Anda di halaman 1dari 15

BAB II

PENGENALAN FILSAFAT
A. Pendahuluan Ada beberapa pendekatan yang dipilih manusia untuk memahami, mengolah, dan menghayati dunia beserta isinya. Pendekatan-pendekatan tersebut aadalah filsafat, ilmu pengetahuan, seni, dan agama. Filsafat adalah usaha untuk memahami atau mengerti dunia dalam hal makna dan nilai-nilainya. Bidang filsafat sangat luas dan mencakup secara keseluruhan sejauh dapat dijangkau oleh pikiran. Filsafat berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang asal mula dan sifat dasar alam semesta tempat manusia hidup serta apa yang merupakan tujuan hidupnya. Filsafat bila menggunakan bahan-bahan deskriptif yang disajikan bidang-bidang studi khusus dan melampaui deskripsi tersebut dengan menyelidiki atau menanyakan sifat dasarnya, nilai-nilainya dan kemungkinannya. Tujuannya adalah pemahaman (understanding) dan kebijaksanaan (wisdom). Disebabkan oleh karena itulah filsafat meruapakan pendekatan yang menyeluruh terhadap kehidupan dan dunia. Suatu bidang yang berhubungan erat dengan bidang-bidang pokok pengalaman manusia. Filsafat berusaha untuk menyatukan hasil-hasil ilmu dan pemahaman tentang moral, estetik, dan agama. Para filsuf telah mencari suatu pandangan tentang hidup secara terpadu, menemukan maknanya serta mencoba memberikan suatu konsepsi yang beralasan tentang alam semesta dan tempat manusia di dalamnya. A. Arti Filsafat Filsafat termasuk ilmu pengetahuan yang paling luas cakupannya, oleh karena itu titik tolak untuk memahami dan mengerti filsafat adalah meninjau dari segi etimologi. Tinjauan etimologik adalah membahas sesuatu istilah atau kata dari segi asal-usul kata itu. a. Dari segi Etimologi Istilah filsafat dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata falsafah (Arab), philosophy (Inggris), philosophia (Latin), philosphie (Jerman, Belanda, Perancis). Semua istilah itu bersumber pada istilah Yunani philosophia. Istilah Yunani philein berarti mencintai, sedangkan philos berarti teman. Selanjutnya istilah sophos berarti bijaksana. Sedangkan sophia berarti kebijaksanaan. Ada dua arti etimologik dari filsafat yang sedikit berbeda. Pertama, apabila istilah filsafat mengacu pada asal kata philein dan sophos, maka artinya mencintai hal-hal yang bersifat bijaksana (bijaksana dimaksudkan sebagai kata sifat. Kedua, apabila filsafat mengacu pada asal kata philos dan dan sophia, maka artinya adalah teman kebijaksanaan (kebijaksanaan dimaksudkan sebagai kata benda), Menurut sejarah, Pythagoras (572-497 SM) adalah orang yang pertama kali memakai kata philosophia. Ketika beliau ditanya apakah ia sebagai orang bijaksana, maka Pythagoras dengan rendah hati menyebut dirinya sebagai philosophos, yakni pencinta kebijaksanaan (lover of wisdom). Banyak sumber yang menegaskan bahwa sophia mengandung arti yang lebih luas daripada kebijaksanaan. Artinya ada berbagai macam, antara lain: (1) kerajinan, (2) kebenaran pertama, (3) pengetahuan yang luas, (4) kebajikan intelektual, (5) pertimbangan yang sehat, (6) kecerdikan dalam memutuskan hal-hal praktis. Dengan demikian asal mula kata filsafat itu sangat umum, yang intinya adalah mencari keutamaan mental (the pursuit of mental excelence).

10

b.

Filsafat sebagai suatu sikap Filsafat adalah suatu sikap terhadap kehidupan dan alam semesta. Bila seseorang dalam keadaan krisis atau menghadapi problem yang sulit, maka kepadanya dapat diajukan pertanyaan bagaimana Anda menanggapi keadaan semacam itu? Bentuk pertanyaan semacam itu membutuhkan jawaban secara kefilsafatan. Problem-problem tersebut ditinjau secara luas, tenang, dan mendalam. Tanggapan semacam itu menumbuhkan sikap ketenangan, keseimbangan pribadi, pengendalian diri, dan tidak emosional. Sikap dewasa secara filsafat adalah sikap menyelidiki secara kritis, terbuka, toleran dan selalu bersedia meninjau suatu problem dari semua sudut pandangan.

c.

Filsafat Sebagai Suatu Metode Filsafat sebagai metode artinya sebagai cara berpikir secara reflektif (mendalam), penyelidikan yang menggunakan alasan, berpikir secara hati-hati dan teliti. Filsafat berusaha untuk memikirkan seluruh pengalaman manusia secara mendalam dan jelas. Metode berpikir semacam ini bersifat inclusive (mencakup secara luas) dan synoptik (secara garis besar), oleh karena itu berbeda dengan metode pemikiran yang dilakukan oleh ilmu-ilmu khusus.

d.

Filsafat Sebagai Kelompok Persoalan Banyak persoalan abadi (perennial problems) yang dihadapi manusia dan para filsuf berusaha memikirkan dan menjawabnya. Beberapa pertanyaan yang diajukan pada masa lampau telah dijawab secara memuaskan. Misalnya pertanyaan tentang ide-ide bawaan (innate ideas) telah dijawab oleh John Locke pada abad ke- 17. Namun masih banyak pertanyaan lain yang dijawab sementara. Di samping itu juga masih banyak problem-problem yang jawabannya masih diperdebatkan ataupun diseminarkan sampai hari ini, bahkan yang belum terpecahkan. Pertanyaan-pertanyaan filsafati berbeda dengan pertanyaan-pertanyaan non filsafati. Misalnya pertanyaan Berapa Indeks Prestasi yang Anda capai dalam semester lalu? Berapa jumlah buku yang Anda miliki? Dimana Anda tinggal? Pertanyaanpertanyaan semacam itu jelas bukan merupakan pertanyaan kefilsafatan, karena merupakan pertanyaan tentang fakta-fakta. Pertanyaan-pertanyaan non-filsafati bertalian dengan halhal tertentu, khusus, terikat oleh ruang dan waktu, sehingga jawabannya dapat secara langsung diberikan pada saat itu juga. Pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan misalnya: apakah kebenaran itu? Apakah perbedaan antara benar dan salah? Mengapa manusia ada di dunia? Apakah segala sesuatu di dunia ini terjadi secara kebetulan ataukah merupakan peristiwa yang sudah pasti? Apakah manusia mempunyai kehendak bebas untuk menentukan nasibnya sendiri ataukah sudah ditentukan oleh Tuhan? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak mudah untuk dijawab, sebab akan menimbulkan pertanyaan susulan terus menerus. Setiap filsuf memiliki wewenang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan mengajukan argumentasi yang logis dan rasional.

e.

Filsafat Sebagai Sekelompok Teori atau Sistem Pemikiran Sejarah filsafat ditandai dengan pemunculan teori-teori atau sistem-sistem pemikiran yang terlekat pada nama-nama filsuf besar seperti Sodrates, Plato, Aristoteles, Thomas Aquinas, Spinoza, Hegel, Karl Marx, August Comte, dan lain-lainnya. Teori atau sistem pemikiran filsafat itu dimunsulkan oleh masing-masing filsuf dalam menjawab masalah-masalah seperti yang telah dikemukakan diatas. Besarnya kadar subjektivitas seorang filsuf dalam menjawab masalah-masalah itu menjadikan kita sulit untuk menentukan teori atau sistem pemikiran yang baku dalam filsafat.

11

f.

Filsafat sebagai Analisa Logis tentang Bahasa dan Penjelasan Makna Istilah Kebanyakan filsuf memakai metode analisis untuk menjelaskan arti suatu istilah dan pemakaian bahasa. Beberapa filsuf mengatakan bahwa analisis tentang arti bahasa merupakan tugas pokok filsafat dan tugas analisis konsep sebagai satu-satunya fungsi filsafat. Para filsuf analitika seperti G.E. Moore, B. Russell, L. Wittgenstein, G. Ryle, J.L. Austin dan yang lainnya brpendapat bahwa tujuan filsafat adalah menyingkirkan kekaburan-kekaburan dengan cara menjelaskan arti istilah atau ungkapan yang dipakai dalam ilmu pengetahuan dan dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Mereka berpendirian bahwa bahasa merupakan laboratorium para filsuf, yaitu tempat menyemai dan mengembangkan ide-ide. Menganalisis berarti menetapkan arti secara tepat dan memahami saling hubungan di antara arti-arti tersebut. Misalnya kata ada apabila dianalisis ternyata dapat mengandung nuansa arti. Apakah adaNya Tuhan sama dengan adanya manusia? Dengan demikian kata ada dapat berarti ada dalam ruang waktu, ada secara transenden, ada dalam pikiran atau mungkin ada. Dalam kaitannya dengan ilmu, maka filsafat mempelajari arti-arti dan menentukan hubungan-hubungan diantara konsep-konsep dasar yang dipakai setiap ilmu. Misalnya, dalam ilmu kimia, konsep dasarnya adalah substansi (zat), geometri bertalian dengan konsep dasar ruang, mekanika dengan konsep dasar gerak dan seterusnya. Dalam menghadapi konsep-konsep dasar tersebut ada perbedaan tinjauan antara ahli ilmu-ilmu khusus dengan ahli filsafat. Seorang ahli kimia dapat menjelaskan unsur-unsur penggabungan dan hubungan antara unsur-unsur zat. Para ilmuwan khusus hanya membicarakan konsep dasarnya sendiri sejauh hal itu bersangkutan dengan tujuan-tujuan khusus. Di lain pihak seorang ahli filsafat menganalisis konsep-konsep dasar tersebut dalam kaitannya dengan konsep-konsep dasar yang berlaku dalam bidang ilmu lainnya. Dengan demikian tinjauan kefilsafatan bersifat umum dan tidak berhenti pada cakupan khusus saja.

g.

Filsafat Merupakan Usaha untuk Memperoleh Pandangan yang Menyeluruh Filsafat mencoba menggabungkan kesimpulan-kesimpulan dari berbagai ilmu dan pengalaman manusia menjadi suatu pandangan dunia yang konsisten. Para filsuf berhasrat meninjau kehidupan tidak dengan sudut pandangan yang khusus sebagaimana dilakukan oleh seorang ilmuwan. Para filsuf memakai pandangan yang menyeluruh terhadap kehidupan sebagai suatu totalitas.Menurut para ahli filsafat spekulatif (yang dibedakan dengan filsafat kritis), dengan tokoh C.D. Broad, tujuan filsafat adalah mengambil alih hasil-hasil pengalaman manusia dalam bidang keagamaan, etika, dan ilmu pengetahuan, kemudian hasil-hasil tersebut direnungkan secara menyeluruh. Dengan cara ini diharapkan dapat diperoleh beberapa kesimpulan umum tentang sifat-sifat dasar alam semesta, kedudukan manusia di dalamnya serta pandangan-pandangan ke depan. Usaha filsafati semacam ini sebagai reaksi terhadap masa lampau di mana filsafat hanya terarah pada analisis pada bidang khusus. Usaha yang hanya mementingkan sebagian dari pengetahuan atau usaha yang hanya menitikberatkan pada sebagian kecil dari pengalaman manusia. Para filsuf seperti Plato, Aristoteles, Thomas Aquinas, Hegel, Bergson, John Dewey dan A.N. Whitehead termasuk filsuf yang berusaha memperoleh pandangan tentang hal-hal secara komprehensif. B. Objek Material dan Objek Formal Filsafat Ilmu adalah kumpulan pengetahuan. Namun tidak dapat dibalik bahwa kumpulan pengetahuan itu adalah ilmu. Kumpulan pengetahuan untuk dapat disebut ilmu harus memiliki syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang dimaksudkan adalah objek material dan objek fromal. Setiap bidang ilmu apakah itu ilmu khusus maupun ilmu filsafat harus memiliki dua macam objek tersebut.

12

Objek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran pemikiran (Gegenstand), sesuatu hal yang diselidiki atau sesuatu hal yang dipelajari. Objek material mencakup apa saja, baik hal-hal konkrit (misalnya manusia, tumbuhan, batu) atau pun hal-hal yang abstrak (misalnya: ide-ide, nilai-nilai, kerohanian). Objek formal adalah cara memandang, cara meninjau yang dilakukan oleh seorang peneliti terhadap objek materialnya serta prinsip-prinsip yang digunakannya. Objek formal suatu ilmu tidak hanya memberi keutuhan suatu ilmu, tetapi pada saat yang sama membedakannya dari bidang-bidang lain. Satu objek material dapat ditinjau dari berbagai sudut pandangan sehingga menimbulkan ilmu yang berbeda-beda. Misalnya, objek materialnya adalah manusia dan manusia ini ditinjau dari berbagai sudut pandangan sehingga ada beberapa ilmu yang mempelajari manusia di antaranya: psikologi, antropologi, sosiologi. Istilah objek material sering juga dijumbuhkan atau dianggap sama dengan pokok persoalan (subject matter). Pokok persoalan ini perlu dibedakan atas dua arti. Arti pertama, pokok persoalan dapat dimaksudkan sebagai bidang khusus dari penyelidikan faktual. Misalnya penelitian tentang atom termasuk bidang fisika; penelitian tentang clorophyl termasuk penelitian bidang botani atau biokimia; penelitian tentang bawah sadar termasuk bidang psikologi. Arti krdua, Pokok persoalan dimaksudkan sebagai suatu kumpulan pertanyaan pokok yang saling berhubungan. Anatomi dan fisiologi keduanya bertalian dengan struktur tubuh. Anatomi mempelajari strukturnya, sedangkan fisiologi mempelajari fungsinya. Kedua ilmu tersebut dapat dikatakan memiliki pokok persoalan yang sama, namun juga dapat dikatakan berbeda. Perbedaan ini dapat diketahui apabila dikaitkan dengan corak-corak pertanyaan yang diajukan dan aspek-aspek yang diselidiki dari tubuh tersebut. Anatomi memperlajari tubuh dalam aspeknya yang statis, sedangkan fisiologi mempelajari tubuh dalam aspeknya yang dinamis. Bertalian dengan pengertian objek material dan objek formal, ada perbedaan antara filsafat dengan ilmu yang bukan filsafat. Bahkan berbeda antara ilmu yang satu dengan ilmu yang lain. Misalnya objek materialnya beupa pohon kelapa. Seorang ahli ekonomi akan mengarahkan perhatiannya atau meninjau (objek formal) pada aspek ekonomi dari pohon kelapa tersebut. Berapa harga buahnya, kayunya, atau lidinya kalau dijual. Ekonom tidak mengarahkan perhatiannya pada unsur-unsur yang menyusun pohon kelapa tersebut. Demikian pula seorang ahli pertanian juga mempunyai sudut pandangan yang khusus sesuai dengan keahliannya. Misalnya Bagaimana caranya agar pohon kelapa itu dapat tumbuh subur, apakah cocok ditanam pada lahan tertentu. Seorang ahli biologi akan mengarahkan perhatiannya pada unsur-unsur yang terkandung dalam seluruh pohon, baik unsur batang, daun maupun buahnya. Seorang ahli hukum akan mempertanyakan status kepenilikan pohon tersebut. Siapa pemilik ayah pohon kelapa tersebut; apakah ditanam di lahanya sendiri ataukah di lahan sewaan. Berdasar uaraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa para ilmuwan yang ahli di bidang disiplin ilmu tertentu, mengarahkan perhatianna pada salah satu aspek dari objek materialnya. Disiplin ilmu khusus terbatas ruang lingkupnya, artinya bidang sasarannya tidak mencakup bidang lain yang bukan wewenangnya. Setiap bidang ilmu menggarap kaplingnya masing-masing, dan tidak begitu perduli dengan kapling ilmu lain. Inilah yang disebut otoritas dan otonomi (kemandirian) kelimuan, yaitu wewnang yang dimiliki seorang ilmuwan untuk mengembangkan disiplin ilmunya tanpa campur tangan pihak luar. Para ilmuan itu hanya berbicara tentang bidangnya sendiri. Pada hal sering kali setiap ilmu khusus menghadapi persoalan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan kemampuan ilmu yang dikuasainya. Ada sejumlah persoalan fundamental yang mencakup dan melampui wewenang setiap ilmu khusus itu antara lain sebagai berikut: (a) Sejauh mana batas-batas (ruang lingkup) yang menjadi wewenang masing-masing ilmu khusus itu? Dari mana ilmu khusus itu mulai dan sampai mana harus berhenti? Ilmu ekonomi pertanian termasuk wewenang fakultas ekonomi ataukah fakultas pertanian?

13

(b)

Dimanakah sesungguhnya tempat ilmu-ilmu khusus dalam realitas yang melingkupinya? (c) Metode-metode yang dipakai ilmu-ilmu tersebut berlakunya samapi dimana? Misalnya, metode yang dipakai ilmu sosial berbeda dengan yang dipakai ilmu kealaman maupun humaniora. (d) Apakah persoalan kausalitas (hubungan sebab-akibat) yang berlaku dalam ilmu kealaman juga berlaku pula bagi ilmu-ilmun sosial maupun humaniora? Misalnya setiap logam kalau dipanaskan pasti memuai. Gejala ini berlaku bagi semua logam. Panas merupakan faktor penyebab gejala memuai. Akan tetapi sulit untuk memastikan bahwa setiap kebijaksanaan pemerintah menaikkan gaji pegawai negeri akan menimbulkan gejala kenaikan harga barang. Karena bisa saja kenaikan harga barang itu disebabkan oleh faktor lain misalnya adanya inflasi, banyaknya permintaan konsumen, langkanya barang-barang tertentu yang sangat dibutuhkan masyarakat. Kenaikan gaji pegawai negeri barangkali hanyalah salah satu dari beberapa sebab. Contoh-contoh yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa setiap ilmu khusus menjumpai problem-problem yang bersifat umum, problem-problem semacam itu tidak dapat dijawab oleh ilmu itu sendiri (meskipun muncul dari ilmu itu sendiri), karena setiap bidang ilmu memiliki objek material yang terbatas. Dalam hal ini filsafat mengatasi setiap ilmu, baik dalam hal metode maupun ruang lingkupnya, Objek formal filsafat terarah pada unsur-unsur keumuman yang secara pasti ada pada ilmu-ilmu khusus. Dengan tinjauan yang terarah pada unsur-unsur keumuman itu, maka filsafat berusaha mencari hubungan-hubungan di antara bidang-bidang ilmu yang bersangkutan. Aktivitas filsafat yang demikian ini disebut multidisipliner. C. Hubungan Ilmu dengan Filsafat Pada mulanya ilmu yang pertama kali muncul adalah filsafat dan ilmu-ilmu khusus menjadi bagian dari filsafat. Sehingga ada yang mengatakan filsafat sebagai induk atau ibu ilmu pengetahuan atau mater scientiarum. Karena objek matrial filsafat sangat umum yaitu seluruh kenyataan, pada hal ilmu-ilmu membutuhkan objek material yang khusus hal ini berakibat berpisahnya ilmu dari filsafat. Meskipun dalam perkembangannya masing-masing ilmu memisahkan diri dari filsafat, ini tidak berarti hubungan filsafat dengan ilmu-ilmu khusus menjadi terputus. Dengan ciri kekhususan yang dimiliki setiap ilmu hal ini menimbulkan batas-batas yang tegas di antara masing-masing ilmu. Dengan kata lain tidak ada bidang pengetahuan yang menjadi penghubung ilmu-ilmu yang terpisah. Di sinilah filsafat berusaha untuk menyatupadukan masing-masing ilmu. Tugas filsafat adalah mengatasi spesialisasi dan merumuskan suatu pandangan hidup yang didasarkan atas pengalaman kemanusiaan yang luas. Oleh karena itu filsafat merupakan salah satu bagian dari proses pendidikan secara alami dari makhluk yang berpikir. Ada hubungan timbal balik antara ilmu dengan filsafat. Banyak masalah filsafat yang memerlukan landasan pada pengetahuan ilmiah apabila pembahasannya tidak ingin dikatakan dangkal dan keliru. Ilmu dewasa ini dapat menyediakan bagi filsafat sejumlah besar bahan yang berupa fakta-fakta yang sangat penting bagi perkembangan ide-ide filsafati yang tepat sehingga sejalan dengan pengetahuan ilmiah. Setiap ilmu memiliki konsep-konsep dan asumsi-asumsi yang bagi ilmu itu sendiri tidak perlu dipersoalkan lagi. Konsep dan ilmu itu diterima dengan begitu saja tanpa dinilai dan dikritik. Terhadap ilmu-ilmu khusus, filsafat, khususnya filsafat ilmu, secara kritis menganalisis konsep-konsep dasar dan memeriksa asumsi-asumsi dari ilmu-ilmu yang memperoleh arti dan validitasnya. Kalau konsep-konsep dari ilmu tidak dijelaskan dan asumsi-asumsi tidak dikuatkan maka hasil-hasil yang dicapai ilmu tersebut tanpa memperoleh landasan yang kuat. Interaksi antara filsafat dan ilmu-ilmu khusus juga menyangkut suatu tujuan yang lebih jauh dari filsafat. Filsafat berusaha untuk mengatur hasil-hasil dari berbagai ilmu-

14

ilmu khusus ke dalam suatu pandangan hidup dan pandangan dunia yang tersatupadukan, komprehensif dan konsisten. Secara komprehensif artinya tidak ada sesuatu bidang yang berada di luar jangkauan filsafat. Secara konsisten artinya uraian kefilsafatan tidak menyusun pendapat-pendapat yang saling berkontradiksi. Misalnya fisika mendasarkan pada asas bahwa semua benda terikat pada kaidah mekanis (sebab-akibat), akan tetapi dalam biologi dapat ditemukan bahwa organisme yang lebih tinggi tidak hanya berproses seperti mesing-mesin melainkan juga menunjukkan adanya kegiatan yang mengarah pada suatu tujuan (teleologis). Masalah proses mekanisme (sebab-akibat) yang berbeda dengan proses teleologis (bertujuan) ini telah ditangani oleh para filsuf yang mencoba menyusun pandangan yang tersatupadukan (integral) dan komprehensif dalam menjelaskan gejalagejala alam. D. Persoalan Filsafat Timbulnya filsafat karena manusia merasa kagum, merasa heran. Pada tahap awalnya kekaguman atau keheranan itu terarah pada gejala-gejala alam. Misalnya gempa bumi, hujan, banjir, melihat laut yang sangat luas. Orang yang heran berarti dia merasa tidak tahu, atau dia menghadapi persoalan. Persoalan inilah yang ingin diperoleh jawabannya oleh para filsuf. Dari mana jawaban itu dapat diperoleh? Jawaban diperoleh dengan melakukan refleksi, yaitu berpikir tentang pikirannya sendiri. Dalam hal ini tidak semua persoalan itu mesti persoalan filsafat. Persoalan filsafat berbeda dengan persolan non-filsafat. Perbedaannya terletak pada materi dan ruang lingkupnya. Ciri-ciri persoalan filsafat adalah sebagai berikut. (a) Bersifat umum. Artinya persoalan kefilsafatan tidak bersangkutan dengan objek-objek khusus. Dengan kata lain sebagain besar masalah kefilsafatan berkaitan dengan ide-ide besar. Misalnya, filsafat tidak menanyakan berapa harta yang anda sedekahkan dalam satu bulan? Akan tetapi filsafat menanyakan apa keadilanitu? Filsafat tidak menanyakan berapa jauhnya dari Yogya ke Jakarta? Akan tetapi filsafat menanyakan apajarak itu? (b) Tidak menyangkut fakta. Dengan kata lain persoalan filsafat lebih bersifat spekulatif. Persoalan-persoalan yang dihadapi melampaui batas-batas pengetahuan ilmiah. Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang menyangkut fakta. Misalnya seorang ilmuwan memikirkan peristiwa alam yang berupa hujan. Ilmuwan dapat memikirkan peristiwa alam sebab-sebab terjadi hujan dan memberikan deskripsi tentang peristiwa hujan itu. Semua yang dipikirkan ilmuwan ada dalam dunia empiris atau dapat dialami. Namun ilmuwan tidak mempersoalkan maksud dan tujuan hujan, karena hal itu diluar batas kewenangan ilmiah. Ia tidak menanyakan apakah ada kekuatanatau tenaga yang mampu menimbulkan hujan. Ilmuwan tidak memikirkan apakah tenaga atau kekuatan itu berwujud materi atau bukan materi. Pemikiran tentang maksud, tujuan dan kekuatan ini bersifat spekulatif, artinya melampaui batas-batas bidang pengetahuan ilmiah. (c) Bersangkutan dengan nilai-nilai (values), artinya persoalan-persoalan kefilsafatan bertalian dengan penilaian baik nilai moral, estetis, agama dan sosial. Nilai dalam pengertian ini adalah suatu kualitas abstrak yang ada pada sesuatu hal. Nilai-nilai dapat dimengerti dan dihayati. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa yang dimaksudkan dengan nilai-nilai adalah suatu kualitas abstrak yang dapat menimbulkan rasa senang, puas atau bahagia bagi orang yang mengalami dan menghayatinya. Para filsuf mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan tentang nilai yang terdalam (ultimate values). Kebanyakan pertanyaan-pertanyaan filsafati berkaitan dengan hakikat nilai-nilai. Hasilhasil pemikiran manusia tentang alam, kedudukan manusia dalam alam, sesuatu yang dicita-citakan manusia, semuanya itu secara tersirat mengandung nilai-nilai. Misalnya pertanyaan apakah Tuhan itu? Hal ini memungkinkan jawaban tentang ukuran-ukuran yang harus dipakai manusia dalam menilai tidakan, memberikan bimbingan dan mengadakan pilihan.

15

(d) Bersifat kritis, artinya filsafat merupakan analisis secara kritis tehadap konsepkonsep dan arti-arti yang biasanya diterima dengan begitu saja oleh suatu ilmu tanpa pemeriksaan secara kritis. Setiap bidang pengalaman manusia baik yang menyangkut bidang ilmu atau agama mendasarkan penyelidikannya pada asumsi-asumsi yang diterima sebagai titik tolak berpikir maupun berbuat. Asumsi-asumsi tersebut diterima dengan begitu saja dan diterapkan tanpa diperiksa secara kritis. Salah satu tugas utama ahli filsafat atau seorang filsuf adalah memeriksa dan menilai asumsi-asumsi tersebut, mengungkapkan artinya dan menentukan batas-batas penerapannya. (e) Bersifat sinoptik, artinya persoalan filsafat mencakup struktur kenyataan secara keseluruhan. Filsafat merupakan ilmu yang membuat susunan kenyataan sebagai keseluruhan. (f) Berfifat implikatif, artinya kalau sesuatu persoalan kefilsafatan sudah dijawab, maka dari jawaban tersebut akan memunculkan persoalan baru yang saling berhubungan. Jawaban yang dikemukakan mengandung akibat-akibat lebih jauh yang menyentuh kepentingan-kepentingan manusia. E. Berpikir secara Kefilsafatan Berfilsafat adalah berpikir. Ini tidak berarti berpikir adalah berfilsafat. Kalau dikatakan berfilsafat adalah berpikir, hal ini dimaksudkan bahwa berfilsafat termasuk kegiatan berpikir. Kata adalah dalam berfilsafat adalah berpikir mengandung pengertian bahwa berfilsafat itu tidak identik dengan berpikir melainkan berfilsafat termasuk dalam berpikir. Dengan demikian tidak semua orang yang berpikir itu mesti berfilsafat. Akan tetapi dapat dipastikan bahwa orang yang berfilsafat itu pasti berpikir. Hanya saja berfilsafat itu berpikir dengan ciri-ciri tertentu. Misalnya seorang mahasiswa berpikir bagaimana agar memperoleh IP yang tinggi pada suatu semester, atau seorang pegawai meikirkan gaji yang akan diterima pada bulan yang akan datang, atau seorang pedagang berpikir tentang laba yang akan diperoleh dalam bulan ini. Semua contoh yang dikemukakan itu bukanlah berpikir secara kefilsafatan melainkan berpikir biasa, berpikir seghari-hari, yang jawabannya tidak memerlukan pemikiran yang mendalam. Ada beberapa ciri berpikir secara kefilsafatan. (a) Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara radikal. Radikal berasal dari kata Yunani radix yang berarti akar. Berpikir cara radikal adalah berpikir sampai keakarakarnya. Berpikir sampai ke hakikat, essensi atau sampai ke substansi yang dipikirkan. Manusia yang berfilsafat tidak puas hanya memperoleh pengetahuan lewat indera yang selalu berubah, tidak tetap. Manusia yang berfilsafat dengan akalnya berusaha untuk dapat menangkap pengetahuan hakiki, yaitu pengetahuan yang mendasari segala pengetahuan inderawi. (b) Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara universal (umum). Berpikir secara universal adalah berpikir tentang hal-hal serta proses-proses yang bersifat umum. Filsafat bersangkutan dengan pengalaman umum dari umat manusia (common experience of mankind). Dengan jalan penjajagan yang radikal itu filsafat berusaha untuk sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang universal. Bagaimana cara atau jalan yang ditempuh seorang filsuf untuk mencapai sasaran pemikirannya dapat berbeda-beda; namun yang dituju adalah keumuman yang diperoleh dari hal-hal khusus yang ada dalam kenyataan. (c) Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara konseptual. Yang dimaksud dengan konsep di sini adalah hasil generalisasi (perumuman) dan abstraksi dari pengalaman tentang hal-hal serta proses-proses individual. Berfilsafat tidak berpikir tentang manusia tertentu atau manusia khusus melainkan berpikir tentang manusia secara umum. Berpikir secara kefilsafatan tidak bersangkutan dengan pemikiran tehadap perbuatan-perbuatan bebas yang dilakukan oleh orang-orang tertentu, khusus, konkrit sebagaimana dipelajari oleh psikolog, melainkan bersangkutan dengan pemikiran apakah kebebasan itu?. Dengan ciri yang konseptual ini maka berpikir secara kefilsafatan melampaui batas pengalaman hidup sehari-hari.

16

(d) Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara koheren dan konsisten. Koheren artinya sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir (logis). Konsisten artinya tidak mengandung kontradiksi. Baik koheren maupun konsisten keduanya dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia: runtut. Yang dimaksud dengan runtut adalah bagan konseptual yang disusun itu tidak terdiri dari pendapat-pendapat yang saling berkontradiksi di dalamnya. (e) Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara sitematik. Sistematik berasal dari kata sistem. Yang dimaksud dengan sistem adalah kebulatan dari sejumlah unsur yang saling berhubungan menurut tata pengaturanuntuk mencapai sesuatu maksud atau menunaikan sesuatu peranan tertentu. Dalam mengemukakan jawaban terhadap sesuatu masalah, para filsuf atau ahli filsafat memakai pendapat-pendapat sebagai wujud dari proses berpikir yang disebut berfilsafat. Pendapat-pendapat yang merupakan uraian kefilsafatan itu harus saling berhubungan secara teratur dan terkandung adanya maksud atau tujuan tertentu. (f) Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara komprehensif. Yang dimaksud komprehensif adalah mencakup secara menyeluruh. Berpikir secara kefilsafatan berusaha untuk menjelaskan alam semesta secara keseluruhan. Kalau suatu sistem filsafat harus bersifat komprehensif, berarti sistem itu mencakup secara menyeluruh, tidak ada sesuatu pun yang berada di luarnya. (g) Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara bebas. Sampai batas-batas yang luas maka setiap filsafat boleh dikatakan merupakan suatu hasil dari pemikiran yang bebas. Bebas dari prasangka-prasangka sosial, historis, kultural atauapun religius. Sikap-sikap bebas demikian ini banyak dilukiskan oleh filsuf-filsuf dari segala zaman. Socrates memilih minum racun dan menatap maut daripada harus mengorbankan kebebasannya untuk berpikir menurut keyakinannya. Spinoza karena khawatir kehilangan kebebasannya untuk berpikir menolak pengangkatannya sebagai gurubesar filsafat pada Universitas Heidelberg. Kebebasan berpikir itu adalah kebebasan yang berdisiplin. Berpikir dan menyelidiki dengan bebas itu bukanlah sekali-kali berarti sembarangan, sesuka hari, anarkhi, malahan sebaliknya berpikir dan menyelidiki seterikat-ikatnya. Akan tetapi ikatan itu berasal dari dalam, dari kaidah, dari disiplin pikiran itu sendiri. Disinilah berpikir dan meyelidiki dengan bebas itu berarti berpikir dan menyelidiki memakai disiplin yang seketat-ketatnya. Dengan demikian pikiran yang dari luar sangat bebas, namun dari dalam sangatlah terikat. Ditinjau dari aspek ini berfilsafat dapatlah dikatakan: mengembangkan pikiran dengan insaf, semata-mata menurut kaidah pikiran itu sendiri. (h) Berpikir secara kefilsafatan dicirikan dengan pemikiran yang bertanggung jawab. Seseorang yang berfilsafat adalah orang yang berpikir sambil bertanggung jawab. Pertanggungjawaban yang pertama adalah terhadap hati nuraninya sendiri. Di sini nampaklah hubungan antara kebebasan berpikir dalam filsafat dengan etika yang melandasinya. Seorang filsuf seolah-olah mendapat panggilan untuk mebiarkan pikirannya menjelajahi kenyataan. Akan tetapi tidak sampai di situ saja yang dirasakan menjadi tugasnya. Fase berikutnya ialah cara bagaimana ia merumuskan pikiran-pikirannya agar dapat dikomunikasikan pada orang lain; dalam ikhtiar ini sebenarnya seorang filsuf berusaha mengajak orang lain untuk ikut serta dalam alam pikirannya. F. Cabang-Cabang Filsafat. Persoalan-persoalan filsafat di samping dapat diodeskripsikan ciri-cirinya, juga dapat dibagi menurut jenis-jenisnya. Jenis-jenis persoalan filsafat ini bersesuaian dengan cabang-cabang filsafat. Ada tiga jenis persoalan filsafat yang utama yaitu persoalan tentang keberadaan, persoalan tentang pengetahuan, persoalan tentang nilai-nilai. (a) Persoalan keberadaan (being) atau eksistensi (existence). Persoalan keberadaan atau eksistensi bersangkutan dengan cabang filsafat metafisika. (b) Persoalan pengetahuan (knowledge) atau kebenaran (truth). Pengetahuan ditinjau dari segi isinya bersangkutan dengan cabang filsafat epistemologi. Sedangkan kebenaran ditinjau dari segi bentuknya bersangkutan dengan cabang filsafat logika.

17

(c) Persoalan nilai-nilai (values). Nilai-nilai dibedakan menjadi dua, nilai-nilai kebaikan tingkah laku dan nilai-nilai keindahan. Nilai-nilai kebaikan tingkah laku bersangkutan dengan cabang filsafat etika. Nilai-nilai keindahan bersangkutan dengan cabang filsafat estetika. 1. Metafisika.

Istilah metafisika berasal dari kata Yunani meta ta physika yang dapat diartikan sesuatu yang ada di balik atau di belakang benda-benda fisik. Aristoteles tidak memakai istilah metafisika melainkan proto philosophia (filsafat pertama). Filsafat pertama ini memuat uraian tentang sesuatu yang ada di belakang gejala-gejala fisik seperti bergerak, berubah, hidup, mati. Metafisika dapat didefinisikan sebagai studi atau pemikiran tentang sifat yang terdalam (ultimate nature) dari kenyataan atau keberadaan. Persoalan-persoalan metafisis dibedakan menjadi tiga yaitu persoalan ontologi, persoalan kosmologi, dan persoalan antropologi. (a) Persoalan-persoalan ontologis diantaranya adalah: (1) Apa yang dimaksud dengan ada, keberadaan atau eksistensi itu? (2) Bagaimanakah penggolongan dari ada, keberadaan atau eksistensi? (3) Apa sifat dasar (nature) kenyataan atau keberadaan. (b) Persoalan-persoalan kronologis (alam). Persoalan kronologis bertalian dengan asal mula, perkembangan dan struktur atau susunan alam. (1) Jenis keteraturan apa yang ada dalam alam? (2) Keteraturan dalam alam seperti halnya sebuah mesin ataukah keteraturan yang bertujuan? (3) Apa hakikat hubungan sebab dan akibat? (4) Apakah ruang dan waktu itu? (c) Persoalan-persoalan antropologi (manusia) (1) Bagaimana terjadi hubungan badan dan jiwa? (2) Apa yang dimaksud dengan kesadaran? (3) Manusia sebagai makhluk bebas atau tak bebas? 2. Epistemologi

Epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). Secara etimologi, istilah epistemologi berasal dari kata Yunani epsteme = pengetahuan dan logos = teori, Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan syahnya (validitas) pengetahuan. Dalam metafisika, pertanyaan pokoknya adalahapakah ada itu?, sedangkan dalam epistemologi pertanyaan pokonya adalah apa yang dapat saya ketahui? Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: (1) Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu? (2) Darimana pengetahuan itu dapat diperoleh? (3) Bagaimanakah validitas pengetahuan itu dapat dinilai? (4) Apa perbedaan antara pengetahuan a priori (pengetahuan pra-pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan purna pengalaman). 3. Logika

Logika sebagai cabang filsafat bersangkutan dengan kegiatan berpikir. Secara etimologi, berasal dari kata Yunani logos, yang berarti kata, nalar, teori, atau uraian. Logika dapat didefinisikan sebagai ilmu, kecakapan atau alat untuk berpikir secara lurus. Dengan demikian yang menjadi objek material logika adalah pemikiran, sedangkan objek formalnya adalah kelurusan berpikir. Persoalan-persoalan logika adalah: (1) Apa yang dimaksud dengan pengertian (consept)?

18

(2) (3) (4) (5) (6) 4.

Apa yang dimaksud dengan putusan (proposition)? Apa yang dimaksud dengan penyimpulan (inference)? Apa aturan-aturan untuk dapat menyimpulkan secara lurus? Apa macam-macam silogisme? Apa macam-macam sesat pikir (fallacy)? Etika

Etika sebagai cabang filsafat juga disebut filsafat moral (mo-ral philosophy). Secara etimologi, etika berasal dari kata Yunani ethos = watak. Sedang moral berasal dari kata latin mos, bentuk tunggal, sedangkan bentuk jamak mores = kebiasaan. Istilah etika atau moral dalam bahasa Indonesia dapat diartikan kesusilaan. Objek material etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia. Perbuatan yang dilakukan secara sadar dan bebas. Objek formal etika adalah kebaikan dan keburukan atau bermoral dan tidak bermoral dari tingkah laku tersebut. Dengan demikian perbuatan yang dilakukan secara tidak sadar dan tidak bebas tidak dapat dikenai penilaian bermoral atau tidak bermoral. Persoalan-persoalan dalam etika di antaranya adalah: (1) Apa yang dimaksud baik atau buruk secara moral? (2) Apa syarat-syarat sesuatu perbuatan dikatakan baik secara moral? (3) Bagaimanakah hubungan antara kebebasan kehendak dengan perbuatan susila? (4) Apa yang dimaksud dengan kesadaran moral? (5) Bagaimanakah peranan hati nurani (conscience) dalam setiap perbuatan manusia? (6) Bagaimanakah pertimbangan moral berbeda dari dan bergantung pada suatu pertimbangan yang bukan moral? 5. Estetika

Estetika sebagai cabang filsafat juga disebut filsafat keindahan (philosophy of beauty). Secara etimologi, estetika berasal dari kata Yunani aisthetika = hal-hal yang dapat dicerap dengan indera atau aithesis = cerapan indera. Kalau etika digambarkan sebagai teori tentang baik dan jahat, maka estetika digambarkan sebagai kajian filsafati tentang keindahan dan kejelekan. Baik etika maupun estetika keduanya bertalian dengan nilainilai. Etika bertalian dengan nilai-nilai moral sedangkan estetika bertalian dengan nilai bukan moral. Persoalan-pesoalan estetis diantaranya sebagai berikut. (1) Apakah keindahan itu? (2) Keindahan bersifat objektif ataukah subjektif (3) Apa yang merupakan ukuran keindahan? (4) Apa peranan keindahan dalam kehidupan manusia? (5) Bagaimanakah hubungan keindahan dengan kebenaran? B. Aliran-Aliran Filsafat 6. Aliran-aliran dalam Persoalan Keberadaan Persoalan dalam keberadaan menimbulkan tiga segi pandangan, yaitu: Pertama, Keberadaan dipandang dari segi jumlah, banyak (kuantitas), artinya berapa banyak kenyataan yang paling dalam itu. Segi masalah kuantitas ini melahirkan beberapa aliran filsafat sebagai jawabannya. (1) Monisme, aliran yang menyatakan bahwa hanya ada satu kenyataan fundamental. Kenyataan tersebut dapat berupa jiwa, materi, Tuhan atau substansi lainnya yang tidak dapat diketahui. Tokoh-tokohnya antara lain: Thales (625-545 SM) yang berpendapat bahwa kenyataan yang terdalam adalah satu substansi, yaitu air. Anaximander (610-547 SM) berkeyakinan bahwa yang merupakan kenyataan terdalam adalah Apeiron, yaitu sesuatu yang tanpa batas, tak dapat ditentukan dan tidak memiliki persamaan dengan

19

salah satu benda yang ada dalam dunia. Filsuf modern yang termasuk penganut monisme adalah Baruch Spinoza yang berpendapat bahwa hanya ada satu substansi yaitu Tuhan. Dalam hal ini Tuahn diidentikkan dengan alam (Naturans naturata). (2) Dualisme (serba dua), aliran yang menganggap adanya dua substansi yang masing-masing berdiri sendiri. Tokoh-tokoh yang termasuk aliran ini adalah Plato (428348) SM), yang membedakan dua dunia yaitu dunia indera (dunia bayang-bayang) dan dunia intelek (dunia ide). Descartes (1596-1650) yang membedakan substansi pikiran dan substansi keluasan. Leibniz (1646-1716) yang membedakan antara dunia yang sesungguhnya dan dunia yang mungkin. Immanuel Kant (1724-1804) yang membedakan antara dunia gejala (penomena) dan dunia hakiki (noumena) (3) Pluralisme (serba banyak), aliran yang tidak mengakui adanya satu substansi atau dua substansi melainkan banyak substansi. Para filsuf yang termasuk pluralisme diantaranya:Empedokles (490-430 SM) yang menyatakan bahwa hakikat kenyataan terdiri dari empat unsur yaitu: udara, api, air, dan tanah. Anaxagoras (500-428 SM) yang menyatakan bahwa hakikat kenyataan terdiri dari unsur-unsur yang tidak terhitung banyaknya, sebanyak jumalh sifat benda dan semuanya itu dikuasai oleh suatu tenaga yang dinamakan nous. Dikatakanya bahwa nous adalah suatu zat yang paling halus yang memiliki sifat pandai bergerak dan mengatur. Leibniz (1646-1716) menyatakan bahwa hakikat kenyataan terdiri dari monade-monade yang tidak terhingga banyaknya. Monade adalah sunstansi yang tidak berluas, selalu bergerak, tidak terbagi, dan tidak dapat rusak. Setiap monade saling berhubungan dalam suatu sistem yang sebelumnya telah diselaraskan Harmonia prestabilia. Pandangan filsafat kontemporer yang memihak pada pluralisme adalah pascamodernisasi (postmodernism) dengan tokoh-tokohnya antara lain: Mitchel Foucault, J.J. Derrida dan J.F. Lyotard. Kedua, Keberadaan dipandang dari segi sifat (kualitas) menimbulkan beberapa aliran sebagai berikut. (1) Spiritualisme, yang mengandung beberapa arti. (a) Spirutualisme adalah ajaran yang menyatakan bahwa kenyataan yang terdalam adalah roh (Pneuma, Nous, Reason, Logos) yaitu roh yang mengisi dan mendasari seluruh alam. Spiritulisme dalam arti ini dilawankan dengan materialisme. (b) Spiritualisme kadang-kadang dikenakan pada pandangan idealistik yang menyatakan adanya roh mutlak. Dunia indera dalam pengertian ini dipandang sebagai dunia idea. (c) Spiritualisme dipakai dalam istilah keagamaan untuk menekankan pengaruh langsung dari roh suci dalam bidang agama. (d) Spiritualisme berarti kepercayaan bahwa roh-roh orang mati berkomunikasi dengan orang yang masih hidup melalui orang-orang tertentu yang menjadi perantara dan lewat bentuk wujud yang lain. Istilah spiritualisme lebih tepat dikenakan bagi kepercayaan semacam ini. Aliran spiritualisme juga disebut idealisme (seba cita). Tokoh-tokoh aliran ini diantaranya adalah sebagai berikut. Plato (430-348 SM) dengan ajarannya tentang idea (cita) dan jiwa. Idea dalam dunia hanyalah merupakan penjelmaan atau bayangan saja. Idea atau cita tidak dapat ditangkap dengan indera (dicerap), tetapi dapat dipikirkan. Sedangkan yang ditangkap oleh indera manusia hanyalah dunia bayang-bayang. Leibniz (l446-1718) dengan teorinya tentang monade. Monade adalah sesuatu yang bersahaja, sederhana, tidak menempati ruang, tidak berbentuk. Sifatnya yang terutama adalah gerak, menanggap dan berpikir. Setiap monade bersifat otonom mutlak. (2) Materialisme adalah pandangan yang menyatakan bahwa tidak ada hal yang nyata kecuali materi. Pikiran dan kesadaran hanyalah penjelmaan dari materi dan dapat dikembalikan pada unsur-unsur fisik. Materi adalah sesuatu hal yang kelihatan, dapat diraba, berbentuk, menempati ruang. Hal-hal yang bersifat kerohanian seperti pikiran, jiwa, keyakinan, rasa sedih dan rasa senang tidak lain hanyalah ungkapan proses kebendaan. Tokoh-tokohnya antara lain:

20

Demokritos (460-370 SM), berkeyakinan bahwa alam semesta tersusun atas atomatom kecil yang memiliki bentuk dan badan. Atom-atom ini mempunyai sifat yang sama, perbedaannya hanya tentang besar, bentuk dan letaknya. Jiwa pun, menurut Demokritos dikatakan terjadi dari atom-atom, hanya saja atom-atom jiwa itu lebih kecil, bulat dan amat mudah bergerak. Thomas Hobbes (1588-1679) berpendapat bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia merupakan gerak dari materi. Termasuk juga disini pikiran, perasaan adalah gerak materi belaka. Karena segala sesuatu terjadi dari benda-benda kecil, maka bagi Hobbes, filsafat sama dengan ilmu yang mempelajari benda-benda. Ketiga, Keberadaan dipandang dari segi proses, kejadian atau perubahan. Aliran yang berusaha menjawab persoalan ini diantaranya adalah sebagai berikut. (1) Mekanisme (serba-mesin) menyatakan bahwa semua gejala (peristiwa) dapat dijelaskan berdasarkan asas-asas mekanik (mesin). Semua peristiwa adalah hasil dari materiyang bergerak dan dapat dijelaskan menurut kaidah-kaidahnya. Aliran ini juga menerangkan semua peristiwa berdasar pada sebab kerja (efficient cause), yang dilawankan dengan sebab tujuan (final cause). Alam dianggap seperti sebuah mesin yang keseluruhan fungsinya ditentukan secara otomatis oleh bagian-bagiannya. Pandangan yang bercorak mekanistik dalam kosmologi pertama kali diajukan oleh Leucippus dan Democritus yang berpendirian bahwa alam dapat diterangkan berdasar pada atom-atom yang bergerak dalam ruang kosong. Pandangan ini dianut oleh Galileo Galilei (1564-1641) dan filsuf lainnya dalam abad 17 sebagai filsafat mekanik. Descartes menganggap bahwa hakikat materi adalah keluasan (extension), dan semua gejala fisik dapat diterangkan dengan kaidah-kaidah mekanik. Sedang bagi Immanuel Kant, kepastian dari suatu kejadian sesuai dengan kaidah sebab-akibat (causality) sebagai suatu kaidah alam. Pandangan yang bercorak mekanistik dalam biologi menyatakan bahwa organisme secara keseluruhan dapat diterangkan berdasar pada asas-asas mekanik. Pandangan semacam ini dilawankan dengan vitalisme. Teori mekanik ini diterapkan juga dalam bidang psikologi assosiasional dan dalam psikoanalisa diterapkan pada sasaran bahwa sadar dari suatu proses mental. (2) Teleologi (serba-tujuan) berpendirian bahwa yang berlaku dalam kejadian alam bukanlah kaidah sebab-akibat, akan tetapi sejak semula memang ada sesuatu kemauan atau kekuatan yang mengarahkan alam ke suatu tujuan. Plato membedakan antara idea dengan materi. Tujuan berlaku di alam idea, sedangkan kaidah sebab-akibat berlaku dalam materi. Menurut Aristoteles, untuk memahami kenyataan yang sesungguhnya kita harus memahami adanya empat macam sebab, yaitu sebab bahan (matrial cause), sebab bentuk (formal cause), sebab kerja (efficient cause), sebab tujuan (final cause). Sebab bahan adalah bahan yang menjadikan sesuatu itu ada; sebab bentuk adalah yang menjadikan sesuatu itu berbentuk; sebab kerja adalah yang menyebabkan bentuk itu bekerja atas bahan; sebab tujuan adalah yang menyebabkan tujuan semata-mata karena perubahan tempat atau gerak. Di bidang ini semata-mata berkuasa kaidah sebab akibat yang pasti. Sebaliknya segala kejadian tujuannya adalah menimbulkan sesuatu bentuk atau sesuatu tenaga. Namun dikatakan juga bahwa kegiatan alam mengandung suatu tujuan. Sehubungan dengan masalah ini kaidah sebab akibat hanyalah sebagai alat bagi alam untuk mencapai tujuannya. (3) Vitalisme memandang bahwa kehidupan tidak dapat sepenuhnya dijelaskan secara fisika-kimiawi, karena hakikatnya berbeda dengan yang tidak hidup. Filsuf vitalisme Hans Adolf Eduard Driesch (1867-1940) menjelaskan bahwa setiap organisme memiliki entelechy. Dalam hidup bekerja suatu asas khusus yang disebut asas hidup yang dinamakan entelechy. Henry Bergson (1859-1941) menyebutnya elan vital. Dikatakannya bahwa elan vital merupakan sumber dari sebab kerja dan perkembangan dalam alam. Asas

21

hidup ini memmipim dan mengatur gejala hidup dan menyesuaikannya dengan tujuan hidup. Oleh karena itu vitalisme sering juga dinamakan finalisme. (4) Organisme, aliran ini biasanya dilawankan dengan mekanisme dan vitalisme. Menurut organisme, hidup adalah suatu struktur yang dinamik, suatu kebulatan yang memiliki bagian-bagian yang heterogen, akan tetapi yang utama adalah adanya sistem yang teratur. Semua bagian bekerja di bawah kebulatannya. 7. Aliran-aliran dalam Persoalan Pengetahuan

Persoalan pengetahuan yang bertalian dengan sumber-sumber pengetahuan, dijawab oleh aliran-aliran berikut ini. (1) Rasionalisme, berpandangan bahwa semua pengetahuan bersumber pada akal. Akal memperoleh bahan lewat indera untuk kemudian dioalh oleh akal sehingga menjadi pengetahuan. Rasionalisme mendasarkan pada metode deduksi, yaitu cara memperoleh kepastian melalui langkah-langkah metodis yang bertitik tolak dari hal-hal yang bersifat umum untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat khusus. Rene Descartes membedakan tiga idea yang ada dalam diri manusia, yaitu innate ideas adalah ide bawaan yang dibawa manusia sejak lahir; adventitious ideas adalah ide ide yang berasal dari luar diri manusia; factitious ideas adalah ide-ide yang dihasilkan oleh pikiran itu sendiri. Tokoh-tokohnya yang lain adalah Spinoza, Leibniz. (2) Empirisme berpendirian bahwa semua pengetahuan diperoleh lewat indera. Indera memperoleh kesan-kesan dari alam nyata, untuk kemudian kesan-kesan tersebut berkumpul dalam diri manusia sehingga menjadi pengalaman. Pengetahuan yang berupa pengalaman terdiri dari penyusunan dan pengaturan kesan-kesan yang bermacam-macam. Aliran-aliran yang timbul dan sebagai pendukung tradisi empirisme adalah positivisme Perancis , Positivisme Logis dari Lingkaran Wina, Analisa Filsafati Inggris dan berbagai aliran psikologi behavioristik. (3) Realisme adalah aliran yang menyatakan bahwa objek-objek yang diketahui adalah nyata dalam dirinya sendiri. Objek-objek tersebut tidak bergantung adanya pada yang mengetahui, yang mengecap atau tidak bergantung pada pikiran. Pikiran dan dunia luar saling berinteraksi, akan tetapi interaksi ini tidak mempengaruhi sifat dasar dunia. Dunia tetap ada sebelum pikiran menyadarinya dan akan tetap ada setelah pikiran berhenti menyadarinya. (4) Kritisisme adalah aliran yang berusaha menjawab persoalan pengetahuan dengan tokohnya Immanuel Kant. Titik tolak Kant adalah waktu dan ruang sebagai dua bentuk pengamatan. Akal menerima bahan-bahan pengetahuan dari empiri (dari indera sebagai empiri extern dan dari pengalaman sebagai empiri intern). Bahan-bahan yang berupa empiri tersebut masih kacau. Kemudian akal mengatur dan menertibkan dalam bentuk pengamatan yakni ruang dan waktu. Bahan-bahan empiri tersebut ditempatkan yang satu sesudah yang lain. Pengamatan merupakan permulaan pengetahuan, sedangkan pengolahan oleh akal merupakan pembentukannya. Persoalan pengetahuan yang menekankan pada hakikat pengetahuan, dijawab oleh aliran-aliran berikut ini. (1) Idealisme berpendirian bahwa pengetahuan adalah proses-proses mental ataupun psikologis yang sifatnya subjektif. Pengetahuan merupakan gambaran subjektif tentang kenyataan. Pengetahuan tidak menggambarkan yang sesungguhnya atau pengetahuan tidak memberikan gambaran yang tepat tentang hakikat sesuatu yang berada di luar pikiran. (2) Empirisme berpendirian bahwa hakikat pengetahuan adalah berupa pengalaman. David Hume termasuk dalam empirisme radikal menyatakan bahwa idea-idea dapat dikembalikan pada sensasi-sensai (rangsang indera). Pengalaman merupakan ukuran terakhir dari kenyataan William James menyatakan bahwa pernyataan tentang fakta adalah hubungan di antara benda-benda, sama banyaknya dengan pengalaman khusus yang diperoleh secara langsung dengan indera.

22

(3) Positivisme berpendirian bahwa kepercayaan yang dogmatis harus digantikan dengan pengetahuan faktawi. Apa pun yang berada di luar dunia pengalaman tidak perlu diperhatikan. Manusia harus menaruh perhatian pada dunia ini. Sikap negatif positivisme terhadap kenyataan yang di luar pengalaman telah mempengaruhi berbagai bentuk pemikiran modern: pragmatis, intrumentalisme, naturalisme ilmiah dan behaviorisme. Penganut analis filsafati dewasa ini pada umumnya adalah penganut empirisme. Beberapa tokoh diantaranya mengatakan bahwa pernyataan yang mengandung arti adalah pernyataan yang dapat diverifikasi secara empiris. Pernyataan yang tidak berdasar pengalaman atau tidak dapat diverifikasi dianggap tidak bermakna atau bukan merupakan pengetahuan. (4) Pragmatisme tidak mempersoalkan apa hakikat pengetahuan melainkan menanyakan apa guna pengetahuan tersebut. Daya pengetahuan hendaklah dipandang sebagai sarana bagi perbuatan. C.S. Pierce menyatakan bahwa yang penting adalah pengaruh apa yang dapat dilakukan sebuah ide atau suatu pengetahuan dalam suatu rencana. Pengetahuan kita tidak lain merupakan gambaran yang kita peroleh tentang akibat yang dapat kita saksikan. Nilai dari suatu pengertian bergantung pada penerapannya yang nyata dalam masyarakat. Pengetahuan yang dimiliki manusia dikatakan benar tidak karena pengetahuan itu mencerminkan kenyataan, melainkan dikatakan benar kalau dapat membuktikan manfaatnya bagi umum. William James menyatakan bahwa ukuran kebenaran sesuatu hal ditentukan oleh akibat praktisnya. Sesuatu pengertian tidak pernah benar, tetapi pengertian hanya dapat menjadi benar. Ukuran kebenaran hendaknya dicari dalam tingkatan seberapa jauh manusia sebagai pribadi dan secara psikhis merasa puas. John Dewey menyatakan bahwa tidak perlu mempersoalkan kebenaran suatu pengetahuan, melainkan sejauh mana kita dapat memecahkan persoalan yang timbul dalam masyarakat. Bagi John Dewey, kegunaan atau kemanfaatan untuk umum hendaknya menjadi ukuran, sedangkan daya untuk mengetahui dan daya untuk berpikir merupakan sarana. Bukan pengetahuan itu sendiri yang benar tetapi pengertian itu baru menjadi benar dalam rangka proses penerapannya. Dengan demikian pengetahuan bersifat dinamis, karena harus sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang silih berganti dan yang mencerminkan hakikat alam semesta ini. 8. Aliran-aliran dalam Persoalan Nilai-nilai (Etika)

(1) Idealisme Etis adalah aliran yang meyakini hal-hal yang beriku ini. (a) Adanya suatu skala nilai-nilai, asas-asas moral, atau aturan-aturan untuk bertindak. (d) Lebih mengutamakan hal-hal yang bersifat spiritual (kerokhanian) ataupun mental daripada yang bersifat inderawi atau kebendaan. (e) Lebih mengutamakan kebebasan moral daripada ketentuan kejiwaan atau alami. (f) Lebih mengutamakan hal yang umum daripada hal yang khusus. (2) Deontologisme Etis berpendirian bahwa sesuatu tindakan dianggap baik tanpa disangkutkan dengan nilai kebaikan sesuatu hal. Yang menjadi dasar moralitas adalah kewajiban. Sesuatu perbuatan dikatakan wajib secara moral tanpa memperhitungkan akibat-akibatnya. Deontologisme etis dilawankan dengan etika aksiologis (etika yang mendasarkan pada teori nilai). Deontologisme etis juga disebut formalisme dan juga intuisionisme. (3) Etika Teleologis merupakan bagian dari etika aksilogis (etika berdasar nilai) yang membuat ketentuan bahwa kebaikan atau kebenaran suatu tindakan sepenuhnya bergantung pada sesuatu tujuan atau sesuatu hasil.

23

(4) Hedonisme menganjurkan manusia untuk mencapai kebahagiaan yang didasarkan pada kehormatan, kesenangan (pleasure). Penganjur aliran ini adalah Cyrenaics (400 SM) menyatakan bahwa hidup yang baik adalah memperbanyak kenikmatan melalui kenikmatan indera dan intelek. Sebaliknya Epikurus (341-270 SM) menyatakan bahwa kesenangan dan kebahagiaan adalah tujuan hidup manusia. Epikurus tidak menganjurkan manusia untuk mengejar semua kenikmatan yang sesuai dengan intelegensi dan tengahtengah. Kegembiraan pikiran adalah lebih tinggi daripada kenikmatan jasmani. (5) Utilitarisme adalah pandangan yang menyatakan bahwa tindakan yang baik adalah tindakan yang menimbulkan kenikmatan atau kebahagiaan sebesar-besarnya bagi manusia yang sebanyak-banyaknya. G. P e n u t u p Filsafat berusaha untuk memperoleh pandangan tentang segala sesuatu yang ada secara menyeluruh. Pendekatan ilmu adalah lebih bersifat analitik dan deskriptif, sedangkan pendekatan filsafat lebih bersifat sintetik atau sinoptik yang menyangkut sifatsifat alam semesta dan hakikat kehidupan sebagai keseluruhan. Ilmu-ilmu khusus membatasi tujuannya pada bidang tertentu dari kenyataan atau hanya terarah pada satu aspek kenyataan, sedangkan filsafat menyelidiki dan memikirkan seluruh alamatau seluruh kenyataan. Sifat berpikir komprehensif pada hakikatnya mengandung aspek tujuan (teleology). Aspek teleologi mengandung arti bahwa pemikiran secara filsafati dimaksudkan untuk menyusun suatu pandangan dunia (world-view). Perenungan kefilsafatan berusaha untuk memahami semua kenyataan dan kemudian menyusun suatu pandangan dunia. Manusia, dengan meiliki hasil pemikiran filsafati dapat menentukan sikap atau pendirian sesuai dengan keyakinannya untuk selanjutnya dipakai untuk menanggapi dan memecahkan persoalan yang dihadapinya. DAFTAR PUSTAKA Ali Mudhofir, 1988, Kamus Teori dan Aliran dalam Filsafat, Liberty, Yogyakarta. Mulder, D.C., 1965, Iman dan Ilmu Pengetahuan, Badan Penerbit Kristen, Djakarta Poedjawijatna, I.R., 1973, Tahu dan Pengetahuan, Pengantar Keilmuan dan Filsafat, IKIP, Jakarta. The Liang Gie, 1977, Suatu Konsepsi ke Arah Penertiban Bidang Filsafat, Judul asli A Conseption toward the Systematization of Philosophy, alih bahasa Ali Mudhofir, Karya Kencana, Yogyakarta. Titus, Harold H., Marylin S. Smith, Richard T. Nolan, 1984, Persoalan-persolanan Filsafat Judul asli Living Issues in Philosophy, alih bahasa H.M. Rasyidi, Bulan Bintang, Jakarta.

24