Anda di halaman 1dari 187

DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG

DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX


DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS
JEMBATAN CIKAWUNG DENGAN
STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG
TYPE BOX
TUGAS AKHIR
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Tugas Akhir Bidang Strukur Konstruksi
Jembatan Program Strata I Jurusan Teknik Sipil
Disusun oleh :
D A D A N G
NRP. 0411006
JURUSAN TEKNIK SIPIL
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI GARUT
2010
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
LEMBAR PENGESAHAN
TUGAS AKHIR
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS
JEMBATAN CIKAWUNG DENGAN
STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG
TYPE BOX
Disusun Oleh :
D A D A N G
NRP. 0411006
Garut, Agustus 2010
Menyetujui:
Pembimbing 1
Roestaman,Ir,MSc
Pembimbing 2
Sulwan Permana,ST,MT
Mengetahui
Ketua Jurusan Teknik Sipil
Sulwan Permana,ST, MT
NIDN : 04 0706 6502
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
ABSTRAK
Jembatan merupakan bagian dari suatu sarana transportasi yang
memerlukan teknologi dan konstruksi yang tepat guna, baik dari sisi desainya,
keamananya maupun dari sisi manfaat serta ekonomisnya. Perencanaan desain
alternatif stuktur beton prategang di Jalan Lintasan Selatan Jabar memiliki
bentang 40 meter dan lebar 11 meter, yang melintasi sungai Cikawung dengan
ketinggian muka air normal ( MAN ) 7 meter dari tepi gelagar jembatan yang
berada di sekitar wilayah pantai Selatan Provinsi Jawa Barat. Kondisi demikian
memerlukan suatu desain konstruksi jembatan yang tepat sesuai dengan kondisi
gerografis dan iklim daerah setempat.
Pada perencanaan sesungguhnya desain stuktur konstruksi bangunan
atas jembatan adalah konstruksi rangka baja bukaka. Dalam penulisan tugas akhir
ini sebagai desain alternatif penyusun memilih stuktur bangunan atas jembatan
dengan gelagar beton prategang berbentuk box yang disusun dengan jarak 270
cm dari as ke as gelagar, sehingga secara keseluruhan desain stuktur gelagar
jembatan berubah.
Jembatan Cikawung ini merupakan jembatan yang dibuat secara
bertahap ( lebar 1 x 11 m ), terdiri dari dua jalur dua arah dengan media ( trotoar 2
x 1,00 m lantai kendaraan 2 x 350 m dan tiang sandaran 2 x 0,5 m ). Gelegar
jembatan ini memakai teknologi beton prategang dengan menggunakan beton dan
baja bermutu tinggi, lantai kendaraan dari plat beton bertulang, gelagar jembatan
beton prategang berbentuk box ( kotak ) girder, pondasi menggunakan pondasi
sumuran dan trotoar mengikuti standar P.T Bina Marga.
Dasar-dasar prinsip perhitungan pembebanan, analisis stuktur dan lain-
lain mengacu dari beberapa buku referensi dan peraturan-peraturan yang berlaku
untuk perencanaan jembatan dan beton prategang. Hasil akhir dari analisis ini
menjadikan suatu gambaran desain stuktur bangunan atas jembatan, lengkap
dengan ukuran dimensi besaran penampang, besar gaya prategang yang
diperlukan dan layout kabel tendon.
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Umum
Propinsi Jawa Barat bagian Selatan merupakan daerah potensial dalam
sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, home industri, pariwisata
dan pertambangan. Guna memenuhi segala kebutuhan masyarakat di Jawa Barat
bagian Selatan yang masih terisolir , maka salah satu cara yang paling cepat
adalah membuka akses jalan yang bisa dengan mudah membuka keterisolasian
daerah Jawa Barat bagian Selatan, oleh sebab itu maka Pemerintah Propinsi Jawa
Barat sejak tahun 1996 melaksanakan pembangunan jalan dan jembatan Jabar
Selatan secara bertahap.
Jembatan adalah elemen kunci dari suatu jaringan jalan raya dan suatu
konstruksi yang berfungsi menghubungkan jalan yang terputus oleh sungai atau
fasilitas fasilitas bangunan lainnya yang dibuat oleh manusia. Dikatakan
demikian karena sekalipun kondisi suatu prasarana jalan yang terpaksa harus
memotong sungai sudah cukup baik tetapi jika jembatan di atas sungai tersebut
belum ada, atau jembatan yang sudah ada kondisinya sudah rusak, maka akan
terjadi suatu hambatan transportasi yang cukup berarti sehingga akan berdampak
kerugian terhadap aspek-aspek lain yang mempunyai ketergantungan pada faktor
lancarnya transportasi.
I.2. Latar Belakang
Salah satu Jembatan yang dibuat pada Proyek Pembangunan Jalan dan
Jembatan Jabar Selatan adalah Jembatan Sungai Cikawung dengan menggunakan
konstruksi rangka baja, berada di sekitar pesisir pantai selatan, konstruksi yang
digunakan kurang efektif dikarenakan bahan baja yang dipakai sangat rentan
terhadap korosif air laut, sehingga perlu diambil langkah alternatif dengan
menggunakan konstuksi jembatan beton.
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Salah satu keunggulan jembatan dari bahan konstruksi beton bertulang atau beton
prategang adalah tahan terhadap korosif, sehingga tidak perlu pemeliharaan rutin,
tetapi disamping memiliki keunggulan, jembatan beton bertulang juga memiliki
kelemahan diantaranya : bentang jembatan yang kurang panjang dibandingkan
dengan jembatan rangka baja, sulitnya melakukan pemeliharaan jika sudah terjadi
kerusakan pada bagian struktur dan kurang tahan terhadap gempa.
Dari pertimbangan pertimbangan tersebut maka diambil desain alternatif
Jembatan Cikawung yang tahan terhadap korosif air laut, dengan menggunakan
struktur beton prategang.

I.3. Maksud dan Tujuan
Maksud dari desain ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat sidang
Sarjana Teknik dan menerapkan salah satu type konstruksi jembatan beton
prategang sebagai salah satu konstruksi yang sesuai dengan iklim dan lingkungan
pantai, serta konstruksi alternatif dari konstruksi rangka baja Jembatan Cikawung,
yang memenuhi ketentuan persyaratan dimensi dan beban rencana sesuai dengan
kelas Jembatan itu sendiri, yaitu kelas I.
Tujuan dari desain adalah untuk mendapatkan sebuah desain alternatif
bangunan atas Jembatan Cikawung dengan konstruksi beton prategang, yang
mampu menahan beban beban rencana dan tahan gempa melalui suatu analisa
terhadap beban hidup dan beban mati.
1.4. Rumusan Dan Pembatasan Masalah
Pembahasan masalah menganalisis beban yang terjadi pada bangunan atas,
menganalisis bentuk dan dimensi penampang, menganalisis tegangan yang terjadi
pada bangunan atas jembatan, menganalisis kekuatan penampang gelagar beton
type box terhadap tegangan yang terjadi, menganalisis tegangan tendon yang
diperlukan untuk menahan beban yang terjadi
1.5. Sistematika Penyusunan
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Sistematika penyusunan Tugas Akhir Design Alternatif Bangunan Atas
Jembatan Cikawung Dengan Struktur Gelagar Beton Prategang Type Box sebagai
berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Menguraikan pembahasan secara umum mengenai latar belakang,
uraian umum lokasi dan materi serta sistematika penulisan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
Menguraikan pembahasan mengenai pengertian jembatan, jenis jenis
jembatan, sistem pembebanan jembatan, pengertian beton prategang,
system untuk pemberian prategang, kehilangan sebagaian prategang,
design lentur pada elemen beton prategang, design kuat geser dan
torsional, kontrol retak,defleksi dan lawan lendut, komponen struktur
tarik dan tekan beton prategang, dan sistem lantai beton prategang.
BAB III KOMPILASI DATA
Menguraikan pembahasan mengenai data data teknis Jembatan
Cikawung.
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
Menguraikan pembahasan mengenai hasil perhitungan desain dan
dimensi struktur bangunan atas jembatan serta beban maksimum yang
yang mampu ditahan oleh struktur.
BAB V ANALISIS PONDASI
Menguraikan dan analisis kekuatan/ daya dukung pondasi yang ada
terhadap beban beban yang terjadi akibat perubahan desain
konstruksi bangunan atas jembatan.
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
Menguraikan mengenai saran dan kesimpulan dari apa yang telah
diteliti dalam relevansinya dengan teori teori dasar yang ada.
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
2.1. Pengertian Jembatan
Jembatan adalah suatu konstruksi yang berfungsi untuk menghubungkan
suatu trase pada ujung rintangan yang satu dengan yang lainnya, dimana rintangan
tersebut berupa kondisi alam atau bangunan lainnya buatan manusia. Rintangan
tersebut adalah :
Kondisi alam seperti : sungai, lembah, selat (disebut bridge)
Kondisi bangunan buatan manusia seperti : bangunan rumah, jalan raya yang
lebih rendah permukaannya dimana jalan ini tidak mungkin dibuat suatu
lintasan yang menjadi suatu petmukaan, irigasi.
2.2. Klasifikasi Jembatan
Jembatan dapat dibagi kedalam beberapa klasifikasi, yaitu :
1. Ditinjau dari aspek teknisnya jembatan dapat dikalsifikasikan menjadi :
a. Jembatan Gelagar (Girder Bridge), yaitu jembatan yang terbuat dari
sebuah balok lantai sederhana yang disebut lantai jembatan, yang
bertumpu pada dua tumpuan. Pada jenis jembatan ini, beban mati yaitu
berat sendiri struktur dan berat beban hidup yang terdiri dari manusia dan
kendaraan mengakibatkan tegangan tekan pada bagian atas lantai dan
tegangan tarik pada bagian bawah. Salah satu keunggulan dari jembatan
gelagar merata adalah sistem pembebanan lebih sederhana yakni
pembuatan lantainya mudah dan dapat berulang ulang, sehingga jenis ini
sangat cocok untuk jembatan yang bentangan antar pilar tidak menjadi
pokok masalah, tetapi lebih mementingkan panjang totalnya.
b. Jembatan Kantilever Murni (Cantilever Bridge), yaitu jembatan dimana
satu ujung balok diikat pada pondasinya, sedangkan ujung yang satu lagi
bebas, sehingga secara teoritis ditengah tengah bentang jembatan dimana
kedua balok bertemu tidak ada gaya maupun tegangan.
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
c. Jembatan Kantilever Berimbang (balance kantilever), yaitu jembatan
dimana pada kedua sisi balok berbentang seimbang terhadap pilar
jembatan, sehingga jenis jembatan kantlilever berimbang praktis dapat
disambung sambung hingga panjang.
d. Jembatan Pelengkung (Arch Bridge ) .
Pada jembatan lengkung arch muatan atau beban pada lantai jembatan
dapat disalurkan pada kedua pondasi secara vertikal maupun horizontal.
Sehubungan dengan penyaluran beban yang efektif, jembatan jenis arch
banyak digunakan sebagai dasar dari konstruksi jembatan.
e. Jembatan Gantung.
Jembatan gantung dapat dibagi menjadi Jembatan Suspensi dan Jembatan
Cable Stay.
Pada jembatan gantung suspensi lantai jembatan digantung melalui
potongan potongan kabel Kx kepada kabel induk K1, disamping itu
seluruh beban lantai akhirnya dipikul oleh Pylon P
1
dan P
2
, sedangkan
pada jembatan gantung cable stay, seluruh beban lantai dipikul oleh kedua
Pylon P
1
dan P
2
melalui kabel- kabel C
n
.
f. Jembatan Rangka (Truss Bridge )
Jembatan rangka ( Truss bridge ) yaitu struktur jembatan yang terdiri dari
rangkaian batang batang baja yang dihubungkan satu dengan yang lain.
Beban/ muatan yang dipikul oleh struktur akan diuraikan dan disalurkan
kepada batang - batang baja struktur tersebut, sebagai gaya tekan dan gaya
tarik melalui titik titik pertemuan batang ( titik buhul ). Gaya gaya
eksentrisitas yang dapat menimbulkan momen sekunder selalu diusahakan
untuk dihindari, oleh karena itu garis netral tiap tiap batang yang
bertemu pada titik buhul harus berpotongan pada satu titik saja, untuk
menghindari timbulnya momen sekunder.
2. Klasifikasi jembatan menurut struktur secara umum :
a. Jembatan Gelagar (Girder Bridge)
b. Jembatan Pelengkung / Busur (Arch Bridge)
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
c. Jembatan Rangka (Truss Bridge)
d. Jembatan Portal (Rigid Frame Bridge)
e. Jembatan Gantung (Suspension Bridge),
f. Jembatan Kabel (Cable Stayed Bridge)
3. Klasifikasi jembatan menurut kegunaannya :
a. Jembatan jalan raya, yaitu jembatan di jalan raya yang
digunakan untuk lalunitas kendaraan dan manusia.
b. Jembatan kereta api, yaitu jembatan pada jalan kereta api yang
digunakan untuk lalulintas kertea api.
c. Jembatan jalan air, yaitu jembatan yang digunakan untuk
menyambungkan saluran air yang terputus, seperti talang air pada sungai.
d. Jembatan jalan pipa, yaitu jembatan yang digunakan
menyambungkan pipa air yang terputus, baik akibat kondisi alam maupun
buatan manusia, seperti jembatan pipa PAM.
e. Jembatan militer, yaitu jembatan yang digunakan untuk
kepentingan tentara /militar, seperti jembatan darurat untuk
menyebrangkan panser, kendaraan militer dll.
f. Jembatan penyebrangan, yaitu jembatan pada jalan raya yang
digunakan khusus untuk penyebrangan manusia pada jalan raya yang
lalulintas kendaraannya sangat padat.
4. Klasifikasi jembatan menurut meterial strukturnya :
a. Jembatan Baja, yaitu jembatan yang bahan strukturnya bangunan atasnya
terbuat dari baja, contoh : jembatan rangka baja.
b. Jembatan Komposit Baja Beton, yaitu jembatan yang struktur
bangunan atasnya terbuat dari baja dan beton
c. Jembatan Beton, yaitu jembatan yang struktur bangunan
atasnya terbuat dari beton bertulang.
d. Jembatan Beton Prategang, yaitu jembatan yang struktur
bangunan atasnya terbuat dari beton pracetak/ prategang.
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
e. Jembatan Kayu, yaitu jembatan yang struktur bangunan
atasnya terbuat dari kayu, biasanya kayu kelas I.
5. Klasifikasi jembatan menurut letak lantai jembatan :
a. Jembatan lantai kendaraan di bawah
b. Jembatan lantai kendaraan di atas
c. Jembatan lantai kendaraan di tengah
d. Jembatan lantai kendaraan di atas dan di abawah ( double deck bridge )
6. Struktur jembatan beton berdasarkan jenis desainnya dapat diklasifikasikan
menjadi :
a. Jembatan beton bertulang biasa ( conventional )
Dapat melayani bentang yang terbatas, tidak terlalu panjang
b. Jembatan beton prategang ( prestressed concrete bridge )
Dapat melyani bentang yang lebih panjang secara lebih layak karena
sistem stressing yang menimbulkan momen sekunder yang berlawanan
c. Jembatan lengkung ( concrete arch bridge )
Dapat melayani bentang yang lebih panjang dibandingkan jembatan yang
lurus karena dapat memanfaatkan kekuatan beton yaitu kuat tekan.
d. Jembatan cable stay ( jembatan gantung )
Pembaharuan yang moderen tentang jembatan cable stayed di mulai pada
tahun 1955, yang semula menggunakan deck dari baja untuk jembatan
yang panjang, dan akhirnya dapat dikembangkan penggunaan deck dari
beton prategang (prestressed concrete ).
Kelebihan/ keunggulan jembatan cable stay diantaranya :
Tinggi balok (girder ) relatip sangat pendek jika dibandingkan
dengan panjang bentang ( bentang teknis yang sebenarnya adalah jarak
antara kabel ).
Struktur beton deck tidak begitu rentan terhadap getaran
aerodinamik.
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Gaya horizontal dari cable stay merupakan gaya tekan bagi beton
deck.
Jumlah kabel baja yang digunakan relatif kecil.
Defleksi akibat beban hidup kecil.
Pelaksanaan relatif lebih mudah.
Dapat melayani bentang ( antar pilar ) yang sangat panjang, karena
merupakan kelipatan dari jarak kabel.
7. Berdasarkan pembagian kelas muatannya jembatan dibagi menjadi 3 ( tiga )
kelas yaitu :
a. Jembatan Kelas I
Jembatan kelas I yaitu jembatan yang menggunakan muatan T sebesar
100% dan muatan D sebesar 100 % .
b. Jembatan Kelas II
Jembatan Kelas II yaitu jembatan yang menggunakan muatan T sebesar
70% dan muatan D sebesar 70 % .
c. Jembatan Kelas III
Jembatan kelas III yaitu jembatan yang menggunakan muatan T
sebesar 50 % dan muatan D sebesar 60 %.
2.3. Bagian bagian Jembatan
Secara umum bangunan jembatan dibagi menjadi 2(dua) bangunan utama
yaitu :
a. Bangunan atas (upper structure)
b. Bangunan bawah (sub structure )
Pada umumnya suatu bangunan jembatan terdiri dari 6 bagian pokok yaitu :
a. Bangunan atas (upper structure), yaitu bagian jembatan yang berfungsi
untuk menampung beban beban yang ditimbulkan oleh lalulintas yang
melewatinya seperti : orang, kendaraan, dan lainnya, kemudian beban
tersebut disalurkan kepada bangunan bawah. Konstruksi bangunan aatas
terdiri dari :
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Konstruksi gelagar induk yang ditumpu dari titik tumpu ke titik tumpu
lanilla, baik antara kepala jembatan dengan pangkal, pangkal jembatan
dengan pilar, atau pilar dengan pilar.
Konstruksi perletakan, yang digunakan untuk landasan antara gelagar
gelagar induk dengan pangkal jembatan atau dengan pilar.
Konstruksi lantai kendaraan, yang dilengkapi dengan leureng, trotoir,
atau kerb, cucuran air hujan atau expansion joint.
b. Landasan , yaitu bagian ujung bawah dari suatu bangunan atas yang
berfungsi menyalurkan gaya gaya reaksi dari bangunan atas kepada
bangunan bawah. Menurut fungsinya dapat dibedakan menjadi : sendi
( fixed bearing) dan landasan gerak (movable bearing).
c. Bangunan bawah (sub structure), pada umumnya terletak disebelah bawah
bangunan atas. Fungsinya menerima / memikul beban beban yang
diberikan bangunan atas kemudian menyalurkannya ke pondasi,
selanjutnya oleh pondasi beban beban tersebut disalurkan ke tanah.
d. Pondasi, yaitu bagian bangunan jembatan yang berfungsi untuk menerima
beban beban dari bangunan atas dan menyalurkannya ke tanah. Untuk
keperluan dalam perencanaan pondasi, harus didasarkan pada sifat sifat
tanah dasarnya (daya dukung tanah), sedangkan untuk mengetahui sifat
sifat tanah tersebut harus diadakan penyelidikan yang seksama dilapangan
dan di laboratorium. Dengan demikian dapat diketahui sifat sifat fisik
tanah dan parameter parameter lanilla.
e. Oprit Jembatan, yaitu bagian jembatan berupa timbunan tanah dibelakang
abutment . Timbunan tanah ini harus dibuat sepadat mungkin untuk
menghindari terjadinya penurunan (settlement).
f. Bangunan Pengaman Jembatan, yaitu bagian bangunan jembatan yang
berfungsi sebagai pengaman terhadap pengaruh sungai yang bersangkutan,
baik secara langsung maupun tidak langsung.
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
2.4. Jembatan Beton Prategang (Presstresded Concret Bridge)
Struktur jembatan beton prategang adalah jembatan yang mengunakan
material beton prategang yang memiliki kekuatan tinggi untuk menambah/
meningkatkan kegunaan dan daya tahan jembatan. Struktur jembatan beton
prategang sangat cocok digunakan untuk bentang jembatan yang panjang, dan
telah digunakan di seluruh dunia sejak tahun 1950.
Type jembatan beton prategang terdiri dari :
1. Void Slabs
Type void slabs yaitu type beton prategang yang terbuat dari slabs/ pelat
kosong. Type void slabs sangat ekonomis digunakan untuk bentang
jembatan prategang yang berbelok belok. Type ini digunakan untuk
panjang bentang jembatan dari 6 sampai 15 meter. Ratio ketinggian/
kedalaman struktur gelagar dengan panjang bentang jembatan adalah 0,03
untuk bentang menerus sederhana.
2. I Girders
Type I Girders cukup baik disatukan dengan jembatan baja girder.
Pengerjaan type ini cukup rumit terutama untuk struktur jembatan yang
miring. Type I Girders dapat digunakan untuk bentang jembatan 9 sampai
36 meter. Untuk bentang sederhana rasio ketinggian struktur gelagar/
kedalaman struktur dengan panjang bentang jembatan adalah 0,055,
sedangkan untuk bentang menerus rasio kedalaman dengan panjang
bentang jembatan adalah 0,05.
3. Box Girder
Type Box Girder biasanya digunakan untuk bentang sederhana diatas 30
meter , terutama cocok untuk pelebaran jembatan untuk mengontrol
defleksi/ lendutan. Type Jembatan Box Girder sering digunakan untuk
jembatan beton prategang cor ditempat. Spasi girders dapat dibuat dua kali
kedalaman struktur. Type Box Girders kebanyakan digunakan untuk
bentang 30 meter sampai 180 meter. Rasio ketinggian struktur gelagar/
kedalaman struktur dengan panjang bentang jembatan untuk bentang
sederhana 0,045 dan untuk bentang menerus 0,04.
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Keunggulan dan kelemahan jembatan beton prategang (prestressed
concrete bridge) dengan lantai gelagar kotak (box girder) adalah:
a. Cukup kuat, kaku dan ringan
Sifat kekakuan dan kekuatan itu ditentukan oleh nilai momen inertia dan
section modulus dari penampang lantai, yang sebaliknya akan
mempengaruhi berat lantai tersebut. Dengan penemuan teknik beton
pratekan, maka berat lantai dapat sangat dikurangi dan satuan segment
segment lantai dapat diikat satu sama lain dengan bantuan kabel pratekan.
b. Dapat melayani bentang yang lebih panjang
Dibandingkan dengan dengan jenis struktur lain, jembatan beton
prategang dapat melayani bentang yang lebih panjang. Untuk type box
girder biasanya digunakan untuk bentang 30 m sampai dengan 180 meter.
c. Mutu lebih terjamin
d. Waktu pelaksanaan jembatan dapat lebih cepat
e. Tahan terhadap korosif
Tendon baja yang digunakan untuk kabel pratgegang akan terlindung oleh
rekatan semen (bounded), sehingga tidak memerlukan pemeliharaan yang
lebih intensif jika dibandingkan dengan jembatan rangka baja.
f. Tidak menimbulkan limbah
g. Lebih memacu perkembangan teknologi alat konstruksi, terutama alat
angkut dan alat angkat.
Kelemahan dari konstruksi jembatan prategang diantaranya :
a. Memerlukam alat angkat yang relatif besar
b. Memerlukan ketelitian dimensi yang tinggi
2.5. Sistem Pembebanan Jembatan
Beban-beban jembatan menurut Standar Pembebanan Untuk Jembatan
(RSNI1) :
a. Muatan lalu lintas terdistribusi D
Beban lajur D terdiri dari beban tersebar merata (UDL) yang digabung
dengan beban garis (KEL) seperti terlihat pada gambar dibawah ini :
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Gambar 2.1 Beban Lajur D
Beban terbagi rata (UDL)
Beban UDL mempunyai intensitas q kPa, dimana besarnya q
tergantung pada panjang total yang dibebani (L) sebagai berikut :
L 30 m : q = 8,0 kPa
L > 30 m : q =
,
_

+
L
15
5 , 0 0 , 8
kPa
Dimana :
q adalah intensitas beban UDL
L adalah panjang total jembatan
Hubungan antara panjang total jembatan dengan intensitas beban UDL
dapat dilihat pada grafik di bawah ini :
Gambar 2.2 Beban Lajur D : UDL vs panjang yang dibebani
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110
4
6
8
10
Panjang yang dibebani (m)
UDL (kPa)
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Panjang yang dibebani L adalah panjang total UDL yang bekerja pada
jembatan. UDL mungkin harus dipecah menjadi panjang panjang
tertentu ntuk mendapatkan pengaruh maksimum pada jembatan
menerus atau bangunan khusus.
Beban garis
Satu KEL dengan intensitas p kN/m harus ditempatkan tegak lurus
terhadap arah lalu lintas pada jembatan. Besarnya intensitas p adalah :
P = 44 kN/m = 4.4 ton/m
Untuk mendapatkan momen lentur negatif maximum pada jembatan
menerus, KEL kedua yang identik harus ditempatkan pada posisi
dalam arah melintang jembatan pada bentang yang lainnya.
Penyebaran beban D pada arah melintang
Beban D harus disusun sedemikian rupa sehingga menimbulkan
momen maksimum. Penyusunan komponen komponen UDL dan
KEL dari beban D pada arah melintang harus sama.
- Apabila lebar jalur kendaraan jembatan kurang atau sama dengan
5.5 m, maka beban D harus ditempatkan pada seluruh jalur
dengan intensitas 100 %.
- Apabila lebar jalur lebih dari 5.5 m, beban D harus ditempatkan
pada jumlah lajur lalu lintas rencana (n
1
) yang berdekatan dengan
intensitas 100 %. Hasilnya adalah beban garis ekuivalen sebesar :
n
1
x 2.75 q kN/m, dan beban terpusat ekuivalen sebesar : n
1
x 2.75
p kN. Kedua duanya bekerja pada berupa strip pada jalur selebar
n
1
x 2.75 m. Lajur lalu lintas rencana yang membentuk strip ini
ditempatkan dimana saja pada jalur jembatan. Beban D
tambahan harus ditempatkan pada seluruh lebar sisa dari jalur
dengan intensitas sebesar 50 %. Susunan pembebanan dapat dilihat
pada gambar dibawah ini :
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Gambar 2.3 Penyebaran Pembebanan Arah Melintang
b. Muatan lalu lintas terpusat T
Pembebanan truk T terdiri dari kendaraan truk semi trailer yang
mempunyai susunan dan berat as seperti terlihat pada gambar 2,7. Berat
dari masing masing as disebarkan menjadi 2 beban merata sama besar
yang merupakan bidang kontak antar roda dengan permukaan lantai. Jarak
antara 2 as tersebut bisa diubah ubah antara 4,0 m sampai dengan 9,0 m
untuk mendapatkan pengaruh terbesar pada arah memanjang jembatan.
Gambar 2.4 Pembebanan truk T
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
c. Faktor Beban Dinamis
Faktor beban dinamis (DLA) merupakan interaksi antara kendaraan yang
bergerak dengan jembatan. Besarnya DLA tergantung kepada frekuensi
dasar dari suspensi kendaraan, biasanya antara 2 5 Hz untuk kendaraan
berat dan frekuensi dari dari getaran lentur jembatan. Untuk perencanaan
DLA dinyatakan sebagai beban status ekuivalen. Besarnya KEL dari
pembebanan lajur D dan beban roda dari pembebanan truk T harus
dengan harga KEL yang cukup untuk memberikan terjadinya interaksi
antara kendaraan yang bergerak dengan jembatan. Besarnya nilai tambah
dinyatakan dalam fraksi dari beban status. DLA ini diterapkan pada
keadaan batas daya layan dan batas ultimit.
Untuk pembebanan D, DLA merupakan fungsi dari panjang bentang
ekuivalen seperti tercantum pada gambar 2.8. Untuk bentang tunggal
panjang bentang ekuivalen diambil sama dengan panjang bentang
sebenarnya, dan untuk bentang menerus panjang bentang ekuivalen L
E
diberikan dengan rumus :
L
E
=
maks av
xL L
Dimana :
L
av
adalah panjang bentang rata rata dari kelompok bentang yang
disambungkan secara menerus.
L
maks
adalah panjang bentang maksimum dalam kelompok bentang yag
disambung secara menerus.
Harga DLA yang digunakan untuk kedalaman yang dipilih harus
diterapkan untuk bangunan seutuhnya.
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Gambar 2.5 Faktor beban dinamis
d. Gaya rem
Gaya rem dianggap bekerja secara horizontal dalam arah sumbu jembata
dengan titik tangkap setinggi 1.8 m diatas permukaan lantai kendaraan.
Gaya rem diparhitungkan sebesar 5 % dari beban lajur. Seperti dalam
gambar 2.9.
Gambar 2.6 gaya rem per lajur 2,75 m
e. Gaya gempa
Jembatan jembatan yang akan dibangun pada daerah daerah dimana
dapat diprediksi adanya pengaruh pengaruh dari gempa bumi, harus
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
50
90 100 150
0
Bentang (m)
DLA (%)
10
20
30
50
60
200
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
direncanakan dengan memperhitungkan beban atau gaya gaya yang akan
bekerja senilai dengan pengaruh statu gaya horizontal, yang bekerja pada
titik berat konstruksi yang ditinjau, dalam arah yang paling berbahaya.
Gaya horizontal yang dimaksud ditentukan dengan rumus :
K = E x G
Dimana :
K adalah gaya horizontal
G adalah muatan mati dari konstruksi/ bagian konstruksi yang ditinjau
E adalah koefisien gempa bumi yang ditentukan menurut daftar berikut :
Tabel 2.1
Koefisien Gempa Untuk Zona Gempa
Keadaan tanah atau pondasi
Koefisien gempa bumi
untuk zona gempa
I II III
Untuk jembatan diatas pondasi langsung dengan tekanan tanah
sebesar 5 kg/cm
2
atau lebih
0.12 0.06 0.03
Untuk jembatan yang didirikan diatas pondasi langsung dengan
tekanan tanah < 5 kg/cm
2
0.20 0.10 0.05
Untuk jembatan yang didirikan selain diatas pondasi langsung 0.28 0.14 0.07
Catatan :
Muatan hidup akibat gempa bumi diabaikan
2.6. Pengertian Beton Prategang
Beton adalah material struktur yang kuat dalam kondisi tekan, tetapi lemah
dalam kondisi tarik. Kuat tariknya bervariasi dari 8 % sampai 14 % dari kuat
tekannya. Karena rendahnya kapasitas tarik beton tersebut, maka retak lentur
terjadi pada taraf pembebanan yang masih rendah. Untuk mengurangi atau
mencegah berkembangnya retak akibat tarik, maka pada pada elemen struktur
diberikan gaya konsentris atau eksentris dalam arah longitudinal elemen struktur.
Gaya longitudinal yang diterapkan terhadap elemen struktur tersebut disebut gaya
prategang. Gaya prategang yang diberikan terhadap elemen struktur beton tersebut
dapat mencegah berkembangnya retak dengan cara mengeleminasi atau dapat
mengurangi tegangan tarik dibagian tumpuan dan daerah kritis pada kondisi
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
beban bekerja, sehingga dapat meningkatkan kemampuan elemen struktur beton
lentur, geser dan torsional penampang beton sendiri.
Jadi beton prategang adalah penampang beton terlebih dahulu diberi
tegangan tekan, sebelum beban beban luar bekerja. Prategang diperoleh dari
kabel baja yang ditegangkan (ditarik) dan memberikan dampak tekanan terhadap
penampang beton atau, beton prategang adalah beton yang mengalami tegangan
internal dengan besar dan distribusi sedemikian rupa sehingga dapat mengimbangi
tegangan yang terjadi akibat beban eksternal sampai batas tertentu.
Gambar 2.7
Tegangan Beton Prategang
2.6.1. Prinsip prinsip Dasar Beton Prategang
Ada tiga konsep yang dapat dipakai untuk menjelaskan dan menganalisis
sifat sifat dasar dari beton prategang, yaitu :
a. Konsep sistem prategang untuk mengubah beton menjadi bahan yang elastis.
Konsep ini memberlakukan beton sebagai bahan yang elastis dan mungkin
merupakan pendapat yang umum dari para insinyur. Beton prategang pada
dasarnya adalah beton yang ditransformasikan dari bahan yang getas jadi
bahan yang elastis
b. Sistem Prategang untuk Kombinasi Baja Mutu Tinggi dengan Beton
Konsep ini mempertimbangkan beton prategang sebagai kombinasi menahan
tarikan dan beton menahan tekanan, dengan demikian kedua bahan
membentuk kopel penahan untuk melawan momen eksternal
c. Sistem Prategang untuk Mencapai Kesetimbangan Beban
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
F F
P
Gaya prategang
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Konsep ini menggunakan prategang sebagai suatu usaha untuk seimbang gaya
gaya pada sebuah batang. Penerapan dari konsep ini menganggap beton
diambil sebagai benda bebas dan menggantikan tendon dengan gaya gaya
yang bekerja pada pada beton sepanjang bentang.
2.6.2. Klasifikasi dan Jenis Beton Prategang
Berdasarkan desain dan kosntruksinya, struktur beton prategang
diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Pemberian Gaya Prategang Secara Eksternal dan Internal
Pemberian gaya prategang dengan cara ini adalah pemberikan gaya
prategang pada sebuah penampang dengan cara mendongkrak (jacking) pada
tempat tempat tertentu untuk menghasilkan tekanan pada serat - serat bawah
dan tarikan pada serat serat atas.
b. Prategang Linear dan Melingkar
Prategang melingkar adalah istilah yang dipakai untuk struktur prategang
melingkar seperti : tangki bundar, silo silo dan pipa pipa, dimana tendon
prategang dililitkan melingkar lingkar, sedangkan sistem prategang linear
adalah sistem prategang yang dipasang pada balok balok atau pelat pelat.
c. Sistem Pratarik (Pretension) dan Pasca tarik (Posttension)
Pretension yaitu kabel baja (tendon) ditegangkan terlebih dahulu sebelum
beton dicor, dalam keadaan kabel baja ditegangkan kemudian beton dicor, dan
setelah beton keras, kabel baja direalease (dilepas) yang kemudian akan
memberikan tekanan terhadap penampang beton.
Posttension yaitu beton terlebih dahulu dicor, kemudian gaya prategang
diberikan setelah beton keras
d. Prategang Tendon dengan Angkur -Ujung atau Tanpa Angkur Ujung
Pada sistem pasca tarik tendon tendon diangkurkan pada ujungnya dengan
bantuan alat alat mekanis untuk mengalihkan gaya prategang ke beton.
Komponen sistem prategang seperti itu disebut pengangkuran ujung.
e. Sistem Prategang Tendon dengan atau Tanpa Rekatan
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Rekatan pada tendon pasca tarik dilakukan dengan cara sementasi , jika tidak
direkatan perlindungan tendon tendon terhadap karat dilakukan dengan cara
melapisinya menggunakan bahan pelindung minyak atau bahan bahan
lainnya .
f. Pracetak, Cetak di Tempat dan Konstruksi Komposit
Pracetak (Precast) yaitu komponen strukstur prategang yang dicor dipabrik
atau di dekat proyek, kemudian diangkut ke lokasi proyek.
Prategang cetak ditempat (cast in place) yaitu beton prategang yang dicetak
ditempat pada saat pelaksanaan pekerjaan. Cara cast in place membutuhkan
bekisting yang lebih banyak, tetapi dapat menghemat biaya transportasi dan
biaya penyetelan
Konstruksi komposit yaitu sistem prategang yang menggunakan panel tilt-up
dan pelat angkat yang dibuat di dekat dan di dalam struktur itu sendiri
kemudian diangkut dan distel di lokasi pekerjaan.
g. Sistem Prategang Sebagian atau Prategang Penuh
Jika sebuah komponen struktur di desain sehingga pada beban kerja tidak
terjadi tegangan tarik , maka beton tersebut dikatakan mengalami gaya
prategang secara penuh. Jika komponen struktur didesain sehingga
memungkinkan terjadinya tegangan tarik pada komponen struktur akibat
beban kerja, maka komponen struktur tersebut dikatakan mengalami gaya
prategang sebagian.
2.7. Tegangan Pada Penampang Beton Akibat Sistem Prategang
Gambar 2.8 Gambar Tegangan Pada Penampang Akibat Gaya Prategang
Dimana :
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
h
b
Cgc
Cgs
Cgs
Cgc
P
F
F
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Cgc : Center gravity of concrete ( titik berat penampang beton)
Cgs : Center gravity of steel ( titik berat penampang baja )
Jika Cgc berimpit dengan Cgs, maka :
Akibat gaya prategang F, seluruh bagian penampang akan menerima
tegangan tekan

F = -
A
F
( 2 1 )
Akibat gaya P serat atas penampang akan tertekan, dan serat bawah akan
tertarik

P =
W
M
( 2 2 )
Diagram tegangan akhir akibat F dan P
Gambar 2.9
Diagram Distribusi Tegangan Akibat Beban dan Gaya Prategang
Bila gaya prategang F bekerja pada penampang beton dengan eksentrisitas
sebesar e , maka dimungkinkan untuk memecah gaya prategang menjadi dua
kompnen yaitu : beban yang konsentris F yang melalui titik berat dan momen Fe.
Dengan teori elastik tegangan serat pada setiap titik akibat momen Fe diberikan
oleh persamaan :
f =
I
Fey
I
My

Resultan tegangan serat akibat gaya prategang eksentrisitas dihitung dengan


persamaan :
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
A
F
A
F
-
+
= atau
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
f =
I
Fey
A
F
t
Gambar 2.10
Diagram Resultan Tegangan Akibat Gaya Prategang Eksenrtisitas
Dimana e = eksentrisitas
Akibat adanya eksentrisitas e pada penampang maka akan timbul momen
eksentrisitas , Me = F.e
Tegangan tegangan pada penampang akan terjadi :
1. Akibat tekanan gaya F pada seluruh bagian penampang

F =
A
F
( 2-3 )
2. Akibat momen lentur dari beban luar

M =
W
M
t ( 2-4 )
3. Akibat momen eksentrisitas

Me =
W
Fe
t ( 2-5 )
Tegangan total pada penampang adalah super posisi ( penjumlahan ) dari
ketiga tegangan tersebut
2.8. Tegangan Pada Beton Akibat Beban
Tegangan pada beton yang dihasilkan oleh momen eksternal, baik akibat
berat sendiri penampang balok atau setiap beban eksternal dihutung dengan teori
elastik biasa yaitu :
f =
I
My
( 2-6 )
Bila dikombinasikan persamaannya, hasilnya sebagai berikut :
f =
I
My
I
Fey
A
F
t + ( 2-7 )
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
Cgc
Cgs
F
F
e
Cgc
Cgs
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Dengan prinsip dasar Ta = Ca = M , dan a = M / T , maka pembebanan akhir
dapat dihitung dengan persamaan :
C = T = F , f =
I
Fey
A
F
I
Cey
A
C
t t ( 2-8 )
2.9. Momen Retak
Momen retak adalah momen yang menghasilkan retak retak rambut
pertama pada penampang beton prategang. Dengan menganggap bahwa retak
mulai terjadi saat tegangan tarik pada serat terluar beton mencapai modulus
keruntuhan, maka momen retak dapat dihitung dengan persamaan berikut :
M = Fe
c
I f
Ac
FI
r
+ + ( 2-9 )
Bila pusat tekanan beton ada pada titik kern atas, pada serat bawah tegangan
menjadi nol. Momen perlawanan diberikan oleh gaya prategang F dikalikan
lengan momen diukur dari kern atas, sehingga momen total saat retak dihitung
dengan persamaan :
M = M1 + M2 = F
c
I f
c
r
e
r
+ + ) (
2
(2-10 )
2.10. Momen Batas Tendon Terekat
Untuk balok rekatan kurang tulangan mengikuti aturan ACI , jika baja
ditarik sampai ke tingkat tegangan yang mendekati kekuatan batasnya pada titik
kehancuran beton akibat lenturan. Untuk bahan yang sekarang digunakan pada
beton prategang, indeks penulangan untuk,
p

, yang mendekati nilai batas untuk


menjamin bahwa baja prategang ( A
ps
) akan sedikit lagi mencapai daerah
lelehnya, diberikan oleh peraturan ACI sebagai berikut :

p
=
p
.f
ps
/ f
c
0,30
dimana :
bd A
ps p
/
Asal gaya prategang efektif f
se
tidak kurang dari 0,5 f
pu
, nilai pendekatan
kapasitas momen batas balok terekat dapat menggunakan persamaan berikut :
f
ps
= f
pu

,
_

'
5 , 0 1
c
pu
p
f
f

(2-11 )
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Untuk menyelesaikan momen batas desain menurut Peraturan PCI, dengan
memperkenalkan faktor reduksi kekuatan,

, dengan memasukan
p
maka
persamaan menjadi :
Mu =


[ ] ) 59 , 0 1 (
p ps ps
d f A
(2-12 )
Persamaan momen batas dalam bentuk kopel menurut Peraturan ACI :
Mu =
1
]
1

)
2
(
a
d f A
ps ps

(2-13 )
Untuk lenturan Peraturan PCI

= 0,9.

2.11. Konsep Keseimbangan Beban (Load Balancing)
Teknik keseimbangan beban didasarkan atas penggunaan gaya vertikal pada
tendon prategang draped atau harped untuk melawan atau mengimbangi
pembebanan gravitasi yang dialami suatu balok.
Profil pemasangan kabel tendon untuk beton prategang dengan metode
kesimbangan beban :
1. =
2. =
3. =
4. =
Gambar 2.11
Lay Out (Tata Letak ) Kabel Tendon
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Pengertian gambar cara pemasangan kabel tendon :
1. Apabila beban terpusat maka cara pemasangan kabel tendon yang tepat
adalah cara nomor 3.
2. Apabila beban terpusatnya ada 1 (satu ), maka cara cara pemasangan kabel
tendon yang tepat adalah cara nomor 2
3. Apabila beban terpusatnya ada 3, maka cara pemasangan kabel tendon yang
tepat adalah cara nomor 4.
2.12. Kehilangan Prategang ( Loss Of Prestress)
Gaya prategang yang digunakan dalam perhitungan tegangan tidak akan
konstan terhadap waktu. Tegangan tegangan selama berbagai tahap pembebanan
juga berubah ubah karena kekuatan dan modulus elastisitas bertambah terhadap
waktu.
Gaya prategang awal (Fo) yang terjadi pada saat transper gaya akan
berkurang menjadi gaya prategang efektif ( F ).
Kehilangan gaya prategang bisa disebabkan oleh beberapa kejadian, yaitu :
1. Kejadian yang Terjadi Sesaat (Time Independent), yaitu kehilangan gaya
prategang akibat pemindahan elastis pada beton ( Elastic shortening, Es ).
Pada saat gaya prategang dialihkan ke beton, komponen struktur akan
memendek dan baja prategang turut memendek bersamanya, sehingga ada
kehilangan gaya prategang pada baja.
Bila terjadi lenturan pada komponen struktur yang diakibatkan oleh beratnya
sendiri dan momen yang diakibatkan oleh eksentresitas gaya prategang,
maka dapat digunakan persamaan :
I
My
I
F
A
F
f
ey
c
t t ( 2-14)
Jika beratnya sendiri yang bekerja sebesar wg , dan y = e, momen pada
penampang M
G
dapat dicari kehilangan gaya prategangnya dengan
persamaan ,
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
I
e M
I
Fe
A
F
f
G
cir
+
2
( 2-15 )
Agar mendapat kelelitian yang cukup untuk sebagian besar keadaan jika
dianggap kehilangan gaya prategang sebesar 10 % untuk sebuah balok
pratarik, dimana peralihan pada seluruh kabel terjadi pada saat yang
bersamaan. untuk tegangan beton akibat Fo = 0,9 F
i
pada komponen
struktur pratarik dapat menggunakan persamaan berikut :
f
cir
=
I
e M
I
e Fo
A
Fo
G.
2
.
+ ( 2- 16)
Menurut ACI (American Concrete Institue), untuk kehilangan elastik dengan
memperhitungkan pengaruh penarikan yang berturut turut pada kehilangan
elastik, persamaan ( 2-16 ) dapat diubah menjadi persmaam berikut :
Es = K
es
.Es.
ci
cir
E
f
( 2-17 )
Dimana :
K
es
= 1, untuk prestension
K
es
= 0,5 , untuk posttension
Es = Modulus Elastisitas baja Prategang
E
ci
= Modulus Elastisitas beton awal
f
cir
= Tegangan beton pada Cgs akibat Fo
M
G
= Momen akibat berat sendiri gelagar
2. Kejadian yang Berlangsung Menurut Waktu (time dependent)
Kehilangan gaya prategang akibat kejadian yang berlangsung menurut
waktu (time dependent) disebabkan oleh :
a. Rangkak pada beton (Creep, Cr )
Rangkak pada beton (creep) yaitu deformasi inelastik yang tergantung
pada waktu dari beton atau baja yang terjadi hanya akibat adanya
tegangan dan merupakan fungsi dari padanya ( tegangan )
Kehilangan gaya prategang akibat rangkak untuk komponen struktur
dengan tendon terekat dihitung dengan persamaan berikut:
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
CR = K
cr
.
) (
cds cir
c
s
f f
E
E

( 2-18 )
K
cr
= 2,0 untuk prestension ( pratraik)
K
cr
= 1,6, untuk postension (pasca tarik )
f
cds
= Tegangan beton pada Cgs akibat beban beban pelaksanaan.
E
s
= Modulus Elastisitas tendon prategang
E
c
= Modulus Elastisitas beton umur 28 hari, yang bersesuaian dengan
fc
Kehilangan gaya prategang untuk komponen struktur dengan tendon
yang tidak terekat dihubungkan dengan regangan komponen struktur
rata rata dan bukan dengan regangan pada titik momen maksimum
adalah :
CR =
cpa
c
s
cr
f
E
E
K
( 2-19)
f
cpa
= Tegangan tekan rata rata pada beton sepanjang komponen
struktur pada garis berat tendon ( cgs)
b. Susut pada beton ( Shringkage, SH )
Kehilangan gaya prategang akibat susut (shringkage) adalah perkalian
susut efektif ,
sh

dan modulus elastisitas dari baja prategang . Faktor


lain yang menentukan yang terdapat pada persamaan kehilangan gaya
prategang akibat susut adalah koefisien K
sh
, yang menggambarkan fatwa
bahwa komponen struktur pasca tarik akan lebih beruntung karena susut
terjadi sebelum penarikan sistem prategang. Kehilangan gaya prategang
akibat susut beton dapat dihitung dengan persamaan berikut :

SH = 8,2 x 10
6
K
sh
.E
s
(1 0,06
S
V
) ( 100 RH ) ( 2-20)
Dimana :
RH = Kelembabam Relatif
K
sh
= Koefisien tergantung selang waktu perawatan beton spserti tabel
(2-2) di bawah tergantung waktu penarikan kabel baja
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Tabel 2.2
Nilai K
sh
untuk Komponen Struktur Pasca Tarik
Selang waktu
setelah selesai
perawatan beton
hingga transper
gaya prategang
Hari
1 3 5 7 10 20 30 60
K
sh
0,92 0,85 0,80 0,77 0,73 0,64 0,58 0,45
c. Relaksasi pada baja prategang ( Relation, RE )
Kehilangan gaya prategang akibat relaksasi baja adalah gaya prategang
yang berkurang secara perlahan perlahan tergantung lamanya waktu
dan perbandingan f
pi
/ f
py
. Untuk menghitung kehilangan gaya prategang
akibat realksasi baja,Komisi ACI-ASCE menghasilkan persamaan
berikut :
RE =
[ ] J K
re

( SH + CR + Es ).C ( 2-21)
Dimana:
K
re
dan J ditentukan oleh tipe dan grade baja prategang (Tabel 2-2)
C = ditentukan oleh nilai perbandingan f
pi
(tegangan awal ) terhadap
tegangan Ultimit baja prategang ( f
pu
) dan tipe kabel prategang
( Tabel 2-3)
Misal : untuk
75 , 0
pu
pi
f
f
, tipe prategang adalah strand

C = 1,45
Tabel. 2.3
Nilai nilai K
re
dan J
Tipe Tendon
a
Kre
(MPa)
J
Strand atau kawat stress- relieved derajat 1860 Mpa 138 0,15
Strand atau kawat stress- relieved derajat 1720 Mpa 128 0,14
Kawat stress-relieved derajat 1655 MPa atau 1620 MPa 121 0,13
Strand relaksasi rendah derajat 1860 MPa 35 0,040
Kawat relaksasi rendah derajat 1720 Mpa 32 0,037
Kawat relaksasi rendah derajat 1655 MPa atau 1620 Mpa 30 0,035
Batang stress relieved derajat 1000 MPa atau 1100 Mpa 41 0,05
Tabel 2.4
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Nilai nilai C
fpi / fpu
Strand atau kawat
stress relieved
Batang stress-relieved atau Strand atau
kawat relaksasi rendah
0,80 1,28
0,79 1,22
0,78 1,16
0,77 1,11
0,76 1,05
0,75 1,45 1,00
0,74 1,36 0,95
0,73 1,27 0,90
0,72 1,18 0,85
0,71 1,09 0,80
0,70 1,00 0,75
0,69 0,94 0,70
0,68 0,89 0,66
0,67 0,83 0,61
0,66 0,78 0,57
0,65 0,73 0,53
0,64 0,68 0,49
0,63 0,63 0,45
0,62 0,58 0,41
0,61 0,53 0,37
0,60 0,49 0,33
d. Slip Akibat Pengangkuran untuk Sistem Post-tension.
Kehilangan gaya prategang akibat pengangkuran disebabkan baji
gesekan yang dipakai menahan kabel akan sedikit tergelincir sebelum
kabel dijepit dengan kokoh. Besarnya gelincir ini tergantung dari jenis
baji dan tegangan pada kawat, dengan nilai rata rata sekitar, 2,5
mm.Kehilangan gaya prategang akibat pengangkuran dibatasi menjadi
pergeseran kecil yang terjadi pada waktu baji mendesak dan
kemungkinan terjadinya geseran yang besar dapat dihilangkan. Rumus
umum untuk menghitung kehilangan gaya prategang akibat deformasi
pengangkuran
a

adalah :
ANC = f
s
=
L
E
s a

( 2-22)
Jadi Total Kehilangan Prategang yaitu : Es + CR + SH + RE
Tabel 2.5
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Kehilangan Prategang Rata rata
Pretension (%) Postension (%)
ES 4 1
CR 6 5
SH 7 6
RE 8 8
Jumlah 25 20
F efektifnya 0,75 Fo 0,8 Fo
e. Pengaruh Friksi ( gesekan )

Untuk tendon yang melengkung dengan jari jari R, tegangan pada setiap
titik yang keluar dari ujung dongrak adalah :
) . (
1 1 2
.
L K
e F F F
+


Kontrol dilakukan di F2, karena pengaruh gesekan F2 < F1 , dimana
K = Koefisien gesek ( tergantung jenis bahan )

= Koefisien lengkungan (curvature )


Perpanjangan Tendon
Dengan mengabaikan kehilangan gaya prategang akibat gesekan sepanjang
tendon , jika sebuah tendon mempunyai tegangan merata f
s
sepanjang L ,
jumlah perpanjangan adalah :
s =
s

L = f
s
L /E
s
= FL /E
s
A
s
Untuk gaya prategang yang melampaui batas proporsional tendon,
persamaan ini tidak dapat digunakan dan perlu melihat kembali diagram
tegangan regangan untuk mencari nilai
s

yang sesuai.
Dengan mengabaikan perpendekan pada beton, perpanjangan elastik
dihitung dengan persamaan :
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS

L
F2
F2
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Perpanjangan elastik =
s
s s
s
f f
f

1
2.13. Desain Penampang Untuk Lentur
Desain awal penampang beton prategang untuk menahan lenturan dapat
dibentuk dengan prosedur yang sederhana yaitu kopel gaya dalam yang C T
yang bekerja pada penampang.
Design awal ( peliminary design )
Gambar 2.12 Desain Pendahuluan Penampang Balok
C = T
MT = C. 0,65h
= T. 0,65h
h
MT
T
65 , 0

= F
eff
dimana, MT = Momen Total untuk
MT
MG
besar.
Dengan tegangan rata rata = 0,5fc, maka luas penampang yang diperlukan Ac
perlu adalah :
Ac perlu =
' 5 , 0 ' 5 , 0 fc
T
fc
C

Gaya prategang total A


ps
f
se
adalah juga gaya C pada penampang beton, yang akan
menghasilkan tegangan satuan rata rata pada beton, yaitu :
c
se ps
c c
A
f A
A
T
A
C

Tegangan serat atas fc , akibat beban kerja menurut peraturan ACI adalah
0,45fc .
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
Cgs
-
C (Tekan pada beton
T (Tarik pada kabel baja )
Tegangan rata rata
Asumsi 0,65 h
0,5fc
Tegangan tekan yang diijinkan
fc
h
-
0,5fc
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
A
c
=
c
se ps
f
f A
5 , 0
Dimana :
Ac = Luas Penampang yang diperlukan
Aps = Luas total baja Prategang
Fe = Tegangan serat atas
2.14. Desain Definitif
Design definitif untuk beton prategang yang tidak diijnkan terjadi tarik di
bawah :
Gambar 2.12
Dstribusi Tegangan Tanpa Tegangan Tarik Pada Beton
Langkah langkah perhitungan untuk mendesain definitif adalah :
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
Cgc
Cgs
Ac
Fc
Fo
C
Ct Ac
h F
fb
o
.
.

Ac
Fc
Saat Tranfer Gaya
Prategang
C
(e + kt)
Setelah Pembebanan
Penuh

Ca
Cb
Fo = Gaya prategang
Awal
F = Gaya prategang
Efektif
Cgc
Cgs
kt
kb
Ct
Cb
Ac
Fc
C
Fo
d h
Cb Ac
h F
ft
.
.

DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG


DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
1. e kb =
Fo
MG
, dimana
MG = Momen akibat berat sendiri

MG = Fo.(e kb ).
F
o
= Gaya awal,
e = kb
Fo
MG
+
2. F perlu =
kt e
MT
+
Fo perlu =
perlu
F
perlu
0
0
3. Ac perlu =
Ct fb
h Fo
.
.
dan Ac perlu =
Cb ft
h F
.
.
, ambil nilai Ac yang terbesar.
4. Bandingkan Ac perlu dengan Ac ada :
Kt =
cb
i
2
, kb =
Ct
i
2
, dimana i =
A
I
F = % efektif x Fo
Keterangan :
f
b
= Tegangan beton yang diijinkan saat transfer gaya.
f
t
= Tegangan beton yang diijinkan setelah pembebanan penuh
k
t
= keren atas
k
b
= keren bawah
A
c
= Luas penampang beton
MT = Momen total akibat berat sendiri, berat lantai, beban hidup, beban mati.
Jika
MT
ME
besar, maka :
A
c
perlu =
( )
kt
Fo
MG
e
fb
Fo
) (
1

+
dan Ac perlu =
Cb ft
h F
.
.
( tetap )
Jika diijinkan terjadi tarik :
1. e
1
+ e
2
=
Fo
kb A ft MG . '. +

2. F =
e kt
kt A fb MT
+
. '.
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS

Ca
Cb
Fo = Gaya prategang
Awal
F = Gaya prategang
Efektif
+
=
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
3. Ac perlu =
Cb ft Ct fb
h Fo
'. . .
.
dan
Ac perlu =
Ct fb Cb ft
h F
'. .
.

2.15. Penampang Komposit Balok Prategang Lantai


Gambar 2.13
Dstribusi tegangan untuk sebuah penampang komposit
Untuk pelaksanaan tanpa perancah, perhitungan dilakukan dengan cara :
1. Saat Penarikan Kabel Prategang

atas =
Wa
e Fo
Wa
Mbs
A
Fo .
+

bawah =
Wb
e Fo
Wb
Mbs
A
Fo .
+
2. Saat Lantai dicor

atas =
Wa
e F
Wa
Ms Mbs
A
F . ) (
+
+

bawah =
Wb
e F
Wb
Ms Mbs
A
F . ) (

+
+
3. Akibat Beban Hidup

atas =
'
Wa
ML

BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS


b
t
e
Cgc Cgs
Cgc

Ca
Cb
Balok Prategang
Ca
Cb
b efektif
Lantai cor di tempat
Fo = Gaya prategang
Awal
F = Gaya prategang
Efektif
+
=
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX

bawah =
' Wb
ML
+
Bentuk gambar tegangan akhir :
Gambar 2.14
Distribusi tegangan untuk penampang komposit
F = Gaya prategang efektif, yaitu gaya prategang awal dikurangi oleh jumlah gaya
gaya yang mengurangi, seperti : gesekan dan lain lain.
'
'
'
'
'
'
Wb
Ic
Wb
Ca
Ic
Wa

2.16. Penampang Komposite Diijinkan Tarik


Langkah langkah perhitungan untuk penampang komposite yang dijinkan
tarik :
1. e
1
+ e
2
=
Fo
MG
Fo Ct
I ft
+
.
'.
,

e = e
1
+ e
2
+ kb
2. mt =
'
'
Ct
I
Ct
I
, mb =
'
'
Cb
I
Cb
I
dimana I = I precast , I = I composite
3. F =
kt e
Ac kt b f Mc mb MP
+
+ . . ' .

4. Ac perlu =
1
]
1


+
kt
MG e Fo
Fo
fb
. 1
, dan
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
-_
+ +
+
-_
-_
+
=
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Ac perlu =
1
]
1

+ +
kb
Fe Mc mt MP F
ft
. 1
Dimana : MP = Momen pada penampang precast
MC = Momen pada penampang komposit akibat beban hidup satu
M
Total
= MP + MC
2.17. Bentuk bentuk Penampang Standar Beton Prategang
Bentuk yang paling sederhana adalah bentuk persegipanjang yang dimiliki
oleh semua pelat pejal dan digunakan untuk beberapa balok bentang pendek.
Bentuk bentuk penampang yang seringkali digunakan untuk beton prategang.
a. Penampang - I simetris
b. Penampang - I tidak simetris
c. Penampang T
d. Penampang T terbalik
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
Penampang
I Simetris
Penampang
Persegipanjang
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
e. Penampang kotak ( box )
Penampang standar menurut ASSHTO-PCI untuk balok ( kotak ) beton prategang
yang digunakan untuk jembatan jembatan dan jalan raya .
Tabel 2.6
Besaran dan Modulus Untuk Penampang Box (Kotak)
Type
W
inch
H
inch
Luas
(in
2
)
y
(in)
Inertia
(in
4
)
Berat
(kip/ft)
Bentang
Max (ft)
BI-36 36 27 560,5 13,35 50,334 0,584 92
BI-48 48 27 692,5 13,37 65,941 0,721 92
BII-36 36 33 620,5 16,29 85,153 0,646 107
BII-48 48 33 752,5 16,33 110,499 0,784 108
BIII-36 36 39 680,5 19,25 131,145 0,709 120
BIII-48 48 39 812,5 19,29 168,367 0,846 125
BIV-36 36 42 710,5 20,73 158,644 0,740 124
BIV-48 48 42 842,5 20,78 203,088 0,878 127
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
2.1. Pengertian Jembatan
Jembatan adalah suatu konstruksi yang berfungsi untuk menghubungkan
suatu trase pada ujung rintangan yang satu dengan yang lainnya, dimana rintangan
tersebut berupa kondisi alam atau bangunan lainnya buatan manusia. Rintangan
tersebut adalah :
Kondisi alam seperti : sungai, lembah, selat (disebut bridge)
Kondisi bangunan buatan manusia seperti : bangunan rumah, jalan raya yang
lebih rendah permukaannya dimana jalan ini tidak mungkin dibuat suatu
lintasan yang menjadi suatu petmukaan, irigasi.
2.2. Klasifikasi Jembatan
Jembatan dapat dibagi kedalam beberapa klasifikasi, yaitu :
2. Ditinjau dari aspek teknisnya jembatan dapat dikalsifikasikan menjadi :
g. Jembatan Gelagar (Girder Bridge), yaitu jembatan yang terbuat dari
sebuah balok lantai sederhana yang disebut lantai jembatan, yang
bertumpu pada dua tumpuan. Pada jenis jembatan ini, beban mati yaitu
berat sendiri struktur dan berat beban hidup yang terdiri dari manusia dan
kendaraan mengakibatkan tegangan tekan pada bagian atas lantai dan
tegangan tarik pada bagian bawah. Salah satu keunggulan dari jembatan
gelagar merata adalah sistem pembebanan lebih sederhana yakni
pembuatan lantainya mudah dan dapat berulang ulang, sehingga jenis ini
sangat cocok untuk jembatan yang bentangan antar pilar tidak menjadi
pokok masalah, tetapi lebih mementingkan panjang totalnya.
h. Jembatan Kantilever Murni (Cantilever Bridge), yaitu jembatan dimana
satu ujung balok diikat pada pondasinya, sedangkan ujung yang satu lagi
bebas, sehingga secara teoritis ditengah tengah bentang jembatan dimana
kedua balok bertemu tidak ada gaya maupun tegangan.
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
i. Jembatan Kantilever Berimbang (balance kantilever), yaitu jembatan
dimana pada kedua sisi balok berbentang seimbang terhadap pilar
jembatan, sehingga jenis jembatan kantlilever berimbang praktis dapat
disambung sambung hingga panjang.
j. Jembatan Pelengkung (Arch Bridge ) .
Pada jembatan lengkung arch muatan atau beban pada lantai jembatan
dapat disalurkan pada kedua pondasi secara vertikal maupun horizontal.
Sehubungan dengan penyaluran beban yang efektif, jembatan jenis arch
banyak digunakan sebagai dasar dari konstruksi jembatan.
k. Jembatan Gantung.
Jembatan gantung dapat dibagi menjadi Jembatan Suspensi dan Jembatan
Cable Stay.
Pada jembatan gantung suspensi lantai jembatan digantung melalui
potongan potongan kabel Kx kepada kabel induk K1, disamping itu
seluruh beban lantai akhirnya dipikul oleh Pylon P
1
dan P
2
, sedangkan
pada jembatan gantung cable stay, seluruh beban lantai dipikul oleh kedua
Pylon P
1
dan P
2
melalui kabel- kabel C
n
.
l. Jembatan Rangka (Truss Bridge )
Jembatan rangka ( Truss bridge ) yaitu struktur jembatan yang terdiri dari
rangkaian batang batang baja yang dihubungkan satu dengan yang lain.
Beban/ muatan yang dipikul oleh struktur akan diuraikan dan disalurkan
kepada batang - batang baja struktur tersebut, sebagai gaya tekan dan gaya
tarik melalui titik titik pertemuan batang ( titik buhul ). Gaya gaya
eksentrisitas yang dapat menimbulkan momen sekunder selalu diusahakan
untuk dihindari, oleh karena itu garis netral tiap tiap batang yang
bertemu pada titik buhul harus berpotongan pada satu titik saja, untuk
menghindari timbulnya momen sekunder.
2. Klasifikasi jembatan menurut struktur secara umum :
g. Jembatan Gelagar (Girder Bridge)
h. Jembatan Pelengkung / Busur (Arch Bridge)
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
i. Jembatan Rangka (Truss Bridge)
j. Jembatan Portal (Rigid Frame Bridge)
k. Jembatan Gantung (Suspension Bridge),
l. Jembatan Kabel (Cable Stayed Bridge)
4. Klasifikasi jembatan menurut kegunaannya :
g. Jembatan jalan raya, yaitu jembatan di jalan raya yang
digunakan untuk lalunitas kendaraan dan manusia.
h. Jembatan kereta api, yaitu jembatan pada jalan kereta api yang
digunakan untuk lalulintas kertea api.
i. Jembatan jalan air, yaitu jembatan yang digunakan untuk
menyambungkan saluran air yang terputus, seperti talang air pada sungai.
j. Jembatan jalan pipa, yaitu jembatan yang digunakan
menyambungkan pipa air yang terputus, baik akibat kondisi alam maupun
buatan manusia, seperti jembatan pipa PAM.
k. Jembatan militer, yaitu jembatan yang digunakan untuk
kepentingan tentara /militar, seperti jembatan darurat untuk
menyebrangkan panser, kendaraan militer dll.
l. Jembatan penyebrangan, yaitu jembatan pada jalan raya yang
digunakan khusus untuk penyebrangan manusia pada jalan raya yang
lalulintas kendaraannya sangat padat.
4. Klasifikasi jembatan menurut meterial strukturnya :
f. Jembatan Baja, yaitu jembatan yang bahan strukturnya bangunan atasnya
terbuat dari baja, contoh : jembatan rangka baja.
g. Jembatan Komposit Baja Beton, yaitu jembatan yang struktur
bangunan atasnya terbuat dari baja dan beton
h. Jembatan Beton, yaitu jembatan yang struktur bangunan
atasnya terbuat dari beton bertulang.
i. Jembatan Beton Prategang, yaitu jembatan yang struktur
bangunan atasnya terbuat dari beton pracetak/ prategang.
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
j. Jembatan Kayu, yaitu jembatan yang struktur bangunan
atasnya terbuat dari kayu, biasanya kayu kelas I.
5. Klasifikasi jembatan menurut letak lantai jembatan :
e. Jembatan lantai kendaraan di bawah
f. Jembatan lantai kendaraan di atas
g. Jembatan lantai kendaraan di tengah
h. Jembatan lantai kendaraan di atas dan di abawah ( double deck bridge )
6. Struktur jembatan beton berdasarkan jenis desainnya dapat diklasifikasikan
menjadi :
e. Jembatan beton bertulang biasa ( conventional )
Dapat melayani bentang yang terbatas, tidak terlalu panjang
f. Jembatan beton prategang ( prestressed concrete bridge )
Dapat melyani bentang yang lebih panjang secara lebih layak karena
sistem stressing yang menimbulkan momen sekunder yang berlawanan
g. Jembatan lengkung ( concrete arch bridge )
Dapat melayani bentang yang lebih panjang dibandingkan jembatan yang
lurus karena dapat memanfaatkan kekuatan beton yaitu kuat tekan.
h. Jembatan jembatan gantung (cable stay)
Pembaharuan yang moderen tentang jembatan cable stayed di mulai pada
tahun 1955, yang semula menggunakan deck dari baja untuk jembatan
yang panjang, dan akhirnya dapat dikembangkan penggunaan deck dari
beton prategang (prestressed concrete ).
Kelebihan/ keunggulan jembatan cable stay diantaranya :
Tinggi balok (girder ) relatip sangat pendek jika dibandingkan
dengan panjang bentang ( bentang teknis yang sebenarnya adalah jarak
antara kabel ).
Struktur beton deck tidak begitu rentan terhadap getaran
aerodinamik.
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Gaya horizontal dari cable stay merupakan gaya tekan bagi beton
deck.
Jumlah kabel baja yang digunakan relatif kecil.
Defleksi akibat beban hidup kecil.
Pelaksanaan relatif lebih mudah.
Dapat melayani bentang ( antar pilar ) yang sangat panjang, karena
merupakan kelipatan dari jarak kabel.
7. Berdasarkan pembagian kelas muatannya jembatan dibagi menjadi 3 ( tiga )
kelas yaitu :
d. Jembatan Kelas I
Jembatan kelas I yaitu jembatan yang menggunakan muatan T sebesar
100% dan muatan D sebesar 100 % .
e. Jembatan Kelas II
Jembatan Kelas II yaitu jembatan yang menggunakan muatan T sebesar
70% dan muatan D sebesar 70 % .
f. Jembatan Kelas III
Jembatan kelas III yaitu jembatan yang menggunakan muatan T
sebesar 50 % dan muatan D sebesar 60 %.
2.3. Bagian bagian Jembatan
Secara umum bangunan jembatan dibagi menjadi 2(dua) bangunan utama
yaitu :
c. Bangunan atas (upper structure)
d. Bangunan bawah (sub structure )
Pada umumnya suatu bangunan jembatan terdiri dari 6 bagian pokok yaitu :
g. Bangunan atas (upper structure), yaitu bagian jembatan yang berfungsi
untuk menampung beban beban yang ditimbulkan oleh lalulintas yang
melewatinya seperti : orang, kendaraan, dan lainnya, kemudian beban
tersebut disalurkan kepada bangunan bawah. Konstruksi bangunan aatas
terdiri dari :
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Konstruksi gelagar induk yang ditumpu dari titik tumpu ke titik tumpu
lanilla, baik antara kepala jembatan dengan pangkal, pangkal jembatan
dengan pilar, atau pilar dengan pilar.
Konstruksi perletakan, yang digunakan untuk landasan antara gelagar
gelagar induk dengan pangkal jembatan atau dengan pilar.
Konstruksi lantai kendaraan, yang dilengkapi dengan leureng, trotoir,
atau kerb, cucuran air hujan atau expansion joint.
h. Landasan , yaitu bagian ujung bawah dari suatu bangunan atas yang
berfungsi menyalurkan gaya gaya reaksi dari bangunan atas kepada
bangunan bawah. Menurut fungsinya dapat dibedakan menjadi : sendi
( fixed bearing) dan landasan gerak (movable bearing).
i. Bangunan bawah (sub structure), pada umumnya terletak disebelah bawah
bangunan atas. Fungsinya menerima / memikul beban beban yang
diberikan bangunan atas kemudian menyalurkannya ke pondasi,
selanjutnya oleh pondasi beban beban tersebut disalurkan ke tanah.
j. Pondasi, yaitu bagian bangunan jembatan yang berfungsi untuk menerima
beban beban dari bangunan atas dan menyalurkannya ke tanah. Untuk
keperluan dalam perencanaan pondasi, harus didasarkan pada sifat sifat
tanah dasarnya (daya dukung tanah), sedangkan untuk mengetahui sifat
sifat tanah tersebut harus diadakan penyelidikan yang seksama dilapangan
dan di laboratorium. Dengan demikian dapat diketahui sifat sifat fisik
tanah dan parameter parameter lanilla.
k. Oprit Jembatan, yaitu bagian jembatan berupa timbunan tanah dibelakang
abutment . Timbunan tanah ini harus dibuat sepadat mungkin untuk
menghindari terjadinya penurunan (settlement).
l. Bangunan Pengaman Jembatan, yaitu bagian bangunan jembatan yang
berfungsi sebagai pengaman terhadap pengaruh sungai yang bersangkutan,
baik secara langsung maupun tidak langsung.
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
2.4. Jembatan Beton Prategang (Presstresded Concret Bridge)
Struktur jembatan beton prategang adalah jembatan yang mengunakan
material beton prategang yang memiliki kekuatan tinggi untuk menambah/
meningkatkan kegunaan dan daya tahan jembatan. Struktur jembatan beton
prategang sangat cocok digunakan untuk bentang jembatan yang panjang, dan
telah digunakan di seluruh dunia sejak tahun 1950.
Type jembatan beton prategang terdiri dari :
4. Void Slabs
Type void slabs yaitu type beton prategang yang terbuat dari slabs/ pelat
kosong. Type void slabs sangat ekonomis digunakan untuk bentang
jembatan prategang yang berbelok belok. Type ini digunakan untuk
panjang bentang jembatan dari 6 sampai 15 meter. Ratio ketinggian/
kedalaman struktur gelagar dengan panjang bentang jembatan adalah 0,03
untuk bentang menerus sederhana.
5. I Girders
Type I Girders cukup baik disatukan dengan jembatan baja girder.
Pengerjaan type ini cukup rumit terutama untuk struktur jembatan yang
miring. Type I Girders dapat digunakan untuk bentang jembatan 9 sampai
36 meter. Untuk bentang sederhana rasio ketinggian struktur gelagar/
kedalaman struktur dengan panjang bentang jembatan adalah 0,055,
sedangkan untuk bentang menerus rasio kedalaman dengan panjang
bentang jembatan adalah 0,05.
6. Box Girder
Type Box Girder biasanya digunakan untuk bentang sederhana diatas 30
meter , terutama cocok untuk pelebaran jembatan untuk mengontrol
defleksi/ lendutan. Type Jembatan Box Girder sering digunakan untuk
jembatan beton prategang cor ditempat. Spasi girders dapat dibuat dua kali
kedalaman struktur. Type Box Girders kebanyakan digunakan untuk
bentang 30 meter sampai 180 meter. Rasio ketinggian struktur gelagar/
kedalaman struktur dengan panjang bentang jembatan untuk bentang
sederhana 0,045 dan untuk bentang menerus 0,04.
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Keunggulan dan kelemahan jembatan beton prategang (prestressed
concrete bridge) dengan lantai gelagar kotak (box girder) adalah:
h. Cukup kuat, kaku dan ringan
Sifat kekakuan dan kekuatan itu ditentukan oleh nilai momen inertia dan
section modulus dari penampang lantai, yang sebaliknya akan
mempengaruhi berat lantai tersebut. Dengan penemuan teknik beton
pratekan, maka berat lantai dapat sangat dikurangi dan satuan segment
segment lantai dapat diikat satu sama lain dengan bantuan kabel pratekan.
i. Dapat melayani bentang yang lebih panjang
Dibandingkan dengan dengan jenis struktur lain, jembatan beton
prategang dapat melayani bentang yang lebih panjang. Untuk type box
girder biasanya digunakan untuk bentang 30 m sampai dengan 180 meter.
j. Waktu pelaksanaan jembatan dapat lebih cepat
k. Tahan terhadap korosif
Tendon baja yang digunakan untuk kabel pratgegang akan terlindung oleh
rekatan semen (bounded), sehingga tidak memerlukan pemeliharaan yang
lebih intensif jika dibandingkan dengan jembatan rangka baja.
l. Tidak menimbulkan limbah
m. Lebih memacu perkembangan teknologi alat konstruksi, terutama alat
angkut dan alat angkat.
Kelemahan dari konstruksi jembatan prategang diantaranya :
c. Memerlukam alat angkat yang relatif besar
d. Memerlukan ketelitian dimensi yang tinggi
2.5. Sistem Pembebanan Jembatan
Beban-beban jembatan menurut Standar Pembebanan Untuk Jembatan
(RSNI1) :
f. Muatan lalu lintas terdistribusi D
Beban lajur D terdiri dari beban tersebar merata (UDL) yang digabung
dengan beban garis (KEL) seperti terlihat pada gambar dibawah ini :
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Sumber : RSNI Pembebanan Jembatan
Gambar 2.1 Beban Lajur D ( Sumber
Beban terbagi rata (UDL)
Beban UDL mempunyai intensitas q kPa, dimana besarnya q
tergantung pada panjang total yang dibebani (L) sebagai berikut :
L 30 m : q = 8,0 kPa
L > 30 m : q =
,
_

+
L
15
5 , 0 0 , 8
kPa
Dimana :
q adalah intensitas beban UDL
L adalah panjang total jembatan
Hubungan antara panjang total jembatan dengan intensitas beban UDL
dapat dilihat pada grafik di bawah ini :
Sumber : RSNI Pembebanan Jembatan
Gambar 2.2 Beban Lajur D : UDL vs panjang yang dibebani
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110
4
6
8
10
Panjang yang dibebani (m)
UDL (kPa)
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Panjang yang dibebani L adalah panjang total UDL yang bekerja pada
jembatan. UDL mungkin harus dipecah menjadi panjang panjang
tertentu ntuk mendapatkan pengaruh maksimum pada jembatan
menerus atau bangunan khusus.
Beban garis
Satu KEL dengan intensitas P kN/m harus ditempatkan tegak lurus
terhadap arah lalu lintas pada jembatan. Besarnya intensitas p adalah :
P = 44 kN/m = 4.4 ton/m
Untuk mendapatkan momen lentur negatif maximum pada jembatan
menerus, KEL kedua yang identik harus ditempatkan pada posisi
dalam arah melintang jembatan pada bentang yang lainnya.
Penyebaran beban D pada arah melintang
Beban D harus disusun sedemikian rupa sehingga menimbulkan
momen maksimum. Penyusunan komponen komponen UDL dan
KEL dari beban D pada arah melintang harus sama.
- Apabila lebar jalur kendaraan jembatan kurang atau sama dengan
5.5 m, maka beban D harus ditempatkan pada seluruh jalur
dengan intensitas 100 %.
- Apabila lebar jalur lebih dari 5.5 m, beban D harus ditempatkan
pada jumlah lajur lalu lintas rencana (n
1
) yang berdekatan dengan
intensitas 100 %. Hasilnya adalah beban garis ekuivalen sebesar :
n
1
x 2.75 q kN/m, dan beban terpusat ekuivalen sebesar : n
1
x 2.75
p kN. Kedua duanya bekerja pada berupa strip pada jalur selebar
n
1
x 2.75 m. Lajur lalu lintas rencana yang membentuk strip ini
ditempatkan dimana saja pada jalur jembatan. Beban D
tambahan harus ditempatkan pada seluruh lebar sisa dari jalur
dengan intensitas sebesar 50 %. Susunan pembebanan dapat dilihat
pada gambar dibawah ini :
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Sumber : RSNI Pembebanan Jembatan
Gambar 2.3 Penyebaran Pembebanan Arah Melintang
g. Muatan lalu lintas terpusat T
Pembebanan truk T terdiri dari kendaraan truk semi trailer yang
mempunyai susunan dan berat as seperti terlihat pada gambar 2,7. Berat
dari masing masing as disebarkan menjadi 2 beban merata sama besar
yang merupakan bidang kontak antar roda dengan permukaan lantai. Jarak
antara 2 as tersebut bisa diubah ubah antara 4,0 m sampai dengan 9,0 m
untuk mendapatkan pengaruh terbesar pada arah memanjang jembatan.
Sumber : RSNI Pembebanan Jembatan
Gambar 2.4 Pembebanan truk T
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
h. Faktor Beban Dinamis
Faktor beban dinamis (DLA) merupakan interaksi antara kendaraan yang
bergerak dengan jembatan. Besarnya DLA tergantung kepada frekuensi
dasar dari suspensi kendaraan, biasanya antara 2 5 Hz untuk kendaraan
berat dan frekuensi dari dari getaran lentur jembatan. Untuk perencanaan
DLA dinyatakan sebagai beban status ekuivalen. Besarnya KEL dari
pembebanan lajur D dan beban roda dari pembebanan truk T harus
dengan harga KEL yang cukup untuk memberikan terjadinya interaksi
antara kendaraan yang bergerak dengan jembatan. Besarnya nilai tambah
dinyatakan dalam fraksi dari beban status. DLA ini diterapkan pada
keadaan batas daya layan dan batas ultimit.
Untuk pembebanan D, DLA merupakan fungsi dari panjang bentang
ekuivalen seperti tercantum pada gambar 2.8. Untuk bentang tunggal
panjang bentang ekuivalen diambil sama dengan panjang bentang
sebenarnya, dan untuk bentang menerus panjang bentang ekuivalen L
E
diberikan dengan rumus :
L
E
=
maks av
xL L
Dimana :
L
av
adalah panjang bentang rata rata dari kelompok bentang yang
disambungkan secara menerus.
L
maks
adalah panjang bentang maksimum dalam kelompok bentang yag
disambung secara menerus.
Harga DLA yang digunakan untuk kedalaman yang dipilih harus
diterapkan untuk bangunan seutuhnya.
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Sumber : RSNI Pembebanan Jembatan
Gambar 2.5 Faktor beban dinamis
i. Gaya rem
Gaya rem dianggap bekerja secara horizontal dalam arah sumbu jembata
dengan titik tangkap setinggi 1.8 m diatas permukaan lantai kendaraan.
Gaya rem diparhitungkan sebesar 5 % dari beban lajur. Seperti dalam
gambar 2.9.
Sumber : RSNI Pembebanan Jembatan
Gambar 2.6 gaya rem per lajur 2,75 m (Sumber
j. Gaya gempa
Jembatan jembatan yang akan dibangun pada daerah daerah dimana
dapat diprediksi adanya pengaruh pengaruh dari gempa bumi, harus
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
50
90 100 150
0
Bentang (m)
DLA (%)
10
20
30
50
60
200
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
direncanakan dengan memperhitungkan beban atau gaya gaya yang akan
bekerja senilai dengan pengaruh statu gaya horizontal, yang bekerja pada
titik berat konstruksi yang ditinjau, dalam arah yang paling berbahaya.
Gaya horizontal yang dimaksud ditentukan dengan rumus :
K = E x G
Dimana :
K adalah gaya horizontal
G adalah muatan mati dari konstruksi/ bagian konstruksi yang ditinjau
E adalah koefisien gempa bumi yang ditentukan menurut daftar berikut :
Tabel 2.1
Koefisien Gempa Untuk Zona Gempa
Keadaan tanah atau pondasi
Koefisien gempa bumi
untuk zona gempa
I II III
Untuk jembatan diatas pondasi langsung dengan tekanan tanah
sebesar 5 kg/cm
2
atau lebih
0.12 0.06 0.03
Untuk jembatan yang didirikan diatas pondasi langsung dengan
tekanan tanah < 5 kg/cm
2
0.20 0.10 0.05
Untuk jembatan yang didirikan selain diatas pondasi langsung 0.28 0.14 0.07
Sumber : RSNI Pembebanan Jembatan
Catatan :
Muatan hidup akibat gempa bumi diabaikan
2.6. Pengertian Beton Prategang
Beton adalah material struktur yang kuat dalam kondisi tekan, tetapi lemah
dalam kondisi tarik. Kuat tariknya bervariasi dari 8 % sampai 14 % dari kuat
tekannya. Karena rendahnya kapasitas tarik beton tersebut, maka retak lentur
terjadi pada taraf pembebanan yang masih rendah. Untuk mengurangi atau
mencegah berkembangnya retak akibat tarik, maka pada pada elemen struktur
diberikan gaya konsentris atau eksentris dalam arah longitudinal elemen struktur.
Gaya longitudinal yang diterapkan terhadap elemen struktur tersebut disebut gaya
prategang. Gaya prategang yang diberikan terhadap elemen struktur beton tersebut
dapat mencegah berkembangnya retak dengan cara mengeleminasi atau dapat
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
mengurangi tegangan tarik dibagian tumpuan dan daerah kritis pada kondisi
beban bekerja, sehingga dapat meningkatkan kemampuan elemen struktur beton
lentur, geser dan torsional penampang beton sendiri.
Jadi beton prategang adalah penampang beton terlebih dahulu diberi
tegangan tekan, sebelum beban beban luar bekerja. Prategang diperoleh dari
kabel baja yang ditegangkan (ditarik) dan memberikan dampak tekanan terhadap
penampang beton atau, beton prategang adalah beton yang mengalami tegangan
internal dengan besar dan distribusi sedemikian rupa sehingga dapat mengimbangi
tegangan yang terjadi akibat beban eksternal sampai batas tertentu.
Sumber : RSNI Pembebanan Jembatan
Gambar 2.7
Tegangan Beton Prategang
2.6.1. Prinsip prinsip Dasar Beton Prategang
Ada tiga konsep yang dapat dipakai untuk menjelaskan dan menganalisis
sifat sifat dasar dari beton prategang, yaitu :
d. Konsep sistem prategang untuk mengubah beton menjadi bahan yang elastis.
Konsep ini memberlakukan beton sebagai bahan yang elastis dan mungkin
merupakan pendapat yang umum dari para insinyur. Beton prategang pada
dasarnya adalah beton yang ditransformasikan dari bahan yang getas jadi
bahan yang elastis
e. Sistem Prategang untuk Kombinasi Baja Mutu Tinggi dengan Beton
Konsep ini mempertimbangkan beton prategang sebagai kombinasi menahan
tarikan dan beton menahan tekanan, dengan demikian kedua bahan
membentuk kopel penahan untuk melawan momen eksternal
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
F F
P
Gaya prategang
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
f. Sistem Prategang untuk Mencapai Kesetimbangan Beban
Konsep ini menggunakan prategang sebagai suatu usaha untuk seimbang gaya
gaya pada sebuah batang. Penerapan dari konsep ini menganggap beton
diambil sebagai benda bebas dan menggantikan tendon dengan gaya gaya
yang bekerja pada pada beton sepanjang bentang.
2.6.2. Klasifikasi dan Jenis Beton Prategang
Berdasarkan desain dan kosntruksinya, struktur beton prategang
diklasifikasikan sebagai berikut :
h. Pemberian Gaya Prategang Secara Eksternal dan Internal
Pemberian gaya prategang dengan cara ini adalah pemberikan gaya
prategang pada sebuah penampang dengan cara mendongkrak (jacking) pada
tempat tempat tertentu untuk menghasilkan tekanan pada serat - serat bawah
dan tarikan pada serat serat atas.
i. Prategang Linear dan Melingkar
Prategang melingkar adalah istilah yang dipakai untuk struktur prategang
melingkar seperti : tangki bundar, silo silo dan pipa pipa, dimana tendon
prategang dililitkan melingkar lingkar, sedangkan sistem prategang linear
adalah sistem prategang yang dipasang pada balok balok atau pelat pelat.
j. Sistem Pratarik (Pretension) dan Pasca tarik (Posttension)
Pretension yaitu kabel baja (tendon) ditegangkan terlebih dahulu sebelum
beton dicor, dalam keadaan kabel baja ditegangkan kemudian beton dicor, dan
setelah beton keras, kabel baja direalease (dilepas) yang kemudian akan
memberikan tekanan terhadap penampang beton.
Posttension yaitu beton terlebih dahulu dicor, kemudian gaya prategang
diberikan setelah beton keras
k. Prategang Tendon dengan Angkur -Ujung atau Tanpa Angkur Ujung
Pada sistem pasca tarik tendon tendon diangkurkan pada ujungnya dengan
bantuan alat alat mekanis untuk mengalihkan gaya prategang ke beton.
Komponen sistem prategang seperti itu disebut pengangkuran ujung.
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
l. Sistem Prategang Tendon dengan atau Tanpa Rekatan
Rekatan pada tendon pasca tarik dilakukan dengan cara sementasi , jika tidak
direkatan perlindungan tendon tendon terhadap karat dilakukan dengan cara
melapisinya menggunakan bahan pelindung minyak atau bahan bahan
lainnya .
m. Pracetak, Cetak di Tempat dan Konstruksi Komposit
Pracetak (Precast) yaitu komponen strukstur prategang yang dicor dipabrik
atau di dekat proyek, kemudian diangkut ke lokasi proyek.
Prategang cetak ditempat (cast in place) yaitu beton prategang yang dicetak
ditempat pada saat pelaksanaan pekerjaan. Cara cast in place membutuhkan
bekisting yang lebih banyak, tetapi dapat menghemat biaya transportasi dan
biaya penyetelan
Konstruksi komposit yaitu sistem prategang yang menggunakan panel tilt-up
dan pelat angkat yang dibuat di dekat dan di dalam struktur itu sendiri
kemudian diangkut dan distel di lokasi pekerjaan.
n. Sistem Prategang Sebagian atau Prategang Penuh
Jika sebuah komponen struktur di desain sehingga pada beban kerja tidak
terjadi tegangan tarik , maka beton tersebut dikatakan mengalami gaya
prategang secara penuh. Jika komponen struktur didesain sehingga
memungkinkan terjadinya tegangan tarik pada komponen struktur akibat
beban kerja, maka komponen struktur tersebut dikatakan mengalami gaya
prategang sebagian.
2.7. Tegangan Pada Penampang Beton Akibat Sistem Prategang
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
h
b
Cgc
Cgs
Cgs
Cgc
P
F
F
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Gambar 2.8
Gambar Tegangan Pada Penampang Akibat Gaya Prategang
Dimana :
Cgc : Center gravity of concrete ( titik berat penampang beton)
Cgs : Center gravity of steel ( titik berat penampang baja )
Jika Cgc berimpit dengan Cgs, maka :
Akibat gaya prategang F, seluruh bagian penampang akan menerima
tegangan tekan

F = -
A
F
( 2 1 )
Akibat gaya P serat atas penampang akan tertekan, dan serat bawah akan
tertarik

P =
W
M
( 2 2 )
Diagram tegangan akhir akibat F dan P
+
1. b). c) d)
Gambar 2.9
Diagram Distribusi Tegangan Akibat Beban dan Gaya Prategang
Bila gaya prategang F bekerja pada penampang beton dengan eksentrisitas
sebesar e , maka dimungkinkan untuk memecah gaya prategang menjadi dua
kompnen yaitu : beban yang konsentris F yang melalui titik berat dan momen Fe.
Dengan teori elastik tegangan serat pada setiap titik akibat momen Fe diberikan
oleh persamaan :
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
A
F
A
F
-
+
= atau
-
-
+
-
+
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
f =
I
Fey
I
My

Resultan tegangan serat akibat gaya prategang eksentrisitas dihitung dengan


persamaan :
f =
I
Fey
A
F
t
Gambar 2.10
Diagram Resultan Tegangan Akibat Gaya Prategang Eksenrtisitas
Dimana e = eksentrisitas
Akibat adanya eksentrisitas e pada penampang maka akan timbul momen
eksentrisitas , Me = F.e
Tegangan tegangan pada penampang akan terjadi :
4. Akibat tekanan gaya F pada seluruh bagian penampang

F =
A
F
( 2-3 )
5. Akibat momen lentur dari beban luar

M =
W
M
t ( 2-4 )
6. Akibat momen eksentrisitas

Me =
W
Fe
t ( 2-5 )
Tegangan total pada penampang adalah super posisi ( penjumlahan ) dari
ketiga tegangan tersebut
2.8. Tegangan Pada Beton Akibat Beban
Tegangan pada beton yang dihasilkan oleh momen eksternal, baik akibat
berat sendiri penampang balok atau setiap beban eksternal dihutung dengan teori
elastik biasa yaitu :
f =
I
My
( 2-6 )
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
Cgc
Cgs
F
F
e
Cgc
Cgs
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Bila dikombinasikan persamaannya, hasilnya sebagai berikut :
f =
I
My
I
Fey
A
F
t + ( 2-7 )
Dengan prinsip dasar Ta = Ca = M , dan a = M / T , maka pembebanan akhir
dapat dihitung dengan persamaan :
C = T = F , f =
I
Fey
A
F
I
Cey
A
C
t t ( 2-8 )
2.9. Momen Retak
Momen retak adalah momen yang menghasilkan retak retak rambut
pertama pada penampang beton prategang. Dengan menganggap bahwa retak
mulai terjadi saat tegangan tarik pada serat terluar beton mencapai modulus
keruntuhan, maka momen retak dapat dihitung dengan persamaan berikut :
M = Fe
c
I f
Ac
FI
r
+ + ( 2-9 )
Bila pusat tekanan beton ada pada titik kern atas, pada serat bawah tegangan
menjadi nol. Momen perlawanan diberikan oleh gaya prategang F dikalikan
lengan momen diukur dari kern atas, sehingga momen total saat retak dihitung
dengan persamaan :
M = M1 + M2 = F
c
I f
c
r
e
r
+ + ) (
2
(2-10 )
2.10. Momen Batas Tendon Terekat
Untuk balok rekatan kurang tulangan mengikuti aturan ACI , jika baja
ditarik sampai ke tingkat tegangan yang mendekati kekuatan batasnya pada titik
kehancuran beton akibat lenturan. Untuk bahan yang sekarang digunakan pada
beton prategang, indeks penulangan untuk,
p

, yang mendekati nilai batas untuk


menjamin bahwa baja prategang ( A
ps
) akan sedikit lagi mencapai daerah
lelehnya, diberikan oleh peraturan ACI sebagai berikut :

p
=
p
.f
ps
/ f
c
0,30
dimana :
bd A
ps p
/
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Asal gaya prategang efektif f
se
tidak kurang dari 0,5 f
pu
, nilai pendekatan
kapasitas momen batas balok terekat dapat menggunakan persamaan berikut :
f
ps
= f
pu

,
_

'
5 , 0 1
c
pu
p
f
f

(2-11 )
Untuk menyelesaikan momen batas desain menurut Peraturan PCI, dengan
memperkenalkan faktor reduksi kekuatan,

, dengan memasukan
p
maka
persamaan menjadi :
Mu =


[ ] ) 59 , 0 1 (
p ps ps
d f A
(2-12 )
Persamaan momen batas dalam bentuk kopel menurut Peraturan ACI :
Mu =
1
]
1

)
2
(
a
d f A
ps ps

(2-13 )
Untuk lenturan Peraturan PCI

= 0,9.

2.11. Konsep Keseimbangan Beban (Load Balancing)
Teknik keseimbangan beban didasarkan atas penggunaan gaya vertikal pada
tendon prategang draped atau harped untuk melawan atau mengimbangi
pembebanan gravitasi yang dialami suatu balok.
Profil pemasangan kabel tendon untuk beton prategang dengan metode
kesimbangan beban :
1. =
2. =
3. =
4. =
Gambar 2.11
Lay Out (Tata Letak ) Kabel Tendon
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Pengertian gambar cara pemasangan kabel tendon :
4. Apabila beban terpusat maka cara pemasangan kabel tendon yang tepat
adalah cara nomor 3.
5. Apabila beban terpusatnya ada 1 (satu ), maka cara cara pemasangan kabel
tendon yang tepat adalah cara nomor 2
6. Apabila beban terpusatnya ada 3, maka cara pemasangan kabel tendon yang
tepat adalah cara nomor 4.
2.12. Kehilangan Prategang ( Loss Of Prestress)
Gaya prategang yang digunakan dalam perhitungan tegangan tidak akan
konstan terhadap waktu. Tegangan tegangan selama berbagai tahap pembebanan
juga berubah ubah karena kekuatan dan modulus elastisitas bertambah terhadap
waktu.
Gaya prategang awal (Fo) yang terjadi pada saat transper gaya akan
berkurang menjadi gaya prategang efektif ( F ).
Kehilangan gaya prategang bisa disebabkan oleh beberapa kejadian, yaitu :
4. Kejadian yang Terjadi Sesaat (Time Independent), yaitu kehilangan gaya
prategang akibat pemindahan elastis pada beton ( Elastic shortening, Es ).
Pada saat gaya prategang dialihkan ke beton, komponen struktur akan
memendek dan baja prategang turut memendek bersamanya, sehingga ada
kehilangan gaya prategang pada baja.
Bila terjadi lenturan pada komponen struktur yang diakibatkan oleh beratnya
sendiri dan momen yang diakibatkan oleh eksentresitas gaya prategang,
maka dapat digunakan persamaan :
I
My
I
F
A
F
f
ey
c
t t ( 2-14)
Jika beratnya sendiri yang bekerja sebesar wg , dan y = e, momen pada
penampang M
G
dapat dicari kehilangan gaya prategangnya dengan
persamaan ,
I
e M
I
Fe
A
F
f
G
cir
+
2
( 2-15 )
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Agar mendapat kelelitian yang cukup untuk sebagian besar keadaan jika
dianggap kehilangan gaya prategang sebesar 10 % untuk sebuah balok
pratarik, dimana peralihan pada seluruh kabel terjadi pada saat yang
bersamaan. untuk tegangan beton akibat Fo = 0,9 F
i
pada komponen
struktur pratarik dapat menggunakan persamaan berikut :
f
cir
=
I
e M
I
e Fo
A
Fo
G.
2
.
+ ( 2- 16)
Menurut ACI (American Concrete Institue), untuk kehilangan elastik dengan
memperhitungkan pengaruh penarikan yang berturut turut pada kehilangan
elastik, persamaan ( 2-16 ) dapat diubah menjadi persmaam berikut :
Es = K
es
.Es.
ci
cir
E
f
( 2-17 )
Dimana :
K
es
= 1, untuk prestension
K
es
= 0,5 , untuk posttension
Es = Modulus Elastisitas baja Prategang
E
ci
= Modulus Elastisitas beton awal
f
cir
= Tegangan beton pada Cgs akibat Fo
M
G
= Momen akibat berat sendiri gelagar
5. Kejadian yang Berlangsung Menurut Waktu (time dependent)
Kehilangan gaya prategang akibat kejadian yang berlangsung menurut
waktu (time dependent) disebabkan oleh :
f. Rangkak pada beton (Creep, Cr )
Rangkak pada beton (creep) yaitu deformasi inelastik yang tergantung
pada waktu dari beton atau baja yang terjadi hanya akibat adanya
tegangan dan merupakan fungsi dari padanya ( tegangan )
Kehilangan gaya prategang akibat rangkak untuk komponen struktur
dengan tendon terekat dihitung dengan persamaan berikut:
CR = K
cr
.
) (
cds cir
c
s
f f
E
E

( 2-18 )
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
K
cr
= 2,0 untuk prestension ( pratraik)
K
cr
= 1,6, untuk postension (pasca tarik )
f
cds
= Tegangan beton pada Cgs akibat beban beban pelaksanaan.
E
s
= Modulus Elastisitas tendon prategang
E
c
= Modulus Elastisitas beton umur 28 hari, yang bersesuaian dengan
fc
Kehilangan gaya prategang untuk komponen struktur dengan tendon
yang tidak terekat dihubungkan dengan regangan komponen struktur
rata rata dan bukan dengan regangan pada titik momen maksimum
adalah :
CR =
cpa
c
s
cr
f
E
E
K
( 2-19)
f
cpa
= Tegangan tekan rata rata pada beton sepanjang komponen
struktur pada garis berat tendon ( cgs)
g. Susut pada beton ( Shringkage, SH )
Kehilangan gaya prategang akibat susut (shringkage) adalah perkalian
susut efektif ,
sh

dan modulus elastisitas dari baja prategang . Faktor


lain yang menentukan yang terdapat pada persamaan kehilangan gaya
prategang akibat susut adalah koefisien K
sh
, yang menggambarkan fatwa
bahwa komponen struktur pasca tarik akan lebih beruntung karena susut
terjadi sebelum penarikan sistem prategang. Kehilangan gaya prategang
akibat susut beton dapat dihitung dengan persamaan berikut :

SH = 8,2 x 10
6
K
sh
.E
s
(1 0,06
S
V
) ( 100 RH ) ( 2-20)
Dimana :
RH = Kelembabam Relatif
K
sh
= Koefisien tergantung selang waktu perawatan beton spserti tabel
(2-2) di bawah tergantung waktu penarikan kabel baja
Tabel 2.2
Nilai K
sh
untuk Komponen Struktur Pasca Tarik
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Selang waktu
setelah selesai
perawatan beton
hingga transper
gaya prategang
Hari
1 3 5 7 10 20 30 60
K
sh
0,92 0,85 0,80 0,77 0,73 0,64 0,58 0,45
Sumber : T.Y.Lin Jilid 1 Edisi Ketiga halaman 109
h. Relaksasi pada baja prategang ( Relation, RE )
Kehilangan gaya prategang akibat relaksasi baja adalah gaya prategang
yang berkurang secara perlahan perlahan tergantung lamanya waktu
dan perbandingan f
pi
/ f
py
. Untuk menghitung kehilangan gaya prategang
akibat realksasi baja,Komisi ACI-ASCE menghasilkan persamaan
berikut :
RE =
[ ] J K
re

( SH + CR + Es ).C ( 2-21)
Dimana:
K
re
dan J ditentukan oleh tipe dan grade baja prategang (Tabel 2-2)
C = ditentukan oleh nilai perbandingan f
pi
(tegangan awal ) terhadap
tegangan Ultimit baja prategang ( f
pu
) dan tipe kabel prategang
( Tabel 2-3)
Misal : untuk
75 , 0
pu
pi
f
f
, tipe prategang adalah strand

C = 1,45
Tabel. 2.3
Nilai nilai K
re
dan J
Tipe Tendon
a
Kre (MPa) J
Strand atau kawat stress- relieved derajat 1860 Mpa 138 0,15
Strand atau kawat stress- relieved derajat 1720 Mpa 128 0,14
Kawat stress-relieved derajat 1655 MPa atau 1620 MPa 121 0,13
Strand relaksasi rendah derajat 1860 MPa 35 0,040
Kawat relaksasi rendah derajat 1720 Mpa 32 0,037
Kawat relaksasi rendah derajat 1655 MPa atau 1620 Mpa 30 0,035
Batang stress relieved derajat 1000 MPa atau 1100 Mpa 41 0,05
Sumber : T.Y.Lin Jilid 1 Edisi Ketiga halaman 111
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Tabel 2.4
Nilai nilai C
fpi / fpu
Strand atau kawat
stress relieved
Batang stress-relieved atau Strand atau
kawat relaksasi rendah
0,80 1,28
0,79 1,22
0,78 1,16
0,77 1,11
0,76 1,05
0,75 1,45 1,00
0,74 1,36 0,95
0,73 1,27 0,90
0,72 1,18 0,85
0,71 1,09 0,80
0,70 1,00 0,75
0,69 0,94 0,70
0,68 0,89 0,66
0,67 0,83 0,61
0,66 0,78 0,57
0,65 0,73 0,53
0,64 0,68 0,49
0,63 0,63 0,45
0,62 0,58 0,41
0,61 0,53 0,37
0,60 0,49 0,33
Sumber : T.Y.Lin Jilid 1 Edisi Ketiga halaman 111
i. Slip Akibat Pengangkuran untuk Sistem Post-tension.
Kehilangan gaya prategang akibat pengangkuran disebabkan baji
gesekan yang dipakai menahan kabel akan sedikit tergelincir sebelum
kabel dijepit dengan kokoh. Besarnya gelincir ini tergantung dari jenis
baji dan tegangan pada kawat, dengan nilai rata rata sekitar, 2,5
mm.Kehilangan gaya prategang akibat pengangkuran dibatasi menjadi
pergeseran kecil yang terjadi pada waktu baji mendesak dan
kemungkinan terjadinya geseran yang besar dapat dihilangkan. Rumus
umum untuk menghitung kehilangan gaya prategang akibat deformasi
pengangkuran
a

adalah :
ANC = f
s
=
L
E
s a

( 2-22)
Jadi Total Kehilangan Prategang yaitu : Es + CR + SH + RE
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Tabel 2.5
Kehilangan Prategang Rata rata
Pretension (%) Postension (%)
ES 4 1
CR 6 5
SH 7 6
RE 8 8
Jumlah 25 20
F efektifnya 0,75 Fo 0,8 Fo
j. Pengaruh Friksi ( gesekan )

Untuk tendon yang melengkung dengan jari jari R, tegangan pada setiap
titik yang keluar dari ujung dongrak adalah :
) . (
1 1 2
.
L K
e F F F
+


Kontrol dilakukan di F2, karena pengaruh gesekan F2 < F1 , dimana
K = Koefisien gesek ( tergantung jenis bahan )

= Koefisien lengkungan (curvature )


Perpanjangan Tendon
Dengan mengabaikan kehilangan gaya prategang akibat gesekan sepanjang
tendon , jika sebuah tendon mempunyai tegangan merata f
s
sepanjang L ,
jumlah perpanjangan adalah :
s =
s

L = f
s
L /E
s
= FL /E
s
A
s
Untuk gaya prategang yang melampaui batas proporsional tendon,
persamaan ini tidak dapat digunakan dan perlu melihat kembali diagram
tegangan regangan untuk mencari nilai
s

yang sesuai.
Dengan mengabaikan perpendekan pada beton, perpanjangan elastik
dihitung dengan persamaan :
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS

L
F2
F2
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Perpanjangan elastik =
s
s s
s
f f
f

1
2.13. Desain Penampang Untuk Lentur
Desain awal penampang beton prategang untuk menahan lenturan dapat
dibentuk dengan prosedur yang sederhana yaitu kopel gaya dalam yang C T
yang bekerja pada penampang.
Design awal ( peliminary design )
Gambar 2.12 Desain Pendahuluan Penampang Balok
C = T
MT = C. 0,65h
= T. 0,65h
h
MT
T
65 , 0

= F
eff
dimana, MT = Momen Total untuk
MT
MG
besar.
Dengan tegangan rata rata = 0,5fc, maka luas penampang yang diperlukan Ac
perlu adalah :
Ac perlu =
' 5 , 0 ' 5 , 0 fc
T
fc
C

Gaya prategang total A


ps
f
se
adalah juga gaya C pada penampang beton, yang akan
menghasilkan tegangan satuan rata rata pada beton, yaitu :
c
se ps
c c
A
f A
A
T
A
C

Tegangan serat atas fc , akibat beban kerja menurut peraturan ACI adalah
0,45fc .
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
Cgs
-
C (Tekan pada beton
T (Tarik pada kabel baja )
Tegangan rata rata
Asumsi 0,65 h
0,5fc
Tegangan tekan yang diijinkan
fc
h
-
0,5fc
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
A
c
=
c
se ps
f
f A
5 , 0
Dimana :
Ac = Luas Penampang yang diperlukan
Aps = Luas total baja Prategang
Fe = Tegangan serat atas
2.14. Desain Definitif
Design definitif untuk beton prategang yang tidak diijnkan terjadi tarik di
bawah :
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
Cgc
Cgs
A c
F c
Fo
C
C t A c
h F
f b
o
.
.

A c
F c
Saat Tranfer
Gaya Prategang
C
(e + kt)
Setelah Pembebanan
Penuh

Ca
Cb
Fo = Gaya prategang
Awal
F = Gaya prategang
Efektif
Cgc
Cgs
kt
kb
Ct
Cb
A c
F c
C
Fo
d h
Cb Ac
h F
ft
.
.


Ca
Cb
Fo = Gaya prategang
Awal
F = Gaya prategang
Efektif
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Gambar 2.13
Dstribusi Tegangan Tanpa Tegangan Tarik Pada Beton
Langkah langkah perhitungan untuk mendesain definitif adalah :
2. e kb =
Fo
MG
, dimana
MG = Momen akibat berat sendiri

MG = Fo.(e kb ).
F
o
= Gaya awal,
e = kb
Fo
MG
+
2. F perlu =
kt e
MT
+
Fo perlu =
perlu
F
perlu
0
0
3. Ac perlu =
Ct fb
h Fo
.
.
dan Ac perlu =
Cb ft
h F
.
.
, ambil nilai Ac yang terbesar.
4. Bandingkan Ac perlu dengan Ac ada :
Kt =
cb
i
2
, kb =
Ct
i
2
, dimana i =
A
I
F = % efektif x Fo
Keterangan :
f
b
= Tegangan beton yang diijinkan saat transfer gaya.
f
t
= Tegangan beton yang diijinkan setelah pembebanan penuh
k
t
= keren atas
k
b
= keren bawah
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS

Ca
Cb
Fo = Gaya prategang
Awal
F = Gaya prategang
Efektif
+
=

Ca
Cb
Fo = Gaya prategang
Awal
F = Gaya prategang
Efektif
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
A
c
= Luas penampang beton
MT = Momen total akibat berat sendiri, berat lantai, beban hidup, beban mati.
Jika
MT
ME
besar, maka :
A
c
perlu =
( )
kt
Fo
MG
e
fb
Fo
) (
1

+
dan Ac perlu =
Cb ft
h F
.
.
( tetap )
Jika diijinkan terjadi tarik :
4. e
1
+ e
2
=
Fo
kb A ft MG . '. +

5. F =
e kt
kt A fb MT
+
. '.
6. Ac perlu =
Cb ft Ct fb
h Fo
'. . .
.
dan
Ac perlu =
Ct fb Cb ft
h F
'. .
.

2.15. Penampang Komposit Balok Prategang Lantai


Gambar 2.14
Dstribusi tegangan untuk sebuah penampang komposit
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
b
t
e
Cgc Cgs
Cgc

Ca
Cb
Balok Prategang
Ca
Cb
b efektif
Lantai cor di tempat
Fo = Gaya prategang
Awal
F = Gaya prategang
Efektif
+
=
b
t
e
Cgc Cgs
Cgc

Ca
Cb
Balok Prategang
Ca
Cb
b efektif
Lantai cor di tempat
Fo = Gaya prategang
Awal
F = Gaya prategang
Efektif
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Untuk pelaksanaan tanpa perancah, perhitungan dilakukan dengan cara :
2. Saat Penarikan Kabel Prategang

atas =
Wa
e Fo
Wa
Mbs
A
Fo .
+

bawah =
Wb
e Fo
Wb
Mbs
A
Fo .
+
2. Saat Lantai dicor

atas =
Wa
e F
Wa
Ms Mbs
A
F . ) (
+
+

bawah =
Wb
e F
Wb
Ms Mbs
A
F . ) (

+
+
6. Akibat Beban Hidup

atas =
'
Wa
ML

bawah =
' Wb
ML
+
Bentuk gambar tegangan akhir :
Gambar 2.15
Distribusi tegangan untuk penampang komposit
F = Gaya prategang efektif, yaitu gaya prategang awal dikurangi oleh jumlah gaya
gaya yang mengurangi, seperti : gesekan dan lain lain.
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
-_
+ +
+
-_
-_
+
=
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
'
'
'
'
'
'
Wb
Ic
Wb
Ca
Ic
Wa

2.16. Penampang Komposite Diijinkan Tarik


Langkah langkah perhitungan untuk penampang komposite yang dijinkan
tarik :
5. e
1
+ e
2
=
Fo
MG
Fo Ct
I ft
+
.
'.
,

e = e
1
+ e
2
+ kb
6. mt =
'
'
Ct
I
Ct
I
, mb =
'
'
Cb
I
Cb
I
dimana I = I precast , I = I composite
7. F =
kt e
Ac kt b f Mc mb MP
+
+ . . ' .

8. Ac perlu =
1
]
1


+
kt
MG e Fo
Fo
fb
. 1
, dan
Ac perlu =
1
]
1

+ +
kb
Fe Mc mt MP F
ft
. 1
Dimana : MP = Momen pada penampang precast
MC = Momen pada penampang komposit akibat beban hidup satu
M
Total
= MP + MC
2.17. Bentuk bentuk Penampang Standar Beton Prategang
Bentuk yang paling sederhana adalah bentuk persegipanjang yang dimiliki
oleh semua pelat pejal dan digunakan untuk beberapa balok bentang pendek.
Bentuk bentuk penampang yang seringkali digunakan untuk beton prategang.
f. Penampang - I simetris
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
Penampang
I Simetris
Penampang
Persegipanjang
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
g. Penampang - I tidak simetris
h. Penampang T
i. Penampang T terbalik
j. Penampang kotak ( box )
Penampang standar menurut ASSHTO-PCI untuk balok ( kotak ) beton prategang
yang digunakan untuk jembatan jembatan dan jalan raya .
Tabel 2.6
Besaran dan Modulus Untuk Penampang Box Menurut ASSHTO
Type
W
inch
H
inch
Luas
(in
2
)
y
(in)
Inertia
(in
4
)
Berat
(kip/ft)
Bentang
Max (ft)
BI-36 36 27 560,5 13,35 50,334 0,584 92
BI-48 48 27 692,5 13,37 65,941 0,721 92
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
BII-36 36 33 620,5 16,29 85,153 0,646 107
BII-48 48 33 752,5 16,33 110,499 0,784 108
BIII-36 36 39 680,5 19,25 131,145 0,709 120
BIII-48 48 39 812,5 19,29 168,367 0,846 125
BIV-36 36 42 710,5 20,73 158,644 0,740 124
BIV-48 48 42 842,5 20,78 203,088 0,878 127
Sumber : Edward G. Nawy Jilid 1 Edisi Ketiga Lampiran C halaman 448
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
BAB III
KOMPILASI DATA
3.1. Peta Lokasi
Gambar 3.1 Peta Wilayah Indonesia
Gambar 3.2 Peta Wilayah Provinsi Jawa Barat
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Gambar 3.3. Peta Lokasi Proyek Pembangunan Jalan Lintas Selatan Jabar
STA 211 + 250 sampai dengan STA 218 + 000
Gambar 3.4. Lokasi Jembatan Cikawung
3.2. Data Umum Jembatan
Jembatan Cikawung merupakan salah satu jembatan yang pada Jalan Jalur
Lintas Selatan Jabar yang berada di sepanjang pesisir selatan . Secara administrasi
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
Jembatan
Cikawung
Jembatan
Cikawung
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Jembatan Cikawung berlokasi di Sungai Cikawung Desa Karangwangi
Kecamatan Cidaun Kabupaten Cianjur.
3.3. Data Gambar Jembatan
Data gambar rencana jembatan didapat dari data proyek yang terdiri dari :
Gambar lokasi Jembatan
Gambar potongan melintang jembatan
Gambar potongan memanjang jembatan dan
Gambar gambar detail perencanaan
3.4. Data Beban beban
Sistem pembebanan yang digunakan dalam perencanaan ini adalah Sistem
Pembebanan Jembatan menurut Stndar Nasional Indonesia (RSNI 1)
.Berdasarkan data dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Jembatan Jalan dan
Jembatan Ujung Berung Bandung, bahwa Jembatan Cikawung yang terletak di
Jalan Lintas Selatan Jabar , direncanakan menggunakan dengan menggunakan
Beban Binamarga 100 %.
Beban beban yang digunakan untuk perencanaan .
1. Beban Hidup, terdiri dari :
a. Beban Lajur :
Beban garis P sebesar 44 KN/m = 4,4 ton / m
Beban terbagi rata q sebesar 2,2, ton / meter / lajur, dengan
ketentuan ukuran 2,75 m/ lajur
b. Beban T untuk jeringan Jalan Lintas Selatan menggunakan MST 100
KN
c. Beban Pejalan kaki sebesar 5 KPa
2. Beban Mati
Berat isi untuk beban mati yang digunakan dalam perencanaan terdiri dari :
Lapisan aspal = 22,00 KN/m
3

Beton prategang = 26,00 KN/m
3
Beton bertulang = 25,00 KN/m
3
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Baja = 78,00 KN/m
3
Air murni = 10,00 KN/m
3
3.5. Data Hidrologi
Berdasarkan data gambar rencana yang ada, tingi bebas gelagar jembatan
dengan muka air banjir adalah 7,75 meter. Sesuai dengan pasal 6 ayat 2 pedoman
perencanaan pembebanan jembatan jalan raya SKBI 1.3.28-1987, dimana tinggi
bebas terhadap banjir 50 tahunan untuk jembatan ini adalah 7,75 meter, sehingga
data hidrologi tidak diperlukan.
3.6. Data Geoteknik
Data geoteknik lokasi jembatan Cikawung diperoleh dari hasil penelitian
kondisi tanah untuk pondasi jembatan dengan Dutch Cone Penetration Test
( DCPT ).
3.7. Data Teknis Jembatan Cikawung
Berdasarkan data dari lapangan data teknis Jembatan Cikawung sebagai
berikut :
Panjang bentang jembatan : 40 meter
Lebar kotor jembatan : 11 meter
Lebar jalur lalulintas : 7 meter
Lebar trotoir : 2 x 1 meter
Beban Bina Marga : 100 %
Tinggi bebas dari MAB : 7,75 meter
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
BAB IV
PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
4.1. Perhitungan Tiang Sandaran
Tiang sandaran yang digunakan dalam perencanaan ini tiang sandaran
dengan menggunakan bahan material dari plat baja dengan ketebalan 15 -20 mm
dan pipa galvanis diameter 3 inch. Dimensi tiang sandaran yang akan digunakan
untuk desain alternatif Jembatan Cikawung disesuaikan dengan standarisasi untuk
jembatan kelas satu atau jembatan jalan bebas hambatan yaitu : lebar atas 100
mm, lebar bawah 200 mm, tinggi 470 mm dengan ketebalan 20 mm, serta pipa
galvanis diameter 3 inch.
4.2. Perhitungan Momen Pelat Kantilever :
Gbr. 4.1. Penampang Tiang Sandaran
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Tabel 4.1.
Pembebanan Dan Momen Pelat Kantilever
No Volume x BJ
Berat
(Kg)
Jarak
Titik (m)
Momen di Titk A
( Kg. m )
1 0,15 x 1,65 x 2.500 x 1 m 618,75 0,825 510,467
2 0,25 x 1,2 x 2.400 x 1 m 720 0,675 486
3 0,3 x 0,88 x 2.500 x 1 m 660 1,5 990
4 0,25 x 0,25 x 0,02 x 7.850 9,813 1,5 14,72
5 0,5 ( 0,10 + 0,20 ) x 0,47 x
0,02 x 7850
11,069 1,570 17,378
6 2 x 2 x 5,08 kg/m 20,32 1,5375 30,48
7 1,2 x 500 x 1 600 0,675 405
8 100 x 1 100 1,370 137
9 0,0312 x 2.400 x 1 m 74,88 0,2715 20,33
Jumlah 1560,15 685,36
4.3. Penulangan Pelat Kantilver
Jumlah momen maksimum pada pelat kantilever adalah :
M
A
= 685,36 Kg.m = 0,68536 ton m = 6,854 KN.m
M
U
= 6,854 x 1,2 = 8,225 KN.m
Mutu beton yang dipakai K-350 ,fc = 30 MPa , Mutu baja fy = 400 MPa
Tebal selimut beton 25 mm ,diameter tulangan 12 mm
d = 150 30 - = 150 - 25 6 = 119 mm
Untuk M
U
= 8,225 KN.m, maka
8 , 580
) 119 , 0 .( 1
225 , 8
2 2

bd
Mu
Dari tabel fc = 30 Mpa, fy = 400 Mpa, diperoleh nilai

= 0,0015
0035 , 0
400
4 , 1 4 , 1
min

fy

Karena
min
>
perlu
, maka yang dipakai adalah 0035 , 0
min

A
s
perlu =
min
x b x d = 0,0035 x 1000 x 119 = 416,5 mm
2.

Sesuai dengan SKSNI T15 1991-03 pasal 3 6 -12 , bahwa dalam arah
tegak lurus tulangan utama harus disesuaikan dengan tulangan pembagi (demi
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
tegangan susut dan suhu ). Untuk f
y
= 400 MPa

A
s
=
100
150 1000 18 , 0
100
18 , 0 x x bh

=270 mm
2
Jarak penulangan :
Tulangan utama , A
s
= 416,5 mm
2
, 12 -200 ( 565 mm
2
)
Tulangan pembagi, A
s
= 270 mm
2
, 12 250 ( 452 mm
2
)
Kontrol Terhadap Geser
V
c
= 1560,15 kg = 15,6015 kN = 15.601,5 N
T
c
=
2
1189 , 0
250 . 131
5 , 601 . 15
150 . 1000 .
8
7
5 , 601 . 15
8
7 mm
N
bh
V

T
c
= 0,1189 MPa < 0,45 f
c
= 13,5 MPa OK

Hitungan Dengan Analisis
M
n
= 8,225 kN.m = 8225 kN.mm
h
t
= 15 cm = 150 mm
d = 11,9 cm = 119 mm
4.4. Desain Tinggi Penampang Pracetak
Berdasarkan Standar ASSHTO LRFD dalam buku Bridge Engineering By
Wai Fah Chen, Lian Duan, hal 10 -22, untuk bentang menerus beton prategang
rasio ketinggian/ kedalaman struktur d dengan panjang bentang struktur L
adalah 0,04. Maka untuk panjang bentang jembatan ( L ) = 40 meter, ketingggian
penampang struktur adalah :
6 , 1 04 , 0 40 04 , 0 04 , 0 x Lx d
L
d
Jadi kedalaman/ ketinggian penampang struktur yaitu 1,6 meter.
Jika diambil tebal plat 15 cm, ketinggian struktur gelagar penampang
pracetak :
h = 160 cm 15 cm = 145 cm =1,45 m

BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
4.5. Penentuan Jarak Spasi Girder
Berdasarkan buku Bridge Engineering By Wai Fah Chen, Lian Duan, hal
10 -22, jarak spasi girder dari pusat ke pusat biasanya dibuat tidak lebih dari dua
kali kedalaman strukturnya, untuk kedalaman struktur d = 1,6 meter perhitungan
spasi box girder dapat digunakan persamaan : S
max
< 2 d = 2 . 1,6 = 3,2
Dengan lebar jembatan 11 meter dan menggunakan lebar trotoar/ serambi 1,5
meter, jarak dari pusat ke pusat antara bagian luar dari box girder :
11 m 2 . (1,5 m ) = 8 meter.
Dicoba tiga box girder dan dua S = 8 m / 2 = 4 meter > 3,2 meter Tidak
Dicoba empat box girder dan tiga S = 8 m / 3 = 2,67 m < 3,2 meter OK
Jadi jarak spasi girder S = 2,67

diambil lebar box b = 2,7 meter


4.6. Preliminary Desain Penampang Pracetak
4.6.1. Alternatif 1
Berdasarkan Buku T.Y. Lin, Edisi ketiga, Lampiran C Tabel C6, halaman
380 , konstanta konstana untuk penampang box, ketebalan box precast jika
menggunakan type 6-d. Untuk type penampang 6 d, 2 , 0
'

b
b
dan t / h = 0,1.
Maka untuk h = 145 cm dan b = 2,7 meter
2 , 0
'
b
b
b = 0,2.b = 0,2. 2,7 = 0,54 m = 54 cm = 540 mm.
Jadi tebal slab pinggir box = 0,5.b = 0,5 x 54 cm = 27 cm
Tebal slab atas dan bawah t
h
t
= 0,1

t = 0,1.h = 0,1 x 145 = 14,5 cm diambil t = 15 cm = 150 mm


Jadi dimensi penampang pracetak yang digunakan adalah :
Lebar box ( b ) : 270 cm
Tinggi box ( h ) : 145 cm
Tebal slab atas( t ) : 15 cm
Tebal slab samping : 27 cm
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Gbr. 4.2. Penampang Pracetak Box Alternatif 1
Tabel 4.2.
Garis Netral Penampang Precast Alternatif 1
No
Segmen
b x h
Luas Segmen
Ai (cm
2
)
Jarak ke serat
tepi atas Yi (cm )
Statis Momen
Ai x Yi ( cm
3
)
1 270 x 15 4050 7,5 30.375
2 27 x 115 3105 72,5 225.112,5
3 27 x 115 3105 72,5 225.112,5
4 270 x 15 4050 137,5 556.875
5 2( x 10 x 10) 100 20 2.000
6 2( x 10 x 10) 100 125 12.500
Jumlah 14.510 1.051.975
Center gravity precast ( Cgc )
y
b
=
5 , 72
510 . 14
975 . 051 . 1
.

i
i i
A
y A
cm
y
a
= h - y
b
= 145 -72,5 = 72,5 cm.
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
216 cm
115 cm
145 cm
270 cm
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Tabel 4.3.
Momen Inersia Penampang Precast Alternatif 1
No
Segmen
Luas Ai
(cm
2
)
Ixo (1/12 bh
3
)
Jarak ke
Cgc di (cm )
( di
2
) Ai x di
2
1 4050 75.937,5 65 4.225 17.111.250
2 3105 3.421.968,75 0 0 0
3 3105 3.421.968,75 0 0 0
4 4050 75.937,5 65 4.225 17.111.250
5 50 277,777778
61,66666
7
3802,77778
190.138,89
6 50 277,777778
61,66666
7
3802,77778
190.138,89
7 50 277,777778
61,66666
7
3802,77778
190.138,89
8 50 277,777778
61,66666
7
3802,77778
190.138,89
Jmlh 14.510
6.996.236,61
1
34.983.055,56
Momen Inersia Precast = (Ip) = I
xo
+ A
i
.d
i
2
= 6.996.236,611 + 34.983.055,56
= 41.979.292,17 cm
4
Momen Tahanan Precast ( W
x
) :
W
a
=
7196 , 024 . 579
5 , 72
17 , 292 . 979 . 41

a
p
y
I
cm
3

W
b
= W
a
= 579.024,7196 cm
3
Berat penampang pracetak = 14.510 x 2.500 kg/m
3
= 3.627,5 kg/m
Preliminary Desain Penampang Komposit
Desain penampang komposit diambil untuk gelagar box tengah
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Tabel 4.4
Garis Netral Penampang Komposit Alternatif 1
No
Segmen
b x h
Luas Segmen
Ai (cm
2
)
Jarak ke serat
tepi atas Yi (cm )
Statis Momen
Ai x Yi ( cm
3
)
1 270 x 15 4050 7,5 30.375
2 270 x 15 4050 22,5 91.125
3 27 x 115 3105 87,5 271.687,5
4 27 x 115 3105 87,5 271.687,5
5 270 x 15 4050 152,5 617.625
6 2( x 10 x 10) 100 33,333333 3.333,3333
7 2( x 10 x 10) 100 138,33333 13.833,333
Jumlah 18.560 1.299.666,667
Center gravity ( Cgc ) komposit
y
a
=
025 , 70
560 . 18
67 , 666 . 299 . 1
.

i
i i
A
y A
cm =70 cm
y
b
= h - ya = 160 -70 = 90 cm.
Tabel 4.5
Momen Inersia Penampang Komposit Alternatif 1
No
Segmen
Luas Ai
(cm
2
)
Ixo (1/12 bh
3
)
Jarak ke
Cgc di (cm )
( di
2
) Ai x di
2
1 4050 75.937,5 62,5 3.906,25 15.820.312,5
2 4050 75.937,5 47,5 2.256,25 9.137.812,5
3 3105 3.421.968,75 17,5 306,25 950.906,25
4 3105 3.421.968,75 17,5 306,25 950.906,25
5 4050 75.937,5 82,5 6.806,25 27.565.312,5
6 50 277,777778
36,66666
7
1.344,44446
9
67.222,2235
7 50 277,777778
36,66666
7
1.344,44446
9
67.222,2235
8 50 277,777778
71,66666
7
5136,112
256.805,6
9 50 277,777778
71,66666
7
5136,112
256.805,6
Jmlh 18.560
6.996.923,61
1
55.073.305,65
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Momen Inersia Komposit = ( Ip ) = I
xo
+ A
i
.d
i
2
= 6.996.923,611 + 55.073.305,65
= 62.070.229,26 cm
4
Momen Tahanan Precast ( W
x
) :
W
a
=
5608 , 717 . 886
70
26 , 229 . 070 . 62

a
p
y
I
cm
3

W
b
=
90
26 , 229 . 070 . 62

b
p
y
I
= 689.669,214 cm
3
i =
A
I
560 . 18
26 , 229 . 070 . 62
= 57,83 cm = 0,5783 m
Perhitngan Lantai Jembatan
Desain lantai jembatan dihitung berdasarkan beban T = 100 kN
Gbr. 4.3. Sistem Pembebanan Lantai Jembatan Alternatif 1
l
x
= 2,7 m
l
y
= 40 m
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
100 kN
l
y
l
x
l
x
l
y
l
x
b
a
b
a
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Beban bina marga = 100 % 100 kN = 100 kN = 10 ton
Ambil r = untuk keadaan antara yaitu pelat ada jepitan / ikatan tetapi tidak
terlalu kuat.
Pada beban yang berdiri di tengah-tengah kedua tepi yang tidak ditumpu
3 r . l
x
= 3. . 2,7 = 5,4 m
l
y
= 40 m > 3r.l
x
= 5,4 m
maka S
a
= a + r. l
x
= . 0,2 + . . 2,7
= 1,5 m
Mencari M
o
Gbr. 4.4. Pembebanan Dalam Arah Melintang
Untuk bentang < 50 meter , faktor beban dinamis untuk T diambil 40 %,
faktor beban hidup untuk q
ult
= 1,6 maka qu = ( 1,6 20 ) 1,40
q
ult
= 44,8 ton/m
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
Untuk
100 kN = 10 t
200
500
a = 200 mm = 0,2 m
b = 500 mm = 0,5 m
2
1000
1 , 0
1000
5 , 0 2 , 0
100
m
KN
KN KN
q

L
x
=2,7 m
2 2
100 1000
1 , 0
100
5 , 0 2 , 0
100
m
ton
m
KN
KN KN
q

q =100 0,2 = 20 t/m


DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Gbr. 4.5. Pembebanan Arah Melintang Gelagar
Mu
Lx
maks = R
A
. L
4
5 , 0
).
2
5 , 0
( qu
= 11,2 . 2,7 ( 44,8 0,25 ) 0,125
= 15,12 1,4
= 13,72 ton.m /m
Jadi Mo = 13,72 ton.m/m
Maka Ml
x
=
m
m KN
m
m ton
Sa
Mo
.
5 , 91
.
15 , 9
5 , 1
72 . 13

Penulangan lantai dalam arah l
x
, diambil perhitungan untuk lebar lantai beton 1 m
Ambil diameter tulangan = 16 mm, tebal selimut beton = 30 mm
Mutu beton K-350 , fc = 30 MPa ; fy = 400 MPa,

= 100 % = 1
Gbr. 4.6. Penulangan Lantai Arah Melintang
294 . 7
012544 , 0
5 , 91
) 112 , 0 .( 1
5 , 91
2 2

bd
Mu
Untuk 294 . 7
.
2

d b
Mu
, dengan cara interpolasi diperoleh nilai = 0,0221
A
s
.l
x
perlu = b d = 0,0221 1000 112 = 2.475 mm
2
16 75 ( 2681 mm
2
)
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
2,7m
q = 44,8 t/m
2 , 11
2
5 , 0 8 , 44

A
R
2 , 11
B
R
R
A
R
B
150
d = 150-30-8 = 112 mm
q = 7,875 2,7 = 21,2625KNt/m
untuk beban Bina Marga 100 % = 21,2625 KN/m
P = 44 KN x 2,7 = 118,8 KN
118,8 KN x 1,4 = 166,32 KN.m
Untuk beban bina marga 100 % = 166,32 KN
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Untuk penulangan lapangan lantai arah l
y
, diambil perhitungan untuk lebar
lantai beton 1 m.
Jika diambil diameter tulangan = 12 mm
Tebal selimut beton = 30 mm
Mutu beton K-300, f
c
= 30 MPa ; f
y
= 400
Gbr. 4.7. Penulangan Lantai Arah Memanjang
Untuk l
y
> 3.l
x
= 40 > 3.2,7 = 40 > 8,1
Maka digunakan
m
m KN
lx
a
Mlx
Mly
.
275 , 83
0987 , 1
5 , 91
7 , 2 . 3
2 , 0 . 4
1
5 , 91
3
4
1

+

Ml
y
= 83,275 KN.m/m
6638
) 112 , 0 .( 1
275 , 83
2 2

bd
Mu
Didapatkan nilai = 0,0214
A
s
.l
x
= b d = 0,0214 1000 112 = 2454 mm
2
16 50 ( 2262 mm
2

Perhitungan Beban Beban Pada Gelagar Tengah
Beban beban yang timbul pada gelagar tengah jika digunakan gelagar
beton pracetak dengan dimensi b = 2,7 m dan h = 1,45 m sebagai berikut :
Pembebanan
a. Akibat Beban mati :
Berat sendiri lantai = 0,15 2,7 2400 = 0,972 t/m
Berat sendiri lapisan aspal 5 cm = 0,05 2,7 2,2 = 0,297 t/m
Berat sendiri lapisan air hujan 2 cm = 0,02 2,7 1 = 0,054 t/m
Berat sendiri gelagar = 1,4510 x 2.500 = 3,6275 t/m +
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
150
d = 150 - 30 8 = 112 mm
q = 7,875 2,7 = 21,2625KNt/m
untuk beban Bina Marga 100 % = 21,2625 KN/m
P = 44 KN x 2,7 = 118,8 KN
118,8 KN x 1,4 = 166,32 KN.m
Untuk beban bina marga 100 % = 166,32 KN
F
BD
= 40 %
Maka P
L
= 118,8 KN 1,4
= 166,32 KN
q
L
= 21,2625 KN/m
Gbr. 4.10. Pembebanan Arah Memanjang Jembatan
M maks =
=
= 9.901 + 4.252,5 + 1.663,2
= 15.816,7 KN.m = 1.561,87 ton.m
P
L
=166,32 KN
q
D
= 49,505 t/m
q
L
= 21,2625 KN/m
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
q
D
total = 4,9505 t/m
Untuk beban Bina marga 100 % q
D
total = 100 % 4,9505 t/m
= 4,9505 t/m = 49,505 KN/m
b. Akibat Beban Lalu lintas dan Beban Garis
Untuk panjang bentang L > 30 m
q = 9,0 (0,5 + )
15
L
kPa/ m/ lajur,
q = 9,0 ( 0,875) = 7,875 kPa
dengan ketentuan lebar 1 lajur
2,75 meter
1 Kpa = 1 KN, maka q = 7,875 KPa/m = 7,875 KN/m = 0,7875 ton/m
Gbr. 4.8. Sistem Pembebanan Akibat Beban Laluintas
Berdasarkan grafik Faktor beban dinamis untuk jembatan dengan panjang
bentang L = 40 m, faktor beban dinamisnya sebesar 40 % = 1,4
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
2,7m
P
q = 7,875 2,7 = 21,2625KNt/m
untuk beban Bina Marga 100 % = 21,2625 KN/m
P = 44 KN x 2,7 = 118,8 KN
118,8 KN x 1,4 = 166,32 KN.m
Untuk beban bina marga 100 % = 166,32 KN
q
l
F
BD
= 40 %
Maka P
L
= 118,8 KN 1,4
= 166,32 KN
q
L
= 21,2625 KN/m
Gbr. 4.10. Pembebanan Arah Memanjang Jembatan
M maks =
=
= 9.901 + 4.252,5 + 1.663,2
= 15.816,7 KN.m = 1.561,87 ton.m
P
L
=166,32 KN
q
D
= 49,505 t/m
q
L
= 21,2625 KN/m
2,75 m
P = 12 t
q = 2,2 t/m
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Gbr. 4.9. Grafik Faktor Beban Dinamis
Momen maksimum pada gelagar tengah
Koefisien kejut
K =
L +
+
50
20
1 , dimana L = 40 meter
K = 222 , 1
40 50
20
1
+
+
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
F
BD
= 40 %
Maka P
L
= 118,8 KN 1,4
= 166,32 KN
q
L
= 21,2625 KN/m
0
Bentang (m)
40
30
20
10
150 100 50
D L A ( % )
90
Gbr. 4.10. Pembebanan Arah Memanjang Jembatan
M maks =
=
= 9.901 + 4.252,5 + 1.663,2
= 15.816,7 KN.m = 1.561,87 ton.m
P
L
=166,32 KN
q
D
= 49,505 t/m
q
L
= 21,2625 KN/m
40 m
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Bahan bahan
Rencana mutu bahan yang akan digunakan dalam perencanaan ini adalah :
Komponen Pracetak
Mutu beton K-500
Kuat tekan beton (f
c
) =
bk
bk
x

1
]
1

,
_

+
150
log 2 , 0 76 , 0
=
500
150
500
log 2 , 0 76 , 0 x
1
]
1

,
_

+
= 432,29 kg/m
2
Berat jenis beton (W
e
) = 2.500 kg/m
3
Modulus Elastisitas (E
c
) = W
e

1,5
.0,043 ' fc
= 2.500
1,5
.0,043 29 , 432
= 125.000 x 0,043 x 20,792
= 111.754,77
Tegangan tegangan ijin
Keadaan awal (transfer condition )
Mutu beton saat penarikan = 80 %fc ( 28 hari )
= 80 % x 432,29 kg/cm
2
= 345,832 kg/cm
2
Tegangan tekan f
ci
= 0,55 ( 80 % fc)
= 0,55 x 345,832
= 190,21 kg/cm
2
Tegangan tarik f
ti
= - 0,80 '
ci
f
= - 0,80 832 , 345
= -14,88 kg/cm
2
Kedaan akhir ( service )
Tegangan tekan f
c
= 0,4fc
= 0,4 x 432,29
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
= 172,916 kg/cm
2
Tegangan tarik f
t
= - 1,60 c f '
= - 1,6 29 , 432
= 33,27 kg/cm
2
Komponen pelat beton
Mutu beton K-350
Kuat tekan beton f
c
=
bk
bk
x

1
]
1

,
_

+
150
log 2 , 0 76 , 0
=
350
150
350
log 2 , 0 76 , 0 x
1
]
1

,
_

+
= 246,06 kg/m
2
Tegangan tegangan ijin
Keadaan akhir (service condition )
Tegangan tekan fc = 0,40 fc
= 0,40 x 246,06
= 98,424 kg/cm
2

Tegangan tarik fc = -1,6 ' fc
= - 1,6 06 , 246
= - 33,27 kg/cm
2
Modulus Elastisitas E
c2
= W
e

1,5
.0,043 ' fc
= 2.500
1,5
.0,043 06 , 246
= 125.000 x 0,043 x 15,69
= 84.333,75
Rasio n =

75 , 333 . 84
77 , 754 . 111
2 c
ci
E
E
1,325
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Keperluan Gaya Prategang
Tabel 4.6.
Garis Netral Penampang Komposit Alternatif 1
No
Segmen
B x h
Luas Segmen
Ai (cm
2
)
Jarak ke serat
tepi atas Yi (cm )
Statis Momen
Ai x Yi ( cm
3
)
1 270 x 15 4050 7,5 30.375
2 270 x 15 4050 22,5 91.125
3 27 x 115 3105 87,5 271.687,5
4 27 x 115 3105 87,5 271.687,5
5 270 x 15 4050 152,5 617.625
6 2( x 10 x 10) 100 33,333333 3.333,3333
7 2( x 10 x 10) 100 138,33333 13.833,333
Jumlah 18.560 1.299.666,667
Center gravity ( Cgc ) komposit
y
a
=
025 , 70
560 . 18
67 , 666 . 299 . 1
.

i
i i
A
y A
cm =70 cm
y
b
= h - ya = 160 -70 = 90 cm.
Tabel 4.7.
Momen Inersia Penampang Komposit Alternatif 1
No
Segmen
Luas Ai
(cm
2
)
Ixo (1/12 bh
3
)
Jarak ke
Cgc di (cm )
( di
2
) Ai x di
2
1 4050 75.937,5 62,5 3.906,25 15.820.312,5
1 4050 75.937,5 47,5 2.256,25 9.137.812,5
2 3105 3.421.968,75 17,5 306,25 950.906,25
3 3105 3.421.968,75 17,5 306,25 950.906,25
4 4050 75.937,5 82,5 6.806,25 27.565.312,5
5 50 277,777778
36,66666
7
1.344,44446
9
67.222,2235
6 50 277,777778
36,66666
7
1.344,44446
9
67.222,2235
7 50 277,777778
71,66666
7
5136,112
256.805,6
8 50 277,777778
71,66666
7
5136,112
256.805,6
Jmlh 18.560
6.996.923,61
1
55.073.305,65
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Momen Inersia Komposit = (Ic) = I
xo
+ A
i
.d
i
2
= 6.996.923,611 + 55.073.305,65
= 62.070.229,26 cm
4
Momen Tahanan Precast ( W
x
) :
W
a
=
5608 , 717 . 886
70
26 , 229 . 070 . 62

a
p
y
I
cm
3

W
b
=
90
26 , 229 . 070 . 62

b
p
y
I
= 689.669,214 cm
3
i =
A
I
560 . 18
26 , 229 . 070 . 62
= 57,83 cm = 0,5783 m
Ratio Modulus Penampang ( m )
Serat atas ma =

) (
) (
/
/
C a c
P a p
y I
y I
Momen Total ( MT ) = 15.816,7 KN.m
Momen Gelagar ( MG ) =
2 2
40 275 , 36
8
1
8
1
x x ql
= 7.255 KN.m

7 , 816 . 15
255 . 7
MT
MG
45,87 % , cukup besar
Penentuan luas penampang yang diperlukan
F =

45 , 1 65 , 0
7 , 816 . 15
65 , 0 x h
MT
16.781,6 KN
Jika kehilangan gaya prategang dianggap 20 %, maka
F
o
=
KN 1 , 977 . 20
8 , 0
7 , 816 . 15

A
ps
=

760
10 6 , 781 . 16
3
x
f
F
s
22.081,1 mm
2
A
c
=
5 , 18 5 , 0
10 7 , 816 . 16
5 , 0
.
3
x
x
fc
f A
s p
2.128.696,203 mm
2
> dari A
c
yang ada
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Karena luas penampang precast yang ada lebih kecil dari A
c
perlu maka
desain dirubah dengan menggunakan 5 box precast.
4.6.2. Alternatif 2
Penentuan Dimensi Penampang Precast
Penampang dirubah dengan menggunakan 5 buah box precast, maka jika
lebar jalur lalulintas 8 meter , lebar boxs adalah
5
8
= 1,6 meter. Ketebalan slab
box ditentukan berdasarkan Buku T.Y. Lin, Edisi ketiga, Tabel C 6, halaman
380 , konstanta konstana untuk penampang box adalah :
Diambil type 6 g.
Untuk type penampang 6 d, 3 , 0
'

b
b
dan t / h = 0,1, maka untuk h =
145 cm dan b = 1,6 meter, 3 , 0
'
b
b
b = 0,3.b = 0,3. 1,6 = 0,48 m = 48 cm =
480 mm.
Jadi tebal slab pinggir box = 0,5.b = 0,5 x 48 cm = 24 cm
Tebal slab atas dan bawah t.
h
t
= 0,1

t = 0,1.h = 0,1 x 145 = 14,5 cm diambil t = 14,5 cm = 145 mm


Jadi dimensi penampang pracetak yang digunakan adalah :
Lebar box ( b ) : 160 cm
Tinggi box ( h ) : 145 cm
Tebal slab atas( t ) : 14,5 cm
Tebal slab samping : 24 cm
Gambar penampang pracetak
Gbr.4.11. Penampang Precast Alternatif 2
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
160 cm
112 cm
126 cm
145 cm
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Tabel 4.8.
Garis Netral Penampang Precast Alternatif 2
No
Segmen
B x h
Luas Segmen
Ai (cm
2
)
Jarak ke serat
tepi atas Yi (cm )
Statis Momen
Ai x Yi ( cm
3
)
1 160 x 14,5 2.320 7,25 16.820
2 24 x 116 2.784 72,5 201.840
3 24 x 116 2.784 72,5 201.840
4 160 x 14,5 2.320 137,75 319.580
5 2( x 10 x 10) 100 17,83 1.783
6 2( x 10 x 10) 100 127,167 12.716,7
Jumlah 10.408 754.579,7
Center gravity precast ( Cgc )
y
b
=
5 , 72
408 . 10
7 , 579 . 754
.

i
i i
A
y A
cm
y
a
= h - y
b
= 145 -72,5 = 72,5 cm.
Tabel 4.9
Momen Inersia Penampang Precast Alternatif 2
No
Segmen
Luas Ai
(cm
2
)
Ixo (1/12 bh
3
)
Jarak ke
Cgc di (cm )
( di
2
) Ai x di
2
1 2.320 40.648,33 65,25 4.257,5625 9.877.545
2 2.784 3.121.792 0 0 0
3 2.784 3.121.792 0 0 0
4 2.320 40.648,33 65,25 4.257,5625 9.877.545
5 50 277,777778 69,17 4.784,4889 239.224,445
6 50 277,777778 69,17 4.784,4889 239.224,445
7 50 277,777778 69,17 4.784,4889 239.224,445
8 50 277,777778 69,17 4.784,4889 239.224,445
Jmlh 10.408
6.325.991,77
1
20.711.987,78
Momen Inersia Precast = (Ip) = I
xo
+ A
i
.d
i
2
= 6.325.991,771 + 20.711.987,78
= 27.037.979,55 cm
4
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Momen Tahanan Precast ( W
x
) :
W
a
=
649 , 937 . 372
5 , 72
55 , 979 . 037 . 27

a
p
y
I
cm
3

W
b
= W
a
= 579.024,7196 cm
3
Berat penampang pracetak = 10.408 cm
2
x 2.500 kg/m
3
= 2,6020 kg/m
Desain Definitif Penampang Komposit
Desain penampang komposit diambil untuk gelagar box tengah
Tabel 4.10
Garis Netral Penampang Komposit Alternatif 2
No
Segmen
B x h
Luas Segmen
Ai (cm
2
)
Jarak ke serat
tepi atas Yi (cm )
Statis Momen
Ai x Yi ( cm
3
)
1 160 x 15 2.400 7,5 18.000
2 160 x 14,5 2.320 22,25 51.620
3 24 x 116 2.784 87,5 203.000
4 24 x 116 2.784 87,5 203.000
5 160 x 14,5 2.320 152,25 354.380
6 2( x 10 x 10) 100 32,183 3.283
7 2( x 10 x 10) 100 142,167 14.216,7
Jumlah 12.808 847.499,7
Center gravity ( Cgc ) komposit
y
a
=

808 . 12
7 , 499 . 847
.
i
i i
A
y A
66,2 cm =662 mm
y
b
= h - ya = 160 66,2 = 93,8 cm.
Tabel 4.11
Momen Inersia Penampang Komposit Alternatif 2
No
Segmen
Luas Ai
(cm
2
)
Ixo (1/12 bh
3
)
Jarak ke
Cgc di (cm )
( di
2
) Ai x di
2
1 2.400 45.000 58,7 3.445,69 8.269.656
2 2.320 40.648,33 43,95 1.931,6025 4.481.317,8
3 2.784 3.121.792 21,3 453,69 1.263.072,96
4 2.784 3.121.795 21,3 453,69 1.263.072,96
5 2.320 40.648,33 86,55 7.490,9025 17.378.893,8
6 50 277,777778 33,37 1.113,5569 55.677,845
7 50 277,777778 33,37 1.113,5569 55.677,845
8 50 277,777778 75,967 5.770,985 288.549,2545
9 50 277,777778 75,967 5.770,985 288.549,2545
Jmlh 12.808 6.370.436,21 33.344.467,72
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
6
Momen Inersia Komposit = (I
C
) = I
xo
+ A
i
.d
i
2
= 6.370.436,216 + 33.344.467,72
= 39.714.903,94 cm
4
Momen Tahanan Precast ( W
x
) :
W
a
=
02 , 923 . 599
2 , 66
94 , 903 . 714 . 39

a
p
y
I
cm
3

W
b
=
8 , 93
94 , 903 . 714 . 39

b
p
y
I
= 423.399,8287 cm
3
ct = 66,2 cm
cb = 93,8 cm
i =
A
I
808 . 12
94 , 903 . 714 . 39
= 55,685 cm
r
2
= i
2
= 3.100,789
kt =
8 , 93
789 , 100 . 3
'
2
cb
r
33,06 cm
kb =
2 , 66
789 , 100 . 3
'
2
ct
r
46,84 cm
mt =
0202 , 923 . 599
649 , 937 . 372
2 , 66
94 , 903 . 714 . 39
5 , 72
55 , 979 . 073 . 27
'

ct
I
ct
I
c
= 0,622
mb =
8288 , 399 . 423
649 , 937 . 372
8 , 93
94 , 903 . 714 . 39
5 , 72
55 , 979 . 073 . 27
'

cb
I
cb
I
c
= 0,881
ft =
12
3
10 971490394 , 3
662 10 6 , 2776 . 10 '
x
x x
I
ct M
c
c
=
Desain Lantai Jembatan
Desain lantai jembatan dihitung berdasarkan beban T = 100 kN
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Gbr. 4.12. Sistem Pembebanan Lantai Jembatan Alternatif 2
lx = 1,6 m
ly = 40 m
Gbr. 4.13. Sistem Pembebanan Lantai Jembatan Alternatif 2
Beban bina marga = 100 % 100 kN = 100 kN = 10 ton.
Ambil r = untuk keadaan antara yaitu pelat ada jepitan / ikatan tetapi
tidak terlalu kuat.
Pada beban yang berdiri di tengah-tengah kedua tepi yang tidak ditumpu
3 r . lx = 3. . 1,6 = 3,2 m
ly = 40 m > 3r.lx = 3,2 m
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
100 kN
ly
lx
lx
ly
lx
b
a
b
a
Untuk
100 kN = 10 t
200
500
a = 200 mm = 0,2 m
b = 500 mm = 0,5 m
2
1000
1 , 0
1000
5 , 0 2 , 0
100
m
KN
KN KN
q

DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG


DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
maka Sa = a + r. lx
= . 0,2 + . .1,6
= 0,95 m
Mencari M
o
Gbr 4.14. Sistem Pembebanan Lantai Jembatan Alternatif 2
Untuk bentang < 50 meter , faktor beban dinamis untuk T diambil 40
%, faktor beban hidup untuk q
ult
= 1,6 maka qu = ( 1,6 20 ) 1,40
q
ult
= 44,8 ton/m
Gbr 4.15. Sistem Pembebanan Lantai Jembatan Alternatif 2
Mu
Lx
maks = R
A
. L
4
5 , 0
).
2
5 , 0
( qu
= 11,2 . 1,6 ( 44,8 0,25 ) 0,125
= 8,96 1,4
= 7,56 ton.m /m
Jadi Mo = 7,56 ton.m/m
Maka Ml
x
=
m
m KN
m
m ton
Sa
Mo
.
6 , 79
.
96 , 7
95 , 0
56 , 7

BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
1,6m
q = 44,8 t/m
2 , 11
2
5 , 0 8 , 44

A
R
2 , 11
B
R
R
A
R
B
Lx =1,6 m
2 2
100 1000
1 , 0
100
5 , 0 2 , 0
100
m
ton
m
KN
KN KN
q

q =100 0,2 = 20 t/m


DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Penulangan lantai dalam arah lx, diambil perhitungan untuk lebar lantai beton 1 m
Ambil diameter tulangan = 16 mm
Tebal selimut beton = 25 mm
Mutu beton K-350 , fc = 30 MPa ; fy = 400 MPa,

= 100 % = 1
Gbr 4.16. Sistem Pembebanan Lantai Jembatan Alternatif 2
5814
013689 , 0
6 , 79
) 117 , 0 .( 1
6 , 79
2 2

bd
Mu
Untuk 5814
.
2

d b
Mu
, dengan cara interpolasi diperoleh nilai = 0,016752107
A
s
.l
x
perlu = b d = 0,016752107 1000 117 = 1.959 mm
2
16 100 ( 2011 mm
2
)
Untuk penulangan lapangan lantai arah ly, diambil perhitungan untuk lebar
lantai beton 1 m.
Jika diambil diameter tulangan = 12 mm
Tebal selimut beton = 25 mm
Gbr 4.17. Sistem Pembebanan Lantai Jembatan Alternatif 2
Mutu beton K- 300, fc = 30 MPa ; fy = 400
Untuk l
y
> 3.l
x
= 40 > 3.1,6 = 40 > 4,8
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
150
d = 150 25 -16 6 = 103 mm
150
d = 150-25-8= 117 mm
q = 7,875 1,6 = 12,6 KN t/m
untuk beban Bina Marga 100 % = 12,6 KN/m
P = 44 KN x 1,6 = 70,4 KN
P = 70,4 ton x 1,4 = 98,56
Untuk beban bina marga 100 % = 112,64 KN
F
BD
= 40 %
Maka P
L
= 70,4 KN 1,4
= 98,56 KN
q
L
= 12,6 KN/m
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Maka digunakan
m
m KN
lx
a
Mlx
Mly
.
23 , 68
1667 , 1
6 , 79
6 , 1 . 3
2 , 0 . 4
1
6 , 79
3
4
1

+

Ml
y
= 68,23 KN.m/m
6431
) 103 , 0 .( 1
23 , 68
2 2

bd
Mu
Didapatkan nilai = 0,0189085
As.lx = b d = 0,0189085 1000 103 = 1947 mm
2
12 50 ( 2262 mm
2

Perhitungan Beban beban Pada Gelagar Tengah
Beban beban yang timbul pada gelagar tengah dengan menggunakan
beton pracetak dimensi b = 1,6 m dan h = 1,45 m sebagai berikut :
Pembebanan
c. Akibat Beban mati :
- Berat sendiri lantai = 0,15 1,6 2400 = 0,576 t/m
- Berat sendiri lapisan aspal 3 cm = 0,03 1,6 2,2 = 0,1056 t/m
- Berat sendiri lapisan air hujan 2 cm = 0,02 1,6 1 = 0,032 t/m
- Berat sendiri gelagar = 1,0408 x 2.500 = 2,602 t/m +
q
D
total = 3,316 t/m
Untuk beban Bina marga 100 % q
D
total = 100 % 3,3156 t/m
= 3,3156 t/m = 33,156 KN/m
d. Akibat Beban Lalu lintas dan Beban Garis
Untuk panjang bentang L > 30 m
q = 9,0 (0,5 + )
15
L
kPa/ m/ lajur,
q = 9,0 ( 0,875) = 7,875 kPa
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
q = 7,875 1,6 = 12,6 KN t/m
untuk beban Bina Marga 100 % = 12,6 KN/m
P = 44 KN x 1,6 = 70,4 KN
P = 70,4 ton x 1,4 = 98,56
Untuk beban bina marga 100 % = 112,64 KN
F
BD
= 40 %
Maka P
L
= 70,4 KN 1,4
= 98,56 KN
q
L
= 12,6 KN/m
Gbr 4.19. Sistem Pembebanan Lantai Jembatan Alternatif 2
M maks =
=
= 6.631,2 + 2.520 + 985,6
= 10.136,8 KN.m = 1.013,68 ton.m
P
L
=112,6 KN
q
D
= 33,156 KN/m
q
L
= 12,6 KN/m
2,75 m
P = 12 t
q = 2,2 t/m
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
dengan ketentuan lebar 1 lajur
2,75 meter
1 KPa = 1 KN, maka q = 7,875 KPa/m = 7,875 KN/m = 0,7875 ton/m
Gbr 4.18. Sistem Pembebanan Lantai Jembatan Alternatif 2
Bergasarkan grafik Faktor beban dinamis untuk jembatan dengan panjang
bentang L = 40 m, faktor beban dinamisnya sebesar 40 % = 1,4
a. Momen maksimum pada gelagar tengah
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
1,6m
P
q = 7,875 1,6 = 12,6 KN t/m
untuk beban Bina Marga 100 % = 12,6 KN/m
P = 44 KN x 1,6 = 70,4 KN
P = 70,4 ton x 1,4 = 98,56
Untuk beban bina marga 100 % = 112,64 KN
q
l
F
BD
= 40 %
Maka P
L
= 70,4 KN 1,4
= 98,56 KN
q
L
= 12,6 KN/m
0
Bentang (m)
40
30
20
10
150 100 50
D L A ( % )
90
Gbr 4.19. Sistem Pembebanan Lantai Jembatan Alternatif 2
M maks =
=
= 6.631,2 + 2.520 + 985,6
= 10.136,8 KN.m = 1.013,68 ton.m
P
L
=112,6 KN
q
D
= 33,156 KN/m
q
L
= 12,6 KN/m
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Koefisien kejut
K =
L +
+
50
20
1 , dimana L = 40 meter
K = 222 , 1
40 50
20
1
+
+
Bahan bahan
Rencana mutu bahan yang akan digunakan dalam perencanaa ini adalah :
Komponen Pracetak
Mutu beton K-500
fc' = 0,83 x 500 = 415 kg/cm
2
~ 41,5 Mpa
E
c
precast = 4.700 '
c
f 4.700 5 , 41 = 30.278 MPa
Kuat tekan beton (fc) =
bk
bk
x

1
]
1

,
_

+
150
log 2 , 0 76 , 0
=
500
150
500
log 2 , 0 76 , 0 x
1
]
1

,
_

+
= 432,29 kg/m
2
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
Gbr 4.19. Sistem Pembebanan Lantai Jembatan Alternatif 2
M maks =
=
= 6.631,2 + 2.520 + 985,6
= 10.136,8 KN.m = 1.013,68 ton.m
P
L
=112,6 KN
q
D
= 33,156 KN/m
q
L
= 12,6 KN/m
40 m
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Berat jenis beton (W
e
) = 2.500 kg/m
3
Modulus Elastisitas (E
c
) = W
e

1,5
.0,043 ' fc
= 2.500
1,5
.0,043 415
= 125.000 x 0,043 x 20,372
= 109.497,075
Tegangan tegangan ijin
Keadaan awal (transfer condition )
Mutu beton saat penarikan = 80 %fc ( 28 hari )
= 80 % x 415 kg/cm
2
= 332 kg/cm
2
~ 33,2 MPa
Tegangan tekan f
ci
= 0,55 ( 80 % fc)
= 0,55 x 332
= 166 kg/cm
2
~ 16,6 MPa
Tegangan tarik f
ti
= - 0,80 '
ci
f
= - 0,80 332
= -14,57 kg/cm
2
= 1,457 MPa
Kedaan akhir ( service )
Tegangan tekan fc = 0,45 fc
= 0,45 x 415
= 186,75 kg/cm
2
~ 18,6 MPa
Tegangan tarik ft = - 1,60 c f '
= - 1,6 415
= 32,6 kg/cm
2
= 3,26 MPa
Komponen pelat/ beton slab
Mutu beton K-350
fc = 0,83 x 350 = 290,5 kg/ cm
2
~ 29,05 MPa
E
c
slab = 4.700 '
c
f = 4.700 05 , 29 = 25.332 MPa
Kuat tekan beton fc =
bk
bk
x

1
]
1

,
_

+
150
log 2 , 0 76 , 0
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
=
350
150
350
log 2 , 0 76 , 0 x
1
]
1

,
_

+
= 246,06 kg/m
2
Tegangan tegangan ijin
Keadaan akhir (service condition )
Tegangan tekan fc = 0,40 fc
= 0,40 x 290,6
= 116,2 kg/cm
2

Tegangan tarik fc = -1,6 ' fc
= - 1,6 5 , 290
= - 27,27 kg/cm
2
Modulus Elastisitas E
c2
= W
e

1,5
.0,043 ' fc
= 2.500
1,5
.0,043 5 , 290
= 125.000 x 0,043 x 15,69
= 91.611,83
Rasio n =
2 , 1
332 . 25
278 . 30

cs
cp
E
E

Ratio Modulus Penampang ( m )
Momen Total ( MT ) = 10.136,8 KN.m
Momen Gelagar ( MG ) =
2 2
40 02 , 26
8
1
8
1
x x ql = 5.204 KN.m
ML = MT MG = 10.277,2 5.204 = 5.073,2

2 , 277 . 10
204 . 5
MT
MG
50,64 % , cukup besar
Penentuan luas penampang yang diperlukan
F =

45 , 1 65 , 0
2 , 277 . 10
65 , 0 x h
MT
10.904,1 KN atau F =

45 , 1 5 , 0
2 , 073 . 5
5 , 0 x h
ML
6.997,5 KN
Diambil F yang terbesar F = 10.904,1 KN
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Jika kehilangan gaya prategang dianggap 20 %, maka
F
o
=
KN 24 , 630 . 13
8 , 0
1 , 904 . 10

A
ps
=

760
10 1 , 904 . 10
3
x
f
F
s
14.347,5 mm
2
A
c
=
7 , 18 5 , 0
10 1 , 904 . 10
5 , 0
.
3
x
x
fc
f A
s p
1.166.213 mm
2
> dari A
c
yang ada, maka
penampang precast perlu dirubah kembali.
4.6.3. Alternatif 3
Dicoba type penampang 6 j dengan ketinggian precast 145 cm
Tinggi struktur diambil : 0,04 L = 0,04 x 40 m = 160 m, tebal pelat lantai
15cm dan tinggi precast = 160 -15 = 145 cm, dengan menggunakan penampang
type 6-j, b/b = 0,4

b = 0,4 b = 0,4 (160 ) = 64 cm, tebal slab precast = 0,5


b = 0,5 x 64 = 32 cm , t/h = 0,1

t = 0,1 h = 0,1 (145) = 14,5 cm.


Jadi dimensi penampang precast :
Lebar precast = 160 cm
Tinggi precast = 145 cm
Tebal slab atas/ bawah = 14,5 cm
Tebal slab pinggir = 32 cm
Tabel 4.12
Garis Netral Penampang Precast Alternatif 3
No
Segmen
b x h
Luas Segmen
Ai (cm
2
)
Jarak ke serat
tepi atas Yi (cm )
Statis Momen
Ai x Yi ( cm
3
)
1 160 x 14,5 2.320 7,25 16.820
2 32 x 116 3.712 72,5 269.120
3 32 x 116 3.712 72,5 269.120
4 160 x 14,5 2.320 137,75 319.580
5 2( x 10 x 10) 100 17,833 1.783,3
6 2( x 10 x 10) 100 127,167 12.716,7
Jumlah 12.264 889.140
Center gravity precast ( Cgc )
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
y
b
=

264 . 12
140 . 889
.
i
i i
A
y A
72,5 cm
y
a
= h - y
b
= 145 -72,5 = 72,5 cm.
Tabel 4.13
Momen Inersia Penampang Precast Alternatif 3
No
Segmen
Luas Ai
(cm
2
)
Ixo (1/12 bh
3
)
Jarak ke
Cgc di (cm )
( di
2
) Ai x di
2
1 2.320 40.648,33 65,25 4.257,5625 9.877.545
2 3.712 4.162.389,33 0 0 0
3 3.712 4.162.389,33 0 0 0
4 2.320 40.648,33 65,25 4.257,5625 9.877.545
5 50 277,777778 54,667 2.988,5 149.424,045
6 50 277,777778 54,667 2.988,5 149.424,045
7 50 277,777778 54,667 2.988,5 149.424,045
8 50 277,777778 54,667 2.988,5 149.424,045
Jmlh 12.264 8.407.186,43 20.352.786,18
Momen Inersia Precast = (Ip) = I
xo
+ A
i
.d
i
2
= 8.407.186,43 + 20.352.786
= 28.759.972,61 cm
4
Momen Tahanan Precast ( W
x
) :
W
a
=

5 , 72
61 , 972 . 759 . 28
a
p
y
I
396.689,3 cm
3

W
b
= W
a
= 396.689,3 cm
3
Berat penampang pracetak = 12.464 cm
2
x 2.500 kg/m
3
= 3,066 kg/m
Desain Definitif Penampang Komposit
Desain penampang komposit diambil untuk gelagar box tengah
Tabel 4.14
Garis Netral Penampang Komposit Alternatif 3
No
Segmen
B x h
Luas Segmen
Ai (cm
2
)
Jarak ke serat
tepi atas Yi (cm )
Statis Momen
Ai x Yi ( cm
3
)
1 160 x 15 2.400 7,5 18.000
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
2 160 x 14,5 2.320 22,25 51.620
3 32 x 116 3.712 87,5 324.800
4 32 x 116 3.712 87,5 324.800
5 160 x 14,5 2.320 152,75 354.380
6 2( x 10 x 10) 100 32,833 3.283,3
7 2( x 10 x 10) 100 142,167 14.216,7
Jumlah 14.664 1.091.100
Center gravity ( Cgc ) komposit
y
a
=

664 . 14
100 . 091 . 1
.
i
i i
A
y A
74,4 cm
y
b
= h - ya = 160 74,4 = 85,6 cm.
Tabel 4.15
Momen Inersia Penampang Komposit Alternatif 3
No
Segmen
Luas Ai
(cm
2
)
Ixo (1/12 bh
3
)
Jarak ke
Cgc di (cm )
( di
2
) Ai x di
2
1 2.400 45.000 66,9 4.475,61 10.741.464
2 2.320 54.613,33 52,15 2.719,623 6.309.524,2
3 3.712 4.194.304 13,1 171,61 637.016,32
4 3.712 4.194.304 13,1 171,61 637.016,32
5 2.320 54.613,33 78,35 6.138,723 14.241.836,2
6 50 277,777778 41,567 1.727,82 86.390,8
7 50 277,777778 41,567 1.727,82 86.390,8
8 50 277,777778 67,767 4.592,4 229.618,315
9 50 277,777778 67,767 4.592,4 229.618,315
Jmlh
14.664 8.543.945,77
1
33.198.875,3
Momen Inersia Komposit = (I
C
) = I
xo
+ A
i
.d
i
2
= 8.543.945,771+ 33.198.875,3
= 41.742.821,04 cm
4
Momen Tahanan Precast ( W
x
) :
W
a
=

4 , 74
04 , 821 . 742 . 41
'
a
c
y
I
561.059,423 cm
3

BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
W
b
=
6 , 85
04 , 821 . 742 . 41
'

b
c
y
I
= 487.649,78 cm
3
ct = 74,4 cm
cb = 85,6 cm
i =
A
I
664 . 14
04 , 821 . 742 . 41
= 53,35 cm
r
2
= i
2
= 2846,62
kt =
6 , 85
62 , 846 . 2
'
2
cb
r
33,25 cm
kb =
4 , 74
62 , 846 . 2
'
2
ct
r
38,26 cm
mt =
423 , 059 . 561
3 , 689 . 396
4 , 74
04 , 821 . 742 . 41
5 , 72
62 , 972 . 759 . 28
'

ct
I
ct
I
c
= 0,71
mb =
78 , 649 . 487
3 , 689 . 396
6 , 85
04 , 821 . 742 . 41
5 , 72
62 , 972 . 759 . 28
'

cb
I
cb
I
c
= 0,814
e
1
=
3
11
10 987 . 12 800
10 577657022 , 3 457 , 1
.
'
x x
x x
F c
I ft
o t
= 51 mm
e
2
=
987 . 12
10 732 . 5
3
x
F
MG
o
= 441 mm
e = kb + e
1
+ e
2
= 383 + 51 + 441 = 875 mm
Cgs dapat diletekan pada jarak : 951 875 = 76 mm di atas serat bawah
ft =

34 , 342 . 468 . 42
9 , 79 10 2 , 805 . 10 '
3
x x
I
ct M
c
c
20,33
fb =

34 , 342 . 468 . 42
1 , 95 10 2 , 805 . 10 '
3
x x
I
cb M
c
c
24,2 atau
ft =
34 , 38 1
10 2 , 805 . 10 8414 , 0
.
.
3
x
x x
kb A
M mt
c
c
=
cgs dari serat bawah = y
bc
- e = 951 - 875 = 76 cm
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Desain Lantai Jembatan
Luas penampang precast = 12.264 cm
2
Berat penampang = 12.264 x 2.500 = 3,066 ton/ m = 30,66 KN/m
Berat total akibat q
d
adalah :
- Berat sendiri lantai = 0,15 1,6 2400 = 0,576 t/m
- Berat sendiri lapisan aspal 3 cm = 0,03 1,6 2,2 = 0,1056 t/m
- Berat sendiri lapisan air hujan 2 cm = 0,02 1,6 1 = 0,032 t/m
- Berat sendiri gelagar = 12.264 x 2.500 = 3,066 t/m +
q
D
total = 3,7796 t/m
Untuk beban Bina marga 100 % q
D
total = 100 % 3,7796 t/m
= 3,7796 t/m = 37,796 KN/m
Momen akibat q
D
=
2 2
40 796 , 37
8
1
.
8
1
x x l q 7.559,2 KN.m
Momen Total = q
D
+ ql + Pl = 7.559,2 + 2.520 + 1.126 = 11.205,2
Momen Gelagar ( MG ) =
2 2
40 66 , 30
8
1
8
1
x x ql = 6.132 KN.m
ML = MT MG = 11.205,2 6.132 = 5.073,2

2 , 205 . 11
132 . 6
MT
MG
54,7 % , cukup besar
Penentuan gaya prategang yang diperlukan
F =

45 , 1 65 , 0
2 , 205 . 11
65 , 0 x h
MT
11.888,8 KN
F =

45 , 1 5 , 0
2 , 073 . 5
5 , 0 x h
ML
6.997,5 KN
Diambil F yang terbesar F = 11.888,8 KN
Jika kehilangan gaya prategang dianggap 20 %, maka
F
o
=
KN 861 . 14
8 , 0
8 , 888 . 11

A
ps
=

760
10 8 , 888 . 11
3
x
f
F
s
15.643,2 mm
2
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
A
c
=
7 . 18 5 , 0
10 8 , 888 . 11
5 , 0
.
3
x
x
fc
f A
s p
1.271.529 mm
2

A
c
perlu > dari A
c
yang ada, maka penampang precast tidak cukup
4.6.4. Alternatif 4
Dicoba type penampang 6 g dengan ketinggian precast 160 cm
Tinggi precast diambil : 0,04 L = 0,04 x 40 m = 1,6 m,
Dengan menggunakan penampang type 6- g,
b/b = 0,3

b = 0,3 b = 0,3 (160 ) = 48 cm


tebal slab precast = 0,5 b = 0,5 x 48 = 24 cm ,
t/h = 0,1

t = 0,1 h = 0,1 (160) = 16 cm


Jadi dimensi penampang precast :
Lebar precast = 160 cm
Tinggi precast = 160 cm
Tebal slab atas/ bawah = 16 cm
Tebal slab pinggir = 24 cm
Tabel 4.16
Garis Netral Penampang Precast Alternatif
No
Segmen
B x h
Luas Segmen
Ai (cm
2
)
Jarak ke serat
tepi atas Yi (cm )
Statis Momen
Ai x Yi ( cm
3
)
1 160 x 16 2.560 8 20.480
2 24 x 128 3.072 80 245.760
3 24 x 128 3.072 80 245.760
4 160 x 16 2.560 152 389.120
5 2( x 10 x 10) 100 19,333 1.933,3
6 2( x 10 x 10) 100 140,667 14.066,7
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Jumlah 11.464 917.120
Center gravity precast ( Cgc )
y
b
=
80
464 . 11
120 . 917
.

i
i i
A
y A
cm
y
a
= h - y
b
= 160 -80 = 80 cm.
Tabel 4.17
Momen Inersia Penampang Precast Alternatif 4
No
Segmen
Luas Ai
(cm
2
)
Ixo (1/12 bh
3
)
Jarak ke
Cgc di (cm )
( di
2
) Ai x di
2
1 2.560 54.613,33 72 5.184 13.271.040
2 3.072 4.194.304 0 0 0
3 3.072 4.194.304 0 0 0
4 2.560 54.613,33 72 5.184 13.271.040
5 50 277,777778 60,667 3.680,5 184.025
6 50 277,777778 60,667 3.680,5 184.025
7 50 277,777778 60,667 3.680,5 184.025
8 50 277,777778 60,667 3.680,5 184.025
Jmlh 11.464 8.498.390,22 27.278.180
Momen Inersia Precast = (Ip) = I
xo
+ A
i
.d
i
2
= 8.498.390,22 + 27.278.180
= 35.776.570,22 cm
4
Berat penampang pracetak = 11.464 cm
2
x 2.500 kg/m
3
= 2,866 kg/m
Momen Tahanan Precast ( W
x
) :
W
a
=
13 , 207 . 447
80
22 , 570 . 776 . 35

a
p
y
I
cm
3

W
b
= W
a
= 447.207,13 cm
3
i =
A
I
=
464 . 11
22 , 570 . 775 . 35
= 55,8 cm
i
2
= r
2
= 55,8
2
= 3.120,7
kt =
80
7 , 120 . 3
2

a
y
i
= 39 cm
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
kt = kb =
80
7 , 120 . 3
2

b
y
i
= 39 cm
Desain Definitif Penampang Komposit
Desain penampang komposit diambil untuk gelagar box tengah.
Tabel 4.18
Garis Netral Penampang Komposit Alternatif 4
No
Segmen
B x h
Luas Segmen
Ai (cm
2
)
Jarak ke serat
tepi atas Yi (cm )
Statis Momen
Ai x Yi ( cm
3
)
1 160 x 15 2.400 7,5 18.000
2 160 x 16 2.560 23 58.880
3 24 x 128 3.072 95 291.840
4 24 x 128 3.072 95 291.840
5 160 x 16 2.560 167 427.520
6 2( x 10 x 10) 100 34,333 3.433,3
7 2( x 10 x 10) 100 155,667 15.566,7
Jumlah 13.864 1.107.080
Center gravity ( Cgc ) komposit :
y
a
=

864 . 13
080 . 107 . 1
.
i
i i
A
y A
79,9 cm
y
b
= h - y
a
= 175 79,9 = 95,1 cm.
Tabel 4.19
Momen Inersia Penampang Komposit Alternatif 4
No
Segmen
Luas Ai
(cm
2
)
Ixo (1/12 bh
3
)
Jarak ke
Cgc di (cm )
( di
2
) Ai x di
2
1 2.400 45.000 72,4 5.241,76 12.580.224
2 2.560 54.613,33 56,9 3.237,61 8.288.281,6
3 3.072 4.194.304 15,1 228,01 700.446,72
4 3.072 4.194.304 15,3 228,01 700.446,72
5 2.560 54.613,33 87,1 7.586,41 19.421.209,6
6 50 277,777778 45,567 2.076,3515 103.817,6
7 50 277,777778 45,567 2.076,3515 103.817,6
8 50 277,777778 75,767 5.770,985 285.049,25
9 50 277,777778 75,767 5.770,985 285.049,25
Jmlh
13.864 8.543.945,77
1
42.468.342,34
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Momen Inersia Komposit (I
c
) = I
xo
+ A
i
.d
i
2
= 8.543.945,771 + 42.468.342,34
= 51.012.288,11 cm
4
W
a
=

9 , 79
1 , 288 . 012 . 51
'
a
c
y
I
638.451,67 cm
3

W
b


=
1 , 95
1 , 288 . 012 . 51
'

b
c
y
I
= 536.408,82 cm
3
ct = 79,9 cm
cb = 95,1 cm
Ratio modulus penampang
Serat atas mt =
67 , 451 . 638
13 , 207 . 447
9 , 79
11 , 288 . 012 . 51
80
570 . 776 . 35
'

ct
I
ct
I
c
p
= 0,70
Serat bawah mb =
815 , 406 . 536
13 , 207 . 447
1 , 95
11 , 288 . 012 . 51
80
570 . 776 . 35
'

cb
I
ct
I
c
p
= 0,834
Resume Pembebanan dan Momen :
1. Berat akibat q
d
( beban mati ) adalah :
- Berat sendiri lantai = 0,15 1,6 2400 = 0,576 t/m
- Berat sendiri lapisan aspal 3 cm = 0,03 1,6 2,2 = 0,1056 t/m
- Berat sendiri lapisan air hujan 2 cm = 0,02 1,6 1 = 0,032 t/m
- Berat sendiri gelagar = 11.464 x 2.500 = 2,866 t/m +
q
D
total = 3,5796 t/m
Untuk beban Bina marga 100 % q
D
total = 100 % 3,5796 t/m
= 3,5796 t/m = 35,796 KN/m
2. Berat Akibat beban Hidup
- Beban lalulintas q
l
=7,875 Kpa x 1,6 = 12,6 KN/m = 1,26 ton/m
- Beban garis P = 44 KN x 1,6 x 1,4 = 98,56 KN= 9,856 ton
Momen maksimum :
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
- Akibat aspal =
2 2
40 1056 , 0
8
1
8
1
x x ql = 21,12 ton.m = 2.112.000 kg.cm
- Akibat lantai =
2 2
40 576 , 0
8
1
8
1
x x ql = 115,2 ton.m = 11.520.000 kg.cm
- Akibat air hujan =
2 2
40 032 , 0
8
1
8
1
x x ql = 6,4 ton.m = 6.400 kg.cm
- Akibat precast =
2 2
40 866 , 2
8
1
8
1
x x ql = 573,2 ton.m = 57.320.000 kg.cm
- Akibat beban q
l
=
2 2
40 26 , 1
8
1
8
1
x x ql = 252 ton.m = 25.200.000 kg.cm
- Akibat beban garis P = 40 56 , 98
4
1
4
1
x x ql = 98,56 ton.m = 9.856.000 kg.cm
Momen akibat beban mati q
D
= 715,92 ton.m = 71.592.000 kg.cm
Momen Total = q
D
+ ql + Pl = 715,92 + 252 + 98,56 = 1.066,48 ton.m
= 106.648.000 kg.cm
Momen Gelagar ( MG )/ MP = 573,2 ton.m
ML = MT MG = 1.066,48 573,2 = 493,28 ton.m
MC = 573,2 +115,2 = 688,4 ton.m

48 , 066 . 1
2 , 573
MT
MG
53,75 % , cukup besar
Penentuan gaya prategang yang diperlukan
F =

6 , 1 65 , 0
48 , 066 . 1
65 , 0 x h
MT
1.025,46 ton
F =

6 , 1 5 , 0
28 , 493
5 , 0 x h
ML
616,6 ton
Diambil F yang terbesar F = 1.025,46 ton
Jika kehilangan gaya prategang dianggap 20 %, maka
F
o
=

8 , 0
46 , 025 . 1
1.281,83 ton
A
ps
=

MPa
N x
f
F
s
760
10 6 , 254 . 10
3
13.492 mm
2
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Luas penampang yang diperlukan :
A
p
=
6 , 182
10 81 , 281 . 1
5 , 1 5 , 1
3
x
f
F
b
o

= 10.529,6 cm
2
< 11.464 cm
2
A
c
=
MPa x
N x
fc
f A
s p
7 . 18 5 , 0
10 6 , 254 . 10
5 , 0
.
3
1.096.748 mm
2

A
c
perlu = 1.096.748 mm
2
< A
c
tersedia = 1.146.400 mm
2
, maka penampang
precast cukup / OK.
Center gravity steel ( cgs)
e
1
=
3
10 81 , 281 . 1 80
570 . 776 . 35 57 , 14 '
x x
x
F c
I f
o t
t

= 5,08 cm = 5,1 cm
e
2
=
3
5
10 81 , 281 . 1
10 2 , 573
x
x
F
MG
o
= 44,7 mm
e
awal
= kb + e
1
+ e
2
= 39 + 5,1 + 44,7 = 88,8 mm
Cgs terletak pada jarak : 80 88,8 = -8,88 cm di luar penampang precast.
Karena Cgs terletak 8,88 cm di luar serat bawah penampang, maka penampang perlu
dirubah kembali.
4.6.5. Alternatif 5
Penampang dirubah dengan m x Lx d
L
d
2 05 , 0 40 05 , 0 05 , 0
Diambil tebal plat : 15 cm, dengan menggunakan type penampang 6 g
dan lebar precast 160 cm, tinggi precast : 0,05 L = 0,05 x 40 m = 2 m
Dengan menggunakan penampang type 6- g : b/b = 0,3

b = 0,3 b
= 0,3 (160 ) = 48 cm, tebal slab precast = 0,5 b = 0,5 x 48 = 24 cm, t/h = 0,1


t = 0,1 h = 0,1 (200) = 20 cm, dimensi penampang precast :
Lebar precast = 160 cm
Tinggi precast = 200 cm
Tebal slab atas/ bawah = 20 cm
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Tebal slab pinggir = 24 cm
Tabel 4.20
Garis Netral Penampang Precast Alternatif 5
No
Segmen
B x h
Luas Segmen
Ai (cm
2
)
Jarak ke serat
tepi atas Yi (cm )
Statis Momen
Ai x Yi ( cm
3
)
1 160 x 20 3.200 10 32.000
2 24 x 160 3.840 100 384.000
3 24 x 160 3.840 100 384.000
4 160 x 20 3.200 190 608.000
5 2( x 10 x 10) 100 23,333 2.333,3
6 2( x 10 x 10) 100 176,667 17.666,7
Jumlah 14.280 1.428.000
Center gravity precast ( Cgc )
y
b
=

280 . 14
000 . 428 . 1
.
i
i i
A
y A
100 cm
y
a
= h - y
b
= 200 -100 = 100 cm.
Tabel 4.21
Momen Inersia Penampang Precast Alternatif 5
No
Segmen
Luas Ai
(cm
2
)
Ixo (1/12 bh
3
)
Jarak ke
Cgc di (cm )
( di
2
) Ai x di
2
1 3.200 106.666,67 90 8.100 25.920.000
2 3.840 8.192.000 0 0 0
3 3.840 8.192.000 0 0 0
4 3.200 106.666,67 90 25.920.000
5 50 277,777778 76,667 5.877,83 293.891,4
6 50 277,777778 76,667 5.877,83 293.891,4
7 50 277,777778 76,667 5.877,83 293.891,4
8 50 277,777778 76,667 5.877,83 293.891,4
Jmlh 14.280
16.598.444,4
6
53.015.565,8
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Momen Inersia Precast = (Ip) = I
xo
+ A
i
.d
i
2
= 16.598.444,46 + 53.015.565,8
= 69.614.010,26 cm
4
Berat penampang pracetak = 14.280 cm
2
x 2.500 kg/m
3
= 3.570 kg/m
Momen Tahanan Precast ( W
x
) :
W
a
=

100
26 , 010 . 614 . 69
a
p
y
I
696.140,103 cm
3
W
b
= W
a
= 696.140,103 cm
3
i =
A
I
=
280 . 14
26 , 010 . 614 . 69
= 69,8 cm
i
2
= r
2
= 69,8
2
= 4.874,9
kt =
100
9 , 4874
2

a
y
i
= 48,7 cm
kt = kb =
100
9 , 874 . 4
2

b
y
i
= 49 cm
Desain penampang komposit diambil untuk gelagar box tengah.
Tabel 4.22
Garis Netral Penampang Komposit
No
Segmen
B x h
Luas Segmen
Ai (cm
2
)
Jarak ke serat
tepi atas Yi (cm )
Statis Momen
Ai x Yi ( cm
3
)
1 160 x 15 2.400 7,5 18.000
2 160 x 16 2.560 23 58.880
3 24 x 128 3.072 95 291.840
4 24 x 128 3.072 95 291.840
5 160 x 16 2.560 167 427.520
6 2( x 10 x 10) 100 34,333 3.433,3
7 2( x 10 x 10) 100 155,667 15.566,7
Jumlah 13.864 1.107.080
Center gravity ( Cgc ) komposit
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
y
a
=

864 . 13
080 . 107 . 1
.
i
i i
A
y A
79,9 cm
y
b
= h - y
a
= 175 79,9 = 95,1 cm.
Tabel 4.23
Momen Inersia Penampang Komposit
No
Segmen
Luas Ai
(cm
2
)
Ixo (1/12 bh
3
)
Jarak ke
Cgc di (cm )
( di
2
) Ai x di
2
1 2.400 45.000 72,4 5.241,76 12.580.224
2 2.560 54.613,33 56,9 3.237,61 8.288.281,6
3 3.072 4.194.304 15,1 228,01 700.446,72
4 3.072 4.194.304 15,3 228,01 700.446,72
5 2.560 54.613,33 87,1 7.586,41 19.421.209,6
6 50 277,777778 45,567 2.076,3515 103.817,6
7 50 277,777778 45,567 2.076,3515 103.817,6
8 50 277,777778 75,767 5.770,985 285.049,25
9 50 277,777778 75,767 5.770,985 285.049,25
Jmlh
13.864 8.543.945,77
1
42.468.342,34
Momen Inersia Komposit = (I
C
) = I
xo
+ A
i
.d
i
2
= 8.543.945,771 + 42.468.342,34
= 51.012.288,11 cm
4
W
a
=

9 , 79
1 , 288 . 012 . 51
'
a
c
y
I
638.451,67 cm
3

W
b


=
1 , 95
1 , 288 . 012 . 51
'

b
c
y
I
= 536.408,82 cm
3
ct = 79,9 cm
cb = 95,1 cm
Ratio modulus penampang
Serat atas mt =
67 , 451 . 638
13 , 207 . 447
9 , 79
11 , 288 . 012 . 51
80
570 . 776 . 35
'

ct
I
ct
I
c
p
= 0,70
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Serat bawah mb =
815 , 406 . 536
13 , 207 . 447
1 , 95
11 , 288 . 012 . 51
80
570 . 776 . 35
'

cb
I
ct
I
c
p
= 0,834
Resume Pembebanan dan Momen
1. Berat akibat q
d
( beban mati ) adalah :
- Berat sendiri lantai = 0,15 1,6 2400 = 0,576 t/m
- Berat sendiri lapisan aspal 3 cm = 0,03 1,6 2,2 = 0,1056 t/m
- Berat sendiri lapisan air hujan 2 cm = 0,02 1,6 1 = 0,032 t/m
- Berat sendiri gelagar = 14.280 x 2.500 = 3,570 t/m +
q
D
total = 4,2836 t/m
Untuk beban Bina marga 100 % q
D
total = 100 % 4,283 t/m
= 4,2836 t/m = 42,836 kN/m
3. Berat Akibat beban Hidup
- Beban lalulintas q
l
=7,875 kPa x 1,6 = 12,6 kN/m = 1,26 ton/m
- Beban garis P = 44 kN x 1,6 x 1,4 = 98,56 kN= 9,856 ton
Momen maksimum :
- Akibat aspal =
2 2
40 1056 , 0
8
1
8
1
x x ql = 21,12 ton.m = 2.112.000 kg.cm
- Akibat lantai =
2 2
40 576 , 0
8
1
8
1
x x ql = 115,2 ton.m = 11.520.000 kg.cm
- Akibat air hujan =
2 2
40 032 , 0
8
1
8
1
x x ql = 6,4 ton.m = 6.400 kg.cm
- Akibat precast =
2 2
40 57 , 3
8
1
8
1
x x ql = 714 ton.m = 71.400.000 kg.cm
- Akibat beban q
l
=
2 2
40 26 , 1
8
1
8
1
x x ql = 252 ton.m = 25.200.000 kg.cm
- Akibat beban garis P = 40 56 , 98
4
1
4
1
x x ql = 98,56 ton.m = 9.856.000 kg.cm
Momen akibat beban mati q
D
= 856,8 ton.m = 85.680.000 kg.cm
Momen Total = q
D
+ ql + Pl = 856,8 + 252 + 98,56 = 1.207,36 ton.m
= 120.736.000 kg.cm
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Momen Gelagar ( MG )/ MP = 714 ton.m
ML = MT MG = 1.207,36 714 = 493,28 ton.m
MC = 714 +115,2 = 829,2 ton.m

36 , 207 . 1
714
MT
MG
59,13 % , cukup besar
Penentuan gaya prategang yang diperlukan
F =

2 65 , 0
36 , 207 . 1
65 , 0 x h
MT
928,7 ton
F =

2 5 , 0
28 , 493
5 , 0 x h
ML
493,28 ton
Diambil F yang terbesar F = 928,7 ton
Jika kehilangan gaya prategang dianggap 20 %, maka
F
o
=

8 , 0
7 , 928
1.160,9 ton
A
ps
=

MPa
N x
f
F
s
760
10 287 . 9
3
12.219 mm
2
Luas penampang yang diperlukan :
A
p
=
6 , 182
10 9 , 160 . 1
5 , 1 5 , 1
3
x
f
F
b
o

= 9.536,2 cm
2
< cm
2
A
c
=
MPa x
N x
fc
f A
s p
7 . 18 5 , 0
10 287 . 9
5 , 0
.
3
993.262 mm
2

A
c
perlu = 993.262 mm
2
< A
c
tersedia = 1.146.400 mm
2
, maka penampang
precast cukup / OK
Center gravity steel ( cgs)
e
1
=
3
10 9 , 160 . 1 100
288 . 012 . 51 57 , 14 '
x x
x
F c
I f
o t
t

= 6,4 cm
e
2
=
3
5
10 91 , 160 . 1
10 714
x
x
F
MG
o
= 61,5 mm
e
awal
= kb + e
1
+ e
2
= 39 + 5,1 + 44,7 = 88,8 mm
Cgs dapat diletekan pada jarak : 80 88,8 = -8,88 cm di luar serat bawah
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Karena Cgs terletak di 8,88 cm di luar serat bawah maka penampang precast perlu
di rubah.
4.6.6. Alternatif 6
Dicoba type penampang 6 g dengan ketinggian precast 200 cm dan
lebar box = 160 cm.
Tinggi precast diambil : 0,05 L = 0,05 x 40 m = 200 c m
Dengan menggunakan penampang type 6- g
b/b = 0,3

b = 0,3 b = 0,3 (160 ) = 48 cm


tebal slab precast = 0,5 b = 0,5 x 48 = 24 cm
t/h = 0,1

t = 0,1 h = 0,1 (200) = 20 cm


Jadi dimensi penampang precast :
Lebar precast = 160 cm
Tinggi precast = 200 cm
Tebal slab atas/ bawah = 20 cm
Tebal slab pinggir = 24 cm
Tabel 4.24
Garis Netral Penampang Precast Alternatif 6
No
Segmen
b x h
Luas Segmen
Ai (cm
2
)
Jarak ke serat
tepi atas Yi (cm )
Statis Momen
Ai x Yi ( cm
3
)
1 160 x 20 3.200 10 32.000
2 24 x 160 3.840 100 384.000
3 24 x 160 3.840 100 384.000
4 160 x 20 3.200 190 608.000
5 2( x 10 x 10) 100 23,333 2.333,3
6 2( x 10 x 10) 100 176,667 17.666,7
Jumlah 14.280 1.428.000
Center gravity precast ( Cgc )
y
b
=

280 . 14
000 . 428 . 1
.
i
i i
A
y A
100 cm
y
a
= h - y
b
= 200 -100 = 100 cm.
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Tabel 4.25
Momen Inersia Penampang Precast Alternatif 6
No
Segmen
Luas Ai
(cm
2
)
Ixo (1/12 bh
3
)
Jarak ke
Cgc di (cm )
( di
2
) Ai x di
2
1 3.200 106.666,67 90 8.100 25.920.000
2 3.840 8.192.000 0 0 0
3 3.840 8.192.000 0 0 0
4 3.200 106.666,67 90 8.100 25.920.000
5 50 277,777778 76,667 5.877,8 293.890
6 50 277,777778 76,667 5.877,8 293.890
7 50 277,777778 76,667 5.877,8 293.890
8 50 277,777778 76,667 5.877,8 293.890
Jmlh 14.280 16.598.444,5 53.015.560
Momen Inersia Precast = (Ip) = I
xo
+ A
i
.d
i
2
= 16.598.444,5 + 53.015.560
= 69.614.004,45 cm
4
Berat penampang pracetak = 14.280 cm
2
x 2.500 kg/m
3
= 3.570 kg/m
Momen Tahanan Precast ( W
x
) :
W
a
=

100
45 , 004 . 614 . 69
a
p
y
I
696.140 cm
3

W
b
= W
a
= 696.140 cm
3
i =
A
I
=
280 . 14
45 , 004 . 614 . 69
= 69,8 cm
i
2
= r
2
= 69,8
2
= 4.874,9
kt =
100
04 , 872 . 4
2

a
y
i
= 69,8 cm
kt = kb =
100
04 , 872 . 4
2

b
y
i
= 69,8 cm
Desain Definitif Penampang Komposit
Desain penampang komposit diambil untuk gelagar box tengah
Tabel 4.26
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Garis Netral Penampang Komposit Altrnatif 6
No
Segmen
B x h
Luas Segmen
Ai (cm
2
)
Jarak ke serat
tepi atas Yi (cm )
Statis Momen
Ai x Yi ( cm
3
)
1 130 x 15 1.950 7,5 14.625
2 130 x 16 2.080 23 47.840
3 20 x 128 2.560 95 243.200
4 20 x 128 2.560 95 243.200
5 130 x 16 2.080 167 347.360
6 2( x 10 x 10) 100 34,333 3.433,3
7 2( x 10 x 10) 100 155,667 15.566,7
Jumlah 11.430 915.225
Center gravity ( Cgc ) komposit
y
a
=

430 . 11
225 . 915
.
i
i i
A
y A
80,1 cm
y
b
= h - y
a
= 175 80,1 = 94,9 cm.
Tabel 4.27
Momen Inersia Penampang Komposit Alternatif 6
No
Segmen
Luas Ai
(cm
2
)
Ixo (1/12 bh
3
)
Jarak ke
Cgc di (cm )
( di
2
) Ai x di
2
1 2.400 45.000 72,4 5.241,76 12.580.224
2 2.560 54.613,33 56,9 3.237,61 8.288.281,6
3 3.072 4.194.304 15,1 228,01 700.446,72
4 3.072 4.194.304 15,3 228,01 700.446,72
5 2.560 54.613,33 87,1 7.586,41 19.421.209,6
6 50 277,777778 45,567 2.076,3515 103.817,6
7 50 277,777778 45,567 2.076,3515 103.817,6
8 50 277,777778 75,767 5.770,985 285.049,25
9 50 277,777778 75,767 5.770,985 285.049,25
Jmlh
13.864 8.543.945,77
1
42.468.342,34
Momen Inersia Komposit = (I
C
) = I
xo
+ A
i
.d
i
2
= 8.543.945,771 + 42.468.342,34
= 51.012.288,11 cm
4
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
W
a
=

9 , 79
1 , 288 . 012 . 51
'
a
c
y
I
638.451,67 cm
3

W
b


=
1 , 95
1 , 288 . 012 . 51
'

b
c
y
I
= 536.408,82 cm
3
ct = 79,9 cm
cb = 95,1 cm
Ratio modulus penampang
Serat atas mt =
67 , 451 . 638
13 , 207 . 447
9 , 79
11 , 288 . 012 . 51
80
570 . 776 . 35
'

ct
I
ct
I
c
p
= 0,70
Serat bawah mb =
815 , 406 . 536
13 , 207 . 447
1 , 95
11 , 288 . 012 . 51
80
570 . 776 . 35
'

cb
I
ct
I
c
p
= 0,834
Resume Pembebanan dan Momen
1. Berat akibat q
d
( beban mati ) adalah :
- Berat sendiri lantai = 0,15 1,6 2400 = 0,576 t/m
- Berat sendiri lapisan aspal 3 cm = 0,03 1,6 2,2 = 0,1056 t/m
- Berat sendiri lapisan air hujan 2 cm = 0,02 1,6 1 = 0,032 t/m
- Berat sendiri gelagar = 14.280 x 2.500 = 3,57 t/m +
q
D
total = 4,2836 t/m
Untuk beban Bina marga 100 % q
D
total = 100 % 4,2836 t/m
= 4,2836 t/m = 42,836 KN/m
4. Berat Akibat beban Hidup
- Beban lalulintas q
l
=7,875 KPa x 1,6 = 12,6 KN/m = 1,26 ton/m
- Beban garis P = 44 KN x 1,6 x 1,4 = 91,52 KN= 9,152 ton
Momen maksimum
- Akibat aspal =
2 2
40 1056 , 0
8
1
8
1
x x ql = 21,12 ton.m = 2.112.000 kg.cm
- Akibat lantai =
2 2
40 576 , 0
8
1
8
1
x x ql = 115,2 ton.m = 11.520.000 kg.cm
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
- Akibat air hujan =
2 2
40 032 , 0
8
1
8
1
x x ql = 6,4 ton.m = 640.000 kg.cm
- Akibat precast =
2 2
40 57 , 3
8
1
8
1
x x ql = 714 ton.m = 71.400.000 kg.cm
- Akibat beban q
l
=
2 2
40 26 , 1
8
1
8
1
x x ql = 252 ton.m = 25.200.000 kg.cm
- Akibat beban garis P = 40 152 , 9
4
1
4
1
x x ql = 91,52 ton.m = 9.152.000 kg.cm
Momen akibat beban mati q
D
= 856,72 ton.m = 85.672.000 kg.cm
Momen Total = q
D
+ ql + Pl = 856,72 + 252 + 91,52 =1.200,24 ton.m
= 120.024.000 kg.cm
Momen Gelagar ( MG )/ MP = 714 ton.m
ML = MT MG = 1.200,24 714 = 400,39 ton.m
MC = 714 +115,2 = 829,2 ton.m

24 , 200 . 1
714
MT
MG
59,5 % , cukup besar
Penentuan gaya prategang yang diperlukan
F =

6 , 1 65 , 0
39 , 874
65 , 0 x h
MT
840,8 ton
F =

6 , 1 5 , 0
474
5 , 0 x h
ML
592 ton
Diambil F yang terbesar F = 840,8 ton
Jika kehilangan gaya prategang dianggap 20 %, maka
F
o
=

8 , 0
8 , 840
1.051 ton
A
ps
=

MPa
N x
f
F
s
760
10 408 . 8
3
11.063,2 mm
2
Luas penampang yang diperlukan :
A
p
=
6 , 182
10 051 . 1
5 , 1 5 , 1
3
x
f
F
b
o

= 8.633,6 cm
2
< 9.480 cm
2
A
c
=
MPa x
N x
fc
f A
s p
7 . 18 5 , 0
10 408 . 8
5 , 0
.
3
899.251 mm
2
< 9.480 mm
2
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
A
c
perlu = 899.251 mm
2
< A
c
tersedia = 948.000 mm
2
, maka penampang precast
cukup / OK
Center gravity steel ( cgs)
e
1
=
3
10 051 . 1 80
144 . 392 . 29 57 , 14 '
x x
x
F c
I f
o t
t

= 5 cm
e
2
=
3
5
10 1 , 818 . 12
10 4740
x
x
F
MG
o
= 36 mm
e
awal
= kb + e
1
+ e
2
= 38,7 + 5,1 +36,9 = 80,7 mm
Cgs dapat diletekan pada jarak : 80 80,7 = 0,7 cm di luar serat bawah
Karena Cgs terletak pada 0,7 cm di luar penampang bawah, maka penampang precast
perlu dirubah.
4.7. Alternatif 7
Berdasarkan Buku Diktat Pelatihan Teknis Pejabat Inti Satuan Kerja
Direktorat Jendral Bina Marga, untuk panjang bentang jembatan 20 50 m, dapat
menggunakan gelagar konstruksi beton pracetak type box girder dengan bentuk
penampang trapesium, dengan metode pengerjaan pracetak pascatarik.
Dicoba type 6 d , dengan 3 buah box,
4.7.1. Penentuan Bahan
a. Beton Pracetak
Mutu beton K 600
f
c
= 0,83 x 600 = 498 kg/cm
2
= 49,8 MPa
f
t
= 8 , 49 = 7,05 Mpa
= 5 , 3 8 , 49
2
1
'
2
1
fc MPa
f
ci
= 0,8f
c
= 0,8 x 49,8 = 39,84 MPa
f
ci
= 0,6f
ci
= 0,6 x 39,8 = 23,904 MPa
f
c
= 0,45f
c
= 0,45 x 49,8 = 22,41 MPa
f
ti
= 3 8 , 49 3 ' 3
c
f = 21,2 MPa
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Dimana :
f
c
= Kuat tekan beton pada umur 28 hari
f
t
= Tegangan tarik maksimum pada beton
f
ci
= Kuat tekan beton saat prategang awal
f
ci
= Tegangan ijin maksimum di beton saat prategang awal
f
c
= Tegangan tekan izin maksimum di beton pada kondisi beban kerja
f
ti
= Tegangan tarik izin maksimum pada beton sesudah transfer
b. Mutu Baja Prategang
f
pu
= 1.860 MPa
f
pi
= 0,7f
pu
= 0,7 x 1860 = 1.300 MPa
f
py
= 1.520 MPa
f
pe
= 1.034 MPa
Dimana :
f
pu
= Kuat tarik tendon yang ditetapkan
f
pi
= Kuat tarik tendon saat prategang awal
f
py
= Kuat leleh tendon yang ditetapkan
c. Mutu beton slab/ pelat
Mutu beto slab/ pelat : K 350
f
c
= 0,83 x 350 = 290,5 kg/cm
2
~ 29,05 MPa
Maka :
3 , 1
08 , 332 . 25
8 , 167 . 33
05 , 29 700 . 4
8 , 49 700 . 4
' 700 . 4
' 700 . 4

fc
fc
slab E
pracetak E
c
c
Jika lebar efetif pracetak 270 cm, maka lebar sayap efektif termodifikasi adalah :
6 , 207
3 , 1
270

cm
4.7.2. Penentuan Dimensi Penampang Pracetak :
Jika lebar jalur lalulintas 8 meter, maka lebar box adalah
3
8
= 2,67 m ~ 2,7 m dan
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
tinggi box diambil 180 cm. Untuk type penampang 6 d, 2 , 0
'

b
b
dan t / h =
0,1 , maka untuk b = 270 cm dan h = 180 cm, 2 , 0
'
b
b
b = 0,2.b = 0,2. 270 =
54 cm .Jadi tebal slab pinggir box = 0,5.b = 0,5 x 54 cm = 27 cm , dengan tebal
slab atas dan bawah t, maka
h
t
= 0,1

t = 0,1.h = 0,1 x 180 = 18 cm, diambil t


= 18 cm = 180 mm. Jadi dimensi penampang pracetak yang digunakan adalah :
Lebar box ( b ) : 270 cm
Tinggi box ( h ) : 180 cm
Tebal slab atas( t ) : 18 cm
Tebal slab samping : 27 cm
Lebar flens pracetak : 2 x 50 cm
Gbr 4.20. Penampang Pracetak Type Box
Perhitungan Dimensi Penampang Precast
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Tabel 4.28
Garis Netral Penampang Precast Alternatif 7
No
Segmen
b x h
Luas Segmen
Ai (cm
2
)
Jarak ke serat
tepi atas Yi (cm )
Statis Momen
Ai x Yi ( cm
3
)
1 270 x 18 4.860 9 43.740
2 27 x 146,2 3.947,4 88 347.371,2
3 27 x 146,2 3.947,4 88 347.371,2
4
2
18 ) 125 120 ( x +
2.205 171,1 377.275,5
Jumlah
14.959,8 1.115.757,9
Center gravity precast ( Cgc )
y
a
=

8 , 959 . 14
9 , 757 . 115 . 1
.
i
i i
A
y A
74,6 cm
y
b
= h - ya = 180 74,6 = 105,4 cm.
Tabel 4.29
Momen Inersia Penampang Precast Alternatif 7
No
Segmen
Luas Ai
(cm
2
)
Ixo (1/12 bh
3
)
Jarak ke
Cgc di
(cm )
( di
2
) Ai x di
2
1 4.860 131.220 65,6 4.303,36 20.914.329,6
2 3.947,4 6.718.464 13,4 179,56 708.795,144
3 3.947,4 6.718.464 13,4 179.56 708.795,144
4 2.205 59.526,7 96,5 9.312,25 20.533.511,25
Jmlh 14.959,8
13.627.674,
7
42.865.431.14
Momen Inersia Precast = (Ip) = I
xo
+ A
i
.d
i
2
= 13.627.674,7 + 42.865.431,14
= 56.493.105,84 cm
4
Berat penampang pracetak = 14.959,8 cm
2
x 2.500 kg/m
3
= 3,740 ton/m =
Momen Tahanan Precast ( W
x
) :
W
a
=

6 , 74
84 , 105 . 493 . 56
a
p
y
I
757.280,24 cm
3

BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
W
b
=

4 , 105
84 , 105 . 493 . 56
b
p
y
I
535.987,72 cm
3

i =
A
I
=
8 , 959 . 14
84 , 105 . 493 . 56
= 61,5 cm
i
2
= r
2
= 61,5
2
= 3.776,3
kt =
6 , 74
3 , 776 . 3
2

a
y
i
= 50,6 cm
kb =
4 , 105
3 , 776 . 3
2

b
y
i
= 35,8 cm
4.7.3. Penampang Komposit
Penampang komposit diambil untuk gelagar tengah dengan tebal plat lantai 15 cm
Tabel 4.30
Garis Netral Penampang Komposit Alternatif 7
No
Segmen
B x h
Luas Segmen
Ai (cm
2
)
Jarak ke serat
tepi atas Yi (cm )
Statis Momen
Ai x Yi ( cm
3
)
1 207,6 x 15 3.114 7,5 23.355
2 270 x 18 4.860 25,5 123.930
3 27 x 146,2 3.947,4 103 406.582,2
4 27 x 146,2 3.947,4 103 406.582,2
5
2
18 ) 125 120 ( x +
2.205 186,1 410.350,5
Jumlah 18.073,8 1.370.653,65
Center gravity ( Cgc ) komposit
y
a
=

8 , 073 . 18
65 , 653 . 370 . 1
.
i
i i
A
y A
75,8 cm
y
b
= h - y
a
= 195 75,8 = 119,2 cm.
Tabel 4.31
Momen Inersia Penampang Komposit Alternatif 7
No
Segmen
Luas A
i
(cm
2
)
I
xo
(1/12 bh
3
)
Jarak
ke Cgc d
i
(cm )
( d
i
2
) A
i
x d
i
2
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
q = 7,875 2,7 = 21,2625KN/m = 2,12625 ton/m
untuk beban Bina Marga 100 % = 21,2625 KN/m =
2,12625 ton/m
P = 44 KN x 2,7 = 118,8 KN
118,8 KN x 1,4 = 166,32 KN.m
Untuk beban bina marga 100 % = 166,32 KN
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
1 3.114 58.387,5 65 4225 13.156.650
2 4.860 131.220 39,5 1.560,25 7.582.815
3 3.947,4 6.718.464 30,5 930,25 3.672.068,85
4 3.947,4 6.718.464 30,5 930,25 3.672.068,85
5 2.205 59.526,7 113,6 12.904,96 28.455.436,8
Jmlh 18.073,8 13.686.062,2 56.539.039,5
Momen Inersia Komposit = (I
C
) = I
xo
+ A
i
.d
i
2
= 13.686.062,2 + 56.539.039,5
= 70.225.101,7 cm
4
W
a
=

8 , 75
7 , 101 . 225 . 70
'
a
c
y
I
926.452,529 cm
3

W
b


=
2 , 119
7 , 101 . 225 . 70
'

b
c
y
I
= 589.136,7592 cm
3
ct = 75,8 cm
cb = 119,2 cm
Ratio modulus penampang
Serat atas mt =
529 , 452 . 926
6 , 470 . 730
8 , 75
7 , 101 . 225 . 70
6 , 74
84 , 105 . 493 . 56
'

ct
I
ct
I
c
p
= 0,788
Serat bawah mb =
8 , 136 . 589
7 , 987 . 535
2 , 119
7 , 101 . 225 . 70
4 , 105
84 , 105 . 493 . 56
'

cb
I
ct
I
c
p
= 0,91
4.8. Perhitungan Beban Beban dan Momen
Perhitungan Beban beban Pada Gelagar Tengah :
Beban beban yang timbul pada gelagar tengah dengan menggunakan
beton pracetak dimensi b = 2,7 m dan h = 1,8 m sebagai berikut :
Pembebanan
Akibat Beban mati :
- Berat sendiri lantai = 0,15 2,7 2.400 = 0,972 t/m
- Berat sendiri lapisan aspal 5 cm = 0,05 2,7 2,2 = 0,297 t/m
- Berat sendiri lapisan air hujan 2 cm = 0,02 2,7 1 = 0,054 t/m
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
q = 7,875 2,7 = 21,2625KN/m = 2,12625 ton/m
untuk beban Bina Marga 100 % = 21,2625 KN/m =
2,12625 ton/m
P = 44 KN x 2,7 = 118,8 KN
118,8 KN x 1,4 = 166,32 KN.m
Untuk beban bina marga 100 % = 166,32 KN
M maks =
=
= 10.125,9 + 4.252,5 + 1.663,2
= 16.041,6 KN.m = 1.604,16 ton.m
P
L
=166,32 KN
q
D
= 50,6295 KN/m
q
L
= 21,2625 KN/m
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
- Berat sendiri gelagar = 14.959,8 x 2.500 = 3,73995 t/m +
q
D
total = 5,06295 t/m
Untuk beban Bina marga 100 % q
D
total = 100 % 5,06295 ton/m
= 5,06295 t/m = 50,6295 KN/m
Akibat Beban Lalu lintas dan Beban Garis
Untuk panjang bentang L > 30 m
q = 9,0 (0,5 + )
15
L
kPa/ m/ lajur,
q = 9,0 ( 0,875) = 7,875 kPa
dengan ketentuan lebar 1 lajur
2,75 meter
1 Kpa = 1 KN, maka q = 7,875 KPa/m = 7,875 KN/m = 0,7875 ton/m
Gbr 4.21. Sistem Pembebanan Alternatif 7 Akibat Beban Laluintas
Bergasarkan grafik Faktor beban dinamis untuk jembatan dengan panjang
bentang L = 40 m, faktor beban dinamisnya sebesar 40 % = 1,4,
Maka F
BD
= 40 % , P
L
= 118,8 KN 1,4 = 166,32 KN dan
q
L
= 21,2625 KN/m
Resume Pembebanan dan Momen
Momen Maksimum Akibat Beban - beban
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
2,7m
P
q = 7,875 2,7 = 21,2625KN/m = 2,12625 ton/m
untuk beban Bina Marga 100 % = 21,2625 KN/m =
2,12625 ton/m
P = 44 KN x 2,7 = 118,8 KN
118,8 KN x 1,4 = 166,32 KN.m
Untuk beban bina marga 100 % = 166,32 KN
q
l
M maks =
=
= 10.125,9 + 4.252,5 + 1.663,2
= 16.041,6 KN.m = 1.604,16 ton.m
P
L
=166,32 KN
q
D
= 50,6295 KN/m
q
L
= 21,2625 KN/m
2,75 m
P = 12 t
q = 2,2 t/m
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
1. Akibat aspal =
2 2
40 297 , 0
8
1
8
1
x x ql = 59,4 ton.m
2. Akibat lantai =
2 2
40 972 , 0
8
1
8
1
x x ql = 194,4 ton.m
3. Akibat air hujan =
2 2
40 054 , 0
8
1
8
1
x x ql = 10,8 ton.m
4. Akibat precast =
2 2
40 73995 , 3
8
1
8
1
x x ql = 747,99 ton.m
5. Akibat beban q
l
=
2 2
40 12625 , 2
8
1
8
1
x x ql = 425,25 ton.m
6. Akibat beban garis P = 40 632 , 16
4
1
4
1
x x Pl = 166,32 ton.m
a. Momen maksimum pada satu gelagar tengah
5. Koefisien kejut
K =
L +
+
50
20
1 , dimana L = 40 meter
K = 222 , 1
40 50
20
1
+
+
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
M maks =
=
= 10.125,9 + 4.252,5 + 1.663,2
= 16.041,6 KN.m = 1.604,16 ton.m
P
L
=166,32 KN
q
D
= 50,6295 KN/m
q
L
= 21,2625 KN/m
40 m
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Asumsi pembebanan pada kedua gelagar pinggir sama dengan pembebanan pada
gelagar tengah

4.9. Keperluan Gaya Prategang
Momen Total ( MT ) = 1.604,16 ton.m = 16.041,6 kN.m
Momen Gelagar ( MG ) =
2 2
40 3995 , 37
8
1
8
1
x x ql
= 7.479,9 KN.m = 747,99 ton.m

6 , 041 . 16
9 , 479 . 7
MT
MG
46,63 % , cukup besar
Karena
MT
MG
46,63 % cukup besar , maka untuk penentuan luas
penampang precast digunakan persamaan (6-1) T.Y.Lin hal 207, yaitu :
F =

8 , 1 65 , 0
6 , 041 . 16
65 , 0 x h
MT
13.710,8 kN
Jika diambil gaya satuan efektif untuk baja f
se
sebesar = 1300 MPa
dan kehilangan gaya prategang dianggap,

= 20 %, maka gaya prategang


awal yang diperlukan adalah :
F
o
=
8 , 0
8 , 710 . 13

eff
F
17.138,5 KN
Sehingga luas baja yang diperlukan : A
ps
=

1300
10 5 , 138 . 17
3
x
f
F
se
13.183,5
mm
2
A
c
=

41 , 22 5 , 0
10 5 , 183 . 13
5 , 0
.
3
x
x
f
f A
c
s p
1.176.5729,9 mm
2
. A
c
yang

ada 1.495.980 mm
2
> dari A
c
perlu 1.223.629,561 mm
2
.
Karena luas penampang precast yang ada lebih besar dari A
c
perlu
maka penampang dapat digunakan ( OK ).
Cek kekuatan penampang berdasarkan momen tahanan dengan
menganggap kehilangan gaya prategang 20 %. (
8 , 0
), dan tendon
dipasang berbentuk parabolik, maka :
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
W
ap

( ) ( )
) 1 , 224 ( 212 8 , 0
10 16 , 604 . 1 8 , 0 1 1
5

x
x
f f
MT
c ti

=
7 , 393
200 . 083 . 32
= 81.491,5 cm
3

W
bp
( ) ( )
) 1 , 224 ( 8 , 0 35 8 , 0
10 16 , 604 . 1 8 , 0 1 1
5

x
x
f f
MT
c t

=
28 , 207
200 . 083 . 32
= 154.781,94 cm
3
Karena W
ap
= 757.280,24,5 cm
3
> 81.491,5 dan W
bp
= 535.987,72 cm
3
>
154.781,94 cm
3
, maka penampang precast OK.
4.10. Penentuan Eksentrisitas dan Selubung Tendon Prategang
Eksentrisitas ditentukan dengan asumsi jika diijinkan terjadi tarik pada
penampang, Berdasarkan persamaan (6-11) dan (6-12) buku T.Y. Lin hal 225
e
1
=
3
11
10 5 , 138 , 17 746
10 649310584 , 5 5 , 3 '
x x
x x
F c
I f
o t
t

= 154,6 mm
e
2
=
5 , 138 . 17
10 9 , 479 . 7
3
x
F
MG
o

= 436,4 mm
e = kb + e
1
+ e
2
= 358 +154,6 + 436,4 = 949 mm.
Jadi cgs dapat diletakan pada : y
b
e = 1054 -949 = 105 mm dari serat
bawah, dan berada di dalam penampang (OK).
Jika tidak diijinkan terjadinya tarik pada penampang precast ( f
t
= 0 ), maka
e = kb + e
2
= 358 + 436,4 = 794,4 mm = 79,44 cm, cgs dapat diletakan pada :
y
b
e = 1054794,4= 259,6 mm dari serat bawah (OK).
Berdasarkan persamaan (4.7a) buku Edward G Nawy hal 112
a
min
=
5 , 138 . 17
10 9 , 479 . 7
3
x
F
MG
o

= 436,4 mm,
sehingga : eb = a
min
+ kb = 436,4 + 358 = 794,4 mm = 79,44 cm
a
maks
=
8 , 710 . 13
10 6 , 041 . 16
3
x
F
MT
= 1169,9 mm
e
t
= a
maks
- kt = 1169,9 - 506 = 663,9 mm
Jadi, jika tidak diijinkan tarik pada penampang precast, batas eksentrisitas
adalah: Pada serat bawah y
b
e = 25,96 cm dari serat bawah, dan batas atas 74,6 -
66,39 = 8,21 cm. Berarti tendon berada di dalam penampang pracetak ( OK)
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Berdasarkan persamaan (4.7a) buku Edward G Nawy hal 112, bahwa
eksentrisitas tendon, untuk tendon bervariasi pada penampang kritis adalah :
e
c
= (f
ti

ci
f
)
o o
a
F
MG
F
W
+
, dengan
) 9 , 23 ( 2 , 21 (
180
6 , 74
2 , 21 ) (

ci ti
t
ti ci
f f
h
c
f f =21,2-(-18,7)=- 39,9 MPa
e
c
= (f
ti

ci
f
)
o o
a
F
MG
F
W
+

e
c
= 21,2 ( - 39,9)
3
5
3
10 85 , 713 . 1
10 99 , 747
10 85 , 713 . 1
24 , 280 . 757
x
x
x
+ =
= 61,1 ( 0,44186 )+ 43,6 = 26,997 + 43,6 = 70,6 cm
e
e
= (f
ti

ci
f
)
o
a
F
W
= 21,2 ( - 39,9)
3
10 85 , 713 . 1
24 , 280 . 757
x
= 61,1 ( 0,44186 )
= 26,998 cm
Eksentrisitas selubung tendon bervariasi yang membatasi
Selubung bawah :
Berdasarkan Buku Edward G Nawy persamaan 4.7a hal 133, jarak
maksimum cgs yang terletak di bawah keren bawah (kb) untuk mencegah
terjadinya tegangan tarik di serat atas ditentukan sebagai berikut :
(i). Tengah Bentang
a
min
=
5 , 138 . 17
10 9 , 479 . 7
3
x
F
MG
o

= 436,4 mm,
sehingga : e
1
= a
min
+ kb = 436,4 + 358 = 794,4 mm = 79,44 cm
(ii). Seperempat Bentang
a
min
=
5 , 138 . 17
10 925 , 609 . 5
3
x
F
MG
o

= 327,3 mm = 32,73 cm
sehingga : e
2
= a
min
+ kb = 327,3 + 358 = 685,3 mm = 68,53 cm
(iii) Tumpuan
a
min
= 0
sehingga : e
3
= 0 + 358 = 358 mm = 35,8 cm
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX

Selubung atas :
Berdasarkan persamaan 4.7b Buku Edward G Nawy Hal 134, jarak
maksimum cgs yang terletak di bawah keren atas ( kt ) untuk mencegah terjadinya
tegangan tarik di serat bawah ditentukan sebagai berikut :
(i). Tengah Bentang
a
maks
=
8 , 710 . 13
10 6 , 041 . 16
3
x
F
MT
= 1169,9 mm
e
1
= a
maks
- kt = 1169,9 - 506 = 663,9 mm
sehingga : e
1
=663,9 cm < kb, berarti tendon berada di dalam penampang
OK
(ii). Seperempat Bentang
a
maks
=
8 , 710 . 13
10 2 , 031 . 11
3
x
F
MT
= 877,5 mm
e
2
= a
maks
- kt = 811,9 - 358 = 453,5 mm
(iii) Tumpuan
a
maks
= 0 mm
e
3
= 0 kt = 0 358 = - 358 mm, berarti e
3
= 358 mm diatas garis cgc
y
a
e
3
= 74,6 -35,8 = 38,8 , cgc berada dalam penampang
4.11. Perhitungan Tegangan Yang Terjadi.
Dengan mengambil e = 794 mm, maka tegangan yang terjadi :
1. Saat penarikan kabel :
Wa
e F
Wa
M
A
F
o bs o
atas
.
.
+
=
24 , 280 . 757
4 , 79 850 . 713 . 1
24 , 280 . 757
10 99 , 747
8 , 959 . 14
850 . 713 . 1
5
x x
+
= - 114,6 98 + 179,78
= - 32,8 kg/cm
2
= 3,28 MPa ( tekan / tidak terjadi tarik ) OK
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Wb
e F
Wb
M
A
F
o bs o
bawah
.
.
+
=
72 , 987 . 535
4 , 79 850 . 713 . 1
72 , 987 . 535
10 99 , 747
8 , 959 . 14
850 . 713 . 1
5
x x
+
= - 114,6 + 139,6 - 254
= - 229 kg/cm
2
= 22,9 MPa ( tekan / tidak terjadi tarik) OK
2. Saat lantai dicor
Wa
e F
Wa
M M
A
F
s bs
atas
. ) (
+
+

=
24 , 280 . 757
4 , 79 080 . 371 . 1
24 , 280 . 757
10 4 , 194 10 99 , 747
8 , 959 . 14
080 . 371 . 1
5 5
x x x
+
+

= - 91,7 124,4 + 143,8
= - 72,3 kg/cm
2
= -7,23 MPa ( tekan/ tidak terjadi tarik ) OK
Wb
e F
Wb
M M
A
F
s bs
bawah
. ) (

+
+
=
72 , 987 . 535
4 , 79 080 . 371 . 1
72 , 987 . 535
10 4 , 194 10 99 , 747
8 , 959 . 14
080 . 371 . 1
5 5
x x x

+
+
= - 91,7 + 175,8 203,2
= - 119,1 kg/cm
2
= - 11,9 MPa ( tekan / tidak terjadi tarik ) OK
3. Akibat beban hidup
4 , 410 . 023 . 1
10 99 , 747 10 16 , 604 . 1
' '
5 5
x x
Wa
MG MT
Wa
ML
atas


= - 83,6 kg/cm
2
= 8,36 MPa
8 , 691 . 605
10 99 , 747 10 16 , 604 . 1
' '
5 5
x x
Wb
MG MT
Wb
ML
atas

+
= + 141,4 kg/cm
2
= 14,14 MPa
Tegangan akhir :
atas

= - 72,3 + (-83,6) = -155,9 kg/cm


2
= 15,59 MPa < f
c
= 22,41 Mpa (OK)
bawah

= - 119,1 + 141,4 = 22,3 kg/cm


2
= 2,23 MPa < f
t
= 3,5 MPa ( OK )
Cek tegangan serat ekstrim beton :
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
f
t
=
Wa
MG
r
c e
A
F
t o

,
_


2
.
1
=
24 , 280 . 757
10 99 , 747
3 , 776 . 3
6 , 74 4 , 79
1
8 , 959 . 14
600 . 329 . 2
5
x x

,
_


= - 155,7 (1 1,6 ) 98,8
= - ,38 kg/cm
2
= 0,538 MPa < f
ti
= 21,2 MPa (OK)
F
b
=
Wb
MG
r
c e
A
F
b o
+
,
_

+
2
.
1
=
72 , 987 . 535
10 99 , 747
3 , 776 . 3
4 , 105 4 , 79
1
8 , 959 . 14
600 . 329 . 2
5
x x
+
,
_


= - 155,7 (1 + 2,22 ) + 139
= - 361,9 Kg/cm
2
= 3,62 MPa ( tekan ) OK
Cek tegangan serat ekstrim beton :
f
t
=
Wa
MG
r
c e
A
F
t o

,
_


2
.
1
=
24 , 280 . 757
10 99 , 747
3 , 776 . 3
6 , 74 4 , 79
1
8 , 959 . 14
00 . 820 . 1
5
x x

,
_


= - 121,7 (1 1,6 ) 98,8
= - 25,78 kg/cm
2
= 2,57 MPa
Tidak terjadi tarik saat transfer OK
F
b
=
Wb
MG
r
c e
A
F
b o
+
,
_

+
2
.
1
=
72 , 987 . 535
10 99 , 747
3 , 776 . 3
4 , 105 4 , 79
1
8 , 959 . 14
000 . 820 . 1
5
x x
+
,
_


= - 121,7 (1 + 2,216 ) + 139
= - 252,5 Kg/cm
2
( tekan )
Tidak terjadi tarik OK
4.12. Daerah Aman Kabel Pada Beton Prategang
Untuk trase penempatan kabel prategang, ditinjau penampang precast untuk
setengah bentang, dimana potongan potongan yang ditinjau berjarak 2 meter
sama lain dimulai dari titik tumpuan dengan jarak 0 m. Daerah aman kabel
dihitung dengan asumsi tidak terjadi tarik f
t
= 0.
Penentuan momen per segemen akibat beban mati :
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Penentuan Momen persegmen akibat semua beban mati ( D
L
) adalah :
M
x
= RA.x qx.
2
1
x = 101,259x 5,06295x . x
2
1

= 101,259x 2,531475 x
2

Penentuan momen persegemen akibat beban gelagar ( M
G
) :
Penentuan momen persegmen akibat bebab gelagar precast ( M
G
) :
M
x
= RA.x qx.
2
1
x = 74,799x 3,73995x . x
2
1

= 74,799x 1,869975 x
2

BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
40 m
q
D
= 5,06295 t/m
m ton x x ql Q R
A
. 259 , 101 40 06295 , 5
2
1
2
1
2
1

RB= 101,259 ton.m
R
A
R
B
40 m
q
D
= 3,73995 t/m
m ton x x ql Q R
A
. 799 , 74 40 73995 , 3
2
1
2
1
2
1

RB= 74,799 ton.m
R
A
R
B
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Penentuan momen persegemen akibat beban hidup dan beban mati (MT ) :
Penentuan momen per segmen akibat bebab gelagar precast ( MG) :
M
x
= RA.x qx.
2
1
x = 143,784x 7,1892x . x
2
1

= 143,784x 3,5946 x
2

Akibat P
L
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
40 m
q
D +
q
l
= 7,1892 t/m
m ton x x ql Q R
A
. 784 , 143 40 1892 , 7
2
1
2
1
2
1

RB= 143,784 ton.m
R
A
R
B
P
L
= 16,632 ton
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Tabel 4.32
Momen Persegmen Akibat MG dan MT
No
Jarak Dari
Tumpuan (m )
Momen Akibat ( Ton.m)
MG D
L
MT
1 0 0 0 0
2 2 142,1181 192,3921 289,8216
3 4 269,2764 364,5324 550,8864
4 6 381,4749 516,4209 783,1944
5 8 446,7136 648,0576 986,7456
6 10 560,9925 759,4425 1161,540
7 12 628,3116 850,5756 1307,5776
8 14 680,6709 921,4569 1424,7504
9 16 718,0704 972,0864 1513,3824
10 18 740,5101 1002,4641 1574,1496
11 20 747,9900 1012,5900 1604,1600
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
40 m
m ton x P R
A
. 316 , 8 632 , 16
2
1
2
1

RB= 8,316 ton.m
R
A
R
B
P
L
= 16,632 ton
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Tabel 4.33
Eksentrisitas Persegemen Untuk Selubung Bawah
No
Jarak Dari
Tumpuan
( m )
MG
( Ton. m )
a
min =
o
F
MG

(mm )
k
b
(mm )
e = a
min
+ k
b
( mm )
1 0 0 0 358 358
2 2 142,1181 82,9 358 441
3 4 269,2764 157,1 358 515
4 6 381,4749 222,6 358 580
5 8 446,7136 260,6 358 618
6 10 560,9925 327,33 358 685
7 12 628,3116 366,61 358 724
8 14 680,6709 397,16 358 755
9 16 718,0704 418,90 358 777
10 18 740,5101 432,07 358 790
11 20 747,9900 436,4 358 794
Tabel 4.34
Eksentrisitas Persegemen Untuk Selubung Atas
No
Jarak Dari
Tumpuan
( m )
MT
( Ton. m )
a
maks =
F
MT

(mm )
k
b
(mm )
e = a
min
+ k
b
( mm )
1 0 0 0 - 506 - 506
2 2 289,8216 211,4 - 506 - 294,6
3 4 550,8864 401,7 - 506 - 10,43
4 6 783,1944 571,224 - 506 65,2
5 8 986,7456 719,68 - 506 214
6 10 1161,540 847,17 - 506 341
7 12 1307,5776 953,86 - 506 447
8 14 1424,7504 1039,14 - 506 533
9 16 1513,3824 1103,78 - 506 597,8
10 18 1574,1496 1148,11 - 506 642,1
11 20 1604,1600 1169,99 - 506 663
Eksentrisitas tambahan ( inkremen) pada selubung cgs jika diijinkan
terjadinya tarik terbatas pada serat atas dan bawah sebesar f
t
= 3,5 MPa atau f
t
=
7,05 MPa
Untuk f
t
= 3,5 MPa
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
e
b =

500 . 138 . 17
358 980 . 495 . 1 5 , 3 .
) 1 (
x x
F
k A f
o
b c
109,4 mmm
e
t =

800 . 710 . 13
506 980 . 495 . 1 5 , 3 .
) (
x x
F
k A f
eff
t c
b
193,2 mmm
Untuk f
t
= 7,05 MPa
e
b =

500 . 138 . 17
358 980 . 495 . 1 05 , 7 .
) 1 (
x x
F
k A f
o
b c
220,03 mm
e
t =

800 . 710 . 13
506 980 . 495 . 1 05 , 7 .
) (
x x
F
k A f
eff
t c
b
414,1 mmm
Tabel 4.35
Tabel Eksentrisitas Selubung Cgs Untuk Daerah Aman Kabel
Jarak
dari
Tumpuan
( cm )
Selubung
Tendon
e Jika
ft = 0
ft = 3,5 Mpa ft = 7,05 MPa
Inkremen
(mm)
e Jika
ft = 3,5 MPa
(mm)
Inkremen
e Jika
ft = 7,05
MPa
(mm)
0
Bawah 358 + 109,4 467,4 + 220,03 578,03
Atas - 506 - 193,2 - 699,2 - 414,1 - 920,1
200
Bawah 441 + 109,4 550,4 + 220,03 661,03
Atas - 294,6 - 193,2 - 487,8 - 414,1 - 708,7
400
Bawah 515 + 109,4 624,4 + 220,03 735,03
Atas - 104,3 - 193,2 - 297,5 - 414,1 - 518,4
600
Bawah 580 + 109,4 689,4 + 220,03 800,03
Atas 65,2 - 193,2 - 128 - 414,1 - 348,9
800
Bawah 618 + 109,4 727,4 + 220,03 838,03
Atas 214 - 193,2 20,8 - 414,1 -200,1
1000
Bawah 685 + 109,4 794,4 + 220,03 905,03
Atas 341 - 193,2 147,8 - 414,1 -73,1
1200
Bawah 724 + 109,4 833,4 + 220,03 944,03
Atas 447 - 193,2 253,8 - 414,1 32,9
1400
Bawah 755 + 109,4 864,4 + 220,03 975,03
Atas 533 - 193,2 339,8 - 414,1 118,9
1600
Bawah 777 + 109,4 886,4 + 220,03 997,03
Atas 597,8 - 193,2 404,6 - 414,1 183,7
1800
Bawah 790 + 109,4 899,4 + 220,03 1010,03
Atas 642,1 - 193,2 448,9 - 414,1 228
2000
Bawah 794 + 109,4 903,4 + 220,03 1014,03
Atas 663 - 193,2 469,8 - 414,1 248,9
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Tabel 4.36
Koordinat Daerah Aman Kabel Diukur Dari Serat Bawah Jika f
t
= 0
X (cm) 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000
Atas
( cm)
156,0 134,9 115,8 98,9 84,0 71,3 60,7 52,1 45,62 41,2 39,1
Bawah
(cm )
69,6 61,3 53,9 47,4 43,6 36,9 33,0 29,7 27,7 26,4 26,0
Tabel 4.37
Koordinat Daerah Aman Kabel Diukur Dari Serat Bawah Jika f
t
= 3,5 MPa
X (cm) 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000
Atas
( cm)
175,3 154,2 135,2 118,2 103,3 90,6 80,0 71,4 64,9 60,51 58,4
Bawah
(cm )
58,7 50,4 43,0 36,5 32,7 26,0 22,1 19,0 16,8 15,5 15,1
4.13. Pemilihan Kabel Prestress
Berdasarkan Buku T.Y Lin Lampiran B halaman 375 tendon yang
digunakan adalah Sistem angkur dan tendon multistrand, dengan menggunakan
kawat strand diameter 0,5 in = 1,28 mm. Tipe pengangkuran yang digunakan
adalah type : E5-7, jumlah strand dalam satu tendon 7 buah, luas baja 1,071 in
2
=
690,795 mm
2
, maka diameter tendon = 26,95 mm, dengan mengunakan nilai :
29,665 mm.
f
pu
= 1.860 MPa
f
pi
= 0,7 x 1.860 MPa = 1.302 MPa = 1.300 MPa
f
s
= 860 MPa
Penentuan luas tendon yang dibutuhkan, jika digunakan tendon dengan
jumlah strands 7 buah, dengan luas nominal tendon 690,795 mm
2
, adalah :
A
ps
=

1300
10 5 , 138 . 17
3
x
f
F
pi
o
13.183,46 mm
2
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Banyak tendon yang diperlukan

adalah:
795 , 690
46 , 13183
= 19 buah
Jika dicoba 18 tendon yang terdiri dari 7 strand, maka:
F
o

aktual
= f
pi
x 690,795 x 18 = 1.300 MPa x 690,795 x 18 = 16.164.603 N =
16.164,603 kN = 1.616,4603 ton.
Dicoba menggunakan strands dengan 19 tendon
F
o

aktual
= f
pi
x 690,795 x 19 = 1.300 MPa x 690,795 x 19 = 17.062.636 N =
17.062,636 kN = 1.706,2636 ton
Digunakan 19 tendon yang terdiri dari 7 strand.
Gbr 4.22. Posisi Letak Tendon Di Tumpuan
Dengan posisi tendon seperti gambar 4. di atas , cgs pada tumpuan diukur
dari serat bawah penampang precast :
Cgs =
795 , 690 19
) 1700 795 , 690 3 ( ) 1470 795 , 690 2 (
) 1240 795 , 690 2 ( ) 1010 795 , 690 2 ( ) 780 795 , 690 2 (
) 550 795 , 690 2 ( ) 320 795 , 690 2 ( ) 90 795 , 690 4 (
x
x x x x
x x x x x x
x x x x x x
+
+ + +
+ + +
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Cgs =
105 , 125 . 13
5 , 054 . 523 . 3 3 , 937 . 030 . 2 6 , 171 . 713 . 1
9 , 405 . 395 . 1 2 , 640 . 077 . 1 5 , 874 . 759 8 , 108 . 442 2 , 686 . 248
+ +
+ + + + +
Cgs =
105 , 125 . 13
879 . 190 . 11
= 852,6 mm = 85,26 cm dari serat bawah, atau 105,4 85,26
= 20,14 cm dari cgp < kb = 35,8 cm, jadi cgs berada di dalam penampang beton
precast OK .
Cgs di tengah bentang diukur dari serat bawah penampang

Cgs =

795 , 690 19
) 1700 795 , 690 1 ( ) 790 795 , 690 2 ( ) 690 795 , 690 2 (
) 590 795 , 690 2 ( ) 490 795 , 690 2 ( ) 390 795 , 690 2 (
) 290 795 , 690 2 ( ) 190 795 , 690 2 ( ) 90 795 , 690 4 (
x
x x x x x x
x x x x x x
x x x x x x
+ +
+ + +
+ + +
Cgs =
105 , 125 . 13
5 , 351 . 174 . 1 1 , 456 . 091 . 1 1 , 297 . 953 1 , 138 , 815
1 , 979 . 676 1 , 820 . 538 1 , 661 . 400 1 , 502 . 262 2 , 686 . 248
+ + +
+ + + + +
Cgs =
105 , 125 . 13
4 , 891 . 161 . 6
= 469,5 mm = 46,95 cm dari serat bawah, jadi Cgs berada

dalam penampang beton precast OK
4.14. Layout / Tata Letak Kabel
Ditumpuan :
Cgs di tumpuan = 85,26 cm dari serat bawah, maka
y
b
-cgs = 105,4- 85,26 = 20,14 cm < kb = 35,8 cm, berarti cgs berada di dalam
kabel, maka e = 20,14 cm dari cgp
Persamaan titik berat tendon ( kabel ) : Y = Ax
2
+ Bx + C
Batasan untuk ditumpuan :
X = 0 y = 85,26 cm
X = L y = 85,26 cm
Batasan untuk ditengah bentang :
X = L/2 y = 46,95 cm dari serat bawah
Y = Titik berat tendon diukur dari serat bawah
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
dy/dx = 0 y = C = 85,26 cm
dy/dx = 2Ax + B x = 20 m
0 = 2A (20 ) + B B = - 40 A
Jadi untuk ditengah bentang cgs = 46,95 cm = 0,4695 m
0,4695 = A (20 )
2
+ (-40 A) 20 + 0,8526
0,4695 = 400A + (-800A ) + 0,8526
0,4695 = - 400A + 0,8526 A = 0,00095775
B = - 0,03831
C = 0,8526
Maka: y = Ax
2
+ Bx + C = 0,00095775 x
2
0,03831 x + 0,8574 x dalam
meter, dy/dx = ton , = 0,0019155 x 0,03831 ( perubahan sudut titik berat
kabel ).
Persamaan umum ordinat cgs bila diukur dari cgp.
y =
) (
4
2
2
x Lx
L
i

, dimana
i = Selisih ordinat Cgs ditumpuan dengan tengah bentang
x = Jarak ( 0, 200, 400, 600, 800, 1000, 1200, 1400, 1600, 1800, 2000 ) cm
L = Panjang bentang jembatan = 40 m = 4000 cm
Layout tendon nomor 1,2,3, 4 dan 19 diletakan berupa tendon lurus
Layout tendon nomor 5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16,17,18 dipasang berbentuk
parabolik ( tendon draped )
Persamaan ordinat cgs , x dalam centimeter :
Jarak cgp dengan cgs di tumpuan = 105,4 cm 85,26 cm = 20,14
Jarak cgp dengan cgs di tengah bentang = 105,4 cm 46,95 cm = 58,45
Selisih jarak cgs ditumpuan dengan cgs di tengah bentang adalah :
58,45 cm 20,14 cm = 38,31 cm ,
Dengan menggunakan persamaan y =
) (
4
2
2
x Lx
L
i

+ 20,14, ordinat Cgs adalah :


Untuk x = 0, maka diperoleh
y =
) 0 0 4000 (
4000
31 , 38 4
) (
4
2
2
2
2
x
x
x Lx
L
i
+20,14 = 20,14 cm,
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Untuk x = 200 cm , y
=
) (
4
2
2
x Lx
L
i

,+ 20,145
y
=
) 200 200 4000 (
4000
31 , 38 4
) (
4
2
2
2
2
x
x
x Lx
L
i
+20,14
y = 0,000009577 ( 800.000 - 40.000) + 20,14 = 27,42 cm
Untuk x = 400 cm , y
=
) (
4
2
2
x Lx
L
i

,+20,14
y
=
) 400 400 4000 (
4000
31 , 38 4
) (
4
2
2
2
2
x
x
x Lx
L
i
+ 20,14
y =0,000009577 ( 1.600.000- 160.000) + 20,14 = 33,93 cm
Untuk x = 600 cm , y
=
) (
4
2
2
x Lx
L
i

,+ 20,14
y
=
) 600 600 4000 (
4000
31 , 38 4
) (
4
2
2
2
2
x
x
x Lx
L
i
+ 20,14
y =0,000009577 ( 2.400.000- 360.000) + 20,14 = 39,67 cm
Untuk x = 800 cm , y
=
) (
4
2
2
x Lx
L
i

,+ 20,14
y
=
) 800 800 4000 (
4000
31 , 38 4
) (
4
2
2
2
2
x
x
x Lx
L
i
+ 20,14
y =0,000009577 ( 3.200.000- 640.000) + 20,14 = 44,66 cm
Untuk x = 1000 cm , y
=
) (
4
2
2
x Lx
L
i

,+ 20,14
y
=
) 1000 1000 4000 (
4000
31 , 38 4
) (
4
2
2
2
2
x
x
x Lx
L
i
+ 20,14
y =0,000009577 ( 4.000.000- 1.000.000) + 20,14 =48,87 cm
Untuk x = 1200 cm , y
=
) (
4
2
2
x Lx
L
i

,+ 20,14
y
=
) 1200 1200 4000 (
4000
31 , 38 4
) (
4
2
2
2
2
x
x
x Lx
L
i
+ 20,14
y =0,000009577 ( 4.800.000- 1.440.000) + 20,14 = 52,32 cm
Untuk x = 1400 cm , y
=
) (
4
2
2
x Lx
L
i

,+ 20,14
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
y
=
) 1400 1400 4000 (
4000
31 , 38 4
) (
4
2
2
2
2
x
x
x Lx
L
i
+ 20,14
y =0,000009577 ( 5.600.000- 1.960.000) + 20,14 = 55,00 cm
Untuk x = 1600 cm , y
=
) (
4
2
2
x Lx
L
i

,+ 20,14
y
=
) 1600 1600 4000 (
4000
31 , 38 4
) (
4
2
2
2
2
x
x
x Lx
L
i
+ 20,14
y =0,000009577 ( 6.400.000 - 2.560.000) + 20,14 = 56,92 cm
Untuk x = 1800 cm , y
=
) (
4
2
2
x Lx
L
i

,+ 20,14
y
=
) 1800 1800 4000 (
4000
31 , 38 4
) (
4
2
2
2
2
x
x
x Lx
L
i
+ 20,14
y =0,000009577 ( 7.200.000 - 3.240.000) + 20,14 = 58,06 cm
Untuk x = 2000 cm , y
=
) (
4
2
2
x Lx
L
i

,+ 20,14
y
=
) 2000 2000 4000 (
4000
31 , 38 4
) (
4
2
2
2
2
x
x
x Lx
L
i
+20,14
y =0,000009577 ( 8.000.000 4.000.000) + 20,14 = 58,45 cm
Tabel 4.38
Titik Ordinat Cgs Sepanjang Bentang
X (cm) 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000
Y (cm) 20,14 27,42 33,93 39,67 44,66 48,87 52,32 55,00 56,92 58,06 58,45

Ordinat tendon nomor 5 dan 6
Jarak tendon nomor 5 dan 6 ke cgp di tumpuan 105,4 32,0 =73,4 cm
Jarak tendon nomor 5 dan 6 ke cgp di tengah bentang 105,4 19,0 =86,4 cm
Selisih tendon nomor 5 dan 6 di tumpuan dengan diujung bentang
i = 86,4 73,4 = 13 cm
Dengan menggunakan persamaan y
=
4 , 73 ) (
4
2
2
+ x Lx
L
i
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Untuk x = 0
y
=
) 0 0 4000 (
4000
13 4
) (
4
2
2
2
2
x
x
x Lx
L
i
+ 73,4 = + 73,4
Untuk x = 200
y
=
) 200 200 4000 (
4000
13 4
) (
4
2
2
2
2
x
x
x Lx
L
i
+ 73,4 =
y = 0,00000325 (800.000 40.000) +73,4 = 75,87
Dengan cara yang sama maka diperoleh ordinat tendon 5 dan 6 sebagai berikut :
Tabel 4.39
Titik Ordinat Tendon No. 5 dan 6
X (cm) 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000
Y (cm) 73,4 75,8 78,1 80,0 81,7 83,2 84,3 85,2 85,9 86,3 86,4
Ordinat tendon nomor 7 dan 8
Jarak tendon nomor 7 dan 8 ke cgp di tumpuan 105,4 55,0 = 50,4 cm
Jarak tendon nomor 7 dan 8 ke cgp di tengah bentang 105,4 29,0 = 76,4 cm
Selisih tendon nomor 7 dan 8 di tumpuan dengan ditenag bentang
i = 76,4 50,4 = 26 cm
Dengan menggunakan persamaan y
=
4 , 50 ) (
4
2
2
+ x Lx
L
i
Untuk x = 0
y
=
) 0 0 4000 (
4000
26 4
) (
4
2
2
2
2
x
x
x Lx
L
i
- 50,4 = + 50,4
Untuk x = 200
y
=
) 200 200 4000 (
4000
26 4
) (
4
2
2
2
2
x
x
x Lx
L
i
+ 50,4 =
y = 0,0000065 (800.000 40.000) + 50,4 = 75,87
Dengan cara yang sama maka diperoleh ordinat tendon 7 dan 8 sebagai berikut :
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Tabel 4.40
Titik Ordinat Tendon No. 7 dan 8
X (cm) 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000
Y (cm) 50,4 55,3 59,8 63,7 67,1 69,9 72,3 74,1 75,4 76,2 76,4
Ordinat tendon nomor 9 dan 10
Jarak tendon nomor 9 dan 10 ke cgp di tumpuan 105,4 78,0 = 27,4 cm
Jarak tendon nomor 9 dan 10 ke cgp di tengah bentang 105,4 39,0 = 66,4 cm
Selisih tendon nomor 9 dan 10 di tumpuan dengan ditengah bentang
i = 66,4 27,4 = 39 cm
Dengan menggunakan persamaan y
=
4 , 27 ) (
4
2
2
+ x Lx
L
i
Untuk x = 0
y
=
) 0 0 4000 (
4000
39 4
) (
4
2
2
2
2
x
x
x Lx
L
i
+ 27,4 = 27,4
Untuk x = 200
y
=
) 200 200 4000 (
4000
39 4
) (
4
2
2
2
2
x
x
x Lx
L
i
+ 27,4 =
y = 0,00000975 (800.000 40.000) + 27,4 = 34,8
Dengan cara yang sama maka diperoleh ordinat tendon 9 dan 10 sebagai berikut :
Tabel 4.41
Titik Ordinat Tendon No. 9 dan 10
X (cm) 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000
Y (cm) 27,4 34,8 41,4 47,3 52,4 56,6 60,2 62,9 64,8 66,0 66,4
Ordinat tendon nomor 11 dan 12
Jarak tendon nomor 11 dan 12 ke cgp di tumpuan 105,4 101,0 = 4,4 cm
Jarak tendon nomor 11 dan 12 ke cgp di tengah bentang 105,4 49,0 = 56,4 cm
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Selisih tendon nomor 11 dan 12 di tumpuan dengan ditengah bentang
i = 56,4 4,4 = 52 cm
Dengan menggunakan persamaan y
=
4 , 4 ) (
4
2
2
+ x Lx
L
i
Untuk x = 0
y
=
) 0 0 4000 (
4000
52 4
) (
4
2
2
2
2
x
x
x Lx
L
i
+ 4,4 = 4,4
Untuk x = 200
y
=
) 200 200 4000 (
4000
52 4
) (
4
2
2
2
2
x
x
x Lx
L
i
+ 4,4 =
y = 0,000013 (800.000 40.000) + 4,4 =
Dengan cara yang sama maka diperoleh ordinat tendon 11 dan 12 sebagai berikut :
Tabel 4.42
Titik Ordinat Tendon No. 11 dan 12
X (cm) 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000
Y (cm) 4,4 14,3 23,1 30,9 37,7 43,4 48,1 51,7 54,3 55,8 56,4
Ordinat tendon nomor 13 dan 14
Jarak tendon nomor 13 dan 14 ke cgp di tumpuan 105,4 124,0 = - 18,6 cm
( tanda negatif menandakan tendon diatas cgp )
Jarak tendon nomor 13 dan 14 ke cgp di tengah bentang 105,4 59,0 = 46,4 cm
Selisih tendon nomor 13 dan 14 di tumpuan dengan ditengah bentang
i = 46,4 ( - 18,6 ) = 65 cm
Dengan menggunakan persamaan y
=
6 , 18 ) (
4
2
2
x Lx
L
i
Untuk x = 0
y
=
) 0 0 4000 (
4000
65 4
) (
4
2
2
2
2
x
x
x Lx
L
i
- 18,6 = - 18,6
Untuk x = 200
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
y
=
) 200 200 4000 (
4000
65 4
) (
4
2
2
2
2
x
x
x Lx
L
i
- 18,6 =
y = 0,00001625 (800.000 40.000) - 18,6 =
Dengan cara yang sama maka diperoleh ordinat tendon 13 dan 14 sebagai berikut :
Tabel 4.43
Titik Ordinat Tendon No. 13 dan 14
X (cm) 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000
Y (cm) -18,6 -6,25 4,8 14,6 23 30,2 36 40,6 43,8 45,8 46,4
Ordinat tendon nomor 15 dan 16
Jarak tendon nomor 15 dan 16 ke cgp di tumpuan 105,4 147,0 = - 41,6 cm
( tanda negatif menandakan tendon diatas cgp )
Jarak tendon nomor 15 dan 16 ke cgp di tengah bentang 105,4 69,0 = 36,4 cm
Selisih tendon nomor 15 dan 16 di tumpuan dengan ditengah bentang
i = 36,4 ( - 41,6 ) = 78 cm
Dengan menggunakan persamaan y
=
6 , 41 ) (
4
2
2
x Lx
L
i
Untuk x = 0
y
=
) 0 0 4000 (
4000
78 4
) (
4
2
2
2
2
x
x
x Lx
L
i
- 41,6 = - 41,6
Untuk x = 200
y
=
) 200 200 4000 (
4000
78 4
) (
4
2
2
2
2
x
x
x Lx
L
i
- 41,6 =
y = 0,0000195 (800.000 40.000) - 41,6 =
Dengan cara yang sama maka diperoleh ordinat tendon 15 dan 16 sebagai berikut :
Tabel 4.44
Titik Ordinat Tendon No.15 dan 16
X (cm) 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Y (cm) -41,6 -26,0 -13,5 -1,82 8,3 16,9 23,9 29,4 33,3 35,6 36,4
Ordinat tendon nomor 17 dan 18
Jarak tendon nomor 17 dan 18 ke cgp di tumpuan 105,4 170,0 = - 64,6 cm
( tanda negatif menandakan tendon diatas cgp )
Jarak tendon nomor 17 dan 18 ke cgp di tengah bentang 105,4 79,0 = 26,4 cm
Selisih tendon nomor 17 dan 18 di tumpuan dengan ditengah bentang
i = 26,4 ( - 64,6 ) = 91 cm
Dengan menggunakan persamaan y
=
6 , 64 ) (
4
2
2
x Lx
L
i
Untuk x = 0
y
=
) 0 0 4000 (
4000
91 4
) (
4
2
2
2
2
x
x
x Lx
L
i
- 64,6 = - 64,6
Untuk x = 200
y
=
) 200 200 4000 (
4000
91 4
) (
4
2
2
2
2
x
x
x Lx
L
i
- 64,6 =
y = 0,00002275 (800.000 40.000) - 64,6 =
Dengan cara yang sama maka diperoleh ordinat tendon 17 dan 18 sebagai berikut :
Tabel 4.45
Titik Ordinat Tendon No. 17 dan 18
X (cm) 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000
Y (cm) -64,6 -47,3 -31,8 -18,2 -6,4 3,65 11,8 18,2 22,8 25,5 26,4
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Gbr 4.23. Lay Out Kabel/ Tendon Di Sepanjang Bentang Jembatan
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Jika dipakai selongsong diameter 2 in = 5,12 cm dan diameter stud 14 mm = 1,4 mm, maka koordinat tendon sepanjang bentang adalah :
Titik letak koordinat stud dihitung dengan : Koordinat tendon Y - diameter selongsong diameter stud = Koordinat tendon 2,56 cm 0,7 cm
Tabel 4.46 Titik Koordinat Penempatan Stud
Bentang 0 m 2 m 4 m 6 m 8 m 10 m 12 m 14 m 16 m 18 m 20 m 22 m 24 m 26 m 28 m 30 m 32 m 34 m 36 m 38 m 40 m
Stud 19
166,7
4
166,7
4
166,7
4
166,7
4
166,7
4
166,7
4
166,7
4
166,7
4
166,7
4
166,7
4
166,7
4
166,7
4
166,7
4
166,7
4
166,7
4
166,7
4
166,7
4
166,7
4
166,7
4
166,7
4
166,74
Stud
17,18
166,7
4
149,4
4
133,9
4
120,3
4
108,5
4
98,49 90,34 83,94 79,34 76,64 75,74 76,64 79,34 83,94 90,34 98,49
108,5
4
120,3
4
133,9
4
149,4
4
166,74
Stud
15,16
143,7
4
128,1
4
115,6
4
103,9
6
93,84 85,24 78,24 72,74 68,84 66,54 65,74 66,54 68,84 72,74 78,24 85,24 93,84
103,9
6
115,6
4
128,1
4
143,74
Stud
13,14
120,7
4
108,3
9
97,34 87,54 79,14 71,94 66,14 61,54 58,34 56,34 55,74 56,34 58,34 61,54 66,14 71,94 79,14 87,54 97,34
108,3
9
120,74
Stud
11,12
97,74 87,84 79,04 71,24 64,44 58,74 54,04 50,44 47,84 46,34 45,74 46,34 47,84 50,44 54,04 58,74 64,44 71,24 79,04 87,84 97,74
Stud 9,10 74,74 67,34 60,74 54,84 49,74 45,54 41,94 39,24 37,34 36,16 35,74 36,16 37,34 39,24 41,94 45,54 49,74 54,84 60,74 67,34 74,74
Stud 7,8 51,74 46,84 42,34 38,44 35,04 32,24 29,84 28,04 26,74 25,94 25,74 25,94 26,74 28,04 29,84 32,24 35,04 38,44 42,34 46,84 51,74
Stud 5,6 28,74 26,34 26,6 22,14 20,44 18,94 17,84 16,94 16,24 15,84 15,74 15,84 16,24 16,94 17,84 18,94 20,44 22,14 26,6 26,34 28,74
Stud
1,2,3,4
5,74 5,74 5,74 5,74 5,74 5,74 5,74 5,74 5,74 5,74 5,74 5,74 5,74 5,74 5,74 5,74 5,74 5,74 5,74 5,74 5,74
Catatan : satuan koordinat letak stud dalam cm dihitung dari serat bawah penampang penampang precast
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
4.15. Kontrol Lendutan (Defleksi ).
1. Defleksi sesaat
Defleksi sesaat akibat gaya prategang pada saat pendongkrakan :
Untuk beton normal
E
c
= w
1,5
0,044 ' fc = 2.400
1,5
x 0,044 x 8 , 49 = 35.693,5 MPa =
= 356.935 kg/cm
2
F
o
= 17.138,5 KN = 1.713.850 kg
e = 79,4 cm
L = 40 m = 4.000 cm
I
c
= 70.225.101,7 cm
4
w
beton
= 5,06295 ton/m = 50,6295 kg/cm
Beban garis P = 166,32 KN = 16.632 kg
Beban lalulintas ql = 2,12625 ton/m = 21,2625 kg/cm
Digunakan metode 1
w =
2 2
000 . 4
4 , 79 850 . 713 . 1 8 8 x x
L
e F
o

= 68,04 kg/cm
Menggunakan metode 2
=
7 , 101 . 225 . 70 7 , 935 . 356 48
4000 4 , 79 850 . 713 . 1 5
48
5
2 2
x x
x x x
EI
eL F
o

=
15
16
10 2032 , 1
10 08864 , 1
x
x
= 9,047 cm
Defleksi akibat beban /lendutan ke bawah
Akibat beton pracetak ( beban mati ) :

1
=
7 , 101 . 225 . 70 7 , 935 . 356 384
) 10 40 ( 6295 , 50 5
384
5
4 2 4
x x
x x x
EI
wL

=
15
16
10 6253 , 9
10 48058 , 6
x
x
= 6,73 cm
Akibat beban garis P

2
=
7 , 101 . 225 . 70 7 , 935 . 356 48
) 10 40 ( 10 32 , 166
48
3 2 2 3
x x
x x x
EI
PL

=
15
15
10 2032 , 1
10 48058 , 6
x
x
= 5,386 cm
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Akibat beban lalulitas ( q
l
)

3
=
7 , 101 . 225 . 70 7 , 935 . 356 384
) 10 40 ( 2625 , 21 5
384
5
4 2 4
x x
x x x
EI
wL

=
15
16
10 6253 , 9
10 7216 , 2
x
x
= 2,83 cm
Jadi lendutan yang terjadi adalah :

1
+
2
+
3
- = (6,73+5,386+2,83) 9,047 = 5,899 cm
Kontrol batas ijin lendutan :
4000
200
1
200
1
x L
20 cm . ( 5,899 < 20 cm OK )
4.16. Kontrol Momen Retak.
Berdasarkan persamaan 4.25 Buku Edward G. Nawy, hal 179 dan buku
TY.Lin halaman 157, dengan f
r
= 0,62 x '
c
f = 0,62 x 8 , 49 = 4,373 = 43,73
kg/cm
2.
M
cr
=

,
_

+ +
b
b
c
r
e F W fr
2
.

,
_

+ +
53 , 108
5 , 885 . 3
4 , 79 080 . 371 . 1 72 , 987 . 535 73 , 43 x
= 23.438.743 + 157.950.007,8 = 181.388.750,8 kg.cm = 1.813,889
ton.m
M
cr
=
1
]
1

+ + ) 1 (
2
r
ec
A
F
f
y
I
b
r
t
c


1
]
1

+ + )
5 , 885 . 3
53 , 108 4 , 79
1 (
8 , 073 . 18
080 . 371 . 1
1 73 , 43
2 , 119
7 , 101 . 225 . 70 x
x M
cr
=
= 589.136,76 [43,73 + 75,8801 (3,21781 )]
= 169.611.144,5 kg.cm = 1.696,111445 ton.m
Momen yang terjadi akibat beban hidup, beban mati, beban lalulintas dan
beban tambahan : 1.604,16 ton.m < 1.696,111445 ton.m ( OK ),
Faktor keamanan terhadap retak dinyatakan dengan :
16 , 604 . 1
1114 , 696 . 1

MT
M
cr
= 1,057
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
4.17. Kapasitas Momen
Kapasitas momen untuk tendon terekat dihitung dengan menggunakan
persamaan (5-15) Buku TY.Lin halaman 163.
Dengan d = h

- cgs = 195 - 46,95= 148,05 cm
5 , 1480 2700
5 , 183 . 13
2
x
mm
bd
A
p
ps

= 0,003298, dengan asumsi tegangan baja pada
keadaan batas f
se
= 1100 MPa > 0,5 f
pu
= 930 MPa :
f
ps
=

,
_

,
_

8 , 49
1860
) 003281 , 0 )( 5 , 0 ( 1 1860
'
. 5 , 0 1
c
pu
p pu
f
f
f
= 1860 ( 0,93873 ) = 1746,03 MPa
Periksa Indeks Penulangan
8 , 49
) 03 , 1746 )( 0032981 , 0 (
30 , 0
'

c
ps p
p
f
f

= 0,11563 < 0,3


Lihat gambar , sketsa penampang
Gaya tarik total pada keadaan batas :
T
s
= A
ps
.f
ps
= (13.183,5) (1746,03) = 23.018.786,51 N = 23.018,786 kN.
Luas daerah tekan untuk tegangan rata = 0,85f
c

beton
= 0,85 x 29,05 = 24,695 MPa
atan 240,695 kg/cm
2
=
' 85 , 0
'
c
f
T
=
) 693 , 24 )( 85 , 0 (
786 , 018 . 23

= 10.967,1 cm
2
Tinggi blok tegangan =

270
1 , 967 . 10
b
Luas
40,7 cm
Pusat gaya tekan =

2
7 , 40
20,35 dari tepai atas
Lengan momen penahan j = 195 - 46,95 20,35 = 127,7 cm
Kapasitas momen penampang = Ts x 127,7
= 23.018,786 x 127,7
= 2.938.498 kN.cm = 29.394,98 kN.m
Peraturan ACI memperkenankan faktor reduksi
9 , 0
, maka :
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
M
c
= Ts.j = 0,9 x 29.394,98 x 127,7 = 3.378.366 kN / cm = 33.783,662 kN.cm
Momen Ultimit ( Mu )
M
u
= 1,2 M
DL
+ 1,6
LL
M
u
= 1,2 ( 264,6 ) + 1,6 ( M
SD
+ M
L
)
M
u
= 1,2 ( 264,6 ) + 1,6 ( 747,99 + 591,57 )
M
u
= 317,52 + 2143,239
M
u
= 2460,816 ton.m (24.608.16 kN..m > 1.604,16 ton.m OK !! )
Safety faktor (SF) =
16 , 608 . 24
662 , 783 . 33

u
c
M
M
= 1,373 > 1 ( OK ! )
Luas flens = 2700 mm x 180 mm = 486.000 mm
2
Luas badan di bawah flens = 1.495.980 486.000 = 1.009.980 mm
2
, maka :
a =
) 2700 )( 8 , 49 )( 85 , 0 (
200 . 279 . 23
= 203,68 mm < Cgs = 469,5 mm, perilaku penampang OK.
M
n
= T
)
2
(
a
d
= 23.279,2 ( 1800 -
)
2
68 , 203
= 1800 101,84 = 1.698,16 kN.m
M
u
=

,
_

+ )
2
( ) ( ' 85 , 0 )
2
(
f
f c ps pw
h
d h bw b f
a
d f A
=
=

,
_

+
)
2
180
1800 )( 180 (
) 540 2700 )( 8 , 49 )( 85 , 0 ( )
2
68 , 203
1800 )( 78 , 1765 )( 980 . 009 . 1 (
9 , 0
=
= 0,9 ( 1.783.402.484 (1800-101,84) +(42,33)(2160) (180)1710)
= 0,9 ( 3,028503 x 10
12
+ (91.432,8 ) (307.800 )
= 2,751 x 10
12
= 2.750.981 kN.m
4.18. Kehilangan Gaya Prategang
a. Akibat perpendekan elastis, dengan menggunakan nilai :
f
c
= 49,8 MPa
f
pu
= 1860 MPa
f
ci
= 39,84 MPa
A
ps
= 19 tendon, menggunakan strand 7 kawat diameter 12,8 mm
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
E
ps
= 193.000 MPa
A
c
= 18.073,8 cm
2
I
c
= 70.225.101,7 cm
4
r
2
= 3.885,5 cm
A
ps
= 19 tendon x 690,795 mm
2
= 13.125,105 mm
2
Asumsi sebelum transfer, gaya pendongkrak di tendon adalah 80 %f
pu
, maka :
F = 0,8f
pu
A
ps
= 0,8 x 1.860 x 13.125,105 mm
2
= 19.530.156 N
M
D
=
8
) 40 .( 05595 , 5
8
2 2

wl
= 1.011,19 ton.m = 10.111,9 KN.m
Asumsi F
o
= P
j
F
cs
= -
7 , 101 . 225 . 70
4 , 79 9 , 111 . 10
)
3 , 3885
4 , 79
1 (
8 , 073 . 18
988 . 616 . 19
) 1 (
2
.
2
2
x
I
e M
r
e
A
F
c
D
c
+ + + +
=
= - 1085,38 ( 1 + 1,623 ) + 11,433
= - 1085,38 - 1761,576 + 11,433
= - 2835,53
b. Kehilangan Dudukan Angker
Untuk panjang bentang ( l ) = 40 m , asumsi kehilangan gaya prategang =
20 %
A =
2 , 0
5
1
cm
cm
f
pA
=
) (
ps
A
E
l

=
000 . 193
100 40
2 , 0
x
x
9,65 Mpa
c. Perpendekan Elastis
Karena semua dongkrak secara simultan ditarik, maka perpendekan elastis
akan secara simultan terpresipitasi selama pendongkrakan, akibatnya :
f
pEs
= 0
d. Kehilangan Akibat Gesekan
Asumsi tendon mendekati bentuk busur lingkaran.
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Jadi :
40000
) 94 , 10 32 , 19 ( 8
(
8
8
8


l
e e
x
y
x
y
e c

= 0,01676 Rad
Dari tabel K = 0,001, = 0,25f
pi ,
dimana

f
pi
= 1.300 Mpa.
f
pf
= f
pi
(


+ 3,28 KL )
= 1300 ( 0,25 x 0,01676 + 3,28 x 0,001 x 40 )
= 1300 ( 0,00419 + 0,1312 )
= 176,007 MPa
Tegangan yang tersisa di baja prategang sesudah terjadi semua kehilangan
tegangan segera adalah :
f
pi
= 1300 - ( 9,65 + 0 + 176,007 )
= 1114,343 Mpa
Jadi gaya prategang netto :
F
o
= f
pi
.A
ps
= 1114,343 x 13.125,105
= 14.625.868,9 N
Tahap I
a. Kehilangan karena dudukan angker f
pA =
9,65 MPa
b. Kehilangan karena relaksasai
f
pR
= f
pi
(
) 55 , 0
'
)(
10
log log
1 2

py
pi
f
f
t t
= 1114,343(
) 55 , 0
1520
343 , 1114
)(
10
10 log 24 log

= 1114,343(
) 83120394 , 0 )(
10
0 380211242 , 1
= 1114,343 (0,1380211241 ) ( 0,183120394)
= 28,16 MPa
c. Kehilangan karena Rangkak f
cR
= 0
d. Kehilangan karena Susut f
sH
= 0
Tegangan tendon diakhir Tahap I
f
pS
= 1114 MPa - 28,16 MPa = 1086,183 Mpa
Tahap II kehilangan karena rangkak
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Kehilangan karena rangkak
P
i
= F = f
ps
.A
ps
= 1086,83 x 13.183,46 = 14.328.179,83 N
Untuk , e pada setengah bentang : 79,4 cm.
f
cs
= -
7 , 101 . 225 . 70
4 , 79 9 , 111 . 10
)
3 , 3885
4 , 79
1 (
8 , 073 . 18
83 , 179 . 328 . 14
) 1 (
2
.
2
2
x
I
e M
r
e
A
F
c
D
c
+ + + +
,
= - 792,76 (1 + 1,6223 ) + 11,4330812
= - 2078,85 + 11,43301812
= - 2067,43 x 0,01
= - 20,67 MPa
w normal = 2400 kg/m
3
E
c
= 35.693,5 MPa

41 , 5
5 , 35693
193000

c
ps
E
E


433 , 11
100
1
7 , 70225101
4 , 79 10 01119 , 1
9
.
x
x x
I
e M
f
c
SD
csd

Dari persamaan 3.11.b
f
pCR
=
) ( .
Csd CS
f f KCR

= 5,41 x 1,6 ( 9,92006 - 11,43 )
= - 13,09 MPa
a. Kehilangan pada 30 hari karena susut
f
pSH
= 8,2 x 10
-6
.KSH.Eps ( 1-0,06
S
V
) ( 100 - RH )
KSH pada 30 hari = 0,58 , maka
f
pSH
= 8,2 x 10
-6
x 0,58 x 193.000 ( 1 - 0,06 x 2 ) ( 100 - 70 )
= 4,756 x 10
-6
x 193.000 ( 1,88 ) ( 30 )
= 51,77 Mpa
b. Kehilangan pada 30 hari (720 ) jam karena relaksasi
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
f
ps
= 1086,183 MPa
f
pR
= f
ps
(
) 55 , 0
'
)(
10
log log
1 2

py
pi
f
f
t t
= 1086,183(
) 55 , 0
1520
343 , 1114
)(
10
18 log 720 log

= 1086,183(
) 83120394 , 0 )(
10
2553 , 1 8573325 , 2
= 1086,183 (0,16020325 ) ( 0,183120394)
= 31,879 Mpa
Tahap II Kehilangan Total
f
pT
= p
CR +
f
pSH +
f
R
= -13,09 +51,77 + 31,879
= 70,56
Peningkatan tegangan tarik di serat pusat tarik bawah akibat penambahan
beban/ toping/ beban mati :
fSD =
CsD
f .
= 5,41 x 11,433 = 61,85253
f
pe
= f
ps +
f
pT +
f
SD
= 1086 -70,56 + 61,8525
= 953,587 MP
Tahap III diakhir dua Tahun
f
pe
= 953,587
t
1
= 720 jam
t
2
= 17.520 jam
f
pR
= f
ps
(
) 55 , 0
'
)(
10
log log
1 2

py
pi
f
f
t t
= 1086,183(
) 55 , 0
1520
343 , 1114
)(
10
720 log 17520 log

BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS


DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
= 1086,183 (
) 83120394 , 0 )(
10
86 , 2 2435 , 4
= 1086,183 (0,13835 ) ( 0,183120394)
= 27,51813 MPa
Maka tegangan tendon diakhir 2 (dua) tahun = 953,587 - 27,53 = 926,057
MPa
Gaya prategang netto di akhir 2 tahun adalah :
F
o =
.f
ps
.As = 926,057 x 18040,5 = 16706531,31 N = 16.706,531,32 KN
=17.706,53 KN
Prosentase gaya prategang di akhir 2 tahun =
988 , 616 . 19
53 , 706 . 17
=90,26 %
Rangkuman kehilangan gaya prategang
No Tegangan pada berbagai tahap
Besar
Tegangan Baja
Persen
1 Sesudah penarikan (0,7f
pu
)= (0,7x1860 MPa) 1320 Mpa 100
2 Kehilangan karena perpendekan elastik 0 0
3 Kehilangan karena angker - 9,65 0,73
4 Kehilangan karena gesekan - 176,007 13,54
5 Kehilangan karena rangkak - 9,99 Mpa 0,77
6 Kehilangan karena susut - 51, 3,92
7 Kehilangan karena relaksasi - 28,16 Mpa 2,17
Tegangan netto akhir 1045,2 80,4
Persentase kehilangan total 19,6 19,6
4.19. Desain Penulangan Non Prategang Penampang
Dengan menggunakan asumsi nilai gaya prategang saat peralihan F
t
=
19.616,988 kN, f
r
= 0,62 x '
c
f = 0,62 x 8 , 49 = 4,373 = 43,73 kg/cm
2
, fc =
49,8 MPa, dengan berat sendiri penampang precast = 3,73995 t/m = 37,3995
kN/m, panjang segmen box girder 2,5 m, maka momen eksternal akibat berat
sendiri adalah :
- M =
2
5 , 2
) 3995 , 37 (
2
2 2

wL
= 116,87 kN.m
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Jika diambil faktor kejut 100 %, maka momen eksternal akan menjadi dua
kali lebih besar yaitu : 2 x 116,87 kN.m = 233,74 kN.m
Tegangan- tegangan pada serat tengah bentang dihitung menggunakan
persamaan
f =
c c c
I
My
I
Fey
A
F
t t

=
84 , 105 . 493 . 56
) 1054 )( 10 74 , 233 (
84 , 105 . 493 . 56
) 4 , 105 )( 4 , 79 )( 500 . 138 . 17 (
8 , 073 . 18
500 . 138 . 17
6
x
t t
= - 9,4825 + 25,4 + 0,436 = 16,354 MPa serat atas > fr = 4,373,
penampang
retak pada saat diangkat , perlu penulangan non prategang
= - 9,4825 - 25,4 - 0,436 = - 35,32 serat bawah
Dengan asumsi gaya prategang tinggal sebesar 1.706,2636 ton =
17.062,636 kN, momen akibat beban = 1.604,16 ton.m = 16.041,6 kN.m,
lengan momen a = j = 195 - 46,95 20,35 = 127,7 cm, dan tegangan pada baja =
1746 MPa, Luas tulangan non prategang yang diperlukan adalah :
A
s
=

) 1277 )( 1746 (
10 6 , 041 . 16 '
6
x
a f
M
se
7.194 mm
2
Jika digunakan baja diameter 12 = 113,1 mm
2
, maka banyaknya tulangan
non prategang pada penampang precast = 63 buah
4.20. Desain Penulangan Geser
4.20.1. Gaya Geser
Periksa kekuatan geser berdasarkan persamaan (7-7) Buku T.Y.Lin
halaman 270- 273. Pemeriksaan kekuatan geser dilakukan terhadap penampang
precast sejauh 10 meter dari perletakan :
f
pe
=

,
_

,
_

+
3
3
2
3
10 720 , 735987
) 685 ( 10 3586 , 571 . 13
10 073 . 18
10 3586 , 571 . 13
x
x
x
x
W
F
A
F
b
e
= 7,509 + 12,631 = 20,1 MPa
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Beban mati terfaktor pada bentang 10 m dari tumpuan
Berat sendiri (W
D
) = 3,73995 ton/m = 37.399,5 N/m, maka
M
10 m
=
( )
2
) 10 ( 5 , 399 . 37
2
10 )( 40 5 , 399 . 37
2 2
2 2

wx Lx w
D
=
= 7479,9 1869,975 = 5.609,925 kN.m
f
d
=
3
6
10 720 , 987 . 735
) 10 9250 , 609 . 5 (
x
x
W
M
b
d

= 7,62 MPa
Geser terfaktor akibat berat sendiri :
V
d
=

,
_

,
_

10
2
40
5 , 399 . 37
2
1
x W
D
373,995 kN.
Hubungan M/V
i
:

) 10 ( 2 40
) 10 ( ) 10 )( 40 (
2
2 2
max
x L
x Lx
V
M
i
15 m.
M
cr
=
) 65 , 7 1 , 20 8 , 49 ) 5 , 0 (
4 , 105
84 , 105 . 493 . 56
) ' 50 , 0 ( + +
d pe
t
c
f f fc
y
I
=
= 535.987,72 (15,69) = 8.564.256,1 N.m = 8.564,2561 kN.m
V
ci
=
maks
cr i
d p w
M
M V
V d b fc

+ + . . ' 05 , 0
=
15
) 2561 , 564 . 8 (
995 , 373 ) 13 , 131 )( 54 ( 8 , 49 05 , 0 + +
= 24,98 + 373,995 + 570,95
= 970 kN
Periksa gaya geser batas pada jarak seperempat bentang (10 m ) dari tumpuan

V

= 10 x W
u
= 10 x 316,008 = 3.160 kN

8 , 0
3160

u
V
3950 kN
Sengkang dibutuhkan pada jarak seperempat bentang ( 10 m ) :

ci
u
V
V

3950 970 = 2980 kN


A
v
= Luas tiap sengkang
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
f
d
= tegangan akibat beban mati
f
pc
= tegangan tekan akibat gaya prategang
M
cr
= Momen retak akibat lentur

V = gaya geser pada jarak x


V
s
= gaya geser yang dipikul oleh
V
c
= gaya geser pada keadaan batas yang dipikul oleh beton pada flens
tertekan
V
ci
= tegangan geser saat terjadi retak miring akibat lentur
V
u
= gaya geser terfaktor pada penampang
b
w
= lebar badan penampang
d
p
= h cgs 10 m = 180 - 48,87 = 131,13 cm ( tinggi efektif penampang)
V
d
= gaya geser pada penampang
V
cw
= retak geseran pada badan akibat tegangan tarik utama
Vu Vn
Kekuatan geser beton precast dengan retak awal pada penampang (V
cw
)
Dengan f
pc
=
mm
N
Ac
F
380 . 807 . 1
358 . 571 . 13
8 , 073 . 18
36 , 571 . 13

= 7,51MPa
V
p
=
3
10 558 , 571 . 13
10000
746
x x = 1.012,4 kN
V
cw
=
) 7 , 1420 )( 1040 )
4 , 1012
) 51 , 7 ( 3 , 0 8 , 49 29 , 0 3 , 0 ' 29 , 0 + + + +
d b
V
f f
w
p
c c
= 4,3 + 0,685 = 4,985 MPa = v
c
) 7 , 1420 )( 1040 )( 8 , 0 (
10 160 . 3
3
x
d b
V
v
w
u

= 2,67 MPa < v


c
Dengan persamaan (7-1) T.Y.Lin, dengan menggunakan V
u
= 3.160 kN, maka
V
cw
= 4 , 1012 7 , 1420 )( 1040 )( 51 , 7 ( 3 , 0 8 , 49 29 , 0 ) 3 , 0 ' 29 , 0 ( + + + +
p w pc c
V d b f f
= 5,38 + 1012 = 1.017,8 kN
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Jadi sengkang yang dibutuhkan untuk memikul beban sebesar :
8 , 1017
8 , 0
160 . 3
cw
u
V
V

2932,2 kN
Dicoba penulangan sengkang bebentuk U dengan menggunakan baja diameter 12
mm = 113,04 x 2 = 226,08 mm
2
, maka jarak sengkang yang diperlukan :

) 8 , 0 (
10 160 . 3
3
x
V
V
V
c
u
s

2980 kN
s
d f A
V
y v
s
, maka s =
3
10 2980
) 7 , 1420 )( 400 )( 08 , 226 (
x V
d f A
s
y v

= 43,1 mm
dimana, s = jarak yang dibutuhkan
Kontrol jarak maksimum kecuali di ujung- ujung :
A
v minimum
=

400
) 610 )( 560 ( 34 , 0 34 , 0
y
w
f
s b
290,36 mm
2
> 226,08

Desain penulangan geser dihitung berdasarkan Buku Edward G Nawy,
halaman 273. Jika diketahui besaran penampang precast :
A
c
: 18.073,8 cm
2
I
c
: 56.493.105,84 cm
4
r
2
: 3885,3 cm
c
t
:
6 , 50
3 , 3885
2

t
k
r
= 76,78 cm
c
b
:
8 , 35
3 , 3885
2

b
k
r
= 108,53 cm
W
a
: 757.280,24 cm
3
W
b
: 535.987,72 cm
3
W
D
: 3,73995 ton/m = 37.399,5 N/m
W
SD
: 1,323 ton/ m = 13.230 N/m
W
D
+ W
SD
: 5,06295 ton/m = 50.629,5 N/m
W
L
: 187,5825 kN/m = 187.582,5 N/m
Mutu beton K 600
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
f
c
= 0,83 x 600 = 498 kg/cm
2
= 49,8 MPa
f
t
= 8 , 49 = 7,05 Mpa
= 5 , 3 8 , 49
2
1
'
2
1
fc MPa
f
ci
= 0,8f
c
= 0,8 x 49,8 = 39,84 MPa
f
ci
= 0,6f
ci
= 0,6 x 39,8 = 23,904 MPa
f
c
= 0,45f
c
= 0,45 x 49,8 = 22,41 MPa
f
ti
= 3 8 , 49 3 ' 3
c
f = 21,2 MPa
b. Mutu Baja Prategang
f
pu
= 1.860 MPa
f
pi
= 0,7f
pu
= 0,7 x 1860 = 1.300 MPa
f
py
= 1.520 MPa
f
pe
= 1.034 MPa
e
e
= 26,998 cm
e
c
= 70,6 cm
A
ps
= 19 diameter tendon = 26,95 mm, luas baja 1,071 in
2
= 690,795 mm
2
,
f
y
untuk sengkang = 400 MPa
Tinggi efektif penampang d
p
= h- c
b
+ e
c
= 180 108,53 + 70,6 = 142,07 cm
b
w
= 2 (54+ 50)/2 = 104 cm
lebar flens efektif = b
w
+ 6 h
f
= 54 + 6 (18 ) = 162 cm
W
U
= 1,2 (W
D
+W
SD
) + 1,6 W
L
= 1,2 ( 50.629,5 ) + 1,6 ( 187.582,5 )
= 360.887,4 N/m
V
u
di muka tumpuan =
2
) 40 )( 4 , 887 . 360 (
2

xL W
u
= 7.217.748 N = 7.217,748 kN
Jarak seperempat bentang = 40/4 = 10 m
V
n
pada lokasi seperemat bentang = 10 m, dari muka tumpuan adalah :
V
n
=
,
_

,
_

20
10 20
748 , 217 . 7
85 , 0
1
2
1
4
1
2
1
85 , 0
1
x
L
L L
Vux
= 1,1765 ( 3.608,874 )
V
n
= 4245,84 kN
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Retak geser lentur V
ci
, dengan d
p
= 142,07, maka
F = 19 x 690,795 x f
pe
= 19 x 690,795 x 1034 = 13.571,3586 kN
e pada seperempat bentang = 68,5 cm
Gunakan besaran penampang pracetak untuk menghitung f
ce
dan f
d

f
ce
=

,
_

+
,
_

+
3 , 3885
53 , 108 5 , 68
1
8 , 073 . 18
3586 , 571 . 13
1
2
x
r
ec
Ac
F
b
= 7,50886 (2,9134) =
f
ce
= 21,877 MPa
Gunakan tegangan ekstrim izin berikut :
a. Prategang + beban tetap : f
c
= 0,45 f
c
= 0,45 x 49,8 = 22,41 MPa
Berat sendiri W
D
= 3,73995 ton/m = 37.399,5 N/m, maka
M
10 m
=
( )
2
10 40 ) 10 )( 5 , 399 . 37
2
) (

x L x W
D
= 5.609,925 kN.m
f
d
=
84 , 105 . 493 . 56
) 53 , 108 )( 250 . 099 . 56 (

c
b
I
Mc
= 10,78 MPa
M
cr
= ) 78 , 10 877 , 21 8 , 49 ) 1 ( 5 , 0 ( 72 , 987 . 535 ) ' 50 , 0 ( + +
d ce b
f f fc W =
= 535.987,72 (14,6255) = 7.839.064,683 N.m = 7.839,065 kN.m
Geser terfaktor akibat berat sendiri :
V
d
=

,
_

,
_

10
2
40
5 , 399 . 37
2
1
x W
D
373,995 kN.
Intensitas beban eksternal terfaktor adalah :
W
U
= 1,2 (W
SD
) + 1,6 W
L
= 1,2 ( 13.230 ) + 1,6 ( 187.582,5 )
= 316.008 N/m = 316,008 kN/m
V
i
=

,
_

,
_

10
2
40
008 , 316
2
1
x W
U
3.160,008 kN
M
maks
=
( )
2
10 40 ) 10 )( 008 , 316 (
2
) (

x L x W
U
= 47.401,2 kN.m
V
ci
=
p w c cr
maks
i
d p w
d b f M
M
V
V d b fc ' 33 , 0 ) ( . . ' 60 , 0 + +
=
) 065 , 7839 (
2 , 401 . 47
160 . 3
995 , 373 07 , 142 104 8 , 49 1 60 , 0 + + x x x
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
= 625,6071 + 373,995 + 522,591
= 1.522,2 kN
` 07 , 142 104 8 , 49 1 33 , 0 ' 33 , 0 x x x d b f
p w c
= 344,1 kN
V
ci
yang menentukan diambil yang terbesar yaitu V
ci
= 1.522,2 kN, sebab 1.522,2
kN > 344,1 kN.
Retak geser badan V
cw
8 , 073 . 18
3586 , 571 . 13

Ac
F
f
c
= 0,751 MPa
Untuk komponen vertikal gaya prategang :
V
p
= F tan =
( )
2 / 40
) 998 , 26 6 , 70 (
3586 , 571 . 13
2

L
e e
F
e c
= 30, kN
V
cw
=
[ ]x x V d b f f
p p w c c
) 51 , 7 8 , 49 0 , 01 ( 3 , 0 . ) ' ( 3 , 0 + +
1
]
1

104x142,1+30
= 0,3 ( 14,57 ) x 104 x142,1 + 30 = 3.654,1 kN
Bandingkan V
cw
= 3.654,1 kN dengan V
ci
= 1.522,2 kN, dan V
ci
merupakan yang
terkecil maka V
c
= V
ci
= 1.522,2 kN
Penulangan Badan
Berdasarkan
Penghitungan penulangan badan menggunakan persamaan (7-110) T.Y. Lin
halaman 289, dimana
V
n
= Vu/ = 3950 kN, maka V
s
= V
n
V
ci
= 3950 -1529,9 = 2420,1 kN.
Desain Penulangan Badan
Dengan menggunakan nilai V
c
= V
ci
= 1.522,2 kN, sehingga V
c
= 761,1
kN. Sekarang V
u
/ pada penampang yang terletak di seperempat bentang ( 10 m)
dari tumpuan karena V
u
> Vc > V
c
= 761,1 kN harus menggunakan tulangan
sengkang, karena, V
u
= 4245,84 kN < V
c
> V
c
= 761,1 kN, maka penampang
memerlukan tulangan badan minimum.
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Tulangan yang dibutuhkan :
( ) ( )
4207 , 1 400
2 , 1522 84 , 4245 /
x d f
V V
d f
V V
s
A
p y
c c
p v
c n v



= 4,793 mm
2
/ m jarak
Dengan menggunakan d ~ dp = 142,07 cm dan bw = 2 x 27 cm = 54 cm, maka
tulangan badan minimum
54 , 0
4207 , 1
4207 , 1 400 80
1860 795 , 690 19
80
) (
x x
x x
b
d
d f
f Ap
s
A
w
p
p v
pu s
v

= 536,987 x 1,622 = 870,9 mm
2
/ meter jarak
Atau

400 3
540
3 x f
b
s
A
v
w v
0,45 mm
2
/mm
Untuk penulangan non prategang badan diambil tulangan minimum yaitu 0,45
mm
2
/ mm untuk kedua badan. Jarak maksimum yang diijinkan adalah 0,75h,
dimana h = 180 , maka jarak maksimum adalah 135 cm.
.
4.21. Desain Penulangan di Daerah Transfer
Berdasarkan persamaan 4.10d Buku Edward G. Nawy halaman 143,
Desain penulangan daerah transfer adalah :
Panjang penanaman l
d Min
=
,
_

,
_

) 1034 (
3
2
1860
1000
1
3
2
1000
1
b pe ps
d f f
26,95
= 31,55 mm
L
t
=
95 , 26
3000
1034
3000

,
_

,
_

b
pe
d
f
2 = 9,289 mm
Berdasarkan persamaan 7-19 Buku T.Y.Lin halaman 298, panjang
peralihan dihitung dengan menggunakan persamaan :
L
t
= 1,5
95 , 26
3000
1034
3000

,
_

,
_

b
pe
d
f
2 = 9,289 mm
Dimana : l
d
= panjang penyaluran
l
t
= panjang transfer
d
b
= diameter nominal tendon
f
ps
= tegangan pada baja prategang
f
pe
= pratagang efektif sesudah kehilangan
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
4.22. Penulangan Angkur
Penulangan angkur pada saat transper menggunakan persamaan (7-27)
Buku TY.Lin halaman 312, yaitu :
Gaya prategang total satu buah tendon adalah : 714,3 kN
Berdasarkan isobar tarikan transversal pada blok ujung Buku TY.Lin halaman
308, bahwa tegangan tarik terbesar diketahui 0,18f, maka :
0,18 f = 0,18
100 270
1000 3 , 714
x
x
0,18 f = 0,4762
f = 2,65 MPa
A
t
=

8 , 12 50
1800
.
400
3586 , 571 . 13
55 , 13 . 55 , 13
x l
h
f
T
t s
A
t
= 13,55 x 33.928 x 2,8125 = 1293,05 mm
2
Dimana :
A
t
= luas total penampang sengkang yang dibutuhkan pada ujung gelagar untuk
didistribusikan secara merata pada panjang yang sama dengan seperlima
tinggi gelagar.
T = gaya prategang efektif total, N
f
s
= tegangan ijin sengkang baja, MPa
h = tinggi gelagar, mm
l
t
= panjang peralihan yang diambil kira kira 50 kali diameter strand, mm
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
BAB V
ANALISIS PONDASI
Analisis pondasi bertujuan untuk menganalisis
kekuatan pondasi terhadap beban - beban bangunan atas
dengan menggunakan gelagar bahan kosntruksi beton
prategang type box.
5.1. Pondasi Sumuran
Pondasi adalah suatu bagian dalam konstruksi yang berfungsi untuk
memikul beban bangunan termasuk berat pondasi itu sendiri , meneruskan dan
membagi rata beban ke atas lapisan yang keras. Syarat utama dalam pembuatan
pondasi dari suatu konstruksi adalah Tegangan tanah (


tanah
) yang dijinkan tidak
melampaui batas yang ditentukan.
Pondasi sumuran dapat dibagi menjadi tiga type yaitu :
1. Open Caisson
2. Box Caissons atau closed caisson
3. Pneumatic Caisson
Open caisson adalah pondasi sumuran yang dibuat dengan cara lubang
beton terbuka ke atas dan setelah pengecoran dinding sumuran diturunkan ke
dalam sumuran secara perlahan. Bagian bawah sumuran telah dipotong bagian
tepinya, kemudian sumuran ditenggelamkan/ dimasukan ke dalam lubang
kemudian tanah disamping lubang sumuran diangkat tersendiri untuk mengurug
sampai pondasi tegaklurus dengan lapisan yang paling bawah tercapai.
Yang termasuk ke dalam pondasi sumuran terbuka ( open caisson ) adalah
pondasi sumuran berbentuk ligkaran ( circular caisson) dan pondasi sumuran
berbentuk segiemat (rectangular caisson) .
5.2 Perhitungan Beban Pondasi
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Untuk design alternatif, beban beban yang dipikul oleh pondasi
Jembatan Cikawung dengan panjang bentang 40 meter, lebar trotoar 2 x 1 meter,
lebar jalur lalulintas 8 meter, dan lebar tiang sandaran 2 x 0,5 m adalah :
a. Beban Bergerak Akibat Lalulintas
Perhitungan beban bergerak akibat lalulintas dihitung berdasarkan persamaan
dari RSNI Pembebanan Jembatan, yaitu:
- Beban Lalulintas V
q
= ( 5,5 x 40 x 0,8 ) + ( 1,5 x 40 x 0,4 )
= 88 ton + 12 ton
= 100 ton
- Beban Lalulinta V
p
= {(5,5 x 4,4)+(1,5 x 2,2 )}x Faktor beban dinamis
= (24,2 + 3,3) x 1,3
= 35,75 ton
b. Beban Mati
- Akibat Berat gelagar beton precast = x 3,73995 x 40 x 3 = 224,397 ton
- Akibat Lantai Jembatan, asumsi 15 cm= x 0,15 x 8,1x 40 x 2,4 = 58,32 ton
- Akibat Berat Trotoar, asumsi 25 cm = x 0,25 x 1 x 40 x 2 x 2,4 = 24 ton
- Akibat perkerasan tebal 5 cm = x 0,05 x 7 x 40 x 2,2 = 15,4 ton
- Akibat air hujan tebal 2 cm = x 0,02 x 7 x 40 x1 = 2,8 ton
- Akbat berat Lantai kerja, Foot, Back wall, kolom, Plat injak dan pondasi
sumuran itu sendiri adalah = 111,11 m
3
x 2,4 = 266,7 ton
Jumlah beban maksimum yang dipikul oleh satu pangkal jembatan arah
Rancabuaya adalah :100+35,75+224,397+58,32+24+15,4+2,8+266,7=727,376 ton
Beban sebesar 727,376 ton dipikul oleh 2 (dua) buah tiang sumuran, jadi
beban yang dipikul oleh satu buah sumuran adalah = ton 684 , 363
2
376 , 727

5.3 Perhitungan Daya Dukung Pondasi Sumuran


a. Berdasarkan Data Hasil Sondir
Perhitungan daya dukung tiang sumuran dilakukan secara empiris
menggunakan data sondir dengan menggunakan rumus Sardjono ( 1984 ) yaitu,
Perhitungan daya dukung batas satu tiang sumuran Q
ult

,
secara umum merupakan
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
gabungan antara daya dukung batas ( and bearing ) dengan daya dukung geser (
friction file ) . Secara empiris perhitungan daya dukung tiang sumuran yang
dijinkan dapat ditulis dengan persamaan berikut :
Q
all
= ( ) Fb Ab Qc / ) . ( = ( ) Fs F As / ) . (
Dimana :
Q
all
= Daya dukung ijin tiang sumuran per file ( ton )
Qc = Rata rata tekanan konus dari 4 B ke atas dan 4 B ke bawah dari ujung
tiang pondasi sumuran ( ton / m
2
)
F = Rata rata jumlah hambatan lekat ( local friction ) ( ton/m )
Ab = Luas tiang ( m
2
)
As = Keliling tiang ,( meter )
Fb, Fs = Faktor Kemanan, diambil 4 dan 7
Dari hasil sondir diperoleh data sebagai berikut:
Q
c
= 231 kg/cm
2

F = 308 kg/cm
As = D = 3,14 x 300 = 942 cm

= 9,42 m
Ab= D
2
= x 3,14 x (300)
2
= 70.650 cm
2
Q all =
331 . 2 450 . 331 . 2
7
650 . 70 231 .

,
_

kg
x
Fb
Ab Qc
ton
Akibat cleep ( friction pile )
a. Kedalaman, 0- 100 m = c =
2
12 , 0
100
0 12
cm
kg

b. Kedalaman, 100-200 m = c =
2
18 , 0
100
12 30
cm
kg

c. Kedalaman, 200-300 m = c =
2
3 , 0
100
30 60
cm
kg

d. Kedalaman, 300-400 m = c =
2
9 , 1
100
60 250
cm
kg

Berdasarkan rumus Sardjono Q


all
=
5
Oxlxc
,
Dimana: Q
all
= Daya dukung keseimbangan tiang (kg)
O = Keliling sumuran (cm )
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
p = Nilai konus dari hasil sondir (kg/cm
2
)
l = kedalaman / panjang sumuran yang berada dalam tanah (cm)
c = nilai cleep ( friction pile )
5 = Angka keamanan
Q
all
=
( )
5
) 9 , 1 100 ( ) 3 , 0 100 ( ) 18 , 0 100 ( ) 12 , 0 100 (
5
x x x x xD Oxlxc + + +


=
( )
ton kg
x
1 , 47 100 . 47
5
190 30 18 12 300 14 , 3

+ + +
Daya dukung keseimbangan total = 2.331 ton + 47,1 ton = 2.378,1 ton
Berat sumuran sendiri = D
2
x6x2,4 = x 3,14 x (3)
2
x 2,4 = 101,736 ton
Beban netto yang diperkenankan untuk satu buah pondasi sumuran adalah :
2.378,1 ton 101,74 ton = 2.276,36 ton
Beban yang ada untuk satu buah sumuran adalah 363,684 ton.
Karena Q
all
= 2.276,36 ton > Beban yang ada = 363,684 ton , maka pondasi sangat
kuat
c. Berdasarkan Buku Sumber Braja M Das

BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
6,00 m
3,00 m
Tanah
lempung 1 m
Lapisan
Tanah Ber
Batu 5 m
Q
all
= ..?
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Perbandingan antara kedalaman dengan diameter adalah =
2
00 , 3
00 , 6

Perbandingan
Kedalaman
dengan Diameter Sumuran
Nilai Nc
0 6,2
0,5 7,1
1,0 7,7
1,5 8,1
2,1 8,4
2,5 8,6
3,0 8,8
4,0 dan lebih 9,0

Untuk perbandingan kedalaman dengan diameter 2,
maka diambil nilai Nc = 8,4
Dari data hasil sondir diperoleh :
q
c
= 250 kg/ cm
2

fs = 5 kg/cm
2
Ab = D
2
= . 3,14. 3 = 2,355 m
2
= 23.3550 cm
2
As = D h = 3,14 x 3,00 x 6,00 = 56,52 m

2
/ 5 , 12
20
250
20
cm kg
qc
c
Tetapi f tidak lebih dari 0,8 ksf = 0,39 kg/cm
2
f = 0,3 c = 0,3 x 12,5 = 3,75 kg/cm
2
Berarti digunakan f = 0,39 kg/cm
2
Q
ijin=
As f Ab Nc c . . .
3
1
+ = 8 , 042 . 22 250 . 824 ) 520 . 56 39 , 0 ( 550 . 23 4 , 8 5 , 12
3
1
+ + x x x x
= 846.292,8 kg = 846,3 ton
Q
ijin
> Q
ada
= 846,3 ton > 363,684 ton ( OK !!!!!)
Mencari Dimensi Efisien .
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
Q = As f Ab Nc c . . .
3
1
+
363.684 = xAs xAb x x 39 , 0 4 , 8 5 , 12
3
1
+
363.684 = 35 x D
2
+0,39 D 600
363.684 = 27,475 D
2
+ 734,76 D
D
2
+ 26,743 D 13236,91 = 0
Dengan rumus ABC
x
1,2
=
1 2
) 91 , 13236 .( 1 . 4 ) 743 , 26 ( 743 , 26
2
4
2
2
x a
ac b b
t

t
x
1,2
=
2
65 , 231 743 , 26 t

x
1
=
2
65 , 231 743 , 26
= - 129,197
x
2
=
2
65 , 231 743 , 26 +
= 102,45
Diambil x
2
= 102,45 cm
Maka diperoleh diameter pondasi (D) = 102,45 cm
Diameter sumuran yang ada 300 cm > 102,45 cm ,
jadi pondasi sumuran sangat kuat terhadap beban yang
ada. (OK !! )
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Pada design semula Jembatan Cikawung adalah jembatan dengan
menggunakan konstruksi rangka baja bukaka dengan panjang bentang jembatan
40 m, lebar jalur lalu lintas 7 meter dan struktur bangunan bawah pondasi
sumuran yang dibangun di Jalan Lintas Selatan Jabar, yang berada di sekitar
pesisir pantai selatan/ Samudera Indonesia.
Sedangkan untuk design alternatif, Jembatan Cikawung didesign dengan
menggunakan konstruksi bangunan atas jembatan gelagar beton prategang type
box girder, dengan luas penampang satu buah box girder precast 18.073,8 cm
2
,
tinggi gelagar precast 180 cm yang dipasang dengan jarak as ke as gelagar 270
cm, sehingga banyak gelagar box girder sebanyak 3 buah.
Dari kedua alternatif di atas dapat ditarik kesimpulan :
1. Ditinjau dari segi lokasi jembatan yang berada di sekitar pantai
selatan yang rentan korosif terhadap angin laut, penggunaan gelagar
jembatan dengan gelagar beton precast type box girder sangat
menguntungkan karena tahan terhadap korosif.
2. Ditinjau dari segi pemeliharaan, penggunaan gelagar jembatan
dengan gelagar beton precast type box girder, dapat mengurangi biaya
pemeliharaan secara rutin terutama pengecatan untuk melindungi bahan
konstruksi terhadap korosif.
3. Ditinjau dari segi kekakuan jembatan, penggunaan gelagar
jembatan dengan gelagar beton precast type box girder, dapat lebih kaku
jika dibandingkan dengan penggunaan rangka baja.
4. Ditinjau dari segi pembebanan jembatan, penggunaan gelagar
jembatan dengan beton precast type box girder, dapat lebih menambah
beban jika dibandingkan dengan konstruksi rangka baja, karena beban yang
dipikul oleh satu pondasi jika menggunakan konstruksi gelagar beton
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS
DESIGN ALTERNATIF BANGUNAN ATAS JEMBATAN CIKAWUNG
DENGAN STRUKTUR GELAGAR BETON PRATEGANG TYPE BOX
precast 363,684 ton, sedangkan beban yang dipikul satu pondasi untuk
kontruksi rangka baja yaitu 262,39 ton, sehingga ada kenaikan beban
sebesar 101,294 ton atau 38,6 % dari beban rangka baja.
6.2 Saran
1. Bila ditinjau dari segi ekonomis untuk kondisi di atas, maka konstruksi
bangunan atas Jembatan Cikawung akan lebih hemat bila menggunakan
konsrtuksi rangka baja.
2. Bila ditinjau dari stabilitas jembatan, maka konstruksi bangunan atas
Jembatan Cikawung akan lebih kaku dan lebih stabil jika digunakan bahan
konstruksi gelagar box girder precast
3. Jika ditinjau dari kondisi geografis letak jembatan yang berada di sekitar
pesisir pantai selatan ( Samudra Indonesia) maka penggunaan gelagar
konstruksi box girder precast akan lebih aman dari korosif angin laut
sehingga memungkinkan umur jembatan dapat lebih lama.
BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN ATAS