Anda di halaman 1dari 12

RESTRUKTURISASI PERUSAHAAN

Investment decisions and internal capital markets:


Evidence from acquisitions
John A. Doukas, Ozgur B. Kan

Oleh:

Citra Aryani Dian Agustina Luna Mantyasih Ratna Nugrahaningsih

Program Pascasarjana Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia 2010

Investment decisions and internal capital markets:


Evidence from acquisitions

Abstract Bidder akan melakukan investasi di luar core business jika cash flow (arus kas) turun dan akan melakukan investasi non diversifikasi ketika arus kas naik. Bidder akan melakukan diversifikasi akuisisi jika arus kas dan prospek pertumbuhan di dalam core business rendah. Sebaliknya, bidder akan melakukan akuisisi non-diversifikasi jika arus kas dan prospek pertumbuhan di core business tinggi. Setelah akuisisi, bidder yg melakukan akuisisi diversifikasi terus melakukan alokasi dana dari segmen bisnis yang kurang menguntungkan ke segmen yg menguntungkan (misalnya dari core business ke non-core business). Pada bidder yg melakukan akuisisi non-diversifikasi, pengeluaran modal pada non-core business bergantung pada arus kas dari non-core dan core business.

1. Introduction Beberapa studi mendokumentasikan bahwa perusahaan yang melakukan diversifikasi melakukan perdagangan relatif dengan harga diskon agar sesuai dengan portfolio dari perusahaan yg berdiri sendiri. Shin dan Stulz (1998), Scharfstein (1998) dan Rajan et al. (2000) melakukan dokumentasi mengenai isu ekonomi yang berkembang yaitu perdebatan mengenai apakah diversifikasi diskon merupakan konsekuensi dari kebijakan investasi yang tidak efisien dari perusahaan yang melakukan diversifikasi. Sebagai contoh, Lamont (1997) memberikan bukti mengenai inefisiensi proses alokasi sumber daya internal dari perusahaan yang melakukan diversifikasi dengan menunjukkan bahwa arus kas dari core business dapat mempengaruhi investasi di divisi yg lain. Shin dan Stulz (1998) melaporkan bahwa investasi segmen bisnis dari sebuah diversified firm tergantung secara signifikan pada arus kas dari segmen bisnis yang lain dan bahwa investasi segmen kurang bergantung pada arus kas sendiri daripada jika perusahaan itu berdiri sendiri. Scharfstein (1998) menemukan bahwa alokasi

sumber daya yang tidak efisien antara divisi diwujudkan ketika manajemen kepemilikan saham rendah dan berpendapat bahwa biaya agen divisi menyebabkan distorsi dalam alokasi. Scharfstein dan Stein (2000) menunjukkan bahwa inefisiensi pasar modal internal berasal dari keberadaan divisi dengan peluang pertumbuhan yang rendah dan menunjukkan bagaimana perilaku rent-seeking di pihak manajer divisi dapat merusak cara kerja internal capital market. Demikian pula, Rajan et al. (2000) menyatakan bahwa greater diversity dalam investasi akan menyebabkan keputusan investasi yang menyimpang dan membahayakan pemegang saham. Setelah mempelajari beberapa penelitian terdahulu, muncullah beberapa pertanyaan yang melatarbelakangi penelitian ini. Pertanyaan tersebut seperti mengapa sebuah perusahaan memilih untuk melakukan diversifikasi melalui proses akuisisi, bagaimana dampak dari perubahan bidders diversification terhadap alokasi sumber dana financial di antara divisi bisnisnya. Pendekatan dalam penelitian ini adalah mempelajari perubahan-perubahan dalam corporate diversification melalui proses akuisisi. Secara spesifik, penelitian ini memeriksa bagaimana pengalokasian capital resources dalam beberapa segmen bisnis dalam rangka penentuan apakah corporate diversity menyebabkan inefisiensi dalam alokasi internal capital resources. Secara khusus, dilakukan pengujian terhadap internal capital market hypothesis, the external growth hypothesis, dan the free cash flow/agency cost hypothesis. Berdasarkan internal capital market hypothesis, diversifikasi perusahaan diharapkan memberikan perolehan efisiensi yang timbul dari pengembangan pasar modal internal di perusahaan-perusahaan yang terdiversifikasi di pasar modal eksternal. Menurut the external growth hypothesis, perusahaan dengan performa yang buruk dan internal growth opportunities yang rendah akan melakukan usaha diversifikasi ke dalam unrelated business. The free cash flow/agency cost hypothesis memprediksi bahwa manajer akan melakukan diversifikasi dengan membangun perusahaan yang lebih kompleks dan akan merugikan shareholders wealth.

2. Data selection, sources and industrial classification 2.1. Sources of data and sample selection Sampel terdiri dari akuisisi domestik yang dilakukan oleh bidder AS antara 1 Januari 1991 dan 31 Desember 1997 yang dilaporkan dalam daftar akuisisi domestik Securities Data Corporations Mergers & Acquisitions (M&A) Journal. Daftar dari M & A Journal mencakup semua akuisisi yang bernilai $ 5 juta atau lebih dan melaporkan nama perusahaan, kode Standard Industrial 2

Classification (SIC), definisi bisnis perusahaan bidder dan target. Mereka juga melaporkan nilai akuisisi, metode pembayaran, apakah target divestasi atau tidak, hari penyelesaian akuisisi, dan penasihat untuk kedua belah pihak. Akuisisi yang berhubungan dengan perusahaan target dalam industri non-manufaktur dikeluarkan dari sampel. Penawar yang terlibat baik dalam akuisisi domestik dan akuisisi cross-border dalam tahun yang sama juga dikeluarkan dari sampel. Sampel awal mencakup 10.128 akuisisi domestik selama periode 1991-1997. 2.2. Industrial classification of bidders Dalam penelitian ini, digunakan Compustat Industry Segment File untuk menentukan diversifikasi industri bidder. SK dan peraturan SEC FASB-SFAS Nomor 14 mewajibkan perusahaan untuk melaporkan informasi segmen untuk tahun fiskal yang berakhir setelah 15 Desember 1977 untuk segmen yang mewakili 10% atau lebih dari penjualan konsolidasi. Data yang dipakai meliputi perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam M&A sebelum SFAS 131. Compustat Industry Segment File melaporkan laporan penjualan bersih, laba operasional (laba sebelum bunga dan pajak, EBIT), penyusutan, aset, dan belanja modal pada tingkat segmen untuk semua perusahaan Compustat aktif. Diversifikasi terbaru menentukan keragaman industri dengan menggunakan 2 digit SIC code, 3-digit SIC code, atau 4 digit SIC code. Servaes (1996), menunjukkan bahwa pemeriksaan langsung 4-digit SIC codes dari segmen perusahaan, tidak harus mengungkapkan tingkat diversifikasi perusahaan. Dia berpendapat bahwa penggunaan 4-digit kode akan terlalu lebar untuk mengidentifikasi struktur industri perusahaan. Penelitian ini konsisten dengan Servaes (1996), Berger dan Ofek (1995, 1996), Hubbard dan Palia (1998) dan Lins dan Servaes (1999, 2002) yang mengukur segmen bisnis yang berbeda berdasarkan 2-digit SIC code yang sama. Dasar pemikiran menggunakan 2-digit SIC code yang sama adalah karena industri degan 2 digit SIC code yang sama berkaitan erat dan memerlukan management skills yang sebanding. Oleh karena itu, kami menentukan sales, laba operasi, aset, capital expenditures (pengeluaran modal) dari setiap segmen yang berbeda dibatasi pada 2-digit SIC code. Kemudian, kami menentukan Core business dari bidder firm berdasarkan 2-digit SIC code yang memiliki aggregated sales yang tertinggi berdasarkan informasi pada tahun sebelum akuisisi. Semua segmen yang tersisa dari bidder firm dihitung sebagai non-core business. Kami juga menggunakan informasi segmen bidder pada saat tahun pengumuman untuk mengidentifikasi core dan non-core business untuk mengklasifikasikan sifat akuisisi. 3

2.3. Sample characteristics and summary statistics Pada sampel awal dari 10,128 akuisisi, hanya 5440 transaksi yang mewakili akuisisi dari full target firm. Sementara sisanya mewakili akuisisi aset, atau akuisisi parsial. Selain dari sampel, kami tidak dapat menemukan informasi apapun mengenai bidder di Compustat sehingga mengecilkan sampel hingga 5247 akuisisi. Setelah melakukan beberapa eliminasi, sampel terakhir sebanyak 742 firm. Panel A di tabel 1 menunjukkan jumlah dan frekuensi dari akuisisi 742 firm. Sekitar 60% dari investasi merupakan akuisisi di luar core business of multisegment bidders, sementara 40% dari akuisisi sesuai dengan kegiatan investasi dalam core business para bidder. Panel B menunjukkan rangkuman statistik dan karakteristik sampel. 3. Pre-acquisition market-to-book value and imputed market-to-book value of bidders Bagian ini menganalisa market to book value dan imputed market to book value dari bidder pada pra-akuisisi. MBV dihitung sebagai debt dalam current liabilities ditambah total long term debt dan liquidating value dari preferred stock ditambah market value dari outstanding shares yang dibagi dengan total aset. Imputed MBV bidder diestimasi sebagai jumlah rata-rata MBV firm yang

beroperasi dalam 2 digit sic-code industri yang sama dan berbeda dengan segmen usaha dari bidder. Beberapa pola utama muncul dari hasil ini. Pertama, Diversified bidder secara signifikan memiliki mean dan median MBV yang rendah dibandingkan dengan imputed MBV yang mengindikasikan bahwa performa bidder sebelum akuisisi jauh lebih baik. Hasil ini konsisten dengan literatur sebelumnya. Kedua, perbedaan mean (median) dari related and unrelated acquisitions negatif dan signifikan pada level konvensional. Hasil lain yang menarik adalah bidder yang membeli related target secara signifikan memiliki MBV yang lebih tinggi dibandingkan dengan bidder yang membeli unrelated target. Hal ini menunjukkan bahwa related acquisition merupakan pilihan akuisisi yang lebih baik karena memberikan performa perusahaan yang lebih baik. Unrelated acquisition umumnya muncul ketika bidder beroperasi dalam industri yang memiliki kesempatan berkembang sangat rendah. Oleh karena itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan yang melakukan akuisisi diversifikasi memiliki MBV yang rendah dan beroperasi dalam industri dengan potensial masa depan yang rendah dibandingkan dengan perusahaan yang melakukan akuisisi non-diversifikasi.

4. Pre-acquisition internal capital markets: Core and noncore segment performance 4.1. Struktur segmen usaha bidder core dan non-core pada sebelum dan sesudah akuisisi Menganalisis struktur internal capital market di multi-segmen peserta tender sebelum dan setelah mereka terlibat dalam akuisisi diversifikasi dan non-diversifikasi. Penjualan dan aset , pada saat sebelum dan setelah akuisisi, dari bisnis core dan non-core dari bidder menunjukkan bahwa penjualan dan aset core melebihi penjualan dan aset non-core, yang menandakan bahwa bisnis inti adalah entitas penghasilkan uang tunai dalam bidder yang multi-segmen. Selanjutnya, penjualan dan asset core dan non-core bidder menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang berarti dalam penjualan dan aset dari segmen core dan non-core antara bidder yang melakukan akuisisi yang terkait dan tidak terkait. 4.2. Segmen bisnis core dan non-core bidder: Cash flow, segmen imputed MBV dan capital expenditure Dari Tabel 3 dapat dijelaskan bahwa : a. Panel A Menggambarkan cash flow untuk segmen bisnis inti dan non inti dari perusahaan bidder pada periode pra-akuisisi. Segment cash flows adalah operating income ditambah depreciation untuk segmen bisnis inti dan non-inti dari bidder. Cash flow pra-akuisisi untuk bidder multisegment yang melakukan akuisisi tidak berhubungan memiliki perbedaan mean [median] yang signifikan, yang menunjukkan bahwa bidder multi-segmen menghasilkan cashflow yang lebih tinggi dari bisnis non-inti. b. Panel B Membandingkan imputed MBV pra-akuisisi untuk inti dan non-inti bisnis segmen dari bidder. Imputed MBV merupakan jumlah tertimbang dari median MBV perusahaan mandiri yang serupa dengan inti dan non inti bisnis bidder. Perbedaan mean [median] dari imputed MBV inti pada perusahaan diversifikasi yang melakukan akuisisi terkait terhadap perusahaan serupa yang melakukan diversifikasi signifikan. Hal ini menandakan perusahaan yang diversified lebih mungkin untuk berinvestasi di dalam inti mereka. Temuan-temuan ini mendukung pandangan bahwa akuisisi diversifikasi adalah mekanisme membeli peluang pertumbuhan eksternal seperti yang dijelaskan oleh Lang dan Stulz (1994) dan Hyland dan Diltz (2002). Dalam periode pra-akuisisi, bisnis inti multi-segmen bidder yang terlibat dalam akuisisi yang tidak terkait memiliki imputed MBV yang secara signifikan lebih rendah daripada segmen bisnis 5

non-inti. Oleh karena itu, bisnis inti multi-segmen bidder yang melakukan diversifikasi mengalami imputed MBV relatif lebih rendah dibandingkan non-core bisnis, sedangkan perusahaan serupa dengan rencana untuk berinvestasi di bisnis inti mengalami imputed MBV serupa dibandingkan bisnis non-inti selama periode yang sama. c. Panel C Menyajikan segmen inti dan non-inti capital expenditure dari bidder yang diukur dari lagged segmen sales dalam periode pra-akuisisi. Bidder multi-segmen cenderung untuk berinvestasi lebih banyak dalam lini bisnis inti ketika cash flow inti dan imputed MBV lebih tinggi. Perbedaan mean [median] antara capital expenditure inti dari multi-segmen bidder yang melakukan akuisisi terkait dan tidak terkait signifikan. Hasil ini tidak mendukungan subsidi silang antara divisi inti dan non-inti dari bidder multi-segmen. Namun, bukti-bukti menunjukkan bahwa capital expenditure segmen meningkat dengan cash flow dan peluang pertumbuhan mereka sendiri. Bahkan meskipun alokasi capital dalam bidder terdiversifikasi tampak tidak efisien pada titik ini, agak sulit untuk menilai efisiensi internal capital market dari hasil univariat. Bukti menunjukkan bahwa ketika bisnis inti dari multi-segmen bidder mencapai cash flow yang lebih tinggi dan imputed MBV lebih tinggi, maka perusahaan cenderung berinvestasi pada bisnis inti. Perusahaan berinvestasi di luar bisnis inti mereka ketika cash flow dan peluang pertumbuhan bisnis inti mereka jauh lebih rendah dibandingkan non-bisnis inti.

5. The decision to diversify: Logistic regression analysis Regresi logistik analisis digunakan untuk menentukan mengapa perusahaan diversifikasi, dimana dalam Regresi logistik multivariat: a. Variabel dependent yang digunakan pada regresi logistik multivariat adalah indikator yang mengambil nilai satu ketika seorang penawar melakukan suatu akuisisi diversifikasi (tidak berhubungan) dan, jika tidak nol. b. Tujuan : memeriksa hubungan antara pasar modal internal dari penawar dan keputusan untuk diversifikasi. c. Variabel yang digunakan: Arus kas pra-akuisisi core dan non-core, yang digunakan untuk menilai peran pasar modal internal. 6

MBV core dan non-core segmen usaha, yang digunakan untuk menangkap dampak dari peluang pertumbuhan pada perusahaan dengan cash flow core dan non-core yang lebih tinggi. Firm level MBV dan imputed MBV dari bidder, yang digunakan untuk menangkap peluang pertumbuhan perusahaan dan peluang pertumbuhan industri secara keseluruhan dari segmen bidder. Kepemilikan orang dalam dan institusional, yang digunakan untuk memeriksa apakah karakteristik kepemilikan mempengaruhi keputusan diversifikasi perusahaan. Dummy tahun kalender, yang digunakan untuk memperhitungkan perubahan dalam pasar sebagai control perusahaan. Hasil dari regresi logistic tersebut adalah: a. Core cash flow yang bernilai negatif dan signifikan. Hal ini menandakan bahwa kemampuan core business menghasilkan cash flow menghambat investasi pada perusahaan yang tidak terkait. b. Non-core cash flow bernilai tidak signifikan. Non-core cashflow tidak memiliki pengaruh pada keputusan diversifikasi dari multi-segment bidder. c. Core imbuted MBV bernilai negatif dan signifikan. Hal ini menandakan bahwa bidder multisegmen yang bisnis intinya beroperasi dalam industri bernilai tinggi lebih mungkin untuk memperoleh target yang berhubungan dengan inti. d. Non-core MBV secara statistik tidak signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa peluang pertumbuhan pasar industri non-core business tidak memiliki dampak pada keputusan diversifikasi bidder. e. Imputed MBV bernilai negatif dan signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa bidder yang beroperasi di industri dengan pertumbuhan tinggi maka berkemungkinan kecil untuk diversifikasi. f. MBV secara statistik tidak signifikan Hal ini menunjukkan bahwa keputusan diversifikasi industri pada bidder tidak dipengaruhi oleh peluang pertumbuhan perusahaan. g. DEBT bernilai positif dan statistik signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan utang pada perusahaan multi-segmen cenderung memungkinkan pendanaan akuisisi yang tidak berhubungan. h. Kepemilikan insider dan institusional bernilai negatif dan signifikan. Insider dan kepemilikan institusional yang lebih tinggi pada perusahaan multi-segmen menghambat akuisisi diversifikasi.

Dari hasil regresi tersebut dapat disimpulkan bahwa peluang pertumbuhan dari bisnis bidder memiliki pengaruh buruk pada keputusan diversifikasi perusahaan. Bidder cenderung diversifikasi ke bisnis yang tidak sejenis dengan core business ketika core business mereka memiliki arus kas rendah dan beroperasi di industri dengan pertumbuhan rendah. Hal ini menunjukkan bahwa internal capital market pada bidder yang terdiversifikasi tidak akan bekerja secara efisien karena mereka tidak mengalihkan modal di bisnis yang tidak sejenis dengan core business dengan mengorbankan core business, khususnya ketika perusahaan target memiliki kinerja yang kuat. Sementara bidder melakukan diversifikasi ketika mereka dihadapkan dengan peluang pertumbuhan industri rendah. Selain itu terdapat peningkatan akuisisi yang tidak terkait seiring dengan leverage perusahaan yang juga terjadi dalam perusahaan dengan kepemilikan insider dan institusional yang rendah.

6. Post-acquisition MBV and imputed MBV of bidders Pada tabel 5 dapat diketahui bahwa: a. Nilai MBV dari diversified bidder lebih rendah daripada nilai imputed MBV-nya. Selisih antara MBV dengan imputed MBV pada tahun kedua lebih besar daripada tahun pertama. Artinya, terjadi penurunan nilai perusahaan jika perusahaan melakukan akuisisi secara diversifikasi, baik related maupun unrelated, dibandingkan jika perusahaan tersebut tetap

mempertahankan portfolionya sebagai perusahaan yang berdiri sendiri. b. Nilai MBV related acquisitions lebih besar daripada nilai MBV unrelated acquisitions. Artinya perusahan yang mengakuisisi perusahaan lain yang terkait memiliki kinerja yang lebih baik. Sebaliknya, akuisisi antar perusahaan yang tidak terkait mengalami underperformed. c. Selisih related-unrelated bidders imputed MBV bernilai positif dan signifikan. Artinya, diversified bidder gagal dalam mengubah struktur industri secara keseluruhan dengan terlibat dalam akuisisi yang tidak terkait saat mereka masih beroperasi di core business mereka. Kesimpulan dari poin-poin di atas yaitu perusahaan yang melakukan akuisisi diversifikasi memiliki MBV serta tingkat pertumbuhan industri yang lebih rendah daripada perusahaan yang hanya fokus pada satu industri. 7. Bidders post-acquisition core and non-core business segments: Cash flows, segment MBVs and capital expenditures Berdasarkan tabel 6: a. Panel A 8

Pada related acquisition, arus kas core business lebih tinggi daripada non-core business. Sebaliknya, pada unrelated acquisition, arus kas non-core business justru lebih tinggi. Selisih arus kas RelC-UNRelC bernilai positif dan signifikan. Sedangkan selisih RelNC-UNRelNC bernilai negatif namun tidak signifikan. b. Panel B Selisih imputed MBV RelC-UNRelC dan RelNC-UNRelNC sama-sama bernilai positif dan signifikan. Selisih imputed MBV UNRelC-UNRelNC yang bernilai negatif membuktikan bahwa baik core maupun non-core business dengan akuisisi diversifikasi industri yang tidak terkait beroperasi di industri dengan pertumbuhan yang rendah. Sebaliknya, selisih RelC-RelNC bernilai positif yang berarti baik core maupun non-core business dengan akuisisi diversifikasi industri yang terkait memiliki pertumbuhan industri yang tinggi. c. Panel C Related (unrelated) acquisition melakukan investasi lebih banyak (sedikit) pada core business daripada non-core business. Selisih pengeluaran modal RelC-UNRelC yang positif dan signifikan menunjukkan bahwa bahwa pengeluaran modal core business meningkat seiring dengan meningkatnya arus kas sementara diversified bidder terus berinvestasi secara signifikan ke dalam non-core business dalam periode pasca-akuisisi.

8. Core and non-core capital expenditures of bidders: A cross-sectional analysis Bagian ini berisi tentang penelitian hubungan capital expenditure dan cash flow dalam upaya untuk mendapatkan penjelasan yang lebih tentang bagaimana capital resources dialokasikan antara core dan non-core business. Core business dalam sebuah organisasi dimaksudkan untuk menyatakan kegiatan utama organisasi. Dengan mengikuti Shin dan Stulz (1998) dan Alti (2003), digunakanlah cross-sectional regressions untuk memeriksa apakah ada systematic capital misallocations pada core dan non-core divisions dalam kontrol bidder. Dalam penelitian ini juga dimasukkan imputed MBV dari core dan non-core business segments bidder. Periode yang digunakan adalah tahun ke 0 (tahun pada saat akuisisi), tahun ke 1 dan 2 (setelah akuisisi). Variabel yang digunakan adalah core CF, non-core CF, core imputed MBV, non-core imputed MBV dan capital expenditure (baik core maupun non-core) sebagai dependent variable. Tabel 7 melaporkan hasil regresinya dengan penjelasan sebagai berikut: Pada 3 regresi pertama di Panel A (core capital expenditures of multi segmentbidders) terlihat bahwa hubungan antara core-cash flows dan core capital expenditures of the multi segment

bidders positif dan signifikan. Itu berarti core-cash flow digunakan untuk mendanai investasi di core business bidder. Non-core cash flow negatif dan tidak signifikan, mengindikasikan tidak ada tranfer capital resources dari non-core segments ke core segment. Core imputed MBV dan non-core imputed MBV tidak signifikan dan unrelated acquisition dummy negatif dan signifikan. Itu berarti bahwa cash flow dari core business mempunyai efek yang kecil terhadap capital expenditure dari core business in diversifying multi segment bidders karena kemungkinan core cash flow digunakan untuk pembiayaan capital expenditure dari non-core business. Panel B (non-core capital expenditures of multi segmentbidders) menunjukkan baik core cash flow maupun non-core cash flow yang sensitif, menyiratkan bahwa core cash flow juga digunakan untuk membiayai capital expenditures dari non-core business. Imputed MBV yang tidak signifikan pada panel a dan B mengindikasikan bahwa bidders segment capital expenditures tidak terpengaruh oleh ukuran imputed MBV-nya. Penelitian ini konsisten dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Shin dan Stulz (1998) yang memperlihatkan bahwa capital expenditure dari business segment yang besar tergantung hanya oleh CF mereka sendiri sedangkan capital expenditure dari segmen yang kecil tergantung pada CF dari segmen yang lebih besar. 9. Conclusion Diversified bidder menghasilkan arus kas yang lebih tinggi dari non-core daripada core business yg terkait dalam akuisisi diversifikasi. Diversified bidder menghasilkan CF lebih tinggi dari core daripada non-core business yang melakukan akuisisi non-diversifikasi. Hasil ini menunjukkan bahwa masalah profitabilitas dalam core business of bidders memainkan peran penting dalam keputusan untuk diversifikasi. Bidder yang berada pada core business dengan prospek pertumbuhan yang rendah terkait dengan diversifying acquisition dan sebaliknya. Bukti pra-akuisisi menunjukkan bahwa perusahaan akan cenderung untuk diversifikasi ketika CF dan peluang pertumbuhan dari core business mereka jauh lebih rendah daripada non-core business. Setelah diversifikasi akuisisi, ada alokasi modal dari core ke non-core business segments of the bidder.

10

Ada transfer dana dari yang menguntungkan (core) ke yang kurang menguntungkan (non-core).

Opinion
Jurnal ini ingin memberikan gambaran tentang keputusan investasi yang dilakukan perusahaan. Khususnya keputusan investasi untuk melakukan merger konglomerasi (karena adanya diversifikasi yang dilakukan perusahaan). Diversifikasi sendiri merupakan bentuk pengembangan usaha dengan cara memperluas jumlah segmen secara bisnis, geografis, memperluas market share yang ada, atau mengembangkan berbagai produk yang beraneka ragam. Hal ini dapat dilakukan salah satu caranya dengan melakukan merger dan akuisisi. Kerugian melakukan diversifikasi, yaitu manajer perusahaan yang memiliki free cashflow yang besar cenderung mengambil investasi yang menurunkan nilai perusahaan (yang membahayakan shareholders wealth), fokus perusahaan terpecah sehingga kinerja dapat menurun. Keuntungan dari melakukan diversifikasi, yaitu memudahkan koordinasi pada perusahaan yang memiliki banyak divisi yang bebeda yang dapat melakukan transaksi secara internal, menurunkan biaya transaksi dan mengurangi pajak. Jurnal ini mendukung jurnal-jurnal penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa diversifikasi cenderung akan mengurangi nilai perusahaan, segmen usaha perusahaan yang melakukan diversifikasi memiliki laba operasi yang lebih rendah. Walaupun diversifikasi memberikan kerugian yang demikian tetapi masih banyak perusahaan yang melakukannya, seperti perusahaan-perusahaan di Indonesia.

11