli dalam ilmu fiqih, ilmu kalam dan ahli tasawuf. Pada saat itu menghadap seorang Perdana Menteri Sultan As-Seljuqy, bernama Nidzam Al-Mulki, berkali kali ia menghadiri majelis perdana menteri ini dan akhirnya ia diangkat menjadi guru pada madrasah An-Nizamiyah di Bagdad pada 484 H. Madrasah ini adalah sebuah akademi yang mengajarkan disiplin ilmu akademis, dimana para tokoh ilmuwan berkumpul untuk menuntut ilmu dalam bidang keahlian tertentu.

2. Karya-karya Monumental Al Ghazali Al-Ghazali dikenal sebagai sosok intelektual multidimensi dengan penguasaan ilmu multidisiplin. Hamper semua aspek keagamaan dikajinya secara mendalam. Aktifitasnya bergumul dengan ilmu berlangsung tidak pernah surut hingga ajal menjemputnya. Dalam ranah keilmuan Islam, al-Ghazali mendapatkan gelar hujjatul islam, sebuah bukti pengakuan atas kapasitas keilmuan dan tingkat penerimaan para ulama terhadaapnya.

Beberapa karyanya antara lain: 1. Bidang Fiqh dan Ushul Fiqh. a. Al-Basith fi al-Furu ala Nihayah al-Mathlab li Iman al-Haramain. b. Al-Wasith al-Muhith bi Iqthar al-Bassith. c. Al-Wajiz fi al-Furu. d. Asrar al-Hajj, dalam Fiqh al-Syafii. e. Al mustashfa fi ilm al Ushul. f. Al-Mankhul fi ilm al-Ushul. 2. Bidang Tafsir a. Jawahir al-quran b. Yaqut al-Tawil fi-Tafsir al-Tanzil 3. Bidang Aqidah a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Al-Istishad fi al-Itiqad, terbit di Mesir Al-Ajwibah al Ghazaliyah fi al-Masail al-Ukhrawiyah Iljamu al-awamanilm al-kalam Al-risalah al qudsiyah fi-Qawaid al-aqaid Aqidah ahl al-sunnah Fadhaih al-Bathiniyah wa Fadlail al-Mustdzariyah Faishal al-Tafriqah baina al-Islam wa al-zindiqah Al-Qistash a-Mustaqim Kimiyah al-Saadah Al-Maqshid al-tsna fi maani AsmaAllah al-Husna

k. 4.

Al-Qaul aal-Jamil fi al-Radd ala man Ghayyara al-Injil

Bidang Filsafat dan Logika a. b. c. d. e. f. g. 5. Misykah al-Anwar Tahafut al-Falasifah Risalah al-Thair Mihak al-Nadzar fi al-Mantiq Maary al-Qudsi fi Madarij Marifah al-Nafs Miyar al-Ilmi Al-Muthal fi ilm al-Jidal

Bidang Tasawuf a. Adab al-Shufiyah b. Ihya Ulumuddin c. Bidayah al-Hidayah wa Tahdzib al-Nufus bi al-Sarriyah d. Al-Adab fi al-Din e. Al Imla an Asykal al-Ihya f. Ayyuhall Walad h. Ar-Risallah al-Ladunniyah

g. Mizan al-Amal h. Al-Kasyfu wa al-Tabyin fi Ghurur al-Khalq Ajmain i. Minhak al-Abidin ila al-Jannah j. Mukasyafah al-Qulub al-Muqarrab ila Hadrah Alami al-Ghaibi

Masih banyak lagi karya al-Ghazali lainnya, baik yang sudah dicetak dan diterbitkan, maupun yang masih berbentuk manuskrip. Sedangkan di sisi lain ada ratusan karya yang dikategorikan hasil karya al-Ghazali, dan tentunya hal ini masih diperdebatkan.

3. Pandangan Al Ghazali Tentang Pendidikan a. Tujuan Pendidikan Al-Ghazali mempunyai pandangan berbeda dengan kebanyakan ahli filsafat pendidikan islam mengenai tujuan pendidikan. Ia menekankan tujuan pendidikan adalah mengarah pada realisasi tujuan keagamaan dan akhlak, dimana fadhilah (keutamaan) dan taqarrub kepada Allah merupakan tujuan yang paling penting dalam pendidikan Pandangan Al-Ghazali tentang tujuan pendidikan itu mendapatkan pengaruh dari falsafah tasawufnya. Ia juga menjelaskan prinsip- prinsip yang harus dipegangi oleh guru pada saat menjalankan tugas mendidik dan mengajar yaitu prinsip bahwa petunjuk agama dipandang olehnya sebagai yang paling penting. Sehingga jelaslah Al-Ghazali berpendirian bahwa tjuan pendidikan bagi ia adalah bersifat keagamaan dan keakhlakan. Untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan sekaligus untuk mendapatkan keridhaan-Nya, karena agama merupakan sistem khidupan yang menitikberatkan pada pengalaman.

4. Bangunan Pemikiran Pendidikan Al Ghazali Konsepsi penddikan islam adalah setiap upaya transformasi nilai- nilai yang sesuai dengan ajaran Islam dengan meletakkan Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad saw, sebagai sumber dan acuan utama. Secara umum sistem pendidikan Islam mempunyai karakter relegius serta kerangka etik dalam tujuan dan sasarannya. Tentunya hal ini ditempuh tanpa mengesampingkan masalah duniawi. Pemikiran Al-Ghazali mengenai pendidikan secara umum bersifat relegiusetis. Kecenderungannya ini kemungkina diperoleh oleh penguasaannya dibidang sufisme. Menurut Al-Ghazali , aktifitas duniawi hanya sekedar suplementer bagi pencapaian kebahagiaan akhirat yang abadi. Al-Ghazali tidak sebatas melontarkan gagasan dalam bentuk konsep-si dan teori tetapi juga masuk dalam pada tataran aplikatif. Ia menawarkan suatu sistem pendidikan yang mencakup pendidikan formal, non-formal dan juga informal. Menurut Al-Ghazali, pendidikan yng benr menrupakan saran untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pendidikan juga dapat mengantarkan manusia untuk menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Pendidikan uga sarana untuk menebarkan keutamaan. Maka untuk mencapai hal itu dunia pendidikan harus memperhatikan beberapa factor yang mencakup urgens. Al-Ghazali berpandangan bahwa dunia pendidikan harus menempatkan ilmu pengetahuan pada posisi yang sangat terhormat. Maka penghormatan atas ilmu meprupakan ssuatu yang niscaya dan pasti. Konsekuensi atas penghormatan terhadap ilmu adalah penghormatan terhadap

guru. Al-Ghazali meletakan guru sebagai tokoh yang dijadikan referensi. Karena itu bagi Al-Ghazali, kredebilitas seorang guru harus mendapatkan perhaian utama. Pengertian ilmu dalam perspktif al Ghazali merupakan proses yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya. Ilmu scara kualitatif merupakan sasrana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sehingga mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dalam konsepsi pendidikan mutakhir, dimensi ketuhanan dalam suatu ilmu telah dikebiri. Ilm hanya dipahami sebatas sebuah pross yang menghubungkan makhluk dengan makhluk lainnya. Bahkan dalam beberapa kasus ilmu hanya diposisikan untuk menyatakan fakta atas kejadian sehari-hari. Dalam konteks kekinian, konsep pendidikan al-Ghazali cukup relevan untuk diintegrasikan dalam sistem pendidikan mutakhir terutama di tengah masyarakat muslim

5. Hakikat Pendidikan Islam dalam Konsep Pendidikan Al Ghazali Gagasan utama pendidikan islam terletak pada pandangan bahwa setiap manusia mempunyai nilai positif tentanga kecerdasan, daya kreatif dan keluhuran budi.peran pendidikan ialah bagaimana nilai positif ini tumbuh menguat. Jika tidak tepat bisa tumbuh sifat negative; perilaku kekerasan,tidak peduli terhadap sesame tau kejahatan lain. Pendidikan islam tidak melahirkan pribadi yang berperilaku positif bisa dpastikan gagal.faktor yang mempengaruhi tentu bermacam-macam. Salh satunya adalah imbas pendidikan yang secara tidak sadar telah menirupola-pola baku yang mematikan. Sistem pendidikan sepereti ini sudah sepatutnya untuk direformasi secara integral, sistematif, liberatif, dan radikal.

D.

PENUTUP

E.

DAFTAR PUSTAKA