P. 1
Analisis Etalase Potensi Sumberdaya Ekosistem Pesisir

Analisis Etalase Potensi Sumberdaya Ekosistem Pesisir

4.5

|Views: 2,649|Likes:
Dipublikasikan oleh endanghilmi

More info:

Published by: endanghilmi on Feb 03, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

04/14/2013

ANALISIS ETALASE POTENSI SUMBERDAYA EKOSISTEM PESISIR (Studi Kasus di Kabupaten Bengkalis Riau)1 Endang Hilmi, Dr, Ir, MSi 2, Parengrengi

, S.Pi, M.Si3, Usman M Tang, Prof,Dr3, Ir.Muhamad Fadlan, M.Si4 Abtrak Ekosistem pesisir merupakan suatu ekosistem yang dipengaruhi oleh ekosistem laut dan ekosistem daratan. Ekosistem ini sangat unik karena terdiri dari ekosistem terestrial (daratan) dan ekosistem akuatik (perairan), namun juga sangat rentan akan kerusakan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya ekosistem terestrial yang rusak terutama ekosistem mangrove, dan banyaknya ekosistem akuatik yang rusak seperti habitat udang, kerang dan kepiting. Kabupaten bengkalis merupakan kabupaten pesisir yang memiliki potensi ekosistem pesisir yang lengkap mulai dari ekosistem mangrove, ekosistem laut, ekosistem muara sungai dan estuarian dan ekosistem rawa baik rawa air tawar maupun payau. Analisis etalase potensi sumberdaya ekosistem pesisir dibangun dengan tujuan untuk menganalisis potensi sumberdaya yang terdiri dari potensi flora dan fauna, potensi fisik, potensi sumberdaya hayati laut dan pesisir, potensi ekonomi, permasahan dan arahan pengembangan. Metode yang digunakan adalah pendekatan analisis keanekaragaman hayati, analisis ekonomi dan analisis AHP dalam membangun arahan pengembangan. Jenis fauna yang terdapat di perairan air tawar adalah ikan sipaku (Cyclocheilichthys apogon), pitulu (Barbichthys laevis), barau (Hampala macrolepidota), paweh (Osteochilus kahajanens), sedangkan jenis fauna laut diantaranya adalah ikan tenggiri (Scomberomorus sp), senangin (Eleutheronemai sp), kerapu (Epnephelus spp.). kakap (Lates sp.) Potensi plankton memiliki jenis antara 12 – 40 jenis. Potensi flora mangrove adalah Alstonia sholaris, Avicennia alba, Avicennia marina, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera praviflora, Bruguiera sp,, Oncosperma tiggilarium, Pandanus tectorius, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Satiria lawigata, Sonneratia alba, Sonneratia caseolaris, Thespesia sp. , dan Xylocarpus granatum, Potensi ekonomi adalah dijadikannya sumberdaya pesisir untuk potensi cerucuk, arang bakau, nibung dan potensi satwa. Sedangkan potensi ekonomi untuk sektor perikanan dari potensi sumberdaya ikan, dengan menghitung peluang usaha dan produktivitasnya. Analisis pilihan priotitas dilakukan untuk semua sumberdaya alam dengan memperhatikan fungsi terutama fungsi fisik yang terdiri dari kemampuan mencegah erosi, aberasi, banjir, sedimentasi, interusi, kemudian fungsi ekologi yang terdiri dari habitat ikan, burung, dan tanaman mangrovem serta fungsi sosial yang terdiri dari potensi lapangan pekerjaan, pemukiman dan akses wilayah. Dari analisis ini apakah sebaiknya potensi pesisir dijadikan sebagai areal jalur hijau, konservasi atau hutan produksi. Keyword : etalase pesisir, mangrove, analisis ekonomi, analisis prioritas
1 2

Konferensi nasional VI Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut 27 -29 Agustus 2008 Dosen Program Studi Perikanan dan Kelautan Fakultas Sain dan Teknik Unsoed 3 Dosen Fakultas Perikanan Unri 4 Dinas Perikanan dan Kelautan kabupaten Bengkalis

PENDAHULUAN Latar Belakang Ekosistem pesisir merupakan suatu ekosistem yang dipengaruhi oleh ekosistem laut dan ekosistem daratan. Ekosistem yang disusun oleh beberapa ekosistem utama seperti ekosistem mangrove, ekosistem rawa, ekosistem laut dangkal, ekosistem gambut, ekosistem estuaria, dan ekosistem pantai. Ekosistem mangrove merupakan ekosistem penyusun utama dari ekosistem pesisir pada ekosistem terestrial, sedangkan ekosistem laut dangkal merupakan penyusun utama dari ekosistem pesisir dari ekosistem aquatik. Ekosistem mangrove merupakan suatu ekosistem yang terdapat didaerah-daerah yang selalu atau secara teratur tergenang pasang surut, tapi tidak tergantung oleh iklim. Ekosistem hutan mangrove juga merupakan suatu komunitas yang adaptif terhadap kondisi lingkungan yang berair, kondisi salinitas yang rendah sampai sedang dan tinggi dan terdapat pada kondisi habitat tanah lumpur, pasir, atau lumpur berpasir. Mangrove merupakan vegetasi yang khas di zonasi pantai, floranya berhabitus semak hingga berhabitus besar dengan tinggi hingga 50 – 60 m, dan hanya mempunyai satu stratum tajuk. Potensi sumberdaya alam dan jasa lingkungan di wilayah pesisir dan laut di satu sisi dan anggapan bahwa wilayah pesisir dan laut itu sebagai milik umum (common property) dan terbuka untuk umum (open access) di sisi lain saat ini telah memicu konversi dalam pemanfaatan sumberdaya tersebut dan pada gilirannya akan menimbulkan konflik, berupa konflik ruang dan konflik kegiatan. Adanya konflik tersebut akan mengakibatkan berkurangnya efektifitas pengelolaan dan terjadinya degradasi kualitas dan kuantitas lingkungan ekosistem wilayah pesisir dan laut. Konflik terjadi akibat kepentingan berbagai sektor baik sektor kehutanan, sektor perkebunan, sektor transportasi dan perhubungan, sektor wisata, sektor perikanan, sektor industri dan pemukiman. Untuk itu Ekosistem pesisir, selain sangat unik karena terdiri dari ekosistem terestrial (daratan) dan ekosistem akuatik (perairan), namun juga sangat rentan akan kerusakan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya ekosistem terestrial yang rusak terutama

ekosistem mangrove, adanya pencemaran, adanya konversi, adanya ilegal logging, ilegal fishing dan aktivitas lainnya telah menyebabkan banyaknya ekosistem akuatik yang rusak seperti habitat udang, kerang dan kepiting, berkurangnya ekosistem mangrove dan ekosistem pesisir lainnya.. Salah satu kabupaten pesisir yang memiliki keunikan yang khas adalah Kabupaten Bengkalis. Kabupaten bengkalis merupakan kabupaten pesisir yang memiliki potensi ekosistem pesisir yang lengkap mulai dari ekosistem mangrove, ekosistem laut, ekosistem muara sungai dan estuarian dan ekosistem rawa baik rawa air tawar maupun payau. Kabupaten Bengkalis merupakan kabupaten yang tersusun dari beberapa pulaupulau kecil dan besar. Potensi kepulauan pada kabupaten Bengkalis merupakan suatu potensi sekaligus permasalahan. Hal ini dikarenakan potensi kepulauan ini rawan akan kerusakan. Kerusakan ekosistem mangrove, terjadinya aberasi merupakan suatu masalah yang saat ini telah terjadi di Kabupaten Bengkalis. Kerusakan ekosistem pesisir pada pulau-pulau terluar akan berdampak starategis terhadap batas kontinental dan perairan negara. Kajian tentang etalase potensi sumberdaya pesisir dikabupaten bengkalis untuk memberikan gambaran tentang bagaimana keberadaan ekosistem pesisir di Kabupaten Bengkalis, pilihan usaha apa yang hendaknya dilakukan untuk pengelolaan pesisir, dan apa masalah yang muncul jika ekosistem pesisir ini rusak. Tujuan Tujuan dari makalah ini adalah untuk (1) memberikan gambaran tentang potensi ekosistem pesisir di Bengkalis, (2) memberikan gambaran tentang tingkat keankeragaman hayati pada ekosistem pesisir dan potensi fisik wilayah, (3) memberikan gambaran tentang potensi ekonomi, dan (4) etalase dan pilihan kegiatan METODE PENELITIAN Lokasi Kegiatan Kegiatan ini dilakukan di Ekosistem Pesisir Kabupaten Bengkalis pada Tahun 2007. Kegiatan yang dilakukan melalui tahapan analisis survey, pengisian kuisioner dan analisis laboratorium di Laboratorium kualitas air Fakultas Perikanan UNRI dan laboratorium tanah IPB.

Jenis Data Jenis data yang diambil adalah (1) data ekosistem mangrove, (2) data ekosistem perikanan, (3) data ekosistem laut, (4) data lingkungan, (5) data sosial ekonomi, dan (6) data issue dan permasalahan. Prosedur penelitian Tahapan kegiatan yang dilakukan dalam penyusunan Etalase Sumberdaya Hayati Perikanan dan Kelautan adalah sebagai berikut : 1. Inventarisasi Luas dan Potensi sumberdaya hayati perikanan dan kelautan. 2. Inventarisasi kondisi ekonomi dan ekologi sumberdaya hayati perikanan dan kelautan 3. Inventarisasi permasalahan sumberdaya hayati perikanan dan kelautan 4. Membangun prioritas dari kegiatan pengelolaaan sumberdaya hayati perikanan dan kelautan. 5. Membangun Rekomendasi dan arahan pengembangan kegiatan pengelolaan sumberdaya hayati perikanan dan kelautan Analisis Penelitian Analisis penelitian dilakukan dengan berbagai tahapan yaitu : 1. Analisis Citra Satelit dan Pengelolaan Sistem Informasi Geografis Analisis citra dilakukan dengan memadukan analisis citra SPOT 5, landsat, dan data non spasial lainnya. arc info. 2. Analisis Sosial ekonomi Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu (i) analisis kuantitatif dan (ii) kualitatif. Analisis kuantitatif dipergunakan untuk menganalisis data-data statistik yang tersedia, baik yang bersifat data series maupun data tunggal, sedangkan analisis kualitatif dipergunakan untuk menganalisis data dan informasi yang bersifat non parametrik yang bersifat deskriptif seperti kebijakan dan situasi spesifik lokal 3. Analisis Etalase Mangrove Citra yang dianalisis adalah citra bengkalis tahun 2005. Sedangkan pengolahan sistem informasi geografis menggunakan software arc view dan

Analisis dilakukan melalui kegiatan Analisis Vegetasi Ekosistem mangrove, analisis indeks nilai penting, indeks keankeragaman hayati, analisis potensi ekonomi mangrove, analisis industri berbasis mangrove, dan membangun prioritas mangrove. 4. Analisis etalase perikanan tangkap Analisis dilakukan dengan kegiatan Inventarisir potensi perikanan tangkap, Inventarisir areal fishing ground dan penggunaan alat tangkap,Menghitung stoking sektor perikanan, Inventarisir Potensi ekonomi dari Perikanan tangkap, Inventarisir industri yang berbasis Perikanan tangkap, Membangun prioritas kegiatan pengelolaan kegiatan Perikanan tangkap dan Membangun rekomendasi pengelolaan kegiatan pada Perikanan tangkap 5. Analisis etalase perikanan Budidaya Analisis dilakukan dengan kegiatan Inventarisir potensi perikanan budidaya, Inventarisir areal fishing ground dan penggunaan alat budidaya,Menghitung stoking sektor perikanan, Inventarisir Potensi ekonomi dari Perikanan budidaya, Inventarisir industri yang berbasis Perikanan budidaya, Membangun prioritas kegiatan pengelolaan kegiatan Perikanan budidaya dan Membangun rekomendasi pengelolaan kegiatan pada Perikanan budidaya 6. Analisis etalase perikanan Pasca Panen Analisis dilakukan dengan kegiatan Inventarisir potensi perikanan pasca panen, Inventarisir areal fishing ground dan penggunaan alat pasca panen,Menghitung stoking sektor perikanan, Inventarisir Potensi ekonomi dari Perikanan pasca panen, Inventarisir industri yang berbasis Perikanan pasca panen, Membangun kegiatan pada Perikanan pasca panen prioritas kegiatan pengelolaan kegiatan Perikanan pasca panen dan Membangun rekomendasi pengelolaan

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi penutupan mangrove di Kabupaten Bengkalis Kondisi penutupan Potensi Luas Wilayah Kabupaten Bengkalis yang berhasil dianalisis melalui kegiatan citra satelit bahwa luas kabupaten Bengkalis berdasarkan kecamatan pesisir dapat dilihat pada Tabel 1 dan Gambar 1 Tabel 1. Luas Ekosistem Mangrove di Kabupaten Bengkalis
LUAS (ha) 12784 5806 5584 4258 6721 9649 744 2215 3452 898 52111 KECAMATAN Rupat Utara Rupat Bantan Bengkalis Merbau Rangsang Barat Rangsang Tebingtinggi Barat Tebingtinggi Bukit Batu Total Luasan Sumber : Analisis Citra Satelit 2005

Gambar 1.

Luas Ekosistem Mangrove berdasarkan Kelas kerapatan di Kabupaten Bengkalis

Potensi Fisik dan Potensi Flora Fauna Potensi Arus, Letak gugusan pulau-pulau yang relatif memanjang dengan arah Barat Laut – Tenggara mengontrol arus di selat antara dua pulau. Kemudian posisi ujung Selatan Selat Malaka menyebabkan arus utama bergerak dari arah Barat Laut ke dan sebaliknya. Pasang surut dan ferubahan kondisi fisika perairan juga memberi pengaruh pada pola arus yang terjadi di kawasan ini. Secara umum, musim Utara dominan dalam mengontrol arus bergerak ke arah Barat Daya sebelum berbelok ke Tenggara di Khatulistiwa. Pada musim Timur arus secara umum bergerak dari arah Tenggara menuju Barat Laut kemudian berbelok ke arah Timur Laut. Potensi pasang surut, Gelombang pasang yang bersifat hampir semidiurnal (harian ganda) murni dari Laut Andaman yang bergerak perlahan ke Tenggara sepanjang selat. Di ujung Utara selat, karena adanya penyempitan dan pendangkalan selat, amplitudo gelombang pasang membesar untuk kemudian semakin ke Selatan mengecil kembali dengan melebarnya selat. Sementara itu gelombang pasang harian tunggal (diurnal) menjalar dari Laut Cina Selatan ke Barat Laut, sehingga dibagian Selatan selat pengaruh kelompok harian ganda lebih besar, dan mengecil ke arah Utara. Hal yang sama tentunya terjadi pada arus lautnya. Perbedaan tinggi pasang surut di perairan Kabupaten Bengkalis mencapai 3,1 meter. Gelombang, Gelombang datang dari arah darimana datangnya hembusan angin pada berbagai kecepatan yang menghasil tinggi gelombang yang bervariasi. Tinggi gelombang maksimum terjadi pada musim Utara (Desember – Maret) yang dapat mencapai 1,5 meter sedangkan pada musim lain sekitar 0,5 meter. Gelombang laut digerakkan oleh angin sehingga kondisi gelombang musiman sangat dipengaruhi oleh kondisi anginnya. Kondisi gelombang di wilayah studi berkaitan erat dengan kondisi angin yang sangat dipengaruhi oleh dua musim, yakni musim Barat Daya yang berlangsung dari bulan Mei sampai Oktober dan musim Timur Laut selama bulan Nopember sampai April. Pada saat musim Timur Laut umumnya angin kencang sering sekali bertiup dengan kecepatan mencapai 10 knot. Angin ini dapat menghasilkan gelombang laut setinggi lebih dari 2 meter

Kedalaman Perairan, Perairan Rangsang dan sekitarnya mempunyai kedalaman antara 5 sampai dengan 25 meter. Kedalaman yang tinggi terdapat pada bagian Timur Laut Rangsang yang termasuk Selat Malaka, yaitu mencapai 25. Potensi Kualitas Air. Potensi Kualitas air secara umum di pesisir kabupaten Bengkalis dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Potensi Kualitas air di Pesisir Kabupaten Bengkalis
Desa Kualitas Perairan Suhu Kec Arus (m/dt) (o C) 29,5 0,0 29,7 0,1 29,9 0,0 30,1 0,2 30,5 0,1 30,2 0,1 30,1 0,2 29,9 0,1 31,5 0,1 -31,7 0,1 Kualitas Perairan DO Ph (mg/l) 5,55 7,8 5,05 7,6 4,57 7,4 5,75 7,6 4,47 7,8 5,01 7,9 4,73 7,7 5,37 7,8 5,24 7,8 7,7 8,1 7,5 8,6 6,8 8,3 6,2 8,4 5,9 8,2 5,53 7,5 Keterangan Kecerah-an (cm) 48 84 130 82 95 93 45 25 72 Kedalam(m) 3,4 6,8 7,2 7,8 22,7 19,7 7,4 8 6 3 4 20 7 3 8 an Cerah, pasang Cerah,pasang Cerah, pasang malam, surut Cerah, pasang Cerah, pasang Cerah, pasang Cerah, pasang Cerah, surut Cerah, pasang Cerah Cerah Cerah surut Cerah Cerah

Tj. Medang Sungai Sibor Kuala Titi Akar Kador Batu Panjang Terkul Sungai Injab Pambang Meskom Kedabu Rapat Kamp.Tengah Tj. Samak Repan Panjang Merbau Desa

Keterangan Conductivity(m/s) 47,38 47,95 48,02 47,28 46,92 45,84 46,90 45,35 43,34 41,3 Salinitas (o/oo) 28,0 28,2 28,1 28,8 26,7 26,6 26,7 24,4 28,7 19 27 26,7

Tj. Medang Sei. Sibor Kuala Titi Akar Kador Batu Panjang Terkul Sungai Injab Pambang Meskom Kedabu Rapat Kamp. Tengah Tj. Samak Repan Panjang Merbau

Cerah, pasang Cerah,pasang Cerah, pasang malam, surut Cerah, pasang Cerah, pasang Cerah, pasang Cerah, pasang Cerah, surut Cerah, pasang Cerah Cerah Cerah, surut Cerah Cerah

Potensi flora dan fauna perairan. Jenis fauna yang terdapat di perairan air tawar adalah ikan sipaku (Cyclocheilichthys apogon), pitulu (Barbichthys laevis), barau (

Hampala macrolepidota), paweh (Osteochilus kahajanens), lelan (O. pleurotaenia), gujam (O. waandersii), mengkarik (O. pentalineatus), nilem (O. hasellti), sepimping (Oxygaster anomarula), subahan (Puntius bulu), kapiek (P. schwanefeldi), seluang(Rasbora argyrotaenia), pantau (R. cephalotaenia), motan (Labiobarbus ocellatus), selais (Cryptopterus sp.), tapah (Wallago lerie), juaro (Pangasius polyuranodon), baung (Mystus nemurus), lele (Clarias batrachus), betok (Anabas testideneus), sepat (Trichogaster sp.), toman (Channa micropeltes), gabus (C. striata), bujuk (C. lucius), gurami (Osphronemus gouramy), tambakan (Helostoma temminckii), tilan (Mastacembelus unicolor), katung (Peristolepis grooti), betutu (Oxyeleotris marmorata), silinca (Polyachantus hasselti). Jenis fauna yang tertangkap di perairan laut dikabupaten Bengkalis adalah ikan tenggiri (Scomberomorus sp), (Eleutheronemai sp), kerapu (Epnephelus spp.). kakap (Lates sp.), senangin parang

(Chirocenthrous sp), bawal (Strometeus sp), belanak (Mugil sp), lomek (Harpodon sp), selar (Selaroides sp), terubuk (Alosa sp), kurau (Polynemus sp), jenak/merah (Lutjanus sp), kelampai/malong (Maraenesox sp), gerok (Pomadasys spp.), gulamah (Pseudosciena sina CV),debuk, talang/daun bambu (Chorinemus sp.), duri (Clarias sp.), biang (Setipinna sp.), sembilang (Plotosus sp.), layur (Trichiuarus sp.), pari (Dasyatis sp.), selangat (Dorosoma sp), belo (Clupea sp), cucut (Carcharinidae), teri (Seteloporus sp), udang rebon (Acetes sp), udang putih (Metapenaeus sp), udang merah (Parapenaeus sp), udang duri (Alphases sp), udang belang dan cumi-cumi (Loligo sp). Fitoplankton di perairan masing-masing desa sampel terdiri dari tiga kelas yaitu, Bacillariophyceae, Cyanophyceae dan Dinophyceae, sedangkan zooplankton terdiri dari tiga empat kelas yaitu Cructaceae, Mullusca, Protozoa dan Rotifera dengan variasi jumlah jenis maksimal dapat mencapai sekitar 32 – 40 jenis Potensi Flora Mangrove. Jenis-jenis yang ditemukan baik pada semai, pancang dan pohon pada ekosistem mangrove di Kabupaten Bengkalis adalah Alstonia sholaris, Avicennia alba, Avicennia marina, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera praviflora, Bruguiera sp, Ceriops decandra, Dyera costulata, Excoecaria agallocha, Heritiera litoralis, Hibiscus tilliaceus, Lumnitzera racemosa, Nifa frutican, Oncosperma tiggilarium, Pandanus tectorius, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Satiria

Bruguiera parviflora

lawigata, Sonneratia alba, Sonneratia caseolaris, granatum

Thespesia sp. , dan Xylocarpus

Potensi Fauna Mangrove, Jenis mamalia yang ditemui di areal hutan adalah berang-berang (Lutra perspicillata), kera (Macacus cynomolgus), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kancil (Tragulus napu), kucing bakau (Felis viverrina), kucing hutan (Felis bilangensis), musang (Paradoxurus hermaphroditus), siamang (Hylobates syndactylus), welisang (Cynogale bennetti), babi hutan (Sus barbatus), bajing (Callociurus notatus), harimau sumatra (Panthera tigris sumatraensis), linsang (Prionodon linsang), musang air (Lutra spp.), lutung (Presbytis cristata), kalong (Pteropus vampyrus), beruang madu (Helarctus malaynus), tikus (Hapalomys sp.), lutung bangat (Presbytis hosei), lutung simpai (Presbytis melalophos). Jenis amphibia dan reptilia adalah biawak (Varanus salvato), buaya (Crocodylus biporatus), katak hijau (Rana cancrivora), bulus (Chitra indica), ular bakau (Trimerecurus pupuremaculatus), ular sanca (Aerochordus granulus), ular sawah (Phyton reticulatus), kadal (Mabuya multifasciata), ular cincin emas (Boiga dendrophila), ular (Cherberus rhynchops), ular daun (Bungarus laticep). Jenis burung adalah bangau putih (Ibis cinerius), bangau tongtong (Leptotilus javanicus), bubut (Centropus belangensis), elang laut (Ictinateus malayensis), elang laut perut putih (Haliaeetus leucogaster), burung layang-layang (Hirundo rustica), enggang (Bucerus rhinoceros), gagak (Corvus enca), kowak merah (Nyticorax caledonicus), kutilang (Pycnonotus aurigaster), kuntul kecil (Agretta garzeta), raja udang (Halcyow chloris), pipit (Lonchura chloris), tekukur (Turtur tigrinus), wilwo (Mycteria cinerea), cangak sumatra (Ardea sumatrana), cangak abu (Ardea cinerea), cangak merah (Ardea purpurea), kokokan laut (Butorides striatus), kokokan (Ixobrychus si nensis), kuntul (Casmeodius abus), kuntul kecil (Egretta garzetta), alap-alap (Pandion haliaetus), camar kecil (Sterna albiforns), camar (Sterno hirundo), cerucuk (Pycnonotus simplex) Potensi Sumberdaya Ekosistem Mangrove Potensi Kerapatan Mangrove, Potensi ekosistem mangrove berdasarkan kelas kerapatan dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Potensi ekosistem mangrove berdasarkan kelas kerapatan di Kabupaten Bengkalis
KECAMATAN Rupat Utara Rupat Bantan Bengkalis 77 Merbau 48 Rangsang Barat 799 Rangsang 644 Tebing Tinggi Barat Tebing Tinggi 994 Total 11660 Sumber : Citra tahun 2006 dan survey lapangan sangat jarang/jarang 3192 5806 LUAS (ha) sedang rapat 9591 5584 4181 6674 2297 2215 2458 33000 total 12783 5806 5584 4258 6722 4506 744 2215 3452 46070 Keterangan

1410

1410

Tingkat kerapatan ekosistem mangrove didasarkan pada berapa tingkat kerapatan pohon/ha. Kerapatan pohon/ha akan berpengaruh pada potensi ekosistem mangrove yang dapat digunakan untuk kegiatan ekonomi lainnya dan seberapa besar potensi kayu yang dapat digunakan. Pada dasarnya potensi pohon mangrove sangat dipengaruhi oleh usaha untuk memelihara dan mengelola ekosistem mangrove tersebut secara lestari dan berkelanjutan. Dalam aspek pengelolaan batas tingkat kerapatan optimal dan baik dari potensi pohon adalah 400 pohon/ha. Potensi ekosistem mangrove di Kabupaten Bengkalis umumnya adalah dalam kisaran sedang dan jarang. Hal ini disebabkan adanya kegiatan ilegal logging, konversi dan pengambilan kayu untuk bahan bakar arang dan pondasi rumah. Sebagai contoh adalah potensi mangrove yang ditemukan di Kecamatan Rupat Utara, yang dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4.
daerah jeni s Teluk Rhu ra oo sa aa rm sc pohon INP Potensi (m3/ha) 173.68 42.11 47.37 10.53 21.05 5.26 300 28.51905 3.925 13.492188 1.1 4.2057813 1.2375 52.479519

Tingkat Kerapatan Ekosistem Mangrove Di Kecamatan Rupat Utara
ekosistem bakau kelas kerapatan Tata guna lahan dan Pemanfaatan indv kriteria tata guna lahan pemanfaatan /ha 206.3 50 56.3 12.5 25 6.3 356.3 merupakan mangrove pantai mangrove muara kebun kelapa tempat pemijahan ikan perkembangbiakan ikan

sedang

Titi Akar

sa rm ra aa

85.71 73.47 134.69 6.12 300 130.1 83.2 78 8.7 300 66.7 50 183.3 300 50 128.57 25.35 64.29 31.79 300 64.29 128.57 21.43 64.29 21.43 300

14.134416 10.561684 16.632188 0.55 41.878288 11.59 8.64 8.53 1.35 30.1 5.8 3.34 12.25 21.39 3.26 9.85 1.24 4.54 1.1 19.99 3.2588 9.8547 1.2375 4.5375 1.1 19.988444

87.5 75 137.5 6.3 306.25 95 60 58 7 220 50 38 138 225 50 75 12.5 37.5 15 190 37.5 75 12.5 37.5 7.5 170

merupakan ekosistem mangrove muara areal produksi

tempat berkembangnya ikan

sedang merupakan mgrv muara berbatasan dengan sungai dan laut hanya satu zonasi jarang Mangrove muara mangrove sungai Areal produksi jarang Mangrove muara mangrove sungai Areal produksi tempat berkembangnya ikan tempat berkembangnya mamalia tempat berkembangnya ikan tempat berkembangnya mamalia tempat berkembang biak ikan areal pemijahan ikan

Tg Punak

Aa Sa Ra rm

Kadur

ra aa sa

Makeruh

rm ra sa xg Lr

jarang

Pangkalan Nyirih

rm ra sa xg Lr

Mangrove muara Potensi semak kebun kelapa

pembuatan tambak KJA arang bakau

jarang sangat jarang

Sei Cingnam

Potensi semak kebun kelapa
mangrove pantai

pemanfaatan kayu untuk arang

Hutan Panjang

sangat jarang

Potensi semak kebun kelapa
mangrove muara

pemanfaatan kayu untuk arang

Medang

sangat jarang

Mangrove muara sungai Kebun kelapa Mangrove pulau kecil

Pulau Babi

sangat jarang

mangrove muara sungai

jaring udang potensi udang tinggi

Sumber : Data Survey 2007.

Potensi Ekosistem Perikanan Potensi sumberdaya perikanan di Kabupaten Bengkalis pada tahun 2005 yang dominan adalah usaha penangkapan ikan laut dengan kapasitas 19.000 ton per tahun, kedua adalah kegiatan usaha karamba dengan 608 KJA per tahun, ketiga kolam dengan 278 ha, serta budi daya tambak dengan 175 ha. Untuk penangkapan ikan dan budi daya jaring apung tersebar di seluruh wilayah perairan Kabupaten Bengkalis kecuali Kecamatan Mandau, sedangkan budi daya tambak berpotensi di Kecamatan Bengkalis, Bantan, Rupat, Merbau dan Tebing Tinggi Barat. Sebaliknya Mandau sangat berpotensi untuk budi daya kolam. Pemanfaatan potensi sumberdaya perikanan di Kab. Bengkalis selama ini masi terlalu sangat kecil dibanding potensi yang dimilikinya. Selama tahun 2001 luas lahan/potensi yang telah dimanfaatkan paling tinggi adalah penangkapan ikan dengan berat 15.504,67 ton pertahun atau sebesar 82,21 %. Tempat kedua budidaya kolam dengan luas 157 ha atau 21,64 %, tempat ketiga pembenihan ikan laut dengan kemampuan produksi sebanyak3,015 juta ekor per tahun atau sebesar 8,49 %. Selajutnya budidaya tambak baru dimanfaatkan sebesar 3,81 % atau seluas 4.461,53 ha. Sementara budidaya jaring apung dan pembenihan ikan air tawar jauh lebih kecil lagi yaitu masingmasing hanya 0,59 % atau sebanyak 967 ktg dan 0,80 % atau 48.000 ekor per tahun Produk perikanan tahun 2005 di Kab. Bengkalis, yang memiliki produktivitas cukup tinggi. Untuk budidaya tambak disebagian kecamatan sudah berproduksi, antara lain di Bengkalis, Bantan dan Tebing tinggi dengan total produksi 163,05 ton/tahun, dengan produktivitas 1,31 ton/ha/tahun. Budidaya jaring apung disebagian kecamatan juga sudah berproduksi, antara lain di Bantan, Merbau, dan tebing tinggi barat dengan total produksi sebesar 4,63 ton/tahun dengan produktivitas 0,007 ton/ha/tahun artinya setiap satu ktg hanya menghasilkan ikan sebanyak 7 kg dalam satu tahun. Sedangkan budidaya kolam di Kecamatan Mandau telah berproduksi sebanyak 12 ton per tahun, dengan produktivitas 100 kg/ha/tahun

Tabel 5.

Potensi Pemanfaatan, Produksi dan Peluang Sumberdaya Perikanan Kabupaten Bengkalis
Peluang Potensi 2 18.859,99 163.750,00 4.461,53 365,00 3.015.400 6.000.000 Pemanfaatan 3 15.504,67 277,00 135,500 81,50 256.000 48.000 Produksi 4 15.613,21 138,36 200,15 203,75 256.000 48.000 Potensi 5 3.355,32 163.472,00 4.326,03 283,50 2.759.400,00 2.925.000,00 % 6 17,79 99,83 96,96 77,67 91,51 99,20

Sumberdaya perikanan 1 Penangkapan (ton) Jaring Apung (ktg) Tambak (ha) Kolam (ha) Pembenihan ikan laut (ekor/th) Pembenihan ikan tawar (ekor/th)

Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Bengkalis 2005

Potensi Ekonomi Sumberdaya Pesisir Potensi Mangrove, Potensi kerapatan pohon dan potensi kayu mangrove merupakan suatu potensi sumberdaya mangrove yang dihitung berdasarkan berapa jumlah pohon mangrove dan potensi kayu pohon mangrove yang ada di ekosistem hutan mangrove. Besarnya potensi kerapatan pohon dan potensi kayu mangrove di ekosistem Mangrove dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Potensi Kerapatan dan Potensi Kayu Ekosistem Mangrove di Kabupaten Bengkalis
Potensi Pohon (m3/ha) 31.0 12.8 27.5 35.3 32.4 38.4 10.7 57.6 12.4 258.0 kerapatan indv/ha 244.6 100.0 209.3 287.8 262.4 287.2 102.5 319.9 131.0 1944.8 Luas areal ha 12783 5806 4258 5584 6722 4506 744 2215 3452 46070 Potensi total (m3) 395900 74281 116975 197197 217608 173170 7924 127615 42805 1353474 kerapatan total indv 96830546 7428051 24482902 56753914 57110395 49733361 812169 40829868 5607429 339588634

kecamatan

rupat utara Rupat bengkalis bantan merbau rangsang barat rangsang tebing tinggi barat tebing tinggi total

Sumber : Data Survey tahun 2007.

Potensi Arang. Potensi ekonomi arang dihitung dari berapa besar potensi kayu bakau yang ada pada ekosistem mangrove di Kabupaten Bengkalis. Pada dasarnya potensi arang bakau di ekosistem mangrove kabupaten Bengkalis cukup tinggi, yaitu mencapai lebih dari 50 %. Jika diprediksikan harga arang bakau mencapai Rp 1.200.000 per ton arang maka potensi ekonomi arang di kabupaten Bengkalis dapat mencapai Rp 812.084.000.000. (Tabel 7)

Tabel 7.

Potensi Ekonomi Arang Baku pada Ekosistem Mangrove di Kabupaten Bengkalis kecamatan potensi arang potensi nilai ekonomi (m3) Rp
197950.01 37140.256 58487.582 98598.43 108804.21 86584.824 3961.8 63807.395 21402.4 676736.9 2.375E+11 4.457E+10 7.019E+10 1.183E+11 1.306E+11 1.039E+11 4.754E+09 7.657E+10 2.568E+10 8.12084E+11

rupat utara rupat bengkalis bantan merbau rangsang barat rangsang tebing tinggi barat tebing tinggi total

Sumber : Data Survey tahun 2007.

Potensi Ekonomi Cerucuk. Potensi ekonomi cerucuk yang berasal dari ekosistem bakau di Kabupaten Bengkalis dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Potensi Ekonomi Cerucuk Bengkalis
Kecamatan Potensi indv
Rupat Utara Rupat Bengkalis Bantan Merbau Rangsang Barat Rangsang Tebing Tinggi Barat Tebing Tinggi Total

pada

Ekosistem Mangrove di Kabupaten
Potensi Cerucuk Nilai Ekonomi Rp
1.45246E+11 11142076875 36724352710 85130870525 85665593131 74600041242 1218253500 61244802115 8411143200 5.09383E+11

29049164 2228415.4 7344870.5 17026174 17133119 14920008 243650.7 12248960 1682228.6 101876590

Sumber : Data Survey tahun 2007.

Potensi Ekonomi Chips, Potensi ekonomi chips yang berasal dari ekosistem bakau di Kabupaten Bengkalis dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Potensi Ekonomi Chips pada Ekosistem Mangrove di Kabupaten Bengkalis
Kecamatan Potensi
Rupat Utara Rupat

Potensi Chips Nilai Ekonomi
Rp 3.959E+11 74280512500

(m3) 197950.01 37140.256

Bengkalis Bantan Merbau Rangsang Barat Rangsang Tebing Tinggi Barat Tebing Tinggi total

58487.582 98598.43 108804.21 86584.824 3961.8 63807.395 21402.4 676736.9

1.16975E+11 1.97197E+11 2.17608E+11 1.7317E+11 7923600000 1.27615E+11 42804800000 1.35347E+12

Sumber : Data Survey tahun 2007.

Etalase Sumberdaya Pesisir Etalase sumberdaya pesisir dibangun dengan memperhatikan aspek keinginan masyarakat dan kondisi ekologis sumberdaya alam. Munculnya pilihan pada kegiatan pengelolaan pesisir ini dibangun berdasarkan konsep peluang dari berbagai pilihan. Pengolahan etalase pesisir ini memperhatikan aspek ekologis, fisik, sosial dan ekonomi wilayah pesisir, yang diolah dengan menggunakan analisis hirarki proses dengan software expert choice. a. Prioritas Sumberdaya Mangrove Prioritas sumberdaya mangrove dilihat dari dua aspek yaitu aspek penggunaan sumberdaya alam (sebagai industri arang dan industri kertas, atau untuk cerucuk rumah) dan aspek peruntukan (sebagai jalur hijau, daerah konservasi, atau hutan produksi). Hasil analisis dibangun berdasarkan kondisi kecamatan di Kabuopaten Bengkalis dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Etalase Pilihan Prioritas Untuk pengelolaan Sumberdaya Alam Mangrove
Aspek Analisis Industri arang Industri kertas Cerucuk Peruntukan Jalur hijau Konservasi Produksi 42 41.8 16.2 45.4 38 16.6 43.1 38.3 18.6 46.1 32.5 21.4 42.3 40.6 17.1 37.7 34.8 27.5 40.2 42.7 17.1 42.2 37.2 20.6 38.1 32.2 29.8 Bantan 27.1 5.8 67.2 Bengkalis 20.1 7.9 72 Proporsi pilihan Kecamatan di Kabupaten Bengkalis Rangsang Rupat Merbau Rangsang Barat Rupat Utara 18.3 33.8 47.9 22.9 13.3 63.8 27.7 17.5 54.8 52.3 22.8 24.9 11 49 40 Tebing Tinggi 19.3 25 55.7 Tebing Tinggi Barat 25.6 31.1 43.3

b. Prioritas Sumberaya Perikanan dan Kelautan Prioritas pengelolaan sumberdaya perikanan dan kelautan dibangun berdasarkan aspek (1) perikanan budidaya (sebagai tambak, pengelolaan dengan tambak atau areal pembenihan), (2) jenis ikan yang disukai (kurau, tenggiri, parang-parang, garot, udang dan mayong), (3) perikanan pasca panen (untuk dijadikan kerupuk, ikan asin atau terasi, dan (4) penggunaan alat tangkap (dengan jaring, rawai atau gombang). Hasil pilihan dan prioritas penggelolaan sumberdaya perikanan dan kelautan dapat dilihat pada Tabel 10. Dari Tabel 10, didapatkan hasil bahwa pada setiap kecamatan memiliki keinginan prioritas yang berbeda. Hal ini menunjukan adanya karakterirtik yang khas dari ekosistem dan keinginan masyarakat. Untuk itu para pengambil kebijakan hendaknya memprioritaskan pengelolaan sektor perikanan dan kelautan berdasarkan karakteristik daerah dan keinginan masyarakat tersebut. Pengelolaan yang tepat dapat berdampak pada optimalnya produktivitas dan keberlanjutan kegiatan.

Tabel 10. Prioritas Pengelolaan Sumberdaya Perikanan dan Kelautan
Aspek analisis Perikanan Budidaya Tambak Keramba Hatchery Jenis Ikan kurau tenggiri parang-parang Gerot 4.2 8.2 10.1 13.5 3.9 6.8 9.2 11.4 3.8 7.1 11.2 14.8 9.4 9.2 14.7 22.3 9.8 9.8 13.9 23.2 28.8 14.2 14.2 14.2 8.5 10.1 12.9 15.6 4.1 7.8 9.6 12.3 26.1 31.1 8.7 14.3 22.8 33.4 43.8 22.8 21.9 55.3 24.1 26.4 49.5 34.9 22.1 43 32.8 28.1 39.2 36.4 31.3 32.3 20.2 34.9 45 21.8 32.1 46.1 47.9 23.4 28.7 Bantan Bengkalis Proporsi pilihan Kecamatan di Kabupaten Bengkalis Rangsang Rupat Merbau Rangsang Barat Rupat Utara Tebing Tinggi Tebing Tinggi Barat

Udang Mayong Pasca Panen kerupuk ikan asin terasi Alat Tangkap jaring rawai gombang

40.1 24

48.5 20.2

39.5 23

20.9 23.6

26.3 17

14.2 14.2

24.3 28.6

47.4 18.9

11.1 8.8

35 42.9 22.1

33.5 43.6 22.8

34.1 42.3 23.6

33.8 44.3 21.9

33.5 40.9 25.6

33.5 40.9 25.6

28 50.4 21.6

34.3 39.4 26.3

33.3 33.3 33.3

28.6 35.2 36.2

31.1 31.8 37.1

32.5 33.3 34.3

58.4 28.1 13.5

58.4 28.1 13.5

45.1 9.8 45.1

27.1 35.6 37.4

35 32 33

29.4 32.3 38.4

ARAHAN PENGELOLAAN Berdasarkan kondisi permasalahan dan priroritas pengelolaan maka perlu dibangun arahan pengeleloaan dan perbaikan sumberdaya alam diantaranya adalah : 1. Arahan Strategi Rehabilitasi Ekosistem Pesisir dan Mangrove, Arahan strategi Rehabilitasi dibangun melalui berbagai tahapan yaitu (1) penentuan area rehabilitasi, (2) penyuluhan, (3) pelatiihan, (4) pembibitan dan persemaian, (5) penanaman, (6) pemeliharan dan monitoring, dan (7) penyerahan kepada stakeholder dan pemerintah daerah. Sedangkan kawasan rehabilitasi meliputi seluruh lokasi-lokasi hutan bakau yang telah mengalami kerusakan, khususnya pada bagian utara pantai-pantai di Pulau Bengkalis, Rangsang, Rupat dan Tebing Tinggi. Selain itu kawasan konservasi dan rehabilitasi bakau juga terdapat pada beberapa pulau kecil di Kecamatan Rupat dan Rupat Utara 2. Zona Rehabilitasi Pantai. Rehabilitasi pantai dilakukan dengan maksud memperbaiki kondisi pantai yang rusak dan terus mengalami abrasi dari tahun ke tahun. Pada umumnya upaya rehabilitasi pantai ini akan terkait erat dengan rehabititasi bakau, karena salah satu penyebab rusaknya kondisi fisik pantai di Kabupaten Bengkalis adalah akibat rusaknya ekosistem bakau. Beberapa kawasan rehabilitasi bakau yang ditetapkan dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Kabupaten Bengkalis adalah Sepanjang pantai utara Pulau Bengkalis di Kecamatan Bantan, sepanjang pantai Utara Pulau Rangsang hingga Bantar, Sepanjang Pantai Pulau Tebing Tinggi dari Alai - Tebing Tinggi, sepanjang Pantai bagian selatan Pulau Padang serta pantai bagian selatan Pulau Rupat.

3. Arahan Strategi Konservasi dan Perlindungan Ekosistem Pesisir dan Mangrove. Zona konservasi adalah wilayah yang memiliki atribut ekologi yang khusus atau luar biasa, memiliki biodiversity yang tinggi, dan biasanya memiliki spesies-spesies endemic, langka maupun yang terancam punah. Wilayah tersebut terdiri dari habitat yang belum terjamah atau masih asli yang luas yang memiliki posisi yang penting baik dalam skala lokal, regional, nasional atau bahkan dunia. Secara umum, tujuan pengembangan zona konservasi pesisir Kabupaten Bengkalis adalah : Memelihara dan menjaga kualitas lingkungan pada wilayah pesisir, Melindungi keragaman spesies hayati pesisir , Melindungi wilayah/ekosistem yang sensitif terhadap gangguan lingkungan, Menjaga kualitas air, Mengembalikan kondisi ekosistem pesisir yang telah mengalami kerusakan., Mengembalikan sumberdaya perikanan yang telah menipis (overfishing) 4. Kawasan Perlindungan Pulau-Pulau Kecil. Pulau-pulau kecil di Kabupaten Bengkalis diarahkan untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya perikanan yang potensial dalam kegiatan hatcheri khususnya jenis ikan laut. Potensi lain juga pulaupulau kecil di kabupaten Bengkalis adalah pengebangan sektor pariwisataDalam rencana pengembangan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Kabupaten Bengkalis yang termasuk ke dalam kategori konservasi pulau-pulau kecil adalah Pulau Beting Aceh, Pulau Babi daan Pulau Beruk di Kecamatan Rupat Utara, Pulau Ketam, Atung, mampu, Rambang, Batu dan Pulau Mentelir di Kecamatan Rupat serta Pulau Panjang, Jadi dan Pulau Tiga di Kecamatan Tebing Tinggi 5. Zona Lindung Esturia. Estuaria merupakan tempat pertemuan air tawar dan air asin. Estuaria mempunyai air yang sangat keruh, tetapi kaya akan unsur hara. Kekayaan unsur hara ini disebabkan karena adanya masukan baik dari sungai maupun dari laut melalui arus pasang. Sungai membawa banyak endapan (terutama debu dan liat), bahan-bahan pasir dan bebatuan berdiameter kecil yang kemudian diendapkan, tersuspensi kembali atau tercampur dengan sistem estuaria pesisir tersebut. Pada daerah estuaria, endapan ini selanjutnya menciptakan pasir khas dan dataran lumpur tempat tumbuhnya bakau. Beberapa lokasi estuaria yang ditetapkan sebagai kawasan lindung di Kabupaten Bengkalis adalah Mencakup sungai-sungai yang terdapat di Kecamatan Bukit Batu (Sungai Siak Kecil, Sei Pakning, Sei Bukit Batu); Kecamatan Bantan (Sungai Jangkang, Bantan Tengah, dan Kembung Luar); Kecamatan Merbau

(Sungai Merbau dan Sungai Selat Akar); Kecamatan Rupat (Sungai Senebak, Raya, Rempang, Nyiur, Sair, dan Penonton); Kecamatan Rangsang Barat (Sungai Demba dan Sungai Ujung Air di Desa Anak Setatah; Desa Lemang dan Desa Melai); dan Kecamatan Tebing Tinggi. 6. Zona Perlindungan Ikan. Kawasan perlindungan ikan adalah daerah hutan bakau yang dikhususkan bagi ikan atau perlindungan ikan. Tujuan penataan kawasan ini adalah untuk mewujudkan keberadaan sumberdaya perikanan secara optimal, memperoleh manfaat ekonomi, sosial dan ekologi yang maksimum dan lestari, menjamin distribusi pemanfaatannya secara adil dan merata, khususnya terhadap masyarakat yang tinggal didalam dan disekitar kawasan. Kawasan hutan bakau yang dialokasikan sebagai kawasan perlindungan ikan terdapat di sepanjang Sungai Kembung dari hulu hingga muara di Desa Kembung Luar dan Desa pambang, di sepanjang Sungai Jangkang di Desa Jangkang, Selat Morong di Kecamatan Rupat Utara, Sungai Tohor di Kecamatan Rangsang, Di Desa Anak Setatah dan Desa Lemang Kecamatan Rangsang Barat, serta Sungai Siur di Kecamatan Tebing Tinggi 7. Zona Pemanfaatan Khusus (Special Use Zone). Zona pemanfaatan khusus seperti pelabuhan dan terminal barang terletak di pelabuhan Selat Panjang dan Bengkalis. Lokasi zonasi pemanfaatan khusus dengan mempertimbangkan bahwa lokasi menghadap langsung ke laut; kawasan terbuka; dan dekat dengan pasar.. Lokasi zona pelabuhan dan terminal barang diarahkan di kawasan pelabuhan Selat Panjang, Bengkalis dan Rupat 8. Arahan Strtaegi membangun Koridor Satwa dan Laboratorium Alam. Lokasi zona koridor direkomendasikan di perairan laut di Kabupaten Bengkalis yang merupakan satu kesatuan dari zona penangkapan ikan dan zona budidaya laut dan menjadikan Pulau Rangsang, Pulau Tebing Tinggi dan Pulau Merbau, terutama Tebing Tinggi sebagai pusat kajian dan laboratorium alam dari kehidupan dan interaksi antar komponen biotik dan abiotik di ekosistem hutan mangrove

DAFTAR PUSTAKA

Aksornkae, S. 1993. Ecology and Management of Mangrove. IUCN, Bangkok. Thailand. Bengen, D. G. 1989. Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem mangrove. IPB. Bogor. . 2000. Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. ITB. Bogor, Indonesia. . 2001. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. ITB. Bogor, Indonesia. Budiman, A dan Suhardjono. 1992. Penelitian Hutan Mangrove di Indonesia: Pendayagunaan dan Konservasi. Prosiding Lokakarya Nasional Penyususnan Program Penelitian Biologi Kelautan dan Proses Dinamika Pesisir. UNDIP. Semarang. Clarke, L. D. & N. J. Hannon. 1967. The mangrove swamp and salt marsh communities of the Sydney district. I. vegetation, soil and climate. J. Ecol 55: 753-771. Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. 1997. Inventarisasi dan Identifikasi Hutan Mangrove di 5 Propinsi. Departemen Kehutanan. Jakarta. Hilmi, E. 2005. Ekologi Mangrove Pendekatan Karakteristik, Statistik dan Analisis Sistem Bagi Suatu Ekosistem. PSPK, UNSOED. Purwokerto. Jurusan Tanah. 1996. Penuntun Praktikum Dasar Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor. Kennish, M. J. 1990. Ecology of Estuaries. Vol 2. Biology Aspect. CRC Press, Boca Raton, Boston. Kusmana, C. 1995. Manajemen Hutan mangrove di Indonesia. Lab Ekologi Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB. Bogor. Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Mangrove. 1998. Rancangan Sistem Pengelolaan Hutan Bakau Segara Anakan Kabupaten Dati II Cilacap Jawa Tengah. Jakarta. Lugo, A. E & S. C. Snedaker. 1974. The ecology of mangroves. Ann. Rev. Ecol. Syst. 5: 39-64.

Macnae, W. 1966. Mangroves in eastern and southern Australia. Austr. J. Bot. 14: 67107. Magurran, A. E. 1955. Ecological Diversity and Its Measurement. Princeton University Press. United Stated of America. Noor, Y. S., Khazali, M. dan Suryodiputro, N. N. N. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. PKA/WI-IP. Bogor. 220 hal. Purwanto, E. 1997. Pengaruh Perubahan Air Terhadap Komunitas Zoobentos Makro Sungai Kampar Kabupaten Kampar Propinsi Riau. Program Pascasarjana. IPB, Bogor. Sahri, A. 1998. Studi Penyerapan Garam NaCl dari Rhizophora mucronnata, Bruguiera gymnnostera dan Avicennia marina pada Beberapa Tingkat Salinitas yang Berbeda. Thesis pada Program Pasca Sarjana IPB. Bogor. Supriharyono. 2000. Pelestarian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta, Indonesia.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->