Anda di halaman 1dari 26

TUGAS MAKALAH KIMIA AMAMI

OLEH: KELOMPOK II HENDRI IGOR SAHULOKA ( 011.901.002 ) RASDY YUDHARMAWAN ( 011.901.006 ) SRI MEGAWATI ( 011.901.012 ) ANGELINA (011.901.016 ) ULFA MELISA (011.901.020 ) WULANTIARA DAHLAN ( 011.901.025 ) WIWIT WULANDARI ( 011.901.029 ) GRETSI NOVLIANA PASALI (011.901.033 ) MONIKA UDE ( 011.901.037 ) EDY HERDIANTO ( 011.901.042 ) FITRI SRI WAHYUNI ( 011.901.313 ) AMINARTI ( 010.901.355 )

FAKULTAS ANALIS KESEHATAN UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR MAKASSAR 2012

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah ini sebagai mana yang telah direncanakan. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas kuliah yaitu mata kuliah Kimia Amami. Makalah ini disusun berdasarkan pengetahuan yang penulis dapatkan dari beberapa sumber yang menjelaskan tentang Asiditis, dan disetiap lembaran jilid dari makalah ini terdapat beberapa penjelasan mengenai Asiditis. Penulis sangat berharap semoga makalah ini dapat berguna bagi para pengguna makalah ini. Walaupun penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Dengan terbitnya makalah ini, maka penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak pihak yang telah rela waktunya tersita dalam membantu penyusunan makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih terdapat banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan, maka penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna perbaikan makalah ini. Atas perhatian, kritik dan saran penulis mengucapkan banyak terima kasih.

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................. i DAFTAR ISI .............................................................................................. ii BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 1.4 Latar Belakang ....................................................................... 1 Rumusan Masalah ................................................................. 1 Dasar Teori ............................................................................ 2 Tujuan ................................................................................... 2

BAB 2 PEMBAHASAN 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 2.7 Pengertian Asiditas ................................................................ 3 Klasifikasi Asiditas .................................................................. 9 Jenis-Jenis Asiditas .............................................................. 12 Reaksi-Reaksi Asiditas......................................................... 16 Alat dan Bahan .................................................................... 17 Cara Kerja ............................................................................ 18 Interprestasi ......................................................................... 25

BAB 3 PENUTUP 3.1 3.2 Kesimpulan ......................................................................... 31 Saran ................................................................................... 32

DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG Asiditas adalah kapasitas kuantitatif air untuk bereaksi dengan basa kuat sehingga menstabilkan pH hingga mencapai 8,3 atau kemampuan air untuk mengikat OH- untuk mencapai pH 8,3 dari pH asal yang rendah. Semua air yang memiliki pH < 8,5 mengandung asiditas. Pada dasarnya, asiditas (keasaman) tidak sama dengan pH. Asiditas melibatkan dua komponen, yaitu jumlah asam, baik asam kuat maupun asam lemah (misalnya asam karbonat dan asam asetat), serta konsentrasi ion hidrogen. Menurut APHA (1976) dalam Effendi (2003), pada dasarnya asiditas menggambarkan kapasitas kuantitatif air untuk menetralkan basa sampai pH tertentu, yang dikenal dengan base-neutralizing capacity (BNC); sedangkan Tebbut (1992) dalam Effendi (2003) menyatakan bahwa pH hanya menggambarkan konsentrasi ion hidrogen. Pada kebanyakan air alami, air buangan domestik, dan air buangan industri bersifat buffer karena sistem karbondioksida-bikarbonat. Pada titrasi beberapa asam lemah, dapat diketahui bahwa titik akhir stoikiometri dari asam karbonat tidak dapat dicapai sampai pH sekitar 8,5. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa semua air yang memiliki pH < 8,5 mempunyai sifat asiditas. Biasanya titik akhir phenophtalein pada pH 8,2 sampai 8,4 digunakan sebagai titik referensi. Dari titrasi terhadap asam karbonat dan asam kuat, diketahui bahwa asiditas dari air alami disebabkan oleh CO2 yang merupakan agen efektif dalam air yang memiliki pH > 3,7 atau disebabkan oleh asam mineral kuat yang merupakan agen efektif dalam air dengan pH < 3,7. Dapat dikatakan bahwa asiditas di dalam air disebabkan oleh CO 2 terlarut dalam air, asam-asam mineral (H2SO4, HCl, HNO3), dan garam dari asam kuat dengan basa lemah. 1.2 Tujuan

Bagi Penulis: 1. Memenuhi tugas Kimia Amami 2. Memberikan pelatihan dalam menyusun makalah. 3. Meningkatkan kerja sama dan kekompakan antar mahasiswa. 4. Menambah wawasan penulis tentang Asiditas. 5. Menumbuhkan sikap gemar membaca bagi mahasiswa. Bagi Pembaca: 1. Menambah wawasan pembaca tentang Asidits.

1.3

Rumusan Masalah

Dalam makalah ini akan dibahas tentang DASAR TEORI 2.1. DEFENISI ASIDITAS 2.2. JENIS ASIDITAS 2.3. KLASIFIKASI ASIDITAS 2.4. REAKSI ASIDITAS 2.5. ALAT DAN BAHAN 2.6. PEMERIKSAAN 2.7. INTERPRETASI HASIL

BAB II PEMBAHASAN
2.1 DEFINISI ASIDITAS Menurut Buku Kimia air:

Asiditas adalah kapasitas air untuk menetralkan OH-. Penyebab dari asiditas umumnya adalah asam asam lemah seperti, HPO42-, H2PO4-, CO2, HCO3-protein dan ion-ion logam yang bersifat asam.

Menurut Kamus kesehatan : Asiditas atau keasaman adalah tingkat asam dalam suatu zat. Asiditas diukur pada skala yang disebut skala pH. Pada skala ini, nilai pH 7 adalah netral, dan nilai pH kurang dari 0 sampai 7 menunjukkan peningkatan keasaman. Istilah yang mungkin terkait dengan Asiditas : Istilah yang berkaitan dengan aciditas:

Asam pH Skala Depresi Gertiatrik Minnesota Multiphasic Personality Inventory Log

Menurut buku Laporan Kerja : Asiditas adalah hasil dari adanya asam lemah seperti H2PO4-, CO2, H2S, asamasam lemak, dan ion-ion logam asam, terutama Fe3+. Asiditas lebih sukar ditentukan daripada alkalinitas, karena dua kontributor utamanya adalah CO 2 dan H2S merupakan larutan volatile yang segera hilang dari sample.(Syafila, Mindriany). Untuk asam kuat seperti H2SO4 dan HCl dalam air dikenal dengan istilah asam mineral bebas (free

mineral acid). Acid Mineral Water mengandung asam mineral bebas dalam konsentrasi yang harus diperhitungkan. Asiditas atau keasaman adalah tingkat asam dalam suatu zat. Asiditas diukur pada skala yang disebut skala pH. Pada skala ini, nilai pH 7 adalah netral, dan nilai pH kurang dari 0 sampai 7 menunjukkan peningkatan keasaman. Asiditas adalah kemampuan/kapasitas air untuk menetralkan ion OH -. Penyebab Asiditas umumnya adalah asam asam lemah, seperti H2PO4-, HPO4, CO2, HCO3, Protein dan ion-ion logam bersifat asam seperti Fe3. Penentuan asiditas lebih sulit dibanding alkalinitas. Hal ini di sebabkan oleh adanya 2 (dua) zat utama yang berperan yaitu CO2 dan H2S yang keduanya mudah menguap, mudah hilang dari sampel yang di ukur. Total asiditas di tentukan oleh satuan dengan basa sampai titik akhir Fenolptalin (pH 8,2). Maka untuk asam mineral bebas di tentukan oleh satuan basa lemah sampai titik akhir indicator methil jingga pada pH 4,3. Asiditas adalah hasil dari adanya asam lemah seperti H2PO4-, CO2, H2S, asamasam lemak, dan ion-ion logam asam, terutama Fe3+. Asiditas lebih sukar ditentukan daripada alkalinitas, karena dua kontributor utamanya adalah CO 2 dan H2S merupakan larutan volatile yang segera hilang dari sample.(Syafila, Mindriany). Untuk asam kuat seperti H2SO4 dan HCl dalam air dikenal dengan istilah asam mineral bebas (free mineral acid). Acid Mineral Water mengandung asam mineral bebas dalam konsentrasi yang harus diperhitungkan. (Manahan,Stanley). Asiditas adalah hasil dari adanya asam lemah seperti H2PO4-, CO2, H2S, asam-asam lemak, dan ion-ion logam asam, terutama Fe3+. Asiditas lebih sukar ditentukan daripada alkalinitas karena dua kontributor utamanya adalah CO2 dan H2S merupakan larutan volatile yang segera hilang dari sampel (Ainizha, 2009). Asiditas pada sistem air alami adalah kapasitas air untuk menetralisir OH-. Air asam biasanya tidak diperhitungkan, kecuali untuk kasus polusi berat. Asiditas biasanya

merupakan hasil dari adanya asam lemah seperti H2PO4-, CO2, H2S, protein, asamasam lemak dan ion-ion logam asam, terutama Fe3+. Asiditas lebih sukar ditentukan daripada alkalinitas, karena dua kontributor utama, CO2 dan H2S, merupakan larutan volatil yang segera hilang dari sampel (Mindriany Syafila, 1994) : CO2 + OH- HCO3H2S + OH- HS + H2O

Istilah asam mineral bebas (free mineral acid) adalah asam kuat seperti H2SO4 dan HCl di dalam air. Asiditas total ditentukan oleh titrasi dengan basa untuk mencapai titik akhirphenolphtalein (pH 8,2). Asam mineral bebas ditentukan oleh titrasi dengan basa untuk mencapai titik akhir methyl orange (pH 4,3). Karakter asam dari ion-ion logam asam, dan biasanya beberapa merupakan asam kuat (Mindriany Syafila, 1994). Alkalinitas merupakan penyangga (buffer) perubahan pH air dan indikasi kesuburan yang diukur dengan kandungan karbonat. Alkalinitas adalah kapasitas air untuk menetralkan tambahan asam tanpa penurunan nilai pH larutan (Anonymous A, 2010). Asiditas air adalah kapasitas air untuk menetralkan basa kuat pada suatu pH tertentu. Dengan titrasi mempergunakan larutan-larutan baku NaOH, adanya asamasam mineral kuat, asam-asam mineral, garam-garam yang bisa dihidrolisa dan total total asiditas bisa diperiksa. Tergantung dari sifat, contoh dan keintensifan analisa, prosedur yang digunakan dan data yang dihasilkan bervariasi dari titrasi langsung yang menggunakan indikator warna sampai ke pembentukan kurva titrasi potensiometrik. Pemeriksaan rutin air yang tidak berwarna atau agak jernih dapat dilakukan dengan titrasi langsung dengan asiditas fenolftalein atau asiditas jingga-metil. Bila airnya keruh atau berwarna, maka penentuan asiditas bila dikalibrasi dengan pH meter. Untuk asiditas jingga-metil pH titik akhir 3,7 dan untuk asiditas fenolflaten 8,3. Penentuan titik akhir yang paling tepat dilakukan dengan membuat kurva titrasi, dengan mengaplot pH yang dibaca terhadap volume titran yang ditambahkan. Titik belok pada daerah curam penyatakan pH titik akhir. Hasil asiditas dinyatakan dalam mg CaCO3/liter. Contoh yang mengandung residual klor bebas atau ion-ion logam yang bisa dihidrolisa, membutuhkan penanganan khusus atau perlakuan pendahuluan.

Pada percobaan penentuan alkalinitas dan asiditas dapat menggunakan air sampel apapun, seperti air sungai, danau, rawa, dan lain-lain. Percobaan ini untuk menentukan kadar alkalinitas dan asiditas air kran. Sebelum memulai percobaan dilakukan persiapan alat dan bahan yang akan digunakan. Isikan 100 ml air pada labu A dan labu B, kemudian beri tiga tetes indicator MO pada labu A dan tiga tetes indicator PP pada labu B. amati perubahan warna pada labu, yaitu pada labu A berwarna kuning dan labu B tidak berwarna. Dengan demikian, maka labu A dikatakan negative dan labu B positif, karena jika air mengandung ion-ion pembentuk asam (CaCO3 dan CO2), maka, maka ketika ditetesi indicator MO akan berwarna orange, dan ketika ditetesi indicator PP tidak berwarna. Untuk mengetahui asiditas air, maka metode yang digunakan, yaitu metodde titrasi, karena asiditas, maka menggunakan NaOH 0,1 N (basa kuat) sebagai titrannya. Pada proses titrasi dilakukan dari yang tidak berwarna hingga tepat berubah menjadi pink tipis. Catat volume sebelum titrasi dan catat pula volume akhir titrasi dan catat pula volume akhir titrasi untuk mendapatkan volume titrasi. Percobaan ini dilakukan tiga kali agar lebih akurat data yang di peroleh. Setelah semua data yang di peroleh, lakukan perhitungan asiditasair dengan rumus (V = volume titrasi, F = faktor koreksi, BE = berat ekuivalen), sehingga di dapat nilai 32,860 ppm sebagai CO2 pada asiditas PP. Namun, pada asiditas MO bernilai 0 ppm, karena ketika labu A ditetesi indicator MO bernilai negative, maka tidak dilakukan titrasi, sehingga bernilai 0 ppm. Dengan demikian, air tersebut mengandung 32,860 mg setiap liternya sebagai CO2. (Diposkan oleh Environmental di 16:27) Titrasi adalah cara penetapan kadar suatu larutan dengan menggunakan larutan standar yang sudah diketahui konsentrasinya. Metode seperti ini biasanya dilakukan di laboratorium. Beberapa jenis titrasi yaitu : 1. titrasi asam basa 2. titrasi redoks 3. titrasi pengendapan

Pada percobaan asiditas alkalinitas, jenis titrasi yang digunakan adalah titrasi asam basa. (www.wikipedia.org/titrasi) Asiditas dan alkalinitas sangat bergantung pada pH air. Pengawasan keabsahan data dapat dilakukan ketentuan, yaitu: 1. asiditas sebagai H+ hanya ada dalam air pada pH <4,5;

2. asiditas sebagai CO2 hanya ada dalam air pada pH antara 4,5 8,3; 3. alkalinitas sebagai HCO3-, hanya ada dalam air pada pH 4,5 8,3; 4. alkalinitas sebagai CO32-, hanya ada dalam air pada pH >8,3; 5. alkalinitas sebagai hidroksida hanya ada dalam air pada pH lebih besar dari 10,5.

2.2. JENIS ASIDITAS Pada umumnya terdapat beberapa jenis yang menyebabkan keasaman dalam air adalah: 1. Karbon dioksida (CO2) , umumnya terdapat dalam air permukaan dimana CO2 diserap d a r i u d a r a j i k a t e k a n a n C O 2 d a l a m a i r > d a l a m u d a r a . C O 2 juga terdapat dalam air karena proses dekomposisi (oksidasi) zat organik oleh mikroorganisme. Umumnya juga terdapat dalam air yang telah tercemar. 2. Asam mineral umumnya terdapat dalam air limbah i n d u s t r i pengolahan

logam atau pembuatan senyawa kimia. Kadang-kadang juga terdapat dalam air alam. 3. Asam humus

umumnya terdapat dalam air rawa atau danau karena adanya rumput-rumputan atau tumbuh-tumbuhan yang hidup dalam air tersebut melepaskan senyawa asam dan warna Jenis Jenis Asiditas terbagi : 1. Asiditas Total (Asiditas Phenophtalein) Asiditas total merupakan asiditas yang disebabkan adanya CO2 dan asam mineral. Karbondioksida merupakan komponen normal dalam air alami. Sumber CO 2 dalam air dapat berasal dari adsorbsi atmosfer, proses oksidasi biologi materi organik, aktivitas fotosintesis, dan perkolasi air dalam tanah. Karbondioksida dapat masuk ke permukaan air dengan cara adsorbsi dari atmosfer, tetapi hanya dapat terjadi jika konsentrasi CO2 dalam air < kesetimbangan CO2 di atmosfer. Karbondioksida dapat diproduksi dalam air melalui oksidasi biologi dari materi organik, terutama pada air tercemar. Pada beberapa kasus, jika aktivitas fotosintesis dibatasi, konsentrasi CO 2 di dalam air dapat melebihi keseimbangan CO2 di atmosfer dan CO2 akan keluar dari air. Air permukaan secara konstan mengadsorpsi atau melepas CO2 untuk menjaga keseimbangan dengan atmosfer. Air tanah dan air dari lapisan hypolimnion di danau dan reservoir biasanya mengandung CO2 dalam jumlah yang cukup banyak. Konsentrasi ini dihasilkan dari oksidasi materi organik oleh bakteri dimana materi organik ini mengalami kontak dengan air dan pada kondisi ini CO2 tidak bebas untuk keluar ke atmosfer. CO2 merupakan produk akhir dari oksidasi bakteri secara anaerobik dan aerobik. Oleh karena itu konsentrasi CO2 tidak dibatasi oleh jumlah oksigen terlarut. 2. Asiditas Mineral (Asiditas Metil Orange) Asiditas mineral merupakan asiditas yang disebabkan oleh asam mineral. Dapat juga disebut asiditas metil orange karena untuk menentukan titik akhir titrasi digunakan indikator metil orange untuk mencapai pH 3,7. Asiditas mineral di dalam air dapat berasal dari industri metalurgi, produksi materi organik sintetik, drainase buangan tambang, dan hidrolisis garam-garam logam berat.

Asiditas mineral terdapat di limbah industri, terutama industri metalurgi dan produksi materi organik sintetik. Beberapa air alami juga mengandung asiditas mineral. Kebanyakan dari limbah industri mengandung asam organik. Kehadirannya di alam dapat ditentukan dengan titrasi elektrometrik dan gas chromatografi. 2.3. KLASIFIKASI ASIDITAS Ada 2 cara untuk menentukan asiditas, yaitu: 1. asiditas total, ditentukan oleh titrasi dengan basa untuk mencapai titik akhir fenolftalein (pH 8,3) 2. asam mineral bebas, ditentukan oleh titrasi dengan basa untuk mencapai titik akhir methyl orange (pH 4,5). Asiditas dalam air disebabkan oleh karbon dioksida (CO2) asam mineral. Adanya asiditas dalam air ditunjukkan oleh pH air tersebut di bawah 8,5. Air dengan pH < 4,5 hanya mengandung asam mineral (kuat). Asiditas oleh CO2 dan asam mineral ini ditentukan dengan menggunakan larutan baku asam. Asam mineral di titrasi sampai pH mencapai kira-kira 4,5. Karena Methyl Orange (MO) / metil jingga biasanya digunakan sebagai indicator untuk penentuan asiditas oleh asam mineral, maka biasa disebut sebagai asiditas MO. Titrasi dengan menggunakan indicator PP sampai pH 8,3 untuk menentukan asam mineral dan asam lemah (asiditas jumlah). Asiditas jumlah ini sering disebut sebagai asiditas phenol pthalein.

Asiditas melibatkan dua komponenya yaitu: 1. asam kuat Asam kuat, yaitu asam yang banyak menghasilkan ion yang ada dalam larutannya (asam yang terionisasi sempurna dalam larutannya) dan juga merupakan elektrolit kuat.

Ketika asam dilarutkan dalam air, sebuah proton (ion hidrogen) ditransferkan ke molekul air untuk menghasilkan ion hidroksonium dan sebuah ion negatif tergantung pada asam yang anda pakai.Pada kasus yang umum Reaksi tersebut reversibel, tetapi pada beberapa kasus, asam sangat baik pada saat memberikan ion hidrogen yang dapat kita fikirkan bahwa reaksi berjalan satu arah. Asam 100% terionisasi.Sebagai contoh, ketika hidrogen klorida dilarutkan dalam air untuk menghasilkan hidrogenklorida, sangat sedikit sekali terjadi reaksi kebalikan yang dapat kita tulis:Pada tiap saat, sebenarnya 100% hidrogen klorida akan bereaksi untuk menghasilkan ion hidroksonium dan ion klorida. Hidrogen klorida digambarkan sebagai asam kuat.

2. asam lemah (spt: asam karbonat & Asam asetat) & konsentrasi ion hidrogen Asam lemah, adalah asam yang sedikit menghasilkan ion yang ada dalam larutannya (hanya terionisasi sebagian). asam lemah digolongkan dalam elektrolit lemah, hal ini karena tidak semua zat yang bereaksi terurai menjadi ion2nya namun hanya sebagian kecil saja. untuk menunjukkan besarnya zat yang terurai menggunakan derajad dissosiasi.

Jika kalian perhatikan reaksi umum dalam asam lemah sama saja dengan reaksi asam kuat, hanya saja reaksi dalam asam lemah berlangsung 2 arah,

arah pertama = reaksi dari kiri ke kanan, terjadi peruraian zat asam menjadi ion2nya arah kedua penyusunnya = reaksi dari kanan ke kiri, terjadi penggabungan ion2 menjadi zat

kedua reaksi di atas terjadi terjadi bersamaan hingga konsentrasi zat asam dan hasil peruraiannya tidak berubah2 lagi. yang sering dikenal dengan

titik setimbang / eqivalen. Saat terjadinya titik eqivalen inilah besarnya derajad dissosiasi dapat dicari

2.4. REAKSI ASIDITAS Reaksi-reaksi yang terjadi pada asiditas (Anonim C, 2009) H+ + OH H2O

CO2+ OH- HCO3HCO3- + OH- H2O + CO2

Reaksi-reaksi yang terjadi : Asiditas H+ + OH- H2O CO2 + OH- HCO3HCO3- + H+ H2O + CO2 Pereaksi yang terjadi adalah : Larutan H2SO4 0,1 N Encerkan 0,28 ml H2SO4 pekat ke dalam 1L air. Larutan H2SO4 0,02 N Pipet 200 ml H2SO4 0,1 N ke dalam 1L air. Larutan standar Na2CO3 Timbang 5 mg Na2CO3 masukkan ke dalam 1L air. Ada 2 cara untuk menentukan asiditas, yaitu:

1. asiditas total, ditentukan oleh titrasi dengan basa untuk mencapai titik akhir fenolftalein

2. asam mineral bebas, ditentukan oleh titrasi dengan basa untuk mencapai titik akhir metal orange. ( Syafila, Mindriany) Titrasi adalah cara penetapan kadar suatu larutan dengan menggunakan larutan standar yang sudah diketahui konsentrasinya. Metode seperti ini biasanya dilakukan di laboratorium. Beberapa jenis titrasi yaitu : 1. titrasi asam basa 2. titrasi redoks 3. titrasi pengendapan 2.5. ALAT DAN BAHAN : ALAT : Labu Erlenmeyer 250 ml (4 buah) Buret basa (1 buah) Corong (1 buah) Statif (1 buah) Gelas beker 50 ml (1 buah) Pipet tetes ( 2 buah) Buret asam (1 buah) Gelas ukur 100 ml (1 buah) BAHAN : Air kran Aquadest

Indicator PP Larutan standar NaOH 0,1 N Indicator MO Lrutan standar HCl 0,1 N

2.6 . PEMERIKSAAN 1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan. 2. Bilas dan cuci alat yang terbuat dari kaca dengan aquadest hingga tiga kali. 3. Takar air kran dengan gelas ukur sebanyak 100 ml. kemudian tuang pada labu Erlenmeyer. Ulangi sekali lagi pada labu Erlenmeyer yang lain. 4. Tetesi air pada labu Erlenmeyer yang pertama dengan indicator MO sebanyak tiga tetes, kemudian beri nama labu A. pada labu ke dua tetesi dengan indicator PP sebanyak tiga tetes dan beri nama labu B. 5. Amati abu A, bila terjadi perubahan warna menjadi orange (positif) dilanjutkan titrasi. Bila berwarna kuning tidak dilanjutkan titrasi. 6. Amati labu B, bila tidak terjadi perubahan warna (positif) dilanjutkan titrasi. Bila berwarna pink tidak dilanjutkan titrasi. 7. Titrasi labu B (karena labu A negative) dengan titran NaOH 0,1 N. catat volume awal, volume akhir, dan volume titrasi. Ketika berubah menjadi warna pink tipis, ulangi titrasi sebanyak tiga kali. 8. Lakukan perhitungan sesuai dengan data yang diperoleh. 9. Cuci semua alat yang digunakan dan kembalikan pada tempat semula. Pada percobaan di atas adalah percobaan yang sering digunakan dalam laboratorium klinik, namun tidak menuntut kemungkinan adanya percobaan percobaan yang lain yang dapat dilakukan pula pada percobaan asiditas air lainnya. Seperti pada pecobaan asiditas yang selanjutnya, Pengambilan contoh :

Contoh dikumpulkan dalam gelas borosilikat 500 ml atau 1 liter atau botol polyetilen. Istilah penuh dengan air dan tutup dengan kuat. Contoh yang dikumpulkan harus dianalisa pada satu hari itu. Simpanlah contoh pada tempat yang dingin, hindari pengocokan dan kontak langsung dengan udara. Peralatan : PH meter magnetic stirrer Peralatan titrasi buret 50 ml, 25 ml, dan 10 ml Hot plate Bahan : Air destilata bebas CO2 (didihkan sebelumnya) Larutan KH-ftalat 0,05 N bebas CO2 Larutan NaOH 0,1 N baku Cara Standarisasinya : Pipet 40 ml larutan KH-ftalat dalam wadah untuk titrasi potensiometri. Tempatkan larutan NaOH dalam buret 25 ml dan titrasi berlangsung sampai titik belok di dekat pH 8,7. Catatlah volume titran. Perhitungan normalitas : N = A = gram KH-ftalat yang digunakan untuk pembuatan larutan 0,05 N B = ml larutan KH-ftalat yang digunakan dalam titrasi C = ml titran NaOH

Larutan NaOh 0,02 N baku. Cara standarisasinya sama dengan pada standarisasi NaOH 0,1 N, hanya dengan volume titrat 15 ml. Larutan hydrogen peroksida 30 % Indikator fenolflatein Indikator jingga-metil Larutan Na-tiosulfat 0,1 N Larutan H2SO4 0,02 Prosedur : 1. Pilihlah ukuran contoh dan normalitas titran a. Contoh yang mempunyai asiditas dibawah 1000 mg CaCO 3/liter, gunakan 50 ml atau lebih dari contoh dan titrasi dengan NaOH 0,02 N. b. Contoh yang mempunyai asiditas di atas 1000 mg CaCO 3/liter, gunakan 250 ml atau kurang dari contoh dan titrasi dengan NaOH 0,1 N. c. Bila sifat dan konsentrasi contoh tidak diketahui, gunakan 100 ml contoh. Secara kasar titrasi dengan titran NaOH 0,1 N, dengan indikator fenolflatein catat volume perkiraan itu. d. Sesuaikan volume contoh atau normalitas titran sehingga bila menggunakan buret 50 ml, kurang lebih digunakan titran 20 ml atau lebih untuk menetralkan asiditas. e. Ulangi butir c dan d dengan menggunakan indikator jingga-metil untuk asiditas jingga-metil.

2.

Titrasi perubahan warna a. Aturlah suhu contoh (bila disimpan dalam refrigerator) sesuai dengan suhu kamar. Contoh jangan sekali-kali dikocok atau ditekuk. Pipetlah contoh air dengan volume yang cocok (lihat butir 1) ke dalam Erlemeyer 250 ml.

b. Bila diperkirakan terdapat klor bebas, tetesakan 1 tetes larutan Na-tiosulfat 0,1 N. c. Tambahkan 2 tetes larutan indikator, dan bila volume contoh kurang dari 100 ml, encerkan contoh tersebut sampai 100 ml dengan air suling. Titrasi dengan konsentrasi yang cocok (lihat butir 1). Catatan : perubahan warna fenolftalein dari tidak berwarna ke warna pink permanen pertama. Perubahan warna jingga-metil dari merah ke kuning permanen pertama. d. Catatlah volume dan normalitas dari titran NaOH yang digunakan dan nyatakan apakah dalam pengukuran asiditas jingga-metil atau asiditas fenolftalein. e. Perhitungan asiditas Asiditas mg CaCO/liter = larutan NaOH dengan

di mana : N digunakan C 50 Pengambilan contoh II: a) Bahan : 1. Sampel air 100 ml ( V1 = 50 ml, V2 = 50 ml ) 2. Indikator PP 3. Larutan standar NaOH 0,1 N b) Alat : 1. Pipet 2. Gelas ukur 100 ml 3. 2 Gelas Erlenmeyer 50 ml 4. Buret + Statis 100 ml = ml NaOH yang digunakan = bobot Ekwivalen CaCO = normalitas NaOH hasil perhitungan yang

c) Cara Kerja : 1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan. 2. Ambil 100 ml air sampel dengan gelas ukur lalu masukan kedalam labu elemeyer. 3. Kemudian menambahkan 3 tetes indikator PP 0,1% , bila tidak terjadi perubahan warna (positif) dilanjutkan titrasi. Bila berwarna pink tidak dilanjutkan titrasi. 4. Kemudian menitrasi dengan larutan NaOH 0,1 N sampai terjadi perubahan warna dari tidak berwarna sampai menjadi merah muda atau pink tipis. ulangi titrasi sebanyak tiga kali. 5. Kemudian mencatat jumlah NaOH yang digunakan untuk titrasi. catat volume awal, volume akhir, dan volume titrasi 6. Lakukan perhitungan sesuai dengan data yang diperoleh 7. Perhitungan : Aciditas =1000CAV1+V22t(4,4)1

Ket.

CA= jumlah sampel V1 = titrasi I V2 = titrasi II

2.7. INTERPRETASI HASIL 1. 2. 3. Diketahui : pH sampel air setelah diteteskan indicator PP, yaitu 7,60 pH sampel air setelah dititrasi dengan NaOH 0,1 N adalah 8,02 Penentuan Aciditas : CA = 100 ml V1 = 0,1 ml

V2 = 0,1 ml Penyelesaian : Aciditas = 1000CAV1+V22t4,41

= 10001000,1+0,124,41

= 10 0,1 4,4 1

= 4,4 mg CO2

DATA PERCOBAAN ASIDITAS Percobaan I Standarisasi NaOH f = 0,79 NaOH digunakan (P ml) P ml I : 4,8 ml II : 4,9 ml III : 2,9 ml + 12,6 ml Rata-rata : 12,6 ml = 4,2 ml 3 ME CaCO3 = Mr CaCO3 = 100 valensi 2 = 50 Asiditas jumlah : AJ = x P ml x N NaOH x f NaOH x ME CaCO3 = x 4,2 x 0,1 x 0,79 x 50 = 165,9 mg/1 sebagai CaCO3 Percobaan II Standarisasi NaOH

F = 25 ml NaOH = = 1,08 ml NaOH digunakan (P ml) P ml I : 2,6 ml II : 3,5 ml III : 6,8 ml + 12,9 ml Rata-rata : 12,9 ml = 4,3 ml 3 ME CaCO3 = 50 Asiditas jumlah AJ = x P ml x N NaOH x f NaOH x ME CaCO3 = x 4,3 x 0,1 x 50 x 1,08 = 232,2 mg/l sebagai CaCO3 Percobaan III Standarisasi NaOH ME CaCO3 = f = = 0,79 = 50 P ml I : 3,8 ml II : 3,5 ml III : 2,0 ml + 9,3 ml Rata-rata : 9,3 ml = 3,1 ml 3 Asiditas jumlah AJ = x P ml x N NaOH x f NaOH x ME CaCO3 = x 3,1 ml x 0,1 N x 0,79 x 50 = 122,45 mg/l sebagai CaCO3 PERHITUNGAN Asiditas Rata-rata AJ rata-rata = AJ I + AJ II + AJ III 3 = 165,9 + 232,2 + 122,45 3 = = 173,5 mg/l sebagai CaCO3

Data Praktikum Asiditas PP Hasil titrasi HCl No 1 2 3 Volume awal Volume akhir Volume titrasi 0 ml 1,3 ml 1,8 ml 1,3 ml 1,8 ml 3 ml Rata-rata Asiditas MO Asiditas PP PEMBAHASAN Asiditas Pada percobaan penentuan alkalinitas dan asiditas dapat menggunakan air sampel apapun, seperti air sungai, danau, rawa, dan lain-lain. Percobaan ini untuk menentukan kadar alkalinitas dan asiditas air kran. Sebelum memulai percobaan dilakukan persiapan alat dan bahan yang akan digunakan. Isikan 100 ml air pada labu A dan labu B, kemudian beri tiga tetes indicator MO pada labu A dan tiga tetes indicator PP pada labu B. amati perubahan warna pada labu, yaitu pada labu A berwarna kuning dan labu B tidak berwarna. Dengan demikian, maka labu A dikatakan negative dan labu B positif, karena jika air mengandung ion-ion 1,3 ml 0,5 ml 1,2 ml 1 ml

pembentuk asam (CaCO3 dan CO2), maka, maka ketika ditetesi indicator MO akan berwarna orange, dan ketika ditetesi indicator PP tidak berwarna. Untuk mengetahui asiditas air, maka metode yang digunakan, yaitu metodde titrasi, karena asiditas, maka menggunakan NaOH 0,1 N (basa kuat) sebagai titrannya. Pada proses titrasi dilakukan dari yang tidak berwarna hingga tepat berubah menjadi pink tipis. Catat volume sebelum titrasi dan catat pula volume akhir titrasi dan catat pula volume akhir titrasi untuk mendapatkan volume titrasi. Percobaan ini dilakukan tiga kali agar lebih akurat data yang di peroleh. Setelah semua data yang di peroleh, lakukan perhitungan asiditasair dengan rumus (V = volume titrasi, F = faktor koreksi, BE = berat ekuivalen), sehingga di dapat nilai 32,860 ppm sebagai CO2 pada asiditas PP. Namun, pada asiditas MO bernilai 0 ppm, karena ketika labu A ditetesi indicator MO bernilai negative, maka tidak dilakukan titrasi, sehingga bernilai 0 ppm. Dengan demikian, air tersebut mengandung 32,860 mg setiap liternya sebagai CO2. Kesimpulan 1. Penyebab asiditas air kran karena CO2, sebanyak 32,860 mg/l
http://freeandshared.wordpress.com/2012/03/20/alkalinitas-dan-aciditas

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan Asiditas adalah kemampuan air untuk menetralkan ion OH -. Asiditas umumnya adalah asam lemah dan dari hasil yang didapatkan asiditasnya, yaitu 4,4 mg CO 2 yang menunjukkan bahwah air tersebut bersifat asam. B. Saran

Setelah melakukan pratikum ada beberapa saran yang perlu diperhatikan, yaitu: 1. 2. 3. Memahami objek pratikumnya pada waktu itu; Teliti dalam melakukan pratikum; Mempersiapkan segala sesuatunya yang behubungan dengan pratikum sebelum

pratikum dimulai; 4. 5. Berhati hatilah dalam menggunakan alat alat pratikum; Lakukan titrasi dengan teliti dan cermat.

DAFTAR PUSTAKA
Ainizha. 2009. Alkalinitas. http://ainizha.blogspot.com. Tanggal akses: 30 September 2011. Alaerts, G dan Sri Sumestri Santika. 1987. Metoda Penelitian Air. Surabaya: Usaha Nasional Syafila, Mindriany. 2010. Kimia Lingkungan I. Bandung:ITB Anonymous A. 2009. Pengaruh Alkalinitas dan pH Air Minum. http://www.purewatercare.com. Tanggal akses: 30 September 2009. Anonim B. 2010. Alkalinitas. http://id.wikipedia.org. Tanggal akses : 30 September 2011. Anonim C. 2009. Asiditas dan Alkalinitas. http://environmental-ua.blogspot.com. Tanggal akses : 30 September 2011 http://freeandshared.wordpress.com/2012/03/20/alkalinitas-dan-aciditas