Anda di halaman 1dari 3

UJIAN AKHIR SEMESTER

ADVANCE CORPORATE FINANCE

Luna Mantyasih Makarti 0906498603

Program Pascasarjana Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia 2010

1. Pada model pasar dengan asymmetric information (Leland dan Pyle) struktur pembiayaan dapat digunakan sebagai sinyal mutu proyek, jika pada model tersebut asumsi bahwa investor adalah risk neutral diubah menjadi risk averse sebagaimana wirausahanya, apa syarat agar pasar pembiayaan tetap berjalan? Leland dan Pyle berpendapat bahwa jumlah saham atau ekuitas yang ditahan oleh wirausaha mengindikasikan kualitas proyek mereka. Semakin banyak persentase saham yang ditahan, semakin baik kualitasnya karena wirausaha tidak ingin ada investor dari luar yang masuk dan menguasai saham terlalu banyak. Wirausaha sebenarnya memiliki wealth yang cukup untuk membiayai proyeknya. Namun dengan asumsi wirausaha risk averse dan investor risk neutral, wirausaha ingin menjual sebagian dari ekuitasnya kepada investor luar untuk mengurangi jumlah risikonya. Wirausaha tersebut akan menjual proyeknya dengan harga yang sama dengan mean-nya di pasar. Jika asumsi sebelumnya diubah menjadi investor dan wirausaha samasama risk averse, investor akan menuntut risk premium akan ketidakpastian akibat asymmetric information. Wirausaha harus menjual proyeknya dengan harga yang lebih murah daripada pasar karena required rate of return investor yang risk averse lebih besar daripada investor yang risk neutral. Wirausaha juga dapat lebih meyakinkan investor akan kualitas proyeknya dengan cara membiayai sendiri sebagian proyeknya (self-financing) yang berisiko atau dengan kata lain membuat signaling yang bagus kepada investor. 2. Jika diketahui harga pasar dari treasury notes dengan umur masingmasing 1, 2, 3, dan 4 tahun, apa prediksi saudara mengenai kesempatan investasi pada masa mendatang dengan CAPM jika saudara percaya pada unbiased expectation theory?

Unbiased expectation theory menyatakan bahwa tingkat bunga dapat


diprediksi dan diestimasi oleh harapan investor mengenai tingkat bunga di masa depan. forward rate (FR) = expected spot rate [E(SR)] CAPM adalah sebuah model yang menggambarkan hubungan antara risiko dan expected return yang digunakan dalam menilai sekuritas berisiko. E(r) = rf + (E(rm) - rf) Unbiased expectation theory dan CAPM sama-sama berasumsi bahwa investor memiliki homogenous expectation. Treasury notes merupakan surat utang jangka panjang yang sebenarnya masih memiliki risiko walaupun sedikit. Namun, dalam konteks unbiased expectation, karena FR dapat diprediksi, maka investasi tidak mengandung risiko.

Artinya T-notes sama dengan nol dan expected return-nya sama dengan riskfree rate (E(r) = rf). Di dalam CAPM, risk-free rate dianggap seolah-olah konstan. Padahal di dalam rf terkandung unsur inflasi. rf = real rate of return + expected inflation premium Sebaliknya, unbiased expectation theory merupakan teori term structure, yaitu pasar memiliki keyakinan bahwa spot rate akan meningkat di masa depan karena inflasi. Oleh karena itu, semakin lama waktunya, maka semakin tinggi spot rate dan yield curve akan berbentuk upward sloping. Teori unbiased expectation apabila dimasukkan ke dalam model CAPM adalah sebagai berikut: E(SR) = E(r) = rf ;rf mengikuti term structure Jadi, T-notes yang paling menguntungkan adalah T-notes dengan maturity yang lebih lama (4 tahun) karena tingkat bunga akan meningkat seiring inflasi. Di sisi lain CAPM memiliki konteks pasar dengan symmetric inforrmation sehingga analisa tersebut masih memiliki kelemahan. 3. Bagaimana jika dasar teori yang saudara pergunakan pada pertanyaan butir dua di atas adalah market segmentation? Dalam market segmentation theory, pasar dikelompok-kelompokkan. Investor memiliki preferensi risiko masing-masing berdasarkan lamanya jangka waktu jatuh tempo investasi mereka. Tingkat bunga hanya ditentukan oleh permintaan dan penawaran sekuritas yang memiliki jatuh tempo yang telah ditentukan dan sekuritas dengan maturity berbeda tidak berhubungan satu sama lain. Karena teori ini berasumsi bahwa investor memiliki preferensi risiko masingmasing dan tidak memiliki homogenous expectation, maka teori ini tidak bisa dianalisa dengan CAPM karena CAPM berasumsi bahwa semua investor risk averse. Jika dianalisa berdasarkan permintaan dan penawaran, semakin banyak permintaan akan mengakibatkan harga sekuritas semakin tinggi. Berdasarkan preferensi risiko, investor akan berinvestasi pada sekuritas yang lebih likuid yaitu yang jangka waktu jatuh temponya lebih pendek. Jadi, T-notes 1 tahun akan memberikan return yang lebih besar bagi investor.