Anda di halaman 1dari 28

Technical Default, Auditors' Decisions and Future Financial Distress

Citra Aryani Sjahrir Dian Agustina Luna Mantyasih Makarti Ratna Nugrahaningsih

INTRODUCTION
Teori akuntansi positif mengasumsikan bahwa pelanggaran perjanjian utang mahal dan, sebagai akibatnya, para manajer lebih memilih untuk menghindari insiden technical default (Watts dan Zimmerman 1986). Berdasarkan premis ini, para peneliti akuntansi telah menghabiskan banyak usaha menentukan jenis perusahaan yang paling mungkin untuk menghadapi default (Press dan Weintrop 1990) dan biaya yang berkaitan dengan default (Beneish dan Press 1993).

Paper ini memeriksa tanggapan auditor terhadap pelanggaran perjanjian utang dan meneliti faktor-faktor penentu keputusan auditor untuk melakukan reklasifikasi dan kualifikasi utang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika perusahaan menghadapi technical default, tindakan auditor sebagian dipengaruhi oleh tindakan dari pemberi pinjaman.

Tes empiris juga mengungkapkan bahwa perusahaan default yang menerima qualified opinion menghadapi kemungkinan peningkatan kesulitan keuangan dalam periode berikutnya. Temuan ini memberikan kontribusi untuk literatur dengan mendokumentasikan bagaimana auditor menanggapi technical default dan dengan menunjukkan bahwa keputusan auditor dapat digunakan untuk mengevaluasi situasi yang mungkin dihadapi oleh perusahaan yang melanggar dalam periode berikutnya.

BACKGROUND INFORMATION
Terdapat dua jenis keputusan auditor, yaitu kualifikasi dan reklasifikasi utang dimana kewenangan umum mengenai reklasifikasi hutang berasal dari SFAS No 78. Menurut SFAS No 78, klasifikasi jangka pendek dimaksudkan untuk mencakup kewajiban yang callable karena terdapat kondisi seperti : (1) tindakan default memicu hak pemberi pinjaman untuk mempercepat utang, atau (2) perusahaan gagal untuk menyembuhkan pelanggaran dalam tenggang waktu yang ditentukan.

Menurut FASB 1986, utang diklasifikasi lancar jika (a) pelanggaran perjanjian telah terjadi pada tanggal neraca dan (b) kemungkinan bahwa peminjam tidak akan dapat menyembuhkan default (sesuai dengan perjanjian) pada tanggal pengukuran dalam waktu 12 bulan ke depan. Oleh karena itu, auditor harus melakukan penilaian terlepas dari apakah beberapa lender telah memberikan keringanan pada tanggal neraca. Mengingat ketentuan PSAK No 78, perusahaan yang gagal untuk menerima keringanan tampaknya menjadi kandidat yang paling mungkin untuk reklasifikasi.

SAMPLE CHARACTERISTICS

Data Collection
Sampel
159 perusahaan yang diperdagangkan di NYSE/AMEX atau NASDAQ, yang mengalami default mulai dari tahun 1978-1988.

Pengumpulan data pelanggaran covenant


Laporan tahunan atau arsip formulir 10-K, dari tahun -2 hingga +2 dari tahun dimana awalnya diidentifikasi default.

Summary Statistics

Perusahaan yang melanggar perjanjian, mengalami :


Peningkatan tingkat utang perusahaan Penurunan nilai ekuitas, likuiditas, profitabilitas

Summary Statistics

Perusahaan yang melakukan pelanggaran :


Nilai ekuitas, tingkat profitabilitas, dan tingkat likuiditas yang secara signifikan lebih rendah Tingkat utang yang secara signifikan lebih tinggi daripada rekan-rekan industri mereka.

Peristiwa default cenderung berhubungan dengan perusahaan yang mengalami kondisi keuangan yang memburuk.

EMPIRICAL RESULTS

Auditor Decisions vs. Lender Decisions


Hubungan antara tanggapan auditor dengan pemberi pinjaman terhadap pelanggaran covenant Response auditor diasumsikan efek dependent Hipotesis:
Auditor cenderung melakukan reklasifikasi ke hutang jangka pendek jika perusahaan tidak mendapatkan waiver. Perusahaan yang gagal mendapatkan waiver cenderung mendapatkan opini audit wajar dengan pengecualian (qualified audit opinions).

Auditor Decisions vs. Lender Decisions

Auditor menggunakan keputusan pemberi pinjaman untuk melakukan reklasifikasi utang.


Auditor melakukan banyak penilaian ketika perusahaan tidak diberikan waiver.

Auditor Decisions vs. Lender Decisions

56% (39 dari 70) dari perusahaan yang gagal untuk menerima waiver, mendapatkan qualified opinion. Hanya 30% (27dari 89) dari perusahaan yang menerima waiver, mendapatkan qualified opinion. Auditor menggunakan keputusan pemberi pinjaman untuk melakukan kualifikasi.

Auditor Decisions vs. Lender Decisions

Auditor menggunakan keputusan pemberi pinjaman untuk melakukan kualifikasi masalah going concern Kira-kira dua pertiga (20 dari 31) dari pendapat going concern yang dikeluarkan untuk perusahaan yang gagal mendapatkan waiver dari pelanggaran.

Auditor Decisions vs. Lender Decisions


Auditor mengunakan keputusan pemberi pinjaman ketika mereka mengevaluasi perusahaan yang melanggar perjanjian utang mereka.

Subsequent Period Problems


Hubungan antara keputusan pemberi pinjaman dan auditor pada initial default dengan kesulitan keuangan perusahaan di masa berikutnya. Kesulitan keuangan didefinisikan sebagai kebangkrutan atau kegagalan pembayaran utang jasa. Hipotesis umum: perusahaan yang gagal menerima waiver, yang utangnya direklasifikasi ke jangka pendek, dan yang menerima qualified opinion akan lebih cenderung menghadapi kesulitan keuangan di masa mendatang.

Subsequent Period Problems

Keputusan waiver bukan penentu kesulitan keuangan di masa depan yang signifikan.

Subsequent Period Problems

Keputusan reklasifikasi utang auditor hanya sedikit yang signifikan. 39% (19 dari 49) perusahaan yang direklasifikasi mengalami kesulitan keuangan dalam periode berikutnya, sedangkan perusahaan yang tidak mengalami reklasifikasi utang hanya 25% (28 dari 110).

Subsequent Period Problems

Keputusan kualifikasi menunjukkan hubungan yang sangat signifikan dengan kesulitan keuangan di masa depan. Hampir 50% (31 dari 66) perusahaan yang menerima qualified opinion mengalami default utang jasa atau kebangkrutan. Hanya 17% (16 dari 93) perusahaan yang bersih dari opini audit akhirnya mengalami kesulitan keuangan.

Subsequent Period Problems

Going concern opinion menunjukkan hubungan yang sangat signifikan dengan kesulitan keuangan di masa depan. Hampir 50% (15 dari 31) perusahaan yang menerima going concern opinion mengalami default utang jasa atau kebangkrutan.

Subsequent Period Problems


Keputusan auditor, terutama keputusan yang melibatkan opini audit, dapat digunakan untuk menilai kemungkinan bahwa perusahaan akan menghadapi kesulitan keuangan masa depan.

MULTIVARIATE TESTS
Hubungan antara keputusan auditor dan kesulitan keuangan di masa depan:

Variabel kontrol: LEVERAGE = total liabilities/total assets ROA = earnings before extraordinary items/total assets CURRENT = current assets/current liabilities

MULTIVARIATE TESTS

Variabel lain selain variabel kontrol (WAIVER, RECLASS, QUALIFY) mengambil nilai satu saat karakteristik tersebut hadir, dan nol ketika karakteristik tidak hadir. Karena dua keputusan auditor tidak sepenuhnya dependen, variabel kualifikasi dimasukkan dalam model reklasifikasi, dan sebaliknya.

MULTIVARIATE TESTS

Model reklasifikasi utang: WAIVER negatif signifikan perusahaan yang menerima waiver sedikit yang mengalami reklasifikasi utang ke jangka pendek. QUALIFY positif signifikan perusahaan yang menerima qualified opinion cenderung mengalami reklasifikasi utang. Terdapat interaksi antara keputusan reklasifikasi auditor dan opini audit.

MULTIVARIATE TESTS

Model Audit Opinion: CURRENT dan ROA negatif signifikan perusahaan dengan likuiditas dan profitabilitas yang rendah biasanya dinilai qualified. RECLASS positif signifikan mengkonfirmasi asosiasi positif antara dua keputusan auditor yang didokumentasikan dalam panel A. Lenders waiver decision tidak signifikan ukuran kesehatan keuangan tampaknya lebih konsisten digunakan dalam pengembangan Audit Opinion.

MULTIVARIATE TESTS

Model Future Financial Distress: LEVERAGE signifikan perusahaan memiliki tingkat utang yang tinggi pada date of initial default lebih mungkin untuk menghadapi kebangkrutan di masa mendatang. qualification decision signifikan perusahaan yang menerima qualified opinion memiliki kemungkinan lebih besar mengalami masalah keuangan yang parah di masa berikutnya.

Kesimpulan dan Saran


Tren terbaru dalam penelitian debt convenant adalah untuk mengevaluasi bagaimana pengguna yang berbeda menanggapi insiden technical default. Bukti yang disajikan dalam makalah ini menyarankan bahwa auditor lebih cenderung untuk mengharuskan obligasi direclassified sebagai current ketika pelanggaran terkait not waived. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa keputusan awal kualifikasi auditor adalah sebuah prediksi yang signifikan dari kesulitan keuangan, meskipun kesulitan tersebut mungkin tidak terjadi selama beberapa tahun di masa depan. Penelitian berikutnya harus memeriksa hubungan antara pelanggaran perjanjian dan pendapat yang dipandu dengan SAS No.58. Para peneliti jg dpt menggabungkan berbagai pendapat praktisi dlm memperluas model yg disajikan dlm penelitian ini