Anda di halaman 1dari 3

LUNA MANTYASIH MAKARTI-0906498603 RESTRUKTURISASI PERUSAHAAN

PERATURAN BAPEPAM
No. IX.E.1: Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu Benturan Kepentingan adalah perbedaan antara kepentingan ekonomis Perusahaaan dengan kepentingan ekonomis pribadi direktur, komisaris, atau pemegang saham utama. Setiap transaksi yang mengandung benturan kepentingan harus mendapat persetujuan pemegang saham independen (pemegang saham yang tidak mempunyai benturan kepentingan dengan suatu transaksi tertentu). Pemberitahuan mengenai RUPS untuk menyetujui Transaksi Benturan Kepentingan meliputi informasi: Uraian tentang Transaksi; Ringkasan laporan Penilai; Penjelasan pertimbangan dan alasan dilakukan Transaksi tersebut; Rencana, data perusahaan dan informasi terkait lainnya; Pernyataan Komisaris dan Direktur. No. IX.F.1: Penawaran Tender Penawaran Tender adalah penawaran melalui Media Massa untuk memperoleh Efek Bersifat Ekuitas dengan cara pembelian atau pertukaran dengan Efek lainnya. Pihak yang melakukan Penawaran Tender wajib: Mengumumkan sekurangnya 2 surat kabar berbahasa Indonesia, 1 surat kabar harian nasional dengan informasi: identitas Pihak yang melakukan Penawaran Tender persyaratan dan kondisi khusus jumlah Efek Bersifat Ekuitas dari Perusahaan Sasaran yang dimiliki Pihak yang melakukan Penawaran Tender pernyataan Akuntan, bank, atau Penjamin Emisi Efek bahwa Pihak yang melakukan Penawaran Tender telah mempunyai dana untuk membiayai Penawaran Tender. Menyampaikan pengumuman kepada Bapepam dan Perusahaan Sasaran dalam waktu sekurang-kurangnya 2 hari kerja sebelum pengumuman dimuat di surat kabar. Harga Penawaran Tender, kecuali ditentukan lain oleh Ketua Bapepam, harus lebih tinggi dari: a. Harga Penawaran Tender tertinggi yang diajukan sebelumnya oleh Pihak yang sama dalam jangka waktu 180 hari sebelum pengumuman b. Harga pasar tertinggi atas Efek dimaksud di Bursa Efek dalam jangka waktu 90 hari terakhir sebelum pengumuman No. IX.G.1: Penggabungan Usaha atau Peleburan Usaha Perusahaan Publik atau Emiten Penggabungan Usaha adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh 1 Perseroan atau lebih untuk menggabungkan diri dengan Perseroan lain yang telah ada dan selanjutnya Perseroan yang menggabungkan diri menjadi bubar. Peleburan Usaha adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh 2 Perseroan atau lebih dengan cara membentuk 1 Perseroan baru dan masing-masing Perseroan menjadi bubar. Penggabungan Usaha atau Peleburan Usaha wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut: Direksi dan komisaris wajib membuat pernyataan kepada Bapepam dan RUPS bahwa Penggabungan Usaha atau Peleburan Usaha dilakukan dengan memperhatikan kepentingan Perseroan dan Publik; Surat pernyataan tesebut harus didukung oleh pendapat dari pihak independen; Memperoleh persetujuan RUPS;

Perusahaan Publik atau Emiten wajib menyampaikan pernyataan Penggabungan Usaha atau Peleburan Usaha kepada Bapepam. Direksi Perseroan, setelah memperoleh persetujuan komisaris, wajib menjajaki kelayakan Penggabungan Usaha atau Peleburan Usaha seperti: keadaan usaha Perseroan serta perkembangan hasil usaha Perseroan; hasil analisis pihak independen mengenai kewajaran nilai saham dan aktiva tetap Perseroan serta aspek hukum Penggabungan Usaha atau Peleburan Usaha; metode dan tata cara konversi saham yang akan digunakan dan didukung dengan analisa dari pihak independen; Hal tersebut wajib dimuat dalam Rancangan Penggabungan Usaha atau Peleburan Usaha. No. IX.H.1: Pengambilalihan Perusahaan Terbuka Pengendali Perusahaan adalah pihak yang memiliki saham 50 % atau lebih. Pengambilalihan Perusahaan Tbk adalah tindakan, baik langsung maupun tidak langsung, yang mengakibatkan perubahan Pengendali Perusahaan Terbuka. Dalam rangka Pengambilalihan Perusahaan Tbk, Pengendali Perusahaan Tbk baru wajib melakukan Penawaran Tender untuk seluruh sisa saham Perusahaan Tbk tersebut. Saham yang wajib dibeli pengendali baru adalah saham yang dimiliki pemegang saham yang diperoleh pemegang saham tersebut sebelum tanggal pengumuman rencana penawaran tender. Kondisi Penentuan Harga Saham Pengambilalihan Perusahaan Tbk dilakukan Harga Pengambilalihan Perusahaan Tbk yang secara langsung atas saham Perusahaan Tbk yang sudah dilakukan atau harga wajar yang tidak tercatat dan tidak diperdagangkan di Bursa. ditetapkan. Dalam hal Pengambilalihan Perusahaan Tbk Harga tertinggi dalam waktu 12 bulan terakhir dilakukan secara langsung atas Saham sebelum hari perdagangan terakhir atau hari Perusahaan Tbk yang tercatat dan dihentikan sementara perdagangannya atau diperdagangkan di Bursa namun selama 90 hari harga Pengambilalihan Perusahaan Tbk. Harga tidak diperdagangkan atau dihentikan sementara tersebut harus diambil harga yang paling perdagangannya. tinggi. Dalam hal Pengambilalihan Perusahaan Tbk Harga tertinggi dalam jangka waktu 90 hari dilakukan secara langsung atas saham terakhir sebelum pengumuman informasi atau Perusahaan Tbk yang tercatat dan harga Pengambilalihan Perusahaan Tbk. Harga diperdagangkan di Bursa. tersebut harus dipilih harga yang lebih tinggi. Dalam hal Pengambilalihan Perusahaan Tbk Harga wajar yang ditetapkan oleh Penilai dilakukan secara tidak langsung atas saham Independen. Perusahaan Terbuka yang tidak tercatat dan tidak diperdagangkan di Bursa. Dalam hal Pengambilalihan Perusahaan Tbk Harga tertinggi dalam waktu 12 bulan terakhir dilakukan secara tidak langsung atas saham sebelum hari perdagangan terakhir atau hari Perusahaan Tbk yang tercatat dan dihentikan sementara perdagangannya. diperdagangkan di Bursa namun selama 90 hari tidak diperdagangkan atau dihentikan sementara perdagangannya. Dalam hal Pengambilalihan Perusahaan Tbk Harga tertinggi dalam jangka waktu 90 hari dilakukan secara tidak langsung atas saham terakhir sebelum pengumuman informasi. Perusahaan Tbk yang tercatat dan diperdagangkan di Bursa.

STUDI KASUS
PT Semen Gresik merupakan perusahaan terbuka yang go public melalui IPO pada 8 Juli 1991. Komposisi pemegang saham saat itu terdiri atas negara 73,1 % dan publik 26,9 %. Pada tahun 1995, PT Semen Padang dan PT Semen Tonasa dijadikan anak perusahaan PT Semen Gresik. Pemerintah saat itu juga menjual sahamnya kepada publik sebesar 8 % sehingga kepemilikan saham pemerintah menjadi 65 % dan publik 35 %. Krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 memaksa pemerintah untuk melakukan privatisasi Semen Gresik. Cemex membeli saham Pemerintah sebesar 14% pada tahun 1998 melalui tender terbuka sesuai Peraturan Bapepam No. IX.F.1. Untuk memenuhi kebutuhan akan dana, pemerintah dalam perjanjian jual beli bersyarat saham dengan Cemex mencantumkan put option pada salah satu klausulnya. Kepemilikan Cemex menjadi 25,53 % setelah membeli saham milik publik sehingga saham publik menjadi 23,47%. Apabila 51% saham pemerintah kembali dijual kepada Cemex (pemerintah melaksanakan put option), maka total kepemilikan Cemex mencapai sekitar 76,53%. Komposisi ini menjadikan Cemex sebagai pemegang saham mayoritas atas 3 perusahaan semen di Indonesia (Peraturan Bapepam No. IX.H.1). Masyarakat Sumatera Barat, stakeholders utama Semen Padang, menentang hak opsi dan memperjuangkan spin-off. Apabila spin-off dilakukan, maka transaksi ini harus diputuskan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) karena merupakan transaksi yang mengandung benturan kepentingan. Untuk itu, pelaksanaan rencana spin off harus memenuhi ketentuan Peraturan Bapepam No. IX.E.1. Sengketa ini akhirnya berakhir ketika Cemex melepaskan sahamnya kepada Rajawali Group, melalui anak perusahaannya Blue Valley Holdings Pte Ltd, pada Juli 2006.