Anda di halaman 1dari 10

KONSEP PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN

Definisi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan


Pendidikan teknologi dan vokasi (bisa juga diterjemahkan pendidikan teknologi dan kejuruan atau disingkat PTK) atau dalam istilah berbahasa Inggris technical and vocational education, menurut UNESCO Convention on Technical and Vocational Education, bermakna "... merujuk pada segala bentuk dan jenjang dalam proses pendidikan yang melibatkan pengetahuan umum, studi teknologi dan sains terkait, serta penguasaan ketrampilan praktik, pengetahuan, perilaku dan pengertian terkait pekerjaan dalam berbagai sektor ekonomi dan kehidupan sosial". PTK dapat disediakan oleh "... institusi pendidikan atau melalui program kerjasama yang diselenggarakan bersama oleh institusi pendidikan di satu pihak dengan berbagai pihak yang terkait dunia kerja dari industri, pertanian, komersial, dll". Rumusan Pendidikan Kejuruan dikemukakan pula oleh Rupert Evans (1978) bahwa Pendidikan Kejuruan adalah bagian dari sistem pendidikan yang mempersiapkan seseorang agar lebih mampu bekerja pada satu kelompok pekerjaan atau satu bidang pekerjaan daripada bidang-bidang pekerjaan lainnya. Definisi ini mengandung pengertian bahwa setiap bidang studi adalah pendidikan kejuruan, sepanjang bidang studi tersebut dipelajari lebih mendalam daripada bidang studi lainnya dan kedalaman itu dimaksudkan sebagai bekal memasuki dunia kerja. Definisi menurut United States Congress (1976) dikatakan bahwa Pendidikan Kejuruan adalah program pendidikan yang secara langsung dikaitkan dengan penyiapan seseorang untuk pekerjaan tertentu atau untuk persiapan tambahan karier seseorang. Menurut Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 21 menyebutkan bahwa : Pendidikan Kejuruan merupakan jenjang pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Dalam buku Section for Educational Co-operatinn in Asia (1982). Vocational And Technical Teacher Preparation In Asia And The Pacific; National Institute for Educational Research (NIER), Tokyo, Japan dijelaskan ada perbedaan antara istilah Vocational Education dan Technical Education sebagai berikut :

Vocational Education : diartikan program pendidikan yang bertujuan untuk mempersiapkan tenaga kerja pada level juru (craftsman) atau perusahaan pada level dasar. Hal ini merefresentasikan suatu tahapan dari skill pekerja. Technical Education : diartikan sebagai program pendidikan yang bertujuan untuk mempersiapkan tenaga kerja pada level teknisi atau sub-profesional, yang biasanya tingkatannya berada satu level di atas craftsman akan tetapi levelnya berada di bawah profesional.

konsep-konsep yang melandasi PTK, meliputi : (1) dasar filsafat pendidikan kejuruan, (2) asumsi anak didik, (3) konteks sosial pendidikan kejuruan, (4) dimensi ekonomi pendidikan kejuruan dan (5) pendidikan kejuruan dan ketenaga kerjaan. Jadi PTK adalah suatu bidang yang sangat luas karena bisa melibatkan berbagai pihak mulai dari institusi pendidikan (dan pelatihan), bisa yang berstatus negeri atau swasta, bisa berada dibawah kementrian/dinas

pendidikan atau instansi teknis lain, bisa pula diselenggarakan oleh satu pihak atau kerjasama dua atau lebih pihak, bisa pula berbentuk pendidikan durasi panjang atau pelatihan durasi pendek. Di Indonesia bisa berbentuk SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), MAK (Madrasah Aliyah Kejuruan), Politeknik atau Sekolah Tinggi atau Akademi (dalam bentuk Program Diploma), BLK (Balai Latihan Kerja) yang dimiliki oleh pemerintah namun dikelola oleh instansi terkait, bisa pula dalam bentuk pendidikan profesi (seperti yang dikelola oleh asosiasi akuntan, dokter, advokat, dll), atau bahkan kursus-kursus ketrampilan tertentu (seperti komputer, mengemudi, juru ledak, juru las, dll). PTK adalah suatu bidang keilmuan yang sangat luas dan bersifat practical dan open. Bidang ini juga bersifat multi disiplin karena selalu tidak bisa berdiri sendiri namun melibatkan banyak bidang keilmuan lain. Bidang ilmu dasarnya adalah kependidikan, namun ketika masuk kedalam salah satu bidang vokasi (berkaitan dengan pekerjaan spesifik tertentu), maka bidang keilmuan lain juga akan terlibat secara erat. Bidang ilmu lain yang akan selalu terkait meliputi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) atau occupational health, manajemen sumber daya manusia (human resorce management) dan tentu saja bidang pendidikan karakter atau etos kerja. Bidang ini masih sangat langka dikembangkan di Indonesia, namun dalam banyak perguruan tinggi, PTK tercakup atau disinggung dalam bidang keilmuan Manajemen khususunya Manajemen SDM. Namun dunia pendidikan tinggi jurusan kependidikan juga turut berperan penting karena mulai memasukkannya kedalam jurusan khusus yaitu PTK. Di Indonesia, PTK diatur dalam UU Sistem Pendidikan Nasional dimana pendidikan teknologi & kejuruan dibagi menjadi 3 bagian, yaitu (1) Pendidikan Kejuruan: pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. (2) Pendidikan Profesi: pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. (3) Pendidikan Vokasi: pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal setara dengan program sarjana. A. Filosofi Pendidikan Kejuruan

Filosofi adalah apa yang diyakini sebagai suatu pandangan hidup yang diianggap benar dan baik. Dalam pendidikan kejuruan ada dua aliran filosofi yang sesuai dengan keberadaanya, yaitu eksistensialisme dan esensialisme.

Eksistensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengembangkan eksistensi manusia untuk bertahan hidup, bukan merampasnya. Sedangkan esensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengaitkan dirinya dengan sistem-

sistem yang lain seperti ekonomi, politik, sosial, ketenaga kerjaan serta religi dan moral.
B.Tujuan pendidikan kejuruan

Tujuan pendidikan kejuruan di Indonesia masih mendua, di satu sisi menyiapkan peserta didik memasuki dunia kerja, di sisi lain melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi.

Akibatnya lulusan sekolah menengah kejuruan tidak sepenuhnya memfokuskan perhatian untuk memasuki dunia kerja. Pendidikan kejuruan adalah pendidikan yang spesifik, demokratis, dapat melayani berbagai kebutuhan individu. Program pendidikan kejuruan tidak hanya menyiapkan peserta didik memasuki dunia kerja, tetapi juga menempatkan lulusannya pada pekerjaan tertentu. C. Sistem pendidikan kejuruan di Indonesia

Untuk meningkatkan keterampilan dan keahlian sumber daya manusia, perlu perubahan kebijaksanaan berkenaan dengan pendidikan kejuruan. Upaya-upaya itu antara lain perubahan dari sistem pendidikan supply-driven atas kebutuhan masyarakat luas ke sistem pendidikan demand-driven yang dipandu oleh kebutuhan pasar kerja, perubahan dari sistem pendidikan yang berbasis sekolah dengan pemberian ijazah ke sistem pendidikan yang memberikan kompetensi sesuai dengan standar nasional yang baku.

Salah satu upaya peningkatan keterampilan dan keahlian sumber daya manusia yang dikembangkan adalah sistem pendidikan kejuruan berdasarkan kompetensi yang dipacu oleh kebutuhan pasar. Pengembangan sistem ini didasarkan kepada asumsi bahwa sistem pendidikan kejuruan supply-driven yan diterapkan selama ini tidak dapat memenuhi kebutuhan pelanggan, baik pelanggan masa kini maupun pelanggan masa depan. Sistem pendidikan berdasarkan kompetensi mengupayakan agar keluaran dari suatu lembaga pendidikan kejuruan memiliki keterampilan dan keahlian yang relevan dengan kebutuhan pasar. Upaya ini dilakukan dengan mengembangkan suatu standar kompetensi dengan masukan dari industri dan badan usaha lain. Standar kompetensi yang dihasilkan selanjutnya digunakan sebagai pemberian sertifikat kompetensi. Dengan demikian maka sistem pendidikan kejuruan yang dikembangkan mempunyai ciri, di samping mengacu pada profesi dan keterampilan yang baku, juga dipandu oleh kebutuhan pasar kerja yang nyata. Untuk menjadi tenaga kerja yang profesional, siswa tidak hanya perlu memiliki pengetahuan dan keerampilan, tetapi perlu memiliki kiat ( arts). Pengetahuan dan keterampilan dapat dipelajari dan dilatih di sekolah, akan tetapi unsur kiat hanya dapat dikuasai melalui proses pembiasan dan internalisasi. Sekolah pada umumnya hanya dapat memberikan berbagai keterampilan dan pengetahuan dalam bentuk simulasi sehingga tidak mungkin diharapkan untuk menghasilkan tenaga kerja yang profesional. Oleh karena itu, diperlukan suatu kerjasama yang erat antara sekolah

dan industri, baik dalam perencanaan dan penyelenggaraan, maupun dalam pengolalaan pendidikan.Sehubungan dengan itu perlu dikembangkan suatu sistem pendidikan kejuruan yang disebut sistem ganda. Pendidikan sistem ganda adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan keahlian kejuruan yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di sekolah dan program program pengusaan keahlian yang diperoleh melalui bekerja langsung di dunia kerja, dan terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu.

Dalam PSG, lembaga pendidikan atau lembaga pelatihan lainnya dan industri secara bersama-sama menyelenggarakan suatu program pendidikan atau program pelatihan mulai dari perencanaan, penyelenggaraan, dan penilaian, sampai dengan upaya penempatan lulusan. Penaturan penyelenggaraan program kapan diselenggarakan di sekolah dan kapan diselenggarakan di industri dapat mempergunakan hour release, day release, atau block release.Komponen pendidikan Normatif, Adaftif, dan sub komponen Teori Kejuruan diselenggarakan di sekolah, sedangkan subkomponen Praktek Keahlian Produktif diselenggarakan di industri. Subkomponen Praktek Dasar Kejuruan dapat dilaksanakan di sekolah atau industri. D. Karakteristik Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Meskipun pendidikan kejuruan tidak terpisahkan dari sistim pendidikan secara keseluruhan, namun sudah barang tentu mempunyai kekhususan atau karakteristik tertentu yang membedakannya dengan pendidikan yang lain. Perbedaan ini tidak hanya dalam definisi, struktur organisasi dan tujuan pendidikannya saja, tetapi juga tercermin dalam aspek-aspek lain yang erat kaitannya dengan perencanaan kurikulum, yaitu :

1. Orientasi pendidikannya Keberhasilan belajar berupa kelulusan dari sekolah kejuruan adalah tujuan terminal, sedangkan keberhasilan program secara tuntas berorientasi pada penampilan para lulusannya kelak dilapangan kerja 2. Justifikasi untuk eksistensinya Untuk mengembangan PTK perlu alasan atau jastifikasi khusus yang ini tidak begitu dirasakan oleh pendidikan umum. Jastifikasi khusus adalah adanya kebutuhan nyata yang dirasakan di lapangan.

3. Fokus kurikulumnya Stimuli dan pengalaman belajar yang disajikan melalui pendidikan kejuruan mencakup rangsangan dan pengalaman belajar yang mengembangkan domain afektif, kognitif dan psikomotor berikut paduan integralnya yang siap untuk dipadukan baik pada situasi kerja yang tersimulasi lewat proses belajar mapupun

nanti dalam situasi kerja yang sebenarnya. Ini termasuk sikap kerja dan orientasi nilai yang mendasari aspirasi, motivasi dan kemampuan kerjanya.

4. Kriteria keberhasilannya Berlainan dengan pendidikan umum, kriteria untuk menentukan keberhasilan suatu lembaga pendidikan kejuruan pada dasarnya menerapkan ukuran ganda yaitu in school succes dan out of school succes. Kriteria pertama meliputi aspek keberhasilan siswa dalam memenuhi persyaratan kurikuler yang sudah diorientasikan ke persyaratan dunia kerja, sedang kriteria yang kedua diindikasikan oleh keberhasilan atau penampilan lulusan setelah berada di dunia kerja yang sebenarnya. 5. Kepekaannya terhadap perkembangan masyarakat Karena komitmen yang tinggi untuk selalu berorientasi ke dunia kerja, pendidikan kejuruan mempunya ciri lain berupa kepekaan atau daya suai yang tinggi terhadap perkembangan masyarakat dan dunia kerja. Perkembangan ilmu dan teknologi pasang surutnya dunia suatu bidang pekerjaan, inovasi dan penemuan-penemuan baru di bidang produksi barang dan jasa, semuanya itu sangat besar pengaruhnya terhadap kecenderungan perkembangan pendidikan kejuruan.

6. Perbekalan logistiknya Dilihat dari segi peralatan belajar, maka untuk mewujudkan situasi atau pengalaman belajar yang dapat mencerminkan situasi dunia kerja secara realistis dan edukatif diperlukan banyak perlengkapan, sarana dan perbekalan logistik yang lain. Bengkel dan laboratorium adalah kelengkapan umum yang menyertai eksistensi suatu sekolah kejuruan.

7. Hubungannya dengan masyarakat dunia usaha. Hubungan lebih jauh dengan masyarakat yang mencakup daya dukung dan daya serap lingkungan yang sangat penting perannya bagi hidup dan matinya suatu lembaga pendidikan kejuruan. Perwujudan hubungan timbal balik yang menunjang ini mencakup adanya dewan penasehat kurikulum kejuruan (curriculum advisory commite), kesediaan dunia usaha menampung anak didik sekolah kejuruan dalam program kerjasama yang memungkinkan kesempatan pengalaman belajar dilapangan. E. Peningkatan mutu lulusan

Kualitas SMK ditentukan setidaknya oleh mutu para lulusannya. Dukungan metode belajar mengajar juga jadi ujung tombaknya. Melihat latar belakang perkembangan kurikulumnya, tercatat bahwa pada kurikulum tahun 1994 telah dicantumkan istilah pembelajaran berbasis kompetensi atau competency based training (CBT). Namun pelaksanaannya belum optimal. Dan pada tahun 1999 Direktorat Dikmenjur meluncurkan suplemen untuk penyempurnaan pelaksanaan konsep pembelajaran

berbasis kompetensi ini. Konsep CBT merupakan gabungan antara pendidikan kentrampilan, pengetahuan, dan sikap.

Kurikulum berbasis kompetensi, lebih menekankan pada tujuan (hasil) atau out put nya, dan bukan pada proses yang terlalu mengacu pada text book (buku panduan pelajaran/buku paket). Dalam pelaksanaannya, diberikan pula rekomendasi tahapan-tahapan yang harus dicapai. Namun tahapan ini hanya bersifat acuan saja, dan proses pencapaiannya menjadi tanggung jawab dan kreatifitas sekolah masing-masing. Selain itu, Direktorat Dikmenjur juga memasukkan pelajaran komputer dan kewirausahaan sebagai mata pelajaran wajib bagi semua siswa SMK di seluruh Indonesia.

Idealnya pihak dunia usaha, industri, dunia kerja yang lebih berperan menentukan, mendorong, dan menggerakkan pendidikan kejuruan, karena mereka adalah pihak yang lebih berkepentingan dari sudut kebutuhan tenaga kerja. Asosiasi kejuruan di Indonesia merupakan kumpulan lembaga pendidikan kejuruan (SMK, Program Diploma, Politeknik, FT, FPTK, JPTK, P3G Teknologi dan Kesenian, dan Balai-balai Diklat Industri), serta kumpulan orang-orang sebagai pendidik (guru, instruktur, dosen, widyaiswara) pada lembaga pendidikan teknologi dan kejuruan.

kegiatan pembelajaran pada dasarnya adalah suatu penerapan atau pelaksanaan rencana atau pedoman pembelajaran yang telah dirumuskan sebagai sebuah kurikulum. Kaitan dengan pembelajaran yang dilaksanakan pada program produktif di SMK, maka pembelajaran program produktif merupakan implementasi kurikulum sebagai rencana pembelajaran yang dilaksanakan dalam aktivitas belajar-mengajar program produktif di dalam kelas maupun di luar kelas untuk memberikan pengalaman belajar kepada siswa.

Model pembelajaran berbasis proyek yang dikembangkan oleh penulis adalah sebagai suatu implementasi desain kurikulum yang pada dasarnya dapat diarahkan dalam perspektif mutual adaptation atau enhanctment. Perspektif mutual adaptation, diartikan bahwa guru sebagai pelaksana kurikulum dapat mengadakan penyesuaian-penyesuaian berdasarkan kondisi riil, kebutuhan, dan tuntutan perkembangan secara kontekstual. Perspektif ini berangkat dari kenyataan empirik, bahwa pada kenyataannya sangat sulit suatu desain kurikulum dapat diimplementasikan sesuai rencana, sehingga perlu diadaptasi sesuai kebutuhan setempat. Ini difahami oleh akhli kurikulum sebagai suatu perbedaan (discrepancy) sebagaimana yang dijelaskan dalam buku Making Change (Mann, dalam Hasan S. Hamid, 2007:2) yang memberi ilustrasi discrepancy tersebut melalui lukisan tentang ayunan yang serupa tapi tidak sama

antara apa yang direncanakan dengan yang dilaksanakan. Sedangkan perspektif enhanctment, memiliki ciri bahwa guru sebagai pelaksana kurikulum dapat melakukan upaya-upaya untuk mengoptimalkan implementasi kurikulum, dalam bentuk pengembangan model pembelajaran. Seperti yang dikemukakan oleh Miller dan Seller (1986: 246), dan juga dijelaskan oleh Jackson (1991:428-429) dalam kategori pendekatan implementasi kurikulum, bahwa perspektif ini berangkat dari pemahaman implementasi kurikulum yaitu sebuah proses yang berkembang, sehingga di dalamnya akan berinteraksi berbagai faktor penentu, seperti tujuan, metoda, isi, alat dan bahan, evaluasi, serta siswa itu sendiri. Karakteristik model yang dikembangkan, antara lain mancakup: a. Need, yaitu bahwa model yang dikembangkan secara empirik sejalan dengan kebutuhan akan pembelajaran berbasis kompetensi seperti yang saat ini menjadi isu pengembangan di SMK b. Clarity, yaitu kejelasan dalam substansi/isi dan struktur, yang teruji memberikan kejelasan bagi guru dalam pelaksanaan tugas c. Complexity, yaitu bahwa model yang dikembangkan secara empirik memiliki kemudahan untuk diterapkan oleh guru serta mendukung pelaksanaan tugas guru; d. quality/practicality, yaitu bahwa model yang dikembangkan memiliki nilai kepraktisan dalam penerapan, serta mampu meningkatkan kualitas kompetensi siswa secara signfikan. Model yang dikembangkan ini oleh penulis ini diharapkan merupakan langkah inovatif pembelajaran dalam program produktif di SMK. Ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang dapat dipertangungjawabkan. Serangkaian metode, ujicoba, dan analisis menunjukkan adanya peningkatan kompetensi siswa dan dukungan terhadap pelaksanaan tugas guru. Peningkatan kompetensi siswa sesuai dengan standar kompetensi yang telah dirumuskan dan diharapkan oleh penulis telah terwujud sebagai sasaran utama penelitian. Standar kompetensi untuk menilai hasil pembelajaran dalam program produktif yaitu kompetensi siswa, sesuai dengan evaluasi hasil belajar yang dikembangkan, bersifat criterionreferenced artinya mendasarkan kepada acuan standar (patokan) yang telah dirumuskan

sebelum pembelajaran dilaksanakan. Perumusan kompetensi tersebut sejalan dengan pendapat Spencer and Spencer (1993:9): "A competency is an underlying characteristic of an individual that is causally related to criterion-referenced effective andor superior performance in a job or situation". Pendapat Spencer and Spencer tersebut dapat diartikan bahwa

kompetensi yang dihasilkan dari pembelajaran program produktif pada dasarnya merupakan karakteristik dasar siswa yang diukur berdasarkan acuan tertentu (criterion-referenced) serta sesuai dengan situasi atau pekerjaan tertentu. Pendapat dari Spencer and Spencer sesuai dengan pernyataan Burke (1995:13) yang menguraikan spesifikasi kompetensi sebagai hasil pendidikan dan pelatihan sebagai berikut: "Competency statements facilitate criterion referenced assessment". Pernyataan dari Spencer and Spencer dan Burke tersebut dapat dijadikan acuan bahwa model pembelajaran berbasis proyek dengan menerapkan evaluasi berdasar acuan patokan (criterion-referenced) dapat diterapkan di SMK.

RANGKUMAN PERTANYAAN 1. Prof.Dr.H. Ali Ramdhani, STP, MT

2. Dr. Agus Setiawan, M.SI

3. Prof. Dr. H. Asari Djohar, Mpd

4. Prof. Dr. H. Sumarto,Msie

5. Dr. H. Danny Meirawan, M.Pd