Anda di halaman 1dari 18

Laporan kasus OTITIS MEDIA AKUT

DISUSUN OLEH : Miya Elmira ( 1102007178)

PEMBIMBING : Dr. Zirmacatra, Sp. THT

BAGIAN ILMU THT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI RSUD SOREANG 2011

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Agama Jenis kelamin Pekerjaan Alamat Tanggal datang No.RM : An.R : 5 tahun : Islam : Laki-laki : Tidak bekerja : Kiangroke 04/04 Banjaran Kab.Bandung : 24 Oktober 2011 : 316708

II. ANAMNESIS Anamnesis Keluhan Utama : Autoanamnesis & Alloanamnesis (Ibu pasien) : Keluar cairan dari telinga kiri.

Riwayat Penyakit Sekarang Os mengeluh keluar cairan pada telinga kiri sejak 2 minggu sebelum masuk rumah sakit. Cairan tersebut berwarna putih kekuningan dan berbau. Keluhan ini baru pertama kali dirasakan. Os juga mengeluh adanya nyeri telinga bagian dalam dan adanya penurunan fungsi pendengaran. Keluhan berupa telinga berdenging, berdengung ataupun rasa penuh di telinga disangkal. Riwayat panas badan disertai batuk pilek dirasakan sejak 1 minggu sebelum keluar cairan dari telinga. Nyeri telinga dan panas badan dirasakan berkurang setelah keluar cairan dari telinga. Tidak ada keluhan pada telinga kanan Os. Keluhan sakit tenggorokan, nyeri menelan, suara sengau, benjolan di leher disangkal. Riwayat Penyakit Dahulu Os tidak pernah sakit seperti ini sebelumnya. Os sering menderita batuk & pilek. Riwayat trauma, keluar darah dari hidung, suka mengorek telinga, dan sering berenang disangkal. Riwayat Penyakit Keluarga Os mengaku tidak ada keluarga yang pernah sakit seperti ini. Riwayat alergi dan asma pada keluarga disangkal penderita.

Riwayat Alergi Riwayat alergi seperti bersin-bersin dan gatal-gatal ketika terkena debu, atau setelah memakan makanan tertentu disangkal. Riwayat asma juga disangkal.

III. PEMERIKSAAN FISIK Status generalis Keadaan umum Kesadaran Vital Sign : Baik : Compos Mentis : Tekanan darah : 100/70 mmHg Suhu Nafas Nadi Status lokalis Telinga Bagian Kelainan Kelainan kongenital Preaurikula Radang dan tumor Trauma Kelainan kongenital Aurikula Radang dan tumor Trauma Edema Hiperemis Retroaurikula Nyeri tekan Sikatriks Fistula Fluktuasi Palpasi Nyeri aurikula pergerakan Auris Dextra Sinistra : Affebris : 24 x/ menit : 88 x/ menit

Nyeri tekan tragus Kelainan kongenital Kulit Sekret Canalis Acustikus Externa Serumen Edema Jaringan granulasi Massa Cholesteatoma

Tenang -

Tenang + (putih) -

Warna

putih keabuabuan

Hiperemis

Intak Retraksi Membrana Timpani Refleks cahaya Perforasi

(+) (-) (+) (-)

(-) (-) (-) (+)

Hidung Rhinoskopi anterior Mukosa hidung Hiperemis (+), sekret Hiperemis (+), sekret (+), massa (+), massa (-) Septum nasi Konka dan media Meatus dan media Deviasi (-), dislokasi (-) (-) Deviasi (-), dislokasi (-) Cavum nasi kanan Cavum nasi kiri

inferior Edema (+), hiperemis Edema (+), hiperemis (+) (+) inferior Polip (-) Polip (-)

Mulut Dan Orofaring

Bagian

Kelainan Mukosa mulut Lidah

Keterangan Tenang Bersih, basah,gerakan normal kesegala arah

Mulut

Palatum molle Gigi geligi Uvula Halitosis Mukosa Besar Kripta :

Tenang, simetris Caries (-) Simetris (-) Tenang T1 T1 Normal - Normal (-/-) (-/-)

Tonsil

Detritus : Perlengketan

Mukosa Faring Granula Post nasal drip

Tenang (-) (-)

Maksilofasial Bentuk Nyeri tekan Leher Kelenjar getah bening : Tidak teraba pembesaran KGB Massa : Tidak ada : Simetris :-

IV. DIAGNOSIS BANDING Otitis Media Akut (OMA)

Otitis Media Supuratif Kronik ( OMSK )

V. DIAGNOSIS Otitis media akut stadium perforasi auris sinistra

VI. PENGELOLAAN DAN TERAPI Pembersihan liang telinga dengan suction Pemberian obat cuci telinga H2O2 Pemberian obat oral: Clindamycin ( Antibiotik ) Metil prednisolon ( Kotikosteroid ) Pseudoefedrin HCl

VII. PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad functionam : : ad bonam ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA Telinga dibagi menjadi 3 bagian yaitu telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam.

Telinga luar, yang terdiri dari aurikula (daun telinga) dan canalis auditorius eksternus ( liang telinga ). Telinga dalam terdiri dari koklea ( rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis. Anatomi telinga tengah Telinga tengah terdiri dari 3 bagian yaitu membran timpani, cavum timpani dan tuba eustachius. 1. Membrana timpani Membrana timpani memisahkan cavum timpani dari kanalis akustikus eksternus. Letak membrana timpai pada anak lebih pendek, lebih lebar dan lebih horizontal dibandingkan orang dewasa. Bentuknya ellips, sumbu panjangnya 9-10 mm dan sumbu pendeknya 8-9 mm, tebalnya kira-kira 0,1 mm. Membran timpani terdiri dari 2 bagian yaitu pars tensa (merupakan bagian terbesar) yang terletak di bawah malleolar fold anterior dan posterior dan pars flacida (membran sharpnell) yang terletak diatas malleolar fold dan melekat langsung pada os petrosa. Pars tensa memiliki 3 lapisan yaitu lapiasan luar terdiri dari epitel squamosa bertingkat, lapisan dalam dibentuk oleh mukosa telinga tengah dan diantaranya terdapat lapisan fibrosa dengan serabut berbentuk radier dan sirkuler. Pars placida hanya memiliki lapisan luar dan dalam tanpa lapisan fibrosa. Vaskularisasi membran timpani sangat kompleks. Membrana timpani mendapat perdarahan dari kanalis akustikus eksternus dan dari telinga tengah, dan beranastomosis pada lapisan jaringan ikat lamina propia membrana timpani. Pada permukaan lateral, arteri aurikularis profunda membentuk cincin vaskuler perifer

dan berjalan secara radier menuju membrana timpani. Di bagian superior dari cincin vaskuler ini muncul arteri descendent eksterna menuju ke umbo, sejajar dengan manubrium. Pada permukaan dalam dibentuk cincin vaskuler perifer yang kedua, yang berasal dari cabang stilomastoid arteri aurikularis posterior dan cabang timpani anterior arteri maksilaris. Dari cincin vaskuler kedua ini muncul arteri descendent interna yang letaknya sejajar dengan arteri descendent eksterna. 2. Kavum timpani Kavum timpani merupakan suatu ruangan yang berbentuk irreguler diselaputi oleh mukosa. Kavum timpani terdiri dari 3 bagian yaitu epitimpanium yang terletak di atas kanalis timpani nervus fascialis, hipotimpananum yang terletak di bawah sulcus timpani, dan mesotimpanum yang terletak diantaranya. Batas cavum timpani ; Atas Dasar Posterior Anterior Medial Lateral : tegmen timpani : dinding vena jugularis dan promenensia styloid : mastoid, m.stapedius, prominensia pyramidal : dinding arteri karotis, tuba eustachius, m.tensor timpani : dinding labirin : membrana timpani Kavum timpani berisi 3 tulang pendengaran yaitu maleus, inkus, dan stapes. Ketiga tulang pendengaran ini saling berhubungan melalui artikulatio dan dilapisi oleh mukosa telinga tengah. Ketiga tulang tersebut menghubungkan membran timpani dengan foramen ovale, seingga suara dapat ditransmisikan ke telinga dalam. Maleus, merupakan tulang pendengaran yang letaknya paling lateral. Malleus terdiri 3 bagian yaitu kapitulum mallei yang terletak di epitimpanum, manubrium mallei yang melekat pada membran timpani dan kollum mallei yang menghubungkan kapitullum mallei dengan manubrium mallei. Inkus terdiri atas korpus, krus brevis dan krus longus. Sudut antara krus brevis dan krus longus sekitar 100 derajat. Pada medial puncak krus longus terdapat processus lentikularis. Stapes terletak paling medial, terdiri dari kaput, kolum, krus anterior dan posterior, serta basis stapedius/foot plate. Basis stapedius tepat menutup foramen ovale dan letaknya hampir pada bidang horizontal.

Dalam cavum timpani terdapat 2 otot, yaitu : - M.tensor timpani, merupakan otot yang tipis, panjangnya sekitar 2 cm, dan berasal dari kartilago tuba eustachius. Otot ini menyilang cavum timpani ke lateral dan menempel pada manubrium mallei dekat kollum. Fungsinya untuk menarik manubrium mallei ke medial sehingga membran timpani menjadi lebih tegang. - M. Stapedius, membentang antara stapes dan manubrium mallei dipersarafi oleh cabang nervus fascialis. Otot ini berfungsi sebagai proteksi terhadap foramen ovale dari getaran yang terlalu kuat. 3. Tuba eustachius Kavitas tuba eustachius adalah saluran yang meneghubungkan kavum timpani dan nasofaring. Panjangnya sekitar 31-38 mm, mengarah ke anteroinferomedial, membentuk sudut 30-40 dengan bidang horizontal, dan 45 dengan bidang sagital. 1/3 bagian atas saluran ini adalah bagian tulang yang terletak anterolateral terhadap kanalis karotikus dan 2/3 bagian bawahnya merupakan kartilago. Muara tuba di faring terbuka dengan ukuran 1-1,25 cm, terletak setinggi ujung posterior konka inferior. Pinggir anteroposterior muara tuba membentuk plika yang disebut torus tubarius, dan di belakang torus tubarius terdapat resesus faring yang disebut fossa rosenmuller. Pada perbatasan bagian tulang dan kartilago, lumen tuba menyempit dan disebut isthmus dengan diameter 1-2 mm. Isthmus ini mudah tertutup oleh pembengkakan mukosa atau oleh infeksi yang berlangsung lama, sehingga terbentuk jaringan sikatriks. Pada anak-anak, tuba ini lebih pendek, lebih lebar dan lebih horizontal dibandingkan orang dewasa, sehinggga infeksi dari nasofaring mudah masuk ke kavum timpani.

OTITIS MEDIA AKUT Otitis media akut (OMA) adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid.

Telinga tengah biasanya steril, meskipun terdapat mikroba ke dalam di nasofaring dan faring. Secara fisiologik terdapat mekanisme pencegahan masuknya mikroba ke dalam telinga tengah oleh silia mukosa tuba Eustachius, enzim dan antibody. Otitis media akut terjadi karena faktor pertahanan tubuh ini terganggu. Sumbatan tuba Eustachius merupakan faktor penyebab utama dari otitis media. Karena fungsi tuba Eustachius terganggu, pencegahan invasi kuman ke dalam telinga tengah terganggu, sehingga kuman masuk ke dalam telinga tengah dan terjadi peradangan. Dikatakan juga, bahwa pencetus terjadinya OMA ialah infeksi saluran nafas atas. Pada anak, makin sering anak terserang infeksi saluran nafas, makin besar kemungkinan terjadinya OMA. Sembuh / Normal Fungsi tuba tetap terganggu Gangguan tuba Tekanan negative telinga tengah Efusi Infeksi (-) OME

Etiologi : - Perubahan tekanan udara tiba-tiba - Alergi - Infeksi - Sumbatan : Sekret Tampon Tumor Sembuh Etiologi

Tuba tetap terganggu dan Infeksi (+) OMA

OME

OMSK/OMP

Sumbatan pada tuba eustachius merupakan penyebab utama dari otitis media. Pertahanan tubuh pada silia mukosa tuba eustachius terganggu, sehingga pencegahan invasi kuman ke dalam telinga tengah terganggu juga. Selain itu, ISPA juga merupakan salah satu faktor penyebab yang paling sering. Kuman penyebab OMA adalah bakteri piogenik, seperti Streptococcus hemoliticus,

Staphylococcus aureus, Pneumococcus, Haemophilus influenza, Escherichia coli, Streptococcus anhemolyticus, Proteus vulgaris, Pseudomonas aeruginosa. Sejauh ini Streptococcus pneumonia merupakan organisme penyebab tersering pada semua kelompok umur. Sedangkan Haemophilus influenza adalah patogen tersering yang ditemukan pada anak di bawah usia lima tahun. Meskipun juga patogen pada orang dewasa. Pada anak-anak, makin sering terserang ISPA, makin besar kemungkinan terjadinya otitis media akut (OMA). Pada bayi, OMA dipermudah karena tuba eustachiusnya pendek, lebar, dan letaknya agak horisontal. Anak lebih mudah terserang otitis media dibanding orang dewasa karena beberapa hal, yaitu: (1)Sistem kekebalan tubuh anak masih dalam perkembangan, (2)Saluran eustachius pada anak lebih lurus secara horizontal dan lebih pendek sehingga ISPA lebih mudah menyebar ke telinga tengah. (3)Adenoid (salah satu organ di tenggorokan bagian atas yang berperan dalam kekebalan tubuh) pada anak relative lebih besar dibanding orang dewasa. Posisi adenoid berdekatan dengan muara saluran Eustachius sehingga adenoid yang besar dapat mengganggu terbukanya saluran Eustachius. Selain itu, adenoid sendiri dapat terinfeksi dimana infeksi tersebut kemudian menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. Patogenesis Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga. Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas.

Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus). Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal). Selain itu telinga juga akan terasa nyeri. Dan yang paling berat, cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya.

Stadium OMA Perubahan mukosa telinga tengah sebagai akibat infeksi dapat dibagi atas 5 stadium. Keadaan ini berdasarkan pada gambaran membran timpani yang diamati melalui liang telinga luar. 1. Stadium oklusi tuba Eustachius Tanda oklusi tuba Eustachius ialah gambaran retraksi membran timpani akibat terjadinya tekanan negatif di dalam telinga tengah akibat absorpsi udara. Kadangkadang membran timpani tampak normal atau berwarna keruh pucat. Efusi mungkin telah terjadi, tetapi tidak dapat dideteksi. Stadium ini sukar dibedakan dengan otitis media serosa yang disebabkan oleh virus atau alergi. 2. Stadium hiperemis (stadium pre-supurasi) Pada stadium hiperemis, tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau seluruh membran timpani tampak hiperemis serta edema. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar terlihat.

3. Stadium supurasi Edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial, serta terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani, menyebabkan membran timpani menonjol (bulging) ke arah liang telinga luar.

Pada keadaan ini pasien tampak sangat sakit, nadi, dan suhu meningkat, serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Apabila tekanan pus di kavum timpani tidak berkurang, maka terjadi iskemia,akibat tekanan pada kapiler, serta timbul tromboflebitis pada vena-vena kecil dan nekrosis mukosa dan submukosa. Nekrosis ini pada membran timpani terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan berwarna kekuningan, di tempat ini akan terjadi ruptur.

Bila tidak dilakukan insisi membran timpani (miringotomi) pada stadium ini, maka kemungkinan besar membran timpani akan ruptur dan nanah keluar ke liang telinga luar. Dengan melakukan miringotomi, luka insisi akan menutup kembali, sedangkan apabila terjadi ruptur (perforasi) tidak mudah menutup kembali. 4. Stadium perforasi Karena beberapa sebab seperti terlambatnya pemberian antibiotika atau virulensi kuman yang tinggi, maka dapat terjadi ruptur membran timpani dan pus keluar mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Anak yang tadinya gelisah sekarang menjadi tenang, suhu badan turun dan anak dapat tertidur nyenyak. Keadaan ini disebut otitis media akut stadium perforasi.

5. Stadium resolusi Bila membran timpani tetap utuh, maka keadaan membran timpani perlahanlahan akan normal kembali. Bila sudah terjadi perforasi, maka sekret akan berkurang dan akhirnya kering. Bila daya tahan tubuh baik atau virulensi kuman rendah, maka resolusi dapat terjadi walaupun tanpa pengobatan. OMA berubah menjadi OMSK bila perforasi menetap dengan sekret yang keluar terus-menerus atau hilang timbul. OMA dapat menimbulkan gejala sisa (sequele) berupa otitis media serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa terjadinya perforasi. Gejala klinik Gejala klinik otitis media akut tergantung pada stadium penyakit serta umur pasien. Pada anak yang sudah dapat berbicara keluhan utama adalah nyeri telinga, suhu tubuh tinggi dan biasanya ada riwayat batuk pilek sebelumnya. Pada anak yang lebih besar atau orang dewasa disamping rasa nyeri terdapat pula gangguan pendengaran berupa rasa penuh di telinga atau rasa kurang dengar. Pada bayi dan anak kecil gejala khas OMA adalah suhu tubuh tinggi sampai 39,5 C (stadium supurasi), anak gelisah dan sulit tidur, tiba-tiba anak menjerit waktu tidur, diare, kejang-kejang. Bila terjadi ruptur membran timpani

maka sekret mengalir ke liang telinga luar, suhu tubuh turun dan anak tertidur tenang. Diagnosis Diagnosis OMA harus memenuhi tiga hal berikut.
1. 2.

Penyakitnya muncul mendadak (akut) Ditemukannya tanda efusi (efusi: pengumpulan cairan di suatu rongga tubuh) di telinga tengah. Efusi dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut: (1)menggembungnya gendang telinga,

(2)terbatas/tidak adanya gerakan gendang telinga, (3)adanya bayangan cairan di belakang gendang telinga, (4)cairan yang keluar dari telinga.
3.

Adanya tanda/gejala peradangan telinga tengah, yang dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut: (1)kemerahan pada gendang telinga, (2)nyeri telinga yang mengganggu tidur dan aktivitas normal.

Penatalaksanaan Pengobatan OMA tergantung pada stadium penyakitnya. Tujuan dari pengobatan yaitu menghilangkan tanda dan gejala penyakit, eradikasi infeksi, dan pencegahan komplikasi. Pada stadium oklusi, tujuan terapi dikhususkan untuk membuka kembali tuba eustachius. Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0,5% dalam larutan fisiologik untuk anak <12 thn dan HCl efedrin 1% dalam larutan fisiologik untuk anak yang berumur >12 thn atau dewasa. Selain itu, sumber infeksi juga harus diobati dengan memberikan antibiotik. Pada stadium presupurasi, diberikan antibiotik, obat tetes hidung, dan analgesik. Bila membran timpani sudah hiperemi difus, sebaiknya dilakukan miringotomi. Antibiotik yang diberikan ialah penisilin atau eritromisin. Jika terdapat resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan asam klavunalat atau sefalosporin. Untuk terapi awal diberikan penisilin IM agar konsentrasinya adekuat di dalam darah. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. Pada anak diberikan ampisilin 4x50-100 mg/KgBB, amoksisilin 4x40 mg/KgBB/hari, atau eritromisin 4x40 mg/kgBB/hari.

Pengobatan stadium supurasi selain antibiotik, pasien harus dirujuk untuk dilakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh. Dengan miringotomi gejala- gejala klinis lebih cepat hilang dan rupture dapat dihindari. Selain itu, analgesik juga perlu diberikan agar nyeri dapat berkurang. Miringotomi adalah tindakan insisi pada pars tensa membran timpani agar terjadi drainese sekret telinga tengah. Miringotomi dilakukan bila ada cairan yang menetap di telinga setelah 3 bulan penanganan medis dan terdapat gangguan pendengaran. Miringotomi harus dilakukan secara a-vue (dilihat langsung), anak harus tenang dan dapat dikuasai agar membran timpani dapat terlihat dengan baik. Biasanya pada anak kecil dignakan anastesi umum. Lokasi miringotomi adalah di kuadran posteroinferior. Pada stadium perforasi, diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi dapat menutup kembali dalam waktu 7-10 hari. Stadium resolusi, maka membran timpani berangsur normal kembali, sekret tidak ada lagi dan perforasi membran timpani menutup. Bila tidak terjadi resolusi biasanya akan tampak sekret mengalir di liang telinga luar melalui perforasi di membrane timpani. Pada keadaan ini antibiotik dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. Komplikasi Sebelum ada antibiotika komplikasi dapat terjadi dari yang ringan hingga berat tetapi setelah ada antibiotika komplikasi biasanya didapatkan sebagai komplikasi dari otitis media supuratif kronis. OMA dengan perforasi membran timpani dapat berkembang menjadi otitis media supuratif kronis apabila gejala berlangsung lebih dari 2 bulan, hal ini berkaitan dengan beberapa faktor antara lain higiene, terapi yang terlambat, pengobatan yang tidak adekuat, dan daya tahan tubuh yang kurang baik. Komplikasi yang dapat terjadi adalah mastoidis, paralisis nervus fascialis, komplikasi ke intrakranial seperti abses ekstradural, abses subdural, meningitis, abses otak, trombosis sinus lateralis, otittis hidrocephalus, labirintis dan petrosis.

PEMBAHASAN Kenapa pasien ini didiagnosa otitis media akut stadium perforasi? Anamnesis Keluar cairan dari telinga kirinya sejak 2 minggu sebelum masuk rumah sakit Cairan berwarna putih kekuningan dan berbau Keluhan baru pertama kali dirasakan Nyeri telinga bagian dalam dan adanya pendengaran Pemeriksaan Fisik Untuk menegakkan diagnosis otitis media, perlu dilakukan pemeriksaan otoskopi. Ditemukan adanya adanya pengeluaran cairan berwarna putih pada canalis auditorius eksterna disertai perforasi sentral pada membran timpani telinga kiri dan reflex cahaya (cone of light) telinga kiri negatif. Kemungkinan stadium otitis medianya ialah stadium perforasi. Apa penyebab OMA dari kasus diatas? Penyebab yang mungkin sebagai pencetus otitis media pada pasien di atas ialah rhinitis yang sudah lama dialami. Pasien mengalami batuk pilek sudah lama. Dari pemeriksaan rinoskopi anterior didapatkan chonka nasalis inferior & media mengalami edema & hiperemis yang disertai adanya cairan mukus. Kemungkinan pasien mengalami rhinitis kronis. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penyebab dari otitis medianya ialah komplikasi dari rhinitis kronis. Bagaimana penatalaksanaan pada kasus diatas? Pada kasus diatas penatalaksanaan adalah: Pembersihan liang telinga dengan suction , Pemberian obat cuci telinga H2O2, Pemberian obat oral: Clindamycin ( Antibiotik ), Metil prednisolon ( Kotikosteroid ), Pseudoefedrin HCl. Sesuai dengan literatur Pada stadium perforasi, diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat. penurunan fungsi Panas badan disertai batuk pilek dirasakan sejak 1 minggu sebelum keluar cairan dari telinga Nyeri telinga dan panas badan dirasakan berkurang setelah keluar cairan dari telinga Pasien sering mengalami batuk pilek

DAFTAR PUSTAKA

Boies, dkk. 1997. Buku ajar penyakit THT Edisi 6. Jakarta : EGC Daly KA, Giebink GS.2000. Clinical epidemiology of otitis media. Djaafar, ZA. 2007. Kelainan Telinga Tengah. Telinga Hidung Tenggorokan, Edisi ke 6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Sosialisman & Helmi. Kelainan Telinga Luar dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Ed. ke-5. dr. H. Efiaty Arsyad Soepardi, Sp.THT & Prof. dr. H. Nurbaiti Iskandar, Sp.THT (editor). Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006