Anda di halaman 1dari 15

Pembuatan Tahu

12/03/08

A. Sejarah Tahu
Tahu adalah makanan bergizi yang terbuat dari kacan kedelai. Menurut sejarahnua tahu pertama kali di buat oleh masyarakat Tiong Hoa. Di Cina tahu sudah merakyat dan menjadi makanan populer sama halnya dengan di Indonesia. Sebelum popular di Asia Tenggara, tahu terlebih dahulu menyebar ke Jepangdan dikenal dengan nama Tofu. Karena prosesnya ayng mudah dan bahan-bahnnya yang murah, tahu kemudian dibuat oleh masyarakat Indonesia. Makanan ini pun digemari oleh selulruh lapisan masyarakat. Tahu banyak ragamnya, misalnya tahu putih, tahucokelat atau tahu putih yang sudah digoreng tahu kuning, tahu kediri, tahu sumedang, tahu cina, dan tahupong, dari semarang. Kedelai yang biasa digunakan merupakan kedelai impor dari USA.

A. Proses Pembuatan Tahu


Sebenarnya proses pembuatan tahu tidak serumit yang kita bayangkan. Hanya perlu ketelatenan dalam proses pembuatannya. Kunci utama pembuatan tahu adalah melarutkan kandungan protein yang terdapat di dalam kedelai dengan air kemudian memadatkannya kembali hingga menjaditahu. Proses pembuatan tahu yang sering dilakukan sebagai berikut :

A. Memilih Bahan Baku


Untuk membuat tahu dengan kualitas yang baik, sebaiknya kedelai yang digunakan adalah kedelai impor yang banyak tersedia di pasaran. Pasalnya penggunaan kedelai local memiliki beberapa kendala di antaranya berukuran kecil, harganya relatif lebih mahal, dan persediaanya terbatas di pasaran. Selain itu, kedelai yang digunakan sebaiknya masi utuh atau tidak terkena hama bubuk. Ciri kedelai yang kualitasnya jelek yakni mengambang jika direndam di dalam air. Kedelai yang mengambang ini sebaiknya tidak digunakan atau dibuang saja. Selain kedelai, bahan baku lainnya yang diperlukan dalam pembuatan tahu adalah biang tahuatau bubuk tahu (sulfat kapur ), asam cuka, dan air kelapa. Bahan ini diperlukan untuk mencetaktahu agar menggumpal atau keras setelah dimasak. Selain biang tahu, bahan lain yang bisa digunakan adalah manyon atau air sisa hasil pengendapan sari tahu yang didiamkan selama satu hari. Air sisa sari tahu ini bisa digunakan untuk mengganti bahan penggumpal atau biang tahu. Air mempunyai peranan penting dalam pengolahan tahu. Umumnya, air sering digunakan untuk mencuci kedelai, merendam biki kedelai campurkan sewakru penggilingan biji kedelai dan perebusan bubur kedelai agar tidak merusak kualitas rasa tahu air yang digunakan sebaiknya air sumur bersih yang tidak tercampur kaporit.

B. Menyiapkan Peralatan
1. Beberapa alat yang dibutuhkan untuk membuat tahu sebagai berikut : Bak atau drum untuk merendam kedelai Drum yang bisa dipakai adalah drum bekas oli ber kapasitas liter drum yang demikian ini mempunyai daya tahan yang lama. Drum untuk memasak Drum biasanya digunakan untuk menggantikan panic sebab drum mempunyai kapasitas lehih banyak daripada panic dan lebih awet digunakan selain itu drum juga digunakan untuk mengendapkan sari kedelai dan untuk menyimpan air bersihkarena itu setidaknya dibutuhkan empat drum besar untuk membuat tahu. Mesin penggiling tahu Mesin penggiling tahu terdiri atas mesin penggerak dan mesin penggiling umumnya bahan bakar mesin penggiling tahu ini ada yang menggunakan bensin dan ada juga yang menggunakan solar. Tungku bakar Tungku bakar digunakan untuk menggantikan kompor. Tungku bakar biasa dibuat dari tanah dengan mengguinakian kayu sebagai bahan bakarnya pasalnya bahan bakar kayu lebih murah biayanya dibandingkan dengan minyak tanah. Namun, untuk daerah perkotaan susah mendapatkan kayu bakar kompor minyak bisa menjadi alternatif. Kain atau saringan tahu Kain atau saringan tahun ini digunakan untuk menyaring sari kedelai dari alas ketika mencetak tahu kain berukuran 1, 80 meter bisa dipakai untuk mencetak tahu sebanyak empat blabak. Blabak atau cetakan tahu Belabak atau cetakan tahu terbuat dari anyaman bambu dengan ukuran 60 x 60 cm. Bagian tepinya terbyat dari kayudengan tinggi 60 cm dan bisa dilepas blabak ini hanya digunakan ketika mencetak tahu. Ember atau baskom plastik besar Ember atau baskom plastik besar yang mampu menampung air lebih dari 50 liter digunakan untuk menampung manyonkedelai yang sudah digiling dan untuk pekerjaan lain dalam proses pembuatan tahu sebaiknya disediakan lebih dari 10 ember atau baskom. Rak bambu Rak bambu dalam pembuatan tahu berfungsi untuk menaruh blabak yang berisi tahu setelah peoses pencetakan dan untuk menyimpan tahu sebelum dijual rak yang terbuat dari bamboo ini panjangnya mengikuti panjang ruang tempat pembuatan tahu sementara itu lebarnya mengikuti labar balbak yang digunakan untuk mencetak tahu rak bambu ini dibuat bertingkat hingga bisa digunakan untuk menysun banyak blabak.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Selain peralatan tersebut kebutuhan pokok lain yang barus selalu tersedia adalah air bersih karena itu sebaiknya dibuat sumur agar tidak selalu mengandalkan air dari perusahaan air minum (PAM). Air PAM, terutama didaerah perkotaan buasanya

mengandung kaporit yang bisa memengaruhi cita rasa tahu dan menghambat proses fermentasi.

B. Tahapan Membuat Tahu


Berikut ini merupakann tahapan pembuatan tahu yang umum dilakukan oleh para pembuat tahu di daerah JawaTengah 1. Cuci kedelai dengan air bersih untuk membuang kotoran yang masih tercampur dengan kedelai batu-batu dan biji lain yang bukan kedelai juga sebaiknya dibuang. 2. Rendam kedelai dengan air bersih selama 3-4 jam perendaman kedelai ini sebaiknya menggunakan air bersih agar tidak mengutangi cita rasa tahu yang dihasilkan setelah merendam kedelai dicuci dengan air bersih hingga berkali-kali larena jika tidak bersih tahu yang dihasilkan akan berasa asam seterlah itu kedelai ditiriskan untuk digiling dengan mensin penggiling 3. Kedelai yang sudah direndam selanjutnya digiling dengan mesin pengiling sampai halus sewaktu digiling sebaiknya kedelai dicamput dengan air para perajin tahu umumnya membuat kran tepat di atas tempat masuknya kedelai kran ini berguna untuk mengocorkan air ketika kedelai sedang digiling namun air yang digunakan sebainya air hangat agar bau khas kedelainya bisa sedikit berkurang. 4. kedelai yang sudah digiling halus selanjutnya direbus hingga matang. Perebusan dilakukan selama 20-30 menit atau hingga air mendidih. Umumnya, para pengrajin tahu merebus kedelai halus kedalam drum oli bekasa berukuran 200 liter. Perebusan dilakukan dengan bahan bakar berupa kayu bakar selama perebusan adonantahu sekali-kali diaduk. 5. bubur kedelai yang sudah direbus dan matang kemudian diambil sari tahunya caranya bubur kedelai dibungkus dengan menggunakan kain screen atau lebih dikenal kauin saring tahu. Setelah itu, bubur tahu ini diberi pemberat, baik berupa batu ataupun balok. Tujuannya agar sari tahu keluar dan menyisakan ampasnya. Apmpas tahu ini kemudian dibuat menjadi tempe (tempe oncom atau gembus) atau bisa juga dijadikanmakanan ternak. 6. sari tahu hasil penyaringan selanjutnya diendapkan ke dalam wadah yang umumnya berupa bak semen bundar atau drum. Pengendapan ini oleh para

pembuat tahu sering disebut dengan pembumbuan. Agar sarinya mengendap dan keras menjadi tahu, sebaiknya dicampur dengan mayon. Selain dengan manyon pembuatan tahu juga bisa menggunakan choko atau asam cuka dan batu tahu lamanya pengendapan lebih kurang setengah jam jangan lupa untuk mengaduknya hingga rata takaran yang sering dipakai oleh pembuat tahu untuk menuangkan manyon adalah 50 liter untuk sekali masak tahu dengan 7 kg kedelai selain itu untuk asam cuka 3 ml perliter sari tahu dan untuk batu tahu atau kalsium sulfat sebanyak 1 gram per liter sari tahu. 7. Setelah sari tahu mengendap sebainya air dipisahkan dari endapan sebagian lagi bisa disimpan untuk pengendapan esok hari air inilah yang disebut dengan manyon cara memisahkan air dari endapan ini bisa dilakuakn dengan menaruh saringan dari bambu (ayakan ) kemudian air yang meresap dalam ayakan ini dipisahkan ke tempat lain dengan mnggunakan gayung. 8. Endapan yang tersisa kemudian dicetak dalam blabak yang sudah dialasi dengan kain saringan tahyu cara pengambulannya dilakukan dengan serokan almunium setelah endapan dituang dan tigginya ssudah hampir rata dengan bibir kotak pembatasa kain saringan tahu yang tersisa dilipat ke atas sementara itu bagian atasnya ditutup lagi dengan alas blabak lainnya blabak untuk penutup ini selanjutnya bisa diisi dengan endapantahu lagi untuk dicetak maksimala penumpukan blabak tahu adalah lima tumpuk setelah selelesai diamkan selamam 15 menit 9. Setelah dicetak tahu dibujkan dan dipindahkan ke belabak lain yang diletrakkan di atas rak tujuannya adalah untuk mengentaskan kadar airnya lima menit kemudian tahu siap dipotong-potong sesuai selera proses pembuatan tahu sejak dari penggilingan sampai menjadi tahu memakan waktu satu jam. 10. untuk tahu putih setelah dipotong-potong tahu siap dijual. Sementara itu, untuk tahu cokelat digoreng dulu hingga matang , lebih kurang selama satu menit. Selain itu tahu putih dan tahu cokelat di daerah Jawa Barat ada juga tahu kuning tahu kuning ini adalah tahu putih biasa yang direndam air kunyit tahu kuning ini rasanya jauh lebih gurih tujuan perendaman tahu dalam larutan kunyit adalah untuk mengawetkan tahu tahu yang diawetkan dalam larutan kunyit ini sebenarnya lebih sehat daripada tahu yang diawetkan dengan laruatan formalin atau tahu yang diberi pewarna dengan zat pewarna kimia.

C. Agar Tahu Tahan Lama Disimpan


Kadang-kadang tahu yang tidak laku harus diawetkan agar bisa di jual atau bisa dikonsumsi pada hari berikutnya untuk mempertahankan kesegaran tahu para pembuat tahu biasanya merendam tahu kedalam air bersih. Tahu dengan perlakuan semacam ini biasanya bisa awet dan layak dikonsumsi sampai tiga hari teknik lainnya adalah dengan cara merendam ke dalam larutan kunyit kunyit yang dibutuhkan sebanyak 1-2 jari perliter air kunyit ini sebelumnya di parut dulu dan dicapurkan air kemudian disarimg air hasil saringan inilah yang digunmakan untuk merendam tahu8 selain direndam tahu yang digoreng umumnya juga lebih tahan lama dan tyahan dalam lengangkuatan. Tahu yang sudah dibeli dan tidak langsung dikonsumsi bisa disimpan lama dalam kulkas atau lemari es caranyatahu direbus dulu kedalam air hingga mendidih lalu diamkan selam 10 menit setelah matang tahu dibungkus dengan plastik rapat dan dimasukkan kedalam kulkas perlakuan ini terbukti bisa membuat tahu tahan disimpan selama tujuh hari dan layak dikonsumsi. Untuk menjaga kualitas cita rasa tahu sebaiknya tidak menggunakan bahan pengawet dalam pembuatannya cara tradisional yang biasa dilakukan adalah dengan menggunakan campuran air sisa pembuatan tahu atau manyonsementara itu starter bisa dibuat dari asam cuka atau batu tahu. Kadang kadang tahu yang sudah dibikin berasa asam berdasarkan pengalaman para pembuat tahu tahu yang asam ini diakibatkan oleh kotornya tempat pembuatan tahu, terutama tempat penyimpanan air sari tahu atau manyon. Karena itu tempat penyimpanan manyon sebaiknya sering dibersihkan dengan air bersih tanpa deterjen agar tahu tidak berubah rasa. sumber : buku Membuat Tahu Dan Tempe Karangan :Redaksi Agromedia Catatan :
1 kilo kacang kedelai paling jadinya 8-10 potong tahu ukuran kecil, itu juga tergantung proses pembuatannya , karena titik kritisnya terdapat pada saat proses pemeresan bubur kacang kedelai dan pemberikan larutan asam
inggityunitasari 2 weeks ago

manyon itu larutan asam yang dihasilkan dari sisa pembuatan tahu yang sudah menggumpal bisa juga diganti dengan cuka asam

Cara Membuat Tempe


Tempe dan tahu merupakan makanan tradisional sebagian besar masyarakat Indonesia, namun ketahuilah bahwasanya saat ini Tempe telah menyebar keseluruh penjuru dunia. Kaum vegetarian di seluruh dunia banyak yang telah menggunakan tempe sebagai pengganti daging. Akibatnya sekarang tempe diproduksi di banyak tempat di dunia, tidak hanya di Indonesia. Berbagai penelitian di sejumlah negara, seperti Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat. Teknik pembuatan tempe ini telah dikerjakan masyarakat Indonesia khususnya bermula dari masyarakat Jawa selama beberapa abad yang lalu dengan prosedur pembuatannya masih sangat sederhana. Berbagai bahan dasar yang dapat digunakan dalam pembuatan tempe, tetapi yang paling populer dan paling banyak dipergunakan adalah tempe berbahan dasar kedelai. Untuk memperoleh tempe yang berkualitas baik, maka kedelai yang digunakan juga harus yang berkualitas baik dan tidak tercampur dengan biji-bijian yang lain, seperti jagung, kacang hijau dan biji-bijian lainnya. Selain itu, prosedur pengolahan harus dilakukan dengan cermat. Proses pembuatan tempe pada dasarnya adalah proses menumbuhkan spora jamur tempe, yaitu Rhizopus sp., pada biji kedelai. Dalam pertumbuhannya, Rhizopus sp. membentuk benang-benang yang disebut sebagai benang hifa. Benangbenang hifa ini mengikatkan biji kedalai yang satu dengan biji kedelai lainnya, sehingga biji-biji kedelai ini membentuk suatu massa yang kompak. Massa kedelai inilah yang selanjutnya disebut sebagai tempe. Selama masa pertumbuhannya, jamur Rhizopus sp. juga menghasilkan enzim yang dapat menguraikan protein yang terdapat dalam biji kedelai, sehingga protein-protein dalam biji kedelai ini mudah dicernakan. Selama masa pertumbuhan jamur Rhizopus sp. Selain Rhizopus, diperkirakan banyak jenis mkiroorganisme lain yang mungkin turut campur, tetapi tidak menunjukkan aktifitas yang nyata. Namun demikian, aktifitas yang nyata dari mikroorganisme yang mungkin turut campur ini akan terlihat setelah aktifitas pertumbuhan Rhizopus sp. melampaui masa optimumnya, yakni setelah terbentuknya spora-spora baru yang berwarna putih-kehitaman. Hal ini dapat diketahui, terutama pada tempe yang dibiarkan atau disimpan dalam suhu kamar, yaitu dengan terciumnya bau amoniak. Adanya bau amoniak pada tempe menunjukkan bahwa tempe tersebut mulai mengalami pembusukan. Bau amoniak ini masih terasa sekalipun tempe telah dimasak, sehingga dapat menurunkan cita rasa konsumen. Oleh karena itu, agar diperoleh tempe yang berkualitas baik dan tahan agak lama, maka selama proses pembuatan tempe perlu diperhatikan mengenai sanitasi dan kemurnian bibit (inokulum) yang akan digunakan. A. ALAT DAN BAHAN B. 1 ALAT 1. Baskom 2. Saringan 3. Dandang 4. Kipas Angin /Kipas 5. Sotel kayu 6. Tampah 7. Kompor 8. Peralatan lain yang diperlukan B. 2 BAHAN 1. Kacang kedelai 2. Ragi tempe (inokulum RAPRIMA) atau biakan murni Rhizopus sp.

3. Kantong plastik, atau daun pisang, atau daun jati. B. CARA KERJA 1. 2. 3. Cucilah tampah, ayakan, kipas dan cukil yang akan digunakan, kemudian dikeringkan. Bersihkan kacang kedelai dari bahan-bahan lain yang tercampur, kemudian cuci hingga bersih. Rendam kacang kedelai yang telah dicuci bersih selama 12-18 jam dengan air dingin biasa (proses hidrasi agar biji kedelai menyerap air sebanyak mungkin ). 4. 5. 6. Lepaskan kulit biji kedelai yang telah lunak, kemudian cuci atau bilas dengan menggunakan air bersih. Kukus / rebus biji kedelai tersebut sampai empuk. Setelah biji kedelai terasa empuk, tuangkan biji-biji tersebut pada tampah yang telah dibersihkan, lalu diangin-angin dengan kipas/ kipas angin sambil diaduk-aduk hingga biji-biji tersebut terasa hangat. 7. Taburkan ragi tempe (RAPRIMA) yang telah disiapkan sedikit demi sedikit sambil diaduk-aduk supaya merata (1,5 gram ragi tempe untuk 2 kg kedelai). 8. Siapkan kantong plastik atau daun pisang, atau daun jati untuk pembungkus. Bila kantong plastik yang digunakan sebagai pembungkus, berilah lubang-lubang kecil pada kantong tersebut dengan menggunakan lidi atau garpu. 8. Masukan kedelai yang telah diberi ragi tempe (RAPRIMA) ke dalam pembungkusnya, atur ketebalannya sesuai dengan selera 9. Proses fermentasi kacang kedelai ini pada suhu kamar selama satu atau dua hari atau hingga seluruh permukaan kacang kedelai tertutupi jamur. Catatan: 1. 1.Perhatikan kebersihan tempat kerja dan kebersihan peralatan kerja akan meningkatkan kualitas tempe yang dihasilkan. 2. 2. Suhu ruang yang lebih hangat mempercepat proses fermentasi jamur pada tempe.

Membuat Sendiri Toge (Tauge)


Posted on August 18, 2011 by Tim Olvista

Toge adalah salah satu bahan makanan favorit orang Indonesia. Toge dapat dimasak begitu saja sebagai sayuran atau merupakan campuran bahan pada berbagai jenis masakan tradisional maupun kuliner modern misalnya soto, gado-gado, bakwan, tahu goreng, dsb. Toge adalah makanan yang sehat karena mengandung protein nabati karena terbuat dari kacang hijau (atau terbuat dari kacang kedelai). Bagaimana cara membuat toge (tauge/taoge)?

Toge bisa dibuat sendiri di rumah

Bahan:

100 gr kacang hijau Wadah berlubang-lubang (bisa pakai bakul bambu, bakul plastik, kukusan, saringan, dsb) Baskom Serbet bersih/tisu dapur Air Cuci kacang hijau sampai bersih (kalau tidak bersih, toge yang dihasilkan agak kecoklatan) Rendam kacang hijau semalam. Masukkan serbet bersih/tisu dapur sebagai alas dalam wadah berlubang. Tebarkan kacang hijau di atas serbet. Lalu, siram dengan air sampai keseluruhan serbet alas menjadi basah.

Cara Membuat Toge:

Tutup wadah dengan serbet bersih lainnya Tempatkan wadah dalam baskom agar airnya tidak menetes kemana-mana. Siram sebanyak 3 sampai 5 kali sehari (Saat menyiram, angkat wadah dari baskom). Setelah 2 3 hari sudah tumbuh kecambah setelah hari ke-5 sudah menjadi toge yang cukup panjang dan siap dipanen. Bersihkan toge dari kulit kacang yang berwarna hijau dengan cara dicuci berulang-ulang.

Bagaimana Membuat Toge Pendek (Kecambah)? Toge pendek dipanen setelah 3 hari, sedangkan toge yang lebih panjang dipanen setelah 5 atau 6 hari.

Tips: Semakin sering kecambah disiram semakin cepat pula pertumbuhannya dan semakin gemuk toge yang dihasilkan.

PEMANFAATAN LIMBAH INDUSTRI (ONGGOK) SEBAGAI PAKAN BABI/UNGGAS


Dalam rangka meningkatkan ketersediaan bahan pakan ternak yang berkualitas, serta mendukung peningkatan produksi peternakan untuk memenuhi kebutuhan akan protein hewani, serta meningkatkan ketahanan pangan nasional dengan meningkatnya populasi dari nutrisi yang lebih baik. Penggunaan onggok sebagai pakan ternak dihadapkan pada beberapa kendala, antara lain rendahnya nilai gizi (protein) dan masih tingginya kandungan sianida, untuk itu dicari teknik pengolahan yang dapat mening-katkan kandungan nutrisi dan menurunkan kandungan zat antinutrisi pada onggok. Melalui teknologi fermentasi suatu upaya dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas hasil ikutan agro-industri seperti onggok. Salah satu teknologi altematif untuk dapat memanfaatkan onggok sebagai bahan baku pakan ternak adalah dengan cara mengubahnya menjadi produk yang berkualitas, yaitu melalui proses fermentasi Setelah fermentasi kadar protein onggok meningkat dari sekitar 2,2 menjadi sekitar 18,6%. Produk yang dihasilkan diujicobakan pada berbagai jenis unggas. Penggunaan campuran onggok dan ampas tahu fermentasi 30 % (RD) memberikan produksi terbaik, berat telur tertinggi dan konversi ransum terendah Hasil ujicoba ,onggok terfermentasi sampai dengan 10% dapat digunakan dalam formulasi pakan ayam pedaging. Dan terhadap persentase bobot karkas, bobot hati dan rempela juga tidak ada perbedaan yang nyata. Namun, pemberian lebih tinggi dari 10%, perlu pengkajian lebih lanjut. Sebab pada penelitian sebelumnya pernah dilaporkan bahwa, penggunaan cassapro ubikayu, lebih dari 10% dapat menimbulkan dampak negatif, baik terhadap pertambahan bobot badan maupun konversi pakan.

PENDAHULUAN Onggok merupakan limbah padat agro industri pembuatan tepung tapioca yang dapat dijadikan sebagai media fermentasi dan sekaligus sebagai pakan ternak. Onggok dapat dijadikan sebagai sumber karbon dalam suatu media karena masih banyak mengandung PATI(75 %) yang tidak terekstrak, tetapi kandungan protein kasarnya rendah yaitu, 1.04 %berdasarkan bahan kering. Sehingga diperlukan tambahan bahan lain sebagai sumber nitrogen yang sangat diperlukan unmtuk pertumbuhan pakan(Nuraini et al.2007) Media fermentasi dengan kandungan nutrient yang seimbang diperlukakan untuk menunjang kapang lebih maksimal dalam memproduksi karoten sehingga dihasilkan suatu produk fermentasi yang kaya karoten.

Penggunaan onggok untuk bahan baku penyusunan pakan ternak masih sangat terbatas, terutama untuk hewan monogastrik. Hal ini disebabkan kandungan proteinnya yang rendah disertai dengan kandungan serat kasarnya yang tinggi (lebih dari 35%). Dengan proses bioteknologi dengan teknik fermentasi dapat meningkatkan mutu gizi dari bahanbahan yang bermutu rendah. Misalnya, produk fermentasi dari umbi ubikayu (Cassapro/ Cassava protein tinggi), memiliki kandungan protein 18-24%, lebih tinggi dari bahan asalnya ubikayu, yang hanya mencapai 3%. Demikian juga, onggok terfermentasi juga memiliki kandungan protein tinggi yakni 18% dan dapat digunakan sebagai bahan baku ransum unggas. PEMBAHASAN Penggunaan onggok sebagai pakan ternak dihadapkan pada beberapa kendala, antara lain rendahnya nilai gizi (protein) dan masih tingginya kandungan sianida, untuk itu dicari teknik pengolahan yang dapat mening-katkan kandungan nutrisi dan menurunkan kandungan zat antinutrisi pada onggok. Melalui teknologi fermentasi dengan Aspergillus niger diharapkan akan meningkatkan nilai gizi (yang dicarikan antara lain dengan meningkatnya kandungan protein kasar) dan menurunkan kandungan zat antinutrisi HCN pada onggok terolah. Menurut Supriyati (2003), sebelum difermentasi onggok tersebut harus dikeringkan terlebih dahulu, sampai kadar airnya maksimal 20% dan selanjutnya digiling. Untuk setiap 10 kg bahan baku pakan dibutuhkan 80 gram kapang A. niger dan 584,4 gram campuran mineral anorganik. Sedang untuk preparasinya adalah sebagai berikut: 10 kg onggok kering giling dimasukkan ke dalam baskom besar (ukuran 50 kg). Selanjutnya ditambah 584,4 gram campuran mineral dan diaduk sampai rata. Kemudian ditambah air hangat sebanyak delapan liter, diaduk rata dan dibiarkan selama beberapa menit. Setelah agak dingin ditambahkan 80 gram A. niger dan diaduk kembali. Setelah rata dipindahkan ke dalam baki plastik dan ditutup. Fermentasi berlangsung selama empat hari. Setelah terbentuk miselium yang terlihat seperti fermentasi tempe, maka onggok terfermentasi dipotong-potong, diremas-remas dan dikeringkan dalam oven pada suhu 60 derajat C dan selanjutnya digiling Onggok yang telah difermrntasi dianalisa kandungan nutriennya, antara onggok dan onggok terfermentasi berbeda. Yaitu, kandungan protein kasar dan protein sejati, masing-masing meningkat dari 2,2 menjadi 18,4%. Sedang karbohidratnya menurun dari 51,8 menjadi 36,2% Sementara kandungan serat kasar onggok terfermentasi cenderung menurun. (Tabel1). Hal ini terjadi karena selama fermentasi, kapang A. niger menggunakan zat gizi (terutama karbohidrat) untuk pertumbuhannya. Dan kandungan protein meningkat dari 2,2 menjadi 18,4%, dengan menggunakan urea dan ammonium sulfat sebagai sumber nitrogen.

Tabel 1. Komposisi gizi onggok

Gizi Protein kasar Karbohidrat Abu

Tanpa ferementasi (%BK) 2,2 51,8 2,4

Fermentasi (% BK) 18,6 36,2 2,6

Serat Kasar

10,8

10,46

Hasil penelitian Tabrany S, dkk menunjukkan bahwa fermentasi onggok dengan Aspergillus niger sampai 4 minggu secara statistik sangat nyata (p<0,01) meningkatkan kandungan protein kasar onggok terolah dan menurunkan (p<0,01) kandungan HCN onggok terolah serta cenderung meningkatkan kandungan GE onggok terolah. Sabrina et al (2008) telah mencoba memberikan campuran onggok dan ampas tahu fermentasi 30 % (RD) memberikan produksi terbaik, berat telur tertinggi dan konversi ransum terendah dibanding dengan perlakuan perlakuan lainya (Tabel 2) Tabel 2. Performa Ayam Dan Kualitas Telur yang Menggunakan Ransum Mengandung Onggok Fermentasi Dengan N.Crassa

Ransum Perlakuan Performa RA Konsumsi ransum (g/ekor/hari) Produksi Hen Day (%) Bobot Telur (g/butir) Massa Telur (g/ekor/hari) Konversi Ransum (g/hari) Warna kuning Telur Kolesterol (mg/100g) 112.01B 65.51D 61.21B 39.61D 2.85D 8.40D 207.20A RB 112.50B 67.94C 63.07B 40.86C 2.76C 9.00C 175.40B RC 114.02A 69.12B 67.22A 43.73B 2.62B 10.00B 143.40C RD 114.79A 71.40A 67.78A 48.40A 2.55A 10.60A 117.80 1.01 1.04 1.07 1.23 1.14 0.23 3.73 SE

Dari penelitian lainya penggunaan onggok fermentasi sampai dengan 10% dalam formulasi pakan ayam pedaging masih aman dan tidak menimbulkan dampak negatif. Artinya aman untuk dikonsumsi oleh ayam. Dan dapat meningkat produksinya masing-masing 9,7% dan 30,9%. Bobot telur juga meningkat pada ayam yang memperoleh ransum onggok terfermentasi (Tabel 2)

Tabel 3. Pengaruh Penggunaan Onggok Terfermentasi dalam Ransum terhadap Kualitas Telur.

Parameter Jumlah Telur (butir)

Tanpa Onggok Terfermrntasi 10.00

Dengan Onggok Terfermentasi 10-.00

Bobot Telur (g) Nilai Warna Kuning Haught Unit Tebal Kerabang

39.60 6.50 97.20 0.36

42.78 6.00 88.55 0.38

Pada percobaan di Balai Penelitian Ternak Balitnak), digunakan 144 ekor ayam pedaging umur tiga hari, dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan. Masing-masing perlakuan (P1, P2 dan P3) diberi formula pakan dengan tiga tingkatan onggok terfermentasi yang berbeda. Yaitu, P1: 0% (kontrol), P2: 5,0% dan P3: 10,0% (onggok terfermentasi) dalam pakan. Namun kandungan protein kasar dari ransum tersebut telah diperhitungkan dan untuk tiap-tiap formula adalah sebagai berikut: P1: 20,7%, P2: 21,04% dan P3: 21,05%. Percobaan dilakukan selama empat minggu. Sedang pertambahan bobot badan dari kelompok ayam yang memperoleh pakan onggok

terfermentasi 10% (P3) sebesar 960 gram. Dan ini tidak berbeda nyata dengan kelompok ayam P2 (5% onggok terfermentasi). Pada kedua pertakuan (P2 dan P3), juga tidak berbeda nyata dengan kelompok kontrol (0% onggok terfermentasi), yang mempunyai bobot hidup sebesar 988 gram. Konsumsi pakan juga tidak berbeda antar perlakuan dan selama perlakuan konsumsi pada kel. P1, P2 dan P3, masingmasing adalah 1882, 1912 dan 1869 gram. Sedang untuk nilai konversi pakan adalah 1,90 untuk semua perlakuan. Dengan demikian, maka onggok terfermentasi sampai dengan 10% dapat digunakan dalam formulasi pakan ayam pedaging. Dan terhadap persentase bobot karkas, bobot hati dan rempela juga tidak ada perbedaan yang nyata. Namun, pemberian lebih tinggi dari 10%, perlu pengkajian lebih lanjut. Sebab pada penelitian sebelumnya pernah dilaporkan bahwa, penggunaan cassapro ubikayu, lebih dari 10% dapat menimbulkan dampak negatif, baik terhadap pertambahan bobot badan maupun konversi pakan. KESIMPULAN Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa, mutu onggok dapat ditingkatkan sebagai bahan baku pakan sumber protein, yang pemanfaatannya dapat dikembangkan pada tingkat peternak. Bila ditinjau dari aspek kandungan proteinnya, maka kemungkinan ke depan, penggunaan onggok terfermentasi untuk pakan unggas memiliki prospek yang baik dan diharapkan dapat menggantikan jagung/dedak atau polard. Pengguna onggok terfermentasi produksi yang lebih baik dan biaya produksi lebih rendah. dalam ransum memberikan efesiensi

Pakan Ternak Limbah Industri Ubi Kayu/Singkong Sebagai Pakan Ternak

Limbah industri pengolahan singkong bisa bermanfaat sebagai pakan ternak. Limbah industri singkong yang sering disebut limbah tapioka atau onggok, harus melalui proses pengolahan terlebih dahulu untuk menjadi pakan ternak yang mempunyai nilai gizi tinggi. Keadaan ini sangat menguntungkan untuk menjaga keseimbangan lingkungan di sekitar pabrik tapioka. Limbah industri pengolahan singkong bisa bermanfaat sebagai pakan ternak. Limbah industri singkong yang sering disebut limbah tapioka atau onggok, harus melalui proses pengolahan terlebih dahulu untuk menjadi pakan ternak yang mempunyai nilai gizi tinggi. Keadaan ini sangat menguntungkan untuk menjaga keseimbangan lingkungan di sekitar pabrik tapioka. Peternak sudah biasa memanfaatkan limbah tapioka atau onggok untuk pakan ternak ruminansia (sapi, domba), karena onggok masih memiliki kandungan karbohidrat sebagai sumber energi, protein, lemak, dan air yang tinggi. Selain itu, onggok juga disulap menjadi bahan baku obat nyamuk bakar. Proses pembuatan onggok dilakukan dengan cara fermentasi dengan menggunakan Aspergillus niger (semacam kapang atau jamur). Ada juga campuran urea dan amonium

sulfat sebagai sumber nitrogen anorganik. Ini akan membuat onggok memiliki kandungan energi lebih tinggi sebagai pakan. Proses fermentasi akan membutuhkan waktu sekitar 5-7 hari. Sebelum onggok difermentasikan, terlebih dahulu dijemur di bawah terik matahari. Untuk fermentasinya, onggok yang telah kering dicampur dengan mineral dan diaduk rata tambahkan campuran air hangat 5-8 liter dan biarkan beberapa menit. Ini untuk menambah unsur mineral dalam onggok. Setelah onggok sudah dingin barulah dicampur Aspergillus niger. Campuran kapang inilah yang membuat onggok memiliki protein tinggi. Setelah didiamkan selama 5-7 hari, onggok diremas-remas dan dikeringkan, baru setelah itu siap dikemas dan dijual ke pabrik pakan ternak. Pengeringan adalah bagian penting sebelum dilakukan fermentasi pada onggok. Itu sebabnya, proses pengeringan onggok harus betul-betul sempurna dan dilakukan di bawah terik matahari. Pengeringan yang dilakukan di bawah terik matahari akan membuat onggok yang basah berubah bentuk seperti pasir kasar dan berwarna putih, sedangkan onggok yang setengah kering atau masih basah akan berbentuk seperti batu kerikil dengan warna coklat dan hitam. Memasuki musim hujan, proses pengeringan dengan bantuan oven akan membuat hasil onggok tidak bagus. Inilah yang membuat kualitas onggok berbeda. Makin putih dan kering, harga jual onggok akan makin mahal. Sebagai patokan harga onggok tergantung dari kualitas onggok yang dibedakan para penjualnya berdasarkan warna dan tingkat kekeringan onggok itu sendiri.

Manfaat dari pakan ternak sendiri adalah : 1. Untuk hidup pokok binatang ternak itu sendiri 2. Pertumbuhan 3. Reproduksi 4. Laktasi 5. Gerak dan kerja Pengolahan dan pemanfaatan limbah pisang dan singkong menjadi pakan ternak memiliki kelemahan dan keunggulan sendiri, diantaranya adalah : Kelemahan : 1. Kontinuitas tidak stabil 2. Serat kasar tinggi 3. Mengandung anti nutrisi Kelebihan : 1. Murah 2. Tidak bersaing dengan manusia 3. Nilai tambah usaha tani

Selain itu dipenyuluhan ini dijelaskan bagian-bagian yang dapat diolah menjadi pakan ternak seperti daun, batang bagian atas singkong, singkong kecil, ampas ( onggok ) dan untuk pisang yang dapat dimanfaatkan adalah batang, daun, jantung pisang, kulit, dan pisang kecil.