Anda di halaman 1dari 13

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN Disclosure Level and the Cost of Equity Capital

Oleh: Citra Aryani Sjahrir Dian Agustina Luna Mantyasih Makarti Ratna Nugrahaningsih

Program Pascasarjana Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia 2010

Disclosure Level and the Cost of Equity Capital


Christine A. Botosan

ABSTRACT Pengaruh tingkat disclosure terhadap biaya modal ekuitas adalah masalah bunga besar dan penting bagi komunitas pelaporan keuangan. Namun, hubungan antara tingkat disclosure dan biaya modal ekuitas belum terbentuk secara baik dan sulit untuk diukur. Dalam tulisan ini penulis mengamati hubungan antara tingkat disclosure dan biaya modal ekuitas dengan melakukan regresi antara perkiraan biaya modal ekuitas firm specific pada beta pasar, ukuran perusahaan dan ukuran tingkat disclosure. Penulis mengukur tingkat disclosure didasarkan pada jumlah disclosure sukarela yang diberikan dalam laporan tahunan 1990 dari 122 sampel perusahaan manufaktur. Untuk perusahaan yang memiliki pengikut analis yang rendah, hasil menunjukkan bahwa disclosure yang lebih besar berhubungan dengan biaya modal ekuitas yang lebih rendah. Besarnya efek ini adalah perbedaan satu-unit dalam ukuran disclosure berkaitan dengan perbedaan sekitar 28 basis poin dalam biaya modal ekuitas, setelah mengendalikan beta pasar dan ukuran perusahaan. Namun untuk perusahaan yang memiliki pengikut analis yang tinggi tidak ditemukan bukti adanya hubungan antara ukuran saya tingkat disclosure dan biaya modal ekuitas, hal ini mungkin karena ukuran disclosure terbatas pada laporan tahunan sehingga tidak dapat memberikan proxy kuat untuk tingkat disclosure keseluruhan ketika analis memainkan peranan penting dalam proses komunikasi.

I. INTRODUCTION Sejauh mana manfaat dari meningkatnya disclosure perusahaan merupakan isu yang kontroversial. Beberapa model penentuan harga aset menyatakan bahwa dengan meningkatnya disclosure akan mengurangi biaya modal ekuitas, tapi hanya sedikit bukti empiris yang mendukung klaim ini. Tidak adanya bukti ini menyebabkan perdebatan yang berkelanjutan antar praktisi tentang manfaat dari peningkatan disclosure. Penelitian teoretis yang mendukung adanya hubungan negatif antara tingkat disclosure dan biaya modal ekuitas mengikuti dua pandangan, yaitu: a. Disclosure yang lebih besar meningkatkan likuiditas pasar saham sehingga mengurangi biaya modal ekuitas baik melalui biaya transaksi yang berkurang atau peningkatan permintaan untuk sekuritas suatu perusahaan. Aliran penelitian ini mencakup Demsetz (1968), Copeland dan Galai (1983), Glosten dan Milgrom (1985), Amihud dan Mendelson (1986) dan Diamond dan Verrecchia (1991). b. Disclosure yang lebih besar mengurangi risiko estimasi yang timbul dari perkiraan investor mengenai parameter return aset atau distribusi hasil. Sehingga ketidakpastian tentang parameter yang "benar" semakin besar ketika informasi rendah. Jika risiko estimasi bersifat nondiversifiable

maka investor akan meminta kompensasi untuk tambahan risiko. Aliran kedua penelitian yang mencakup Klein dan Bawa (1976), Barry dan Brown (1985), Coles dan Loewenstein (1988), Handa dan Linn (1993), Coles et al. (1995) dan Clarkson et al. (1996) Meskipun penelitian empiris cenderung mendukung adanya hubungan negatif antara tingkat disclosure dan biaya modal ekuitas, penulis dari Jenkins Committee (1994,38) melaporkan bahwa tidak terdapat bukti yang menyajikan "kasus empiris yang menunjukkan bahwa disclosure informatif mampu menurunkan biaya modal. " Hal tersebut disebabkan oleh penelitian sebelumnya yang menggunakan pendekatan tidak langsung, karena estimasi biaya modal yang sesuai sulit untuk didapatkan. Penelitian ini mengestimasi biaya modal ekuitas menggunakan formula penilaian akuntansi yang dikembangkan oleh Edwards dan Bell (1961), Ohlson (1995) dan Feltham dan Ohlson (1995), dimana ditunjukkan bahwa estimasi ini meningkat seiring dengan beta pasar dan menurun seiring dengan ukuran perusahaan. Kemudian dilakukan pengujian hubungan antara tingkat disclosure dan biaya modal sendiri setelah mengendalikan beta pasar dan ukuran perusahaan, dan mendokumetasikan hubungan negatif antara biaya modal dan tingkat disclosure sukarela untuk perusahaan-perusahaan yang memiliki pengikut analis yang sedikit. II. HYPOTHESIS DEVELOPMENT Dukungan teoritis untuk hubungan negatif antara tingkat disclosure dan biaya modal ekuitas dijelaskan dalam dua aliran penelitian, yaitu: a. Amihud dan Mendelson (AM) (1986) dan Diamond dan Verrecchia (DV) (1991). AM (1986, 228) menyatakan bahwa biaya modal ekuitas lebih besar untuk sekuritas dengan bid-ask spreads yang lebih lebar karena adanya kompensasi bagi investor atas biaya transaksi tambahan. Dengan adanya disclosure informasi, perusahaan dapat mengurangi komponen adverse selection dari bid-ask spread dan mengurangi biaya modal ekuitas mereka. Menurut DV disclosure yang lebih besar akan menyebabkan investor bersedia untuk mengambil posisi yang lebih besar di saham suatu perusahaan daripada yang seharusnya mereka lakukan. Hal ini akan meningkatkan permintaan untuk surat berharga dan meningkatkan harga saham perusahaan, sehingga mengurangi biaya ekuitas capital. b. Penelitian di aliran kedua dilakukan oleh Klein dan Bawa (1976), Barry dan Brown (1985), Coles dan Loewenstein (1988), Handa dan Linn (1993), Coles et al. (1995) dan Clarkson et al. (1996) menyatakan bahwa disclosure yang lebih besar dapat mengurangi biaya modal ekuitas dengan mengurangi risiko estimasi nondiversifiable. Berdasarkan penelitian Barry dan Brown (1985), Handa dan Linn (1993) dan Coles et al. (1995) menyimpulkan bahwa risiko estimasi merupakan nondiversifiable, dimana hal tersebut tidak tercermin dalam rumus CAPM untuk beta pasar dan bahwa perkiraan beta pasar secara sistematis terlalu rendah untuk sekuritas informasi karena beta pasar gagal untuk menyertakan risiko estimasi. Clarkson et al. (CGT) (1996), menyatakan bahwa risiko estimasi memiliki komponen nondiversifiable yang signifikan jika resolusi ketidakpastian mengenai efek informasi yang rendah mempengaruhi tingkat return yang diperoleh dari portofolio pasar. Penelitian yang dibahas di atas, memotivasi hipotesis berikut : H1: Ada hubungan negatif antara biaya modal dan tingkat disclosure.

Bukti yang tersedia menunjukkan bahwa perusahaan mengkoordinasikan kebijakan disclosure mereka di media yang berbeda. Berdasarkan penelitian Lang dan Lundholm (LL) (1993) menunjukkan bahwa ukuran tingkat disclosure yang dihasilkan dengan memeriksa salah satu aspek pelaporan perusahaan dapat dijadikan proxy untuk tingkat disclosure secara umum yang disediakan oleh perusahaan. Asumsi ini digunakan ketika menggunakan jumlah informasi sukarela yang ditemukan dalam laporan tahunan perusahaan sendiri untuk digunakan sebagai proxy untuk tingkat disclosure perusahaan di semua jalan. Jika perusahaan mengkoordinasi dengan sempurna berbagai kebijakan disclosure mereka di berbagai cara maka dapat mencegah kesalahan pengukuran tambahan ke dalam analisis. Namun karena hubungan antara peringkat disclosure laporan tahunan dan peringkat hubungan investor korelasi tidak mendekati satu, akibatnya tingkat disclosure, yang diberikan terbatas pada laporan tahunan, tidak dapat memberikan proxy kuat untuk keseluruhan tingkat disclosure ketika perusahaan diikuti oleh sejumlah besar analis dan mungkin menggunakan analis untuk berkomunikasi dengan pasar. Untuk perusahaan dengan analis yang lebih sedikit, kesalahan pengukuran yang timbul dari lingkup terbatas disclosure ukuran menjadi lebih kecil karena laporan tahunan memainkan peran yang lebih besar dalam proses komunikasi. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara biaya modal ekuitas dan ukuran tingkat disclosure mungkin tidak signifikan untuk perusahaan dengan pengikut analis besar. Hal ini disajikan sebagai hipotesis dua. H2: Hubungan antara biaya modal dan tingkat disclosure kurang signifikan bagi perusahaanperusahaan yang menarik lebih banyak analis.

III. SAMPLE SELECTION AND DESCRIPTION Sample Selection Dua faktor yang penting dalam analisis empiris penelitian ini (a) variasi cross-sectional yang cukup pada tingkat disclosure, (b) sampel yang cukup besar. Sampel yang cukup besar tersedia dari AIMR, namun terbatas pada perusahaan terbesar dalam industry yang paling banyak diikuti. Karena tingkat disclosure berkorelasi positif dengan ukuran perusahaan (Lang dan Lundholm 1993), perusahaan dalam AIMR tidak mungkin menampilkan variasi cross-sectional yang cukup dalam tingkat disclosure. Sehingga dipilih sampel perusahaan yang memiliki variasi ukuran perusahaan dan pengikut analis yang lebih besar, namun dengan peringkat disclosure yang belum tersedia. Namun dengan variasi cross-sectional lebih besar, ukuran sampel yang tersedia menjadi terbatas dan ukuran tingkat disclosure menjadi lebih sempit didefinisikan karena kesulitan membangun data base peringkat disclosure. Penelitian membatasi sampel untuk satu tahun dan satu industri. Hipotesis kedua juga diuji untuk mengatasi kemungkinan bahwa hubungan antara biaya modal ekuitas dan ukuran disclosure mungkin dilemahkan ketika analis keuangan memainkan peran penting dalam proses komunikasi. Analisis dibatasi untuk satu tahun karena kebijakan disclosure perusahaan bersifat relatif konstan dari waktu ke waktu. Satu jenis industri dipilih karena industri yang berbeda-beda menampilkan pola

disclosure yang berbeda. Perusahaan yang diteliti merupakan perusahaan yang bergerak di industri mesin yang memiliki kode SIC tertentu. Dalam Ward's Business Directory edisi 1994 terdaftar 372 perusahaan publik yang memiliki kode SIC yang diteliti, namun tidak semua disertakan dalam sampel antara lain karena: - Data return perusahaan, yang diperlukan untuk memperkirakan beta, dalam periode lima tahun tidak tersedia di Center for Research in Security Prices (CRSP). - Perusahaan tidak mengirimkan laporan laporan tahunan yang diberikan kepada pemegang saham yang diminta. - Perusahaan mengalami reorganisasi, tidak bergerak utama dalam kegiatan manufaktur, dan merger. - Disclosure yang dilakukan oleh perusahaan berbeda dari normal. Ditampilkan dalam tabel 1, prosedur pemilihan sampel sehingga menghasilkan 122 sampel akhir perusahaan.

Sample Description Data yang digunakan terdiri atas berbagai ukuran perusahaan dengan nilai pasar ekuitas $ 18.5 juta pada persentil pertama dibandingkan dengan $ 5.9 juta di persentil 99 dari distribusi tersebut. Ratarata sampel perusahaan diikuti oleh sekitar sebelas analis. Seperempat dari perusahaan menarik perhatian lima atau lebih sedikit analis dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan di atas kuartil yang diikuti oleh 15 atau lebih analis. Hipotesis dua diuji dengan membagi sampel ke perusahaan yang diikuti oleh kurang dari nilai median analis dan lebih dari nilai median dan memperkirakan hubungan antara biaya modal dan tingkat disclosure dari dua subsamples. Pemisahan sampel menjadi hanya dua subsamples memastikan jumlah pengamatan yang wajar di masing-masing subset. Jumlah subsampel yang memiliki pengikut analis yang rendah mengikuti mencakup 62 perusahaan dengan sembilan atau kurang analis. Enam puluh perusahaan dengan sepuluh atau lebih analis termasuk dalam perusahaan

dengan pengikut analis yang tinggi. Panel B dan C dari tabel 2 menyajikan statistik deskriptif untuk dua subsamples. Rata-rata sampel perusahaan yang memiliki jumlah pengikut analis yang rendah menarik perhatian lima analis, sedangkan perusahaan yang memiliki jumlah pengikut analis yang tinggi menarik perhatian 18 analis. Rata-rata perusahaan dalam yang memiliki pengikut analis rendah dalam subsampel lebih kecil dengan nilai pasar rata-rata ekuitas $ 129.5 juta dibandingkan senilai $ 1,3 miliar untuk perusahaan di subsampel lainnya. Perbedaan ini secara statistik signifikan pada tingkat 1 persen menggunakan t-test atau Wilcoxon rank-sum test. Akhirnya, nilai mean beta pasar untuk analis tinggi yang mengikuti subsampel secara signifikan lebih besar daripada rata-rata beta pasar yang sesuai untuk analis rendah yang mengikuti subsampel. IV. EMPIRICAL PROXIES The Disclosure Index Dasar indeks yang digunakan yaitu laporan tahunan perusahaan ke pemegang saham. Meskipun laporan tahunan hanya satu cara pelaporan perusahaan, laporan tersebut harus berfungsi sebagai proxy yang baik untuk tingkat voluntary disclosure yang diberikan oleh perusahaan. Hal ini karena tingkat disclosure laporan tahunan berkorelasi positif dengan jumlah disclosure yang disediakan melalui media lain (Lang dan Lundholm 1993). Laporan tahunan adalah fokus disclosure index dalam penelitian ini karena laporan tahunan pada umumnya dianggap sebagai salah satu sumber informasi paling penting perusahaan. DSCORE adalah peringkat tingkat disclosure berdasarkan jumlah voluntary disclosure yang diberikan oleh perusahaan dalam laporan tahunan mereka. Item yang termasuk dalam DSCORE mencerminkan lima kategori informasi sukarela yang diidentifikasi oleh investor dan analis keuangan yang berguna dalam pengambilan keputusan investasi: background information, summary of historical results, key non-financial statistics, projected information, dan management discussion and analysis. Background Information Informasi latar belakang seperti tujuan manajemen dan strategi bisnis, lingkungan yang kompetitif, produk utama yang dihasilkan, dan pasar utama yang dilayani berguna untuk investor karena berisi interpretasi informasi rinci lainnya tentang perusahaan. Perusahaan diberikan poin satu untuk setiap item latar belakang yang diungkapkan. Satu poin tambahan per item diberikan jika informasi yang diberikan mencakup data kuantitatif yang tidak dapat ditemukan dari laporan keuangan pokok, seperti ukuran total pasar dalam unit atau tujuan perusahaan lain dalam hal target numerik (misalnya, minimum return-on-equity sebesar 16%). Summary of Historical Results Akses untuk ringkasan historis hasil keuangan triwulanan dan tahunan memberikan informasi yang berguna dalam analisis tren. Ringkasan historis menyajikan informasi secara konsisten, mencerminkan penyajian/penilaian kembali sehubungan dengan akuisisi, penghentian operasi, stock split, dan dividen saham.

Saat ini biasanya perusahaan menyajikan data tahunan dalam lima atau sepuluh tahun. Namun, data sepuluh tahun lebih baik karena tren karakteristik siklus cenderung panjang pada industri mesin. Dua kali poin lebih banyak diberikan untuk laporan tahunan dengan ringkasan sepuluh tahun atau lebih (atau jumlah tahun maksimum yang mungkin bila kurang dari sepuluh tahun), daripada untuk ringkasan durasi yang lebih singkat. Poin yang diberikan didasarkan pada ketersediaan informasi untuk menghitung rasio dasar profitabilitas seperti return-on-asset, net profit margin, asset turnover, dan return-on-equity. Key Non-Financial Statistics Statistik non-keuangan mengenai kegiatan usaha perusahaan yang tidak dapat ditemukan pada laporan keuangan menyajikan informasi penting. Laporan tahunan harus mencakup statistik kinerja perusahaan dan rasio. Kategori statistik non-keuangan meliputi pangsa pasar, unit yang terjual, order backlog, dan rata-rata kompensasi karyawan. Perusahaan diberikan dua poin untuk setiap disclosure ini. Projected Information Informasi mengenai peluang dan risiko serta rencana masa depan manajemen penting bagi investor dan analis profesional. Namun, perkiraan data operasi dan keuangan tidak begitu diperlukan, mereka lebih suka mengembangkan perkiraan/peramalan mereka sendiri. Perkiraan penjualan, laba dan belanja modal, serta disclosure peluang, risiko, dan rencana masa depan masuk ke dalam indeks ini. Prosedur penilaiannya yaitu dua poin untuk setiap prediksi terarah dan tiga poin untuk estimasi. Management Discussion and Analysis Diskusi dan analisis manajemen (MD&A) pada laporan tahunan bertujuan untuk menyampaikan informasi mengenai perubahan dari tahun ke tahun yang tidak dapat ditemukan pada laporan keuangan pokok. Informasi ini dinilai oleh para analis keuangan. Namun, MD&A yang disediakan oleh manajer sering dangkal dan satu sisi. Oleh karena itu, prosedur penilaiannya yaitu memberikan satu poin untuk setiap item yang dibahas, yang memberikan penjelasan rinci yang tidak dapat ditemukan pada laporan keuangan pokok atau catatan kaki. Satu poin tambahan per item diberikan jika penjelasan berupa data kuantitatif juga tidak dapat ditemukan pada laporan keuangan pokok atau catatan kaki. Weighting of Items Included in the Index Permasalahan utama yang terjadi adalah perusahaan-perusahaan besar bisa mencapai skor yang lebih tinggi karena mereka memiliki peluang disclosure lebih besar karena kompleksitas struktur organisasi mereka. Sebagai contoh, jika perusahaan beroperasi di beberapa industri yang berbeda, perusahaan itu mungkin selektif dalam mengungkapkan prakiraan atau jenis informasi yang bersifat sukarela lainnya untuk beberapa segmen industri sementara menahan informasi ini untuk segmen lain. Namun, jika perusahaan beroperasi hanya dalam satu segmen industri, ia tidak memiliki kesempatan yang sama untuk strategi mengungkapkan atau menahan ramalan atau informasi lain untuk segmen tertentu. Beberapa langkah diambil dalam merancang disclosure index dan prosedur penilaiannya untuk menghindari masalah ini. Pertama, perusahaan multi-segmen memperoleh semua poin yang

dialokasikan untuk informasi proyeksi hanya jika mereka memberikan perkiraan untuk semua segmen atau perkiraan keseluruhan entitas konsolidasi. Kedua, disclosure index dibatasi yaitu semua perusahaan sampel bisa memilih untuk melakukan disclosure dan tidak memberikan poin untuk referensi ke item disclosure yang sama. Informasi kuantitatif dalam disclosure index bernilai lebih besar daripada informasi kualitatif karena informasinya lebih tepat dan berguna serta dapat meningkatkan reputasi dan kredibilitas pelaporan manajemen. Total poin yang diperoleh oleh suatu perusahaan dihitung dengan rumus berikut:

Skor disclosure yang menempatkan bobot yang sama pada masing-masing dari lima kategori disclosure juga diperiksa. Skor disclosure ini dihitung dengan:

Max (SCOREi) adalah nilai maksimum yang diberikan untuk setiap perusahaan sampel untuk kategori tertentu. Descriptive Statistics Pertaining to DSCORE

Tabel 2 menyajikan statistik deskriptif berkaitan dengan DSCORE untuk sampel penuh dan dua subsampel. Nilai disclosure Cascade Corporation sebesar 12,0 pada persentil pertama distribusi. Pada laporan tahunan tahun 1990, Cascade Corporation tidak memberikan diskusi tentang prinsip produk atau pasar dan menyajikan ringkasan hasil historis selama lima tahun yang sangat terbatas. Satu-satunya statistik non-keuangan penting yang diungkapkan adalah jumlah orang yang dipekerjakan oleh perusahaan dan tidak ada informasi perkiraan yang disertakan dalam laporan. Diskusi dan analisis manajemen membahas perubahan dalam penjualan, laba bersih, belanja modal, dan pangsa pasar secara kualitatif saja. Pada distribusi 99%, Cummins Engine Co, menerima skor tertinggi yaitu 46,0 pada disclosure laporan tahunan tahun 1990. Laporan Cummins menyediakan pembahasan rinci mengenai prinsip produk dan pasar dengan informasi kuantitatif yang spesifik, ringkasan historis sepuluh tahun yang komprehensif, dan beberapa statistik non-keuangan seperti jumlah karyawan, kompensasi rata-rata per karyawan, statistik pangsa pasar, dan jumlah unit yang dijual . Selain itu, diskusi dan analisis manajemen Cummins memiliki item lebih banyak daripada Cascade dan mencakup informasi kuantitatif yang tidak dapat ditemukan pada laporan keuangan dan catatan kaki. Laporan Cummins terdiri dari proyeksi keuntungan dan penjualan, diskusi tentang dampak tren industri di masa depan, dan anggaran belanja modal untuk tahun mendatang. Dengan demikian, rentang nilai yang dilaporkan dalam tabel 2 mencerminkan variasi item yang besar. Kisaran skor disclosure yang diberikan kepada masing-masing perusahaan dalam dua subsampel sangat mirip. Secara khusus, rentang skor disclosure berkisar antara 11,4-42,0 untuk sampel perusahaan dengan jumlah analis yang mengikuti rendah, dibandingkan dengan rentang antara 17,050,5 untuk perusahaan dengan jumlah analis tinggi. Hipotesis nol bahwa varians sampel adalah sama tidak dapat ditolak pada tingkat signifikansi konvensional. Sejumlah besar analis lebih tertarik pada perusahaan yang informasinya mudah diakses, nilai ratarata untuk disclosure perusahaan dengan jumlah analis tinggi adalah 33,6, dibandingkan 26,5 untuk perusahaan dengan jumlah analis rendah. Perbedaan ini secara statistik signifikan pada tingkat 1%. Meskipun korelasi antara jumlah analis yang mengikuti dan DSCORE positif, namun, memisahkan sampel berdasarkan jumlah analis tidak otomatis memisahkan sampel dengan tingkat disclosure. Sebagai contoh, sebuah perusahaan dengan disclosure index 30 poin akan jatuh dalam kuartil atas distribusi subsampel jumlah analis rendah dan dalam kuartil kedua distribusi subsampel jumlah analis tinggi. Assessment of Validity of DSCORE Studi terdahulu menunjukkan bahwa disclosure index adalah alat penelitian yang bermanfaat. Namun, tingkat disclosure informasi keuangan tidak mudah diukur karena pengembangan dan penerapan disclosure index memerlukan penilaian subyektif oleh peneliti yang menerapkan teknik ini. Akibatnya, penting untuk menilai validitas ukuran yang dihasilkan. Komponen disclosure index diharapkan secara positif berkorelasi satu sama lain. Jumlah artikel Wall Street Journal yang menulis tentang perusahaan selama tahun 1990 dan jumlah analis keuangan yang mengikuti perusahaan selama tahun itu merupakan dua potensi proxy lain untuk ketersediaan informasi perusahaan. Masing-masing koefisien korelasi bernilai positif dan secara statistik signifikan.

Koefisien alpha Cronbach (Cronbach 1951) digunakan untuk menilai sejauh mana korelasi antara pengukuran dilemahkan karena kesalahan acak. Koefisien alpha bernilai maksimum satu ketika hubungan antara setiap pasangan variabel adalah satu. Koefisien alpha Cronbach untuk lima kategori disclosure index bernilai 0,64. Sebagai aturan umum, alpha sebesar 0,8 menunjukkan bahwa korelasinya sangat sedikit dilemahkan oleh kesalahan pengukuran acak (Carmines dan Zellner 1979). Dengan demikian, koefisien alpha 0,64 menunjukkan bahwa kesalahan pengukuran acak dapat mengurangi kekuatan uji empiris. Ahmed (1995) melakukan studi mengenai hubungan antara tingkat disclosure laporan tahunan dan karakteristik perusahaan. Dia menemukan bahwa ukuran perusahaan, exchange listing status, audit ukuran perusahaan, dan leverage memiliki hubungan positif secara statistik signifikan dengan tingkat disclosure. Disclosure index harus berkorelasi dengan karakteristik ini. Panel A dari tabel 4 menyajikan koefisien korelasi Spearman antara DSCORE dan ukuran perusahaan, leverage, dan exchange listing status. Setiap variabel karakteristik perusahaan secara positif berkorelasi dengan DSCORE dengan tingkat keyakinan 95%. Menggunakan analisis multivariat, panel B menyajikan hasil peringkat regresi DSCORE pada ukuran perusahaan, leverage, dan exchange listing status. Ukuran perusahaan dan leverage terus berhubungan positif dengan tingkat disclosure sementara listing status tidak lagi signifikan secara statistik. Sekitar 25% dari variasi dalam peringkat DSCORE dijelaskan oleh variabel yang dimasukkan dalam model.

Penelitian ini juga menghitung korelasi rank-order antara DSCORE dan skor disclosure laporan tahunan yang diberikan oleh AIMR (ASCORE) selama 1990/1991 untuk 24 perusahaan yang muncul dalam kedua sampel. Awalnya, DSCORE dan ASCORE tidak berkorelasi secara signifikan. Namun, hasil ini sensitif terhadap masuknya dua pengamatan ekstrim. Bila pengamatan ini tidak dimasukkan, korelasi positif antara DSCORE dan ASCORE secara statistik signifikan. Koefisien korelasi adalah sebesar 0,37 dengan p-value sebesar 0,04. Bahkan jika pengamatan ekstrim tersebut dimasukkan, korelasi rank-order antara ASCORE dan (1) nilai kategori ringkasan hasil historis (HIST) dan (2) nilai kategori informasi proyeksi (FORE) adalah positif dan signifikan. Koefisien korelasi antara ASCORE dan HIST serta ASCORE dan FORE masing-masing adalah 0,43 dan 0,37. Singkatnya, validitas DSCORE didukung oleh empat set analisis yang berbeda: (1) korelasi antara komponen DSCORE, jumlah analis yang mengikuti, dan jumlah artikel WSJ, (2) koefisien alpha Cronbach, (3) korelasi antara DSCORE dan karakteristik perusahaan yang diidentifikasi dalam penelitian sebelumnya dikaitkan dengan tingkat disclosure, dan (4) korelasi antara skor DSCORE dan disclosure laporan tahunan yang diberikan oleh AIMR ke 24 perusahaan dalam kedua sampel. Hasil penelitian menunjukkan dengan memasukkan nilai kategori perorangan, jumlah artikel Wall Street Journal dan/atau jumlah analis yang mengikuti mungkin memberikan informasi dari DSCORE itu sendiri. Botosan (1997:341) mengutip dari Fama dan French (1992:427-465) dan Lakonishok (1993) dan menyatakan bahwa biaya ekuitas dipengaruhi oleh tingkat disclosure, nilai pasar ekuitas (MVAL) dan risiko (BETA). Oleh karena itu pada persamaan regresi untuk hipotesis pertama dan kedua, selain menggunakan variabel bebas tingkat disclosure (DRANK) juga digunakan dua variabel kontrol, yaitu risiko (BETA) dan nilai pasar ekuitas (MVAL), sedangkan variabel terikatnya adalah biaya ekuitas (COE). V. CONCLUSION Pengaruh tingkat disclosure terhadap biaya modal ekuitas adalah masalah yang menarik dan penting dalam pelaporan keuangan. Namun perdebatan muncul karena adanya suatu masalah dalam disclosure, yaitu manfaat dari disclosure yang lebih besar tidak stabil dan sulit untuk diukur. Makalah ini menemukan adanya bukti bahwa disclosure yang lebih besar berkaitan dengan biaya modal ekuitas rendah, memegang variasi cross-sectional dalam versi beta pasar dan perusahaan ukuran konstan. Studi ini juga menyediakan beberapa bukti awal mengenai jenis pengungkapan yang tampaknya memainkan peran penting dalam mengurangi biaya modal ekuitas. Secara khusus, untuk perusahaan dengan analis rendah, ramalan pengungkapan informasi dan statistik non-keuangan adalah sangat penting sedangkan untuk perusahaan dengan analis yang tinggi berikut, ringkasan history informasi pengungkapan bermanfaat. Analisis dan hasil yang dilaporkan di sini didasarkan pada pengamatan untuk perusahaan dalam satu industri, untuk satu tahun. Oleh karena itu, hasilnya mungkin tidak dapat digeneralisasi ke industri lain dan / atau jangka waktu. Masalah ini dapat diatasi dalam penelitian masa depan dengan menerapkan teknik yang sama dengan industri yang berbeda atau periode waktu.

VI. OPINION Laporan keuangan merupakan signal untuk mengkomunikasikan informasi penting yang dimiliki manajemen perusahaan, misalnya perkiraan manajemen dan profitabilitas perusahaan. Laporan keuangan yang tidak memberikan tingkat disclosure yang memadai oleh sebagian investor dipandang sebagai laporan keuangan yang berisiko. Apabila investor menilai suatu perusahaan berisiko tinggi berdasarkan laporan keuangan yang dihasilkan, maka nilai return yang diharapkan oleh investor juga tinggi, yang pada gilirannya akan menyebabkan tingginya biaya ekuitas yang harus dikeluarkan oleh perusahaan. Praktik manajemen laba banyak dilakukan oleh manajemen karena mereka menganggap bahwa perusahaan lain juga melakukan hal yang sama. Dengan demikian, kinerja kompetitor juga dapat menjadi pemicu untuk melakukan praktik manajemen laba karena investor dan kreditur akan melakukan komparasi untuk menentukan perusahaan mana yang mempunyai rating yang baik. Jika investor menyadari bahwa praktik manajemen laba banyak dilakukan oleh emiten maka ia akan melakukan antisipasi risiko dengan cara menaikkan tingkat imbal hasil saham yang dipersyaratkan. Namun pasar tidak selalu mengantisipasi dengan baik informasi yang terkait dengan akrual. Investor cenderung overestimate terhadap persistensi akrual, serta underestimate persistensi arus kas. Di sisi lain, juga terdapat bukti empirik bahwa informasi akrual relevan untuk penilaian perusahaan. Disclosure merupakan alternatif untuk mencegah atau mengurangi manajemen laba berlebihan. Sebagai contoh, kewajiban pengungkapan tentang dampak pemilihan kebijakan akuntansi yang menaikkan atau menurunkan laba, misalnya dampak untung penghentian aset, biaya kerugian piutang, atau rugi penghentian aset, memungkinkan manajemen laba lebih terkendali karena pengungkapan tersebut menjadikan manajemen laba berlebihan lebih mudah diketahui oleh pengguna laporan keuangan (misalnya investor) dan dapat berakibat buruk bagi manajemen (misalnya terkena sanksi akibat melanggar efficient contracting). Di samping itu, disclosure dapat memudahkan keputusan pemanfaatan informasi selain laba dalam pengambilan keputusan, misalnya informasi aliran kas yang lebih bermanfaat ketika tingkat perataan laba semakin tinggi.