Anda di halaman 1dari 12

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN

First Investments, Inc.: Analysis of Financial Statements

Oleh: Citra Aryani Sjahrir Dian Agustina Luna Mantyasih Makarti Ratna Nugrahaningsih

Program Pascasarjana Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia 2010

Latar Belakang Permasalahan

Laporan tahunan industri dasar tahun 1994 menunjukkan penurunan return on equity (ROE). Hal ini mengakibatkan timbulnya kekhawatiran di antara investor. Suatu analisis harus dibuat untuk meraih kembali keberhasilan nilai ROE yang telah dicapai dalam 10 tahun terakhir. Fokusnya terutama pada periode 1993-1994. Kualitas ROE tahun 1985 dan 1994 juga harus dibandingkan, begitu pula rasio-rasio keuangan penting lainnya. Dengan melakukan analisis keuangan ini, kami berharap dapat mengetahui faktor apa yang membuat ROE pemegang saham dapat berbeda-beda tiap periode waktu.

Analisa
Untuk menganalisis kinerja keuangan perusahaan, digunakan beberapa rasio keuangan. Leverage ratio menunjukkan seberapa besar utang perusahaan. Liquidity ratio untuk mengetahui seberapa mudah cash dapat tersedia. Efficiency ratio untuk mengukur penggunaan produktivitas aktiva. Sedangkan profitability ratio untuk mengukur laba investasi. Rasio-rasio ini dihitung untuk laporan keuangan tahun 1985-1994. Untuk memulai analisis perusahaan, digunakan persamaan Du Pont selama 10 tahun berjalan. Du Pont Analysis digunakan dalam menganalisa perusahaan, dimana didalamnya ROE dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu: Operating efficiency, yang dinilai dari profit margin. Dirumuskan sebagai berikut :

Asset use efficiency, yang dinilai dari total asset turnover. Dirumuskan sebagai berikut :

Financial leverage, yang dinilai dari equity multiplier. Dirumuskan sebagai berikut :

Tabel 1 - Analisa Du Pont


1994
4.5% Profit Margin Total Assets 1.43 Turnover 6.43% ROA 2.53 Equity Multiplier 16.4% ROE

1993
5.1% 1.39 7.08% 2.47 17.3%

1992
5.12% 1.38 7.07% 2.4 17.2%

1991
5.01% 1.37 6.86% 2.46 16.8%

1990
6.35% 1.41 8.95% 2.43 12.86%

1989
3.29% 1.43 4.7% 2.43 11.46%

1988
4.26% 1.48 6.3% 2.35 14.87%

1987
4.67% 1.49 6.96% 2.32 16.1%

1986
4.72% 1.5 7.08% 2.24 15.93%

1985
5.7% 1.44 8.21% 2.04 16.85%

Tahun 1985-1994 Jika operating profit margin meningkat, maka setiap penjualan akan menghasilkan uang yang lebih besar sehingga ROE meningkat. Jika asset turnover meningkat, lebih banyak penjualan yang dihasilkan untuk setiap unit aset yang menyebabkan ROE juga bertambah. Selanjutnya, jika leverage keuangan meningkat, maka menunjukkan bahwa perusahaan melakukan pembiayaan relatif menggunakan lebih banyak utang daripada pembiayaan dengan ekuitas. Proporsi utang yang tinggi di dalam struktur modal mengarah ke ROE yang lebih tinggi karena pembayaran bunga ke kreditor dapat dikurangkan dari pajak sedangkan pembayaran dividen ke shareholder tidak bisa. Namun, peningkatan utang hanya akan meningkatkan ROE jika ROA lebih besar daripada suku bunga utang. Selain itu, jika perusahaan meminjam uang, sebagian besar dari keuntungan diserap oleh bunga. Hal ini tercermin dalam rasio beban utang yang lebih rendah. Berdasarkan tabel Du Pont, kita dapat membandingkan rasio ROE. Terdapat fluktuasi pada tiap tahunnya, dengan ROE terkecil pada tahun 1989, yaitu sebesar 11.46%. Terdapat banyak kesamaan antara operating profit margin dan ROE. Pada tahun 1989, profit margin memiliki nilai terkecil dibanding tahun-tahun lain (3.29%). Profit margin yang rendah menyebabkan jumlah uang dari penjualan tiap unit yang lebih rendah dan dengan demikian menurunkan ROE. Jadi, profit margin yang meningkat akan meningkatkan ROE, dan sebaliknya. Hubungan sebanding dapat ditarik antara asset turnover dan ROE, peningkatan dalam menghasilkan omset penjualan per unit aset akan menyebabkan ROE yang lebih tinggi dan sebaliknya. Produk dari profit margin dan asset turnover yaitu return on asset (ROA). Setiap ROA yang meningkat akan diikuti oleh peningkatan ROE. Selama bertahun-tahun terdapat peningkatan secara terus-menerus dalam leverage ratio dilihat dari nilai equity multiplier yang berarti bahwa perusahaan menggunakan lebih banyak utang dalam mendanai operasionalnya. Selain itu, terdapat penurunan beban utang karena perusahaan harus membayar bunga kepada kreditor sehingga dapat menyerap sebagian keuntungan. Peningkatan leverage ratio tidak selalu memiliki efek negatif terhadap ROE seperti dijelaskan sebelumnya. Namun, ROA menurun jika bunga yang harus dibayarkan bertambah. Jika tingkat suku bunga lebih tinggi daripada ROA, maka akan berpengaruh negatif terhadap ROE. Hal ini karena bunga harus dibayar terlebih dahulu sebelum

shareholder dapat menerima dividen. Karena bunga meningkat, maka profit margin menurun sehingga mempengaruhi ROE. Rasio Keuangan Tahun 1985, 1993, dan 1994 Tabel 2 Aktiva
Assets Cash Marketable securities Current receivables Inventories Current assets Investments Plant and equipment Other assets Total assets 1994 3.4% 0.6% 27.7% 24.1% 55.7% 10.7% 27.9% 5.6% 100.0% 1993 4.7% 0.3% 25.8% 23.6% 54.4% 10.3% 28.0% 7.2% 100.0% 1985 6.7% 8.2% 24.7% 26.4% 66.1% 5.6% 24.1% 4.2% 100.0%

Tabel 3 Pasiva
Liabilities and Equity Short-term borrowings Accounts payable Progress collections and price adjustments accrued Dividends payable Taxes accrued Other costs and expenses accrued Current liabilities Long-term borrowings Other liabilities Total liabilities Minority interest in equity of consolidated affiliates Preferred stock Common stock Amounts received for stock in excess of par value 1994 6.9% 7.4% 10.7% 0.8% 3.6% 12.0% 41.4% 12.8% 5.5% 59.7% 0.8% 0.0% 5.0% 4.4% 1993 8.0% 8.1% 8.6% 0.9% 3.7% 12.6% 42.0% 11.0% 5.9% 58.9% 0.6% 0.0% 5.6% 4.9% 1985 2.8% 8.7% 7.0% 1.4% 7.4% 9.1% 36.4% 8.5% 5.1% 50.0% 1.0% 0.0% 10.6% 6.2%

Retained earnings

32.0% 41.4%

32.2% 42.7% -2.2% 40.5% 100.0%

32.2% 49.0% 0.0% 49.0% 100.0%

Deduct common stock held in treasury Total shareowner's equity Total liabilities and equity

-1.9% 39.5% 100.0%

Tabel 4 - Summary of Operations


Summary of operations: Sales of products and services Materials, engineering and production costs Selling, general & administrative expeneses Operating costs Operating margin Other income Interest and other financial charges Earnings before income taxes and minority interest Provision for income taxes Minority interest Net earnings 1994 100.0% 75.6% 17.0% 92.6% 7.4% 1.4% -1.3% 7.5% -2.9% -0.1% 4.5% 1993 100.0% 73.6% 18.2% 91.8% 8.2% 1.6% -1.1% 8.7% -3.6% -0.1% 5.1% 1985 100.0% 71.6% 18.0% 89.6% 10.4% 1.2% -0.4% 11.1% -5.7% 0.3% 5.7%

Berdasarkan Du Pont Analysis pada tabel 1, ROE perusahaan pada tahun 1994 (16.42%) tidak mengalami banyak penurunan dibandingkan pada tahun 1985 (16.85%). Namun ROE yang tampak baik ini, tidak sepenuhnya benar. Menggunakan Du Pont Analysis, ROE dapat dijelaskan berdasarkan tiga indeks penyusunnya yaitu profit margin, assets turnover, dan equity multiplier. Asset turnover pada tahun 1994 (1.43) tidak mengalami banyak perubahan dibandingkan pada tahun 1985 (1.44), sehingga tidak terlalu relevan untuk digunakan dalam memahami keadaan keuangan perusahaan. Profit Margin menunjukkan penurunan yang signifikan dari periode 1985 hingga 1994, yang mengakibatnya ROA turun. Hal ini disebabkan karena variabel-variabel yang dijelaskan pada tabel 4. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa total biaya produksi (production cost dan operating cost) dan bunga

pembayaran mengalami peningkatan dibandingkan pada 1985, dengan demikian hal ini akan mempengaruhi sales. Meningkatnya total biaya produksi menunjukkan bahwa perusahaan telah menjadi kurang efisien dalam operasi. Sedangkan meningkatnya bunga pembayaran berkaitan dengan jumlah utang perusahaan yang meningkat, yang akan dijelaskan secara rinci nanti. Indeks ketiga, equity multiplier, meningkat karena tingginya tingkat leverage perusahaan yang didanai oleh modal dari pihak ketiga, yang menyebabkan total aktiva meningkat secara signifikan dalam kaitannya dengan kekayaan bersih. Hal ini dapat dilihat dalam tabel 3 di mana pinjaman jangka pendek maupun jangka panjang, yang digunakan untuk membiayai investasi dan akuisisi aktiva tetap, mengalami peningkatan dibandingkan 1985. Tabel 5 - Indeks Hutang/ Leverage Ratio
Indeks Hutang Hutang Komposisi Hutang Jangka Pendek TIE (Times-interest-earned) 1994 59.70% 69.36% 5.56 1993 58.19% 71.25% 7.97 1985 50.04% 72.81% 25.19

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa tingkat utang perusahaan meningkat sekitar 10% dari 1985, namun hal ini dilakukan tanpa mengubah komposisinya yang sebagian besar merupakan utang jangka pendek. Sehingga dengan meningkatnya current liabilities tidak diimbangi dengan current assets yang justru mengalami penurunan. Penurunan current assets disebabkan karena sebagian besar asset dialokasikan untuk investasi dan membiayai operasional, yang dijelaskan pada tabel 2. TIE digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban utangnya. Yang dihitung dari laba perusahaan sebelum bunga dan pajak (EBIT) dibagi dengan dengan jumlah utang bunga obligasi dan utang lainnya. Tabel 5 menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya turun sekitar lima kali lipat dibandingkan pada tahun 1985. Peningkatan jumlah pembayaran bunga akan menghasilkan penurunan beban utang. Rasio ini mengukur proporsi beban bunga yang dapat mengurangi keuntungan. Peningkatan bunga yang dibayarkan selama bertahun-tahun telah menyebabkan peningkatan beban utang.

Berdasarkan ROE tahun 1985 dan 1994, dapat dinyatakan bahwa ROE pada tahun 1985 (16.85%) sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1994 (16.42%). ROA di tahun 1985 (8.21%) juga sedikit lebih besar daripada tahun 1994 (6.43%). Ini berarti tren beban utang dan leverage ratio juga harus diperhitungkan. Perusahaan tidak hanya dibiayai oleh ekuitas, jumlah yang besar berasal dari utang. Tren leverage ratio menunjukkan bahwa leverage ratio (aset/ekuitas) lebih besar daripada 1 tiap tahunnya (aset lebih besar daripada ekuitas). Di sisi lain, beban utang (net income/ (net income + Interest)) bernilai kurang dari 1 (sebagian keuntungan telah berkurang karena beban bunga). Jadi, leverage dapat meningkatkan maupun mengurangi ROE. Peningkatan ROE disebabkan oleh dua faktor. Pertama, ROA yang melebihi/tidak melebihi tingkat suku bunga utang. Kedua, pembayaran bunga utang yang dikurangi dari pendapatan sebelum pajak. Oleh karena itu, pajak pendapatan mengurangi beban bunga dengan persentase tertentu. Sayangnya, kedua faktor penting tersebut tidak dapat dihitung karena kurangnya informasi. Tabel 6 Liquidity Ratio
Liquidity ratio Current ratio Quick Ratio 1994 1.35 0.76 1993 1.31 0.74 1985 1.81 1.09

Current ratio mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Rasio ini merupakan perbandingan antara current asset terhadap current liabilities. Dari tabel 6 dapat dilihat bahwa current ratio menurun dari tahun 1985, hal ini menunjukkan bahwa kapasitas perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek menurun. Quick ratio juga merupakan indikator likuiditas perusahaan jangka pendek, yang mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan aktiva yang paling likuid. Semakin tinggi quick ratio maka semakin baik posisi perusahaan. Dalam penghitungan quick ratio nilai inventory dikeluarkan dari current asset, hal tersebut disebabkan karena sulitnya mengubah inventory menjadi uang tunai. Dari tabel 6 dapat dilihat bahwa quick ratio menurun dari tahun 1985, dimana current asset tidak dapat

memenuhi current liabilitiesnya. Hal ini menunjukkan bahwa current asset dari perusahaan sebagian besar adalah inventory, sehingga asset yang liquid tidak cukup untuk menutupi current liabilitiesnya. Tabel 7 Indeks Manajemen Asset
Indeks manajemen aset Inventory Turnover Collection Days 1994 5.94 70 1993 5.83 68 1985 5.47 62

Inventory Turnover merupakan rasio yang menunjukkan berapa kali persediaan perusahaan dijual dan diganti selama suatu periode. Rasio ini merupakan perbandingan antara sales terhadap inventory. Dari tabel 7 dapat dilihat bahwa inventory turnover dari perusahaan justru meningkat dibandingkan tahun 1985, yang menandakan penjualan dari perusahaan semakin meningkat. Collection days merupakan rata-rata jumlah hari yang diperlukan perusahaan untuk mengumpulkan tagihan yang belum dibayar. Dari tabel Indeks manajemen aset dapat dilihat bahwa Collection days dari perusahaan meningkat dibandingkan tahun 1985, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan mengalami masalah pembayaran atas jasa atau produknya. Tabel 8 Summary Rasio Keuangan
Rasio Time Interest Earned Pretax Margin Profit Margin Operating Margin Pretax Margin Total Assets Turnover Cash Ratio Debt to Total Capital Debt to Equity 1994 5.524 0.07460 4.5% 7.4% 7.5% 1.43 0.095 0.33 0.5 1993 7.524 0.08739 5.1% 8.2% 8.7% 1.39 0.120 0.32 0.47 1985 23.558 0.11107 5.7% 10.4% 11.1% 1.44 0.410 0.19 0.23

Operating margin perusahaan meningkat secara signifikan selama bertahun-tahun. Artinya, banyak penjualan yang mengalami laba sementara laba operasi perusahaan dibagi antara debt holder dan shareholder. Namun, bila membandingkan antara tahun 1993 dan

1994, dapat dikatakan bahwa marjin usaha menurun. Penurunan ini berkorelasi dengan jumlah pinjaman yang besar yang menyebabkan tingkat bunga meningkat. Penurunan besar pada operating profit margin ((net income + interest)/penjualan) dapat dijelaskan oleh peningkatan penjualan. Kenaikan bunga tidak mengimbangi peningkatan drastis dalam penjualan sehingga net income mendekati konstan. Peningkatan besar pada penjualan, berdasarkan laporan tahun 1993 dan 1994 kemungkinan disebabkan oleh penurunan besar yang terjadi pada operating profit margin.

Kesimpulan
Melihat ROE First Investment, Inc. selama 10 tahun terakhir, dapat terlihat bahwa nilai ROE tergantung dari profit margin dan asset turnover yang merupakan unsur di dalam ROA. Di masa lalu, ketika profit margin menurun, efek langsung terjadi pada ROE. Hal yang sama berlaku untuk asset turnover. Jika penjualan yang dihasilkan tiap dollar aset berkurang, ROE menjadi berkurang pada periode itu. Selain itu, terdapat penurunan beban utang dan peningkatan leverage ratio. Artinya, perusahaan meminjam lebih banyak uang dan proporsi bunga utang perusahaan yang mengurangi keuntungan menjadi lebih besar. ROE menurun pada periode-periode ketika peningkatan ROA berkurang, tergantung pada penjualannya. Fred Aldrich seharusnya tidak memberikan saran kepada investasi yang berkesinambungan di perusahaan yang bersangkutan, meskipun ROE menunjukkan kestabilan. Analisis lebih lanjut di luar indeks ini sederhana, menunjukkan situasi yang kurang kondusif. ROE tidak dapat dijaga kestabilannya karena adanya peningkatan total aktiva yang tidak proposional pada ekuitas. Fakta ini menunjukkan bahwa peningkatan aset diperoleh dari pinjaman bank daripada ekuitas. Sebuah indikator yang merangkum situasi perusahaan pada umumnya adalah TIE, yang menunjukkan kegagalan progresif operasi dikenakan bunga utang kepada pihak ketiga. Dengan ini, bukti tersebut adalah bahwa keberlanjutan investasi dari waktu ke waktu diragukan.