Anda di halaman 1dari 18

ANALISIS ZONASI EKOSISTEM MANGROVE

DI SEGARA ANAKAN CILACAP JAWA TENGAH1

Endang Hilmi, Dr, S.Hut, M,Si2, Asrul Sahri S, Drs, M.Si2, Erla Supriyana, S.Pi3 dan
Parengrengi, S.Pi, M.Si4

Abstrak
Zonasi mangrove dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan diantaranya tekstur
tanah, salinitas dan pasang surut. Penurunan keanekaragaman dan ukuran hutan
mangrove ditemukan di tiap zonasi yang digambarkan oleh perubahan kondisi
lingkungan dari tepi laut menuju ke arah daratan. Perubahan kondisi tersebut dapat
menggambarkan kondisi vegetasi dan zonasi mangrove di Plawangan Barat Segara
Anakan Cilacap.
Penelitian “Model Zonasi Mangrove Akibat Perubahan Tekstur Tanah, Salinitas
dan Pasang Surut Air laut di Plawangan Barat Segara Anakan, Cilacap” ini dilaksanakan
pada bulan Februari sampai Maret 2008. Penelitian ini bertujuan mengetahui kondisi
tekstur tanah, salinitas dan pasang surut, tipe zonasi, hubungan tekstur tanah, salinitas dan
pasang surut dengan zonasi mangrove. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode survai dengan teknik pengambilan sampel stratifikasi. Analisis data yang
digunakan yaitu secara deskriptif kualitatif, regresi linier dan model spasial.
Kondisi substrat tanah yang diperoleh adalah liat dengan nilai salinitas dan pasang
surut rataan sebesar 13,74 ppt dan 1,3 meter. Zonasi di Plawangan Barat Segara Anakan
dibedakan menjadi tiga zona, yaitu: zona Avicennia-Sonneratia, zona Rhizophora-
Sonneratia, dan zona Rhizophora-Bruguiera. Salinitas dan pasang surut berkorelasi erat
dengan zonasi mangrove sedangkan tekstur tanah berkorelasi rendah dengan zonasi
mangrove. Model zonasi mangrove di Plawangan Barat Segara Anakan, Cilacap adalah Y
= 491,652 X (tekstur liat) + 21673,130 X (Salinitas) – 412,260 X (Pasang surut) – 49912,9.

Kata kunci: Mangrove, Zonasi, Tekstur Tanah, Salinitas, Pasang Surut, Model Spasial,
Model Matematika.

1
Konferensi nasional VI Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut 27 -29 Agustus 2008
2
Dosen Program Studi Perikanan dan Kelautan Fakultas Sain dan Teknik Unsoed
3
Sarjana Perikanan dan Kelautan Fakultas Sain dan Teknik Unsoed
4
Staf Pengajar Fakultas Perikanan Unri
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Mangrove adalah Ekosistem yang menggambarkan suatu varietas komunitas
pantai tropik yang didominasi oleh beberapa spesies pohon-pohon yang khas atau semak-
semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin. Hutan mangrove
merupakan salah satu ekosistem pesisir yang bersifat kompleks dengan karakteristik
terdiri: atas flora yang bersifat halofit fakultatif (Hilmi, 2005), fauna pantai dan dapat
beradaptasi dengan ekosistem daratan dan laut. Hutan mangrove dapat tumbuh subur dan
bersifat luas (eury) di daerah delta dan aliran sungai yang besar dan muara yang lebar.
Hutan mangrove terdapat zonasi yang tergantung dari adaptasi tiap jenis
tumbuhan terhadap lingkungan. Daya adaptasi dari tiap jenis tumbuhan mangrove
terhadap keadaan tempat tumbuh akan menentukan komposisi jenisnya. Setiap zonasi
diidentifikasikan berdasarkan individu jenis mangrove atau kelompok jenis dan
dinamakan sesuai dengan jenis yang dominan atau sangat melimpah. Zonasi di tepi air
biasanya tipis dan ditumbuhi oleh jenis pionir, seperti Avicennia alba dan Sonneratia
alba, setelah itu zona Rhizophora spp. dan kemudian zona Bruguiera spp (Hilmi, 2005).
Zonasi mangrove dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan seperti tekstur tanah,
salinitas, dan pasang surut. Pengaruh tekstur tanah antara lain ditujukan oleh sebagian
genus Rhizophora. Di daerah-daerah dengan tanah berlumpur dalam, Rhizophora
mucronata merupakan vegatasi yang dominan, sedangkan daerah-daerah yang yang
berlumpur dangkal didominasi oleh Rhizophora apiculata. Pengaruh salinitas ditujukan
oleh kenyataan bahwa bila salinitas menurun karena banyaknya air tawar maka
Rhizophora akan merana dan permudaan diganti oleh jenis yang kurang peka terhadap
perubahan salinitas misalnya Lumnitzera. Pasang surut juga memberikan kontribusi bagi
perubahan massa air tawar dan air asin, yang akhirnya memberikan pengaruh terhadap
perubahan dan penyebaran jenis-jenis mangrove (Hilmi, 2005).
Pengaruh sifat fisik kimia tanah dan air tersebut dapat menggambarkan kondisi
vegetasi dan zonasi mangrove di suatu wilayah atau pulau. Berdasarkan pada adaptasi
dan perubahan kondisi lingkungan akan dapat menentukan zonasi mangrove, selanjutnya
distribusi spasial (vegetasi dan lingkungan) dapat disusun. Ini diperoleh dengan cara
membuat modeling antara vegetasi mangrove dan kondisi lingkungan yang dalam hal ini
tekstur tanah, salinitas dan pasang surut air laut.
Plawangan Barat, Segara Anakan merupakan laut yang dipisahkan oleh Pulau
Nusakambangan dari Samudra Hindia, sehingga merupakan rawa payau. Hal ini
menyebabkan pengaruh daratan berperan sangat dominan dalam proses pengendapannya
sehinggga material-material yang ada di Segara Anakan merupakan sedimen rawa yang
berupa lempung dan lanau yang bercampur dengan material organis dan membentuk
dataran alluvial. Di dalam ekosistem laguna Segara Anakan dicirikan oleh keberadaan
hutan mangrove, pulau-pulau timbul dan endapan sedimen muara sungai. Karena proses
akumulasi transpor material sungai yang kontinue menjadikan kawasan Segara Anakan
menjadi kawasan ekosistem pesisir yang berubah secara dinamis. Oleh karena itu kajian
mengenai zonasi mangrove akibat perubahan tekstur tanah, salinitas dan pasang surut
perlu dilakukan di Plawangan Barat Segara Anakan Cilacap. Hal inilah yang mendorong
penulis untuk melakukan kajian tentang zonasi mangrove akibat perubahan tekstur tanah,
salinitas dan pasang surut air laut di Segara Anakan Cilacap.

Tujuan
Tujuan dari tulisan ini adalah : untuk mengetahui potensi zonasi di Segara Anakan
dan untuk membangun model hubungan antara faktor lingkungan dengan zonasi
mangrove.

METODE PENELITIAN

Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai bulan Maret 2008 di
Plawangan Barat Segara Anakan Cilacap. Pengamatan sampel dilakukan di Laboratorium
Perairan Tawar, Program Sarjana Perikanan dan Kelautan, serta di Laboratorium Ilmu
Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman.
Variabel Penelitian
Variabel yang diamati adalah model zonasi mangrove yang meliputi jumlah jenis
dan jumlah individu tiap spesies mangrove serta tekstur tanah, salinitas dan pasang surut,
dengan varaibel pendukungnya adalah sifat fisik kimia air dan tanah yang meliputi
temperatur, pH air dan tanah, oksigen terlarut, DHL dan C-organik.

Analisis Data
1. Analisis faktor lingkungan. Dengan mengukur tekstur tanah, salinitas, pasang surut,
dan variabel kualitas air seperti suhu air, pH, DHL, C organik dan oksigen terlarut.
2. analisis zonasi mangrove : analisis tingkat kerapatan, analisis vegetasi, dan analisis
keanekaragaman hayati dengan indeks shanon wiener dan margaleff.
3. Analisis Spasial, dengan menggunakan perangkat arc view 3.2 version.
4. Analisis hubungan dengan menggunakan software data fit.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1.Faktor Lingkungan Zonasi Mangrove di Segara Anakan


Faktor lingkungan pada zonasi mangrove di daerah Segara Anakan Cilacap Jawa
Tengah terdiri dari :
 Potensi Tekstur Tanah
Hasil pengukuran tekstur tanah yang diperoleh di Plawangan Barat, Segara
Anakan untuk debu pada stasiun I sampai V berkisar 28,73-33,70% dengan rataan
30,70±2,04. Nilai liat pada stasiun I sampai V berkisar 66,22-71,19% dengan rataan
69,17±2,09, sedangkan untuk pasir pada stasiun I sampai V berkisar 0,08-0,28% dengan
rataan 0,14±0,08 dapat dilihat pada Gambar 1.
0.28 0.14 0.11 0.08 0.08
100

80

Tekstur Tanah (%)

66.22
68.38
69.12

70.92

71.19
60
Pasir
40 Liat

31.51

33.7
28.94

28.73
20 Dedu

30.6
0
St-I St-II St-III St-IV St-V
Stasiun

Gambar 1. Kondisi tekstur tanah masing-masing stasiun di Plawangan Barat Segara


Anakan, Cilacap.

 Potensi Salinitas Tanah


Hasil pengukuran salinitas air yang di peroleh di Plawangan Barat, Segara Anakan
mempunyai kisaran nilai 7,4-15,75 ppt dengan rataan sebesar 13,74±3,56. Nilai salinitas
masing-masing stasiun sebagai berikut: stasiun I, II, III, IV dan V mempunyai nilai 15
ppt; 15,75 ppt; 15,4 ppt; 15,17 ppt; dan 7,4 ppt (Gambar 2).

30
25
Salinitas (ppt)

20
15
10
5
0
St-I St-II St-III St-IV St-V
Stasiun

Gambar 2. Nilai salinitas masing-masing stasiun di Plawangan Barat, Segara Anakan,


Cilacap.

 Potensi Pasang Surut


Hasil pengukuran pasang surut yang di peroleh di Plawangan Barat, Segara
Anakan mempunyai kisaran nilai 1,2-1,4 m dengan rataan sebesar 1,3±0,1. Nilai pasang
surut masing-masing stasiun sebagai berikut: stasiun I, II, III, IV dan V mempunyai nilai
1,4 m; 1,19 m; 1,34 m; 1,35 m; dan 1,2 m (Gambar 3).
2

Pasang Surut (m)


1.5

0.5

0
St-I St-II St-III St-IV St-V
Stasiun

Gambar 3. Nilai pasang surut masing-masing stasiun di Plawangan Barat, Segara Anakan,
Cilacap.
2 4 6 8 10 12
0 0

PETA SEBARAN TEKSTUR TANAH


DI PLAWANGAN BARAT SEGARA ANAKAN
CILACAP

N
m

-2
eu

-2
be u r
S.Ci

a ga k

Desa Panikel

Gambar 4. Peta sebaran tekstur tanah di Plawangan Barat Segara Anakan Cilacap
Legenda:
gg
U ju n

-4 -4 Sungai
D esa

Batas kawasan
kan

Mangrove (Perhutani)
Ana
a ra

Nusakambangan
Seg

Desa Binangun Pemukiman


una

-6 -6
L ag

Perairan
ng

Substrat:
g a la

Desa Klaces
ju n

Debu
S.U

-8 S. Dangan -8
Liat
Pasir
DesaDesa
Ujungalang
Ujungalang

S. Kembangkuning
Nusakambangan Ketapang
Sumber:
- Peta Batas Kawasan Segara Anakan Cilacap, Skala 1:170.000
-10 -10- Peta Hutan Mangrove Segara Anakan Cilacap, Tahun 2005
- Peta Tata Ruang Kawasan Segara Anakan Cilacap
Lapongpucung
Pembuat:
Erla Supriyana

2 4 6 8 10 12
80 0 80 160 Miles
2 4 6 8 10 12
0 0

PETA SEBARAN SALINITAS


DI PLAWANGAN BARAT SEGARA ANAKAN
CILACAP

N
m

-2
eu

-2
be u r
S.Ci

a ga k

Desa Panikel
Legenda:
gg

Sungai
U ju n

Gambar 5. Peta sebaran salinitas di Plawangan Barat Segara Anakan Cilacap


-4 -4 Batas kawasan
D esa

Mangrove (Perhutani)
kan
Ana

Nusakambangan
a ra

Pemukiman
Seg

Desa Binangun Perairan


una

-6 -6
L ag

ng

Salinitas:
g a la

Desa Klaces
1 - 8 ppt
ju n
S.U

9 - 12 ppt
-8 S. Dangan -8
13 - 17 ppt
Desa Ujungalang

S. Kembangkuning Sumber:

-10
Nusakambangan Ketapang
- Peta Batas Kawasan Segara Anakan Cilacap, Skala 1:170.000
-10 - Peta Hutan Mangrove Segara Anakan Cilacap, Tahun 2005
- Peta Tata Ruang Kawasan Segara Anakan Cilacap
Lapongpucung
Pembuat:
Erla Supriyana

2 4 6 8 10 12
80 0 80 160 Miles
2 4 6 8 10 12
0 0

PETA SEBARAN PASANG SURUT


DI PLAWANGAN BARAT SEGARA ANAKAN
CILACAP

N
eum

-2 -2
be u r
S.Ci

a ga k

Desa Panikel
Legenda:
gg

Gambar 6. Peta sebaran pasang surut di Plawangan Barat Segara Anakan Cilacap
U ju n

-4 -4 Sungai
Batas kawasan
D esa

kan

Mangrove (Perhutani)
Ana

Nusakambangan
a ra
Seg

Desa Binangun Pemukiman


una

-6
-6
Perairan
L ag

ng
g a la

Desa Klaces
Pasang surut:
ju n

Tidak terdeteksi
S.U

-8 S. Dangan -8 <1m
Desa Ujungalang
>1m

S. Kembangkuning Sumber:

-10
Nusakambangan Ketapang
- Peta Batas Kawasan Segara Anakan Cilacap, Skala 1:170.000
-10 - Peta Hutan mangrove Segara Anakan Cilacap, Tahun 2005
- Peta Tata Ruang Kawasan Segara Anakan Cilacap
Lapongpucung
Pembuat:
Erla Supriyana

2 4 6 8 10 12
80 0 80 160 Miles
2.Karakteristik Vegetasi

 Tingkat Kerapatan Vegetasi Mangrove


Berdasarkan analisis vegetasi, kerapatan mangrove di Plawangan Barat, Segara
Anakan Cilacap rata-rata untuk pohon 6290±2175,55 ind/ha. Kerapatan pancang rata-rata
77920±33721,68 ind/ha dan kerapatan semai 455000±174902 ind/ha (Tabel 2.)
Tabel 3. Kerapatan vegetasi mangrove kategori pohon, pancang dan semai per hektar
masing-masing stasiun di Plawangan Barat, Segara Anakan
Stasiun
Kerapatan Rata-rata StDev
I II III IV V
Pohon 6750 3700 7500 9000 4500 6290 2175,6
Pancang 132000 57600 80000 76800 43200 77920 33721,7
Semai 462500 300000 687500 555000 270000 455000 174902

 Keanekragaman Hayati
Hasil perhitungan indek keragaman (H’) yang di peroleh di Plawangan Barat
Segara Anakan pada stasiun I sampai V berkisar 1,50-2,07 dengan rataan 1,77±0,22. Nilai
indek keragaman masing-masing stasiun sebagai berikut: stasiun I, II, III, IV dan V
mempunyai nilai sebesar 1,91; 1,69; 2,07; 1,50; dan 1,68. Secara umum nilai indek
keragaman masing-masing stasiun dapat dilihat pada Gambar 9.

2.5
Indek Keragaman (H')

1.5

0.5

0
St-I St-II St-III St-IV St-V
Stasiun

Gambar 9. Indek keragaman (H’) tiap jenis vegetasi mangrove tingkat pohon masing-
masing stasiun di Plawangan Barat.
2 4 6 8 10 12
0 0
PETA KERAPATAN MAGROVE
DI PLAWANGAN BARAT SEGARA ANAKAN
CILACAP

N
m

-2
eu

-2
be u r
S.Ci

ga k

Desa Panikel
Legenda:
gg a

Gambar 8. Peta kerapatan mangrove di Plawangan Barat Segara Anakan Cilacap


Sungai
U ju n

-4 -4
Batas kawasan
D esa

Mangrove (Perhutani)
kan
Ana

Nusakambangan
a ra
Seg

Pemukiman
Desa Binangun
una

-6 -6 Perairan
L ag

Kerapatan :
ng
g a la

Desa Klaces Jarang


ju n
S.U

Sedang
-8 S. Dangan -8
Rapat
Desa Ujungalang

Sumber:
S. Kembangkuning - Peta Batas Kawasan Segara Anakan Cilacap, Skala 1:170.000

-10
Nusakambangan Ketapang
- Peta Hutan Mangrove Segara Anakan Cilacap, Tahun 2005
-10- Peta Tata Ruang Kawasan Segara Anakan Cilacap
Lapongpucung Pembuat:
Erla Supriyana

2 4 6 8 10 12
80 0 80 160 Miles
3.Zonasi Mangrove

 Zonasi Salinitas
Hasil analisis indek nilai penting jenis vegetasi mangrove dan kelas salinitas
masing-masing stasiun di Plawangan Barat, Segara Anakan Cilacap dapat digolongkan
menjadi dua zona yaitu, zona I dengan kisaran salinitas 1–10 ppt dan zona II dengan
kisaran salinitas 11-20 ppt. Secara umum pembagian zonasi berdasarkan indek nilai
penting dan kelas salinitas masing-masing stasiun dapat dilihat pada Tabel 3
Tabel 3. Zonasi mangrove berdasarkan kelas salinitas dan indek nilai penting masing-
masing stasiun di Plawangan barat Segara Anakan
Salinitas Jenis Lain
Zona Jenis Dominan Ket
(ppt) (Kodominan)
- S. alba
I 0 – 10 - N. fruticans - A. marina Stasiun V
- R. apiculata
- S. alba
- B. gymnorrhiza - R. apiculata Stasiun I
- R. mucronata
- R. mucronata
- S. alba - R. apiculata Stasiun II
- A. alba
II 11 - 20
- R. apiculata
- R. mucronata - A. alba Stasiun III
- B. gymnorrhiza
- A. alba
-A. marina - S. alba Stasiun IV
- R. apiculata

Tabel 3, terlihat bahwa zonasi mangrove berdasarkan kelas salinitas dapat


digolongkan menjadi dua zona yaitu, (1) zona I dengan kelas salinitas 0-10 ppt, zona ini
terdapat pada stasiun V. Zona ini didominasi oleh jenis N. fruticans (INP= 57,78). Jenis
lain yang diketemukan di zona ini antara lain S. Alba (INP= 40), A. marina (INP= 35,56)
dan R. apiculata (INP= 31,11). (2) zona II dengan kelas salinitas 11-20 ppt, zona ini
terdapat pada stasiun I sampai IV. Zona ini didominasi oleh B. gymnorrhiza (INP=
51,85), S. Alba (INP= 59,46), R. mucronata (INP= 40) dan A. marina (INP= 73,33). Jenis
lain yang diketemukan di zona ini antara lain S. Alba, R. apiculata, R. mucronata, A. alba
dan B. gymnorrhiza.
 Pola Zonasi berdasarkan Potensi Dominasi Tanaman
Berdasarkan Potensi dominasi tanaman maka zonasi hutan mangrove di
Plawangan Barat Segara Anakan secara umum dapat dibedakan menjadi 3 zona
berdasarkan jenis pohon yang dominan, yaitu zona Avicenia-Sonneratia, Rhizophora-
Sonneratia, dan Rhizophora-Bruguiera. Pola zonasi hutan mangrove di Plawangan Barat
adalah sebagai berikut:
a. Zonasi I Avicennia- Sonneratia
Zona Avicenia-Sonneratia merupakan zona komunitas mangrove yang paling luar
dan langsung berhadapan dengan perairan Segara Anakan. Jenis yang dijumpai pada
daerah ini didominasi oleh A. marina, A. alba, dan S. alba. Tekstur yang ada di bawah
tegakan pada zona ini adalah liat dengan endapan lumpur yang sudah agak lebih padat.
Hal ini sesuai dengan pendapat Watson (1928) dan Anwar (1984) dalam Hilmi (2005),
zonasi yang terdekat dengan laut akan dikuasai oleh Avecennia spp. dan Soneratia spp.
yang bertindak sebagai pionir karena sifat anakannya yang memerlukan cahaya langsung.
Avecennia merupakan jenis yang memiliki kemampuan untuk bertoleransi terhadap
kisaran salinitas yang luas dibandingkan dengan jenis yang lain. Macnae (1966)
mengemukakan bahwa Avecennia marina memiliki kemampuan untuk tumbuh baik pada
kisaran tawar sampai dengan 90 0/00.
b. Zonasi II Rhizophora – Sonneratia
Zona Rhizophora-Sonneratia merupakan zona kedua dibelakang zona Avicenia-
Sonneratia. Jenis yang dijumpai pada daerah ini didominasi oleh R. mucronata, A. alba
dan S. alba. Tekstur yang ada di bawah tegakan pada zona ini adalah liat dengan endapan
lumpur yang masih lunak yang terendap oleh pasang surut. Hal ini sesuai dengan
pendapat Tee (1982) dalam Budiman (1992), bahwa Rhizophora dan Avicennia umumnya
tumbuh baik pada tanah dengan fraksi liat dan lumpur.
c. Zonasi III Rhizophora – Bruguiera
Zona Rhizophora-Bruguiera merupakan wilayah hutan mangrove yang tumbuh
lebih ke darat, terutama di sepanjang pinggiran sungai-sungai besar dan kecil yang
bermuara ke perairan Segara Anakan. Rhizophora spp. dan Bruguiera spp. merupakan
pohon-pohon pembentuk tajuk utama dalam zona ini. Lebih lanjut jenis-jenis yang
banyak dijumpai di zona ini adalah R. Apiculata, R. mucronata, B. gymnoriza,
Xylocarpus spp., A. officinalis. Pada zona ini juga dijumpai jenis tumbuhan bawah, yaitu
A. ilicifolius dan Aegiceras corniculatum. Tekstur yang ada di bawah tegakan pada zona
ini sudah lebih keras dan kompak (tidak lepas) yang di dominasi oleh faksi liat. Pasang
surut sangat nyata terlihat dengan adanya perubahan permukaan air. Zona peralihan
pasang surut dan pinggiran sungai di hutan mangrove dijumpai vegetasi nipah (N.
fructicans) yang tumbuh bercampur dengan tegakan mangrove dan umumnya terbentang
di antara daerah payau hingga ke air tawar. Hal ini sesuai dengan pendapat Bengen
(1989), daerah yang lebih ke arah darat, hutan mangrove didominasi oleh Rhizophora sp.
Di zona ini juga dijumpai Bruguiera sp. Zona transisi hutan mangrove dengan hutan
daratan ditumbuhi oleh Nypa fruticans dan beberapa spesies lainnya.

4.Model Hubungan Kerapatan Mangrove dengan Faktor Lingkungan


Model hubungan antara kerapatan mangrove dengan tekstur tanah, salinitas dan
pasang surut diperoleh dari data yang tertera pada Tabel 5.
Tabel 5. Hubungan antara tekstur tanah (X1), salinitas (X2) dan pasang surut (X3) dengan
kerapatan (Y)

Nilai X1 Nilai X2 Nilai X3 Nilai Y


(tekstur tanah) (salinitas) (pasang surut) (kerapatan)
69,12 15 1,4 6750
70,92 15,75 1,19 3700
68,38 15,4 1,34 7500
71,19 15,17 1,35 9000
66,22 7,4 1,2 4500

Tabel 6. Hasil pengolahan data dengan menggunakan software Data Fit version 7.1.44 di
areal hutan mangrove Plawangan Barat, Segara Anakan.

Y X Model R2
Y= 491,652 X(Tekstur liat) + 21673,130 X(Salinitas) –
Kerapatan tekstur, salinitas dan pasut 0,7155
412,260 X(Pasang surut) – 49912,9
Berdasarkan Tabel 5 dan 6. terlihat bahwa hasil analisis untuk vegetasi mangrove
di Plawangan Barat Segara Anakan, model dengan respon tekstur tanah, salinitas dan
pasang surut dengan variabel kerapatan ternyata diperoleh koefisien determinannya
sebesar 0,7155, artinya bahwa variabel tekstur tanah, salinitas dan pasang di dalam proses
analisis dapat dijelaskan oleh variabel kerapatan sebesar 71,55%, sedangkan sisanya
28,45% ditentukan oleh faktor lain. Dilihat dari hasil analisis variabel tekstur, salinitas
dan pasang surut menunjukan respon yang baik di dalam mempengaruhi vegetasi
mangrove di arel hutan mangrove Plawangan Barat, Segara Anakan.
Hubungan kerapatan mangrove dengan lingkungan seperti tekstur tanah, salinitas
dan pasang surut tidak menunjukkan hubungan yang linear. Hal ini diduga karena
kerapatan mangrove dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu, keadaan pasang-surut dan
genangan air laut secara periodik mempengaruhi ketersediaan unsur hara. Hal lain yang
menjadi penyebab adalah dampak yang ditimbulkan oleh perubahan masukan dari
ekosistem air tawar. Perubahan masukan ini dapat berupa meningkatnya sedimentasi dan
berkurangnya masukan unsur hara (nutrient) yang terjadi secara simultan. Secara alami
masukan air tawar dari atas ekosistem mangrove sangat diperlukan sebagai salah satu
sumber unsur hara (nutrient) selain air hujan untuk pertumbuhan.
Hasil pengamatan mengindikasikan bahwa masukan air tawar ke dalam
eksosistem mangrove lebih banyak sehingga menyebabkan pengaruh terhadap jenis
vegetasi mangrove. Menurut informasi penduduk setempat, pada saat musim hujan,
Sungai Citanduy dan beberapa anak sungai kecil seperti Sungai Cibeureum, Kayu Mati
dan Cikujang yang bermuara di kawasan Plawangan Barat sering meluap (banjir) dengan
warna air berubah menjadi coklat-keruh. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi
ekosistem daerah atas (upland) telah mengalami sedimentasi. Sedimentasi dari daerah
hulu ke hutan mangrove menyebabkan terjadinya perubahan komposisi jenis vegetasi
hutan mangrove, karena meningkatnya tinggi permukaan lahan, sehingga keberadaan
lahan yang semula terkena pengaruh pasang surut (tergenang air payau) menjadi tidak
tergenang air payau.
2 4 6 8 10 12
0 0

PETA ZONASI MANGROVE


DI PLAWANGAN BARAT SEGARA ANAKAN
CILACAP

N
eum

-2 -2
be u r
S.Ci

a ga k

Desa Panikel
Legenda:
gg

Sungai
U ju n

Gambar 11. Peta zonasi mangrove di Plawangan Barat Segara Anakan Cilacap
-4 -4
Batas kawasan
D esa

Mangrove (Perhutani)
kan
Ana

Nusakambangan
a ra
Seg

Desa Binangun
Pemukiman
una

-6
-6 Perairan
L ag

ng
g a la

Desa Klaces Zonasi:


ju n

Zona I
S.U

-8 S. Dangan -8 Zona II
Desa Ujungalang Zona III

S. Kembangkuning
Nusakambangan Ketapang Sumber:
-10 -10 - Peta Batas Kawasan Segara Anakan Cilacap, Skala 1:170.000
Lapongpucung - Peta Hutan Mangrove Segara Anakan Cilacap, Tahun 2005
- Peta Tata Ruang Kawasan Segara Anakan Cilacap

Pembuat:
Erla Supriyana

2 4 6 8 10 12
80 0 80 160 Miles
DAFTAR PUSTAKA

Aksornkae, S. 1993. Ecology and Management of Mangrove. IUCN, Bangkok.


Thailand.

Bengen, D. G. 1989. Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem mangrove. IPB. Bogor.

. 2000. Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir. Pusat Kajian


Sumberdaya Pesisir dan Lautan. ITB. Bogor, Indonesia.

. 2001. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem


Mangrove. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. ITB. Bogor,
Indonesia.

Budiman, A dan Suhardjono. 1992. Penelitian Hutan Mangrove di Indonesia:


Pendayagunaan dan Konservasi. Prosiding Lokakarya Nasional Penyususnan
Program Penelitian Biologi Kelautan dan Proses Dinamika Pesisir. UNDIP.
Semarang.

Clarke, L. D. & N. J. Hannon. 1967. The mangrove swamp and salt marsh
communities of the Sydney district. I. vegetation, soil and climate. J. Ecol 55:
753-771.

Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. 1997. Inventarisasi dan


Identifikasi Hutan Mangrove di 5 Propinsi. Departemen Kehutanan. Jakarta.

Hilmi, E. 2005. Ekologi Mangrove Pendekatan Karakteristik, Statistik dan Analisis


Sistem Bagi Suatu Ekosistem. PSPK, UNSOED. Purwokerto.

Jurusan Tanah. 1996. Penuntun Praktikum Dasar Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Kennish, M. J. 1990. Ecology of Estuaries. Vol 2. Biology Aspect. CRC Press, Boca
Raton, Boston.

Kusmana, C. 1995. Manajemen Hutan mangrove di Indonesia. Lab Ekologi


Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Mangrove. 1998. Rancangan Sistem


Pengelolaan Hutan Bakau Segara Anakan Kabupaten Dati II Cilacap Jawa
Tengah. Jakarta.
Lugo, A. E & S. C. Snedaker. 1974. The ecology of mangroves. Ann. Rev. Ecol. Syst.
5: 39-64.

Macnae, W. 1966. Mangroves in eastern and southern Australia. Austr. J. Bot. 14: 67-
107.

Magurran, A. E. 1955. Ecological Diversity and Its Measurement. Princeton


University Press. United Stated of America.

Noor, Y. S., Khazali, M. dan Suryodiputro, N. N. N. 1999. Panduan Pengenalan


Mangrove di Indonesia. PKA/WI-IP. Bogor. 220 hal.

Purwanto, E. 1997. Pengaruh Perubahan Air Terhadap Komunitas Zoobentos Makro


Sungai Kampar Kabupaten Kampar Propinsi Riau. Program Pascasarjana. IPB,
Bogor.

Sahri, A. 1998. Studi Penyerapan Garam NaCl dari Rhizophora mucronnata,


Bruguiera gymnnostera dan Avicennia marina pada Beberapa Tingkat
Salinitas yang Berbeda. Thesis pada Program Pasca Sarjana IPB. Bogor.

Supriharyono. 2000. Pelestarian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di Wilayah Pesisir


Tropis. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta, Indonesia.